Pengolahan Limbah Cair Rumah Potong Hewan (RPH) Menggunakan Reaktor Upflow Anaerobic Sludge Blanket (UASB)

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Limbah Cair

Menurut Metcalf dan Eddy (2003), limbah cair merupakan kombinasi dari cairan dan buangan cair yang dihasilkan dari kegiatan pemukiman, perkantoran dan industri yang kadang-kadang bercampur dengan air tanah, air permukaan atau air hujan. Menurut Tchobanoglous (1985), pencemaran air adalah hadirnya sejumlah kotoran dalam air yang bersifat merusak manfaat kegunaan air.

Sedangkan menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014, air limbah adalah sisa dari suatu usaha dan/atau kegiatan yang berwujud cair.

2.1.1 Karakteristik Limbah Cair

Menurut Tchobanoglous (1985), karakteristik limbah cair digolongkan menjadi tiga, yaitu:

1. Karakteristik fisik

Komponen yang paling besar dari limbah cair biasanya adalah padatan tersuspensi. Padatan tersuspensi merupakan senyawa organik utama di alam dan terdiri dari beberapa bahan yang tidak diinginkan dalam limbah. Sebagian besar padatan tersuspensi dalam limbah cair terbentuk dari sisa makanan, kertas dan kain. Limbah cair domestik dan industri juga mengandung berbagai macam bahan yang dapat membuat kekeruhan seperti sabun, detergen dan lainnya.

2. Karakteristik kimia

(2)

3. Karakteristik biologis

Bakteri, virus atau mikroorganisme yang bersifat patogen seperti escherichia coli

banyak terdapat didalam limbah cair domestik yang sistem pengumpul dan pengolahannya bergabung dengan kotoran manusia.

Limbah cair biasanya diklasifikasikan sebagai limbah cair industri atau limbah cair domestik. Air yang dikumpulkan dalam sistem limbah cair kota, yang dihasilkan dari berbagai macam penggunaan, berisi berbagai macam bahan pencemar (Tchobanoglous, 1985). Limbah cair domestik biasanya tidak serumit limbah cair industri, yang didalamnya mungkin terdapat senyawa beracun dan berbahaya tertentu seperti fenol dan organik toksik (Kiely, 1998).

Tabel 2.1 Nilai BOD5 Beberapa Jenis Industri

Jenis Industri Principal pollutants BOD5 range

(3)

Secara kuantitatif, komponen dalam limbah cair mungkin berbeda secara signifikan, tergantung pada persentase dan jenis limbah industri yang dihasilkan dan jumlah pengenceran dari infiltrasi ke dalam sistem pengumpul (Tchobanoglous, 1985). Tabel 2.2 menunjukkan nilai BOD5 untuk beberapa jenis industri.

2.1.2 Dampak Negatif Limbah Cair

Limbah cair yang dibuang langsung ke badan air tanpa pengolahan masih mengandung bahan organik yang tinggi dan akan diurai oleh bakteri dengan menggunakan oksigen. Penguraian ini dilakukan oleh bakteri aerob dengan menggunakan oksigen dari permukaan air pada daerah yang mengandung konsentrasi oksigen tinggi. Proses ini secara perlahan akan menjadikan kandungan oksigen di dalam air menipis sehingga bakteri anaerob mulai berkembang. Produk akhir dari aktifitas bakteri anaerob adalah hidrogen sulfida, metana dan amonia yang merupakan bahan toksik bagi kebanyakan organisme (Kiely, 1998). Dengan demikian, aktifitas aquatic akan terganggu dan merusak ekosistem didalam badan air.

Selain itu limbah cair yang langsung dibuang ke badan air dapat menyebabkan eutrofikasi, yaitu air diperkaya oleh bahan anorganik seperti nitrogen dan fosfor. Dampak terbesar eutrofikasi terhadap ekosistem aquatic adalah penurunan keanekaragaman spesies dan perubahan biota dominan, peningkatan kekeruhan, peningkatan jumlah sedimen dan kemungkinan terbentuk kondisi anoxic. Beberapa dampak eutrofikasi pada manusia adalah air yang berbahaya bagi kesehatan, pengolahan air yang semakin sulit serta menghasilkan rasa dan bau yang tidak diinginkan (Kiely, 1998).

