1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Islam adalah agama yang diridhoi oleh Allah SWT keberadaannya. Karena
agama Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai
penyempurna serta pelengkap dari syari‟at-syari‟at yang dibawa oleh para Nabi
dan Rasulullah terdahulu. Sebagaimana telah terdapat dalam Kitab Suci al-Qur‟an dalam Surat Ali Imran (3): 19
Artinya: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam...”
(Q.S Ali Imran (3):19)1
Agama Islam merupakan agama yang berlandaskan atau yang berpedoman kepada al-Qur‟an dan hadis, siapa yang berpegang teguh kepada keduanya insya Allah akan selamat dunia dan akhirat namun, sebaliknya siapa yang ingkar atau dengan kata lain tidak berpegang teguh kepada keduanya maka hidupnya akan penuh dengan kesesatan.
Al-qur‟an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
SAW secara mutawatir melalui malaikat jibril secara berangsur-angsur dan
1
Departemen Agama RI, al-Qur‟an dan Terjemahanya, (Bandung: Diponegoro, 2010),
apabila membacanya bernilai ibadah2. Al-Qur‟an merupakan sumber hukum Islam yang pertama.
Hadis adalah segala sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad SAW selain dari al-Qur‟an al-Karim, baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, yang
hanya bisa dijadikan hukum syara‟.3 Hadis merupakan sumber kedua dalam Islam
setelah al-Qur‟an, sebagai sumber hukum Islam baik al-Qur‟an maupun hadis adalah berbahasa arab. Oleh karena itu apapun istilah hukum yang terdapat pada
keduanya berbahasa arab. Salah satu di antaranya adalah shalat. Banyak ayat
al-Qur‟an yang memerintahkan untuk mengerjakan shalat sebagaimana yang
terdapat dalam firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 43
Artinya: Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta
orang-orang yang ruku‟
Shalat merupakan salah satu dari ibadah mahdhah, yang berbentuk hubungan manusia yang akrab dan suci antara seseorang muslim dengan Allah
SWT, yang bersifat peribadatan. Selain dari shalat masih banyak lagi ibadah
mahdhah yang lain seperti puasa, zakat, dan haji.4
Shalat merupakan suatu perbuatan yang diwajibkan bagi seluruh umat Nabi Muhammad SAW baik yang laki-laki maupun yang perempuan, yang
2 Manna‟ al-Qathan, Mabahits fi „Ulum al- Qur‟an,( Surabaya : Hidaniyyah, 1973 H), h.
21.
3
Muhammad „Ajaj al-Khatib, Ushul al-Hadis: „Ulumuh wa Mushthalahuh, (Beirut:
Darul Fikri, 2006 M), h. 14 4
A. Djazuli, Kaidah-kaidah Fikih: Kaidah-kaidah Hukum Islam dalam Menyelesaikan
diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.5 Shalat juga merupakan pondasi dari agama Islam sebagaimana Nabi SAW bersabda :
6
Artinya: Abdullah bin Musa telah menceritakan kepada kami dia berkata,
Hanzhalah bin Abu Sufyan telah mengabarkan kepada kami dari 'Ikrimah bin Khalid dari Ibnu Umar, katanya: Nabi SAW bersabda: “Islam dibangun di atas lima (landasan): Persaksian, bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan”. (H.R. Al-Bukhari)
Shalat juga suatu amal ibadah yang pertama dihisab oleh Allah SWT pada Yaumul Akhir kelak. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang berbunyi:
7
Artinya: "...Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya yang pertama kali akan
dihisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat adalah shalatnya....”(H.R.. Al-Tirmidzi)
Shalat mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam syari‟at agama Islam, hingga kesempurnaan amal seseorang, baik atau buruknya perbuatan
manusia dilihat dari sempurna atau tidaknya pelaksanaan shalatnya. Shalat juga
5 Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah , (Kairo: Dar al-Fath, t. th), jilid I. h. 101
6 Al-Imam Abi „Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughairah bin
Bardizbah al-Bukhari al- Ja‟fari, Shahih al-Bukhari, Kitab Iman, Bab Do‟a mu Iman mu, (Beirut:
Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1971), h. 18 7
Muhammad bin Isa bin Surah at-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, (Bairut: Darl Fikr, 1426),
pembeda antara orang yang beriman dengan orang kafir, sehingga siapa yang
tidak melaksanakan shalat berarti ia telah kafir.8
Ketika hendak menunaikan perintah shalat tentu ada hal-hal dan
syarat-syarat yang harus dipenuhi, apabila syarat itu tidak ditunaikan maka tidak sah shalat seseorang, salah satu syarat sahnya adalah Wudhu‟.
