PENGARUH KARAKTERISTIK PERUSAHAAN DAN CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP KETEPATAN WAKTU CORPORATE INTERNET REPORTING
PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
Desy Lestari (C1C011005), dibawah bimbingan Wiwik Tiswiyanti1) dan Dedi Setiawan2)
Email: [email protected] / Telp: +6285367307790 Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Jambi
Jl. Raya Jambi-Muara Bulian KM. 15 Mendalo Darat, 36361 Telepon: (0741) 582632, 583377 - Website: http://www.unja.ac.id/
ABSTRACT
This research aims to test and provide empirical proof of the firm characteristics influence and corporate governance toward timeliness of corporate internet reporting (CIR). The firm characteristics that used in this research is firm size, profitability, leverage, liquidity, and the issuance of shares, while the use of corporate governance is the public ownership structure, board size, and the proportion of independent board. The population in this research is manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange in 2013, amounting to 137 companies. Samples were taken by purposive sampling technique with certain criteria, samples used were 124 companies.
Based on logistic regression were performed, the results showed: the issuance of shares does significant impact on the timeliness of CIR, while firm size, profitability, leverage, liquidity, public ownership structure, board size, and the proportion of independent board does not significantly influence the timeliness of CIR. The firm characteristics significantly affect the timeliness of CIR, whereas corporate governance does not significantly affect the timeliness of CIR.
Keywords: timeliness, corporate internet reporting, firm characteristics, corporate governance
PENDAHULUAN
Laporan keuangan yang telah disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK), telah diaudit, dan terdaftar di Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM)
merupakan informasi yang wajib
disampaikan sebuah perusahaan yang go public. Agar informasi keuangan yang terdapat dalam laporan keuangan dapat bermanfaat untuk pengambilan keputusan oleh berbagai pihak, maka laporan keuangan tersebut harus memenuhi syarat karakteristik kualitatif (Haryani, dkk, 2012). Karakteristik kualitatif sebagai kegunaan pengambilan keputusan menurut Belkaoui (2011) terkait dengan relevan dan
andalnya informasi tersebut, informasi yang relevan harus memilik nilai prediktif dan nilai umpan balik dan sekaligus pada saat yang sama harus disampaikan dengan tepat waktu. Hal ini sesuai pula dengan tujuan kualitatif laporan keuangan menurut APB statement No. 4, bahwa laporan keuangan yang disajikan memerlukan ketepatan waktu dalam penyampaiannya.
Kepatuhan terhadap ketepatan waktu dalam menyampaikan laporan keuangan perusahaan publik di Indonesia telah diatur BAPEPAM dengan mengeluarkan lampiran surat Keputusan Ketua
BAPEPAM Nomor: Kep-36/PM/2003
menyatakan bahwa laporan keuangan tahunan disertai dengan laporan akuntan dengan pendapat yang lazim harus disampaikan kepada BAPEPAM selambat-lambatnya pada akhir bulan ketiga (90 hari) setelah tanggal laporan keuangan tahunan. Adanya regulasi ini mendukung perusahaan untuk semakin tepat waktu melaporkan kondisi perusahaan.
Perkembangan teknologi yang
semakin cepat saat ini membawa perubahan dalam penyebaran informasi. Dunia bisnis memanfaatkan internet sebagai media penyampaian informasi terkait bisnis tersebut. Banyak perusahaan telah menggunakan internet sebagai alat komunikasi untuk menyediakan informasi
mengenai perusahaan, termasuk
penyebarluasan informasi perusahaan dalam menyampaikan informasi yang berguna bagi mereka dan berbagai pihak lainnya. Internet merupakan media yang tepat untuk membantu perusahaan mengakomodasi pelaporan perusahaan. Adanya internet membuat perubahan bentuk tradisional penyajian informasi perusahaan. Penggunaan internet sebagai media pelaporan perusahaan dapat mendukung perkembangan di Indonesia terkait transparansi kondisi keuangan suatu perusahaan (Haryani, dkk, 2012).
Perkembangan tingkat penggunaan internet menjadi trend penting bagi
perusahaan untuk melaksanakan
corporate internet reporting (CIR) atau pelaporan informasi keuangan perusahaan melalui internet. Selain relatif lebih laporan keuangan yang biasanya dicetak, melalui internet laporan keuangan
menginformasikan laporan keuangannya (aspek disclosure) lebih tepat waktu (Oyelere, et al,. 2003, dalam Widaryanti, 2011).
Penelitian terdahulu mengenai
ketepatan waktu corporate internet reporting telah banyak dilakukan, seperti penelitian yang dilakukan oleh Haryani, dkk (2012) penelitian dilakukan terhadap perusahaan terdaftar di BEI tahun 2010. Selain itu Widaryanti (2011) juga melakukan penelitian untuk mengetahui
faktor-faktor yang mempengaruhi
ketepatan waktu corporate internet reporting yang dilakukan pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEI pada tahun 2008. Penelitian lain di negara lain dilakukan Desoky dan Mousa (2009) yang meneliti hubungan antara pengungkapan internet reporting (IR) oleh perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Bahrain (BSE), juga penelitian Abdelsalam
dan Street (2007) yang melakukan
penelitian mengenai ketepatan waktu
pelaporan internet (TCIR) terhadap
perusahaan yang terdaftar di Inggris London Stock Exchange(LSE)..
Penelitian ini mereplikasi dan
mengacu penelitian terdahulu yang
dilakukan oleh Haryani dkk (2012) yang
meneliti ukuran perusahaan, jenis
perusahaan, profitabilitas, leverage, likuiditas, penerbitan saham, struktur kepemilikan, dan jumlah dewan komisaris terhadap ketepatan waktu corporate internet reporting pada perusahaan non finansial yang terdaftar di BEI tahun 2010. Menurut Haryani, dkk (2012) dilakukannya penelitian terkait ketepatan waktu CIR untuk melihat transparansi kondisi
keuangan perusahaan. Selain itu,
tahunnya, Indonesia pada posisi urutan yang paling tinggi di negara Asia, yaitu mencapai 5,1% dari populasi pengguna internet di negara-negara Asia, jika dibandingkan pengguna internet dengan negara Malaysia, Philippines, Singapore dan Thailand yang belum mencapai 2%.
Berdasarkan hal yang telah dijelaskan sebelumnya, peneliti menyimpulkan bahwa
perusahaan-perusahaan di Indonesia
sebagai pengguna internet paling tinggi di Asia dan kemudahan penerapan serta akses mampu menyajikan pelaporan keuangan di internet dengan lebih tepat waktu agar
pemakai informasi dapat melihat
transparansi kondisi keuangan perusahaan serta dapat melihat bahwa informasi tersebut memiliki manfaat dan nilai bagi pemakai. Selain itu penelitian dilakukan untuk mendukung relevannya ketepatan waktu CIR bagi investor internasional dan regulator internasional. Penelitian juga dilakukan untuk melihat kualitas ketepatan waktu CIR perusahaan-perusahaan yang ada di negara Indonesia dalam penyediaan informasi keuangannya didasarkan oleh beberapa variabel yang mempengaruhi ketepatan waktu CIR tersebut. Hal inilah yang menjadi alasan peneliti melakukan penelitian dengan mereplikasi penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Haryani, dkk (2012) terkait ketepatan waktu CIR.
Berdasarkan uraian yang telah
dijelaskan, maka penulis tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul
“Pengaruh Karakteristik Perusahaan dan Corporate Governance Terhadap Ketepatan Waktu Corporate Internet Reporting pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”.
