DIREKTORAT KESEHATAN KERJA DAN OLAHRAGA DIREKTORAT JENDERAL KESEHATAN MASYARAKAT KEMENTERIAN KESEHATAN
TAHUN 2020
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA
DIREKTORAT KESEHATAN KERJA DAN OLAHRAGA
TAHUN 2020
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
2 KATA PENGANTAR
Laporan Akuntabilitas merupakan kewajiban entitas Kementerian/Lembaga termasuk satuan kerja untuk mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya. Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga disusun sesuai dengan Peraturan Presiden No. 29 tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP), Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 54 Tahun 2014 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, dan Peraturan Menteri Kesehatan No 2416/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Kesehatan serta peraturan-peraturan terkait lainnya.
Pelaksanaan upaya kesehatan kerja dan olahraga tahun 2020 menunjukan hasil yang bervariasi baik dalam pencapaian indikator dan penyerapan anggaran, secara umum implementasi kesehatan kerja dan olahraga dapat dilaksanakan dan dirasakan manfaatnya serta dampaknya bagi kesehatan dan produktifitas masyarakat. Apalagi di masa pandemi beberapa inovasi dan proses adaptasi terhadap pelaksanaan kegiatan kesehatan kerja dan olahraga di pusat dan daerah dilakukan untuk mencapai target indikator dan realisasi.
Pada laporan ini kami sampaikan pula pencapaian kinerja Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga tahun 2020. Ucapan terima kasih kami sampaikan pada semua pihak yang telah mendukung seluruh kegiatan kesehatan kerja dan olahraga tahun 2020 ini.
Semoga Laporan Akuntabilitas Kinerja ini dapat memberikan informasi, evaluasi dan masukan bagi pengembangan program Kesehatan Kerja dan Olahraga dimasa yang akan datang.
Jakarta, Januari 2021
Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga
dr. Riskiyana Sukandhi Putra, M.Kes NIP 196202161989031007
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
3 RINGKASAN EKSEKUTIF
Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga melaksanakan tugas, pokok dan fungsinya melalui berbagai kegiatan pembinaan upaya kesehatan kerja dan olahraga yang berkontribusi terhadap capaian program kesehatan masyarakat dan program kesehatan lainnya. Hal ini dapat dilihat dari pencapaian indikator kinerja yang telah ditetapkan.
Indikator kinerja Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga, telah ditetapkan pada awal RPJMN IV 2020 – 2024 yang tertuang dalam indikator Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2020 - 2024 sebanyak 2 indikator yaitu : 1) Jumlah kabupaten/kota yang melaksanakan kesehatan kerja, 2) Jumlah kabupaten/kota yang melaksanakan kesehatan olahraga. Pada akhir tahun 2019 pembahasan dengan Bappenas, ditambahkan indikator output/RKP yaitu 1) Pelaksanaan kesehatan kerja di tempat kerja, 2) Instansi pemerintah yang melaksanakan pengukuran kebugaran jasmani 3) Jemaah haji yang diperiksa kebugaran jasmani.
Pencapaian kinerja Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020 merupakan 1. Pencapaian Indikator Renstra.
Pada tahun 2020, dari 2 indikator Renstra Kemenkes yang ditetapkan indikator dapat dicapai dengan baik, adalah jumlah kabupaten/kota yang melaksanakan kesehatan kerja, sedangkan Jumlah kabupaten/kota yang melaksanakan kesehatan olahraga, hanya dilaporkan sebesar 62,7%.
