Ka bah Sucikanlah Rumah-Ku ini

Teks penuh

(1)

³

D

º

K

Ka’bah – Sucikanlah Rumah-Ku ini

Firman Allah dalam QS. Al Hajj : 26 :

“Sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang yang thawaf, orang yang beribadat, orang-orang yang ruku’ dan sujud”.

Ka’bah yang berada di Makkah sebagai lambang Baitullah adalah simbol mutlak kehendak Allah untuk ummat Islam ini supaya hatinya benar-benar “mengarah ke Satu titik” yang akan membuka “Titik temu” dengan Wajah-Nya. Masuk ke dalam rumah-Nya. Untuk itu harus bersaatu padu. Yakni makna persatuan karena hanya bersama-sama satu yang di arah dan di tuju. Pergi ke sana dalam rangka kewajiban haji bagi yang mampu atau umrah, adalah kegiatan syareat sebagai rangka mempercepat proses pendekatan kepada Yang Maha Satu. Kemudian bagi yang tidak dimampukan pergi ke sana, sebenarnyalah bahwa thawaf itu ada pada kewajiban hakekat. Sebab, hakekatnya :”Qalbun mukmin Baitullah”. Hati nuraninya orang mukmin, itulah Baitullah hakekatnya. Maksudnya adalah tempat untuk selalu mengingat-ingat-Nya, menghayati-Nya dan merasakan-Nya. Merasakan Dzat Yang Al Ghaib yang ilmunya dari al haadi kepercayaan-Nya menunjuki keberadaan-Nya itu. Firman Allah dalam QS. Al A’raf ayat 205 : “Dan ingat-ingatlah Tuhanmu dalam hatimu”.

Karena itu ketika Nabi bersabda “attaqwa hahuna” sampai tiga kali menunjuk ke arah dadanya. Firman Allah QS. Al Baqarah ayat 150 – 152 :

“Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Supaya Aku sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk,

sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepada Al Kitab dan hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.

Karena itu senantiasa ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku (juga akan) selalu ingat kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari Aku”.

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan diri” (QS. Al A’laa : 14) agar rasa hati

dan jiwanya dapat bersentuhan dengan Dzat Yang Maha Suci. Yakni akan selalu dapat mengingat-ingatnya siang malam tiada hentinya bersama-sama dengan masuk dan ke luarnya nafas. Sehingga keluar masuknya nafas tidak hanya bagaikan binatang yang juga punya nafas. Tetapi asal ke luar dan asal masuk. Tidak ada isinya dhikir. Sebab memang (binatang) adalah hewan yang tidak dikehendaki bertemu dengan Tuhannya. Ketika mati ya sudah. Habis perkara. Firman Allah QS. Ar Ruum ayat 8 :“Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia

benar-benar tidak percaya adanya pertemuan dengan Tuhannya”.

Sebab antara cita-cita bertemu Tuhan, selamat dan bahagia di akherat dan senantiasa dhikir, ini satu garis lurus. Bahkan berada dalam “Satu titik temu” . Karena itu manakala ini tidak diketahui dengan yakin, jelas dan gamblang, jadinya akan seperti yang diungkap oleh Firman-Nya : “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka

terhadap (kehidupan selamat dan bahagia bertemu Tuhannya di) akherat adalah lalai”. (QS. Ar

Ruum:7 ).

Oleh karena itu Allah sendiri mengingatkan dengan tegas dan benar-benar jelas. Firman-Nya dalam QS. Al An’am : 116 : “Dan jika kamu menuruti kebanyakan manusia di muka bumi ini,

(2)

³

D

º

persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap kebenaran Al Haq-Nya)”.

Firman-Nya pula tentang Al Haq-Nya tetapi benar-benar pahit bagi nafsunya manusia. QS Al Furqaan 44) : “Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau

memahami. Mereka itu tiada lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya”.

Maka dihadirkannya rasul atau al haadi di kalangan kita sendiri (yang salah kaprahnya benar-benar didustakan) sebagaimana telah banyak sekali penjelasan di muka, sebenar-benarnya bagi akal sehat yang dicahayai oleh Hidayah-Nya, akan dapat menangkap dengan penuh keimanan dan keyakinan.

Sebagaimana Firman Allah dalam QS. Al Baqarah ayat 151, bahwa utusan-Nya yang di datangkan kepada kita di antara kita sendiri supaya mengajarkan Kalam-Nya dan hikmah serta mensucikan dan mengajari apa yang belum kita ketahui. Dan semua yang diungkap dalam tulisan ini, itulah arahnya. Karena itu Allah memberitakan bahwa : “Wa fiikum Rasuuluhu” = dan ditengah-tengahmu ada utusan-Nya Allah (QS. Ali Imran ayat 101) dan “Wa’lamuu anna

fiikum Rasuulallahi” = dan ketahuilah bahwa sesungguhnya ditengah-tengahmu itu ada

rasul-Nya Allah. (QS. Al Hujurat : 7).

Kepada kita yang telah mengetahui dan mengenali ilmu untuk tujuan ma’rifat kepada-Nya; yang karena ilmu itu adalah untuk mengetahui Keberadaan Dzat Yang Al Ghaib, maka ilmunyapun akan mudah memahami terhadap ungkapan-ungkapan ayat-ayat bahwasanya rasul-Nya Allah ini terus berantai tidak pernah putus. Sehingga selalu ada ditengah-tengah kita. Dalam hal ini Allah sendiri yang menjamin sebagaimana firman-Nya pada QS. Al Mujadilah : 20 – 21 :

“Sesungguhnya orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina. Allah telah menetapkan : “Aku dan Rasul-Ku pasti menang”. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa”.

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Dakwah Untuk Cita-Cita Ma’rifat Billah, Untuk Menghidupkan Kembali Bangkitnya Rasa Nikmat dan Bahagia Menemui Dzat Dia Yang Al Ghaib Wujud-Nya, Tanjung, 30 Januari 1994, hal. 120 – 123).

Kalimah Itsbat

: (lih. Ilmu Syaththariah – Muqaddimah Ilmu Syaththariah; lih. Makanan Hati

Nurani; lih. Laailaaha illa Ana).

Kalimah Nafi

: (lih. Ilmu Syaththariah – Muqaddimah Ilmu Syaththariah; lih. Makanan Hati

Nurani; lih. Laailaaha illa Ana).

Kalimah Thoyyibah

: (lih. Ilmu Syaththariah – Muqaddimah Ilmu Syaththariah; lih. Makanan

Hati Nurani; lih. Laailaaha illa Ana).

Katut Siliring Qudratullah :

• Mengikuti kehendak dan ketentuan Allah.

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Risalah Ilmu Syaththariah, Jalan Menuju Tuhan, Pustaka Pondok Sufi, Januari 2002, hal. 12).

• Hamba Allah yang tandangnya (kerja yang dijalani-nya, ibadahnya, pengorbanan dan pengabdiannya kepada Allah) dilakukan dengan dinamis, aktif dan kreatif, tetapi sama sekali tidak berani ngaku, sebab seyakinnya mengetahui bahwa yang bisa Tuhan, Yang kuat Tuhan, Yang empunya segala, Tuhan, yang obah osik (yang bergerak) juga Tuhan.

(3)

³

D

º

Kesadaran Insan Kamil

: (lih. Insan Kamil; Martabat Tujuh).

Kifarat :

Kifarat ini adalah nebusi dosanya sendiri. Hati Nurani manusia mestinya yang wajib dikerjakan hanyalah satu saja. Yakni mengingat-ingat Dia Dzat-Nya Allah Yang Wajib Wujud-Nya dan Al-Ghaib itu. Ini adalah fitrahnya hati nurani yang dibuka oleh Tuhannya. Namun ternyata tidak demikian halnya. Jangankan yang belum mempunyai ilmunya, sedang yang telah diberi ilmu dengan seijin guru saja, kalaulah Allah Swt. tidak menolongnya, juga tidak akan ada hatinurani yang hanya satu saja yang diingat-ingat itu. Yakni Dzat Yang Al Ghaib itu (Isi-Nya Hu). Adapun berapa besarnya jumlah kifarat yang diserupakan uang dan diserahkan kepada yang berhak dan sah sebagai pelanjut Wasithah (yang kemudian akan disalurkan pada berbagai kegiatan berupa pendidikan, dakwah, sosial, pembangunan sarana dan prasarananya dan sebagainya) tergantung pada tingkat kemampuan masing-masing.

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Lampiran. Tentang Lakon dan Pitukon. (Tertibnya Ubudiyah Sehari-hari Sebagai Realisasi Jihadunnafsi). Mendekat Kepada-Nya hingga Sampai dengan Selamat dan bahagia Bertemu Dengan-Nya, Tanjung Anom,hal. 8 – 9).

Al-Kitab

:

• “Mereka itulah orang-orang yang telah kami beri al kitab, al Hikmah dan al Nubuwah. Jika

orang-orang itu mengingkarinya (tiga macam itu), kami akan menyerahkannya kepada kaum (lainnya) yang sekali-kali tidak mengingkarinya”. (QS. Al An’am ayat 89).

Al Kitab adalah : “Dzaalikal kitaabu laa raiba fiihi – hudan lil muttaqiin …” dan seterusnya. Makna “dzaalikal kitaabu” adalah ‘itulah kitab’ yang terpelihara di Lauh Mahfudz-Nya. “Laa

Yamassuhuu illal muthahharuun”. Yang tidak akan dapat menyentuhnya (isi kandungan

mengenai kebenaran Mutlak-Nya) apabial tidak disucikan oleh-Nya. dan yang disucikan (hatinya) oleh Allah adalah mereka yang berimannya dengan Al Ghaib (= Ada dan Wujud Diri-Nya Dzat Satu-satu-Nya Yang Mutlak Wujud-Nya, dekat sekali dalam rasa hati, selalu menyertai dan senantiasa meliputi hamba-hamba-Nya) dengan rela dimintakan petunjuk kepada ahlinya (= fas aluu ahladz dzikri inkuntum laa ta’lamuu). Kemudian jika dikaitkan dengan ibadah shalat, maka shalatnya ditegakkan sesuai syariat maupun hakikat. Artinya ketika shalat benar-benar memenuhi perintah Allah : “Dirikanlah shalat untuk

mengingat-ingat Aku (Wa aqiish shalaata lidzikrii), (QS. Thaha ayat 14). Sebab apabila shalatnya tidak

tegak seperti itu sama artinya dengan merobohkan agama Allah.

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Risalah Ilmu Syaththariah, Jalan Menuju Tuhan, Pustaka Pondok Sufi, Januari 2002, hal.91 – 92.)

