• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH FEE BASED INCOME TERHADAP PROFITABILITAS PADA PT BNI SYARIAH PERIODE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH FEE BASED INCOME TERHADAP PROFITABILITAS PADA PT BNI SYARIAH PERIODE"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH FEE BASED INCOME

TERHADAP PROFITABILITAS

PADA PT BNI SYARIAH PERIODE 2013-2018

SKRIPSI

Ditulis Sebagai Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (SE) Jurusan Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

Oleh:

Whinda Suci Amelia NIM 15 301 100 154

JURUSAN PERBANKAN SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BATUSANGKAR

(2)
(3)
(4)
(5)

ABSTRAK

Whinda Suci Amelia. NIM 15301100154. Judul Skripsi: “Pengaruh Fee Based Income terhadap Profitabilitas pada PT BNI Syariah periode 2013-2018”. Jurusan Perbankan Syariah Institut Agama Islam Negeri Batusangkar, 2019.

Pokok permasalahan dalam skripsi ini adalah perubahan kenaikan dan penurunan pada fee based income yang tidak sejalan dengan perubahan kenaikan dan penurunan profitabilitas dalam periode yang sama pada PT BNI Syariah. Tujuan pembahasan ini untuk mengetahui apakah fee based income berpengaruh terhadap profitabilitas dan seberapa besar pengaruh fee based income terhadap profitabilitas pada PT BNI Syariah periode 2013-2018.

Jenis penelitian yang penulis gunakan adalah menggunakan metode kuantitatif. Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah melalui dokumentasi yaitu dengan menggunakan laporan fee based income dan laporan profitabilitas pada PT BNI Syariah periode 2013-2018. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan aplikasi SPSS 22.0 kemudian penulis paparkan melalui kalimat yang efektif.

Dari pengolahan data yang penulis lakukan disimpulkan bahwa fee based income pada PT BNI Syariah periode 2013-2018 tidak berpengaruh secara signifikan terhadap profitabilitas, dimana dari perhitungannya perubahan pada fee based income hanya memberikan pengaruh sebesar 1,1% terhadap profitabilitas.

(6)

i

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN PENGESAHAN TIM PENGUJI PERSETUJUAN PEMBIMBING ABSTRAK

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR GAMBAR ... vi

BAB I PENDAHULUAN ………... 1

A. Latar Belakang Masalah………...… 1

B. Identifikasi Masalah ………... 5

C. Rumusan Masalah ………... 6

D. Tujuan Penelitian ………. 6

E. Manfaat dan Luaran Penelitian ……….. 6

F. Defenisi Operasional ………..…. 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA ……….………... 8

A. Kajian Teori ……….……… 8

1. Lembaga Keuangan ... 8

2. Bank Syariah ... 10

3. Fee Based Income ... 20

4. Profitabilitas ... 41

B. Kajian Penelitian yang Relevan………...……... 46

C. Kerangka berfikir ………. 47

D. Hipotesis ………...…... 47

(7)

ii

A. Jenis Penelitian ………. 49

B. Tempat dan Waktu Penelitian ………... 49

C. Sumber data ………..… 50

D. Teknik Pengumpulan Data ……….. 50

E. Teknik Analisis Data ……… 50

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 55

A. Gambaran Singkat Objek Penelitian ... 55

1. Profil PT BNI Syariah ... 55

2. Visi, Misi dan Budaya Kerja PT BNI Syariah ... 59

3. Produk dan Layanan PT BNI Syariah ... 60

B. Analisis Data ... 68

1. Uji Asumsi Klasik ... 68

2. Uji Hipotesis ... 73 C. Pembahasan ... 76 BAB V PENUTUP ... 78 A. Kesimpulan ... 78 B. Implikasi Penelitian ………. 78 C. Saran... 79 DAFTAR KEPUSTAKAAN LAMPIRAN DAFTAR TABEL

(8)

iii

Tabel 1.1 Laporan Fee Based Income periode 2013-2018 ... 4

Tabel 1.2 Laporan Profitabilitas periode 2013-2018 ... 4

Tabel 3.1 Tabel Waktu Penelitian ... 49

Tabel 4.1 Hasil Uji Normalitas ... 69

Tabel 4.2 Hasil Uji Autokorelasi ... 70

Tabel 4.3 Hasil Uji Multikolinieritas ... 71

Tabel 4.4 Analisis Regresi Linier Sederhana ... 74

Tabel 4.5 Uji Rsquare ... 76

(9)

iv

(10)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Lembaga Keuangan merupakan bagian dari sistem keuangan dalam ekonomi modern yang melayani pemakai jasa keuangan. Lembaga keuangan di Indonesia dibedakan menjadi dua bentuk yakni, Lembaga Keuangan Bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank. Bank dapat menyalurkan dana untuk tujuan modal kerja, investasi, konsumsi, sedangkan lembaga keuangan bukan bank hanya untuk tujuan investasi. Lembaga keuangan bank terdiri atas Bank Umum dan BPR. Sedangkan jenis lembaga keuangan bukan bank berupa perusahaan sewa guna usaha, perusahaan modal ventura, perusahaan jasa anjak piutang usaha asuransi, dana pensiun, pegadaian, pasar modal, dan lain-lain (Sumar’in, 2012: 35).

Menurut UU Perbankan No. 10 tahun 1998 yang dimaksud dengan Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya ke masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Bank menghimpun dana masyarakat, kemudian menyalurkan dananya kepada masyarakat dengan tujuan bahwa dengan adanya intermediasi ini, maka bank dapat mendorong peningkatan taraf hidup rakyat banyak. Dengan menyalurkan dana kepada masyarakat yang sedang membutuhkan melalui pemberian kredit, misalnya kepada masyarakat bisnis, maka secara tidak langsung akan memberikan pengaruh positif dalam peningkatan ekonomi masyarakat banyak (Ismail, 2011: 30).

Perbankan Islam sebagai bank yang bebas bunga dalam menjual produk-produknya mendapatkan pendapatan berupa bagi hasil, margin, biaya administrasi dan fee. Bagi hasil merupakan pendapatan bank dari pembiayaan

(11)

mudharabah dan musyaraqah yang digulirkan kepada nasabah, margin merupakan pendapatan bank dari pembiayaan yang didasarkan pada akad jual beli (murabahah, salam, dan istishna), sedangkan fee dan biaya administrasi merupakan pendapatan bank dari sektor jasa.

Pelayanan jasa yang dapat diberikan oleh bank syariah dengan berbagai produk jasa bank dan dibagi sesuai dengan akadnya antara lain, wakalah, kafalah, hawalah, rahn, qard dan sharf. Dalam pelayanan jasa, bank syariah menerima pendapatan dalam bentuk fee based income (Ismail, 2011: 193).

Fee based income adalah keuntungan yang di dapat dari transaksi yang diberikan dalam jasa-jasa bank lainnya. Ada beberapa contoh jasa perbankan yang menghasilkan fee based income yaitu transfer, inkaso, letter of credit, safe deposit box, credit card, dana pembayaran rekening titipan (payment point), garansi bank, jual beli atau perdagangan valuta asing, commercial paper dan traveller’s check.

Secara definitif pengertian untuk istilah fee based income adalah pemberian jasa pelayanan bank dengan imbalan yang diperoleh bank. Meskipun kontribusi fee basd income dalam pendapatan bank pada saat ini masih belum cukup berarti, akan tetapi perlu dikembangkan mengingat fee based income mempunyai karakter yang berbeda dengan pendapatan bunga. Selain itu fee based income dapat dipertimbangkan sebagai salah satu bentuk diversifikasi usaha bank dalam memperoleh laba dan akan membuat bank akan tergolong sehat (Massie, 2014: 14).

Fee based income ini merupakan salah satu sektor pendapatan yang saat ini dikembangkan oleh bank-bank syariah. Berbagai produk baru dikeluarkan oleh bank dengan terlebih dahulu pihak bank meminta fatwa kepada DSN, kemudian juga diperlukan izin dari Bank Indonesia sebagai pemegang otoritas perbankan di Indonesia.

(12)

Melalui metode rekayasa keuangan Islami (Islamic financial engineering method) ternyata dapat menghasilkan berbagai akad yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dibidang keuangan yang sesuai dengan prinsip syariah (Anshori, 2007: 145).

Tujuan dari kegiatan operasional bank adalah mencapai keuntungan (Profitabilitas) yang optimal. Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba yang dimana melalui profitabilitas ini perusahaan dapat mengetahui laba yang akan dihasilkan baik hari ini dan prediksi masa akan datang. Profitabilitas adalah ukuran spesifikasi dari performance sebuah bank, dimana profitabilitas merupakan tujuan dari manajemen perusahaan dengan memaksimalkan nilai dari pemegang saham, optimalisasi dari berbagai tingkat return, dan minimalisasi resiko yang ada. Pofitabilitas perusahaan sangat ditentukan oleh faktor internal dan eksternal perusahaan, diantaranya adalah kemampuan manajemen, kompetensi karyawan, asset ang digunakan, hambatan pasar, persaingan pasar, dan lain sebagainya. Profitabilitas dapat diukur salah satunya dengan menggunakan rasio Return On Assets (ROA) (Winarno, 2015: 143).

