A. Pendahuluan
Akhir-akhir ini sering terjadi peristiwa yang menyudutkan guru. Profesi yang satu ini belakangan memang kerap menjadi bahan perbincangan baik di media cetak maupun elektronik. Isu yang sering muncul adalah mengenai tuntutan akan kesejahteraan guru maupun tindak kekerasan yang melibatkan guru dalam hal mendidik muridnya. Tuntutan akan kesejahteraan didasarkan pada masih adanya sebagian guru yang belum mendapatkan tunjangan yang layak bahkan untuk kehidupan sehari-hari mereka. Sementara tindak
kekerasan ataupun pelecehan guru terhadap murid sering kali mencuat karena tidak jarang sampai ke meja hijau.
Guru sering disebut sebagai pembangun bangsa. Di setiap negara dan setiap waktu, peranan guru sangat penting. Di tangan guru terletak tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan dan mengembangkan generasi muda. Tidak bisa dipungkiri, gambaran guru ideal berubah sesuai kondisi zaman. Di masa lalu,
seorang guru dianggap sebagai sumber segala ilmu, tapi sekarang asumsi seperti itu mulai terkikis. Pada
kenyataannya, guru diperlukan sebagai agen perubahan dan bukan hanya sebagai pentransfer ilmu dan budaya. Dalam konteks ini, kita seharusnya mulai menaruh perhatian pada kebutuhan terkini para guru.1
Karena guru adalah profesi teladan, makaakan sangat tabu jika seorang guru berperilaku menyimpang dari moralitas. Jangankan yang berkaitan dengan
1Nayereh Shahmohammadi, “Evaluation of Teachers’ Education Programs in Iran (Case Study)”, Journal of Educational and Social Research Vol. 2 (2) May 2012 , 127-135.
kriminalitas seperti pelecehan seksual atau tindak kekerasan, prilaku yang wajar untuk yang bukan guru, dapat menjadi sesuatu yang tak wajar bagi seorang guru.Tertawa terbahak-bahak, berpakaian ketat,
merokok, dan lainnya merupakan contoh prilaku yang jika dilakukan oleh guru maka terkesan tidak pantas, padahal jika bukan guru masih menjadi prilaku yang wajar saja.2
Selain itu, dengan adanya kesejahteraan guru yang lebih meningkat, maka indikasi kurangnya
moralitas guru semakin bertambah. Guru harus semakin baik dari sisi moralitas dan akademik. Hal itu berjalan seiring dengan semakin seriusnya perhatian masyarakat terhadap guru. Banyaknya pelaporan orangtua siswa dan masyarakat terhadap prilaku guru dalam proses pembelajaran di sekolah, merupakan bukti nyata hal tersebut.Bermasalahnya moralitas guru akan berdampak pada siswanya. Hal ini sudah menjadi sebab akibat yang sulit untuk dipungkiri. Meski ada pengaruh lain, seperti lingkungan sekitar dan rumah tangga, namun faktor guru lebih dominan. Sebenarnya, hal yang paling
mendasar adalah keteladanan sebagai moralitas utama bagi guru.
Salah satu contoh kekerasan yang dilakukan oleh guru kepada muridnya misalnya terungkap dari kisah guru Asmara di Sekolah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Medan yang memberi balsem mata muridnya karena menyontek.3Tapi gara-gara banyaknya kasus murid yang diperkarakan hukum karena mendapat perlakuan kasar
2 M. Syukur Salman, “Menyoal Moralitas
Guru,”http://edukasi. kompasiana. com/2013/11 /19/ menyoal-moralitas-guru-612127.html, 19 November 2013 (diakses pada 30 Desember 2013)
3 Muhammad Taufik, “4 Kisah guru hukum anak nakal berujung dipolisikan,” 1 Oktober 2013
dari guru, belakangan ini masyarakat seperti latah, sedikit-sedikit bila ada guru mencubit atau menjewer, langsung dilaporkan ke polisi oleh orang tua.Padahal, beberapa guru beralasan, mencubit atau menjewer itu tujuannya agar murid jera dan tidak nakal lagi.Rata-rata, untuk kasus semacam itu berakhir di kepolisian, hingga sampai ke kursi persidangan karena masuk kategori kekerasan terhadap anak.
