• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemahaman Terhadap UU.36 / 1999 Tentang Telekomunikasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pemahaman Terhadap UU.36 / 1999 Tentang Telekomunikasi"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

Pemahaman

Terhadap UU.36 /

1999 Tentang

Telekomunikasi

Oleh : Agus Priyanto, M.Kom

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELEMATIKA TELKOM

(2)

Timeline Perundang-undangan Telekomunikasi

■ 27 Maret 1966 ditetapkan Kepres No.63 tahun 1966, Kementerian

Pos dan Telekomunikasi diubah statusnya menjadi Departemen Pos dan Telekomunikasi yang dikepalai oleh seorang Deputi Menteri dan berada di dalam lingkungan Kementerian Perhubungan yang dipimpin oleh Menteri Perhubungan.

■ 25 juli 1966 dengan Keppres No. 163 tahun 1966 Kabinet Dwikora

dibubarkan dan sebagai gantinya dibentuk Kabinet Ampera. Di dalam Kabinet Ampera, Departemen Pos dan Telekomunikasi dalam Kabinet Ampera, Departemen Pos dan Telekomunikasi diubah statusnya menjadi Direktur Jenderal Pos dan Telekomunikasi yang dipimpin oleh Direktur Jenderal Pos dan Telekomunikasi dan berada di dalam lingkungan Departemen Perhubungan.

■ Penyelenggaran telekomunikasi dilaksanakan oleh Pemerintah yang

diwakili oleh Depparpostel di bawah Direktur Jenderal Pos dan

Telekomunikasi yang selanjutnya penyelenggaraan jasa

telekomunikasi dapat dilimpahkan kepada badan

penyelenggara, yakni Badan Usaha Milik Negara yang bentuk usahanya sesuai dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1969 tentang Bentuk-Bentuk Usaha Negara

(3)

Kondisi Sektor Telekomunikasi Era UU 3 Tahun 1989

(monopoli)

• Pembangunan infrastruktur telekomunikasi dengan jaringan tetap

• Layanan yang diberikan berupa layanan suara

• Penetapan tarif sesuai jumlah “menit”

Kondisi

industri

• Penyelenggara telekomunikasi dibedakan atas jasa telekomunikasi dasar dan jasa

Peta

atas jasa telekomunikasi dasar dan jasa

telekomunikasi non dasar

• Teknologi telekomunikasi didominasi oleh saluran kawat/kabel

Peta

lisensi

• Pasar telekomunikasi yang bersifat monopolistik

• Penyelenggaraan telekomunikasi

didominasi oleh Badan Usaha Milik Negara • Penerapan regulasi yang ketat

Pola

(4)

Pemenuhan Aspek Era UU 3 Tahun 1989 (monopoli)

• , perkembangan jaringan telepon tetap (fixed telephone) masih sangat rendah bahkan jika dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara

Aksesibilitas

• Jaringan Telepon Tetap, Pada tahun 1989 baru tersedia 800.000 Satuan Sambungan Telepon ,tahun 1996 dan

Availabilitas

Sambungan Telepon ,tahun 1996 dan

akan mencapai 8.000.000 SST

Availabilitas

• Susunan tarif jasa telekomunikasi ditetapkan oleh pemerintah dengan peraturan pemerintah.

(5)

Pencapaian industri pada Era UU Nomor 3 Tahun 1989

Dampak berlakunya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1989 adalah

mulai masuknya pihak-pihak swasta dengan modal yang besar

dan harus menjalin kerjsama dengan Badan Penyelenggara, yaitu

PT Telkom dan PT Indosat.

Perusahaan – perusahaan yang menyediakan jasa telekomunikasi

adalah:

• Jaringan lokal nasional dilakukan oleh PT Telkom, kecuali di

• Jaringan lokal nasional dilakukan oleh PT Telkom, kecuali di

Jakarta dan Jawa Barat dilakukan oleh PT Telkom dan PT

Ratelindo

• Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ) dilakukan oleh PT

Telkom

• Sambungan Langsung Internasional (SLI) dilakukan oleh PT

Indosat dan PT Satelindo

• Jaringan Bergerak dilakukan oleh PT Satelindo, PT Telkomsel,

dan PT Excelcomindo dengan jaringan GSM.

