• Tidak ada hasil yang ditemukan

Representasi Industri Batik Dalam Pengelolaan Lingkungan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Representasi Industri Batik Dalam Pengelolaan Lingkungan"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

Representasi Industri Batik Dalam Pengelolaan Lingkungan

(Studi Kasus Pada Masyarakat Industri Batik Di Desa Pilang Kecamatan Masaran Kabupaten Sragen)

Ananda Galuh Kusuma Putri [email protected]

Batik industry in Pilang Village Masaran District Sragen Regency is an industry that contain risks to destroy the environment related by using the material used and also the waste management. This research has purpose to know the activity of batik industry, the waste management in batik industry, and the risk indicator that appears from the existing of batik industry, and also the relexivity of the existing of batik industry in Pilang Village Masaran District Sragen Regency. The research take place in Pilang Village Masaran District Sragen Regency. The theory used in this research is risk society theory by Ulrich Beck stating that industry and the side effects is producing a large row of dangerous consequences eventhough very deadly for the people as a result of globalisation in form of physical risk, social risk, and mentally risk or psychology. The type of this research is qualitative research by us the uing case study approach. The data is collected by deeper interview technique, observation, documentation, and book study. The sample is taken by using purposive sampling technique. In order to guarantee the validity of data used by triangulation sources, meanwhile the data analysis used in this research is interactive model.

The result of this research shows that the industry activity in the production step is using stamp printing technique, writing, and color withdraw, whereas the color material is using the chemical and nature material. The waste management is conducted by using waste management installation or IPAL communal. The risk indicator is the physical risk formed by the environmental pollution in Pilang Village, the social risk is found in the distantly of interaction between the batik businessman and the general public, while the mental risk is not found in Pilang Village. The reflexivity or the treatment that is conducted by the businessman or the craftsmen of batik industry is by establishing of 2 new communal IPAL to manage the waste and routine maintenance for the communal IPAL.

Keywords: batik industry, management, environment, representative

A. Pendahuluan

Kegiatan industri merupakan salah satu kegiatan di sektor ekonomi yang dilakukan oleh manusia yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dimana didalamnya terdapat kegiatan yang menghasilkan output yang menguntungkan. Kegiatan industri ini ada karena dilandaskan oleh kebutuhan hidup yang semakin memberi tuntutan kepada manusia, sehingga mau tidak mau memberikan dorongan kepada manusia untuk berpikir lebih maju bagaimana cara agar mereka terlepas akan

(2)

commit to user

himpitan kebutuhan hidupnya, salah satunya dengan membuat atau mendirikan usaha yakni industri dalam skala kecil atau bahkan besar sekalipun. Meskipun dilain sisi, perkembangan teknologi turut mendukung dari adanya perkembangan kegiatan industri tersebut.

Seperti halnya industri batik yang pada saat ini telah menjadi salah satu usaha yang cukup memberikan banyak keuntungan mengingat bahwa pecinta batik pada masa

sekarang sangatlah tinggi. Sekarang, batik bukanlah model fashion yang dianggap kuno

atau ketinggalan jaman, melainkan batik merupakan salah satu model fashion yang

diunggulkan karena kreativitas dalam membuat hasil karya batik ini telah beraneka ragam. Tidak hanya melulu berbentuk kebaya kuno yang identik dengan pakaian orang tua melainkan telah bertransformasi menjadi berbagai gaya dan model pakaian yang lebih trendy sesuai dengan berbagai selera masyarakat di berbagai kalangan termasuk anak muda.

Dari sisi ekonomi, batik telah banyak mendukung pengembangan ekonomi dan pariwisata. Usaha menumbuh kembangkan industri pariwisata di Indonesia didukung dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1990 Tentang Kepariwisataan yang menyebutkan bahwa “Keberadaan obyek wisata pada suatu daerah akan sangat menguntungkan, antara lain meningkatnya Pendapatan Asli Daerah (PAD), meningkatnya taraf hidup masyarakat, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan rasa cinta lingkungan, serta melestarikan alam dan budaya setempat”. Perkembangan suatu daerah pada dasarnya selaras dengan tingkat perkembangan penduduk dan kegiatannya yang merupakan elemen-elemen penunjang dalam perkembangannya.

Namun, dalam pembuatan atau produksi batik ini, perlu diingat bahwa kegiatan industri dalam mengahasilkan batik ini selalu ada dampak yang menyertainya termasuk dampak yang diakibatkan terhadap lingkungan hidup disekitarnya. Satu sisi dimana batik merupakan budaya bangsa yang harus dilestarikan, namun di satu sisi pula perlu diingat bahwa kegiatan industri batik akan menghasilkan limbah yang mau tidak mau akan mencemari lingkungan disekitarnya. Dari aspek penggunaan bahan kimia, industri batik merupakan industri yang potensial menghasilkan limbah yang mengandung logam berat yang dikategorikan sebagai limbah berbahaya, sehingga dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Seiring dengan peningkatan produksi batik, maka permasalahan lingkungan

(3)

commit to user

juga akan semakin meningkat. Permasalahan tersebut terutama disebabkan karena proses produksi seringkali mengakibatkan pemborosan material dan energi serta akibat pembuangan limbahnya yang akan membebani lingkungan.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menyebutkan bahwa pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan dan pengendalian lingkungan hidup. Serta, pelestarian lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk memelihara kelangsungan daya dukung dan tampung lingkungan hidup (Suharto, 2011:7-8).

