ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN
DIABETES MELITUS TIPE 1 (DM JUVENILE)
DIABETES MELITUS TIPE 1 (DM JUVENILE)
DI SUSUN OLEH:
DI SUSUN OLEH:
KELOMPOK V
KELOMPOK V
NAMA:
NAMA: CHINDI K HAYONMAD
CHINDI K HAYONMADA
A
MONICA M KOTAMBUNAN
MONICA M KOTAMBUNAN
VIVIN J TABARE
VIVIN J TABARE
IRINCE WEYANTO
IRINCE WEYANTO
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN INDONESIA
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN INDONESIA
MANADO
MANADO
2018
2018
KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena atas penyertaan
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena atas penyertaan
dantuntunanNya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan judul
dantuntunanNya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan judul “JUVENILE“JUVENILE DIABETES:
DIABETES: dapat terselesaikan dengan dapat terselesaikan dengan apa yang kapa yang kami harapkan.ami harapkan.
Mungkin dalam menyusun makalah ini kami belum menyusunya secara terstruktur
Mungkin dalam menyusun makalah ini kami belum menyusunya secara terstruktur
atau tersusun dengan baik, karena kami sadar kami manusia yang mempunyai keterbatasan
atau tersusun dengan baik, karena kami sadar kami manusia yang mempunyai keterbatasan
dan kekurangan, untuk itu kami mengharapkan kritikan ma
dan kekurangan, untuk itu kami mengharapkan kritikan maupun saran yang membangun dariupun saran yang membangun dari
dosen mata kuliah untuk melengkapi makalah ini.
dosen mata kuliah untuk melengkapi makalah ini.
Akhir dari kata ini saya dari penyaji mengucapkan terima kasih
Akhir dari kata ini saya dari penyaji mengucapkan terima kasih
Manado, 19 Maret 2018
Manado, 19 Maret 2018
Penulis
LAPORAN PENDAHULUAN JUVENILE DIABETES LAPORAN PENDAHULUAN JUVENILE DIABETES
A.
A. DEFINISIDEFINISI
Diabetes melitus secara definisi adalah keadaan hiperglikemia Diabetes melitus secara definisi adalah keadaan hiperglikemia kronik.Hiperglikemia ini dapat disebabkan oleh beberapa keadaan, di antaranya kronik.Hiperglikemia ini dapat disebabkan oleh beberapa keadaan, di antaranya adalah gangguan sekresi hormon insulin, gangguan aksi/kerja dari hormon insulin adalah gangguan sekresi hormon insulin, gangguan aksi/kerja dari hormon insulin atau gangguan kedua-duanya (Weinzimer SA, Magge S. 2005).
atau gangguan kedua-duanya (Weinzimer SA, Magge S. 2005).
Sebagai negara berkembang, Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup Sebagai negara berkembang, Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup pesat,
pesat, terutama terutama di di beberapa beberapa daerah daerah tertentu. tertentu. Pertumbuhan Pertumbuhan ini ini juga juga diikuti diikuti dengandengan perubahan
perubahan dalam dalam masyarakat, masyarakat, baik baik dalam dalam bidang bidang ilmu ilmu pengetahuan, pengetahuan, gaya gaya hidup,hidup, perilaku,
perilaku, dan dan sebagainya. sebagainya. Namun, Namun, perubahan-perubahan perubahan-perubahan ini ini juga juga tak tak luput luput dari dari efekefek negatif. Salah satu efek negatif yang timbul dari perubahan gaya hidup masyakarat negatif. Salah satu efek negatif yang timbul dari perubahan gaya hidup masyakarat modern di Indonesia antara lain adalah semakin meningkatnya angka kejadian modern di Indonesia antara lain adalah semakin meningkatnya angka kejadian Diabetes Mellitus(DM) yang lebih dikenal oleh masyarakat awam sebagai kencing Diabetes Mellitus(DM) yang lebih dikenal oleh masyarakat awam sebagai kencing manis.
manis.
Diabetes Mellitus adalah penyakit metabolik yang bersifat kronik.Oleh karena Diabetes Mellitus adalah penyakit metabolik yang bersifat kronik.Oleh karena itu, onset Diabetes Mellitus yang terjadi sejak dini memberikan peranan penting itu, onset Diabetes Mellitus yang terjadi sejak dini memberikan peranan penting dalam kehidupan penderita. Setelah melakukan pendataan pasien di seluruh Indonesia dalam kehidupan penderita. Setelah melakukan pendataan pasien di seluruh Indonesia selama 2 tahun, Unit Kelompok Kerja (UKK) Endokrinologi Anak Ikatan Dokter selama 2 tahun, Unit Kelompok Kerja (UKK) Endokrinologi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendapatkan 674 data penyandang Diabetes Mellitustipe 1 di Anak Indonesia (IDAI) mendapatkan 674 data penyandang Diabetes Mellitustipe 1 di Indonesia. Data ini diperoleh melalui kerjasama berbagai pihak di seluruh Indonesia Indonesia. Data ini diperoleh melalui kerjasama berbagai pihak di seluruh Indonesia mulai dari para dokter anak, endokrinolog anak, spesialis penyakit dalam, perawat mulai dari para dokter anak, endokrinolog anak, spesialis penyakit dalam, perawat edukator Diabetes Mellitus, data Ikatan Keluarga Penyandang Diabetes MellitusAnak edukator Diabetes Mellitus, data Ikatan Keluarga Penyandang Diabetes MellitusAnak dan Remaja (IKADAR), penelusuran dari catatan medis pasien, dan juga kerjasama dan Remaja (IKADAR), penelusuran dari catatan medis pasien, dan juga kerjasama dengan perawat edukator National University HospitalSingapura untuk memperoleh dengan perawat edukator National University HospitalSingapura untuk memperoleh data penyandang Diabetes Mellitusanak Indonesia yang menjalani pengobatannya di data penyandang Diabetes Mellitusanak Indonesia yang menjalani pengobatannya di Singapura.Data lain dari sebuah penelitian
