• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pada medio kurang lebih dua puluh tahun terakhir, industri perfilman di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat. Ruang isolasi yang diciptakan oleh warisan rezim Orde Baru sudah tidak lagi meninggalkan jejaknya. Era keterbukaan pada masa reformasi seperti sekarang ini, tentu akan semakin mendorong para sineas tanah air untuk menghasilkan karya yang otentik pun juga beragam. Termasuk kemunculan film-film yang menjadikan isu multi-etnis sebagai tema utamanya. Kehadiran realitas multi-etnis di dalam film bukan merupakan hal yang cukup mengejutkan. Masalah etnisitas di Indonesia seringkali menimbulkan konflik hingga diskriminasi etnis. Selain karena warisan budaya kolonial, masalah yang timbul dari isu multi-etnis di Indonesia juga akibat dari rezim pemerintahannya. Sebagai buktinya, film-film yang mengangkat isu-isu sosial akan mudah direpresi oleh pemerintahan Orde Baru.

Sebagai sebuah produk kreativitas dan ekspresi estetis, film tidak bisa dipisahkan dari konteks masyarakat yang memproduksi dan mengkonsumsinya. Dengan demikian, film selalu membawa pesan akan makna dan ideologi dari pembuatnya. Ron Mottram menyebutkan, dari sekian banyak fungsi film setidaknya ada tiga fungsi paling penting dalam film, yaitu artistik, industrial, dan komunikatif1

Di Indonesia, bukan sesuatu yang aneh apabila relasi antara etnis mayoritas dan minoritas sering dikaitkan dengan etnis pribumi dan etnis Tionghoa. Berdasarkan data yang tercatat dalam sensus penduduk (SP) tahun 2010, warga negara yang mengaku keturunan Tionghoa hanya sebesar 2.832.510 orang, atau hanya berjumlah 1,20% dari total penduduk Indonesia sebesar

1

Ibrahim, Idy Subandy 2011. Kritik Budaya Komunikasi: Budaya, Media, dan Gaya Hidup dalam

Proses Demokratisasi di Indonesia. Yogyakarta: Jalasutra. Hlm 190

(2)

236.728.379 orang.2 Dari data tersebut, sudah terlihat dengan jelas bahwa di Indonesia mereka menjadi minoritas dibandingkan dengan etnis pribumi. Menurut Suryadinata, pemisahan tempat tinggal antara etnis Tionghoa dengan etnis pribumi pada masa kolonialisme Belanda yang menyebabkan etnis Tionghoa sulit berbaur dengan pribumi. Selain pemisahan tempat tinggal, di Indonesia terutama di Pulau Jawa, etnis Tionghoa sering memilih hidup dengan kelompoknya sendiri atau sulit berbaur dengan etnis pribumi.3

Berkaca pada teori spiral of silence yang dicetuskan oleh ilmuwan politik Elisabeth Noelle-Neumann, minoritas yang tidak didukung oleh media massa, bakal memilih diam. Pada akhirnya, opini mereka yang sejati akan hilang. Mereka memilih bisu kecuali sebagian kecil yang berani dan menjadi avant garde atau hardcore.4 Di Indonesia, pada kenyataannya memang menjelaskan bahwa minoritas Tionghoa pada masa Orde Baru tidak didukung oleh media massa. Media massa dipegang dan diseragamkan oleh pemerintah yang sejak awal berseberangan dengan Tionghoa. Tionghoa tetap tunduk pada beragam aturan diskriminatif karena takut terisolasi lebih jauh.

Barulah pada medio paska tahun 1998, muncul pergerakan film-film komersil yang berani mengangkat etnis Tionghoa sebagai tema utamanya. Ca Bau Kan karya Nia Dinata (2002). Film tersebut menampilkan tokoh bernama Tan Pei Liang yang hidup semasa penjajahan sebagai tuan tanah dan saudagar tembakau yang kasar, tidak mau mengalah, licik, suka bermain dengan wanita, dan sifat-sifat buruk lainnya. Ca Bau Kan sendiri memiliki arti ―wanita penghibur‖, yang menceritakan Tinung sebagai wanita simpanan dari Tan Pei Liang. Dalam film ini jelas menegaskan stereotip mayoritas etnis Tionghoa di Indonesia adalah seorang yang berprofesi sebagai pedagang dan saudagar yang kaya raya.

2

Badan Pusat Statistik. 2000.

http://sp2010.bps.go.id/files/ebook/kewarganegaraan%20penduduk%20indonesia/index.html, diakses tanggal 28 Februari 2017

3

Op. cit, Leo, hlm 73

4

West, Richard. Lynn H.Turner. 2007. ―Pengantar Teori Komunikasi‖. Jakarta. Salemba Humanika.

(3)

Warga keturunan Tionghoa kembali dicitrakan negatif dalam film Wo Ai Ni (2004), di mana tokoh utama perempuan keturunan Tionghoa, terjebak dalam dunia pelacuran. Penindasan terhadap etnis Tionghoa juga kembali diceritakan dalam film May (2008), yang mengambil latar peristiwa kerusuhan Mei 1998. Film yang menguatkan etnis Tionghoa sebagai etnis minoritas kembali diceritakan dalam film Identitas (2009), di mana wanita sebagai tokoh utama di film tersebut ditemukan mati tanpa Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai warga negara Indonesia.

Nia Daniati kembali melahirkan film yang melanggengkan stereotip terhadap etnis Tionghoa pada filmnya yang berjudul Berbagi Suami (2006). Film ini mengangkat tiga cerita berbeda, yang ketiganya menceritakan tokoh-tokoh wanita yang berasal dari tiga kelas sosial, ekonomi, dan suku yang berbeda. Pada cerita ketiga, mengisahkan pasangan etnis Tionghoa, yaitu Koh Abun dan Cik Linda. Koh Abun adalah suami dari Cik Linda, berselingkuh dengan tokoh Ming, yang digambarkan sebagai wanita muda penggoda. Sebagai istri, Cik Linda juga dicitrakan sebagai wanita Tionghoa yang licik, pelit, galak, suka mengatur, dan cerewet.

Dari banyaknya produksi film yang mengangkat tema-tema seputar etnis Tionghoa, mayoritas dari film-film tersebut menggambarkan tokoh-tokoh yang sangat kental dengan tradisinya. Baik dari kebiasaan hidup, adat istiadat, penampilan, bahkan logat bahasa yang dipakai. Seperti pada film-film yang telah disebutkan sebelumnya, mayoritas film-film tersebut merepresentasikan Tionghoa sebagai etnis yang terpojokkan. Beberapa di antaranya juga dicitrakan sedemikian rupa agar mengundang simpati audiens. Sebagai contohnya, lelaki keturunan Tionghoa digambarkan sebagai saudagar yang memiliki kekayaan berlebih dan suka mempermainkan wanita. Sedangkan, wanita etnis Tionghoa digambarkan sebagai wanita pelacur, penggoda, pelit, dan lain sebagainya. Banyaknya film yang menggambarkan etnis Tionghoa ke arah citra yang negatif dapat menimbulkan berbagai masalah, salah satunya adalah rasisme.

(4)

Hingga akhirnya muncullah sineas muda berketurunan Tionghoa bernama Ernest Prakasa. Seorang aktor, komedian, sekaligus sutradara yang terlahir dengan kondisi fisik yang berbeda dibandingkan kebanyakan orang di Indonesia. Memiliki kulit putih dan bermata sipit hanyalah dua diantara ciri-ciri fisik Ernest yang membuatnya berbeda dengan teman-teman di sekelilingnya. Perbedaan atas gabungan dari ciri biologis, keyakinan, dan budaya itulah yang memaksa Ernest untuk membiasakan dirinya bertemu dengan kondisi sosialnya yang rasis. Namun, dari latar belakang pengalaman Ernest tersebut tidak membuatnya berhenti dalam berkarya. Sampai akhirnya, Ernest Prakasa mengeluarkan karya perdananya sebagai sutradara sekaligus penulis skenario, yang ia beri judul Ngenest: Ngetawain Hidup Ala Ernest (2015). Film garapannya ini pun menjadi etalase baginya untuk memutar lagi memori-memori rasis yang pernah ia dapatkan sewaktu kecil sampai ke jenjang pernikahan. Dalam kisah hidupnya itu, penonton dipaparkan pada pengalaman traumatis Ernest, yang begitu tersembunyi di balik gelaran humor yang ia buat. Segala bentuk penindasan dan ejekan terhadap etnis Tionghoa secara umum, dan dirinya secara khusus, ia letakan pada konteks komedi yang pas. Kecemasannya memiliki anak berpenampilan fisik serupa Cina juga tersampaikan lewat visual yang menggelikan, padahal jelas itu adalah suatu hal yang miris. Panggilan ―Cina‖, maupun ledekan rasis lainnya, juga ditempatkan pada timing yang tetap lucu. Para pelakunya pun tidak terlampau intimidatif. Justru sebaliknya, mereka juga mempunyai porsi yang sama untuk turut ditertawakan.

Ngenest (2015) hadir dengan nafas komedi yang segar dan premis yang berbeda dari film-film komika pendahulunya. Kekhawatiran Ernest merupakan representasi suara warga keturunan Tionghoa di Indonesia, yang selama ini selalu mengeluh dalam lingkaran diskriminasi tiada akhir. Sebagai film komedi, Ernest menawarkan penulisan cerita yang baru, dengan tetap membawa isu rasisme yang dirasakan oleh mayoritas warga keturunan Tionghoa. Melalui film yang ia buat,

Ngenest (2015) berhasil mendapatkan tiga penghargaan sekaligus pada Indonesian Box Office Movie Awards 2016, yaitu penghargaan kepada Ernest Prakasa sebagai

(5)

Penulis Skenario Terbaik, Kevin Anggara sebagai Pendatang Baru Pria Terbaik, dan Lala Karmela sebagai Pendatang Baru Wanita Terbaik. Penghargaan selanjutnya diterima oleh Ernest Prakasa sebagai Penulis Skenario Terbaik di

Festival Film Bandung 2016.