Kegiatan industri batik seharusnya dapat berjalan seimbang dengan proses produksinya yang menggunakan bahan-bahan yang sekiranya mempunyai risiko untuk mencemari lingkungan. Kegiatan dalam memproduksi batik dapat terus berjalan dan keuntungan dapat terus diperoleh, namun kelestarian lingkungan haruslah tetap diperhatikan mengingat dampak yang dihasilkan dapat memberikan banyak pengaruh buruk terhadap lingkungan hidup sekitar.

Hanya sayang sekali, walaupun telah digariskan oleh pemerintah bahwa peningkatan pembangunan industri hendaknya jangan sampai membawa akibat rusaknya lingkungan hidup. Kenyataannya, yang lebih banyak diperhatikan dalam pendirian berbagai industri ini adalah keuntungan-keuntungan dari hasil produksinya. Sedikit sekali perhatian terhadap masalah lingkungan sehingga tidak jarang sebagai implikasi dari pendirian industri tersebut berupa pencemaran lingkungan dari hasil buangannya yang kadang-kadang diabaikan saja (Supardi, 2003:93).

Di Desa Pilang terdapat kerajinan industri batik yang cukup besar atau lebih sering dikenal sebagai home industry. Ada sekitar 250 orang perajin batik di Desa Pilang dengan pekerja mencapai 6.000 orang tergabung dengan industri batik yang berada di Desa Kliwonan. Awalnya, industri batik ini hanya dilakukan oleh beberapa orang saja, namun setelah melihat keuntungan yang didapat kemudian muncullah orang-orang baru yang turut membuka industri batik ini dan mengembangkannya.

Industri batik terutama industri batik di Desa Pilang, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen perlu untuk merepresentasikan dirinya dalam hal pengelolaan

(4)

commit to user

lingkungan hidup tersebut. Industri batik bukan hanya melulu didirikan dan dikembangkan untuk mencari keuntungan dengan mencari pangsa pasar yang sebesar-besarnya terkait permintaan pasar yang selaras dan semata-mata untuk melestarikan kebudayaan bangsa. Pun demikian, industri batik perlu juga menunjukkan kembali dirinya bahwa mereka tidak selalu menghasilkan limbah yang dapat mencemari lingkungan. Bahwa industri batik perlu untuk mengelola lingkungannya demi kelestarian lingkungannya dan terhindar dari limbah yang dihasilkannya.

Dengan demikian, sangat penting bagi para batik dan masyarakat Desa Pilang keseluruhan untuk saling bahu-membahu memperhatikan aspek-aspek lingkungan dalam tiap proses agar dapat mencegah terjadinya pencemaran lingkungan serta mampu menciptakan keserasian dengan lingkungan sekitarnya. Agar memenuhi batas aman pembuangan limbah batik pada lingkungan yang ditetapkan, maka harus dilakukan pengolahan terhadap limbah sehingga memenuhi baku mutu sebelum dibuang ke lingkungan atau sungai. Maka, perlulah untuk dikaji bagaimana perajin batik di Desa Pilang, Kecamaran Masaran, Kabupaten Sragen untuk mengelola lingkungannya terkait dengan bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan batik dan bagaimana mereka mengolah limbah yang dihasilkan dalam proses pembuatan batik sebelum limbah itu dibuang ke perairan warga atau ke sungai di dekat industri batik tersebut.

Penelitian ini menggunakan teori masyarakat risiko atau risk society yang dikembangkan oleh Ulrich Beck. Di dalam teori terdapat bahwa masyarakat industri merupakan masyarakat risiko karena risiko sebagian besar memanglah dihasilkan oleh industri. Perkembangan teknologi yang semakin canggih mengubah suatu hal menuju modernitas yang kemudian berpotensi untuk menghasilkan risiko. Risiko diantaranya adalah risiko fisik-ekologis, risiko sosial, dan risiko mental atau psikologis. Risiko tidak mengenal ruang dan waktu dan mempunyai efek boomerang hingga menimbulkan reflektsivitas yang dilakukan untuk menyikapi risiko tersebut. Kaitannya dengan penelitian ini konsep 3 macam risiko akan dipakai untuk melihat dan menganalisa kegiatan industri batik yang berisiko untuk merusak lingkungan.

B. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan jenis penelitian studi kasus. Penelitian studi kasus adalah penelitian yang meneliti fenomena

(5)

commit to user

kontemporer secara utuh dan menyeluruh pada kondisi yang sebenarnya, dengan menggunakan berbagai sumber data. Penelitian studi kasus sangat tepat digunakan pada penelitian yang bertujuan menjawab pertanyaan bagaimana dan mengapa (Yin, 2009) terhadap sesuatu yang diteliti. Melalui pertanyaan yang demikian, substansi mendasar yang terkandung di dalam kasus yang diteliti dapat digali dengan mendalam (Gunawan, 2014:121).