Singapura.Data lain dari sebuah penelitian unit kerja koordinasi endokrinologi anak diunit kerja koordinasi endokrinologi anak di seluruhwilayah Indonesia pada awal Maret tahun 2012 menunjukkan jumlah penderita seluruhwilayah Indonesia pada awal Maret tahun 2012 menunjukkan jumlah penderita Diabetes Mellitususia anak-anak juga usia remaja dibawah 20 tahun terdata sebanyak Diabetes Mellitususia anak-anak juga usia remaja dibawah 20 tahun terdata sebanyak 731 anak. Ilmu Kesehatan Anak FFKUI (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia) 731 anak. Ilmu Kesehatan Anak FFKUI (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia) melansir, jumlah anak yang terkena Diabetes Mellituscenderung naik dalam beberapa melansir, jumlah anak yang terkena Diabetes Mellituscenderung naik dalam beberapa
tahun terakhir ini. Tahun 2011 tercatat 65 anak menderita Diabetes Mellitus, naik tahun terakhir ini. Tahun 2011 tercatat 65 anak menderita Diabetes Mellitus, naik 40% dibandingkan tahun 2009. Tiga puluh duaanak diantaranya terkena Diabetes 40% dibandingkan tahun 2009. Tiga puluh duaanak diantaranya terkena Diabetes Mellitustipe 2.(Pulungan, 2010)
Mellitustipe 2.(Pulungan, 2010)
Peningkatan jumlah penderita Diabetes Mellitus yang cukup signifikan di Peningkatan jumlah penderita Diabetes Mellitus yang cukup signifikan di Indonesia ini perlu mendapatkan perhatian seiring dengan meningkatnya risiko anak Indonesia ini perlu mendapatkan perhatian seiring dengan meningkatnya risiko anak terkena Diabetes Mellitus.Deteksi dini pada Diabetes Mellitus merupakan hal penting terkena Diabetes Mellitus.Deteksi dini pada Diabetes Mellitus merupakan hal penting yang harus dilakukan untuk menghindari kesalahan atau keterlambatan diagnosis yang harus dilakukan untuk menghindari kesalahan atau keterlambatan diagnosis yang dapat mengakibatkan kematian.Diabetes Mellitus tipe 1 yang menyerang yang dapat mengakibatkan kematian.Diabetes Mellitus tipe 1 yang menyerang anak-anak sering tidak terdiagnosis oleh dokter karena gejala awalnya yang tidak begitu anak sering tidak terdiagnosis oleh dokter karena gejala awalnya yang tidak begitu jelas dan pada akhirnya sampai
jelas dan pada akhirnya sampai pada gejala lanjut dan pada gejala lanjut dan traumatis seperti mual, traumatis seperti mual, muntah,muntah, nyeri perut, sesak nafas, bahkan koma. Dengan deteksi dini, pengobatan dapat nyeri perut, sesak nafas, bahkan koma. Dengan deteksi dini, pengobatan dapat dilakukan sesegera mungkin terhadap penyandang Diabetes Mellitus sehingga dapat dilakukan sesegera mungkin terhadap penyandang Diabetes Mellitus sehingga dapat menurunkan risiko kecacatan dan kematian
menurunkan risiko kecacatan dan kematian (Pulungan, 2010)(Pulungan, 2010)
International Society of Pediatric and Adolescence Diabetesdan WHO International Society of Pediatric and Adolescence Diabetesdan WHO merekomendasikan klasifikasi DM berdasarkan etiologi (Tabel 1).DM tipe 1 terjadi merekomendasikan klasifikasi DM berdasarkan etiologi (Tabel 1).DM tipe 1 terjadi disebabkan oleh karena kerusakan sel β
disebabkan oleh karena kerusakan sel β-pankreas. Kerusakan yang terjadi dapat-pankreas. Kerusakan yang terjadi dapat disebabkan oleh proses autoimun maupun idiopatik. Pada DM tipe 1 sekresi insulin disebabkan oleh proses autoimun maupun idiopatik. Pada DM tipe 1 sekresi insulin berkurang
berkurang atau atau terhenti.Sedangkan terhenti.Sedangkan DM DM tipe tipe 2 2 terjadi terjadi akibat akibat resistensi resistensi insulin.Padainsulin.Pada DM tipe 2 produksi insulin dalam jumlah normal atau bahkan meningkat.DM tipe 2 DM tipe 2 produksi insulin dalam jumlah normal atau bahkan meningkat.DM tipe 2 biasanya
biasanya dikaitkan dikaitkan dengan dengan sindrom sindrom resistensi resistensi insulin insulin lainnya lainnya sepertiseperti obesitas,hiperlipidemia, kantosis nigrikans, hipertensi ataupun hiperandrogenisme obesitas,hiperlipidemia, kantosis nigrikans, hipertensi ataupun hiperandrogenisme ovarium (Rustama DS, dkk. 2010).
ovarium (Rustama DS, dkk. 2010).
Klasifikasi DM berdasarkan etiologi (ISPAD 2009). Klasifikasi DM berdasarkan etiologi (ISPAD 2009). 1.
1. DM Tipe-1 (destruksi sel-DM Tipe-1 (destruksi sel-β)β) a.
a. Immune mediatedImmune mediated b.
b. IdiopatikIdiopatik 2.
2. DM tipe-2DM tipe-2 3.
3. DM Tipe lainDM Tipe lain a.
a. Defek genetik fungsi pankreas selDefek genetik fungsi pankreas sel b.
b. Defek genetik pada kerja insulinDefek genetik pada kerja insulin c.
c. Kelainan eksokrin pankreasKelainan eksokrin pankreas
Pankreatitis; Trauma/pankreatomi; Neoplasia; Kistik fibrosis; Pankreatitis; Trauma/pankreatomi; Neoplasia; Kistik fibrosis; Haemokhromatosis; Fibrokalkulus pankreatopati; dll.
d.
d. Gangguan endokrinGangguan endokrin
Akromegali; Sindrom Cushing; Glukagonoma; Feokromositoma; Akromegali; Sindrom Cushing; Glukagonoma; Feokromositoma; Hipertiroidisme; Somatostatinoma; Aldosteronoma; dll.