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris secara simultan dan secara parsial pengaruh ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage, likuiditas, penerbitan saham, struktur kepemilikan, jumlah dewan komisaris, dan proporsi dewan komisaris independen terhadap ketepatan waktu corporate internet reporting pada perusahaan manufaktur di
Bursa Efek Indonesia tahun 2013.
Penelitian ini juga untuk memberikan bukti empiris pengaruh karakteristik perusahaan terhadap ketepatan waktu corporate internet reporting pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia tahun 2013 dan pengaruh corporate governance terhadap ketepatan waktu corporate internet reporting pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia tahun 2013.
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
Pada penelitian ini didasari dua teori utama yakni teori keagenan (agency theory) dan teori sinyal (signaling theory). Pada
teori keagenan, agen diharuskan
memberikan informasi yang rinci dan relevan kepada prinsipal. Namun, pada kenyataanya hal tersebut bukanlah hal yang mudah karena adanya perbedaan kepentingan antara agen dan prinsipal.
Perbedaan kepentingan seringkali
menyebabkan agen menahan informasi yang harus diberikan kepada prinsipal meskipun hal tersebut adalah kewajiban yang harus dipenuhi oleh agen. Untuk mengurangi masalah asimetri informasi ini, ketepatan waktu pelaporan informasi adalah salah satu cara untuk mengurangi terjadinya asimetri informasi (Ukago, 2004 dalam Mahendra, 2013).
Pada kerangka teori sinyal disebutkan
bahwa dorongan perusahaan untuk
Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Ketepatan Waktu CIR
Ukuran merupakan salah satu
variabel yang paling umum dalam
menentukan tingkat pengungkapan. Ada banyak penelitian yang menyelidiki
hubungan antara ukuran dan
pengungkapan sukarela secara umum (Haryani, dkk, 2012). Hubungan ini dapat diinterpretasikan menurut tekanan pasar saham yang memaksa perusahaan besar, untuk mengungkapkan lebih banyak informasi di website mereka dalam rangka membantu perusahaan tersebut dalam memasarkan sekuritas dan mencapai tujuan perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan besar mungkin lebih mampu untuk mengakses pasar keuangan jika perusahaan tersebut mengungkapkan lebih banyak informasi secara online(Sari, 2011).
Banyak penelitian yang menyelidiki hubungan antara ukuran perusahaan terhadap ketepatan waktu CIR dan mereka
menemukan bahwa ukuran perusahaan
memiliki hubungan signifikan dengan ketepatan waktu CIR. Seperti penelitian Haryani, dkk (2012) yang menemukan hubungan signifikan antara ukuran perusahaan terhadap ketepatan waktu CIR. Begitu pula pada penelitian Anna (2013)
yang mengungkapkan bahwa ukuran
perusahaan memiliki hubungan signifikan terhadap ketepatan waktu CIR.
Pengaruh Profitabilitas terhadap Ketepatan Waktu CIR
Berdasarkan signalling theory, perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi dapat dikatakan bahwa laporan
keuangan perusahaan tersebut
mengandung berita baik dan perusahaan yang mengalami berita baik akan cenderung mengungkapkan informasi keuangan perusahaan secara lebih cepat (Hilmi dan Ali, 2008). Serta berdasarkan teori keagenan, manajer dari perusahaan dengan tingkat profit yang tinggi cenderung untuk menyebarkan lebih banyak informasi dalam website
perusahaan untuk mencapai keuntungan personal seperti keberlanjutan posisi mereka dan pembenaran kompensasi (Haniffa dan Cooke, 2002 dalam Sari,
2011). Hubungan signifikan antara
profitabilitas dengan ketepatan waktu CIR diungkapkan dalam penelitian Haryani, dkk
(2012). Walaupun dalam penelitian
Widaryanti (2011) profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap ketepatan waktu CIR.
Pengaruh Leverage terhadap Ketepatan Waktu CIR
Leverage mengacu pada
kemampuan perusahaan untuk melunasi hutang jangka panjang. Jadi, perusahaan yang memiliki leverage akan bertanggung
jawab untuk memuaskan kebutuhan
kreditur dengan menyebarkan informasi yang dapat dipercaya di situs web untuk membuat kreditor lebih percaya diri tentang kemampuan perusahaan untuk membayar utang mereka. Demikian pula, baik pemegang saham dan kreditur akan meminta informasi lebih lanjut untuk menilai kemampuan keuangan perusahaan (Haryani, dkk, 2012).
Menurut Chariri dan Lestari (2005), seiring dengan meningkatnya leverage, manajer dapat menggunakan pelaporan keuangan di internet untuk membantu
menyebarluaskan informasi-informasi
positif perusahaan dalam rangka “mengaburkan” perhatian kreditur dan pemegang saham untuk tidak terlalu fokus hanya pada leverage perusahaan yang tinggi. Hal ini disebabkan pelaporan keuangan melalui internet dapat memuat informasi perusahaan yang lebih banyak
dibandingkan melalui paperbased
Pengaruh Likuiditas terhadap Ketepatan Waktu CIR
Likuiditas mengacu pada kemampuan perusahaan untuk mengkonvert asset ke dalam kas dengan nilai kerugian minimum. Teori keagenan menyatakan bahwa perusahaan dengan rasio likuiditas rendah akan menyediakan informasi
untuk memuaskan permintaan
shareholders dan kreditur (Aly et al., 2010 dalam Sari, 2011). Akan tetapi, likuiditas yang rendah menunjukkan bahwa perusahaan tersebut tidak mampu membayar utang jangka pendeknya dengan baik sehingga informasi perusahaan akan disampaikan tidak tepat waktu. Meskipun pentingnya variabel likuiditas dalam isu pengungkapan telah diakui, sedikit penelitian yang menguji
hubungan antara likuiditas dan
pengungkapan melalui internet.
Berdasarkan penelitian Spica (2009, dalam Novitasari, 2014) hasil penelitian menunjukan bahwa likuiditas berpengaruh signifikan terhadap ketepatan publikasi corporate internet reporting. Begitu pula
pada penelitian Sari (2011)
mengungkapkan likuiditas berpengaruh positif terhadap ketepatan waktu CIR. Namun tidak sejalan dengan penelitian Widaryanti (2011), menurutnya ketepatan waktu CIR tidak dipengaruhi oleh tinggi rendahnya rasio likuiditas.
Pengaruh Penerbitan Saham terhadap Ketepatan Waktu CIR
Penerbitan saham merupakan faktor
penting yang dapat mempengaruhi
pengungkapan perusahaan (Desoky dan Mousa, 2009). Menurut Kusrinanti (2012) sebagian besar perusahaan berusaha untuk menambah modal mereka dengan lebih dari satu sumber daya, dan salah satu upayanya adalah menerbitkan saham baru. Perusahaan yang membutuhkan sumber pembiayaan baru untuk meningkatkan kualitas pengungkapan informasi pada website perusahaan untuk menarik lebih banyak investor, dan ketepatan waktu CIR merupakan salah satu aspek dari kualitas
pengungkapan informasi pada website perusahaan (Widaryanti, 2011).
Desoky dan Mousa (2009)
mengungkapkan dalam penelitiannya
penerbitan saham berpengaruh positif terhadap pelaporan di internet. Dalam
penelitian Haryani, dkk (2012)
diungkapkan pula bahwa penerbitan saham memiliki hubungan signifikan terhadap ketepatan waktu CIR. Namun berbeda
dengan penelitian yang dilakukan
Widaryanti (2011) dimana penerbitan saham tidak berpengaruh signifikan terhadap ketepatan waktu CIR.