Penelitian dilakukan di industri batik yang berada di Desa Pilang, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Teknik pengambilan sampel dilakukan

dengan menggunakan teknik pengumpulan purposive sampling. Sampel yang diambil

dalam penelitian ini adalah 3 pihak pemerintahan yang menaungi industri batik, 3 pengusaha atau pengrajin batik, serta 3 orang masyarakat secara umum yang tahu dan paham mengenai kegiatan industri batik.

C. Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan hasil temuan penelitian dapat ditarik beberapa kajian mengenai kegiatan industri batik di Desa Pilang, Pengelolaan lingkungan pada industri batik di Desa Pilang, bentuk representasi pengusaha atau pengrajin batik mengenai kegiatan industri batik di Desa Pilang, indikasi risiko yang muncul dari adanya industri batik, serta bentuk refleksivitas dari adanya industri batik di Desa Pilang.

Penelitian ini didukung dengan teori yang digunakan yaitu teori masyarakat risiko

atau risk society yang dikembangkan oleh Ulrich Beck. Dalam teori ini Beck melihat

suatu keterputusan di dalam modernitas dan suatu transisi dari masyarakat industri klasik ke masyarakat risiko yang tetap mempunyai banyak karakteristik masyarakat industri meskipun berbeda dari para pendahulunya. Isu sentral yang terdapat dalam modernitas klasik ialah kekayaan dan bagaimana itu dapat didistribusikan dengan lebih adil. Namun di dalam modernitas yang lebih maju, isu sentral yang terdapat di dalamnya adalah risiko dan bagaimana risiko itu dapat dicegah, diminimalkan, atau disalurkan. Di dalam modernitas klasik cita-citanya adalah persamaan, sementara di dalam modernitas yang lebih maju cita-citanya adalah keselamatan.

Masyarakat risiko merupakan suatu istilah yang menunjukkan bahwa terjadi perubahan ke kondisi-kondisi baru dalam kehidupan manusia saat ini. Perubahan kondisi pada kehidupan manusia ini melahirkan konsekuensi penting, yakni dimana konsekuensi

(6)

commit to user

tersebut merupakan tuntutan akan kesadaran bahwa dalam kehidupan manusia kini lebih diwarnai ketidakmenentuan dan risiko yang sewaktu-waktu dapat mengancamnya. Jadi karakteristik penting dari masyarakat risiko adalah risiko dan cara untuk mengatasi atau usaha meminimalkan masalah sentral kehidupan manusia.

Dalam menyampaikan tentang masyarakat risiko, Beck membagi tiga macam risiko, yakni risiko fisik-ekologis (physical-ecological risk). Risiko sosial (social risk), dan risiko mental (psyche risk). Risiko fisik ekologis merupakan kerusakan fisik pada manusia dan lingkungannya, atau risiko yang dihasilkan oleh manusia. Risiko ini dihasilkan atau diproduksi melalui aneka makanan, sayuran, buah-buahan yang menciptakan aneka penyakit yang berbahaya yang disebabkan oleh intervensi proses artifisial-kimiawi terhadap proses alam yang melampaui batas. Macam risiko yang kedua, yakni risiko sosial merupakan bentuk risiko yang menggiring pada rusaknya bangunan dan lingkungan sosial sebagai akibat dari faktor-faktor eksternal kondisi alam, teknologi, industri, risiko fisik kecelakaan, bencana yang sekaligus menciptakan pula secara bersamaan risiko sosial, berupa tumbuhnya aneka “penyakit sosial” seperti ketidakpedulian, ketakacuhan, indisipliner, fatalitas, egoisme dan immoralitas. Sedangkan risiko mental risiko merupakan risiko yang mengakibatkan hancurnya bangunan psikis, berupa perkembangan aneka bentuk abnormalitas, penyimpangan (deviance) atau kerusakan psikis lainnya, baik yang disebabkan faktor eksternal maupun

internal (Piliang, 2009, http://rumahwacana.wordpress.com/category/humanity dalam

argyo.staff.uns.ac.id).

Risiko yang dihasilkan oleh industri batik Desa Pilang akan kembali pada masyarakat Desa Pilang itu sendiri. Seperti halnya yang telah dikemukakan oleh Beck (2015) dalam bukunya yang berjudul Masyarakat Risiko Menuju Modernitas Baru mengenai efek bumerang dari risiko, bahwa cepat atau lambat risiko juga akan mencapai orang-orang yang menghasilkan atau mendapat keuntungan darinya. Risiko menampilkan efek bumerang dalam penyebarannya: bahkan kaum yang kaya dan kuat pun tidak selamat darinya (Beck, 2015:30). Efek-efek samping risiko menyerang kembali bahkan di pusat-pusat produksi mereka. Beck menjelaskan mengenai efek bumerang, yakni agen-agen modernisasi itu sendiri tertangkap secara tegas di dalam pusaran air bahaya-bahaya

(7)

commit to user

yang mereka lepaskan dan yang menguntungkan mereka (Beck, 1992:37, dalam Ritzer, 2012:949).

