8 2.1 Kajian Pustaka
Pada bagian ini, peneliti akan menjabarkan beberapa teori atau konsep yang relevan dari berbagai literatur, yang digunakan sebagai landasan dalam pemecahan masalah pada penelitian ini.
2.1.1 Pengertian Pemasaran
Menurut Assosiasi Pemasaran Amerika dalam Kotler (2012, p10) “Pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan pemikiran, penetapan harga, promosi, dan penyaluran gagasan, barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memenuhi sasaran-sasaran individu dan organisasi”.
Menurut Umar (2005, p311) “Pemasaran meliputi keseluruhan system yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan usaha yang bertujuan merencanakan, menentukan harga, hingga mempromosikan dan mendistribusikan barang-barang atau jasa yang akan memuaskan kebutuhan pembeli, baik yang actual maupun yang potensial”.
Menurut Philip Kotler dalam bukunya, Marketing Management, dalam jurnal “Pengembangan Strategi Marketing pada Daihatsu Taruna”, pemasaran dibagi dalam dua spek yaitu social dan menejerial. Sosial lebih diarahkan pada aturan pemasaran yang digunakan dalam masyarakat dan seorang pemasar menyebutkan hal itu sebagai sebuah aturan untuk “memberikan sebuah standar hidup yang lebih tinggi”.Sedangkan manajerial adalah pemasaran dideskripsikan sebagai “seni menjual produk”.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pemasaran adalah dimana terjadinya prosses yang berhubungan dengan kegiatan usaha berupa barang atau jasa untuk memenuhi
2.1.2Pengertian Bauran Pemasaran
Menurut Kotler (2004, p18) “Bauran pemasaran adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan secara terus menerus untuk mencapai tujuan pemasarannya di pasar sasaran”. Bauran pemasaran diklasifikasikan menjadi 4 (empat) kelompok yang luas disebut ” 4P ” dalam pemasaran , yaitu :
1) Produk (Product)
Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke suatu pasar untuk diperhatikan,dibeli, digunakan , atau dikonsumsi dimana dapat memenuhi keinginan atau kebutuhan
2) Harga (Price)
Harga adalah jumlah uang yang dikenakan untuk produk atau jasa tertentu, atau jumlah nilai yang ditukar konsumen untuk memperoleh keuntungan dari memiliki atau menggunakan suatu produk atau jasa
3) Tempat ( Place )
Tempat merupakan alat pemasaran lain yang termasuk sebagai kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk membuat produk dapat diperoleh dan tersedia bagi pelanggan sasaran. Memahami dimana, mengapa, kapan dan bagaimana pelanggan sasara membeli merupakan langkah penting.Pemasar harus memahami tingkat hasil pelayanan yang diinginkan pelanggan sasaran. 4) Promosi ( Promotion )
Promosi meliputi semua kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya kepada pasar sasaran. Promosi memiliki alat- alat, yaitu :
o Periklanan
o Promosi penjualan o Personal sellinhg o Publikasi
o Penjualan Massal
Menurut pengertian diatas dapat kita simpulkan fungsi yang berbeda terhadap suatu perusahaan. Dalam penelitian ini yang akan dibahas adalah bauran produk.
Karena seperti kita ketahui produk adalah salah satu bauran pemasaran yang penting dan perlu diperhatikan.
2.1.3 Produk
Menurut Kotler & Amstrong (2006, p218) “Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk diperhatikan, dimiliki atau dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan”.
Menurut Holman (1981) dalam jurnal yang berjudul Product use as communication: a fresh appraisal of a venerable topic mengatakan “Produk adalah simbol dengan mana orang menyampaikan sesuatu tentang diri mereka sendiri untuk diri mereka sendiri dan orang lain”.Symbol tersebut dapat mempengaruhi preferensi konsumen.
Menurut Tjiptono (2008, p95) “Produk merupakan segala suatu yang dapat ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, digunakan, atau dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan atau keinginan pasar yang bersangkutan”. Menurut Tjiptono produk dapat digambarkan sebagai berikut
Sumber: buku Strategi Pemasaran (Tjiptono,2008)
Gambar 2.1 Pengertian Produk Pencapaian tujuan oerganisasi Pemenuhan kebutuhan dan keinginan Produsen Kompetisi dan kapasitas organisasi Pasar Kapasitas daya beli
produk
Pemenuhan kepuasan Penawaran Permintaan Proses pertukaran2.1.4 Atribut Produk
Menurut Tjiptono (2008, p103) “Atribut produk adalah unsur-unsur produk yang dipandang penting oleh konsumen dan dijadikan dasar pengambilan keputusan pembelian.Atribut produk meliputi merek, kemasan, jaminan (garansi), pelayanan dan sebagainya.”