Wudhu‟ berasal dari kata wadha‟ah yang berarti baik dan bersih, sedangkan menurut istilah berarti perbuatan yang menggunakan air untuk
menyucikan anggota tubuh tertentu.9 Berikut dalil tentang diwajibkannya wudhu‟
yang tercantum dalam Q.S al-Maidah ayat 6:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan
shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.
Dari ayat di atas dapatlah diketahui bahwa wajibnya wudhu‟ hendak
melaksanakan shalat yang mana indikasi lafaznya apabila
kamu telah akan mengerjakan shalat, menunjukkan perlu niat bersuci guna
sahnya wudhu‟, karena kalimat telah akan mengerjakan berarti adanya tujuan
mengerjakan, dan tujuan itu niat, dan niat yang dimaksud adalah untuk
8
Abdurrahim, Tuntunan Shalat Lengkap (Jakarta: Sandro Jaya, t. th), h. 27
melaksanakan shalat, bukan untuk membersihkan diri atau semacamnya, baik diucapkan atau tidak.
Apabila memahami redaksi ayat di atas, terlepas dari sunnah Nabi bahwa ber-wudhu‟ adalah tuntutan (mewajibkan) ayat ini, setiap kali seseorang hendak
melakukan shalat. Tetapi bila memahaminya melalui sunnah Nabi saw, diketahui
bahwa perintah ber-wudhu‟ hanya diwajibkan terhadap mereka yang tidak dalam
keadaan suci.10
Kemudian juga ditegaskan dalam hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh
Bayhaqi, Abu Daud dan al-Tirmidzi, Nabi SAW bersabda 11
Artinya: Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami berkata,
Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami berkata, Ma'mar telah mengabarkan kepada kami dari Hammam bin Munabbih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: " Sesungguhnya Allah tidak akan menerima shalat salah seorang dari kalian jika berhadats hingga ia ber-wudhu‟lah." Abu Isa berkata; "Hadits ini derajatnya adalah hasan shahih. (H.R. al-Tirmidzi)12
Berdasarkan hadis diatas dapatlah diketahui bahwa Allah tidak akan
menerima shalat seseorang hamba kalau ia tidak ber-wudhu‟ artinya wajib
ber-wudhu‟ apabila hendak melaksanakan shalat.
10
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah (Pesan, kesan dan Keserasian al-Qur‟an),
(Ciputat: Lentera Hati, 2007), Cet. XII, h. 35 11
Lahmuddin Nasution, loc.cit.