Kasus lain misalnya, guru SMP Perguruan Pusat Ksatrya, Taufikqurrachman yang dilaporkan ke polisi oleh orang tua anak didiknya karena kasus kekerasan. Taufik mengakui telah melakukan pemukulan.Dia beralasan, emosinya meletup karena melihat siswa-siswanya keluar kelas sebelum waktunya. Lain lagi dengan Slamet, guru Olahraga di SMPN 69 Tanjung Duren Timur, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Dia dilaporkan ke polisi oleh orang tua Putra Adela (15), siswa kelas satu di sekolahan itu gara-gara dijewer dan dipukul Slamet.Menurut Kepala Sekolah SMPN 69, Mahyudi, alasan Slamet menjewer Putra karena sudah tiga kali anak itu tidak memakai seragam sekolah saat pelajaran olah raga.4
Kisah ini bisa jadi paling menyita perhatian publik.Ceritanya tentang Sari Asih Sosiawati binti
Rohmatan, Guru SDN Tiuhbalak, Kabupaten Waykanan, Lampung.Dia dilaporkan ke polisi oleh orang tua siswa ke polisi, hingga kasusnya bertahan lama di pengadilan negeri setempat.Asih mendapat pembelaan dari
sejumlah pengajar di sekolahan, termasuk para guru se-Kabupaten Waykanan.Para guru mengatakan, murid yang menjadi korban cubitan merupakan anak hiperaktif sehingga sering merepotkan gurunya.5
4Muhammad Taufik, http://www.merdeka.com/peristiwa/4- kisah-guru-hukum-anak-nakal-berujung-dipolisikan/guru-smpn-69-di-jakarta-dipolisikan-karena-jewer-muridnya.html
hukum-anak-nakal-berujung-dipolisikan/kisah-sidang-guru-asih-di-Tragedi serupa menimpa Sutiyo.Gara-gara
menjatuhkan punishment kepada siswanya Teguh Muji Wicaksono, Guru Matematika di SDN Sumberjati,
Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto itu
dimejahijaukan. Ia divonis bersalah oleh majelis hakim pengadilan negeri (PN) Mojokerto. Ketua Majelis hakim Halim Sutarto menyimpulkan terdakwa terbukti
melanggar pasal 335 ayat (1) KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan.
Kasus itu berawal ketika Sutiyo menjewer Teguh Muji Wicaksono yang telah menyembunyikan sepatu temannya, Fahri.Meskipun berdalih mendidik dan mendisiplinkan siswa, namun wali murid tetap tidak terima.Akibatnya, Sutiyo dipolisikan. Selama proses hukum berlangsung guru Matematika klas VI itu sempat mencicipi tahanan kejaksaan setempat 20 hari sebelum PN Mojokerto memberi status tahanan kota selama 52 hari.6
Berdasarkan masalah-masalah tersebut, makalah ini ingin mencoba membahas mengenai konsepsi guru ideal dalam upaya membangun karakter bangsa ditinjau dari perspektif berbagai kajian. Diawali dengan kajian semantik Arab tentang kata-kata yang sering diartikan sebagai guru. Kajian semantik Arab ini akan melandasi pembahasan selanjutnya mengenai guru dalam
perspektif Al-Qur’an dan al-Hadits. Selanjutnya dibahas juga mengenai relasi guru dan murid dalam konteks tasawuf dan kaitannya dengan pendidikan modern. Selain itu posisi dan kedudukan guru dalam konteks hukum positif Indonesia juga akan dibahas. Semua kajian ini pada akhirnya akan bermuara di pembahasan
lampung-gara-gara-cubit-murid.html 6 Taufik,
mengenai konsep guru ideal dalam konteks pendidikan masa kini berdasarkan kajian-kajian di atas.
B. Istilah Guru dalam Kajian Semantik Arab
Dalam istilah bahasa Arab, terminologi guru
seringkali dikaitkan dengan beberapa kata, diantaranya murabbi, mudarris, mu’allim, muaddib
danmuhadhdhib.Semuabentuk isim fa ‘il ini masing-masing berasal dari masdar katatarbiyat, tadri>s, ta ‘li>m, ta’di>bdan tahdhi>b. 7
Kata tarbiyat secara umum dapat dikembalikan kepada tiga kata kerja yang berbeda, yaitu kata yarbu>, rabiya-yarba>, dan rabba-yarubbu. Kata raba>-yarbu> bermakna nama>-yanmu>yangberarti
‘berkembang’. Kata rabiya-yarba> bermakna nasya’a artinya tumbuh. Kata rabba-yarubbu bermakna
as}lah}ahu, tawalla> amrahu, sa>sahu, wa qa>ma ‘alayhi, wa ra‘a>hu artinya ‘memperbaiki, mengurus, memimpin, menjaga, dan memeliharanya atau
mendidik’.8
Setelah menghimpun beberapa pengertian dari para ahli bahasa seperti Manzhur, Zubaidi, dan al-Fayruzabadi, Rosidin menyimpulkan bahwa secara bahasa kata tarbiyat memiliki banyak makna, antara lain: memberi makan atau memelihara, baiknya
pengurusan dan pemeliharaan, mengembangkan dan menambahkan, menyempurnakan dan membereskan,
7 Secara etimologis, kata tarbiyat adalah mas}dar dari kata rabba>-yurabbi>-tarbiyatan. Sementara kata tadris berasal dari darrasa-yudarrisu-tadri>san.Ta‘li>m berasal dari ‘allama-yu‘allimu-ta‘li>man. Katata’di>b berasal dari addaba-yu’addibu-ta’di>ban, sedangkan tahdhi>b berasal dari hadhdhaba-yuhadhdhibu-tahdhi>ban.Semua bentuk ini berasal dari fi’il tsulatsi mazid biharfin, wazan fa’ala yufa’ilu taf’ilan.
memiliki, mengembangkan dan meninggikan.9Dalam konteks tarbiyat ini, guru sebagai murabbi> diharapkan memenuhi indikator-indikator yang terkandung dalam kata tarbiyat itu sendiri. Guru harus memiliki fungsi sebagai pemelihara, pengembang, inovator,
penyempurna, dan katalisator.
