• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

8 A. Literatur Review

Ranu Nugraha, dkk (2017) melakukan penelitian dengan judul Pengaruh labelisasi Halal terhadap Minat Beli konsumen (survei Pada Mahasiswa Muslim Konsumen Mie Samyan Berlogo Halal Korean Muslim Federation di Kota Malanh). Penelitian ini meneliti hubungan labelisasi halal dan minat beli. Metode analisis yang digunakan ialah regresi linier sederhana. Penelitian ini memberikan hasil bahwa kenaikan pada label halal berpengaruh positif terhadap minat beli konsumen muslim mie samyang dan juga sebaliknya apabila terdapat penurunan terhadap label halal akan menurunkan minat beli(Nugraha, 2017).

Ady Syahputra dan Haroni Doli harmoni (2015) melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Labelisasi Halal Terhadap Keputusan Maskyarakat Kecamatan Perbaungan Dalam Pembelian Produk Makanan Dalam Kemasan. Penelitian ini meneliti hubungan antara labelisasi halal dan keputusan pembelian. Penelitian ini menggunakan metodepenelitian deskriptif, teknik pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner dan metode analisi data menggunakan analisis deskriptif, uji validasi dan uji realibilitas. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa dengan tercantumnya label halal dalam kemasan produk makanan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi konsumen untuk membeli(Syahputra & Hamoraon, 2015).

Astari Sukmaningtyas dan Hartoyo (2013) melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Nilai dan Gaya Hidup terhadap Preferensi dan Perilaku Pembelian Buah-buahan Impor. Penelitian menggunakan disain

cross section study, pemilihan tempat menggunakan purposive dan pemilihan

sampel menggunakan teknik simple random sampling. Temuan dari penelitian menunjukkan hasil bahwa nilai dan gaya hidup secara signifikan

(2)

mempengaruhi pembelian buah-buahan impor (Sukmaningtyas & Hartoyo, 2013).

Dewi Kurnia Sari dan Ilyda Sudardjat (2013) melakukan penelitian dengan judul Analisis Pengaruh Labelisasi Halal Terhadap keputusan Pembelian Produk Makanan Impor Dalam Kemasana Pada Mahasiswa Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini meneliti hubungan antara labelisasi halal dan keputusan pembelian. Penelitian ini menggunakan teknik analisi kuantitatif dengan cara memberikan kuesioner kepada 82 responden. Metode yang digunakan adalah metode korelasi spearman rank. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa labelisasi halal berpengaruh terhadap keputusan pembelian produk makanan impor dalam kemasan. Adanya labelisasi halal memberikan keamanan dan kenyamana bagi konsumen (Sudardjat & Sari, 2013).

Eri Agustian H dan Sujana (2013) melaksanakan penelitian dengan judul Pengaruh Labelisasi Halal Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen. Analisi data menggunakan analisis regresi dan korelasi. Tujuan analisis regresi adalah untuk mengetahui hubungan labelisasi halal suatu produk dalam mempengaruhi keputusan pembelia konsumen, sedangkan analisis korelasi adalah untuk mengukur kuat tidaknya pengaruh antara labelisasi halal terhadap keputusan pembelian konsumen, untuk mudah menyimpulkan hipotesisi, digunakan uji t. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa labelisasi halal memiliki kontribusi sebesar 49,7% dalam menciptakan keputusan pembelian, dan sisanya dipengaruhi oelh faktor-faktor lain (H & Sujana, 2013).

Yuli Mutiah Rambe dan Syaad Afifuddin (2012) melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Pencantuman Label Halal Pada Kemasan Mie Instan terhadap Minat Pembelian Masyarakat Muslim. Analisis data dalam penelitian ini memakai dua metode, yaitu analisis deskriptif dan statistik regresi. Penelitian ini memberikan hasil bahwa adanya label halal memberikan pengaruh sebesar 31,1% terhadap minat beli, artinya masih ada

(3)

faktor lain yang mempengaruhi minat beli mahasiswa(Rambe & Afifuddin, 2012).