Dengan demikian, perlulah dilakukan tindakan-tindakan untuk menangani risiko-risiko. Jika dikatakan bahwa modernitas pada tahap klasik yang menjadi cita-citanya adalah kekayaan, maka pada modernitas tingkat lebih maju cita-citanya adalah keselamatan, bagaimana risiko itu dapat dicegah, diminimalkan, atau disalurkan. Meskipun modernisasi yang lebih maju menghasilkan risiko-risiko, ia juga menghasilkan refleksivitas yang memungkinkan ia mempertanyakan dirinya sendiri dan risiko yang dihasilkan (Ritzer, 2012:949).

Beck (1992) memberikan alasan untuk pentingnya refleksivitas, “hubungan sosial yang baru terbentuk dan jaringan sosial kini harus dipilih secara individual; ikatan-ikatan sosial juga menjadi refleksif, sehingga ikatan-ikatan itu harus dibangun, dipelihara, dan terus-menerus diperbaharui oleh individu-individu (Beck, 1992, dalam Jones, 2009:248). Sesungguhnya, sering orang-orang itu sendiri, para korban risiko, yang mulai merenungkan risiko-risiko itu. Mereka mulai mengamati dan mengumpulkan data mengenai risiko dan akibat-akibatnya bagi manusia.

Dari hasil penelitian Kegiatan industri batik menggunakan bahan atau kain dasar yang digunakan dalam membuat batik adalah kain primissima, kain katun, kain sutra, dan lain-lain. Proses pembuatan kain batik di Desa Pilang tersebut sebagian besar

menggunakan proses printing, batik tulis, maupun batik cabut warna. Sedangkan bahan

pewarna yang digunakan dalam proses pewarnaan kain batik sebagaian besar menggunakan bahan pewarna kimia, meskipun sudah terdapat beberapa pengusaha atau pengrajin batik Desa Pilang yang menggunakan bahan pewarna alami dalam proses pewarnaan kain batik yang diproduksi.

Pengelolaan limbah dari hasil industri batik Desa Pilang dapat dibuktikan melalui pengelolaan limbah batik dengan menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal, pengurangan bahan pewarna kimia dalam proses pewarnaan kain batik, serta pantauan langsung dari pemerintah yakni Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sragen.

Indikasi risiko yang diperlihatkan berimbas pada terjadinya pencemaran pada air, pencemaran pada udara, pencemaran pada daratan. Indikasi risiko pada pencemaran air ditunjukkan dengan perubahan kualitas air bersih yang digunakan untuk konsumsi

(8)

sehari-commit to user

hari masyarakat Desa Pilang akibat dari air limbah yang masuk ke tanah dan mencemari air bersih di Desa Pilang. Untuk indikasi risiko pada pencemaran udara ditunjukkan dengan adanya bau busuk yang menyengat dan mengganggu pernapasan masyarakat Desa Pilang. Sedangkan indikasi risiko pada pencemaran daratan adalah terganggunya kesuburan tanah hingga berimbas pada kualitas hasil panen sawah yang tidak sesuai dengan sebagaimana mestinya. Selain itu, erosi tanah menjadi indikasi risiko industri batik yang selanjutnya karena buangan air limbah yang mengalir pada tanah cukup besar. Risiko sosial diperlihatkan melalui kurang baiknya interaksi yang terjalin antara pengusaha atau pengrajin batik dengan masyarakat Desa Pilang pada umumnya dalam hal pengelolaan lingkungan.

Refleksivitas yang dilakukan oleh pengusaha atau pengrajin batik Desa Pilang adalah dengan meningkatkan keasadaran untuk mengelola limbah hasil indutsri batiknya menggunakan IPAL. Selain itu, pemerintah telah merencanakan pembangunan 2 IPAL di tahun 2016 ini dengan tujuan pencegahan dari risiko pencemaran lingkungan akibat industri batik yang semakin besar.

Hasil temuan di lapangan tersebut menguatkan teori masyarakat risiko atau risk

society bahwa kegiatan produksi batik pada industri batik Desa Pilang sangat erat

kaitannya dengan masyarakat risiko atau risk society sebagai salah satu bagian dari

masyarakat modern meskipun dalam bentuk modernitas yang baru. Dalam industri batik Desa Pilang ditemukan kegiatan-kegiatan yang mengacu pada perwujudan masyarakat risiko. Masyarakat risiko ini disamakan atau sejenis dengan masyarakat industri, karena pada dasarnya risiko-risiko tersebut kebanyakan dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan industri. Risiko-risiko yang terlihat dari kegiatan produksi pada industri batik Desa Pilang selaras dengan apa yang dikemukakan oleh Ulrich Beck mengenai masyarakat risiko.

Dalam industri batik Desa Pilang telah diketahui bagaimana modernitas baru terjadi pada masyarakatnya, artinya telah terjadi perubahan pada kondisi-kondisi masyarakat Desa Pilang dari jaman terdahulu dengan masa sekarang. Perubahan dimana masyarakat Desa Pilang menjadi suatu masyarakat yang modern akibat perkembangan teknologi yang masuk hingga kemudian memudahkan masyarakat Desa Pilang berkembang menjadi masyarakat industri yang berpotensi akan risiko yang dikandungnya. Kegiatan industri batik yang pada jaman terdahulu dilakukan oleh

(9)

commit to user

segelintir orang dengan proses produksi batik secara manual telah mengalami perubahan yang cukup signifikan dengan bukti adanya teknologi yang masuk dan memudahkan masyarakat Desa Pilang untuk mengembangkan industri batik. Sehingga banyak perubahan yang dilakukan oleh masyarakat Desa Pilang yang awalnya kurang memperhatikan atau kurang tertarik pada kegiatan industri batik kini justru sebagian besar masyarakatnya telah berpindah untuk mengembangkan industri batik dengan didukung teknologi yang ada untuk mempermudah dan mempercepat keberlangsungan industri batik tersebut.

