• Tidak ada hasil yang ditemukan

Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik Melalui Metode Resitasi Pada Mata Pelajaran PKn di Kelas 2 SDN Inpres Bolonan | Bonenehu | Jurnal Kreatif Tadulako Online 3954 12608 1 PB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik Melalui Metode Resitasi Pada Mata Pelajaran PKn di Kelas 2 SDN Inpres Bolonan | Bonenehu | Jurnal Kreatif Tadulako Online 3954 12608 1 PB"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 5 No. 9 ISSN 2354-614X

1

Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik Melalui

Metode Resitasi Pada Mata Pelajaran PKn

di Kelas 2 SDN Inpres Bolonan

Indriani R. Bonenehu, Bonifasius Saneba, dan Hasdin Mahasiswa Program Guru Dalam Jabatan

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako

ABSTRAK

Permasalahan dalam penelitian ini adalah “Apakah prestasi belajar peserta

didik dapat ditingkatkan melalui Metode Resitasi pada mata pelajaran PKn di Kelas 2 SDN Inpres Bolonan Kecamatan Totikum Kabupaten Banggai Kepulauan? Adapun tujuan penelitian ini untuk meningkatan prestasi belajar peserta didik melalui Metode Resitasi pada mata pelajaran PKn di Kelas 2 SDN Inpres Bolonan Kecamatan Totikum Kabupaten Banggai Kepulauan. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan di SDN Inpres Bolonan Kecamatan Totikum Kabupaten Banggai Kepulauan. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas 2 sebanyak 8 orang. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data yaitu: Observasi dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan mereduksi data, menyajikan data dan menyimpulkan data. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini, yaitu: (1) Guru memberikan tugas kepada murid; (2) Pelajar mempelajari atau mengerjakan tugas; (3) Pelajar mempertanggungjawabkan atau melaporkan hasil usahanya, mempelajari atau mengerjakan tugas; (4) guru atau guru bersama pelajar menilai hasil- hasil yang telah dicapai; (5) Pelajar atau pelajar bersama guru mengecek kebenaran atau kesalahan tertentu (dari sumber asil) atau mengulang mempelajari atau mengerjakan tugas. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan bahwa terjadi peningkatan prestasi belajar siswa dengan menggunakan metode resitasi dalam pembelajaran PKn di Kelas 2 SDN Inpres Bolonan Kecamatan Totikum Kabupaten Banggai Kepulauan. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya peningkatan pencapaian KKM yang diperoleh siswa dari siklus I ke siklus II, yaitu pada siklus I mencapai 25% dan pada siklus II mencapai 87,5%. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan metode resitasi dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas 2 SDN Inpres Bolonan Kecamatan Totikum Kabupaten Banggai Kepulauan.

Kata Kunci: Prestasi Belajar; Metode Resitasi I. PENDAHULUAN

(2)

Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 5 No. 9 ISSN 2354-614X

2 materi pelajaran serta keadaan siswa yang meliputi kemampuan, kecepatan belajar, minat, waktu yang dimiliki dan keadaan sosial ekonomi siswa sebagai obyek. Sesuai yang dikatakan oleh Rostiyah bahwa: “Setiap jenis metode pengajaran harus sesuai atau tepat untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Jadi untuk tujuan yang berbeda guru harus mengadakan teknik penyajian yang berbeda

sekaligus untuk mencapai tujuan pengajarannya” (Rostiyah, 1989:2).

Salah satu metode yang diterapkan dalam melibatkan siswa secara aktif, guna menunjang kelancaran proses pembelajaran adalah menggunakan metode resitasi. Dalam metode resitasi diharapkan mampu memancing keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar. Hal ini disebabkan karena siswa dituntut untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru dan harus dipertanggungjawabkan (Nana Sudjana, 1989: 82). Dalam keberhasilan proses pembelajaran di samping tugas guru, maka siswa turut memegang peranan yang menentukan dalam pencapaian tujuan pendidikan. Sebab bagaimanapun baiknya penyajian guru terhadap materi pelajaran, akan tetapi siswa tidak mempunyai perhatian dalam hal belajar maka apa yang diharapkan sukar tercapai. Menurut Slameto (1990:88)

sebagai berikut: “Agar siswa berhasil dalam belajarnya, perlulah mengerjakan

tugas dengan sebaik-baiknya. Tugas itu mencakup mengerjakan PR, menjawab soal latihan buatan sendiri, soal dalam buku pegangan, tes/ulangan harian,

ulangan umum dan ujian”.