Sementara itu, kata ta ‘li>m berasal dari kata ‘allama-yu’allimu-ta’li>man.Kata dasarnya adalah ‘alima yang biasa diartikan ‘mengetahui’.Al-Manzhur
mengartikan ‘alima sebagai mengetahui, mengenal, merasa dan member kabar.Sementara itu, Ma’lu>f memberikan arti pada al-‘ilmusebagai idrakusy syai’a bihaqiqatihi(mengetahi sesuatu dengan
sebenar-benarnya’.Kata ‘alima sendiri diartikan ‘mengetahui dan meyakini’. Al-Munawwir dan az-Zubaidi cenderung
mengartikan ‘allama yang menurunkan kata ta’lim sebagai pengajaran dan pemberitahuan. Hal ini juga yang dikemukakan oleh al-Ashfahani bahwa ta’lim
adalah pemberitahuan yang dilakukan dengan berulang-ulang dan sering sehingga berbekas pada diri peserta didik10. Guru dalam konteks sebagai mu ‘allim lebih berperan sebagai pemberi informasi dalam hal ini adalah ilmu pengetahuan dan dilakukan secara berulang-ulang.
Kata berikutnya yang sering diasosiasikan sebagai guru adalah mudarris.Kata ini merupakan isim fa’il dari kata tadris yang berasal dari kata dasar darasa artinya ‘terhapus’ atau ‘hilang bekasnya’.Dari arti tersebut berubah kepada arti majazi yaitu membaca tulisan, kitab, atau sesuatu secara berulang-ulang sehingga mudah dihafal. Sedangkan kata darrasa berarti membacakan tulisan , kitab, atau sesuatu secara berulang-ulang sehingga kata ini diartikan sebagai
mengajar. 11Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa guru dalam konteks mudarris adalah guru yang
membacakan tulisan, kitab, atau sesuatu dengan
berulang kali sehingga berbekas pada diri siswa. Peran instruktur dan pelatih lebih kentara dalam guru sebagai mudarris.
Kata lain yang dapat digunakan untuk menyebut seorang guru dalam bahasa Arab adalah muhadhdhib yang berasal dari kata hadhdhaba yang arti umumnya ‘membersihkan’.12Setelah mengkaji dari berbagai
maknal leksikal kata tahdhi>b, dapat disimpulkan bahwa kata tahdhib dalam makna pendidikan adalah
pendidikan yang bertujuan membersihkan ataun menghilangkan perilaku dari hal-hal yang tidak layak dan tidak pantas, serta memperbaikinya dengan hal-hal yang baik.13Dalam konteks ini, guru sebagai muhadhdhib lebih cenderung sebagai pembina akhlak.
Kata terakhir yang memiliki makna guru adalah muaddib yang berasal dari masdar kata ta’di>b. Secara etimologis, kata al-adabu adalah al-du‘a>’u artinya ‘undangan’.14Pada masa kejayaan Islam, kata al-adabu digunakan untuk semua jenis ilmu pengetahuan.Kata at-ta’di>b adalah mas}dar dari kata addaba, yang
menunjukkan makna muba>laghah dan taktsi>r.15 Dari berbagai pengertian leksikal yang ditemukan, dapat disimpulkan bahwa mu’addib digunakan dalam konteks guru sebagai pembina akhlak seseorang supaya berjiwa bersih, berbudi pekerti baik, berperilaku terpuji, dan disiplin.16
11Rosidin, 123-125
12Rosidin, 153 (penjelasan selengkapnya lihat Al-Fairuz Abadi, Jilid I, 139, Az-Zubaidi, Jilid I, 513)
13 Rosidin, 153-155 14 Al-Manzhu>r, jilid I, 93 15 Rosidin, 170
Dari pengertian kelima kata dalam bahasa Arab yang sering diasosiasikan maknanya dengan guru, maka dapat ditarik kesimpula bahwa seorang guru ideal dalam perspektif semantik bahasa Arab memiliki indikator-indikator sebagai berikut:
1. Murabbi mengisyaratkan bahwa guru harus memiliki fungsi sebagai pemelihara,
pengembang, innovator, penyempurna, dan katalisator.
2. Mu’allim mengindikasikan guru sebagai pemberi informasi dalam hal ini adalah ilmu pengetahuan dan dilakukan secara berulang-ulang.