Menurut Tjiptono (2008, p104) atribut produk meliputi: 1. Merek (Brand)
Mereker digunakan oleh perusahaan untuk beberapa tujuan yaitu sebagai identitas yang bermanfaat dan membedakan produk perusahaan dengan prosuk pesaing, alat promosi, membina citra dan untuk mengendalikan pasar.
2. Kemasan (Package)
Pengemasan merupakan proses yang berkaitan dengan perancangan dan pembuatan wadah atau pembungkus untuk suatu produk.
3. Pemberian Label (Labelling)
Labeling berkaitan dengan pengemasan. Label merupakan bagian dari suatu produk yang menyampaikan informasi mengenai produk dan penjual.
4. Layanan Pelengkap (Supplementary Services)
Layanan pelengkap dapat di klasifikasikan menjadi delapan kelompok yaitu:
Informasi, konsultasi, order taking, hospitality, caretaking, expection, billing dan pembayaran.
5. Jaminan (Garansi)
Jaminan adalah janji yang merupakan kewajiban produsen atas produknya kepada konsumen, para konsumen akan diberi ganti rugi bila prosuk ternyata tidak dapat berfungsi sebagaimana yang diharapkan atau dijanjikan.
Menurut Adi Haryadi (2007, p29) “Atribut produk meliputi dimensi – dimensi produk juga menyangkut apa saja yang dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan untuk membeli, menonton, memperhatikan suatu produk, seperti harga, ketersediaan produk, merk, harga jual kembali, ketersediaan suku cadang, layanan purnajual, dll.”
Menurut Bilson Simamora (2003, p147) factor-faktor yang berhubungan dengan produk adalah kualitas, fitur,dan desain.
Unsur – Unsur Atribut Produk: 1. Kualitas Produk
Menurut Kotler (2004, p330), kebanyakan produk disediakan pada satu diantara empat tingkatan kualitas, yaitu : kualitas rendah, kualitas rata-rata sedang, kualitas baik dan kualitas sangat baik. Beberapa dari atribut diatas dapat diukur secara objektif. Namun demikian dari sudut pemasaran kualitas harus diukur dari sisi persepsi pembeli tentang kualitas produk tersebut.
2. Fitur Produk
Menurut Bilson Simamora (2003, p148) fitur menupakan kelengkapan fungsi produk. Sebuah produk yang pada dasarnya sama, bias dikatakan berbada kalau kelengkapan fungsinnya (fitur) berbeda.
Menurut Kotler dan Armstrong (2004, p348) sebuah produk dapat ditawarkan dengan beraneka macam fitur. Perusahaan dapat menciptakan model dengan tingkat yang lebih tinggi dengan menambah beberapa fitur. Fitur adalah alat bersaing untuk membedakan produk perusahaandari produk pesaing.
3. Desain Produk
Menurut Kotler (2004, p332) berpendapat bahwa “Desain merupakan totalitas keistimewaan yang mempengaruhi penampilan dan fungsi suatu produk dari segi kebutuhan konsumen”.
2.1.5 Pengembangan Produk
Menurut Alma (2007, p139) “Pengembangan produk adalah semua kegiatan yang dilakukan oleh pabrikan atau produsen dalam menentukan dan mengembangkan produknya, memperbaiki produk lama, menambah produk baru atau jasa yang sudah ada, dan mengurangi biaya – biaya produksi dan biaya pembungkus”.
Pengembangan produk yang dilakukan oleh perusahaan menurut Kotler dan Armstrong (2004, p315) dapat dilakukan melalui 2 cara, yaitu :
1) Akuisisi
Akuisisi dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu : membeli perusahaan lain, mendapatkan hak paten dari perusahaan lain, atau membeli lisensi serta waralaba dari perusahaan lain.