• Kitab yang terpelihara di Lauh Mahfudz-Nya, yang tidak akan dapat menyentuhkan (isi kandungan mengenai kebenaran Mutlak-Nya) apa bila tidak disucikan (hatinya) oleh-Nya. Yang disucikan oleh Allah adalah mereka yang berimannya dengan Al-Ghaib (lih. Al-Ghaib) dengan rela dimintakan petunjuk kepada ahlinya.

Jika dikaitkan dengan ibadah shalat; maka shalatnya ditegakkan sesuai syariat dan hakikat, shalat yang benar-benar memenuhi perintah Allah; “Dirikanlah shalat untuk mengingat-ingat

Aku” (QS. Thaha; 14).

• Al Kitab adalah al-Kitab-Nya Allah. Bukan kitabnya manusia bagi kepentingan-kpentingan wataknya nafsu dan watak akunya. Dan kitab Allah sejumlah tiga puluh juz itu dikehendaki Allah supaya menjadi hidayah bagi orang-orang yang bertaqwa kepada-Nya. Dan yang dikehendaki sebagai hamba yang bertaqwa adalah (“Alladziina yu’minuuna bil Ghaibi”. Yu’minuuna adalah fiil mudhare’, berlaku untuk sekarang dan seterusnya). Al Ghaib adalah isim yang mrfad dan ma’rifah, Yaitu Diri-Nya Ilaahi. Satu-Satu-Nya Dzat Yang Ghaib, jelas

(4)

³

D

º

Wajib Wujud-Nya. Jelas dekat sekali, dan jelas dapat dengan mudah diingat-ingat dan dihayati dalam rasa hati. Sedang yang sama-sama tidak bisa dilihat mata kepala, tetapi bukan Diri-Nya Ilaahi Yang Al Ghaib ini, adalah al ghuyub. Dibangsakan gaib karena sama-sama tidak bisa dilihat oleh mata kepala, tetapi bukan Diri-Nya Yang Al Ghaib ini. Yaitu seperti para Malaikat, surga, neraka, jin, setan, iblis dan sebagainya.

Berimannya kepada Al Ghaib supaya Ada dan Wujud-Nya Dzat Ilaahi ini dapat dengan mudah diingat-ingat dihayati dalam rasa hati. Maka harus rela meminta petunjuk kepada ahlinya yaitu ahli dzikir. Hamba yang dibentuk Tuhannya berhati nurani, roh dan rasanya selalu berada di dalam dzikir. Selalu mengingat-ingat, menghayati dan merasakan Ada dan Wujud Diri-Nya Ilaahi Dzat Yang Al Ghaib dan dekat sekali. Meskipun hamba ini tetap saja sebagaimana layaknya manusia biasa, dalam menjalani hidup dan kehidupan dunianya. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. An Nabi’ya ayat 7, bahwa mengadanya Rasul menyatu dengan mengadanya ahli dzikir. “Kami tiada mengutus Rasul-Rasul sebelum kamu,

melainkan beberapa orang-orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka mintalah petunjuk kamu kepada ahli dzikir apabila kamu tidak mengetahui” (QS. 21 :7).

Dengan mengenal dan mengetahui Ada dan Wujud-Nya Dzat Satu-Satu-Nya Yang Al Ghaib, Allah Nama-Nya, Mutlak Wujud-Nya, karena amat sangat dekat sekali sehingga dapat dengan mudah diingat-ingat dan dihayati dalam rasa hati, karena dijadikan Allah rela meminta petunjuk kepada ahlinya, maka shalatnyapun akan berdiri tegak. Dan tegak berdirinya shalat karena memenuhi perintah Tuhannya. “Wa aqimishshalaata lidzikrii”. Kemudian fahsya’ dan munkarnya akan disingkirkan ilaahi dari dalam dirinya. Dan rezeki yang diperoleh dari hasil kerja kerasnya, sama sekali tidak akan pernah berani ngaku bahwa itu adalah miliknya. Hanyalah menjadi akon-akon donya. Maksudnya hanya pura-pura saja diaku menjadi miliknya. Sehingga dengan senang hati sebagiannya dibelanjakan di jalan Tuhannya.

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Proyek Ilaahi Yang Segera Diwujudkan dengan Kun Fyakun-Nya adalah Munculnya Zaman Yang Dipimpin oleh Al-Qaim Al-Mahdi (Hubungannya dengan Gerakan Jamaah Lil Muqorrobin), Pondok Sufi, Tanjung, Desember 2003, hal. 51 – 53).

Ahli Kitab

Ahli kitab adalah mereka yang bangga dan puas dengan penguasaannya terhadap berbagai kitab yang telah dipelajarinya. Lalu mereka bertempat tinggal di situ. Berhenti di situ. Puas dan bangga dengan itu. Meskipun mereka juga mengetahui bahwa dalam kitab-Nya (QS. Shad ayat 1) Allah menyatakan : “Demi Al Qur’an yang (di dalamnya) mempunyai dzikir”. Yaitu ilmu untuk bagaimana agar supaya hati nurani, roh dan rasa senantiasa dapat dengan mudah dan indah mengingat-ingat dan menghayati Diri-Nya Dzat Yang Wajib Wujud-Nya, Al Ghaib Allah Asma’-Nya yang bisanya harus dengan ditanyakan kepada ahlinya, namun ditentang dan didustakan. Sebab gengsinya watak akunya nafsu karena akan mengakibatkan klungsurnya (turunnya) martabat dan harga dirinya harus berguru. Sedang dia telah terlanjur merasa lebih mengerti dan lebih tahu dari hasil kitab yang didalami dan dikaji selama itu.

Perhatikan dengan seksama firman Allah terhadap sikap ahli kitab sebagaimana di bawah ini : “Segolongan dari ahli kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka tidak menyesatkan

melainkan kepada dirinya sendiri, dan mereka (sama sekali) tidak menyadarinya. Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah padahal kamu menyaksikan (kebenarannya). Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampuradukkan yang hak dengan yang batil dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui”? Segolongan ahli Kitab berkata (kepada sesamanya) : “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang

(5)

³

D

º

pada akhirnya supaya mereka kembali (kepada mengingkari kebenaran Al Haq-Nya)’. (QS. Ali Imran : 69 – 72).

Sedang mereka semua mengetahui bahwa Islam adalah agama tauhid. Yakni supaya selamat dunia dan akherat harus dengan pasrah dan menyerah secara murni dan bersih kepada Tuhannya hingga akan dapat hidup tenteram dan bahagia disisi-Nya. Dan bertauhid harus kenal ilmu-Nya. Ilmu yang menunjukan perihal keberadaan Diri Satu-satu-Nya Dzat Yang Wajib Wujud-Nya, Al Ghaib, dekat sekali. Supaya hanya ini saja Satu-satu-Nya yang diingat-ingat dan dihayati dalam rasa hati. Supaya hanya diri-Nya Satu-satu-Nya yang ditetapkan dalam hati nurani, ros dan rasanya.

“Fa’lam anna ‘ilmattauhidi mathluubun”. Ketahuilah bahwa ilmu tauhid itu harus dicari. Yang

dicari yang berhak dan sah menunjuki. Bukan dengan maqru’un (dicari dalam bacaan) dan bukan maktubun (dicari dalam tulisan). Sebab memang tidak ada dalam berbagai bacaan dan dalam berbagai tulisan.

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Apabila Daabbah Telah Dikeluarkan dan Diberdayakan Tuhan, Maka Akibat Nyata (Azab) Pasti Ditimpakan Mereka Yang Tidak Mengenal Diri-Nya Tuhan, , Tanjung, Oktober 1997, hal. 60 – 61).

Kitabullah :

(lih. Al Kitab; Rukun Iman – Beriman Kepada Kitabullah)

Kullu Syai’in Bila Huwa Baathilun

: (lih. Huwa – Kullu Syai’in Bila Huwa Baathilun)

Kuunu Rabbaniyyin

: (Lih. juga Rabbani)

Yakni orang yang sempurna ilmu dan taqwanya. Padahal yang sempurna hanyalah Dia Satu-Satunya. Dia pula yang paling tahu siapa yang bertaqwa. (QS An Najm 32). Jadi menjadi jelas bahwa ilmu yang sempurna ya ilmu untuk dapat mengenali hakekat Jati Diri-Nya Dzat Yang Al Ghaib ini agar juga supaya bisa mengukur diri terhadap seberapakah ketaqwaannya.

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Dakwah Untuk Menghidupkan Kembali Bangkitnya dan Cita-Citanya Rasa Nikmat dan Rasa Bahagia Bertemu dengan Dzat Al Ghaib Yang Wajib Wujud-Nya, Jilid I, Tanjung, 11 Februari 1994, hal. 21).

(6)

³

D

º

L

Laailaaha :

Laailaaha adalah kalimah nafi dan illallah adalah kalimah itsbat.

Satu-satunya yang dipedomani untuk mencapai cita-cita hidup ini. Yaitulah hamba yang karena ditarik oleh fadhal dan rahmat-Nya, maka hidupnya dengan ibadat yang dikerjakannya, berjuang dan kerja keras dalam mengelola garapan dunia yang didukung sepenuhnya oleh akhlaknya yang mulia, semata-mata demi untuk meniadakan hijab. Yang wujudnya gelap dan cahayanya juga gelap. Dan terus menerus selalu menggeliat menutup mata hati hingga buta sama sekali. Yang mengakibatkan rasa dalam hati tidak dapat mengitsbatkan, yaitu menetapkan Diri-Nya Dzat Yang Wajib Wujud-Nya yang seharusnya mencahaya di dalam rahasia intinya manusia.

Laailaaha adalah kalimah nafi. Yakni semua selalin Ada dan Wujud Diri-Nya Yang Al Ghaib ini. Termasuk wujud jiwa raganya hamba. Dzatnya, sifatnya dan af’alnya. Apalagi harta benda yang diusahakan dengan kerja kerasnya. Yang kemudian dikukuhi menjadi miliknya, diakunya. Sebenarnya semua itu nafi. Yakni tidak ada. Dan Yang sebenarnya Langgeng Ada-Nya dan Wujud-Nya, hanyalah Diri-Nya Dzat Al Ghaib Yang Allah Asma’-Nya. Maka seharusnya, hanya Diri-Nya lah satu-satu-Nya yang diitsbatkan Ada dan Wujud-Nya dalam rasa hati (Ini adalah makna kalimah Ilallah). Maka Islam yang sejati murni; supaya selamat merasakan mati, sebagai pintu gerbang yang membahagiakan selama-lamanya; Kepada Tuhannya melihat (QS. Al Qiyamah : 23). Lalu bertempat tinggal di tempat yang benar. Yaitu di sisi Tuhan Yang Berkuasa (QS. Al-Qomar : 55). Maka harus hidup dengan menekuni jihadunnafsi. Agar ditarik oleh fadhal dan rahmat-Nya, dapat meniadakan hijab yang begitu gelap dan terus menerus menggeliat. Hingga terbebas dari dinding yang menutupi penglihatan mata hati kepada Diri-Nya Dzat Yang Al Ghaib ini.

