• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEMINAR NASIONAL PROGRAM PENDIDIKAN SENI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SEMINAR NASIONAL PROGRAM PENDIDIKAN SENI"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

SEMINAR NASIONAL

PROGRAM PENDIDIKAN SENI BUDAYA MENCIPTAKAN

INDUSTRI KREATIF BAGI GENERASI BANGSA

By:

ATIP NURHARINI NIP. 197711092008012018

JURUSAN PGSD

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

(2)

PROGRAM PENDIDIKAN SENI BUDAYA MENCIPTAKAN INDUSTRI KREATIF BAGI GENERASI BANGSA

Atip Nurharini Dosen PGSD UNNES ([email protected])

ABSTRAK

Sekolah adalah wahana pendidikan yang tepat dalam menanamkan nilai-nilai kebudayaan melalui kurikulum. Kurikulum yang terdapat dalam pendidikan merupakan potensi yang besar dalam mananamkan kebudayaan pada generasi muda dan mengembangkan industri kreatif untuk memiliki daya saing global dalam menghadapi Indonesia emas. Program pendidikan yang terdapat dalam kurikulum yaitu dapat dikembangkan melalui seni budaya.

Pengenalan seni budaya bangsa itu sendiri tentu tidak dengan doktrin-doktrin yang justru menyebabakan anak memandang budaya sebagai sesuatu yang ekstrim, tetapi pengenalan seni budaya harus disesuaikan dengan kecerdasan anak dan kemanfaatan yang akan di dapat berdasarkan era perkembangan dunia. Hal ini bertujuan supaya seni budaya mendapat perhatian yang menarik bagi anak sebagai generasi penerus bangsa. Berkenaan dengan hal ini perlunya sistem pendidikan kebudayaan terpadu yang akan di berikan kepada pelajar untuk mengembangkan kreativitasnya berbasis kearifan budaya lokal. Penanaman nilai-nilai budaya ini sekaligus memberikan soft skill

kewirausahaan berbasis seni budaya melalui kreasi seni budaya. Hal ini sangat penting mengingat permasalahan generasi muda yang mulai bergesernya nilai etika dalam berbangsa dan bernegara, memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa, dan melemahnya kemandirian bangsa.

Pendidikan kreativitas juga di berikan untuk mengembangkan poteni siswa berbasis kearifan seni budaya lokal dan membentuk kompetensi wirausaha peserta didik dalam perkembangan idustri kreatif. Hal ini di lakukan melalui pendidikan pada mata pelajaran seni budaya di sekolah dan ekstrakulikuler yang kemudian bersinergi dengan program pemerintah serta masyarakat dalam upaya pengembangan potensi lokal menuju keunggulan daerah pada industri kreatif.

(3)

1.1.Pendahuluan 1.2.Latar Belakang

Kebudayaan merupakan keseluruhan kompleks pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, kemampuan dan kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan manusia sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan dapat melekat dalam pribadi manusia, apabila kebudayaan tersebut dekenalkan pada diri manusia melalui bidang yang terkait dengan pendidikan. Pendidikan merupakan tempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan berupa nilai, norma, etika, kepercayaan, adat-istiadat, hukum adat, dan aturan-aturan khusus yang dapat memproduksi manusia menjadi manusia yang produktif dan kreatif. Pendidikan tersebut di mulai dari sekolah tingkat usia dini bahkan perguruan tinggi.

Sekolah adalah wahana pendidikan yang tepat dalam menanamkan nilai-nilai kebudayaan yaitu dengan cara melalui kurikulum yang tersusun secara inovatif dan produktif. Salah satunya adalah program kurikulum yang dikaitkan dengan seni budaya dengan kearifan lokal.

Kurikulum yang terdapat dalam pendidikan merupakan potensi yang besar dalam mananamkan kebudayaan pada generasi muda dan mengembangkan industri kreatif untuk memiliki daya saing global dalam menghadapi Indonesia emas. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam kehidupan seseorang karena melalui pendidikan seseorang dapat

meningkatkan kecerdasan, keterampilan, mengembangkan potensi diri dan dapat membentuk

pribadi yang bertanggung jawab, cerdas dan kreatif, serta berkarakter. Program pendidikan yang terdapat dalam kurikulum yaitu dapat dikembangkan melalui seni budaya.