2) Pengembangan produk baru
Pengembangan produk dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu : Perusahaan dapat mengembangkan produk baru di laboratoriumnya sendiri atau membuat kontrak dengan peneliti independen atau perusahaan pengembangan produk baru untuk mengembangkan produk khususnya bagi perusahaan itu.
Jadi pengembangan produk dapat disimpulkan adalah mengembangan produk yang sudah ada agar konsumen tidak bosan dengan produk yang sudah ada.
2.1.6 Jenis kelamin (Gender)
Menurut Fakih (2006: p71) mengemukakan bahwa gender merupakan suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksikan secara sosial maupun kultural. Perubahan cirri dan sifat-sifat yang terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat lainnya disebut konsep gender.
Menurut Bakewel dan Mitchell (2003) dalam jurnal yangberjudul “Generation Y Female Consumer Decision Making Style”. International Journal of Retail & Distribution Management mengatakan gender atau jenis kelamin mempengaruhi dalam sikap konsumen dan prilaku konsumen. Jenis kelamin menjadi salah satu hal yang penting dalam mengamambil sebuah keputusan.
Menurut Aminah dan Shinta dalam jurnal yang berjudul “Perbedaan Jenis Kelamin Terhadap Kemampuan siswa dalam Mata Pelajaran Matematika ( Studi Kasus: Sekolah Dasar)”, mengatakan secarabiologis laki-laki dan perempuan berbeda. Perbedaan itu terlihat jelas pada alat reproduksi.
Jadi jenis kelamin merupakan suatu alat untuk membedakan mana perempuan dan mana laki-laki. Dari jenis kelamin pula kita dapat melihat sikap yang mempengaruhi preferensi ataupun memilih atribut-atribut produk yang menurut mereka penting. Karena seperti yang kita ketahui bahwa laki-laki dan perempuan memiliki pemikiran atau presepsi yang berbeda.
2.1.7 Prilaku Konsumen
Menurut Schiffman dan Kanuk (2004, p8) “Perilaku konsumen didefinisikan sebagai perilaku yang diperlihatkan konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan menghabiskan produk dan jasa yang mereka harapkan akan memuaskan kebutuhan mereka.”
Menurut Kotler dan Armstrong (2008) “Perilaku konsumen adalah perilaku pembelian konsumen akhir, baik individu maupun rumah tangga, yang membeli produk untuk konsumsi personal.”
Menurut Prasetijo & Ihalauw (2005), dalam jurnal yang berjudul pendekatan model hirarki dalam menganalisis pembelian mobil : Studi kasus wilayah Jakarta Barat mengatakan bahwa perilaku konsumen adalah studi tentang bagaimanapembuat keputusan (decision units), baik individu, kelompok, ataupun organisasi, membuat keputusan-keputusan beli atau melakukan transaksi pembelian suatu produk dan mengkonsumsinya.
Prilaku konsumen juga dapat diartikan sebagai bagaimana konsumen mengambil keputusan, menyeleksi produk atau jasa yang di inginkan, dan bagaimana konsumen menyusun strategi untuk mengambil keputusan.
Karakteristik yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam membeli suatu produk dipengaruhi oleh beberapa faktor menurut (Kotler & Armstrong) yaitu :
1. Faktor Budaya
Setiap kelompok atau masyarakat mempunyai budaya, dan pengaruh budaya pada perilaku pembelian bias sangat bervariasi dari satu Negara ke Negara lain. Kegagalan menyesuaikan diri dengan perbedaan ini dapat
menghasilkan pemasaran yang tidak efektif.Pemasar selalu berusaha menemukan perubahan budaya untuk menemukan produk baru yang diinginkan orang.
2. Faktor Sosial
Perilaku konsumen dipengaruhi oleh banyak kelompok kecil.Kelompok yang mempunyai pengaruh langsung dan tempat di mana seseorang menjadi anggotanya. Sebaliknya, kelompok referensi bertindak sebagai titik perbandingan baik langsung
maupun tidak langsung dalam bentuk sikap dan perilaku seseorang.
Selain kelompok, anggota keluarga bisa sangat mempengaruhi perilaku pembelian.Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat. Keterlibatan suami-istri dalam kategori produk dan tahap proses pembelian sangat beragam. Peran pembelian berubah sesuai dengan gaya hidup konsumen yang berubah
3. Faktor Pribadi
Keputusan pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi konsumen. Seperti, usia dan tahap siklus hidup pembeli, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep diri. Jadi, faktor pribadi tersebut tergantung pada karakter setiap orang.