Pengaruh fee based income terhadap ROA dinyatakan bahwa, semakin tinggi fee based income, maka akan menghasilkan kinerja keuangan yang baik juga. Selain itu, juga dikemukakan bahwa hubungan pengaruh fee based income terhadap ROA yaitu, fee based income mempunyai pengaruh terhadap ROA, yang mana peningkatan fee based income akan dapat meningkatkan perolehan laba (Rori, 2017: 244).

Dari penjabaran diatas dapat penulis simpulkan bahwa tujuan didirikannya sebuah perusahaan khususnya bank, adalah untuk mendapat keuntungan, dan keuntungan tersebut dapat diperoleh salah satunya dari pendapatan berupa pemberian jasa. Oleh karena itu, semakin besar pendapatan jasa (fee based income) yang diperoleh oleh suatu bank, maka semakin besar pula laba (profitabilitas) yang diperoleh oleh bank tersebut.

(13)

Berikut ini adalah tabel yang berisi data mengenai pendapatan jasa yang diberikan bank atau fee based income dan juga profitabilitas (ROA) yang terdapat pada PT BNI Syariah periode 2013-2018.

Tabel 1.1

Laporan fee based income

pada PT BNI Syariah periode 2013-2018 (dalam jutaan rupiah) Periode Nominal Persentase Naik / Turun

2013 270.848 22,63% - 2014 139.934 11,69% (10,94%) 2015 137.828 11,52% (0,18%) 2016 159.368 13,32% 1,80% 2017 213.870 17,87% 4,55% 2018 274.975 22,98% 5,11% Tabel 1.2

Laporan Profitabilitas (ROA) pada PT BNI Syariah periode 2013-2018

Periode ROA Naik / Turun

2013 1,37% - 2014 1,27% (0,1%) 2015 1,43% 0,16% 2016 1,44% 0,01% 2017 1,31% (0,13%) 2018 1,42% 0,11%

Sumber : Laporan Keuangan PT BNI Syariah periode 2013-2018, diakses melaluihttp://www.bnisyariah.co.id/id-id/perusahaan/hubunganinvestor/laporan presentasi/laporankeuangantriwulan.pdf(diolah).

(14)

Dari data tersebut dapat dilihat kenaikan dan penurunan fee based income dan juga ROA yang terjadi pada PT BNI Syariah selama 6 tahun terakhir. Yang mana pada periode tahun 2014 bank mengalami penurunan fee based income yang cukup besar yaitu sebesar 10,94% dan diikuti dengan penurunan ROA yang sangat kecil yaitu 0,01%, lalu pada Juni tahun 2015 fee based income mengalami penurunan yaitu 0,18%, namun ROA justru mengalami kenaikan yaitu 0,16% sedangkan 2017 fee based income mengalami kenaikan sebesar 4,55% namun ROA justru mengalami penurunan yaitu sebesar 0,13%. Pada periode Desember 2018 fee based income mengalami kenaikan 5,11% dan ROA mengalami kenaikan sebesar 0,11%.

Dari data diatas penulis melihat adanya kesenjangan antara teori dengan data laporan keuangan mengenai perubahan fee based income dengan profitabilitas (ROA) yang terjadi pada PT BNI Syariah enam tahun terakhir.

Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengangkat permasalahan tersebut menjadi sebuah skripsi yang berjudul “Pengaruh fee based income terhadap profitabilitas pada PT BNI Syariah periode 2013-2018”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis mengidentifikasi masalah yang terdapat dalam penelitian ini yaitu, adanya perubahan kenaikan dan penurunan pada fee based income setiap tahun, namun perubahan tersebut tidak sejalan dengan kenaikan dan penurunan yang terdapat pada profitabilitas (ROA) pada tahun tersebut.

(15)

C. Rumusan Masalah

Dari identifikasi masalah tersebut, penulis merumuskan masalah yang akan diteliti pada skripsi ini yaitu:

1. Apakah fee based income berpengaruh terhadap profitabilitas (ROA) pada PT BNI Syariah periode 2013-2018?

2. Berapa besar pengaruh fee base income terhadap profitabilitas (ROA) pada PT BNI Syariah periode 2013-2018?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui apakah Fee Based Income berpengaruh terhadap profitabilitas (ROA) pada PT BNI Syariah periode 2013-2018.

2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Fee Based Income terhadap profitabilitas (ROA) pada PT BNI Syariah periode 2013-2018.

E. Manfaat dan Luaran Penelitian

Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi peneliti sendiri dan juga untuk mahasiswa/i fakultas ekonomi khususnya untuk dapat dijadikan referensi atau bahan perbandingan yang berguna untuk membantu proses belajar maupun untuk penulisan karya ilmiah yang relevan dengan penelitian ini.

Adapun luaran dari penelitian ini diharapkan bisa diterbitkan pada jurnal ilmiah, dan dapat diseminasikan pada forum seminar nasional atau internasional.

(16)

F. Defenisi Operasional

Fee based income (pendapatan non margin atau bagi hasil) adalah pendapatan provisi, fee, atau komisi yang diterima bank dari pemasaran produk maupun transaksi jasa perbankan yang dibebankan kepada nasabah sehubungan dengan produk atau jasa yang dinikmatinya (Tanjung, 2018: 251).

Profitabilitas adalah sebuah rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan, dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya (Hantono, 2018 : 4). Adapun rasio yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan ROA (Return On Assets).

Berdasarkan defenisi diatas maksud dari penelitian ini adalah, suatu penelitian ilmiah mengenai kegiatan Bank Umum Syariah yang menghasilkan pendapatan yang diperoleh dari jasa-jasa bank, selain kegiatan penghimpunan dan penyaluran dana, yang dapat mempengaruhi laba atau profitabilitas dari bank tersebut yang dalam hal ini dilihat dengan menggunakan ROA.

(17)

8 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

E. Kajian Teori

1. Lembaga Keuangan

Istilah lembaga keuangan merupakan padanan dari istilah bahasa inggris financial institution. Sebagai badan usaha, lembaga keuangan menjalankan kegiatan usahanya di bidang jasa keuangan, baik penyediaan dana untuk membiayai usaha produktif dan kebutuhan konsumtif, maupun jasa keuangan bukan pembiayaan.

Lembaga keuangan adalah setiap perusahaan yang bergerak di bidang keuangan, menghimpun dana, menyalurkan dana atau kedua-duanya. Artinya kegiatan yang dilakukan oleh lembaga keuangan selalu berkaitan dengan bidang keuangan, apakah kegiatannya hanya menghimpun dana atau hanya menyalurkan dana atau kedua-duanya menghimpun dan menyalurkan dana (Kasmir, 2012: 2).

Menurut Andri Soemitra, lembaga keuangan adalah setiap perusahaan yang kegiatan usahanya berkaitan dengan bidang keuangan. Kegiatan lembaga keuangan dapat berupa menghimpun dana dan menawarkan berbagai skema, menyalurkan dana dengan berbagai skema atau melakukan kegiatan menghimpun dana dan menyalurkan dana sekaligus, dimana kegiatan usaha lembaga keuangan diperuntukkan bagi investasi perusahaan, kegiatan konsumsi, dan kegiatan distribusi barang dan jasa (Soemitra, 2009: 29).

Berdasarkan defenisi yang dipaparkan diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa lembaga keuangan merupakan lembaga yang kegiatan operasionalnya berkaitan dengan penghimpunan dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali ke beberapa sektor baik berupa perorangan maupun perusahaan untuk menggerakkan roda perekonomian.

(18)

Menurut Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 792 Tahun 1990, lembaga keuangan diberikan batasan sebagai semua badan yang kegiatannya bidang keuangan, melakukan penghimpunan dan menyalurkannya kepada masyarakat guna membiayai investasi perusahaan. Meski dalam peraturan tersebut lembaga keuangan diutamakan untuk membiayai investasi perusahaan, namun peraturan tersebut tidak berarti membatasi kegiatan pembiayaan lembaga keuangan hanya untuk investasi perusahaan, kegiatan konsumsi, dan kegiatan distribusi barang dan jasa. Mengingat kegiatan utama dari lembaga keungan adalah menghimpun dan menyalurkan dana, maka perbedaan antara bank dan lembaga keuangan bukan bank dapat dilihat melali kegiatan utama mereka tersebut (Sumar’in, 2012: 35).

Secara umum lembaga keuangan berperan sebagai lembaga intermediasi keuangan, intermediasi merupakan proses penyerapan dana dari unit surplus ekonomi, baik sektor usaha, lembaga pemerintah maupun individu (rumah tangga) untuk menyediakan dana bagi unit ekonomi lain. Intermediasi keuangan merupakan kegiatan pengalihan dana dari unit ekonomi surplus ke unit ekonomi defisit (Rivai, 2009: 53).

