• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROBLEMATIKA PENERAPAN MODEL PEMBELAJARA. docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PROBLEMATIKA PENERAPAN MODEL PEMBELAJARA. docx"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

PROBLEMATIKA PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN

KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENTS (TGT) DAN

ALTERNATIF PENYELESAIANNYA PADA PEMBELAJARAN

MATEMATIKA

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah Problematika Pendidikan Matematika Dosen Pengampu: Dr. Budi Usodo, M.Pd.

Oleh:

Farah Dzil Barr S851502009

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dewasa ini, pendidikan sudah mengalami perubahan yang sangat pesat. Berbagai model pembelajaran telah banyak digunakan dalam proses pembelajaran agar terwujud pembelajaran yang dapat menuntun peserta didik mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Tugas guru adalah mengusahakan suasana kelas selama pembelajaran berlangsung berada pada kondisi yang menyenangkan dan menarik perhatian siswa. Hal ini dikarenakan belajar akan efektif apabila dilakukan dalam keadaan yang menyenangkan.

Model kooperatif learning merupakan salah satu model pembelajaran yang dijadikan alternative untuk memberikan inovasi dalam pembelajaran. Model ini memiliki beberapa keunggulan, yaitu memungkinkan siswa untuk meraih keberhasilan dalam belajar, melatih ketrampilan, memunculkan interaksi aktif antara siswa dengan guru dalam suasana belajar yang rileks dan menyenangkan (Isjoni:2010)

Model pembelajaran kooperatif merupakan serangkaian strategi mengajar, dimana didalamnya melibatkan siswa untuk bekerja secara berkolaborasi guna mencapai tujuan pembelajaran. Tipe pembelajaran kooperatif mempunyai tiga komponen esensial berikut: (1) tujuan-tujuan kelompok; (2) akuntabilitas individual; dan (3) kesempatan untuk sukses yang sama.

(3)

Slavin (2008), melaporkan beberapa hasil riset tentang pengaruh pembelajaran kooperatif terhadap pencapaian belajar siswa yang secara inplisit mengemukakan keunggulan pembelajaran TGT, sebagai berikut: (1) Para siswa di dalam kelas-kelas yang menggunakan TGT memperoleh teman yang secara signifikan lebih banyak dari kelompok rasial mereka dari pada siswa yang ada dalam kelas tradisional; (2) Meningkatkan perasaan/persepsi siswa bahwa hasil yang mereka peroleh tergantung dari kinerja dan bukannya pada keberuntungan; (3) TGT meningkatkan harga diri sosial pada siswa tetapi tidak untuk rasa harga diri akademik mereka; (4) TGT meningkatkan kekooperatifan terhadap yang lain (kerja sama verbal dan nonberbal, kompetisi yang lebih sedikit); (5) Keterlibatan siswa lebih tinggi dalam belajar bersama, tetapi menggunakan waktu yang lebih banyak; dan (6) TGT meningkatkan kehadiran siswa di sekolah pada remaja-remaja dengan gangguan emosional, lebih sedikit yang menerima skors atau perlakuan lain.

Model pembelajaran kooperatif Teams Games Tournaments (TGT) dinilai dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Karena siswa dapat belajar lebih menyenangkan, serta dapat menumbuhkan tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.

Menurut Taniredja dalam Alawiyah (2013) selain memiliki kelebihan, model ini juga memiliki beberapa kekurangan yaitu adanya kemungkinan siswa tidak memberikan pendapat dalam diskusi, memerlukan waktu pembelajaran yang cukup lama, kemungkinan menimbulkan kegaduhan di kelas.

(4)

Pemaparan permasalahan tersebut mendorong penulis dalam memberikan alternatif solusi terhadap problematika dalam penerapan model pembelajaran Teams Games Tournaments (TGT) pada pembelajaran matematika. Alternatif solusi ini diharapkan dapat meminimalisir kendala yang terjadi sehingga memberikan peluang keberhasilan yang lebih besar.