Listia Natadjaja, Rosaline Dewi F dan Deddy Setyawan (2009) melakukan penelitian dengan judul Studi Pengaruh Visual Merchandise untuk Anal terhadap perilaku pembelian paket Happy Meal di Restoran McDonald’s Surbaya. Penelitian ini meneliti hubungan visual merchandise dan perilaku pembelian. Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif. Teknik sampling yang digunakan adalah probability sampling dengan sistem random cluster dan analisis data yang digunakan adalah analisis korelasi dan analisis linear sederhana. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Hubungan antar variabel visual merchandise terhadap variabel perilaku pembelian bersifat linear. Hasil analisis regresi linear menunjukkan bahwa variabel visual merchandise memberikan pengaruh sebesar 53,7% terhadap keseluruahan situasi perilaku pembelian paket HappyMeal ((Natadjaja, F, & Setyawan, 2009)

Yunita Kusumawati dan Benny Herlena (1998) melakukan penelitian dengan judul Hubungan Antara Persepsi terhadap Kelompok Referensi Dengan Pengambilan Keputusan Membeli Produk Kosmetik Tanpa Label Halal Pada Mahasiswa Muslim. Penelitian meneliti hubungan persepsi dan keputusan pembelian. Analisis data yang digunakan adalah analisis korelasi

product-moment dari pearson karena hipotesis berbentuk asosiasif. Hasil dari

penelitian ini menunjukkan hasil bahwa ada hubungan positif antara persepsi terhadap kelompok referensi dengan pengambilan keputusan membeli produk kosmetik tanpa label halal. Hal ini berarti semakin positif persepsi terhadap kelompok referensi maka semakin tinggi pengambilan keputusan membeli produk kosmetik tanpa label halal pada mahasiswa(Kusumawati & Herlena, 1998).

(4)

Tabel 2.1

Perbandingan Telaah Pustaka

No. Nama Judul Kesimpulan

1. Ranu Nugraha, M.Kholid

Mawardi danAniesa samira Bafadhal (2017)

Pengaruh Labelisasi Halal Tehadap

Mintabeli Konsumen (Survei Pada

Mahasiswa Muslim Konsumen Mie

Samyang Berlogo Halal Korean Muslim

Federation di Kota Malang)

Persamaannya terletak pada variabel dependen yaitu lebel halal, dan

variabel independen perilaku

konsumen. Persamaannya juga

terletak pada penelitian ini analisis

data yang sama menggunakan

regresi linier sederhana.

Perbedaannya penelitian ini

memiliki dua variabel dependen.

2. Ady Syahputra dan Haroni

Doli harmoni (2015)

Pengaruh Labelisasi Halal Terhadap

Keputusan Maskyarakat Kecamatan

Perbaungan Dalam Pembelian Produk Makanan Dalam Kemasan

Persamaannya terletak pada variabel dependen yaitu lebel halal, dan

variabel independen keputusan

pembelian. Persamaannya juga

terletak pada penelitian ini analisis

data yang sama menggunakan

regresi linier sederhana.

Perbedaannya penelitian ini

memiliki dua variabel dependen.

3. Astari Sukmaningtyas dan

Hartoyo (2013)

Pengaruh Nilai dan Gaya Hidup terhadap Preferensi dan Perilaku Pembelian Buah-buahan Impor

Persamaannya terletak pada varabel

independen yaitu perilaku

pembelian. Perbedaannya penelitian

ini menggunakan desai cross

(5)

4. Dewi Kurnia Saridan Ilyda Sudardjat (2013)

Analisis Pengaruh Labelisasi Halal

Terhadap keputusan Pembelian Produk Makanan Impor Dalam Kemasana Pada

Mahasiswa Kedokteran Universitas

Sumatera Utara

Persamaannya terletak pada variabel dependen yaitu lebel halal, dan

variabel independen perilaku

konsumen. Teknik yang digunakan sama yaitu analisis kuantitatif

5. Eri Agustian H dan

Sujana(2013)

Pengaruh Labelisasi Halal Terhadap

Keputusan Pembelian Konsumen

Persamaannya terletak pada variabel dependen yaitu lebel halal, dan

variabel independen perilaku

konsumen.

