• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMIKIRAN DAN KONTRIBUSI TOKOH EKONOMI I (2)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMIKIRAN DAN KONTRIBUSI TOKOH EKONOMI I (2)"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

PEMIKIRAN DAN KONTRIBUSI TOKOH EKONOMI ISLAM

KLASIK DAN KONTEMPORER

Ahmad Maulidizen

Ph.D Candidate, Departement of Syariah and Economics Academy of Islamic Studies, University of Malaya. Kuala Lumpur

Email: [email protected]

Abstract: Islamic economics is a science that combines economics with the principle of Sharia. The development of Islamic economic thought has begun from the time of the Prophet Muhammad. In writing this article aims to find out the economic scholars of Islam and their contribution in its development. The author distributes Islamic economic scholars in two categories Classical and Contemporary. In the classical Islamic economic scholars include; Zayd ibn ‘Alī, Abū anīfa, Abū Yūsuf, al-Ghazālī, Ibn Taimiyah, Ibn Khladun, Ibn Qayyim, Shah Wali Allāh al-Naḍwī, Muhammad Abduh and Muhammad Iqbal. When Contemporary Islamic economic scholars are distributed in 3 categories, Iqtiṣādunā (Baqir al-Sadr), Mainstream (Muhammad Abdul Mannan, Nejatullah Siddiqi, Syed Nawab Heider Naqvi and Monzer Kahf), and Alternative (Timur Kuran).

Keyword: Islamic Economic Thought, Classical, Contemporary

Abstrak: Ekonomi Islam merupakan ilmu pengetahuan yang menggabungkan antara ilmu ekonomi dengan prinsip ajaran Syariah. Perkembangan pemikiran dan ilmu ekonomi Islam sudah bermula dari zaman Rasulullah SAW, Sahabat sampai saat ini. Dalam penulisan artikel ini bertujuan untuk mengetahui tokoh ekonomi Islam dan kontribusi mereka dalam pengembangannya . Penulis membagikan tokoh ekonomi Islam dalam dua kategori Klasik dan Kontemporer. Dalam tokoh ekonomi Islam Klasik, yaitu Zaid bin ʻAlī, Abū anīfah, Abū Yūsuf, al-Ghazālī, Ibn Taimiyah, Ibn Khladun dan Ibn Qayyim, Shah Wali Allāh al-Naḍwī, Muhammad Abduh dan Muhammad Iqbal. Manakala kategori tokoh ekonomi Islam Kontemporer dibagikan dalam 3 Kategori, Aliran Iqtisaduna (Baqir al-Sadr), Aliran Mainstream ( Muhammad Abdul Mannan, Nejatullah Siddiqi, Syed Nawab Heider Naqvi dan Monzer Kahf), dan aliran Alternatif (Timur Kuran).

Kata Kunci: Pemikiran dan kontribusi, Tokoh Ekonomi Islam, Klasik dan Kontemporer

Pendahuluan

Ekonomi Islam merupakan hasil pemikiran para Muslim yang sumber kepada

nilai-nilai Islam yaitu al-Qur‟an dan al-Hadith. Ekonomi Islam juga merupakan

sebuah sistem ekonomi yang menjelaskan segala fenomena tentang prilaku, pilihan

dan pengambilan keputusan dalam setiap unit kegiatan atau aktivitas ekonomi dengan

mendasarkan pada aturan moral dan etika Islam. Tujuan akhir ekonomi Islam adalah

(2)

akhirat (falā ) melalui tata kehidupan yang baik dan terhormat. Pada asasnya pemikiran ekonomi Islam adalah untuk merumuskan sebuah konsep penawaran dan

permintaan, mekanisme, regulasi pasar, penetapan harga yang adil, pemerataan

kekayaan yang maksimum, dan tentunya pelarangan riba, gharar, dan maisir demi terciptanya keadilan yang merata di segala sektor.1

Untuk keberhasilan ekonomi Islam, diperlukan kepada kita mengenal pasti

ilmu ini. Salah satu cara adalah dengan mengetahui tokoh-tokoh klasik ataupun

kontemporer yang memberikan pemikiran mereka terhadap perkembangan ilmu

ekonomi Islam. Dalam pembagian tokoh, penulis mengkalisifikasikan tokoh ekonomi

Islam kepada dua kategori, 1) Masa Klasik dan 2) Masa Modern (kontemporer).2

TOKOH EKONOMI ISLAM KLASIK

1. Zaid Bin ʻAlī( 10-80 H/699-738 M)

Zaid Bin ʻAlī memiliki pandangan bahwa uang akan menghasilkan sesuatu melalui perniagaan. Oleh sebab itu pandangannya terhadap transaksi jual beli secara

kredit dengan harga lebih tinggi adalah sah karena yang terpenting adalah

terwujudnya saling riḍā diantara kedua belah pihak.3 Ia hanya menganggap bahwa keuntungan dari penjualan secara beransur merupakan murni bagian dari perniagaan

dan tidak termasuk ribā dan merupakan jawaban dari permintaan pasar.4Abū Zahrā5

1

Ajaran Al-qur‟an yang bersifat global ini selari dengan fitrah manusia yang bersifat dinamis mengikuti perubahan zaman. Apabila majoriti ayat-ayat ahkam Al-qur‟an bersifat absolut dan terperinci, manusia nescaya menjadi terikat yang pada akhirnya akan menghambat perkembangan masyarakat. Inilah letak hikmah dari keumuman ayat-ayat tersebut. Lihat Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam (Jakarta: UI Press, 1986), 29. Lihat juga Adiwarman Karim, Sejara h Pemikiran Ekonomi Islam (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada,2004), 5; J. Michael Taylor, “Islamic Banking The

Feasibility of Establishing an Islamic Bank In The United State”, American Business Law Journal, 40 Am. Bus. L. J. 385 (Winter 2003), 387.