B. Rumusan Masalah

Perumusan masalah dalam makalah ini adalah:

1. Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran Teams Games Tournaments (TGT)?

2. Problematika apa saja yang diduga terjadi dalam penerapan model pembelajaran Teams Games Tournaments (TGT) pada pembelajaran matematika?

3. Bagaimanakah alternatif solusi dari problematika penerapan pembelajaran model Teams Games Tournaments (TGT)?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui model pembelajaran Teams Games Tournaments (TGT).

2. Untuk mengetahui problematika yang diduga terjadi pada penerapan model pembelajaran Teams Games Tournaments (TGT) pada pembelajaran matematika.

3. Untuk mengetahui alternatif solusi dari problematika pada penerapan model pembelajaran Teams Games Tournaments (TGT) pada pembelajaran matematika.

D. Manfaat Penulisan

Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak, khususnya kepada guru atau calon guru tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournaments).

BAB II PEMBAHASAN

(5)

Menurut Huda (2013) Teams Games Tournaments (TGT) merupakan salah satu strategi pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Slavin (1995) untuk membantu siswa mereview dan menguasai materi pelajaran. Slavin menemukan bahwa TGT berhasil meningkatkan skill-skill dasar, pencapaian, interaksi positif antar siswa, harga diri, dan sikap penerimaan pada siswa-siwa lain yang berbeda.

Dalam TGT, siswa mempelajari materi di ruang kelas. Setiap siswa ditempatkan dalam satu kelompok yang terdiri dari 3 orang berkemampuan rendah, sedang, dan tinggi. Komposisi ini dicatat dalam tabel khusus (tabel turnamen), yang setiap minggunya harus diubah. Dalam TGT setiap anggota ditugaskan untuk mempelajari materi terlebih dahulu bersama anggota-anggota nya, barulah mereka diuji secara individual melalui game akademik. Nilai yang mereka peroleh dari game akan menentukan skor kelompok mereka masing-masing (Huda: 2011).

Menurut Khuiru Ahmadi (2012) pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournaments (TGT) adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournaments (TGT) memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.

Menurut Slavin (2005) Komponen-komponen model pembelajaran TGT ada lima, yaitu: tahap presentasi di kelas, tim, game, turnamen, dan rekognisi tim. Adapun prosedur dalam model pembelajaran Teams Games Tournaments (TGT) menurut Huda (2013) adalah sebagai berikut:

1. Tim Studi

Siswa memperdalam, mereview dan mempelajari materi secara kooperatif dalam tim ini. Penentuan kelompok dilakukan secara heterogen dengan langkah-langkah berikut:

(6)

b. Membatasi jumlah maksimal anggota setiap tim adalah 4 siswa. c. Menomori siswa mulai dari yang paling atas (misalnya 1, 2, 3, dst) d. Membuat setiap tim heterogen.

2. Turnamen

Setelah membentuk tim, siswa mulai berkompetisi dalam turnamen. Penentuan turnamen dilakukan secara homogen dengan langkah sebagai berikut:

a. Menggunakan daftar rangking yang telah dibuat sebelumnya

b. Membentuk kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri dari 3 atau 4 siswa

c. Menentukan setiap anggota-anggota dari masing-masing kelompok berdasarkan kesetaraan kemampuan akademik

Format yang diterapkan adalah:

a. Memberikan kartu-kartu yang telah dinomori (misalnya dari 1-30) kepada setiap kelompok

b. Memberi pertanyaan pada setiap kartu sebelum dibagikan pada siswa c. Membuat lembar jawaban juga yang sudah dinomori.

d. Membagikan satu amplop pada masing-masing tim yang berisi kartu-kartu, lembar pertanyaan, dan lembar jawaban.

e. Menginstruksikan siswa untuk membuka kartu

f. Menunjuk pemegang nomer tertinggi untuk membacakan pertanyaan terlebih dahulu

g. Mengarahkan siswa pertama untuk mengambil sebuah kartu dari amplop dan membacakan nomornya, lalu siswa kedua (yang memiliki lembar pertanyaan) membaca pertanyaan dengan keras, lalu siswa pertama menjawab pertanyaan tersebut, kemudian siswa ketiga (yang memiliki lembar jawaban mengkonfirmasi apakah jawabannya benar atau salah

h. Menggunakan aturan jika jawaban benar, maka siswa pertama mengambil kartu itu, namun jika jawabannya salah, maka siswa kedua dapat membantu menjawabnya. Jika benar, kartu tetap mereka pegang. Namun jika tetap salah, kartu itu harus dibuang.