Hipertiroidisme; Somatostatinoma; Aldosteronoma; dll. e.
e. Terinduksi obat dan kimiaTerinduksi obat dan kimia
Vakor; Pentamidin; Asam Nikotinik; Glukokortikoid; Hormon tiroid; Vakor; Pentamidin; Asam Nikotinik; Glukokortikoid; Hormon tiroid; Diazoxid; Agonis -adrenergik; Tiazid; Dilantin; -interferon; dll.
Diazoxid; Agonis -adrenergik; Tiazid; Dilantin; -interferon; dll. 4.
4. Diabetes mellitus kehamilanDiabetes mellitus kehamilan
Sumber: ISPAD Clinical Practice Consensus Guidelines 2009. Sumber: ISPAD Clinical Practice Consensus Guidelines 2009.
B.
B. MANIFESTASI KLINIS DAN PEMERIKSAAN PENUNJANGMANIFESTASI KLINIS DAN PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang dlakukan pada DM tipe 1 dan 2 umumnya tidak Pemeriksaan penunjang yang dlakukan pada DM tipe 1 dan 2 umumnya tidak jauh berbeda.
jauh berbeda. a.
a. Glukosadarah Glukosadarah : : meningkat meningkat 200-100mg/dL200-100mg/dL b.
b. Aseton plasma (keton) : positif secara mencolokAseton plasma (keton) : positif secara mencolok c.
c. Asam Asam lemak lemak bebas bebas : : kadar kadar lipid lipid dan dan kolesterol kolesterol meningkatmeningkat d.
d. Osmolaritas serum Osmolaritas serum : : meningkat meningkat tetapi biasanya tetapi biasanya kurang kurang dari dari 330 330 mOsm/lmOsm/l e.
e. Elektrolit Elektrolit :: ·
· Natrium Natrium : : mungkin mungkin normal, normal, meningkat, meningkat, atau atau menurunmenurun ·
· Kalium Kalium : : normal normal atau atau peningkatan peningkatan semu semu ( ( perpindahan perpindahan seluler), selanjutnyseluler), selanjutnyaa akan menurun.
akan menurun. ·
· Fosfor Fosfor : : lebih lebih sering sering menurunmenurun f.
f. Hemoglobin gHemoglobin glikosilat : kadarnya likosilat : kadarnya meningkat 2-4 kali meningkat 2-4 kali lipat dari normal ylipat dari normal yangang mencerminkan control DM yang kurang selama 4 bulan terakhir ( lama mencerminkan control DM yang kurang selama 4 bulan terakhir ( lama hidup SDM) dan karenanaya sangat bermanfaat untuk membedakan DKA hidup SDM) dan karenanaya sangat bermanfaat untuk membedakan DKA dengan control tidak adekuat versus
dengan control tidak adekuat versus DKA yang berhubungan dengan insidenDKA yang berhubungan dengan insiden ( mis, ISK baru)
( mis, ISK baru)
g.
g. Gas Darah Arteri : Gas Darah Arteri : biasanya menunjukkbiasanya menunjukkan pH rendah an pH rendah dan penurunan dan penurunan padapada HCO3 ( asidosis metabolic) dengan kompensasi alkalosis respiratorik.
HCO3 ( asidosis metabolic) dengan kompensasi alkalosis respiratorik.
h. Trombosit darah : Ht mungkin meningkat ( dehidrasi) ; leukositosis : h. Trombosit darah : Ht mungkin meningkat ( dehidrasi) ; leukositosis :
hemokonsentrasi ;merupakan respon terhadap stress atau infeksi. hemokonsentrasi ;merupakan respon terhadap stress atau infeksi.
i.
i. Ureum / kUreum / kreatinin : mungreatinin : mungkin meningkkin meningkat atau normal at atau normal ( dehidrasi/ penurun( dehidrasi/ penurunanan fungsi ginjal)
fungsi ginjal) j.
j. Amilase Amilase darah darah : : mungkin mungkin meningkat meningkat yang yang mengindikasikan mengindikasikan adanyaadanya pancreatitis akut sebagai penyebab dari DKA.
pancreatitis akut sebagai penyebab dari DKA. k.
k. Insulin darah : munInsulin darah : mungkin menurun / atau bahgkin menurun / atau bahka sampai tidak ada ( pada tipe 1)ka sampai tidak ada ( pada tipe 1) atau normal sampai tinggi ( pada tipe II) yang mengindikasikan insufisiensi atau normal sampai tinggi ( pada tipe II) yang mengindikasikan insufisiensi insulin/ gangguan dalam penggunaannya (endogen/eksogen). Resisten insulin/ gangguan dalam penggunaannya (endogen/eksogen). Resisten insulin dapat berkembang sekunder terhadap pembentukan antibody .( insulin dapat berkembang sekunder terhadap pembentukan antibody .( autoantibody)
autoantibody)
l. Pemeriksaan fungsi tiroid : peningkatan aktivitas hormone tiroid dapat l. Pemeriksaan fungsi tiroid : peningkatan aktivitas hormone tiroid dapat
meningkatkan glukosa darah dan kebutuhan akan insulin. meningkatkan glukosa darah dan kebutuhan akan insulin.
m. Urine : gula dan aseton positif : berat jenis dan osmolalitas mungkin m. Urine : gula dan aseton positif : berat jenis dan osmolalitas mungkin meningkat.
meningkat.
n. Kultur dan sensitivitas : kemungkinan adanya infeksi pada saluran kemih, n. Kultur dan sensitivitas : kemungkinan adanya infeksi pada saluran kemih,
infeksi pernafasan dan infeksi pada luka. infeksi pernafasan dan infeksi pada luka.
