• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Globalisasi Ekonomi Indonesia d

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengaruh Globalisasi Ekonomi Indonesia d"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG

Globalisasi merupakan perkembangan kontemporer yang mempunyai pengaruh dalam mendorong munculnya berbagai kemungkinan tentang perubahan dunia yang akan berlangsung. Tidak ada negara yang mampu menutup diri dari perkembangan yang terjadi, mau tidak mau setiap negara harus mampu menghadapi derasnya arus globalisasi, walaupun arus globalisasi memberikan berbagai dampak dalam kehidupan. Era globalisasi dewasa ini menjadi kenyataan yang harus dihadapi oleh setiap negara, tidak terkecuali Indonesia sebagai anggota masyarakat dunia yang tentunya tidak dapat dan tidak akan mengasingkan diri dari pergaulan internasional. Walaupun globalisasi memberikan efek ataupun dampak positif dan dampak negatif bagi semua negara. Oleh karena itu diperlukan suatu antisipasi agar keadaan ekonomi politik Indonesia mengalami stabilitas serta tidak mengalami kemunduran yang lebih jauh.

Pengaruh globalisasi dapat menghilangkan berbagai halangan dan rintangan yang menjadikan dunia semakin terbuka dan saling bergantung satu sama lain. Bisa dikatakan bahwa globalisasi membawa perspektif baru tentang konsep dunia tanpa batas. Oleh karena itu penting untuk mengetahui dampak globalisasi dan pengaruhnya terhadap kehidupan negara berkembang khususnya Indonesia, di mana hanya bangsa atau negara yang memiliki daya saing yang tinggi dengan dukungan struktur usaha yang jelas, sistem kerja yang efisien, serta budaya korporasi yang berbasis pada jiwa kewirausahaan yang akan mampu memanfaatkan peluang globalisasi seoptimal mungkin.

(2)

Tulisan ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran mengenai adanya pengaruh globalisasi ekonomi Indonesia dalam menghadapi AEC (Asean Economic Community) melalui pengkajian dari berbagai sumber jurnal-jurnal terkait.

Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk memperoleh data dan informasi tentang adanya pengaruh globalisasi ekonomi Indonesia dalam menghadapi AEC (Asean Economic Community), serta menentukan langkah-langkah yang dianggap efektif dan efisien dalam upaya penanggulangannya, melalui studi berbagai literatur akademik.

I.3. TINJAUAN LITERATUR

1.3.1 Globalisasi : Makna dan Implikasi Ekonomi Politiknya

Cohn (2003: 417) mendefenisikan globalisasi sebagai “a process that involves both the broadening and deepening of interdependence among societies and states throughout the world”. Dalam konteks ini, batas-batas nasional negara bangsa semakin menjadi kurang penting, dan pemahaman tradisional mengenai kedaulatan negara telah dirusak, serta individu dalam suatu kawasan harus dilihat dalam konteks global.

Dalam aras ini, kaum transformasionalis melihat bahwa globalisasi adalah kekuatan utama di balik perubahan-perubahan sosial, ekonomi, dan politik yang tengah menentukan kembali masyarakat modern dan tatanan dunia (world order) (Held, et. al.,1999).

(3)

investasi dan penyediaan tenag kerja yang relatif murah dibandingkan dengan kawasan lain. Ke-tiga, dampak globalisasi terhadap ekonomi nasional terletak pada integrasi pasar finansial global. Integrasi pasar finansial global ini telah mengurangi sedemikian rupa otonomi ekonomi nasional mengingat aliran uang ini tidak dapat dikontrol oleh keku atan negara manapun.

Globalisasi dapat dipahami sebagai perubahan-perubahan dalam bidang ekonomi dan sosial yang berkombinasi dengan pembentukan kesalinghubungan regional dan global yang unik, yang lebih ekstensif dan intensif dibandingkan dengan periode sebelumnya, yang menantang dan membentuk kembali komunitas politik, dan secara spesifik, negara modern (Held 2000, 397).

Banyak ahli yang menaruh minat dalam kajian globalisasi mendefinisikan globalisasi sebagai proses ekonomi meskipun pada dasarnya globalisasi tidak semata proses ekonomi. Sebaliknya, konsep globalisasi digunakan untuk menjelaskan bidang-bidang kegiatan ekonomi, politik, dan sosial yang melintasi batas-batas teritorial semacam itu. Akibatnya, keputusan dan aktivitas dalam suatu wilayah akan dapat mempunyai dampak yang signifikan terhadap individu di dunia yang mempunyai jarak cukup jauh (Held 1999, 15).

Kuatnya pemahaman globalisasi sebagai proses ekonomi barangkali disebabkan oleh akibat-akibat integrasi ekonomi dan pasar keuangan global yang dimotori oleh kebijakan neoliberal di seluruh dunia. Kebijakan ini menyandarkan pada pasar bebas laissez-faire, yang perjuangan ideologisnya dimulai oleh kelompok Kanan Baru (the New Right) di Amerika Srikat dan Inggris. Implikasi globalisasi neoliberal ini telah menyentuh ke dalam hampir semua dimensi kehidupan manusia, yang menurut Herry Priyono merupakan wujud kolonisasi homo economicus atas homo yang lain dalam diri manusia (Priyono 2004, 8).

1.3.2 Integrasi Ekonomi

(4)

negara lain yang berada dalam kawasan integrasi, karena produk dari negara lain dalam kawasan tersebut menjadi lebih murah akibat adanya perlakuan khusus dalam penetapan tarif.

Integrasi ekonomi menurut Achsani (2008) diartikan sebagai satu kawasan ekonomi tanpa frontier (batas antar negara) dimana setiap penduduk maupun sumber daya dari setiap negara anggota bisa bergerak bebas sebagaimana dalam negara sendiri. Tujuannya adalah untuk mencapai tingkat kegunaan yang paling optimal yang pada akhirnya akan mendorong tercapainya tingkat kesejahteraan yang sama (merata) di antara negara-negara anggota.