3. Scoring

(7)

Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah sebagai berikut:

1. Model TGT tidak hanya membuat peserta didik yang cerdas (berkemampuan akademis tinggi) lebih menonjol dalam pembelajaran, tetapi peserta didik yang berkemampuan akademi lebih rendah juga ikut aktif dan mempunyai peranan yang penting dalam kelompoknya.

2. Dengan model pembelajaran ini, akan menumbuhkan rasa kebersamaan dan saling menghargai sesama anggota kelompoknya.

3. Dalam model pembelajaran ini, membuat peserta didik lebih bersemangat dalam mengikuti pelajaran. Karena dalam pembelajaran ini, guru menjanjikan sebuah penghargaan pada peserta didik atau kelompok terbaik.

4. Dalam pembelajaran ini membuat peserta didik menjadi lebih senang dalam mengikuti pelajaran karena ada kegiatan permainan berupa tournamen dalam model ini.

Sedangkan kelemahan dalam model pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah sebagai berikut:

1. Dalam model pembelajaran ini, harus menggunakan waktu yang sangat lama.

2. Guru harus mempersiapkan model ini dengan baik sebelum diterapkan. Misalnya membuat soal untuk setiap meja turnamen atau lomba, dan guru harus tahu urutan akademis peserta didik dari yang tertinggi hingga terendah.

3. Masih adanya siswa berkemampuan tinggi kurang terbiasa dan sulit memberikan penjelasan kepada siswa lainnya.

B. Problematika Penerapan Model pembelajaran tipe Teams Games Tournaments (TGT) pada Pembelajaran Matematika

Dalam penerapan model pembelajaran Teams Games Tournaments (TGT) maka dapat dianalisis dugaan problematikanya, sebagai berikut:

(8)

2. Timbul kegaduhan, karena permainan/games pada model TGT memungkinkan siswa menjadi lebih ramai di kelas.

3. Timbul ketegangan antar siswa, karena persaingan dalan games/turnamen. 4. Tahap presentasi di kelas

Pada tahap ini diduga guru hanya menyampaikan materi kepada siswa dengan pengajaran langsung melalui ceramah sehingga kurang bermakna. Selain menyajikan materi, pada tahap ini guru juga diduga menyampaikan tujuan, tugas, atau kegiatan yang harus dilakukan siswa/ instruksi dalam memperkenalkan TGT yang kurang jelas. Jika dalam memaparkan TGT tidak dipahami siswa maka dalam penerapan TGT pada tahap selanjutnya tidak dapat berjalan dengan lancar. Pada tahapan ini penting bagi seorang guru untuk dapat mentransfer informasi mengenai TGT.

Pemberian motivasi yang terkadang dilupakan juga mempengaruhi minat serta ketertarikan siswa dalam mengikuti pelajaran.

5. Tim

Tim terdiri dari 3-4 siswa yang heterogen dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin maupun ras. Problematika yang diduga adalah dalam tahapan belajar tim ini para anggota tim tidak seluruhnya benar-benar belajar. Problematika lain yang diduga terjadi adalah anggota dengan kemampuan akademik tinggi kurang terbiasa dan sulit dalam memberi penjelasan kepada siswa lainnya.

6. Turnamen

Dalam tahap ini problematika yang diduga muncul adalah pengkondisian kelas yang cukup lama karena harus mengatur meja turnamen sedemikian hingga menyita waktu jika tidak dilakukan persiapan. Siswa hanya mengandalkan anggota kelompok yang mewakili. Jadi tidak seluruh anggota kelompok ikut aktif. Hanya yang siswa yang mewakili yang terlihat menonjol. Padahal seharusnya game dirancang untuk menguji pengetahuan siswa yang diperolehnya dari presentasi kelas dan pelaksanaan kerja tim.