2 Akhmad Mujahidin, Ekonomi Islam:Sejarah, Konsep, Instrumen, Negara dan Pasar

(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2013), 5; Muhammad Ghafur, Pemikiran Tokoh Ekonomi islam (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada), 37

3

Adiwarman Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Cet. Ke-3 (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2004), 231-253; M. Nejatullah Siddiqi, Islamic Economic Thought: Recent Works on History of Economic Thought in Islam, a Survey, Reading in Islamic Thought (Malaysia: Longman, 199), 3

4

(3)

menyatakan bahwa keputusan Ẓaid Bin ʻAli adalah sah. Karena ia memisahkan antara

harga dan jangka waktu, apabila masa yang diambil lebih panjang maka harga akan

lebih tinggi.6 Hal ini menjadi dasar penerapan konsep jual beli kredit dalam memenuhi keperluan bagi seluruh masyarakat. Asas penetapan akad harus diambil

dari ayat al-Qur‟ān dan al-Ḥadīth sebagai asas utama. Tetapi pada aktivitas ekonomi

merujuk kepada dasar keadilan dan keseimbangan dalam memutuskan segala

perkara.7

2. Abū anīfah (80-150 H /699 -767 M)

Selain dikenal sebagai seorang imam mazhab Ḥanafī, Abū Hanīfah

merupakan pakar yang telah memberikan pemikiran dalam perkembangan ekonomi

Islam. Salah satu pemikirannya adalah tentang salam, yaitu bentuk transaksi dimana pihak penjual dan pembeli setuju bila barang akan dikirimkan setelah dibayar secara

tunai pada waktu kontrak disepakati.8 Abū Ḥanīfah juga memberikan perbaikan atas konsep salam karena sering terjadi perselisihan antara penjual dan pembeli. Beliau

mencoba menghilangkan pertikaian dengan memberikan penjelasan mengenai

kontrak ini, seperti menjelaskan jenis komoditi, kualiti, kuantiti, waktu dan tempat

pengiriman, dan dia juga mewajibkan untuk memenuhi persyaratan bahwa komoditi

harus tersedia di pasar selama waktu kontrak dan pengiriman.9

Siddiqi10 menambahkan hasil pemikiran Abū Ḥanīfah yaitu murāba ah

(penjualan dengan margin dari harga beli yang disepakati dengan beberapa tambahan

demi menciptakan keadilan. Pemikiran Abu Hanifah terhadap zakat membawa

5 Muhammad Abu Zahra, al-Imam Zaid (Cairo, Dar al Fikr al „arabi, 539 H). 6 Adiwarman Karim, Op.cit. 231-253

7Siddiqi, Op. cit ,5. 8

Salam adalah jual beli barang dengan cara pemesanan dan pembayaran dilakukan di muka, dengan syarat-syarat tertentu. Lihat Muhammad Sholahuddin, Kamus Istilah Ekonomi, Keuangan dan Bisnis Syariah (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2011), 158; Mardani, Ayat-ayat dan Hadis Ekonomi Syariah (Jakarta: Rajawali Pres, 2011), 130; Adiwarman Karim, Op.cit. 13-14; Siddiqi, Op. cit ,5; Sucipto Hery. Ensiklopedi Tokoh Islam (Dari Abu Bakar sampai Nashr dan Qar dawi) (Jakarta: PT Mizan Pustaka, 2003), 31; Abu Zahra, Muhammad, Abu Hanifa, Cairo (Dar al Fikr

al‟Arabi,1977) , 412.

9Sucipto Hery, Op.cit, 34 10

(4)

konsep yang masih digunakan sehingga saat ini, yaitu mewajibkan zakat pada

perhiasan emas dan perak. Orang yang berhutang tidak diwajibkan membayar zakat

jika hutangnya lebih banyak daripada harta yang dimiliki.11 Dalam kerjasama hasil pertanian (Muzāraʻah), kebijakan Abū Ḥanīfah meninggikan nilai kemanusiaan

dengan melindungi pekerja lemah,12 apabila tanah tidak dapat menghasilkan apapun maka petani dibebaskan dari pembagian kerugian. Dalam isu wakaf, Abu Hanifah

berpendapat bahwa benda wakaf masih tetap milik wāqif. Wakaf dan pinjam

meminjam memiliki kedudukan yang sama, jadi benda wakaf dapat dijual, diwariskan

dan di hadiahkan kepada pihak lain, kecuali wakaf untuk masjid dan wakaf yang

ditetapkan berdasarkan keputusan hakim, wakaf wasiat dan wakaf yang di ikrarkan.13

3. Abū Yūsuf (113-182 H/ 802-881 M)

Pemikiran Abū Yūsuf lebih menekankan tentang perpajakan dan tanggung jawab negara. Pemikirannya tertulis dalam buku al-Kharāj yang ditulis pada masa Khalifah Harun al-Rashīd dan kitab ini dijadikan rujukan oleh para pakar ekonomi

Islam Modern kemudian di apikasikan. Pemikiran Abū Yūsuf dalam al-Kharāj, antara lain: (1) Segala aktivitas ekonomi, sarana serta kemudahan yang dirasakan

manfaatnya oleh masyarakat adalah tanggung jawab pemerintah, namun jika manfaat

dari segala sarana dan kemudahan itu hanya dapat dirasakan oleh pihak tertentu,

maka orang tersebut dapat dikenakan biaya. Kemudian, demi terciptanya

kesejahteraan masyarakat, negara berhak untuk membebankan pajak fa‘i ushur, jizyah

dan lain-lain sebagai pendapatan negara. (2) Perpajakan, Abū Yūsuf mengganti

praktik misā ah (fixed tax) dengan muqāsamah (proportional tax), dikarenakan hal tersebut akan menindas dan mendzalimi rakyat miskin, dan menentang sistem

11Ibid. 5. 12

Muhammad Yusuf Musa, Abu Hanifa wa’l Qiyam a1-Insaniyah fi madhhabih (Cairo, Maktabah Nahgah, Misr, 1957), 182.

13

(5)

Qābalah14

, (3) Dalam mekanisme harga, ia melarang penguasa menentukan harga

suatu barang, karena menurutnya keadilan hanya terjadi jika harga ditentukan oleh

permintaan dan penawaran pasar saja.15 Penjelesan Abū Yūsuf dalam mekanisme pasar dan nasihat kepada pemerintah tidak disertakan dengan pembahasan yang

terperinci. Sejauh ini pemikiran Abū Yūsuf dijadikan rujukan dalam menerapkan

konsep perpajakan di beberapa negara dunia. Ia telah menawarkan konsep maslahah

yang shumul untuk menciptakan kesejahteraan dan keadilan.16

4. Al-Ghazālī (451-505 H/ 1055- 1111 M )

Wawasan dan pengetahuan Al-Ghazālī sangatlah luas, terutama tentang

evolusi pasar, peranan uang dan penentuan kebijakan. Perhatian Al-Ghazālī tertumpu

kepada perilaku individu yang dibahas secara rinci berdasarkaan al-Qur‟ān, al-Ḥadīth dan Ijma„. Ia memiliki padangan bahwa setiap manusia harus memenuhi keperluan hidupnya dan melaksanakan kewajiban beribadah kepada Allah. Al-Ghazālī