Fungsi lembaga keuangan bisa ditinjau dari empat aspek, yaitu dari sisi jasa-jasa penyedia finansial, kedudukannya dalam sistem perbankan, sistem finansial dan sistem moneter. Keempat fungsi tersebut yaitu:

a. Ditinjau dari sisi jasa-jasa penyedia finansial 1) Fungsi tabungan

2) Fungsi penyimpan kekayaan 3) Fungsi transmutasi kekayaan 4) Fungsi likuiditas

5) Fungsi pembiayaan 6) Fungsi pembayaran 7) Fungsi diversifikasi resiko

(19)

8) Fungsi manajemen portofolio 9) Fungsi kebijakan

b. Ditinjau dari kedudukannya dalam sistem perbankan, yaitu sebagai bagian yang terintegrasi dari unit-unit yang diberi kuasa atau kewenangan dalam mengeluarkan uang giral dan deposito.

c. Ditinjau dari sisi kedudukan lembaga keuangan dalam sistem moneter yaitu lembaga keuangan berfungsi untuk menciptakan uang, tujuan kebijakan moneter Islam tidak berbeda dengan tujuan kebijakan moneter konvensional, yaitu menjaga stabilitas mata uang sehingga petumbuhan ekonomi dapat dicapai.

d. Ditinjau dari sisi kedudukan lembaga keuangan dalam sistem finansial, lembaga keuangan berfungsi sebagai bagian dari jaringan yang terintegrasi dari seluruh lembaga keuangan yang ada (Soemitra, 2009: 31-34).

Bila lembaga keuangan disandarkan kepada syariah, maka menjadi lembaga keuangan syariah. Lembaga keuangan syariah adalah suatu perusahaan yang usahanya bergerak di bidang jasa keuangan yang berlandaskan prinsip-prinsip syariah. Pinsip-prinsip syariah yaitu prinsip yang menghilangkan unsur-unsur yang dilarang dalam Islam, kemudian menggantinya dengan akad-akad tradisional Islam atauyang lazim disebut dengan prinsip syariah. Atau lemabag keuangan syariah merupakan sistem norma yang didasarkan ajaran Islam (Mardani, 2015: 1).

2. Bank Syariah

Menurut Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 tentang perbankan, bank disebut sebagai badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat.

(20)

Perbankan menurut jenis operasionalnya terbagi menjadi dua yaitu bank konvensional yang dalam opersionalnya menerapkan metode bunga dan bank syariah yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam

Prinsip-prinsip tersebut melarang bank syariah melakukan kegiatan yang mengandung unsur-unsur seperti: (Mawaddah, 2015: 243).

a. Riba, yaitu penambahan pendapatan secara tidak sah antara lain dalam transaksi pertukaran barang sejenis yang tidak sama kualitas, kuantitas dan waktu penyerahan (fadhl), atau dalam transaksi pinjam meminjam yang mensyaratkan nasabah menerima fasilitas pengembalian dana yang diterima melebihi pokok pinjaman karena berjalannya waktu.

b. Maisir, yaitu transaksi yang digantungkan kepada suatu keadaan yang tidak pasti dan bersifat untung-untungan.

c. Gharar, yaitu transaksi yang objeknya tidak jelas, tidak dimiliki, tidak diketahui keberadaannya, atau tudak dapat diserahkan pada saat transaksi dilakukan kecuali diatur lain dalam syariah.

d. Haram, yaitu transaksi yang objeknya dilarang dalam syariah.

e. Zalim, transaksi yang menimbulkan ketidakadilan bagi pihak lainnya. Menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah, Bank Unit Usaha Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS)(Soemitra, 2009: 61-62).

a. Bank Umum Syariah (BUS) adalah bank syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. BUS dapat berusaha sebagai bank devisa dan bank nondevisa.

b. Unit Usaha Syariah, adalah unit kerja dari kantor pusat bank umum konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor atau unit yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.

c. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) adalah bank syariah yang kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

(21)

Bank syariah yaitu bank yang dalam aktivitasnya, baik menghimpun dana maupun dalam rangka penyaluran dananya memberikan dan mengenakan imbalan atas dasar prinsip syariah yaitu jual beli dan bagi hasil. Sumber dana bank syariah terdiri dari tiga jenis, yaitu:

a. Modal

Sumber dana awal bank syariah adalah bersumberdari pihak pertama yang diserahkan para pemilik bank. Setiap akhir tahun, pemilik modal akan memperoleh bagian laba (dividen) dari hasil usaha bank. b. Titipan

Secara umum ada dua macam Wadi’ah yakni Wadi’ah Yad Amanah dan Wadi’ah Yad Dhamanah.

c. Investasi

Investasi bank syariah merupakan bentuk kerja sama antara pemilik dana dengan pengola dana, dengan prinsip mudharabah yaitu akad kerja sama antara dua pihak, dimana pihak pertama menyediakan seluruh modal dan pihak lain menjadi pengelola.

Bank Islam atau selanjutnya disebut dengan Bank Syariah adalah bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan pada bunga. Bank islam atau biasa disebut dengan bank tanpa bunga adalah lembaga keuangan/perbankan yang beroperasi dan produknya dikembangkan berlandasan pada Al-Qur’an dan Hadis Nabi Saw. Atau dengan kata lain, bank islam adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya delam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya disesuaikan dengan prinsip syariah Islam.

Bank adalah lembaga perantara keuangan atau biasa disebut financial intermediary. Artinya, lembaga bank adalah lembaga yang dalam aktivitasnya berkaitan dengan masalah uang. Oleh karena itu, usaha bank akan selalu dikaitkan dengan masalah uang yang merupakan alat pelancar terjadinya

(22)

perdagangan yang utama. Kegiatan dan usaha bank akan selalu terkait dengan komoditas, antara lain:

a. Memindahkan uang

b. Menerima dan membayar kembali uang dalam rekening koran c. Mendiskonto surat wesel, surat order maupun surat berharga lainnya d. Membeli dan menjual surat-surat berharga

e. Membeli dan menjual cek, surat wesel, kertas dagang f. Memberi jaminan bank

Untuk menghindari pengoperasian bank dengan sistem bunga, islam memperkenalkan prinsip-prinsip muamalah islam. Dengan kata lain, bank islam lahir sebagai salah satu solusi alternatif terhadap persoalan pertentangan antara bunga bank dengan riba. Dengan demikian, kerinduan umat Islam Indonesia yang ingin melepaskan diri dari persoalan riba telah mendapat jawaban dengan lahirnya bank islam. Bank Islam lahir di Indonesia, yang gencarnya, pada sekitar tahun 90-an atau tepatnya setelah ada Undang-Undang No. 7 Tahun 1992, yang direvisi dengan Undang-Undang-Undang-Undang Perbankan No. 10 Tahun 1998, dalam bentuk sebuah bank yang beroperasinya dengan sistem bagi hasil atau bank syariah.

Kaitan antara bank dengan uang dalam suatu unit bisnis adalah penting, namun di dalam pelaksanaannya harus menghilangkan adanya ketidakadilan, ketidakjujuran dan “penghisapan” dari satu pihak ke pihak lain (bank dengan nasabahnya). Kedudukan bank islam dalam hubungan dengan para kliennya adalah sebagai mitra investor dan pedagang, sedang dalam hal bank pada umumnya, hubungannya adalah sebagai kreditur atau debitur.

Sehubungan dengan jalinan investor dengan pedagang tersebut, maka dalam menjalankan pekerjaannya, perbankan syariah menggunakan berbagai teknik dan metode investasi seperti kontrak mudharabah. Di samping itu, perbankan syariah juga terlibat dalam kontrak murabahah. Mekanisme perbankan syariah yang berdasarkan prinsip mitra usaha, adalah bebas bunga.

(23)

Oleh karena itu, membayarkan bunga kepada para depositor atau pembebanan suatu bunga dari pra klien tidak akan timbul.

Fungsi dan peran bank umum Syariah adalah:

a. Manajer investasi, bank syariah dapat mengelolah investasi dana nasabah. b. Investor, bank Islam dapat menginvestasikan dana yang dimilikinya

maupun dana nasabah yang dipercayakan kepadanya.

c. Penyedia jasa keuangan dan lalu lintas pembayaran, bank Islam dapat melakukan kegiatan jasa-jasa layanan perbankan sebagaimana lazimnya institusi perbankan sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. d. Pelaksana kegiatan sosial. Sebagai suatu ciri yang melekat pada entitas

keuangan Islam, bank Islam juga memiliki kewajiban untuk mengeluarkan dan mengelola (menghimpun, mengadministrasikan, mendistribusikan) zakat serta dana-dana sosial lainnya.

Dari fungsi dan peran tersebut dapat disimpulkan bahwa hubungan antara bank syariah dan nasabahnya baik sebagai dari investor maupun pelaksana dari investasi merupakan hubungan kemitraan, tidak seperti hubungan pada bank konvesional yang bersifat debitur-kreditur.

Bank syariah mempunyai beberapa tujuan diantaranya adalah :

a. Mengarahkan kegiatan ekonomi umat untuk bermuamalat secara islam, khususnya Muamalah yang berhubungan dengan perbankan, agar terhindar dari praktek-praktek riba atau jenis usaha lainnya yang mengandung tipuan. b. Untuk menciptakan suatu keadilan dibidang ekonomi agar tidak terjadi kesenjangan antara pemilik modal dengan pihak yang membutuhkan dana. c. Untuk meningkatkan kualitas hidup dengan membuka peluang usaha yang

lebih besar terutama kelompok miskin, yang diarahkan kepada kegiatan usaha yang produktif menuju terciptanya kemandirian usaha.

d. Untuk menanggulangi masalah kemiskinan, yang merupakan program utama dari negara-negara yang sedang berkembang.