4. Faktor Psikologis
Pilihan pembelian seseorang dipengaruhi oleh empat faktor psikologis utama.Yaitu :
• Motivasi
Seseorang berusaha memenuhi kebutuhan yang paling penting dahulu. Ketika kebutuhan tersebut sudah terpenuhi, kebutuhan itu tidak lagi menjadi pendorong motivasi dan orang akan mencoba memuaskan kebutuhan terpenting berikutnya.
• Persepsi
Persepsi adalah suatu proses di mana orang memilih, mengatur, dan menginterpretasikan informasi untuk membentuk suatu gambaran yang berarti.
• Pembelajaran
Pembelajaran menggambarkan perubahan dalam perilaku seseorang yang timbul dari pengalaman.Pembelajaran terjadi melalui interaksi dorongan, rangsangan, pertanda, respons, dan penguatan. • Keyakinan dan Sikap
Keyakinan adalah pikiran deskriptif yang dimiliki seseorang tentang sesuatu.Sedangkan, sikap adalah evaluasi perasaan dan tendensi yang relative konstan dari seseorang terhadap sebuah obyek. Menurut Kotler (2012, p.161) model prilaku konsumen dapat dipelajari seperti gambar berikut: Marketing Stimuli Other stimuli Product & services Price Distribution Communicati ons Economic Thecnologic al Political Cultural
Sumber : Philip Kotler (2012,p16)
Gambar 2.2 Model prilaku konsumen
Jadi prilaku konsumen dapat disimpulkan adalah tingkah laku konsumen, dimana mereka melakukan proses pengambilan keputusan, untuk membeli, menggunakan, dan mengevaluasi suatu produk atau jasa yang akan mereka beli. Atau dapat
diartikan juga tindakan yang langsung terlibat dalam memdapatkan, mengkonsumsi dan menghabiskan produk dan jasa.
Purchase Decision Product choice Brand choice Dealer choice Purchase amount Purchase timing Payment methode Consumer Psychology Motivation Preception Learning Memory Buying Decision Process Problem recognition Information search Evaluation of alternatives Purchase decision Post-purchase behavior Consumer Characteris tics Cultural Social Personal
2.1.8 Prefrensi konsumen
Menurut Chaplin (2002), “Preferensi adalah suatu sikap yang lebih menyukai sesuatu benda daripada benda lainnya. Penilaian preferensi adalah teknik penelitian dengan menyajikan dua atau lebih perangsang yang harus dipilih subjek yang dapat diukur lewat tes verbal atau lisan.”
Menurut Sirgy (1982, p288) dalam jurnal yang berjudul “Product personality and its influence on consumer preference” telah menunjukkan bahwa, sehubungan dengan makna simbolik produk, kesesuaian diri merupakan faktor penting dalam mengarahkan preferensi konsumen.Konsumen lebih memilih produk dan merek dengan makna simbolis yang konsisten dengan konsep diri mereka.
Menurut Kotler (2012),“Preferensi konsumen menunjukkan kesukaan konsumen dari berbagai pilihan produk yang ada. Masih menurut Kotler ada beberapa langkah yang harus dilalui oleh konsumen sampai membentuk preferensi.” Dimana proses evaluasi dalam diri konsumen hingga sampai membentuk preferensi tersebut, adalah sebagai berikut:
1) Diasumsikan bahwa konsumen melihat produk sebagai sekumpulan atribut.
2) Tingkat kepentingan atribut berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masing-masing. Konsumen memiliki penekanan yang berbeda-beda dalam menilai
3) Konsumen mengembangkan sejumlah kepercayaan tentang kepentingan atribut pada setiap produk.
4) Tingkat kepuasan konsumen terhadap produk akan beragam sesuai dengan perbedaan atribut.
5) Konsumen akan sampai pada sikap terhadap produk yang berbeda melalui prosedur evaluasi.
Sedangkan menurut Tjiptono (2008) ada beberapa beberapa indikator dalam mengevaluasi kepuasan terhadap produk yang sering digunakan antara lain :
1. Kinerja (Performance).
Karakteristik operasi pokok dari produk inti yang dibeli, misalnya produk yang dikonsumsi praktis untuk dibawa.