Pengenalan seni budaya bangsa itu sendiri tentu tidak dengan doktrin-doktrin yang justru menyebabakan anak memandang budaya sebagai sesuatu yang ekstrim, tetapi pengenalan seni budaya harus disesuaikan dengan kecerdasan anak dan kemanfaatan yang akan di dapat berdasarkan era perkembangan dunia. Hal ini bertujuan supaya seni budaya mendapat perhatian yang menarik bagi anak sebagai generasi penerus bangsa. Berkenaan dengan hal ini perlunya sistem pendidikan kebudayaan terpadu yang akan di berikan kepada pelajar untuk mengembangkan kreativitasnya berbasis kearifan budaya lokal. Penanaman nilai-nilai budaya ini sekaligus memberikan soft skill

kewirausahaan berbasis seni budaya melalui kreasi seni budaya. Hal ini sangat penting mengingat permasalahan generasi muda yang mulai bergesernya nilai etika dalam berbangsa dan bernegara, memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa, dan melemahnya kemandirian bangsa.

(4)

ekstrakulikuler yang kemudian bersinergi dengan program pemerintah serta masyarakat dalam upaya pengembangan potensi lokal menuju keunggulan daerah pada industri kreatif.

1.3.Perumusan Masalah

“ Bagaimanakah program pendidikan seni budaya dalam menciptakan industi kreatif Bagi generasi bangsa?

1.4. Pembahasan

a. Pendidikan dalam Membentuk Karakter

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses

pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta

ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara” ( UU SisDikNas, BAB I :

pasal 1 ayat 1 ).

Dari pengertian di atas, jelas sekali bahwa pendidikan tidak hanya bertitik berat pada kecerdasan intelektual saja melainkan juga pembentukan karakter anak. Pendidikan tidak hanya sekedar proses belajar guna mengejar kecerdasan tetapi juga harus mengembangkan potensi lain yang dimiliki peserta didik dan mendapat perhatian dari pendidik agar dapat berkembang secara optimal.

Pendidikan karakter anak harus dikembangkan di sekolah-sekolah, khususnya di Sekolah Dasar yang merupakan dasar pembentukan karakter atau kepribadian anak agar saat mereka dewasa mempunyai akhlak yang baik (akhlakul kharimah).

Fenomena yang terjadi saat ini, anak kurang mengerti sopan santun dalam berbicara dan bersikap kepada guru, orang tua ataupun orang yang lebih tua. Nilai kesopanan seakan-akan mulai luntur di masyarakat kita, khususnya generasi penerus bangsa. Hal inilah yang harus menjadi

“koreksi” kita sebagai seorang guru dan juga didukung oleh peran orang tua dalam membentuk

(5)

teladan yang baik bagi anaknya. Selain itu juga dapat dilakukan dengan memasukkan anak ke sekolah non-formal untuk mendapat pendidikan agama (disamping pendidikan agama yang diperoleh anak di sekolah) misalnya TPA. Penerapan pendidikan karakter berbasis akhlak di sekolah dapat dilakukan dengan menambah ekstrakurikuler, kepramukaan dan penanaman budi pekerti dalam kurikulum sekolah serta mengimplementasikan langsung dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) mengenai nilai-nilai luhur bangsa kita yang berdasarkan Pancasila.

Di samping upaya di atas juga diperlukan adanya peran serta orang tua, guru serta masyarakat dalam mendukung terwujudnya pembentukan karakter anak yang berbasis akhlak agar kelak saat mereka dewasa akan menjadi manusia yang tidak hanya cerdas di bidang intelektual tetapi juga cerdas di bidang spiritual. Dengan demikian Negara kita akan menjadi Negara yang bermartabat yang mempunyai generasi penerus bangsa yang bermartabat pula sehingga tidak akan dipandang sebelah mata oleh Negara lain serta dapat terwujudnya Tujuan Pendidikan Nasional.

b. Seni Budaya dalam Pendidikan

Dari Ensiklopedi Indonesia dipetik bahwa definisi seni yaitu penjelmaan rasa indah yang

terkandung dalam jiwa manusia, dilahirkan dengan perantaraan alat komunikasi ke dalam bentuk

yang dapat ditangkap oleh indera pendengaran (seni suara), penglihatan (seni lukis), atau dilahirkan

dengan perantaraan gerak (seni tari, drama).