Pengaruh Struktur Kepemilikan terhadap Ketepatan Waktu CIR
Perusahaan yang memiliki struktur
kepemilikan publik cenderung
mengungkapkan lebih banyak informasi pada website perusahaan untuk menyediakan informasi yang diperlukan bagi pemegang saham, namun perusahaan dengan struktur kepemilikan
terkonsentrasi cenderung kurang
mengungkapkan informasi pada website perusahaan karena pemegang sahamnya dapat mengakses dan mendapatkan informasi yang diinginkannya secara internal (Marston dan Polei, 2004 dalam Widaryanti, 2011). Perusahaan dengan struktur kepemilikan yang minoritas
biasanya akan meningkatkan
pengungkapan informasi sehingga tidak akan menimbulkan monitoring cost dan asimetri informasi yang sudah diindentifikasi dalam masalah agency (Chen et al, 2006 dalam Anna, 2013).
Penelitian yang dilakukan Haryani, dkk (2012) mengungkapkan bahwa struktur kepemilikan tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu CIR. Hal ini dapat terjadi karena struktur kepemilikan belum dapat optimal mengontrol manajemen, sehingga adanya struktur kepemilikan belum dapat menjamin manajemen akan melaporkan CIR secara tepat waktu. Dalam penelitian Widaryanti (2011) dinyatakan struktur
kepemilikan publik tidak memiliki
waktu CIR. Namun dalam penelitian
Desoky dan Mousa (2009) struktur
kepemilikan memiliki asosiasi positif terhadap pelaporan di internet.
Pengaruh Jumlah Dewan Komisaris terhadap Ketepatan Waktu CIR
Menurut Widaryanti (2011) dewan komisaris ditugaskan dan diberi tanggung jawab atas pengawasan kualitas informasi
yang terkandung dalam laporan
keuangan. Jumlah komisaris di perusahaan
memainkan peran penting dalam
pemantauan perusahaan dan dalam mengambil keputusan strategis. Beberapa penelitian berpendapat bahwa dewan komisaris besar membantu dalam: melakukan pemantauan lebih, membantu perusahaan dalam menyediakan sumber
daya kritis dan menghilangkan
ketidakpastian lingkungan, mengurangi dominasi CEO. Studi lain menggambarkan
bahwa banyak penelitian
mengilustrasikan bahwa ukuran dewan komisaris yang lebih besar dapat tmenyebabkan konflik antar anggota dewan yang akan menunda pengambilan
keputusan (Haryani, dkk, 2012).
Perusahaan yang mempunyai ukuran dewan besar mempunyai keinginan untuk mengungkapkan informasi lebih berkualitas dan tepat waktu pada website perusahaan agar dapat menarik lebih banyak investor (Ezat dan El-Masry, 2008 dalam Widaryanti, 2011)
Haryani, dkk (2012) mengungkapkan dalam penelitiannya bahwa jumlah dewan komisaris tidak berpengaruh signifikan terhadap ketepatan waktu CIR. Menurut Haryani, dkk (2012) jumlah dewan komisaris perusahaan yang besar belum
tentu menjamin perusahaan akan
melaporkan CIR tepat pada waktunya. Namun pada penelitian Desoky dan Mousa (2009) jumlah dewan komisaris memiliki asosiasi positif terhadap pelaporan di internet.
Pengaruh Proporsi Dewan Komisaris Independen terhadap Ketepatan Waktu CIR
Komisaris independen memiliki dua karakteristik untuk memenuhi fungsi
monitoring mereka. Pertama,
independensi mereka dan kedua, fokus mereka untuk menjaga reputasi mereka dalam pasar tenaga kerja eksternal. Adanya karakteristik tersebut diharapkan komisaris independen bisa mempermudah pelaksanaan pertanggung-jawaban dewan komisaris yang meliputi pengawasan manajemen atas bisnis yang berjalan dan memastikan dijalankannya Corporate Governance sebagaimana mestinya oleh perusahaan serta melaporkan hasilnya kepada pemegang saham dalam masa kepengurusannya (Hanifa dan Cooke, 2002 dalam Widaryanti, 2011).
Dinyatakan pada penelitian yang dilakukan Desoky dan Mousa (2009) sehubungan dengan komposisi dewan, hasil menunjukkan bahwa proporsi yang lebih tinggi dari direktur independen mendorong
perusahaan untuk mengungkapkan
informasi lebih lanjut terhadap pelaporan internet di situswebsiteperusahaan. Namun
berbeda dalam temuan penelitian
Abdelsalam dan Street (2007) yang menyatakan bahwa dewan independen
berpengaruh negatif dengan kualitas
pengungkapan melalui internet.
Hipotesis
Hipotesis dari penelitian yang akan dilakukan berdasarkan permasalahan dan tujuan yang ingin dicapai adalah :
H1 : Terdapat pengaruh antara ukuran perusahaan terhadap ketepatan waktu CIR
H2 : Terdapat pengaruh antara
profitabilitas terhadap ketepatan waktu CIR
H3 : Terdapat pengaruh antara leverage terhadap ketepatan waktu CIR
H4 : Terdapat pengaruh antara likuiditas terhadap ketepatan waktu CIR
H6 : Terdapat pengaruh antara struktur perusahaan terhadap ketepatan waktu CIR
H7 : Terdapat pengaruh antara jumlah dewan terhadap ketepatan waktu CIR H8 : Terdapat pengaruh antara proporsi
dewan komisaris independen
terhadap ketepatan waktu CIR
H9 : Terdapat pengaruh antara
karakteristik perusahaan terhadap ketepatan waktu CIR
H10 : Terdapat pengaruh antara corporate governance terhadap ketepatan waktu CIR
H11 : Terdapat pengaruh antara ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage, likuiditas, penerbitan saham, struktur
kepemilikan, jumlah dewan
komisaris, dan proporsi dewan komisaris independen secara simultan terhadap ketepatan waktu CIR
METODE PENELITIAN Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada
tahun pengamatan 2013. Pemilihan
perusahaan-perusahaan publik yang masuk kategori perusahaan manufaktur ini
didasarkan pada pertimbangan akan
homogenitas dalam aktivitas produksinya dan kelompok industri ini yang relatif lebih besar jika dibandingkan dengan kelompok industri yang lain di Bursa Efek Indonesia,
sehingga mendominasi bursa dan
mempunyai kontribusi besar terhadap
perkembangan bursa. Terdapat 137
populasi dalam penelitian ini.
Pengambilan sampel dalam penelitian
ini menggunakan metode purposive
sampling dimana populasi yang akan dijadikan sampel penelitian adalah populasi yang memenuhi kriteria sampel tertentu. Pemilihan kriteria sampel pada penelitian ini didasarkan pada kriteria yang digunakan
pada penelitian Anna (2013) dan
Widaryanti (2011). Kriteria-kriteria tersebut adalah sebagai berikut :
1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2013.
