PENGARUH POLA PIKIR KEPEMIMPINAN DALAM RISET
MARKETING YANG INOVATIF DAN STRATEGIKAL
Nama : Irfan Nugraha NIM : 10113251 Kelas : KWU -2
E-mail : [email protected]
PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA
FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMPUTER
UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA
BANDUNG
ABSTRAK
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan suatu kerangka kerja konseptual yang menggambarkan hubungan variabel-variabel pola pikir kepemimpinan, marketing, riset, strategi, dan inovatif. Makalah ini mempresentasikan beberapa konsep teori dari Pola Pikir Kepemimpinan, Manajemen Marketing, Manajemen Riset, dan Inovatif Strategik. Akhirnya beberapa tujuan penelitian yang mengamati tentang hubungan variabel-variabel kepemimpinan, manajemen, riset, strategi, dan inovatif sangatlah diharapkan untuk mengembangkan tujuan penelitian.
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
DAFTAR ISI ... ii
PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Identifikasi dan Rumusan Masalah ... 2
1.3. Manfaat dan Tujuan ... 2
LANDASAN TEORI ... 3
2.1. Apa itu Pola Pikir Kepemimpinan? ... 3
2.2. Pengertian Riset Marketing... 4
2.3. Fungsi Riset Marketing ... 4
MANAJEMEN INOVATIF DAN STRATEGIK ... 17
3.1. Manajemen Kepemimpinan yang Inovatif... 17
3.2. Kepemimpinan dalam manajemen strategik ... 21
KESIMPULAN ... 26
4.1. Kesimpulan ... 26
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Selama ini, di mana ekonomi tumbuh pesat, perusahaan–perusahaan kurang mempertimbangkan faktor pesaing dibandingkan masa kini. “Kue ekonomi” berkembang pesat dan memang cukup bagi keberhasilan setiap orang. Namun selama ini, pertumbuhan ekonomi yang kurang bergairah menciptakan persaingan yang sangat ketat. Perusahaan–perusahaan secara khusus mendalami kelemahan pesaing– pesaingnya dan sering menyerang posisi pesaingnya dengan mendadak. Makin lama makin didasari perlunya inovasi dengan strategi pemasaran yang didasarkan atas baik kebutuhan konsumen maupun posisi para pesaing. Strategi Pemasaran harus disesuaikan tidak hanya pada sasaran konsumen tetapi juga pada para pesaing yang mengincar sasaran konsumen yang sama.
Kebanyakan industri memiliki satu perusahaan yang dikenal sebagai pemimpin pasar. Perusahaan ini memegang bagian pasar terbesar dalam pasar produk yang relevan. Biasanya perusahaan lain mengikuti tindakan–tindakannya dalam hal perubahan harga, pengenalan produk baru, pencakupan saluran distribusi dan intensitas promosi. Perusahaan pemimpin ini bisa saja tidak dikagumi, tetapi yang jelas ialah kalangan perusahaan lain mengakui dominasinya. Perusahaan ini menjadi titik pusat orientasi para pesaing, ia merupakan perusahaan yang ditantang, ditiru atau dijauhi.
1.2.Identifikasi dan Rumusan Masalah 1. Apa itu Pola Pikir Kepemimpinan? 2. Apa fungsi Riset Marketing?
3. Manajemen seperti apa saja yang harus dimiliki oleh Kepemimpinan agar menjadi Inovatif?
4. Bagaimana pentingnya Strategik bagi Kepemimpinan? 1.3.Manfaat dan Tujuan
1. Mengetahui Pola Pikir Kepemimpinan. 2. Mengetahui Fungsi Riset Marketing.
3. Mengetahui Manajemen yang harus dimiliki oleh Kepemimpinan agar menjadi inovatif.
LANDASAN TEORI
2.1.Apa itu Pola Pikir Kepemimpinan?
Teknologi telah mengubah konektivitas dan akan terus mengubah cara orang hidup dan berinteraksi. Medan perang perebutan talenta akan terus berlangsung baik perusahaan swasta maupun pemerintahan akan mengembangkan strategi ketenagakerjaan berbasis talenta global, suatu sumber daya yang tidak kalah pentingnya dengan strategi manufaktur. Sangat disayangkan, apabila talenta disini tidak diberdayagunakan oleh perusahaan dalam menantang pesaing-pesaing baru perusahaan yang pastinya akan bermunculan. Maka, haruslah seorang ketua perusahaan mengambil langkah kongkrit dalam konsep pola pikir agar memiliki keunggulan dalam bersaing. Istilah pola pikir kepemimpinan, berarti adalah sebuah sudut pandang pemimpin yang dibangun dengan paradigma cerdas yang bertujuan menstabilkan semua pelaku perusahaan.