Pembelajaran dengan metode mengajar yang sesuai dengan materi yang diajarkan akan meningkatkan prestasi belajar siswa. Sebagai contoh adalah pemberian tugas (resitasi) pada setiap akhir pelajaran dengan harapan aktifitas belajar siswa dapat ditingkatkan, sehingga prestasi belajar siswa dapat pula meningkat. Suryobroto (1986: 3) menegaskan bahwa “metode pengajaran adalah cara-cara pelaksanaan dari pada proses pengajaran atau soal bagaimana tekniknya

suatu bahan pelajaran diberikan di sekolah”.

(3)

Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 5 No. 9 ISSN 2354-614X

3 untuk mengerjakan sesuatu di luar jam pelajaran. Pelaksanaannya bisa di rumah,

di perpustakaan, di laboratorium, dan hasilnya dipertanggungjawabkan”.

Sedangkan Slameto (1990: 115) mengemukakan: “Metode resitasi adalah cara penyampaian bahan pelajaran dengan memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di luar jadwal sekolah dalam rentangan waktu tertentu dan hasilnya harus dipertanggungjawabkan kepada guru.

Pemberian resitasi merupakan salah satu alternatif untuk lebih menyempurnakan penyampaian tujuan pembelajaran khusus. Hal ini disebabkan oleh padatnya materi pelajaran yang harus disampaikan sementara waktu belajar sangat terbatas di dalam kelas. Dengan banyaknya kegiatan pendidikan di sekolah dalam usaha meningkatkan mutu dan frekuensi isi pelajaran, maka sangat menyita waktu siswa utnuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar tersebut. Rostiyah

(1989:32) menyatakan bahwa “untuk mengatasi keadaan seperti di atas, guru

perlu memberikan tugas-tugas di luar jam pelajaran”.

Pemberian resitasi kepada siswa untuk diselesaikan di rumah, di laboratorium maupun diperpustakaan cocok dalam hal ini, karena dengan demikian akan merangsang siswa untuk melakukan latihan-latihan atau mengulangi materi pelajaran yang baru didapat di sekolah atau sekaligus mencoba ilmu pengetahuan yang telah dimilikinya, serta membiasakan diri siswa mengisi waktu luangnya di luar jam pelajaran. Dengan sendirinya telah berusaha memperdalam pemahaman serta pengertian tentang materi pelajaran. Teori Stimulus-Respon (S – R) mendukung dalam hal ini yaitu: prinsip utama belajar adalah pengulangan. Bila S diberikan kepada obyek maka terjadilah R. Dengan latihan, asosiasi antara S dan R menjadi otomatis. Lebih sering asossosiasi antara S dan R digunakan makin kuatlah hubungan yang terjadi, makin jarang hubungan S dan R dipergunakan makin lemahlah hubungan itu (Herman Hudoyo, 1990: 5).

Guru dalam memberikan tugas kepada siswa, diharuskan memeriksa dan memberi nilai. Rostiyah (1989: 113) mengemukakan bahwa “dengan mengevaluasi tugas yang diberikan kepada siswa, akan memberi motivasi belajar

(4)

Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 5 No. 9 ISSN 2354-614X

4 Sumber lain menyebutkan langkah-langkah dalam pembelajaran dengan menggunakan metode resitasi adalah sebagai berikut:

Langkah pertama:

Guru memberikan tugas kepada murid Langkah kedua:

Pelajar mempelajari atau mengerjakan tugas Langkah ketiga :

Pelajar mempertanggungjawabkan atau melaporkan hasil usahanya mempelajari atau mengerjakan tugas

Langkah keempat:

guru atau guru bersama pelajar menilai hasil- hasil yang telah dicapai Langkah kelima :

Pelajar atau pelajar bersama guru mengecek kebenaran atau kesalahan tertentu (dari sumber asil) atau mengulang mempelajari atau mengerjakan tugas (Ign S Ulih Bukit Karo Karo, 1984: 40).

Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan peneliti di lapangan, diperoleh data bahwa prestasi belajar siswa Kelas II SDN Inpres Bolonan pada mata pelajaran PKn masih rendah, yaitu 54 atau belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal yang ditetapkan, yaitu 75.

Hal yang biasa terjadi dalam proses belajar tentu ada yang berhasil, sukses dan tidak mengalami kesulitan untuk mencapai tujuan, ada yang gagal dan mengalami hambatan untuk mencapai tujuan. Ukuran keberhasilan dalam proses belajar diberikan istilah prestasi belajar. Menurut Syamsu Mappa (1983:2), prestasi belajar adalah: “Hasil belajar yang dicapai siswa dalam suatu mata pelajaran tertentu dengan menggunakan tes standar sebagai alat pengukur

keberhasilan murid”.

Sedangkan Umar Tirtaraharja (1981:19) mengemukakan bahwa “Prestasi

belajar adalah taraf kemampuan aktual yang bersifat terukur, berupa pengalaman ilmu pengetahuan, keterampilan, sikap, interes yang dicapai oleh murid dari apa

(5)

Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 5 No. 9 ISSN 2354-614X

5 II. METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan dalam hal ini adalah jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan secara bersiklus. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini mengacu pada modifikasi spiral yang dicantumkan Kemmis dan McTagart (Wiriatmadja, 2005: 66). Tiap siklus dilakukan beberapa tahap, yaitu: 1) perencanaan tindakan; 2) pelaksanaan tindakan; 3) observasi; 4) refleksi. Tahap-tahap tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Keterangan:

0. Orientasi 1. Rencana 2. Tindakan 3. Observsi 4. Refleksi

Gambar 1. Diagram Alur Disain Penelitian Diadaptasi dari Model Kemmis dan McTagart (Wiriatmadja, 2005: 66).

Penelitian ini dilaksanakan di Kelas 2 SDN Inpres Bolonan Kecamatan Totikum Kabupaten Banggai Kepulauan pada Tahun Ajaran 2014/2015, yaitu mulai tanggal 15 September 2014 sampai dengan 21 Oktober 2014. Subyek penelitian ini adalah siswa Kelas 2 SDN Inpres Bolonan Kecamatan Totikum Kabupaten Banggai Kepulauan yang berjumlah 8 (delapan) orang dan Guru Kelas.

Pengumpulan data ditempuh dengan tiga cara yaitu :

a. Tes untuk mengetahui hasil belajar PKn siswa yang terdiri dari tes awal dan tes yang diberikan setiap akhir tindakan (siklus).

(6)

Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 5 No. 9 ISSN 2354-614X

6 mengetahui aktivitas siswa dan guru pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung.

Indikator keberhasilan tindakan dapat dilihat dari observasi selama pembelajaran yakni prestasi belajar yang diperoleh siswa, aktivitas guru dan siswa di dalam kelas selama proses pembelajaran. Penelitian ini dinyatakan berhasil jika prestasi belajar siswa secara klasikal telah mencapai KKM, yaitu 70%, dan aktivitas siswa dan guru telah mencapai kategori baik.

Teknik analisis data yang digunakan ada 2 (dua) macam, yaitu, teknik analisis data kualitatif dan teknik analisis data kuantitatif.

1) Analisis Data Kualitatif

Analisis data dalam penelitian ini dilakukan sesudah pengumpulan data. Adapun tahap-tahap kegiatan analisis data kualitatif menurut Muchlis (2011:89) adalah: Mereduksi data, Penyajian data, dan Verifikasi/Penyimpulan

2) Analisis Data Kuantitatif

Analisis data kuantitatif dilakukan setelah seluruh data terkumpul yaitu data yang diperoleh dari tes awal dan tes akhir tindakan. Data tersebut kemudian diolah dan dinyatakan dalam bentuk persentase yang dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut (sumber: KKM SDN Inpres Bolonan).

a. Daya Serap Individu

DSI = ∑

∑ �

x 100%

Keterangan :