2. Perusahaan memiliki website yang aktif
3. Website perusahaan dapat diakses dan tidak sedang dalam perbaikan
Tabel 1 : Jumlah Sampel Perusahaan
No Keterangan Jumlah
1. Perusahaan manufaktur yang
terdaftar di BEI tahun 2013 137
2. Perusahaan yang tidak
mempunyai website 4
3. Website yang tidak bisa diakses
/ dalam perbaikan 9
Jumlah Sampel 124
Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumentasi dan studi pustaka. Studi dokumentasi yaitu pengumpulan data melalui dokumen yang diperoleh dari website perusahaan dan dari Bursa Efek Indonesia melalui website www.idx.co.id. Serta dilakukan studi pustaka, yaitu pengumpulan data sebagai lancasan teori serta penelitian terdahulu. Dalam hal ini data diperoleh dari buku-buku, penelitian terdahulu, serta sumber tertulis lainnya yang berhubungan dengan informasi yang dibutuhkan.
Definisi Operasional Variabel
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah ketepatan waktu CIR, sedangkan variabel independen yang digunakan yaitu ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage, likuiditas, penerbitan saham, struktur kepemilikan, jumlah dewan komisaris, dan proporsi dewan komisaris independen. 1) Ketepatan waktu CIR
Ketepatan waktu CIR disini diukur dengan secara nominal dengan
menggunakan variabel dummy.
Perusahaan yang melaporkan
Tabel 2 : Ketepatan Waktu
Kategori Perusahaan Jumlah %
Perusahaan Tepat Waktu 116 93,55%
Perusahaan Tidak Tepat Waktu 8 6,45%
2) Ukuran perusahaan
Ukuran perusahaan dalam penelitian ini diukur melalui logaritma natural dari total aktiva.
3) Profitabilitas
Profitabilitas diukur menggunakan Return On Equity. ROE = ? ? ? ? ?? ? ??
? ? ?? ? ? ? ? ??? 4) Leverage
Leverage diukur dengan Debt to Total Assets Ratio (DAR) yakni perhitungan total kewajiban dibagi total aset.
5) Likuiditas
Likuiditas dihitung dengan Current Ratio (CR) yakni menghitung rasio aktiva lancar terhadap utang lancar. 6) Penerbitan saham
Penerbitan saham diukur dengan variabel dummy. Perusahaan yang menerbitkan saham baru selama tahun 2013 diberi kode 1, dan perusahaan yang tidak menerbitkan saham baru selama tahun 2013 diberi kode 0 (Widaryanti, 2011).
7) Struktur kepemilikan
Struktur kepemilikan di dalam penelitian ini diukur dengan cara menghitung persentase saham yang dimiliki publik dalam perusahaan (Sari, 2011).
8) Jumlah dewan komisaris
Jumlah dewan komisaris merupakan
banyaknya jumlah anggota dewan komisaris dalam suatu perusahaan (Ezat dan El-Masry, 2008 dalam Sari, 2011).
9) Proporsi dewan komisaris independen Proporsi dewan komisaris independen pada penelitian ini diukur dengan menggunakan persentase antara jumlah komisaris independen dengan total anggota dewan komisaris (Widaryanti, 2011).
Teknik Analisis Data
Metode analisis statistik yang digunakan adalah regresi logistik yang
sebelumnya dilakukan uji multikolinieritas terlebih dahulu. Analisis data dilakukan dengan menggunakan bantuan program microsoft office excel 2007 serta menggunakan program IBM SPSS 21.0. Model regresi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : dalam penerapan CIR, kategori 0 untuk yang tidak tepat waktu.
? = Konstanta MILIK = Struktur Kepemilikan KOMISARIS = Jumlah Dewan Komisaris
Statistik deskriptif yang digunakan
dalam penelitian ini hanya nilai
maksimum, minimum, standar deviasi dan mean. Variabel-variabel yang diukur dengan angka dummy tidak dihitung nilai mean dan standar deviasinya, karena angka dummy hanya berungsi sebagai label kategori semata tanpa nilai intrinsik dan tanpa arti apa-apa. Berikut ini merupakan tabel hasil pengujian statistik deskriptif:
Tabel 3 : Statistik Deskriptif
N Min Max Mean Std. Dev
SIZE 124 10,9925 14,4823 12,306741 ,6956583 PROF 124 -2,3371 2,3183 ,097720 ,3809012 LEV 124 ,0372 3,3421 ,533839 ,4114802
LIKUID 124 ,2083 13,8713 2,176069 2,032399 5 MILIK 124 ,0104 9,9700 ,321134 ,8880522
KOMISARIS 124 2 11 4,25 1,770
INDEP 124 ,0000 1,0000 ,359733 ,1416443 Valid N
(listwise)
124
Tabel statistik deskriptif diatas menunjukkan jumlah observasi dalam penelitian ini adalah 124. Berdasarkan 124 data tersebut dapat diketahui nilai minimum dari ukuran perusahaan yang dapat dilihat dari log total aset adalah 10,9925 dimiliki perusahaan Kedaung Indah Can Tbk, sedangkan nilai maksimum
diperoleh 14,4823 yang dimiliki
perusahaan Asiaplast Industries Tbk. Rata-rata yang dimiliki observasi dalam ukuran perusahan yaitu dinilai 12,306741dan standar deviasinya 0,6956583.
Nilai profitabilitas dilihat dari nilai return on equity (ROE) perusahaan yang diteliti. Nilai minimum ROE perusahaan bernilai -2,3371 yang dimiliki perusahaan Tirta Mahakam Resources Tbk, sedangkan nilai maksimum ROE 2,3183 dimiliki oleh Kalbe Farma Tbk. Nilai rata-rata dari variabel profitabilitas ini 0,097720 dan standar deviasinya 0,3809012. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata keberhasilan perusahaan sampel dalam menghasilakn laba bersih adalah sebesar 9,7%.
Nilai leverage diperoleh dari debt to total asset ratio (DAR) menunjukkan nilai minimum 0,0372 yang dimiliki oleh Jaya Pari Steel Tbk, sedangkan nilai maksimum sebesar 3,3421 dimiliki oleh Asia Pasific Fibers Tbk. Nilai rata-rata leveragesebesar 0,533839 dan standar deviasi ,4114802.
Nilai likuiditas dilihat dari nilai current ratio yang memiliki nilai mininum 0,2083 adalah perusahaan Asia Pasific Fibers Tbk, sedangkan nilai maksimum 13,8713 dimiliki oleh Intan Wijaya International Tbk. Nilai rata-rata 2,176069 dan standar deviasi 2,0323995.
Nilai struktur kepemilikan minimum 0,0104 dimiliki oleh Sat Nusa Persada Tbk, sedangkan nilai maksimum 9,9700 dimiliki oleh Kimia Farma Tbk. Nilai rata-rata 0,321134 dan standar deviasi 0,8880522.
Nilai jumlah komisaris minimum adalah 2, sedangkan jumlah maksimumnya adalah 11. Jumlah komisaris memiliki nilai rata-rata 4,25 berarti rata-rata perusahaan memiliki 4 orang komisaris dan untuk nilai standar deviasinya adalah 1,770.
Nilai proporsi dewan komisaris independen minimum adalah 0,0000 atau 0 yang berarti terdapat perusahaan yang tidak memiliki dewan komisaris independen
samasekali dalam perusahaannya,
sedangkan nilai maksimumnya 1,0000 yang berarti terdapat perusahaan yang seluruh dewan komisarisnya merupakan dewan komisaris independen. Nilai rata-ratanya
0,359733 dengan standar deviasi
0,1416443.
Analisis Statistik Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas dalam penelitian ini dilakukan untuk melihat besarnya korelasi antar variabel independen.