6. Yuli Mutiah Rambe dan

Syaad Afifuddin (2012)

Pengaruh Pencantuman Label Halal Pada Kemasan Mie Instan terhadap Minat Pembelian Masyarakat Muslim

Persamaannya terletak pada variabel dependen yaitu lebel halal, dan

variabel independen perilaku

konsumen. Perbedaannya

Pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Analisis data

menggunakan regresi linier

sederhana

7. Listia Natadjaja, Rosaline

Dewi F dan Deddy Setyawan (2009)

Studi Pengaruh Visual Merchandise untuk Anal terhadap perilaku pembelian paket Happy Meal di Restoran McDonald’s Surbaya

Persamaannya terletak pada varabel independen yaitu perilaku pembelian

dan desain penelitian yang

digunakan adalah kuantitatif..

Perbedaannya terletak pada teknik sampling yang digunakan adalah probability sampling dengan sistem random cluster dan analisis data yang digunakan adalah analisis

korelasi dan analisis linear

(6)

8. Yunita Kusumawati dan Benny Herlena (2012)

Hubungan Antara Persepsi terhadap

Kelompok Referensi Dengan Pengambilan Keputusan Membeli Produk Kosmetik Tanpa Label Halal Pada Mahasiswa Muslim

Persamaannya terletak pada varabel

independen yaitu perilaku

pembelian. Perbedaannya penelitian

ini menggunakan motode

pengukuran skala psikologis untuk pengumpulan data. Analisis data penelitian ini menggunakan analisis

korelasi product-moment dari

(7)

B. Landasan Teori 1. Mie Instan

Mi Instan merupakan mi yang dijual dalam keadaan sudah dimasak dan dikeringkan, dengan bumbu penyedap dan minyak bumbu. Penyedap biasanya dalam kemasan terpisah, meskipun pada kasus mi dalam kemasan mangkuk seringkali lepas di dalam mangkuk. Beberapa produk mi instan kemasannya disegel, bisa dipanaskan ulang atau dimakan langsung dari wadah. Cara memasak mi instan direbus atau bisa direndam dalam air panas. Bahan utama yang digunakan dalam mie instan biasanya tepung terigu, minyak sawit, dan garam.

Mi Instan ditemukan oleh Momoku Ando dari Nissin Food di Jepang. Mereka diluncurkan pada tahun 1958 dengan merek chickin ramen. Padatahun 1971, Nissin mengenalkan Mi cup, produk mi mangkuk pertama. Mi instan dipasarkan di seluruh dunia dengan banyak merek.

Indonesia mengimpor mi instan dari beberapa negara seperti Korea dan Jepang, berikut daftarmerk mie yang beredar di Indonesia:

a. Samyang

Mi Instan bermerek Samyang ini berasal dari Korea. Mi Samyang yang beredar di Indonesia ada yang memiliki label halal dan tidak ada label halal. Jenis Samyang yang dijual di Indomart ini tidak memiliki label Halal

b. Nissin Ufo

Produk mi ini bersal dari Jepang. Mi instan ini cukup unik, dikemas dalam mangkuk yang dapat dibawa kemana-mana. Penyajiannya juga tinggal disiram air panas. Nissin ufo yang diperdagangkan di Indomart memiliki label halal.

c. Paldo Bulnak Bokkummyun Spicy Fried Octopus Ramyun

Mi instan ini berasal dari Korea Selatan. Mi ini memiliki inovasi baru dengan menjadikan gurita sebagai bahan utamanya. Namun mi ini tidak memiliki label halal

(8)

2. Halal

a. Pengertian Halal

Kata halal berasa dari bahasa arab yang memiliki arti tidak terikat atau bisa disebut tidak terikat. Secara etimologi halal memilii arti sesuatu yang boleh dilakukan dengan bebas atau tidak ada larangan atasnya. Makanan halal menurut Himpunan Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah makanan yang tidak ada larangan atau diperbolehkan untuk mengkonsumsinya sesuai ajaran Islam (Departemen Agama, 2003).

Di dalam Al-Quran juga sudah dijelakan apa saja yang diharamkan, berikut dalam surat Al Maidah ayat 3:

