• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN DAN PENGEMBANGAN MUTU DAN KU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENINGKATAN DAN PENGEMBANGAN MUTU DAN KU"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Telah di presentasekan pada Seminar Nasional tema SKETSA PENDIDIKAN INDONESIA

Semarang, 11 April 2015 Page 1

PENINGKATAN DAN PENGEMBANGAN MUTU DAN KUALITAS PENDIDIKAN DALAM TINJAUAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH

Oleh

Satrianawati

Mahasiswa Pendidikan Dasar UNY [email protected] 0853-4058-1089

ABSTRAK

Pendidikan merupakan aspek yang menentukan majunya kualitas sumber daya manusia. Peningkatan mutu dan kualitas pendidikan formal ditentukan oleh kepemimpinan kepala sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah yang berhak mengarahkan, menentukan, memutuskan, dan mengatur sistem sekolah, sehingga majunya suatu sekolah sangat ditentukan oleh pimpinan sekolah. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan kepala sekolah, serta kontribusinya terhadap peningkatan dan pengembangan kualitas pendidikan menunjang terciptanya sumber daya manusia yang kompeten dan mampu bersaing di bidangnya. Olehnya itu, seberapapun profesionalnya guru-guru di sekolah, jika tidak ditunjang dengan kepemimpinan kepala sekolah yang baik dan kompeten, maka sekolah tersebut tidak dapat meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan secara keseluruhan.

(2)

Telah di presentasekan pada Seminar Nasional tema SKETSA PENDIDIKAN INDONESIA

Semarang, 11 April 2015 Page 2

Pendahuluan

Saat ini Indonesia mengalami keuntungan yang luar biasa dalam menuju pendidikan emas tahun 2045. Keuntungan ini terbaca melalui bonus demografi bangsa Indonesia yang memberikan kontribusi bagi pendidikan, karena generasi muda saat ini berada pada usia sekolah. Inilah yang menjadi keuntungan karena

ditahun 2020-2030, usia produktif akan lebih banyak dibanding yang tidak produktif. Fenomena ini juga sejalan dengan berkembangnya masyarakat ekonomi ASEAN atau yang lebih dikenal dengan MEA. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kalau saat ini pendidikan di Indonesia mempersiapkan generasi yang kompeten, mampu memberikan kontribusi dalam membangun Indonesia menjadi lebih baik.

Pendidikan sebagai penentu kemajuan suatu bangsa, termasuk Indonesia sebagai bangsa yang besar dan sekaligus memberikan label bahwa pendidikan merupakan investasi peradaban. Investasi peradaban yang diciptakan melalui proses belajar agar kemandirian bangsa bisa tercipta. Tentunya untuk menuju bangsa yang mandiri sekolah yang di dalamnya terdapat kurikulum tidak menginginkan pembelajaran yang biasa-biasa saja.

Pendidikan di Indonesia hari ini menunjukkan masalah yang memprihatinkan, guru-guru mengalami keterkejutan dengan perubahan kurikulum. Terkejutnya para guru membuat sistem pembelajaran tidak jarang menjadi sebuah kegalauan. Pembelajaran seperti apa yang diinginkan dengan perubahan kurikulum? Ini menjadi faktor kebingungan utama, apakah sama seperti kemarin? Padahal pembelajaran yang telah dilakukan juga sudah bagus. Nah apa sebenarnya yang diinginkan dalam pembelajaran. Bagaimana kepala sekolah memimpin suatu sekolah untuk

meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan? Bagaimana sikap kepala sekolah dengan para guru di sekolah? Inilah yang akan dibahas dalam makalah ini tentang

(3)

Telah di presentasekan pada Seminar Nasional tema SKETSA PENDIDIKAN INDONESIA

Semarang, 11 April 2015 Page 3

dalam menghadapi tantangan ASEAN community dan fenomena bonus demografi yang menggiurkan bangsa Indonesia.