memberikan peringatan bahwa pemimpin harus menjamin kesejahteraan kehidupan

rakyatnya. Prinsip keadilan, apabila ada rakyat yang tidak mampu dalam membiayai

kehidupannya, maka seluruh rakyat berkecukupan harus membantu meringankan

bebannya. Pandangan Al-Ghazālī terhadap pajak, menginspirasi dalam penentuan

monetary policy pada masa modern.17

Al-Ghazālī tentang pertukaran barang (barter), tidak efisien sistem barter dan kepentingan dan fungsi uang.18 Rafiq al-Mișrī19 memberikan satu tanggapan pada fungsi uang pada pemikiran Al-Ghazālī ialah sebagai dasar nilai, media pertukaran,

dan nilai simpanan. Uang tidak boleh menjadi bahan pertukaran dengan wang itu

14

yaitu sistem pembayaran pajak dengan cara adanya penjamin melihat kepada keahlian yang dimiliki

15 Adiwarman Karim, Op.cit. 231-253.

16

Nejatullah Siddiqi, Pemikiran Ekonomi Abu Yusuf (Jeddah, Majallah Abhath al –Iqtisad al Islami), 67-68

17 Al-Ghazali, Ihya Ulum Al-din, juz 2 (Beirut: Dar Al-nadwah), 109; Adiwarman, Op.cit, 19.

18

Siddiqi, Op.cit, 20

19

(6)

sendiri, kecuali dengan membelanjakan dengan barang yang kemudian barang

tersebut dijual kembali dengan margin yang disepakati.

5. Ibn Taimiyah (661-728 H/1263-1328 M)

Ibn Taimiyah menjelaskan 3 teori keadilan dalam aktivitas ekonomi, yaitu

upah yang adil, keuntungan yang adil, dan harga yang adil. Konsep harga yang adil

(justice price) yaitu tarif dimana orang menjual barangnya dengan secara umum dan diterima sebagai keseimbangan pada masa dan tempat yang khusus. Ibn Taimiyah

memberikan teori yang masih digunakan dalam ekonomi modern yaitu konsep

mekanisme pasar. Perubahan tingkat harga tidak selalu disebabkan oleh pelaku pasar,

namun faktor kurangnya produksi atau turunnya jumlah impor barang.20 Ibn Taimiyyah mennyatakan bahwa kenaikan permintaan barang yang tidak diikuti

dengan kenaikan penawaran atau produksi barang akan mendorong kenaikan harga

barang.21 Dalam menegakkan keadilan dan memenuhi seluruh kebutuhan dasar, penetapan harga harus menyertakan pemerintah ketika terjadi kekurangan kebutuhan

dasar diantara masyarakat sehingga tidak terjadi monopoli harga dan barang.

Kelangkaan barang juga persoalan ekonomi di masyarakat dan memerlukan kepada

kebijakan ekonomi dari pemerintah. Islahi22 juga menyatakan konsep Ibn Taimiyah tentang penetepan upah ini bertujuan untuk menghindari tindakan eksploitasi dari

pihak penguasa terhadap pihak pekerja. Pernyataan ini menunjukkan teori penawaran

dan permintaan tenaga kerja sehingga mempengaruhi kadar upah. Teori upah yang

adil ini kemudian diadopsi oleh David Ricardo empat abad kemudian.

20

Adiwarman karim, Op.cit, 19

21Akhmad Mujahidin, Ekonomi Islam : Sejarah, Konsep, Instrumen, Negara dan Pasar

(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2013), 158; Siddiqi, Islam Ka Nazriya-Milkiyat, Islam‟s Theory of Property (Lahore,Islamic pUblication 1968); Monzer Kahf, The Economic Views of Ibn Taimeyah; Mubarak Muhammad, Niza m al-Islam al-Iqtisad, mabadi wa qawa’id ‘amma (Beirut Dar al-fikr,1972), 62

22

(7)

6. Ibn Khaldun (732-845 H/ 1332-1406 M)

Pemikiran ekonomi Ibn Khaldun telah mendahului pemikiran ekonom barat.

Ibn Taimiyah memiliki pengetahuan yang luas sehingga mampu menulis pemikiran

ekonomi dalam perspektif yang komprehensif. Ibn Khaldun mempunyai pandangan

yang jelas tentang hubungan faktor-faktor dinamika sosial, moral, ekonomi dan

politik yang berbeda, namun saling berkaitan satu sama lain dan berperan terhadap

kemajuan masyarakat.23 Kitab Muqaddimah berisi pembahasan mengenai prinsip ekonomi. Tidaklah diragukan bahwa Muqaddimah merupakan hasil pemikiran Ibn Khaldun tentang pemikiran-pemikiran ekonomi. Pengetahuan Ibn Khaldun tentang

prinsip-prinsip ekonomi sangat dalam, dan jauh ke depan. Bahkan banyak

pemikirannya yang masih relevan dan menjadi dasar bagi pakar ekonomi Islam

modern.24 Dalam analisisnya, Ibn Khaldun membagi fenomena harga berdasarkan jenis barang,yaitu: (1) barang kebutuhan dasar dan (2) barang pelengkap.

Menurutnya, apabila suatu pasar berkembang dan selanjutnya populasi bertambah

(menjadi pasar besar), maka pengadaan barang-barang kebutuhan dasar akan

mendapatkan keutamaan.25 Hal ini dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Dari diagram di atas menerangkan bahwa: supply bahan pokok penduduk pusat kota (QS2) jauh lebih besar dan pada supply bahan dasar penduduk kota kecil (QS1). Dimana menurut Ibn Khaldun, penduduk pasar besar memiliki supply bahan pokok yang melebihi keperluannya sehingga harga bahan pokok di pasar besar relatif