Dalam kegiatan produksi batik, industri batik membawa aspek-aspek lain yang berisiko untuk merusak keadaan lingkungannya. Industri batik membawa konsekuensi-konsekuensi yang dapat mengancam dan membahayakan masyarakat Desa Pilang sendiri. Sehingga, industri batik Desa Pilang merupakan masyarakat risiko yang termasuk ke dalam risiko sesuai apa yang dapat dilihat pada keadaan lingkungan dan permasalahan dalam produksi batik desa Pilang. Risiko sosial diperlihatkan melalui kurang baiknya interaksi yang terjalin antara pengusaha atau pengrajin batik dengan masyarakat Desa Pilang pada umumnya dalam hal pengelolaan lingkungan. Risiko sosial muncul pada pengusaha atau pengrajin batik yang kurang memiliki rasa peka dan tanggungjawab dalam mengelola lingkungannya yang telah tercemar limbah hasil industri batiknya. Kebersamaan dalam mengelola lingkungan antara pengusaha atau pengrajin batik kurang terbina dengan baik, sehingga interaksi antara pengusaha atau pengrajin batik dengan msyarakat Desa Pilang pada umumnya mengalami gangguan karena ketakacuhan pengusaha atau pengrajin batik terhadap kondisi lingkungan sekitarnya. Hal ini diperkuat melalui menjamurnya pengusaha batik baru yang latah untuk mendirikan industri batik. Namun, risiko sosial yang disampaikan oleh Beck tidak berpengaruh terhadap interaksi yang terjalin antar pengusaha atau pengrajin batik Desa Pilang. Interaksi antar pengusaha atau pengrajin batik satu dengan pengusaha atau pengrajin batik lainnya cukup baik dengan dibentuknya Komunitas Girli (Pinggir Kali) yang menjadi wadah para pengusaha atau pengrajin batik dalam mendiskusikan kegiatan industri batiknya hingga pengelolaan limbahnya.

Industri batik tentu tidak akan bisa terlepas akan bayangan limbah yang dihasilkan. Kegiatan industri tentu mempunyai hubungan yang sangat erat akan limbah

(10)

commit to user

atau buangan dari kegiatan industri tersebut. Demikian pula pada industri batik Desa Pilang yang menghasilkan limbah. Terutama limbah cair yang sudah diyakini mengandung zat yang berbahaya pada aspek lingkungan sekitar. Limbah yang dihasilkan oleh industri batik merupakan wujud dari alasan mengapa kegiatan industri batik mengandung risiko yang dapat mengancam kelangsungan hidup manusia dan lingkungan sekitar. Limbah cair yang digunakan dalam proses produksi kain batik mengandung zat yang berbahaya dan telah memperlihatkan indikasi risiko yang terjadi. Hal demikian diperparah jika pengelolaan limbah pada industri batik Desa Pilang tidak mendapat perhatian. Pengusaha atau pengrajin batik harus memperhatikan limbah yang dihasilkan oleh kegiatan industrinya. Bahan apa yang digunakan dalam proses produksi, bagaimana proses produksi batik, hingga bagaimana pengelolaan yang dilakukan terhadap limbah yang dihasilkan akan menentukan sejauh mana risiko fisik akan timbul pada lingkungan Desa Pilang. Risiko fisik yang terlihat di wilayah Desa Pilangpun sudah memperlihatkan bahwa keadaan lingkungan di wilayah Desa Pilang sudah memburuk, yakni dengan ditunjukkan keadaan selokan yang tercemar air limbah, kondisi kesehatan warga yang terganggu pada pernafasan mereka akibat bau tidak enak dari air limbah, dan sebagainya. Meskipun sebagian pengusaha atau pengrajin batik telah memperhatikan pengolahan limbah dengan menggunakan Instalansi Pengolahan Air Limbah (IPAL) pada limbah yang dihasilkan, kegiatan industri batik Desa Pilang tetap saja berpotensi akan risiko yang dapat mengancam lingkungan sekitarnya, apalagi mengingat jika pengusaha atau pengrajin batik tidak berupaya untuk meminimalisir risiko yang terjadi.