Pola pikir kepemimpinan pada umumnya, hanya dibangun dengan konsep namun tidak banyak yang di implementasikan kedalam action. Menurut Dr. Ir. Eddy Soeryanto Soegoto (2014:281) terdapat 5 (lima) aspek penting yang dapat
diidentifikasi tentang keterampilan global, yaitu : Berpikir secara global, Menghargai keragaman budaya, Mengembangkan teknologi cerdas, Membangun kemitraan dan aliansi, Berbagi ilmu tentang kepemimpinan/
2.2.Pengertian Riset Marketing
Riset Pemasaran (Marketing) merupakan proses yang objektif dan sistematik dalam mengumpulkan informasi yang berhubungan dengan pemasaran. Riset pemasaran juga merupakan kegiatan penelitian dalam bidang pemasaran. Riset
pemasaran harus dilakukan secara sistematis, yakni mulai dari perumusan masalah,
perumusan tujuan dari riset pemasaran, pengumpulan data, pengolahan data, hingga
interpretasi dari hasil riset pemasaran yang diperoleh. Riset pemasaran dilakukan sebagai
upaya memberi masukan bagi pihak manajemen. Dengan adanya riset pemasaran, pihak
manajemen akan mengetahui hal apa saja yang perlu diperbaiki dan strategi pemasaran apa
yang masih konkrit dilakukan untuk merebut peluang.
Menurut (Philip Kotler, 1964) mendefinisikan riset pemasaran sebagai perancangan, pengumpulan, analisis, dan pelaporan yang sistematis dari data atau temuan
yang relevan dengan situasi pemasaran tertentu yang dihadapi oleh perusahaan.
Sementara itu, praktisi riset Robby Susatyo memiliki pendapatnya sendiri
mengenai riset pemasaran. (Robby Susatyo, 2007) mendefinisikan riset pemasaran sebagai
suatu identifikasi yang objektif dan sistematis, yang dilanjutkan dengan pengumpulan.
analisis, dan perangkaian informasi yang bertujuan untuk memperbaiki pengambilan
keputusan yang berkaitan solusi masalah dan penemuan peluang dalam proses pemasaran.
Selain para ahli, beberapa badan dan organisasi dunia juga memiliki definisi sendiri
untuk riset pemasaran. American Marketing Association (AMA) mendefinisikan riset
pemasaran sebagai fungsi yang menghubungkan konsumen, pelanggan, dan masyarakat
umum dengan pemasar melalui informasi. Informasi ini digunakan untuk mengidentifikasi
dan menentukan peluang dan masalah pemasaran; merumuskan, menyempurnakan dan
mengevaluasi tindakan pemasaran; memantau kinerja pemasaran; dan menyempurnakan
pemahaman mengenai pemasaran sebagai sebuah proses serta pemahaman atas cara-cara
yang dapat membuat aktivitas pemasaran lebih efektif.
2.3. Fungsi Riset Marketing
pemasaran dapat diibaratkan sebagai mata dan telinga perusahaan untuk mengetahui bagaimana pandangan dan keinginan konsumen terhadap perusahaan. Riset pemasaran memiliki tiga fungsi utama bagi perusahaan, yaitu:
1. Evaluating
Fungsi riset pemasaran yang pertama adalah evaluating. Riset pemasaran yang dilakukan untuk fungsi ini biasanya digunakan untuk mengevaluasi program-program pemasaran yang telah dilakukan sebelumnya. Fungsi evaluating dalam riset pemasaran ini juga termasuk ketika perusahaan ingin melakukan review terhadap brand positioning dibandingkan dengan produk pesaing.
2. Understanding
Fungsi riset pemasaran kedua adalah understanding. Fungsi riset pemasaran ini menekankan pada tujuan untuk memahami konsumen sebagai salah satu insight atau masukan yang sangat penting bagi perusahaan. Dengan memahami konsumen, perusahaan akan mengetahui apa yang menjadi kebutuhan dan keluhan konsumen. Dalam menjalankan funsi ini, riset pemasaran yang dilakukan biasanya adalah riset yang menggambarkan potret kebiasaan dan perilaku konsumen serta harapan dan keluhan mereka terhadap produk.
3. Predicting
Fungsi riset pemasaran ketiga adalah predicting. Fungsi riset pemasaran yang terakhir ini merupakan fungsi yang sebenarnya paling sulit untuk dilakukan. Dunia ini penuh dengan ketidakpastian, sehingga prediksi yang dilakukan dalam riset pemasaran sangatlah beresiko karena sifatnya yang sangat relatif. Ketika sebuah brand ingin membidik pasar baru, maka riset pemasaran selalu dijadikan bahan acuan utama. Begitupun ketika perusahaan ingin menyusun strategi pemasaran baru, riset pemasaran masih menjadi penilaian utama.
saat ini dan memberikan wawasan untuk perubahan yang diperlukan kepada para pengambil keputusan. Kedua, riset pemasaran merupakan alat utama dalam menelusuri peluang baru di pasaran. Riset segmentasi dan riset produk baru membantu mengidentifikasi peluang yang paling menguntungkan bagi manajer pemasaran (Jhon Hendri, 2009).
Fungsi riset pasar berkaitan derigan bagaimana pihak manajemen menggunakannya, yaitu:
1. Planning (Perencanaan)
Perencanaan berkaitan dengan menentukan peluang pasar meliputi Segmentation, Demand estimation dan Environmental assessment.