2.2 Limbah Cair Rumah Potong Hewan

(4)

Tabel 2.2 Karakteristik Umum Limbah Cair RPH

(5)

Proses mikrobiologi pada pengolahan anaerob. Gujer dan Zehnder (1983) dalam Kiely (1998) mengatur proses anaerob menjadi tujuh subproses sebagai berikut:

 Hidrolisis partikel bahan organik yang kompleks

 Fermentasi asam amino dan gula

 Oksidasi anaerob asam lemak rantai panjang dan alkohol

 Oksidasi anaerob produk perantara

 Produksi asetat dari CO2 dan H2

 Konversi asetat menjadi metana oleh metanogen aceticlastic

 Produksi metana oleh metanogen hydrogenophillic menggunakan CO2 dan H2

Gambar 2.1 Proses Konversi Senyawa Organik Menjadi Metan (Sumber : Rittman, 2001)

Mikroorganisme yang terlibat dalam pengubahan senyawa organik kompleks menjadi metana dimulai dari bakteri yang menghidrolisis senyawa organik kompleks seperti karbohidrat, protein, dan lemak menjadi senyawa organik sederhana seperti karbohidrat, asam amino dan asam-asam lemak. Karbohidrat dan asam sederhana kemudian

(6)

digunakan oleh bakteri fermentasi untuk memperoleh energi dan tumbuh sehingga menghasilkan asam organik dan hidrogen. Sebagian asam organik dioksidasi oleh bakteri fermentasi lainnya dan menghasilkan hidrogen dan asam asetat. Hidrogen dan asam asetat merupakan substrat utama yang digunakan oleh bakteri metanogen dan mengubahnya menjadi metana (Rittman, 2001).

Menurut Tchobanoglous (1985), mikroorganisme pembentuk asam terdiri dari bakteri fakultatif dan anaerob. Bakteri ini merupakan organisme yang melarutkan bahan organik melalui hidrolisis. Sedangkan mikroorganisme pembentuk metana terdiri dari bakteri anaerob sempurna yang mengkonversi asam dan alkohol bersama dengan hidrogen dan karbon dioksida menjadi metana. Umumnya, 50-60% bahan organik di metabolisme dan kurang dari 10% yang dikonversi menjadi biomassa. Gambar 2.1 menunjukkan proses pengkonversian senyawa organik menjadi metana.

Menurut Metcalf dan Eddy (2003), jenis limbah dan karakteristiknya sangat penting dalam menentukan desain proses pengolahan limbah secara anaerob. Proses ini sangat cocok untuk konsentrasi COD tinggi seperti pada limbah industri makanan dan industri penyulingan minyak dengan konsentrasi COD 3.000 – 30.000 mg/l. Hal ini dikarenakan (1) tidak membutuhkan aerasi sehingga menghemat biaya energi (2) menghasilkan padatan dalam jumlah yang sedikit.

Untuk mendukung reaksi biologi agar dapat berlangsung secara optimal maka temperatur dalam reaktor anaerob harus dikondisikan sekitar 25-35˚C. Proses ini juga membutuhkan kondisi pH yang netral sehingga diperlukan penambahan alkali untuk menghasilkan pH netral (Asmadi dan Suharno, 2012). Dengan tingginya jumlah CO2

yang dihasilkan, membutuhkan alkali sekitar 2.000-4000 mg/l sebagai CaCO3 (Metcalf

dan Eddy, 2003).

(7)

jumlahnya berbeda-beda tergantung dari karakteristik limbah cair. Trace nutrien yang dibutuhkan diantarannya adalah besi, kobalt,nikel, dan seng. Dosis penambahan trace

metal per liter volume reaktor yang direkomendasikan adalah sekitar 1 mg FeCI2, 0,1

mg CoCI2, 0,1 mg Ni CI2, 0,1 ZnCI2 (Metcalf dan Eddy, 2003).

