• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Aplikasi Protokol Caring Padapenerimaan Pasien Baru Terhadap Perilaku Caring Perawat di Ruang Rawat Inap RSU Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Aplikasi Protokol Caring Padapenerimaan Pasien Baru Terhadap Perilaku Caring Perawat di Ruang Rawat Inap RSU Medan"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Tinjauan pustaka dihubungkan dan ditelaah untuk menganalisis pengaruh aplikasi protokol Caring pada penerimaan pasien baru terhadap perilaku Caring

perawat.Adapun pokok bahasan dalam tinjauan pustaka ini meliputi: Definisi Caring perawat, Protokol Caring, Perilaku Caring perawat dalam praktik, cara mengukur perilaku Caring perawat, prosedur penerimaan pasien baru, sistematik review, dan kerangka konsep.

2.1. Definisi Caring

Caring secara umum dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk berdedikasi bagi orang lain, pengawasan dengan waspada, menunjukkan perhatian, perasaan empati pada orang lain dan perasaan cinta atau menyayangi

yang merupakan kehendak keperawatan (Potter & Perry, 2005).

Caring adalah suatu tindakan yang dilakukan dalam memberikan dukungan kepada individu secara utuh. Tindakan dalam perilaku Caring seharusnya

diajarkan sejak manusia lahir, masa perkembangan, masa pertumbuhan sampai dengan meninggal. Caring adalah esensi dari keperawatan yang membedakannya

(2)

Crips dan Taylor (2001) mengatakanCaringmerupakanfenomenauniversal yang mempengaruhi bagaimana seseorang berpikir,merasakan dan berperilaku

dalam hubungannya dengan orang lain. Selanjutnya Potter (2009) mengatakan bahwa Caring adalah perhatian sepenuh hati terhadap pasien. Caringadalah suatu

tindakan moral atas dasar kemanusiaan sebagai suatu cerminan perhatian,perasaan empati dan kasih saying kepada orang lain dilakukan dengan memberikan tindakan nyata kepedulian dengan meningkatkan kualitas dan kondisi kehidupan

orang tersebut. Caring adalah sentral untuk praktek keperawatan karena Caring merupakan suatu cara pendekatan yang dinamis dimana perawat bekerja untuk

lebih meningkatkan kepeduliannya kepada klien (Sartika&Nanda, 2011). Caringberarti mengandung tiga hal yang tidak dapat dipisahkan yaitu perhatian, tanggung jawab dan dilakukan dengan ikhlas ( Kozier & Erb, 1998 ).

Selanjutnya Marriner dan Tomey (1994) menyatakan bahwa Caring merupakan pengetahuan kemanusiaan, inti dari praktik keperawatan yang bersifat etik dan filosofis. Caring bukan semata-mata perilaku Caring adalah cara yang

memiliki makna dan memotivasi tindakan. Caring juga didefenisikan sebagai tindakan yang bertujuan memberikan asuhan fisik dan memperhatikan emosi

sambil meningkatkan rasa aman dan keselamatan klien (Carruth, 1999).

Griffin (1993) membagi konsep Caring menjadi dua bagian utama yaitu

konsep Caring yang berhubungan dengan sikap dan emosi perawat sementara konsep Caring yang lain berkaitan dengan aktivitas yang dilakukan perawat pada waktu melakukan fungi atau tugas keperawatannya. Griffin menggambarkan

(3)

mengharuskan perawat melakukan aktivitas peran yang spesifik. Dalam sebuah cara emosi tertentu pada pasien. Aktivitas tersebut menurut Griffin meliputi

kegiatan menolong, membantu, dan melayani orang lain yang mempunyai kebutuhan khusus. Proses ini dipengaruhi oleh hubungan interpersonal antara

perawat dengan pasien.

Watson (2007) menyatakan bahwaCaring merupakan landasan moral yang menyeluruh,sebuah komitmen yang tertinggi dan terdalam untuk tetap

melaksanakan integritas dan menjaga hubungan dengan pasien, keluarga, masyarakat dalam dunia keperawatan. Hsieh et al.(2005)dalam penelitiannya di

Taiwan melakukan wawancara mendalam kepada 14 orang pasien yang di rawat inap dan menemukan enam tema tentang Caring yaitu : mendampingi selama pasien baru masuk, perilaku yang profesional,komunikasi,empati, ketulusan hati

dan menghargai.Keenam tema ini kemudian disebut dengan “Caring code”