2. Problem Solving (Pemecahan Masalah)
Riset pasar untuk Problem Solving lebih fokus kepada membuat keputusan jangka pendek dan keputusan jangka panjang, meliputi Product (produk), Price (Harga), Place (Ternpat) dan Promotion (prornosi).
3. Control (Pengendalian)
Control-Oriented Market Research membantu pihak manajemen untuk menemukan titik masalah dan memonitor proses yang sedang berlangsung (Churcill, 2005).
Tujuan Riset Pasar
Menurut Doman (2002), ada 4 tujuan dasar dan riset pasar, yaitu: 1. Menganalisis pasar
2. Menganalisis tanggapan pasar terhadap suatu produk atau jasa Analisis ini dimaksudkan untuk memperhitungkan potensi produk atau jasa di pasar. Pengkajian bisa dilakukan sebelum suatu produk diperkenalkan. Survei juga bisa dilakukan untuk meningkatkan pemasaran atau produk.
3. Menganalisis efektivitas iklan atau promosi dan perusahaan Riset ini membantu pemilik perusahaan untuk menyeleksi media periklanan yang paling efektif dan paling cost-effective.
4. Menyusun strategi
Pengkajian perencanaan strategis melacak pertumbuhan atau kemerosotan pasar-pasar yang sudah ada dan membantu menemukan produk-produk atau jasa-jasa apa yang akan sukses dalam pasar tersebut. Riset perencanaan strategis biasanya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang sudah mapan.
Klasifikasi Riset Pasar
Menurut Maholtra, 1996 dalam Bilson Simamora, 2004:51 dikatakan bahwa riset pemasaran dibagi ke dalam dua kategori yaitu riset identifikasi masalah (problem identification research) dan riset mengatasi masalah (problem solving research).
Riset identifikasi masalah bertujuan mengidentifikasi masalah yang di kemudian hari akan diteliti lebih lanjut untuk dicarikan solusinya. Riset mengatasi masalah merupakan riset di mana hasil risetnya dimaksudkan untuk dijadikan bahan dalam rangka pengambilan keputusan manajemen atas permasalahan yang terjadi.
Prosedur Riset Pasar
data penelitian, pengumpulan data, pengolahan data, analisis data, kesimpulan dan saran, penyajian laporan penelitian.
1. Menentukan topik riset
Langkah awal sebelum melakukan riset adalah menentukan topik riset itu sendiri. Tanpa memiliki topik riset tentu saja tidak ada riset atau riset menjadi kabur dan tidak terfokus ke salah satu hal yang di teliti. Maka menjadi penting menentukan topik riset sebelum melangkah jauh ke depan berkaitan dengan riset tersebut.
Contoh topik riset pemasaran antara lain:
Mengukur loyalitas konsumen terhadap merek Perilaku pembelian barang di masa inflasi
Mengukur persepsi masyarakat terhadap suatu daerah perbelanjaan
Menilai kegiatan perencanaan pemasaran
Mengukur kecenderungan konsumen mengeksplorasi produk dan informasi
Menguji respons konsumen terhadap perbedaan warna brosur Mengidentifikasi perilaku pembelian spontan
Menilai kemampuan manajer dalam menjalankan kegiatan pemasaran.
Mengukur manfaat iklan televisi
Persepsi konsumen terhadap rumah makan dan luar negeri.
2. Perumusan masalah
dipilihnya. Kemudian setelah uraian latar belakang permasalahan selesal diuraikan, berikutnya menentukan rumusan masalah penelitian.
3. Perumusan hipotesis
Langkah berikutnya setelah dirrumuskan pokok permasalahan dan suatu topik riset pemasaran, adalah perumusan hipotesis riset. Hipotesis ini merupakan jawaban bersifat sementara berdasarkan pokok rumusan masalah yang telah disusun. Sehingga kebenaran dari suatu hipotesis masih harus dilakukan pengujian-pengujian melalui uji statistik, apakah hipotesis yang diajukan benar atau tidak benar. Banyaknya hipotesis yang diajukan disesuaikan dengan banyak rumusan masalah.
4. Menentukan metode riset
Menentukan riset diperlukan untuk membantu memecahkan permasalahan dalam topik. Pada umumnya metode riset menggunakan alat-alat dan uji statistik jika data penelitian berupa angka-angka bilangan, jadi bersifat kuantitatit. Namun di samping alat dan uji statistik, dapat pula dilakukan secara kualitatif, berupa analisis karakteristik data tanpa melalui pengujian kualitas dari sebuah riset bersifat kualitatit sangat bergantung pada kevalidan data hasil observasi pada objek yang diteliti. Semakin valid dan detail, semakin memberikan kontribusi pada kualitas hasil riset, sebaliknya data yang diperoleh dari hasil observasi kurang atau tidak valid serta tidak didukung oleh argumentasi yang kuat, akan mengakibatkan berkurangnya kualitas sebuah riset kualitatif.
