UNIVERSITAS PADJADJARAN
G10B.798
Demokrasi dan Hak Asasi Manusia
International Trade and the Options for Eradicating Hunger
Peran Aktor Perdagangan Internasional dalam
Mengatasi Isu Kelaparan Ditinjau dari Perspektif Ekonomi Liberal
Ravio Patra Asri 170210110019
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Departemen Ilmu Hubungan Internasional
Tahun Akademik 2011/2012
1 DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... 1
BAB I – PENDAHULUAN Latar Belakang ... 2
Identifikasi Masalah ... 4
Tujuan Penulisan ... 4
BAB II – LANDASAN TEORI Teori Merkantilisme (Merchantilism Theory) ... 5
Teori Ekonomi Klasik (Classical Economic Theory)... 7
Teori Ekonomi Modern (Modern Economic Theory)...10
BAB III – PEMBAHASAN Faktor-Faktor Pemicu Kelaparan ... 13
1. Faktor Politik (Political Factors) …... 13
2. Faktor Ekonomi (Economic Factors) …... 14
3. Faktor Lingkungan (Environmental Factors) …... 15
Deklarasi Universal untuk Pemberantasan Kelaparan dan Malnutrisi... 15
Kelaparan sebagai Isu Kemanusiaan ... 17
Korelasi Perdagangan Internasional dan Isu Kelaparan ... 18
Kelaparan sebagai Implikasi dari Kemiskinan ... 17
Upaya Pemberantasan Kelaparan melalui Perdagangan Internasional ... 21
Mengatasi Kelaparan melalui Ketahanan Pangan ... 23
BAB IV - PENUTUP Kesimpulan ... 28
2 BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Bagi jutaan masyarakat dunia, isu kelaparan adalah isu yang menyangkut hidup dan mati. Lebih dari 841 juta orang di dunia setiap harinya kekurangan makanan untuk sekadar menyambung hidup dari hari ke haril termasuk di antaranya lebih dari 153 juta anak-anak berusia di bawah lima tahun.1
Menurut data dari organisasi khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani isu pangan dan pertanian, Food and Agriculture Organization (FAO), sekitar enam juta anak-anak meninggal setiap tahunnya akibat kelaparan dan malnutrisi. Dengan angka yang begitu besar ini, tidak ada satupun bencana alam maupun bencana yang disebabkan oleh manusia lainnya yang bisa dibandingkan dengan dampak yang disebabkan oleh kelaparan secara global.
Dari 841 juta orang yang mengalami kelaparan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari ini, 550 juta di antaranya hidup di wilayah Asia dan 170 juta lainnya di wilayah subsahara Afrika. Apabila ditotal, maka 95% penderita kelaparan dalam kehidupan sehari-hari adalah mereka yang hidup di negara berkembang. Meskipun begitu, kelaparan juga mulai muncul dalam beberapa tahun belakangan di wilayah tertentu dari negara maju—bahkan Amerika Serikat—akibat jeratan kemiskinan.2
Sementara menurut Bank Dunia, pada akhir 2010, 89 juta orang lainnya terjebak dalam kemiskinan ekstrim; dengan rata-rata kemampuan pemenuhan kebutuhan harian hanya sekitar US$ 1.25 setiap harinya atau setara dengan sekitar IDR 11,000.3
Permasalahan kelaparan ini sendiri secara sistematik telah mengakibatkan banyak permasalahan, beberapa di antaranya yaitu:
3 40,000 anak-anak di bawah usia lima tahun meninggal setiap harinya akibat kelaparan dan wabah penyakit lain yang disebabkan oleh kelaparan; atau 24 anak-anak dalam satu menit; setara dengan perbandingan tiga pesawat tipe Boeing 747 mengalami kecelakaan dengan kondisi penumpang penuh setiap jam, setiap hari, dan setiap tahunnya.
Jumlah korban meninggal akibat kelaparan jauh lebih besar daripada dibandingkan dengan penjatuhan bom atom dalam sebuah area dengan populasi padat setiap tiga hari sekali.
Satu dari setiap lima orang di dunia mengalami masalah kelaparan.
Jumlah korban meninggal dari masalah kelaparan dalam jangka waktu dua tahun sudah lebih banyak daripada total jumlah korban nyawa yang meninggal dalam Perang Dunia I dan Perang Dunia II.
70% kematian anak-anak di dunia berkaitan dengan permasalahan malnutrisi dan penyakit yang tidak bisa dicegah.
70% orang di Asia hidup dalam kondisi kemiskinan yang ekstrim.4
Sementara itu, pola perilaku perdagangan internasional selama ini juga sedikit banyak berpengaruh terhadap meningkatnya tingkat kelaparan di dunia secara global; terutama dengan sistem ekonomi kapitalis yang mendominasi sehingga pembagian kesejahteraan secara umum sangatlah timpang antara pihak pemilik modal dengan para pelaku usaha kecil.
Di samping itu, perusahaan multinasional atau multinational corporations serta pihak-pihak lain yang memiliki posisi sebagai aktor perdagangan internasional sebenarnya juga memiliki potensi untuk ikut serta terlibat dalam pemberantarasan kemiskinan dan kelaparan. Sayangnya, dengan keberadaan berbagai macam persetujuan perdagangan bebas seperti North American Free Trade Agreements (NAFTA) dan ASEAN Free Trade Area (AFTA), terbuka jalan bagi perusahaan-perusahaan multinasional untuk membuka lapangan kerja bagi
4
4 para tenaga kerja di negara-negara berkembang dengan upah yang tidak layak dan jauh di bawah standar kesejahteraan.
Identifikasi Masalah
1. Bagaimana perdagangan internasional memengaruhi isu kelaparan?
2. Peran apa saja yang bisa dilakukan oleh aktor perdagangan internasional dalam rangka ikut membantu mengatasi masalah kelaparan di dunia? 3. Mengapa perdagangan internasional memiliki potensi yang signifikan
dalam mengatasi masalah kelaparan?
Tujuan Penulisan
1. Mengetahui bagaimana proses dan praktik perdagangan internasional dapat memengaruhi isu kelaparan.
2. Mengidentifikasi peran-peran yang mungkin dilakukan oleh aktor perdagangan internasional dalam mengatasi isu kelaparan.
5 BAB II
LANDASAN TEORI
Teori Merkantilisme (Merchantilism Theory)
Merkantilisme pada prinsipnya merupakan suatu paham yang menganggap bahwa penimbunan uang, atau logam mulia yang akan ditempa menjadi uang emas ataupun perak haruslah dijadikan tujuan utama kebijakan nasional. Pada saat merkantilisme lahir, sistem masyarakat pada saat itu berdasarkan feodalisme.