DSI : Daya Serap Individu S : Skor yang diperoleh siswa Sm : Skor maksimal

Siswa dikatakan tuntas belajar secara individu jika persentase daya serap

individu ≥ 75%

b. Ketuntasan Belajar Klasikal

KBK = ∑

∑ x 100%

(7)

Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 5 No. 9 ISSN 2354-614X

7 KBK : Ketuntasan Belajar Klasikal

Rt : Jumlah siswa yang tuntas Rs : Jumlah Siswa

Suatu kelas dinyatakan tuntas secara klasikal jika ≥ 80% siswa telah

tuntas.

c. Daya Serap Klasikal

DSK = ∑

∑ x 100%

Keterangan :

DSK : Daya Serap Klasikal X : Skor Total Klasikal Y : Skor Ideal Seluruh Siswa

Suatu kelas dinyatakan tuntas jika daya serap klasikal mencapai ≥ 80%.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

Tahap Orientasi

Sebelum kegiatan penelitian dilaksanakan, peneliti mengadakan studi pendahuluan pada hari Selasa, tanggal 16 September 2014. Kegiatan yang dilakukan pada studi pendahuluan ini adalah mengadakan pertemuan dengan kepala sekolah dan guru Kelas 2 SDN Inpres Bolonan. Dalam pertemuan tersebut, peneliti menyampaikan maksud dan tujuan peneliti untuk melakukan penelitian di Kelas 3 SDN Inpres Bolonan. Selanjutnya, Kepala Sekolah memberikan wewenang kepada guru Kelas 2 SDN Inpres Bolonan untuk membantu dan bekerja sama dengan peneliti sesama melaksanakan penelitian.

(8)

Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 5 No. 9 ISSN 2354-614X

8 nilai ketuntasan belajar dan tujuh orang siswa lainnya berada di bawah ketuntasan minimal.

Hasil Pelaksanaan Tindakan Siklus I 1. Observasi Terhadap Aktivitas Guru

Adapun hasil observasi aktivitas guru pada siklus I dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 1. Lembar Observasi Aktivitas Guru Siklus I

No Aspek yang dinilai

Penilaian

1 2 3 4

I Kegiatan awal

1. Apersepsi

2. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

3. Memotivasi siswa

√ √ √

II Kegiatan inti

1. Menjelaskan materi tentang rasa

tanggungjawab

2. Membagi kelas menjadi lima kelompok

untuk mengadakan diskusi dengan tema rasa

tanggungjawab dalam kehidupan sehari-hari.

3. Mengadakan presentasi hasil diskusi

kelompok

4. Mengajak siswa menyimak materi tentang

rasa tanggungjawab

5. Melakukan tanya jawab dengan siswa

6. Memberikan tugas kepada siswa untuk

melakukan observasi dan tanya-jawab

kepada tokoh masyarakat atau orang-orang di

rumah mengenai prasa tanggungjawab

2. Antusias guru selama pembelajaran

(9)

Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 5 No. 9

2. Observasi terhadap aktifitas siswa

Untuk lebih jelasnya mengenai hasil observasi aktivitas siswa dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Lembar Observasi Aktivitas Siswa Siklus I

No Aspek yang diamati

Penilaian

1 2 3 4

I Kegiatan awal

1. Memperhatikan penjelasan guru tentang rasa

tanggungjawab.

2. Menjawab pertanyaan guru atau bertanya √

II Kegiatan inti

1. Memahami materi yang disajikan guru

2. Kesiapan dan kesanggupan siswa dalam

belajar

3. Kerjasama yang ditunjukan siswa dalam

menyelesaikan permasalahan yang ada serta mampu menyelesaikannya.