Banyak ahli yang menaruh minat dalam kajian globalisasi mendefinisikan globalisasi sebagai proses ekonomi meskipun pada dasarnya globalisasi tidak semata proses ekonomi. Sebaliknya, konsep globalisasi digunakan untuk menjelaskan bidang-bidang kegiatan ekonomi, politik, dan sosial yang melintasi batas-batas teritorial semacam itu. Akibatnya, keputusan dan aktivitas dalam suatu wilayah akan dapat mempunyai dampak yang signifikan terhadap individu di dunia yang mempunyai jarak cukup jauh (Held 1999, 15).

BAB II PEMBAHASAN II.1. Globalisasi Ekonomi

(5)

Sedangkan, Globalisasi Perekonomian merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, dimana negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara. Globalisasi perekonomian mengharuskan penghapusan seluruh batasan dan hambatan terhadap arus modal, barang, dan jasa.

Ketika globalisasi ekonomi terjadi, batas-batas suatu negara sudah tidak akan berpengaruh lagi dan keterkaitan antara ekonomi nasional dengan perekonomian internasional akan semakin erat. Globalisasi perekonomian di satu pihak akan membuka peluang pasar produk dari dalam negeri ke pasar internasional secara kompetitif, sebaliknya globalisasi perekonomian juga membuka peluang masuknya produk-produk global ke dalam pasar domestik. Contoh nyata dari pengaruh globalisasi ini adalah adanya pasar bebas, yaitu dengan tumbuhnya produk-produk luar negeri yang membuat produk Indonesia kalah saing di pasaran. Ini merupakan akibat dari orang-orang Indonesia yang berpikir bahwa produk-produk luar negeri lebih berkualitas baik daripada produk dalam negeri.

Tanpa adanya pengembangan produk, sudah pasti produk mereka tidak akan bisa laku di pasaran. Terlebih sejak ACFTA (Asean China Free Trade Agreement) diberlakukan, barang-barang dari China mulai membanjiri pasar Indonesia. Tidak hanya bentuk serta tampilan produknya yang menarik, namun juga harga yang ditawarkan sangat murah bila dibandingkan dengan produk-produk buatan Indonesia. Bagi beberapa pelaku industri, terutama yang selama ini mengandalkan bahan baku import dari China, malah menjadi pihak yang diuntungkan atas masuknya Indonesia ke dalam pasar bebas Asia. Mereka bisa mendapatkan bahan baku dengan harga yang jauh lebih murah karena dilakukannya perjanjian penghapusan tarif import sehingga bisa menekan banyak biaya yang harus mereka keluarkan. Dengan mendapatkan bahan baku yang murah, maka secara otomatis kegiatan industri bisa semakin berkembang. Itu merupakan contoh positif dari pengaruh globalisasi pada perkembangan ekonomi Indonesia.

(6)

ACFTA pertama kali sudah disepakati sejak November 2001 dalam KTT ASEAN ke-7 di Bandar Sri Begawan (Brunei Darussalam). Selanjutnya perjanjian dagang ACFTA ini ditandatangani menteri-menteri negara Asean dan China pada 2004. ACFTA ini dimaksudkan agar tidak ada hambatan dalam proses perdagangan antara negara-negara ASEAN dan China.

Namun banyak persepsi dan kontroversi dengan adanya ACFTA ini, terutama bagi pihak Indonesia sendiri karena dengan adanya persetujuan perdagangan bebas antara China dan ASEAN maka akan menimbulkan kecemasan bagi industri dalam negeri. Mereka harus lebih kreatif dan inovatif agar dapat bersaing dengan produk-produk dari China. Sedangkan menurut ketua LP3E (Lembaga Pengkajian, Penelitian dan Pengembangan Ekonomi) Kadin Faisal Basri menyatakan bahwa ACFTA relatif tidak mengganggu pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2010. Faisal Basri juga mengatakan bahwa sebelum memutuskan kebijakan pajak masuk 0% untuk China, pemerintah telah melakukan negoisasi tukar-menukar keuntungan, sebagai contoh Indonesia memberikan 0% untuk cabe dan ditukar dengan kakao 0% untuk masuk ke China.

ACFTA memang tidak dapat dihindari, karena Indonesia harus tetap menghadapi ACFTA. Namun yang terpenting adalah bagaimana mempersiapkan industri Indonesia agar memiliki daya saing menghadapi negara lain.

 Dampak Positif dengan adanya ACFTA, yakni :

(7)

 Dampak Negatif akibat adanya ACFTA, yakni :

Dengan diberlakukannya ACFTA pasti ada implikasi negatifnya, dimana produk-produk dalam negeri harus dapat bersaing dengan produk yang berasal dari China. Namun jika pengusaha dalam negeri tidak dapat menjuwudkan hal tersebut maka kemungkinan terburuk yang akan terjadi adalah adanya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), dengan demikian maka jumlah pengangguran akan meningkat. ACFTA akan mematikan banyak industri di Indonesia. Hal ini akan menyebabkan melonjaknya ketiadaan lapangan usaha di kalangan rakyat jelata. Selain itu juga dapat mematikan pedagang kecil dan UKM (Usaha Kecil Menengah). ACFTA dapat adanya solusi strategi yang dilakukan pemerintah, maka akan melindungi para pengusaha dalam negeri untuk bersaing dengan pengusaha luar dalam bidang agroindustri. Indonesia sebagai negara agraris seharusnya bisa mengunggulkan produk agribisnis di dalam negeri, maka diperlukan strategi dan solusi dari pemerintah. Solusi dan strategi ini tentunya berhubungan dengan bagaimana kinerja pemerintah sendiri dalam memberlakukan strategi menanggulangi dampak ACFTA. Kinerja pemerintah tentunya berhubungan langsung dengan bagaimana pemerintah memberikan pelayanan publik kepada masyarakat. Karena dalam pemberian pelayanan publik yang baik juga berpengaruh terhadap dukungan yang diberikan masyarakat kepada pemerintah dalam strategi penanggulangan dampak ACFTA.