Dalam film ini, Ernest membawa isu rasisme yang sangat nyata tergambar di setiap ceritanya. Dimulai dari memori masa kecilnya, ia seringkali dibully oleh teman-teman satu sekolahnya karena ia mempunyai mata sipit dan berkulit putih. Atas alasan perbedaan bentuk fisik itulah, ia akrab dengan sapaan ―Cina‖ di lingkungan sekolahnya. Perlakuan bullying dan rasisme berlanjut hingga Ernest masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yakni SMP dan SMA. Untungnya, Ernest tidak sendiri. Ia punya sahabat karib bernama Patrick yang juga keturunan Tionghoa. Berbeda dengan Ernest yang cenderung tidak melakukan perlawanan atas tindakan bullying yang ia terima dari teman-temannya, Patrick justru menjadi sahabat yang banyak akal untuk menyelamatkan Ernest. Patrick adalah orang yang sangat anti dan tidak mau bergaul bersama teman pribumi yang sering menjahilinya. Namun dengan bermacam cara, Ernest justru terus berupaya untuk mendekatkan dirinya dengan teman-temannya yang pribumi. Dalam suatu adegan diceritakan, Ernest bahkan ikut meneriaki orang lain yang juga sama-sama keturunan Tionghoa dengan sebutan ―Cina‖. Ledekan rasis yang justru keluar dari orang yang berasal dari etnis yang sama, hanya agar ia diterima di lingkungan teman-teman pribuminya.

Berbagai cara telah dicoba Ernest untuk bisa mengaburkan jarak antara pribumi dan etnis Tionghoa, namun gagal. Ernest sempat beranggapan bahwa ini adalah nasib sebagai orang berketurunan Tionghoa yang harus ia terima. Sampai akhirnya, Ernest beranjak dewasa dan mulai memikirkan bagaimana caranya menghentikan ―kutukan‖ rasisme yang selama ini terus menghantui sepanjang hidupnya. Satu-satunya cara yang terpikirkan Ernest waktu itu adalah menikahi wanita asli pribumi, agar kelak keturunannya nanti tidak memiliki bentuk fisik yang sama seperti dirinya. Dengan strategi itulah, cerita berlanjut pada momen-

(6)

momen dimana Ernest mulai mendekati seorang gadis bernama Meira (Lala Karmela), seorang wanita pribumi asal Bandung.

Isu rasisme kembali diangkat dalam beberapa scene saat hubungan Ernest dan Meira tidak mendapat restu dari kedua orangtua Meira. Dalam satu adegan, ayah Meira bercerita kepada Meira tentang pengalaman masa lalunya yang pernah ditipu oleh seseorang yang berketurunan Tionghoa.

Hingga akhirnya, setelah 5 tahun berpacaran mereka pun menikah. Masalah kembali muncul ketika memasuki momen resepsi pernikahan Ernest dan Meira. Keluarga Ernest telah menyiapkan resepsi yang kental dengan nuansa Tionghoa, yang jelas ditolak oleh Meira dan keluarganya. Bahkan ada satu adegan yang cukup menarik ketika ada karangan bunga yang menuliskan nama Meira menjadi Mei-Mei. Adegan ini jelas sebagai bentuk sindiran pada kebijakan di masa Orde Baru yang mewajibkan warga keturunan etnis Tionghoa mengganti namanya menjadi nama yang lebih pribumi. Kemudian, ada juga adegan yang membahas karangan bunga yang berasal dari orangtua Patrick. Orangtua Patrick yang juga seorang pedagang, mencantumkan nomor telepon di dalam karangan bunga tersebut agar dapat dihubungi calon pelanggannya sewaktu-waktu. Dalam adegan ini terlihat sangat jelas usaha-usaha menstereotipkan etnis Tionghoa sebagai pedagang yang penuh perhitungan, tetapi tetap dibawakan dengan gaya komedi khas Ernest Prakasa.

Setelah keduanya resmi menjadi pasangan suami-istri, masalah yang berkaitan dengan isu rasisme belum juga berhenti. Kekhawatiran Ernest dengan keberlanjutan keturunannya menjadi fokus utama cerita Ngenest (2015). Ernest menyadari bahwa dengan menikahi wanita asli pribumi bukan berarti calon keturunannya kelak akan memiliki bentuk fisik yang berbeda dari dirinya. Kekhawatiran akan mata sipit, kulit putih, dan panggilan-panggilan ―Cina‖ selalu menghantui Ernest, yang menyebabkan dirinya menunda kehamilan istrinya. Hingga pada akhirnya, kekhawatiran itupun terjadi. Ia mempunyai anak dengan bentuk fisik menyerupainya.

(7)

Meski film Ngenest (2015) berbasis komedi, tetapi banyak tanda dan simbol yang mengandung makna tertentu. Apalagi isu rasisme yang ingin disampaikan Ernest berasal dari pengalaman pribadinya sendiri. Melalui film yang ia buat ini, Ernest punya kesempatan untuk membagikan keresahannya atas beragam diskriminasi etnis yang ia alami di masa lalu. Lewat sentuhan drama komedi, Ernest justru memilih untuk menertawakannya. Seperti tagline yang ia bubuhkan dalam judul filmnya ini, Ngenest: Ngetawain Hidup ala Ernest.

Dalam bukunya yang berjudul Prasangka dan Konflik, Alo Liliweri mendefinisikan rasisme sebagai suatu keyakinan yang terorganisasi mengenai sifat inferioritas dari suatu kelompok sosial, dan kemudian karena dikombinasikan dengan kekuasaan, keyakinan ini diterjemahkan dalam praktik hidup untuk menunjukkan kualitas atau perlakuan yang berbeda.5

Jika ditarik lebih jauh lagi, sejarah rasisme terhadap etnis Tionghoa di Indonesia memiliki memori kelam yang luar biasa. Penelitian Amy Freedman dari Franklin and Marshall College, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa kebencian terhadap etnis Tionghoa merupakan hasil dari politik pecah belah Soeharto. Dalam jurnal penelitian berjudul Political Institutions and Ethnic Chinese Identity in Indonesia, Freedman menyebut Soeharto memaksa masyarakat Tionghoa untuk melakukan asimilasi sembari mengidentifikasi mereka sebagai bukan pribumi.6 Sebagian kecil etnis Tionghoa di Indonesia pada masa Soeharto menikmati berbagai fasilitas investasi sehingga menjadi sangat kaya. Sekelompok kecil ini akhirnya dianggap sebagai representasi seluruh etnis Tionghoa, sebagai kelompok yang memiliki kekuasaan dan punya kekayaan dengan cara yang culas.

Di zaman Orde Baru, salah satunya dapat dilihat di www.tionghoa.info, masyarakat etnis Tionghoa kerap mendapat perlakuan diskriminatif. Walaupun jelas-jelas mereka adalah warga negara Indonesia yang memiliki nenek atau kakek kelahiran bumi pertiwi, tetap saja golongan ini dianggap the other atau liyan. Ada

5

Liliweri, Alo. Prasangka dan Konflik, LKiS Pelangi Aksara, 2005, hlm 29-30

6

(8)

identitas yang menyebabkan orang Tionghoa dicap sebagai warga negara keturunan dan tersekat dengan para pribumi.

Pemerintahan Soeharto pun menerapkan berbagai kebijakan yang mendiskreditkan etnis Tionghoa di skala nasional. Diantaranya adalah peraturan ganti nama di mana WNI keturunan Tionghoa dihimbau untuk mengganti nama Tionghoanya menjadi nama yang berbau Indonesia. Selain itu, warga Tionghoa dilarang mengadakan ritual dan tradisi adat istiadatnya, ke-Tionghoaan dianggap semacam keburukan rasialis, istilah Tionghoa diganti ―Cina‖ yang pada masa itu dianggap sebagai sebutan yang merendahkan etnis Tionghoa. Tidak hanya sampai di situ saja, WNI keturunan Tionghoa tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam lingkungan pemerintahan, dan setiap WNI keturunan Tionghoa diwajibkan memiliki SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia) yang menandakan tidak diakuinya warga Tionghoa sebagai warga negara asli Indonesia.7

Pada peristiwa yang dikenal dengan kerusuhan Mei 1998, banyak etnis Tionghoa yang menjadi korban. Kerusuhan ini diawali oleh krisis finansial Asia dan dipicu oleh tragedi Trisakti di mana empat mahasiswa Universitas Trisakti ditembak dan terbunuh dalam demonstrasi 12 Mei 1998. Pada kerusuhan ini, banyak toko dan perusahaan dihancurkan oleh amuk massa -- terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa.8 Puluhan dan mungkin ratusan masyarakat dari etnis Tionghoa dianiaya, dijarah, dibakar, dilucuti pakaiannya di depan umum, dan diperkosa secara biadab hanya karena mereka berasal dari etnis Tionghoa. Dalam peristiwa tersebut, banyak warga Tionghoa yang psikologisnya terganggu karena kehilangan anggota keluarganya.9

Rasisme, diskriminasi rasial, stereotip, prejudice dan berbagai sikap intoleransi masih terus berlanjut pada masa peralihan Orde Baru menuju Reformasi. Wujud nyata stereotip terjadi pada warga Tionghoa yang dianggap

7

Op. Cit Leo. hlm 15 8

http://www.semanggipeduli.com/Sejarah/frame/kerusuhan.html 9

(9)

sebagai orang kaya dan orang asing oleh pribumi. Warga keturunan Tionghoa selama ini dianggap hanya punya pengaruh di sektor ekonomi, dengan banyaknya warga Tionghoa yang berprofesi di bidang niaga. Banyak tokoh pribumi merasa bahwa etnis Tionghoa memonopoli jaringan distribusi dan karena itu mereka dianggap ―menguasai‖ ekonomi Indonesia.10

Melalui penelitian ini, peneliti ingin membedah wacana rasisme yang terkandung di dalam film. Seperti yang telah disebutkan di awal, film Ngenest (2015) dipilih selain karena mengandung banyak simbol dan makna-makna tersembunyi, juga dirasa perlu karena pertimbangan sutradara yang berada di balik proses penggarapannya. Film Ngenest tentu menjadi wujud ekspresi atas pengalaman rasis yang diterima oleh pembuatnya. Hubungan antara filmmaker, kondisi sosiokultural, dan hasil teks film akan dianalisis lebih mendalam dengan menggunakan analisis wacana kritis Norman Fairclough. Peneliti menganut paradigma kritis konstruktivisme dalam melakukan serangkaian analisis penelitian ini.