4. Tingkat motivasi dan minat belajar

5. Kemampuan mengeluarkan pendapat

1. Menyimpulkan materi rasa tanggunjawab

2. Menyelesaikan tes individu

√ √

IV Pengamatan suasana kelas

o Siswa antusias

(10)

Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 5 No. 9 ISSN 2354-614X

10

1. Kurang

2. Cukup

3. Baik

4. Sangat baik

Data berikut yang perlu disajikan pada siklus I adalah data hasil evaluasi tindakan. Berdasarkan pengamatan dari teman sejawat terhadap peneliti dan siswa selama pembelajaran berlangsung menunjukan bahwa aktifitas yang dilakukan guru dan siswa berjalan dengan baik. Kegiatan siswa dalam menyelesaikan soal latihan dalam pembelajaran berlangsung dengan baik pula. Meskipun masih terdapat beberapa siswa yang kurang aktif dalam memperhatikan penjelasan guru pada proses pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes akhir siklus I sebagai berikut:

Tabel 3. Hasil Tes Siklus I

No Nama Siswa Siklus I

Angka %

1. Labidi Jufri 6 60

2. Argiansyah 5,9 59

3. Fadli Priansyah 6,5 65

4. Muh. Abdi Fitra 8,5 85

5. Nur Afiyanti 6,9 69

6. Nurbiana Yuani 6,9 69

7. Sri Wahyuni 7,4 74

8. Zhafira Nadia Putri 7,5 75

Rata-rata 6,95 69,5

Data ini menunjukkan bahwa pada siklus I siswa belum optimal dan belum serius dalam melakukan proses pembelajaran.

(11)

Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 5 No. 9 ISSN 2354-614X

11 Tabel 4. Lembar Observasi Aktivitas Guru Siklus II

No Aspek yang dinilai

Penilaian

1 2 3 4 I Kegiatan awal

1. Apersepsi

2. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

3. Memotivasi siswa √

II Kegiatan inti

1. Menjelaskan materi tentang rasa

tanggungjawab

2. Membagi kelas menjadi lima kelompok

untuk mengadakan diskusi dengan tema rasa tanggungjawab

3. Mengadakan presentasi hasil diskusi

kelompok

4. Mengajak siswa menyimak materi tentang

rasa tanggungjawab

5. Melakukan tanya jawab dengan siswa

6. Memberikan tugas kepaada siswa untuk

melakukan observasi dan tanya jawab kepada tokoh masyarakat atau orang-orang di rumah mengenai rasa tanggungjawab

2. Antusias guru selama pembelajaran

berlangsung disimpulkan bahwa kegiatan guru sudah berjalan dengan baik karena ternyata banyak kegiatan yang dilakukan guru dinilai sangat baik dan tidak terdapat nilai cukup atau kurang.

2. Observasi Terhadap Aktifitas Siswa

(12)

Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 5 No. 9 ISSN 2354-614X

12 Tabel 5. Lembar Observasi Aktivitas Siswa Siklus II

No Aspek yang dinilai

Penilaian

1 2 3 4

I Kegiatan awal

1. Memperhatikan penjelasan guru

2. Menjawab pertanyaan guru atau bertanya √

II Kegiatan inti

1. Memahami materi yang disajikan guru

2. Kesiapan dan kesanggupan siswa dalam

belajar

3. Kerjasama yang ditunjukan dalam

menyelesaikan permasalahan yang ada serta mampu menyelesaikannya.

4. Tingkat motivasi dan minat belajar

5. Kemampuan mengeluarkan pendapat

IV Pengamatan suasana kelas

o Siswa antusias

Kegiatan siswa dalam mengikuti pembelajaran siklus II sudah menunjukan hasil memuaskan. Hal ini terbukti dengan hasil yang dicapai terutama mengenai aktifitas siswa dalam mengikuti pembelajaran sudah baik bahkan sebagian besar akifitas siswa sangat baik.

(13)

Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 5 No. 9 ISSN 2354-614X

13 Tabel 7. Hasil Tes Siklus II

No Nama Siswa Siklus II

Angka %

1. Labidi Jufri 8,5 85

2. Argiansyah 6,5 65

3. Fadli Priansyah 8,7 87

4. Muh. Abdi Fitra 10 100

5. Nur Afiyanti 8,6 86

6. Nurbiana Yuani 9,3 93

7. Sri Wahyuni 9,5 95

8. Zhafira Nadia Putri 10 100

Rata-rata 8,88 88,8

Data ini menunjukan bahwa pada siklus II siswa sudah optimal dan serius dalam melakukan proses pembelajaran.