Diabetes melitus ditegakkan berdasarkan ada tidaknya gejala. Bila dengan gejala Diabetes melitus ditegakkan berdasarkan ada tidaknya gejala. Bila dengan gejala (polidipsi, poliuria, polifagia), maka pemeriksaan gula darah abnormal satu kali (polidipsi, poliuria, polifagia), maka pemeriksaan gula darah abnormal satu kali sudah dapat menegakkan diagnosis DM. Sedangkan bila tanpa gejala, maka sudah dapat menegakkan diagnosis DM. Sedangkan bila tanpa gejala, maka diperlukan paling tidak 2 kali pemeriksaan gula darah abnormal pada waktu yang diperlukan paling tidak 2 kali pemeriksaan gula darah abnormal pada waktu yang berbeda
berbeda (Rustama (Rustama DS, DS, dkk. dkk. 2010; 2010; ISPAD ISPAD Clinical Clinical Practice Practice Consensus Consensus GuidelinesGuidelines 2009).
2009).
Kriteria hasil pemeriksaan gula darah abnormal adalah: Kriteria hasil pemeriksaan gula darah abnormal adalah: 1.
1. Kadar gula darah sewaktu >200 mg/dl atauKadar gula darah sewaktu >200 mg/dl atau 2.
2. Kadar gula darah puasa >126 mg/dl atauKadar gula darah puasa >126 mg/dl atau 3.
3. Kadar gula darah 2 jam postprandial >200 mg/dl.Kadar gula darah 2 jam postprandial >200 mg/dl.
Untuk menegakkan diagnosis DM tipe 1, maka perlu dilakukan pemeriksaan Untuk menegakkan diagnosis DM tipe 1, maka perlu dilakukan pemeriksaan penunjang,
penunjang, yaitu yaitu C-peptide C-peptide <0,85 <0,85 ng/ml. ng/ml. C-peptide C-peptide ini ini merupakan merupakan salah salah satusatu penanda
penanda banyaknya banyaknya sel sel ββ-pankreas yang masih berfungsi. Pemeriksaan lain-pankreas yang masih berfungsi. Pemeriksaan lain adalah adanya autoantibodi, yaitu Islet cell autoantibodies(ICA), Glutamic acid adalah adanya autoantibodi, yaitu Islet cell autoantibodies(ICA), Glutamic acid decarboxylase autoantibodies(65K GAD), IA2( dikenal sebagai ICA 512 atau decarboxylase autoantibodies(65K GAD), IA2( dikenal sebagai ICA 512 atau tyrosine posphatase) autoantibodiesdan Insulin autoantibodies(IAA). Adanya tyrosine posphatase) autoantibodiesdan Insulin autoantibodies(IAA). Adanya autoantibodi mengkonfirmasi DM tipe 1 karena proses autoimun. Sayangnya autoantibodi mengkonfirmasi DM tipe 1 karena proses autoimun. Sayangnya pemeriksaan
pemeriksaan autoantibodi autoantibodi ini ini relatif relatif mahal mahal (Rustama (Rustama DS, DS, dkk. dkk. 2010; 2010; ISPADISPAD Clinical Practice Consensus Guidelines 2009).
C.
C. ETIOLOGIETIOLOGI
Dokter dan para ahli belum mengetahui secara pasti penyebab diabetes Dokter dan para ahli belum mengetahui secara pasti penyebab diabetes tipe-1.Namun yang pasti penyebab utama diabetes tipe 1 adalah faktor genetik/keturunan. 1.Namun yang pasti penyebab utama diabetes tipe 1 adalah faktor genetik/keturunan. Resiko perkembangan diabetes tipe 1 akan diwariskan melalui faktor genetik.
Resiko perkembangan diabetes tipe 1 akan diwariskan melalui faktor genetik. 1.
1. Faktor GenetikFaktor Genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA (human leucosite antigen). HLA merupakan kumpulan gen yang HLA (human leucosite antigen). HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen transplantasi dan proses imun lainnya.
bertanggung jawab atas antigen transplantasi dan proses imun lainnya. 2.
2. Faktor-faktor ImunologiFaktor-faktor Imunologi
Adanya respons autotoimun yang merupakan respons abnormal dimana Adanya respons autotoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan
jaringan tersebut tersebut yang yang dianggapnya dianggapnya seolah-olah seolah-olah sebagai sebagai jaringan jaringan asing, asing, yaituyaitu autoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.
autoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen. 3.
3. Faktor lingkunganFaktor lingkungan
Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi sel beta.
D.
D. PATOFISIOLOGPATOFISIOLOGI/ I/ PERJALANAN PENYAKITPERJALANAN PENYAKIT
Perjalanan penyakit ini melalui beberapa periode menurut ISPAD Clinical Practice Perjalanan penyakit ini melalui beberapa periode menurut ISPAD Clinical Practice Consensus Guidelines tahun 2009, yaitu:
Consensus Guidelines tahun 2009, yaitu: 1.
1. Periode pra-diabetesPeriode pra-diabetes
Pada periode ini gejala-gejala klinis diabetes belum nampak karena baru ada Pada periode ini gejala-gejala klinis diabetes belum nampak karena baru ada proses
proses destruksi destruksi sel sel pankreas. pankreas. Predisposisi Predisposisi genetik genetik tertentu tertentu memungkinkanmemungkinkan terjadinya proses destruksi ini. Sekresi insulin mulai berkurang ditandai dengan terjadinya proses destruksi ini. Sekresi insulin mulai berkurang ditandai dengan mulai berkurangnya sel pankreas yang berfungsi.Kadar C-peptide mulai mulai berkurangnya sel pankreas yang berfungsi.Kadar C-peptide mulai menurun.Pada periode ini autoantibodi mulai ditemukan apabila dilakukan menurun.Pada periode ini autoantibodi mulai ditemukan apabila dilakukan pemeriksaanlaboratorium.
pemeriksaanlaboratorium. 2.