3. Mudarrislebih menitikberatkan guru sebagai instruktur dan pelatih yang telaten dalam mendidik muridnya.
4. Muhadhdhib dan mu’addib menegaskan guru sebagaipembina akhlak seseorang supaya berjiwa bersih, berbudi pekerti baik, berperilaku terpuji, dan disiplin
C. Guru dalam Perspektif Tafsir
Setelah diperoleh kata-kata dalam bahasa Arab yang biasa digunakan untuk menyebut istilah guru, maka langkah selanjutnya adalah mencari kata-kata tersebut dalam konteks al-Qur’an dan al-Hadits.Hal ini dilakukan untuk memperoleh perspektif tafsir al-Qur’an.
Terdapat empat derivasi kata dalam bentuk ism (kata benda)dan dua kata dalam bentuk fi’il (kata kerja) dari kata tarbiyat yang berkaitan langsung dengan makna pendidikan dalam Al-Quran.17Empat kata benda tersebut masing-masing adalah rabb,18
17Rosidin, 21.
rabba>niyyu>na,19rabba>niyyi>na,20dan
raba>’ibukum.21Sedangan bentuk kata kerja dari
tarbiyatdiwakili oleh kata rabbaya>ni>22dan nurabbika.23 Dari sembilan ayat yang dijadikan sampel, Rosidin menyimpulkan bahwa kata rabb mengisyaratkan
tarbiyat itu ada dua macam: (1) tarbiyat khalqiyyat, yang meliputi pembinaan, pengembangan jasad, jiwa, akal dengan berbagai petunjuk, dan (2) tarbiyat
di>niyya>t tahdhi>biyya>t, yaitu bimbingan jiwa dengan wahyu untuk kesempurnaan akal dan kesucian jiwa. 24Sedangkan kesimpulan yang dapat diambil dari kata rabba>niyyu>n adalah bahwa murabbi harus mampu mencegah kemungkaran dan menyuruh kepada hal-hal yangsifatnya baik bagi umat manusia, dan juga harus mampu dan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga kemurnian syariat Allah.25
Sementara itu dari empat tafsir yang dikaji Rosidin, dapat disimpulkan bahwa rabba>niyyi>n berarti orang atau kelompok yang senantiasa berpegang teguh pada ajaran Allah serta menaati semua perintah-Nya
dikarenakan mereka senantiasa membaca, belajar dan mengajarkan Al-Kitab.Tugas mereka adalah mendidik manusia dan pendidikannya mencakup keilmuan yang bertujuan untuk taat kepada Allah dan berpegang teguh pada ajaran-Nya.26 Sementara itu, arti dari raba>’ibu yang merupakan jamak dari rabi>bat adalah anak tiri
19Al-Qur’an menyebutkan kata ini sebanyak dua kali, yaitu pada QS.Al-Ma>’idah [5] ayat 44 dan 63.
20Kata ini muncul satu kali dalam suratA<li ‘Imra>n ayat 79. (Lihat Rosidin, Akar-akar Pendidikan Islam, 33)
21 Al-Qur’an menyebutkannya satu kali dalam surat An-Nisa> ayat 23.
22 Lihat QS.Al-Isra> ayat 24 23Lihat QS. Ash-Shu‘ara> ayat 18
24 Lihat Dedeng Rosidin, Akar-akar Pendidikan Islam dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, 28
perempuan. Hal ini mengisyaratkan bahwa tarbiyat itu berlaku bagi seorang anak baik anak kandung maupun anak lain.27
Dari kedua bentuk kata kerja rabbaya>ni>dan nurabbika, dapat disimpulkan bahwa tarbiyat adalah proses mengembangkan dan menumbuhkan yang meliputi jasad, ruh, dan akal dengan cara yang lemah lembut penuh kasih sayang sejak usia kanak-kanak sampai usia dewasa.28
Selanjutnya, berkaitan dengan kata at-ta‘li>m dalam al-Qur’an dipakai kata yang berupa fi’il (kata kerja) sebanyak 41 kali, masing-masing dalam bentuk fi’il ma>d{i sebanyak 25 kali dalam 25 ayat di 15 surat dan fi’il mud}ari‘ sebanyak 16 kali kali dalam 16 ayat di 8 surat.29Sedangkan dalam bentuk ism muncul dengan kata turunannya sebanyak 1 kali.30Kesimpulan yang dapat diambil dari makna ta’li>m
sekaligusmengisyaratkan fungsi guru dalam konteks mu‘allim menurut tafsir al-Qur’an adalah:
1. Mengajar dengan menghormati etika dan adab tertentu, bersahabat dan bertahap
2. Menyampaikan materi dengan diiringi
penjelasan sehingga murid menjadi tahu dan paham
3. Mengajarkan ilmu yang bermanfaat, melahirkan amal saleh, memberi petunjuk ke jalan
kebahagiaan dunia akhirat sehingga murid dapat menjadi teladan dalam perkataan dan perbuatan