Pembahasan

Berdasarkan hasil pengamatan peneliti pada siklus I, melihat pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam menerapkan metode resitasi masih sangat perlu diperbaiki dan ditingkatkan. Secara umum observasi terhadap aktivitas guru dan siswa berdasarkan langkah-langkah metode resitasi dan hal keterlaksanaan RPP kategori yang pengamat berikan pada siklus I masih dalam kategori cukup. Dari 11 aspek penilaian terhadap aktivitas guru dalam menerapkan metode resitasi, hampir semua aspek masih perlu ditingkatkan, yaitu:

Aspek pertama, Apersepsi. Dalam memberikan apersepsi di siklus I, guru belum melakukannya dengan baik, misalnya belum menelusuri pemahaman awal siswa tentang materi yang diajarkan yaitu tentang tanggung jawab. Namun, di siklus II apersepsi sudah dilakukan guru dengan baik, penelusuran kemampuan awal siswa dilakukan sebelum memulai pembahasan materi.

(14)

Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 5 No. 9 ISSN 2354-614X

14 Aspek ketiga, memotivasi siswa. Pada siklus I Guru belum memotivasi siswa dengan baik, misalnya belum merangsang siswa untuk rajin belajar. Pada saat siklus II hal itu telah dilakukan dengan cara guru merangsang atau memotivasi siswa untuk senantiasa belajar dengan giat karena itu sangat berguna bagi siswa itu sendiri di masa depan mereka.

Aspek keempat, menjelaskan materi tentang rasa tanggungjawab. Pada siklus I, guru dalam menjelaskan materi masih cenderung monoton dengan menggunakan ceramah saja tanpa diselingi dengan tanya jawab dan penugasan. Namun, pada siklus II, ceramah yang dilakukan oleh guru di kelas tidak lagi didominasi dengan ceramah tapi guru juga melakukan tanya jawab dan memberi penugasan yang dikerjakan oleh siswa di kelas.

Aspek kelima, membagi kelas menjadi lima kelompok untuk mengadakan diskusi dengan tema rasa tanggungjawab. Pada waktu melakukan siklus I, pembagian kelompok yang dilakukan oleh guru belum memperhatikan kebergaman yang dimiliki siswa, baik itu dari aspek kemampuan, jenis kelamin dan karakter siswa. Namun di siklus II, pembagian kelompok yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran telah memperhatikan keberagaman yang ada pada siswanya, yaitu dengan cara membagi kelompok siswa yang memiliki kemampuan tinggi dibaur dengan teman siswanya yang memiliki kemampuan rendah.

Aspek keenam, mengadakan presentasi hasil diskusi kelompok. Presentase kelompok yang dilakukan pada siklus I hanya dilakukan oleh perwakilan kelompok atau hanya ketua kelompoknya. Hal tersebut kemudian diperbaiki pada siklus II dengan menghadirkan di depan semua anggota kelompok untuk presentase.

(15)

Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 5 No. 9 ISSN 2354-614X

15 berbicara dengan teman di sampingnya pada waktu guru sedang menjelaskan materi.

Aspek kedelapan, melakukan tanya jawab dengan siswa. Seperti yang telah dijelaskan pada beberapa aspek sebelumnya, disiklus II guru di saat menjelaskan materi juga melakukan tanya jawab dengan siswa terkait materi yang belum terlalu dimengerti oleh siswa, di mana hal tersebut belum dilakukan pada siklus I.

Aspek kesembilan, memberikan tugas kepaada siswa untuk melakukan observasi dan tanya jawab kepada tokoh masyarakat atau orang-orang di rumah mengenai rasa tanggungjawab. Pada siklus I, aspek ini belum dilakukan secara maksimal sehingga di siklus II diperbaiki dengan menugaskan kepada siswa untuk melakukan pengamatan dan tanya jawab dengan orang tua atau keluarga mengenai rasa tanggung jawab di rumah serta membuatnya dalam bentuk tulisan mengani hasil pengamatan dan tanya jawab yang telah dilakukan.

Aspek kesepuluh, membimbing siswa merangkum/menyimpulkan materi. Pada siklus II guru memberikan pembimbingan atau bersama-sama siswa merangkum dan menyimpulkan materi. Hal tersebut belum optimal dilakukan pada siklus I karena yang menyimpulkan materi pelajaran hanya guru sendiri.

