• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Observasi Anak dengan Hambatan K

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan Observasi Anak dengan Hambatan K"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

ANAK DENGAN HAMBATAN INTERAKSI DAN KOMUNIKASI LAPORAN

diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengembangan Interaksi dan Komunikasi

Dosen:

Dra. Tati Hernawati, M.Pd Dr. H. Dudi Gunawan, M.Pd

Asep Saripudin, S.Pd

Disusun oleh:

Dwi Azhari Yassinthya 1401358

Gusti Mochamad B A H 1304941

Rika Ayudhia 1404306

DEPARTEMEN PENDIDIKAN KHUSUS FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

(2)

PENDIDIKAN KHUSUS 2014 i

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan kuasa-Nya kami dapat menyelesaikan laporan dengan judul “Anak dengan Hambatan Interaksi dan Komunikasi” untuk memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah Pengembangan Interaksi dan Komunikasi.

Laporan ini selain bertujuan untuk menyampaikan apa yang telah kami dapat di lapangan, diharapkan laporan ini bisa menjadi bahan diskusi bersama mengenai materi yang dibahas. Meski terdapat banyak kekurangan dalam laporan ini, meski hasilnya jauh dari sempurna, setidaknya kami telah berusaha semaksimal mungkin. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran beserta kritik yang dapat membangun kinerja kami ke depannya.

Semoga laporan ini dapat berguna bagi penyusun khususnya dan bagi pembaca umumnya.

Bandung, Mei 2015

(3)

PENDIDIKAN KHUSUS 2014 ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB IPENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 1

1.3 Tujuan Penelitian ... 2

1.4 Metode Penelitian ... 2

1.5 Sistematika Penulisan ... 2

BAB II DASAR TEORI ... 3

2.1 Interaksi ... 3

2.2 Komunikasi ... 3

BAB III IDENTIFIKASI KASUS ... 4

3.1 Identitas Anak dan Orangtua ... 4

3.2 Identifikasi Kasus Hambatan Interaksi ... 4

3.3 Identifikasi Kasus Hambatan Komunikasi ... 6

BAB IV PENUTUP ... 7

4.1 Kesimpulan ... 7

4.2 Saran ... 7

(4)

PENDIDIKAN KHUSUS 2014 1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia ialah makhluk indvidu dan makhluk sosial. Dalam menjalani kehidupannya sehari-hari, manusia akan saling membutuhkan satu sama lain. Maka dari itu, ia akan melakukan hubungan dengan manusia, alam, dan Tuhan. Di dalam hubungan tersebut maka akan ada timbal balik diantara kedua belah pihak atau lebih, hal ini dikenal dengan interaksi. Sebagai kelanjutannya hal ini diwujudkan dengan komunikasi, dimana dalam komunikasi ini terdapat penyampaian informasi satu sama lain.

Interaksi terjadi ketika objek yang satu dan lainnya saling mempengaruhi kejadian satu sama lainnya. Akan tetapi tidak semua individu mengalami hal yang sama dalam menjalankan aktivitas ini, ada beberapa diantara kita yang mengalami hambatan dalam berinteraksi. Hambatan ini dapat terjadi karena banyak faktor, baik karena kelainan fungsi organ fisik maupun psikis. Begitu pula dengan komunikasi, tak selamanya proses penyampaian informasi dari satu individu ke individu lainnya akan berjalan dengan baik.

Anak berkebutuhan khusus merupakan salah satu diantara yang mengalami hambatan interaksi dan komunikasi. Oleh karena itu penyusun ingin melihat langsung bagaimana anak dengan hambatan interaksi dan komunikasi tersebut dengan melakukan observasi.

1.2 Rumusan Masalah

(5)

PENDIDIKAN KHUSUS 2014 2 1.3 Tujuan Penelitian

Sejalan dengan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian yakni untuk memperoleh gambaran mengenai bagaimana respon anak yang kami observasi terhadap stimulus untuk menentukan apakah ia mengalami hambatan interaksi dan komunikasi.