2.4 Reaktor UASB

Reaktor UASB dikembangkan oleh Lettinga, van Velsen, de Zeeuw dan Hobma (1979) yang telah diaplikasikan secara luas untuk pengolahan limbah cair industri dan beberapa pengolahan limbah domestik yang relatif encer. Sistem UASB pertama kali dikenalkan pada akhir tahun 1970 dan aplikasi skala penuh diperluas pada tahun 1980-an (Rittman, 2001).

Pada sistem UASB, influen masuk melalui bagian bawah reaktor dan berjalan ke arah atas melewati bed lumpur. Elemen penting dari desain reaktor UASB adalah sistem distribusi influen, gas-solid separator serta desain sistem pengeluaran efluen. Telah banyak modifikasi yang dilakukan pada sistem UASB diantaranya adalah penambahan tangki pengendap atau penggunaan bahan packing pada bagian atas reaktor. Kedua modifikasi tersebut dilakukan untuk memberikan sistem pengumpul padatan yang lebih baik dan untuk mencegah hilangnya sejumlah besar padatan dari reaktor akibat gangguan proses atau perubahan karakteristik dan densitas bed lumpur (Metcalf dan Eddy. 2003). Skema proses dalam reaktor UASB dapat dilihat pada Gambar 2.2.

(8)

Reaktor UASB mirip dengan reaktor clarigester dalam beberapa hal yang digunakan untuk pengolahan limbah cair anggur seperti yang dijelaskan oleh Stander (1996). Perbedaan utama dari reaktor Stander dan Lettinga adalah metode pemisahan lumpur dari aliran efluen. Reaktor Stander memiliki tangki pengendap berbentuk corong di bagian atas reaktor. Limbah cair dan sejumlah padatan tersuspensi keluar melalui lubang corong yang berada di tengah tangki pengendap, sehingga padatan menetap di tangki pengendap dan kembali ke reaktor melalui lubang yang sama. Gas yang diproduksi keluar melalui sisi sekitar corong.

Sedangkan sistem Lettinga menggunakan corong di bagian atas reaktor dengan posisi terbalik, sehingga limbah cair keluar melalui sisi tepi corong sedangkan gas keluar melalui lubang di tengah corong. Bagian tepi ini menyediakan area yang lebih besar untuk efluen sehingga kecepatan naik limbah sangat berkurang dan waktu tinggal lumpur menjadi lama. Karena itu, pemisahan padatan dari aliran efluen cenderung jauh lebih efisien pada sistem Lettinga.

Banyak sistem UASB yang telah berhasil digunakan dalam pengolahan limbah industri makanan serta industri kertas dan kimia. Beban substrat biasanya sekitar 4-15 kg COD/m3.hari. Karena sistem terkadang membentuk granul yang tidak mengendap, dapat dibuat pengendap terpisah untuk menjaga lumpur agar tidak keluar dari reaktor (Rittmann, 2001).

2.4.1 Proses Granulasi

Ciri utama dari proses UASB adalah pembentukan granul lumpur padat yang membuat sistem dapat digunakan untuk limbah cair dengan beban COD volumetrik tinggi. Hal ini merupakan sebuah keunggulan bila dibandingkan dengan proses anaerob lainnya. Proses pembentukan granulasi lumpur membuat konsentrasi padatan pada bagian bawah reaktor berkisar 50-100 g/L dan bagian atas bed lumpur 5-40 g/l. Partikel granul lumpur dapat berukuran 1.0-3.0 mm dan menghasilkan sifat penebalan lumpur yang sangat baik dengan nilai SVI kurang dari 20 ml/g. Dibutuhkan waktu beberapa bulan untuk mengembangkan granul lumpur.