(6)

Kondisi Sektor Telekomunikasi Era UU 36 Tahun 1999

Pada implementasi UU Nomor 36 Tahun 1999, masih terdapat duopoli

dalam penyelenggaraan jaringan tetap lokal, jaringan SLJJ, dan

jaringan SLI oleh penyelenggara PT. Telkom dan PT. Indosat, namun

dengan adanya Keputusan Menteri Kominfo No. 76 Tahun 2007,

secara

resmi

diumumkan

pembukaan

peluang

usaha

untuk

penyelenggaraan jaringan tersebut diatas.

Jumlah satuan sambungan telepon (SST) di Indonesia akhir tahun

Jumlah satuan sambungan telepon (SST) di Indonesia akhir tahun

2005 lebih dari 40 Juta, sementara tahun 2006 diperkirakan jumlah

pelanggan menjadi 55 Juta SST atau tumbuh sekitar 30%. Namun

demikian, pertumbuhan tersebut didominasi oleh pelanggan telepon

bergerak seluler.

Dalam era kompetisi ini kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah

guna

meningkatkan

aksesibilitas

dan

availibilitas

layanan

telekomunikasi serta kreativitas dan inovasi masyarakat melalui

layanan telekomunikasi belum dapat tercapai. Pada era kompetisi

jaringan dan layanan telekomunikasi di Indonesia masih belum merata

(7)

Kebijakan yang Ditempuh Sektor Telekomunikasi Era

UU 36 Tahun 1999

• Dengan dilakukannya duopoli maka pemerintah bisa melakukan divestasi Telkom dan Indosat sehingga mereka berubah menjadi perusahaan terbuka. • Penyelenggaraan Fixed Wireless Access (FWA).

• Penyelenggaraan telekomunikasi tidak lagi dibedakan atas jasa telekomunikasi dasar dan telekomunikasi non dasar.

• Penyelenggaraan telekomunikasi tidak lagi hanya diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Telekomunikasi, tetapi dapat diselenggarakan pula oleh Badan Hukum lain (Badan Usaha Milik Daerah atau Badan Usaha Milik oleh Badan Hukum lain (Badan Usaha Milik Daerah atau Badan Usaha Milik Negara/Swasta maupun Koperasi)

• Mewajibkan kepada setiap penyelenggara jaringan dan atau penyelenggara jasa telekomunikasi memberikan kontribusi dalam pelayanan di daerah yang belum berkembang atau belum terlayani jaringan telekomunikasi yang merupakan penugasan dari Pemerintah (Universal Service Obligation/USO). • kebijakan modern licensing yang mewajibkan penyelenggara telekomunikasi

untuk melakukan pembangunan infrastruktur telekomunikasi dan dievaluasi secara berkala oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta pemerataan pembangunan infrastruktur telekomunikasi

(8)

Kerangka UU 36 Tahun 1999

Ketentuan umum Asas dan tujuan Penyidikan tujuan Pembinaan Penyelenggar aan Penyidikan

(9)

Ketentuan umum

• Telekomunikasi adalah setiap pemancaran, pengiriman, dan atau penerimaan dari setiap informasi dalam bentuk tanda-tanda, isyarat, tulisan, gambar, suara, dan bunyi melalui sistem kawat, optik, radio, atau sistem elektromagnetik lainnya;

• Alat telekomunikasi adalah setiap alat perlengkapan yang digunakan dalam bertelekomunikasi;

• Perangkat telekomunikasi adalah sekelompok alat telekomunikasi yang memungkinkan bertelekomunikasi;

memungkinkan bertelekomunikasi;

• Sarana dan prasarana telekomunikasi adalah segala sesuatu yang memungkinkan dan mendukung berfungsinya telekomunikasi;

• Pemancar radio adalah alat telekomunikasi yang menggunakan dan memancarkan gelombang radio;

• Penyelenggara telekomunikasi adalah perseorangan, koperasi, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), Badan Usaha Milik Negara (BUMN), badan usaha swasta, instansi pemerintah, dan instansi pertahanan keamanan negara;

• Menteri adalah Menteri yang ruang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang telekomunikasi.