(9)

kurang seimbang. Kurang telitinya guru dalam penempatan ini merupakan permasalahan.

Permasalahan lainnya yang muncul adalah siswa kurang fokus terhadap materi, namun hanya fokus terhadap peraturan permainan yang diberikan karena peraturan yang terlalu rumit/ kurang sederhana jika bagi tingkatan sekolah dasar. Selain itu waktu terbuang untuk pencatatan skor siswa sendiri.

7. Langkah-langkah yang belum rinci sehingga sulit dalam menerapkannya.

C. Alternatif Solusi

1. Waktu yang diperlukan dalam model pembelajaran Teams Games Tournaments (TGT) tidak dapat dilakukan secara singkat sehingga perlu penjadwalan kegiatan. Hal ini berarti persiapan harus lebih matang.

2. Agar kelas tidak gaduh, guru dapat menerapkan peraturan di dalam kelas yang ditulis dipapan tulis seperti “Siswa boleh berbicara kepada teman dengan suara pelan” atau dengan modifikasi permainan.

3. Agar tidak menimbulkan ketegangan, modifikasi turnamen dapat berupa games atau permainan yang biasa dimainkan oleh siswa namun tetap menyajikan soal yang perlu dijawab siswa.

4. Pada presentasi kelas, dapat menggunakan presentasi audiovisual. Sehingga siswa dapat lebih memberikan perhatian penuh selama presentasi kelas, karena dengan demikian akan sangat membatu mereka dalam mengerjakan diskusi, game, dan turnamen.

5. Pada tahap kerja tim, guru sebaiknya memberikan penjelasan apa artinya bekerja dalam tim. Jika perlu, dapat diterapkan aturan tim yang ditulis di papan tulis sebagai berikut:

a. Setiap siswa mempunyai tanggungjawab untuk memastikan bahwa teman satu ti telah mempelajari materi

(10)

c. Mintalah bantuan semua tim terlebih dahulu sebelum bertanya kepada guru

6. Pada tahapan turnamen yaitu pemilihan permainan yang digunakan harus didesain untuk menguji pemahaman siswa yang disusun dalam pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan materi. Disamping itu agar didalam proses pembelajaran model TGT dapat memperoleh gambaran perkembangan siswa, dari setiap individu maka harus dirancang sebuah permainan yang nantinya dapat menilai kemampuan individu sekaligus kelompoknya. Sehingga dapat dilakukan modifikasi dalam turnamen.

D. Modifikasi Model Pembelajaran Teams Games Tournaments (TGT)

Problematika dan alternatif solusi yang disajikan sebelumnya akan dijelaskan secara rinci dalam modifikasi langkah model pembelajaran Teams Games Tournaments (TGT). Modifikasi ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi guru dalam menerapkan pembelajaran Teams Games Tournaments (TGT) sehingga dapat meminimalisir problematika pada penerapan pembelajaran tersebut. Berikut ini disajikan modifikasi model pembelajaran Teams Games Tournaments (TGT).

1. Presentasi Kelas

Materi dalam TGT pertama-tama diperkanalkan dalam presentasi di dalam kelas. Pengajaran langsung diberikan oleh guru, dan dapat menggunakan presentasi audiovisual. Sehingga siswa dapat lebih memberikan perhatian penuh selama presentasi kelas, karena dengan demikian akan sangat membatu mereka dalam mengerjakan diskusi, game, dan turnamen.

(11)

pembelajaran dibangun oleh interaksi siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan lingkungan.

2. Tim

Penentuan kelompok dilakukan secara heterogen oleh guru yang telah disiapkan sebelumnya dengan langkah-langkah berikut:

a. Membuat daftar ranking akademik siswa

b. Membatasi jumlah maksimal anggota setiap tim adalah 4 siswa.

c. Menomori siswa mulai dari yang paling atas sesuai dengan level kinerjanya (misalnya 1, 2, 3, 4, 5, 6, dst)

d. Membuat setiap tim heterogen.