2. Ciri –ciri atau keistimewaan tambahan (Features).
Karakteristik sekunder atau pelengkap, misalnya tekstur yang halus, desain kemasan dan bentuk produk yang menarik serta harga yang murah.
3. Keandalan (Reliability).
Kemungkinan kecil produk yang dipakai akan mengalami kerusakan, seperti produk yang dikonsumsi tidak sering rusak atau tidak dapat dikonsumsi lagi. 4. Kesesuaian dengan spesifikasi (Confomance to specification).
Seperti apa ciri desain dan bentuk produk yang memenuhi standar, dan sesuai dengan ketentuan yang adam misalnya produk makanan harus memenuhi standar kesehatan yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan atau memiliki sertifikat halal.
5. Daya tahan (Durability).
Berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan, seperti kadaluarsa produk.
6. Pelayanan (Service ability).
Meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, dan kemudahan. 7. Estetika (Aistethic).
Faktor – faktor yang menjadi daya tarik produk terhadap panca indra seperti bentuk fisik, warna, dan model.
8. Kualitas yang dipersepsikan (Perceived quality) Merupakan citra dan reputasi produk, misalnya merek.
Menurut Govers dan Schoormans ( 2005) dalam jurnal yang berjudul “Product personality and its influence on consumer preference” telah menunjukkan bahwa varian produk dapat dirancang untuk memiliki kepribadian tertentu.Penelitian ini telah menunjukkan bahwa kesesuaian produk-kepribadian ini memiliki efek positif pada preferensi konsumen.
Preferensi konsumen berhubungan erat dengan masalah penetapan pilihan. Hubungan preferensi ini biasanya diasumsikan memiliki tiga sifat dasar, yaitu :
1. Kelengkapan ( Completeness)
Jika A dan B merupakan dua kondisi, maka setiap orang harus selalu bisa menspesifikasikan apakah :
• A lebih disukai daripada B • B lebih disukai daripada A • A dan B sama-sama disuka 2. Transifikasi (Transivity)
Jika seseorang mengatakan bahwa ia lebih menyukai A daripada B, dan lebih menyukai B daripada C. Maka ia lebih menyukai A daripada C.
3. Kontinuitas (Continuity)
Jika seseorang mengatakan A lebih disukai daripada B maka situasi yang mirip dengan A juga harus disukai daripada B.
Seperti diatas diasumsikan bahwa setiap orang dapat membuat atau menyusun urutan semua kondisi atau situasi, mulai dari yang paling disukai hingga yang paling tidak disukai.
2.2 Analisis Conjoint
Menurut Aaker (2003, p607-608) “Dalam menentukan pilihannya untuk membeli suatu produk, konsumen sering mempertimbangkan berbagai faktor.Bagi konsumen faktor tersebut bersifat trade-off yang membuat konsumen serba salah.Misalnya antara harga dan kualitas, mana yang harus dipilih, haruskah memilih harga rendah dengan kualitas rendah atau harga tinggi dengan kualitas prima tergantung dari preferensi konsumen.
Menurut Elly dan Farham (2009, p38) dalam jurnalnya yang berjudul “Analisis Preferensi Konsumen Dalam Pemilihan Jasa Operator Telekomunikasi seluler Untuk Perancangan Business Plan” analisis conjoin adalah teknik multivariate yang secara khusus digunakan untuk mempelajari bagaimana responden membuat preferensi terhadap produk atau jasa.
Menurut Hair et al. (2005, p410) “Conjoint analysis is a multivariate technique developed specifically to understand how respondents develop preferences for any
type of object (products, services, or ideas). It is based on the simple premise that consumers evaluate the value of an object (real or hypothetical) by combining the seperate amounts of value provided by each attribute.(Analisis konjoin adalah salah satu teknik multivarian yang khusus digunakan untuk mengetahui bagaimana responden mengembangkan preferensinya terhadap semua jenis objek (produk, jasa, atau ide).Analisis ini berdasarkan alasan yang sederhana karena konsumen dapt mengevaluasi nilai – nilai dari produk tersebut (nyata atau hipotesis) melalui kombinasi beberapa nilai yang terpisah – pisah dari setiap atribut.”
Menurut Cooper (2006, p586) “Conjoint Analysis typically uses input from nonmetric independent variable (Analisis konjoin biasanya menggunakan input dari variabel independen non metrik).”