Guna mendukung dan memperkuat penelitian ini, peneliti juga sempat mencari dua penelitian sejenis yang sama-sama mengangkat isu tentang etnis Tionghoa. Pertama, penelitian milik Rio Febriannur Rahman mahasiswa Universitas Airlangga yang berjudul Diskriminasi Etnis Tionghoa Dalam Film Babi Buta Yang Ingin Terbang. Dalam penelitiannya, Rio menggunakan metode kualitatif dengan analisis semiotika. Kedua, penelitian milik Nindasari Wijaya mahasiswi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, yang berjudul Representasi Etnis Tionghoa Dalam Film Gie. Dalam penelitiannya, Nindasari menggunakan analisis wacana Fairclough untuk mengkaji lebih dalam penelitiannya. Sebagai tambahan, peneliti juga menjadikan thesis milik Sudjadmi, dari mahasiswi S2 Sosiologi UGM, yang berjudul Analisis Wacana Kritis Film Minggu Pagi di Victoria Park, sebagai referensi peneliti untuk memperkaya khasanah akan metode penelitian yang ingin dipakai.

10

(10)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang sudah dipaparkan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana wacana rasisme terhadap etnis Tionghoa direpresentasikan dalam film Ngenest?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui wacana rasisme terhadap etnis Tionghoa yang direpresentasikan dalam film Ngenest (2015)

D. Manfaat Penelitian

1. Membuka pemikiran masyarakat Indonesia tentang pentingnya memahami isu-isu rasisme yang berpotensi memecah-belah kemajemukan bangsa Indonesia.

2. Penelitian ini diharapkan pula mampu memberikan kontribusi terhadap kajian budaya, khususnya mengenai studi etnis dan minoritas.

3. Menjadi sarana untuk menambah pengetahuan dan menjadi referensi bagi penelitian-penelitian selanjutnya mengenai analisis representasi rasisme dalam film Indonesia.

E. Kerangka Teori

1. Konsep dan Praktik Rasisme

Pada hakikatnya rasisme berkembang dalam ranah ilmu humaniora, termasuk cangkupan di dalamnya ilmu antropologi, sosiologi dan kajian budaya. Pada ilmu sosiologi, rasisme masuk ke studi mengenai diskriminasi sosial. Para ahli antropologi fisik umumnya membedakan ras berdasarkan lokasi geografis, ciri-ciri fisik seperti -- warna mata, warna kulit, bentuk wajah, warna rambut, bentuk

(11)

kepala -- dan prinsip evolusi rasial.11 Sedangkan Hugo F. Reading, berpendapat bahwa rasial adalah usaha untuk mengelompokkan penduduk berdasarkan kriteria genetika, perbedaan secara genetik, lalu memisahkan sesuai kelompoknya meski terlepas dari lokasinya.12

Sedangkan, Alo Liliweri mendefinisikan rasisme sebagai suatu keyakinan yang terorganisasi mengenai sifat inferioritas dari suatu kelompok sosial, dan kemudian karena dikombinasikan dengan kekuasaan, keyakinan ini diterjemahkan dalam praktik hidup untuk menunjukkan kualitas atau perlakuan yang berbeda.13

Rasisme juga dapat dijabarkan sebagai gagasan atau teori yang mengatakan bahwa kaitan kausal antara ciri-ciri jasmaniah yang diturunkan dan ciri-ciri tertentu dalam hal kepribadian, intelek, budaya atau gabungan dari semua itu, menimbulkan superioritas dari ras tertentu terhadap yang lain.14

Dari beberapa definisi yang telah disebutkan di atas, peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa rasisme bukan hanya sebatas perlakuan diskriminasi atas dasar ciri-ciri fisik yang berbeda saja. Selain karena ciri fisik dan prinsip biologis, rasisme juga berlaku dalam hal kepribadian, intelek, dan budaya. Gabungan dari ketiga hal itu bisa turut menimbulkan superioritas dari ras tertentu terhadap ras yang lainnya.

Dalam praktik sosialnya, efek yang ditimbulkan dari diskriminasi ras mempengaruhi banyak lapisan, mulai dari yang internal seperti aspek psikologis seseorang, hingga yang eksternal sekalipun -- sejarah peradaban manusia dan sistem politik suatu negara. Sejarah telah mencatat praktik diskriminasi ras memiliki pengaruh besar, termasuk di Indonesia.

Diskriminasi adalah perlakuan yang tidak adil yang dirasakan perseorang atau kelompok. Biasanya dilakukan terhadap kaum minoritas yang lemah. Imbas 11

J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, Sosiologi; Teks Pengantar dan Terapan, Cetakan ke-2, Jakarta: Kencana, 2006, hlm. 196

12

Hugo F. Reading, Kamus llmu-ilmu Sosial, s.v. "rasial."

13

Op. Cit, Liliweri, hlm 29-30 14

N. Daldjoeni, Ras -ras Umat Manusia; Biogeografis, Kulturhistoris, Sosiopolitis, Bandung: Citra Aditya Bakti, 1991, hlm. 81

(12)

diskriminasi jelas merugikan. Ada banyak efeknya. Mulai dari perasaan teralienasi, rendah diri, terpojok, hingga menjadi objek kekerasan.15

Dalam analisis klasik, kelompok minoritas, menurut Louis Wirth, diartikan sebagai kelompok yang memiliki karakteristik fisik dan budaya yang sama, kemudian ditunjukkan kepada orang lain dimana mereka hidup dan berada. Akibatnya, kelompok itu diperlakukan secara tidak adil sehingga mereka merasa kelompoknya dijadikan objek sasaran diskriminasi, karena kelompok minoritas dikriteriakan sebagai kelompok yang kurang memiliki kuasa jika dibandingkan dengan kelompok mayoritas. Kriteria lain etnis minoritas menunjukkan diferensiasi yang berbeda dengan mayoritas dan etnis mayoritas dianggap berada dalam stratifikasi yang lebih tinggi daripada etnis minoritas16.

Menurut Olsen, pola perlakuan tidak setara terhadap kelompok minoritas bukan sekedar merupakan persoalan bagaimana individu-individu memperlakukan satu sama lain, tetapi merupakan bagian tak terpisahkan dari persoalan di mana suatu masyarakat diorganisasikan dan bagaimana kebijakan diambil terhadap kelompok minoritas. Kelompok dominan suatu masyarakat mungkin memperlakukan kelompok minoritas dalam berbagai cara. Pola perlakuan tidak setara yang dilakukan oleh etnis mayoritas terhadap etnis minoritas ini, pada akhirnya sering diwujudkan dalam sikap diskriminasi17.

Diskriminasi adalah perwujudan dari sikap stereotip dan prasangka dalam bentuk perilaku nyata. Perilaku tersebut dapat berupa tindakan dan rencana yang dilakukan secara terbuka atau tertutup dalam usahanya untuk menyingkirkan, menjauhi atau membuka jarak, penekanan dan menyudutkan terhadap seseorang atau kelompok tertentu. Perilaku ini bersifat kekerasan baik secara fisik maupun kekerasan sosial. Diskriminasi lebih lanjut akan menimbulkan konflik-konflik antar etnis terutama ketika etnis yang menjadi korban dari diskriminasi mencoba

15

Fulthoni, et. al. 2009. Memahami Diskriminasi: Buku Saku Kebebasan Beragama. Jakarta: ILRC.

16

Op. Cit, Liliweri, hlm 106

17

Habib, Achmad. 2004. Konflik Antaretnik di Pedesaan (Pasang Surut Hubungan Cina-Jawa), Yogyakarta; PT LKiS

(13)

melakukan melakukan perlawanan terhadap kelompok yang melakukan diskriminasi.

Secara tipikal anggota kelompok minoritas mempunyai solidaritas internal kelompok yang kuat, karena diikat oleh tradisi, kebudayaan mereka, agama dan bahasa. Namun, karena solidaritas yang kuat tersebut membuat etnis minoritas sering bersikap ekslusif sehingga membuat etnis tersebut selalu distereotip dengan negatif18.