(9)

sedangkan limbah cair yang kaya akan protein menjadikan proses granulasi lambat. Faktor lain yang mempengaruhi pembentukan granul adalah pH, kecepatan upflow dan penambahan nutrient. pH harus dipertahankan sekitar 7, rasio COD:N:P yang direkomendasikan selama proses start-up adalah 300:5:1 sedangkan rasio yang lebih rendah sekitar 600:5:1 dapat digunakan selama fase steady state. Pengontrolan kecepatan upflow yang cukup tinggi disarankan selama fase start-up sehingga dapat membuang lumpur yang tidak flokulen.

Keberadaan padatan tersuspensi lain didalam bed lumpur juga dapat menghambat densitas dan pembentukan granul lumpur. Proses pembentukan granul lumpur dapat berlangsung baik dengan beberapa keadaan, diantaranya kondisi pH yang netral, aliran hidrolik tersumbat, zona dengan tekanan parsial hidrogen yang tinggi, supply NH4-N

yang tidak terbatas dan jumlah asam amino sistein yang terbatas. Dengan konsentrasi hidrogen yang tinggi dan ketersediaan NH4-N yang cukup, bakteri dapat membentuk

granul dan menghasilkan asam amino lainnya, tetapi sintesisnya dibatasi oleh supply

sistein. Beberapa asam amino berlebih yang dihasilkan diperkirakan akan disekresikan untuk membentuk polipeptida ekstraseluler yang akhirnya akan mengikat mikroorganisme untuk membentuk flok granul (Metcalf dan Eddy, 2003).

2.4.2 Organic Loading Rate (OLR)

OLR merupakan parameter penting yang mempengaruhi ekologi mikroba dan karakteristik sistem UASB secara signifikan (Toorkian. et al, 2003). OLR mempengaruhi produksi metana dan volatile fatty acids dalam sistem UASB. Tingginya nilai OLR dapat menurunkan produksi metana dan washout pada sistem yang disebabkan karena bakteri acidogen terlalu aktif bekerja sehingga menurunkan pH di lingkungan reaktor dan menyebabkan bakteri metanogen tidak dapat bekerja. (Chaisri. et al, 2007). Organic Loading Rate sama dengan laju alir umpan dibagi volume reaktor dikali konsentrasi COD influen:

�� = � (2.2)

Dimana :

Q = kecepatan laju alir (m3/h) V = volume reaktor (m3)

(10)

Efisiensi penyisihan bahan organik dengan reaktor UASB mencapai 90-95% pada saat beban COD berkisar diantara 12-20 kg COD/m3.hari pada berbagai jenis limbah dengan suhu 30-35°C. Untuk limbah yang banyak mengandung VFA disarankan menggunakan beban yang lebih tinggi untuk mendapatkan granul lumpur yang lebih padat (Metcalf dan Eddy. 2003).

2.4.3 Hydraulic Retention Time (HRT)

HRT didefinisikan sebagai jumlah waktu penahanan air limbah dalam reaktor selama pengolahan dan dihitung dengan membagi volume reaktor dengan laju alir influen. Reaktor UASB memberikan efisiensi penyisihan COD yang tinggi dengan HRT yang sangat singkat (Yasar dan Tabinda, 2010)

HRT berhubungan langsung dengan kecepatan upflow dan berperan penting dalam menangkap padatan tersuspensi. Penurunan pada HRT akan meningkatkan kecepatan

upflow yang berdampak pada kurangnya waktu mengendap bagi biosolid dan akhirnya menurunkan kinerja reaktor UASB (Lu. et al, 2015). HRT yang sesuai dan kecepatan

upflow yang memadai akan memberikan waktu kontak yang cukup antara lumpur dan air limbah, mengurangi pembentukan gas, memisahkan biomassa dari gas dan meningkatkan efisiensi penyisihan bahan organik (Haandel dan Lettinga dalam Rizvi, 2014).

HRT yang cukup lama memberikan waktu kontak lebih lama antara lumpur dengan limbah cair, sehingga degradasi limbah menjadi lebih baik (Nugrahini. dkk dalam Hariz. dkk, 2012). Penyisihan COD meningkat seiring dengan lamanya waktu tinggal didalam reaktor (Lew. et al dalam Hariz. dkk, 2012).