Kemudian siswa memperdalam, mereview dan mempelajari materi secara kooperatif dalam tim ini. Setiap tim diberikan lembar kegiatan dan lembar jawaban yang dapat mereka gunakan untuk melatih dan menilai kemampuan mereka sendiri.

3. Turnamen (berupa Games)

Terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor yang kontennya relevan yang dirancang untuk menguji pengetahuan siswa yang diperoleh dari presentasi di kelas dan kerja tim.

Turnamen berlangsung pada akhir minggu atau akhir bab. Turnamen ini memungkinkan semua siswa berkontribusi secara maksimal terhadap skor tim mereka. Gambar 4.1 mengilustrasikan hubungan antara tim heterogen dan meja turnamen yang homogen.

(12)

Pemilihan turnamen/permainan yang digunakan harus didesain untuk menguji pemahaman siswa dan disusun dalam pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan materi. Disamping itu agar didalam proses pembelajaran model TGT dapat memperoleh gambaran perkembangan siswa, dari setiap individu maka harus dirancang sebuah permainan yang nantinya dapat menilai kemampuan individu sekaligus kelompoknya. Permainan tersebut harus disesuaikan dengan keadaan siswa, agar dalam proses pelaksanaannya bisa efektif. Permainan yang dimodifikasi agar tidak terlalu menegangkan adalah seperti model monopoli. Monopoli dianggap familiar dengan siswa sehingga dalam pelaksanaannya siswa tidak terlalu bingung dalam aturannya dan tidak terlalu menegangkan. Berikut adalah langkah-langkah permainannya:

Nama Permainan: GET POINT!!!

a. Siswa ditempatkan pada meja turnamen homogen dengan jumlah anggota dalam setiap meja 4-5 orang siswa dan pada setiap kelompok anggotanya di beri nomor urut sesuai dengan jumlah siswa kelompok. b. Pada setiap meja dibagikan 1 paket permainan berisi papan permainan

dari bahan kertas, dadu, pion pemain dan sejumlah kartu soal yang sudah dilengkapi jawaban dibalik kartu soal tersebut.

Ambil kartu

Tumpukan Kartu soal bernomor

GET POINT!!!

1 2 3 4 5 6

20 7

19 8

18 9

17 10

(13)

Gambar 4.2 Papan Permainan

c. Permainan dimulai dari nomor urut satu, pada masing-masing anggota kelompok yang bernomor urut satu dapat memulai mengocok dadu dan melangkah. Di nomor mana ia berhenti, pemain harus mengambil satu kartu soal sesuai nomor dan diletakkan di tengah meja agar setiap anggota dalam kelompok dapat mengerjakan. Setelah waktu yang diberikan habis, siswa dengan nomor urut satu membalik kartu soalnya yang berisi kunci jawaban dan mencocokannya. Jika jawabannya benar maka siswa yang bernomor urut satu tersebut mendapat nilai 1 point, akan tetapi apabila jawabannya salah maka akan dilempar ke siswa yang mempunyai nomor urut dua dan jika jawabannya benar maka siswa yang bernomor urut dua tersebut yang mendapat 1 point, begitupun seterusnya. Jika dalam satu kelompok tidak ada yang dapat mengerjakan maka taruhlah kartu tersebut dibuang.

d. Jika pemain selanjutnya melembar dadu dan berhenti ditempat yang nomor kartunya sudah diambil, maka pemain mundur satu langkah. e. Permainan berlanjut sampai kartu yang disediakan habis atau waktu

yang telah ditentukan.

f. Penilaian individu dinilai dari point tournament yang didapatkan siswa semakin banyak point maka semakin bagus, sedangkan penilaian kelompok dapat dilihat dari rata-rata dari perolehan tim heterogen. 4. Rekognisi Tim/ Penghargaan Tim