2. Periode manifestasi klinisPeriode manifestasi klinis
Pada periode ini, gejala klinis DM mulai muncul.Pada periode ini sudah terjadi Pada periode ini, gejala klinis DM mulai muncul.Pada periode ini sudah terjadi sekitar 90% kerusakan sel pankreas. Karena sekresi insulin sangat kurang, maka sekitar 90% kerusakan sel pankreas. Karena sekresi insulin sangat kurang, maka kadar gula darah akan tinggi/meningkat. Kadar gula darah yang melebihi 180 kadar gula darah akan tinggi/meningkat. Kadar gula darah yang melebihi 180 mg/dl akan menyebabkan diuresis osmotik. Keadaan ini menyebabkan terjadinya mg/dl akan menyebabkan diuresis osmotik. Keadaan ini menyebabkan terjadinya pengeluaran
pengeluaran cairan cairan dan dan elektrolit elektrolit melalui melalui urin urin (poliuria, (poliuria, dehidrasi, dehidrasi, polidipsi).polidipsi). Karena gula darah tidak dapat di-uptake kedalam sel, penderita akan merasa lapar Karena gula darah tidak dapat di-uptake kedalam sel, penderita akan merasa lapar (polifagi), tetapi berat badan akan semakin kurus. Pada periode ini penderita (polifagi), tetapi berat badan akan semakin kurus. Pada periode ini penderita memerlukan insulin dari luar agar gula darah di-uptakekedalam se
memerlukan insulin dari luar agar gula darah di-uptakekedalam se l.l. 3.
3. Periode honey-moonPeriode honey-moon
Periode ini disebut juga fase remisi parsial atau sementara. Pada periode ini Periode ini disebut juga fase remisi parsial atau sementara. Pada periode ini sisa-sisa sel pankreas akan bekerja optimal sehingga akan diproduksi insulin dari sisa sel pankreas akan bekerja optimal sehingga akan diproduksi insulin dari dalam tubuh sendiri. Pada saat ini kebutuhan insulin dari luar tubuh akan dalam tubuh sendiri. Pada saat ini kebutuhan insulin dari luar tubuh akan berkurang hingga kurang dari 0,5 U/kg berat badan/hari. Namun periode ini hanya berkurang hingga kurang dari 0,5 U/kg berat badan/hari. Namun periode ini hanya berlangsung
berlangsung sementara, sementara, bisa bisa dalam dalam hitungan hitungan hari hari ataupun ataupun bulan, bulan, sehingga sehingga perluperlu adanya edukasi ada orang tua bahwa periode ini bukanlah fase remisi yang adanya edukasi ada orang tua bahwa periode ini bukanlah fase remisi yang menetap.
menetap. 4.
4. Periode ketergantungan insulin yang menetap. Periode ini merupakan periodePeriode ketergantungan insulin yang menetap. Periode ini merupakan periode terakhir dari penderita DM. Pada periode ini penderita akan membutuhkan insulin terakhir dari penderita DM. Pada periode ini penderita akan membutuhkan insulin kembali dari luar tubuh seumur hidupnya.
Pathway Pathway
Reaksi Autoimun Reaksi Autoimun
Sel pankreas hancur Sel pankreas hancur
Definisi insulin Definisi insulin
hiperglikemia
hiperglikemia Katabolisme Katabolisme protein protein liposis liposis meningkatmeningkat meningkat
meningkat
Pembatasan
Pembatasan diet diet Penurunan Penurunan BBBB
fleksibilitas fleksibilitas darah
darah merah merah Intake Intake tidak tidak Resiko Resiko nutrisinutrisi
adekuat kurang
adekuat kurang
pelepasan O2 pelepasan O2
Poliuria
Poliuria deficit deficit volume volume cairancairan
hipoksia perifer hipoksia perifer
Perfusi jaringan Perfusi jaringan Perifer tidak efektif Perifer tidak efektif
Nyeri Nyeri
ASUHAN KEPERAWATAN ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian 1. Pengkajian
Pengkajian pada klien dengan gangguan sistem endokrin diabetes mellitus dilakukan mulai Pengkajian pada klien dengan gangguan sistem endokrin diabetes mellitus dilakukan mulai dari pengumpulan data yang meliputi : biodata, keadaan umum pasien, tanda-tanda vital, dari pengumpulan data yang meliputi : biodata, keadaan umum pasien, tanda-tanda vital, riwayat kesehatan, keluhan utama, sifat keluhan, riwayat kesehatan masa lalu, pemeriksaan riwayat kesehatan, keluhan utama, sifat keluhan, riwayat kesehatan masa lalu, pemeriksaan fisik, pola kegiatan sehari-hari.
fisik, pola kegiatan sehari-hari. a.Identitas
a.Identitas
Merupakan identitas klien meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, alamat, Merupakan identitas klien meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, alamat, tanggal masuk rumah sakit, nomor register, tanggal pengkajian dan diagnosa medis. Identitas tanggal masuk rumah sakit, nomor register, tanggal pengkajian dan diagnosa medis. Identitas ini digunakan untuk membedakan klien satu dengan yang lain. Jenis kelamin, umur dan ini digunakan untuk membedakan klien satu dengan yang lain. Jenis kelamin, umur dan alamat dan lingkungan kotor dapat mempercepat atau memperberat keadaan penyakit infeksi. alamat dan lingkungan kotor dapat mempercepat atau memperberat keadaan penyakit infeksi. b. Keluhan utama
b. Keluhan utama
Merupakan kebutuhan yang mendorong penderita untuk masuk RS. Merupakan kebutuhan yang mendorong penderita untuk masuk RS. Ds
Ds yg yg mungkin mungkin timbul :timbul :
Klien mengeluh sering kesemutan.Klien mengeluh sering kesemutan.
Klien mengeluh sering buang air kecil saat malam hariKlien mengeluh sering buang air kecil saat malam hari
Klien mengeluh sering merasa hausKlien mengeluh sering merasa haus
Klien mengeluh mengalami rasa lapar yang berlebihan (polifagia)Klien mengeluh mengalami rasa lapar yang berlebihan (polifagia)
Klien mengeluh merasa lemahKlien mengeluh merasa lemah
Klien mengeluh pandangannya kaburKlien mengeluh pandangannya kabur
Do : Do :
Klien tampak lemas.Klien tampak lemas.