ُةَذوُقْوَمْلاَو ُةَقِنَخْنُمْلاَو ِهِب َِّللَّا ِْيَْغِل َّلِهُأ اَمَو ِريِزْنِْلْا ُمَْلََو ُمَّدلاَو ُةَتْ يَمْلا ُمُكْيَلَع ْتَمِّرُح اوُم ِسْقَ تْسَت ْنَأَو ِبُصُّنلا ىَلَع َحِبُذ اَمَو ْمُتْ يَّكَذ اَم َّلَِّإ ُعُبَّسلا َلَكَأ اَمَو ُةَحيِطَّنلاَو ُةَيِّدَرَ تُمْلاَو َمْوَ يْلا ۚ ِنْوَشْخاَو ْمُهْوَشَْتَ َلََف ْمُكِنيِد ْنِم اوُرَفَك َنيِذَّلا َسِئَي َمْوَ يْلا ۗ ٌقْسِف ْمُكِلََٰذ ۚ ِم َلَّْزَْلِْبِ ٍةَصَم َْم ِفِ َّرُطْضا ِنَمَف ۚ اًنيِد َم َلَْسِْلْا ُمُكَل ُتيِضَرَو ِتَِمْعِن ْمُكْيَلَع ُتْمَْتَْأَو ْمُكَنيِد ْمُكَل ُتْلَمْكَأ ٌمي ِحَر ٌروُفَغ ََّللَّا َّنِإَف ۙ ٍْثِِْلْ ٍفِناَجَتُم َرْ يَغ Artinya:

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Berdasarkan ayat diatas dapat disimpulkan bahwa kehalalan memiliki beberapa syarat, yaitu:

1) Tidak mengandung bahan yang berasal dari babi.

(9)

3) Mengandung bahan yang berasal dari hewan yang disembelih dengan menyebut nama Allah.

4) Tempat pengolahan dan penyimpangan bebas dan tidak terkontaminasi oleh babi atau barang yang tidak halal lainnya.

Dalam Al-Qur’an dituliskan bahwa Allah menerintahkan agar makanan dan minuman halal dan thayyib yang hanya boleh dikonsumsi. Firman Allah dala Surat Al-Baqarah ayat 168:

ْمُكَل ُهَّنِإ ۚ ِناَطْيَّشلا ِتاَوُطُخ اوُعِبَّتَ ت َلََّو اًبِّيَط ًلَّ َلََح ِضْرَْلْا ِفِ اَِّمِ اوُلُك ُساَّنلا اَهُّ يَأ َيَ

ٌيِبُم ٌّوُدَع

Artinya:

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (Qs.

Al-Baqarah: 168)

Halal adalah sesuatu yang diperbolhekan menurut ajaran Islam. Seperti yang telah terkandung di dalam firman Allah Surat Al-Ma’idah ayat 88:

َنوُنِمْؤُم ِهِب ْمُتْ نَأ يِذَّلا ََّللَّا اوُقَّ تاَو ۚ اًبِّيَط ًلَّ َلََح َُّللَّا ُمُكَقَزَر اَِّمِ اوُلُكَو Artinya:

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya” (Qs. Al-Maidah: 88)

b. Label Halal

Label tidak bisa dilepaskan dari hal pemasaran. Label adalah bagian dari produk yang menyampaikan informasi tentang apa yang yang ada dalam penjual dan produk itu sendiri. Pemberian label (labeling) merupakan elemen produk yang sangat penting yang patut memperoleh perhatian seksama dengan tujuan untuk menarik para konsumen(Simamora, 2000). Secara umum, label minimal harus berisi nama atau merek produk, bahan baku, bahan tambahan komposisi, informasi gizi, tanggal kedaluwarsa, isi produk, dan keterangan legalitas(Apriyanto, 2003).

(10)

Sebuah label bisa merupakan bagian dari kemasan atau bisa sebagai tanda pengenal yang melekat dalam kemasan. Secara garis besar terdapat tiga macam label(Tjiptono, 2014), yaitu:

1) Brand Label, yaitu merek yang diberikan pada produk atau dicantumkan pada kemasan

2) Descriptive Label, yaitu label yang memberikan informasi objektif mengenai penggunaan, konstruksi/pembuatan, perhatian/perawatan, dan kinerja produk, serta karakteristik karakteristik lainnya yang berhubungan dengan produk

3) Grade Label, yaitu label yang mengidentifikasikan penilaian kualitas produk (product’s judged quality) dengan suatu huruf, angka, atau kata. Label mempunyai fungsi(Kotler, 2003), yaitu:

1) Identifies (identifikasi): label dapat mengenalkan mengenai produk 2) Grade (nilai): label dapat menunjukkan nilai atau kelas suatu produk 3) Discribe (memberikan keterangan): Label akan menunjukkan keterangan

mengenai siapa produsen dari suatu produk, dimana produk dibuat, kapan produk dibuat, apa komposisi dari produk tersebut, bagaimana cara penggunaan produk secara aman.