2. Pencapaian Indikator RKP
Dari 3 indikator RKP yang ditetapkan terdapat 2 indikator yang tidak dapat mencapai target, capaian pelaksanaan kesehatan kerja di tempat kerja hanya sebesar 23,5% dan jemaah haji yang diperiksa kebugaran jasmani sebesar 51,35%. Indikator Instansi pemerintah yang melaksanakan pengukuran kebugaran jasmani tercapai 770,8%, lebih dari 100 % dari target. Berdasarkan analisa kami disebabkan pada penentuan indikator ternyata kemampuan dinas kesehatan dalam melakukan kegiatan pembinaan kesehatan olahraga lebih baik sedangkan untuk pelaporan kesehatan kerja masih perlu pembinaan. Pembiayaan yang dialokasikan untuk program Kesehatan Kerja dan Olahraga pada awal tahun 2020 sebesar Rp 27.537.877.000 M. Pada awal Maret terjadi pandemi COVID-19 dilakukan kegiatan refokusing menjadi Rp 18.616.414.000, kemudian mendapat tambahan dana bagian Anggaran Bendahara Umum Negara (BA BUN) sebesar Rp 350.000.000 sehingga pembiayaan kesehatan kerja dan olahraga tahun 2020 sebesar Rp 18,966,414,000. Revisi penambahan penerimaan hibah langsung negeri (PHLN) sebesar Rp. 166,560,000 sehingga anggaran menjadi Rp 19,132,974,000. Penyerapan kegiatan Kesehatan Kerja dan Olahraga tahun 2020 sebesar Rp 18.678.937.814 (97,6%).
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
4 Hasil pemantauan tim evaluasi melihat penyerapan dana, pencapaian indikator kinerja serta implementasi kegiatan di daerah, terdapat hal-hal yang mendukung implementasi program : 1. Kebijakan terkait struktur organisasi dinas kesehatan provinsi dan kabupaten, dimana
terdapat penanggung jawab program kesehatan kerja dan olahraga.
2. Upaya kapasitasi pengelola program kesehatan kerja dan olahraga melalui pelatihan berjenjang dan orientasi.
3. Memfokuskan dana dekon untuk kegiatan tertentu yang akan mendukung capaian kinerja program.
4. Membangun jejaring dengan pemangku kepentingan baik di pusat dan daerah.
5. Meningkatkan komunikasi dan koordinasi melalui media komunikasi digital dengan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat dan penanggungjawab Kesehatan Kerja dan Olahraga di provinsi dan kabupaten.
6. Membuat kebijakan upaya percepatan yang menantang daerah, untuk mencapai target khususnya kegiatan pengukuran kebugaran Jemaah Haji dan Pos UKK yang direspon dengan baik oleh daerah.
Beberapa masalah yang menjadi tantangan dalam implementasi program kesehatan kerja dan olahraga :
1. Disparitas luas wilayah, kondisi geografi, sosial budaya di 34 Provinsi, 514 Kabupaten/kota daerah.
2. Belum optimalnya koordinasi dan kerjasama lintas sektor/lintas program.
3. Masih banyak kebijakan yang menitik beratkan pada upaya kuratif dan rehabilitatif. 4. Perubahan gaya hidup dan pergeseran transisi epidemiologi pada masyarakat. 5. Tugas rangkap dari pengelola program di pusat dan daerah.
Pelajaran yang dapat diambil dari proses kerja tahun 2020 dapat menjadi masukan dalam merencanakan, melaksanakan program Kesehatan Kerja dan Olahraga pada tahun 2021, sehingga tercapai tujuan nasional yaitu : Masyarakat yang Sehat, Bugar dan Produktif untuk mencapai Indonesia Maju.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
5 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR 2 RINGKASAN EKSEKUTIF 3 DAFTAR ISI 5 BAB I PENDAHULUAN 6 A. Latar Belakang 6
B. Maksud dan Tujuan 8
C. Tugas Pokok Fungsi dan Struktur Organisasi 8
1. Tugas Pokok dan Fungsi 8
2. Struktur Organisasi 8
D. Sumber Daya Manusia (SDM) 9
E. Sistematika 11
BAB IIRENCANA KERJA DAN PERJANJIAN KINERJA 12
A. Perencanaan Kinerja 12
B. Perjanjian Kinerja 15
BAB IIIAKUNTABILITAS KINERJA 16
A. Capaian Kinerja 16
B. Cara Pengukuran Indikator 17
C. Evaluasi dan Analisa Capaian Kinerja Renstra Kementerian Kesehatan 2020
-2024 17
D. Evaluasi dan Analisa Capaian Kinerja RKP 2020 dan Renja (Krisna) 21
g. Realisasi Anggaran 64