2.4.4 Kecepatan Upflow (Vup)

(11)

kandungan bahan pencemar yang lebih tinggi, kecepatan upflow ditentukan oleh beban volumetrik COD.

Kecepatan upflow mempengaruhi sistem pengolahan dengan dua cara. Pertama, dapat meningkatkan kekuatan geser hidrolik yang memicu pada pemisahan flok granul dan mengakibatkan penurunan kinerja sistem. Kedua, dapat mempercepat tabrakan antara partikel tersuspensi dan lumpur (Alphenaar. dkk dalam Yasar dan Tabinda, 2010). Kecepatan upflow juga mempengaruhi karakter fisik dan aktivitas spesifik granul, terdapat korelasi antara kecepatan upflow dan ukuran butiran lumpur. Pengaruh kecepatan upflow lebih signifikan pada reaktor yang dioperasikan tanpa sistem gas-solid-liquid separator. Peningkatan pada kecepatan upflow mengakibatkan penurunan yang signifikan pada efisiensi penyisihan bahan organik sistem (Yasar dan Tabinda, 2010). Kecepatan upflow sama dengan laju alir umpan dibagi luas penampang reaktor :

�= (2.3)

Dimana :

v = desain kecepatan upflow (m/h) A = luas penampang reaktor (m2) Q = laju alir influen (m3/h)

2.4.5 Produksi Gas dan Gas-Liquid-Solid Separator (GLSS)

Pada industri yang menghasilkan limbah cair dengan nilai BOD tinggi akan menghasilkan gas yang tinggi, sedangkan pengolahan anaerob yang menggunakan limbah cair kota menghasilkan produksi gas yang relatif kecil. Secara teori, gas yang dihasilkan pada suhu 25°C dan 1 atm adalah 0.38 m3 per kilogram COD yang dihilangkan. Rata-rata biogas mengandung 70-80% metana. Pada konsep energi, 1 m3 biogas yang mengandung metana 75% sama dengan 1.4 kWh energi listrik. Hanya sebagian biogas yang terbentuk di reaktor yang dapat dimanfaatkan sebagai energi, sisanya tetap larut didalam limbah dan ikut keluar bersama efluen (Arceivala, 1998).

(12)

dalam reaktor melalui bagian bawah dan melewati bed lumpur (zona digestion) kemudian masuk ke zona pengendapan. Bagian reaktor yang diperbesar menyebabkan penurunan pada kecepatan upflow yang akan mempermudah pembentukan flok dari lumpur yang tersuspensi dan meningkatkan pengendapannya. Jumlah padatan yang terdapat pada separator fase yang miring secara bertahap akan meluncur kembali ke zona digestion dan membantu menguraikan bahan organik dari limbah cair yang masuk (Yasar dan Tabinda, 2010).

2.4.6 Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Rektor UASB

Beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi kinerja proses UASB adalah:

a. Temperatur

Temperatur merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi aktifitas enzim bakteri. Sistem enzim bakteri dipengaruhi secara langsung oleh suhu lingkungan. Enzim memiliki suhu minimal, optimal dan maksimal. Pada suhu optimal reaksi enzimatik berada pada kecepatan maksimum. Pada suhu dibawah minimal dan diatas maksimal enzim menjadi tidak aktif. Mikroorganisme tumbuh dalam rentang suhu dari sekitar 0°C sampai diatas 90°C dan dibagi menjadi tiga kelompok : a. psikrofil, yang mampu tumbuh pada kisaran suhu 0°C-5°C, b. mesofil, yang tumbuh diantara suhu 10°C -47°C dan c. termofil, yang tumbuh pada suhu tinggi (diatas 50°C) (Benson, 2002). Pengaruh suhu terhadap pertumbuhan bakteri mungkin tergantung pada konsentrasi bahan kimia lainnya. Pelarut seperti etanol dan butanol yang tergantung pada suhu memiliki pengaruh terhadap transportasi membran (Erickson, 1988).

b. pH

Konsentrasi ion hidrogen atau pH lingkungan memberikan pengaruh besar terhadap pertumbuhan mikroorganisme. Konsentrasi pH membatasi aktititas enzim yang mampu mensintesis protoplasma baru. Masing-masing organisme memiliki pH optimal yang membuatnya tumbuh dengan baik. Nilai dibawah pH minimal dan diatas pH maksimal akan menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Nilai tersebut berlaku hanya jika faktor-faktor lingkungan lainnya tetap konstan (Benson, 2002).

