• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODUL DIKLAT ANALIS KEPEGAWAIAN PENYUSUNAN ANALISIS JABATAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MODUL DIKLAT ANALIS KEPEGAWAIAN PENYUSUNAN ANALISIS JABATAN"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

MODUL DIKLAT ANALIS KEPEGAWAIAN

PENYUSUNAN ANALISIS JABATAN

Penulis:

1.

Drs. Suparjiyanta

2.

Dra. Dewi Mutiarani

PUSAT PEMBINAAN JABATAN FUNGSIONAL KEPEGAWAIAN

BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Analisis jabatan pada dasarnya merupakan suatu bentuk penelitian dengan tipe deskriptif yaitu dengan mengumpulkan data jabatan, mengolahnya menjadi informasi jabatan dan menyajikannya untuk program-program tertentu. Dengan demikian maka keberhasilan analisis jabatan sebagai proses untuk menghasilkan informasi jabatan, sangat tergantung pada pengumpulan data jabatan. Seperti juga dalam penelitian yang lain, pengumpulan data jabatan harus dapat menghasilkan data yang memenuhi kriteria data yang baik yaitu obyektif, reliable, valid, tepat waktu, akurat, relevan, representative, komprehensif, sistematik dan lengkap artinya tidak menyimpang dari keadaan sebenarnya, tidak mengarang atau mengada-ada. Untuk mendapatkan data yang obyektif diperlukan sikap netral, kejujuran dan menghindarkan subyektifitas semaksimal mungkin. Untuk kepentingan ini sebaiknya dalam menganalisis jabatan tidak menganalisis jabatannya sendiri atau jabatan-jabatan pada unit tempat ia bekerja. Jika harus demikian maka perlu didampingi analisis jabatan dari unit lain yang akan lebih dapat berlaku netral.

Data jabatan yang bersifat reliabilitas artinya, data jabatan yang diperoleh haruslah yang dapat dipercaya atau dapat meyakinkan pihak yang berkepentingan. Salah satu bukti dan cara mengetahui tingkat reliabilitas tersebut adalah apabila data jabatan tersebut diperoleh dari beberapa analisis jabatan ternyata data tersebut sama, maka data tersebut dianggap reliable. Data yang reliable akan bersifat dapat diandalkan. Reliabilitas data erat hubungannya dengan validitas data. Data jabatan yang terpercaya biasanya bernilai valid artinya bersifat absah atau layak dipercaya. Data jabatan perlu ketepatan waktu hal ini dimaksudkan agar dapat menggambarkan keadaan yang sesuai dengan situasi perkembangan yang ada, tidak ketinggalan atau tidak basi. Akurasi data sangat penting bagi data jabatan, karena data jabatan bersifat kualitatif sehingga sulit untuk mengukur tingkat akurasinya. Untuk itu analisis jabatan perlu memperhatikan hal ini agar ketepatan data dapat

(3)

dicapai. Untuk mendapatkan data yang akurat diperlukan konfirmasi melalui atasan pemegang jabatan atau penyelia.

Data jabatan yang relevan maksudnya adalah data tersebut betul-betul diperlukan. Data jabatan yang representative, adalah data yang bisa mencerminkan atau menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Representasi data jabatan sangat diperlukan untuk mengumpulkan data yang menggunakan sampel yaitu agar dapat menggambarkan keadaan seluruh populasi. Data jabatan yang komprehensif artinya data yang dikumpulkan dapat memberikan gambaran yang menyeluruh secara bulat. Sifat ini erat dengan sifat integrative, yaitu data jabatan yang diperoleh dapat saling mendukung, menguatkan dan tidak kontradiktif. Sedangkan data jabatan yang sistematik dimaksudkan agar dapat membantu untuk mempermudah dalam memahami data, dan dalam mengolahnya menjadi informasi jabatan. Data yang lengkap bisa mempercepat proses pengolahan dan penyajian untuk kepentingan pihak yang membutuhkan. Hasil analisis jabatan berupa informasi jabatan, dipergunakan untuk membenahi, meningkatkan/menyempurnakan suatu organisasi dari tiga aspek, yaitu: kelembagaan, kepegawaian, dan ketatalaksanaan.

1. Kelembagaan

Untuk kepentingan kelembagaan, pihak yang memerlukan adalah unit-unit pengelola organisasi yang meliputi kegiatan :

a. Penyusunan organisasi dan unit-unitnya; b. Penyempurnaan organisasi;

c. Pengembangan organisasi; d. Penciutan organisasi;

e. Penggabungan unit-unit organisasi. 2. Kepegawaian

Untuk kepentingan kepegawaian, pihak yang memerlukan informasi jabatan adalah unit pengelola kepegawaian yang meliputi kegiatan:

a. Pengurusan calon pegawai, seperti: rekrutmen, seleksi, dan penempatan; b. Pengelolaan kepegawaian, misal: administrasi, penilaian jabatan,

penyusunan jenjang karier, mutasi, rotasi, dan promosi; c. Pasca pegawai, seperti: program pensiun.

(4)

3. Ketatalaksanaan

Pihak yang memerlukan untuk kepentingan ini adalah unit pengelola tatalaksana dan tata kerja yang meliputi kegiatan:

a. tatalaksana; b. tata kerja. B. Deskripsi Singkat

Mata diklat Analisis Jabatan ini membahas konsep tentang analisis jabatan dalam rangka mendapatkan informasi jabatan, peranan dan manfaatnya dalam kaitannya untuk mencapai tujuan organisasi. Selain itu juga dibahas tentang pengertian dan kegunaan analisis beban kerja serta aspek-aspek dalam penyusunan analisis beban kerja. Pada bab terakhir dari modul ini diuraikan tentang proses penyusunan evaluasi jabatan baik untuk jabatan manajerial maupun untuk jabatan non manajerial.

C. Tujuan Pembelajaran Umum

Setelah selesai mengikuti mata diklat analisis jabatan ini peserta diklat diharapkan dapat memiliki pemahaman tentang cara mengolah data jabatan berdasarkan metode analisis jabatan, merumuskan data yang diperlukan untuk analisis jabatan, membuat daftar pertanyaan yang akan digunakan dalam analisis jabatan, menganalisis data/informasi jabatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam rangka penyusunan daftar jabatan, membuat laporan hasil analisis jabatan, tatacara perhitungan beban kerja, perhitungan standar waktu kerja, konsep, prosedur, metode dan teknik evaluasi jabatan serta menelaah data jabatan untuk menilai bobot jabatan. D. Tujuan Pembelajaran Khusus

Setelah selesai mengikuti mata diklat ini peserta diharapkan dapat:

1. Mendeskripsikan pengertian, tujuan dan menerapkan proses penyusunan analisis jabatan di lingkungan PNS;

2. Mendeskripsikan pengertian, tujuan dan menerapkan proses penyusunan analisis beban kerja masing-masing jabatan;

3. Mendeskripsikan pengertian, tujuan dan menerapkan proses penyusunan evaluasi jabatan PNS.

(5)

BAB II

METODE DAN TAHAPAN PELAKSANAAN ANALISIS JABATAN

A. Metode Analisis Jabatan

Analisis Jabatan adalah proses pengumpulan data jabatan untuk dianalisis, disusun, dan disajikan menjadi informasi jabatan dengan menggunakan metode tertentu. Tujuannya untuk menyediakan informasi jabatan sebagai fondasi/dasar bagi program manajemen kepegawaian, kelembagaan, ketatalaksanaan, dan pengawasan. Analisis Beban Kerja suatu jabatan dalam organisasi publik adalah frekuensi rata-rata masing-masing jenis pekerjaan dalam jangka waktu tertentu (BAKN, 1985: 173). Adapun pengertian analisis beban kerja adalah kegiatan menghitung perkiraan beban kerja dari masing-masing satuan organisasi (BKN, 2002:430). Pengertian lain suatu teknik manajemen yang dilakukan secara sistematis untuk memperoleh informasi mengenai tingkat efektivitas dan efisiensi kerja organisasi berdasarkan volume kerja (Permendagri Nomor 12 Tahun 2008). Evaluasi Jabatan PNS adalah suatu proses untuk menilai suatu jabatan secara sistematis dengan menggunakan kriteria-kriteria yang disebut sebagai faktor jabatan terhadap informasi faktor jabatan untuk menentukan nilai jabatan dan kelas jabatan (Perka BKN Nomor 21 tahun 2011)

Perkembangan organisasi dan perubahan struktur dalam organisasi menyebabkan kebutuhan pegawai meningkat. Sebelum organisasi melakukan seleksi terhadap karyawan yang akan menduduki jabatan yang baru, maka manajer perlu mengetahui dan mengidentifikasi pekerjaan-pekerjaan apa saja yang akan dilakukan dan bagaimana pekerjaan itu dapat dilakukan serta kriteria pegawai yang bagaimana yang layak menduduki pekerjaan tersebut. Dalam hal ini, organisasi perlu menetapkan standar-standar pekerjaan dan kriteria keterampilan, pendidikan, dan pengalaman yang diperlukan. Untuk mengetahui jenis pekerjaan, bagaimana melakukan pekerjaan dan siapa yang tepat untuk memangku jabatan itu perlu dilakukan analisis terhadap jabatan itu sendiri yang disebut sebagai analisis jabatan. Dessler (1997), mengungkapkan bahwa analisis jabatan merupakan prosedur untuk menetapkan tugas dan tuntutan keterampilan dari suatu jabatan dan orang seperti

(6)

apa yang akan melaksanakan pekerjaan tersebut. Dalam pengertian ini, Dessler menekankan pada dua aspek, yaitu menyangkut isi pekerjaan dan orang yang melaksanakan pekerjaan.