Tabel 4 : Hasil Uji Multikolinieritas
Model Collinearity Statistics
Tolerance VIF
1
(Constant)
SIZE ,602 1,660
PROF ,939 1,065
LEV ,748 1,337
LIKUID ,712 1,404
SAHAM ,965 1,036
MILIK ,992 1,009
KOMISARIS ,630 1,588
INDEP ,978 1,022
Sumber: OutputSPSS 21.0
Berdasarkan Tabel 4 dapat dilihat
hasil perhitungan nilai Tolerance
menunjukkan tidak ada variabel
independen yang memiliki nilai Tolerance kurang dari 0,10 yang berarti tidak ada korelasi antar variabel independen yang nilainya lebih dari 95%. Hasil perhitungan nilai Variance Inflation Factor (VIF) juga menunjukkan hal yang sama tidak ada satu variabel independen yang memilliki nilai VIF lebih dari 10. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinieritas antar variabel independen dalam model regresi.
Analisis Regresi Logistik
Menilai Keseluruhan Model (Overall Fit Model)
dengan konstanta dan variabel-variabel independen. Statistik -2LogL dapat digunakan untuk menentukan jika variabel
independen ditambahkan kedalam model apakah secara signifikan memperbaiki model fit (Ghozali, 2011: 341).
Tabel 5 : Hasil Uji Regresi Logistik untuk Keseluruhan Model
Iteration Historya,b,c,d
Iteration -2 Log
likelihood
Coefficients
Constant SIZE PROF LEV LIKUID SAHAM MILIK KOMSR INDEP
Step
1
1 60,726 ,557 ,017 -,014 -,296 ,035 1,119 -,006 ,040 -,249 2 47,041 ,057 ,043 ,028 -,563 ,108 2,061 -,008 ,093 -,467 3 43,693 -,672 ,063 ,183 -,673 ,245 2,752 ,010 ,150 -,612 4 42,982 -1,124 ,062 ,321 -,614 ,415 3,106 ,070 ,190 -,901 5 42,882 -1,388 ,063 ,345 -,530 ,530 3,220 ,166 ,201 -1,144 6 42,876 -1,443 ,062 ,342 -,512 ,556 3,245 ,254 ,203 -1,194 7 42,876 -1,441 ,061 ,341 -,510 ,558 3,250 ,285 ,204 -1,201 8 42,876 -1,441 ,061 ,341 -,510 ,558 3,250 ,287 ,204 -1,201 9 42,876 -1,441 ,061 ,341 -,510 ,558 3,250 ,287 ,204 -1,201 Sumber: Output SPSS 21.0
Omnibus Tests of Model Coefficients
Chi-square Df Sig.
Step 1
Step 16,450 8 ,036
Block 16,450 8 ,036
Model 16,450 8 ,036
Sumber : OutputSPSS 21.0
Berdasarkan Tabel 5 pada iteration history saat variabel independen dimasukkan dalam model dengan n = 124 dan degree of freedom (df) 115 (df = n – variabel independen - 1), chi-square (X2) tabel pada df 115 dan probabilitas 0,05 = 141,030. Nilai -2Log Likelihood (42,876) < chi-square (X2) tabel (141,030), maka
menunjukkan bahwa model dengan
memasukkan variabel independen adalah fit dengan data.
Pada tabel omibus tests of model coefficients tampak selisih -2Log Likelihood sebelum variabel independen masuk model (59,326) dikurangi -2Log Likelihood setelah variabel independen masuk model (42,876) adalah nilai chi-square 16,450. Nilai X2 16,450 > X2 tabel pada df 8 (jumlah variabel independen) yaitu 15,507 atau dengan signifikansi sebesar 0,036 (<0,05) yang menunjukkan bahwa penambahan variabel independen
dapat memberikan pengaruh nyata
terhadap model yang berarti dengan tingkat keyakinan 95% ada minimal satu variabel independen yang berpengaruh
pada variabel independen yang
berpengaruh pada variabel dependen.
Hipotesis diterima dan model fit dengan data.
Untuk melihat pengaruh
karakteristik perusahaan dan corporate governance terhadap ketepatan waktu CIR, peneliti melakukan penilaian kembali untuk keseluruhan model karakteristik
perusahaan dengan variabel ukuran
perusahaan (SIZE), profitabilitas (PROF), leverage (LEV), likuiditas (LIKUID), dan
penerbitan saham (SAHAM) serta
corporate governance dengan variabel struktur kepemilikan (MILIK), jumlah dewan komisaris (KOMISARIS) dan proporsi dewan komisaris independen (INDEP). Pengaruh tersebut dapat dilihat pada Tabel 6 yang menjelaskan model karakteristik perusahaan dan Tabel 7 yang menjelaskan model corporate governance.
Tabel 6: Hasil Uji Regresi Logistik untuk Model Karakteristik
Perusahaan
Omnibus Tests of Model Coefficients
Chi-square df Sig.
Step 1
Step 15,831 5 ,007
Block 15,831 5 ,007
Model 15,831 5 ,007
Sumber : Output SPSS 21.0
Tabel 7: Hasil Uji Regresi Logistik untuk Model Corporate Governance Omnibus Tests of Model Coefficients
Chi-square df Sig.
Step 1
Step ,704 3 ,872
Block ,704 3 ,872
Berdasarkan Tabel 6 dapat dilihat
bahwa untuk model karakteristik
perusahan dengan konstanta dan variabel independen ukuran perusahaan (SIZE), profitabilitas (PROF), leverage (LEV), likuiditas (LIKUID), dan penerbitan saham (SAHAM) terlihat bahwa sig kurang dari 0,05 dengan nilai -2LogL sebesar 15,831 dengan p-value0,007 (model) yang berarti dengan tingkat keyakinan 95% ada minimal satu variabel independen yang berpengaruh pada variabel independen yang berpengaruh pada variabel dependen. Hipotesis diterima dan model fit dengan data. Sedangkan pada Tabel 7 untuk model corporate governance dengan konstanta
dan variabel independen struktur
kepemilikan (MILIK), jumlah dewan komisaris (KOMISARIS) dan proporsi dewan komisaris independen (INDEP) terlihat bahwa sig lebih dari 0,05, dengan nilai -2LogL 0,704 dengan p-value 0,872 (model) yang berarti hipotesis ditolak dan model tidak fit dengan data.
Menilai Kelayakan Model Regresi
Kelayakan dan kesesuaian model pada regresi logistik dilihat dari :
1. Pengujian Hosmer and Lemeslow
Pada pengujian Hosmer and
Lemeslow dilihat pada Tabel 8 dibawah ini:
Tabel 8 : Hasil Pengujian Hosmer and Lemeshow Test
Step Chi-square df Sig.
1 4,877 8 ,771
Sumber: OutputSPSS 21.0
Berdasarkan tabel 8 dapat dilihat bahwa nilai Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test lebih besar dari 0,05 yang berarti model mampu memprediksi
nilai observasinya atau dapat dikatakan model dapat diterima karena cocok dengan data observasinya. Tampilan output SPSS menunjukkan besarnya nilai Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test sebesar 4,877 dengan probabilitas signifikansi 0,771 yang nilainya jauh di atas 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model dapat diterima.
2. Nagelkerke’s R Square
Nagelkerke’s R Square memiliki interprestasi yang sama dengan koefisien determinasi. Dapat dilihat dari output SPSS nilai Cox & Snell R Square sebesar 0,124 dan nilai Nagelkerke’s R Square adalah 0,327 yang berarti variabilitas variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabilitas variabel independen
sebesar 32,7% sedangkan sisanya
dipengaruhi oleh faktor lain di luar model.