(24)

f. Untuk menyelamatkan ketergantungan umat islam terhadap bank Non-Syariah.

Dalam menjalankan aktivitasnya, bank syariah menganut prinsip-prinsip sebagai berikut:

a. Prinsip Keadilan, dengan sistem operasional yang berdasarkan “profit and loss sharing system”, bank Islam memiliki kekuatan tersendiri yang berbeda dari sistem konvensional. Perbedaan ini terlihat jelas bahwa dalam sistem bagi hasil terkandung dimensi keadilan dan pemerataan.

b. Prinsip Kesederajatan, bank syariah menempatkan nasabah penyimpan dana, nasabah penggunaan dana maupun bank pada kedudukan yang sama dan sederajat. Hal ini tercermin dalam hak, kewajiban, resiko dan keuntungan yang berimbang antara nasabah penyimpan dana, nasabah pengguna dana maupun bank. Dengan sistem bagi hasil yang diterapkannya, bank syariah mensyaratkan adanya kemitraan nasabah harus sharing the profit and risk secara bersama-sama.

c. Prinsip Ketentraman, menurut falsafah al-Qur’an, semua aktivitas yang dapat dilakukan oleh manusia patut dikerjakan untuk mendapatkan falah (ketentraman, kesejahteraan atau kebehagiaan), yaitu istilah yang dimaksudkan untuk mencapai kesempurnaan dunia dan akhirat. Tujuan dan aktivitas ekonomi dalam perspektif Islam harus diselaraskan dengan tujuan akhir yaitu pada pencapaian falah. Prinsip ini menghubungkan prinsip ekonomi dengan nilai moral secara langsung. Sebagai lembaga ekonomi, tujuan pendirian bank syariah adalah untuk menciptakan keseimbangan sosial-ekonomi masyarakat agar mencapai falah. Karena itu, produk-produk bank syariah harus mencerminkan world view Islam atau sesuai dengan prinsip dan kaidah muamalah Islam (Muhammad, 2005: 78-80).

Adanya bank Islam diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pembiayaan-pembiayaan yang dikeluarkan oleh bank Islam. Melalui pembiayaan ini bank Islam dapat

(25)

menjadi mitra dengan nasabah, sehingga hubungan bank Islam dengan nasabah tidak lagi sebagai kreditur dan debitur tetapi menjadi hubungan kemitraan.

Bank syariah memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan bank konvesional. Adapun ciri-ciri bank syariah adalah sebagai berikut:

a. Beban biaya yang disepakati bersama pada waktu akad perjanjian diwujudkan dalam bentuk jumlah nominal yang besarnya tidak kaku dan dapat dilakukan dengan kebersamaan untuk tawar menawar dalam batas wajar.

b. Penggunaan persentase dalam hal kewajiban untuk melakukan pembayaran selalu dihindari, karena persentase bersifat melekat pada sisa utang meskipun batas waktu perjanjian telah berakhir.

c. Di dalam kontrak-kontrak pembiayaan proyek, bank syariah tidak menerapkan perhitungan berdasarkan keuntungan yang pasti yang ditetapkan dimuka, karena pada hakekatknya yang mengetahui tentang ruginya suatu proyek yang dibiayai hanyala Allah semata.

d. Pengerahan dana masyarakat dalam bentuk deposito tabungan oleh penyimpan dianggap sebagai titipan sedangkan bagi bank dianggap sebagai titipan yang diamanatkan sebagai penyertaan dana pada proyek-proyek yang dibiayai bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip syariah sehingga pada penyimpanan tidak dijanjikan imbalan yang pasti.

e. Dewan pengawas syariah bertugas untuk mengawasi oprasionalisasi bank dari sudut syariahnya.

f. Fungsi kelembagaan bank syariah selain menjembatani antara pihak pemilik modal dengan pihak yang membutuhkan dana, juga mempunyai fungsi khusus yaitu fungsi amanah, artinya berkewajiban menjaga dan bertanggung jawab atas keamanan dana yang disimpan dan siap sewaktu-waktu apabila dana diambil pemiliknya.

(26)

Secara khusus peranan bank syariah secara nyata dapat terwujud dalam aspek-aspek berikut: (Wilardjo, 2005: 6-7).

a. Menjadi perekat nasionalisme baru, artinya bank syariah dapat menjadi fasiliator aktif bagi terbentuknya jaringan usaha ekonomi kerakyatan. b. Memberdayakan ekonomi umat dan beroperasi secara transparan. Artinya,

pengelolaan bank syariah harus didasarkan pada visi ekonomi kerakyatan, dan upaya ini terwujud jika ada mekanisme operasional yang transparan. c. Memberikan return yang lebih baik. Artinya investasi di bank syariah tidak

memberikan janji yang pasti mengenai return yang diberikan kepada investor. Oleh karena itu, bank syariah harus mampu memberikan return yang lebih baik dibandingkan dengan bank konvensional. Di samping itu, nasabah pembiayaan akan memberikan bagi hasil sesuai dengan keuntungan yang diperolehnya. Oleh karena itu, pengusaha harus bersedia memberikan keuntungan yang tinggi kepada bank syariah.

d. Mendorong penurunan spekulasi di pasar keuangan. Artinya, bank syariah mendorong terjadinya transaksi produktif dari dana masyarakat. Dengan demikian spekulasi dapat ditahan.

e. Mendorong pemerataan pendapatan. Artinya, bank syariah bukan hanya mengumpulkan dana dari pihak ketiga, namun dapat mengumpulkan dana Zakat, Infaq dan Shadaqah (ZIS). Dana ZIS dapat disalurkan melalui pembiayaan Qardul Hasan, sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Pada akhirnya terjadi pemerataan ekonomi.

f. Peningkatan efisiensi mobilisasi dana. Artinya, adanya produk al-mudharabah al-muqayyadah, berarti terjadi kebebasan bank untuk melakukan investasi atas dana yang diserahkan oleh investor, maka bank syariah sebagai financial arranger, bank memperoleh komisi atau bagi hasil, bukan karena bunga.

Secara umum, bank adalah lembaga yang melaksanakan tiga fungsi utama, yaitu menerima simpanan uang, meminjamkan uang dan memberikan

(27)

jasa pengiriman uang. Praktik-praktik seperti menerima penitipan harta, meminjamkan uang untuk keperluan konsumsi dan keperluan bisnis serta melakukan pengiriman uang, telah lazim dilakukan sejak zaman Rasulullah SAW.

Penggunaan cek juga telah dikenal luas sejalan dengan meningkatnya perdagangan antara negeri Syam dan Yaman, yang paling tidak berlangsung dua kali dalam setahun. Bahkan pada masa pemerintahannya, Khalifah Umar bin Khatab r.a. menggunakan cek untuk membayar tunjangan kepada mereka yang berhak. Dengan menggunakan cek ini, mereka mengambil gandum di Baitul Mal yang ketika itu diimpor dari Mesir. Di samping itu, pemberian modal untuk modal kerja berbasis bagi hasil, seperti mudharabah, muzara’ah, musaqah, telah dikenal sejak awal di antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar (Karim, 2009: 18).

Jenis kegiatan bank umum syariah telah diatur dalam Pasal 19 UU Perbankan Syariah, yaitu meliputi:

a. Menghimpun dana dalam bentuk simpanan berupa giro, tabungan, atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu berdasarkan akad wadiah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

b. Menghimpun dana dalam bentuk investasi berupa deposito, tabungan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu berdasarkan akad mudharabah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. c. Menyalurkan pembiayaan bagi hasil berdasarkan akad mudharabah, akad musyarakah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. d. Menyalurkan pembiayaan berdasarkan akad murabahah, salam, istishna,

atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

e. Menyalurkan pembiayaan berdasarkan akad qardh atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

f. Menyalurkan pembiayaan penyewan barang bergerak atau tidak bergerak kepada nasabah berdasarkan akad ijarah, dan atau sewa beli dalam bentuk

(28)

ijarah muntahiya bittamlik atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

g. Melakukan pengambilalihan utang berdasarkan akad hawalah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

h. Melakukan usaha kartu debet dan atau kartu pembiayaan berdasarkan prinsip syariah.

i. Membeli, menjual, atau menjamin atas resiko sendiri surat berharga pihak ketiga yang diterbitkan atas dasar transaksi nyata berdasarkan pirinsip syariah, seperti akad ijarah, musyarakah, mudharabah, murabahah, kafalah atau hawalah.

j. Membeli surat berharga berdasarkan prinsip syariah yang diterbitkan oleh pemerintah dan atau Bank Indonesia.

k. Menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan dengan pihak ketiga atau antar pihak ketiga berdasarkan prinsip syariah.

l. Melakukan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu akad yang berdasarkan prinsip syariah.

m. Menyediakan tempat untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu akad yang berdasarkan prinsip syariah.

n. Memindahkan uang, baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah berdasarkan prinsip syariah.

o. Melakukan fungsi sebagai wali amanat berdasarkan akad wakalah.

p. Memberikan fasilitas letter of credit atau bank garansi berdasarkan prinsip syariah.

q. Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan di bidang perbankan dan di bidang sosial sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (Mardani, 2015: 32-34).