Penjelmaan rasa indah terkait dengan konsep seni yang mendefinisikan bahwa seni

merupakan sebuah cara pemahaman melalui pengalaman-pengalaman artistik individu untuk

mengenali diri sendiri maupun orang lain. Melalui pengalaman-pengalaman inilah berbagai ide

muncul dalam hati dan pikiran para siswa, sehingga melalui pendidikan seni dapat ditanamkan

pemahaman dan wawasan budaya yang memungkinkan adanya internalisasi nilai-nilai budaya yang

melatarbelakangi adanya seni yang dapat menumbuhkan proses beradaptasi dan berapresiasi (Jazuli,

2008:2).

Pengalaman yang di dapat melalui aktivitas seni tidak lepas dari proses yang melibatkan

pandangan, tinjauan, penglihatan, atau penglihatan indrawi. Namun demikian pengamatan pada seni

tidak terbatas pada penglihatan inderawi saja, tetapi termasuk pula melibatkan penglihatan intuitif

dan rasa (feeling) yang menyusup ke dalam seni melalui alat indera. Dalam hal ini menunjukkan

bahwa pengamatan pada sebuah hasil seni bukan sekedar melihat barang mati, tetapi melihat jiwa

hidup yang bergerak secara berubah-ubah. Oleh karena itu menyaksikan sebuah hasil seni tidak

cukup dengan mata kepala, namun juga dengan mata hati agar dapat menembus wujud yang kasat

(6)

Pengaruh seni pada sang penikmat seni memberikan pengalaman estetika yang menjangkau

proses kesadaran si pencipta seni sebelum, selama, dan sesudah orang mengalami keindahan seni.

Pengalaman yang di dapat senantiasa membawa kesan, pengalaman, dan pemikiran tertentu,

sehingga penghayat seni mampu mengendalikan emosi-emosi yang ada di dalam hidupnya dan

mendapatkan arahan dan isi baru yang sebelumnya belum pernah dirasakan atau dilakukan (Greg

Soetomo, 2003:14-15)

Pada teori modern memunculkan berbagai teori seni yang membahas fungsi dan kedudukan

manusia sebagai pencipta suatu karya seni, sehingga karya itu menimbulkan aesthetic experience

(pengalaman estetis) pada manusia yang menyaksikan. Menurut Collingwood 1958 (dalam

Djelantik 1999:129) bahwa seni ekspresi, penuangan dari emosi sang pencipta bertujuan sebagai

komunikasi (ekspresi, penuangan perasaan agar sampai kepada orang).

Berpangkal dari teori tersebut menghasilkan suatu pendekatan ekspresi di dalam

pelaksanaan kegiatan seni. Sepertihalnya seni dalam pembelajaran mencerminkan berbagai peran

yang dapat mengembangkan kemampuan dasar siswa seperti fisik perceptual, intelektual,

emosional, social, kreativitas, dan estetik. Definisi tersebut menunjukkan bahwa semakin anak

dilatih dan dibina secara intensif dan continue, memasukkan jiwa seni ke dalam kehidupannya

senantiasa akan menghasilkan suatu hasil yang maksimal. Hasil yang dicapai dipengaruhi oleh

kreativitas yang menunjang intelektual yang tinggi. Perlunya pelatihan dan pembinaan dapat

dimulai sejak anak lahir sampai menginjak sekolah.

Pada masa anak mulai mengenyam pendidikan di sekolah misalnya masa sekolah dasar,

anak diharapkan memperoleh pengetahuan dasar yang dipandang sangat esensial bagi persiapan

dan penyesuaian diri terhadap kehidupan di masa dewasa. Anak diharapkan mempelajari tentang

seni menghargai, dan seni mencintai terhadap hasil karya sendiri maupun hasil karya orang lain.

Hasil karya yang diciptakan sendiri dapat melatih anak terhadap suatu keterampilan-keterampilan

tertentu (Hurloc, 1979). Adanya keterampilan-keterampilan secara otomatis telah memasukkan jiwa

seni kepada bidang studi lain misalnya seni menghitung (aritmatika), seni menulis (karya sastra),

menanam bunga (biologi), seni gerak (menari), dan seni bunyi (bermain musik). Fenomena tersebut

menunjukkan bahwa anak bisa berkreasi, beraktivitas, meningkatkan kemampuan mental dan

menghargai hasil karya sendiri dan orang lain.

c. Model Pembelajaran Seni Budaya yang Kreatif dan Produktif

(7)

1. Pelajar memahami seni budaya sebagai indentitas diri dan identitas bangsa melalui pemahaman terhadap budaya.

2. Menjadikan kearifan seni budaya sebagai filter menghadapai era globalisasi melalui guru, peran orang tua dan masyarakat.