Aspek kesebelas, antusias guru selama pembelajaran berlangsung. Pada siklus II antusiasme guru dalam melakukan pembelajaran sudah baik, yaitu ditunjukkan dengan semangat guru menjelaskan materi dan memberi tugas selama pembelajaran berlangsung. Kondisi ini belm nampak di siklus I, di mana guru saat menjelaskan materi terlihat kurang antusias atau kurang bersemangat.

(16)

Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 5 No. 9 ISSN 2354-614X

16 Mengenai kegiatan siswa dalam pembelajaran, pada siklus I memperoleh skor cukup kemudian naik menjadi baik pada siklus II.

Uraian di atas memberikan pemahaman bahwa penerapan metode pemberian tugas individu dalam pembelajaran PKn telah berhasil meningkatkan berbagai aspek yang sangat penting dalam pembelajaran.

Untuk lebih jelasnya pembahasan ini akan ditinjau dari segi “proses” dan

“hasil” belajar yaitu:

1. Ditinjau dari Segi Proses Belajar

Pembelajaran yang diterapkan pada penelitian ini adalah metode pemberian tugas individu. Pelaksanaan metode pemberian tugas individu terdiri dari 3 fase yakni: fase menerima, fase mengerjakan, fase mempertanggungjawabkan tugas yang diberikan oleh guru.

a. Kegiatan awal

Kegiatan yang dilakukan guru pada kegiatan ini adalah (1) menyampaikan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan siswa, (2) menggali pengetahuan prasyarat siswa dan memotivasi siswa.

Melalui penyampaian tujuan pembelajaran diharapkan siswa dapat termotivasi dan terfokus pada tujuan yang harus dicapai. Materi pelajaran yang diterima oleh siswa merupakan materi yang baru bagi mereka. Oleh karena itu, untuk mencapai indikator keberhasilan tindakan maka diperlukan materi prasyarat. Materi prasyarat yang diajukan merupakan materi yang telah dipelajari oleh siswa sebelumnya yang ada kaitannya dengan materi yang akan dipelajari. Dengan membangkitkan pengetahuan prasyarat, siswa akan terbentuk pemahaman awal sistem pemerintahan tingkat pusat.

b. Kegiatan inti

(17)

Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 5 No. 9 ISSN 2354-614X

17 individu (fase pemberian tugas), siswa mengerjakan tugas (fase pelaksanaan tugas) serta melakukan tanya jawab dengan siswa mengenai tugasyang mereka kerjakan (fase mempertanggungjawabkan tugas yang diberikan oleh guru). Selanjutnya guru memberikan tugas kepada siswa untuk melakukan observasi dan tanya jawab kepada tokoh masyarakat atau orang-orang di rumah mengenai politik negara berdasarkan trias politica.

c. Kegiatan akhir (penutup)

Pada kegiatan akhir guru membimbing siswa menyimpulkan pembelajaran, setelah itu guru menutup pembelajaran dengan salam.

2. Ditinjau dari Segi Hasil Belajar

Untuk membahas lebih lanjut mengenai peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PKn yang menggunakan metode pemberian tugas, terdapat tiga aspek yaitu perolehan nilai ketuntasan individual, daya serap klasikal, dan ketuntasan klasikal.

Sebagaimana data yang dipaparkan pada siklus I nilai ketuntsan belajar individual yaitu siswa yang tuntas belajar adalah 2 orang atau 25% dan siswa yang belum tuntas belajar adalah 6 orang atau 75%. Adapun standar ketuntasan belajar individual minimal adalah 75%, dan ketuntasan belajar klasikal minimal 80%, artinya standar tersebut belum tercapai pada siklus I. Pada siklus II nilai ketuntasan individual yaitu siswa yang tuntas belajar 8 orang atau 100%, dan pencapaian ketuntasan belajar klasikal mencapai 87,5%.