(8)

mengkampayekan kecintaan pada produk dalam negeri di semua kalangan merupakan solusi lain yang sama pentingnya untuk pemerintah. Ketiga, menerapkan aturan non tarif dengan standar ketat dan keempat adalah menerapkan aturan agar produk-produk pangan yang masuk harus sesuai dengan negara kita. Keempat strategi dalam manajemen publik diatas dapat dijadikan masukan bagi pemerintah untuk lebih serius dalam menangani dampak ACFTA. Karena dampak ACFTA sendiri sangat meluas dalam kehidupan masyarakat karena secara perlahan menyentuh sendi-sendi kehidupan dan dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia itu sendiri. Untuk itu pemerintah harus tanggap dan membuat strategi yang tepat pada seluruh bidang yang menyangkut kehidupan masyarakat yang bisa terkena oleh dampak adanya ACFTA.

Solusi untuk menghadapi ACFTA, antara lain :

 Meningkatkan daya saing produk lokal

Peningkatan daya saing produk lokal perlu dilakukan karena sasaran dampak dari ACFTA ini lebih berakibat buruk terhadap produk lokal. Untuk meningkatkan daya saing produk lokal dapat dilakukan dengan peningkatan mutu dan kualitas produk lokal dengan biaya produksi seminimal mungkin. Peningkatan daya saing produk-produk lokal dari pada produk China.

 Menyiapkan SDM yang bermutu

SDM yang bermutu sangat diperlukan agar dapat memproduksi barang yang berkualitas. Dengan demikian maka perlu diadakan pelatihan. Pelatihan ini tidak hanya dilakukan dibeberapa daerah tertentu saja melainkan diseluruh Indonesia. Pelatihan tersebut difokuskan untuk meningkatkan SDM yang mempunyai daya saing dalam memproduksi produk lokal. Pelatihan ini diharapkan dapat membangkitkan kemauan dan usaha SDM agar dapat meningkatkan daya saing produk dalam negeri.

(9)

Pemerintah perlu merealisasikan pelaksanaan Undang-Undang dan kebijakan-kebijakan yang menguntungkan bangsa Indonesia utamanya produsen barang UMKM dalam menghadapi ACFTA.

 Membuat kebijakan untuk distributor agar tidak mendistribusikan barang impor secara

berlebihan

Penyebaran produk-produk China di Indonesia tidak terlepas dari peran distributor. Sehingga meluasnya penyebaran produk China dapat mengancam produk lokal yang kalah saing dengan produk China. Pemerintah dapat membuat kebijakan pembatasan pendistribusian barang impor secara berlebihan yang bisa mengancam produk lokal.

 Mensosialisasikan cinta produk Indonesia

Hal-hal diatas tidak mungkin tereliasasikan jika konsumennya sendiri masih enggan untuk membeli produk lokal. Karena itu perlu diadakan sosialiasi untuk mencintai dan membeli produk Indonesia. Dan itu sudah terealisasikan lewat kampanye mentri perindustrian dan perdagangan yaitu mewujudkan 100% cinta produk Indonesia. Dan dengan konsumen lebih memilih produk dalam negri otomatis akan menimbulkan kepercayadirian produsen lokal sehingga dapat memenangkan produknya di negeri sendiri. Dan dengan adanya ACFTA dan perdagangan bebas lainnya tidak akan mengawatirkan produsen Indonesia.

 Menyiapkan SDM yang kompeten, kompetitif dan memiliki skill yang baik dalam

menghadapi kompetisi globalisasi.

 Melaksanakan standarisasi dan sertifikasi bagi perusahaan dan lembaga pemerintah untuk

citra, kesungguhan dan kualitas produk.

(10)

 Mendorong pengusaha-pengusaha lokal khususnya pengusaha kecil dan menengah untuk

berkompetisi secara sehat.

 Mendorong munculnya produk-produk kreatif dan inovatif dari masyarakat Indonesia.

Faktor yang mendorong terjadinya globalisasi, antara lain :

1. Kebijakan negara untuk berhubungan dan menjalin kerja sama dengan negara lain

2. Sistem ekonomi Internasional

3. Adanya migrasi penduduk ke berbagai negara

4. Kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi

5. Berkembang pesatnya perusahaan-perusahaan transnasional (sudah meluas atau keluar dari batas-batas negara)

II.2 Sikap Indonesia dalam Menghadapi Globalisasi Ekonomi

Pada dasarnya negara-negara di dunia terdapat dua kutub dalam menyikapi globalisasi ekonomi ini. Kutub yang pertama adalah negara-negara yang mendukung pelaksanaan globalisasi (Pro-Globalisasi). Negara-negara ini terdiri dari negara-negara maju dan negara-negara yang memiliki perekonomian yang kuat. Mereka menganggap bahwa globalisasi dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran ekonomi masyarakat dunia, dan berpatokan pada teori keunggulan komparatif. Para pro-globalisme tidak setuju akan adanya larangan-larangan dan proteksi, dan menginginkan dilakukannya kebijakan perdagangan bebas sehingga harga barang-barang dapat ditekan, sehingga permintaan akan meningkat yang akhirnya kemakmuran akan meningkat juga.

(11)

Indonesia, dengan sebuah keberanian yang sedikit kurang antisipatif memberanikan diri untuk ikut berartisiasi dalam perdagangan bebas ini dengan ditandatangani ACFTA (Asean China Free Trade Agreement) berarti Indonesia telah siap ikut ambi bagian dalam perdagangan bebas.

Para Anti-Globalisasi dianggap oleh sebagian orang sebagai gerakan sosial, sementara yang lainnya menganggapnya sebagai istilah umum yang mencakup sejumlah gerakan social yang berbeda-beda, para anti-globalisasi dipersatukan dalam perlawanan terhadap ekonomi dan sistem perdagangan global yang menurut mereka mengikis lingkungan hidup, hak-hak buruh, kedaulatan sosial, dunia ketiga, dan lain-lain.

Antiglobalisasi adalah suatu istilah yang umum digunakan untuk memaparkan sikap politis orang-orang dan kelompok yang menentang perjanjian dagang global dan lembaga-lembaga yang mengatur perdagangan antar negara seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Dampak positif dari adanya globalisasi ekonomi, antara lain :

1. Semakin terbukanya pasar untuk produk-produk ekspor, dengan catatan produk ekspor Indonesia mampu bersaing di pasar internasional. Hal ini membuka kesempatan bagi pengusaha di Indonesia untuk melahirkan produk-produk berkualitas, kreatif, dan dibutuhkan oleh pasar dunia.