(10)

Asas dan tujuan

• Telekomunikasi

diselenggarakan

berdasarkan

asas

manfaat, adil dan merata, kepastian hukum, keamanan,

kemitraan, etika, dan kepercayaan pada diri sendiri.

• Telekomunikasi diselenggarakan dengan tujuan untuk

mendukung

persatuan

dan

kesatuan

bangsa,

meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat

meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat

secara

adil

dan

merata,

mendukung

kehidupan

ekonomi

dan

kegiatan

pemerintahan,

serta

meningkatkan hubungan antarbangsa.

Telekomunikasi dikuasai oleh Negara dan pembinaannya dilakukan oleh Pemerintah.

(11)

Penyelenggaraan Telekomunikasi Berdasarkan UU No.

36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi

Penyelenggaraan telekomunikasi penyelenggaraan jaringan telekomunikasi penyelenggaraan jasa telekomunikasi penyelenggaraan telekomunikasi khusus

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

(12)

T E L E K O TELEPONI JARAK JAUH INTERNASIONAL TERESTRIAL •TELEPON •TELEXS TELKOM S E G M E N TERBUKA JARINGAN PENYELENGGARAAN SEJAK 2005 HINGGA 2004 PERIZINAN SELEKSI PERSAINGAN PERSAINGAN PERSAINGAN PERSAINGAN ( EKSKLUSIVITAS) TERBUKA STRUKTUR SELEKSI TETAP BERGERAK LOKAL PAKET SIRKIT TERTUTUP SELULER SATELIT TERBUKA TELKOM - ISAT TERBUKA TELKOM - ISAT TERBUKA TELKOM - ISAT TERBUKA SELEKSI O M U N I K A S I TELEPONI DASAR TERBUKA •TELEXS •TELEGRAP •FAKSIMILI TERBUKA & ISAT TELSUS TERTUTUP TERBUKA PERSAINGAN PERSAINGAN TERTUTUP PERSAINGAN (EKSKLUSIVITAS) PERSAINGAN TERBUKA

-JASA TAMBAHNILAI TELEPONI MULTIMEDIA KEPERLUAN SENDIRI PENYIARAN HANKAM •AMATIR RADIO •PEMERINTAH •DINAS KHUSUS •BADAN HUKUM •RADIO SIARAN •TELEVISI SIARAN •TNI •POLRI -SELEKSI EVALUASI EVALUASI EVALUASI SELEKSI -•PANGGILAN PREMIUM •KARTU PANGGIL •TELEPON MAYA •RTUU

•STORE & FORWARD •CALL CENTRE •TELEVISI BERBAYAR •ISP •NAP •INTERNET TELEPONI •WAP •DLL

(13)

Penyelenggaraan Jaringan Telekomunikasi

Penyelenggaraan jaringan telekomunikasi adalah kegiatan penyediaan dan atau pelayanan jaringan telekomunikasi yang memungkinkan terselenggaranya telekomunikasi.

Penyelenggara dari penyelenggaraan jaringan telekomunikasi dapat berbentuk badan hukum yaitu BUMN, BUMD, badan usaha swasta dan koperasi.

Penyelenggara jaringan telekomunikasi dapat sekaligus menjadi penyelenggara jasa telekomunikasi.

(14)

Penyelenggaraan Jasa Telekomunikasi

• Penyelenggaraan jasa telekomunikasi adalah kegiatan penyediaan dan atau pelayanan jasa telekomunikasi yang memungkinkan terselenggaranya

telekomunikasi.

• Dalam penyelenggaraannya, dapat menggunakan dan atau menyewa jaringan telekomunikasi milik penyelenggara jaringan telekomunikasi.