Sistem feodal pada dasarnya menanggapi kebutuhan penduduk akan perlindungan terhadap gangguan perampok. Jaminan keselamatan tersebut diberikan oleh para raja terhadap para bangsawan, kerabat, dan bawahannya. Sistem inilah yang melahirkan konsep tuan tanah, bangsawan, kaum petani, dan para vassal yaitu raja-raja kecil yang diharuskan untuk membayar upeti terhadap raja besar.
Ketika merkantilisme mulai berkembang, sistem feodalisme yang usang sedikit demi sedikit mulai terkikis, hak-hak istimewa yang dimiliki oleh para tuan tanah dan para bangsawan mulai dihapus, lapisan-lapisan sosial yang melekat pada sistem feodal mulai dihilangkan, cara produksi dan distribusi gaya feodalpun mulai ditinggalkan.
6 apabila dibandingkan jika penumpukkan kekayaan pada saat itu hanya dalam bentuk gandum atau hasil pertanian lainnya.
Julukan merkantilisme pada dasarnya diberikan kepada aliran atau paham ini oleh para kritikus ekonomi khususnya Adam Smith. Sebutan merkantilisme mengandung makna menyamakan suatu bangsa atau negara dengan kebijakan seorang pedagang, yang berusaha mendapatkan hasil yang lebih besar pada waktu menjual dibandingkan dengan apa yang dikeluarkannya ketika membeli dan dengan demikian meningkatkan kekayaan perusahaannya. Seperti layaknya seorang pedagang, bangsa yang merkantilis memandang bangsa dan negara lain sebagai saingannya dan mencoba untuk merebut pasaran saingannya dengan cara merebut suatu monopoli atau dengan cara lain-lainnya. Biasanya seorang pedagang berusaha untuk menekan harga barang yang akan dibelinya, dan membayar upah serendah mungkin dengan tujuan untuk menekan biaya pada titik yang paling minimal. Demikian juga negara yang menganut paham merkantilisme berusaha untuk menumpuk kekayaan dengan jalan memeras dan menguras sumber-sumber daya yang murah di negara jajahan dan mengupah buruh dengan upah yang sangat minim di negerinya sendiri.
Oleh karena itulah, situasi dan kondisi tersebutlah maka mengapa peranan negara harus begitu kuat demi nasionalisme ekonominya. Kekuasaan negara yang semakin kuat berhasil menciptakan keadaan yang aman dengan mengatasi konflik-konflik antarwilayah yang sering berkecamuk di antara para bangsawan. Terciptanya keamanan dan kestabilan dalam negeri ini merupakan prasayarat untuk memperluas pasar dalam negeri dan perkembangan produksi. Di samping itu juga negara memberikan kemudahan-kemudahan kepada para pedagang untuk melakukan perdagangan internasional, dengan demikian maka keuntungan yang diraih oleh para pedagang dapat memberikan masukan pendapatan bagi negaranya.
sekeras-7 kerasnya dengan upah yang serendah-rendahnya guna mendorong ekspor sebanyak-banyaknya, bahkan konsumsi untuk dalam negeripun sampai dilupakan.
Jam kerja pada kenyataannya sangat tidak terbatas. Kondisi buruh sangat memprihatinkan, anak-anak dan para wanita dengan pakaian yang compang-camping dipaksa untuk bekerja di tambang batu bara di Inggris. Pemogokan para pekerja dianggap sebagai suatu kejahatan dan langsung ditindak tegas.
Nasib para petani tidak lebih baik dibandingkan dengan kaum buruh, pada saat itu fungsi pertanian hanya dipandang sebagai penyedia bahan pangan yang semurah mungkin dengan demikian juga upah buruh dapat ditekan rendah, dan sebagai sumber bahan mentah untuk industri yang semurah-murahnya. Karena itu mengapa penghasilan para tuan tanah terutama para petani yang bekerja padanya begitu rendah. Belum lagi jika lahan pertanian dipaksa untuk diubah menjad lahan industri oleh pemerintah, maka dapatlah dipastikan berapa banyak para petani yang bakal menganggur.
Pengurasan sumber-sumber daya alam besar-besaran dilakukan di setiap daerah jajahan dengan tujuan untuk memperoleh sumber daya alam dengan semurah-murahnya seperti kentang, tembakau, kopi, tebu, teh, cengkeh, dan lain-lain untuk dijual lagi dengan harga yang setinggi-tingginya.
Teori Ekonomi Klasik (Classical Economic Theory)
Para pemikir ekonomi liberal percaya bahwa masyarakat mestilah memberdayakan setiap sumber dayanya untuk memaksimalkan kemakmuran serta bahwa pasar adalah alat pencapaian tujuan yang paling objektif. Mekanisme harga pasar adalah sumber utama dari keuntungan bersama. Pemikiran dari ekonomi liberal terikat pada prinsip pasar bebas dan intervensi negara yang minim ( laissez-faire; to leave it alone); meskipun hubungan antara negara dan pasar berbeda-beda bagi setiap pemikir liberal.
Namun, bagaimanapun juga, peran negara sebagai pelindung sekaligus pengawas kinerja pasar tetap berlaku.5 Selain itu, karena nilai intrinsik dari
5Joh Ge a Ruggie, I te atio al Regi es, T a sa tio s, a d Cha ge: E edded
8 liberalisme adalah pemberian kebebasan individual, maka asas-asas pasar bebas juga dapat diartikan sebagai sebuah struktur politik yang menekankan kebebasan bagi individual.6
Sementara itu, teori ekonomi liberal yang dikemukakan oleh Adam Smith dalam Wealth of Nations dikembangkan oleh David Ricardo melalui Principles of Political Economy and Taxation. Adam Smith melandaskan teorinya pada konsep keunggulan absolut (absolute advantage) dengan pendekatan bahwa setiap negara harus memiliki spesialisasi mengenai produksi apa yang mampu dilakukan dengan kualitas terbaik untuk dapat menjadi bangsa yang makmur dari sudut pandang ekonomi melalui penyaluran hasil produksi ke pasar bebas. Dengan begitu,pertumbuhan ekonomi dilihat dari perbandingan antara jumlah tenaga kerja keseluruhan dengan kinerja pasar.