3. Kreativitas pelajar di kembangkan melalui materi pelajaran seni budaya baik itu meliputi seni musik, seni tari, seni rupa dan kerajinan tangan dengan berbasis produk kerajinan khas lokal untuk di pelajari dan inovasi sebagai produk yang termasuk dalam industri kreatif.

4. Lewat Ekstrakulikuler di ajarkan skill kewirausahaan berbasis seni budaya dengan kearifan lokal supaya siswa belajar mandiri dan produktif.

Contoh dalam pendidikan seni tari yaitu pembelajaran seni tari sebagai sarana pendidikan kreatif secara konseptual bertujuan untuk mengembangkan aspek apresiasi estetika, etika dan

kreatif. Secara psikologis, di dalam pembelajaran seni tari khususnya dalam penciptaan karya tari

memiliki pengakuan terhadap bentuk kepribadian karya seseorang. Selain itu, juga mengembangkan

bentuk kreativitas, karena kreativitas merupakan satuan potensi yang ada pada diri manusia. Bentuk

kreativitas yang diajarkan yaitu kreatifitas dalam menari, menciptakan tarian, mempopulerkan

pertunjukan tari, mengkritik pertunjukan tari, bahkan kreativitas dalam tata busana dan make up.

Kegiatan seni musik contohnya mengajarkan menyanyi, membuat aransemen musik, memainkan alat musik, dan memanajemen pertunjukan musik. Selain itu juga bisa memengenalkan cara pembuatan alat musik seperti angklung dan pembuatan kerajinan miniatur angklung dalam bentuk mangket dan aksesoris gantungan kunci dan pin angklung. Kemudian dalam nilai-nilai dan norma, semboyan asah, asih dan asuh di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari melalui pengajaran dari keluarga dan masyarakat. Secara parsial beberapa sekolah seperti Bandung, Semarang, Blora, Surabaya sudah mulai melakukan pendidikan seni budaya berbasis kearifan lokal dengan menanamkan industri produktif bagi siswanya.

Dalam pembelajaran seni budaya menyandarkan pada 5 (Lima) pilar yang harus ditanamkan bagi siswa untuk selalu kreatif dan produktif diantaranya adalah :

1. Pengembangan akhlak melalui teladan (Learning by Qudwah) 2. Pengembangan Kreativitas melalui kegiatan Leraning by Games 3. Pengembangan logika dan daya cipta melalui Expreriental Learning 4. Pengembangan kepemimpinan dengan metode Outbond Training 5. Pengembangan karakter mandiri (entrepreneurship games)

Sedangkan untuk pembelajaran seni rupa sebagai kelompok mata pelajaran estetika

didalamnya memiliki tujuan untuk meningkatkan sensitivitas, kemampuan mengekspresikan dan

(8)

mengekspresikan keindahan serta harmoni mencakup apresiasi dan ekspresi, baik dalam kehidupan

individual, sehingga mampu menikmati dan mensyukuri hidup, maupun dalam kehidupan

kemasyarakatan, dan mampu menciptakan kebersamaan yang harmonis.

Standar kompetensi seni rupa berisi mengapresiasi karya seni rupa memberi dasar-dasar

pembinaan apresiasi seni rupa. Dalam standar kompetensi ini dapat mengenal, memahami, dan

menafsirkan hasil karya seni rupa anak, dan kompetensi dasarnya adalah karakteristik hasil karya

seni rupa anak yang terdiri dari tipologi, periodisasi, dan evaluasi karya anak serta menampilkan

sikap apresiatif terhadap karya seni rupa

Berkarya seni rupa pada dasarnya adalah proses membentuk gagasan dan mengolah media

seni rupa untuk mewujudkan bentuk-bentuk atau gambaran-gambaran yang baru. Untuk

membentuk gagasan, siswa perlu dilibatkan dalam berbagai pendekatan seperti menggambar,

mengobservasi, mencatat, membuat sketsa, berekspresimen, dan menyelidik gambar-gambar atau

bentuk-bentuk lainnya. Selain itu, siswa juga perlu dilibatkan dalam proses pengamatan terhadap

masalah pribadi, realitas sosial, tema-tema universal fantasi dan imajinasi.