(15)

Penyelenggaraan Telekomunikasi Khusus

 Penyelenggaraan telekomunikasi khusus adalah penyelenggaraan

telekomunikasi yang sifat, peruntukkan dan pengoperasiannya khusus.  Penyelenggara telekomunikasi khusus ini dapat menyelenggarakan

telekomunikasi untuk : • keperluan sendiri

• keperluan hankam negara • keperluan penyiaran

 Penyelenggaraan bentuk seperti ini dapat berupa penyelenggaraan untuk keperluan meteorologi dan geofisika, televisi siaran, radio siaran, navigasi, keperluan meteorologi dan geofisika, televisi siaran, radio siaran, navigasi, penerbangan, pencarian dan pertolongan kecelakaan, amatir radio,

komunikasi radio antar penduduk dan penyelenggaraan telekomunikasi khusus instansi pemerintah tertentu/swasta.

 Pihak-pihak yang menyelenggarakan untuk penyelenggaraan telekomunikasi khusus adalah :

• perseorangan

• instansi pemerintah • dinas khusus

(16)

Hak Penyelenggara dan pengguna telekomunikasi

 Untuk kemudahanan, pengoperasian dan atau pemeliharaan jaringan telekomunikasi, penyelenggara telekomunikasi diberi kemudahan untuk memanfaatkan dan atau melintasi batas yang dikuasai pemerintah.

 Pemanfaatan dan pelintasan tersebut dapat berupa pelintasan bangunan & tanah negara, sungai, danau, laut (permukaan dan dasar).

 Namun pemanfaatan dan pelintasan tersebut harus telah mendapat

persetujuan dari instansi pemerintah yang bertanggung jawab dan pihak-pihak yang terkait.

Dari sisi pengguna telekomunikasi, haruslah memperoleh hak yang sama  Dari sisi pengguna telekomunikasi, haruslah memperoleh hak yang sama

untuk dapat menggunakan atau memperoleh fasilitas yang sama dalam penggunaan jaringan telekomunikasi dan jasa telekomunikasi dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(17)

Kewajiban Penyelenggara Telekomunikasi

• memberikan kontribusi dalam pelayanan universal yang berbentuk penyediaan sarana dan prasarana telekomunikasi dan atau konpensasi lain • menyediakan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada semua pengguna • meningkatkan efisuensi dalam penyelenggaraan telekomunikasi

• memenuhi standar pelayanan serta standar penyediaan sarana dan prasarana

• mencatat / merekam secara rinci pemakaian jasa telekomunikasi yang digunakan oleh pengguna (untuk penyelenggara jasa telekomunikasi)

• menjamin kebebasan penggunaanya untuk memilih jaringan telekomunikasi • menjamin kebebasan penggunaanya untuk memilih jaringan telekomunikasi lain untuk pemenuhan kebutuhan telekomunikasi (untuk penyelenggara jaringan telekomunikasi)

• memberikan prioritas untuk pengiriman, penyaluran, penyampaian informasi penting yang menyangkut keamanan negara, keselamatan jiwa manusia dan harta benda, bencana alam, marabahaya dan atau wabah penyakit.

• Membayar biaya oenyelenggaraab telekomunikasi dengan prosentase pendapatan.

(18)

Larangan Penyelenggara Telekomunikasi

• Penyelenggara telekomunikasi dilarang melakukan kegiatan usaha yang bertentangan dengan kepentingan umum, kesusilaan, keamanan, atau ketertiban umum. Selain itu setiap orang dilarang melakukan perbuatan tanpa hak / tidak sah / memanipulasi akses ke 3 bentuk penyelenggaraan telekomunikasi (jaringan, jasa & khusus)

• Dalam penyelenggaraan telekomunikasi dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat di antara penyelenggara telekomunikasi.

(19)
(20)

Perizinan

Izin Prinsip

merupakan izin yang diterbitkan untuk memberikan kesempatan kepada

penyelenggara untuk menyiapkan sarana dan prasarana selama waktu

tertentu sesuai jenis penyelenggaraan telekomunikasi.