Tabel 9 : Hasil Pengujian Nagelkerke’s R Square Test - Model Summary
Step -2 Log likelihood
Cox & Snell R Square
Nagelkerke R Square
1 42,876a ,124 ,327
3. Classification Plot
Classification Plot mencerminkan seberapa banyak kita dapat memprediksi dengan benar ketepatan model. Pada tabel klasifikasi hasil SPSS menunjukkan bahwa pada kolom prediksi perusahaan tepat waktu ada 124 perusahaan, sedangkan pada baris hasil observasi sesungguhnya hanya ada 116 perusahaan. Jadi ketepatan model adalah 116/124 atau 93,5%. Hal tersebut dapat dilihat dari Tabel 10 dibawah ini:
Tabel 10 : Hasil Pengujian Classification Plot
Observed
Predicted
CIRT Percentage
Correct Tidak Tepat Waktu Tepat Waktu
Step 1 CIRT
Tidak Tepat Waktu 0 8 ,0
Tepat Waktu 0 116 100,0
Overall Percentage 93,5
Pengujian Hipotesis
Berdasarkan pada hasil pengujian, model regresi menunjukkan model yang baik. Berdasarkan pengujian regresi logistik, model regresi layak dipakai untuk
menganalisis prediksi perusahaan
melakukan praktik ketepatan waktu CIR.
Pengujian dilakukan pada tingkat
signifikansi (∝)lima persen. Tabel 11 menunjukkan pengaruh delapan variabel independen terhadap ketepatan waktu CIR.
Tabel 11 : Hasil Pengujian Variabel Independen Secara Parsial Variables in the Equation
B S.E. Wald Df Sig. Exp(B)
Step1a
SIZE ,061 ,937 ,004 1 ,948 1,062
PROF ,341 1,186 ,083 1 ,774 1,406
LEV -,510 1,266 ,162 1 ,687 ,600
LIKUID ,558 ,535 1,090 1 ,296 1,748
SAHAM(1) 3,250 ,970 11,233 1 ,001 25,790
MILIK ,287 2,167 ,018 1 ,895 1,333
KOMISARIS ,204 ,305 ,447 1 ,504 1,226
INDEP -1,201 3,634 ,109 1 ,741 ,301
Constant -1,441 11,564 ,016 1 ,901 ,237
Sumber: Output SPSS 21.0
Berdasarkan output tersebut,
persamaan metematis dapat dinyatakan sebagai berikut :
Ln ? ?? ?
? ? ? ?? ? = -1,441 + 0,061SIZE + 0,341PROF - 0,510LEV + 0,558LIKUID + 3,250SAHAM + 0,287MILIK +
0,204KOMISARIS
-1,201INDEP + e
Pada regresi logistik koefisiennya akan sulit diinterpretasikan secara
langsung karena hubungan antara
probabilitas CIRT dan variabel independen adalah non-linier, sedangkan hubungan antara log dari odds dan variabel bebas adalah linier. Oleh karena itu, dalam hal ini interpretasi terhadap koefisien variabel independen harus dilihat pengaruhnya terhadap log dari oods dan bukan terhadap probabilitas CIRT.
Hubungan antara odds dan variabel independen dapat dijelaskan sebagai berikut: Jika variabel lainnya konstan, maka odds perusahaan akan tepat waktu naik dengan faktor 1,062 (e0,061) untuk setiap unit kenaikan SIZE. Jadi dengan variabel lainnya dianggap konstan maka perusahaan akan tepat waktu adalah 1,062 kali lebih tinggi untuk perusahaan besar dibandingkan perusahaan kecil.
Begitu pula pada PROF, variabel lainnya dianggap konstan maka odds perusahaan akan tepat waktu naik dengan
faktor 1,406 (e0,341) untuk setiap unit perubahan PROF, yang artinya perusahaan akan tepat waktu 1,406 kali lebih tinggi untuk perusahaan profit. Pada LEV, dengan variabel lainnya dianggap konstan maka odds perusahaan akan tepat waktu naik dengan faktor 0,600 (e -0,510) untuk setiap unit perubahan LEV, yang artinya perusahaan akan tepat waktu 0,600 kali lebih tinggi untuk perusahaan yang assetnya mampu memenuhi kewajiban tetapnya.
Jika variabel lainnya dianggap konstan, maka odds perusahaan akan tepat waktu naik dengan faktor 1,748 (e0,558) untuk setiap unit perubahan LIKUID, yang artinya perusahaan akan tepat waktu 1,748 kali lebih tinggi untuk perusahaan likuid. Sedangkan odds perusahaan akan tepat waktu naik dengan faktor 25,790 (e3,250) untuk setiap unit kenaikan SAHAM jika variabel lainnya dianggap konstan, artinya perusahaan akan tepat waktu 25,790 kali lebih tinggi untuk perusahaan yang menerbitkan saham baru dibandingkan perusahaan yang tidak menerbitkan saham baru.
Odds perusahaan akan tepat waktu naik dengan faktor 1,333 (e0,287) untuk setiap unit perubahan MILIK jika variabel lainnya dianggap konstan. Serta untuk
perusahaan akan tepat waktu naik dengan faktor 1,226 (e0,204) jika variabel lainnya dianggap konstan. Dan odds perusahaan akan tepat waktu naik dengan faktor 0,301(e -1,201) untuk setiap unit perubahan INDEP jika variabel lainnya dianggap konstan, yang artinya perusahaan akan tepat waktu 0,301 kali lebih tinggi untuk
perusahaan yang memiliki dewan
komisaris indpenden dibanding yang tidak memiliki dewan komisaris independen.
Adapun pembahasan terhadap
masing-masing hasil pengujian yang dapat dilihat pada Tabel 11 adalah sebagai berikut:
1. Uji Hipotesis Pertama
Hipotesis pertama menyatakan
terdapat pengaruh antara ukuran
perusahaan dengan ketepatan waktu CIR. Berdasarkan uji regresi logistik ukuran
perusahaan menghasilkan tingkat
signifikansi sebesar 0,948 yang berarti bernilai lebih besar dari 0,05. Maka hipotesis pertama ditolak, yang artinya tidak terdapat pengaruh antara ukuran perusahaan dengan ketepatan waktu CIR.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Alqudah, et al (2014) dan penelitian yang dilakukan Novitasari, dkk (2014). Keadaan tersebut
terjadi karena kondisi assets dan
kemampuan manajemen untuk melakukan pengelolaan atau pemanfaat assets masih dianggap optimal oleh pelaku pasar, situasi tersebut terus dijaga dan dipertahankan perusahaan sepanjang periode penelitian (Novitasari, 2014).
2. Uji Hipotesis Kedua
Hipotesis kedua menyatakan
terdapat pengaruh antara profitabilitas dengan ketepatan waktu CIR. Berdasarkan data yang diolah, didapat nilai signifikansi sebesar 0,774 yang berarti lebih besar dari 0,05. Maka hipotesis kedua ditolak yang artinya tidak terdapat pengaruh signifikan antara profitabilitas dengan ketepatan waktu CIR. Hal ini berarti tidak ada kecenderungan bagi perusahaan yang mengalami keuntungan untuk melakukan
ketepatan waktu pelaporan keuangan perusahaan melalui internet dan sebaliknya perusahaan mengalami kerugian akan tidak
tepat waktu dalam memperbaharui
informasi perusahaan memalui internet. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Widaryanti (2011) dan Anna (2013) yang menemukan bahwa profitabilitas tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu CIR. Namun temuan ini berbeda dengan temuan yang dilakukan Haryani, dkk (2012).