Menurut Myers, stereotip adalah suatu bentuk keyakinan yang dimiliki oleh seseorang atau suatu kelompok tentang atribut personal yang ada pada kelompok tertentu.19 Stereotip bisa pula diartikan sebagai pelabelan terhadap pihak atau kelompok tertentu yang selalu berakibat merugikan pihak lain dan menimbulkan ketidakadilan.20

Stella Ting Toomey menyebut identitas sebagai refleksi diri atau cerminan diri yang berasal dari keluarga, gender, budaya, etnis dan proses sosialisasi Identitas pada dasarnya merujuk pada refleksi dari diri kita sendiri dan persepsi orang lain terhadap diri kita.21

Identitas berawal dari teori identitas sosial yang dikemukakan oleh Henri Tajfel dan John Turner pada tahun 1979. Teori tersebut awalnya dikembangkan untuk memahami dasar psikologis dari diskriminasi antar kelompok. Secara perilaku dan keyakinan, etnis Tionghoa memang memiliki karakteristik sendiri. khususnya, saat merayakan hari keagamaan. Selain itu, dari postur dan ciri-ciri fisik, mereka juga mempunyai perbedaan dengan orang pribumi atau yang bukan keturunan Tionghoa. Misalnya, berkulit putih dan bermata sipit.22

18

Op. Cit, Liliweri, hlm 109

19

Hanurawan, F. & Diponegoro, A.M. Psikologi Sosial Terapan dan Masalah-Masalah Sosial, Yogyakarta. 2005, hlm 117

20

Bagong, Suyanto J. Dwi Narwoko. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Cetakan ke-2, Jakarta: Kencana Media Group, 2009, hlm 322

21

Samovar, L. A., Porter, R. E., & McDaniel, E. R. Media and intercultural communication:

identity, community, and politics. 2009. 22

Henry, Tajfel & John C, Turner. The Social Identity Theory of Intergroup Behavior, terarsip dalam

(14)

Secara perilaku dan keyakinan, etnis Tionghoa memang memiliki karakteristik sendiri. khususnya, saat merayakan hari keagamaan. Selain itu, dari postur dan ciri-ciri fisik, mereka juga mempunyai perbedaan dengan orang pribumi atau yang bukan keturunan Tionghoa. Misalnya, berkulit putih dan bermata sipit. Ngenest (2015) memotret anggapan bahwa etnis ini adalah liyan dari warga Indonesia. Penegasan perbedaan identitas itu bahkan digambarkan di awal cerita.

2. Prasangka dan Stereotip sebagai Bentuk Rasisme

Paham rasisme berdasarkan uraian yang sudah dijelaskan pada sub-bab sebelum ini, dapat terjadi secara individual, institusional maupun budaya. Seperti pada tabel di bawah ini:23

Tabel I.I

Model Analisis Rasisme

Rasisme Individu Rasisme Institusional Rasisme Budaya

Perilaku Buruh Estetika

Sikap Hukum Agama

Sosialisasi Kesehatan Musik

Minat Pribadi Ekonomi Filsafat

Politik Nilai-Nilai

Perumahan Kebutuhan

Kepercayaan

Rasisme juga tidak terlepas dari dua aspek yaitu diskriminasi ras dan prasangka ras (prejudice). Istilah diskriminasi ras mencakup segala bentuk perilaku pembedaan berdasakan ras. Bentuk diskriminasi ras tampak jelas dalam pemisahan (segregasi) tempat tinggal warga ras tertentu di kota-kota besar di dunia Barat maupun Timur. Juga tata pergaulan antar ras yang memperlakukan etiket (tata sopan santun) berdasarkan superioritas/inferioritas golongan.

http://web.mit.edu/curhan/www/docs/Articles/15341_Readings/Intergroup_Conflict/Tajfel_&_Tur ner_Psych_of_Intergroup_Relations_CH1_Social_ Identity_Theory, diakses pada 21 Desember 2017

23

(15)

Termasuk di dalamnya pemilihan teman maupun perjodohan.24 Aspek kedua dari rasisme adalah prasangka ras. Prasangka atau prejudice merupakan akar umbi segala bentuk rasisme. Prasangka adalah pandangan yang buruk terhadap individu atau kelompok manusia lain dengan hanya merujuk kepada ciri-ciri tertentu seperti ras, agama, pekerjaan, jantina atau kelas.

Diskriminasi dan prasangka saling menguatkan. Prasangka mewujudkan suatu rasionalisasi bagi diskriminasi, sedangkan diskriminasi acapkali membawa ancaman. Dalam suasana prasangka dan diskriminasi tidak ada tempat bagi toleransi dan keterbukaan.

Tabel I.II

Empat Tipe Prasangka Menurut Robert K. Merton25

Tidak Diskriminatf Diskriminatif

Tidak Berprasangka Tipe 1 Tipe 2

Orang yang tidak Orang yang tidak berprasangka dan tidak berprasangka namun diskriminatif diskriminatif

Prasangka Tipe 3 Tipe 4

Orang yang berprasangka Orang yang namun tidak diskriminatif berprasangka dan

diskriminatif

Tipe 1 dan 2 digolongkan sebagai orang yang liberal, dengan ciri-ciri antara lain, sangat kuat memegang komitmen terhadap keseimbangan dan kesetaraan antar-individu dalam masyarakat. Bagi tipe kelompok 1, dalam keadaan apapun, keseimbangan dan kesetaraan itu sangat perlu, sedangkan tipe kelompok 2 hanya mengakui bahwa pada saat-saat tertentu orang menjadi sangat liberal. Tipe kelompok 3 dan 4 merupakan orang yang tidak percaya pada perlakuan yang tidak adil atau perlakuan yang tidak sama terhadap etnik dan ras. Mereka lebih yakin pada tindakan yang mereka lakukan. Tipe 3 disebut timid-

24

Adi, Stanley Prasetyo.Rasisme dan Rasialisme.Jakarta: Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP). 1999, hlm 97

25

(16)

bigot, yakni orang yang malu-malu; pada saat tertentu, dia menjadi orang yang fanatik/baik. Sebaliknya, tipe kelompok 4 berani/fanatik kapanpun saja.26

Prasangka antar-ras dan antar-etnik, meski didasarkan pada generalisasi keliru pada perasaan, berasal dari sebab-sebab tertentu. Jhonson mengemukakan:

Prasangka itu disebabkan oleh (1) gambaran perbedaan antar kelompok; (2) nilai-nilai budaya yang dimiliki kelompok mayoritas sangat menguasai kelompok minoritas; (3) stereotip antaretnik; dan (4) kelompok etnik atau ras yang merasa superior sehingga menjadikan etnik atau ras lain inferior.27

Prasangka merupakan aspek dari rasisme adalah gejala psikologis yang ditandai dengan sikap penuh emosi yang tidak disertai dengan bukti-bukti terlebih dahulu berdasarkan pengalaman. Pendorong munculnya prasangka dalam pergaulan antar ras adalah sugesti, kepercayaan, keyakinan dan emulasi (persaingan, perlombaan).28

Biasanya prasangka terdapat di kalangan negara-negara yang mayoritas masyarakatnya terdiri dari berbagai macam ras/etnik. Seperti yang ada di negara barat yang sebagian besar masyarakatnya berkulit putih. Kelompok mayoritas ini lalu meremehkan orang kulit hitam atau berwarna gelap ataupun kulit berwarna lainnya (imigran). Namun, juga memungkinkan prasangka bisa terdapat di kalangan negara-negara besar lainnya yang mayoritas penduduknya terdiri dari berbagai macam etnik/ras seperti di Indonesia.

Seringkali, prasangka timbul akibat penilaian awal (prejudgement) yang dibentuk tidak dirujuk dengan tinjauan terhadap fakta-fakta yang sebenarnya terjadi. Perasaan prasangka seringkali dijadikan alat oleh golongan mayoritas untuk menindas golongan minoritas. Walau demikian, ini tidak berarti bahwa

26

Ibid hlm 204-205 27

Ibid, hlm 203 28

(17)

golongan minoritas yang berteman tidak mempunyai prasangka terhadap anggota mayoritas atau kelompok lain.

Salah satu bentuk dari prasangka antar etnik/ras adalah stereotip. Pemberian stereotip merupakan hasil yang kadang-kadang sangat alamiah dalam proses hubungan atau komunikasi antar ras/etnik. Sedangkan stereotip etnis adalah konsepsi negatif terhadap group etnis.29 Stereotip adalah citra yang dimiliki sekelompok orang tentang sekelompok orang lainnya. Stereotip biasanya negatif dan dinyatakan sebagai sifat-sifat kepribadian tertentu.30 Dalam masyarakat yang multikultur, stereotip seringkali terjadi. Pemberian sifat tertentu terhadap lawan komunikasi lebih sering karena didasari oleh prasangka, sehingga penilaian yang diberikan menjadi tidak objektif.

3. Teori Asimilasi

Ada banyak ahli yang memberikan definisi mengenai asimilasi, diantaranya adalah Gordon. Gordon memberikan penekanan bahwa asimilasi didasarkan pada pandangan egalitarian yang menempatkan kelompok etnik sebagai pemilik kedudukan yang setara dan berintegrasi dalam masyarakat, serta menerima untuk berpartisipasi secara penuh dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat. Karya klasik tentang studi asimilasi yang ditulis oleh Gordon,31 juga memberikan kepada kita pemahaman

mengenai asimilasi. Gordon mengemukakan adanya tiga model asimilasi dasar dalam masyarakat Amerika, yaitu: konformitas (conformity), persenyawaan (melting pot), dan kemajemukan budaya (cultural pluralism).

Konformitas merupakan istilah umum yang menunjuk pada suatu jenis asimilasi dimana tidak ada oposisi terhadap pendatang sepanjang kelompok pendatang berupaya menyeragamkan diri dengan standar-standar yang secara umum diterima masyarakat setempat. Pandangan ini menyiratkan bahwa

29

Lewis, Glen, Christina Slade. Critical Communication. Australia, Prentice Hall. 1994, hlm 131

30

Mulyana, Deddy, Jalaludin Rahmat, Komunikasi Antar Budaya (Bandung: PT.Remaja Rosda Karya, 2003), hal 184

31

Gordon, Milton M. 1964. Assimilation in American Life: The Role of Race, Religion, and

(18)

kelompok pendatang dituntut untuk menyesuaikan dirinya dengan nilai-nilai sosial umum, dan karena itu harus melepaskan nilai-nilai sosialnya sendiri.