Uji Laik Operasi (ULO)

adalah pengujian teknis yang dilakukan oleh lembaga yang telah

diakreditasi atau tim yang dibentuk oleh Direktur Jenderal dengan tugas

diakreditasi atau tim yang dibentuk oleh Direktur Jenderal dengan tugas

melaksanakan proses pengujian system secara teknis dan operasional.

Izin Penyelenggaraan (Modern Licensing)

 Izin yang diterbitkan setelah pemegang izin prinsip dinyatakan lulus

uji laik operasi.

 Izin penyelenggaraan berbentuk kontrak yang memuat hak,

kewajiban, sanksi dan pelaporan penyelenggaraan.

(21)
(22)

Interkoneksi

 Interkoneksi adalah keterhubungan antarjaringan telekomunikasi dari penyelenggara jaringan telekomunikasi yang berbeda.

 Dalam pelaksanaannya, setiap penyelenggara jaringan telekomunikasi berhak untuk mendapatkan interkoneksi dari penyelenggara jaringan telekomunikasi lain.

 Disamping itu, penyelengggara jaringan telekomunikasi wajib menyediakan interkoneksi apabila diminta oleh penyelenggara jaringan telekomunikasi lainnya.

lainnya.

 Hak dan kewajiban yang dimaksud harus dilakukan dengan prinsip untuk pemanfaatan sumber daya secara efisien, keserasian system dan perangkat telekomunikasi, peningkatan muti pelayanan dan persaingan sehat.

 Regulasi mengenai interkoneksi terdapat pada PM 8 tahun 2006 tentang interkoneksi

(23)

Interkoneksi

POI

PoC 1 op. B PoC 2 op. B

Pengakhiran panggilan dimana pengguna yang dituju dan titik interkoneksi milik penyelenggara tujuan atau milik penyelenggara asal berada pada titik pembebanan interkoneksi yang berbeda milik penyelenggara tujuan

A number

(24)

Biaya hak penyelenggaraan

Semua penyelenggara jaringan telekomunikasi dan/atau penyelenggara jasa telekomunikasi wajib membayar biaya hak penyelenggaraan telekomunikasi yang diambil dari prosentase pendapatan dan menjadi Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang disetor ke Kas Negara.

Biaya hak penyelenggaraan telekomunikasi merupakan kewajiban yang dikenakan kepada penyelenggaraan jaringan dan/atau jasa telekomunikasi sebagai kompensasi atas perizinan yang diperolehnya.

Kewajiban BHP Telekomunikasi dihitung sebesar 0,5% (nol koma

Kewajiban BHP Telekomunikasi dihitung sebesar 0,5% (nol koma

lima persen) dari pendapatan kotor penyelenggaraan

telekomunikasi.

Kewajiban BHP USO sebesar 1,25% dari pendapatan kotor

penyelenggaraan telekomunikasi.

Kewajiban BHP Frekuensi

• Kebijakan baru pemerintah untuk memberlakukan BHP Berbasis Lebar Pita pada frekuensi penyelenggara seluler. BHP pita mulai diterapkan per 15 Desember 2010

(25)

Tariff

 Peraturan Menteri nomor 9 tahun 2008 tentang Tata Cara Penetapan Tarif Jasa Telekomunikasi yang disalurkan melalui Jaringan Bergerak Seluler.  Peraturan Menteri nomor 15 tahun 2008 tentang Tata Cara Penetapan Tarif

(26)

Tariff

• Susunan tariff penyelenggaraan jaringan dan/atau jasa telekomunikasi diatur oleh Regulasi yang meliputi struktur dan jenis tariff.

• Struktur tariff terdiri dari : (1) biaya pasang baru (aktivasi) ; (2) biaya

berlangganan bulanan; (3) biaya jasa penggunaan ; (4) biaya jasa tambahan (feature).

• Berdasarkan struktur dan jenis tariff yang dianggap sebagai formula, ditentukan besaran tariffnya yang merupakan penetapan dari

penyelenggaraan jaringan dan/atau jasa telekomunikasi.