Terjadi penurunan berat badanTerjadi penurunan berat badan
Tonus otot menurunTonus otot menurun
Terjadi atropi ototTerjadi atropi otot
Kulit dan membrane mukosa tampak keringKulit dan membrane mukosa tampak kering
Tampak adanya luka ganggrenTampak adanya luka ganggren
c. Keadaan Umum c. Keadaan Umum
Meliputi kondisi seperti tingkat ketegangan/kelelahan, tingkat kesadaran kualitatif atau GCS Meliputi kondisi seperti tingkat ketegangan/kelelahan, tingkat kesadaran kualitatif atau GCS dan respon verbal klien.
dan respon verbal klien. d.Tanda-tanda Vital d.Tanda-tanda Vital Meliputi pemeriksaan: Meliputi pemeriksaan:
Tekanan darah: sebaiknya diperiksa dalam posisi yang berbeda, kaji tekanan nadi, dan Tekanan darah: sebaiknya diperiksa dalam posisi yang berbeda, kaji tekanan nadi, dan kondisi patologis. Biasanya pada DM type 1, klien cenderung memiliki TD yang meningkat/ kondisi patologis. Biasanya pada DM type 1, klien cenderung memiliki TD yang meningkat/ tinggi/ hipertensi.
tinggi/ hipertensi.
Pulse ratePulse rate
Respiratory rateRespiratory rate
SuhuSuhu
e. Pemeriksaan Fisik e. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pada penyakit ini biasanya didapatkan : Pemeriksaan fisik pada penyakit ini biasanya didapatkan :
Inspeksi : kulit dan membrane mukosa tampak kering, tampak adanya atropi otot,Inspeksi : kulit dan membrane mukosa tampak kering, tampak adanya atropi otot,
adanya luka ganggren, tampak pernapasan cepat dan dalam, tampak adanya reti
adanya luka ganggren, tampak pernapasan cepat dan dalam, tampak adanya reti nopati,nopati, kekaburan pandangan.
kekaburan pandangan.
Palpasi : kulit teraba kering, tonus otot menuru.Palpasi : kulit teraba kering, tonus otot menuru.
Auskultasi : adanya peningkatan tekanan darah.Auskultasi : adanya peningkatan tekanan darah.
f. Pemeriksaan penunjang f. Pemeriksaan penunjang
Glukosa darah : meningkat 200-100mg/dLGlukosa darah : meningkat 200-100mg/dL
Aseton plasma (keton) : positif secara mencolokAseton plasma (keton) : positif secara mencolok
Asam lemak bebas : kadar lipid dan kolesterol meningkatAsam lemak bebas : kadar lipid dan kolesterol meningkat
Osmolalitas serum : meningkat tetapi biasanya kurang dari 330 mOsm/lOsmolalitas serum : meningkat tetapi biasanya kurang dari 330 mOsm/l
.-
.- Elektrolit Elektrolit ::
Natrium : mungkin no Natrium : mungkin normal, meningkat, atau menurunrmal, meningkat, atau menurun
Kalium : normal atau peningkatan semu ( perpindahan seluler), selanjutnya akanKalium : normal atau peningkatan semu ( perpindahan seluler), selanjutnya akan
menurun menurun
Fosfor : lebih sering menurunFosfor : lebih sering menurun
-
- Hemoglobin Hemoglobin glikosilat : glikosilat : kadarnya kadarnya meningkat 2-4 meningkat 2-4 kali lipat kali lipat dari normal dari normal yangyang mencerminkan control DM yang kurang selama 4 bulan terakhir ( lama hidup SDM) dan mencerminkan control DM yang kurang selama 4 bulan terakhir ( lama hidup SDM) dan
karenanaya sangat bermanfaat untuk membedakan DKA dengan control tidak adekuat karenanaya sangat bermanfaat untuk membedakan DKA dengan control tidak adekuat versus DKA yang berhubungan dengan insiden ( mis,
versus DKA yang berhubungan dengan insiden ( mis, ISK baru)ISK baru) -
- Gas Darah Arteri : Gas Darah Arteri : biasanya menunjukkan biasanya menunjukkan pH rendah dan pH rendah dan penurunan pada penurunan pada HCO3HCO3 (asidosis metabolic) dengan kompensasi alkalosis respiratorik.
(asidosis metabolic) dengan kompensasi alkalosis respiratorik.
- Trombosit darah : Ht mungkin meningkat ( dehidrasi) ; leukositosis : - Trombosit darah : Ht mungkin meningkat ( dehidrasi) ; leukositosis :
hemokonsentrasi ;merupakan respon terhadap stress atau infeksi. hemokonsentrasi ;merupakan respon terhadap stress atau infeksi. -
- Ureum / kreatinin : mUreum / kreatinin : mungkin meningungkin meningkat atau normal ( dehidrasi/ penukat atau normal ( dehidrasi/ penurunan fungsirunan fungsi ginjal)
ginjal) -
- Amilase darah Amilase darah : mung: mungkin meningkin meningkat yang kat yang mengindikasikan adanymengindikasikan adanya pancreatitisa pancreatitis akut sebagai penyebab dari DKA.
akut sebagai penyebab dari DKA. -
- Insulin darah : mungInsulin darah : mungkin menurun / atau bahkkin menurun / atau bahka sampai tidak ada ( pada tipe 1) ataua sampai tidak ada ( pada tipe 1) atau normal sampai tinggi ( pada tipe II) yang mengindikasikan insufisiensi insulin/ normal sampai tinggi ( pada tipe II) yang mengindikasikan insufisiensi insulin/ gangguan dalam penggunaannya (endogen/eksogen). Resisten insulin dapat gangguan dalam penggunaannya (endogen/eksogen). Resisten insulin dapat berkembang sekunder terhadap pemb
berkembang sekunder terhadap pembentukan antibody .( autoantibodyentukan antibody .( autoantibody))
- Pemeriksaan fungsi tiroid : peningkatan aktivitas hormone tiroid dapat - Pemeriksaan fungsi tiroid : peningkatan aktivitas hormone tiroid dapat
meningkatkan glukosa darah dan kebutuhan akan insulin. meningkatkan glukosa darah dan kebutuhan akan insulin. -
- Urine : Urine : gula dan gula dan aseton positif : aseton positif : berat jenis berat jenis dan osmolalitas mudan osmolalitas mungkin ngkin meningkat.meningkat. -
- Kultur dan sensitivitas : Kultur dan sensitivitas : kemungkinan adanykemungkinan adanya infeksi pada saluran a infeksi pada saluran kemih, infeksikemih, infeksi pernafasan dan infeksi pada luka.