Guna memperolah informasi jabatan, data jabatan yang perlu diperoleh dalam penyelenggaran analisis jabatan dapat dikumpulkan dengan metode yang berbeda-beda. Metode mana yang akan digunakan tergantung dari banyak hal, yaitu SDM yang tersedia, macam data yang perlu diperoleh, tingkat reliabilitas dan validitas yang diharapkan. Metode yang umum digunakan dalam mengumpulkan data jabatan yaitu:

1. Metode Observasi dan Interview

Metode observasi dan interview ini adalah pengumpulan data jabatan dilakukan dengan mengamati orang yang sedang bekerja, menginterview pemegang jabatan, atasannya langsung atau orang lain yang dapat memberi keterangan-keterangan yang diperlukan, dan mencatat data yang diperoleh dari observasi dan interview tersebut. Metode observasi sangat tepat jika dilakukan pada jenis pekerjaan yang bersifat berulang-ulang. Penggunaan metode observasi memungkinkan analisis jabatan dilakukan dengan pengamatan pekerjaan dilapangan. Walaupun sifatnya pengamatan, namun tidak seharusnya analis mengamati secara kontinyu perkembangan dari waktu ke waktu.

2. Metode Daftar pertanyaan

Untuk pengumpulan data jabatan dapat juga digunakan daftar pertanyaan. Daftar ini dibagikan kepada para karyawan/pegawai dan mereka diminta kesediaannya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah tercantum dalam daftar tersebut. Metode daftar pertanyaan ini dikenal juga dengan nama metode questioner.

3. Metode studi referensi

Data jabatan disusun oleh suatu tim dengan mentafsirkan, merumuskan, menjabarkan fungsi dan tugas organisasi, laporan kerja harian, publikasi teknik ke dalam pekerjaan karyawan/pegawai, Publikasi public yang dimaksudkan disini misalnya instruksi pelayanan mesin, tata cara penetapan kenaikan pangkat, cara beternak unggas, tata cara penerimaan dan pengangkatan CPNS dan lain sebagainya.

(7)

4. Metode kombinasi

Untuk memperoleh data yang memenuhi persyaratan reliabilitas, validitas, lengkap, cermat dan representative, maka dapat digunakan kombinasi dua atau lebih metode pengumpulan data tersebut diatas.

B. Tahapan Pelaksanaan Analisis Jabatan

Proses pelaksanaan Analis Jabatan dilaksanakan dengan tahapan-tahapan tertentu. Mathis and Jackson (2000), mengembangkan lima tahapan dalam proses analisa jabatan yang harus diadakan dengan suatu cara yang efektif. Lima tahapan tersebut adalah : perencanaan, persiapan, pelaksanaan, merumuskan deskripsi pekerjaan dan spesifikasi pekerjaan serta menyajikan dan memvalidasi deskripsi pekerjaan dan spesifikasi pekerjaan. Adapun pelaksanaan Kegiatan Analisis Jabatan sesuai dengan Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Analisis Jabatan sebagai berikut:

A. Prosedur

Pembentukan Tim Pelaksana Analisis Jabatan (TPAJ) a. Pembentukan TPAJ

Untuk kelancaran pelaksanaan analisis jabatan pada masing-masing Instansi Pemerintah, Pejabat Pembina Kepegawaian masing-masing instansi membentuk TPAJ.

b. Tugas TPAJ

TPAJ mempunyai tugas mengumpulkan data, menyusun informasi jabatan, serta memverifikasi data.

c. Syarat keanggotaan TPAJ

Persyaratan untuk dapat diangkat menjadi anggota TPAJ adalah:

1) PNS dengan pangkat/golongan ruang paling rendah Pengatur Muda Tk. I II/b;

2) Telah mengikuti pelatihan atau bimbingan teknis analisis jabatan; dan 3) Syarat-syarat objektif lain yang ditentukan oleh pejabat yang

berwenang, seperti pengalaman dan kemampuan lain yang diperlukan dalam tim.

(8)

d. Susunan keanggotaan TPAJ Keanggotaan TPAJ terdiri atas:

1) Seorang Ketua merangkap anggota;

2) Seorang Sekretaris merangkap anggota; dan

3) Paling kurang 7 (tujuh) orang anggota, termasuk ketua dan sekretaris. e. Kriteria jumlah TPAJ

Untuk menjamin objektifitas dalam pelaksanaan analisis jabatan anggota TPAJ ditetapkan dalam jumlah ganjil.

f. Ketua dan Sekretaris TPAJ

Ketua dapat ditunjuk dari seorang pejabat eselon II atau eselon III yang secara fungsional bertanggung jawab di bidang kepegawaian atau organisasi. Sekretaris TPAJ dapat ditunjuk paling rendah seorang pejabat eselon IV yang memiliki kemampuan dan pengalaman teknis di bidang analisis jabatan.

g. Tugas Ketua TPAJ adalah:

1) Membuat rencana kerja pelaksanaan analisis jabatan;

2) Memberikan pengarahan dan bimbingan kepada anggota TPAJ; dan 3) Menyampaikan hasil pelaksanaan analisis jabatan kepada Pejabat

Pembina Kepegawaian instansi yang bersangkutan. h. Tugas Sekretaris Tim adalah:

1) Membantu Ketua Tim dalam melaksanakan tugasnya; 2) Menyiapkan bahan diskusi, seminar atau lokakarya; 3) Menyelenggarakan diskusi, seminar atau lokakarya; dan

4) Mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk kelancaran pelaksanaan analisis jabatan.

i. Tugas anggota Tim adalah:

1) Menentukan metode pengumpulan data yang akan digunakan;

2) Mengumpulkan seluruh data dengan menggunakan metode tertentu dan menyusunnya menjadi informasi jabatan;

3) Melakukan diskusi, seminar, atau lokakarya dalam rangka pelaksanaan analisis jabatan; dan

(9)

2. Kegiatan Analisis Jabatan Pengumpulan Data

a. Pada tahap ini TPAJ melakukan pengumpulan data untuk mendapatkan fakta-fakta dan keterangan dari pemegang jabatan, para pimpinan unit kerja, narasumber, serta sumber data lainnya seperti catatan harian pemegang jabatan, rencana kerja dan laporan pelaksanaan pekerjaan, visi dan misi organisasi, struktur organisasi dan tata kerja serta informasi kepegawaian lainnya.

b. Sebagai landasan untuk melaksanakan analisis jabatan, perlu memperhatikan visi dan misi organisasi, struktur organisasi, tata kerja, tugas pokok, dan fungsi, serta sumber data lainnya seperti rencana kerja, laporan pelaksanaan pekerjaan, dan informasi kepegawaian lainnya sebagai sumber data yang berperan dalam penyusunan uraian jabatan dan syarat jabatan.

c. Apabila visi dan misi belum terdokumentasi secara tertulis, maka TPAJ dapat memperoleh dari pimpinan instansi tentang arah kebijakan instansi di masa yang akan datang.

d. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan formulir analisis jabatan.

e. Para pemegang jabatan yang ditunjuk menjadi responden dalam pengisian formulir jabatan adalah pegawai yang memiliki kualifikasi antara lain : 1) menguasai pekerjaan di unit kerjanya;

2) dapat menjelaskan program-program unit kerjannya, dan 3) mengerti tentang proses di unit kerjanya.

3. Tahapan Analisis Jabatan a. Pengumpulan Data Jabatan

Pada tahap ini dilakukan kegiatan penyuluhan, pengumpulan formulir data jabatan, pengisian formulir data jabatan, wawancara dan konsolidasi data olahan.

b. Penyusunan Informasi Jabatan

Pada tahap ini, pegawai yang akan dilibatkan dalam melakukan analisis jabatan dan metode yang akan digunakan harus memahami

(10)

langkah-langkah yang harus dilakukan dalam penyusunan informasi jabatan dengan menggunakan formulir informasi Jabatan yang memuat informasi sebagai berikut:

1) Identitas jabatan terdiri antara lain: nama jabatan, kode jabatan, unit kerja jabatan, letak dalam struktur dan ikhtisar jabatan;

2) Uraian jabatan terdiri dari: uraian tugas, bahan kerja, alat kerja, hasil kerja, tanggungjawab, wewenang, korelasi jabatan, kondisi lingkungan kerja dan keadaan/ resiko bahaya;

3) Syarat jabatan terdiri dari: pangkat/golongan ruang, pendidikan, kursus/pelatihan, pengalaman kerja, pengetahuan, keterampilan, bakat kerja, temperamen kerja, minat kerja, upaya fisik, kondisi fisik dan fungsi pekerja.

4. Verifikasi/Pra Konvensi

Pada tahap ini analisis sudah dapat dilakukan. Berbagai data yang diperlukan dikumpulkan melalui sebuah angket yang disertai dengan sebuah surat yang menjelaskan proses dan instruksi untuk pengisian dan mengembalikan angket analisis pekerjaan itu. Setelah data terkumpul, kegiatan berikutnya adalah melakukan pemilahan (sortir) menurut kelompok atau unit-unit. Bila perlu untuk mencocokan data perlu digunakan wawancara atau pertanyaan tambahan.

5. Seminar Kelompok/Konvensi

Apabila data yang dikumpulkan sudah selesai, maka selanjutnya menyiapkan langkah untuk memaparkan hasil pengisian formulir jabatan tersebut untuk mendapatkan tanggapan, masukan dan koreksi atas informasi yang sudah tersusun.

6. Laporan Akhir

Begitu informasi jabatan dan spesifikasi pekerjaan telah selesai dan ditinjau ulang oleh semua individu yang berkepentingan, maka harus selalu dilakukan pemutakhiran untuk menjaga keakuratannya. Setelah dinyatakan akurat maka informasi jabatan tersebut disusun sedemikian rupa kemudian ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) dengan suatu Surat Keputusan untuk menjadi pedoman informasi jabatan sebagai hasil proses analisis jabatan.