• Jenis tariff terdiri atas : (1) pulsa local ; (2) tariff pulsa Sambungan Langsung • Jenis tariff terdiri atas : (1) pulsa local ; (2) tariff pulsa Sambungan Langsung

Jarak Jauh (SLJJ) ; (3) tariff Sambungan Langsung Internasional ; (4) air time untuk jasa sambungan telepon bergerak

• Formula atau pola perhitungan besaran tariff yang ditetapkan oleh pemerintah terdiri dari formula tariff awal dan formula tariff perubahan.

• Untuk menetapkan formula tariff awal harus memperhatikan komponen biaya sedangkan untuk menetapkan formula besaran tariff perubahan diperhatikan juga antara lain factor inflasi, kemampuan masyarakat, dan kesinambungan pembangunan telekomunikasi.

(27)

Perangkat TelekomunikaSi, Spektrum Frekuensi Radio,

dan Orbit Satelit

• Perangkat telekomunikasi yang diperdagangkan, dibuat, dirakit, dimasukkan dan atau digunakan di wilayah Negara Republik Indonesia wajib memperhatikan persyaratan teknis dan berdasarkan izin sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

• Secara garis besar, dalam peraturan pemerintah ini mengatur dua hal yaitu spektrum frekuensi radio dan orbit satelit. Dengan masing-masing pembagian sebagai berikut:

1. Spektrum Frekuensi Radio, yang mencakup beberapa bagian, yaitu: 1. Spektrum Frekuensi Radio, yang mencakup beberapa bagian, yaitu:

a. Perencanaan b. Penggunaan c. Perizinan

d. Relokasi Frekuensi Radio e. BHP Frekuensi Radio 2. Orbit Satelit

a. Penggunaan

(28)

Perangkat Telekomunikasi, Spektrum Frekuensi Radio,

dan Orbit Satelit

Spektrum frekuensi radio dilarang digunakan oleh kapal berbendera

asing yang berada di wilayah perairan Indonesia di luar

peruntukannya, kecuali.

• untuk kepentingan keamanan negara, keselamatan jiwa manusia

dan harta benda, bencana alam, keadaan

marabahaya, wabah, navigasi, dan keamanan lalu lintas pelayaran;

atau

• disambungkan ke jaringan telekomunikasi yang dioperasikan oleh

• disambungkan ke jaringan telekomunikasi yang dioperasikan oleh

penyelenggara telekomunikasi; atau

• merupakan bagian dari sistem komunikasi satelit yang

penggunaannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam

penyelenggaraan telekomunikasi dinas bergerak pelayaran.

(29)

Thank You

.

Referensi

Dokumen terkait

į psichoanalizę, į kultūros istoriją, į lite­ ratūros kritiką. Lingvistinis mąstymas, pa­ tekęs nelingvistų žinion, suuniversalėjo, bet kartu ir

Bahan kompres yang memiliki pengaruh meng- hambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus adalah madu yang memiliki zona hambat rata-rata 0,4 mm, gula memiliki zona

Pendidikan Jiwa (al-Tarbiyah al-Nafs) adalah Suatu upaya untuk membina, medidik, memelihara, menjaga, membimbing dan membersihkan sisi dalam diri manusia (Jiwa)

Motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong sesorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi dapat menentukan baik tidaknyadalam mencapai tujuan sehingga semakin

Umpan utuh.. • Hasil  tikus tertangkap pada hari pertama yaitu pada lokasi dekat saluran cuci piring dan dekat gentong air). Pada hari kedua, tidak satupun tikus

Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi pada siklus I dan siklus II.. Hal ini

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data sebagai berikut Garage Sale dapat dijadikan sebagai peluang berwirausaha bagi mahasiswa karena memiliki beberapa keuntungan yang menarik

Penelitian ini di fokuskan pada remaja yang menggunakan smartphone , untuk itulah peneliti akan membahas mengenai pemanfaatan penggunaan smartphone baik bersifat