(29)

3. Fee Based Income

Fee based income adalah keuntungan yang didapat dari transaksi yang diberikan dalam jasa-jasa bank lainnya. Secara definitif pengertian untuk istilah fee based income (fee based activity) adalah pemberian jasa pelayanan bank dengan imbalan yang diperoleh bank (Kasmir, 2012: 129).

Dari penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa fee based income adalah pendapatan operasional non bunga yang diperoleh bank sebagai imbalan atau komisi atau jasa-jasa keuangan yang telah diberikan kepada nasabah. Meskipun kontribusi fee based income dalam pendapatan bank pada saat ini belum cukup berarti, akan tetapi perlu dikembangkan mengingat fee based income mempunyai karakter yang berbeda dengan pendapatan bunga. Selain itu fee based income dapat dipertimbangkan sebagai salah satu bentuk diversifikasi usaha bank dalam memperoleh laba (profit) dan akan membuat bank menjadi tergolong sehat.

Selain menghimpun dana dan menyalurkan dana, kegiatan perbankan yang lainnya adalah memberikan jasa-jasa. Tujuan pemberian jasa-jasa bank ini adalah untuk mendukung dan memperlancar kedua kegiatan sebelumnya yaitu menghimpun dan menyalurkan dana. Semakin lengkap jasa bank yang diberikan, maka semakin baik, hal ini disebabkan jika nasabah hendak melakukan suatu transaksi perbankan, cukup berhenti disatu Bank saja. Demikian pula sebaliknya jika jasa bank yang diberikan kurang lengkap, maka nasabah terpaksa untk mencari bank lain yang menyediakan jasa yang mereka butuhkan.

Kelengkapan jasa bank yang diberikan sangat tergantung dari kemampuan bank tersebut, baik dari segi modal, perlengkapan fasilitas sampai kepada karyawan yang mengoperasikannya. Semakin lengkap tentunya semakin banyak modal yang dibutuhkan untuk melengkapi peralatan dan personelnya. Disamping itu kelengkapan jasa bank ini juga tergantung dari jenis bank, apakah bank umum atau bank perkreditan rakyat. Kemudian

(30)

kelengkapan jasa bank dapat pula dilihat dari segi status bank tersebut apakah bank devisa atau bank non devisa. Jika berstatus bank devisa maka jenis jasa bank yang ditawarkan akan lebih lengkap dibandingkan dengan bank non devisa. Kemudian kelengkapan jasa bank dapat pula dilihat dari status cabangnya, apakah cabang penuh, cabang pembantu atau kantor kas.

Kelebihan dari bank yang berstatus bank devisa adalah mereka dapat menawarkan jasa-jasa yang berkaitan dengan mata uang asing seperti transfer keluar negeri, jual beli valuta asing, transaksi ekspor impor dan jasa-jasa valuta asing lainnya. Dalam hal ini bank yang berstatus cabang penuh memberikan seluruh jasa-jasa bank yang dimilikinya. Kemudian cabang pembantu hanya membantu melayani beberapa bagian dari jasa bank yang ada. Sedangkan kantor kas merupakan kantor cabang yang hanya melayani penyetoran dan pengambilan uang. Kantor seperti ini hanya memberikan jasa kasir atau teller (Kasmir, 2004: 107-108).

Pengelolaan bank dalam melakukan kegiatan juga selalu dituntut senantiasa menjaga keseimbangan pemeliharaan likuiditas dengan kebutuhan profitabilitas yang wajar serta modal yang sesuai dengan penanamannya. Hal ini perlu dilakukan karena bank dalam usahanya selain menanamkan dana dala aktiva produktif juga memberikan komitmen jasajasa lainnya yang menghasilakn fee based income (pendapatan non bunga). Fee Based Income adalah keuntungan yang di dapat dari transaksi yang diberikan dalam jasa-jasa bank lainnya. Istilah fee based income menurut perbankan syariah adalah ujrah (upah).

Ujrah terkait dengan keuntungan dari jasa-jasa perbankan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat (nasabah) guna memperlancar dan mengefisiensikan aktifitas ekonomi masyarakat. Hal tersebut dapat dijelaskan dengan adanya ketentuan-ketentuan yang berkaitan fee based income menurut peraturan Bank Indonesia.

(31)

Berikut adalah ketentuan mengenai fee based income yang telah diatur DSN-MUI :

a. Fatwa Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia: 44/DSNMUI/VII/2004 tentang pembiayaan multi jasa. Adapun ketentuan yang terkait dengan fee based income adalah:

1) Pembiayaan multi jasa hukumnya boleh dengan menggunakan akad ijarah atau kafalah.

2) Dalam hal LKS (Lembaga Keuangan Syariah) menggunakan akad ijarah, maka harus mengikuti semua ketentuan yang ada dalam fatwa ijarah.

3) Dalam hal LKS (Lembaga keuangan Syariah) menggunakan akad kafalah, maka harus mengikuti semua ketentuan yang ada dalam fatwa kafalah.

4) Dalam pembiayaan multi jasa tersebut, LKS (Lembaga Keuangan Syariah) dapat memperoleh imbalan jasa (ujrah) atau fee. Besarnya ujrah atau fee harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam persentase.

b. Fatwa Dewan Syariah Nasional- Majelis Ulama Indonesia No:09/DSM- MUI/IV/2000, tentang pembiayaan ijarah. Berikut adalah ketentuan mengenai fee based incame yang telah diatur Bank Indonesia :

1) Peraturan Bank Indonesia No: 7/46/PBI/14 November 2005, tentang akad penghimpunan dan penyaluran dana bagi bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah. Yaitu pada pasal 17 yang isinya: Bank dapat menggunakan akad ijarah untuk transaksi multijasa dalam jasa keuangan antara lain dalam bentuk pelayanan pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan dan kepariwisataan. Dalam pembiayaan kepada nasabah yang menggunakan akad ijarah untuk transaksi multijasa, bank dapat memperoleh imbalan jasa atau fee. Besarnya jasa

(32)

atau fee harus disepakati diawal dan dinyatakan dalam bentuk nominal bukan bentuk persentase.

2) Dalam PAPSI (Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia), pendapatan oprasional lainnya antara lain terdiri dari :

a) Pendapatan penyelenggaraan jasa perbankan berbasis imbalan. b) Pendapatan bonus giro pada bank syariah lainnya.

c) Pendapatan atau keuntungan transaksi valuta asing.

Unsur-unsur yang terdapat didalam fee based income diantaranya adalah:

a. Pendapatan provisi dan komisi

Komisi adalah imbalan yang diperhitungkan atau diterima atas pemberian jasa tertentu dalam pelaksanaan transaksi, sedangkan provisi adalah imbalan yang diperhitungkan bank sehubungan dengan jasa yang diberikan untuk pelaksanaan suatu transaksi.

b. Pendapatan atas Transaksi Valuta Asing

Pendapatan yang timbul dari transaksi valas lazimnya berasal dari selisih kurs. Selisih kurs ini akan dimasukan kedalam pos pendapatan dalam laporan laba rugi. Laba atau rugi yang timbul dari transaksi valas harus diakui sebagai pendapatan atau beban dalam perhitungan laba rugi tahun berjalan.

c. Pendapatan Operasional Lainnya

Pendapatan operasional lainnya pada prakteknya dalam penyaluran pembiayaan fee administrasi yang besarnya disepakati antasa bank dan pemilik dana. Pendapatan fee administrasi menjadi milik bank syariah, karena pendapatan tersebut merupakan upah administrasi yang dilakukan bank syariah sehingga pendapatan tersebut bukan unsur disribusi bagi hasil. Pendapatan operasional lainnya juga diperoleh bank syariah dari kegiatan memberikan layanan jasa keuangan dan kegiatan lainnya yang

(33)

berbasis imbalan seperti pendapatan inkaso, transfer, L/C, dan fee lainnya yang berbasis imbalan.

Secara lengkap jenis jasa-jasa bank lainnya yang ada di Indonesia adalah:

a. Menerima setoran-setoran, seperti: 1) Pembayaran pajak

2) Pembayaran telepon 3) Pembayaran air 4) Pembayaran listrik 5) Pembayaran uang kuliah

b. Melayani pembayaran-pembayaran, seperti: 1) Gaji / Pensiun / honorarium

2) Pembayaan dividen 3) Pembayaran kupon

4) Pembayaran bonus / hadiah

c. Di dalam pasar modal perbankan dapat memberikan atau menjadi: 1) Penjamin emisi (underwriter)

2) Penjamin (guarantor) 3) Wali amanat (trustee)

4) Perantara perdagangan efek / pialang (broker) 5) Pedagang efek (dealer)

6) Perusahaan pengelola dana (investment company) d. Transfer (Kiriman uang)

Transfer merupakan suatu kegiatan jasa bank untuk memindahkan sejumlah dana tertentu sesuai dengan perintah pemberi amanat yang ditujukan ke penerima transfer (Handayani, 2016: 155).

Pihak-pihak yang terlibat dalam proses transfer ini adalah: 1) Nasabah pengirim

(34)

3) Bank pembayar / penerima transfer

4) Nasabah penerima transfer (Suwiknyo, 2010: 48).