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
6 BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Penduduk Indonesia berjumlah 265 juta dimana lebih dari 133 juta diantaranya merupakan angkatan kerja. Angkatan kerja adalah penduduk usia produktif yang berusia 15-64 tahun yang siap untuk bekerja (BPS, 2018). Komposisi penduduk Indonesia saat ini, menuju pada komposisi bonus demografi. Puncak bonus demografi di Indonesia diperkirakan akan terjadi pada tahun 2035, dengan mayoritas penduduk usia produktif, kualitas kelompok ini akan menentukan masa depan Indonesia. Oleh karena itu, upaya kesehatan dengan sasaran usia kerja menjadi penting, untuk menciptakan SDM yang berkualitas agar bonus demografi dapat menjadi optimal. Pekerja merupakan penggerak perekonomian bangsa, disisi lain pekerja juga berada pada usia produktif, merupakan pencetak generasi penerus bangsa. Posisi pekerja juga sebagai tulang punggung keluarga, sehingga memiliki peran penting dalam kesehatan keluarga. Pekerja akan menentukan pemenuhan gizi keluarga, health
literacy pada keluarga hingga pembiasaan pola hidup yang sehat pada keluarga. Disisi
lain pekerja juga berada pada masa reproduktif akan berkontribusi terhadap pencapaian dan memiliki daya ungkit yang tinggi terhadap penurunan angka kematian ibu dan bayi, stunting, penyakit menular, penyakit tidak menular serta permasalahan kesehatan masyarakat lainnya. Sehingga dapat dikatakan, pekerja yang sehat akan berkontribusi mendukung tercapainya SDGs No.1, 2, 3, 5, 8 (Kemiskinan, kelaparan, kesehatan dan pekerjaan yang layak).
Upaya kesehatan kerja dan olahraga mengutamakan pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif, tanpa mengabaikan aspek kuratif dan rehabilitatif. Penyelenggarakan upaya kesehatan kerja dan olahraga dilaksanakan secara berjenjang oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, sampai pada pelaksanan di tempat kerja, dengan melibatkan peran lintas program, lintas sektor, swasta (dunia usaha), LSM dan peran aktif seluruh masyarakat. Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan mengamanahkan perlu dilakukannya upaya kesehatan kerja dan kesehatan olahraga. Upaya kesehatan kerja dan olahraga diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat, dengan mengutamakan pendekatan preventif dan promotif tanpa mengabaikan pendekatan kuratif dan rehabilitatif.
Penjelasan tujuan dan sasaran Kesehatan Kerja termaktub pada Bab XII Pasal 164 - 166 menyebutkan bahwa upaya kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan. Upaya kesehatan kerja dimaksud meliputi pekerja di sektor formal dan informal, berlaku bagi setiap orang selain pekerja yang berada di lingkungan tempat kerja.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
7 Tujuan dan sasaran upaya kesehatan olahraga dijelaskan pada pada Bab VI bagian sembilan pasal 80 dan 81 yang menyatakan bahwa upaya kesehatan olahraga ditujukan untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran jasmani masyarakat. Peningkatan derajat kesehatan dan kebugaran jasmani masyarakat dilakukan melalui melalui aktivitas fisik, latihan fisik dan olahraga, sebagai upaya dasar untuk meningkatkan prestasi belajar, prestasi kerja dan prestasi olahraga.
Sesuai amanah UU No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan, pasal 164-166. Pemerintah melalui rancangan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 88 tentang Kesehatan Kerja, mengamanatkan Kementerian Kesehatan untuk menyusun standar kesehatan kerja yang meliputi upaya pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, penanganan penyakit dan pemulihan kesehatan. Tujuan implementasi standar tersebut di berbagai tatanan tempat kerja pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan akan memberikan daya ungkit terhadap pencapaian SDM yang berkualitas dan mempunyai daya saing menuju Indonesia Maju.