5. Menentukan variabel riset
Dalam menentukan variabel riset, disesuaikan dengan topik yang diteliti, karena variabel riset yang diperlukan terkandung pada topik tersebut.
6. Menentukan data riset
Berdasarkan variabel riset di atas berarti kita dapat menentukan data risetnya. Jika variabel berkaitan dengan persepsi masyarakat maka data risetnya juga mengenai persepsi masyarakat. Banyak sedikitnya data riset tergantung pada kebutuhan responden dalam hal ini masyarakat yang menjadi sampel riset.
Jika berkaitan dengan penjualan maka data risetnya dapat berupa volume penjualan berdasarkan periode penjualan, volume penjualan berdasarkan daerah penjualan, atau volume penjualan berdasarkan salesnya. Oleh karena itu data riset sangat tergantung pada variabel yang diteliti.
7. Metode pengumpulan data
Untuk mengumpulkan data riset ada dua metode yaitu metode pengumpulan data kualitatif, dan metode pengumpulan data kuantitatif. (lstijanto, 2005)
a. Metode pengumpulan data kualitatif
Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data kualitatif antara lain wawancara, focus group dan teknik proyeksi.
Focus Group merupakan suatu bentuk pengumpulan data melalui diskusi kelompok dalam pemasaran. Di mana diskusi grup terfokus ini merupakan kelompok kecil yang terdiri dari 8-10 orang yang dipiIih untuk mendiskusikan topik tertentu tanpa menggunakan kuesioner yang terstruktur. Orang-orang yang terlibat dalam diskusi grup terfokus diharapkan memiliki pengetahuan atau kecakapan di bidangnya sehingga pandangannya benar-benar mampu memberikan masukan yang mendalam bagi manajer. Seperti halnya wawancara yang mampu memanfaatkan kemajuan teknologi, dalam diskusi grup terfokus ini dimungkinkan bahwa antar anggota tidak bertemu secara Iangsung dalam diskusi. Bentuk diskusi grup terfokus melalui diskusi interaktif dengan menggunakan Internet sudah mulai biasa diterapkan dalam riset sehingga bisa menghemat biaya yang dikeluarkan untuk tranportasi peserta dan biaya-biaya fasilitas.
Teknik proyeksi merupakan metode yang digunakan untuk memperoleh data dengan mendorong responden mengungkapkan perasaan, motivasi, sikap atau keyakinannya terhadap suatu topik pemasaran dengan pertanyaan tidak Iangsung dan tidak terstruktur (Istijanto, 2005). Pengertian tidak Iangsung disini berarti bahwa partisipan bebas memproyeksikan atau menyamaartikan apa saja yang muncul dalam pikiran atau perasaannya berkaitan dengan objek atau topik yang disampaikan peneliti.
b. Metode pengumpulan data kuantitatif
Pengumpulan data kuantitatif dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu survei, observasi dan eksperimen (Istijanto, 2005).
Survei merupakan metode yang digunakan secara luas, khususnya dalam riset pemasaran. Informasi dikumpulkan dengan menanyai orang melalui daftar pertanyaan yang terstruktu. Dengan survei, periset bertujuan memperoleh informasi seperti preferensi, sikap, atau pendapat responden yang diungkapkan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan. Survei bertujuan untuk meliputi banyak orang sehingga hasil survei dapat dipandang mewakili populasi atau merupakan generalisasi.Survei pada umurnnya melibatkan banyak responden, tergantung pada tujuan dan batasan riset.
sistematik. Dalam hal ini periset tidak berkomunikasi atau bertanya dengan orang atau objek yang sedang diobservasi sehingga orang yang sedang diobservasi tidak menyadari kalau mereka sedang diteliti. Hal ini dilakukan supaya objek yang diamati tidak mengubah perilakunya selama proses riset berjalan. Observasi dapat dilakukan dengan mengamati beberapa hal antara lain perilaku fisik, perilaku mengonsumsi, perubahan raut muka, objek. Metode observasi menawarkan keunggulan berupa perilaku yang nyata atau aktual dan orang yang diamati sehingga tidak terjadi manipulasi. Keunggulan ini bisa jadi tidak dimiliki oleh metode sebelumnya.
Eksperimen merupakan riset yang berusaha memanipulasi satu atau lebih variabel kausal, kemudian mengukur efek dan manipulasi tersebut terhadap satu atau Iebih variabel dependen. Eksperimen memungkinkan periset mengisolasi variabel lain di luar variabel kausal sehingga efek tersebut dinilai sebagal hasil perubahan variabel kausal yang digunakan dalam riset. Dengan melihat kondisi pada saat eksperimen dijalankan, eksperimen dapat dikategorikan menjadi dua jenis yaitu eksperimen laboratorium dan eksperimen lapangan. Eksperimen laboratorium dijalankan dalam keadaan yang tidak alami karena percobaan tidak dilakukan di pasar yang sesungguhnya, sedangkan eksperimen lapangan menggunakan kondisi yang riil.