2. Semakin mudah mengakses modal investasi dari luar negeri. Apabila investasinya bersifat langsung, misalnya dengan pendirian pabrik di Indonesia maka akan membuka lapangan kerja. Hal ini bisa mengatasi kelangkaan modal di Indonesia.

3. Semakin mudah memperoleh barang-barang yang dibutuhkan masyarakat dan belum bisa diproduksi di Indonesia

4. Semakin meningkatnya kegiatan pariwisata, sehingga membuka lapangan kerja di bidang pariwisata sekaligus menjadi ajang promosi produk Indonesia.

(12)

Sesuai dengan teori keuntungan komparatif melalui spesialisasi dan perdagangan faktor-faktor produksi dunia dapat digunakan lebih efisien, output dunia bertambah dan masyarakat akan memperoleh keuntungan dari spesialisasi dan perdagangan dalam bentuk pendapatan yang meningkat yang selanjutnya dapat meningkatkan pembelanjaan dan tabungan.

6. Meningkatkan kemakmuran masyarakat dalam suatu negara

Perdagangan yang lebih bebas memungkinkan masyarakat dari berbagai negara mengimpor lebih banyak barang dari luar negeri,yang menyebabkan konsumen mempunyai pilihan barang yang lebih banyak dan juga dapat menikmati barang yang lebih baik dengan harga yang lebih murah.

7. Meluaskan pasar untuk produk dalam negeri

Perdagangan luar negeri yang lebih bebas memungkinkan setiap negara memperoleh pasar yang jauh lebih luas dari pasar dalam negeri

8. Dapat memperoleh lebih banyak modal dan teknologi yang lebih baik

Modal dapat diperoleh dari investasi asing dan terutama di nikmati oleh negara-negara berkembang karena, masalah kekurangan modal dan tenaga ahli serta tenaga terdidik yang berpengalaman kebanyakan di hadapi oleh negara-negara berkembang

9. Menyediakan dana tambahan untuk pembangunan ekonomi

Pembanguan sektor industri dan berbagai sektor lainnya bukan saja dikembangkan oleh perusahaan asing., tetapi terutama melalui investasi asing yang dilakukan oleh perusahaan swasta domestik.

Dampak negatif globalisasi bagi kegiatan ekonomi di Indonesia terutama bersumber dari ketidaksiapan ekonomi Indonesia dalam persaingan yang semakin bebas.

(13)

1. Kemungkinan hilangnya pasar produk ekspor Indonesia karena kalah bersaing dengan produksi negara lain yang lebih murah dan berkualitas. Misalnya produk pertanian kita kalah jauh dari Thailand.

2. Membanjirnya produk impor di pasaran Indonesia sehingga mematikan usaha-usaha di Indonesia. Misalnya, ancaman produk mainan Cina yang lebih murah bagi industri mainan di tanah air.

3. Ancaman dari sektor keuangan dunia yang semakin bebas dan menjadi ajang spekulasi. Investasi yang sudah ditanam di Indonesia bisa dengan mudah ditarik atau dicabut jika dirasa tidak lagi menguntungkan. Hal ini bisa memengaruhi kestabilan ekonomi.

4. Ancaman masuknya tenaga kerja asing di Indonesia yang lebih profesional SDMnya. Lapangan kerja di Indonesia yang sudah sempit jadi semakin sempit.

5. Menghambat pertumbuhan sektor industri

Salah satu efek dari globalisasi adalah perkembangan sistem perdagangan luar negeri yang lebih bebas. Dengan demikian perdagangan luar negeri yang lebih bebas menimbulkan hambatan kepada negara berkembang untuk memajukan sektor industri domestik yang lebih cepat selain itu ketergantungan kepada industri-industri yang dimiliki perusahaan multinasional semakin meningkat.

6. Memperburuk neraca pembayaran

(14)

7. Sektor keuangan semakin tidak stabil Salah satu efek penting dari globalisasi adalah pengaliran investasi atau modal portofolio yang semakin besar ketidakstabilan di sektor keuangan dapat menimbulkan efek buruk kepada kestabilan kegiatan ekonomi secara keseluruhan

8. Memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang

Apabila hal-hal yang dinyatakan di atas berlaku dalam suatu negara, maka dalam jangka pendek pertumbuhan ekonominya menjadi tidak stabil. Dalam jangka panjang pertumbuhan yang seperti ini akan mengurangi lajunya pertumbuhan ekonomi. Pendapatan nasional dan kesempatan kerja semakin lambat dan masalah pengangguran tidak dapat diatasi atau semakin memburuk.

Maka dari itu sebaiknya kita sebagai warga Indonesia yang mencintai Indonesia wajib hukumnya untuk mendukung Indonesia agar bisa sejahtera. Misalnya dengan membeli produk dalam negeri karena pasar kita yang sudah tersaingi oleh pasar luar negeri di era globalisasi ini. Globalisasi membawa pengaruh positif terhadap Indonesia, tetapi tidak kalah juga dengan contoh yang telah disebutkan diatas dampak negatifnya. Dalam hal Globalisasi ini, peran pemerintah dalam suatu negara sangat diperlukan, mengingat segala aspek yang dilakukan adalah demi tercapainya suatu keadaan negara yang lebih baik. Pemerintah perlu menyikapi kehadiran globalisasi disini secara intensif dan berkelanjutan (berkala). Karena dampak/pengaruh negatif dari globalisasi ini jika dibiarkan secara terus menerus maka sama saja akan memutarbalikkan keadaan bahkan membuat keadaan (kehidupan masyarakat) Indonesia semakin terpuruk. Kesenjangan dan ketimpangan akan terjadi dan akan terus terjadi, baik antar wilayah, maupun kedudukan sosial di Indonesia.