Risiko yang dihasilkan oleh industri batik Desa Pilang akan kembali pada masyarakat Desa Pilang itu sendiri. Seperti halnya yang telah dikemukakan oleh Beck (2015) dalam bukunya yang berjudul Masyarakat Risiko Menuju Modernitas Baru mengenai efek bumerang dari risiko, bahwa cepat atau lambat risiko juga akan mencapai orang-orang yang menghasilkan atau mendapat keuntungan darinya. Risiko menampilkan efek bumerang dalam penyebarannya: bahkan kaum yang kaya dan kuat pun tidak selamat darinya (Beck, 2015:30). Efek-efek samping risiko menyerang kembali bahkan di pusat-pusat produksi mereka. Beck menjelaskan mengenai efek bumerang, yakni agen-agen modernisasi itu sendiri tertangkap secara tegas di dalam pusaran air bahaya-bahaya

(11)

commit to user

yang mereka lepaskan dan yang menguntungkan mereka (Beck, 1992:37, dalam Ritzer, 2012:949).

Risiko yang dihasilkan oleh industri batik Desa Pilang pun akan memberikan efek samping yang kembali pada mereka. Pengusaha atau pengrajin batik Desa Pilang bersama seluruh warga lainnya akan merasakan kembali dampak yang dihasilkan dari kegiatan industri mereka. Pun demikian pada masyarakat kelas atas maupun bawah di Desa Pilang. Tidak ada pembeda bagi mereka untuk merasakan risiko dari kegiatan industri batik. Kerusakan pada lingkungan di Desa Pilang hingga di masa yang akan datang akan dirasakan kembali pula oleh mereka dan anak cucunya. Artinya, efek bumerang akan menyerang mereka sebagai hasil dari kegiatan mereka yang berisiko tanpa mengenal tingkatan kelas dalam masyarakat Desa Pilang.

Dengan demikian, perlulah dilakukan tindakan-tindakan untuk menangani risiko-risiko. Jika dikatakan bahwa modernitas pada tahap klasik yang menjadi cita-citanya adalah kekayaan, maka pada modernitas tingkat lebih maju cita-citanya adalah keselamatan, bagaimana risiko itu dapat dicegah, diminimalkan, atau disalurkan. Meskipun modernisasi yang lebih maju menghasilkan risiko-risiko, ia juga menghasilkan refleksivitas yang memungkinkan ia mempertanyakan dirinya sendiri dan risiko yang dihasilkan (Ritzer, 2012:949).

Beck (1992) memberikan alasan untuk pentingnya refleksivitas, “hubungan sosial yang baru terbentuk dan jaringan sosial kini harus dipilih secara individual; ikatan-ikatan sosial juga menjadi refleksif, sehingga ikatan-ikatan itu harus dibangun, dipelihara, dan terus-menerus diperbaharui oleh individu-individu (Beck, 1992, dalam Jones, 2009:248). Sesungguhnya, sering orang-orang itu sendiri, para korban risiko, yang mulai merenungkan risiko-risiko itu. Mereka mulai mengamati dan mengumpulkan data mengenai risiko dan akibat-akibatnya bagi manusia.

Bentuk refleksivitas dari adanya risiko industri batik ini menjadi satu bentuk representasi pengusaha atau pengrajin batik dalam mengelola lingkungannya melalui tindakan yang dilakukan dalam meminimalisir atau bahkan mencegah risiko terjadi semakin besar. Adanya indikasi risiko yang telah terlihat seperti halnya perubahan pada kualitas air bersih dan bau menyengat yang berasal dari limbah batik membuat pengusaha atau pengrajin batik bersama pihak dinas terkait merefleksi dirinya mengenai keadaan

(12)

commit to user

lingkungan mereka. Ikatan sosial antara pengusaha atau pengrajin batik dengan dinas pemerintahan terkait telah membentuk koordinasi yang baik untuk terus menerus memelihara industri batik beserta limbah yang dihasilkan. Refleksivitas yang dilakukan adalah dengan didirikannya IPAL sebagai alat pengolahan limbah industri batik. Pemerintah selalu menghimbau kepada pengusaha atau pengrajin batik untuk senantiasa mengelola limbahnya dengan menggunakan IPAL sebelum kemudian dibuang pada pembuangan terakhir. Pemerintah memberikan fasilitas penuh dalam pembangunan IPAL dan selalu meninjau pengolahan limbah yang dilakukan menggunakan IPAL. Artinya, pemerintah merefleksikan dirinya dengan melihat kondisi lingkungan yang terkena dampak risiko industri batik dengan upaya memdirikan IPAL sebagai pengolahan limbah untuk meminimalisir risiko yang dihasilkan industri batik.

D. Kesimpulan

Kegiatan industri batik dilakukan secara turun temurun oleh para pendahulu yang sebelumnya bekerja sebagai pegawai keraton Surakarta. Alasan pengusaha batik mendirikan usaha batik Desa Pilang sebagian besar adalah untuk mengembangkan usaha yang sudah ada sejak jaman pendahulunya. Kegiatan industri batik Desa Pilang telah mendapat dukungan penuh dari pemerintah melalui Dinas Perindustrian Koperasi dan UMKM Kabupaten Sragen. Bahan atau kain dasar yang digunakan dalam membuat batik adalah kain primissima, kain katun, kain sutra, dan lain-lain. Proses pembuatan kain batik di Desa Pilang tersebut sebagian besar menggunakan proses cap printing, batik tulis, maupun batik cabut warna. Sedangkan bahan pewarna yang digunakan dalam proses pewarnaan kain batik sebagaian besar menggunakan bahan pewarna kimia, meskipun sudah terdapat beberapa pengusaha atau pengrajin batik Desa Pilang yang menggunakan bahan pewarna alami dalam proses pewarnaan kain batik yang diproduksi.