Pola kedua asimilasi adalah persenyawaan. Dalam model ini semua kelompok etnik bercampur-campur menjadi satu sehingga membentuk budaya dan masyarakat baru yang didasarkan pada prinsip persaudaraan manusia. Dalam kenyataannya, teori persenyawaan antar etnik ini sulit dicari kasus empiriknya. Amerika, misalnya walaupun dipandang memiliki sejumlah prasyarat yang memungkinkan terjadinya persenyawaan, ternyata juga tidak bisa menghasilkan suatu bentuk masyarakat baru. Ini berarti pula bahwa masing-masing kelompok etnik masih mempertahankan identitas kultural serta "kemurnian' biologiknya.

Pola ketiga asimilasi adalah kemajemukan budaya. Pola ini terjadi apabila nilai-nilai antar kelompok, baik mayoritas maupun minoritas tetap menjunjung tinggi identitas budaya mereka yang berlainan, tetapi berupaya mencapai kesatuan ekonomi dan politik. Tidak seperti penggambaran masyarakat dan kebudayaan tunggal yang tersirat dalam model konformitas dan pola persenyewaan, kemajemukan budaya mengakui dan menerima kenyataan akan tradisi yang dibawa oleh setiap kelompok etnik, walaupun boleh ladi secara bersamaan kelompok pendatang juga mempelajari nilai-nilai dan norma-norma penduduk asli.

Dalam kasus Indonesia, permasalahan sulitnya asimilasi etnis Tionghoa dengan pribumi disebabkan oleh beragam faktor, yang bertalian sosio-historis, ekonomi, politik dan hubungan budaya etnis Tionghoa dengan pribumi itu sendiri.32 Temuan penelitian dari Idi ini adalah bahwa ternyata pluralisme budaya (cultural pluralism) telah menjadi dasar sosio-kultural bagi kedua etnis tersebut untuk berasimilasi. Berbeda dengan asimilasi yang didasarkan pada teori Anglo-Conformity yang menghendaki adanya peleburan budaya leluhur imigran ke dalam perilaku dan nilai-nilai kelompok primer, atau dengan teori Melting Pot yang menghendaki adanya peleburan biologis dari pribumi dengan kelompok

32

(19)

imigran serta penyatuan budaya-budaya leluhur para imigran ke dalam suatu tipe budaya asli, asimilasi berdasarkan pluralisme budaya justru membenarkan suatu kondisi yang tidak berubah dari kehidupan komunal budaya kelompok imigran. Cultural pluralism tidak mendasarkan dirinya pada penghilangan identitas kelompok imigran, dan bahkan menghindarkan diri dari upaya penyerapan identitas tersebut ke dalam struktur budaya asli.

Lebih jauh lagi, pluralisme budaya memandang perlunya mempertahankan identitas kelompok imigran dengan jalan mengadopsi prinsip-prinsip pluralisme budaya dalam konteks masyarakat pribumi. Asimilasi antar etnis sejatinya memang tetap menghargai aspek-aspek pluralisme yang terdapat dalam dua kelompok etnis yang berinteraksi secara asimilatif itu. Sebagai salah satu contoh dasar, masyarakat Tionghoa dan Melayu di Bangka kiranya telah berhasil mempraktekkan asimilasi berdasar konsep cultural pluralism, sehingga konflik antar etnis di Bangka dapat dihindari.

Menurut Magill,33 tahapan paling dasar dan yang paling penting adalah tahapan akulturasi atau asimilasi budaya. Tahapan ini menjadi tahapan dasar yang penting karena menunjukkan keinginan dan kebersediaan etnis Tionghoa di Indonesia untuk memulai proses asimilasi total. Bagi etnis Tionghoa sendiri, akulturasi merupakan suatu proses panjang dalam rangka pembentukan identitas budayanya.

Menurut Ting-Toomey34 identitas budaya merupakan perasaan (emotional significance) dari seseorang untuk ikut memiliki (sense of belonging) atau berafiliasi dengan budaya tertentu. Orang mempertimbangkan diri mereka sebagai representasi dari sebuah budaya partikular. Identifikasi kultural ini akan menentukan individu-individu yang termasuk dalam in-group ataupun out-group. Dari perspektif komunikasi, bahwa sebagai bagian dari masyarakat multikultur, selama ini kita tidak atau belum pernah melakukan komunikasi antarbudaya yang 33

Magill, Frank N. (1995). International Encyclopedia of Sociologt: Volume:1. UK&US, Fitzroy Dearborn Publisher.

34

Rahardjo, Tirrnomo (2005). Menghargai Perbedaan Kuhural: Mindfulness Dalam Komunihasi

(20)

efektif dari sebuah relasi antarmanusia yang bertujuan untuk meminimalkan kesalahpahaman budaya. Sebagai etnis pendatang, belum adanya pengakuan terhadap identitas budaya sebagai sebuah hak yang perlu dimiliki oleh setiap kelompok etnis sangat dirasakan oleh warga etnis Tionghoa di Indonesia.

Selama ini mereka terkekang dalam dua identitas budaya (bicultural), identitas Cina nenek moyang mereka dan identitas dimana mereka selama ini tinggal dan kenal. Walaupun banyak di antara mereka yang sama sekali tidak mengenal dan menganut budaya nenek moyang mereka, masih saja mereka diidentifikasi sebagai etnis Tionghoa yang berbudaya Cina. Masyarakat selama ini hanya melihat tampilan luar dan fisik dari kehidupan sosial dan budaya etnis Tionghoa di Indonesia.

4. Representasi

The Oxford English Dictionary mengartikan representasi sebagai sebuah upaya untuk mendeskripsikan atau melukiskan sesuatu. Secara substansif dapat diartikan bahwa esensi konsep representasi berupa sebuah upaya penggambaran sesuatu obyek melalui penggunaan lambang bahasa atau simbol. Upaya penggambaran itu bisa melalui media.35

Representasi dapat didefinisikan lebih jelasnya sebagai penggunaan tanda (gambar, bunyi, dan lain-lain) untuk menghubungkan, menggambarkan, memotret, atau mereproduksi sesuatu yang dilihat, diindera, dibayangkan, atau dirasakan dalam bentuk fisik tertentu.36 Istilah representasi menunjuk pada bagaimana seseorang, atau kelompok, gagasan atau pendapat tertentu ditampilkan dalam media. Representasi ini penting dalam dua hal. Pertama apakah seseorang atau kelompok atau gagasan tersebut ditampilkan sebagaimana mestinya. Dan

35

Mudjianto, Bambang . 2011. Representasi Umat Islam dalam Tajuk Rencana Surat Kabar

Ibukota Mengenai Kasus Makam Mbah Priok. Jakarta: Jurnal Studi Komunikasi dan Media. 36

(21)

yang kedua bagaimanakah representasi itu ditampilkan. Persoalan utama dalam representasi adalah bagaimana realitas, atau obyek tersebut ditampilkan.37

Representasi merupakan penggambaran realitas yang diproduksi oleh media. Dalam sebuah media massa, representasi menjadi sangat penting karena bisa menjadi sumber pemaknaan teks yang kuat di dalam realitas sosial. Hal penting yang lain juga dikemukakan oleh Irawanto dan Sobur dalam memberikan pemahaman bagaimana representasi memiliki peran dalam sebuah film, yakni:38

―Dalam perkembangannya, film tidak terlepas dari produksi, distribusi dan konsumsi. Film merupakan kumpulan ide dari si pembuatnya, karena penciptaan sebuah film tidak jarang melibatkan pengalaman dan kebudayaan si pembuat. Film selalu merekam realitas yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, dan kemudian memproyeksikannya ke atas layar.‖

―Film tidak dapat dipisahkan dari masyarakat sebagai media hiburan, karena itulah film menjadi salah satu media representasi. Film selalu mempengaruhi dan membentuk masyarakat berdasarkan muatan pesan (message) di baliknya, tanpa pernah berlaku sebaliknya.‖

Dalam proses representasi, ada tiga elemen yang terlibat: pertama, sesuatu yang direpresentasikan yang disebut sebagai objek; kedua, representasi itu sendiri, yang disebut sebagai tanda, yaitu simbol-simbol, gambar dan bahasa dalam film; dan yang ketiga adalah seperangkat aturan yang menentukan hubungan tanda dengan pokok persoalan, atau disebut coding. Coding inilah yang membatasi makna-makna yang mungkin muncul dalam proses interpretasi tanda. Sebuah tanda dapat menghubungkan objek untuk diidentifikasi, sehingga biasanya satu tanda hanya mengacu pada satu objek, atau satu tanda mengacu pada sebuah kelompok objek yang telah ditentukan secara jelas. Sehingga di dalam

37

Eriyanto. Analisis Wacana, Pengantar Analisis Isi Media. Yogyakarta : LKIS, 2001, hlm 113-114

38

Sobur, Alex. Analisis Teks Media; Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan

(22)

representasi terdapat kedalaman makna dan representasi mengacu pada sesuatu yang sifatnya orisinil.39

Menurut Hall representasi mengacu pada proses produksi makna melalui bahasa, karena merepresentasikan berarti mendeskripsikan sesuatu. Dalam pandangan ini bahasa merupakan sistem yang merepresentasikan konsep yang kita miliki, dan berfungsi mengkonstruksi makna, untuk memakai dunia dan untuk mengkomunikasikan bagaimana dunia memaknai satu sama lain.40