Pendidikan keterampilan dan kerajinan tangan dengan cara memberikan bimbingan kepada

anak, agar memiliki kemampuan dalam hal membuat, mencipta dan memasarkan produk-produk

kerajinan lokal serta melakukan sesuatu dengan baik/cermat terhadap sumber-sumber yang ada di

lingkungan menjadi barang-barang kerajinan yang bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan.

Kemampuan dasar yang dikembangkan melalui materi seni budaya meliputi: 1) fisik, 2)

perseptual, 3) pikir atau intelektual, 4) cipta, kreativitas, 5) emosi, 6) sosial, 7) estetika.

Kemampuan-kemampuan dasar tersebut bergu na untukmengolah kesiapan dirinya dalam belajar

menjadi manusia yang kreatiatif dan produktif.

1.5. Kesimpulan

Penanaman nilai-nilai budaya ini sekaligus memberikan soft skill kewirausahaan berbasis seni budaya melalui kreasi seni budaya lokal. Hal ini sangat penting mengingat permasalahan generasi muda yang mulai bergesernya nilai etika dalam berbangsa dan bernegara, memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa, dan melemahnya kemandirian bangsa.

(9)

DAFTAR PUSTAKA

Al Bagdadi, Abdurahman. 1991. Seni dalam Pandangan Islam. Jakarta:Gema Insani

Arikunto, Suharsini. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Cetakan keduabelas. Edisi V. Jakarta:PT Rineka Cipta

Banoe, Pono. 1984. Pengantar Pengetahuan Alat Musik. Jakarta:CV Baru

Hadi, Sumandiyo. 1996. Aspek-aspek Dasar Koreografi Kelompok kelompok. Yogyakarta: Manthili

Hariyono. 1996. Pemahaman Kontekstual tentang Ilmu Budaya Dasar. Jogjakarta:Kanisius.

Hurlock, Elizabeth B. 1978. Child Development Perkembangan Anak Jilid II, Edisi Keenam. Aliha Bahasa Meitasari Tjandrasari dan Muslichah Zarkasih. Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama.

Munandar, Utami. 1992. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Salam, Sofyan. 2002. Paradigma dan Masalah Pendidikan Seni. Tt

Safaria, Triantoro. Panduan Mencetak Anak Super Kreatif. Jogjakarta: Platinum.

Sedyawati, Edi (ed). 1984. Tari Tinjauan dari Berbagai Segi. Jakarta: Pustaka Jaya.

Soedarsono. 1972. Djawa dan Bali: Dua Pusat Perkembangan Drama Tari Tradisional di

Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sutrisno, Mudji. 1993. Estetika Filsafat Keindahan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Suroso, Cut, Kamaril, Wardani. 2001. Makalah Seminar dan Lokakarya Nasional: Konsep

Pendidikan Seni Tingkat SD-SLTP-SMU. Jakarta:Universitas Negeri Jakarta

Referensi

Dokumen terkait

40 Dalam rangka mengembangkan kemampuan berpikir matematik siswa, guru dapat menggunakan pendekatan bervariasi mulai dari yang lebih. bersifat langsung

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa (1) penggunaan media gambar dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam menulis petunjuk

Terhadap putusan MK tersebut di atas, dalam implementasinya terhadap penanganan proses penyidikan khususnya penyidikan untuk kasus pencurian dengan pemberatan yang terjadi

Analisis vegetasi dan pola sebaran salinitas dapat memberikan gambaran mengenai tingkat pemanfaatan ekosistem mangrove dan perubahan lingkungan yang terjadi akibat aktivitas

Kecamatan Medan Sunggal Dalam Anggka Tahun 2010.. Badan Pusat Statistik Kota Medan

(1)   Apabila  penyelesaian  kerugian  Daerah  melalui  Upaya  Damai  sebagaimana  dimaksud  pada  Pasal  15  ayat  (1)  tidak  berhasil,  maka  Ketua 

Yang dihasilkan dari rancangan ini adalah, informasi atau pesan yang berisi tentang bagaimana berlalu lintas yang baik dan benar serta tata cara berlalu lintas yang dikemas

Artinya penetapan Kawasan Perhatian Investasi (KPI) Benoa dalam MP3EI yang bertujuan untuk mendorong rencana investasi berupa pembangunan pusat pariwisata baru