Direktorat Kesehatan Kerja dan Olaraga juga ditugaskan mandat lainnya, melalui SK Menteri Kesehatan RI nomor HK.01.07/Menkes/337/2019 tentang Komite Pelindungan Kesehatan Pekerja Migran Indonesia dengan penugasan sebagai Koordinator dan Sekretariat, dan SK No. HK.01.07/Menkes/95/2018 tentang Pokja Program Aksi Keselamatan Jalan dengan penugasan sebagai Sekretaris I dan Sekretariat. Kedua mandat tersebut cukup strategis mengingat Pekerja Migran Indonesia sebagai salah satu jenis pekerja yang mempunyai kontribusi terhadap devisa negara dan jumlahnya cukup besar yaitu 9 juta orang. Sedangkan Rencana Aksi Keselamatan Jalan merupakan masalah yang krusial karena menjadi salah satu dari 10 penyebab kematian utama di Indonesia.
Berdasarkan penjabaran tersebut, lingkup tugas Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga cukup strategis dan melibatkan berbagai stakeholder. Namun dalam periode RPJMN 2015-2019, alokasi pendanaan yang ada tidak mencukupi untuk memberikan dukungan memadai dalam pelaksanaan kegiatannya. Untuk itu upaya-upaya mobilisasi dukungan pendanaan dari berbagai sumber baik yang mengikat maupun telah dilakukan salah satunya melalui hibah dari WHO, dan sinergi dengan APBD di daerah.
Menghadapi RPJMN, Renstra dan tantangan di tahun 2020-2024, Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga, berupaya melalui penyusunan Rencana Aksi Kesehatan Kerja dan olahraga 2020-2025.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
8 B. Maksud dan Tujuan
Laporan akuntabilitas kinerja Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga diharapkan dapat menggambarkan dan menjelaskan berbagai upaya dan capaian kinerja Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga selama tahun 2020.
C. Tugas Pokok Fungsi dan Struktur Organisasi 1. Tugas Pokok dan Fungsi
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan, Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga dalam melaksanakan kegiatan tugas sehari-hari bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, kriteria dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang kesehatan kerja dan olahraga sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana tersebut di atas Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga mempunyai fungsi:
a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang kesehatan okupasi dan surveilans, kapasitas kerja, lingkungan kerja, dan kesehatan olahraga;
b. Penyiapan pelaksanaan kebijakan kesehatan okupasi dan surveilans, kapasitas kerja, lingkungan kerja dan kesehatan olahraga;
c. Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria di bidang kesehatan okupasi dan surveilans, kapasitas kerja, lingkungan kerja, dan kesehatan olahraga;
d. Penyiapan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang kesehatan okupasi dan surveilans, kapasitas kerja, lingkungan kerja, dan kesehatan olahraga;
e. Pemantauan, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan kebijakan di bidang kesehatan okupasi dan surveilans, kapasitas kerja, lingkungan kerja, dan kesehatan olahraga;
f. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat. 2. Struktur Organisasi
Susunan Organisasi Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonsia Nomor 64 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan adalah sebagai berikut : a. Subdirektorat Kesehatan Okupasi dan Surveilans;
b. Subdirektorat Kapasitas Kerja; c. Subdirektorat Lingkungan Kerja; d. Subdirektorat Kesehatan Olahraga; e. Subbagian Tata Usaha;
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
9 Gambar 1.1. Struktur Organisasi Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Januari – Maret 2020
Gambar 1.2. Struktur Organisasi Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga April – Desember 2020
D. Sumber Daya Manusia (SDM)
Jumlah pegawai Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga tahun 2020 mengalami perubahan karena adanya pegawai yang pindah tugas dan purna tugas. Sesuai dengan diagram berikut ini :
Grafik 1.1. Jumlah ASN Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2020
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
10 Grafik 1.2 Jumlah Pramubakti Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2020
Dari gambar 1.1 dan 1.2 dapat diketahui bahwa mayoritas pegawai Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga berada pada rentang usia 30 tahun hingga 40 tahun, sehingga dengan kepemimpinan dan peningkatan kapasitas yang baik dapat menghasilkan ide kreatif dan kinerja organisasi yang optimal.