4. Melakukan kegiatan pembelajaran dengan niat karena Allah dengan metode yang mudah diterima
5. Senantiasa meningkatan diri dengan belajar dan membaca sehingga ia memperoleh banyak ilmu31
Selanjutnya, untuk kata at-tadri>s dalam al-Qur’an muncul dalam bentuk darasa dan derivasinya sebanyak 6 kali.32Dari enam ayat tersebut, dapat disimpulkan bahwa tadris dalam kaitannya dengan pengajaran
adalah upaya menjadikan siswa supaya mau membaca, mempelajari, dan mengkajinya sendiri serta
mengamalkannya dengan maksud beribadah kepada Allah.33
D. Guru dalam Kajian Hadis
Kata tarbiyat dalam hadis muncul dengan kata-kata tarubbu, yurabbi, yarubba>ni>, rabba, rabbi>, rabbuha>, raba>’ib dan rabba>niyyi>n. Dari hadis yang memuat kata-kata tersebut dapat disimpulkan bahwa makna murabbi adalah seseorang yang mengurus, memelihara, menjaga, memimpin, mengembangkan anak didik dengan metode yang bertahap dari kecil ke besar, mudah ke sulit sampai tercapainya tujuan.34
Sementara itu, kata ta’lim terdapat dalam empat hadis yang diriwayatkan masing-masing oleh Muslim, Tirmidzi dan Ahmad.35 Keempat hadis ini mengisyaratkan bahwa guru dalam konteks mu’allim harus
memperhatikan hal-hal berikut:
1. Tidak boleh pilih kasih, sayang kepada yang
bodoh, berperilaku baik dalam mengajar, bersikap lembut, memberi pengertian dan pemahaman, dan
31Rosidin, 109-119
32Keenam ayat tersebut masing-masing adalah QS. 6: 105, 7:169, 3:79, 68:37, 34:44 dan 6:156 (untuk penjelasan masing-masing ayat, lihat Rosidin, Akar-akar Pendidikan Islam, 125-130)
33Rosidin, 131
menjelaskan dengan menggunakan nas tidak dengan ra’yu kecuali bila diperlukan36
2. Senantiasa berlaku baik, tidak suka menyiksa fisik, balas dendam, membenci dan mencaci murid.37 Kata at-tadri>s dalam hadis muncul dalam bentuk-bentuk yadrusu, yudrasu, yuda>risu, yatada>rasu>na, udrusu>, yudarrisu, tada>ras, duru>s dan midra>s.38 Dari pembahasan mengenai tadris dalam kajian hadis ini mengisyaratkan makna bahwa seorang mudarris adalah orang yang membacakan sesuatu kepada orang lain (siswa) dilakukan dengan berulang kali dan sering, dengan memperhatikan dan mengingat lafal yang dibaca sehingga orang itu tidak lupa, tidak salah membaca dan dapat membaca sendiri, menguasai, dapat menghafalnya, dilakukan dengan mempelajari, mengkaji isi makna yang terdapat di dalamnya, dengan maksud beribadah dan melaksanakan perintah Allah.39
Untuk kata tahdhi>b menurut hadits dapat disimpulkan sebagai usaha membersihkan noda atau sesuatu yang ada pada diri seseorang sehingga benar-benar menjadi bersih.40Hal ini didasarkan pada kajian empat hadits yang memuat kata hudhdhibu>,
hadhdhibu> dan yuhadhdhabu.41
Sementara itu kata ta’di>b dapat diartikan sebagai upaya mendidik akhlak yaitu hati dan perilaku dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya serta mengajarkannya agar beriman, berhati bersih, berperilaku terpuji, berilmu, bertakwa dan memperoleh rida Allah.42Hal ini
didasarkan pada kajian beberapa hadis yang memuat kata-kata turunan dari ta’di>b yaitu addaba,
addabaha>, addabahunna, yu’addibu,
tu’addibuhunna,addabu>, ta’di>b dan ta’di>buha.43
E. Kedudukan Guru dalam Dunia Tasawuf
Guru dan murid dalam konteks tasawuf memiliki distingsi yang unik. Guru kerap kali diistilahkan sebagai murshid, sementara murid diistilahkan dengan murid. Dalam koridor ilmu tasawuf,murshid adalah manusia yang atas izin Allah, dipertemukan dengan murshid sebelumnya lalu mendapatkan talqi>ndhikir,
mengamalkan tarekatnya dengan benar sehingga sampai tingkatan bersih hatinya terbukti dengan baik, akhlaknya terbukti dengan ketinggian ilmunya dan iatidak mencari murid. Dia mengamalkan untuk dirinya sendiri setelah dilihat oleh orang lain ternyata dia berakhlak mulia, berhati bersih, arif bijaksana, maka orang lain akanminta dibimbing oleh murshid.