PEMBAHASAN

A.Kepala Sekolah dalam Menghadapi Perubahan Kurikulum

Kepala sekolah harus selalu siaga dalam menghadapi fenomena perubahan kurikulum. Kepala sekolah sebagai pemimpin dalam sekolah, seharusnya

menunjukkan sikap yang care dan peduli terhadap perubahan kurikulum, karena kurikulum ini dibuat untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia. Perubahan kurikulum dari waktu ke waktu hingga menjadi kurikulum 2013 saat ini menunjukkan perhatian pemerintah yang begitu besar terhadap pendidikan. Pelaksanaan kurikulum 2013 merupakan bagian dari proses peningkatan dan pengembangan kualitas pendidikan. Pendidikan yang di dalamnya terdapat kurikulum dan dilaksanakan dalam proses pembelajaran. Secara lebih ringkas dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1. Hubungan Pendidikan, Kurikulum, dan Pembelajaran (Ghufron, 2014) Pendidikan erat kaitanya dengan kurikulum. Program pendidikan dibuat dalam kurikulum dan dilaksanakan melalui proses pembelajaran. Artinya kurikulum sebagai program diimplementasikan melalui pembelajaran.

Pembelajaran sebagai terapan dari konsep kurikulum untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan. Pembelajaran inilah yang berkaitan dengan majunya

pendidikan. Baik itu berproses dalam lingkungan formal, nonformal, maupun Kepemimpinan Kepala Sekolah

(4)

Telah di presentasekan pada Seminar Nasional tema SKETSA PENDIDIKAN INDONESIA

Semarang, 11 April 2015 Page 4

informal. Pengembangan dan peningkatan mutu dan kualitas sekolah. Peningkatan mutu dan kualitas sekolah sangat bergantung pada kinerja kepala sekolah. Kepala sekolah sebagai pemimpin sekolah mengawali perubahan kurikulum dengan sikap yang optimis bahwa kurikulum 2013 dapat dilaksanakan, tidak menunjukkan sikap pesimis, dan mampu membimbing guru-guru menerapkan model-model pembelajaran yang dibuat dalam kurikulum untuk kemajuan pendidikan.

B.Faktor Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mendukung Peningkatan Mutu dan Kualitas Sekolah

Kepemimpinan kepala sekolah dalam menanggapi fenomena perubahan kurikulum ikut mempengaruhi mutu dan kualitas pendidikan. Faktor kepemimpinan kepala sekolah memberikan kontribusi/mendukung keberhasilan dalam meningkatkan mutu dan kualitas sekolah, karena:

1. Kepala sekolah memiliki kemampuan untuk memimpin upaya perubahan. Perubahan kurikulum dan tantangan ASEAN community, memerlukan manajemen sekolah yang baik. Kepala sekolah mempunyai wewenang dalam memimpin perubahan yang terjadi dengan mengedepankan cara pandangnya atau visi terhadap sekolah yang dipimpin. Visi sekolah, yang meliputi target yang terukur jelas, strategi selaras dan rencana untuk memantau kemajuan dan mengemudi perbaikan terus-menerus. Visi sekolah yang di dalamnya mengembangkan kualitas sekolah melalui pembelajaran yang berkualitas. Melalui cara pandang kepala sekolah yang berorientasi terhadap kemajuan sekolah diharapkan dapat membuat guru-guru untuk memahami cara pandang tersebut, sehingga guru-guru belajar melalui rekan guru yang lainnya untuk menciptakan pembelajaran yang berkualitas. Melalui visi sekolah yang disetujui

(5)

Telah di presentasekan pada Seminar Nasional tema SKETSA PENDIDIKAN INDONESIA

Semarang, 11 April 2015 Page 5

Bender, et al. (2000) menjelaskan ada empat faktor penentu keberhasilan peningkatan kualitas sekolah yaitu adanya visi, kerjasama, pengendalian proyek, dan penyimpanan dan pengolahan informasi. Keempat faktor tersebut dilaksanakan secara keseluruhan sehingga keberhasilan proyek inovasi dapat dicapai. Satu diantara keempat faktor tersebut adalah misi, bahwa dengan menggeneralisasi suatu pembuatan dan pelaksanaan visi dapat

menunjang keberhasilan proyek. Oleh karena itu, visi sekolah yang jelas membuat para guru untuk melaksanakan tugas mengajar terutama di kelas, tidak hanya sekedar untuk memenuhi kewajiban, tetapi lebih dari itu kewajiban yang penuh rasa tanggungjawab, sehingga melalui pembelajaran yang dilaksanakan dapat menimbulkan kesan bermakna bagi siswa. Inilah peran kepala sekolah yang berorientasi pada visi sekolah sehingga menciptakan sumber daya manusia yang handal dan kompeten.