Jasa transfer saat ini semakin canggih, perkembangan terkini Bank Indonesia telah menyelenggarakan Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS). Sistem ini sangat cepat dalam menangani transfer antar bank. BI RTGS adalah sistem transfer / kliring antar bank seketika. Nasabah yang menggunakan fasilitas ini akan dapat mentransfer dalam waktu sangat cepat, dalam hitungan menit. Namun demikian biayanya relatif lebih mahal dan belum semua bank menyelenggarakannya, sistem ini lebih kepada transfer bank Konvensional (Taswan, 2005: 271).

Keuntungan yang diperoleh lewat pengiriman uang atau transfer melalui bank adalah:

1) Pengiriman uang lebih cepat 2) Aman sampai tujuan

3) Pengiriman dapat dilakukan melalui telepon 4) Prosedur murah dan mudah (Kasmir, 2004: 111).

Adapun prosedur yang harus dilalui untuk melakukan transfer apabila melalui teller adalah:

1) Nasabah mengisi aplikasi transfer.

2) Bagian teller memeriksa kelengkapan pengisian formulir.

3) Teller memeriksa kecocokan tandatangan nasabah yang melakukan transfer.

4) Teller mencantmkan “stamp teller” pada formulir aplikasi transfer di setiap lembarnya.

5) Lalu bagian teller melakukan pemindahbukuan dana dari satu rekening ke rekening lain (Muhammad, 2000: 78).

(35)

e. Inkaso (collection)

Inkaso (collection) ialah proses penagihan suatu warkat (antara lain cek dan bilyet giro) dari satu (cabang) bank ke (cabang) bank lainnya. Inkaso juga terbagi dalam dua macam inkaso, yaitu inkaso dalam negeri dan inkaso luar negeri.

1) Inkaso dalam negeri

a) Inkaso masuk, yaitu penagihan suatu warkat yang diterima dari satu (cabang) bank oleh / dari (cabang) bank lainnya di dalam negeri.

b) Inkaso keluar, yaitu penagihan suatu warkat yang disampaikan/ ditujukan terhadap / ke (cabang) bank lainnya di dalam negeri. 2) Inkaso luar negeri

a) Inkaso masuk, yaitu penagihan suatu warkat yang diterima oleh (cabang) bank dalam negeri dari (cabang) bank luar negeri.

b) Inkaso keluar, yaitu penagihan suatu warkat oleh (cabang) bank dalam negeri terhadap (cabang) bank luar negeri.

Warkat-warkat yang dapat diinkasokan atau ditagihkan adalah warkat-warkat seperti, cek, bilyet giro, wesel, deviden, kupon, dan surat berharga lainnya. Lama penagihan warkat dan besarnya biaya tagih yang dibebankan kepada nasabah tergantung bank yang bersangkutan. (Kasmir, 2004: 114).

Adapun langkah-langkah atau prosedur dalam inkaso adalah sebagai berikut: (Muhammad, 2000: 78).

1) Teller menerima slip inkaso dan warkat yang akan diinkasokan.

2) Periksa pengisian slip inkaso antara lain: nomor rekening, nama nasabah, tanggal setoran warkat inkaso, nomor warkat, bank yang dituju dan kota serta tertanda penyetor.

3) Semua lengkap validasi slip inkaso sebanyak 3 lembar dan sebalik warkat yang akan diinkasokan serta bubuhkan stempel inkaso.

(36)

4) Distribusi inkaso 3 lembar, (1 dan 2 untuk inkaso, 3 untuk nasabah) 5) Bagian teller tidak membukukan / menjurnal transaksi inkaso, hanya

mendistribsikan slip dan warkat pada bagian inkaso.

Inkaso merupakan kegiatan bank yang mengandung ketidakpastian. Bank melakukan inkaso, namun tidak semua inkaso akan memberikan hasil. Pihak tertagih kemungkinan tidak mampu membayar tagihan sehingga bank pelaksana tidak dapat memaksa pihak tertagih untuk membayarnya. Selama selang waktu menerima amanat untuk menagih hingga tagihan berhasil atau tidak, transaksi ini harus dibukukan dalam rekening administratif. Mengingat bank pemrakarsa akan membayar kepada pihak pemberi amanat kalau inkaso berhasil, maka transaksi ini sebenarnya transaksi bersyarat. Dengan demikian, pencatatan administratif ini dikelompokkan pada rekening kontijensi kewajiban (Taswan, 2005: 281).

f. Kliring (Clearing)

Kliring adalah proses penyelesaian utang-piutang antara bank yang diselenggarakan pada suatu tempat dan waktu tertentu. Kliring dapat berupa pelimpahan dana dari nasabah / bank satu ke nasabah/ bank lainnya dan juga berupa penagihan oleh satu bank terhadap bank lainnya (Suwiknyo, 2010: 32).

Tujuan dilaksanakan kliring oleh Bank Indonesia antara lain adalah: 1) Untuk memajukan dan memperlancar lalu lintas pembayaran giral. 2) Agar perhitungan penyelesaian utang piutang dapat dilaksanakan lebih

mudah, aman dan efisien.

(37)

Berdasarkan sistem penyelenggaraannya, kliring dapat menggunakan:

1) Sistem manual, yaitu sistem penyelenggaraan kliring lokal yang dalam pelaksanaan perhitungan, pembuatan bilyet saldo kliring serta pemilahan warkat dilakukan secara manual oleh setiap peserta.

2) Sistem semi otomasi, yaitu sistem penyelenggaraan kliring lokal yang dalam pelaksanaan perhitungan dan pembuatan bilyet saldo kliring dilakukan secara otomasi, sedangkan pemilahan warkat dilakukan secara manual oleh setiap pekerja.

3) Sistem otomasi, yaitu sistem penyelenggaraan kliring lokal yang dalam pelaksanaan perhitungan, pembuatan bilyet saldo kliring dan pemilahan warkat dilakukan oleh penyelenggara secara otomasi.

4) Sistem elektronik, yaitu penyelenggaraan kliring lokal secara elektronik yang dalam pelaksanaan perhitungan dan pembuatan bilyet saldo kliring didasarkan pada data keuangan elektronik yang selanjutnya disebut DKE disertai dengan penyampaian warkat peserta kepada penyelenggara untuk diteruskan kepada peserta penerima (Taswan, 2005: 68).

Warkat-warkat yang dapat dikliringkan atau diselesaikan adalah warkat-warkat yang berasal dari dalam kota seperti, cek, bilyet giro, surat bukti penerimaan transfer dari luar kota dan lalu lintas giral. Warkat-warkat yang dikliringkan tidak selamanya tertagih, bahkan setiap kali transaksi kliring terdapat beberapa warkat yang ditolak pembayarannya.

Alasan penolakan kliring terutama untuk cek dan bilyet giro pada saat penerimaan warkat-warkat kliring disebabkan:

1) Asal cek atau BG bukan dari bank yang bersangkutan. 2) Tanggal cek atau BG belum jatuh tempo.

3) Materai tidak ada atau tidak cukup.

(38)

5) Tanda tangan tidak sama / tidak lengkap. 6) Coretan atau perubahan tidak ditandatangani. 7) Cek atau BG kedaluwarsa.

8) Resi cek atau BG belum kembali. 9) Endorsment cek tidak benar. 10) Rekening sudah ditutup. 11) Dibatalkan penarik.

12) Rekening di blokir oleh berwajib.

13) Kondisi cek atau BG rusak atau tidak sempurna. 14) dan alasan lainnya.

Hasil kliring dilakukan setiap hari, untuk mengetahui apakah bank tersebut menang kliring atau sebaliknya kalah kliring. Bagi bank yang menang kliring artinya jumlah tagihan warkat kliringnya melebihi pembayaran warkat kliringnya, sehingga terdapat saldo kemenangan. Sebaliknya bagi bank yang kalah kliring justru pembayaran warkat kliring lebih besar daripada penerimaan warkat kliringnya. Bagi bank yang kalah kliring akan menutup sejumlah kekalahan kliring pada hari yang bersangkutan dan apabila tidak dapat ditutupi, maka bank yang kalah kliring tersebut dapat memperoleh pinjaman call money yang waktunya relatif singkat (Kasmir, 2004: 113).

g. Jasa Penyimpanan Dokumen (Safe Deposit Box)

Safe Deposit Box ialah laci yang disewakan oleh bank untuk menyimpan barang / surat berharga milik nasabah berdasarkan perjanjian sewa-menyewa untuk suatu periode tertentu.

Dalam perbankan syariah, apa yang disimpan dalam laci sewaan tersebut di batasi barangnya misal bukanlah jenis yang berbahaya atau mudah terbakar, dan lainnya. Bank syariah tidak berwenang serta tidak

(39)

mengetahui apa isi laca tersebut. Oleh karenanya, perjanjian atau akad sewanya adalah wadiah-amanah yakni titipan murni, pihak bank syariah yang dititipi tidak diperkenankan menggunakan barang yang dititipkan kepadanya. Juga dengan prinsip ijarah yakni bank syariah yang menyewakan suatu tempat / kotak yang digunakan khusus oleh nasabah sebagai penyewa dalam jangka waktu tertentu (Suwiknyo, 2010: 121).