2.2. Protokol Caring

Protokol Caring dipertimbangkan sebagai dasar filosofi, moral, dan etik pada keperawatan yang berhubungan dengan profesi dan keilmuannya. Protokol ini memberikan suatu kerangka kerja, dimana pusat fenomena, seni, ilmu, humanitas, spiritual masuk ke dalam praktik keperawatan (Watson & Foster,

2003).MenurutTonges dan Ray (2011) menjelaskan protocol Caring suatu pendekatan untuk mengaktualisasikan teori Caring pada pelayanan kesehatan

(4)

Ada beberapa hasil penelitian dimana menguji teori Caring Watson. Baik dengan metode penelitian kuantitatif maupun kualitatif. Pipe et al. (2008)

menggunakan metode deskriptif untuk menggali hubungan harapan, kesejahteraan spiritual, dan kualitas hidup pada pasien yang sedang dirawat. Delaney dan

Barrere (2008) meneliti tentang pengaruh intervensi spiritual terhadap psikososial pada pasien jantung. Persky et al. (2008) menguji karakteristik caritas perawat dan efektivitas praktik dalam modelnya.

Teori Watson bekerja sebagai teori Human Caring dan ilmu dan seni Human Caring yang sudah diaplikasikan pada berbagai tempat praktik keperawatan. Brockopp et al.(2011) menjelaskan suatu penelitian dimana mempraktikkan model praktik dengan menggunakan teori Caring Watson. 10 faktor carractive dijelaskan dalam memberikan suatu kerangka kerja pada

aktivitas keperawatan di rumah sakit. Lukose (2011) mengembangkan suatu model praktik dengan teori Caring Watson yang dapat digunakan perawat

pendidik dalam mengajarkan kepada staf perawat dan mahasiswa.

2.3. Teori Caring Watson

Watson (2007) menyatakan bahwa ada tujuh asumsi dasar tentang science of Caringyaitu : 1) Caring hanya dapat didemonstrasikan dan dipraktikkan dengan efektif hanya secara interpersonal, 2) Caring terdiri dari carative factors yang menghasilkan kepuasan terhadap kebutuhan manusia, 3) Efektif Caring

(5)

menawarkan perkembangan dari potensi yang ada, dan disaat yang sama membiarkan seseorang untuk memilih tindakan yang terbaik bagi dirinya saat itu,

6) Caring lebih “healthogenic” daripada curing, dan 7) Praktik Caring merupakan sentral bagi keperawatan.

Prinsip inti dalam menerapkan perilaku Caring menurut Watson (2008,

dalam Watson Caring science institute, 2010) meliputi 5 hal yaitu menyatakan tujuan, menilai pola, membiasakan arus dinamis, pengalaman tidak terhingga,

meningkatkan kreativitas. Watson (1979) menyebutkan tiga komponen utama landasan filosofi Caring yaitu, Carative factors, Transpersonal Caring Relationship dan Caring Moment.

2.3.1. Faktor Carative

Aplikasi asumsi dasar tentang science of Caring dapat dilihat dalam penjabaran 10 (sepuluh) carative factor dalam Caring (clinical caritas processes)

(6)

Tabel 2.1. FaktorCarative

No Faktor Carative Kompetensi Caring

1 Pendekatan humanistik dan altruistik Mempraktikkan kehangatan dan ketenangan diri dan orang lain

2 Menanamkan sikap penuh harapan Perawat menjaga, mendorong, dan menghormati keyakinan dan harapan dan percaya kepada pasien

3 Kepekaan terhadap diri sendiri dan orang lain

Perawat peduli pada kenyamanan, pemulihan, kesejahteraan dan lebih sensitif pada kebutuhan lain

4 Hubungan saling percaya dan saling membantu

Untuk menjamin martabat manusia dan menjaga humanitas, perawat membentuk kesatuan dengan jiwa pasien

5 Meningkatkan menerima ekspresi perasaan positif dan negatif

Mempromosikan dan menerima ekspresi positif dan negatif sebagai pemulihan.