Pengelolaan limbah dari hasil industri batik Desa Pilang dapat dibuktikan melalui pengelolaan limbah batik dengan menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal, pengurangan bahan pewarna kimia dalam proses pewarnaan kain batik, serta pantauan langsung dari pemerintah yakni Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sragen. Pengelolaan lingkungan mencakup 4 ruang lingkup, yakni perencanaan lingkungan secara rutin dengan mengelola IPAL komunal, perencanaan dini dengan mempersiapkan diri untuk mendirikan IPAL, perencanaan lingkungan akibat suatu pembangunan dengan

(13)

commit to user

meningkatkan kesadaran pengusaha atau pengrajin ikut mengelola limbahnya menggunakan IPAL, dan perencanan untuk memperbaiki dengan mengurangi pengusaha atau pengrajin batik membuang limbah sembarangan.

Indikasi risiko dari industri batik Desa Pilang diperlihatkan melalui banyaknya limbah yang dihasilkan dan tidak dikelola sebagaimana mestinya. Indikasi risiko sebagian besar berasal dari limbah bahan pewarna kian batik yang menggunakan bahan pewarna kimia. Indikasi risiko yang diperlihatkan berimbas pada terjadinya pencemaran pada air, pencemaran pada udara, pencemaran pada daratan. Indikasi risiko pada pencemaran air ditunjukkan dengan perubahan kualitas air bersih yang digunakan untuk konsumsi sehari-hari masyarakat Desa Pilang akibat dari air limbah yang masuk ke tanah dan mencemari air bersih di Desa Pilang. Air tanah dirasa tidak layak untuk dikonsumsi dan masayarakat beralih menggunakan air PDAM dalam kebutuhan sehari-harinya. Untuk indikasi risiko pada pencemaran udara ditunjukkan dengan adanya bau busuk yang menyengat dan mengganggu pernapasan masyarakat Desa Pilang. Bau busuk akibat limbah yang mengalir ke selokan-selokan menimbulkan rasa pusing bagi beberapa masyarakat yang sensitif dengan bau limbah hasil industri batik Desa Pilang. Sedangkan indikasi risiko pada pencemaran daratan adalah terganggunya kesuburan tanah hingga berimbas pada kualitas hasil panen sawah yang tidak sesuai dengan sebagaimana mestinya. Selain itu, erosi tanah menjadi indikasi risiko industri batik yang selanjutnya karena buangan air limbah yang mengalir pada tanah cukup besar. Risiko sosial diperlihatkan melalui kurang baiknya interaksi yang terjalin antara pengusaha atau pengrajin batik dengan masyarakat Desa Pilang pada umumnya dalam hal pengelolaan lingkungan.

Refleksivitas yang dilakukan oleh pengusaha atau pengrajin batik Desa Pilang adalah dengan meningkatkan keasadaran untuk mengelola limbah hasil indutsri batiknya menggunakan IPAL, terutama bagi pengusaha atau pengrajin batik yang baru mendirikan usaha batik. Refleksivitas dari pemerintah dalam hal meminimalisir risiko akibat industri batik adalah dilakukannya sosialisasi dan pantauan secara rutin bagi keberlangsungan industri batik dan pengelolaan limbahnya. Selain itu, pemerintah telah merencanakan pembangunan 2 IPAL di tahun 2016 ini dengan tujuan pencegahan dari risiko pencemaran lingkungan akibat industri batik yang semakin besar. Bentuk refleksivitas

(14)

commit to user

pengusaha atau pengrajin batik dalam meminimalisir risiko fisik secara dini pada wilayah Desa Pilang adalah dengan didirikannya saringan saluran sebanyak 3 kali terutama pada pengusaha atau pengrajin batik yang baru mendirikan usaha batik dan belum tercakup dalam pengolahan limbah batik menggunakan Instalansi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal. Selain itu, pengusaha atau pengrajin batik bekerja sama dengan masayarakat yang dipilih untuk memelihara IPAL. IPAL yang terpelihara adalah salah satu bentuk refleksivitas pengusaha atau pengrajin batik dalam meminimalisir air limbah agar dapat terolah dengan baik dan tidak menimbulkan risiko sosial yang berlebihan. Sedangkan untuk memninimalisir risiko sosial dari adanya industri batik, pengusaha atau pengrajin batik bersama pihak pemerintahan bersama-sama untuk berusaha melakukan pertemuan rutin untuk membahas kagaiatan batik dalam Komunitas Pinggir Kali (GirLi). Dapat disimpulkan pula bahwa indikasi risiko yang terjadi pada pencemaran air, pencemaran udara, pencemaran daratan dari limbah yang dihasilkan industri batik memberikan pengaruh besar pada pengusaha atau pengrajin batik dalam representasi pengelolaan lingkungannya, yakni dengan melakukan refleksivitas pada kegiatan industri batiknya.

E. Daftar Pustaka Sumber Buku:

Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT.