4) Promote (mempromosikan): label akan mempromosikan lewat gambar

3. Perilaku Pembelian

a. Pengertian Perilaku Pembelian

Perilaku merupakan respon (rekasi, tanggapan, jawaban, balasan) yang dilakukan oleh suatu organisme (Chaplin, 1999). Menurut kamus besar bahasa Indonesia, perilaku merupakan tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, membeli adalah memperoleh sesuatu dengan pengorbanan.

(Engel, 1995)mengartikan perilaku pembelian sebagai kegiatan individu yang secara langsung melalui proses mendapatkan dan menggunakan apa yang telah didapatkan. Pengertian keputusan pembelian

(11)

menurut (Drummond, 2003) adalah mengidentifikasikan semua pilihan yang mungkin untuk memecahkan persoalan itu dan menilai pilihan-pilihan secara sistematis dan obyektif serta sasaran-sasarannya yang menentukan keuntungan serta kerugiannya masing-masing. Sedangkan definisi keputusan pembelian menurut (Nugroho S. , 2003) adalah proses

pengintegrasian yang mengkombinasi sikap pengetahuan untuk

mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternatif, dan memilih salah satu diantaranya.

b. Faktor –faktor Perilaku Pembelian

Menurut (Kotler, 1999) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku membeli konsumen antara lain:

1) Faktor kebudayaan

Kebudayaan adalah faktor penentu kenginan dan perilaku seseorang yang paling mendasar. Kebudayaan merupakan faktor paling utama dalam perilaku pengambilan keputusan dan perilaku pembelian. faktor budaya adalah kebiasaan suatu masyarakat dalam menanggapi sesuatu yang dianggap memiliki nilai dan kebiasaan, yang bisa dimulai dari mereka menerima informasi, posisi sosial mereka dalam masyarakat, dan pengetahuan mereka tentang apa yang mereka rasakan. Budaya adalah suatu kekuatan dalam mengatur perilaku manusia. Ini terdiri dari seperangkat pola perilaku yang ditularkan dan dipelihara oleh anggota masyarakat tertentu melalui berbagai cara.

2) Faktor sosial a) Kelompok

Kelompok merupakan interaksi antara dua orang atau lebih untu mencapai suatu tujuan yang sama melalui kesepakatan yang telah disetujui. Kelompok yang memiliki pengaruh langsung dinamakan kelompok keanggotaan, kelompok primer dan sekunder. Kelompok primer meliputi kelurga, teman dan rekan kerja ataupun orang-orang yang melakukan interaksi secara menerus. Kelompok sekunder terdiri dari kelompok keagamaan, profesi dan asosiasi

(12)

perdagangan yang cenderung lebih formal dan tidak memerlukan interaksi yang sering.

b) Keluarga

Dalam hal ini keluarga dibedakan menjadi 2 jenis, keluarga orientas yang terdiri dari orang tua dan saudara kandung seseorang yang dapat memberikan orientasi agama, politik, dan ekonomi serta ambisi pribadi, harga diri, dan cinta. Selain itu ada keluarga prokreasi yang terdiri dari pasangan dan jumlah anak yang dimiliki seseorang.

c) Peran dan Status

Semakin tinggi peran seseorang dalam organisasi maka semakin tinggi pula status seseorang dalam organisasi tersebut dan secara langsung dapat berdampak pada perilaku pembeliannya.

3) Faktor pribadi

a) Usia dan Siklus Hidup Keluarga

Orang membeli barang dan jasa yang berbeda – beda sepanjang hidupnya dimana kegiatan konsumsi ini dipengaruhi oleh siklus hidup keluarga.

b) Pekerjaan dan Lingkungan Ekonomi

Pekerjaan dan lingkungan ekonomi seseorang dapat mempengaruhi

konsumsinya. Biasanya pemilihan produk juga dilakukan

berdasarkan keadaan ekonomi seseorang seperti besarnya

penghasilan yang dimiliki, jumlah tabungan, utang dan sikap terhadap atau menabung.

c) Gaya Hidup

Gaya hidup dapat diartikan sebagai sebuah pola hidup seseorang yang terungkap dalam aktivitas, minat dan opininya yang terbentuk melalui kelas sosial dan pekerjaan. Melalui hal ini sebagai peluang dalam kegiatan pemasaran, banyak pemasar yang mengarahkan mereka pada gaya hidup seseorang.