12
Orang yang telah ber-wudhu‟ dipandang suci dari hadats, akan tetapi ada beberapa hal yang dapat menghilangkan kesuciannya itu dan menyebabkannya berhadats kembali. Jika seseorang mengalami salah satu darinya maka ia kembali
berhadats dan wajib ber-wudhu‟ apabila hendak melakukan shalat, salah satu
diantaranya dari beberapa hal tersebut adalah batalnya wudhu‟ disebabkan karena
memakan makanan yang dimasak dengan api13 sebagaimana Nabi SAW bersabda
14
Artinya: Ibnu Syihab berkata, telah mengabarkan kepadaku Umar bin Abdul Aziz
bahwa Abdullah bin Ibrahim bin Qarizh telah mengabarkan kepadanya bahwa dia mendapatkan Abu Hurairah berwudhu di masjid, maka dia berkata, "Aku hanya berwudhu karena aku makan sepotong keju karena aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Berwudhulah kalian, disebabkan makan makanan yang dibakar api'.(H.R. Muslim)
ا
15Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar berkata; telah
menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Muhammad bin
13 Muhammad Nashiruddin al-Albani, Mukhtashar Shahih Muslim, (Jakarta: Pustaka
Azzam, 2012), jilid 1, h. 133
14
Imam Abi Husain Muslim bi Hajjaj al-Qusyairiy Al-Naisabury, Shahih Muslim,
(Bairut-Libanon: Darul Kutub al-„Ilmiyah, 1971), h. 225
15 Abi „Isa Muhammad bin „Isa bin SAWrah al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi Wahwa
'Amru dari Abu Salamah dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: " Hendaknya ber-wudhu‟lah karena sesuatu yang disentuh api, meskipun itu susu kering (keju)." Abu Salamah berkata; Ibnu Abbas bertanya kepadanya, "Wahai Abu Hurairah, apakah kami harus ber-wudhu‟lah karena makan minyak samin? Dan apakah kami juga harus wudlu karena minum air hangat?" Abu Salamah berkata; Abu Hurairah lalu menjawab, "Wahai anak saudaraku, jika engkau mendengar hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka janganlah kamu membuat permisalan-permisalan (padanan).(H.R. Al-Tirmidzi)
16
Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Hisyam bin Abdul Malik dia berkata;
telah menceritakan kepada kami Muhammad yaitu Ibnu Harb berkata; telah menceritakan kepadaku Az-Zubaidi dari Az-Zuhri sesungguhnya Umar bin Abdul Aziz Telah mengabarkan kepadanya bahwasannya Abdullah bin Qarizh Telah mengabarkan kepadanya bahwa Abu Hurairah berkata; 'Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda': " Ber-wudhu‟lahlah kalian dari -makanan sesuatu - yang disentuh (dimasak dengan) api'. (H.R. Al-Nasa‟i)
17
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Harmalah bin Yahya berkata, telah
menceritakan kepada kami Ibnu Wahb berkata, telah memberitakan kepada kami Yunus bin Yazid dari Ibnu Syihab dari 'Urwah dari Aisyah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ber-wudhu‟lahlah dari sesuatu yang tersentuh (dimasak) oleh api. (H.R. Ibn Majah)
18
16
Imam Hafiz Abi Abdur Rahman Ahmad bin Syuaib bin Ali Khurasani an-Nasai, Sunan
Nasai, (Beirut-Libanon: Darr al-Kitab al-„Ilmiyah, 303 H), h. 36
17 Al-Hafiz Abi Abdillah Muhammad bin Yazid al-Qazwainiy, Sunan Ibn Majah,
Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Shalih telah menceritakan kepadaku Al Laits ia berkata: Telah menceritakan kepadaku 'Uqail dari Ibnu Syihab ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Abdul Malik bin Abu Bakar bin Al Harits bin Hisyam, Kharijah bin Zaid Al Anshari telah mengabarkan kepadanya, bahwasanya ayahnya, yaitu Zaid bin tsabit berkata: "Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: " Ber-wudhu‟lah kalian dari -makanan sesuatu - yang disentuh (dimasak dengan) api. (H.R. Al-Darimi)
19
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan
kepada kami Ma'mar dari Al Zuhri dari Umar bin Abdul Aziz dari Ibrahim bin Abdullah bin Qarizh, dia berkata: saya bertemu dengan Abu Hurairah yang sedang ber-wudhu‟lah, maka dia berkata; "Apakah kamu tahu kenapa saya ber-wudhu‟lah setelah memakan sepotong susu kering? sesungguhnya saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: " Ber-wudhu‟lah kalian dari -makanan sesuatu - yang disentuh (dimasak dengan) api. (H.R. Ahmad)
Al-Hazimi dalam kitab Al-I‟tibar berpendapat bahwa para ulama bebeda
pendapat dalam masalah ini, sebagian mereka berpendapat harus ber-wudhu‟ dari
apa yang disentuh api. Di antara mereka yang berpendapat yang demikian adalah Ibn Umar, Abu Thalhah, Anas bin Malik, Abu Musa, Aisyah Zaid bin Tsabit dan lain-lain.20
Kebanyakan ulama dan ahli fikih sedunia Islam berpendapat tidak (harus) ber-wudhu‟ dari apa yang disentuh api dan memandang sebgai perkara terakhir dari dua perkara yang termsuk perbuatan Rasulullah SAW. Di antara mereka yang
18Imam Muhammad Abdullah ibn Bahar Amr al-Darimi, Sunan al-Darimi, (Beirut: darul
fikri), jilid 1-2, h. 133
19
Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, (Bairut: Dar al-Fikri, t.
th.), jilid 2, h.256
20 Imam al-Hafizh Abi „Aliy Muhammad Abdur Rahman bin Abdur Rahim
tidak memandang keharusan ber-wudhu‟ itu adalah Abu Bakar, Umar, Usman. Ali, Ibnu Umar, Ibnu Abbas dan masih banyak yang lain.