2. Kepala sekolah sebagai pemimpin yang membangun komunikasi untuk membuat guru menciptakan inovasi dalam proses pembelajaran.

Kepala sekolah berkomunikasi dengan para guru untuk dapat mengefektifkan proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan permasalahan ketiga dalam jurnal yang ditulis oleh Jurasaite-Harbison (2009) bahwa kepemimpinan kepala sekolah pada permasalahan ketiga yang terjadi di sekolah

Lithuania memberikan kesempatan kepada para guru membentuk komunitas

belajar yang ditetapkan standar profesionalnya oleh kepala sekolah.

Komunikasi yang dibangun oleh kepala sekolah mampu menjadikan sekolah

sebagai tempat yang nyaman bagi siswa, sehingga siswa merasa sekolah

sebagai rumah sendiri. Inilah peran kepala sekolah yang menjalin komunikasi

dengan para guru, sehingga para guru bekerja lebih aktif, efektif, dan inovatif.

3. Kepala sekolah yang berhak mempekerjakan praktek kepegawaian (rekrutmen

(6)

Telah di presentasekan pada Seminar Nasional tema SKETSA PENDIDIKAN INDONESIA

Semarang, 11 April 2015 Page 6

pengamatan dengan umpan balik, instruksional, evaluasi, review kepemilikan untuk terus meningkatkan pembelajaran dan memenuhi tujuan belajar siswa. 4. Kebijakan yang dikeluarkan kepala sekolah.

Kepala sekolah berhak mengeluarkan kebijakan yang mengharuskan para guru bereksplorasi dan mengubah proses pembelajaran yang mereka lakukan. Jurasaite-Harbison (2009) menjelaskan tentang faktor kepemimpinan

kepala sekolah dari tiga sekolah yang berbeda dalam konteks belajar di

lingkungan informal. Kasus ketiga yang terjadi di sekolah Lithuanian memberikan dampak bahwa belajar guru dalam konteks informal menjadikan guru dapat melakukan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan langkah-langkah class action research. Oleh karena itu, kebijakan kepala sekolah dapat mempengaruhi cara guru dalam membelajarkan siswa untuk lebih kreatif dalam pembelajaran.

5. Kepala sekolah berhak melakukan kerjasama dengan orang tua siswa. Keterlibatan orang tua siswa.

Garry (Hornby & Witte, 2010) menjelaskan bahwa keterlibatan orang tua dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Artinya sekolah memiliki kerjasama dalam melibatkan orang tua melalui kegiatan sekolah. Hal ini juga berkaitan dengan kebijakan yang dibuat oleh kepala sekolah. Kepala sekolah sebagai pemimpin tertinggi di sekolah perlu mmengundang orang tua siswa dalam melakukan sosialisasi untuk inovasi proses pembelajaran, dalam hal ini kepala sekolah meminta kerelaan orang tua siswa untuk membantu sekolah berproses meningkatkan proses pembelajaran.

C.Kepala Sekolah dalam Kontribusinya terhadap Kompetensi Guru

Perubahan kurikulum dan tantangan ASEAN commnunity memberikan kontribusi yang besar bagi para guru untuk dapat bereksplorasi dalam

(7)

Telah di presentasekan pada Seminar Nasional tema SKETSA PENDIDIKAN INDONESIA

Semarang, 11 April 2015 Page 7

kepemimpinan kepala sekolah yang dapat mempengaruhi peningkatan kompetensi guru dalam memberikan kinerja terbaiknya di sekolah untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan. Adapaun empat kompetensi guru yang dipengaruhi oleh kepemimpinan kepala sekolah yaitu:

1. Kompetensi pedagogy guru. Kepala sekolah yang memberikan saran dan arahan dapat meningkatkan kompetensi pedagogy guru. Hal ini berkaitan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lapalainen (2014) tentang proyek pembuatan media pembelajaran yang berbasis pengetahuan. Bahwa dengan kompetensi pedagogy yang dimiliki oleh guru, guru dapat membuat media pembelajaran yang ramah lingkungan dan aplikatif. Chimiliar & Cheung (2007) menjelaskan bahwa kepala sekolah yang memberikan kesempatan pada para guru dalam kegiatan pembelajaran untuk menggunakan teknologi adaptif dan mengaplikasikan teknologi dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan profesionalisme guru.