(13)

organik yang dihasilkan sebagai perantara selama dalam proses start-up dapat menyebabkan penurunan pH yang drastis dan menghentikan produksi metana. Proses

start-up merupakan proses lambat yang membutuhkan waktu berminggu atau berbulan, sehingga pH rendah harus sangat dihindari.

c. Bahan toksik

Banyak bahan yang menyebabkan toksik dalam proses pengolahan secara biologis. Ada dua alasan mengapa bahan toksik lebih berpengaruh pada pengolahan anarob daripada pengolahan aerob. Pertama, konsentrasi bahan organik yang diolah jauh lebih tinggi pada proses anaerob, dengan tingginya konsentrasi bahan organik dalam limbah cair, konsentrasi bahan lain seperti bahan toksik cenderung lebih tinggi juga. Kedua, laju pertumbuhan spesifik bakteri anaerob jauh lebih rendah (Rittman, 2001).

d. Nutrien

Semua pengolahan secara biologis membutuhkan trace nutrien untuk kesuksesan pertumbuhan mikroorganisme. Nutrisi anorganik yang paling utama untuk pertumbuhan mikroorganisme adalah nitrogen dan fosfor. Jumlah trace nutrien yang dibutuhkan dapat ditentukan melalui estimasi pertumbuhan mikroorganisme. Nitrogen mewakili sekitar 12% berat sel sedangkan fosfor sekitar 2%. Nitrogen harus dalam bentuk tereduksi (NH3 atau organik amino-nitrogen) untuk pengolahan anaerob (Rittman,

2001).

2.5 Kelebihan dan Kekurangan Reaktor UASB

Kelebihan pada proses UASB diantaranya adalah (Rittman, 2001 ) :

- Produksi lumpur yang sedikit, hanya sekitar 5-15% BODL yang dikonversi menjadi

lumpur.

- Menghasilkan metana sebagai produk akhir yang merupakan sumber energi yang dapat digunakan sebagai pemanas atau penghasil tenaga listrik. Nilai energi CH4

adalah 35.8 kJ/l pada keadaan STP.

(14)

- Sistem yang murah untuk aplikasi pengolahan limbah cair perkotaan langsung, dapat diterapkan pada skala kecil dimana variasi aliran limbah cair yang tinggi tergantung musim hujan atau peningkatan penduduk selama masa liburan (Rizvi. et al, 2014)

Kekurangan pada proses UASB adalah :

- Laju pertumbuhan mikroorganisme yang rendah. Rendahnya energi yang tersedia untuk sintesa biologis membuat bakteri yang dihasilkan lebih sedikit dan laju pertumbuhan yang lambat, terutama untuk beberapa bakteri penghasil metana yang membutuhkan waktu dua kali lipat lebih lama dalam sehari. Hl ini membuat waktu yang dibutuhkan untuk memulai proses lebih lama jika didalam benih lumpur hanya terdapat sedikit biomassa.

- Menghasilkan bau. Kekurangan pada proses ini sering menghasilkan sulfida yang berasal dari reduksi sulfat dan dekomposisi limbah cair yang mengandung protein. Sulfida bersifat toksik dan korosif, dan gas H2S memiliki bau yang kuat dan

membuat tidak nyaman.