pernafasan dan infeksi pada luka. g.
g. Riwayat Riwayat KesehatanKesehatan ·
· Riwayat Riwayat Kesehatan Kesehatan KeluargaKeluarga
Adakah keluarga yang menderita penyakit seperti klien ? Adakah keluarga yang menderita penyakit seperti klien ? ·
· Riwayat Kesehatan Riwayat Kesehatan Pasien dan Pasien dan Pengobatan Pengobatan SebelumnyaSebelumnya
Berapa lama klien menderita DM, bagaimana penanganannya, mendapat terapi insulin Berapa lama klien menderita DM, bagaimana penanganannya, mendapat terapi insulin jenis
jenis apa, apa, bagaimana bagaimana cara cara minum minum obatnya obatnya apakah apakah teratur teratur atau atau tidak, tidak, apa apa saja saja yangyang dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya.
dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya. Hal
Hal – – hal yang biasanya didapat dari pengkajian pada klien dengan diabetes mel hal yang biasanya didapat dari pengkajian pada klien dengan diabetes mel litus :litus : 1. Aktivitas/ Istirahat
1. Aktivitas/ Istirahat
Letih, Lemah, Sulit Bergerak / berjalan, kram otot, tonus otot menurun. Letih, Lemah, Sulit Bergerak / berjalan, kram otot, tonus otot menurun. 2. Sirkulasi
2. Sirkulasi
Adakah riwayat hipertensi, AMI, klaudikasi, kebas, kesemutan pada ekstremitas, ulkus Adakah riwayat hipertensi, AMI, klaudikasi, kebas, kesemutan pada ekstremitas, ulkus padA kaki yang peny
padA kaki yang penyembuhannya lama, takikardi, perubahan embuhannya lama, takikardi, perubahan tekanan darahtekanan darah 3. Integritas Ego
3. Integritas Ego Stress, ansietas Stress, ansietas
4. Eliminasi 4. Eliminasi
Perubahan pola berkemih ( poliuria, nokturia, anuria ), diare Perubahan pola berkemih ( poliuria, nokturia, anuria ), diare 5. Makanan / Cairan
5. Makanan / Cairan
Anoreksia, mual muntah, tidak mengikuti diet, penurunan berat badan, haus, penggunaan Anoreksia, mual muntah, tidak mengikuti diet, penurunan berat badan, haus, penggunaan diuretik.
diuretik.
6. Neurosensori 6. Neurosensori
Pusing, sakit kepala, kesemutan, kebas kelemahan pada otot, parestesia,gangguan Pusing, sakit kepala, kesemutan, kebas kelemahan pada otot, parestesia,gangguan penglihatan.
penglihatan.
7. Nyeri / Kenyamanan 7. Nyeri / Kenyamanan
Abdomen tegang, nyeri (sedang / berat) Abdomen tegang, nyeri (sedang / berat) 8. Pernapasan
8. Pernapasan
Batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergangung adanya infeksi /
Batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergangung adanya infeksi / tidak)tidak) 9. Keamanan
9. Keamanan
Kulit kering, gatal, ulkus kulit. Kulit kering, gatal, ulkus kulit.
2.
2. DIAGNOSA DIAGNOSA KEPERAWATANKEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada pasien dengan DM type 1 meliputi: Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada pasien dengan DM type 1 meliputi: 1.
1. Resiko KResiko Ketidakseimbangan ketidakseimbangan kadar gula adar gula darah berhubudarah berhubungan dngan dengan pengan penyakit diabetesenyakit diabetes melitus
melitus
2. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energy metabolik ditandai 2. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energy metabolik ditandai
dengansering lelah, lemah, pucat, klien tampak letargi/tidak bergairah. dengansering lelah, lemah, pucat, klien tampak letargi/tidak bergairah. 3.
3. Ketidakseimbangan Ketidakseimbangan nutrisi: kurang nutrisi: kurang dari kebdari kebutuhan utuhan tubuh tubuh berhubungan berhubungan dengan dengan tidaktidak mampu dalam mengabsorbsi makanan karena faktor biologi (defisiensi insulin) ditandai mampu dalam mengabsorbsi makanan karena faktor biologi (defisiensi insulin) ditandai dengan lemas, berat badan pasien menurun walaupun intake makanan adekuat, mual dan dengan lemas, berat badan pasien menurun walaupun intake makanan adekuat, mual dan muntah, konjungtiva tampak pucat, pasien tampak l
muntah, konjungtiva tampak pucat, pasien tampak lemah, GDS >200 mg/dlemah, GDS >200 mg/dl 4.
4. Resiko infeksi Resiko infeksi berhubungan berhubungan dengan pdengan pertahanan sekunder ertahanan sekunder tidak adekuat tidak adekuat (penurunan (penurunan fungsifungsi limfosit).
limfosit). 5.
3.
3. RENCANA RENCANA INTERVENSIINTERVENSI
1.
1. Resiko KResiko Ketidakseimbangan ketidakseimbangan kadar gula adar gula darah berhubudarah berhubungan dngan dengan pengan penyakit diabetesenyakit diabetes melitus
melitus Intervensi Intervensi 1.
1. Monitor kadar gula darahMonitor kadar gula darah 2.
2. Monitor tanda dan gejala hiperglikemia dan hipoglikemiaMonitor tanda dan gejala hiperglikemia dan hipoglikemia Monitor tanda-tanda vital
Monitor tanda-tanda vital 3.
3. Berikan terapi insulin sesuai programBerikan terapi insulin sesuai program 4.
4. Instruksikan kepada pasien da keluarga mengenai pencegahan dan pengenalan tanda-Instruksikan kepada pasien da keluarga mengenai pencegahan dan pengenalan tanda-tanda hiperglikemia dan hipoglikemia dan managemen hiperglikemia dan tanda hiperglikemia dan hipoglikemia dan managemen hiperglikemia dan hipoglikemia
hipoglikemia 5.