Karena itu bagi yang terbimbing ke arah-Nya, apabila sedang melakukan dzikir nafi itsbat ini; demikian halnya apabila sedang melaksanakan kewajiban shalatnya, ingatan hati masih banyak bepergian kemana-mana. Dan rasanya juga masih mengental dengan merasakan : wujudnya, jiwa raganya, anak dan istrinya, dunia dan harta dan segala dan semua selain Ada-Nya dan Wujud Diri-Nya; apalagi kemudian masih juga berangan-angan dan menggagas yang beraneka warna. Apabila ia termasuk orang yang dibimbing ke arah-Nya, akan segera sadar atas al faqirnya diri. Yang apes, hina dan tidak bisa apa-apa. Disadari betapa masih banyaknya dosa dan kesala-hannya. Dan sangat kurangnya kesungguhan diri berjihadunnafsi. Atau kurang bersihnya hati, yang pasti akan disadari, dalam memenuhi amanat-Nya : “Fad’uuhu mukhlisiina

lahuddin”. Apalagi kalau sekiranya masih banyak ditemui dalam diri watak memandang dirinya

merasa lebih luhur dari lainnya. Lalu senang berbangga dengan gengsi dan kehormatan watak akunya. Dan masih berkeinginan mencari kesalahan sesama saudaranya. Berarti watak dengki dan iri hati masih subur dalam dadanya.

Demikian halnya apabila dalam diri, masih ada keinginan senang dipuji. Dan watak mementingkan diri sendiri masih saja menyertai. Berarti kerja kerasnya dalam beramal masih ingin diperhatikan dan didengar oleh banyak telinga. Maka rasa kumantilnya kepada dunia nyata-nyata masih menyala-nyala. Hingga menjadikannya lupa kepada Sang Pemberi nikmat yang sangat dekat sekali keberadaan-Nya. Apabila ia termasuk hamba yang dibimbing ke arah-Nya, akan segera bangkit tangis panalangsanya. Bertaubatan nashuha yang merasuk ke adalam rasa jiwanya.

(7)

³

D

º

Laailaaha Illa Ana:

Laailaaha adalah Kalimah nafi. Tidak ada yang dituhankan sama sekali. Kosong, fanak dan

nafi. Karena itu juga sama sekali tidak ada apapun yang diingat dan dihayati. Apalagi dijadikan tempat tujuan dan dicintai, termasuk wujud jiwa raganya sendiri.

Illa Ana adalah kalimat istbat yang seharusnya selalu ditetapkan Ada dan Wujud-Nya dalam rasa hati tentang Ana Yang Allah Asma-Nya ini, Dzat Yang Mutlak Wujud-Nya, Al Ghaib dan sangat dekat sekali. Inilah yang dibisikkan Junjungan Nabi Muhammad SAW kepada Sayyidina Ali bin Abu Thalib.

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Surat : Ditujukan kepada yang dikehendaki Illahi siap untuk menolong diri sendiri, Tanjung, 26 Juni 1999, hal. 3).

Laailaaha illa Ana, fa’buduuni

(QS Al Anbiya’ 25):

“Tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.

Adalah kalimat tauhid yang menyatu dengan sistem kerohanian manusia dan yang dengan sendirinya dengan tiada yang ahli untuk menjelasi, tidak mungkin akan dapat diketahui. Apalagi dapat dihayati dan diamalkan secara nyata. Terhadap apapun dan bagaimana cara menafikan segala hal yang menjadi hijab terhadap penglihatan mata hati agar dapat menyaksikan Diri Illahi, tanpa ilmu tidak mungkin sama sekali.

Demikian halnya yang harus ditetapkan (=makna Illallah) dalam hati nurani, roh dan rasa adalah sesuatu yang sangat rahasia tentang Diri-Nya Dzat Yang Al Ghaib dan Wajib Wujud-Nya. Mempertemukan inti manusia yang benih fitrahnya berasal dari Diri-Nya Dzat Yang Al Ghaib supaya dapat dengan selamat menyatu lagi dengan-Nya. Adalah sesuatu yang tidak mungkin tanpa ilmu. Di mana sesuatu ilmu memang harus ada ahlinya.

Dengan demikian maka imannya kepada Allah dengan Allah karena memang benar-benar secara benar pula mengenali Ada-Nya dan Wujud-Nya Yang Al Ghaib itu. Lalu benar-benar pula membumi di dalam dada. Sebab memang sangat dekat sekali dalam rasa hati. Imannya kepada Rasul-Nya juga membumi karena bisa dijadikan tempat bertanya perihal bagaimana “fa’buduuni” yang benar-benar diterima dan hingga selamat kembali bertemu dengan Tuhannya lagi. Tidak ngawang di langit. Sehingga firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 31 secara praktis dapat dihayati dan diamalkan karena contoh sebagai tauladannya ada dihadapan mata. “Katakanlah : “Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutlah aku, niscaya

Allah juga akan mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Ali Imram 31).

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Apabila Daabbah Telah Dikeluarkan dan Diberdayakan Tuhan, Maka Akibat Nyata (Azab) Pasti Ditimpakan Mereka Yang Tidak Mengenal Diri-Nya Tuhan, Tanjung, Oktober 1997, hal. 8).

Laailaaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzdzalimin

:

“Wahai Tuhan, semua termasuk wujud jiwaragaku : Laailaaha, Nafi. Tidak wujud dan tidak ada.

Yang Wujud dan Yang Ada hanyalah Engkau Zat Yang Maha Suci. Sesungguhnya aku inilah hamba-Mu dari golongan orang-orang yang paling zalim yang masih saja berani ngembari-Mu dikarenakan masih saja merasa wujud dan masih merasa ada. Sehingga sekiranya tidak Engkau tarik dengan fadhal dan rahmatMu serta tidak Engkau ampuni segala dosa dan kesalahanku, wujud dirikulah yang akan menghancurkan cita-cita dan menyesatkanku”

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Ngaji Mengenai : Bala Sirrullah Yang Mulai Memasuki Jaman Al Mahdi, Tanjung, Awal Agustus 1999, hal. 7).

(8)

³

D

º

Laailaaha Illallah

: (lih. Ilmu Syaththariah – Muqaddimah Ilmu Syaththariah; lih. Manusia - Hati;

lih. Laailaaha illa Ana).

Labbun

: (lih. Qishrun)

Lahut

: (lih. Alam - Alam Lahut)

Lahu baabun :

(lih. juga Lubang Cahaya)

Firman Allah di dalam QS. Al hadid ayat 13 dijelaskan bahwa Allah menjadikan dinding. Dimaksud dinding adalah diri manusia, yaitu wujudnya jiwa raga. Lahu baabun. Dinding ini mempunyai pintu. “Baathinuhu fiihi al rahmatu”. Di dalam batinnya adalah rahmat (Nya Allah Swt). Yaitu Nur Muhammad, tempat bertemunya fitrah jati diri manusia dengan Fitrah-Nya Allah Swt. “Wa dzahiruhu min qibalihi al-‘adzab”. Dan pada bagian lahirnya adalah azab. Adalah hidup yang hanya menuruti kemauan lahir karena hanya habis diperalat nafsu dan watak akunya.

Menjalani hidup dan kehidupan berjiwaraga yang diuji Allah dalam kehidupan dunia yang hanya habis menuruti bagian lahir hingga sama sekali tidak butuh mengadanya rahmat-Nya Allah di dalam batinnya (di dalam rasanya), sama artinya di dalam rasa tidak ada lubang cahaya karena lubang cahaya ini telah benar-benar ditutup oleh gelapnya nafsu yang sama artinya dengan azab, sewaktu-waktu mati yang pasti ditemui dan hanya sekali, dijelaskan Allah dalam QS. Saba’ ayat 51 s/d 54 yang arti dan maksudnya sebagai berikut :

“Dan (alangkah hebatnya) jikalau kamu melihat ketika mereka (orang-orang yang di dalam rasa hatinya tidak ada Cahaya Terpuji-Nya Dzatullah (Nur Muhammad)), terperanjat ketakutan (pada saat mati yang ditemuinya); maka mereka tidak dapat melepaskan diri dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat (oleh wadyabalanya iblis di bawa ke tempat sesat selama-lamanya), dan saat itu mereka berkata : “Kami beriman kepada Allah”, bagaimana mereka dapat mencapai keimanan dari tempat yang jauh.

Dan sesungguhnya mereka telah mengingkari-Nya sebelum itu (ketika masih di dunia); dan (sebabnya) mereka hanya menduga-duga saja mengenai Al Ghayb dari tempat yang jauh. Dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini (ingin kembali ke dunia meluruskan salahnya) sebagaimana yang dilakukan (oleh Allah) terhadap orang-orang serupa dengan mereka pada masa dahulu. Sesungguhnya mereka dahulu (ketika masih di dunia) dalam keragan yang mendalam”.

Karena itulah mengapa syarat pertama menjadi muttaqin adalah orang-orang yang beriman kepada Al Ghayb, mengapa tidak yu’minuuna billaahi. Sebab Allah adalah nama. Nama-Nya Dzat Yang Al Ghayb. Dan Yang mencipta jagad dengan segala isinya serta Sang Pembuat manfaat dan mudharat bukanlah nama-Nya. Tetapi Dzat-Nya. Dan Dzat Yang Sesungguhnya Aku ini (Dzat Al Ghayb) yaitullah Aku Yang Allah (nama-Ku).

“Tahulah jin-jin itu bahwa kalaulah sekiranya mereka mengetahui Al Ghayb tentulah mereka tidak tetap di dalam siksa yang menghinakan” (QS. Saba’ : 14). Apakah kita mau bernasib

seperti nasibnya jin yang celaka itu?

“Apakah ia mempunyai ilmu Al Ghayb, maka ia dapat melihat (dengan mata hati mengenai Diri-Nya Illahi Yang Al ghayb) (= a’indahu ‘ilmu al Ghayb fahuwa yaraa), QS. An Najm 35. Dan apakah mereka mempunyai Al Ghyab lalu mereka berani menulis (= am ‘indahumu al-Ghaybu fahum yaktubuuna). (QS. Al Qalam : 47).

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Ilmu Syaththariah, Nubuwah dan Zikir, Pondok Sufi, Tanjung, 13 Desember 2006, hal. 3 – 5).

(9)

³

D

º

Lakon :

• Ibadah yang dapat dilaksanakan oleh jasad.