23

HendriAnto, Pengantar Ekonomi Mikro Islami (Yogyakarta,Ekonisia), 77-78

24

Umar Chapra, The Future of Islamic Economic; An Islamic Prespective, 173

25

(8)

lebih murah (P2). Sementara itu, supply bahan pokok di pasar kecil relatif kecil, karena itu orang akan lebih khawatir kehabisan makanan sehingga harganya relatif

lebih mahal (P1). Kesimpulan adaalah terjadinya proses peningkatan

disposableincome.26 Dari penduduk kota naiknya disposable income dapat meningkatkan marginal propensity to consume terhadap barang-barang mewah dari penduduk kota tersebut. Konsep pemahaman ekonomi Ibn Khaldun telah digunakan

oleh ekonom barat, dan dijadikan sebagai dasar atau konsep dalam ekonomi

konvensional.27

7. Ibn Qayyim (691-751 H/ 1291-1350 M)

Pemikiran Ibn Qayyim dipengaruh oleh Ibn Taimiyah yang menjadi gurunya

selama 16 tahun. Ibn Qayyim memberikan perhatian kepada kajian zakat. Ibn Qayyim

menekankan prinsip keadilan dalam besaran zakat (nisab). Ibn Qayyim memperkenalkan konsep penetapan besaran zakat disesuaikan dengan keterlibatan

tenaga kerja dalam suatu aktivitas produksi, dimana semakin banyak tenaga kerja

yang terlibat pada suatu proses produksi maka semakin kecil besaran zakatnya. Harta

temuan dikenakan zakat yang tinggi (20%) karena tidak banyak pekerja yang

dilibatkan, sedangkan hasil panen dikenakan zakat 10% bagi ladang yang

menampung air hujan, karena manusia tidak banyak melakukan upaya untuk

menggarapnya. Kadar zakat itu boleh turun menjadi 5% dan 2,5% jika tenaga kerja

yang dilibatkan lebih banyak.28 Pemikiran ekonomi Ibn Qayyim lainnya adalah mengenai mekanisme pasar, fungsi uang dan konsep keadaan ekonomi. Dalam

mekanisme pasar, Ibn Qayyim berpendapat harga ditentukan oleh kekuatan

penawaran dan permintaan. Namun ia juga tak menafikan peran pemerintah untuk

ikut mengatur pasar jika terjadi ketidak adilan dalam transaksi ekonomi dipasar.

Pemikiran Ibn Qayyim tentang fungsi uang, adalah fungsi utama uang sebagai alat

26 AdiwarmanKarim, Ekonomi Mikro Islami, Edisi Kedua (Jakarta: IIIT, 2003), 231.

27

Umar Chapra,Op.cit. 175.

28

(9)

tukar dan alat ukur nilai. Pandangan ini didasarkan kepada hasil pengamatan yang

dimulai ketika masyarakat mulai meminta uang untuk memenuhi kebutuhan pokok.29 Menurut Nor Chamidi30 menambakan mengenai konsep kaya dan miskin, Ibn Qayyim menegaskan, kaya itu lebih baik dibanding miskin karena seseorang dalam

keadaan kaya akan dapat menjalankan ibadah dengan lebih baik daripada seseorang

dalam keadaan miskin. Dengan memiliki kekayaan seseorang akan mampu

bersedekah lebih banyak, membangun masjid, berhaji, dan lain-lain. Ibn Qayyim juga

memaparkan pendapat mengenai ribā dan membaginya menjadi dua jenis yaitu ribā

al-jāli dan ribā al-khāfī, Ribā al-jālī terjadi jika pemberi pinjaman mengenakan tambahan biaya atau bunga atas pinjamannya, sementara ribā al-khāfī merupakan riba yang samar yang seterusnya dibahagi menjadi ribā al-fal (mengenakan jumlah tambahan saat menukar barang yang sama) dan ribā al-nasiah (mengenakan jumlah tambahan ketika pembayaran dilakukan dengan tempoh).

8. Shah Wali Allāh Al-Ḍa lawi (1114-1176 H/1703-1763 M)

Shah Wali Allāh menjelaskan banyak hal yang berkaitan ekonomi Islam. Shah Wali Allāh membahas ekonomi Islam secara umum, tetapi tanggapannya terhadap kesejahteraan ekonomi untuk kehidupan sangat bermanfaat. Shah Wali Allāh membahas keperluan asas manusia, kepemilikan, sarana produksi, kepentingan untuk

bekerjasama dalam proses produksi dan berbagai bentuk distribusi dan konsumsi. Shah Wali Allāh juga mengkaji bagaimana israf menyebabkan peradaban menjadi menurun, ia berusaha menghapuskan praktik monopoli dan penentuan keuntungan

secara israf yang disampaikan membuat investasi lebih produktif. Shah Wali Allāh meletakkan kejujuran dan keadilan dalam bertransaksi sebagai syarat penting untuk

menciptakan kemajuan dan kesejahteraan. Beberapa komentar Shah Wali Allāh

tentang kelemahan sistem barter kurang tepat apabila diaplikasikan dalam ekonomi

modern dan sistem bunga (interest) yang merusak (bahkan menurutnya dengan

29

Ibid

30

(10)

adanya bunga, manusia cenderung menyembah uang) telah membawa perubahan

yang lebih maju. Shah Wali Allāh juga membahas perlunya pembagian dan

spesialisasi kerja, serta keuntungan dari penggunaaan uang sebagai alat tukar dalam

praktik ekonomi modern. Kajiannya mengenai faktor-faktor menurunnya pendapatan

adalah karena faktor perbelanjaan pada produk yang kurang produktif dan

peningkatan beban pajak atas orang-orang yang lemah.31 Pada akhirnya, Shah Wali Allāh menyatakan kerjasama telah membentuk dasar hubungan ekonomi yang manusiawi dan Islami. Kesimpulan dari hasil pemikiran beliau adalah kejujuran

moral sangat diperlukan untuk membuat tatanan sosial ekonomi yang stabil dan

seimbang.

9. Muhammad Abduh (1266-1323 H/1849-1905 M)32

Muhammad Abduh menyatakan demi kemaslahatan umum, Islam

mewajibkan pemerintah untuk berperan dalam urusan ekonomi. Peranan yang

diharapkan antara lain; mendirikan pabrik-pabrik untuk meningkatkan produksi,

membuat lahan kerja baru, menentukan harga barang pokok dan menentukan

kebijakan ekonomi. Muhammad Abduh mengartikan perilaku zalim sebenarnya

adalah perilaku zalim dalam ekonomi. Sebagai contoh, kikir yang kufur nikmat ialah

orang kaya yang mencintai hartanya sehingga mereka tidak mau mengeluarkan harta

demi kemaslahatan umum. Muhammad Abduh mengingatkan akan bahaya dari

perilaku pemilik modal (kapitalis) yang cenderung ingin mendapatkan keuntungan

dengan cara eksploitasi keperluan orang lain dan menimbulkan ribā. Muhammad

Abduh setuju bahwa kemiskinan seseorang itu memang sudah menjadi sunnatullah

dalam masyarakat. Artinya, kemiskinan itu disebabkan oleh beberapa faktor, di

antaranya adalah karena faktor tidak mampu bekerja, gagal berusaha, pengangguran, malas, dan rendahnya pendidikan. Ia mengatakan, “jika kemiskinan seseorang memang sudah menjadi sunnatullah, maka mengatasi kemiskinan itu pun juga harus

31 Nor Chamidi, Op.Cit. 37 32

(11)

dengan sunnatullah, begitu juga halnya dengan kekayaan seseorang.” Begitu juga jika seseorang ingin memperoleh kekayaan, maka ia harus berusaha dan bekerja untuk

memperolehnya.