1.4 Metode Penelitian

Metode yang dilakukan oleh penulis ialah observasi ke lapangan dan berinteraksi langsung dengan sang anak, serta melakukan wawancara dengan guru atau orang tua untuk mengumpulkan keterangan lebih lanjut mengenai sang anak. 1.5 Sistematika Penulisan

Terdapat sistematika penulisan di dalam penulisan makalah ini, yaitu: Bab I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan Penulisan 1.4 Metode Penelitian 1.5 Sistematika Penulisan Bab II Dasar Teori

1.1 Interaksi 1.2 Komunikasi Bab III Identifikasi Kasus

3.1 Identitas Anak dan Orangtua

3.2 Identifikasi Kasus Hambatan Interaksi 3.3 Identifikasi Kasus Hambatan Komunikasi Bab IV Penutup

(6)

PENDIDIKAN KHUSUS 2014 3

BAB II

DASAR TEORI

1.1 Interaksi

Interaksi adalah suatu jenis tindakan yang terjadi ketika dua atau lebih objek mempengaruhi atau memiliki efek satu sama lain. Didalam konsep interaksi, ide efek dua arah ini penting sebagai lawan dari hubungan satu arah pada sebab akibat pada sebab akibat. Dalam Kamus Bahasa Besar Indonesia interaksi didefinisikan sebagai hal saling melakukan aksi. Menurut pendapat Santoso (2004), interaksi adalah hubungan timbal balik antara individu yang satu dengan individu yang lain, antara individu dengan kelompok, dan antara kelompok dengan kelompok.

1.2 Komunikasi

Komunikasi berasal dari bahasa Latin : Communicatio yang artinya sama makna. Maksudnya komunikasi terjadi jika antara orang-orang yang terlibat ada kesamaan makna mengenai sesuai yang disampaikan. Menurut Keith Davis dalam bukunya “Human Relation At Work” menyatakan bahwa komunikasi adalah proses jalur informasi dan pengertian dari seseorang ke orang lain. Menurut Dr. Phil Astrid Susanto dalam bukunya “Komunikasi dalam Teori dan Praktek” menyatakan bahwa komunikasi adalah proses pengoperan lambang-lambang yang mengandung arti. Dalam proses komunikasi ada dua jenis yaitu komunikasi langsung dan komunikasi tidak langsung.

Komunikasi langsung adalah komunikasi yang dilakukan secara face to face (tatap muka). Selain itu juga, komunikasi langsung dapat dilakukan dengan cara dilakukan dengan cara melakukannya melalui telepon.

(7)

PENDIDIKAN KHUSUS 2014 4

BAB III

IDENTIFIKASI KASUS

1.3 Identitas Anak dan Orangtua

Nama : Z. A. M

Nama Panggilan : S

Kelas : 1C

Tempat, Tanggal Lahir : Bandung, 12 April 2005

Umur : 10 tahun

Alamat : Kampung Torobosan RT 02/ RW 12, Cimahi Utara Sekolah : SLBN A Citeureup Kota Cimahi

Nama Orangtua

Ayah : W. S

Ibu : I. M.

Pekerjaan Orangtua

Ayah : Wiraswasta

Ibu : Ibu Rumah Tangga

2.2 Identifikasi Kasus Hambatan Interaksi

Pada saat kami memberikan stimulus kepada S, baik itu stimulus visual, auditori, taktil, kinestetik dan dalam melakukan imitasi, respon yang diberikan S berbeda-beda. Terkadang S merespon, terkadang tidak merespon.

(8)

PENDIDIKAN KHUSUS 2014 5 sederhana tersebut dan tidak menyusunnya meski puzzle itu begitu sederhana. Kemudian kami memberikan stimulus dengan memperlihatkan makanan, air, mainan, benda bergerak, serta permainan “ciluk ba”, S memberikan respon berupa senyum yang menunjukkan ia seolah-olah mengetahui hal itu. Dan yang terakhir kami memberikan stimulus dengan memberikan cermin dan membiarkan S melihat dirinya disana, dan respon S adalah memberikan senyum manis saat melihat dirinya di cermin. Hal ini menunjukkan bahwa S tidak memiliki hambatan visual, melainkan S hanya memiliki hambatan untuk mengungkapkan lebih jauh apa yang ingin ia tahu dan apa yang ingin ia utarakan.