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Risalah Ilmu Syaththariah, Jalan Menuju Tuhan, Pustaka Pondok Sufi, Januari 2002, hal. 27).

• Lakon adalah keberanian dalam berjuang, berkorban dan berbakti, memenuhi kewajiban syariat dan tekad membentuk akhlak yang mulia, guna memproses penafian (peniadaan) wujud jiwa raga.

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Risalah Ilmu Syaththariah, Jalan Menuju Tuhan, Pustaka Pondok Sufi, Januari 2002, hal. 22).

Lil-Muqorrobin

:

• Maksud Lil Muqorrobin adalah Kerelaan hamba Allah yang berniat untuk mempersiapkan diri supaya didekatkan oleh Allah SWT kepada Diri-Nya. Persiapannya harus memiliki keberanian berjihadunnafsi. Memerangi watak akunya nafsu (alam nasut = tempat zulumat) pindah ke alam malakut (alam nur), supaya hati nurani, roh dan rasanya dapat difungsikan (lih.nafsu, manusia).

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Ngaji Mengenai : Bala Sirrullah Yang Mulai Memasuki Jaman Al Mahdi, Tanjung, Awal Agustus 1999, hal. 10).

• Orang yang bersungguh-sungguh dalam berjihadunnafsi (memerangi nafsunya sendiri) dalam cita-cita dan tujuan mendekatkan diri kepada-Nya, sehingga sewaktu-waktu mati, ditarik fashal-Nya didekatkan kepada-Nya dimasukkan hamba yang ketika merasakan mati yang hanya sekali, wajahnya berseri-seri. Kepada Tuhannya-lah mereka melihat (sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Qiyamah 22 – 23).

Hamba yang dikehendaki dengan Ijin-Nya ditarik fadhal-nya membuktikan mati dalam keadaan ma’rifat (“ilaa Rabbina naadzirah = kepada Tuhannya melihat), maka ibadahnya yang dilakukannya dengan kesungguhan lakon dan pitukon (pengabdian, perjuangan, pengorbanan tenaga, pikiran, harta benda, bahkan jiwanya) semata-mata ikhlas liwajhillah. Sama sekali sepi dan kosong dari segala macam pamrih baik tentang perihal bangsa dunia maupun bangsa akhirat. Apa yang dilakukan adalah merupakan kerangka memproses diri membuktikan kebenaran kalimat tauhid :”Laailaaha Ilallah” yang mengandung makna nafi

(laailaha) dan itsbat (ilallah). Yakni memproses diri untuk menafikan (meniadakan) dzat, sifat

dan af’al dirinya (hamba) dan juga segala apa saja perihal dunia. Sebab itu semua adalah menjadi hijab bertemunya mata hatinya dengan Tuhannya yang senantiasa diitsbatkan (ditetapkan) dengan cara senantiasa diingat-ingat dan dihayati dalam hati nurani, roh dan rasanya. “Kullu man ‘alaliha faanin. Wayabqa wajhu Rabbika dzuljalaali wal ikram” (QS. Ar. Rahman 26 – 27). Bahwa setiap manusia (dan apa saja yang ada) atasnya adalah fana. Tidak ada. Dan yang tetap kekal abadai adalah Dzat Tuhanmu yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan.

Proses mendekatkan diri kepada-Nya hingga sampai selamat bertemu dengan-Nya setelah mendapatkan ilmu tentang mengenal dan mengetahui Diri Al Ghaib-Nya Yang menyatakan dalam firman-Nya :”Wamaa kunna ghaaibin” (Kami sama sekali tidak jauh dari dirimu semua) dengan jalan yang hak dan sah , dari petunjuk guru kami caranya harus melatih diri untuk mengingat-ingat Diri-Nya Dzat Yang Al Ghaib itu bersama-sama dengan tiap-tiap masuknya nafas. Sebab nafas itu apabila masuk dan tidak keluar lagi, mati.

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Sekilas Memperkenalkan : Yayasan Lil - Muqorrobin, Tanjung, 28 Juli 1996, hal. 1)

(10)

³

D

º

Jamaah Lil Muqorrobin

• Adalah kompak dan bersatu padunya hamba Allah guna mencapai cita-cita dan tujuan hidup untuk siap didekatkan Allah kepada Diri-Nya, maka setiap diri warga jamaah harus sepenuh hati menyadari sebagai al faqir. Menyadari bahwa dirinya adalah apes, hina, nista, tidak bisa apa-apa, tidak punya apa-apa, bahkan hakekatnya tidak wujud dan tidak ada. Dinampakan wujud dan dinampakan ada dengan bentuk berjiwa raga dalam kehidupan dunia ini sebenarnya sengaja diuji oleh Allah SWT. Hingga kalaulah seandai-nya tidak ditarik oleh fadhal dan rahmat-Nya, pasti akan mengikut syaitan. (QS. A Nisa’ 83) dan pasti sesat selama-lamanya. Oleh karena demkian halnya, maka setiap diri akan selalu berusaha untuk “nggandul (bergantung) kepada-Nya”. Untuk demikian maka harus seyakinnya mengenal dan mengetahui Ada dan Wujud Diri-Nya Dzat Yang Al Ghaibu dan Allah Asma-Nya ini dengan cara bertanya kepada ahlinya yang hak dan sah, sehingga hati nurani, roh dan rasanya senantiasa dapat mengingat-ingat dan menghayati tempat bergantungnya. Dengan demikian maka kompak dan bersatunya jamaah ini semata-mata

“Katut Siriling Qudratullah”. Sama sekali tidak karena diperintah oleh nafsunya. Mendidik

menjadi hamba yang merdeka sejati hingga akan dengan mudah dibimbing dan diarahkan guna memproses pendekatannya kepada Diri-Nya Illahi dengan jiwa Hurryyah tammah dan rasa jiwa “mahabah bi Rauhillah” dalam memenuhi amanat Allah SWT melaksanakan “ta’awanu ‘ala al birri wa attaqwa”.

Dalam mengelola garapan dunia yang diciptakan oleh Allah SWT tidak batal dan tidak sia-sia setiap warga jamaah harus berusaha untuk mengembangkan potensi akal pikiran, bakat dan keahliannya untuk itu tetapi sama sekali tidak akan digunakan untuk mengumpulkan harta kekayaan dunia. Sama sekali tidak untuk bersenang-senang apalagi hingga untuk ngumbar hawa nafsu dan sahwatnya. Juga sama sekali tidak untuk pamer, jor-joran, apalagi untuk “abaa wastakbara”. Tetapi semata-mata demi untuk “SUBHAA-NAKA”. Demi untuk meMaha Sucikan-Nya. Demi dijadikan pancatan yang kokoh untuk pulang ke akherat menemui Tuhannya. Semata-mata untuk memproses pensucian diri dengan bukti banyaknya lakon dan pitukon guna mempercepat perjalanan hati nurani, roh dan rasanya mendekat kepada Diri-Nya Dzat Yang Al ghaibu hingga selamat dan bahagia bertemu dengan-Nya.

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Ngaji Mengenai : Bala Sirrullah Yang Mulai Memasuki Jaman Al Mahdi, Tanjung, Awal Agustus 1999, hal. 9 – 10).

• Jamaah ini adalah Jamaah ini adalah berkumpulnya orang-orang yang berusaha mempersiapkan dirinya sejalan dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya sehingga menjadi hamba yang kemudian didekatkan kepada-Nya.

Adapun cara mempersiapkan diri itu tidak lain dengan jalan selalu melakukan mujahadah bersama (memerangi nafsunya) sehingga si nafsu ini benar-benar dikalahkannya untuk dijadikan kendaraannya hati nurani, roh dan rasa mendekat kepada Allah Swt sehingga selamat dan bahagia bertemu lagi dengan-Nya. Bukti nyata dari tunduknya nafsu adalah mengikuti jejak para Malaikat yang didekatkan, yaitu rela untuk patuh dan tunduk berlaku sujud kepada wakil-Nya Allah dimuka bumi. Sujud maksudnya adalah memberlakukan diri

kalmayyiti baina yadi al ghasili. Bagaikan mayat yang sepenuhnya rela disucikan oleh

yang berhak dan sah mensucikannya. Yakni Rasul-Nya Allah dan atau wakil-wakil-Nya yang hak dan sah yang bagi Jama’ah Lil Muqorrobien diyakini selalu berada di tengah-tengah mereka.

(11)

³

D

º

kitab amalannya ditangan kanannya, maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun”. (QS. Al Isro’ 71).

“Nulzim jamaa’atal muslimiina waimaamahum”. Seia sekatalah (baik lahir maupun batin) dengan jamaah muslimin dan imam mereka. (HR. Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud dari Huzaifah Al Yamani).

Sebab, sabda Rasul, barang siapa yang keluar dari jama’ah tersebut walaupun hanya sejengkal, sesungguhnya ia telah melepas ikatan Islam dari lehernya meskipun ia shalat, berpuasa dan menyangka bahwa dirinya muslim.

Jama’ah ini selalu memperhatikan dengan seksama terhadap kandungan firman Allah : “Qad khalat min qablikum sunanun fasiiru fil-ardhi fandzuru kaifa kaana ‘aaqibatul

mukadzibiina”. (QS. Ali Imran 137). Yang artinya : “Sesungguhnya telah berlaku sebelum kamu sunanun (sunah-sunah Allah), karena itu berjalanlah dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (Rasul-Rasul-Nya)”.

Sunanun (sunah-sunah Allah) adalah hukuman Allah berupa azab, malapetaka serta berbagai bencana yang dahsyat dan mengerikan yang ditimpakan kepada mereka yang mendustakan Rasul-Nya.

Oleh karena itu betapa dalamnya rasa syukur bagi Jama’ah Lil Muqorrobin karena dikehendaki oleh-Nya dapat menangkap dan menerima sepenuh hati kebenaran firman-Nya (dalam QS. Ali Imran 179) yang nyata-nyata bahwa Rasul-firman-Nya itu selalu berada ditengah-tengah kalangan mereka dari antara mereka sendiri.

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah

mengutus di dalam kalangan mereka sendiri seorang Rasul dari antara diri mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, mensucikan mereka, mengajarkan kepada mereka Al Kitab an Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum itu mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata”. (QS. Ali Imran 164).

Ayat-ayat Allah yang dibacakan kepada mereka itu adalah semua firman Allah yang sebenarnya menjadi obor yang terang benderang bagi hati nurani, ros dan rasa. Karena itu sangat nikmat dan indah diingat-ingat dan dihayati untuk dijadikan cita-cita dan tujuan hidup, untuk didekati hingga sampai.