Secara umum model analisis konjoin dapat diformulasikan sebagai berikut (Malhotra 2004) :
Intersep biasanya ditambahkan kedalam model analisis konjoin dalam prakteknya, sehingga menjadi:
Dimana:
U(X) = Utility total.
βij= Part worth atau nilai kegunaan dari atribut ke-i taraf ke-j. kj = Taraf ke-j dari atribut ke-i.
mi = Jumlah atribut ke-i.
Xij = Dummy variable atribut ke-i taraf ke-j. (1=taraf muncul; 0=tidak muncul) Untuk menentukan tingkat kepentingan atribut ke-i (Wi), ditentukan melalui persamaan berikut (Surjandari, 2010, p32):
Dimana:
Ii=(max(βij) - min(βij)), untuk setiap i.
Tahapan yang umumnya dilakukan dalam merancang dan melaksanakan analisis konjoin secara umum adalah sebagai berikut :
a. Merumuskan Masalah b. Mengkonstruksi Stimulus c. Menentukan Bentuk Data Input d. Membuat Prosedur Analisa Konjoin e. Menafsir Hasilnya
f. Menguji Reliabilitas dan Validitas
Berikut, masalah sering dihadapi dalam analisis konjoin, yaitu: • Menentukan jumlah stimuli
Menurut Aaker (2003, p608) “Jumlah stimuli yang terlalu banyak akan menimbulkan kesulitan bagi responden untuk menilai setiap profil stimuli yang ditanyakan, hingga menyebabkan responden akan mengacuhkan variasi stimuli yang kurang penting serta membutuhkan waktu yang lama untuk menjawabnya.”
Menurut Santoso (2010, p 281) “Untuk jumlah stimuli yang terlalu banyak, bisa dilakukan pengurangan stimuli dengan ketentuan stimuli minimal, yaitu :
Minimum Stimuli = Jumlah level – Jumlah factor + 1 • Menentukan jumlah level
Jumlah level antar faktor – faktor yang ada harus diusahakan seimbang. Telah ditemukan bahwa tingkat kepentingan relatif yang diestimasi dari suatu variabel meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah level. Diasumsikan bahwa dengan adanya jumlah level yang lebih banyak, konsumen akan lebih fokus pada atribut tersebut.
Jumlah stimuli yang dilibatkan dalam analisis berakibat langsung terhadap efisiensi statistik dan reliabilitas hasilnya.Dengan bertambahnya faktor dan
level, meningkatkan jumlah parameter yang harus diestimasi membutuhkan stimuli yang lebih banyak atau terjadi pengurangan dalam reliabilitas hasil.
2.3 Riset Sebelumnya
1. Dalam jurnal yang berjudul “Pendekatan Model Hirarki Dalam Menganalisa Faktor – Faktor Pendukung Pengambilan Keputusan Pembelian Mobil : Studi Kasus Wilayah Jakarta Barat” BINUS BUSINESS REVIEW Vol. 2 No. 1 Mei 2011: 341-355; Robert T. Herman; Aditya Artha. Hasil penelitian ini mengatakan bahwa kriteria city car yang paling dipertimbangkan konsumen dalam melakukan keputusan pembelian yaitu : faktor kualitas memiliki bobot 10,4%; faktor harga memiliki bobot 34,7%; faktor desain memiliki bobot 16,0%; faktor kenyamanan memiliki bobot 7,0%; faktor performa memiliki bobot 24,2%; faktor keamanan memiliki bobot 3,1%; faktor after sales service memiliki bobot sebesar 4,5%.
2. Dalam jurnal yang berjudul “Analisis Conjoint Dalam Penentuan Preferensi Pemirsa Berita Televisi Untuk Pengembangan Program Berita Liputan 6 SCTV” Jurnal Ekonomi : Media Ilmiah Indonusa Vol. 13, No. 1, Mei 2008 : 40-56; Sri Handayani. Hasil penelitian ini mengatakan bahwa program berita yang sebaiknya dikembangkan adalah program berita televisi yang mempunyai karakteristik durasi 75 menit, presenter yang menguasi materi, dan narasumber pengamat.