Menurut Tanri abeng, perwujudan nyata dari globalisasi ekonomi adalah :

(15)

2. Globalisasi pembiayaan, dimana perusahaan global mempunyai akses untuk memperoleh pinjaman atau melakukan investasi (baik dalam bentuk portofolio ataupun langsung) di semua negara di dunia.

3. Globalisasi tenaga kerja, dimana, perusahaan global akan mampu memanfaatkan tenaga kerja dari seluruh dunia sesuai kelasnya, seperti penggunaan staf profesional diambil dari tenaga kerja yang telah memiliki pengalaman internasional atau buruh kasar yang biasa diperoleh dari negara berkembang. Dengan globalisasi maka human movement akan semakin mudah dan bebas.

4. Globalisasi jaringan informasi. Masyarakat suatu negara dengan mudah dan cepat mendapatkan informasi dari negara-negara di dunia karena kemajuan teknologi, antaralain melalui : TV, radio, media cetak, dll. Dengan jaringan komunikasi yang semakin majutelah membantu meluasnya pasar ke berbagai belahan dunia untuk barang yang sama. Sebagai contoh : KFC, celana jeans levis, atau hamburger melanda pasar dimana- mana.Akibatnya selera masyarakat dunia -baik yang berdomisili di kota ataupun di desa-menuju pada selera global.

5. Globalisasi Perdagangan. Hal ini terwujud dalam bentuk penurunan dan penyeragaman tarif serta penghapusan berbagai hambatan nontarif. Dengan demikian kegiatan perdagangan dan persaingan menjadi semakin cepat, ketat, dan fair. Thompson mencatat bahwa kaum globalis mengklaim saat ini telah terjadi sebuah intensifikasi secara cepat dalam investasi dan perdagangan internasional.

II.3 Peluang Globalisasi Ekonomi

(16)

berkembang. Pada tahun 2003, produk barang dan jasa serta tenaga kerja dari negara Asean tidak akan dipersulit untuk bekerja di Indonesia, demikian pula sebaliknya.

Pada tahun 2010, negara maju yang tergabung dalam APEC harus membuka pintunya bagi arus masuk produk barang, jasa, dan tenaga kerja dari negara anggota APEC lainnya dan pada tahun 2020 semua negara anggota APEC harus menghilangkan segala hambatan bagi masuknya arus barang, jasa dan tenaga kerja. Keadaan seperti itu, akan menimbulkan peluang dan ancaman bagi bangsa Indonesia. Peluang itu berupa makin mudahnya barang dan jasa produksi Indonesia untuk memasuki pasaran luar negeri. Hambatan non-tarif (kuota, dan sebagainya) bagi produk Indonesia ke negara lain akan semakin hilang atau tidak berarti lagi. Demikian pula halnya dengan tenaga kerja Indonesia, mereka akan dapat bekerja dengan mudah di negeri asing tanpa hambatan peraturan imigrasi yang berarti.

Namun di sisi lain, keadaan itu juga dapat menimbulkan ancaman bagi Indonesia: barang, jasa, dan tenaga kerja asing boleh masuk ke Indonesia dengan tanpa hambatan yang berarti. Akan terjadi persaingan kualitas barang, jasa, dan tenaga kerja dalam negeri dan luar negeri guna merebut pasar dalam negeri.

II.4 Tantangan Globalisasi Ekonomi

Globalisasi dapat pula dipandang sebagai suatu tantangan. Dalam konteks globalisasi sebagai tantangan merupakan cara pandang yang optimistis, dimana memandang globalisasi sebagai suatu yang menantang. Sesuatu yang menantang mengandung makna bahwa sesuatu tersebut harus disikapi dan dihadapi dengan barbagai upaya dan strategi.

(17)

sangat ketat dalam memperebutkan lapangan pekerjaan yang semakin sempit. Untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, mampu bersaing dengan semua bangsa di dunia, maka semua komponen masyarakat terutama dunia pendidikan di tuntut perannya untuk meningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran.

Globalisasi tidak bisa ditolak atau dihindari, dia hadir seiring perkembangan peradaban manusia, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, yang harus dilakukan adalah menghadapinya dengan seksama, turut serta memainkan peran dalam setiap tantangan dan peluang yang tersedia.

Salah satu faktor yang menentukan dalam daya saing suatu produk adalah mutu produk. Mutu merupakan bagian isu kritis yang menantang dalam persaingan global. Tantangan lainnya dalam menghadapi pasar dan persaingan bebas adalah bagaimana menciptakan sektor pertanian dan industri yang efisien, efektif, dinamis dan berkelanjutan, penyebarluasan teknologi dan inovasi yang terkait dengan sistem produksi, packaging, serta pemasaran.

Mengenai persiapan Indonesia dalam menghadapi proses integrasi ekonomi yang mengarah pada pembetukan ASEAN Economic Community, upaya-upaya yang akan dipersiapkan oleh Indonesia tentunya berkaitkan dengan bagaimana Indonesia merangkai keputusan-keputusan dalam mengambil kebijakan yang berkaitan dengan sistem-sistem yang ada dalam AEC. Dan tentunya persiapan tersebut sangat berpengaruh dengan strategi yang akan dpergunakan oleh Indonesia nantinya.

Dimana posisi Indonesia sebagai aktor yang diwakili oleh pemerintah dalam menghadapi proses integrasi ekonomi di kawasan ASEAN tentunya perlu memperhitungkan cost and benefit dalam membentuk persiapan yang nantinya akan diimplementasikan melalui kebijakan-kebijakan ekonomi guna menunjang pencapaian kepentingan nasional Indonesia secara maksimal.