2. Kompetensi sosial, bahwa kerjasama yang dilakukan oleh kepala sekolah dan

guru ikut mempengaruhi keberhasilan pembelajaran. Hal ini dijelaskan oleh Jurasaite-Harbison (2009), Hornby & Witte (2010), Meirink, et al. (2009), Bender, et al. (2000), Anderson & Minke (2007). Hasil kajian beberapa jurnal dijelaskan bahwa kerjasama yang dilakukan oleh guru dengan sesama guru perlu dilakukan terutama dalam konteks pendidikan yang informal. Selain itu, kerjasama yang dilakukan guru untuk meningkatkan kualitas sekolah selain belajar dari sesama guru, tetapi juga belajar dari orang tua siswa sebagai guru pertama bagi siswa. Jadi kerjasama atau keterampilan sosial guru juga ditentukan oleh kepemimpinan kepala sekolah.

(8)

Telah di presentasekan pada Seminar Nasional tema SKETSA PENDIDIKAN INDONESIA

Semarang, 11 April 2015 Page 8

karena kemampuan guru yang memiliki keterampilan profesional dan didukung oleh kepala sekolah dapat menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien. 4. Kompetensi kepribadian guru dipengaruhi oleh kepemimpinan kepala sekolah.

Guru yang memiliki keterampilan kepribadian tidak dapat berbuat banyak jika kepala sekolah tidak memberikan kesempatan kepada guru untuk berinovasi dan berkreasi dalam pembelajaran, maka kepribadian tersebut hanya menjadi keresahan dari guru itu sendiri. Hasil penelitian Jurasaite-Harbison (2009) menjelaskan bahwa dari tiga sekolah yang ada, dua sekolah diantaranya tidak

memberikan kesempatan pada para guru untuk melaksanakan pembelajaran

yang sesuai dengan inisiatifnya atau pemikiran guru, karena sekolah pertama

selain dibatasi oleh kondisi ruang untuk pertemuan para guru, jadwal guru yang

padat tidak memungkinkan para guru untuk saling berkomunikasi satu sama

lain. adapun untuk sekolah yang kedua memiliki sistem sekolah yang top-down

sehingga para guru merasa tertekan berada di sekolah, para guru umumnya

tidak dapat melakukan inovasi yang sesuai dengan apa yang diinginkan, karena

semua berada dalam pantauan administrasi sekolah.

D.Upaya-upaya yang dilakukan Kepala Sekolah dalam Menghadapi Hambatan

Peningkatan dan Pengembangan Mutu dan Kualitas Pendidikan di Indonesia

Kajian beberapa jurnal internasional memperlihatkan bahwa peningkatan

dan pengembangan kualitas pendidikan di Indonesia jelas berbeda dengan negara lain. adapun hambatan peningkatan mutu dan kualitas pendidikan dikarenakan

beberapa faktor:

(9)

Telah di presentasekan pada Seminar Nasional tema SKETSA PENDIDIKAN INDONESIA

Semarang, 11 April 2015 Page 9

selayaknya kepala sekolah mendorong para guru untuk melakukan proses pembelajaran yang tidak biasa-biasa saja. Artinya kepala sekolah mendorong para guru untuk melakukan inovasi terhadapa cara pembelajaran yang dilakukan di kelas. Motivasi dari kepala sekolah ini dapat mengurangi kesenjangan kepribadian individu guru yang umumnya hanya menunggu perintah dari atasan.