Christian Metz mendeskripsikan film sebagai praktek penandaan. Nilai dari tanda dalam sebuah film tergantung pada konteks sosial hubungannya. Berkaitan dengan kapan film tersebut diproduksi, kapan film tersebut ditonton dan siapa yang menonton film tersebut. Sebuah film memcerminkan ideologi dari siapa dan di mana film tersebut dibuat, sehingga film tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial serta budaya yang menjadi latar belakang pembuatan film tersebut. Pemaknaan dari film sendiri berhubungan erat dengan makna dari budaya tergantung waktu dan tempat film tersebut diproduksi. Sebagai praktek penandaan film menggunakan kode dan juga konvensi yang merupakan representasi dari pembuat dan penonton film. Penilaian penonton terhadap film dapat berubah dan berkembang dipengaruhi oleh kode dan konvensi. Penonton akan memproduksi makna menggunakan referensi berdasarkan kode yang berupa mitos-mitos dalam latar sosial film tersebut melalui pengalaman pribadi sesuai dengan kebudayaan yang dimiliki masing-masing penonton.41

Penelitian ini menggunakan film sebagai obyek kajiannya, di mana film berfungsi merefleksikan konteks sosial dan budaya yang terjadi di dalam masyarakat. Graeme Turner berpendapat bahwa film dilihat sebagai cermin yang memantulkan kepercayaan-kepercayaan dan nilai-nilai dominan dalam kebudayaannya. Bagi Turner film bukan hanya sekedar merefleksikan realitas,

39

Noviani, Ratna, Jalan Tengah Memahami Iklan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta 2002, hlm. 61

40

Hall, Stuart. Representation : Cultural Representation and Signifying Practises. London : Sage, 1997, hlm 25

41

Bignell, Jonathan. Media Semiotics: An Introduction. Manchester University Press: Manchester and New York, 1997, hlm 187

(23)

tetapi juga ikut membangun kembali realitas berdasarkan pandangan serta nilai sosial dan budaya yang berkembang dalam masyarakat sebagai representasi dari realitas tersebut. Bahwa film tidak pernah bisa lepas dari ideologi budaya yang melatarinya.42

5. Wacana sebagai Praktik Sosial

Hawthorn mengemukakan wacana sebagai komunikasi kebahasaan yang terlihat sebagai sebuah pertukaran di antara pembicara dan pendengar, sebagai sebuah aktivitas personal di mana bentuknya ditentukan oleh tujuan sosialnya. Wacana merupakan cara merepresentasikan aspek dunia, yaitu proses, hubungan dan struktur dari isi dunia, ―mental dunia‖ dari pikiran, perasaan, kepercayaan dan dunia sosial. Dalam hubungannya dengan ideologi, wacana dapat digunakan sebagai medium sehingga ideologi secara persuasif dapat membujuk masyarakat, dan membantu mereproduksi kekuatan dan dominasi dari kelompok atau kelas tertentu.43

Kajian mengenai wacana kini menjadi popular di berbagai lintas disiplin ilmu, baik dalam keilmuan linguistik, sosiologi, psikologi, dan lain sebagainya. Berawal dari kajian linguistik, perkembangan wacana lintas disiplin menghasilkan beragam konsep dan pemaknaan yang berbeda terhadap wacana tersebut, karena adanya perbedaan perspektif pada tiap-tiap disiplin. Hal tersebut membawa perkembangan yang beragam dimana konsep wacana terdahulu dikritik dan direkonstruksi oleh pemikir lain.

Misalnya saja Michel Foucault yang berawal pada kegelisahannya terhadap pereduksian makna wacana (diskursus).44 Berbasis pada kritiknya terhadap strukturalisme Ferdinand de Saussure yang menganggap bahasa sebagai sistem

42

Irawanto, Budi. Film Ideologi dan Militer Hegemoni Militer Dalam Sinema

Indonesia. Yogyakarta: Media Persindo, 1999, hlm 14

43 Hawthorn, 1992:48; quoted from S. Mills, Discourse, 1997: 6, terarsip dalam

https://www.academia.edu/7019831/Questioning_Discourse_-_The_Role_of_Critical_Discourse_Analysis_in_the_Study_of_the_Hebrew_Bible, diakses pada 22 Desember 2017

44

(24)

produksi makna yang secara ketat terdiri atas petanda (signified) dan penanda (signifier), Foucault sebaliknya justru menegaskan bahwa bahasa (wacana) merupakan sistem produksi makna yang menyediakan individu-individu cara melihat, berpikir, dan berperilaku.

Kritik senada juga dilontarkan oleh Norman Fairclough terkait dengan kecenderungan anti perubahan sosial dan anti subjek yang melekat dalam konsepsi wacana Foucault. Di satu sisi, Fairclough mengapresiasi beberapa pemikiran Foucault terutama terkait dengan relasi kuasa yang inheren dalam wacana, namun di sisi lain dia mengkritik makna konstitutif wacana yang justru menutup ruang transformasi sosial.

Fairclough mendefinisikan wacana dengan tiga cara berbeda. Cara pertama, dalam pengertian yang paling abstrak, diskursus dimaknai sebagai penggunaan bahasa sebagai praktik sosial. Kedua, diskursus diartikan sebagai sejenis bahasa yang digunakan dalam bidang tertentu, seperti diskursus politik, diskursus saintifik, dan lain-lain. Ketiga, dalam pengertian yang paling kongkrit, diskursus digunakan untuk menunjuk cara berbicara yang memberikan makna terhadap pengalaman-pengalaman dari perspektif tertentu, misalnya diskursus feminisme, diskursus marxis, diskursus neoliberal, dan sebagainya.45

Menurut Fairclough, praktik sosial tidak semata-mata sebagai refleksi dari realitas dan bersifat independen, namun selalu berada dalam hubungan yang dialektis dan aktif dengan realitas dan bahkan dapat mentransformasikannya. Begitu pula sebaliknya, realitas dapat mempengaruhi dan membentuk praktik sosial. Implikasinya struktur sosial sebagai bagian dari realitas juga berhubungan secara dialektis dengan diskursus atau praktik sosial. Fairclough menegaskan bahwa:

45

(25)

Social structures not only determines social practice, they are also a product of social practice. And more particularly, social structures not only determine

discourse, they are also a product of discourse.46

Berdasarkan hal tersebut, diskursus memiliki efek terhadap bangunan struktur sosial dan berkontribusi bagi terciptanya kontinuitas sosial atau perubahan sosial. Artinya, struktur sosial tertentu dapat terus mapan dan terjaga kontinuitasnya melalui penciptaan diskursus tertentu sebagai basis legitimasinya. Sebaliknya, perubahan sosial dapat terjadi ketika muncul diskursus yang mengkritik diskursus yang mapan dan sekaligus mengkritik struktur sosial yang ada.

Dengan menganggap diskursus sebagai praktik sosial, Fairclough secara otomatis menolak penyamaan diskursus dengan teks. Baginya, teks merupakan sebuah produk dari proses produksi teks dan bukan prosesnya itu sendiri. Adapun diskursus bersifat lebih luas yang mencakup seluruh proses interaksi sosial di mana teks hanya menjadi salah satu bagiannya. Munfarida mengungkapkan, analisis diskursus yang ditawarkan tidak hanya terfokus pada teks saja, tapi juga mencakup konsumsi teks oleh pembaca dan sekaligus relasinya dengan kondisi sosio-kulturalnya. Pembedaan antara teks dan diskursus, bagi Fairclough, penting untuk mendukung konsepsinya tentang diskursus sebagai praktik sosial. Dengan memandang teks hanya sebagai bagian dari diskursus, maka teks tidak dianggap otonom yang bebas dari lingkungan sosial.47

Teks di dalam media adalah hasil proses wacana media (media discourse). Di dalam proses tersebut, nilai-nilai, ideologi, dan kepentingan media turut serta. Hal tersebut memperlihatkan bahwa media ‗tidak netral‘ ketika mengkonstruksi realitas sosial. Media mengikutsertakan perspektif dan cara pandangnya dalam menafsirkan realitas sosial. Setiap penyampaian yang dilakukan oleh media harus

46

Norman Fairclough, Language and Power (England: Pearson Educated Limited, 2001), hlm. 31.

47

Edward W. Said, The World, the Text and the Critic (Cambridge, Massachussets: Harvard University Press, 1983), hlm. 35.

(26)

bersifat representatif murni dari isi atau konten yang ingin disampaikan oleh pihak-pihak yang memiliki wewenang atas wacana tersebut.

Media, khususnya film, menggunakan bahasa agar relevan dengan realitas. Bahasa dalam film dikenal dengan bahasa visual atau The Visual Grammar of Film, walaupun terdapat elemen audio dalam penyampaiannya. Future State TV dalam Community Classroom, terminologi dari The Visual Grammar of Film memiliki enam elemen. Enam elemen tersebut meliputi shots dan framing, sudut pengambilan gambar, pergerakan kamera, pencahayaan, teknik editing, dan suara. Melalui enam elemen tersebut, film menuturkan wacananya dengan setiap detil perubahan pada elemen-elemen tersebut yang mampu memberikan pengaruh pada wacana yang disampaikan.48

Bahasa visual menjelaskan wacana yang memang tidak hanya terkait dengan bahasa alami dan linguistik. Lebih dari itu, bahasa visual mencakup media visual dan semua modalitas komunikasinya yang meliputi citra, ucapan, gerak tubuh, kata-kata yang ditulis, citra bergerak, dan bentuk-bentuk representasi. Bahasa visual, berusaha membentuk makna fisik, sosial budaya, dan sejarah lingkungan. Fairclough mengungkapkan bahwa bahasa dalam media memiliki kemampuan untuk signifying power yang digunakan untuk mempengaruhi pengetahuan, kepercayaan, nilai-nilai, hubungan sosial, dan identitas sosial. Dengan demikian, analisis terhadap bahasa media menjadi penting untuk dilakukan guna mengetahui posisi dan kekuatan realitas yang diangkat melalui bahasa media.49

Faircough menambahkan bahwa terdapat dua tujuan dalam menganalisis bahasa media. Pertama, dengan mengeset framework untuk menganalisis bahasa media nantinya dapat digunakan untuk mengetahui kepentingan media massa melalui analisis lingustik dan dalam bentuk wacana. Ia beranggapan bahwa wacana yang terbentuk dalam media adalah sebuah bentuk dari praktik sosial. 48

Rakhmawati, Erlina. 2013. Politik Seksualitas Film Dokumenter Pertaruhan (Analisis Wacana Seksualitas Perempuan Indonesia dalam Feminisme dan Posfeminisme). Yogyakarta: Fisipol UGM

49 Ibid

(27)

Kedua, analisis bahasa media digunakan untuk membantah realitas tertentu yang diangkat oleh media.