10. Muhammad Iqbal (1289-1357 H/1873-1938 M)33

Muhammad Iqbal memiliki pemikiran ekonomi Islam lebih kepada

konsep-konsep umum. Ia melihat kelemahanan dari sistem kapitalis dan komunis. Dan ia

mengambil sikap yang lebih baik dengan bersumber kepada al-Quran dan al-Hadith.

Menurutnya, semangat Kapitalis, yaitu memupuk modal sebagai nilai dasar sistem ini

dan bertentangan dengan semangat Islam. Demikian juga, semangat komunis banyak

melakukan pemaksaan kepada masyarakat dan bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Iqbal memperhatikan terhadap petani, buruh dan masyarakat lemah lainnya. Ia

menganggap semangat kapitalis yang selalu mengeksploitasi menjadi asing bagi

Islam. Ia menganggap bahawa pembentukan keadilan sosial merupakan salah satu

bagian dari tugas pemerintahan Islam, dan memandang zakat sebagai potensi yang

efektif untuk menciptakan masyarakat yang adil.

TOKOH EKONOMI ISLAM KONTEMPORER

1. Aliran Iqtiṣādunā

Pola utama aliran ini adalah pemikiran tentang pemecahan masalah ekonomi

yang muncul karena adanya distribusi yang tidak merata dan adil sebagai pengaruh

dari ekonomi kapitalis yang menguntungkan pihak yang kuat dan kaya. Pemahaman

ekonomi iqtisaduna beranggapan bahwa puncak permasalahan ekonomi adalah bukan karena sumber daya yang tidak terbatas, tetapi karena ketamakan manusia yang tidak

terbatas. Faham mazhab ekonomi ini menganggap bahwa segala sumber daya alam

adalah tidak terbatas. Aliran ini dipelopori oleh Baqir Sadr.

Pemikiran Baqir al-Sadr menyatakan Islam tidak mengurusi hukum

permintaan dan penawaran, hubungan antara keuntungan dan bunga, juga fenomena

33

(12)

diminishing return dalam produksi. Ekonomi Islam adalah doktrin karena ia membincangkan semua aturan dasar dalam kehidupan ekonomi dihubungkan dengan

ideologi mengenai keadilan sosial. Menurut Baqir al-Sadr, sistem ekonomi Islam

berhubungan dengan kenyataan dan apa yang seharusnya berasas pada kepercayaan,

hukum, konsep dan definisi Islam yang diambil dari sumber al-Qur‟an dan al-Hadith.

Di dalam doktrin ekonominya, keadilan menempati posisi utama. Keadilan

merupakan penilaian moral dan tidak dapat diuji. Sebaliknya keadilan sosial

merupakan dasar pengukuran untuk melihat teori, aktivitias dan produksi ekonomi.

Baqir al-Sadr menilai sistem ekonomi Islam bagian dari sistem Islam secara

keseluruhan dan harus dipelajari sebagai keseluruhan disiplin ilmu. Baqir al-Sadr

mensarankan agar orang-orang memahami dan mempelajari pandangan dunia Islam

lebih dahulu jika ingin mendapatkan hasil yang memuaskan dalam menganalisis

sistem ekonomi Islam. Di dalam pendekatan yang bersifat holistic inilah Baqir al-Sadr

membahas doktrin ekonomi. Manusia mempunyai dua kepentingan yang saling

bertentangan secara potensial, yaitu kepentingan pribadi dan sosial. Baqir al-Sadr

melihat bahwa solusinya ada pada agama, dan inilah peran yang dimainkan oleh

agama dalam sistem ekonomi Islam.

Distribusi pendapatan adalah suatu proses pembagian (sebagian hasil

penjualan produk total) kepada faktor-faktor yang ikut menentukan pendapatan.

Faktor-faktor tersebut diantaranya faktor tenaga kerja, tanah, modal, dan manajemen.

Besaran distribusi pendapatan ditentukan oleh tingkat peranan masing-masing faktor

produksi. Baqir al-Sadr membagikan distribusi menjadi dua bagian, yakni distribusi

sebelum produksi (pre-production distribution) dan sesudah produksi ( post-production distribution). Penjelasan Baqir al-Sadr mengenai hal ini didasarkan kepada hukum yang berhubungan dengan kepemilikan dan distributiverights.34 Pemikiran ekonomi Islam Baqir Al-Sadr adalah sebagai berikut:

34

(13)

A. Hubungan Kepemilikan

Tipe

Jenis Tanah

Tanah yang di garap Tanah Mati Tanah yang digarap

secara alami (Hutan)

Tanah lain Milik Negara Milik Negara Milik Negara

Kepemilikan swasta atau pribadi hanya terbatas pada hak memakai, prioritas

untuk menggunakan dan hak untuk melarang orang lain dalam menggunakan

sesuatu yang menjadi miliknya. Perbedaan antara kepemilikan oleh publik dan

negara terletak pada cara penggunaan barang yang bersangkutan. Jika

kepemilikan harus digunakan untuk kepentingan seluruh anggota masyarakat

(rumah sakit, sekolah dan sebagainya) maka kepemilikan oleh Negara.

B. Pelarangan riba dan pelaksanaan zakat, Baqir al-Sadr tidak membahas

mengenai riba lebih terpeinci, namun ia hanya sebatas memberikan pembahasan mengenai riba ialah bunga dan modal uang, sedangkan untuk zakat, Baqir al-Sadr memandangnya sebagai kewajiban Negara dan kemudian

dibelanjakan untunk mengurangi kemiskinan dan untuk menciptakan

(14)

C. Pengambilan Keputusan, alokasi Sumber dan kesejahteraan publik merupakan

Peranan negara. Kepemilikan oleh Negara menunjukkan peranan Negara dan

memiliki tanggung jawab yang sangat besar untuk menegakkan keadilan, hal

ini dapat dicapai melalui berbagai fungsi; (1) Distribusi sumber daya alam

kepada para individu didasarkan kepada kebutuhan dan kapasiti kerja mereka,

(2) Pelaksanaan aturan agama dan hukum terhadap penggunaan sumber dan (3)

Menjamin keseimbangan sosial.