2. Memberikan remisi atau penghargaan kepada para guru yang melakukan kegiatan dalam hal peningkatan kualitas dan mutu sekolah. Kepala sekolah perlu memberikan remisi atau penghargaan kepada para guru yang melakukan perubahan. Hal ini dikarenakan guru tidak berani menanggung resiko yang besar dari segi materi. Pablos-Pons (2012) menyatakan bahwa “the study of teacher well-being is supported by a scientific body that uses procedures aimed at identifications: something that always take place in the professional context of the teacher”. Maksud pendapat tersebut bahwa pengetahuan tentang membangun kesejahteraan guru didukung oleh badan ilmiah yang menggunakan prosedur yang ditujukan untuk identifikasi; sesuatu yang selalu terjadi dalam konteks profesional guru. Pendapat ini menjelaskan bahwa guru dalam konteks ini didukung oleh badan ilmiah, hal ini berbeda dengan guru-guru yang ada di Indonesia yang tidak didukung oleh badan ilmiah ketika

hendak meningkatkan kompetensi profesional yang dimiliki, sehingga para guru di Indonesia ketika melakukan inovasi cenderung menunggu perintah dari

atasan, karena guru-guru yang ada di Indonesia umumnya merasa berada dalam kesendirian ketika hendak melakukan inovasi pembelajaran di sekolah.

(10)

Telah di presentasekan pada Seminar Nasional tema SKETSA PENDIDIKAN INDONESIA

Semarang, 11 April 2015 Page 10

negara lain berdasarkan penelitian yang dilakukan Yong-Zhao, Frank, & Borman (2004) menjelaskan bahwa sekolah sebagai sistem sosial dalam organisasi melakukan inovasi dalam sekolah tersebut dan inovasi dilakukan atas inisiasi dari guru-guru yang ada di sekolah tersebut. Tentunya, hal ini berbeda dengan guru-guru di Indonesia lebih banyak menunggu perubahan dari atas atau tidak ada guru yang melakukan perubahan/inovasi dalam pembelajaran.

Oleh karena itu perubahan kurikulum merupakan momentum bagi kepala sekolah melakukan inisiasi dengan para guru untuk melakukan inovasi terhadap pembelajaran.

4. Membangun kerjasama dengan semua guru yang ada di sekolah. Kepala sekolah di sekolah-sekolah yang ada di Indonesia umumnya hanya bekerjasama dengan salah satu orang guru, atau dalam hal ini tidak semua guru merasa dekat dengan kepala sekolah, sehingga guru-guru merasa segan dan tidak bekerja dengan kepala sekolah sebagai teman ataupun sahabat yang baik, tetapi hanya sebatas penghormatan terhadap atasan. Padahal seharusnya, kepala sekolah perlu menciptakan komunikasi yang baik dengan semua guru, sehingga diantara para guru tidak terjadi kecemburuan sosial sesama guru, dan bersikap baik dengan sesama guru dapat pula dicontoh oleh siswa. Jurasaite-Harbison (2009) menjelaskan tentang kepemimpinan kepala sekolah in the American school in

the Midwest bahwa ”The efforts of the school principal seemed to be directed at

(11)

Telah di presentasekan pada Seminar Nasional tema SKETSA PENDIDIKAN INDONESIA

Semarang, 11 April 2015 Page 11

kepala sekolah dituntut untuk melakukan kompensasi agar setiap guru tidak menjadi terisolasi dengan guru lainnya dan perlunya menciptakan aturan dan sikap untuk melakukan pembelajaran kolaboratif yang terorganisasi dan motivatif. Jadi pimpinan sekolah yang memberikan contoh sikap akrab dan ramah dengan para guru sebagai bawahannya dapat dicontoh oleh para siswa untuk bersikap lebih baik. Jadi jelas bahwa kepemimpinan kepala sekolah perlu

memperhatikan keseluruhan para guru dengan tidak memilih-milih karena kedekatan ataupun hal lainnya tetapi perlu berlaku baik dengan semua guru. Penutup

Kepala sekolah dalam menghadapi perubahan kurikulum perlu menunjukkan sikap yang care dan peduli terhadap peningkatan dan kualitas pendidikan di Indonesia. Kepala sekolah perlu mendorong atau memberikan motivasi kepada para guru untuk melakukan inovasi terhadap pendidikan yang ada di Indonesia. Karena kepala sekolah memiliki wewenang dalam memimpin upaya perubahan di sekolah, membangun komunikasi untuk membuat guru menciptakan inovasi dalam proses pembelajaran, mempekerjakan praktek kepegawaian, mengeluarkan kebijakan, melakukan kerjasama dengan orang tua siswa. Keterlibatan orang tua siswa.