Murshid ini dilantik secara ruhani oleh silsilahnya untuk kemudian diikuti oleh orang lain. Calon seorang murshid itu orang yang atas izin Allah ingin mencari ilmu Allah.Untuk menjadi hamba Allah yang baik,ia diberikan ilmu seperti tauhid, fiqih, akhlak, hadis, tasawuf,
nah}wu, dan s}arafoleh gurunya.Pendeknya seorang mursyid harus seorang yang 'alim. Dari sekian ribu bahkan juta muridnya terpilihlah dia. Ia dipilih oleh Allah melalui gurunya bukan keinginannya sendiri.44
Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa guru dalam konteks tarekat sebagai salah satu pelembagaan nilai-nilai tasawuf berfungsi sebagai teladan dan juga pembimbing yang harus ditaati muridnya.Karena itu akhlak menjadi patokan utama dalam memilih seorang guru tarekat, karena hanya dengan akhlak yang baik, seorang guru dapat diteladani oleh muridnya.
Terkait dengan maraknya kenakalan yang
dilakukan oleh pelajar, Wiwi Siti Sajaroh, menganggap
bahwa melihat perkembangan dunia pendidikan yang seperti itu, semua pihak ikut bersalah baik dari gurunya maupun orang tua murid itu sendiri.Karena tingkah laku atau akhlak dari para pelajar tidak bisa diletakkan hanya di pundak para guru, melainkan melibatkan semua unsur, baik dari lingkungan sekolah, keluarga dan faktor eksternal yang sangat berpengaruh untuk
perkembangan jiwa para pelajar.
Lebih lanjut, Sajaroh menyatakan bahwa adab kepada guru, merupakan ajaran yang prinsip dalam ajaran islam, bahkan syarat dalam riyad}ah seorang murid. Hal yang sedemikian ini karena diyakini bahwa hubungan antara guru dan murid adalah melestarikan tradisi sunnah di masa Nabi. Kedudukan murid
menempati peran sahabat dan guru sebagai Nabi dalam hal bimbingan (irsha>d) dan pengajaranMenjaga etika guru dan murid ini dapat dianalogikan dengan mengisi air. Jiwa guru sebagai wadah ilmu, sedangkan jiwa murid sebagai wadah air, yang akan menerima air dari sang guru. Menjaga akhlak adalah mengatur posisi wadah ainyar guru (perasaan dan hati guru) dan wadah airnya murid (perasaan dan hati murid) yang dikenal dengan istilah afeksi, agar jiwa murid dapat terisi jiwa
guru.Intinya, keikhlasan, kejujuran, suri tauladan, serta akhlak dan adab, akan membentuk karakter dari para murid. Jika kesemua itu diabaikan oleh para guru maka cita-cita untuk menjadikan murid yang berbakti dan berakhlaq baik bagaikan api jauh dari panggang.45
Dalam etika murid terhadap guru, Abuddin Nata menyebutkan sepuluh etika murid dalam pandangan Imam al-Ghazali :
Pertama,seorang penuntut ilmu harus
membersihkan jiwanya terlebih dahulu dari akhlak yang
buruk dan sifat-sifat tercela.Hal ini didasarkan pada pandangannya bahwa ilmu adalah ibadah hati dan
merupakan shalat rahasia dan dapat mendekatkan batin pada Allah.
Kedua, seorang penuntut ilmu hendaknya tidak banyak melibatkan diri dalam urusan duniawi. Ia harus sungguh-sungguh dan bekerja keras menuntut
imu,bahkan ia harus jauh dari keluarga dan kampung halamannya. Hal ini dikarenakan banyak berhubungan dengan yang lainnya, dapat menyibukkan hati dan pikiran, dan jika hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan ilmu itu dilakukan, maka akan hilanglah semangat menuntut ilmunya dan tujuannya tidak tercapai.
Ketiga, seorang penuntut ilmu jangan
menyombongkan diri dengan ilmu yang dimilikinya dan jangan pula banyak memerintah guru.Ia yang
memerlukan petunjuknya menuju keberhasilan dan menjaganya dari celaka, dan semua itu dapat dicapai dengan ilmu, dan jangan mendahului suatu pertanyaan, terhadap masalah yang belum dijelaskan oleh gurunya.
Keempat, bagi penuntut ilmu pemula janganlah melibatkan atau mendalami perbedaan pendapat ulama, karena yang demikian itu dapat menimbulkan prasangka buruk,keragu-raguan dan kurang percaya pada
kemampuan guru.
Kelima, seorang penuntut ilmu jangan berpindah dari suatu ilmu yang terpuji kepada cabang-cabangnya kecuali setelah ia memahami pelajaran sebelumnya, mengingat bahwa berbagai macam ilmu itu saling berkaitan satu sama lainnya.
Keenam, seorang penuntut ilmu jangan menenggelamkan diri pada satu bidang ilmu saja, melainkan harus menguasai ilmu pendukung
baru mendalami bidang ilmu tertentu, karena umur yang tersedia tidak cukup untuk menguasai semua bidang imu.