II.5 Langkah Strategis Indonesia dalam Mempersiapkan Diri Menghadapi AEC 2015

(18)

Langkah strategis tersebut diantaranya :

1. Peningkatan Daya Saing Ekonomi (www.djmbp.esdm.go.id, diakses 24 November 2011)

2. Peningkatan Laju Ekspor (www.bps.go.id, diaskses pada 05 Agustus 2012)

3. Reformasi Regulasi (www.bps.go.id, diaskses pada 05 Agustus 2012)

4. Perbaikan Infrastruktur (dalam Outlook BI, 2009:62)

5. Reformasi Iklim Investasi (www.kadin.or.id, diakses pada 06 Maret 2011)

6. Reformasi Kelembagaan dan Pemerintah (dalam The Kian, 2003, 38(3): hal. 331-342)

7. Pemberdayaan UMKM (dalam BPPK Kemenlu RI, 2008:62-63)

8. Pengembangan Pusat UMKM Berbasis Website (dalam BPPK Kemenlu RI, 2008:69-72)

9. Penguatan Ketahanan Ekonomi (dalam Outlook BI, 2009:54)

10. Peningkatan Partisipasi Semua Unsur Negara (dalam BPPK Kemenlu RI, 2008:70)

Sejauh ini, langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Indonesia berdasarkan rencana strategis pemerintah untuk menghadapi AEC, antara lain:

1. Penguatan Daya Saing Ekonomi

2. Program ACI (Aku Cinta Indonesia)

3. Penguatan Sektor UMKM

4. Perbaikan Infrastruktur

5. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)

(19)

II.6 Menakar Integrasi Ekonomi AEC 2015

ASEAN Economic Community sebagai bentuk integrasi ekonomi regional merupakan agenda utama negara ASEAN, visi ASEAN untuk membangun kawasan Asia Tenggara yang terintegrasi dalam pembangunan ekonomi yang merata dan mengurangi kesenjangan sosial-ekonomi sekiranya perlu diapresiasi sebagai sebuah langkah besar untuk memajukan negara ASEAN bersama. Hal ini sebelumnya sudah pernah diutarakan pada tahun 1998 di Hanoi yang menyatakan niat ASEAN untuk menciptakan kawasan yang sejahtera dan sangat kompetitif dimana terdapat arus barang, jasa, dan modal yang terintegrasi di ASEAN. Wacana ini kemudian dilanjutkan tahun 2003 pada Deklarasi ASEAN Concord II, dengan pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)/ASEAN Economic Community (AEC) yang bertujuan untuk menciptakan pasar tunggal dan basis produksi, mengubah keragaman yang menjadi ciri khas daerah menjadi peluang untuk komplementasi bisnis sehingga diharapkan segmen ASEAN menjadi lebih dinamis dan memiliki peran ekonomi yang kuat pada skala global.

(20)

mereka akan merasa sulit untuk mengembangkan ekonomi mereka dan menyediakan pekerjaan dan lebih tinggi standar hidup bagi rakyatnya. Biaya bisnis akan tetap tinggi, dan pilihan bagi konsumen akan tetap terbatas.

Konsep integrasi ekonomi telah lama diterapkan oleh negara-negara Uni Eropa dan konsep integrasi dengan jelas akan membawa kekuatan baru politik melalui ekonomi yang akan diterapkan di Asia Tenggara. Namun, perlu diwaspadai bersama akan dampak internal ekonomi yang mungkin akan terjadi ketidakadilan dalam implementasinya serta ketahanan ekonomi bersama sehingga potensi krisis pada negara Asia Tenggara tidak menyebar dan tidak memberikan dampak yang besar terhadap negara lainnya dalam kawasan. Tentunya ketika menjadi sutu bagian dari basis produksi setiap komponen dalam sistem produksi harus mendapatkan porsi keuntungan secara adil.

(21)

total perdagangan ASEAN dan pertumbuhan rata-rata sebesar 5,02% dari perdagangan sesama negara ASEAN. Sedangkan pada tahun 2000-2007 pertumbuhan rata-rata Indonesia 7,38% dari total perdagangan ASEAN dan pertumbuhan rata-rata sebesar 12,06% dari perdagangan sesama negara ASEAN. Hal ini menunjukkan bahwa ASEAN sebagai negara tetangga Indonesia menjadi topangan perekonomian dikala krisis 1997-1998 dan pemulihan perekonomian selama periode pasca 2000

.

(22)

Namun, sejak akhir 1990-an, Jepang dan beberapa negara Eropa menyumbang sebagian besar FDI sementara Korea Selatan, Hong Kong dan China pun turut meramaikan berinvestasi di Indonesia. Setelah pemulihan krisis 1998, pada awal 2000an kapasitas negara khususnya ASEAN-5 mulai mampu melakukan investasi intra-ASEAN sementara FDI yang berasal dari sumber lain mengalami kemunduran akibat krisis keuangan global pada tahun 2008.

(23)

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam lingkup ASEAN masih ada kesenjangan infrastruktur, tingkat pendidikan sumber daya manusia (human resources) maupun tingkat kesejahteraannya, kondisi ini menjadikan ASEAN sulit untuk menjadi satu komunitas yang setara.

Sehubungan dengan itu, sesungguhnya Indonesia sudah memberikan gagasan saat menjadi Ketua ASEAN tahun 2011 yang dituangkan pada pilar ASEAN Economy Communityyaitu mewujudkan ASEAN Framework on Equitable Economic Development (EED). Framework ini menegaskan tentang bagaimana komitmen yang harus diwujudkan oleh ASEAN dalam mencapai kesetaraan dalam pembangunan ekonomi, dengan mengedepankan upaya-upaya seperti menjembatani kesenjangan pembangunan, penguatan kualitas sumber daya manusia, peningkatan kesejahteraan sosial, serta membuka ruang partisipasi yang lebih lebar dalam proses integrasi ASEAN.