3. Uji Hipotesis Ketiga
Terdapat pengaruh antara leverage dengan ketepatan waktu CIR. Dari data yang diolah, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,687 yang berarti lebih besar dari 0,05. Maka hipotesis ketiga ditolak yang artinya tidak terdapat pengaruh antara leveragedengan ketepatan waktu CIR.
Hasil dalam penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Widaryanti (2011), penelitian Haryani (2012), dan penelitian Novitasari (2014). Menurut Novitasari (2014) leverage tidak berpengaruh dengan ketepatan waktu CIR, keadaan tersebut terjadi karena perusahaan dinilai selalu menjaga stabilitas hutang yang mereka miliki, dalam hal ini perusahaan selalu dapat menciptakan kebijakan dan pemanfaatan hutang yang tepat situasi tersebut membuat ketakutan stakeholders terhadap resiko hutang menjadi hilang, dan mereka meyakini keadaan posisi leverage yang dimiliki perusahaan saat ini tidak akan menganggu timeliness publikasi laporan keuangan perusahaan.
4. Uji Hipotesis Keempat
Terdapat pengaruh antara likuiditas dengan ketepatan waktu CIR. Dari data yang diolah, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,296 yang berarti lebih besar dari 0,05. Maka hipotesis keempat ditolak yang artinya tidak terdapat pengaruh antara likuiditas dengan ketepatan waktu CIR.
dkk (2012) yang menolak logika yang
menyatakan bahwa likuiditas
mempengaruhi ketepatan waktu CIR. Hal ini dikarenakan besarnya jumlah hutang jangka pendek perusahaan. Perusahaan yang memiliki tingkat likuiditas rendah menjadikan manajemen berusaha mencari metode akuntansi alternative untuk memberikan penjelasan kepada
pemegang saham. Perusahaan yang
kurang likuid cenderung tidak akan melaporkan kondisi perusahaan secara tepat waktu. Namun Chariri dan Lestari (2005) menemukan hal yang berbeda dalam penelitiannnya terkait likuiditas.
Dikemukakan bahwa likuiditas
berpengaruh signifikan dengan pelaporan keuangan di internet.
5. Uji Hipotesis Kelima
Terdapat pengaruh antara penerbitan saham dengan ketepatan waktu CIR. Dari data yang diolah, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,001 yang berarti lebih kecil dari 0,05. Maka hipotesis kelima diterima yang artinya terdapat pengaruh antara penerbitan saham dengan ketepatan waktu CIR.
Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Desoky and Mousa (2009) dan Haryani, dkk (2012). Pada penelitian Desoky and Mousa (2009), temuannya menunjukkan
bahwa perusahaan-perusahaan Bahrain
yang menerbitkan saham baru dalam dua tahun terakhir mengungkapkan informasi lebih lanjut pada pelaporan internet daripada mereka yang tidak memiliki
penerbitan saham baru. Hasil ini
mendukung argumen bahwa penerbitan saham baru merupakan faktor penting
yang mempengaruhi pengungkapan
perusahaan perusahaan yang
membutuhkan pembiayaan baru, akan
berusaha untuk mengungkapkan informasi lebih lanjut di situs web mereka untuk
menarik lebih banyak investor dan
meningkatkan kepercayaan diri mereka tentang posisi mereka.
6. Uji Hipotesis Keenam
Terdapat pengaruh antara struktur kepemilikan dengan ketepatan waktu CIR. Dari data yang diolah, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,895 yang berarti lebih besar dari 0,05. Maka hipotesis keenam ditolak yang artinya tidak terdapat pengaruh antara struktur kepemilikan dengan ketepatan waktu CIR.
Hasil penelitian konsisten dengan penelitian yang dilakukan Abdelsalam and Street (2007) dan penelitian yang dilakukan Widaryanti (2011). Menurut Widaryanti (2011) struktur kepemilikan perusahaan di Indonesia sebagian besar memiliki struktur kepemilikan yang terkonsentrasi pada suatu institusi yang biasanya memiliki saham yang cukup besar yang diduga mencerminkan
kekuasaan, sehingga mempunyai
kemampuan untuk melakukan intervensi terhadap jalannya perusahaan dan mengatur proses penyampaian informasi perusahaan kepada pengguna lainnya.
7. Uji Hipotesis Ketujuh
Terdapat pengaruh antara jumlah dewan komisaris dengan ketepatan waktu CIR. Dari data yang diolah, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,504 yang berarti lebih besar dari 0,05. Maka hipotesis ketujuh ditolak yang artinya tidak terdapat pengaruh antara jumlah dewan komisaris dengan ketepatan waktu CIR.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Widaryanti (2011) dan penelitian yang dilakukan Haryani, dkk (2012). Menurut Haryani, dkk (2012) hasil dari penelitiannya membuktikan bahwa jumlah dewan komisaris bukan merupakan salah satu faktor yang akan dipertimbangkan perusahaan dalam menyampaikan CIR.
8. Uji Hipotesis Kedelapan
Maka hipotesis kedelapan ditolak yang artinya tidak terdapat pengaruh antara proporsi dewan komisaris independen dengan ketepatan waktu CIR.
Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan Abdelsalam and Street (2007) dan penelitian yang dilakukan oleh Mahendra (2013). Menurut
Patton dan Baker (1987, dalam
Abdelsalam and Street, 2007) direktur non-eksekutif mungkin tidak memiliki pengetahuan bisnis yang diperlukan untuk menjadi efektif. Beberapa alasan mengapa proporsi dewan komisaris independen tidak memberikan pengaruh terhadap ketepatan waktu CIR adalah bukti empiris menunjukkan rata-rata proporsi dewan komisaris independen 35,97% sehingga secara kolektif komisaris independen tidak memiliki kekuatan untuk mempengaruhi keputusan dewan komisaris independen.
9. Uji Hipotesis Kesembilan
Hipotesis kesembilan terdapat pengaruh antara karakteristik perusahaan yakni ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage, likuiditas, dan penerbitan saham
terhadap ketepatan waktu CIR.
Berdasarkan Tabel 6 dapat dilihat bahwa untuk model karakteristik perusahan dengan konstanta terlihat bahwa sig kurang dari 0,05 dengan nilai -2LogL sebesar 15,831 dengan p-value 0,007 (model) yang berarti model fit dengan data dan hipotesis diterima yang artinya terdapat pengaruh antara karakteristik perusahaan yakni ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage, likuiditas, dan penerbitan saham terhadap ketepatan waktu CIR.
10. Uji Hipotesis Kesepuluh
Hipotesis kesepuluh terdapat
pengaruh antara corporate governance yakni struktur kepemilikan, jumlah dewan komisaris, dan proporsi dewan komisaris independen terhadap keteparan waktu CIR.
Berdasarkan Tabel 7 untuk model
corporate governance dengan konstanta terlihat bahwa sig lebih dari 0,05, dengan
nilai -2LogL 0,704 dengan p-value 0,872 (model) yang berarti model tidak fit dengan data dan hipotesis ditolak yang artinya tidak terdapat pengaruh antara corporate governance yakni struktur kepemilikan, jumlah dewan komisaris, dan proporsi dewan komisaris independen terhadap ketepatan waktu CIR.
11. Uji Hipotesis Kesebelas
Hipotesis kesebelas terdapat
pengaruh antara antara ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage, likuiditas, penerbitan saham, struktur kepemilikan, jumlah dewan komisaris, proporsi dewan komisaris independen secara
bersama-sama terhadap ketepatan waktu CIR.