(13)

d) Kepribadian

Kepribadian merupakan ciri bawaa psikologis manusia yang berbeda yang menghasilkan tanggapan relatif konsisten dan tahan lama terhadap rangsangan lingkungannya. Kepribadian dapat menjadi variabel yang sangat berguna dalam menganalisis pilihan merek konsumen. Hal ini disebabkan karena beberapa kalangan konsumen akan memilih merek yang cocok dengan kepribadiaannya.

4) Faktor Psikologi

Faktor psikolog ini dipengaruhi oleh empat faktor utama diantaranya motivasi, persepsi, pembelajaran, serta keyakinan dan sikap.

a) Motivasi

Perilaku seseorang dimulai dengan adanya suatu motif yang menggerakkan individu dalam mencapai suatu tujuan.

b) Persepsi

Persepsi didefinisikan sebagai proses dimana seseorang memilih, mengorganisasikan dan mengartikan masukan informasi untuk menciptakan suatu gambaran yang berarti.

c) Pembelajaran

Pembelajaran merupakan perubahan-perubahan di dalam perilaku seseorang yang muncul dari pengalaman.

d) Keyakinan

Keyakinan merupakan pemikiran deskriptif yang dianut seseorang tentang sesuatu.

e) Sikap

Sikap adalah suatu evaluasi, perasaan dan kecenderungan yang secara konsisten menyukai atau tidak menyukai suatu objek atau gagasan.

c. Proses Pengambilan Keputusan Pembelian

Secara umum konsumen mengikuti suatu proses atau tahapan dalam pengambilan keputusan. Menurut(Sunarto, 2004):

(14)

1) Pengenalan masalah

Proses pembelian diawali dengan pengenalan masalah atau kebutuhan

(need recognition). Pembeli menyadari suatu perbedan antara keadaan

sebenarnya dan keadaan yang diinginkannya. Kebutuhan itu dapat digerakkan oleh rangsangan internal (dari dalam diri pembeli) atau dari luar.

2) Pencarian Informasi

Seorang konsumen yang telah tertarik mungkin mencari lebih banyak informasi. Jika dorongan konsumen begitu kuatnya dan produk yang memuaskan berada dalam jangkauan, konsumen kemungkinan besar akan membelinya. Jika tidak, konsumen mungkin menyimpan kebutuhan dalam ingatan atau melakukan pencarian informasi (information

research) yang berkaitan dengan kebutuhan itu. Konsumen dapat

memperoleh informasi dari beberapa sumber manapun. Sumber – sumber ini meliputi:

a) Sumber pribadi : keluarga, teman, tetangga, kenalan. b) Sumber komersial: wiraniaga, dealer, kemasam, pajangan. c) Sumber publik: media massa, organisasi, penilai pelanggan.

d) Sumber pengalaman: menangani, memeriksa, mengunakan produk. Pengaruh relatif dari sumber – sumber informasi ini bervariasi menurut produk dan pembeli. Biasanya konsumen menerima hampir semua informasi mengenai produk dari sumber komersial yang dikendalikan oleh pemasaran. Namun sumber yang paling efektif cenderung pada sumber pribadi. Sumber pribadi tampaknya lebih penting dalam mempengaruhi pembelian suatu jasa. Sumber komersial biasanya memberikan informasi kepada pembeli, tetapi sumber pribadi membenarkan atau mengevaluasi prduk bagi pembeli.

(15)

3) Evaluasi Berbagai Alternatif

Orang – orang pemasaran perlu mengetaui tentang evaluasi berbagai alternatif yaitu, bagaimana konsumen memproses informasi tidak menggunakan satu proses evalusi sederhana dalam semua situasi pembelian. Sebaliknya, beberapa proses evaluasi digunakan sekaligus. Adapun proses evaluasi berbagai alternatif tersebut meliputi : Pertama, kita berasumsi bahwa setiap konsumen melihat suatu produk sebagai satu paket atribut produk. Kedua, konsumen akan memberikan tingkat kepentingan yang berbeda pada atribut – atribut yang berbeda menurut kebutuhan dan keinginan yang unik. Ketiga, konsumen mungkin akan mengembangkan satu susunan keyakinan merek mengenai posisi setiap merek pada setiap atribut. Keempat, harapan kepuasan produk total konsumen akan bervariasai terhadap tingkat – tingkat atribut yang berbeda. Kelima, konsumen mencapai suatu sikap terhadap merek yang berbeda lewat prosedur evaluasi.