Kemudian disisi lain ada yang menyatakan bahwa tidak wajib ber-wudhu‟
karena telah memakan sesuatu yang dimasak dengan api21 sebagaimana Nabi
SAW bersabda:
Artinya: Ahmad bin Isa telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahab telah
menceritakan kepada kami Amru bin al-Harits telah mengabarkan kepadaku dari Ibnu Syihab dari Ja'far bin Amru bin Umayyah adh-Dhamri dari bapaknya dia berkata, "Saya melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memotong sebagian pundak kambing, lalu beliau makan sebagiannya, lalu shalat diserukan, maka beliau berdiri dan meletakkan pisau, dan shalat tanpa berwudhu‟. (H.R. Muslim)22
23
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Musa bin Sahl Abu 'Imran Ar-Ramli
telah menceritakan kepada kami Ali bin Ayyasy telah menceritakan kepada kami Syu'aib bin Abu Hamzah dari Muhammad bin Al-Munkadir dari Jabir dia berkata; Akhir kedua perkara ini adalah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak berwudhu‟ karena makan sesuatu yang disentuh api. (H.R. Abu Daud)
21
. Muhammad Nashiruddin al- albani, loc. cit.
22
Imam Abi Husain Muslim bi Hajjaj al-Qusyairiy Al-Naisabury, loc. cit.
23Abu Daud Sulaiman ibn al-Asy‟ats al-Sijistani, Sunan Abu Daud, (Beirut: Dar al-Fikri,
24
Artinya
:
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar berkata, telahmenceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah berkata; telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Aqil ia mendengar Jabir. Sufyan berkata; dan telah menceritakan kepada kami Muhammad Ibnul Munkadir dari Jabir ia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar bersamaku. Beliau mengunjungi seorang wanita Anshar, lalu wanita itu menyembelih seekor kambing untuknya beliau pun memakannya, kemudian wanita itu juga membawakan sebuah keranjang berisi kurma segar, dan beliau juga memakannya. Setelah itu beliau ber-wudhu‟lah karena zhuhur, shalat dan pergi. Wanita itu kemudian membawakan sisa kambing tersebut, beliau pun memakannya, setelah itu melaksanakan shalat asar tanpa ber-wudhu‟lah terlebih dahulu. (H.R. Al-Tirmidzi)
25
Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdul A'la dia
berkata; telah menceritakan kepada kami Khalid berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij berkata; telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Yusuf dari Ibnu Yasar dari Ibnu Abbas dia berkata; "Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memakan roti dan daging, kemudian melaksanakan shalat tanpa ber-wudhu‟lah lagi."(H.R. Al-Nasa‟i)
26
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ibrahim Ad
Dimasyqi berkata, telah menceritakan kepada kami Al Walid bin
24Abi „Isa Muhammad bin „Isa bin Sawrah al-Tirmidzi,
op. cit., h. 28
25
Imam Hafiz Abi Abdur Rahman Ahmad bin Syuaib bin Ali Khurasani an-Nasai, op.