Surat-surat berharga dan surat-surat penting lainnya yang dapat disimpan dalam Safe Deposit Box adalah sertifikat deposito, sertifikat tanah, saham, obligasi, surat perjanjian, akte kelahiran, surat nikah, ijazah, paspor, dan surat wasiat. Kemudian Safe Deposit Box dapat pula digunakan untuk menyimpan benda-benda berharga seperti emas, mutiara, berlian, intan, permata, dan benda sejenis yang dianggap berharga lainnya.

Keuntungan bagi bank dengan menyediakan jasa Safe Deposit Box kepada nasabah adalah memperoleh biaya sewa, uang setoran jaminan yang mengendap dan bentuk pelayanan kepada nasabah.

Nasabah penyewa Safe Deposit Box dikenakan biaya yaitu berupa biaya sewa yang besarnya tergantung ukuran box yang diinginkan serta jangka waktu sewa dan juga dikenakan setoran jaminan, yang merupakan biaya pengganti apabila kunci laci yang dipegang oleh nasabah hilang dan Safe Deposit Box harus dibongkar, akan tetapi jika tidak terjadi masalah, maka setoran jaminan dapat diambil kembali (Kasmir, 2004: 116).

h. Jasa Kartu Kredit (Bank Card)

Bank Card merupakan “uang plastik” yang dikeluarkan oleh bank. Kegunaannya adalah sebagai alat pembayaran di tempat-tempat tertentu seperti supermarket, pasar swalayan, hotel, restoran, tempat hiburan dan tempat lainnya.

(40)

Jenis-jenis bank card yang sudah dikenal luas di masyarakat adalah: 1) Credit card, adalah suatu sistem dimana pemegang kartu dapat melunasi penagihan yang terjadi atas dirinya secara angsuran dengan minimal pembayaran tertentu.

2) Debet card, adalah pembayaran atas penagihan nasabah melalui pendebetan atas rekening yang ada di bank tempat membuka kartu (Kasmir, 2004: 118).

3) Charge card, adalah kartu yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran suatu transaksi barang dan jasa, kemudian pemegang kartu diwajubkan membayar kembali secara penuh seluruh tagihannya pada akhir bulan atau bulan berikutnya dengan atau tanpa beban tambahan. 4) Cash card, adalah kartu tunai yang sering juga disebut dengan ATM

yaitu kartu yang dapat digunakan untuk penarikan tunai.

5) Check guarantee card, yaitu kartu yang dapat digunakan sebagai jaminan dalam penarikan cek oleh pemegang kartu tersebut (Taswan, 2005: 288).

i. Jasa Valas (Bank Notes)

Jasa valas atau yang biasa disebut jasa sharf pada bank syariah merupakan penukaran antara / dari dua jenis mata uang yang berlainan. Adapun cakupan transaksi dalam kegiatannya dibedakan ke dalam beberapa kelompok transaksi yaitu Uang Kertas Asing (UKA), berupa uang kartal namun hanya sebatas uang kertas dan Devisa Umum (DU), berupa uang giral valuta asing, termasuk didalamnya Traveler Check Valas (Suwiknyo, 2010: 92).

Dalam transaksi jual beli valas, bank mengelompokkan valas ke dalam dua klasifikasi, yaitu valas yang lemah dan yang kuat. Pengelompokkan valas yang di anggap kuat berdasarkan kategori berikut: 1) Valas tersebut mudah diperjual-belikan.

(41)

2) Nilai tukar terkendali / stabil. 3) Frekuensi penjualan sering terjadi. 4) dan pertimbangan lainnya.

Sedangkan kelompok valas yang di anggap lemah adalah kebalikan dari valas yang di anggap kuat. Dalam praktiknya bank tidak selalu menerima penjualan dan pembelian valas dengan beberapa alasan yaitu: 1) Kondisi valas cacat / rusak.

2) Tergolong dalam valuta lemah. 3) Tidak memiliki persediaan. 4) Diragukan keabsahannya.

Untuk valas yang lemah dan sulit diperdagangkan, maka bank menjualnya kembali ke Bank Indonesia atau kanttor pusat bank yang bersangkutan (Kasmir, 2004: 120).

j. Bank Garansi

Bank garansi ialah penjaminan bank syariah (pihak pertama) atas nasabah (pihak kedua), jika pihak kedua tidak melakukan kewajibannya kepada pihak lain (pihak ketiga) sebagaimana telah diperjanjikan sebelumnya, maka pihak pertama akan membayarkan sejumlah dana dengan maksud membayar kewajiban pihak kedua (Suwiknyo, 2010: 110).

Dalam praktik perbankan syariah, penyediaan fasilitas garansi ini termasuk dalam akad kafalah. Terdapat beberapa jenis bank garansi dalam aplikasi perbankan, antara lain:

1) Bid bond, adalah jaminan yang diterbitkan oleh bank atas permintaan nasabahnya untuk kepentingan pihak ketiga (pemilik proyek) yang menjadi mitra kerja nasabah, sehubungan dengan kontrak kerja atau kewajiban nasabah untuk melaksanakan sesuatu yang tercantum dalam kontrak. Bid bond ini merupakan persyaratan awal yang ditetapkan oleh

(42)

pemilik proyek kepada para kontraktor yang akan ikut serta dalam tender.

2) Performance bond, adalah jaminan yang diterbitkan oleh bank atas permintaan nasabahnya untuk kepentingan pihak ketiga (pemilik proyek) yang menjadi mitra kerja nasabah, sehubungan dengan kekhawatiran pemilik proyek terhadap kontraktor apabila cidera janji mengerjakan dan menyelesaikan proyek sesuai kontrak kerja. Biasanya, performance bond diminta oleh pemilik proyek kepada pemenang terder, dalam rangka mengikat mereka agar serius dan sungguh-sungguh mengerjakan proyek sampai selesai.

3) Advance payment bond, adalah jaminan yang diterbitkan oleh bank atas permintaan nasabahnya untuk kepentingan pihak ketiga yang menjadi mitra kerja nasabah, sehubungan dengan pembayaran di muka atau pembayaran termin oleh pemilik proyek kepada kontraktor dalam mengerjakan proyek yang telah mereka sepakati dalam kontrak kerja. 4) Retention bond / maintenance bond, adalah jaminan yang diterbitkan

oleh bank atas permintaan nasabahnya untuk kepentingan pihak ketiga yang menjadi mitra kerja nasabah, sehubungan dengan tanggung jawab nasabah atas pemeliharaan hasil proyek sampai batas waktu yang telah diperjanjikan dalam kontrak kerja.

5) Custom bond, adalah jaminan yang diterbitkan bank atas permintaan nasabahnya sehubungan dengan penangguhan bea masuk atas barang-barang impor yang dimintakan penangguhan pembayarannya (apabila memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan).

6) Shipping bond, adalah jaminan yang diterbitkan oleh bank atas permintaan nasabahnya sehubungan dengan pengeluaran barang-barang impor dari pelabuhan / maskapai pelayaran, sebelum datangnya dokumen impor yang asli dari bank yang melakukan negosiasi.

(43)

Pada umumnya masa berlaku bank garansi sampai dengan tanggal jatuh tempo, apabila pada tanggal jatuh tempo dan tidak diperpanjang, maka secara otomatis bank garansi tersebut sudah tidak berlaku lagi. Jika kewaiban atau pekerjaan telah selesai dilaksanakan sesuai dengan isi kontrak kerja, dan pihak pemilik proyek telah memberikan pernyataan bahwa mereka telah setuju dan menerima hasil pekerjaan, maka secara otomatis bank garansi sudah tidak berlaku lagi. Untuk itu, biasanya pihak bank meminta nasabah untuk mengembalikan bank garansi tersebut (IKAPI, 2003: 242-244).

Setiap transaksi yang berkaitan dengan bank garansi akan dikenakan biaya. Biaya-biaya yang dikenakan kepada nasabah yang mengajukan permohonan bank garansi merupakan balas jasa atau pendapatan bagi bank. Biaya-biaya ini merupakan kompensasi dari resiko yang akan dihadapi bank yang mungkin akan terjadi dikemudian hari. Biaya-biaya yang dimaksudkan adalah:

1) Biaya provisi, merupakan sejumlah uang yang wajib dibayar oleh terjamin kepada bank sebagai balas jasa untuk pemberian bank garansi. 2) Biaya administrasi, merupakan biaya yang lazim dipungut berhubungan

untuk pelaksanaan administrasi jumlah yang dikenakan terhadap terjamin tergantung bank masing-masing.

3) Bea materai, merupakan biaya materai yang dilekatkan pada surat perjanjian bank garansi yang ditandatangani oleh bank dan pihak terjamin.