(11)

C. Latihan

1. Coba Anda jelaskan pengertian analisis jabatan dan tujuan diadakan penyusunan analisis jabatan .

2. Guna memperolah informasi jabatan, data jabatan yang perlu diperoleh dalam penyelenggaran analisis jabatan dapat dikumpulkan dengan metode yang berbeda-beda. Sebutkan dan jelaskan metode yang anda ketahui.

3. Pada tahap pelaksanaan analisis jabatan, pegawai yang akan dilibatkan dalam melakukan analisis jabatan dan metode yang akan digunakan harus memahami langkah-langkah yang harus dilakukan dalam penyusunan informasi jabatan. Informasi apa saja yang diperoleh dalam penyusunan analisis jabatan, sebutkan!

D. Rangkuman

Analisis Jabatan adalah Proses pengumpulan data jabatan untuk dianalisis, disusun, dan disajikan menjadi informasi jabatan dengan menggunakan metode tertentu. Tujuannya untuk menyediakan informasi jabatan sebagai fondasi/dasar bagi program manajemen kepegawaian, kelembagaan, ketatalaksanaan, dan pengawasan. Guna memperolah informasi jabatan, data jabatan yang perlu diperoleh dalam penyelenggaran analisis jabatan dapat dikumpulkan dengan metode yang berbeda-beda. Metode mana yang akan digunakan tergantung dari banyak hal, yaitu SDM yang tersedia, macam data yang perlu diperoleh, tingkat reliabilitas dan validitas yang diharapkan. Metode yang umum digunakan dalam mengumpulkan data jabatan yaitu: metode observasi dan interview, metode daftar pertanyaan, metode studi referensi dan metode kombinasi.

(12)

BAB III

IDENTITAS, URAIAN JABATAN DAN SYARAT JABATAN

Sebagaimana diuraikan didepan bahwa analisis jabatan adalah proses pengumpulan data jabatan untuk dianalisis, disusun, dan disajikan menjadi informasi jabatan dengan menggunakan metode tertentu. Tujuannya adalah untuk menyediakan informasi jabatan sebagai fondasi/dasar bagi program manajemen kepegawaian, kelembagaan, ketatalaksanaan dan pengawasan. Yang terkait dengan tujuan penyusunan analisis jabatan tersebut meliputi seluruh kegiatan yang mencakup perencanaan, penetapan norma standar prosedur formasi, pengangkatan, pengembangan kualitas sumber daya PNS, pemindahan, gaji, tunjangan, kesejahteraan, pemberhentian, hak, kewajiban, dan kedudukan hukum. Hal itu dilakukan karena manajemen PNS diarahkan untuk menjamin penyelenggaraan tugas pemerintahan dan pembangunan secara berdayaguna dan berhasil guna. Untuk mewujudkan penyelenggaraan tugas pemerintah dan pembangunan sebagaimana dimaksud, diperlukan PNS yang profesional dalam memahami penyusunan analisis jabatan di lingkungan organisasi masing-masing.

Hal yang menjadi fokus utama dalam Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) yaitu meningkatkan kinerja organisasi baik dari segi produktivitas, pelayanan maupun kualitas untuk mencapai tujuan utama organisasi. Maka dalam implementasinya, MSDM akan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang akan mendukung tercapainya tujuan organisasi. Salah satu kegiatan yang memiliki peranan penting dalam MSDM yaitu analisis jabatan tersebut. Menurut Dale Yonder, analisis jabatan adalah suatu prosedur untuk memperoleh informasi jabatan secara sistematis. Dalam melaksanakankan analisis jabatan ada beberapa prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu:

1. Proses analisis jabatan dilakukan untuk memperoleh informasi jabatan yang didalamnya terkandung tanggung jawab pada setiap jabatan dan kontribusi hasil jabatan tersebut terhadap pencapaian hasil atau tujuan organisasi.

2. Objek dari kegiatan analisis jabatan ini adalah jabatan, bukanlah si pemegang jabatan yang memangku jabatan tersebut. Meskipun data diperoleh dari si pemegang jabatan (incumbent) melalui pengamatan, wawancara atau pun

(13)

kuesioner/angket, produk yang menjadi hasil analisis jabatan adalah berupa uraian jabatan (job description) atau spesifikasi jabatan (specifications of the job), bukan suatu uraian tentang orang (description of the person).

3. Jabatan yang akan dideskripsikan kedalam uraian jabatan merupakan jabatan yang sesuai dengan struktur organisasi pada saat ini.

Hasil dari analisis jabatan yaitu berupa uraian jabatan (job description) dan spesifikasi jabatan (job spesification). Uraian jabatan adalah uraian tentang informasi dan karakteristik jabatan yang akan membedakan antara satu jabatan dengan jabatan lainnya, misalnya nama jabatan, uraian tugas, hasil kerja, bahan kerja, tanggung jawab dan wewenang jabatan. Sementara spesifikasi jabatan adalah kualifikasi yang harus dipenuhi untuk menduduki suatu jabatan, seperti pendidikan, pelatihan, pengalaman kerja, bakat dan temperamen. Uraian jabatan dan spesifikasi jabatan inilah yang kemudian dijadikan landasan dalam MSDM lainnya, diantaranya sebagai landasan untuk melakukan evaluasi jabatan, rekruitmen, seleksi, pelatihan, promosi, penempatan pegawai baru, dan menentukan standar hasil kerja seseorang serta merencanakan perubahan-perubahan dalam organisasi. Pelaksanaan analisis jabatan yang tepat akan menghasilkan standar suatu jabatan yang sesuai dengan kebutuhan organisasi. Hasil dari analisis jabatan akan membantu pegawai dalam memahami jabatan yang akan atau sedang diduduki, selain itu juga memudahkan organisasi dalam menempatkan pegawai pada suatu jabatan, serta membantu pelaksanaan pengelolaan pegawai lainnya. Dalam rangka menempatkan PNS sesuai dengan keahliannya berdasar prinsip the right man and the right place, maka perlu disajikan butir-butir informasi jabatan yang mencakup identitas jabatan, uraian jabatan dan syarat jabatan.

A. Identitas Jabatan

Identitas Jabatan merupakan ciri yang menggambarkan tentang suatu jabatan. Identitas Jabatan mencakup:

1. Nama Jabatan

Dalam menentukan nama jabatan harus ringkas, substantif, jelas dan dapat memberikan pengertian yang tepat bagi pembaca. Penamaan untuk Jabatan Manajerial setidaknya mengandung fungsi manajemen. Sedangkan untuk penamaan Jabatan Fungsional dapat dirumuskan berdasarkan:

(14)

a. Bahan yang digunakan untuk melaksanakan pekerjaan (seperti Pengumpul, Pengadministrasi).

b. Alat yang digunakan dalam melakukan pekerjaan (seperti operator).

c. Hasil yang diperoleh setelah pekerjaan dilaksanakan (seperti penyusun, pengonsep).

d. Proses yang dilakukan dalam melakukan pekerjaan (seperti pemroses, pengolah)

2. Kode Jabatan

Kode jabatan merupakan kode yang dibuat untuk memudahkan dalam pengadministrasian suatu jabatan. Pengkodean jabatan harus menggunakan format kode yang seragam.

3. Unit Kerja

Unit Kerja merupakan cerminan tempat atau letak keberadaan suatu jabatan. Contohnya : Apabila kita akan menganilisis sebuah jabatan Kepala Sub Bagian Tata Usaha (Eselon IV di BKN) memiliki unit kerja Sekretariat Utama (Eselon I), Biro Umum (Eselon II) dan Bagian Persuratan (Eselon III). Unit kerja eselon IV-nya tidak dituliskan karena jabatan yang dianalisis adalah jabatan struktural eselon IV.

4. Kedudukan Dalam Struktur

Kedudukan dalam struktur harus mencerminkan posisi jabatan apakah jabatan manajerial atau non manajerial yang disesuaikan dengan susunan organisasi dan Tata Kerja (SOTK) dengan menggambarkan kedudukan atasan langsung, atasan dari atasan langsung, jabatan yang dianalisis dan jabatan lain yang memiliki atasan langsung sama. Untuk membedakan antara jabatan yang dianalisis dengan jabatan yang lain, maka jabatan yang dianalisis diberi tanda (diarsir) seperti contoh dibawah ini:

(15)

e. Ikhtisar Jabatan

Ihktisar jabatan merupakan cerminan uraian jabatan dalam bentuk ringkas yang memberikan gambaran umum tentang kompleksitas suatu jabatan yang digambarkan dalam satu kalimat yang mencerminkan WHW (What, How, Why)

a. Apa yang yang dikerjakan (what) b. Bagaimana cara mengerjakan (how)

c. Mengapa atau untuk apa pekerjaan itu dilaksanakan (why)

Contoh Ihktisar Jabatan untuk Jabatan Manajerial: memimpin dan melaksanakan objek kerja (What) berdasarkan/sesuai dengan ... (How) agar/untuk/sebagai ... (Why)

 Contoh ihktisar jabatan untuk Jabatan Fungsional: Melaksanakan objek kerja (What) berdasarkan/ sesuai dengan ... (How) agar/ untuk/ sebagai ... (Why).