5. Instruksikan kepada pasien untuk selalu patuh terhadap diitnyaInstruksikan kepada pasien untuk selalu patuh terhadap diitnya 2.
2. Kelelahan berhubuKelelahan berhubungan dengan ngan dengan penurunan produpenurunan produksi energy ksi energy metabolik ditandai dengmetabolik ditandai denganan sering
sering lelah, lelah, lemah, lemah, pucat pucat , , klien klien tampak tampak letargi/tidak letargi/tidak bergairahbergairah Intervensi
Intervensi 1.
1. Diskusikan dengan pasien dan keluarga kebutuhan aktivitasDiskusikan dengan pasien dan keluarga kebutuhan aktivitas 2.
2. Tingkatkan partisipasi pasien dalam melakukan aktifitas sehari-hariTingkatkan partisipasi pasien dalam melakukan aktifitas sehari-hari 3.
3. Monitor TTVMonitor TTV 3.
3. Ketidakseimbangan nKetidakseimbangan nutrisi: kurang utrisi: kurang dari kebutuhan dari kebutuhan tubuh tubuh berhubungan berhubungan dengan tidakdengan tidak mampu dalam mengabsorbsi makanan karena faktor biologi (defisiensi insulin) ditandai mampu dalam mengabsorbsi makanan karena faktor biologi (defisiensi insulin) ditandai dengan lemas, berat badan pasien menurun walaupun intake makanan adekuat, mual dan dengan lemas, berat badan pasien menurun walaupun intake makanan adekuat, mual dan muntah, konjungtiva tampak pucat, pasien tampak l
muntah, konjungtiva tampak pucat, pasien tampak lemah, GDS >200 mg/dlemah, GDS >200 mg/dl 1. kolaburasi dengan ahki gizi untuk pemberian diit
1. kolaburasi dengan ahki gizi untuk pemberian diit 2. Monitor berat badan tiap hari
2. Monitor berat badan tiap hari
3. libatkan kelurga pasien dalam perencanaan makanan sesuai dengan indikasi 3. libatkan kelurga pasien dalam perencanaan makanan sesuai dengan indikasi 4. Berikan terapi insulin sesuai dengan program
4. Berikan terapi insulin sesuai dengan program
5. Ciptakan lingkungan yang optimal saat mengkomsumsi makanan 5. Ciptakan lingkungan yang optimal saat mengkomsumsi makanan
4.
4. resiko infeksi resiko infeksi berhubungberhubungan dengan an dengan pertahanan sekundpertahanan sekunder tidak er tidak adekuat (penuadekuat (penurunan furunan fungsingsi limfosit).
limfosit). Intervensi Intervensi 1.
1. Observasi tanda-tanda infeksi dan peradanganObservasi tanda-tanda infeksi dan peradangan 2.
2. Tingkatkan upaya pencegahan dengan cara cuci tangan yang pada semua orangTingkatkan upaya pencegahan dengan cara cuci tangan yang pada semua orang yang berhubungan dengan pasien termasuk pasien sendiri
yang berhubungan dengan pasien termasuk pasien sendiri 3.
3. Pertahankan teknik aseptik pada prosedur invasifPertahankan teknik aseptik pada prosedur invasif 4.
4. Lakukan perubahan posisi, anjurkan batuk efektif dan nafas dalamLakukan perubahan posisi, anjurkan batuk efektif dan nafas dalam
5. Resiko cedera berhubungan dengan disfungsi sensori 5. Resiko cedera berhubungan dengan disfungsi sensori
Intervensi Intervensi
1.Monitor tanda-tanda vital 1.Monitor tanda-tanda vital
2. Orientasikan pasien dengan lingkungan sekitarnya 2. Orientasikan pasien dengan lingkungan sekitarnya
3. Pantau adanya keluhan parestesia,nyeri atau kehilangan sensori 3. Pantau adanya keluhan parestesia,nyeri atau kehilangan sensori
DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA
Brink SJ, Lee WRW, Pillay K, Kleinebreil (2010).Diabetes in children and adolescents, basic Brink SJ, Lee WRW, Pillay K, Kleinebreil (2010).Diabetes in children and adolescents, basic training manual for healthcare professionals in developing countries, 1sted. Argentina: training manual for healthcare professionals in developing countries, 1sted. Argentina: ISPAD, h 20-21.
ISPAD, h 20-21.
Weinzimer SA, Magge S (2005). Type 1 diabetes mellitus in children. Dalam: Moshang T Jr. Weinzimer SA, Magge S (2005). Type 1 diabetes mellitus in children. Dalam: Moshang T Jr.
Pediatric endocrinology. Philadelphia: Mosby Inc, h 3-18. Pediatric endocrinology. Philadelphia: Mosby Inc, h 3-18.
Rustama DS, Subardja D, Oentario MC, Yati NP, Satriono, Harjantien N (2010).Diabetes Rustama DS, Subardja D, Oentario MC, Yati NP, Satriono, Harjantien N (2010).Diabetes Melitus. Dalam: Jose RL Batubara Bambang Tridjaja AAP Aman B. Pulungan, editor. Melitus. Dalam: Jose RL Batubara Bambang Tridjaja AAP Aman B. Pulungan, editor. Buku Ajar Endokrinologi Anak, Jakarta: Sagung Seto 2010, h 124-161.
Buku Ajar Endokrinologi Anak, Jakarta: Sagung Seto 2010, h 124-161.
ISPAD Clinical Practice Consensus Guidelines 2009. Pediatric Diabetes 2009: 10. ISPAD Clinical Practice Consensus Guidelines 2009. Pediatric Diabetes 2009: 10.
http://repository.maranatha.edu/3415/3/0910085_Chapter1.pdf
http://repository.maranatha.edu/3415/3/0910085_Chapter1.pdf (Diakses pada tanggal 1(Diakses pada tanggal 1 Maret 2015)