Selain biaya yang dikenakan terhadap nasabahnya, permohonan bank garansi juga harus disertai jaminan lawan yang sepadan. Jaminan lawan yang akan diberikan oleh nasabah kepada bank sebagai jaminan terhadap resiko yang mungkin timbul dikemudian hari. Dalam menentukan besarnya jaminan pihak bank selalu berpedoman pada ketentuan bank sentral dan kelaziman yang berlaku di dunia perbankan. Oleh karena bank

(44)

garansi mengandung suatu tingkat resiko, maka pertimbangan tentang resiko ini perlu diperhatikan dan pihak penerima jaminan dituntut untuk menyediakan jaminan lawan atau disebut counter guarantee (Kasmir, 2004: 128-129).

k. Letter of Credit (L/C)

Letter of Credit (L/C) merupakan salah satu jasa bank yang diberikan kepada masyarakat untuk memperlancar arus barang (ekspor-impor) termasuk barang dalam negeri (antar pulau). Kegunaan Letter of Credit (L/C) adalah untuk menampung dan menyelesaikan kesulitan-kesulitan dari pihak pembeli (importir) maupun penjual (eksportir) dalam transaksi dagangnya.

Pengertian secara umum Letter of Credit (L/C) merupakan suatu pernyataan dari bank atas permintaan nasabah (biasanya importir) untuk menyediakan dan membayar sejumlah uang tertentu untuk kepentingan pihak ketiga (penerima L/C atau eksportir). L/C sering disebut dengan kredit berdokumen atau documentary credit (Kasmir, 2004: 123).

Manfaat Letter of Credit (L/C) diantaranya adalah:

1) Memberikan rasa aman kepada pihak-pihak terkait dalam transaksi ekspor impor.

2) Memperlancar transaksi penagihan dokumen maupun pembayaran, karena semua proses pemeriksaan dokumen dilakukan oleh pihak bank. 3) Pihak-pihak terkait (eksportir dan importir) dapat lebih fokus dengan

bisnis mereka dan proses pengadaan barang yang akan diekspor maupun distribusi atau penjualan barang-barang hasil impor mereka.

Sebagaimana lazimnya dalam transaksi Letter of Credit (L/C), maka bank tidak akan pernah terlepas dari proses penagihan dan pengiriman dokumen, proses penerimaan maupun pembayaran dan dapat pula

(45)

melakukan proses diskonto wesel maupun negosiasi wesel. Akad-akad yang dipergunakan dalam proses tersebut adalah:

1) Akad wakalah, digunakan untuk transaksi penagihan dokumen ekspor, pengiriman dokumen ekspor, pembayaran impor maupun penerimaan hasil ekspor.

2) Akad hawalah, digunakan untuk transaksi pengalihan / negosiasi wesel ekspor maupun diskonto wesel ekspor (IKAPI, 2003: 246).

l. Cek wisata (Travellers Cheque)

Travellers cheque adalah suatu cek yang diperuntukkan bagi wisatawan yang dapat diuangkan pada (kantor-kantor cabang) bank penerbit ataupun pihak lainnya yang dituntut (Suwiknyo, 2010: 101).

Penggunaan travellers cheque dapat dibelanjakan di berbagai tempat terutama di bank yang mengeluarkan travelers cheque tersebut melakukan pengikatan dan perjanjian. Disamping itu travellers cheque juga dapat diuangkan di berbagai bank.

Keuntungan serta manfaat travellers cheque terutama bagi mereka yang suka berpergian antara lain:

1) Memberikan kemudahan berbelanja. 2) Mengurangi resiko kehilangan uang.

3) Memberikan rasa percaya diri dengan pelayanan prima. 4) Dapat dijadikan cinderamata ataupun hadiah.

5) Biasanya untuk pembelian travellers cheque ini tidak dikenakan biaya, begitu pula saat pencairannya (Kasmir, 2004: 122).

Adapun produk perbankan syariah di bidang jasa didasarkan pada akad-akad yang sudah dikenal dalam Islam antara lain adalah hiwalah, wakalah, kafalah, sharf dan sebagainya.

(46)

Hiwalah adalah pengalihan hutang dari orang yang berhutang kepada orang lain yang wajib menanggungnya atau dalam istilah Islam merupakan pemindahan beban hutang dari muhil (orang yang berhutang) menjadi tanggngan muhal ‘alaih (orang yang berkewajiban membayar hutang).

Hiwalah sebagai suatu cara mendapatkan fresh meney bagi pihak klien / nasabah juga tidak luput dari risiko, tertama dari pihak bank. Adapun risiko yang harus diwaspadai oleh pihak bank syariah dari sebuah kontrak hiwalah adalah adanya kecurangan nasabah dengan memberiinvoice palsu atau ingkar janji kepada pihak bank (Anshori, 2007: 149).

Menurut mazhab Hanafi ada dua dua jenis hiwalah, yaitu:

1) Hiwalah mutlaqah, yaitu seseorang memindahkan hutangnya kepada orang lain dan tidak mengkaitkan dengan hutang yang ada pada orang itu. Menurut ketiga mazhab selain Hanafi, kalau muhal ‘alaih tidak punya hutang kepada muhil, maka hal ini sama dengan kafalah, dan ini harus dengan keridlaan tiga pihak, yaitu da’in, madin, dan muhal ‘alaih. 2) Hiwalah muqayyadah: seseorang memindahkan hutang dan

mengkaitkan dengan piutang yang ada padanya. Ini hawalah yang boleh (jaiz) berdasarkan kesepakatan para ulama.

Beberapa rukun hiwalah antara lain adalah: (Ismail, 2011: 208). 1) Para pihak yang melakukan hiwalah antara lain muhal, muhil dan muhal

‘alaih.

2) Adanya hutang muhil kepada muhal. Utang piutang tersebut telah ada sebelum akad hiwalah dilaksanakan.

3) Adanya hutang muhal ‘alaih kepada muhil. Utang piutang ini juga sudah terjadi sebelum akad dilaksanakan. Jumlah utang muhil kepada muhal dan hutang muhal ‘alaih kepada muhil jumlahnya tidak harus sama. 4) Sighat (ijab kabul). Ijab kabul ini harus dinyatakan secara tertulis.

(47)

b. Kafalah

Kafalah merupakan jaminan yang diberikan oleh penanggung (kafil) kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung. Dalam pengertian lain, kafalah juga berarti mengalihkan tanggung jawab seseorang yang dijamin dengan perpegang pada tanggung jawab orang lain sebagai penjamin (Anshori, 2007: 150).

Ada tiga jenis kafalah yaitu:

1) Kafalah bi al-nafs, yaitu jaminan dari diri si penjamin.

2) Kafalah bi al-mal, yaitu jaminan pembayaran utang atau pelunasan utang. Aplikasinya dalam perbankan dapat berbentuk jaminan uang muka atau jaminan pembayaran.

3) Kafalah mu’allaqah, yaitu jaminan mutlak yang dibatasi oleh kurun tertentu dan untuk tujuan tertentu. Dalam perbankan modern hal ini diterapkan untuk jaminan pelaksanaan suatu proyek atau jaminan penawaran.

Pihak-pihak yang terkait dalam akad kafalah adalah: (Ismail, 2011: 206).

1) Pihak penjamin, yaitu pihak yang memberikan jaminan kepada nasabah, dalam bentuk surat jaminan atau bank garansi.

2) Pihak terjamin, yaitu pihak yang mengajukan bank garansi untuk mengikuti tender atau untuk melaksanakan pekerjaan.

3) Pihak penerima jaminan, merupakan pihak yang menawarkan pekerjaan dan akan mendapat ganti rugi dari pihak penjamin apabila pihak terjamin tidak melakukan pekerjaan sesuai dengan perjanjian

c. Wakalah

Wakalah atau pemberian kuasa secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu perjanjian di mana seseorang mendelegasikan atau menyerahkan sesuatu wewenang (kekuasaan) kepada seseorang yang lain

Gambar

Tabel 4.1  Hasil Uji Normalitas
Tabel 4.2  Hasil Uji Autokorelasi
Tabel 4.5  Uji R Square (  )

Referensi

Dokumen terkait

E-learning merupakan aplikasi internet yang dapat menghubungkan antara pendidik dan peserta didik dalam sebuah ruang belajar online. E- learning tercipta untuk

Dalam satu stolon/sulur, sesudah maksimal 3 generasi stolon/sulur ditanam, ±1 bulan dari penanaman stolon/sulur generasi pertama, stolon/sulur tersebut dipotong dari tanaman

Usaha-usaha yang dilakukan oleh para penegak hukum untuk mencari kebenaran materiil suatu perkara pidana dimaksudkan untuk menghindari adanya kekeliruan dalam penjatuhan

Tuan Nian-Chu Huang yang merupakan seorang Guru ritual, mengungkapkan dengan sangat jelas dalam komentarnya di Sutra Kehidupan tak Terbatas ( Sukhāvatīvyūha-sūtra atau Wúliáng

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kualitas belajar mahasiswa dalam mempelajari materi Ruang Dimensi Tiga melalui pendekatan C ontextual Teaching & Learning

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar lempar lembing gaya langkah jingkat dengan modifikasi alat pembelajaran pada peserta didik kelas VIII D

‫ جبامعة‬2112 ‫ يف يناير‬DEIKSIS, vol.9, no.1 ‫ادلقالة لضياء احلق يف اليومية‬ Penerjemahan Subtitle dari Bahasa Inggris ke dalam ‫

Perkembangan perikanan tangkap di 10 WPP belum merata dan masih ada beberapa WPP yang over fished untuk beberapa jenis ikan, yaitu ikan demersal di WPP Selat Malaka; udang di