B. Uraian Jabatan

Uraian Jabatan merupakan ciri yang menggambarkan tentang suatu jabatan. Uraian Jabatan mencakup:

1. Uraian Tugas

Tugas (task) merupakan unit terkecil dari analisis yang merupakan pernyataan specifik mengenai apa yang dikerjakan oleh seseorang. Tugas adalah upaya

Kepala Sub Direktorat Analisis Jabatan Pengelola Database Jabatan Pengumpul Data Jabatam Kepala Seksi Inventarisasi Jabatan

(16)

pokok dalam memproses bahan kerja dengan menggunakan peralatan tertentu menjadi suatu hasil kerja. Ditulis dengan menggunakan kalimat aktif (berawalan “me” dan menggambarkan tindak kerja).

Uraian tugas dapat diartikan suatu paparan atau bentangan atas semua tugas jabatan yang merupakan tugas pokok yang dilakukan pemegang jabatan dalam memproses bahan kerja menjadi hasil kerja dalam kondisi pelaksanaan tertentu. Dalam menyusun uraian tugas harus dilakukan juga tahapan didalamnya. Tahapan kerja (proses) adalah langkah-langkah (kegiatan) yang dituliskan secara berurutan dari awal hingga akhir pelaksanaan tugas. Dalam menyusun Struktur Uraian tugas tersebut berpedoman pada prinsip WHW yaitu Tugas apa yang dikerjakan, dengan apa tugas tersebut dilakukan, serta untuk apa tugas tersebut dilakukan.

Contoh uraian tugas Kepala Seksi Administrasi Pengadaan A pada Direktorat Pengadaan PNS Badan Kepegawaian Negara. Salah satu tugasnya adalah:

 Membuat rencana kegiatan Seksi Administrasi Pengadaan A (W) berdasarkan Rencana Operasional Sub Direktorat Administarsai Pengadaan (H) sebagai pedoman pelaksanaan tugas (W).

Tahapan :

a. Mempelajari Renja Direktorat

b. Menyusun konsep rencana kegiatan seksi

c. Mendiskusikan konsep rencana kegiatan seksi dengan bawahan d. Menetapkan rencana kegiatan

2. Bahan Kerja

Bahan kerja adalah masukan yang diproses dengan tindak kerja (tugas) untuk menjadi hasil kerja. Bahan kerja tersebut akan dapat diolah menjadi hasil kerja jika ada perangkat kerja (alat kerja) yang digunakan.

Contoh: surat masuk (untuk diagendakan), peraturan, referensi atau buku (untuk penyusunan materi bimtek).

3. Alat Kerja

Alat kerja adalah sarana yang dipergunakan untuk mengolah bahan kerja menjadi hasil kerja. Alat kerja tidak terbatas pada sarana materiil, dapat juga

(17)

berupa peraturan, pedoman, prosedur kerja atau acuan lain yang digunakan dalam pelaksanaan tugas

Contoh:

Stetoskop digunakan Dokter dalam memeriksa pasien

Peraturan Kepala BKN nomor 12 tahun 2011 digunakan oleh Analis Kepegawaian untuk melaksanakan Analisis Jabatan

4. Hasil Kerja

Hasil kerja adalah suatu produk berupa barang, jasa (pelayanan) atau informasi yang dihasilkan dari suatu proses pelaksanaan tugas. Hasil kerja dapat diperoleh bila ada sesuatu yang diolah (bahan kerja). Hasil kerja dapat berupa data, laporan, dokumen, kegiatan dan lain-lain.

5. Tanggungjawab

Tanggungjawab merupakan kewajiban yang melekat pada jabatan, yang terkait dengan benar atau salahnya pelaksanaan tugas. Tanggung jawab jabatan dapat meliputi tanggung jawab terhadap : bahan kerja (kerahasiaan data), alat kerja (kelengkapan peralatan kerja), hasil kerja (keakuratan laporan) dan proses kerja (kesesuaian pelaksanaan tugas terhadap peraturan/SOP).

6. Wewenang

Wewenang merupakan hak pemegang jabatan untuk memilih alternatif dalam mengambil keputusan/ tindakan yang diakui secara sah oleh pihak lain.

Wewenang dapat terkait dengan:

a. Bahan kerja (antara lain: mengembalikan bahan kerja yang tidak sesuai) b. Alat kerja (antara lain: melakukan pemeliharaan perangkat kerja yang

digunakan)

c. Hasil kerja (antara lain: menyebarluaskan informasi yang dihasilkan kepada orang lain)

d. Proses kerja (antara lain: menetapkan prosedur kerja) 7. Korelasi Jabatan

Korelasi jabatan adalah hubungan kerja yang dilakukan antara jabatan terkait dengan jabatan lain dalam konteks pelaksanaan tugas.

Hubungan jabatan dapat berupa:

(18)

b. Hubungan horizontal (hubungan dengan jabatan yang setara)

c. Hubungan diagonal (hubungan dengan jabatan yang lebih tinggi di organisasi yang berbeda)

8. Kondisi Lingkungan Kerja

Kondisi lingkungan kerja merupakan keadaan tempat bekerja yang menjadi konsekwensi keberadaan pemegang jabatan dalam melaksanakan tugas jabatan. Kondisi lingkungan kerja suatu jabatan meliputi:

a. tempat kerja b. suhu

c. udara

d. keadaan ruangan e. letak

f. keadaan tempat kerja g. penerangan

h. suara i. getaran

9. Keadaan Resiko Bahaya

Kemungkinan resiko bahaya ini bisa bersifat fisik atau mental adalah hal-hal yang ditentukan dari keberadaan pegawai terkait dengan:

a. lingkungan pekerjaan b. penanganan bahan c. proses yang dilakukan d. penggunaan perangkat kerja e. hubungan jabatan

f. penanganan produk yang diberikan 10. Syarat Jabatan

Syarat jabatan merupakan gambaran bagaimana jabatan itu harus dikerjakan agar sesuai dengan tujuannya dengan memperhatikan syarat-syarat yang diperlukan antara lain sebagai berikut:

a. Pangkat dan golongan ruang

Syarat pangkat dan golongan ruang adalah syarat pangkat golongan ruang minimal seorang PNS untuk dapat menduduki jabatan itu. Contoh untuk

(19)

menduduki jabatan eselon IVa ditentukan syaratnya adalah Penata Muda Tingkat I, golongan ruang III/b, kecuali ditentukan lain. Demikian pula untuk jabatan Fungsional pada jabatan operator komputer ditentukan misalnya Pengatur, golongan ruang II/c, dll.

b. Pendidikan

Syarat Pendidikan yang diperuntukkan dalam menduduki suatu jabatan adalah pendidikan formal yang harus dimiliki oleh calon pemangku jabatan. Contoh untuk menduduki jabatan operator komputer pendidikan yang diperlukan adalah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), untuk menduduki jabatan Kasubbag Keuangan Pendidikan yang diperlukan adalah Sarjana Ekonomi atau Sarjana Akuntasi.

c. Kursus/ Pelatihan baik yang bersifat tehnis maupun penjenjangan

Pelatihan adalah merupakan kursus/pelatihan yang diperlukan untuk meningkatkan kemampuan manajerial, seperti kemampuan di bidang manajerial atau teknis tertentu dan atau pengetahuan lainnya sesuai dengan yang dipersyaratkan untuk jabatan itu. Hal tersebut dapat berupa pelatihan penjenjangan maupun teknis. Contoh untuk jabatan operator komputer diperlukan pelatihan teknis tentang komputer. Untuk menduduki jabatan Eselon IV maka harus mengikuti Diklat Penjenjangan Diklat Kepemimpinan Tingkat IV (Diklatpim IV) dan seterusnya.

d. Pengalaman Kerja

Pengalaman kerja merupakan pengembangan pengetahuan, ketrampilan kerja, sikap mental, kebiasaan mental dan fisik yang tidak diperoleh dari pelatihan tetapi diperoleh dari masa kerja sebelumnya dalam kurun waktu tertentu. Contoh: Untuk menduduki Jabatan Kepala Seksi Mutasi Kepegawaian dan Pensiun diperlukan pengalaman kerja sebelumnya di bidang Penetapan Kenaikan Pangkat, Pensiun serta Mutasi.

e. Pengetahuan yang harus dimiliki untuk dapat melaksanakan tugas jabatan itu.

Pengetahuan merupakan akumulasi hasil proses pendidikan formal atau informal yang dimanfaatkan oleh PNS di dalam pemecahan masalah, daya cipta serta dalam pelaksanaan tugas pekerjaan. Contoh pengetahuan kerja

(20)

pada jabatan operator komputer adalah pengetahuan mengenai program-program komputer.

f. Keterampilan

Keterampilan merupakan tingkat kemampuan dan penguasaan teknis operasional PNS dalam suatu bidang tugas pekerjaan tertentu. Tujuannya adalah untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas jabatan. Contoh keterampilan kerja pada operator komputer : keterampilan mengetik, keterampilan teknik menyiapkan dan memelihara perangkat komputer, keterampilan mencetak data.

g. Bakat Kerja

Pengertian secara umum bakat adalah kemampuan yang sudah dimiliki sejak lahir. Jika dikaitkan dengan kerja maka merupakan kecenderungan yang dimiliki seorang sehingga akan lebih mudah untuk melaksanakan tugas jabatannya. Bakat kerja merupakan kapasitas khusus atau kemampuan potensial yang disyaratkan bagi seseorang untuk dapat mempelajari, memahami beberapa tugas atau pekerjaan. Jenis bakat kerja meliputi antara lain :

Intelegensia (G)

Bakat Verbal (V)

Bakat Numerik (N)

Bakat Pandang Ruang (S)

Bakat Penyerapan Bentuk (P)

Bakat Ketelitian (Q)

Koordinasi Motorik (K)

Kecekatan Jari (F)

Kecekatan Tangan (M)

Koordinasi Mata-Tangan dan Kaki (E) Kemampuan membedakan warna (C)

(21)

Adapun arti jenis Bakat kerja seperti tersebut pada tabel berikut: Tabel 1.