Prinsip-prinsip inilah yang kemudian dikembangkan kembali oleh Ricardo yang mengemukakan adanya pojok baru dari doktrin perdagangan liberal modern; yang dikenal sebagai hukum keunggulan komparatif atau comparative advantage sebagai perpanjangan dari adanya spesialisasi produksi setiap negara. Ricardo mengemukakan pemikiran bahwa perdagangan internasional sangat dipengaruhi oleh hubungan relatif dengan harga barang dan jasa; yang memberikan implikasi bahwa setiap negara harus melakukan spesialisasi produksi terhadap produk barang yang bisa diciptakan dengan harga terendah dibandingkan dengan ongkos produksi yang harus dikeluarkan oleh negara lain. Dengan begitu, bukan hanya keunggulan absolut saja yang dibutuhkan negara untuk ikut terlibat langsung secara aktif dalam perdagangan internasional; melainkan juga harus diiringi dengan adanya keunggulan komparatif.7
Sementara pemikiran lain dalam teori ekonomi liberal yang berpengaruh cukup signifikan adalah teori dari ekonom Swedia, Heckscher dan Ohlin yang terkenal dengan pemodelan H-O-nya dari dekade 1930an. Pemodelan H-O ini menunjukkan bahwa keunggulan komparatif dari suatu negara dalam sistem
6Roge Tooze, Co eptualizi g the Glo al E o o y, dala A tho y M G e & Paul Le is
(eds.), Global Politics (Cambridge: Polity Press, 1992), h. 235.
7
9 perdagangan internasional merupakan kombinasi dari setidaknya tiga faktor produksi; yaitu lahan (land), tenaga kerja (labour), dan modal (capital). Keunggulan komparatif, menurut Heckscher dan Olin, ditentukan oleh perbedaan yang dimiliki setiap negara dalam proses produksi; atau disebut juga sebagai endownments factor.8
Dalam konteks agricultural, sebagai salah satu bidang produksi yang paling berhubungan dengan isu kelaparan dan ketersediaan pangan masyarakat, keberadaan sistem perdagangan internasional yang ada saat ini tidak begitu menguntungkan bagi negara-negara berkembang yang sebenarnya memiliki potensi untuk memproduksi barang-barang dengan harga rendah dalam kompetisi yang tidak ideal; sebagai hasilnya, tingkat kesejahteraan dan sekuritas pangan masyarakat di negara-negara berkembang tidak mengalami peningkatan.9
Para pelaku ekonomi kecil dapat dengan mudah disingkirkan dari pasar oleh produser besar; baik domestik maupun internasional tergantung pada tingkat ekspor yang dicapai. Bahkan kalaupun pelaku bisnis kecil berhasil bertahan dalam persaingan yang ada, mereka akan tetap dirugikan oleh produsen besar akibat fluktuasi harga pasar. Di lain pihak, ekonomi global dapat meningkatkan kesejahteraan mereka yang terlibat dalam rantai produksi ekspor, namun juga dapat merusak unsur-unsur tradisional dari substansi-substansi yang ada dalam ekonomi local dan kerugian bagi orang-orang yang tidak ikut terlibat malah menambah tingkat ketidaksetaraan.10
Pasar internasional telah menciptakan sebuah arena pacuan global bagi orang-orang yang bekerja lebih sedikit; membuat negara-negara menjadi berselisih satu sama lainnya; menyebabkan, dalam banyak kasus, kekurangan
8
William Kaempfer, J. Markusen, K. Maskus, dan J. Melvin, International Trade: Theory and Evidence (Singapura: McGraw-Hill, 1995), h. 99.
9WEF, Ag i ultu al T ade Task Fo e: Co u i ue of Re o e datio s,
World Economic Forum [http://www.weforum.org/site/homepublic.nsf] (23 Juni 2012), h. 2.
10B ead fo the Wo ld, Hu ge i a Glo al E o o y: Hu ge Repo t, Bread
10 layanan kesehatan atau standar-standar kelayakan lingkungan yang tidak bisa diterima.11
Teori Ekonomi Modern (Modern Economic Theory)
Setelah Perang Dunia II, secara garis besar di dunia terbagi dua jenis negara yang sangat berbeda dari segi karakteristik perekonomian. Jenis yang pertama adalah negara maju. Negara-negara maju pada umumnya adalah bekas negara-negara penjajah pada zaman imperialisme dan kolonialisme dulu. Sementara jenis yang kedua adalah negara sedang berkembang atau sering disebut sebagai negara yang terbelakang dari segi kemampuan perekonomiannya. Negara-negara ini pada umumya adalah bekas negara-negara jajahan di masa lampau, walaupun sebagian dari mereka sekarang sudah dapat menjadi negara-negara maju namun jumlahnya masih sangat sedikit.
Karena kondisi-kondisi di ataslah menjadi alasan mengapa adalah sangat sulit bagi negara-negara yang sedang berkembang untuk mengembangkan perekonomiannya, juga seringkali dalam perdagangan internasionalnya negara-negara sedang berkembang tidak dapat memperoleh keuntungan yang benar-benar maksimal jika dibandingkan dengan negara-negara industri atau negara-negara maju. Atau secara singkat, dalam perdagangan internasional negara-negara maju memiliki posisi yang jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan negara-negara yang sedang berkembang.
Dalam praktik perdagangan internasional modern, terdapat dua jenis teori utama. Teori yang pertama adalah backwa sh effects theory; sebuah teori yang dikembangkan oleh Gunnar Myrdal. Teori ini mengkritik pandangan dari ekonomi klasik yang menganggap bahwa pembangunan ekonomi suatu wilayah dunia akan menyebar ke wilayah lainnya karena adanya perdagangan internasional. Pada kenyataannya, menurut Myrdal di pasar internasional negara-negara sedang berkembang kalah dalam bersaing karena adanya disparitas teknologi yang sangat mencolok. Hal ini disebut sebagai backwash effects dari perdagangan
11Food Fi st, Myths a out Hu ge ,
Institute for Food and Development
11 internasional bagi negara sedang berkembang. Kedua, ekspor dari negara sedang berkembang mengandalkan produk primer dan unskilled labor sehingga hasil produknya menghadapi elastisitas permintaan yang rendah. Arus modal internasional juga tidak dapat diandalkan, karena pada kenyataannya modal lebih banyak yang beralih dari negara sedang berkembang ke negara-negara maju.
Hal ini bisa terjadi kaarena pertama, faktor keamanan dan kestabilan dalam politik di negara-negara maju memancing para kapitalis di negara-negara sedang berkembang untuk mengalihkan modalnya ke negara-negara maju karena alasan keamanan. Kedua, karena negara-negara maju memiliki instrumen pasar uang dan pasar modal yang lebih banyak variasinya dan lebih mapan dibandingkan dengan pasar uang dan pasar modal yang ada di negara sedang berkembang. Kelemahan dari teori ini seperti yang kita lihat sekarang adalah bahwa secara empiris negara-negara yang termasuk Asian New Industrial Countries seperti Korea Selatan, Singapura, dan Taiwan justru berhasil menciptakan kemajuan dari perdagangan internasional.
barang-12 barang hasil pertanian, sedangkan syarat terjadinya pertukaran atau perdagangan internasional adalah karena adanya perbedaan hasil produksi antara satu negara dengan negara lain. Sekali lagi teori ini mempunyai kelemahan, karena secara empiris negara-negara yang termasuk New Industrial Countries justru berhasil memenangkan persaingan dagang bahkan dengan negara-negara maju sekalipun.