Untuk stimulus auditori, pertama kami memberikan stimulus berupa tepuk tangan, memperdengarkan lagu, dan memanggil namanya, respon dari S adalah melirik kami dan tersenyum meski tidak sampai satu menit. Setelah itu kami memberikan stimulus yang kedua, yaitu bertanya mengenai benda yang kami tunjuk, yaitu buku, respon yang diberikan oleh S adalah hendak mengambil barang yang diperlihatkan. Stimulus ketiga yang kami berikan adalah memperdengarkan suara-suara binatang, suara-suara alat musik, suara kereta api, permainan “ciluk ba” dan meminta bantuan ibunya untuk memanggil, respon dari S sama seperti sebelumnya, yaitu tersenyum dan melirik sumber suara. Kemudian kami memberikan stimulus keempat berupa memberikan intruksi untuk menirukan beberapa suara binatang, dan menyebutkan nama kedua orangtuanya, respon yang diberikan SS hanya tersenyum. Dan stimulus yang terakhir ialah kami memberikan instruksi untuk mengambil suatu benda di depannya, dan S pun mengambil benda yang dimaksud meski dilemparkan kembali.

Untuk stimulus taktil, S memberikan respon saat diberikan stimulus benda yang bertekstur, baik tekstur kasar maupun halus. Selain itu, S pun memberikan respon pada stimulus benda yang hangat, benda yang dingin, serta benda yang bergetar. Respon berupa lirikan singkat, serta senyuman ini diberikan S saat diberikan stimulus taktil yang tertera pada lembar instrument.

(9)

PENDIDIKAN KHUSUS 2014 6 diberikan pelukan, yang S lakukan ialah menghindar dan tidak membalas pelukan tersebut. Setelah itu, S diberikan stimulus untuk melakukan gerakan menendang, berjalan, berlari, menarik dan mendorong suatu benda, yakni meja. S mampu melakukan gerakan-gerakan tersebut meski sebentar saja. Ada beberapa stimulus yang tidak diberikan respon yang baik oleh S, yakni diantaranya S mampu menggerakkan anggota tubuhnya saat diperdengarkan lagu. S hanya menoleh saja tanpa menunjukkan ciri-ciri akan melakukan suatu gerakan. Selain itu, yang belum mampu dilakukan S adalah melakukan gerakan yang memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi, seperti berjalan jinjit.

Untuk stimulus imitasi, S hanya mampu mengimitasi ucapan “Mama” dan “Papa”. Sedangkan untuk stimulus yang lain, S belum mampu untuk memberikan responnya.

2.3 Identifikasi Kasus Hambatan Komunikasi

Untuk stimulus yang kami berikan agar dapat melihat kondisi anak apakah ia mengalami hambatan komunikasi atau tidak, ada beberapa hal yang perlu dikaji, yakni diantaranya:

a. Bahasa Reseptif

S mampu menangkap pesan yang disampaikan oleh seseorang kepadanya, hal ini dilihat saat S diberikan perintah untuk mengambil buku yang berwarna merah diantara buku yang berwarna biru dan merah, ia mengambil buku yang berwarna merah. Saat S diberikan perintah untuk menghentikan pekerjaannya, ia langsung berhenti. Namun, saat S ditanya “siapa nama kamu?”, ia hanya tersenyum dan bertingkah malu-malu. Begitu pula saat kami mengharapkan balasan “hai” dari S, ia hanya tersenyum.

b. Bahasa Ekspresif

(10)

PENDIDIKAN KHUSUS 2014 7 BAB IV

PENUTUP 4.1 Kesimpulan

Anak yang mengalami hambatan interaksi ialah anak yang sama sekali tidak memberikan respon terhadap stimulus-stimulus yang diberikan kepadanya. Karena kunci dalam berinteraksi itu adalah adanya timbal balik antara satu sama lain, meski hanya dengan tatapan mata itu sudah merupakan respon dari sang penerima. Sedangkan anak yang mengalami hambatan komunikasi ialah anak yang sama sekali tidak mampu menerima dan mengekspresikan informasi yang didapatnya.