Karena itu dialah yang secara hak dan sah mensucikan lahir batin manusia agar hidupnya selalu berada di dalam rasa yang selalu mensucikan Diri-Nya. Dia pula yang dikehendaki oleh-Nya mengajarkan Al Kitab yang berada pada sisi-Nya yang isinya tidak lain hanya membicarakan tentang Al-Haq-Nya (QS. Al Mu’minun 62). Juga mengajarkan Al-Hikmah. Yaitu mengajarkan tentang kesadarannya sebagai hamba yang al-fakir. Hingga sekiranya tidak dibelas kasihani Tuhannya, tidak hanya fakir, hina, nista bahkan sesat tidak bisa pulang kembali kepada Tuhannya. Karena itu betapa takutnya sekiranya sampai putus hubungan dengan Tuhannya, lalu dijauhi oleh-Nya. Maka dia sama sekali tidak berani sembrana dan gemampang kepada semua petunjuk dan perintah Gurunya. Sebab hanya inilah satu-satunya jalan yang menyebabkan Allah akan menarik dirinya dengan fadhal-Nya dan rahmat-fadhal-Nya.

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Apabila Daabbah Telah Dikeluarkan dan Diberdayakan Tuhan, Maka Akibat Nyata (Azab) Pasti Ditimpakan Mereka Yang Tidak Mengenal Diri-Nya Tuhan, , Tanjung, Oktober 1997, hal. 21 – 22).

Cita-Cita Jama’ah Lil Muqorrobin :

Memancarkan pendidikan luas tentang Islam sehingga pesantren dapat sebanyak-banyaknya mengeluarkan orang yang cakap dan luas serta tinggi kefahamannya tentang Islam, rajin beramal dan berbakti kepada masyarakat berdasarkan taqwa (takut dan tunduk kepada Allah, sehingga menjadi anggota masyarakat yang berilmu/ terpelajar) beramal dan bertaqwa.

(12)

³

D

º

Sesuatu yang memancar tidak lain adalah cahaya atau nur, yakni Cahaya Illahi yang memancar dalam rasa hati sehingga akan menjadikan pribadi yang rasa jiwanya matang dan dewasa. Kemudian benar-benar “yasyarah shadrahu lil Islam”.

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Uraian Tentan Makna Yang Terkandung Di Dalam Qaidah Sembilan, Tanjung Anom, 16 September 1994, hal. 1).

Gerakan Jamaan Lil Muqorrobin

Gerakan lahir dan batinnya orang-orang yang berkehendak bertemu Tuhannya (murid) supaya selalu menyatu dengan kehendak Tuhannya, dalam sebuah himpunan (jama’ah) yang kompak dan seia sekata, hingga siap didekatkan oleh Allah SWT kepada-Nya.

(K.H. Mohammad Munawwar Afandi, Ketetapan dan Petunjuk Imam Gerakan Jama’ah Lil Muqorrobin Yang Terlahir Sebagai “Dawuh Guru” tentang Pengelolaan Organisasi Dawuh Guru (Gerakan Jamaan Lil Muqorrobin, Pondok Sufi, Tanjung, 10 April 2002, hal. 1).

Gerakan Jamaah Lil Muqorrobin adalah gerakan yang selalu bergerak baik ke luar maupun ke dalam bagi orang-orang yang berkehendak oleh Allah SWT. bertekat dengan niat yang kuat untuk mendekatkan diri hingga sampai dengan selamat bertemu dengan Diri Illahi. Bertekad bulat mempersiapkan diri menjadi hamba yang dikehendaki untuk didekatkan oleh Allah SWT kepada-Nya.

Dimasukan menjadi al-muqorrobin berarti masuk pula menjadi Ahlul Baitnya Junjungan Nabi Muhammad SAW yang dimaksudkan oleh Allah hendak dihilangkan dosa-dosanya dan hendak disucikan yang sesuci-sucinya (QS. Al Ahzab 33) karena telah dijadikan oleh-Nya mengenal dan mengetahui makna hakiki dari hakekat rumahnya Junjungan Nabi. Dan rumah hakikinya Junjungan Nabi SAW adalah Nur Muhammad yang senantiasa mencahaya terang dalam dadanya. Yakni Cahaya Terpuji-Nya Dzat Al ghaib Yang Wajib Wujud-Nya yang Cahaya dan Dzat-Nya itu selalu menyatu menjadi satu bagaikan sifat dan mausuf. Bagaikan kertas dengan putihnya. Bagaikan laut dengan gelombangnya. Itulah yang senantiasa nampak dengan jelas dan nyata dalam hati nurani, roh dan rasanya Junjungan Nabi. Itu pulalah Al Ghaibullah (=Kalimah yang kekal) yang menjadi rumah hakikinya Keturunan Nabi Ibrahim Khalilullah supaya menjadi tempat kembali sebagaimana firman-Nya dalam QS Az Zukhruf 28.

Maka dari itu bagi Ahlul Baitnya Junjungan Nabi SAW yang dikehendaki mengenal dan mengetahui rumah hakikinya Junjungan Nabi SAW sebagaimana penjelasan di atas dan ditarik oleh fadhal dan rahmat-Nya pada martabat muqarrabin pasti memenuhi pedoman di bawah ini (Sabda Nabi Muhammad SAW).

Kandungan makna Nabi Muhammad SAW di atas menetapkan bahwa seseorang sama sekali tidak akan dapat sampai pada martabat muqarrabin kecuali apabila it’ba pada Junjungan Nabi Muhammad SAW (dan kepada para wakilnya, para penggantinya; yang hak dan sah yang secara gilir gumanti tidak pernah terputus sama sekali dalam suatu rantai silsilah hingga kini sampai kiyamat nanti).

Sebab yang harus dapat diikuti bagi penyembahaan yang sejati murni pada Diri Illahi adalah perkataannya dan perbuatannya. Ilmunya dan amalnya. Lahirnya dan batinnya, yang pertama. Kemudian harus dibarengi oleh hati nurani, roh dan rasa yang selalu mengintai-intai (mengingat-ingat dan menghayati) Keberadaan Satu-Satu-Nya Dzat Yang Al Ghaib Yang Mutlak Wujud-Nya, yang kedua.

(13)

³

D

º

amat sangat dekat sekali dengan hamba-Nya, tetapi Al Ghaib. Mufrad dan ma’rifah, Ahadiyat. Satu-Satu-Nya Dzat Yang Wajib Wujud-Nya, tetapi jelas dan nyata sangat dekat sekali dalam rasa hati hingga sebenarnya memang sangat mudah dan amat indah untuk selalu diingat-ingat dan dihayati apabila dikehendaki oleh-Nya rela bertanya dengan cara yang benar kepada ahlinya (QS.Al Anbiya’ 7).

Oleh karena itu bagi hamba yang dikehendaki oleh-Nya ditarik dengan fadhal dan rahmat-Nya pada martabat muqarrabin pasti dijadikan teguh memegang data kunci mengenal keberadaan Al-Hak-Nya ini. (lih. Data Kunci)

Gerakan Jamaah Lil-Muqorrobin yang juga bisa disebut Gerakan Bala Sirullah, kini telah memasuki jaman Al-Mahdi. Jaman dimana hamba Allah yang dikehendaki oleh-Nya memperoleh ilmunya dzikir Huw yang hak dan sah dari Guru yang hak dan sah dimudahkan oleh Allah menangkap dan mencerna serta menghayati dan mengamalkan petunjuk dan perintah Guru yang hak dan sah itu dengan benar dan ikhlas. Sekaligus dapat meyakini kandungan makna sabda Junjungan Nabi Muhammad SAW bahwa : “ laa mahdiya illa ‘Isa”.

“Tidak ada Al Mahdi melainkan ‘Isa”. ‘Isa yang dimaksud adalah seorang Nabi dan sekaligus

Rasul. Karena itu peninggalan para Wali di Tanah Jawa dalam sebuah tembang sinom menyebut Al Mahdi itu dengan Nabi duta. Tembang tersebut lengkapnya adalah sebagai berikut :

“Jejering njeng Nabi Duta mBenjang ing tanah Jawi Langkung limang atus warsa King Sirnaning Majapahit Langkung limang atus warsi Keh ddriya idepipun

Keh ngulama Salah karya Kalimput wibawa mukti

Tendeng resi isine Durga anrangsang”.

Gerakan Jamaah Lil Muqorrobin ini dipimpin oleh seorang Imam yang secara hak dan sah mendapat ijin daru Guru sebelumnya ditugasi melanjutkan tugas dan funsinya sebagai pelanjut tugas dan fungsinya Junjungan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasullulah.

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Gerakan Jamaah Llil Muqorrobin, Tanjung, 9 Februari 2000, hal.1 – 3).

Lubang Cahaya

Di dalam QS. Al Maidah ayat 48 firman Allah menyatakan adanya lubang cahaya (minhajan).

“Likulli ja’alna minkum syr’atan wa minhajan”. Bagi tiap-tiap umat di antara kamu, Kami jadikan

syir’atan (aturan lahir) dan minhajan (lubang cahaya di dalam batin [di dalam rasa]).

Di dalam kamus tasawuf minhajan itu lubang cahaya. Sedang kalau yang dimaksud jalan terang adalah manhaajun.

Lubang cahaya itu adalah Cahaya Terpuji-Nya Dzat Al Ghayb Yang Mutlak Wujud-Nya, Allah nama-Nya, yang Cahaya dengan Dzat-Nya Allah bagaikan kertas dengan putihnya atau bagaikan sifat dan maushuf. Atau bagaikan ombak dan samudranya. Maksudnya kekal menyatu menjadi satu.

Mengenal dan mengetahui adanya lubang yang isinya adalah Cahaya Terpujinya Dzatullah dari yang berhak dan sah menunjuki (ahli zikir) di dalam rasa sama artinya dengan seyakinnya mengenal dan mengetahui fitrah jati dirinya sendiri yang dicipta oleh Allah dari Fitrah-Nya.

(14)

³

D

º

Sebagaimana maksud firman Allah dalam QS Ar Ruum ayat 30 : “Fithratallahi allati

fatharannaasa ‘alaiha”. Bahwa Fitrah Allah-lah yang telah menciptakan fitrah jati diri manusia

dari Fitrah-Nya Allah sendiri. Tidak ada perubahan bagi penciptaan Allah bahwa fitrahnya manusia dicipta Allah dari Fitrah-Nya. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS. Ar Ruum : 30).

Mengenal dan mengetahui Nur Muhammad di dalam rasa oleh yang berhak dan sah menunjuki sama artinya dengan seyakinnya mengenal dan mengetahui Diri-Nya Ilaahi Yang Al Ghayb. Adalah “titik temunya” fitrah jati diri manusia dengan tempat asal dicipta oleh Allah, sehingga

“man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu”, adalah hal yang nyata terasa di dalam rasa hati.