13 BAB III
PEMBAHASAN
Faktor-Faktor Pemicu Bencana Kelaparan
1. Faktor Politik (Political Factors)
Salah satu dampak terburuk dari instabilitas politik adalah terjadinya perang atau konflik—baik internal maupun eksternal. Sementara perang itu sendiri adalah salah satu penyebab utama dari munculnya bencana kelaparan. Hal ini dapat terlihat dari fakta dan data perang dalam beberapa tahun terakhir di beberapa negara berkembang—termasuk Irak dan Afghanistan—yang menghadapi isu malnutrisi baik secara parsial maupun keseluruhan.
Konflik yang terjadi menghancurkan lahan pertanian dan menghambat setiap proses produksi untuk dapat berjalan dengan lancar; terutama karena fungsi-fungsi produksi mulai dari tenaga kerja, sumber daya, dan modal yang menjadi tidak tentu dalam kondisi berkonflik. Di samping itu, dengan kondisi seperti ini, terbuka kemungkinan bahwa pihak yang berkonflik memanfaatkan keterbatasan sumber dan faktor produksi sebagai senajata politis untuk memeroleh kendali atas pihak lain.
Atas dasar pemikiran ini, maka wajarlah rasanya apabila mayoritas pemerintahan di dunia memosisikan isu keamanan dan penguatan kekuatan militer sebagai salah satu prioritas utama dalam mencegah munculnya masalah kelaparan; terutama apabila dibandingkan dengan anggaran negara untuk hal-hal seperti agrikultur, pendidikan, perikanan, dan penjagaan sumber daya alam. Terlebih lagi, banyak negara yang mendasarkan setiap keputusannya pada pertimbangan politik; lebih-lebih di negara-negara yang kuat secara politis. Contohnya saja, lebih dari separuh dari anggaran luar negeri Amerika Serikat ditujukan untuk kepentingan bantuan keamanan (security aids) dalam bentuk bantuan militer terutama bagi sekutu politiknya.12
12
14 2. Faktor Ekonomi (Economic Factors)
Banyak negara berkembang menghadapai hutang pinjaman luar negeri dalam jumlah yang besar untuk tujuan pembangunan yang kemudian membawa potensi krisis kelaparan. Hutang luar negeri ini seringkali muncul sebagai akibat dari adanya ketidakseimbangan dalam proses perdagangan internasional— terutama bagi sebagian besar negara di Amerika Latin, Afrika, dan Asia. Hal ini membuat pemerintah mesti membuat keputusan dilematis antara opsi menyediakan makanan bagi rakyatnya atau menggunakan anggaran yang ada untuk keperluan pelunasan hutang luar negeri; dengan keberadaan tekanan dan ancaman dari negara kreditor di satu sisi serta kebutuhan mendesak akan kebutuhan pangan negara di sisi lain.
Permasalahan juga muncul dari level mikro; adanya ketidakproporsionalan kompetisi antara pelaku bisnis kecil dengan pelaku bisnis yang besar—terutama dalam bidang agribisnis. Banyak petani di negara-negara berkembang mendapatkan penghasilan melalui hasil pertanian berupa kopi, kokoa, gula, dan bahan tekstil untuk kemudian dieskpor namun tingkat produksi para petani kecil ini dapat dengan mudah dinegasikan oleh pelaku bisnis agribisnis yang besar dengan cara melakukan pengambilalihan lahan dari petani kecil yang tidak memiliki pilihan lain. Di samping itu, pelaku bisnis besar juga memiliki koneksi untuk memungkinkan mereka melakukan perjanjian tak resmi dengan pemerintah atau perusahaan lain dalam rangka mengendalikan pasar. Hal ini banyak terjadi di negara-negara berkembang di wilayah Amerika Latin, Asia, dan Afrika; di mana lebih dari 25 juta petani harus berjuang menghadapi krisis ekonomi akibat harga produk pertanian yang dikendalikan oleh para pemilik usaha besar.
15 dana dari para pemegang saham (sha reholders) yang kemudian keuntungannya pun akan kembali dibagi sebagai dividen untuk para pemegang saham. Dengan begini, maka masyarakat atau komunitas local di mana pembangunan tersebut dilaksanakan sama sekali tidak mendapatkan keuntungan dari proses pembangunan. Hal-hal seperti inilah yang sedikit banyak ikut mereduksi tingkat kesejahteraan masyarakat di negara berkembang.13
3. Faktor Lingkungan (Environmental Factors)
Dalam pelaksanaan proses produksi—terutama oleh perusahaan besar— seringkali terjadi perusakan lingkungan seperti penebangan hutan, penggusuran lahan, dan semacamnya. Setelah lahan dibebaskan, lahan-lahan ini ditinggalkan begitu saja tanpa perlindungan dari ancaman kerusakan seperti erosi sampai benar-benar dimanfaatkan. Di samping itu, tekanan ekonomi juga memaksa banyak petani untuk mengambil jalan pintas yang merusak lingkungan demi mendapat hasil yang praktik. Hal ini terjadi akibat praktik pertanian yang tidak berkelanjutan (unsustainable) sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan. Akhirnya, lahan pun menjadi rusak dan sulit untuk digunakan sebagai area pertanian.14
Deklarasi Universal untuk Pemberantasan Kelaparan dan Malnutrisi (Universal Declaration on the Eradication of Hunger and Malnutrition)
16 Deklarasi ini sendiri memiliki beberapa poin penting yang dikandungnya, yaitu:
Bahwa krisis makanan yang menyulitkan banyak orang kebanyakan berada di negara-negara berkembang; di mana manusia hidup dalam kelaparan dan kehidupan yang tidak layak; di mana dua pertiga dari populasi dunia memproduksi sepertiga dari persediaan pangan dunia—sebuah ketidakseimbangan yang berpotensi untuk semakin meningkat di masa mendatang di dunia yang bukan hanya penuh dengan kesulitan ekonomi dan implikasi sosial; namun juga melanggar prinsip-prinsip dan nilai-nilai fundamental dari hak manusia untuk hidup dengan layak sebagaimana dinyatakan dalam Deklarasi Universal untuk Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights);
Pemberantasan kelaparan dan malnutrisi adalah salah satu tujuan utama dari Perserikatan Bangsa-Bangsa;
Kesulitan yang dialami oleh banyak orang muncul sebagai akibat dari isu-isu historis; terutama ketidaksetaraan sosial, pendudukan, diskriminasi rasial, dan lainnya;
Situasi ini diperparah oleh timbulnya berbagai krisis di dalam konteks ekonomi global;
Fenomena kelaparan termasuk ke dalam tanggung jawab dari kewenangan PBB melalui Charter of Economic Rights and Duties of States;
Setiap negara, kecil ataupun besar, kaya ataupun miskin, adalah setara. Setiap negara memiliki hak untuk ikut berpartisipasi dalam membuat keputusan dalam isu pangan;
Kebaikan manusia sangat bergantung pada ketersediaan produksi dan distribusi makanan yang cukup dan disertai dengan sistem sekuritas pangan yang memadai;
17 Untuk menemukan solusi jangka panjang dari setiap permasalahan wkonomi dunia, diperlukan adanya upaya nyata untuk menghilangkan jarak (gap) antara negara-negara maju dengan negara-negara berkembang;
Negara-negara berkembang harus melakukan upaya nyata dalam menyelesaikan masalahnya sendiri;
Apabila suatu negara berkembang gagal memenuhi kebutuhan pangannya, maka komunitas internasional mesti mengambil tindakan yang cepat dan efektif untuk memberikan bantuan tanpa adanya tekanan politis.16
Kelaparan sebagai Isu Kemanusiaan
Kelaparan disebabkan oleh berbagai faktor yang berbeda-beda. Selain faktor ekonomi dan sosial, faktor lingkungan juga memiliki peran yang signifikan; terutama cuaca. Cuaca memiliki peran utama dalam mengelevasi prevalensi kelaparan. Wilayah dengan cuaca yang dominan panas dan beriklim kemarau sepanjang tahun seperti subsahara Afrika menjadi rentan akan masalah kelaparan karena lahannya hamper tidak bisa digunakan sebagai media pertanian sama sekali.