Kode Bakat Arti

G Intelegensia Kemampuan belajar secara

umum.

V Verbal (verbal aptitude) Kemampuan untuk memahami arti kata-kata dan penggunaannya secara tepat dan efektif.

N Numeric (numeric aptitude)

Kemampuan untuk melakukan operasi arithmatik secara tepat dan akurat.

S Pandang Ruang (spatial

aptitude) Kemampuan visual mengenai bentuk-bentuk berpikir secara geometris, untuk memahami gambar-gambar dari benda-benda tiga dimensi.

P Penerapan Bentuk (form

perception) Kemampuan menyerap perincian-perincian yang berkaitan dalam objek atau dalam gambar atau dalam bahan grafik.

Q Ketelitian (clerical

perception) Kemampuan menyerap perincian yang berkaitan dalam bahan verbal atau dalam tabel.

K Kondisi Motor (motor coordination)

Kemampuan untuk mengkoordinir mata dan tangan secara cepat dan cermat dalam membuat gerakan yang cepat.

F Kecekatan Jari (finger dexterity)

Kemampuan menggerakkan jari-jemari dengan mudah dan perlu keterampilan

E Kondisi mata,tangan, kaki (eye, hand, foot coordination)

Kemampuan menggerakkan tangan dan kaki secara koordinatif satu sama lain sesuai dengan rangsangan penglihatan.

C Membedakan warna (colour discrimination)

Kemampuan memadukan atau membedakan berbagai warna yang asli, yang gemerlapan. M Kecekatan tangan (manual

dexterity) Kemampuan menggerakkan tangan dengan mudah dan penuh keterampilan.

(22)

h. Temparemen Kerja

Temperamen kerja merupakan syarat kemampuan penyesuaian diri yang harus dipenuhi sesuai dengan sifat pekerjaan. Temparemen Kerja yang diperlukan seperti pada table berikut:

Tabel 2

Kode Temparemen Arti

D DCP (direktion, control, planning)

Kemampuan menyesuaikan diri menerima tanggung jawab untuk kegiatan memimpin, mengendali-kan atau merencanamengendali-kan.

F FIF (feeling, idea, fact) Kemampuan menyesuaikan diri dengan kegiatan yang me-ngandung penafsiran perasaan, gagasan atau fakta dari sudut pandangan pribadi.

I I (influ/influencing) Kemampuan menyesuaikan diri untuk pekerjaan-pekerjaan mem-pengaruhi orang lain dalam pendapat, sikap atau pertimbangan mengenai gagasan.

J SJC (sensory & judgemental criteria)

Kemampuan menyesuaikan diri pada kegiatan perbuatan kesimpulan penilaian atau pembuatan peraturan/Keputusan berdasarkan kriteria rangsangan indera atau atas dasar pertimbangan pribadi.

M MVC (measurable and

veri fiable criteria) Kemampuan menyesuaikan diri dengan kegiatan pengambilan ke-simpulan, pembuatan per-timbangan, atau pembuatan peraturan/Keputusan berdasarkan kriteria yang diukur atau yang dapat diuji.

P DEPLl (dealing with people)

Kemampuan menyesuaikan diri dalam berhubungan dengan orang lain lebih dari hanya penerimaan dan pembuatan instruksi

(23)

R REPCON (repettive,

continously) Kemampuan menyesuaikan diri dalam kegiatan-kegiatan yang berulang, atau secara terus menerus melakukan kegiatan yang sama, sesuai dengan perangkat prosedur, urutan atau kecepatan yang tertentu.

S PUS (performing under

stress) Kemampuan menyesuaikan diri untuk bekerja dengan ketegangan jiwa jika berhadapan dengan keadaan darurat, kritis, tidak biasa atau bahaya, atau bekerja dengan kecepatan kerja dan perhatian terus menerus merupakan keseluruhan atau sebagian aspek pekerjaan.

T STS (set 0f limits) Kemampuan menyesuaikan diri dengan situasi yang menghendaki pencapaian dengan tepat menurut perangkat batas, toleransi atau standar-standar tertentu.

V V -VARCH (variety,

changing) Kemampuan menyesuaikan diri untuk melaksanakan berbagai tugas, sering berganti dari tugas yang satu ke tugas yang lainnya yang “berbeda” sifatnya, tanpa kehilangan efisiensi atau ketenangan diri.

i. Minat Kerja

Minat kerja merupakan kecenderungan memiliki kemauan, keinginan, dan kemampuan untuk melaksanakan tugas pekerjaan dengan baik berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki. Teori minat kerja antara lain menggunakan teori minat bipoler dari Dr.William C. Cottle dan teori karier/ kepribadian Holland. Bipolar dalam ilmu kejiwaan adalah dua kutub yang berbeda : kutub depresi dan kutub manik atau hipomanik. Gejala utama gangguan bipolar terjadi pada perubahan perasaan. Pada depresi terjadi rasa sedih yang sangat dalam, sedangkan pada episode manik terjadi kegembiraan yang luar biasa. “Karena itu gangguan bipolar digolongkan pada gangguan mood,”. Jika dikaitkan dengan teori minat Bipolar maka kecenderungan pada satu minat tertentu berlawan dengan

(24)

minat yang segaris. Dengan demikian minat kerja Bipolar antara satu yang sejajar saling berlawan seperti terlihat pada table berikut:

Tabel 3 Jenis Minat Bipolar Kode Deskripsi Berlawanan

(Versus) Kode Deskripsi 1a Pilihan melakukan kegiatan-kegiatan

yang berhubungan dengan benda dan obyek

Berlawanan (VS)

1b

Pilihan melakukan kegiatan yang ber-hubungan dengan komunikasi data 2a Pilihan melakukan kegiatan yang berhubungan dengan orang dalam niaga

Berlawanan (VS)

2b

Pilihan melakukan kegiatan yang ber-sifat ilmiah dan teknik

3a

Pilihan melakukan kegiatan rutin,

konkrit dan teratur Berlawanan (VS)

3b

Pilihan melakukan kegiatan yang ber-sifat abstrak dan kreatif

4a Pilihan melakukan kegiatan yang dianggap baik bagi orang lain

Berlawanan (VS)

4b

Pilihan melakukan kegiatan yang ber-hubungan dengan proses, mesin dan teknik

5a Pilihan melakukan kegiatan yang menghasilkan prestise atau penghargaan dari pihak lain Berlawanan (VS) 5b Pilihan melakukan kegiatan yang menghasilkan kepuasan nyata dan produktif

Teori kepribadian/ karier lain yang menyatakan bahwa Kualifikasi minat karir berdasarkan teori Vocational Personality dari John Holland (1985). Teori ini merupakan pendekatan yang paling banyak dipakai untuk membuat profil karir seseorang. Dengan teori ini juga, Konsultankarir.com mengembangkan sebuah tes psikometri untuk mengetahui orientasi minat (interest) seseorang dalam berkarir. Menurut teori ini, terdapat enam tipe kepribadian vocational, dari ke-enam tipe ini, seseorang dapat memiliki

(25)

profil pilihan karir yang unik sesuai dengan minat dan kepribadiannya. Di bawah ini dijelaskan rincian setiap tipe berikut definisinya .

Tabel 4

Teori Vocational Personality (Kesesuain Minat Kerja) John Holland

Kode Gambaran Pekerjaan

R (Realistik)

Pekerjaan-pekerjaan yang memiliki antara lain: Kegiatan yang membutuhkan keterampilan tangan

Tugas mekanial atau teknikal Aktifitas fisik

Pekerjaan yang dilakukan di luar ruangan

Menggunakan peralatan atau perlengkapan yang spesifik

Memperbaiki mesin atau benda-benda Bekerja dengan obyek nyata

Dapat dilakukan seorang diri

I (Investigatif)

Pekerjaan-pekerjaan yang meliputi antara lain: Melakukan penelitian

Membutuhkan kemampuan matematis Membutuhkan analisis kritis

Melakukan kegiatan brainstorming (penciptaan ide/konsep)

Penyelesaian masalah-masalah abstrak Pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya akademis Tugas-tugas ilmiah

Pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan ketepatan tinggi

A (Artistik)

Pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan kegiatan antara lain:

Membuat suatu karya tulis kreatif

Mendesain sampul majalah/kemasan produk Melakukan pengembangan produk

Melakukan pemikiran kreatif

Merubah dan mengembangkan sesuatu (yang bersifat abstrak)

Menampilkan ekspresi yang orisinil dan artistik Memiliki jadwal kerja yang bervariasi

(26)

S (Sosial)

Pekerjaan-pekerjaan yang meliputi kegiatan-kegiatan seperti:

Menjalin hubungan dengan orang lain

Kegiatan-kegiatan yang sifatnya sukarela/sosial Memiliki tujuan yang sifatnya idealis

Berhubungan dengan klien/masyarakat Mengajar/berkomunikasi secara intens

Kegiatan-kegiatan yang berkelompok atau tim Aktifitas yang membutuhkan keterampilan bersosial

Pekerjaan konsultasi/konseling atau pembinaan

E

(Kewirausahaan/ Entrepreneurial)

Pekerjaan-pekerjaan yang terdiri dari kegiatan-kegiatan antara lain :

Kegiatan yang menantang atau melibatkan pengambilan resiko

Pengembangan bisnis

Memiliki potensi untuk berkembang Memiliki orientasi financial

Melibatkan pengambilan keputusan Aktifitas-aktifitas penjualan/marketing Negosiasi perjanjian dan kontrak Aktifitas entrepreneurial

C (Konvensional)

Pekerjaan-pekerjaan yang terdiri dari kegiatan-kegiatan antara lain :

Administratif/tugas dasar organisasi Mengelola arsip

Menjalankan sistem atau rutinitas Menyusun pembukuan/akuntansi Mengikuti kebijakan atau prosedur

Kegiatan yang berhubungan dengan angka Pelaporan yang rinci

Jadwal kerja yang ketat dan terstruktur j. Upaya Fisik

Upaya fisik adalah upaya yang harus dilakukan oleh pemegang jabatan dalam melakukan pekerjaannya, contoh untuk melakukan pekerjaan maka dilakukan dengan duduk, berdiri, berjalan, memanjat dan sebagainya.