Fairclough memetakan dimensi peristiwa komunikatif yang berlangsung dalam media melalui hubungan sebagai berikut:50

Produksi Teks TEKS Konsumsi Teks Praktik Wacana Praktik Sosiokultural Bagan I.1

Hubungan teks, praktik wacana, dan praktik sosiokultural

Terkait dengan tiga dimensi dalam analisis diskursus kritisnya, yakni teks, praktik diskursus dan praktik sosio-kultural, Fairclough menawarkan tiga jenis analisis yang berbeda. Dalam wilayah teks, deskripsi digunakan untuk melakukan analisis teks untuk mendapatkan gambaran bagaimana teks dipresentasikan. Pada tahap deskripsi ini, Fairclough juga menekankan pentingnya investigasi terhadap proses produksi teks yang mencakup konteks sosial-kultural yang melatarbelakangi lahirnya teks tersebut.51 Melalui gambar tersebut, praktik wacana merupakan penengah antara tekstual dan praktik sosiokultural. Suatu media dalam melakukan praktik sosiokultural nantinya akan menghasilkan teks media yang harus melalui praktik wacana (produksi teks). Sebaliknya, jika membaca teks media tentunya akan didapatkan gambaran akan praktik sosiokultural yang dilakukan oleh media setelah melampaui pembacaan atas praktik wacana (konsumsi teks) media tersebut.52

50

Norman Fairclough, Critical Discourse Analysis, hlm. 97-100.

51 Ibid 52

(28)

Dimensi teks, seperti yang dikatakan oleh Norman Fairclough bahwa ia menggunakan istilah teks dalam pengertian yang sangat luas. Teks tidak diartikan hanya sebatas apa yang tertulis dan tercetak saja. Berikut pernyataan Fairclough selengkapnya yang terarisp dalam bukunya yang berjudul Analysing Discourse Textual:53

―I shall use the term text in a very broad sense. Written and printed texts such as shopping lists and newspaper articles are 'texts', but so also are transcripts of (spoken) conversations and interviews, as well as television programmes and web-pages. We might say that any actual instance of language in use is a `text' — though even that is too limited, because texts such as television programmes involve not only language but also visual images and sound effects.‖

F.

Metodologi a) Paradigma

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode Critical Discourse Analysis (CDA). Dalam hal ini, CDA termasuk dalam paradigma kritis yang melihat realitas media, dalam hal ini film, adalah realitas ‗semu‘ yang terbentuk oleh proses sejarah dan kekuatan-kekuatan sosial-budaya, dan ekonomi-politik. Peneliti memakai paradigma kritis konstruktivisme dalam menganalisis dan membedah wacana rasisme dalam film Ngenest (2015).

Bogdan dan Taylor mengemukakan bahwa penelitian kualitatif dimaknai sebagai sebuah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan, tulisan, atau perilaku yang dapat diamati dari subyek itu sendiri. Analisis wacana media yang menjadi fokus penelitian ini merupakan salah satu bentuk penelitian kualitatif.54

53

Fairclough, Norman. Analysing Discourse Norman Fairclough: Textual analysis for social

research Norman Fairclough. Routledge: London&New York. 2003. Hlm 3 54

Taylor, S.J., and Bogdan, R., Introduction to qualitative research methods: The search for

(29)

b) Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode analisis wacana kritis yang memadukan tradisi analisis tekstual (mikro) dengan konteks analisis yang lebih luas (makro).55 Analisis lebih menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Dengan demikian, penelitian dengan paradigma kritis memiliki fungsi emansipatoris atau pemberdayaan yang dalam ini termasuk ketidaktahuan masyarakat.

Penelitian CDA memfokuskan pada bahasa (teks) seperti yang dijelaskan Gee dalam Hoefner Discourse Analysis is basically the analysis of „language in context56, namun sekali lagi bahwa bahasa di sini sangat erat kaitannya dengan konteks. Bahasa (teks) tidak terbatas hanya berupa kata-kata yang tercetak tetapi semua jenis komunikasi, ucapan, musik, gambar, efek suara, citra dan sebagainya.57

Teks media merupakan representasi dari realitas. Teks sendiri diantaranya, diartikan sebagai a set of symbols collected together to give meaning. Teks adalah seperangkat tanda yang ditransmisikan dari seorang pengirim kepada seorang penerima melalui medium tertentu dengan kode tertentu. Dengan demikian, ini berarti teks merupakan wacana yang difiksasikan ke dalam bentuk medium tertentu seperti film.

Barker mengatakan bahwa CDA Arguments are based on close analysis of discourse within text, whether written or spoken,58 namun titik tekan dari analisis wacana tetap menggambarkan teks dan konteks secara bersama-sama dalam suatu proses komunikasi.59 Sumber utama dari penelitian ini adalah film Ngenest (2015). Di dalam sebuah film sudah tentu terdapat banyak bagian yang bisa

55

Op. Cit, Fairclough, hlm 97

56

Matrikelnr Yella Hoepfner, Critical Discourse Analysis Analyzing the beauty advertisement

discourse: Dove‟s Campaign for Real Beauty. Europa Universitat Viadrina, 2006. Hal 5 57

Yoce Aliah Darma, Analisis Wacana Kritis. Bandung, Yrama Widya, 2009, hal. 61

58

Chris Barker dan Dariuz Galasisnksi, Cultural Studies and Discourse Analysis: A Dialougue On

Language And Identity. London, Sage Publications Ltd, 2001, hal. 68. 59

(30)

dilihat, baik itu peran atau karakter dari tokoh, maupun alur cerita dari sebuah film, yang nantinya dipilih menjadi bagian-bagian scene.

Tabel I.III

Kerangka Analisis Wacana Model Fairclough dalam Film Ngenest

Level Level Fokus Unit Analisis Metode

Analis Masalah Pengumpulan

is Data

Mikro Teks 1. Representasi Teks atau dialog Critical (dialog, Bagaimana yang ada pada film Linguistic/ tulisan, peristiwa, Ngenest (2015) Studi

gambar, orang, yang telah Pustaka/Penelu atau kelompok, ditranskripsi. suran Literatur kombinasi situasi, dari keadaan ketiganya) ditampilkan dalam teks. 2. Relasi Bagaimana hubungan antara sutradara, khalayak, dan sosok-sosok dalam film ditampilkan dan digambarkan dalam teks. 3. Identitas Bagaimana identitas sutradara, khalayak, dan sosok dalam film ditampilkan dan digambarkan dalam teks

Meso Praktik 1. Produksi Teks 1. Produksi Teks Penelusuran Diskursus Bagaimana Pernyataan- Literatur/ Studi

proses pernyataan dari Pustaka pembuatan pihak yang

(31)

teks. Eriyanto memproduksi menulis bahwa film. Misalnya sebuah teks sutradara atau pada dasarnya pemain film dihasilkan Ngenest dalam lewat proses berbagai media produksi teks massa, baik yang berbeda, cetak maupun seperti online yang bagaimana berkaitan pola kerja, dengan proses bagan kerja, produksi film dan rutinitas Ngenest. dalam 2. Konsumsi memproduksi Teks

teks.60 Tanggapan atau 2. Konsumsi komentar dari

Teks khalayak yang

Bagaimana telah menonton penerima teks Film Ngenest (receiver) dalam berbagai melakukan media massa, konsumsi dan baik cetak

interpretasi maupun online teks. yang mengulas Fairclough tentang film menyatakan Ngenest. bahwa interpretasi dilakukan melalui kombinasi antara teks dengan ―pemakna‖ teks dengan cara menggunakan semua ―sumber- sumber‖ interpretasi sehingga dapat menghasilkan 60

(32)

suatu

interpretasi.61

Makro Praktik 1. Situasional 1. Situasional Penelusuran Sosiokultu 2. Institusional Situasi khas Literatur/ Studi

ral 3. Sosial atau peristiwa Pustaka

tertentu ketika teks dalam film Ngenest diproduksi. 2. Institusional Pengaruh institusi terhadap teks yang dihasilkan dalam film Ngenest. Institusi dapat berasal dari kekuatan internal maupun eksternal yang dalam praktiknya pihak-pihak tersebut turut mempengaruhi bagaimana teks dalam film diproduksi. 3. Sosial Berfokus pada hal-hal makro dalam masyarakat, seperti sistem politik, sistem ekonomi, atau budaya masyarakat ketika teks dalam Film Ngenest diproduksi. 61

(33)

c) Obyek penelitian

Obyek penelitian ini adalah tanda-tanda baik verbal maupun non verbal yang terdapat dalam Film Ngenest yang dianggap merepresentasikan wacana rasisme.

1) Tanda verbal meliputi segala bentuk suara yang ada di dalam film. Sumber-sumber suara memiliki efek tertentu yang mampu membantu proses analisis terhadap film secara keseluruhan. Yang termasuk dalam elemen ini adalah dialog dan monolog.

2) Tanda nonverbal meliputi segala bentuk sajian visual yang menjadi isi atau muatan dalam setiap adegan atau scene dalam film. Yang termasuk dalam elemen ini adalah komposisi visual , pergerakan kamera, setting, dan lighting adegan.