Berdasarkan penilaian overall fit model yang telah dijelaskan sebelumnya pada Tabel 5 untuk model dengan konstanta terlihat bahwa sig kurang dari 0,05 dengan nilai -2LogL sebesar 16,450 dengan p-value0,036 (model) yang berarti model fit dengan data dan hipotesis diterima yang artinya terdapat pengaruh antara antara ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage, likuiditas, penerbitan saham, struktur kepemilikan, jumlah dewan komisaris, dan proporsi dewan komisaris independen secara bersama-sama terhadap ketepatan waktu CIR.
KESIMPULAN Kesimpulan
Kesimpulan dari hasil penelitian adalah sebagai berikut:
1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage, likuiditas, struktur kepemilikan, jumlah dewan komisaris, proporsi dewan komisaris independen secara statistik tidak mempengaruhi
ketepatan waktu CIR pada
perusahaan-perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI pada tahun 2013.
2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerbitan saham secara statistik mempengaruhi ketepatan waktu CIR
manufaktur yang terdaftar di BEI pada tahun 2013.
3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
karakeristik perusahaan dengan
variabel ukuran perusahaan,
profitabilitas, leverage, likuiditas, dan penerbitan saham berpengaruh secara bersama-sama terhadap ketepatan waktu CIR pada
perusahaan-perusahaan manufaktur yang
terdaftar di BEI pada tahun 2013. 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
corporate governancedengan variabel struktur kepemilikan, jumlah dewan
komisaris dan proporsi dewan
komisaris independen tidak
berpengaruh secara bersama-sama terhadap ketepatan waktu CIR pada perusahaan-perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI pada tahun 2013.
5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage, likuiditas, penerbitan saham, struktur kepemilikan, jumlah dewan komisaris dan proporsi dewan komisaris independen berpengaruh secara bersama-sama terhadap ketepatan waktu CIR pada perusahaan-perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI pada tahun 2013.
Keterbatasan Penelitian dan Saran
Pada penelitian ini terdapat beberapa keterbatasan yang mungkin mempengaruhi
hasil penelitian. Adapun beberapa
keterbatasan pada penelitian ini dapat terlihat dari hasil penelitian yang
menunjukkan variabilitas variabel
dependen yang dapat dijelaskan oleh variabilitas variabel independen sebesar 32,7% sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar model.
Memperhatikan keterbatasan yang ada, diharapkan penelitian selanjutnya dapat mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut:
1. Memberikan klasifikasi secara rinci tentang waktu pelaporan, sehingga
hasil dapat menganalisis ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan menurut presisi harinya.
2. Memperpanjang periode penelitian
sehingga dapat melihat
kecenderungan yang terjadi dalam jangka panjang sehingga akan
menggambarkan kondisi yang
sesungguhnya terjadi.
3. Menambah variabel yang
berhubungan dengan kondisi eksternal perusahaan, misalnya kondisi perekonomian, penggunaan teknologi informasi baru, dan faktor lain yang berpengaruh terhadap praktik CIR.
DAFTAR PUSTAKA
Abdelsalam, O.H. and Street, D.L. 2007. ‘‘Corporate governance and the timeliness of corporate internet reporting by UK listed companies’’. Journal of International Accounting, Auditing and Taxation, Vol. 16, pp. 111-30.
Alqudah, Saifalislam Khaled Mohammad. Abdulah Osman. Siti Norwahida Shukeri. dan Mohammadnoor Khaled M. Alqudah. 2014. “The Impact of Audit Technology Usage and Corporate Governance on Financial Reporting Timeliness”. Scholars Journal of Economics, Business and Management. e-ISSN 2348-5302. p-ISSN 2348-8875.
Anna, Yane Devi. 2013. “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Internet Corporate Reporting”. SNA XVI. Manado.
Belkaoui, Ahmed Riahi. 2011. Accounting Theory. Jakarta: Salemba Empat. Chariri, Anis dan Hanny Sri Lestari. 2005.
“Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pelaporan Keuangan melalui Internet (Internet Financial
Reporting) dalam Website
Desoky, Abdelmohsen dan Gehan A. Mousa. 2009. “The Impact Of Firm Characteristics And Corporate Governance Attributes On Internet Investor relations – Evidence From Bahrain”. ASBBS Proceedings of the Twelfth International Conference. Fadly, Ferdian. 2012. “Interpretasi Output
Analisis Regresi Logistik”.
http://ferdifadly.blogspot.com/2012/07 /interpretasi-output-analisis-regresi. Diakses 13 Maret 2015.
Ghozali, Imam. 2011. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 19. Badan Penerbit Universitas Diponegoro: Semarang.
Hanafi, Mamduh M. 2011. Manajemen Keuangan. Edisi Pertama. Cetakan Keempat. Yogyakarta: BPFE.
Hanafi, Mamduh M. dan Abdul Halim. 2009. Analisis Laporan Keuangan. Edisi Keempat. Cetakan Pertama. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
Haryani. Maria Aditya Kusrinanti. dan
Muchamad Syafruddin. 2012.
“Pengaruh Corporate Governance
Terhadap Ketepatan Waktu Corporate Internet Reporting Pada Perusahaan
yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia”. SNA 15. Banjarmasin.
Hilmi, Utari dan Syaiful Ali. 2008.
“Analisis Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Ketepatan Waktu
Penyampaian Laporan Keuangan
(Studi Empiris pada Perusahaan-perusahaan yang Terdaftar di BEJ
Periode 2004-2006)”. SNA 11.
Pontianak.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2009. Standar
Akuntansi Keuangan. Jakarta :
Salemba Empat.
Kayo, Edison Sutan. “Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal”.
http://www.sahamok.com/pasar-
modal/uu-nomor-8-tahun-1995-tentang-pasar-modal/. Diakses 26 Desember 2014.
Kusrinanti, Maria Aditya. 2012. “Pengaruh Corporate Governance Terhadap Ketepatan Waktu Corporate Internet Reporting Pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”. Skripsi. Universitas Diponegoro. Semarang.
Mahendra, Edwardus Randy Ekha. 2013.
“Pengaruh Independensi Dewan
Komisaris dan Struktur Kepemilikan
Perusahaan Terhadap Ketepatan
Waktu Pelaporan Informasi
Perusahaan Melalui Internet (Studi Kasus pada Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia)”. Skripsi. Universitas Diponegoro. Semarang. Novitasari, Elvi. Resti Yulistia Muslim.
dan Dandes Rifa. 2014. “Analisis Faktor Faktor yang Mempengaruhi Ketepatan Waktu Corporate Internet
Reporting Pada Perusahaan
Perusahaan yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”.E-Journal Universitas Bung Hatta Volume 5, No 1.
Sari, Rahma Prafinta. 2011. “Pengaruh
Karakteristik Perusahaan dan
Corporate Governance Terhadap
Ketepatan Waktu Peloporan
Perusahaan di Internet (Corporate Internet Reporting Timeliness)”. Skripsi. Universitas Diponegoro. Semarang.
Sugiyono. 2010. Statistika untuk
Penelitian. Cetakan Ke-16. Bandung: Alfabeta.
Surat Edaran Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Nomor: Kep-36/PM/2003 tanggal 30 September 2003, tentang
“Kewajiban Pelaporan Keuangan
Berkala”.
Widaryanti. 2011. ”Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketepatan Waktu Corporate Internet Reporting Pada
Perusahaan-Perusahaan yang
Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”.
Jurnal Ilmu Manajemen dan