(27)

k. Kondisi Fisik

Kondisi fisik adalah gambaran fisik yang diperlukan bagi calon pemegang jabatan agar dapat melakukan tugas jabatannya seperi Jenis Kelamin, Umur, Tinggi Badan, Berat Badan, Postur Badan, Penampilan dan sebagainya.

l. Fungsi Pekerja

Sebuah organisasi diperlukan untuk mencapai tujuan, jadi jelas mengapa harus ada, untuk apa diadakan, dan sasaran apa yang harus dicapai. Karena itu organisasi merumuskan visi, misi dan perencanaan yang kemudian membentuk struktur. Dari struktur inilah selanjutnya pekerjaan/jabatan (job) itu muncul. Jabatan merupakan unit dasar dari struktur organisasi yang membangun organisasi. Semua jabatan harus dikombinasikan untuk mencapai tujuan, sehingga jabatan harus berhubungan dengan individu (employee) dan organisasi sebagai pemilik (employer). Dari sinilah jabatan bisa disebut sebagai kumpulan tanggungjawab atau aktifitas untuk menghasilkan sesuatu, dengan demikian jabatan tersebut memiliki fungsi baik yang terkait dengan data, orang dan benda.

Fungsi Pekerja yang terkait dengan data misalnya menyusun data, membuat laporan dan lain-lain. Sedangkan fungsi yang terkait dengan orang antara lain berbicara, mengarahkan, memberi petunjuk, dan lain-lain. Adapun fungsi pekerja yang berhubungan dengan dengan benda, dibedakan antara :

1) Fungsi yang berhubungan dengan mesin;

Dalam fungsi ini kegiatan karyawan merupakan bagian kegiatan mesin, baik sebagai pemegang atau sebagai pengarah bahan, hasil atau alat. Misalnya memasang, mengontrol memasukkan dan lain-lain. 2) Fungsi yang berhubungan dengan benda

Jika dalam melaksanakan kegiatan karyawan berhubungan sedikit dengan mesin, atau tidak sama sekali, maka I melakukan kegiatan seperti mengerjakan presisi, mengemudikan,memegang dan lain-lain.

(28)

11. Prestasi Kerja yang diharapkan

Prestasi kerja yang diharapkan berkaitan dengan kapasitas/kemampuan serta beban/target yang diharapkan dapat dihasilkan dalam rentang waktu tertentu. Tentu saja angka ini didapat dengan memperhitungkan waktu idle atau waktu jeda. Demikian juga dengan SDM (pemegang jabatan). SDM dengan segenap energi dan kemampuannya dalam bekerja harus mengacu pada target yang telah ditetapkan. Untuk pengukuran kesesuaian antara beban kerja dengan kemampuan SDM ini, maka perlu dilakukan penghitungan beban kerja. penghitungan beban kerja perlu dipahami oleh setiap pegawai. Penghitungan beban kerja merupakan suatu pola perhitungan untuk menentukan jumlah, satuan/ukuran beban kerja dan tingkat efisiensi suatu jabatan, unit kerja atau organisasi. Penghitungan ini berguna sebagai bahan perumusan dan penataan jabatan, penyusunan peta jabatan dan formasi serta mutasi pegawai. Dengan mempertimbangkan hasil perhitungan ini diharapkan akan tercapai the right man in the right place.

Penghitungan beban kerja diawali dengan analisis jabatan yang antara lain memuat nama, kode dan syarat jabatan, iktisar jabatan, uraian tugas, bahan, perangkat dan hasil kerja, tanggung jawab dan wewenang, nama jabatan yang ada di bawahnya, korelasi jabatan, kondisi lingkungan kerja, resiko bahaya serta prestasi yang diharapkan. Dari informasi analisis jabatan ini kemudian dibuat suatu perhitungan dengan membandingkan antara hasil dan waktu yang dibutuhkan dengan satuan rentang waktu efektif tertentu. Dalam rentang waktu tersebut, diperhitungkan pula waktu untuk istirahat normal yang dibutuhkan pegawai bersangkutan. Prestasi kerja yang diharapkan tersebut terkait dengan satuan hasil seperti rencana, kegiatan, dokumen dan lain-lain, kemudian jika dikaitkan dengan jumlah hasil dalam 1 (satu) tahun berupa angka (bilangan) seperti 1 rencana, 3 kegiatan, atau 15 dokumen dan seterusnya. Sedangkan yang terkait dengan waktu penyelesaian adalah waktu yang diperlukan dalam menyelesaikan setiap kali kegiatan dalam satu tahun:

12. Butir Informasi Lain

Butir informasi lain adalah informasi yang belum muncul dalam informasi jabatan dalam kegiatan analisis jabatan, contohnya seperti tidak takut akan

(29)

ketinggian, untuk jabatan yang memerlukan keterampilan memanjat, bisa berenang untuk jabatan yang terkait dengan penanganan korban, dan lain-lain. C. Latihan

1. Uraian Tugas dapat diartikan suatu paparan atau bentangan atas semua tugas jabatan yang merupakan tugas pokok yang dilakukan pemegang jabatan dalam memproses bahan kerja menjadi hasil kerja dalam kondisi pelaksanaan tertentu. Coba Saudara buatkan contoh uraian tugas Caraka !

2. Bahan kerja adalah masukan yang diproses dengan tindak kerja (tugas) untuk menjadi hasil kerja sedangkan alat kerja adalah sarana yang dipergunakan untuk mengolah bahan kerja menjadi hasil kerja. Coba berikan contoh bahan kerja dan alat kerja seorang Caraka!

3. Menurut Saudara apa yang menjadi hasil kerja seorang Caraka, jelaskan ! D. Rangkuman

Hasil dari analisis jabatan akan membantu SDM dalam memahami jabatan yang akan atau sedang diduduki, selain itu juga memudahkan organisasi dalam menempatkan SDM pada suatu jabatan, serta membantu pelaksanaan pengelolaan SDM lainnya. Dalam rangka menempatkan PNS sesuai dengan keahliannya berdasar prinsip the right man and the right place, maka perlu disajikan butir-butir informasi jabatan yang mencakup identitas jabatan, uraian jabatan dan syarat jabatan.

Tugas (task) merupakan unit terkecil dari analisis yang merupakan pernyataan specifik mengenai apa yang dikerjakan oleh seseorang. Tugas adalah upaya pokok dalam memproses bahan kerja dengan menggunakan peralatan tertentu menjadi suatu hasil kerja. Ditulis dengan menggunakan kalimat aktif (berawalan “me” dan menggambarkan tindak kerja).

Uraian tugas dapat diartikan suatu paparan atau bentangan atas semua tugas jabatan yang merupakan tugas pokok yang dilakukan pemegang jabatan dalam memproses bahan kerja menjadi hasil kerja dalam kondisi pelaksanaan tertentu. Dalam menyusun uraian tugas harus dilakukan juga tahapan didalamnya. Tahapan kerja (proses) adalah langkah-langkah (kegiatan) yang dituliskan secara berurutan

(30)

dari awal hingga akhir pelaksanaan tugas. Dalam menyusun struktur uraian tugas tersebut berpedoman pada prinsip WHW yaitu Tugas apa yang dikerjakan, dengan apa tugas tersebut dilakukan, serta untuk apa tugas tersebut dilakukan.

Bahan kerja adalah masukan yang diproses dengan tindak kerja (tugas) untuk menjadi hasil kerja. Bahan kerja tersebut akan dapat diolah menjadi hasil kerja jika ada perangkat kerja (alat kerja) yang digunakan.

Contoh: surat masuk ( untuk diagendakan), peraturan, referensi atau buku (untuk penyusunan materi bimtek).

Alat kerja adalah sarana yang dipergunakan untuk mengolah bahan kerja menjadi hasil kerja. Alat kerja tidak terbatas pada sarana materiil, dapat juga berupa peraturan, pedoman, prosedur kerja atau acuan lain yang digunakan dalam pelaksanaan tugas

Contoh:

Stetoskop digunakan dokter dalam memeriksa pasien

Peraturan Kepala BKN nomor 12 tahun 2011 digunakan oleh Analis Kepegawaian untuk melaksanakan Analisis Jabatan

Hasil kerja adalah suatu produk berupa barang, jasa (pelayanan) atau informasi yang dihasilkan dari suatu proses pelaksanaan tugas. Hasil kerja dapat diperoleh bila ada sesuatu yang diolah (bahan kerja). Hasil kerja dapat berupa data, laporan, dokumen, kegiatan dan lain-lain.

(31)

FORMULIR INFORMASI JABATAN

1. Nama Jabatan : 2. Kode Jabatan : - 3. Unit Organisasi Eselon I : Eselon II : Eselon III : Eselon I V :

4. Kedudukan Dalam Struktur Organisasi :

(Tulis jabatan saudara dengan diberi warna berbeda dan dilengkapi dengan 2 (dua) jabatan diatasnya dan 2 (dua) jabatan dibawahnya (jika ada) serta jabatan-jabatan yang setara.