Dan inilah yang dikehendaki dengan ilmu Nubuwah (lih. Nubuwwah). Sebagaimana maksud firman Allah di dalam QS. Al An’am ayat 20 bahwa orang-orang yang telah diberi kitab, maksudnya kitabun maknun, Kitab yang terpelihara (lauh mahfudz) yang di QS. Al Waqi’ah ayat 79 difrimankan Allah tidak akan dapat menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan oleh Allah. Orang-orang yang telah diberi kitab seperti itu mengenal Nur Muhammad seperti mereka mengenali anak-anaknya sendiri. “Alladziina khasiruu anfusahum fahum laa yu’minuuna”. Orang-orang yang merugikan dirinya sendiri (karena tidak mengenal dan mengetahui fitrah jati dirinya yang cipta Allah dari Fitrah-Nya Allah sendiri yang disimpan Allah di dalam rasa hati), mereka itu adalah orang-orang yang tidak beriman (kepada Allah). (QS. Al An’am : 20).

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Ilmu Syaththariah, Nubuwah dan Zikir, Pondok Sufi, Tanjung, 13 Desember 2006, hal. 2 – 3).

(15)

³

D

º

M

Mahdi

: (lih Imam Mahdi)

Makanan hati Nurani

: (lih. juga Ilmu Syaththariah – Muqaddimah Ilmu Syaththariah)

Seandainya sebuah makanan, makanan hati nurani adalah dzikir nafi dan itsbat. Yakni “laailaaha illallah”.

Dalam sebuah hadits qudsi kalimah tauhid “laailaaha illallah” ini adalah benteng-Ku, kata Allah. Maka barang siapa yang masuk ke dalam benteng-Ku, maka amanlah dia dari semua azab-azabku. Dan ketika seseorang yang telah atas ijin-Nya dan ijin Guru yang hak dan sah menunjuki ilmu tentang keberadaan Diri-Nya Dzat Yang Al Ghaib itu, ketika melakukan dhikir nafi dan itsbat, yakni dengan memperbanyak mengucapkan kalimah “laailaaha illallah”, adalah merupakan usaha untuk mendidik cipta angan-angannya supaya selama melaksanakan dhikir tersebut, cipta dan angan-angannya mengatakan bahwa wujud dirinya tidak ada. Demikian hanya semua saja di luar wujud jiwaraganya. Apa itu anak. Apa itu istri. Apa itu harta dan dunia. Apa itu segala hal yang terlintas dalam pikirannya. Semuanya nafi. Semuanya tidak ada. Dan apabila ternyata masih dirasakan ada, maka segeralah menyadari bahwa masih banyak sekali dosanya dan kesalahannya. Masih banyak sekali kurangnya lakon dan pitukonnya. Masih banyak sekali sembrananya. Masih kurang sekali tumemennya dan kesungguhannya dalam memenuhi perintah Allah dan Rasul-Nya.

Sebab apabila sekiranya oleh Allah telah dianggap cukup lakon dan pitukonya serta layak diampuni oleh-Nya serta memperoleh berberan, sawab, berkah dan pangestu gurunya yang hak dan sah itu, maka akan ditarik oleh-Nya menyatakan bahwa semua saja selain Diri-Nya memang benar-benar nafi. Manakala demikian maka dengan sendirinya yang nampak ada (dengan penglihatan mata hati) hanyalah Diri-Nya Dzat Yang Allah Asma’-Nya.

Namun hal ini sama sekali tidak bisa diminta dengan segera. Yang penting bagi seorang murid (orang yang berkehendak bertemu dengan Tuhannya) adalah memenuhi semua petunjuk dan perintah gurunya. Maka Tuhan sendiri yang akan mengatur semuanya. Sebab Dia adalah Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana serta sama sekali tidak akan merugikan amal baik hamba-hamba-Nya.

Dengan demikian kita mengetahui bahwa kerja keras yang dilakukan supaya dapat berbuat amal sebagai bukti pitukon mendekat kepada-Nya, pelaksanaan kewajiban shalat yang selalu dijaga untuk mengingat-ingat dan menghayati Diri-Nya, semua ibadah yang kita lakukan, perjuangan dan pengorbanan demi syiarnya agama Allah, demikian halnya pelatihan dan pendidikan untuk supaya dapat berbuat banyak dalam mengelola garapan dunia demi untuk subhanaka, yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas, semua itu adalah merupakan pemrosesan dalam rangka menafikan apa saja supaya dapat ditarik fadhal dan rahmat-Nya membuktikan keberadaan Diri-Nya lalu masuk kepada-Nya. Yaitu kembali pulang kepada-Nya.

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Apabila Daabbah Telah Dikeluarkan dan Diberdayakan Tuhan, Maka Akibat Nyata (Azab) Pasti Ditimpakan Mereka Yang Tidak Mengenal Diri-Nya Tuhan, Tanjung, Oktober 1997, hal. 27 – 28).

Makanan Roh

: (lih. juga Ilmu Syaththariah – Muqaddimah Ilmu Syaththariah)

Makanan Roh adalah dhikir Allah, Allah, Allah.

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Apabila Daabbah Telah Dikeluarkan dan Diberdayakan Tuhan, Maka Akibat Nyata (Azab) Pasti Ditimpakan Mereka Yang Tidak Mengenal Diri-Nya Tuhan, Tanjung, Oktober 1997, hal. 28).

(16)

³

D

º

Malakut

: (lihat Alam - Alam Malakut)

Maaliki yaumiddin

. : (lih. Al Faatehah)

Manggon :

Istiqomahnya hati mapan (bertempat tinggal, ngomah) dalam Dawuh Guru

(K.H. Mohammad Munawwar Afandi, Pembagian Manusia Sebagaimana Penuturan Para Wasithah Dalam Risalah Ma’na Sirr Fi Bayani Ma’rifat Billah, Pondok Sufi, Tanjung, 17 Maret 2001, hal. 5).

Manusia

Salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang tersusun dari empat unsur kejadian yaitu jasad, hati nurani, ruh dan sirr atau rasa.

Jasad.

Unsur kejadian manusia yang pertama adalah jasad. Keberadaan di dunia dibatasi dengan umur. Wujud nafsu manusia tidak lain adalah wujud jasad yang dijadikan Allah, sengaja hendak diuji. Karena wujud jasad ini sebagai ujian, maka oleh Allah diberi hati (hati sanubari) yang wataknya persis seperti iblis, yakni “Abaa wastakabara. Anna khairun minhu”. Enggan, acuh, tidak peduli pada kebenaran Al-Haq-Nya. Sombong dan takabur. Wataknya melampaui batas karena memandang dirinya serba cukup. Jadi sejiwa dengan nafsu yang perbuatannya “yajrii ilas suu-i”. Selalu mengajak kepada yang jelek dan salah, yaitu semua hal yang sama sekali tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.

Sifatnya “laa ya’rifullah”, tidak mengetahui Allah, sama sekali tidak mengerti dengan kehendak-Nya, Dzat-Nya, dan “yamna’u minallah”, membantah Allah. Itulah sebabnya harus terus menerus diperangi (jihaadul akbar) hingga benar-benar kalah lalu mau patuh dan tunduk dijandikan kendaraannya hati nurani, ruh dan rasa untuk mendekat hingga sampai dengan selamat kepada-Nya.

Bukti bahwa jasad ini mau dijadikan tunggangan hati nurani, roh, dan rasa mendekat hingga selamat sampai kepada-Nya adalah bersiap diri melaksanakan kewajiban syariat yang tiangnya shalat dengan khusyuk. Shalat wajib dan juga memperbanyak shalat-shalat sunnat (utamanya “qiyamul lail”) adalah satu-satunya alat untuk mengembalikan asal mula jasad yang terdiri dari kumpulan tanah, angin, api dan air; supaya dapat kembali ke asalnya masing-masing. Mati yang benar jasad itu bosok (kembali ke asalnya masing-masing dengan sempurna).

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Risalah Ilmu Syaththariah, Jalan Menuju Tuhan, Pustaka Pondok Sufi, Januari 2002, hal.19 – 20.)

Hati

Tentang hati, ada dua hal yang saling berlawanan, yaitu hati sanubari dan hati nurani. Sedang dalam QS. Al Ahzab : 4, Allah telah berfirman bahwa Allah sama sekali tidak menjadikan dua buah ahti dalam rongganya. Karena itu apabila hati sanubarinya yang berfungsi, maka hati nuraninya dengan sendirinya tidak akan bisa berfungsi.

Berkaitan dengan hal tersebut Allah telah berfirman :

“Allah sama sekali tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongga dadanya” (QS. 33

Al- Ahzab : 4).

(17)

³

D

º

Hati Nurani :

Unsur kejadian manusia yang kedua. Letaknya tepat ditengah-tengah dada, tandanya detak jantung (deg deg). Disebut juga dengan hati jantung. Hati ini adalah wujud lembut yang dibangsakan gaib, tetapi bukan Al-Ghaib, bukan Diri-Nya Tuhan Zat Yang Al-Ghaib. Supaya hati nurani yang dijadikan Allah dari cahaya, wataknya seperti para Malaikat-Nya yang rela, patuh dan tunduk diperintah untuk sujud kepada Wakil-Nya – memperlakukan diri “kal mayyiti baina yadil ghosili”, maka ia harus diisi dengan ilmu yang menjadikannya “terbuka” supaya dapat tembus langsung pada Keberadaan Diri-Nya, Dzat Yang Al Ghaib yang sangat dekat sekali dalam rasa hati. Hati nurani ini kewajibannya melaksanakan tarekat.

Hati nurani ini af’al-nya (perbuatannya) selalu mengajak kepada kebajikan. Sifatnya

ya’rifullaha. Zatnya muqabilatun ilallah. Selalu siap sedia memenuhi perintah-Nya meski

resiko yang harus dipikulnya itu sangat berat.

Mati yang benar – artinya dapat selamat merasakan betapa bahagianya bertemu dengan Diri-Nya Tuhan -, hati ini ‘adam, yaitu membuktikan kebenaran yang dikandung oleh kalimah tauhid :” Laailaaha illallah”.” Laailaaha” ini kalimah nafi. Maksudnya, membuktikan bahwa apa saja, seperti akon-akon (dalam hati merasa memiliki) dunia dan wujud jiwa raga, zat, sifat dan af’alnya hamba, semua telah nafi. Semua tiada (‘adam).

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Risalah Ilmu Syaththariah, Jalan Menuju Tuhan, Pustaka Pondok Sufi, Januari 2002, hal. 20 – 22).