Di samping itu, konflik militer—baik internal maupun eksternal—juga berpotensi besar memicu munculnya bencana kelaparan. Konflik-konflik ini, selain merusak keadaan lingkungan, juga menyedot anggaran negara yang besar; anggaran yang sebenarnya bisa diberdayakan untuk tujuan kesejahteraan masyarakat.
Kombinasi dari setiap faktor ini memicu suatu keadaan yang dapat dikategorikan sebagai bencana kelaparan dalam skala besar. Sebuah kasus di wilayah Somalia, Afrika, telah membuktikan bahwa kekeringan sepanjang tahun disertai dengan konflik internal berupa perang sipil dapat memicu bencana kelaparan yang sangat mengkhawatirkan.17
16
Ibid.
17BBC, 5 Tahu Keke i ga , “o alia Kelapa a ,
BBC Indonesia
18 Anak-anak mendapat perhatian serius dari bencana kelaparan ini. Mereka harus sudah hidup didalam situasi yang sulit ketika seharusnya mereka mendapatkan pelajaran disekolah dan tempat untuk bermain. Tubuh mereka yang kurus disebabkan oleh kekurangan pasokan makanan yang membuat mereka sulit untuk beraktifitas sebagaimana anak-anak pada normalnya.
Wilayah Afrika sendiri juga adalah daerah yang menderita gizi buruk dan malnutrisi terburuk di dunia. Masalah utama dalam penyelesaian atau penanggulangannya sendiri adalah karena banyak negara-negara maju tidak memahami secara mendalam mengenai bencana kelaparan yang dialami oleh negara-negara berkembang atau bahkan tertinggal. Oleh karena itu, diperlukan adanya suatu sinergi antara negara berkembang dengan negara maju dalam memberantas kelaparan sebagai bagian dari Hak Asasi Manusia.
Korelasi Perdagangan Internasional dan Isu Kelaparan
Salah satu korelasi utama antara perdagangan internasional dan isu kelaparan adalah hubungan saling menegasikan di antara keduanya. Dengan sistem perdagangan inernasional yang cenderung bersifat kapitalis, banyak negara berkembang yang mesti berjuang demi ikut meraup keuntungan dari praktik perdagangan internasional.
Monopoli—ataupun bentuk dominatif lain—yang dilakukan oleh beberapa perusahaan multinasional tertentu di bidangnya masing-masing ikut memengaruhi rantai produksi makanan secara umum; dari produk berupa bibit-bibit dan pupuk-pupuk pertanian hingga proses pemasaran dan distribusi dari apa yang dikonsumsi oleh masyarakat.
19 dengan subsidi yang besar di negara-negara berkembang serta karena para produsen ekonomi dalam skala kecil ketakutan akan beban fiskal yang besar.18
Kelaparan merupakan sebuah isu yang begitu kompleks; namun ada beberapa hal tertentu yang menciptakan korelasi tersendiri antara isu kelaparan sebagai sebuah kepedulian terhadap prinsip dari Hak Asasi Manusia dengan praktik perdagangan internasional. Kelaparan, sudah pasti, memiliki hubungan yang sangat erat dengan kemiskinan; yang berarti bahwa untuk mengatasinya, dibutuhkan solusi yang juga sekaligus dapat bekerja sebagai solusi untuk permasalahan kemiskinan global. Oleh karena itulah, ketika membahas masalah kelaparan, bagaimanapun masalah kemiskinan harus ikut dibahas karena saling memengaruhi satu sama lainnya.
Pun halnya dengan bencana kelaparan, biasanya ditandai dengan ketertinggalan masyarakat dari segi budaya; seperti makanan yang tidak bergizi dan bernutrisi, tanah yang tidak subur, lingkungan yang tidak layak ditempati, dan semacamnya. Oeh karena hal inilah, Afrika menjadi wilayah endemic masalah kelaparan dan kemiskinan global.
Di samping itu, kelaparan juga terkait dengan globalisasi sistem produksi pangan yang merupakan bagian dari sistem perdagangan global modern. Banyak negara berkembang yang melakukan ekspor besar-besaran terhadap produk pertaniannya sementara di sisi lain, gagal memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya sendiri. Hal ini menjadi semakin diperparah oleh banyaknya wabah penyakit yang membuat tingkat kesejahteraan masyarakat menurun; sejalan dengan angka harapan hidup dan ketercukupan kebutuhan yang rendah.
Ketidaktersediaan data dan faktor-faktor lainnya menyebabkan tidak mudah untuk memperkirakan seberapa besar dampak dari gelombang ekspor terhadap petani-petani kecil. Namun, dalam banyak hal, terbukti bahwa serbuan impor telah mengakibatkan tersingkirnya banyak produsen beras dari pasar domestik.