cit., h. 37-38
26
Muslim berkata, telah menceritakan kepada kami Al Auza'i berkata, telah menceritakan kepada kami Al Zuhri berkata; Aku menghadiri jamuan makan malam Al Walid atau Abdul Malik, ketika waktu shalat tiba aku berdiri dan ber-wudhu‟lah, maka berkatalah Ja'far bin 'Amru bin Umayyah; "Aku bersaksi atas bapakku, bahwa ia bersaksi atas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam; bahwasanya beliau makan makanan yang telah diubah oleh api, kemudian beliau shalat dan tidak ber-wudhu‟lah."(H.R. Ibn Majah)
27
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Amir Telah menceritakan kepada
kami Fulaih dari Zuhri dia berkata, telah menceritakan kepadaku Ja'far bin Amru bin Umayyah dari bapaknya, bahwa dia pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam makan 'Udwan kemudian shalat dengan tidak ber-wudhu‟lah."(H.R. Ahmad)
Abu Isa berpendapat, ini yang menjadi amalan kebanyakan para ulama
dari kalangan sahabat, tabi‟in dan generasi setelah mereka seperti Sufyan al-Tsauri, ibnu al-Mubarak, al-Syafi‟i, Ahmad dan Ishak. Mereka berpandangan
tidak ber-wudhu‟ dari apa yang disentuh oleh api. Seakan hadis ini merupakan
Nasikh (penghapus) bagi hadis ber-wudhu‟ dari apa yang disentuh oleh api.28
Imam al-Syawkani berpendapat bahwa hadis tentang perintah ber-wudhu‟
makan makanan yang disentuh api tidak mansukh. Menurutnya orang-orang yang
berpendapat tidak ber-wudhu‟ dari apa yang disentuh oleh api mengenai hadis
tentang perintah ber-wudhu‟ dari apa yang disentuh oleh api menjawab dengan
dua jawaban:
27
Imam Ahmad bin Hanbal, op. cit., h. 287
28 Imam al-Hafizh Abi „Aliy Muhammad Abdur Rahman bin Abdur Rahim
Pertama, bahwa ia adalah mansukh
Kedua, bahwa yang dimaksud dengan ber-wudhu‟ adalah membasuh
mulut dan kedua telapak tangan.
Jawaban pertama hanya akan sempurna bilamana menerima bahwa perbuatan Nabi SAW itu bertentangan dengan pendapat yang khusus dan me-nasakh-nya. Sementara yang telah berlaku di dalam ushul adalah hal yang sebaliknya.
Sedangkan jawaban kedua, seperti yang telah ditetapkan bahwa hakikat
syariat harus didahulukan atas yang selainnya dan hakikat wudhu‟ secara syari‟at
adalah membasuh seluruh anggota badan tertentu, sehingga hakikat ini tidak dapat ditentang kecuali melalui dalil.
Adapun klaim adanya ijma‟, termasuk klaim-klaim yang tidak dihormati oleh pencari kebenaran dan tidak menghalangi antara dirinya dan maksudnya
mengenai hal itu. Hadis-hadis yang dipaparkan mengenai tidak ber-wudhu‟ dari
daging kambing dikhususkan dengan makna umum perintah ber-wudhu‟ dari apa
yang disentuh api. Sedangkan yang selain daging kambing, maka masuk dalam
kategori keumuman tersebut.29
29
Al-Nawawi berpendapat, perbedaan mengenai hal ini terjadi pada periode pertama, kemudian setelah itu ulama sepakat bahwa tidak wajib ber-wudhu‟ karena makan makanan yang dimasak dengan api.30
Al-Khaththabi menyinkronkannya, bahwa hadis mengenai perintah tersebut diarahkan kepada anjuran bukan kewajiban. Begitu juga pendapat
al-Syafi‟i bahwa hadis-hadis tidak ber-wudhu‟ dari apa yang disentuh api hanya
menafikan kewajiban bukan anjuran.31
Dari keterangan hadis di atas dapat disimpulkan, bahwa antara hadis yang satu dan yang lainnya terdapat perbedaan, bahkan cendrung bertentangan, ketidaksesuaian itu akan menimbulkan kebimbangan, manakah di antara hadis-hadis tersebut yang dipedomani.
Berdasarkan hal di atas, realita dan fenomema yang berkembang di tengah masyarakat bahwa sebagian masyarakat sering mendakwakan bahwa batal wudhu‟ karena memakan makanan yang dimasak dengan api. Hal ini seringkali terdengar ketika bulan Ramadhan hendak berbuka puasa. Sehingga mereka
mengulangi mengambil wudhu‟ apabila hendak melakukan sholat maghrib.
Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk meneliti dan mengkaji secara komprehensif tentang bagaimana pemahaman yang utuh mengenai
hadis-hadis tentang batalnya dan tidaknya wudhu‟ karena memakan makanan
yang dimasak dengan api dengan mencarikan solusi yang tepat dalam
30
Mu‟ammal Hamidiy dkk, Nail al-Authar, (Kuala Lumpur: Victory Agencie, 1994), h.
178
31 Imam al-Hafizh Abi „Aliy Muhammad Abdur Rahman bin Abdur Rahim
menyelesaikan pertentangan hadis-hadis tersebut. Untuk mengkaji lebih lanjut
penulis menformulasikannya dalam bentuk sebuah skripsi dengan judul “Studi
Pemahaman Hadis-hadis tentang Batal Wudhu’ karena Memakan Makanan yang Dimasak dengan Api.”
B. Rumusan dan Batasan Masalah
Bertitik tolak pada landasan pemikiran yang melatarbelakangi masalah di atas, maka yang menjadi pokok pembahasan dalam tulisan ini adalah bagaimana
memahami dan pemahaman ulama tentang hadis-hadis batalnya wudhu‟ karena
memakan makanan yang dimasak dengan api?
Sementara yang menjadi batasan masalah dalam kajian ini adalah
1. Bagaimana memahami hadis-hadis tentang batalnya wudhu‟ karena memakan
makanan yang dimasak dengan api?
2. Bagaimana memahami hadis-hadis tentang tidak batalnya wudhu‟ karena
memakan makanan yang dimasak dengan api?
3. Bagaimana fiqh al-hadis tentang hadis-hadis batal dan tidak batalnya wudhu‟
karena memakan makanan yang dimasak dengan api? C. Tujuan dan Kegunaan Pembahasan
Berdasarkan pokok permasalahan di atas penulis memiliki beberapa tujuan penulisan skripsi ini adalah:
1. Untuk menjelaskan pemahaman tentang hadis-hadis batalnya wudhu‟ karena
2. Untuk menjelaskan pemahaman tentang hadsi-hadis tidak batalnya wudhu‟ karena memakan makanan yang dimasak dengan api.
3. Untuk menjelaskan fiqh al-hadis tentang hadis-hadis batalnya wudhu‟ karena
memakan makanan yang dimasak dengan api.
Sedangkan kegunaan dari penelitian ini adalah:
1. Kegunaan yang bersifat akademis, yaitu untuk memenuhi kelengkapan
persyaratan dalam meraih gelar Sarjana Agama (S. Ag.) dalam studi Jurusan Tafsir Hadis.
2. Kegunaan yang bersifat intelektual, yaitu menambah pemahaman hadis dan
khazanah intelektual bagi para pembaca dan khususnya bagi penulis sendiri.
3. Kegunaan yang bersifat praktis, yaitu untuk menambah wawasan ilmu
pengetahuan secara khususnya bagi penulis serta memberikan informasi kepada pembaca secara umumnya tentang pemahaman hadis-hadis tentang
batalnya wudhu‟ karena memakan makanan yang dimasak dengan api.
4. Kegunaan yang bersifat lembaga, yaitu untuk memberikan kontribusi
pemikiran yang bermanfaat bagi kepustakaan Islam, khususnya di IAIN Imam Bonjol Padang.
D. Defenisi operasional
Untuk menghindari kesalahan dalam memahami makna yang terkandung dalam judul maka penulis akan menjelaskan kata kunci atau defenisi operasional, sebagai berikut:
Studi : Studi artinya kajian, telaah ilmiah.32 Berasal dari
bahasa Inggris “study” dengan makna mempelajari
dan memikirkan33 dalam bahasa Indonesia kata ini
berarti menyelidiki dengan kritis, hati-hati dan penuh perhatian, kajian dan telaah.