Hati nurani ini supaya sehat dan subur rasa cintanya kepada Tuhannya, makanannya adalah kalimat tauhid : “Laailaaha illallah” dengan menghadirkan makna yang dikandungnya, bahwa “Laailaaha illallah” adalah kalimah nafi dan illallah kalimat itsbat. Yakni rasa hati yang menyadari sepenuhnya bahwa apa saja termasuk wujud jiwa raganya, segala hal tentang dunia yang biasa diaku oleh watak nafsu manusia, semua itu sebenarnya nafi. ‘Adam, tidak ada. Sebab sebenarnya Yang Wujud dan Yang Ada hanyalah Diri-Nya Dzat Yang Allah Asma-Nya. Sebagaiman firman-Nya dalam QS. Ar Rahman 26 – 27, bahwa setiap manusia (dan apa saja yang ada atasnya), fanin. Dan yang tetap kekal adalah wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Dan untuk supaya dapat menafikan harus bekerja dengan tekun dan sungguh-sungguh guna mewujudkan lakon dan pitukon (lih. lakon, pitukon). Yakni perjuangan, pengorbanan dan pengabdian dengan ikhlas yang seikhlasnya karena Allah, dengan Allah, di jalan Allah dan untuk Allah, sehingga saking ikhlasnya sama sekali tidak merasa bahwa dirinya sedang berkorban dan berbakti. Hal demikian harus dijalani dengan sabar dan tawakkal supaya dapat sampai kepada tingkat dan martabat rasa.

Di dalam hati nurani ada arwah. Beberapa roh (lih. roh). Sebab seandainya dibuka oleh Allah, roh manusia itu berlapis-lapis bagaikan gelas ditumpuk. Ada tujuh sap. Adalah wujud yang lebih lembut dibangsakan Al Ghaib karena sama-sama tidak bisa dilihat oleh mata kepala, tetapi bukan Tuhan.

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Ilmu Syaththariah, Tanjung, 1 Okotber 2000, hal. 23).

Hati Sanubari :

Hati yang letaknya di bawah susu sebelah kiri, kira-kira dua jari, serupa dengan sekerat daging sak kiwir dengan bentuk daun semanggi dibelah dua. Hati ini merupakan markas besarnya nafsu lawwamah.

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Risalah Ilmu Syaththariah, Jalan Menuju Tuhan, Pustaka Pondok Sufi, Januari 2002, hal. 20).

(18)

³

D

º

Fungsi hati sanubari :

Semata-mata akan hanya membela wataknya nafsu, egonya, kepentingan-kepentingan-nya, seleranya, keinginan-keinginannya, sahwatnya, watak akunya, takaburnya, sum’ah-nya, ria’nya dan ujubnya.

Sebab dia adalah markasnya nafsu lawwamah yang tujuan hidupnya hanya ukrek memburu uceng (nikmat pemberianNya), tetapi sama sekali tidak butuh kepada Yang Tukang Memberi.

Karena itu, bagi warga Syaththariyah ketika melakukan dzikir itsbat, dzikir yang menetapkan dalam rasa hati bahwa Yang Wujud dan Ada hanyalah Diri-Nya Dzat Al-Ghaib Yang Wajib Wujud-Nya (illallah), dagunya dipukulkan ke dalam hati sanubari.

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Ilmu Syaththariah, Tanjung, 1 Okotber 2000, hal 2 – 3)

Ruh

Unsur kejadian manusia yang ketiga, letaknya di dalam hati nurani. Adalah wujud yang lebih lembut dibandingkan hati nurani (lih. hati nurani), juga dibangsakan ghaib karena sama-sama tidak bisa dilihat mata kepala, tetapi bukan Al-Ghaib, bukan Tuhan. Dia adalah Daya dan Kekuatan Tuhan yang dimasukkan ke dalam jasad manusia, ditandai dengan keluar-masuknya nafas, menjadi hidup seperti kita di dunia sekarang.

Ruh ini kewajibannya mencapai (ngambah) hakekat. Seandainya sebuah pohon, hakekat itu yang tumbuh dari amal perbuatan “syari’at” yang selalu dibarengi dengan tarekat. Bila dimisalkan, hakekat ini adalah minyak yang diperoleh dari santan kelapa yang direbus hingga beberapa derajat celcius, dan tarekat dimisalkan air santan yang diperoleh dari daging kelapa yan diperoleh setelah memecah kelapa yang sudah tua, sedang syariat dimisalkan kulitnya kelapa.

Sehingga bisa dibayangkan, jika ingin sampai pada hakekat maka harus dapat memenui kewajiban syariat dan menjalani tarekat. Harus mempunyai keberanian memecah kelapa dari kelapa yang sudah tua. Artinya harus ada tekad kuat dalam memerangi nafsu. Yakni berani menghadapi kesulitan, susah-payah, kesengsaraan dan kemiskinan (wani rekasa, wani laralapa, wani melarat). Bahkan juga harus berani mati.

Mati yang benar, ruh sirna. Sebab ruh yang dimasukan ke dalam jasad manusia ini sebenarnya adalah Ruh Ilahi. Daya dan Kekuatan-Nya Allah SWT yang biasanya dengan kuatnya diaku (merasa miliknya) oleh nafsu manusia, kemampuannya diaku, kuatnya diaku, amal-amalnya diaku, dan semua apa saja yang pantas bagi kehormatan dirinya diaku.

Supaya ruh ini dapat sirna jika mati (fana’ fillah = meniadakan aku karena hanya merasakan Adanya Sang Maha Aku), maka setelah memperoleh ilmu dari izinnya Guru yang hak dan sah menunjuki, bagaimana agar ruh ini diberdayakan untuk mencapai (ngambah) hakekat. Yaitu rasa dan pandangan hati yang sepenuhnya menyadari bahwa hakekatnya Yang Wujud dan Yang Ada, Yang Bisa, Yang Kuat, Yang Punya Segala, Yang obah osik dan bergerak, Yang Tandang (Yang Berbuat), adalah Diri-Nya Tuhan. Manusia ini sebenarnya adalah bagaikan daun asam yang berada di atas gelombang samudera. Dengan begitu maka, bagi hamba yang telah sampai pada tingkat demikian, yang paling ditakuti tidak lain adalah sekiranya Tuhan iin menjauh sehingga hatinya sangat mudah melupai Diri-Nya Illahi yang dekat sekali dalam rasa hati.

(19)

³

D

º

Dan ternyata, meski telah memperoleh ijin dari Guru yang berhak dan sah menunjukan tentang ilmu untuk mengingat-ingat Diri-Nya Yang Al Ghaib ini, kealpaan itu ternyata tiba-tiba saja datang. Sebab itu maka, taubatan nasuha-nya tidak pernah lepas dari kesadarannya.

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Risalah Ilmu Syaththariah, Jalan Menuju Tuhan, Pustaka Pondok Sufi, Januari 2002, hal. 23 – 24).

Macam-macam ruh :

Ruh setelah berada di dalam tubuh manusia, lalu roh tersebut menjadi tujuh lapis (bagaikan gelas ditumpuk), disesuaikan dengan nafsu manusia yang juga ada tujuh macam. Ruh tersebut adalah ruh nabati, ruh hayawani, ruh jasmani, ruh insani, ruh ruhi atau ruh malaki, ruh rabbani dan ruh idhafi.

Juga disesuaikan dengan wujud dunia seisinya. Sebab “maa kaana fii’alamil kabiri kamitsli

maa kaana fii’alamishshogiri”. Maksudnya apa saja yang ada di alam kabir (jagad besar) itu

persis seperti apa yang ada dalam jagad kecil (dada manusia).

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Apabila Daabbah Telah Dikeluarkan dan Diberdayakan Tuhan, Maka Akibat Nyata (Azab) Pasti Ditimpakan Mereka Yang Tidak Mengenal Diri-Nya Tuhan, , Tanjung, Oktober 1997, hal. 28)

Allah menjadikan roh tujuh lapis dalam jiwa raga manusia ini. Dikehendaki bahwa jagad manusia yang ada dalam dadanya, sama persis dengan isi jagad raya. Karena itu ada roh nabati, roh hayawani, roh jasmani, roh insani, roh malaki, roh Rabbani dan roh idhafi. Roh Nabati yang menumbuhkan krentek (kehendak) bangsa tetumbuhan dan juga bangsa kayu batu. Yaitu hidup dan kehidupan manusia dilahirkan, berkembang, bekerja mencari makan dan minum, berumah tangga, beranak istri, menjadi tua dan kemudian mati.

Roh hayawani menumbuhkan kehendak bangsa hewan. Tujuan hidupnya hanya mengejar nikmatnya makan dan nikmatnya sahwat. Apapun cara dan jalannya, tidak peduli apa haram apa halal, yang penting bisa kesampaian.

Roh jasmani yang menumbuhkan kehendak, bagaimana agar hidup dan kehidupan jasadnya dalam dunia, mukti wibawa dan kajen keringan. Sehingga kecintaannya kepada hal-hal dunia sangat luar biasa tingginya. Semua potensi dirinya, bakat dan keahliannya, semua dikerahkan.

Roh insani yang menumbuhkan kehendak bagaimana agar hidupnya bermartabat. Mempunyai harga diri yang Ilaahi, berkepribadian, mempunyai moral yang kokoh. Bagaimana agar berimannya kepada Allah benar-benar beriman yang benar. Demikian bertaqwanya kepada Allah. Akal tertingginya mulai berfungsi. Akalnya bergerak untuk bertafakur, nggraita dan makarti (bhs. Jawa). Bagaimana seharusnya hidup yang diuji Allah dengan diwujudkan berjiwa raga dan di tempatkan di dunia ini dapat sejalan dengan kehendak yang menciptakannya, sehingga lulus dalam menjalani ujiannya. Maka akalnya akan menggerakkannya untuk mencari dan terus mencari, hingga dapat menemukan kebenaran yang sejati murni.

Roh malaki yang disebut juga dengan Ruh Ruuhi, akan menumbuhkan kehendak rela sepenuh hati mengikuti jejak para Malaikat-Nya Allah dalam memenuhi perintah Allah. Supaya sujud, yakni patuh dan tunduk kepada Wakil-Nya Allah yang diutus oleh-Nya mewakili diri-Nya. Sebab Dia adalah Dzat Yang Al Ghaib. Sama sekali tidak akan pernah menampakkan Diri di muka bumi. Sedang Ada dan Wujud-Nya Al Ghaib itu; supaya dapat seyakinnya dikenali dan diketahui, supaya dapat memenuhi perintah-Nya; mendzikiri Ada

(20)

³

D

º

dan Wujud Satu-Satu-Nya Dzat Yang Mutlak Wujud-Nya. Sekaligus supaya menjadi contoh yang nyata. Berada di jalan lurus menuju kepada-Nya, sehingga dapat selamat dengan rasa bahagia bertemu dengan-Nya.