2. Aliran Mainstream

Pola utama dari pemikiran aliran ini adalah kebalikan dari aliran iqtisaduna.

Perbedaannya adalah puncak permasalahan ekonomi, menurut mereka masalah

ekonomi dikarenakan kekurangan (scarcity). Ini maksudnya segala sumber daya alam adalah terbatas tetapi keperluan manusia yang tidak terbatas. Untuk itu manusia

diarahkan untuk melalukan aktivitas ekonomi berdasarkan kepada skala prioritas

dalam memenuhi kebutuhan manusia dengan tetap berpegang teguh kepada al-Qur‟an

dan al-Hadith.35 Tokoh-tokoh utama pada aliran ini iaitu, Muhammad abdul Mannan, Muhammad Nejatullah Siddiqi, Syed Nawab Haidar Naqvi, dan Monzer Kahf.

2.1. Muhammad Abdul Mannan

Mannan mendefinisikan ekonomi Islam sebagai sebuah ilmu sosial yang

memperlajari masalah-masalah ekonomi bagi suatu masyarakat yang diilhami oleh

nilai-nilai Islam. Mannan menjelaskan ciri-ciri kerangka institusional, ia membagi

kepada kerangka sosial Islam dan hubungan yang terpadu antar individu, masyarakat

dan Negara. Mannan mendefinisikan kebebasan sebagai kemampuan untuk

melaksanakan kewajiban seperti yang sudah diatur Syariah. Hubungan individu –

masyarakat - negara itu dipandang sebagai sesuatu yang mempunyai tujuan dan

kerjasama, bekerja secara harmonis untuk mencapai tujuan sistem ekonomi.36

35Nor Chamidi, Op.cit, 386. 36

(15)

Kemudian kepemilikan swasta yang relatif dan kondisional, menurut Mannan

kepemilikan terhadap segala sesuatu yang ada di dunia ini ialah milik Allah dan

manusia hanya sebagai khalifah dan kita harus menggunakan sumber daya yang ada

demi kemaslahatan dan kebaikan manusia. Kemudian Mannan menyusun syarat

untuk mengatur swasta; tidak boleh ada aset yang menganggur namun harus

dimanfaatkan secara berkelanjutan, kewajiban pembayaran zakat, penggunaan untuk

aktiviti yang menguntungkan, pengunaan yang tidak membahayakan, kepemilikan

yang sah, penggunaan yang seimbang, keuntungan dari penggunaan yang benar dan

patuh Syariah dalam hal warisan.37

Mekanisme pasar, Mannan tidak percaya bahwa mekanisme pasar cukup

untuk menentukan semua harga dan jumlah produksi, khususnya jika berhubungan

dengan pemberian bagi si miskin, sehingga ia mensarankan pengaturan, pengawasan

dan kerjasama dengan perusahaan negara terbatas. Karena peran negara pada

umumnya adalah merekonstruksi pola dan pertumbuhan produksi yang mencukupi,

penekanan pada kerjasama dan persaingan yang terkawal, penekanan pada bagi hasil

yang adil untuk mengganti bunga, kebijakan moneter dan fiskal demi stabilisasi,

kebijakan upah yang baik, meningkatkan ekonomi antarnegara Muslim yang bersatu,

penyediaan keperluan dasar bagi semua orang.

Dalam zakat, Mannan menyatakan bahwa zakat adalah sebuah elemen sosial

Islam dan berkedudukan wajib bagi Muslim. Kadar dan penerima zakat sudah

ditetapkan, maka semestinya zakat akan mudah diimplementasikan. Mannan

memberikan saran untuk menghapuskan (riba) dalam sistem ekonomi Islam dan menggantikannya dengan pembagian keuntungan dan rugi serta partisipasi

berkeadilan. Mannan menekankan keberlangsungan muḍārabah tidak hanya pada tahap nasional melainkan juga pada tahap internasional. Mannan berpendapat bahwa

ekonomi Islam itu berhubungan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi barang

dalam kerangka masyarakat Islam yang di dalamnya jalan hidup Islami ditegakkan

37

(16)

sepenuhnya. Pada masalah „kelangkaan‟, Mannan berpendapat bahwa dalam ekonomi manapun, kelangkaan itu pasti terjadi dan dianggap sebagai masalah ekonomi.38 Dalam masalah produksi, Mannan banyak membahas kualiti, kuantiti, maksimalisasi

dan partisipasi sebagai sifat proses produksi. Sistem ekonomi, Manan lebih tampak

elektif terhadap perlunya „surplus produksi‟ bermakna ganda. Menurutnya produksi

tidak dilakukan hanya sebagai tanggapan atas permintaan pasar, melainkan didorong

kepada pemenuhan kebutuhan dasar..39 Mannan beranggapan bahwa apabila ekonomi Islam dihadapkan pada masalah kekurangan sumber daya, maka baginya

ini sama saja dengan prinsip sca r city dengan ekonomi barat. Namun yang membedakan dari sistem sosio-ekonomi lain ialah sifat motivasional yang

memberi pengaruh kepada pola, struktur, arah dan komposisi produksi distribusi

dan penggunaan. Dengan demikian, tugas utama ekonomi Islam adalah

menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran ke

arah yang lebih adil.40

2.2. Nejatullah Siddiqi

Siddiqi menganggap ekonomi sebagai sebuah aspek budaya yang muncul dari

pandangan dunia seseorang. Siddiqi menolak determinisme ekonomi Marx. Baginya,

ekonomi Islam itu harus memanfaatkan teknis produksi terbaik dan metode organisasi

yang ada.41 Sifat Islam terletak pada hubungan antar manusia, di samping pada sikap dan kebijakan-kebijakan sosial yang membentuk sistem tersebut. Ciri yang

membedakan sistem ekonomi islam dengan sistem ekonomi barat adalah dalam suatu

kerangka Islam, kemakmuran dan kesejahteraan ekonomi merupakan sarana untuk

mencapai tujuan spiritual dan moral.42 Oleh karena itu, Siddiqi memberikan ide untuk

38 Muhammad Abdul Mannan, The Making of An Islamic Economic Society, (Cairo :

International Association of Islamic Banks1984), 229.

39

Euis Aamalia, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Depok : Gramata Publishing, 2005), 102

40 Abdul Azim Islahi, Contribution of Muslim Scholars of Economic Thought and Analysis,

(Jeddah: Scientific Publishing Centre, King Abdul Aziz University, 2004), 11

41 Euis Aamalia, op.cit. 42

(17)

membentuk teori neo-klasik konvensional dan peralatannya untuk mewujudkan

perubahan orientasi nilai, penataan kelembagaan dan tujuan yang hendak dicapai.