8. Pengolahan data
Pada tahap ini, semua data riset yang telah diperoleh, kemudian dilakukan sortir data yaitu memilih data yang memenuhi persyaratan riset. Hal ini dilakukan karena ada kemungkinan data yang masuk, beberapa di antaranya bisa tidak memenuhi persyaratan riset yang tetah ditetapkan sebelumnya. Misalkan dibutuhkan 100 data, berarti kita harus mencari lebih dari 100 data.
lebih detail dalam perhitungannya. Pengolahan data dapat menggunakan program komputer SPSS atau program statistik lainnya.
9. Analisis data
Setelah dilakukan pengolahan data baik secara manual maupun komputerisasi, hasilnya merupakan output riset, di mana output tersebut harus dianalisis untuk mendapatkan gambaran hasil yang dicapai sebagai upaya memecahkan permasalahan riset. Dengan analisis data kita mengetahui apakah permasalahan riset dapat terpecahkan sesuai dengan harapan hipotesis riset atau tidak sesuai harapan hipotesis riset.
10. Kesimpulan dan saran
Bagian akhir dan prosedur riset adalah menarik kesimpulan dan saran berdasarkan hasil analisis data. Kesimpulan diambil murni dari hasil analisis data setelah dikaji melalui uji statistik dan atau nonstatistik (bersifat kualitatif). Apapun hasil analisis data dapat menjadi sumber pemecahan permasalahan dalam sebuah riset. Dalam riset juga perlu diberikan masukan berupa saran. Saran berisi langkah apa yang sebaiknya dilakukan untuk masa mendatang berdasarkan analisis data.
11. Penyampaian laporan riset
Setelah semua prosedur riset dilalui, dalam arti riset sudah selesai, langkah berikutnya disajikan dalam bentuk laporan riset yang disusun secara sistematik berdasarkan kaidah penulisan ilmiah, seperti prosedur riset pemasaran di atas. Dalam penyajian laporan riset, perlu juga diberikan argumentasi lainnnya agar lebih menarik seperti foto objek yang diteliti, bagan, tabel dan gambar-gambar lainnya yang berkaitan dengan riset (Sunyoto, 2012).
Sumber Data Riset Pasar
1. Data primer
Kata primer merupakan lawan kata dari sekunder, di mana artinya asli atau utama atau secara langsung dari sumbernya. Jadi pengertian data primer adalah data asli yang dikumpulkan oleh periset untuk menjawab masalah riset secara khusus. Dalam riset pemasaran, data primer diperoleh secara langsung dari sumbernya, sehingga periset merupakan tangan pertama yang memperoleh data tersebut.
Data primer dibedakan menjadi dua yaltu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif adalah data yang berupa karakteristik, kategori atau ciri khas suatu objek penelitian. Contoh data kualitatif adalah data dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin, jenjang pendidikan, daerah asal, jenis pekerjaafl. ika data kualitatif diterapkan pada benda, misatnya data tentang buah berarti dapat dikelompokkan menjadi ukuran besar, sedang, kecil, pada rasa buah menjadi manis dan tidak manis.
Data kuantitatif adalah data yang berupa angka-angka atau bilangan baik utuh (diskrit) maupun tidak utuh (kontinyu). Data kuantitatif jenis diskrit misalnya data mengenai jumlah konsumen, jumlah televisi, jumlah mobil, jumlah karyawan, jumlah penjual, jumlah baju dan sebagainya. Sedangkan data kuantitatif jenis kontinyu, misalnya ukuran berat badan atau berat dalam perdagangan, ukuran jarak, ukuran tinggi rendah, dan sebagainya.
2. Data sekunder
informasi mengenal segmen pasar yang menjadi target, keuntungan perusahaan secara periodik, dan sebagainya. Untuk itu data sekunder menjadi penting sebagai pemberi informasi yang mendukung suatu riset tertentu.
Ada beberapa pengertian data sekunder yang dapat menjadi rujukan untuk digunakan dalam suatu riset yaitu:
Data sekunder merupakan data publikasi yang dikumpulkan tidak hanya untuk keperluan satu riset tertentu saja.
Data sekunder merupakan data yang telah dikumpulkan oleh pihak lain, bukan oleh periset sendiri, untuk tujuan yang lain, hal ini mengandung arti bahwa periset hanya memantaatkan data yang sudah ada untuk risetnya. Data sekunder adalah data yang telah dikumpulkan oleh lembaga pengumpul
data dan dipublikasikan kepada masyarakat pengguna data.
Data sekunder mencakup informasi yang telah dikumpulkan dan hanya mungkin relevan dengan permasalahan yang ada.
Dari beberapa pengertian data sekunder di atas, data sekunder dapat dibagi menjadi data sekunder internal dan data sekunder eksternal.
a. Data sekunder internal
Data sekunder internal ini adalah merupakan data sekunder yang diperoleh dan dalam objek yang diteliti, misalnya objek riset sebuah perusahaan atau organisasi, berarti data sekunder internal tersedia di dalam perusahaan atau organisasi tersebut contohnya jumlah karyawan, laporan keuangan atau akuntansi, jumlah penjualan produk, catatan gaji atau upah yang diterima para karyawan, bagan struktur perusahaan (organisasi) dan lain-lain.
b. Data sekunder eksternal
telah dilakukan pengolahan data berdasarkan pengumpulan di waktu sebelumnya. Misalkan data di Badan Pusat Statistik, Semua data telah diolah dan ditampilkan ke dalam tabel-tabel berdasarkan kelompok atau karakteristik data, sehingga seorang periset tinggal memilih data yang mana yang diperlukan (Sunyoto, 2012).
c. Demografi dan Psikografi
MANAJEMEN INOVATIF DAN STRATEGIK 3.1.Manajemen Kepemimpinan yang Inovatif
Teori Kepemimpinan kontijensial atau situasional berpengaruh penting terhadap kinerja pemimpin yang Inovatif. Berikut hal-hal yang berkaitan terhadap Manajemen Kepemimpinan menurut Dr. Ir. Eddy Soeryanto Soegoto (2017:298) yang sinergi dengan jiwa Inovatif.
1. Hubungan pemimpin-bawahan. Teori ini menggambarkan dinamika hubungan antara pemimpin dan bawahan, yaitu sampai sejauh mana bawahan memiliki kepercayaan pada para pemimpin mereka, dan sebaliknya seberapa jauh para pemimpin dapat memikat dan dihormati sebagai sumber inspirasi bagi para bawahan.
2. Struktural tugas. Faktor ini berbicara tentang sifat pekerjaan dari para pekerja, apakah sifat pekerjaan itu rutin, monoton, membutuhkan kerja tim, dan sebagainya, sehingga dapat dikelola untuk mendapatkan output kerja maksimal dari para pekerja.
3. Posisi kekuasaan.Posisi kekuasaan disini adalah kekuatan atau kekuasaan kepemimpinan yang dimiliki dalam suatu organisasi. Suatu kepemimpinan dengan kewenangan pengambilan keputusan, dan sekaligus melaksanakan keputusan dengan kekuasaan penuh, pada dasarnya diperlukan untuk menangani dan mengelola masalah organisasi dengan yakin (Fiedler, 1996).
dalam memenuhi tujuan organisasi, diperlukan kendali untuk menjaga irama kegiatan dan hasil kerja mereka. Para pemimpin juga akan memberikan penghargaan terhadap para pekerja dengna memberikan sejumlah reward untuk disiplin dan prestasi yang mereka tunjukkan, guna memelihara dan meningkatkan semangat serta rasa percara diri terhadap kemampuan mereka dalam bekerja.
5. Teori gaya kepemimpinan. Teori ini menyoroti tentang keputusan berkualitas tinggi pada organisasi, yang disepakati oleh kedua belah pihak, baik para pekerja maupun pemimpin atau atasan. Dalam model ini gaya yang berbeda dimainkan oleh para pemimpin dalam membuat keputusan yang tepat. Teori ini juga menuntut para pemimpin untuk menemukan tingkat partisipasi para pekerja yang dapat menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan.
6. Teori kepemimpinan transformasional. Teori ini menjelaskan tentang perubahan yang dilakukan oleh para pemimpin dengan cara yang signifikan. Cara yang dimaksud adalah untuk merebut kepercayaan dari para pekerja terhadap para pemimpin. Diharapkan para pekerja dapat meningkatkan output mereka dengan melakukan aktivitas pekerjaan dengan cara yang
Kualitas kepemimpinan transformasional mencakup : Mampu bekerja sebagai agen perubahan.
Keberanian untuk mengambil langkah-langkah terobosan. Berusaha mempercayai kemampuan orang lain.
Memiliki nilai dan karakteristik. Mampu belajar dengan baik.
Memiliki model mental yang kuat untuk bekerja dalam situasi yang kompleks.
Memiliki visi yang jelas.
Terdapat lima kualitas umum yang perlu dimiliki oleh para pemimpin agar mereka dapat mewujudkan visi mereka, yakni :
a. Mampu merumuskan rencana dan/atau strategi untuk mencapai visi mereka.
b. Mampu mengomunikasikan visi mereka dalam rangka mensosialisasikan perubahan dan memperluas dukungan.
c. Menyelaraskan antara aspek manusia, dengan sistem pendukung dan visi organisasi untuk memberi keyakinan bahwa tidak akan ada rintangan prosedural dan struktural di tengah jalan dalam proses pencapaian misi tersebut. Begitu pula para pemimpin harus pandai menciptakan suatu suasana yang kondusif bagi para pekerja agar mereka dapat bekerja dengan penuh dedikasi dan motivasi, sehingga suatu visi semakin mudah diraih atau diwujudkan.
d. Mampu memberdayakan para pekerja agar tindakan mereka konsisten dengan visi yang telah dirumuskan, berpegang pada komitmen, dan membiarkan mereka bekerja dengan penuh percaya diri untuk menunjukkan output kerja yang maksimum.
e. Guna mencapai tujuan organisasi.
Dengan demikian, visi yang baik dan pendekatan inovatif dapat mendorong para pemimpin bekerja lebih efektif dalam menjalankan roda organisasi dan sekaligus mampu mengatasi segala permasalahannya. Akan tetapi, bukan itu semata, terdapat kualitas kepemimpinan lain yang dapat memainkan peran penting dalam menangani permasalahan organisasi. Dengan kata lain, terdapat kualifikasi penting lainnya dari faktor kepemimpinan yang diperlukan, yaitu di samping berani mengambil keputusan besar, juga berani untuk memulai melakukan proses perubahan organisasi. Selain dari itu, ada keterampilan yang harus dimiliki Kepemimpinan dalam bersikap sebagai aktor sekaligus manajemen dalam sebuah perusahaan, yakni :
a. Keterampilan Konseptual, yaitu membuat konsep, ide, dan gagasan demi kemajuan organisasi. Gagasan atau ide tersebut dijabarkan menjadi rencana kegiatan yang disebut proses perencanaan / rencana kerja. Termasuk juga memiliki visi yang jauh kedepan, misi yang jelas, program kerja yang real, strategi, dan terus menjaga nilai competitive advantage sebuah organisasi.
b. Keterampilan Komunikasi, yaitu keterampilan berinteraksi secara baik dengan banyak orang. Disebut juga keterampilan kemanusiaan. Kepada bawahan bersifat mengayomi, persuasif, dan bersahabat. Kepada rekan kerja saling menghormati. Kepada customer dan atasan bersifat melayani. Manajer berkomunikasi dengan baik kepada semua orang, menshare visinya, dan membuat semua orang menjadi tim sukses visi tersebut.
d. Keterampilan Manajemen Waktu. Seorang manajer digaji besar, setiap menit begitu berharga untuk perusahaan. Dia harus bisa mengalokasi waktu agar mendapat hasil yang optimal. Akan teruji dalam penyusunan waktu yang digunakan dalam melakukan sebuah project. Termasuk juga keterampilan untuk membuat skala prioritas.
e. Keterampilan membuat keputusan, termasuk juga kemampuan untuk mengidentifikasi masalah, memandangnya secara keseluruhan dan komprehensif (helicopter view), dan menentukan solusi terbaik untuk memecahkannya. Keputusan yang baik adalah yang tidak terburu2, namun adakalanya keputusan diperlukan dalam waktu yang singkat. Seiring dengan waktu dan pengalaman, manajer akan terbiasa menghadapi kondisi seperti ini.
f. Keterampilan Kepemimpinan. Program kerja, eksekusi, dan evaluasi diperlukan komitmen, ketegasan, dan keberanian. Karenanya manajer betul-betul harus menjadi pemimpin, dan tidak terlalu terpengaruh terhadap hal-hal yang tidak perlu. Manajer yang kuat akan menciptkan trust kepada lingkungannya, dan menumbuhkan teamwork yang solid.
3.2. Kepemimpinan dalam manajemen strategik
Manager Tingkat atas menjadi sumber daya penting yang perlu untuk memperoleh keunggulan bersaing yang berkesinambungan. Kemampuan manajerial yang lebih tinggi menjadi prasyarat untuk mendapatkan keuntungan seperti itu. Top Eksekutif melakukan pertimbangan matang dalam mengambil keputusan strategis yang sangat penting (misalnya menetukan inisiatif strategis baru). Selain itu, manajer mengembangkan struktur keorganisasian dan menghargai tinggi system aygn dirancang untuk membantu menerapkan strategi perusahaan itu.
Manager sebagai Sumber Daya Organisasi .Manager tingkat puncak merupakan sumber daya penting bagi perusahaan untuk berupaya mengembangkan keunggulan bersaing yang berkesinambungan. Tim Manajemen Puncak terdiri dari manajer – manajer kunci organisasi yang bertanggung jawab untuk merumuskan dan menerapkan strategi perusahaan. Umumnya manajer adalah pejabat korporasi dan atau anggota dalam dewan direktur. Manager menentukan arah strategis perusahaan perusahaan dan dengan demikian mempengaruhi daya saing strategis dan kemampuanya memperoleh keuntungan di atas rata-rata.
Posisi eksekutif puncak biasanya kompleks. Eksekutif tingkat atas harus memahami operasi perusahaan dan lingkungan eksternal. Jarang seorang manusia (misalnya CEO) dapat memiliki semua pengetahuan yang diperlukan dalam menyelesaikan isu isu strategis terpenting. Karena hal ini, tim manajemen puncak dituntut untuk memimpin banyak organisasi. Kebanyakan tim manajemen puncak lebih efektif kalau mempunyai berbagai kemapuan heterogen. Akan tetapi, tim manajemen puncak yang lebih heterogen sulit dikelola karena membutuhkan kohesi.
tim tersebut membawa perusahaan tersebut pada penerapan strategi yang berorientasi pada pertumbuhan.
Tim Managemen Puncak Heterogen terdiri dari individu-individu dengan latar belakang, pengalaman, dan pendidikan fungsional yang berbeda- beda. Karakteristik tim manajemen puncak ternyata berkaitan dengan inovasi dan perubahan strategis. Tim Manajemen puncak yang lebih heterogen sering lebih sanggup menghasilkan inovasi perusahaan dan perubahan strategis.
Bursa Tenaga kerja internal ialah kesempatan – kesempatan mendapatkan posisi manajerial dalam sebuah perusahaan. Bursa Tenaga Kerja Eksternal ialah kumpulan kesempatan karier manajer dalam perusahaan/organisasi di luar tempat mereka bekerja sekarang ini. Menentukan arah strategis perusahaan merujuk pada pengembangan pandangan jangka panjang tujuan strategis perusahaan. Bursa kerja manager sangat penting untuk tim manajemen puncak dan kepemimpinan strategis. Kepemimpinan strategis mencakup penentuan arah strategis, pemanfaatan dan pemeliharaan kompetensi inti, pengembangan modal manusia, pemeliharaan budaya korporat yang efektif, penekanan praktek-praktek etis, dan pembangunan pengendalian strategis. Penentuan arah strategis menuntut visi dan kemapuan menanamkanya ke suluruh perusahaan. Kompetensi inti merupakan sumber daya dan kemapuan yang berguna sebgai sumber keunggulan bersaing perusahaan terhadap pesaing-pesaingnya. Untuk mencapai pemilikan sumber daya yang lebih besar dan skala ekonomis dalam pemanfaatan sumber daya, pengembangan, eksploitasi, dan pemeliharaan kompetensi inti oleh pemimpin-pemimpin strategi menjadi penting dalam pengembangan keunggulan bersaing yang berkesinambungan.
menekankan kemampuan dan pemecahan masalah. Budaya Korporat bisa jadi penting untuk mengemabngkan dan mengelola perilaku manusia dalam organisasi. Manajer puncak dapat menanamkan organisasi dengan visi mereka dan dengan demikian mempengaruhi niali inti yang ditekankan di seluruh perusahaan itu. Budaya korporat yang tepat dapat menanamkan semangat kewirausahaan. Kepemimpinan Strategis mencakup pengembangan dan pemeliharaan pengendalian strategis. Kontrol strategis menekankan penyeimbangan antara evaluasi tindakan strategis dengan hasil keuangan dari tindakan seperti itu.
PERAN PIMPINAN DALAM MANAJEMEN STRATEGIK?
Seorang pemimpin sejatinya mengarahkan organisasi dalam memicu seluruh sumber daya menuju titik optimal untuk pencapaian tujuan organisasi. Tentu sumber-sumber daya yang tersedia dalam organisasi terbatas sementara tersedia berbagai pilihan-pilihan aktivitas dalam pencapaian tujuan. Sehingga untuk berhasil (mencapai tujuan), seorang pemimpin perlu strategi yang efektif. Kunci keberhasilan dan kesuksesan suatu oranisasi tergantung pada bagaimana sang pemimpin memaksimalkan sumber daya yang ada untuk memilih tindakan dan keputusan yang paling mendukung pencapaian tujuan. Budaya, struktur, sumber daya, proses bisnis menjadi faktor-faktor yang dipertimbangkan seorang pemimpin dalam menetapkan strategi dalam arena bisnisnya.
Young (2001) bahwa pemimpin besar menghabiskan waktu untuk berkomunikasi. Lebih jauh Deborah dan Susan menyatakan bahwa komunikasi hanyalah titik awal, pemimpin harus menindaklanjuti content komunikasi dengan tindakan dan keputusan-keputusan besar bagi tujuan organisasi (leaders lead by example). Dalam pencapaian tujuan organisasi idealnya seorang pemimpin akan fokus pada keberhasilan tujuan dengan memicu (drive) orang lain dan sumber-sumber daya organisasi lain bergerak ke arah yang diinginkan. Nilai kualitas ini dalam diri seorang pemimpin ini juga menjadi faktor pendorong keberhasilan melakukan manajemen strategi.
KESIMPULAN
4.1.Kesimpulan
Berdasarkan Pembahasan diatas dapat disimpulkan beberapa hal mengenai Pengaruh pola pikir kepemimpinan dalam riset marketing yang inovatif dan strategikal
1. Pola Pikir Kepemimpinan sangatlah penting bagi menstabilkan daya saing. 2. Riset marketing merupakan faktor utama keberhasilannya sebuah organisasi
secara objektif.
3. Kepemimpinan yang Inovatif adalah ciri keunggulan dari sebuah organisasi untuk tetap berkiprah dalam ranah persaingan bisnis.
4. Kepemimpinan yang mempunyai jiwa strategik adalah contoh pemimpin yang cerdas, militan, juga mempunyai ketegasan dalam keberanian mengambil sebuah keputusan.
4.2.Saran
Berdasarkan kesimpulan penelitian, maka penulis merekomendasikan berupa saran-saran sebagai berikut :
1. Kepemimpinan dengan pola pikir yang mengedepankan kenyamanan perusahaan lambat laun akan tergilas oleh waktu karena faktor zona nyaman adalah racun bagi kepemimpinan yang tidak ingin maju.