(32)

5. Ikhtisar Jabatan : 6. Uraian Tugas: a. ... Tahapan : 1) ... 2) ... 3) ... b. ... . Tahapan : 1) ... 2) ... 3) ... c. ... Tahapan : 1) ... 2) ... 3) ... d. ... Tahapan : 1) ... 2) ... 3) ... e. ... Tahapan : 1) ... 2) 3) f. ... Tahapan : 1) ... 2) ... 3) ... g. ... Tahapan : 1) ... 2) ... 3) ...

(33)

h. ... Tahapan : 1) ... 2) ... 3) ... i. ... Tahapan : 1) ... 2) ... 3) ... j. ... Tahapan : 1) ... 2) ... 3) ... k. Tahapan : 1) ... 2) ... 3) ... 7. Bahan Kerja :

No Bahan Kerja Penggunaan Dalam Tugas

1. 2. 3. Dst,

8. Perangkat/ Alat Kerja:

No Perangkat Kerja Digunakan Untuk Tugas

1. 2. 3.

(34)

9. Hasil Kerja:

No Hasil Kerja 1) Satuan Hasil 2)

1. 2. 3.

Dst.

1)Hasil Kerja: Tulis Hasil Kerja sesuai dengan masing-masing uraian tugas

2)Tulis satuan hasil kerja seperti: dokumen, kegiatan, dll. 10. Tanggung Jawab: a. b. c. d. 11. Wewenang: a. b. c. d. 12. Korelasi Jabatan:

No Jabatan Unit Kerja/ Instansi Dalam Hal

1. 2. 3. .Dst.

13. Kondisi Lingkungan Kerja:

No Aspek Faktor 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Tempat kerja Suhu Udara Keadaan Ruangan Letak Penerangan Suara

Keadaan tempat kerja Getaran

(35)

14. Resiko Bahaya:

No Fisik / Mental Penyebab

15. Syarat Jabatan: a. Pangkat/Gol. Ruang : b. Pendidikan : c. Kursus/Diklat 1) Penjenjangan : 2) Teknis : d. Pengalaman kerja : e. Pengetahuan kerja : f. Keterampilan kerja : g. Bakat Kerja : 1) ... 2) ... 3) ... h. Temperamen Kerja : 1) 2) i. Minat Kerja : 1) ... Alternatif Tambahan : 2) ... 3) ... Pilihan Minat Kerja diisi dengan salah satu dari Jenis Minat Kerja yang sesuai dan dapat diberi alternatif tambahan Minat Kerja sesuai dengan ketentuan sebagai berikut:

(36)

Realistik (R), dengan alternatif tambahan Investigatif (I) atau Konvensional (K).

Konvensional (K), dengan alternatif tambahan Realistik (R) atau Kewirausahaan (Ke).

Kewirausahaan (Ke), dengan alternatif tambahan Konvensional (K) atau Sosial (S).

Sosial (S), dengan alternatif tambahan Kewirausahaan (Ke) atau Artistik (A). Artistik (A), dengan alternatif tambahan Sosial (S) atau Investigatif (I). Investigatif (I), dengan alternatif tambahan Artistik (A) atau Realistik (R).

Contoh Minat Kerja : Realistik (R) Alternatif tambahan: Investigatif (I) Konvensional (K) j. Upaya Fisik : 1) 2) k. Kondisi Fisik : Jenis Kelamin ... : Umur ... : Tinggi badan ... : Berat badan ... : Postur badan ... : Penampilan ... : l. Fungsi Pekerjaan : 1) 2) 3)

(37)

16. Prestasi Kerja Yang Diharapkan

No Hasil Kerja Jumlah Hasil Penyelesaian Waktu

1. 2. 3. Dst.

*) Hasil Kerja lihat nomor 9 kolom 3

17. Butir Informasi Lain :

... ...

..., ...201..

Mengetahui Atasan Langsung Yang membuat

(...) (...)

(38)

CONTOH INFORMASI JABATAN

1. Nama Jabatan : Kepala Seksi Pemulihan dan Peningkatan Kesehatan 2. Kode Jabatan : -

3. Unit Kerja : Badan Nasional Penanggungan Bencana (BNPB) Eselon I : Kedeputian Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi Eselon II : Direktorat Pemulihan dan Peningkatan Sosial Ekonomi Eselon III : Sub Direktorat Pemulihan dan Peningkatan Sosial Eselon I V : -

4. Kedudukan Dalam Struktur Organisasi :

5. Ikhtisar Jabatan :

Memimpin dan melaksanakan kegiatan Pemulihan dan Peningkatan Kesehatan masyarakat akibat bencana sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku untuk memulihkan kembali sistem dan pelayanan kesehatan masyarakat seperti kondisi sebelum terjadi bencana.

(39)

6. Uraian Tugas:

a. Merencanakan kegiatan Seksi Pemulihan dan Peningkatan Kesehatan berdasarkan Rencana Operasional Subdit Pemulihan dan Peningkatan Sosial dan ketentuan yang berlaku sebagai pedoman pelaksanaan tugas;

Tahapan 1) Mempelajari Rencana kegiatan tahun lalu

2).Mensinkronisasi dengan rencana operasional Sub Direktorat Pemulihan dan Peningkatan Sosial.

3).Menyusun konsep rencana kegiatan Seksi Pemulihan dan Peningkatan Kesehatan.

4).Mengkonsultasikan konsep rencana kegiatan dengan pimpinan untuk mendapatkan pengarahan.

5).Memfinalisasi rencana kegiatan Seksi.

b. Membagi tugas kepada bawahan sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing untuk kelancaran pelaksanaan tugas Seksi Pemulihan dan Peningkatan Kesehatan;

Tahapan :

1)Menjabarkan rencana kegiatan menjadi tugas-tugas yang harus dilaksanakan bawahan

2)Menghimpun saran dan masukan dari bawahan

3)Memberikan petunjuk pelaksanaan tugas kepada bawahan 4)Menentukan target waktu penyelesaian.

c. Membimbing pelaksanaan tugas bawahan dilingkungan Seksi Pemulihan dan Peningkatan Kesehatan setiap saat sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang diberikan agar pekerjaan berjalan tertib dan lancar;

Tahapan :

1). Menjelaskan tugas yang akan dilaksanakan bawahan 2). Mengidentifikasi kesulitan yang dialami bawahan

3).Mengkonsultasikan permasalahan kepada kepala sub direktorat untuk menentukan solusi terbaik

4).Memberikan arahan kepada bawahan terkait permasalahan yang dialami d. Menyiapkan bahan penyusunan Rencana Pemulihan dan Peningkatan

Kesehatan masyarakat akibat bencana berdasarkan ketentuan yang berlaku dan arahan pimpinan agar pimpinan dapat menyusun rencana Pemulihan dan Peningkatan Sosial;

Tahapan :

1) Mengiventarisir fasilitas kesehatan yang rusak akibat bencana 2) Mengiventarisir alat pelayanan medis dan obat2an yang dibutuhkan 3) Mengiventarisir sumber sumber pendanaan pelayanan kesehatan. 4) Mengkompilasi bahan/data rencana untuk diserahkan kepada pimpinan.

(40)

e. Melaksanakan pemantauan kegiatan Pemulihan dan Peningkatan Kesehatan didaerah bencana secara priodik sesuai jadwal yang telah ditetapkan sebagai bahan evaluasi tugas pimpinan;

Tahapan:

1).Membuat jadwal pemantauan.

2).Mengkomunikasikan pelaksanaan kegiatan kepada tim teknis. 3) Mempelajari laporan dari tim teknis lapangan

4).Mencatat kegiatan-kegiatan dilapangan 5).Membuat laporan hasil pemantauan.

f. Mengevaluasi kegiatan Pemulihan dan Peningkatan Kesehatan didaerah bencana dengan cara membandingkan rencana dengan kegiatan yang telah dilaksanakan untuk pelaporan pelaksanaan kegiatan;

Tahapan:

1). Menganalisis laporan pemantauan dari bawahan

2). Mengklasifikasi kegiatan yang sudah dan yang belum dilaksanakan. 3). Menghitung jumlah serapan penggunaan anggaran

4). Membuat laporan hasil evaluasi

g. Menganalisis pelaporan kegiatan Pemulihan dan Peningkatan Kesehatan sesuai dengan peraturan yang berlaku untuk pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan dan pertimbangan pimpinan;

Tahapan:

1). Mencatat laporan yang sudah diterima / masuk

2). Mengkompilasi laporan laporan dari tim pelaksana teknis 3). Mengkonsultasikan laporan yang terkumpul dengan pimpinan 4). Memperbaiki dokumen hasil laporan.

h. Mengevaluasi pelaksanaan tugas di lingkungan Seksi Pemulihan dan Peningkatan Kesehatan dengan cara mengidentifikasi hambatan yang ada dalam rangka perbaikan kinerja dimasa mendatang

Tahapan :

1)Mempelajari laporan pelaksanaan tugas bawahan

2)Menginventarisir permasalahan dalam pelaksanaan kegiatan 3)Mendiskusikan kemajuan pelaksanaan tugas dengan bawahan

4)Memberikan langkah-langkah perbaikan dalam pelaksanaan kegiatan. i. Melaporkan pelaksanaan tugas di lingkungan seksi Pemulihan dan

Peningkatan Kesehatan sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku untuk pertanggungjawaban dan Rencana yang akan datang.

Tahapan :

1)Menganalisis laporan yang diterima dari bawahan 2)Membahas bahan laporan dengan bawahan 3)Membuat konsep laporan hasil pelaksanaan tugas 4)Mengkonsultasikan konsep laporan kepada atasan 5)Memfinalisasi laporan pelaksanaan tugas.

(41)

j. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh pimpinan baik lisan maupun tertulis.