Berdasarkan hasil observasi yang kami lakukan dengan instrumen yang telah dipersiapkan, menunjukkan bahwa S tidak mengalami hambatan interaksi. Ia mampu memberikan perhatian terhadap apa yang diberikan meskipun beberapa detik. Namun, S memiliki kesulitan dalam mengungkapkan informasi yang ia terima melalui ucapan.

4.2 Saran

Setelah diadakannya observasi ini diharapkan penyusun mampu lebih mengenali lebih jauh anak berkebutuhan khusus, terutama anak dengan hambatan interaksi dan komunikasi. Selain itu, harapan dari penyusun sendiri adalah kebijakan dari para pendidik dalam menggunakan metode pembelajaran. Jangan sampai metode yang diberikan membuat peserta didik atau anak didik menjadi lebih down. Sangat disayangkan saat S harus seperti “terkurung” di lingkungan yang

(11)

PENDIDIKAN KHUSUS 2014 8

LAMPIRAN

Instrumen Hambatan Interaksi 1. Instrumen Persepsi Visual

No. Pernyataan Ya Tidak

1. Anak mampu merespon persepsi cahaya (menggunakan senter) 2. Anak mampu menatap mata orang yang menatapnya

3. Anak mampu merespon ketika diberi puzzle 4. Anak mampu menyusun puzzle sederhana

5. Anak mampu mengubungkan titik-titik menjadi garis 6. Anak memberi respon saat ditunjukan video

7. Anak mampu merespon adanya lambaian tangan

8. Anak mampu merespon saat diperlihatkan foto ayahnya 9. Anak mampu merespon saat diperlihatkan foto ibunya

10. Anak mampu merespon saat diperlihatkan foto selain kedua orang tuanya

(12)

PENDIDIKAN KHUSUS 2014 9 21. Anak mampu merespon saat diperlihatkan gambar burung

22. Anak mampu merespon saat diperlihatkan gambar kupu-kupu 23. Anak mampu merespon saat diperlihatkan gambar ikan 24. Anak mampu merespon saat diperlihatkan makanan 25. Anak mampu merespon saat diperlihatkan air mineral 26. Anak mampu merespon saat diperlihatkan susu 27. Anak mampu merespon saat diperlihatkan mainan 28. Anak merespon saat melihat permainan “cilukba” 29. Adanya respon dari anak saat melihat dirinya di cermin 30. Adanya respon saat diperlihatkan benda bergerak

2. Instrumen Persepsi Auditori

No. Pernyataan Ya Tidak

1. Anak mampu merespon saat mendengar tepuk tangan 2. Anak mampu merespon saat didengarkan lagu

3. Anak mampu merespon saat dipanggil namanya

4. Anak mampu merespon pertanyaan tentang benda yang ditunjuk 5. Anak mampu merespon saat mendengar bunyi lonceng

6. Anak mampu merespon saat mendengar suara ibunya 7. Anak mampu merespon saat mendengar suara ayahnya 8. Anak mampu merespon saat mendengar suara ayam 9. Anak mampu merespon saat mendengar suara kucing 10. Anak mampu merespon saat mendengar suara anjing 11. Anak mampu merespon saat mendengar suara kuda 12. Anak mampu merespon saat mendengar suara kambing 13. Anak mampu menirukan suara ayam

(13)

PENDIDIKAN KHUSUS 2014 10 24. Anak mampu merespon saat mendengar suara piano

25. Anak mampu merespon saat mendengar suara violin 26. Anak mampu merespon saat mendengar suara recorder 27. anak mampu merespon saat mendengar suara gitar 28. Anak mampu merespon saat mendengar suara kereta api 29. Anak mampu merespon saat mendengar suara dari permainan “cilukba” 30. Anak mampu mengambil benda yang diperintahkan

3. Instrumen Persepsi Taktil

No. Pernyataan Ya Tidak

1. Anak mampu menanggapi benda yang bertekstur kasar 2. Anak mampu menanggapi benda yang bertekstur halus 3. Anak mampu menanggapi benda yang hangat