Ketujuh, seorang penuntut ilmu jangan melibatkan diri terhadap pokok bahasan tertentu, sebelum
melengkapi pokok bahasan lainnya yang menjadi pendukung ilmu tersebut.
Kedelapan, seorang penuntut ilmu dianjurkan mengetahui sebab-sebab yang dapat menimbulkan kemuliaan ilmu.
Kesembilan, seorang penuntut ilmu agar dalam mencari ilmunya didasarkan pada upaya untuk
menghias batin dan mempercantiknya dengan berbagai keutamaan.Hal ini didasarkan pada tujuan belajar untuk memperoleh kehidupan yang baik dikahirat. Hal itu tidak akan tercapai kecuali dengan membersihkan jiwa,
menghias diri dengan keutamaan dan akhlak yang terpuji. Oleh sebab itu tujuan belajarnya adalah untuk mencapai kebaikan hidup di akhirat, bukan tujuan duniawi, seperti menghasilkan harta dan kekuasaan.
Kesepuluh, seorang penuntut ilmu harus mengetahui hubungan macam-macam ilmu dan tujuannya.Oleh sebab itu setiap pelajar harus
menemukan maksud dan tujuan ilmu, dan yang penting adalah memilih ilmu yang dapat menyampaikan pada maksud tersebut.Jika maksudnya adalah untuk
mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat, maka ilmu yang harus dipelajari adalah ilmu-ilmu akhirat yang telah disebutkan diatas.
Jika diperhatikan dengan seksama, tampak bahwa pandangan al-Ghazali terhadap akhlak pelajar bersifat sufistik, seperti terlihat pada keharusan berniat mencari imu semata-mata untuk beribadah kepada Allah,
integrated, dimulai dari yang umum kepada yang khusus.46
F. Guru dalam Bingkai Hukum Indonesia
Dalam Undang-undang No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dinyatakan bahwa guru adalah
pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik mulai pendidikan anak usia dini melalui jalur formal pendidikan dasar dan pendidikan menengah.47
Selanjutnya, pada bab XI tentang pendidik dan tenaga kependidikan, ayat 2 dijelaskan bahwa pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas
merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, motivasi berprestasi, melakukan bimbingan dan
pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.48
Produk hukum di negara kita sudah menetapkan bahwa fungsi guru adalah pendidik, pengajar,
pembimbing, pengarah, pelatih, penilai dan evaluator siswa.Tinggal bagaimana guru menerapkan fungsi-fungsi tersebutpelaksanaan di lapangan sehingga benar-benar menjadi guru ideal yang diharapkan oleh masyarakat dan negara.
46Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid,Studi Pemikiran Tasawuf Al-Ghazali(Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2001)
47Lihat Undang-undang nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
G. Reorientasi Guru Ideal dalam Konteks Pendidikan Modern
Dalam sebuah laporan penelitian yang dilakukan oleh Sibel Telli, Perry den Brok, dan Jale
Çakiroğlumenyatakan bahwa murid dan guru menggambarkan guru ideal sebagai seorang yang membina murid, memotivasi dan mendorong mereka, memberikan mereka rasa percaya diri, memabngun hubungan positif dan mendapat respek dari para muridnya.49Hasil studi lain menunjukkan bahwa guru ideal adalah guru yang memiliki kualifikasi sebagai seorang komunikator yang baik dengan muridnya,
berhasil dalam aktivitas pengajaran dan pendidikannya, selalu bersemangat, merasa memiliki dan toleran.50
Bedjo Sujanto menyatakan bahwa esensi profesi guru adalah pendidik yang bertanggung jawab
membentuk karakter anak didiknya selain sebagai
pengajar yang membuat siswanya cerdas.Karena itulah, seorang guru haruslah pribadi yang sanggup
mengembangkan dirinya dengan berbagai cara. Selain itu, idealnya guru tidak hanya maju secara intelektual, tetapi juga harus paham etika.Sebab, seorang pendidik harus mendidik tidak hanya di sekolah, melainkan juga di luar sekolah.51
‘Athiyah al-Abrasyi, sebagaimana dikutip oleh Nizar, memberikan batasan tentang karakteristik pendidik agama Islam, yaitu:a) memiliki sifat zuhud, yaitu mencari keridlaan Allah; b) bersih fisik dan jiwanya;
49Sibel Telli, Perry den Brok, dan Jale Çakiroğlu, “Teachers’ and Students’ Perceptions of the Ideal Teacher,” Education and Science, 2008, Vol. 33, No 149, 118-129
50Ebru Gençtürk,Yavuz Akbaş, Selahattin Kaymakci, “Qualifications of an Ideal Teacher according to Social Studies Preservice Teachers,” Educational Sciences: Theory & Practice, 12 (2), 2012 , 1569-1572
c) ikhlas dan tidak riya dalam melaksanakan tugasnya; d) bersifat pemaaf; e) sabar, dan sanggup menahan amarah, terbuka, dan menjaga kehormatan; f) mencintai peserta didik; g)mengetahui karakter peserta didik; h) menguasai pelajaran yang diajarkannya dengan
professional; i) mampu menggunakan metode mengajar secara bervariasi dan mampu mengelola kelas, dan j)mengetahui kehidupan psikis peserta didik.52
Guru ideal disebut juga guru hebat. Untuk mencapai predikat ini, maka seorang guru harus memiliki: a) gaya mengajar dan kepribadian yang mempesona; b) tujuan yang jelas dalam pembelajaran; c) kemampuan disiplin yang efektif; d) kemampuan memenej kelas yang baik; e) komunikasi yang baik dengan orang tua; f) harapan yang tinggi akan
muridnya; g)pengetahuan yang cukup tentang kurikulum dan standar pendidikan; h) pengetahuan tentang materi pelajaran; i) semangat untuk mengajar dan beirnteraksi dengan murid; dan j) hubungan kepercayaan yang baik dengan murid .53
Dari beberapa pernyataan di atas, sudah saatnya kita melakukan refleksi kembali mengenai fungsi guru dalam konteks pendidikan masa kini.Seorang guru ideal bukan hanya pandai untuk sendiri tapi mampu membuat muridnya pandai. Lebih dari itu, kualitas akhlak dan moral seorang guru akan sangat mempengaruhi perilaku dan prestasi muridnya.