3. Dalam jurnal yang berjudul “Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Calon Mahasiswa Dalam Memilih Jurusan Teknik Industri UBINUS Dengan Metode Cochran Q Test” INASEA Vol. 4 No. 2. Oktober 2003: 65-74; Wirawan; Dyah Budiastuti. Hasil penelitian ini mengatakan bahwa terdapat lima faktor yang menjadi pertimbangan calon mahasiswa dalam memilih jurusan Teknik Industri UBinus, yaitu terakreditas B, ISO 9001:2000, kualitas lulusan, persepsi lulusan UBiNus mudah mendapatkan pekerjaan, serta fasilitas komputer dan internet.
4. Dalam jurnal yang berjudul “A conjoint analysis of online consumer satisfaction “Journal of Electronic Commerce Research, VOL. 6, NO.2, 2005; L. Christian Schaupp, France Bélanger. Penelitian ini mengatakan bahwa ada 3
atribut penting bagi konsumen untuk kepuasan berbelanja online, yaitu privasi (faktor teknologi), merchandising (faktor produk), dan kenyamanan (faktor belanja). Ini diikuti oleh kepercayaan, pengiriman, kegunaan, kustomisasi produk, kualitas produk, dan keamanan.
Adapun beberapa penelitian terdahulu terangkum pada tabel berikut :
Tabel 2.1 Tabel Penelitian Terdahulu
Nama Peneliti
dan Tahun Judul Penelitian
Alat
Analisis Hasil Penelitian
Robert T. Herman dan Aditya Arta (2011) Pendekatan Model Hirarki Dalam Menganalisa Faktor - Faktor Pendukung Pengambilan Keputusan Pembelian : Studi Kasus Wilayah Jakarta Barat. Analisis Faktor dan AHP
Terdapat tujuh faktor yang paling dipertimbangkan oleh konsumen dalam melakukan keputusan pembelian yaitu : kualitas,
harga, desain,
kenyamanan, performa, keamanan, dan after sales service Sri Handayani (2008) Analisi Conjoint Dalam Penentuan Preferensi Pemirsa Berita Televisi Untuk Pengembangan Program Berita Liputan 6 SCTV. Analisis Konjoin
Program berita yang sebaiknya dikembangkan adalah program berita dengan karakteristik durasi 75 menit, presenter yang menguasi materi, dan narasumber pengamat
Wirawan dan Dyah Budiastuti (2003) Analisis Faktor yang Mempengaruhi Calon Mahasiswa Dalam Memilih Jurusan Teknik Industri UBINUS Dengan Metode Cochran Q Test. Cochran Q Test
Terdapat lima faktor yang menjadi pertimbangan calon mahasiswa dalam memilih jurusan Teknik UBinus yaitu : terakreditas B, ISO 9001:2000, kualitas lulusan, persepsi lulusan UBINUS mudah mendapatkan pekerjaan, serta fasilitas komputer dan internet.. L Christian Schaupp, France Bélanger (2005) A conjoint analysis of online consumer satisfaction. Cochran Q Test
Atribut terpenting bagi konsumen untuk kepuasan berbelanja online ada 3 yaitu privasi (factor teknologi), merchandising (faktor produk), dan kenyamanan (faktor belanja).
2.4 Kerangka Pemikiran KERANGKA PEMIKIRAN PERSIAPAN PENELITIAN STUDI ULITERATR SURVEY TAHAP I
SURVEY TAHAP II
Sumber : Penulis
Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran
2.5 Hipotesisi
Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah hipotesis deskriptif
• Ho : Diduga tidak ada hubungan positif antara estimates preferencesdan pendapat responden yang sebenarnya (actual preference) mengenai preferensi produk kendaraan roda dua bekas
Ha: Diduga adanya hubungan positif antara estimates preferencesdan pendapat responden yang sebenarnya (actual preference) mengenai preferensi produk kendaraan roda dua bekas
• Ho : Diduga tidak ada perbedaan nilai utilitas dari masing – masing atribut produk kendaraan roda dua bekas pada tiap responden
Ha :Diduga terdapat perbedaan nilai utilitas dari masing – masing atribut produk kendaraan roda dua bekas pada tiap responden
• Ho : Diduga tidak ada perbedaan kepentingan antar perempuan dan laki-laki terhadap kombinasi atribut produk.
Ha : Diduga ada perbedaan kepentingan antar perempuan dan laki-laki terhadap kombinasi atribut produk.