Latar belakang yang mendasari gagasan tersebut adalah adanya disparitas ekonomi di antara negara-negara anggota ASEAN yang menjadi salah satu kendala bagi perwujudan ASEAN Community. World Economic Forum (WEF) telah mempublikasikan laporan tahunan mengenai daya saing global, yaitu The Global Competitiveness Report2011-2012.Secara khusus mengenai daya saing ASEAN masih terdapat kesenjangan yang signifikan dan seharusnya hal tersebut tidak perlu terjadi sebab berbagai upaya telah dideklarasikan dalam setiap ASEAN Summit.Adapun kesenjangan tersebut secara riil sebagaimana tergambar di bawah ini

Tabel 1

Daya Saing Negara-negara Anggota ASEAN Tahun 2012-2013

Negara Rangking Daya Saing GCI Basic Efficiency Enhancers Innovation and Sophistication

Indonesia 50 58 58 40

Malaysia 25 27 23 23

(24)

Thailand 38 45 47 55

Philipina 65 80 65 64

Brunei 28 21 68 62

Cambodi

a 85 97 85 72

Laos na Na Na Na

Myanmar na Na Na Na

Vietnam 75 91 71 90

Sumber : World Economic Forum 2012-2013

Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa negara ASEAN memiliki negara yang sangat baik dalam hal daya saing seperti Singapura yang menduduki peringkat kedua di dunia. Namun disisi lain masih ada beberapa negara anggota ASEAN yang memiliki peringkat lebih dari peringkat 50. Indonesia sendiri saat ini berada di posisi menengah yaitu di posisi 50 dalam hal daya saing. Peringkat daya saing sendiri terbagi menjadi tiga bagian besar, yaitu basic component, efficiency enhancers, dan innovation and sophistication. Dalam komponen basic, Singapura adalah negara anggota ASEAN yang memiliki peringkat terbaik pertama di dunia. Namun di lain pihak, Kamboja menduduki peringkat 97. Hal ini menunjukkan betapa dalam hal basic pun terdapat kesenjangan yang sangat tinggi di ASEAN.

(25)

keseluruhan yang memiliki dampak penyebaran yang luas. ASEAN tentu harus belajar dari pengalaman Eropa ini.

Permasalahan yang dihadapi :

 Masih terdapatnya kesenjangan kondisi ekonomi di antara negara-negara anggota

ASEAN. Kesenjangan ini dikhawatirkan akan mengganggu proses integrasi ASEAN menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Pengalaman di negara-negara Eropa saat ini menunjukkan, bahwa kesenjangan yang terlalu lebar bisa mengancam sebuah integrasi regional.

 Indonesia sebagai negara dengan ukuran ekonomi terbesar di ASEAN diharapkan dapat

memelopori program-program untuk menurunkan tingkat kesenjangan di ASEAN. Selain memiliki keunggulan ukuran ekonomi, di sisi lain Indonesia memiliki kelemahan dalam hal permasalahan kesenjangan ekonomi dan sosial di dalam negeri

 Perkembangan AFEED berjalan relatif lambat dibandingkan program lainnya dan

komitmen negara-negara anggota ASEAN masih relatif lemah.

Gambaran Terkini Perekonomian ASEAN

Perekonomian ASEAN semakin lama semakin mengalami peningkatan, baik secara ukuran maupun secara kesejahteraan. Pendapatan perkapita di ASEAN dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang signifikan. Namun jika kita lihat dari sisi pemerataan, terlihat bahwa peningkatan pendapatan per kapita serta tingkat pendapatan per kapita cukup timpang di antara sesama negara anggota ASEAN. Salah satu ukuran ketimpangan adalah dengan menggunakan standar deviasi. Standar deviasi pendapatan perkapita di ASEAN ternyata semakin lama semakin meningkat. Ini artinya tingkat kesenjangan di ASEAN semakin lama semakin meningkat.

Tabel 2

(26)

Negara 2009 2010 2011

Myanmar 538.32 706.39 875.09

Cambodia 735.07 785.11 879.74

Lao PDR 911.41 1,099.88 1,278.50

Viet Nam 1,128.49 1,225.48 1,403.31

Philippines 1,828.58 2,129.41 2,340.89

Indonesia 2,362.14 3,027.16 3,563.00

Thailand 3,946.55 4,743.25 5,115.77

Malaysia 6,824.53 8,555.46 9,940.61

Brunei Darussalam 26,617.61 29,915.29 38,702.54

Singapore 36,851.17 44,862.77 50,129.91

ASEAN 2,564.33 3,152.81 3,601.43

ASEAN 5 3,200.11 3,966.21 4,514.07

(27)

Sumber : Statistik ASEAN, Sekretariat ASEAN

Dilihat dari sudut pandang pembangunan manusia di ASEAN tampak, bahwa terdapat rentang yang cukup besar. ASEAN memiliki Singapura yang menempati ranking yang tinggi dalam Human Development Index (HDI) dengan skor HDI yang mendekati 0.9. Di sisi lain, ASEAN juga terdapat negara anggota yang skor HDI-nya masih di bawah 0.5. Posisi Indonesia sendiri dalam HDI berada dalam posisi menengah, tepatnya berada di bawah Filipina, Thailand, Malaysia dan Singapura.

Hal lain yang perlu diwaspadai terkait masalah kesenjangan adalah kesenjangan dalam hal upah. Upah terendah terdapat di Negara Kamboja dan Vietnam. Indonesia termasuk memiliki upah terendah ketiga dalam daftar negara di atas. Hal tersebut juga menjadi tantangan untuk Indonesia. Upah yang rendah memiliki dua sisi, yaitu sisi positif dan sisi negatif. Sisi positif upah yang rendah adalah menjadi tujuan dari investor multinasional untuk mendapatkan daya saing di era globalisasi. Sedangkan di satu sisi upah yang rendah dapat menggambarkan rendahnya kesejahteraan pekerja. Di Indonesia sendiri masalah upah minimum ini juga menimbulkan gejolak sosial dan sempat menghambat kegiatan masyarakat karena demonstrasi besar-besaran. Ketidak-sepakatan yang berlarut-larut antara pengusaha, pekerja dan pemerintah akan menyebabkan menurunnya produktivitas yang berpotensi mengganggu keamanan dan Ketahanan Nasional.

Masalah kesenjangan upah ini perlu diwaspadai juga terkait gap penghasilan di daerah perbatasan. Masih besarnya gap penghasilan di daerah perbatasan yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Misalnya, Kalimantan Barat dengan Sarawak Malaysia. Produk Domestik Bruto (PDB) Kalimantan Barat sekitar US$1,000 per tahun jauh di bawah PDB Sarawak yang sebesar sekitar $11,000 per tahun. Hal ini tentu sangat mencolok dan menimbulkan potensi gejolak sosial. Kedepannya, program-program untuk meningkatkan kesejahteraan di daerah perbatasan perlu semakin ditingkatkan.