H. Penutup
Pada peringatan Hari Guru Nasional 2013 dan HUT ke 68 PGRIakhir November lalu, tema yang diangkat adalah “Membangun Guru Kreatif dan Inspiratif dengan
52 Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Press, 2002), 45-46.
Menegakkan Kode Etik untuk Penguatan Implementasi Kurikulum 2013”. Tema ini memuat pesan mendasar bahwa implementasi Kurikulum 2013 menuntut guru bekerja makin kreatif dan inspiratif dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Perilaku yang ditampilkan oleh guru sebagai tenaga professional harus berbasis pada kode etik yang ditetapkan oleh organisasi profesi guru.54
Dalam laman teaching.org, ada pernyataan menarik tentang guru yang hebat.Guru yang hebat adalah guru yang dikenang dan dihormati oleh muridnya untuk selamanya.Guru yang ideal adalah guru hebat yang memiliki pengaruh abadi dalam kehidupan
muridnya.Dan guru yang paling hebat adalah guru yang mampu menginspirasi muridnya menjadi orang hebat pula.55
DAFTAR PUSTAKA
Al-Manzhu>r, Ibnu.Lisa>n ‘Arab.Beirut: Da>r al-Ih}ya> al-Tura>ts al-‘Arabiy, Jilid V, 1988
Gençtürk,Ebru, Yavuz Akbaş dan Selahattin Kaymakci, “Qualifications of an Ideal Teacher according to Social Studies Preservice Teachers,” Educational Sciences: Theory & Practice, 12 (2), 2012 , 1569-1572
Nata, Abuddin. Metodologi Studi Islam.Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2004.
54 http://pgri.or.id/berita-terkini/berita-terkini/peringatan-hari- guru-nasional-2013-dan-hut-ke-68-pgri-istora-senayan-tercekat-pernyataan-haru-sulistiyo-m-nuh-dan-sby
Nata, Abuddin. Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid, Studi Pemikiran Tasawuf
Al-Ghazali.Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2001.
Nizar, Samsul. Filsafat Pendidikan Islam.Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2002.
Republik Indonesia.Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Sekretariat Negara, 2005.
Republik Indonesia.Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Sekretariat Negara, 2003.
Rosidin, Dedeng. Akar-akar Pendidikan Islam.Bandung: Pustaka Umat, 2003.
Shahmohammadi,Nayereh. “Evaluation of Teachers’ Education Programs in Iran (Case Study)”, Journal of Educational and Social Research Vol. 2 (2) May 2012 , 127-135
Telli,Sibel, Perry den Brok, dan Jale Çakiroğlu, “Teachers’ and Students’ Perceptions of the Ideal Teacher,” Education and Science, 2008, Vol. 33, No 149, 118-129
http://teaching.org/resources/top-10-qualities-of-a-great-teacher
http://kampus.okezone.com/read/2013/11/26/373/90314 3/ini-dia-sosok-guru-ideal
http://www.sufinews.com/index.php/Wawancara/peran-tasawuf-dalam-dunia-pendidikan.sufi
M. Syukur Salman, “Menyoal Moralitas
Guru,”http://edukasi. kompasiana. com/2013/11 /19/ menyoal-moralitas-guru-612127.html, 19 November 2013 (diakses pada 30 Desember 2013)
Muhammad Taufik, “4 Kisah guru hukum anak nakal berujung dipolisikan,” 1 Oktober 2013,
http://www.merdeka.com/ peristiwa/ 4 -kisah -guru- hukum-anak-nakal-berujung-dipolisikan.html