6 Menggunakan problemsolving dalam mengambil keputusan

Perawat sebaiknya menggunakan semua pengetahuan, keterampilan, empirisme, insting dan intuisinya

7 Meningkatkan proses pembelajaran dalam hubungan interpersonal

perawat mencari informasi pasien dan memahami dan signifikan informasi yang sediakan pada pasien,

8 Menciptakan lingkungan fisik,mental, sosiokultural dan spiritual

Mempromosikan kualitas pelayanan dan pemulihan, dukungan, perlindungan, dan mental, fisik, sosial, dan lingkungan spiritual yang diakui sebagai dukungan konvensial dengan melibatkan kenyamanan, privasi, keamanan, kebersihan, dan lingkungan estetika

9 Memberi bantuan dalam pemenuhan kebutuhan manusia

Memberikan perawatan holistik membantu dengan kepuasan, tidak hanya kebutuhan fisik tetapi juga kebutuhan psikologis–spiritual ketika menjaga martabat manusia dikenal sebagai kebutuhan

10 Terbuka pada ekstensial fenomenologikal dan dimensi spiritual

penyembuhan

(7)

2.3.2. Transpersonal Caring relationship

Watson mendefinisikan dan hubungan antar teori dalam memahami human

Caring dan spiritualitas. Ada beberapa asumsi hubungan antar teori diantaranya: 1) transpersonal Caring berada pada kesadaran dan energi pada waktu, ruang, dan fisik, 2) hubungan transpersonal Caring mengandung arti hubungan kesatuan jiwa

ke jiwa dalam momen Caring, mewujudkan semangat antar praktisi dan pasien dalam kesatuan yang utuh.

Hubungan transpersonal Caring dikembangkan oleh kesadaran caritas. Ini menyampaikan untuk berfokus pada kehidupan internal dan makna subjektif. Ide

transpersonal memberikan kebaikan dan ketenangan pada momen kehadiran dengan pemahaman momen Caring pada satu kehidupan. Ini mempengaruhi pada perawat-pasien dan menghubungkan pada area umum sehingga momen tersebut

hidup (Watson, 2008).

2.3.3. Caring moment

Komponen utama pada teori transpersonal Caringdan kesadaran caritas

sudah menegaskan yang akan dimanifestasikan dan menjadi bagian individu yang mengalaminya. Ini merujuk pada momen Caring. Momen Caring dalam mengambil tempat ketika perawat yang berkaitan dengan semangat dengan

lainnya, personalitas, fisik, penyakit, perilaku yang dimunculkan. Caritas nurse dalam momen Caring digunakan pada keterampilan, pengetahuan, sumber

(8)

2.4. Perilaku CaringPerawat dalam Praktik

Perilaku Caringperawat adalah sikap, keterampilan, dan pengetahuan perawat dalam pengasuhan pasien dan keluarga yang berfungsi untuk mempengaruhi secara positif, memberi dukungan, untuk meningkatkan asuhan

keperawatan (Pryzby, 2004). Kualitas tinggal pasien di Rumah Sakit bergantung pada interaksi yang baik antara dokter, perawat, ahli farmasi, teknisi dan pasien. Kelompok-kelompok yang berkinerja tinggi adalah penting terhadap hasil pasien

yang baik (Griffin, 2013).

Tingkat kepuasan pasien dapat dinilai dari bagaimana ia menggunakan

sistem pelayanan kesehatan pasien. Pasien merasa semakin puas saat perawat melakukan tindakan Caring(Setiawan, 2013). Ada beberapa hal yang mendasar bagi pasien untuk menilai perilaku perawat,yaitu bagi perawat diJepang

mendengarkan pasien berbicara pada perawat, menjelaskan apa yang akan dilakukan dan memperlakukan pasien sebagai pribadi yang utuh adalah sikap perawat yang Caring terhadap pasien (Mizuno & Ozawa, 2005).

Menurut Finch (2008), ada tiga hal penting dan mendasar bagi pasien tentang perawat yang Caring, yaitu perilaku Caring diekspresikan perawat

terhadap pasien secara kekeluargaan, memperlakukan pasien secara utuh, ikhlas dan ini diperlihatkan pada saat memenuhi kebutuhan pasien dan perduli pada

kebutuhan pasien. Valizadeh dan Zamanzadeh (2011) mengatakan pemantauan dan tindak lanjut, ketersediaan perawat, kemampuan perawat untuk memprediksi kebutuhan pasien, memberikan penjelasan kepada pasien adalah perilakuCaring

(9)

saat berbicara, mempunyai skill dalam melakukan tindakan dan menyebut nama pasien.Perilaku Caring yang paling penting secara keseluruhan adalah advokasi dan pendidikan kesehatan kepada pasien (Ani & Mandalia, 2012)