4) Keputusan pembelian

Dalam tahap evaluasi, konsumen membuat peringkat atas mereka dan membentuk niat untuk membeli. Namun demikian, ada dua faktor yang dapat mempengaruhi maksud pembelian dan keputusan pembelian. Faktor pertama adalah sikap orang lain, seberapa jauh sikap pihak lain dapat mengurangi alternatif yang disukai seseorang tergantung pada dua hal, yaitu intensitas sikap negatif pihak lain terhadap pilihan alternatif konsumen, dan motifasi konsumen tunduk pada keinginan orang lain. Faktor kedua yang mempengaruhi adalah faktor situasi yang tidak diharapkan.

5) Perilaku Pasca Pembelian

Setelah membeli produk, konsumen bisa puas juga tidak puas dan akan terlihat dalam perilaku pasca pembelian. Kepuasan konsumen merupakan fungsi dari seberapa dekat antara harapan pembeli atas produk tersebut dengan daya guna yang dirasakan produk tersebut. Jika produk gagal memenuhi harapan, konsumen kecewa, jika harapan

(16)

terpenuhi, konsumen puas; jika harapan terlampaui, konsumen amat puas.

d. Indikator Perilaku Pembelian

1) Frequency of Usage (Frekuensi Pemakaian)

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) frekuensi diartikan sebagai kekerapan. Selain itu frekuensi juga berarti jumlah munculnya suatu kata atau bahasa dalam suatu teks. Jadi frekuensi pemakaian dapat diartikan sebagai kekerapan pemakaian suatu produk. 2) Duration of Usage

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), durasi diartikan sebagai lamanya sesuatu berlangsung. Berdasarkan Andarwati & Sankarton (2005), durasi dinyatakan dalam satuan kurun waktu tertentu (menit atau jam). Jadi, durasi pemakaian dapat diartikan sebagai lamanya seseorang menggunakan suau produk.

C. Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban semnetara terhadap rumusan masalah penelitian. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru berdasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban sementara yang teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang empirik (Sugiyono, 2010).

Dalam penelitian ini dirumuskan hipotesis guna memberikan arah dan pedoman dalam melakukan penelitian. Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H1 : Dukungan sosial berpengaruh positif terhadap perilaku pembelian

mi instan impor di Indomaret Ngemplak, Sleman, Yogyakarta

H₂ : Label Halal berpengaruh positif terhadap perilaku pembelian mi

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Aaker (2003, p607-608) “Dalam menentukan pilihannya untuk membeli suatu produk, konsumen sering mempertimbangkan berbagai faktor.Bagi konsumen faktor tersebut

Output merupakan elemen dari sistem yang bertugas untuk mengolah atau memproses seluruh masukan data menjadi suatu informasi yang lebih berguna [4]..

Produsen harus memahami bahwa konsumen mempunyai cara sendiri dalam menangani informasi yang diperolehnya dengan membatasi alternatif-alternatif yang harus dipilih

Tahap dimana konsumen menggunakan informasi untuk mengevaluasi merek alternatif dalam sekelompok pilihan. Sayangnya, konsumen tidak menggunakan proses evaluasi yang

Beberapa pengertian lain mengenai akuntansi, yaitu Akuntansi adalah sustu sistem yang mengukur aktivitas-aktivitas bisnis, memproses informasi tersebut ke dalam

Dengan demikian yang dimaksud dengan sistem pakar berbasis rule adalah sebuah program komputer untuk memproses masalah dari informasi spesifik yang

Menurut Krismiaji dalam bukunya yang berjudul Sistem Informasi Akuntansi Sistem informasi akuntansi adalah: ”sebuah sistem yang memproses data dan transaksi guna

Berdasarkan definisi di atas Perancangan sistem informasi akuntansi Realisasi Anggaran adalah suatu kegiatan untuk mendesain dan memproses data dan transaksi guna