4. Anak mampu menanggapi benda yang dingin 5. Anak mampu menanggapi benda yang bergetar 6. Anak mampu menanggapi sentuhan pada bahu

7. Anak mampu merespon saat disentuh dengan benda runcing 8. Anak mampu menanggapi rasa geli

9. Anak mampu merasakan adanya cengkraman 10. Anak mampu merasakan persepsi rasa asin 11. Anak mampu merasakan persepsi rasa manis 12. Anak mampu merasakan persepsi rasa pahit 13. Anak mampu merasakan persepsi rasa asam

14. Anak mampu merespon saat diberikan benda yang lunak 15. Anak memberikan respon saat diberikan elusan pada tangannya 16. Anak mampu merespon objek yang lembab/ basah

17. Anak mampu merespon saat bajunya ditarik

18. Anak mampu merespon saat kulitnya diberikan tiupan 19. Anak mampu merespon saat bagian lengannya disentuh 20. Anak mampu merespon saat kepalanya disentuh

21. Anak mampu merespon saat pipinya disentuh

22. Anak mampu merespon saat diletakkan benda pada telapak tangannya 23. Anak mampu merasakan adanya genggaman pada tangannya

24. Anak mampu merespon saat disentuhkan dengan lem 25. Anak mampu merespon saat disentuhkan dengan minyak 26. Anak mampu merespon saat bagian tangannya ditepuk 27. Anak mampu merespon saat bahunya ditepuk

28. Anak mampu merespon saat punggungnya ditepuk

29. Anak memberikan respon saat diberikan elusan pada punggungnya 30. Anak memberikan respon saat diberikan elusan pada bahunya

4. Instrumen Persepsi Kinestetik

(14)

PENDIDIKAN KHUSUS 2014 11 1. Anak mampu menangkap bola

2. Anak mampu menangkap boneka 3. Anak mampu melempar bola 4. Anak mampu melempar boneka 5. Anak mampu membalas pelukan 6. Anak mampu menendang

7. Anak mampu berjalan lurus 8. Anak mampu berlari

9. Anak mampu menarik suatu benda 10. Anak mampu mendorong suatu benda

11. Anak mampu menggerakkan anggota tubuhnya saat didengarkan lagu atau musik kesukaannya

12. Anak mampu menggerakkan kepalanya 90ᵒ 13. Anak mampu menggenggam mangkuk 14. Anak mampu menggenggam gelas 15. Anak mampu menggenggam sendok 16. Anak mampu melompat

17. Anak mampu menganggukkan kepala 18. Anak mampu menggelengkan kepala 19. Anak mampu berjalan mundur

20. Anak mampu meraih salah satu benda saat diperlihatkan dua benda yang berbeda

21. Anak mampu mengedipkan mata saat diberikan rangsangan pada matanya

22. Anak mampu berjalan ke samping 23. Anak mampu membungkuk 24. Anak mampu berjalan jinjit 25. Anak mampu merangkak 26. Anak mampu merobek kertas

27. Anak mampu moncoret-coret kertas menggunakan pensil/bulpoin/spidol

28. Anak mampu melempar benda ke atas 29. Anak mampu meremas kertas

30. Anak mampu minum dari gelas 5. Instrumen Persepsi Imitasi

No. Pernyataan Ya Tidak

1. Anak mampu mengucapkan kembali kata “Mama” setelah dicontohkan 2. Anak mampu mengucapkan kembali kata “Papa” setelah dicontohkan 3. Anak mampu mengucapkan kembali kata “Bababa” setelah

dicontohkan

4. Anak mampu mengucapkan kembali kata “Bibibi” setelah dicontohkan 5. Anak mampu mengucapkan kembali kata “Bububu” setelah

dicontohkan

(15)