FAO, sebagai regulator masalah pangan internasional, menyatakan bahwa hal seperti ini terjadi di Honduras pada tahun 1991 yang kemudian berakibat pada
18CETIM, Ag i ultu al F ee T ade I posed o the “outh th ough WTO Ag ee e ts a d Its
20 semakin berkurangnya padi atau produk lokal sehingga mengakibatkan petani menjadi tertekan. FAO menambahkan, bahwa di negara-negara lain, gelombang impor mengakibatkan turunnya harga dalam negeri yang memukul produsen beras lokal. Contohnya, di Tanzania, FAO menemukan hubungan berbanding terbalik antara besarnya volume impor dan harga pasar dalam negeri.
Namun, sungguh mengejutkan, karena kenyataannya, informasi yang komprehensif dan akurat tentang dampak serbuan impor atau kenaikan impor pada umumnya terhadap pendapatan dan penghidupanpetani kecil masih sangat sedikit. Lembaga internasional seperti World Bank sejauh ini mengabaikan kemungkinan dampak tersebut terhadap permasalahan kemiskinan.
Kelaparan sebagai Implikasi dari Kemiskinan
Berdasarkan fakta, sebagian besar penduduk afrika adalah produsen makanan, seperti petani, dan nelayan. Hal ini tentunya sangat jauh berbeda dengan apa yang tadi kita asumsikan. Ternyata dengan kondisi tersebut, Afrika termasuk benua yang subur dan dapat memenuhi kebutuhan pangannya sendiri bahkan mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia.
Jika fakta di atas memang benar, lantas pertanyaan yang muncul adalah apakah yang menjadi permasalahan yang memicu meningkatnya kemiskinan di kawasan tersebut?
Ada banyak sekali faktor-faktor yang menyebabkan krisis pangan dan kelaparan di Afrika. Pengurangan anggaran di bidang pertanian menjadi salah satu permasalahan kemiskinan di daerah subur tersebut. Pengurangan anggaran tersebut mengakibatkan terbengkalainya aspek penelitian dan pengembangan di sektor pertanian.
21 Jumlah sawah yang diirigasi hanya merupakan sawah-sawah milik tuan tanah besar.
Peran lembaga internasional, seperti Bank Dunia, WTO, dan IMF, juga memperparah keadaan di kawasan ini. Lembaga ini telah menjadi bagian kekuatan globalisasi yang justru menghancurkan sistem ketahanan pangan negara-negara berkembang termasuk kawasan afrika. Lembaga ini membuat suatu system dimana memaksa negara-negara untuk memangkas dana di beberapa sektor yang di anggap penting untuk bisa mendapatkan kucuran dana dari lembaga ini.
Selain itu, memaksa para petani untuk menanam tanaman yang sifatnya komersial di pasaran internasional, lalu menciptakan sebuah system agar Negara tersebut hanya mampu untuk membuat hasil tersebut dalam bentuk bahan baku dan yang paling tinggi hanya sebatas bahan mentah, agar barang tersebut di ekspor keluar untuk dijadikan barang jadi di Negara maju.
Setelah itu, barang tersebut diolah dengan sedikit sentuhan di Negara maju lalu dikirim kembali masuk ke Negara asalnya sebagai barang jadi. Negara di Afrika saat ini dibanjiri oleh produk luar, sehingga sudah tentu mematikan produksi dalam negeri. Dengan matinya produksi dalam negeri tentunya menimbulkan kemiskinan di kawasan tersebut, dan kemiskinan tersebut melahirkan situasi kelaparan yang sangat luar biasa di daerah Afrika.
Upaya Pemberantasan Kelaparan melalui Perdagangan Internasional
22 tubuh melawan penyakit. kinipun manusia berlomba-lomba untuk mendapatkan pangan yang baik untuk tubuh.
Kini, di setiap benua di dunia mulai dari benua asia hingga benua afrika sebagian besat masyarakat nya mengalami kelaparan yang sangat hebat. Kelaparan itu terjadi karena krisis ekonomi yang sedang mengelanda dunia saat ini. Menurut Badan pangan PBB memperkirakan jumlah penduduk dunia yang menderita kelaparan tahun ini mencapai 963 juta jiwa, atau meningkat sekitar 40 juta jiwa dibandingkan tahun lalu. Asia Pasifik mempunyai penduduk yang mengalami kelaparan hingga mencapai 642 juta jiwa di susul kawasan sub afrika sebanyak 265 juta jiwa. Apakah situasi seperti ini kah yang di inginkan oleh masyarakat dunia? oleh karena itu pemerintah dan masyarakat harus bertindak menghadapi kelaparan.
Sebab terjadi nya kelaparan dii sebabkan berbagai faktor seperti faktor ekonomi dan faktor politik. Faktor-faktor ekonomi yang menyebabkan kelaparan adalah krisis ekonomi yang menyebabkan kemsiskinan dan kemundian terjadi nya kelaparan. Faktor-faktor politik nya adalah seperti kurang nya lapangan kerja yang di sediakan oleh pemerintah yang menyebabkan banyak masyarakat di negara tersebut yang tidak memiliki pekerjaan untuk menafkahi kelurarga.
23 Contoh salah satu negara yang mengalami kelaparan yang sangat dashyat adalah Bolivia. Badan Pangan PBB mengatakan kalau dari 10 juta penduduk Bolivia, sedikitnya 2,9 juta orang di antaranya menderita kelaparan hebat. Ini disebabkan oleh krisis ekonomi di Bolivia. Pemerintah Bolivia sedang berusaha untuk melawan kelaparan yang telah terjadi di Negara nya sendiri. Tetapi cara yang diterapkan oleh pemerintah Bolivia kurang efeketif untuk melawan kelaparan. Oleh karena itu Badan Pangan PBB ikut membantu Bolivia untuk melawan kelaparan yang sedang di alami Bolivia. Untuk mencegah kelaparan pemerintah dapat melakukan berbagai cara. Cara yang paling tepat adalah Negara-negara dari seluruh dunia berkumpul dengan Badan Pangan PBB dan mendiskusikan tentang masalah kelaparan ini.
Mengatasi Kelaparan melalui Ketahanan Pangan
Ketahanan pangan adalah topic yang sangat faktual, mengingat sebagaimana dilaporkan World Disa ster Report pada tahun 2011, dari 925 juta penduduk dunia yang menderita kelaparan, sekitar 62% atau sekitar 578 juta diantaranya tinggal di kawasan Asia Pasifik.
Berdasarkan laporan Foresight Project (2011), mayoritas penduduk dunia yang menderita kelaparan adalah para petani pangan skala kecil yang hidup dalam kemiskinan ekstrim. Karenanya, jalan keluar untuk keluar dari ancaman kelaparan dunia adalah melindungi para petani pangan skala kecil dengan cara menghentikan perampasan atas lahan garapan mereka.