Para responden dalam penelitian Brunton dan Bearman (2000) memberikan jawaban untuk perilaku Caring perawat bahwa memandang manusia

seutuhnya, respek, memiliki sensitivitas, berbicara dengan pasien dan memelihara rasa percaya. Nyberg (1998) mengatakan bahwa ada lima atribut yang harus

dimiliki oleh seorang perawat agar dapat menunjukkan perilaku Caring secara terus menerus diantaranya 1) komitmen (Commitment), perilaku Caring dimulai

pada saat seseorang tertarik kepada orang lain. Agar ketertarikan itu dapat berkembang menjadi rasa pengertian dan kepercayaan dibutuhkan waktu dan kesediaan dari si penerima perhatian. Berperilaku Caring tidak selalu

menyenangkan kadang dapat menyebabkan frustasi dan tidak selalu mudah, sehingga komitmen merupakan inti dari perilakuCaring. Perilaku Caring perawat

yang tidak konsisten akan merusak kepercayaan pasien sehingga sulit baginya untuk menerima Caring dari perawat lainnya, 2) Harga diri (Self-Worth), bagian kedua dari atribut Caring menekankan kepada kebutuhan seorang administrator

keperawatan untuk memperoleh perasaan nilai diri, self understanding, kepercayaan diri guna menghasilkan pekerjaan yang berkualitas dan konsisten,

(10)

kehidupan pribadinya dan memahami potensi dirinya sebagai orang yang mampu memberikan sesuatu yang berharga kepada orang lain melalui proses Caring, 3)

Prioritas, atribut yang ketiga adalah kemampuan perawat untuk dapat memprioritaskan tugas, sehingga ia dapat membagikan energi dan perhatiannya yang sama kepada semua pasiennya, 4) Keterbukaan (Openess), menjadi pribadi

yang terbuka tidak semudah mengatakannya. Keterbukaan berarti bersedia mengungkapkan sisi kemanusiaan sendiri, pikiran, harapan, ketakutan, prioritas.

Aspek penting dari keterbukaan adalah respon umpan balik. Jika ekspresi yang diberikan tidak menyenangkan maka keterbukaan akan ditekan tetapi jika

ekspresinya menghargai informasi yang diberikan dan nyaman dengan penyelesaian masalah yang diberikan maka keterbukaan akan dilanjutkan, 5) Ability to bring out Potential. Atribut terakhir dari peningkatan perilaku Caring adalah kemampuan untuk mengeluarkan potensi yang ada. Memberikan motivasi kepada orang lain adalah proses dasar untuk dapat mengidentifikasi potensi yang

ada pada dirinya.

2.5. Pengukuran Perilaku Caring Perawat

Perilaku Caring perawat dapat diukur dengan beberapa alat ukur atau tools yang telah diciptakan oleh peneliti. Pengukuran perilaku Caring perawat sangat

penting dilakukan agar dapat secara terus menerus diperbaiki karena Caring adalah inti dari keperawatan (Leininger,1998), dan juga ide moral dari

(11)

pengukuran tingkat kepuasan pasien ini lebih sensitif hasilnya karena pasien adalah individu yang langsung menerima perilaku Caring perawat (Rego, 2008).

Beberapa alat ukur formal yang dipakai untuk mengukur perilaku Caring perawat berdasarkan persepsi pasien adalah kuesioner Care-Q yang digunakan oleh (Vahid, 2010), (Mayasuki, 2005), Caring Behaviour Inventory (CBI) yang

digunakan oleh (Forough, 2007), (Ani, 2012), (Ismail 2012), Caring Assesment Tool digunakan oleh (Duffy, 2001), Caring Profesional Scale yang digunakan (Swanson, 2000).

2.6. Prosedur Penerimaan Pasien Baru di Ruang Rawat Inap

Prosedur merupakan tatanan atau tahapan yang harus dilalui dalam proses

kerja tertentu, yang dapat diterima oleh seorang yang berwenang atau yang bertanggung jawab untuk mempertahankan tingkat penampilan atau kondisi tertentu sehingga kegiatan dapat diselesaikan secara efektif dan efisien (Depkes

RI, 1995). Pasien yang masuk ke rumah sakit dan menjalani rawat inap adalah pasien dengan masalah kesehatan yang membutuhkan perhatian khusus, dalam

usahanya mencari perawatan, perilaku Caring perawat yang profesional sangat diharapkan oleh pasien .

Pada penelitian Lee-hsieh (2005) menemukan bahwa pada saat pasien baru

masuk ke ruang rawat inap perilaku perawat yang tidak Caring membuat ia tidak nyaman, seperti melakukan pengkajian dan vital sign padahal pasien belum

(12)

carative dapat dijadikan sebagai standar Caring. Dengan menerapkan factor carative dalam uraian tugas dan dalam melakukan evaluasi terhadap perilaku maka perawat dapat memahami bahwa Caring adalah bagian yang sangat penting dalam pekerjaannya.