Grafik 1.3. Sebaran Pegawai Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020 berdasarkan Jabatan
Dari gambar diatas diketahui bahwa dari total pegawai Direktorat Kesehatan Kerja dan olahraga, sebanyak 13 orang atau 23,0% merupakan pejabat struktural, sebanyak 35 orang atau 59,32 % pejabat fungsional tertentu dan pejabat fungsional umum sedangkan sebanyak 11 orang (18,6%) merupakan non ASN.
Struktural 22% JFT + JFU 59% Non ASN 19%
PROPORSI PEGAWAI DIREKTORAT KESEHATAN
KERJA DAN OLAHRAGA
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
11 Grafik 1.4. Sebaran Pegawai Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020 berdasarkan pendidikan
Dari Grafik diatas diketahui bahwa dari total pegawai Direktorat Kesehatan Kerja dan olahraga, sebagian besar pegawai atau 56,86% telah menyelesaikan jenjang S2 (pasca sarjana), peningkatan kapasitas bagi pegawai melalui tugas belajar dan ijin belajar dilakukan secara selektif dengan memperhatikan prestasi kerja dan kebutuhan organisasi.
E. Sistematika
Sistematika penulisan LAKIP Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga adalah sebagai berikut :
1. Bab I Pendahuluan, menjelaskan uraian singkat mengenai latar belakang, maksud dan tujuan, penjelasan umum organisasi, dan tugas pokok dan fungsi Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga.
2. Bab II Rencana Kinerja dan Perjanjian Kinerja, menjelaskan mengenai Rencana Strategis, perjanjian kinerja/penetapan Kinerja tahun 2020 dan gambaran sasaran yang ingin dicapai Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga tahun 2020.
3. Bab III Akuntabilitas Kinerja, menjelaskan pencapaian sasaran kinerja dengan menyajikan hasil-hasil yang telah dicapai, analisis tentang keberhasilan dan kegagalan capaian sasaran kinerja, efisiensi yang telah dilakukan serta rencana tindak lanjut sebagai rekomendasi dan solusi untuk masukan program peningkatan kinerja pada tahun yang akan datang.
4. Bab IV Penutup, menyajikan kesimpulan mengenai pencapaian kinerja terhadap rencana kerja tahun 2020.
5. Lampiran, menyajikan data dukung terkait perjanjian kinerja, target dan sasaran, capaian program dan data dukung lainnya.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
12 BAB II
RENCANA KERJA DAN PERJANJIAN KINERJA
A.
Perencanaan KinerjaRencana Strategis Kementerian Kesehatan (Renstra Kemenkes) Tahun 2020-2024 ditetapkan melalui Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 21 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2020-2024. Periode tahun 2020-2024 merupakan tahapan terakhir dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025, sehingga merupakan periode pembangunan jangka menengah yang sangat penting dan strategis.
Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga merupakan salah satu unit kerja yang berada di lingkup Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, memiliki tugas pokok melaksanakan perumusan dan pelaksanaan serta evaluasi dibidang kesehan kerja dan olahraga. Perencanaan pencapaian target dan kinerja Direktorat dituangkan dalam Rencana Aksi Nasional (RAN) 2020-2025. Berdasarkan Renstra Kemenkes 2020-2024 dan target RKP yang ditetapkan Bappenas, maka target yang harus dicapai adalah :
Tabel 2.1 Matriks Indikator Renstra Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Tahun 2020-2024
NO INDIKATOR RENSTRA
TARGET
2020 2021 2022 2023 2024 1 Persentase Persalinan di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan (PF) 87 89 91 93 95
2 Persentase Desa/Kelurahan dengan Stop
Buang Air Besar Sembarangan (SBS) 40 50 60 70 90 3 Persentase Ibu Hamil Kurang Energi Kronik
(KEK) 16 14.5 13 11.5 10
4 Persentase Kabupaten/Kota yang
menerapkan kebijakan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
13 Tabel 2.2 Matriks Indikator Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga dalam
Renstra Kemenkes dan RKP Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020-2024 No INDIKATOR TARGET 2020 2021 2022 2023 2024 Renstra 1 Jumlah Kabupaten/kota