Pemahaman : Berasal dari kata paham yang memiliki makna proses,
perbuatan atau cara memahami.34
Hadis : Secara bahasa berasal dari bahasa Arab yaitu
yang berarti kabar atau berita yang
banyak atau sedikit.35 Sedangkan menurut istilah
hadis merupakan segala sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, akhlak dan bentuk fisik serta sejarah perjalanan beliau, baik sebelum maupun sesudah beliau menjadi rasul, serta yang bisa
dijadikan hukum syara‟ ataupun tidak.36
Batal : Menurut bahasa berarti tidak terpakai, tidak
berfaedah, rusak, dan sia-sia. Menurut istilah tertepas
32 Tim Prima Pena, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Gita Media Press, 2007),
edisi terbaru, h. 721
33 Jhon M. Echlos dan Hasan Sadily, Kamus Bahasa Inggris, (Jakarta: Gramedia, 1996),
Cet. 2, h. 563
34 Peter Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, (Jakarta: Modern English Press),
h. 1465
35 Muhammad Ibn al-Mukarran Ibn Manzhur, Lisan al-Arab al-Muhith, (Beirut: Dar
Lisan al-Arab), Juz I, h. 581-582
atau gugurnya suatu perbuatan dari ketentuan syara‟ serta tidak adanya pengaruh perbuatan tersebut dalam
memenuhi tuntunan syari‟at. 37
Wudhu‟ : Berasal dari kata عضو yang berarti baik dan bersih, sedangkan menurut istilah berarti perbuatan yang menggunakan air untuk menyucikan anggota tubuh tertentu.38
Makanan yang dimasak : memasak daging dan selainnya, atau
membakar dengan sebenar-benar masak, yang
dimasak di atas kendil.39
Api : Cahaya panas yang ditimbulkan oleh benda atau
sesuatu yang terbakar, sesuatu yang bersifat panas.40
Penjelasan kata penting di atas akan memberikan gambaran, bahwa maksud dari judul skripsi ini adalah suatu kajian yang di teliti secara hati-hati tentang cara memahami hadis-hadis Nabi yang berhubungan dengan memakan makanan yang dimasak dengan sesuatu yang bersifat panas, apakah membatalkan wudhu‟ atau tidak.
37Ahsin W. Alhafidz, Kamus Fiqh, (Jakarta: Amzah, 2013), h. 31
38 Lahmuddin Nasution, loc. cit
39
Muhammad Ibn al-Mukarran Ibn Manzhur, op. cit., h. 566
40 Cormentyna Sitanggang dkk, Kamus Pelajar Sekolah Lanjutan Tingkat Atas,
E. Metode Penelitian
Bentuk penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research),
yaitu dengan mengumpulkan dan menelaah buku-buku dan sejenisnya yang berkaitan dengan pembahasan.
Dalam melacak hadis-hadis yang membicarakan tentang batalnya wudhu‟
karena memakan makanan yang dimasak dengan api penulis melacak ke kitab al-Mu‟jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadis al-Nabawiy. Setelah mendapatkan informasi dari sumber di atas selanjutnya penulis akan melacak ke kitab hadis
primer yaitu kutub al- tis‟ah. Berdasarkan informasi yang telah ditemukan, hadis
tersebut terdapat dalam kitab Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan
al-Tirmidzi, Sunan al-Nasa‟i, Sunan Ibnu Majah, Sunan al-Darimi, Muwatha‟ Imam
Malik, dan Musnad Ahmad bin Hanbal. Untuk penilaian kualitas keshahihan hadis
penulis mencukupkan penilaiannya terhadap penilaian ulama sebelumnya.
Selanjutnya dalam mengumpulkan dan memahami hadis penulis
menggunakan metode tematis (mawdhu‟i) yaitu memahami makna dan
menangkap maksud yang terkandung dalam hadis-hadis dengan cara mempelajari hadis lain yang terkait dalam tema pembicaraan yang sama dan memperhatikan
kolerasi masing-masingnya sehingga didapat pemahaman yang utuh.41
Jadi, dengan mawdhu‟i (tematik), penulis menghimpun hadis-hadis yang
berkaitan dengan permasalahan yang ditetapkan dari semua sumber asli yang
memuat hadis-hadis yang berkaitan dengan batalnya wudhu‟ karena memakan
makanan yang dimasak dengan api. Penulis mengambil beberapa hadis yang
41
dilanjutkan dengan membahas dan menganalisis kandungan atau pemahaman dari hadis tersebut sehingga menjadi pemahaman yang utuh.