2.7. Riset Terkait Penerapan Protokol Caringdalam Pelayanan

Keperawatan

Ada beberapa hal yang mendasar bagi pasien untuk menilai perilaku Caring perawat, yaitu bagi perawat di Jepang mendengarkan pasien berbicara pada

perawat, menjelaskan apa yang akan dilakukan dan memperlakukan pasien sebagai pribadi yang utuh adalah sikap perawat yang Caring terhadap pasien

(Mizuno & Ozawa, 2005). Menurut Finch (2008), ada tiga hal penting dan mendasar bagi pasien tentang perawat yang Caring yaitu : perilaku Caring diekspresikan perawat terhadap pasien secara kekeluargaan, memperlakukan

pasien secara tulus, iklas dan ini diperlihatkan pada saat memenuhi kebutuhan pasien dan perduli pada kebutuhan pasien.

Valizadeh dan Zamanzadeh (2011) mengatakan pemantauan dan tindak lanjut, ketersediaan perawat, kemampuan perawat untuk memprediksi kebutuhan pasien, memberikan penjelasan kepada pasien adalah perilaku Caring perawat.

Perilaku Caring yang paling penting bagi pasien adalah memberi respek saat berbicara, mempunyai skill dalam melakukan tindakan dan menyebut nama

(13)

perilaku Caring perawat bahwa memandang manusia seutuhnya, respek, memiliki sensitivitas, berbicara dengan pasien dan memelihara rasa percaya.

2.8. Landasan Teoritis

Berdasarkan uraian diatas maka teori yang digunakan dalam penelitian ini

adalah teori Caring Watson Carative

factorbukanmerupakankumpulankeahlian/skill sematatetapimerupakanfaktor-faktor yang memberikankontribusinilaipadahubunganCaringbagi para perawat. Carative factormenggambarkancarauntukmengaplikasikan Caring bukanbagaimanamelakukansesuatu.

ImplementasifaktorCaringdapatmembantuperawatmelakukanperubahandarisebua hkeahlian yang memuatkontakpromosidanbirokrasimatimenjadisebuahkeahlian

yang memuatkontakpromosidanpengembanganpekerjaanyang professional. Denganmenerapkanfactor

carativedalamuraiantugasdandalammelakukanevaluasiterhadapperilakumakapera

watdapatmemahamibahwaCaringadalahbagian yang sangatpentingdalampekerjaannya. Faktor-faktorcarativedapat pula

dijadikansebagaistandarCaring, sistem yang akurat, bentukdokumentasidanalatquality assurance (Watson, 2004).

Caringbukanlahsesuatu yang dapatdiajarkan, tetapimerupakanhasildankebudayaan, nilai-nilai,

(14)

berhubungandenganCaringadalahkehadiran, sentuhankasihsayang, mendengarkan, memahamiklien, Caringdalam spiritual danperawatankeluarga.

2.9. Kerangka Konsep

Didasarkan pada 10 faktor carativeWatson : 1. Pembentukansistemnilaihumanistik

Protokol caring Perilaku caring perawat

Gambar

Tabel 2.1. FaktorCarative

Referensi

Dokumen terkait

S : Jika Anda SERING melakukan hal seperti yang ada pada pernyataan.. J : Jika Anda JARANG melakukan hal seperti yang ada

Jumlah populasi yang penulis tentukan dalam penelitian ini adalah jumlah seluruh masyarakat yang terdaftar mengurus perizinan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Surai Izin Usaha

Selanjutnya, untuk 51 pernyataan yang berkategori B (baik), peneliti hanya membahas untuk nilai indeks kepuasan mahasiswa yan berada pada indeks terendah 0.045 -

Penelitian ini menggunakan tiga macam metode pengumpulan data, yaitu: (1) metode observasi dilakukan untuk mengetahui kelengkapan sarana dan prasarana di sekolah

Skripsi yang berjudul: Analisis Penegakan Hukum Dalam Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang; (Studi Kasus Putusan Nomor: 1273lPid.Sus/2015/PN.Jkt. Tim.)ini

Setelah melihat bahwa Negara terbukti masih lemah dalam penanganan hukum kasus tindak pidana perdagangan orang, maka kemungkinan besar yang terjadi, menjadi

Penulis memiliki beberapa saran sebagai berikut: melakukan sosialiasi terhadap pihak-pihak yang terkait dalam penggunaan lapangan penumpukan container yaitu

internet maupun pendapat-pendapat terkait dengan materi yang akan diteliti. Sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder yang. perolehan