Rineka Cipta

Eriyanto. 2001. Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta : LKiS

Faisal, Sanapiah. 1995. Format-format Penelitian Sosial, Dasar-Dasar dan Aplikasi.

Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada

Faulks, Keith. 2010. Sosiologi Politik Pengantar Kritis. Bandung: Nusa Media

Gunawan, Imam. 2014. Metode Penelitian Kualitatif: Teori dan Praktik. Jakarta: PT.

Bumi Aksara

Hikmat, Mahi M. 2014. Metode Penelitian Dalam Perspektif Ilmu Komunikasi dan

Sastra. Yogyakarta: Graha Ilmu

Jones, Pip. 2009. Teori-teori Sosial-Dari Teori Fungsionalisme hingga Post-modernisme. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia

(15)

commit to user

Piliang, Yasraf. 2010. Post-Realitas Realitas Kebudayaan dalam Era Post-Metafisika.

Yogyakarta : Jalasutra

Rahmadi, Takdir. 2012. Hukum Lingkungan di Indonesia. Jakarta: Rajawali Press.

Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2003. Teori Sosiologi Modern. Jakarta:

Kencana Prenada Media Group

Siswono, Eko. 2015. Ekologi Sosial. Yogyakarta: Penerbit Ombak

Soekanto, Soerjono. 2002. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Soemarwoto, Otto. 1989. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta:

Djambatan

Sugiyono, 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:

AFABETA

Suharto, Ign. 2011. Limbah Kimia dalam Pencemaran Udara dan Air. Yogyakarta:

ANDI Yogyakarta

Supardi, Imam. 2003. Lingkungan Hidup Dan Kelestariannya. Bandung: PT. ALUMNI.

Susilo, Rachmad K. Dwi. 2012. Sosiologi Lingkungan. Jakarta: PT. RajaGrafindo

Persada

Wardhana, Wisnu Arya. 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta: Andi

Yogyakarta

Sumber Jurnal: Jurnal Internasional

Colea, Russell F. dkk. 2015. Trends In The Analysis And Monitoring Of Organotins

In The Aquatic Environment. International Journal of Trends in

Environmental Analytical Chemistry. Vol: 4. No. Page: 1-11.Diakses tanggal 17 November 2015, dari Science Direct.

Liu, Alec dkk. 2015. A Review Of Municipal Solid Waste Environmental Standards With

A Focus On Incinerator Residues. International Journal of Sustainable Built

Environment.Vol: 4. No. Page: 165–188. Diakses tanggal 18 November 2015, dari Science Direct

Haque, Md Mahmudul dkk. 2015. Assessing The Significance Of Climate And

(16)

commit to user

Sustainable Built Environment.Vol: 4. No. Page: 222–230. Diakses tanggal 18 November 2015, dari Science Direct

Jurnal Nasional

Suprihatin, Hasti. 2014. Kandungan Organik Limbah Cair Industri Batik Jetis Sidoarjo Dan Alternatif Pengolahannya.Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Riau

Muljadi. 2009. Efisiensi Instalasi Pengolahan Limbah Cair Industri Batik Cetak dengan

Metode Fisika - Kimia dan Biologi terhadap Penurunan Parameter Pencemar (BOD, COD, dan Logam Berat Krom (Cr) (Studi Kasus di Desa Butulan Makam Haji Sukoharjo). E K U I L I B R I U M. Vol. 8.No. 1.Page: 7–16

Kurniawan dkk. 2013. Strategi Pengelolaan Air Limbah Sentra Umkm Batik Yang

Berkelanjutan Di Kabupaten Sukoharjo.Jurnal Ilmu Lingkungan. Vol. 11 Issue 2. Page: 62 -72. Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana UNDIP

Sumber Internet

“TEORI MASYARAKAT RISIKO DARI ULRICH BECK”

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian secara umum menunjukkan, pelaksanaan program Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal di Kawasan Sentra Batik Kliwonan Kecamatan Masaran

Di dalam pengelolaan limbah batik, kenyataannya pola pendekatan produksi bersih belum dapat dilaksanakan secara maksimal karena sebagian besar industri batik di kota Yogya

Media yang digunakan untuk kultivasi mikroalga adalah limbah cair karet remah yang berasal dari Instalansi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Unit Usaha Way Berulu

Bahan-bahan yang digunakan sebagai media kultivasi dalam penelitian ini adalah limbah cair karet remah yang berasal dari Instalansi Pengolahan Air Limbah (IPAL)

Sedangkan keterkaitan aktivitas di industri batik baru dan industri batik warisan berdasarkan kerjasama antar pengusaha/pengrajin secara horizontal tidak terjadi pada pengadaan

Setiap pengusaha batik mengeluarkan biaya pribadi sekitar 12 juta untuk membuat IPAL sendiri bagi yang mampu, sedangkan untuk pengusaha yang kurang mampu di dalam

Berdasarkan evaluasi penggunaan komponen bahan penolong, energi, dan air, belum ada rekomendasi teknologi IPAL yang efisien dan efektif untuk pengolahan air limbah

Kekuatan yang terdapat di pengrajin batik Dewi Brotojoyo adalah besarnya minat warga desa Pilang untuk menjadi pengrajin batik atau pengusaha batik terbukti dengan