Dalam memahami maksud dan makna hadis penulis berpedoman kepada
syarah kitab-kitab hadis yang ada hadis ini di dalamnya, seperti, al-Nawawi Syarh
Shahih Muslim, „Aun Ma‟bud Syarh Sunan Abu Daud, Hasyiah Syarh Sunan
Nasa‟i, Tuhfatul al-Ahwazi Syarh Sunan at-Tirmidzi, Hasyiah Syarh Sunan Ibnu
Majah, dan al-Muntaqa Syarh Muwatha‟ Imam Malik dengan mengkaji sabab
wurud hadisnya.
Adapun pemahaman hadis, penulis berpedoman pada kitab-kitab seperti
buku Edi Safri judul: Metode Pemahaman Hadis-hadis Mukhtalif, Maizuddin:
Metodologi Pemahaman Hadis dan lain-lain. Sumber primer dari penelitian
skripsi ini adalah kitab hadis dengan syarahnya dan kitab sabab al-wurud
al-hadis. Sedangkan sumber sekunder adalah semua kitab yang ada kaitannya dengan pembahasan skripsi ini.
Metode pemahaman hadis, penulis memakai metode pemahamam hadis secara tekstual yakni memahami pesan-pesan yang terkandung dalam matan hadis
berdasarkan makna zhahir atau makna mutabadirnya,42 memahami makna dan
maksud dalam hadis-hadis Nabi dengan cara bertumpu pada analisis teks hadis,43
dan pemahaman kontekstual yakni memahami hadis Rasulullah dengan memperhatikan dan mengkaji keterkaitannya dengan peristiwa atau situasi dan
kondisi yang melatarbelakangi munculnya hadis-hadis tersebut.44 Memahami
42
Edi Safri, Metodologi Pemahaman Hadis, (Dari Tekstual ke Kontekstual), dalam
jurnal al-Thib, vol. 1September 2012, h. 3.
43 Maizuddin, op. cit h. 87.
44
makna dan maksud yang terkandung dalam hadis-hadis dengan mempertimbangkan dan mengkaji konteksnya meliputi: konteks redaksional, konteks historis-sosiologis-antropologis, kapasitas Nabi akan menyampaikan
hadis, lawan bicara Nabi beserta ruang dan upaya kontekstualisasi.45
Selanjutkan penulisan berpedoman kepada buku Pedoman IAIN Imam Bonjol Padang, yang disusun oleh tim penyusun IAIN Imam Bonjol Padang tahun 2015.
F. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan dalam pembahasan skripsi ini, maka penulis membuat sistematika penulisan skripsi yang merupakan suatu cara untuk menyusun dan mengolah hasil penelitian dari data dan bahan yang disusun menurut urutan, sehingga menjadi susunan skripsi yang sistematis dalam beberapa bab yang sistematikanya sebagai berikut:
Bab I berisikan tentang latar belakang dilakukannya penelitian hadis-hadis
tentang batalnya wudhu‟ karena memakan makanan yang dimasak dengan api,
memperinci dan memperkecil ruang lingkup masalah dengan memberikan rumusan dan batasan masalah, menjelaskan defenisi operasional, mengungkap tujuan dan kegunaan penelitian, mengungkap metode penelitian, dan sistematika penulisan dari penelitian hadis ini.
Bab II membahas landasan teoritis hadis yang menjelaskan tentang metode mawdhu‟i dalam memahami hadis dan pendekatan hadis, yaitu metode
pemahaman hadis tekstual dan metode pemahaman hadis kontekstual, serta fiqh
45
al-hadis tentang hadis-hadis batalnya wudhu‟ karena memakan makanan yang dimasak dengan api.
Bab III merupakan deskripsi hadis-hadis tentang batal dan tidaknya wudhu‟ karena memakan makanan yang dimasak dengan api, kualitas dan kehujjahannya.
Bab IV merupakan hasil penelitian dan analisa penulis yang memaparkan
tentang hadis-hadis batal atau tidaknya wudhu‟ karena memakan makanan yang
dimasak dengan api dan kualitasnya, pemahaman para ulama terhadap hadis-hadis batalnya wudhu‟ karena memakan makanan yang dimasak dengan api
Bab V merupakan penutup yang terdiri dari kesimpulan dari hasil penelitian yang sekaligus merupakan jawaban pokok masalah disertai saran untuk