(14)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

1. Model pembelajaran Teams Games Tournaments (TGT) merupakan model pembelajaran kooperatif yang secara garis besar dimulai dari presentasi kelas oleh guru, pembagian tim, games, turnamen dan rekognisi tim 2. Permasalahan yang diduga terjadi pada penerapan model pembelajaran

Teams Games Tournaments (TGT) di antaranya, (1) tidak bisa dilaksanakan dalam waktu yang singkat; (2) tidak semua materi matematika sesuai untuk penerapan model pembelajaran tersebut; (3) guru dalam presentasi kurang jelas dan kurang menarik; (5) siswa dengan kemampuan akademik tinggi kurang terbiasa dan sulit dalam memberi penjelasan kepada siswa lainnya. (6) kurang telitinya guru dalam penempatan siswa dalam meja turnamen (7) langkah-langkah dalam model pembelajaran belum dijelaskan secara rinci sehingga menyulitkan guru dalam penerapannya.

3. Alternatif solusi permasalahan pada penerapan model pembelajaran Teams Games Tournaments (TGT) secara garis besar adalah memodifikasi langkah dan waktu pembelajaran.

B. Saran

1. Penerapan model pembelajaran Teams Games Tournaments (TGT) membutuhkan waktu yang relatif lama dan perlu persiapan yang matang, sehingga diperlukan perencanaan yang matang untuk meminimalisir permasalahan yang timbul.

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Khoiru, dkk. 2011. Strategi Pembelajaran Sekolah Terpadu. Jakarta: Prestasi Pustaka

Huda, M. 2011. Cooperative Learning: Metode, Teknik, Struktur dan Model Penerapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Huda, M. 2013. Model-model Pengajaran dan Pembelajaran: Isu-isu Metodis dan Paradigmatis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Irwanti, Cahyani Gama. 2014. “Implementasi Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) dengan Model Numbered Head Together dan Teams Games Tournament Dalam Pembelajaran Matematika Ditinjau dari Keaktifan Siswa (Eksperimen pada siswa kelas X TKJ SMK Batik Surakarta Tahun Ajaran 2013/2014)”. Skripsi: Universitas Muhammadiyah Surakarta

Paramawarti, Luh. 2013. “Eksperimentasi Pembelajaran Team Game Tournament dan Realistics Matematic Education terhadap Hasil Belajar ditinjau dari Kemandirian Siswa (Pada siswa Kelas IX MTs Suniyyah Selo Tawangrejo tahun 2013/2014)” . Skripsi: Universitas Muhammadiyah Surakarta

Slavin. R. 2008. COOPERATIVE LEARNING Teori, Riset, Dan Praktik. Bandung: Nusa media

Sugiyanto. 2009. Model-model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Mata Padi Presindo

Gambar

Gambar 4.1 Pemempatan meja turnamen

Referensi

Dokumen terkait

Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2013. tentang Tata Tertib Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah

Sehubungan dengan telah berakhirnya masa sanggah terhadap Pengumuman Pemenang Seleksi Umum untuk paket pekerjaan tersebut diatas oleh Kelompok Kerja ( POKJA ) Konsultansi III

Toha Anggoro (2007 : 4.3) menyatakan bahwa “Sampel adalah sebagian anggota populasi yang memberikan keterangan atau data yang diperlukan dalam suatu

Metode studi lapangan dilakukan dengan melakukan wawancara dengan pihak perusahaan untuk mendapatkan data, serta menganalisa data tersebut, sedangkan metode studi pustaka

Oleh karena itu dalam rangka menyeleksi dari 3.750 koperasi wanita yang telah dibentuk pada tahun 2009 maka dibutuhkan penilaian kinerja koperasi wanita agar

[r]

Banyak perlakuan kasar kaum kafir Quraisyi kepada Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya, semua itu tidak menjadikan beliau mundur untuk berdakwah.. Beliau mencoba berdakwah ke Ta’if,

Apabila diperlukan penjabaran, maka permasalahan sebagaimana dimaksud berada dalam pusaran kepentingan kreditor selaku pemegang piutang sekaligus pemegang hak tanggungan