Siddiqi memandang pemenuhan keperluan ekonomi sebagai sarana untuk mencapai

tujuan hidup yang lebih besar, yaitu rida Allah dan mencapai sukses (falāh) di dunia

dan akhirat. Tujuan itu hanya dapat terwujud jika aktivitas ekonomi ditentukan oleh

moralitas dan spritualitas. Perubahan tersebut pada dasarnya terjadi dalam dua area.

Pertama adalah asumsi perilaku yang melahirkan Islamicman. Kedua adalah upayanya memasukkan pertimbangan fiqh ke dalam analisisnya.

2.3.Syed Nawab Haider Naqvi

Pemikiran Syed Nawab Haider Naqvi terdapat pada beberapa bagian. Dalam

hubungan harta, Naqvi memiliki pemahaman yang sama dengan Baqir al-Sadr,

dimana kepemilikan adalah mutlak oleh Allah. Maka hak kepemilikan sesuatu

amatlah terbatas, karena dalam prespektif Islam kebebasan manusia untuk memiliki

kekayaan hanyalah relatif untuk keperluan masyarakat.43 Sehubungan dengan harta warisan kekayaan individu, 1/3 dari harta warisan seseorang dapat diberikan kepada

yang bukan anggota keluarga. Ini menunjukkan bahwa Naqvi mendorong untuk

mendistribusikan kekayaan secara lebih luas, terutama kepada kaum miskin dan kaum

tertindas. Pemahaman Naqvi tampak hanya dari pemahamannya yang memihak

kepada kaum miskin dan lemah. Pada hal lebih luas, hak individu untuk memiliki

kekayaan tidak dapat dibatasi karena mengingat aksioma tanggung jawab dan

keseimbangan yang menyingkirkan kapitalisme. Naqvi juga membahas tentang

sistem Insentif. Dalam faham kapitalis, orang yang memiliki kekayaan adalah

motivator utama dalam pergerakan ekonomi dan bertanggung jawab social. Tetapi

kenyataannya malah menjadi penindas seperti dalam sosialisme. Ia menyadari bahwa

sifat asas manusia adalah tamak dan memetingkan diri sendiri untuk memelihara

karakteristik saling membantu dan memberi memerlukan kepada bantuan pemerintah

untuk pembuatan peraturan. Oleh karena itu, negara memelihara kualiti moral dan

43

(18)

etika, maka kualiti akhlak harus dipaksakan kepada masyarakat dengan pendidikan.

Sebagai tokoh Islam mainstream, Naqvi ikut mendukung penghapusan ribā dan

penerapan zakat sebagai instrumen pengurang kadar kemiskinan. Sefaham dengan

Mannan dan Siddiqi, penghapusan riba tidak hanya berhubungan dengan “perekonomian bebas bunga” tetapi perekonomian bebas eksploitasi‟. Dalam pandangannya mengenai zakat, Naqvi melihatnya sebagai perwakilan filsafat Islam.

Karena Zakat adalah sebuah instrument yang sah, bertujuan untuk mendistribusikan

kekayaan kepada kelompok miskin dan fakir. Oleh karena itu, hasil pengumpulan zakat „pasti tidak mencukupi‟ maka pajak lain dapat dilaksanakan. Pada kesimpulan, pemikiran Naqvi adalah bentuk kritikan ekstrim terhadap kapitalisme, karena ia

memiliki tujuan untuk mengubah struktur dasar perekonomian feodalistik-kapitalistik

pada masa sekarang ini.

2.4. Monzer Kahf

Monzer Kahf memandang ekonomi dalam suatu sistem ekonom Islam adalah

bersedia menerima paradigma Islam. Tidak memandang apakah ia muslim ataupun

non muslim, selama ia boleh menerima tata nilai dan norma ekonomi sesuai dengan

ajaran Islam. Seperti pemahaman tentang kepemilikan Allah dan dunia hanyalah

sementara. Kahf tidak setuju dengan membiarkan kekuatan pasar sepenuhnya

melakukan keputusan-keputusan alokatif dan distributif, tetapi ia sangat memandang

penting peran yang dimiliki negara dalam penentuan kebijakan.44 Konsep kepemilikan yang dianut oleh Kahf, dimana manusia sebagai pelaku pasar adalah

merupakan khalifah di muka bumi dan memiliki hak dan tanggung jawab untuk

memiliki sesuatu dan memanfaatkannya. Kahf sependapat juga dengan yang lainnya,

hak memiliki ini terbatas dan sah, sama dengan tanggung jawab manusia untuk

bertindak sesuai dengan kehendak dan hukum Allah. Bahwa kekayaan tidak boleh

hanya ditangan sedikit orang saja, dan mengharuskan adanya kerjasama antar

manusia dalam pemanfaatannya. Kahf lebih menyukai struktur pasar daripada

44

(19)

mekanisme perencanaan terpusat, untuk mendukung pandangannya ini, ia mengambil

contoh dari Nabi Muhammad, yang menolak untuk menetapkan harga dan

membiarkan pasar menetapkan tingkat harga. Namun pasar harus berfungsi dengan

baik, yaitu bebas daripada manipulasi. Kahf melihat prinsip kebebasan dan

tanggungjawab ini lebih terwujud di dalam kerjasama daripada persaingan, dan

kemudian menjadikan kerjasama sebagai tema atau pondasi umum didalam

pertubuhan Islam.

3. Aliran Alternatif

Aliran ini adalah aliran kritis secara ilmiah terhadap ekonomi Islam, baik

sebagai ilmu maupun sebagai peradaban. Aliran ini mengkritik kedua aliran

kontemporer sebelumnya. Aliran Iqtiṣādunā dikritik karena dianggap berusaha mengemukakan sesuatu yang baru yang sebenarnya sudah ditemukan oleh

tokoh-tokoh klasik sebelumnya, sedangkan aliran mainstream dikritik sebagai aliran serapan

dari neo-klasik tetapi mengahapuskan elemen ribā serta menambah zakat dan akad,

sehingga tidak ada keaslian pada aliran ini. Tokoh aliran ini adalah Timur Kuran.