II.7 Perkembangan Pendekatan Ekonomi dalam Politik Internasional

(28)

ekonomi daripada politik. Pendekatan ekonomi sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari pendekatan politik sehingga muncul pendekatan baru dalam politik internasional yaitu pendekatan ekonomi politik. Pendekatan ekonomi politik ini menjelaskan hubungan timbal balik antara hubungan ekonomi dan politik, yang tergambar dalam hubungan pasar dan negara. Di satu pihak, politik menentukan kerangka aktivitas ekonomi dan mengarahkannya untuk melayani kepentingan kelompok-kelompok dominan; dan penggunaan kekuasaan dalam berbagai bentuk sangat menentukan hakikat sistem ekonomi. Di pihak lain, proses ekonomi itu sendiri cenderung mendistribusikan kekuasaan dan kekayaan. Ekonomi membentuk hubungan kekuasaan antar kelompok.

(29)

BAB III

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

Globalisasi Ekonomi merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, dimana negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara. Globalisasi perekonomian mengharuskan penghapusan seluruh batasan dan hambatan terhadap arus modal, barang, dan jasa. Ketika globalisasi ekonomi terjadi, batas-batas suatu negara sudah tidak akan berpengaruh lagi dan keterkaitan antara ekonomi nasional dengan perekonomian internasional akan semakin erat. Globalisasi perekonomian di satu pihak akan membuka peluang pasar produk dari dalam negeri ke pasar internasional secara kompetitif, sebaliknya globalisasi perekonomian juga membuka peluang masuknya produk-produk global ke dalam pasar domestik. Contoh nyata dari pengaruh globalisasi ini adalah adanya pasar bebas, yaitu dengan tumbuhnya produk-produk luar negeri yang membuat produk Indonesia kalah saing di pasaran. Ini merupakan akibat dari orang-orang Indonesia yang berpikir bahwa produk-produk luar negeri lebih berkualitas baik daripada produk dalam negeri.

(30)

pemerintah Indonesia, dikarenakan pemahaman masyarakat juga akan melambangkan kesiapan negeri ini.

BAB IV DAFTAR PUSTAKA

 Afandi, Moch. Masykur. 2011. Peran dan Tantangan ASEAN Economic Community

(AEC) dalam Mewujudkan Integrasi Ekonomi Kawasan di Asia Tenggara, Vol.8 No.1

 Winarno, Budi. 2008. Politik Regionalisme dan Tantangan ASEAN di Tengah Arus Besar

Globalisasi, Vol.5 No.2

 Anabarja, Sarah. Kendala dan Tantangan Indonesia dalam Mengimplementasikan

ASEAN Free Trade Area Menuju Terbentuknya ASEAN Economic Community

 Sholeh. 2013. Persiapan Indonesia dalam Menghadapi AEC (Asean Economic

Community) 2015

 Mandala, Subianta. 2012. Pembaharuan Hukum Kontrak Indonesia dalam Kerangka

Harmonisasi Hukum Kontrak ASEAN. Vol.1 No.2

 Nurhayati, Mafizatun. Analisis Integrasi Pasar Modal Kawasan ASEAN dalam Rangka

Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN

(31)

 Winarno, Budi. Globalisasi dan Masa Depan Demokrasi

Globalisasi dan Masa Depan Demokrasi

 Ambarini, Nur Sulistyo B. 2010. Corporate Social Responsibility (CSR) Sebagai

Instrumen Hukum Ekonomi di Era Globalisasi, Vol 10 No.3

 Sugiaryo. 2010. Globalisasi : Intervensi Kekuatan olitik dan ekonomi dalam

Pembentukan Hukum dan Pengusahaan MIGAS di Indonesia

 Suraji. Peningkatan Usaha Koperasi Sebagai Ketahanan Ekonomi Nasional (Kajian

Ketahanan Nasional)

 Yuniarti. 2013. Pendekatan Ekonomi dalam Politik Internasional, Vol.1 No.1

 Imaroh, Tukhas Shilul. 2014. Pendidikan Entrepreneurhip Sebagai Strategi Peningkatan

Daya Saing Bangsa dalam Menghadapi AEC

 Jurnal Kajian Lemhannas RI | Edisi 16 | November 2013

 Jurnal Kajian Lemhannas RI | Edisi 14 | Desember 2012

 Yufani, Elsa. 2012. Implikasi Asean Economic Community Blurprint Terhadap

Perkembangan Perdagangan Indonesia ke Singapura

Referensi

Dokumen terkait

Memaksimalkan kursus calon pengantin (suscatin) sesuai dengan panduan dari Kementerian Agama RI, baik dari sisi materi maupun dari alokasi waktu, selama ini suscatin

Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Minat Belajar Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Produktif Administrasi Perkantoran Kelas X.. di SMK Bina

Jika penerimaan dari pemecahan penting, tidak dapat dipastikan sebagai hasil dari suatu keputusan otokratik, dan jika bawahan berkemauan untuk mengarah ke tujuan

Skripsi dengan judul “ Upaya Guru Pendidian Agama Islam dalam Meningkatkan Prestasi Belajar PAI Siswa Melalui Perpustakaan Islam di SMKN 1 Boyolangu Tulungagung Tahun

Hasil angket uji coba luas pada siswa kelas 4 SD menunjukkan skor rata-rata 4.8 dengan kategori sangat baik Secara keseluruhan berdasarkan penilaian dari aspek materi,

Judul : PengaruhKualitas Komunikasi Organisasi Terhadap Loyalitas Nasabah Melalui Kepuasan Nasabah Sebagai Variabel Intervening pada Bank CIMB NIAGA di Surabaya.. Disetujui

Secara umum, yang menjadi ciri utama hermeneutika yang mengandalkan verstehen ini antara lain; pertama, metode ilmu sosial yang dianggap paling cocok untuk menghasilkan

Observasi dilakukan pada saat pembelajaran sedang berlangsung. Pengambilan data ini ditunjukan untuk mengetahui aktivitas guru dan. aktivitas siswa selama proses