Roh Rabbani, yang menumbuhkan kehendak untuk dapat selalu bersama dengan Tuhannya dalam segala aktifitas hidup dan kehidupannya. Dalam segala tingkah laku dan perbuatannya. Dalam segala gerak dan gerik lahirnya dan batinnya. Bagaimana supaya tidak mudah melupai Ada dan Wujud-Nya. Apalagi saat menjalani mati yang hanya sekali saja ditemui. Agar benar-benar menjadi “pintu gerbang” pulang kepada Tuhan. Lalu merasakan bahagia selamanya karena dapat selamat bertemu dengan Tuhannya.

Yang Ketujuh Roh idhafi, yang menggerakkan kesadaran tertinggi. Hidupnya hanya bersandar kepada Tuhannya. Sebab yang nampak nyata dalam rasa hatinya hanyalah Diri-Nya Illahi. Meskipun tetap sebagai hamba biasa yang menjalani kehidupan dunia. Rasanya telah seyakinnya merasakan indahnya kehidupan akherat. Tempat hamba bertemu dengan Diri-Nya Dzat Yang Allah Nama-Nya.

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Proyek Ilaahi Yang Segera Diwujudkan Dengan Kun Fayakunnya Adalah Munculnya Zaman Yang Dipimpin oleh Al Qaim Al Mahdi (Hubungannya dengan Gerakan Jamah Lil-Muqorrobin, Pondok Sufi, Tanjung,, Desember 2003, hal. 62 – 64).

Ruh Illahi :

Ruh Allah SWT yang diturunkan untuk menarik hamba-hamba-Nya untuk dipertemukan (diperkenalkan) dengan Wujud Diri-Nya Yang Al Ghaib.

Sirr atau Rasa

Kemudian tinggal sirr (rasa) yang kembali ke akhirat. Sir merupakan unsur ke empat dan merupakan inti atau dasar (fitrah) manusia.

Rasa yan kini berada di dunia, telah terbiasa diperalat nafsu, untuk merasakan berbagai hal dan segala macam tentang urusan dunia; seperti untuk merasakan makanan dan minuman, enak dan tidak enak, manis, asin, pahit, asam, sepet, dan sebagainya. Juga keadaan emosional batin seperti amarah, sedih, gelap, terang, sakit, bahagia (tengah) dan susah, dongkol (jibeg), sakit hati, frustrasi, emosi dan lain sebagainya. Semua keadaan tentang lahir dan batin manusia ini dirasakan oleh sir atau rasa.

Sirr (rasa) ini sebenarnya mempunyai tugas yang asli dan murni yaitu merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya, apabila telah sampai ajalnya dapat merasakan betapa nikmat, indah dan bahagia merasakan pertemuan dengan Tuhan-Nya kembali. Kematian adalah pintu gerbang akhirat. Oleh karena itu bagi orang yang tidak mengenal Tuhannya, kematian dapat menjadi puncak merasakan kesengsaraan dan kekecewaan selama-lamanya karena tersesat (tidak pulang kembali menemui Tuhannya di akhirat), juga dapat menjadi puncak kebahagiaan karena selamat dapat merasakan betapa girangnya kembali bertemu Tuhan. Ilmu Syaththariyah disebut juga Ilmu Rasa yaitu ilmu yang berada dalam rasa. Apabila tidak “masuk” sendiri-sendiri, tidak mungkin akan dapat merasakan bagaimana gambaran-gambaran yang telah diuraikan diatas. Rasa asin garam saja, orang tidak bisa menggambarkan rasa asin itu sebelum dia merasakannya sendiri, apalagi tentang Al-Ghaibullah, Ghaib-Nya Dzat Yang Asma’-Nya Allah.

(21)

³

D

º

Perlu diketahui, bahwa akhirat itu, pintunya ada di adalam dada manusia itu sendiri. Dengan demikian maka, meyakini betapa indah dan bahagia bertemu Tuhan dengan hati yang selamat di kehidupan akhirat, bisa dihayati sejak manusia masih berada di dunia ini.

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Risalah Ilmu Syaththariah, Jalan Menuju Tuhan, Pustaka Pondok Sufi, Januari 2002, hal. 24 – 25).

Penggolongan Manusia Menurut Kehendak-Nya Dzat Allah SWT

Pertama Yang Ada Di dalam Nafasnya Ayat Alif Laam Mim Lalu Selalu Berada Dalam Hidayah-Nya.

Firman Allah dalam QS. Al Baqarah 1 – 5 : Ayat pertama Alif Laam Mim

Bagi mereka yang oleh Allah dikehendaki berada dalam nafas ayat pertama surat Al Baqarah ini akan dimengertikan bahwa huruf Alif dalam ayat ini adalah simbul satu-satunya jalan lurus sebagai realisasinya Islam sebagai agama Tauhidul Khaaliq. Sebagaimana firman-Nya QS. Al An’am 153 : “Dan bahwa sesungguhnya inilah satu-satunya jalan-Ku

yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu supaya kamu bertaqwa”.

Imannya jalan lurus ini adalah ada dalam simbulnya huruf : Laam. Berdasar adanya firman Allah SWT yang hanya digunakan oleh Rasulullah SAW dan wakil-wakilnya yang hak dan sah untuk memberi petunjuk : ilmu tentang Ada dan Wujud-Nya, yaitu Dzat Yang Al Ghaib (Isi-Nya Hu). Firman Allah SWT itu ialah : “Laa Biwushuili Ilaihi Illa Bi Waasithotin”. Tidak akan dapat sampai dengan selamat kepada-Nya kecuali dengan Wasithah.

Maka dari itu Allah SWT tegas-tegas memerintahkan : “Wahai orang-orang yang beriman,

bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan untuk dapat selamat sampai kepada-Nya itu Al Wasiilata, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”.( QS. Al

Maidah 35).

Supaya dapat dengan selamat masuk ke dalam Miim. Huruf yang menjadi simbulnya Nur Muhammad. Yaitu orang-orang yang dikehendaki dengan hidayah-Nya menjadi putih berseri wajah hatinya maka lalu masuk ke dalam rahmat-Nya dan kekal di dalamnya (QS. Ali Imran 107).

Kedua, Golongan Yang Dikunci Mati Hatinya, Pendengarannya dan Juga Penglihatannya Ditutup.

Firman Allah QS. Al Baqarah 6 – 7 : “Sesungguhnya orang-orang yang tidak percaya, sama

saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci mati hati mereka dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksaan yang amat berat”.

Mereka tidak akan mau percaya pada keberadaan al Haq-Nya. Yakni karena Dia tidak ngejawantah, maka Dia menjadikan adanya al-Haadi sebagai wakil-Nya di bumi untuk menunjukkan dengan ilmu untuk dapat dengan yakin yang seyakin-yakinnya mengenali Ada dan Wujud-Nya Dzat Yang Al Ghaib itu. Bahkan karena saking lihainya makhluk yang selalu berusaha menjeratnya, mereka justru juga ngaku sebagai khalifah-Nya Allah di bumi.

(22)

³

D

º

Padahal wakil itu harus tahu persis dengan adanya muwakkil. Mewakili Allah di bumi artinya juga seorang yang tahu persis tentang Keberadaan Al Ghaib-Nya itu. Dan yang tahu secara persis tentang-Nya adalah yang dikehendaki oleh-Nya sebagai ahladzdzikri.

Karena itu bagi mereka yang tidak dikunci mati hatinya, tidak ditutup penglihatannya dan pendengarannya, artinya mengerti terhadap keberadaan wakil-Nya di bumi lalu mau bertanya tentang bagaimana ma’rifat kepada-Nya dan bagaimana jalan kembali berjumpa dengan-Nya, bersyukurlah kepada-Nya.

Ketiga, Golongan Mereka Yang Menjadikan Dirinya Sendiri Munafik

Golongan ketiga ini justru yang mempunyai peluang nimbrung lalu membaurkan diri ke dalam yang benar-benar beriman kepada kebenaran Al Haq-Nya. Membaur kepada yang percayanya kepada Al Haadi sebagai pelanjut tugas dan fungsinya Rasulullah masih tetap berlanjut tidak pernah putus hingga kini. Bahkan peluang dan kesempatan mendominasi dan mewarnai gerakan umat, mereka ini justru memperoleh kesempatan dan peluang. Sebab mereka juga dengan tegas menyatakan diri sebagai orang-orang yang beriman kepada Allah, juga kepada hari kemudian, padahal mereka itu bukanlah orang-orang yang mengimani adanya kelangsungan tugas dan fungsi Al Haadi.

Kalam Allah dalam firman-Nya (QS. Al Baqarah 9), mereka ini maunya hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman (kepada al Haadi-Nya). Padahal mereka hanyalah menipu dirinya sendiri dalam keadaan tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit lalu Allah menambah penyakitnya itu. Baginya siksa yang pedih disebabkan mereka ini mendustakan keberadaan adanya tugas dan fungsinya al Haadi (Guru yang hak dan sah sebagai wakilnya Rasulullah). Dan apabila dikatakan kepada mereka agar jangan membuat kerusakan di muka, jawabnya justru merekalah yang mengadakan perbaikan.

Padalah yang dimaksud Allah tidak dan jangan dirusak itu ialah sunnah dan ketetapan-Nya serta ketetapan Rasul-Nya yang harusnya ditaati. Yakni wakil-Nya di bumi dan wakilnya Rasul yang menunjukkan dengan ilmu adanya jalan lurus menuju hingga sampai selamat berjumpa dengan-Nya itu. Mereka justru merusak ketetapan ini, tetapi mereka tidak sadar. Itulah sebabnya jika dikatakan kepada mereka supaya beriman sebagaimana orang-orang yang telah beriman (kepada adanya kelangsungan Guru yang hak dan sah itu), mereka menjawab : “Akan berimankan kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah

beriman”? Ingatlah sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu”.

Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang beriman, mereka mengatakan : “Kami

telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan, mereka mengatakan :

“Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”.

Allah akan membalas olok-olok mereka dan membiarkan mereka terumbang-ambing dalam kesesatan mereka. Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaannya dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.

Perumpaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api menyinari sekelilingnya, Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.

Mereka bisu, tuli dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar = jalan kebenaran Al Haq-Nya).

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Dakwah Untuk Menghidupkan Kembali Bangkitnya dan Cita-Citanya Rasa Nikmat dan Rasa Bahagia Bertemu Dengan Dzat Al Ghaib Yang Wajib Wujud-Nya, Jilid 1, Tanjung, 11 Februari 1994, hal. 65 – 67).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :