BAB 3 METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di RSUD KOTA DUMAI di bagian instalasi Radiologi yang dilaksanakan pada bulan Juni 2017 - Juli 2017.
3.2. Alat Dan Bahan Penelitian
3.2.1. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Pesawat Sinar X Simadzu MUX – 100 H manufacture 2010 2. Computer Radiografi Careastream
3. Phantom Siemens
4. Alat ukur ( Penggaris dan Rol Busurr ) 5. Densitometer
3.3. Flow Chart Penelitian
Adapun flow chart pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
Mulai
Pengaturan faktor geometri distorsi
1. ketebalan objek
2. posisi objek
analisa
hasil
Persiapan alat
3.4. Prosedur Penelitian
a. Mempersiapkan alat dan bahan penelitian b. Pengaturan Geometri yaitu :
a.Mengukur besar dan tebal objek yang sesungguhya b.Mengatur posisi objek
- Objek di letakkan di atas pada pertengahan kaset
- Objek di atur pada posisi kemiringan 0°,30°,45° dan 90° dengan OFD 0 cm ( menempel pada kaset )
- FFD di atur 100 cm, 130 cm, 150 cm, 200 cm
c.Lakukan expose pada semua sudut kemiringan objek dan jarak objek
d.Pengujian dan mengamati terjadi nya faktor geometri serta mengukur magnifikasi dan distorsi yang terjadi pada citra radiografi dengan menggunakan Computer radiografi
e.Pengujian dan mengukur densitas hasil citra radiografi dengan menggunakan alat densitometer.
3.5. Pengolahan Data Citra Radiografi
1. Pengolahan data
Data hasil pengukuran dimasukkan dalam tabel untuk masing-masing pengukuran adalah sebagai berikut:
1.Diameter Objek Pada FFD 100 cm pada posisi objek 0,30,45 dan 90 derajat dapat di lihat tada Tabel 1.
2.Diameter objek OFD 0 Derajat pada posisi FFD 100,130,150 dan 200 Cm dapat dilihat pada Table 2.
3.Densitas Citra Pada Radiogrfi dengan FFD 100 cm pada posisi objek 0 , 30 , 45 dan 90 derajat dapat dilihat pada Table 3.
2. Analisis
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
Dari penelitian yang telah dilakukan maka mendapatkan perbedaan diameter antara ukuran objek yang sebenar dengan citra yang di hasilkan pada film CR. Gambar pada film CR lebih kecil dari pada ukuran objek sebenarnya. Hasil dari pengukuran diameter yang dihasilkan adalah sebagai berikut :
4.1.1. Diameter Objek Pada jarak ( FFD ) 100 cm
FFD 100 cm dan OFD 0cm pada posisi ini Jarak antara titk focus terhadap film tetap dan jarak antara objet terhadap film juga tetap hanya posisi objeknya saja yang berubah:
1. Pada posisi phantom 0° dengan OFD 0 cm ketika dilakukan pada citra radiografi di temukan magnifikasi ada perbedaan antara ukuran objek sebenarnya dengan objek yang ada pada citra radiografi karena diameter objek pada film lebih besar dari objek Phantom walaupun phantom sudah di atur menempel pada kaset akan tetapi tetap terjadi adanya magnifikasi. Hal ini di karenakan adanya jarak antara permukaan kaset dengan IP. Namun magnifikasi tidak mempengaruhi kualitas gambar.
2. Pada posisi phantom 30° dengan OFD 0 cm pada citra radiografi di temukan distorsi. Karena diameter pada citra radiografi lebih besar dari ukuran objek yang sebenarnya.
Gambar 14. posisi phantom Pada 30° Gambar 15. Citra Radiografi pada 30°
3. Pada posisi phantom 45° dengan OFD 0pada citra radiografi di temukan distorsi. Karena pembesaran bayangan yang tidak merata pada diameter citra radiografi pada bagian lebarnya sangat jauh terjadi perubahan bayangan
Gambar 16. posisi phantom Pada 45° Gambar 17. Citra Radiografi pada 45°
pembesaran bayangan merata pada citra radiografi. Posisi ini sama halnya pada posisi 0°
Gambar 18. Posisi phantom Pada 90° Gambar 19. Citra Radiografi pada 90°
Pada langkah di atas di temukan distorsi pada posisi kemiringan 30 dan 45 derajat dan di temukan magnifikasi pada 0 dan 90 derajat. Adapun ukuran dari diameter pada tiap posisi phantom dapat dilihat pada table di bawah ini :
Tabel 1. Diatur posisi objek 0,30,45 dan 90 derajat dengan FFD 100 cm
Posisi Objek Diameter objek
Diameter Objek
pada film Distorsi Panjang Lebar Panjang Lebar Panjang Lebar 0° 245 mm 210 mm 258 mm 224 mm 13 mm 14 mm 30° 245 mm 180 mm 274 mm 212 mm 29 mm 24 mm
45° 245 mm 157 mm 289 mm 220 mm 44 mm 63 mm 90° 245 mm 156 mm 258 mm 130 mm 13 mm 10 mm
lebarnya berubah menjadi ketabalan objek, adapun ketebalan objek nya adalah 120 mm. Pada posisi 30 dan 45 derajat terjadi pembesaran bayangan yang tidak merata, pada posisi ini lebar dari citra radiografi jauh lebih besar terjadinya pembesaran bayangan daripada panjangnya.
4.1.2. Diameter objek OFD 0 Derajat
OFD 0 cm pada posisi ini Jarak antara titk focus terhadap film berubah dan jarak antara objek terhadap film dan posisi objeknya juga tetap:
1. Pada posisi phantom 0 cm dengan FFD 100 cm ketika dilakukan pengukuran pada citra radiografi di temukan magnifikasi. Karena diameter objek pada film lebih besar dari objek phantom walaupun phantom sudah di atur menempel pada kaset akan tetapi tetap terjadi adanya magnifikasi. Hal ini di karenakan adanya jarak antara permukaan kaset dengan IP.
Gambar 20. FFD 100 cm Gambar 21. Citra Radiografi dengan FFD 100 cm
akan tetapi diameter pada posisi ini menunjukkan ia tidak terlalu berbeda jauh dari diameter pada jarak FFD 100 cm
Gambar 22. FFD 130 cm Gambar 23. Citra Radiografi pada Denga n FFD 130 cm 3. Pada posisi phantom 0cm dengan FFD 150 cm pada citra radiografi masih di
temukan Magnifikasi.Karena diameter pada citra radiografi lebih kecil dari ukuran phantom akan tetapi diameter pada posisi ini menunjukkan bahwa ada perbedaan ukuran diameter sebelum nya yaitu pada jarak FFD 130 cm pada posisi ini masih terjadi magnifikasi semakin akan tetapi magnifikasi semakin berkurang.
4. Pada posisi phantom 0 cm dengan FFD 200 cm pada citra sudah terlihat jelas Magnifikasi semakin berkurang karena diameter pada citra semakin berkurang bila di bandingkan pada FFD 100cm
Gambar 26. FFD 200 cm Gambar 27. Citra Radiografi pada dengan FFD 200 cm
Pada langkah ini tidak di temukan distorsi akan tetapi pada jarak FFD 100,130,150 dan 200 cm di temukan magnifikasi. Adapun ukuran dari diameter pada tiap posisi phantom dapat dilihat pada table di bawah ini :
Tabel 2. Diatur FFD 100,130,150dan 200 Cm dengan OFD 0 Derajat
FFD Diameter objek
Diameter Objek
Pada film Magnifikasi Panjang Lebar Panjang Lebar Panjang Lebar 100 cm 245mm 210 mm 259 mm 225mm 14 mm 15 mm 130 cm 245mm 210 mm 255 mm 221 mm 10 mm 11 mm 150 cm 245mm 210 mm 253 mm 217 mm 8 mm 7 mm 200 cm 245mm 210 mm 251 mm 215 mm 6 mm 5 mm
pada diameter objek namun pada posisi FFD 130,150 dan 200 cm magnifikasi berkurang seperti yang di tampilkan pada table di atas, pembesaran bayangan merata pada panjang dan lebarnya hal ini dikatakan sebagai magnifikasi
4.1.3. Densitas Citra Radiogrfi
Mengukur densitas pada citra radiografi dengan menggunakan alat ukur densitometer. Adapun hasil dari pengukuran densitas pada citra radiografi di lampirkan pada table di bawah ini:
Dari hasil pengukuran setiap titik dengan perubahan posisi objekdiperoleh nilai rata rata seperti pada tabel dibawah ini :
Tabel 3. Hasil pengukuran densitas pada citra radiografi dengan FFD 100 cm
FFD Posisi Objek
Hasil Densitas Optik di 3 titik pengukuran pada citra
Radiografi Rata - Rata Densitas Kiri Atas Kanan
Pada Tabel 3. di atas menunjukkan bahwa setiap perubahan posisi objeknilai densitasnya berbeda, untuk pengukuran pada posisi0 sampai dengan 90 derajaddiperoleh nilai rata-rata densitas dibawah ini :
1. Pada posisi 0° dengan FFD 100 cm di peroleh nilai densitas rata rata yaitu 1,60 apabila di persentasekan maka akan mendapat kan nilai 54 % derajat kehitaman terhadap film
3. Pada posisi 45° dengan FFD 100 cm diperoleh nilai densitas rata rata yaitu 1,76 apabila di persentasekan maka akan mendapat kan nilai 58 % derajat kehitaman terhadap film
4. Pada posisi 90° dengan FFD 100 cm diperoleh nilai densitas rata rata yaitu 1,20 apabila di persentasekan maka akan mendapat kan nilai 40 % derajat kehitaman terhadap film.
Dari hasil di atas menunjukkan hubungan densitas di setiap posisi dan pada daerah pengukuran titik kiri atas dan kanan diperoleh nilai densitas yang berbeda beda pada posisi 30 dan 45 derajat nilai densitasnya lebih tingi dibandingkan pada posisi 0 dan 90 derajat. Hal ini di karenakan terjadinya perbedaan posisi sehingga menimbulkan jarak pada sudut tertentu yang artinya bahwa semakin besar terjadinya kemiringan objek maka semakin banyak terjadinya distorsi sehingga bisa mempengaruhi dari densitas pada film.
Tabel 4. Hasil Pengukuran Densitas pada citra radiografi dengan posisi objek 0º
OFD FFD
Hasil Densitas Optik di 3 titik pengukuran pada citra
Pada Tabel 4 diatas menunjukkan bahwa setiap perubahan posisi objek nilai densitasnya berbeda, untuk pengukuran pada posisi FFD 100 cm sampai dengan 200 cm diperoleh nilai rata rata densitas dibawah ini :
2. Pada FFD 130 cm dengan posisi 0° di peroleh nilai densitas rata rata yaitu 1,58 apabila di persentasekan maka akan mendapat kan nilai 53 % derajat kehitaman terhadap film
3. Pada FFD 150 cm dengan posisi 0° di peroleh nilai densitas rata rata yaitu 1,56 apabila di persentasekan maka akan mendapat kan nilai 52 % derajat kehitaman terhadap film
4. Pada FFD 200 cm dengan posisi 0° di peroleh nilai densitas rata rata yaitu 1,53 apabila di persentasekan maka akan mendapat kan nilai 51 % derajat kehitaman terhadap film.
Dari hasil di atas menunjukkan bahwa densitas di setiap posisi pada FFD 100,130,150, dan 200 cm berbeda beda. Pada daerah tersebut diperoleh nilai densitas lebih tinggi pada FFD 100 cm, dibandingkan pada FFD 200 cm yang artinya bahwa semakin jauh jarak antara titik focus dengan film maka semakin rendah nilai densitasnya yang akan terjadi pada film. Ini bisa dilihat pada tabel, dari FFD 100 cm sampai dengan FFD 200 cm nilai densitasnya semakin menurun.
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Dari data data yang di tampilkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa : 1. Ditemukan magnifikasi karena terdapat jarak antara permukaan kaset dan IP.
Akan tetapi magnifikasi dapat di kurangi dengan mengatur posisi objek benar benar sejajar
2. Posisi kemiringan objek mempengaruhi hasil citra sehingga posisi tidak sejajar dan semakin besar sudut objek terhadap bidang kaset maka semakin jelas distorsi terlihat dan Jarak antara titik focus dengan objek juga mempengaruhi terhadap citra semakin dekat titik focus terhadap objek maka akan semakin besar bayangan yag di hasilkan
5.2. Saran
1. Untuk menghindari terjadi distorsi maka perlu di perhatikan posisi objek sehingga bisa benar benar sejajar pada bidang kaset