Dengan demikian ditinjau dari segi hasil belajar khususnya nilai ketuntasan individual dan ketuntasan belajar klasikal yang berhasil dicapai terjadi peningkatan setiap siklus. Meskipun diakui pada siklus I belum berhasil, selanjutnya diperkuat dengan mengetengahkan hasil yang diperoleh pada siklus II yaitu: pencapaian ketuntasan belajar klasikal 87,5%, hal ini menunjukkan bahwa KKM di kelas tersebut telah tercapai.

(18)

Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 5 No. 9 ISSN 2354-614X

18 cenderung mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II, begitu pula aspek-aspek lainnya seperti keseriusan, keaktifan, ketepatan menyelesaikan tugas, bertanya, menjawab pertanyaan teman, dan dalam melakukan umpan balik juga cenderung meningkat dari siklus I ke siklus II.

IV. PENUTUP Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka dapat disimpulkan bahwa metode resitasi dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran PKn di Kelas 2 SDN Inpres Bolonan Kecamatan Totikum Kabupaten Banggai Kepulauan. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya peningkatan pencapaian KKM yang diperoleh siswa dari siklus I ke siklus II, yaitu pada siklus I mencapai 25% dan pada siklus II mencapai 87,5%.

Saran

(19)

Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 5 No. 9 ISSN 2354-614X

19 DAFTAR PUSTAKA

Alipandie, Imansyah. (1984). Didaktik Metodik Pendidikan. Surabaya: Penerbit Usaha Nasional.

Hudoyo, Herman. (1990). Strategi Belajar Mengajar. Malang: IKIP Malang. Ign S Ulih Bukit Karo Karo. (1984). Metodologi Pengajaran. Salatiga: Saudara. Mappa, Syamsu. (1983). Psikologi Pendidikan. Ujungpandang: FIP. IKIP

Surabaya.

Rostiyah, N.K. (1989). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Bina Aksara. Slameto. (1990). Proses Belajar Mengajar dalam Sistem Kredit (SKS). Jakarta:

Penerbit Bumi Aksara.

Sudjana, Nana. (1989). Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar Cetakan Kedua. Bandung: Penerbit CV. Sinar Baru.

Suryobroto. B. (1986). Mengenal Metode Pengajaran di Skeolah dan Pendekatan Baru dalam Proses Belajar Mengajar. Yokyakarta.

Tirtarahardja, Umar. (1981). Kesejahteraan Guru Salah Satu Faktor yang Berpengaruh Terhadap prestasi Belajar Murid SD. Disertasi Doktor. Jakarta:FPS. IKIP

Gambar

Gambar 1. Diagram Alur Disain Penelitian Diadaptasi dari Model Kemmis
Tabel 1. Lembar Observasi Aktivitas Guru Siklus I
Tabel 2. Lembar Observasi Aktivitas Siswa Siklus I
Tabel 3. Hasil Tes Siklus I
+4

Referensi

Dokumen terkait

Sistem Deteksi Kemiripan Antar Dokumen Teks Menggunakan Model Bayesian Pada Term Latent Semantic Analysis (LSA). URNAL SAINS DAN SENI

Dari hasil penelitian di atas dapat diketahui bahwa status gizi berdasarkan kondisi fisik seseorang yang dinilai dengan SGA mempunyai hubungan yang signifikan dengan

Untuk mengetahui total momen perpindahan material yang terjadi dari layout awal dan alternatif perbaikan tata letak pabrik.. Untuk mengetahui layout yang dapat memberikan

Kelemahan bahan dari eternit atau asbes tidak tahan terhadap goncangan dan benturan sehingga harus berhati-hati dalam proses pemasangan plafon supaya tidak

Area cagar budaya memiliki keterikatan yang sangat jelas terhadap waktu, terutama berkaitan dengan aspek kesejarahannya, sehingga untuk menghadirkan objek yang ’abadi’,

Jl.. ketinggian manakah metode yang dianggap lebih akurat tersebut efektif perhitungannya. Efisiensi perencanaan gedung ini akan dibandingkan melalui indikator biaya.

Tujuan perancangan ini adalah mendesain eksterior mobil Suzuki Grand Vitara dengan kesan maskulin yang sesuai dengan keinginan konsumen pada styling mobil Suzuki

Wahai kaum guru semua Bangunkan rakyat dari gulita Kita lah penyuluh bangsa. Pembimbing melangkah