- Membutuhkan penyangga yang tinggi untuk kontrol pH. kontrol pH pada proses ini sangat penting, seperti yang diinginkan bakteri metanogen umumnya antara 6.5-7.5. Asam-asam organik dihasilkan sebagai perantara dalam proses, serta asam karbonat yang berhubungan dengan tingginya konsentrasi karbon dioksida yang dihasilkan, cenderung menurunkan pH reaktor.

- Efisiensi penyisihan yang rendah pada limbah encer. Proses ini memiliki efisiensi penyisihan yang rendah ketika mengolah limbah cair dengan COD 1000 mg/l atau lebih rendah.

2.6 Regresi Linear

Pengertian regresi secara umum adalah sebuah alat statistik yang memberikan penjelasan tentang pola hubungan (model) antara dua variabel atau lebih. Dalam analisis regresi dikenal 2 jenis variabel yaitu:

(15)

2. Variabel Prediktor disebut juga dengan variabel independen yaitu variabel yang bebas (tidak dipengaruhi oleh variabel lainnya) dan dinotasikan dengan X.

Untuk mempelajari hubungan-hubungan antara variabel bebas maka regresi linear terdiri dari dua bentuk, yaitu:

1. Analisis regresi sederhana (simple analysis regresi) 2. Analisis regresi berganda (multiple analysis regresi)

Analisis regresi sederhana merupakan hubungan antara dua variabel yaitu variabel independen (bebas) dan variabel dependen (tak bebas). Analisis ini digunakan untuk mendapatkan hubungan matematis dalam bentuk suatu persamaan antara variabel tak bebas tunggal dengan variabel bebas tunggal. Regresi linear sederhana hanya memiliki satu peubah X yang dihubungkan dengan satu peubah tidak bebas Y. Tujuan utama regresi adalah untuk membuat perkiraan nilai suatu variabel (dependen) jika nilai variabel lain yang berhubungan dengannya sudah ditentukan (Damanhuri, 1995).

2.7 Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan (PD RPH) Medan 2.7.1 Gambaran Umum

Rumah Potong Hewan adalah suatu bangunan atau kompleks bangunan dengan desain dan konstruksi khusus yang memenuhi persyaratan teknis dan higienis tertentu serta digunakan sebagai tempat pemotongan hewan yang meliputi pemotongan hewan, pembersihan lantai tempat pemotongan, pembersihan kandang penampungan, pembersihan kandang isolasi, dan/atau pembersihan isi perut dan air sisa perendaman (Permen LH no.5 Tahun 2014).

(16)

Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan (PD RPH) Kota Medan terletak di Jl. Rumah Potong Hewan Kelurahan Mabar Hilir Kecamatan Medan Deli Kota Medan (Gambar 4.1). PD RPH Medan memiliki beberapa sarana yang diantaranya terdiri dari ruang pemotongan sapi/kerbau dengan cara hidrolik, ruang pemotongan sapi/kerbau dengan cara ditembak, ruang pemotongan kambing/domba, ruang pemotongan babi, dua kandang sapi/kerbau sebelum dipotong, kandang kambing/domba sebelum dipotong, kandang babi sebelum dipotong, ruang kantor dan administrasi serta sarana instalasi (Roniadi, 2013).

2.7.2 Sistem Pengolahan Limbah Cair

(17)

Figur

Tabel 2.1 Nilai BOD5 Beberapa Jenis Industri

Tabel 2.1

Nilai BOD5 Beberapa Jenis Industri p.2
Tabel 2.2 Karakteristik Umum Limbah Cair RPH

Tabel 2.2

Karakteristik Umum Limbah Cair RPH p.4
Gambar 2.1 Proses Konversi Senyawa Organik Menjadi Metan

Gambar 2.1

Proses Konversi Senyawa Organik Menjadi Metan p.5
Gambar 2.2 Skema Proses Reaktor UASB

Gambar 2.2

Skema Proses Reaktor UASB p.7
Gambar 2.3 Skema Jaringan Pengolahan Limbah Cair PD RPH Medan

Gambar 2.3

Skema Jaringan Pengolahan Limbah Cair PD RPH Medan p.17

Referensi

Memperbarui...