Pada tahap analisis level teks, peneliti akan memilih sebanyak delapan adegan. Ke delapan adegan tersebut kemudian akan dianalisis dengan tiga level analisis, yakni level representasi, level identitas, dan level relasi. Delapan adegan yang peneliti pilih telah melewati proses penyeleksian dan sudah disesuaikan dengan kebutuhan penelitian. Peneliti berasumsi bahwa ke delapan adegan tersebut mengandung beberapa makna dan simbol yang mampu menjawab rumusan masalah dalam penelitian ini. Pencantuman ke delapan adegan ini dirasa perlu untuk memberi gambaran serta memetakan bagaimana wacana rasisme terkandung dalam level teks di Film Ngenest (2015). Adegan pertama, ke dua, dan ke tiga, mengandung simbol-simbol tersembunyi yang berkaitan dengan praktik bullying dan sentiment ras. Lalu, pada adegan ke empat, ke lima, dan ke enam, dipilih oleh peneliti karena mengandung wacana rasisme berupa prasangka dan stereotip terhadap etnis Tionghoa. Sedangkan pada adegan ke tujuh dan ke delapan, merepresentasikan upaya Ernest dalam melawan bentuk-bentuk rasisme yang ia terima dengan cara berasimilasi. Tabel berikut ini berisi ke delapan adegan yang memuat waktu/durasi, visual, dan audio:

(34)

Tabel I.IV Adegan

Visual Audio

Adegan Teriakan Cina Narator:

(00:00:00)-(00:00:16) ―Kita tidak bisa memilih bagaimana kita dilahirkan. Ada anak yang lahir dari keluarga kaya raya, ada yang lahir dari keluarga miskin. Ada yang lahir secara alami, ada yang harus melalui operasi. Ini, adalah cerita seorang anak yang terlahir sebagai...‖ (langsung disahut oleh percakapan selanjutnya) Dua anak kecil:

―Cina! Mau kemana, Lo? Nyali kecil, badannya gede!‖

Adegan Bullying di Depan Kelas Bowo: Hoi, Kri. Ada anak

(00:01:54) Cina, noh.

Bakrie: Hahaha, anak Cina.

Ernest: Halo, saya Ernest. Saya mau ke kelas 1B Fariz: Halo, Acong. Kenalin, gue Faris. Ini Bowo, Bakri, Ipeh. Bowo: Woi, Cong. Yakin lu kelas 1B? Bukannya lu kelas 1C? Cina! Hahaha Ipeh: Atau kalau enggak, C=Cipit! Hahaha

(disusul tawa kolektif antara Bowo, Bakri, Faris, dan Ipeh)

Adegan Menginjak Sepatu Narator: Ternyata sekolah (00:05:14) itu tidak seperti yang kita

bayangkan. Kita bisa diperlakukan berbeda

(35)

hanya karena punya penampilan fisik yang berbeda. Padahal kan itu bukan salah kita.

Narator : Ya, untungnya ada Patrick. Cuman dia hopeng gue. Punya temen yang senasib itu lumayan meringankan beban. Ya gak berasa amsyong-amsyong amat lah. Paling gak gue sadar, bukan cuman gue doang yang dibully cuman gara- gara terlahir Cina.

Adegan Papanya Meira Memberi Nasihat Papanya Meira: Dengerin

(00:34:43) ya! Cukup papa aja yang

dikecewakan sama mereka itu. Kamu mah jangan! Meira: Pah ga bisa gitu dong. Gak bisa dipukul rata begitu. Papa dulu bangkrut gara-gara ditipu sama orang Cina, tapi bukan berarti orang Cina itu penipu.

Papanya Meira: Ah kamu tau apa?

Meira: Lagian pah, aku juga belum kok sama Ernest. Baru juga jalan dua kali sama dia.

Papanya Meira: Nih denger ya! Api yang kecil itu lebih mudah

dipadamkan daripada api yang terlanjur membesar. Nah, makanya kamu jangan main api! Nanti bisa terbakar api asmara! Adegan Pertentangan di Ruang Keluarga Mamanya Meira: Papa,

(00:38:40) ini teh bukannya temennya

papa di kampus senior papa?

(36)

Papanya Meira: Iya, ditangkep korupsi. Ngerahken orang sunda wae ini mah.

Meira: Pah, berarti semua orang Sunda itu tukang korupsi ya?

Papanya Meira: Eeeh gabisa dipukul rata begitu atuh!

Meira: Bener, pa. Emang gak bisa dipukul rata begitu. Ga bisa. Ya kan, Ma?

Adegan Percakapan di Mobil Voice Over: ―JAK FM (01:04:28) seratus persen lagu enak.

Tau gak sih kamu kalo ternyata usia pria itu mempengaruhi kualitas sperma yang dia miliki loh.‖

Adegan Junior High School Ernest: Tadi, gue kan

(00:07:05) dipalak sama anak-anak

STM, terus masa ada satu yang Cina!

Patrick: Oh ya? Tumben? Ernest: Makanya, menarik banget kan?

Patrick: Hah? Kok menarik sih?

Ernest: Gini gini, lu perhatiin baik-baik. Sejak SD kita selalu dibully oleh Faris and the gank, karena apa coba?

Patrick: Ya karena kita Cina lah…

(37)

jawabannya karena kita berbeda.

Patrick: Jadi?

Ernest: Jadi, kita musti jadi sama kayak mereka. Persis kayak anak Cina STM tadi.

Patrick: Tunggu-tunggu, jadi maksud lu supaya kita gak dibully sama Faris, kita harus berteman sama Faris?

Ernest: Bener banget! Kita musti bisa beradaptasi. Kayak bunglon men, menyesuaikan warna kulit sesuai kebutuhan.

Adegan Ajakan Nonton Konser Ernest: Kalian, Sabtu mau

(00:09:19) nonton konser ya di

Bulungan?

Faris: Napa? Lu mau beliin tiket?

Ernest: Kalo kalian ngizinin gue ikut, tiket kalian gue bayarin deh! Faris: Okeh!

Ernest: Serius? Faris: Iye!

Ernest: Oke thank you ya, sampe ketemu besok!

d) Jenis dan Sumber Data

Jenis dan sumber data dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. 1) Data Primer

Data primer dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung dari sumber pertama atau tempat objek penelitian dilakukan, dalam hal ini data primer diperoleh dari Film Ngenest, yakni transkripsi dialog film serta scene- scene dalam Film Ngenest.

(38)

Data sekunder diperoleh dari pengumpulan data dan informasi berupa artikel, tulisan, buku, dan jurnal yang relevan untuk memperkaya data dan perspektif yang berkaitan dengan representasi rasisme dalam upaya untuk memperkaya referensi untuk melakukan analisis.

e) Teknik Pengambilan Data

Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa analisis tayang, studi pustaka dan dokumentasi. Analisis tayang merupakan pengumpulan data yang dimaksudkan untuk melihat dengan cermat scene-scene yang terdapat dalam film untuk kemudian menentukan data-data yang hendak dipakai. Sedangkan pengumpulan data dengan studi pustaka dan dokumentasi adalah pengambilan data yang diperoleh melalui berbagai macam dokumen. Dokumen dalam hal ini perupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu, bisa dalam bentuk tulisan, gambar, dan karya-karya seni dan tulis lainnya. Data-data yang diperoleh guna melengkapi dan mendukung data-data yang diperlukan dalam penelitian.

f) Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode analisis wacana (Critical Discourse Analysis). Pendekatan Fairclough digunakan untuk menganalisis konteks yang ada di dalam teks film Ngenest. Teks sendiri merupakan semua bentuk bahasa. Bukan hanya berupa kata-kata, namun juga semua bentuk ekspresi komunikasi, ucapan, musik, gambar, efek suara, citra dan sebagainya. Menurut Fairclough sendiri bahasa adalah praktik kekuasaan, sebagaimana digunakan sebagai praktik sosial. Bahasa akan membawa nilai ideologis dari pemakainya. Dalam hal film bahasa yang digunakan di dalamnya adalah bahasa visual yang akan dikaji lebih lanjut dalam penelitian ini.62

Menurut Fairclough, wacana itu dikuasai secara sosial dan dikondisikan secara sosial pula. Oleh karena itu, CDA harus melakukan proses analisis dengan tiga dimensi secara simultan, yaitu analisis teks, analisis proses, dan analisis

62

Gambar

Tabel I.II
Tabel I.III
Tabel I.IV  Adegan

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) nomor 1691/Menkes/Per/VIII/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit, institusi yang diharapkan berperan serta dalam

institusional, dan komite audit tidak memiliki pengaruh bagi harga saham 7 Awan Werdhy Ajiwanto (2014) Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Return Saham

Direktorat Jenderal Pajak masih dikenal sebagai institusi yang kualitas pelayanan yang lambat dan kurang nyaman, masih bermental birokrat dan kurang

IAIN Walisongo sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi seyogyanya perlu melakukan pengendalian mutu berkenaan dengan aspek- aspek penjaminan mutu yang ada

Pembatasan masalah penelitian ini adalah menyediakan suntingan teks SAH yang baik dan benar, analisis struktur sastra kitab teks SAH, dan analisis isi dari segi

Semakin banyaknya institusi pendidikan tinggi keperawatan yang bermunculan di Provinsi Bali, merupakan tantangan bagi Politeknik Kesehatan Denpasar untuk mampu bersaing

dan/ atau jasa yang diproduksi, serta pelayanan yang maksimal kepada konsumen , sehingga konsumen akan mendapatkan jaminan kepastian hukum, sebagaimana telah diatur dalam undang-undang

F a k t o r eksternal yang berasal dari lingkungan dan faktor internal yang berasal dari diri masing- masing peserta didik berada dalam situasi dan kondisi yang berbeda-beda menjadi