Meskipun produksi pangan global sesungguhnya cukup untuk memberi makan setiap penduduk dunia, namun pada tahun 2011 ini setidaknya terdapat 1 milyar anak-anak, perempuan, dan laki-laki yang terpaksa tidur dengan perut keroncongan. Meski, pandangan mata dunia saat ini memang tertuju pada krisis yang terjadi di kawasan tanduk Afrika, Somalia.
24 juta diantaranya tinggal di kawasan Asia Pasifik yang saat ini menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia. Jumlah penderita kelaparan di Asia Pasifik dua kali lebih besar dari jumlah penderita di kawasan Sub-Sahara.
Mayoritas penderita kelaparan adalah penduduk pedesaan yang semestinya menjadi pusat produksi pangan. Berdasarkan laporan Foresight Project (2011), setengah dari populasi rawan pangan dunia, tiga perempat dari anak-anak yang menderita gizi buruk di Afrika, dan mayoritas penduduk yang hidup dalam kemiskinan ekstrem adalah petani pangan skala kecil.
Angka kelaparan di perkotaan juga dilaporkan mengalami peningkatan. Dalam World Disaster Report 2010 dilaporkan sekitar 4.1 juta kaum miskin kota di Kenya tergolong ―highly food insecure‖. Meroketnya harga pangan dunia, khususnya sejak 2008 sampai sekarang, diperkirakan meningkatkan angka kelaparan di perkotaan di berbagai penjuru dunia.
Kasus kelaparan tidak hanya didominasi negara-negara miskin dan berkembang. Dalam WDR 2011 dinyatakan sekitar 19 juta penduduk di negara-negara berpendapatan tinggi juga mengalami masalah dengan kelaparan. Pada tahun 2010 misalnya, Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) mengeluarkan dana sebesar $68 juta melalui program ‗food stamp‘ untuk menjangkau 40 juta penduduk yang terindikasi kelaparan.
Jumlah penderita malnutrisi diperkirakan jauh lebih besar lagi. Pada saat ini, diperkirakan satu milyar penduduk dunia menderita kekurangan gizi, kekurangan vitamin, dan mineral. Selain itu, 1,5 juta diantaranya menderita kelebihan gizi dan obesitas yang dalam jangka panjang akan mengalami masalah kesehatan, seperti jantung, berbagai jenis kanker, sampai diabetes. Kini, risiko obesitas tidak hanya terjadi di negara-negara berpendapatan tinggi atau menengah, tapi mulai juga dialami negara-negara miskin.
25 lahan yang dirampas untuk kepentingan pembangunan infrastruktur fisik. Uniknya, faktor pendorong terjadinya perampasan tanah di berbagai belahan dunia adalah adanya prediksi tentang meningkatnya permintaan komoditi pangan skala besar, yang disinyalir menjadi penyebab krisis harga pangan pada tahun 2008 lalu. Analisis tersebut menyebutkan harga pangan global mengalami kenaikan 26% pada tahun lalu. Para analis juga memperkirakan komoditi pangan akan terus meroket. Penyebabnya, adanya kebutuhan untuk melipatgandakan produksi pangan sampai 70 persen untuk mengantisipasi lonjakan jumlah penduduk yang diperkirakan akan mencapai 9,3 milyar di tahun 2050, dari perkiraan 6.9 milyar pada 2010.
Cina, Korea Selatan, dan Arab Saudi menjadi negara-negara yang paling getol menanamkan modalnya untuk menguasai lahan pertanian subur di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Salah-satu proyek investasi pertanian pangan skala besar adalah Merauke Integrated Food Farm Estate yang awalnya hendak didanai perusahaan milik keluarga Bin Laden.
Salah satu implikasi dari meningkatnya investasi di sektor pertanian skala besar, yang mana mayoritas ditempuh melalui perampasan tanah, bisa dilihat dari kondisi yang dilanda Ethiopia, salah-satu negara di tanduk afrika yang saat ini mengalami kelaparan.
Antara tahun 2006 sampai 2009, investor Saudi dilaporkan memberikan dana sebesar $100 juta ke Pemerintah Ethiopia untuk menyewa lahan yang akan ditanami gandum, jelai, dan padi yang kemudian harus diekspor ke Saudi dengan bebas bea. Bagi Saudi, menginvestasikan dana sebesar $100 juta untuk mendapatkan konsesi lahan yang subur dengan pengairan yang cukup di Ethiopia jauh lebih efisien ketimbang mengubah gurun pasir gersang miliknya menjadi areal pertanian yang produktif.
26 logika, Ethiopia justru mengalami kerugian tiga kali lipat dari jumlah investasi yang mereka terima.
Mengapa investasi industri pertanian skala besar justru memperburuk kerentanan akses terhadap pangan? Jawabnya, pertama, sasaran perampasan adalah lahan subur yang dekat dengan sumber air yang mana sesungguhnya sebagian besar telah diusahakan oleh petani tradisional skala kecil. Perampasan tersebut tidak hanya menyingkirkan para petani tradisional skala kecil dari lahan garapannya, melainkan turut menyingkirkan sumber pangan utama mereka dan keluarganya.
Kedua, perampasan tanah telah merusak sistem produksi pangan lokal. Seperti banyak kasus yang bisa ditemukan di beberapa wilayah di Indonesia, ekspansi perkebunan kelapa sawit atau industry pangan skala besar, mempersempit areal garapan bagi petani peladang-berpindah. Mereka dipaksa mengubah sistem pertaniannya, dari ladang-berpindah menjadi pertanian-menetap.
Perubahan sistem pertanian ini menyebabkan kesulitan yang luar biasa bagi petani peladang berpindah. Tingginya biaya produksi untuk intensifikasi lahan menyebabkan tidak sedikit petani yang jatuh bangkrut, kehilangan lahan, dan terbelit utang pada rentenir. Kondisi ini akan jauh lebih buruk jika menimpa kalangan masyarakat suku bangsa minoritas.
Ketiga, agresi industry pertanian pangan skala besar, menyebabkan hilangnya unsur sosial dari produk-produk pangan produksi petani. Produk-produk pangan yang dihasilkan industry pangan skala besar menjadi komoditi barang-dagangan murni yang hanya bisa diakses dengan cara dibeli. Hal ini berbeda dengan sistem pertanian pangan skala kecil tradisional, yang mana hanya sebagian dari hasil pertanian yang dijual karena sebagian lagi disimpan sebagai cadangan pangan dalam lumbung keluarga.