Pemikiran Timur Kuran mengkritisi ekonomi keadilan yang ditawarkan oleh

ekonomi Islam. Kuran hanya menawarkan dua prinsip, yaitu prinsip keadilan dan

prinsip kejujuran. Prinsip keadilan melarang ketidakmerataan dalam distribusi

barang, dengan instrument distribusi harta (zakat), harta warisan dan sumbangan

kemanusiaan (sedekah) dan prinsip kejujuran melarang pendapatan yang dilarang

oleh Syariah45. Kuran juga mengkritisi tentang zakat sebagai pemerataan harta atau distribusi kekayaan. Dia beranggapan bahwa zakat tidak akan boleh mendistribusikan

harta secara adil, karena menurutnya zakat dalam skema kecil dalam sektor pertanian,

pertambangan, dan produksi barang mentah, boleh menjadi objek zakat seperti pada

awal permulaan Islam. Namun zaman modern seperti sekarang ini banyak industri

baik barang ataupun jasa yang menurutnya tidak dapat diukur nilai nisabnya sehingga

45Timur Kuran, On The Notion of Economic Justice In contemporary Islamic Thought, 1989,

(20)

skim zakat tidak dapat diterapkan.46 Hal ini merupakan fikiran yang berlawanan daripada pemikiran tokoh-tokoh ekonomi Islam saat ini. Kuran juga mengkritisi

adanya perbedaan pendapat diantara ulama mazhab. Karena ini merupakan sebuah

ketidak konsistenan dalam ekonomi Islam.47 Perbedaan mazhab pemikiran dapat dibawa kepada kesepakatan para ulama atau disebut ijma‘ dan juga penganalogian

masalah. Kedua bahasan tersebut menurutnya sangat diperlukan agar masyarakat

yang tidak tau cara menghukumi suatu masalah boleh mengambil produk hukum

yang sudah jadi iaitu ijma‘. Baginya ribā adalah puncak ketidakstabilan politik.48

KESIMPULAN

Keragaman pola pikir dalam memandang ekonomi Islam pada dasarnya

merupakan ijtihād para cendikiawan Muslim dalam membentuk kerangka ekonomi

yang patuh Syariah. Para pemikir ekonomi Islam telah meletakkan dasar-dasar

bangunan sistem ekonomi Islam yang meliputi sumber, prinsip, metode, dan teknik

pelaksanaan. Walaupun banyak perbedaan, tetapi mereka tetap merujuk kepada

al-Qur‟an dan al-Ḥadīth sebagai sumber ilmu yang absolut. Akhirnya, atas sumbangan

pemikiran merekalah kontruksi bangunan sistem ekonomi Islam akan mampu

menghantarkan seluruh manusia kepada kesejahteraan dan keadilan sosial yang

merata.

BIBILOGRAFI

Books

Al-Qur‟an Al-Hadis

A.A. Islahi. Economic Concept of Ibn Taimiyah. London : Leicester, 1988. Al-Ghazali. Ihya Ulum Ad-din. Beirut: Dar An nadwah.

Amalia Euis. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Depok : Gramata Publishing, 2005.

46Ibid. 47Ibid

48https://www.academia.edu/12523134/Menjawab_Keraguan_Timur_Kuran diakses 30 Mei

(21)

Anto Hendri. Pengantar Ekonomi Mikro Islami. Yogyakarta: Ekonisia.

Chamidi Nor. Jejak Langkah Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Yogjakarta 2010. Hery Sucipto. Ensiklopedi Tokoh Islam (Dari Abu Bakar sampai Nashr dan

Qardhawi). Jakarta: PT Mizan Pustaka, 2003.

Islahi Abdul Azim. Contribution of Muslim Scholars of Economic Thought and Analysis. Jeddah: Scientific Publishing Centre, King Abdul Aziz University, 2004.

J. Michael Taylor, “Islamic Banking The Feasibility of Establishing an Islamic Bank In The United State”, American Business Law Journal, 40 Am. Bus. L. J. 385

(Winter 2003), 387.

Kahf Monzer. The Islamic Economy. Canada:Plainfield,1978.

Karim Adiwarman. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Cet. Ke-3. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2004.

Karim Adiwarman, Ekonomi Mikro Islami. Edisi Kedua. Jakarta:IIIT,2003.

_______________. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2004.

Karnaen A Perwata atmadja dan Anis Byarwati. Jejak Rekam Ekonomi Islami. Jakarta:Cicero Publishing,2008.

Khaldu, Ibn. Muqaddimah, Edisi Indonesia. Jakarta : Pustaka Firdaus, 2000.

Kuran, Timur. On The Notion of Economic Justice In contemporary Islamic Thought, 1989.

Mannan, Muhammad Abdul. The Making of An Islamic Economic Society. Cairo : International Association of Islamic Banks1984.

Mujahidin, Akhmad. Ekonomi Islam : Sejarah, Konsep, Instrumen, Negara dan Pasar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2013.

Nasution, Harun. Akal dan Wahyu dalam Islam. Jakarta: UI Press, 1986

Siddiqi M. Nejatullah. Islamic Economic Thought: Recent Works on History of Economic Thought in Islam, a Survey, Reading in Islamic Thought. Malaysia: Longman, 1992.

SuwaidanTariq. Biografi Imam Abu Hanifah. Jakarta: Zaman, 2003.

websites

Referensi

Dokumen terkait

Pelindung mata yang memenuhi standar yang diakui harus digunakan jika hasil evaluasi risiko menunjukkan bahwa hal ini perlu untuk menghindari keterbukaan terhadap cipratan

Penerapan hukum terhadap tindak pidana pembobolan dana nasabah yang dilakukan oleh terdakwa Rudi Guiwan pada perkara Putusan Nomor 403/Pid.B/2011/PN.Mks menurut Penulis

Hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika siswa kelas VIII-A SMPN 1 Montong Gading tahun pelajaran 2017/2018 mengalami peningkatan pada setiap siklus dengan

Percampuran makna yang bersumber pada agama dan budaya menghasilkan makna rumah tua bagi kehidupan masyarakat Negeri Soya sebagai peninggalan leluhur yang dalam

The result of data analysis shows that: (1) TGT technique is more effective than STAD technique to teach speaking at the first semester Intensive Course

Menurut Kusuma[4] katuk ( Sauropus androgynus L. merr) merupakan salah satu komoditi tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai sayuran yang juga termasuk dalam tanaman

Tujuan utama ekonomi Islam adalah merealisasikan tujuan manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat (falah), serta kehidupan yang baik dan terhormat (al-hayah

melakukan penyidikan terhadap pelaku tindak pidana penyebaran ujaran. 10 Petrus Soerjowinoto dkk, 2014, Metode Penulisan Karya Hukum, Semarang: Fakultas Hukum