Kepemimpinan kepala sekolah mempengaruhi kompetensi guru yaitu kompetensi pedagogy, sosial, profesional, dan kompetensi kepribadian. Oleh karena itu, ada beberapa upaya yang perlu dilakukan kepala sekolah dalam menghadapi hambatan peningkatan dan pengembangan mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia

yaitu: (1) memperhatikan kepribadian para guru; (2) memberikan remisi atau penghargaan kepada para guru yang melakukan kegiatan dalam hal peningkatan kualitas dan mutu sekolah; (3) mempercepat proses inovasi atau melakukan

(12)

Telah di presentasekan pada Seminar Nasional tema SKETSA PENDIDIKAN INDONESIA

Semarang, 11 April 2015 Page 12

ada di sekolah. Jadi kepemimpinan sekolah mempengaruhi peningkatan dan pengembangan mutu dan kualitas pendidikan.

Daftar Pustaka

Anderson & Minke. (2007). Parent involvement in Education: Toward an Understanding of Parents’ Decision Making. The Journal Education of Research. University of Delaware.

Bender, et al. (2000). Process Innovation-Case Studies of Critical Success Factor. Engineering Management Journal; Dec, Vol. 12. No. 4.

Chimiliar, Linda & Cheung, Billy. 2007. Assistive Technology Training for Teachers Innovation and Accessability on Line. Developmental Disabilities. Vol. 35. No. 1 & 2.

Hornby & Witte. (2010). Parent Involment in Rural Elementary Schools in New Zealand. Springer.

Jurasaite-Harbison, Elena. (2009). Teachers’ Workplace Learning within Informal Contexts of School Cultures in the United States and Lithuania. Journal of Workplace Learning. Vol. 21. No. 4.

Lappalainen, Harri. (2014). Global and Local Issues in Education: What Finland can Offer to ASIAN Countries. Program book International Conference on Fundamentals and Implementation of Education (ICFIE) 11 – 12 oktober. 2014. Proceeding. Universitas Negeri Yogyakarta.

Meirink, et al. (2009). How do Teachers Learn in The Workplace an Examination of Teacher Learning Activities. Association for Teacher Education in Europe. ISSN: 0261-9768 print/ISSN 1469-5928 on line.

Pablos-Pons, et al. (2012). Teacher Well-Being and Innovation with Information and Communication Technologies; Proposal For a Structure Model. DOI 10.1007/s11135-012-9686-3.

Gambar

Gambar 1. Hubungan Pendidikan, Kurikulum, dan Pembelajaran (Ghufron, 2014)

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian H 0 ditolak dan H1 diterima, yang artinya pola pembelajaran-training dalam teaching factory alfamart class dan motivasi belajar berpengaruh secara

Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Gunungsitoli terletak di Desa Simanaere Kecamatan Gunungsitoli Idanoi merupakan terminal bahan bakar yang melayani seluruh wilayah

Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan Kawasan kabupaten Bogor sebagai kabupaten penyangga Megapolitan Jakarta dan juga merupakan kabupaten lintasan

Hasil Musrenbang Tahun 2015, terdapat 1273 program pembangunan yang diusulkan oleh 12 Kecamatan di Kota Pekanbaru, namun banyak dari usulan tersebut yang tidak

Hasil perancangan sistem informasi kepegawaian Dinas Pendidikan District Bobonaro dilakukan sesuai kebutuhan dan dapat diimplementasikan untuk membantu bagian

Pengembangan kurikulum merupakan kegiatan yang penting yang harus dilakukan dalam rangka mengasilkan kurikulum yang baik, sebab kurikulum merupakan suatu

[r]

Oleh karena itu dalam penelitian ini akan diupayakan konstruksi jejaring kata sekaligus dilakukan pengujian Efektivitas Algoritma Similaritas Semantik Berbasis Jejaring Kata