27 dan ancaman kelaparan yang terjadi di Provinsi NTT. Namun ancaman tersebut tidak hanya berpotensi terjadi NTT, selama kemiskinan belum teratasi dengan baik, ancaman kelaparan akan senantiasa hidup.
Keadaan ekonomi saat ini menuntut pemerintah untuk mengubah strategi, Pendekatan konvensional yang hanya memperhatikan aspek suplai dan kebutuhan, sudah harus ditinggalkan. Sebagaimana dilaporkan FAO, pasokan pangan bertambah, namun harga tidak juga turun. Jika terus mengimpor, inflasi pangan akan menggerus resiliensi fiskal pemerintah.
28 BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Hubungan perdagangan antara negara maju dengan negara berkembang dapat terlihat dari struktur sistem perdagangan internasional. Kegagalan yang dialami oleh sistem perdagangan internasional dapat menimbulkan kekacauan di berbaagai negara yang gagal beradaptasi dengan dinamika perdagangan internasional; salah satunya yaitu permasalahan kelaparan dan kemiskinan.
Kelaparan yang disebabkan oleh jumlah persediaan makanan yang lebih sedikit daripada jumlah penduduk. Kelaparan dapat disebabkan oleh faktor ekonomi, politik, dan lingkungan. Kelaparan kronis yang disebabkan oleh konflik kekerasan domestik maka implikasinya akan menimpa negara-negara di sekitarnya. Dalam hal ini, penyebab utama terjadinya kelaparan kronis di berbagai belahan dunia adalah perang atau konflik bersenjata sehingga menimbulkan krisis pangan dan hal ini pulalah yang mengakibatkan arus pengungsian besar-besar-besaran sehingga muncul kelaparan akibat populasi yang melebihi ketersediaan makanan. Masalah ini tak pelak membebani kondisi ekonomi, politik, dan keamanan negara sekitarnya yang harus menampung arus pengungsi. Akibatnya, negara penampung para pengungsi turut terancam kekurangan persediaan pangan.
Melalui perdagangan internasional, negara-negara maju dan berkembang saling berinteraksi melalui kegiatan ekonomi dengan tujuan mencari keuntungan terbesar. Sayangnya, banyak negara yang memiliki keunggulan jauh di atas negara lain sehingga menciptakan gap atau kesenjangan yang terlalu jauh.
29 BIBLIOGRAFI
Action Against Hunger. The Geopolitics of Hunger, 2000–2001: Hunger and Power. Boulder: Lynne Rienner Publishers, 2001.
BBC. ―50 Tahun Kekeringan, Somalia Kelaparan.‖ BBC Indonesia [http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2011/07/110720_somaliafamine.sht ml] (23 Juni 2012).
Bread for the World. ―Hunger in a Global Economy: Hunger Report.‖ Bread [http://www.bread.org] (23 Juni 2012).
CETIM. ―Agricultural Free Trade Imposed on the South through WTO Agreements and Its Consequences.‖ Human Rights Sub-Commission [E/CN.4/Sub.2] (23 Juni 2012).
CFS. ―Anti-Hunger Programme.‖ Rome [http://www.fao.org/DOCREP/ MEETING/006/y8908e.HTM] (23 Juni 2012).
——. ―Recent FAO Initiatives in the Fight Against Hunger.‖ Rome [http:// www.fao.org/DOCREP/MEETING/006/Y8937e.HTM] (23 Juni 2012). Chowdhuri, Satyabrata. ―Hunger in the Third World.‖ Third World Network,
March, 1999.
De Haen, Hartwig. ―What the New Figures on Hunger Mean.‖ FAO [www.fao.org/english/newsroom/news/2002/9703-en.html] (23 Juni 2012). Dreze, Jean, Amartya Sen, dan Athar Hussain (eds.). The Political Economy of
Hunger. Oxford: Clarendon Pre, 1995.
Edkins, Jenny. Whose Hunger? Concepts of Famine, Practices of Aid. Minneapolis: University of Minnesota Press, 1995.
Food First. ―12 Myths about Hunger.‖ Institute for Food and Development [www.foodfirst.org/pubs/backgrdrs/1998/s98v5n3.html] (23 Juni 2012). Gilpin, Robert. The Political Economy of International Relations. Brighton:
Princeton University Press, 1987.
30 Kaempfer, William, J. Markusen, K. Maskus, dan J. Melvin. International Trade:
Theory and Evidence. Singapura: McGraw-Hill, 1995
Kegly, Charles W. World Politics. Toronto, Kanada: Thompson, 2006.
Kissinger, Henry. Diplomacy. London: Simon & Schuster, 1996Mingst, Karen. Essentials of International Relations. New York: W. W. Norton & Company, 1998.
Madeley, John. ―Trade and Hunger: Extracts.‖ Grain [www.grain.org/public ations/dec002-en.cfm] (23 Juni 2012).
Marchal, Roland. ―Somalia: A Difficult Reconstruction.‖ The Geopolitics of Hunger 2000–2001, London, Action Against Hunger, 43–50.
National Student Campaign Against Hunger & Homeless. ―Overview of World Hunger.‖ Students Against Hunger [http://www.studentsagainsthunger.org/ page/hhp/overview-world-hunger] (23 Juni 2012).
O‘Neill, Onora. Faces of Hunger: An Essay on Poverty, Justice and Development. London: Allen & Unwin, 1986.
Payer, Cheryl. The World Bank: A Critical Analysis. New York: Monthly Review, 1982.
Ruggie, John Gerar. ―International Regimes, Transactions, and Change: Embedded Liberalism in the Postwar Economic Order.‖ International Organization Journal (1982), 36: 2, h. 386.
Taylor, Michael, dan Jody Tick. ―Fulfilling the Promise: A Governance Analysis of the US Response to the WFS Goal of Cutting Hunger in Half by 2015.‖ RFF Report, Executive Summary (23 Juni 2012).
Thomas, Caroline. ―Poverty, Development and Hunger.‖ Dalam John Baylis dan Steve Smith (eds.), The Globalization of World Politics: An Introduction to International Relations. Oxford: Oxford University Press, 1995.
Tooze, Roger. ―Conceptualizing the Global Economy.‖ Dalam Anthony McGrew & Paul Lewis (eds.), Global Politics. Cambridge: Polity Press, 1992.
31 Veneman, Ann. ―The World Must Unite to Fight Hunger and Poverty; Success Will Require an International Coalition.‖ FAO Press Release (November 2001).
WEF. ―Agricultural Trade Task Force: Communique of Recommendations.‖ World Economic Forum [http://www.weforum.org/site/homepublic.nsf] (23 Juni 2012).
Weid, Jean Marc. ―A Civil Society Strategy to Overcome World Hunger.‖ NGO/CSO Forum for Food Sovereignty, (23 Juni 2012).