Tahapan :

1) Mempelajari tugas 2) Menjalankan tugas

3) Melaporkan hasil pelaksanaan tugas

7. Bahan Kerja :

No Bahan Kerja Penggunaan Dalam Tugas

1. Rencana kegiatan operasional Kasubdit Pemulihan & Peningkatan Sosial

Penyusunan Rencana Kegiatan Seksi Pemulihan dan Peningkatan Kesehatan

2. Beban kerja Pembagian tugas kepada bawahan

3. Tugas Bimbingan pelaksanaan tugas bawahan

4. Data kerusakan, sumber dana dan fasilitas kesehatan

Penyiapan bahan rencana Pemulihan dan Peningkatan Kesehatan.

5.. Jadwal dan rencana kegiatan pemantauan

Pemantauan kegiatan Pemulihan dan Peningkatan Kesehatan didaerah 6. Laporan hasil evaluasi Pelaksanaan evaluasi kegiatan

Pemulihan dan Peningkatan Kesehatan didaerah bencana

7. Laporan yang masuk Pelaksanaan analisis pelaporan kegiatan Pemulihan dan Peningkatan Kesehatan. 8. Rencana dan realisasi kegiatan Pelaksanaan evaluasi tugas di

lingkungan Seksi Pemulihan dan Peningkatan Kesehatan

9. Rencana dan realisasi kegiatan Laporan pelaksanaan tugas di lingkungan seksi Pemulihan dan Peningkatan Kesehatan

(42)

8. Perangkat/ Alat Kerja:

No Perangkat Kerja Digunakan Untuk Tugas

1. Rencana Operasional Subdit Menyusun Rencana Kegiatan Seksi Pemulihan dan Peningkatan Kesehatan

2. SOP dan SOTK Membagi tugas kepada bawahan

3. SOP dan Juknis Membimbing pelaksanaan tugas

bawahan

4. SOP dan Juknis Menyiapkan bahan rencana Pemulihan dan Peningkatan Kesehatan.

5. SOP dan Juknis Memantauan kegiatan Pemulihan dan Peningkatan Kesehatan didaerah 6. SOP dan Juknis Melaksanakan evaluasi kegiatan

Pemulihan dan Peningkatan Kesehatan didaerah bencana

7. Juknis dan Peraturan Melaksanakan analisis pelaporan kegiatan Pemulihan dan Peningkatan Kesehatan.

8. Rencana kegiatan Melaksanakan evaluasi tugas di lingkungan Seksi Pemulihan dan Peningkatan Kesehatan

9. Rencana kegiatan Melaporkan pelaksanaan tugas di lingkungan seksi Pemulihan dan Peningkatan Kesehatan

10. Surat Perintah/Surat Tugas Melaksanaan tugas lain-lain 9. Hasil Kerja:

No Hasil Kerja Satuan Hasil

1. Rencana Kegiatan Seksi Pemulihan

dan Peningkatan Kesehatan Rencana

2. Tugas Kegiatan

3. Bimbingan pelaksanaan tugas Kegiatan

(43)

Peningkatan Sosial

5. Laporan Pemantauan Dokumen

6. Laporan evaluasi Dokumen

7. Laporan hasil analisis Dokumen

8. Laporan evaluasi Dokumen

9. Laporan pelaksanaan tugas Dokumen

10. Tugas lain-lain Kegiatan

10. Tanggung Jawab:

1. Keakuratan data kerusakan fasilitas kesehatan 2. Kelancaran dalam penyusunan petunjuk teknis

3. Keberlangsungan program kerja kegiatan pasca bencana 4. Keterwujudan koordinasi antar stakeholder

5. Kelancaran pendampingan pelaksanaan kegiatan sesuai rencana 11. Wewenang:

1. Mengendalikan pelaksanaan kegiatan Seksi Pemulihan dan Peningkatan Kesehatan

2. Memastikan terwujudnya koordinasi antar unit dan antar instansi 3. Memantau pelaksanaan program di lokasi bencana

4. Memantau pelaksanaan koordinasi dengan para stakeholder 12. Korelasi Jabatan:

No Jabatan Unit Kerja/ Instansi Dalam Hal

1. Direktur Pemulihan dan Peningkatan Sosial Ekonomi BNPB Konsultasi 2. Kasubdit Pemulihan dan Peningkatan Sosial BNPB Konsultasi

3. Eselon lll dan lV Intansi terkait Koordinasi

(44)

13. Kondisi Lingkungan Kerja: No Aspek Faktor 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Tempat kerja Suhu Udara Keadaan Ruangan Letak Penerangan Suara

Keadaan tempat kerja Getaran

Di dalam ruangan

Dingin dengan perubahan Sejuk Cukup Datar Terang Tenang Bersih - 14. Resiko Bahaya:

No Fisik / Mental Penyebab

1. -

2. -

3. -

15. Syarat Jabatan:

a. Pangkat/Gol. Ruang : Penata Muda Tingkat l / IIIb b. Pendidikan : S-1 SKM / Manajemen . Kursus/Diklat

c. Penjenjangan : Diklat Pim IV

d. Teknis : Penanggulangan Bencana

e. Pengalaman kerja : 2 tahun di bidang Pemulihan dan Peningkatan Kesehatan

(45)

f. Pengetahuan kerja : Peraturan-peraturan tentang penanggulangan bencana

g. Keterampilan kerja : Mengoperasikan komputer

h. Bakat Kerja

1). G; Inteligensia : Kemampuan belajar secara umum 2). V; Bakat verbal : untuk memahami arti kata-kata dan

penggunaannya secara tepat dan efektif.

3). Q; Ketelitian : Kemampuan menyerap perincian yang berkaitan dalam bahan verbal atau dalam tabel.

i. Temperamen Kerja

1)D : Kemampuan memimpin

2)M: Kemampuan mengambil keputusan

3)S : Kemampuan bekerja dalam keadaan darurat

j. Minat Kerja

Realistik (R), dengan alternatif tambahan Investigatif (I) atau Konvensional (K)

k. Upaya Fisik

1)Duduk 2)Berdiri 3)Berjalan

l. Kondisi Fisik

Jenis Kelamin : Pria/Wanita Umur : Tinggi badan : Berat badan : Postur badan : Penampilan : m. Fungsi Pekerja : 1). D.3: Menyusun data 2). O.6: Berbicara

(46)

16. Prestasi Kerja Yang Diharapkan

No Satuan Hasil Jumlah Hasil

( dalam 1 th) Waktu Penyelesaian 1. Rencana 1 3000 2. Kegiatan 2 12000 3. Kegiatan 2 6000 4. Dokumen 6 3000 5. Dokumen 6 3000 6. Dokumen 6 2500 7. Dokumen 6 3000 8. Dokumen 1 3000 9. Dokumen 1 4000 10. Kegiatan 6 6000

17. Butir Informasi Lain :

... ... ... Jakarta,

Mengetahui Atasan Langsung Yang Membuat ( ... ) ( ... ) NIP NIP

(47)

BAB IV

ANALISIS BEBAN KERJA

A. Pendahuluan

Tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) adalah cita-cita yang hendak diwujudkan oleh pemerintah. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, pemerintah merumuskan dan sekaligus mengimplementasikan suatu kebijakan prioritas, yaitu Reformasi Birokrasi (RB). Kebijakan RB dalam rangka mewujudkan good governance merupakan langkah strategis untuk membangun aparatur negara agar lebih berdaya guna dan berhasil guna dalam mengemban tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional. Kebijakan RB tertuang dalam Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: PER/15/M.PAN/7/2008 Tentang Pedoman Umum Reformasi Birokrasi. Hal mendasar yang harus dikerjakan dalam penyelenggaraan RB tidak lain adalah hal-hal tentang manajemen kepegawaian atau manajemen PNS (PNS). Hal-hal-hal yang dimaksud adalah penguatan unit organisasi kepegawaian, penguatan unit kerja kediklatan, pembenahan peraturan perundang-undangan (kepegawaian), penegakan disiplin, penegakan kode etik, dan perbaikan pengadaan sarana dan prasarana.

Ada tiga aspek utama dalam pelaksanaan RB, yaitu organisasi, tatalaksana, dan sumber daya manusia/kepegawaian. Masing-masing aspek memiliki prasyarat awal yang harus diselenggarakan untuk selanjutnya dapat memperbaiki masing-masing aspek yang telah disebutkan. Sebagai contoh, dalam membenahi aspek organsasi, prasyarat yang harus dikerjakan adalah: 1) redefinisi visi, misi, dan strategi; 2) restrukturisasi; dan 3) analisis beban kerja. Dalam hal analisis beban kerja, disadari bahwa hingga saat ini pemahaman tentang analisis beban kerja di lingkungan instansi pusat dan daerah masih terbatas. Karena itu perlu adanya pelatihan maupun sosialisasi mengenai analisis beban kerja. Terkait dengan itu maka seluruh instansi Pemerintah melalui Bagian Organisasi dan Tatalaksana atau Badan Kepegawaian Daerah difasilitasi oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN) telah menyelenggarakan penyusunan Analisis Jabatan dan Analisis Beban Kerja.

Gambar

Tabel 3  Jenis Minat Bipolar  Kode  Deskripsi  Berlawanan

Referensi

Dokumen terkait

Dalam tahap penyusunan analisa jabatan ini hal yang paling banyak mengalami kesalahan dan perlu revisi yang sangat lama adalah terkait penyusunan peta jabatan yang nantinya

Menurut hasil analisis berdasarkan Permenpan No 13 Tahun 2014 tentang Tata Cara Seleksi Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi Secara Terbuka Di Lingkungan Instansi

Dalam tahapan ini peserta mendapatkan pembekalan sejumlah kebijakan dan teori tentang Kepemimpinan Pemerintahan Dalam Negeri Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama yang