PENDIDIKAN KHUSUS 2014 12 7. Anak mampu mengucapkan kembali kata “Bobobo” setelah

dicontohkan

8. Anak mampu meniru gerakan lambaian tangan setelah dicontohkan 9. Anak mampu meniru gerakan hormat setelah dicontohkan

10. Anak mampu menirukan bentuk “V” dari jari tangan setelah dicontohkan

11. Anak mampu meniru gerakan bertepuk tangan setelah dicontohkan 12. Anak mampu meniru gerakan menganggukan kepala setelah

dicontohkan

13. Anak mampu meniru gerakan menggelengkan kepala setelah dicontohkan

14. Anak mampu meniru gerakan menggulung-gulungkan tangan setelah dicontohkan

15. Anak mampu menirugerakan menggerak-gerakan jari tangan setelah dicontohkan

16. Anak mampu menirugerakan menyikat gigi setelah dicontohkan 17. Anak mampu meniru gerakan menepuk pipi setelah dicontohkan 18. Anak mampu meniru gerakan untuk berfoto setelah dicontohkan 19. Anak mampu meniru gerakan merentangkan tangan setelah

dicontohkan

20. Anak mampu meniru gerakan menjulurkan lidah setelah dicontohkan 21. Anak mampu meniru gerakan mengacungkan jempol setelah

dicontohkan

22. Anak mampu mengucapkan kembali kata “Dadada” setelah dicontohkan

23. Anak mampu mengucapkan kembali kata “Lalala” setelah dicontohkan 24. Anak mampu meniru gerakan kiss bye setelah dicontohkan

25. Anak mampu meniru gerakan menendang bola setelah dicontohkan 26. Anak mampu meniru gerakan mendorong setelah dicontohkan 27. Anak mampu meniru suara batuk

28. Anak mampu meniru orang menangis

29. Anak mampu meniru gerakan menjentikkan jari 30. Anak mampu meniru orang tertawa

Instrumen Hambatan Komunikasi 1. Bahasa Reseptif

(16)

PENDIDIKAN KHUSUS 2014 13 2.

Dapat menyebutkan namanya ketika ditanya, ”siapa nama kamu?”

3.

Mengambil buku yang berwarna merah saat diperlihatkan buku berwarna merah dan biru

4.

Menghentikan aktivitas saat diberikan perintah untuk berhenti

5.

Dapat membedakan yang mana kucing dan yang mana ikan

6.

Mampu menyebutkan gambar yang

dimaksud, yaitu buah jeruk

7.

Mampu menunjukkan letak sebagian anggota tubuhnya.

a. Pegang tangan b. Pegang kepala c. Pegang hidung d. Pegang mata

8.

Menirukan gerakan: a. Bertepuk tangan b. Mengepalkan

a. Mengangkat buku b. Membuka buku c. Memberikan buku

(17)

PENDIDIKAN KHUSUS 2014 14 12.

Menjawab pertanyaan sederhana:

a. Angka berapa ini? b. Ini apa?

c. Warna apa ini?

2. Bahasa Ekspesif

(18)

PENDIDIKAN KHUSUS 2014 15

Cameramen: Gusti, Rika

Gambar

gambar yang dimaksud, yaitu buah jeruk

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang masalah seperti yang telah diuraikan di atas, masalah yang akan dicoba dipecahkan dalam penelitian ini adalah kurangnya respon pada

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “ Penerapan Asesmen Berbasis Observasi

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan pada latar belakang masalah, maka peneliti tertarik untuk meneliti pemenuhan hak anak di dalam keluarga dan dituangkan dalam

Rumusan Masalah Berdasarkan penjelasan latar belakang masalah yang sudah dipaparkan diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana komunikasi antarpribadi

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, didapat rumusan masalah yang akan dibahas pada penelitian ini adalah menggambarkan likuiditas saham perbankan

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka masalah yang akan dibahas pada Laporan Akhir ini mengenai bagaimana cara merancang

Berdasarkan latar belakang dan kajian relevan yang telah dipaparkan, masalah yang akan dibahas adalah bagaimanakah cara pengungkapan makna aspektualitas BMDS pada

Berdasarkan latar belakang dan kajian relevan yang telah dipaparkan, masalah yang akan dibahas adalah bagaimanakah cara pengungkapan makna aspektualitas BMDS pada