melaksanakan Kesehatan Kerja 308 334 360 385 411
2 Jumlah Kabupaten/kota melaksanakan Kesehatan Olahraga 308 334 360 385 411 Renja
1 Pelaksanaan kesehatan kerja
di tempat kerja 75.000 125.000 150.000 175.000 200.000
2
Instansi pemerintah yang melaksanakan pengukuran kebugaran jasmani
2.200 3.600 4.400 5.100 5.800
3 Jemaah haji yang diperiksa
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
14 Dimana definisi operasional target indikator terkait upaya kesehatan kerja dan olahraga dari Renstra dan Renja tersebut adalah :
Tabel 2.3. Matriks Definisi Operasional Kinerja Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga PROGRAM/ KEGIATAN SASARAN PROGRAM/ KEGIATAN
INDIKATOR DO/CARA PERHITUNGAN
Pembinaan Upaya Kesehatan Kerja dan Olahraga Meningkatn ya upaya kesehatan kerja dan olahraga Jumlah Kabupaten/kota melaksanakan Kesehatan Kerja
Jumlah kabupaten kota yang melaksanakan kesehatan kerja apabila memenuhi kriteria minimal 25% puskesmas di wilayah kerja kabupaten/kota melaksanakan kesehatan kerja. Jumlah Kabupaten/kota melaksanakan Kesehatan Olahraga
jumlah kabupaten kota yang melaksanakan kesehatan olahraga apabila memenuhi kriteria minimal 10% puskesmas di wilayah kerja kabupaten/kota melaksanakan kesehatan olahraga.
Pelaksanaan kesehatan kerja di tempat kerja
Jumlah pelaksanaan kesehatan kerja di tempat kerja dihitung dari jumlah tempat kerja:
1) formal: jumlah GP2SP, jumlah instansi pemerintah yang melaksanakan kesehatan kerja, jumlah klinik atau RS yang melaksanakan kesehatan kerja. 2) informal: jumlah POS UKK. Instansi pemerintah yang melaksanakan pengukuran kebugaran jasmani
Jumlah instansi pemerintah yang melaksanakan pengukuran kebugaran jasmani
Jemaah haji yang diperiksa kebugaran jasmani
Jumlah jemaah haji yang diperiksa kebugaran jasmani
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
15 Indikator RKP pada tahun 2020 merupakan indikator tambahan sesuai kesepakatan dengan Bappenas diakhir tahun 2019, sejalan dengan indikator Renstra yang telah ditetapkan. Untuk mencapai indikator kinerja dan menjamin implementasi program secara berkelanjutan, Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga menyusun Rencana Aksi Kegiatan Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga 2020 – 2025.
B.
Perjanjian KinerjaPerjanjian kinerja antara Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat dengan Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga tahun 2020, dilaksanakan pada bulan Desember 2019 dimana telah ditetapkan :
1. Dana kelolaaan sesuai dengan DIPA 2020 sebesar Rp 27.537.877.000. 2. Target Capaian Kegiatan
a. Jumlah kab/kota yang melaksanakan kesehatan kerja sebanyak 308 kabupaten/kota.
b. Jumlah kab/kota yang melaksanakan kesehatan olahraga sebanyak 308 kabupaten/kota.
Perjanjian kinerja Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga, diturunkan menjadi perjanjian kinerja antara Direktur Kesehatan Kerja dengan 4 Kepala Sub Direktorat dan Kasubbag Tata usaha pada tanggal 31 Desember 2019, situasi yang menjadi bagian penilaian kinerja semua staf dimasing-masing bagian. (Data terlampir).
Berdasarkan perjanjian kinerja tersebut ada beberapa target indikator kinerja yang belum dapat dipenuhi dengan baik. Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga dapat memenuhi target realisasai DIPA 2020 sebesar 97,6%.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
16 BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA
Akuntabilitas kinerja Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga merupakan bentuk pertanggungjawaban kinerja yang memuat realisasi dan capaian kinerja yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga pada tahun 2020. Pengukuran dilakukan dengan cara membandingkan antara target indikator kinerja sasaran dengan realisasinya.
A. Capaian Kinerja
Pengukuran kinerja dimaksudkan untuk menilai sejauh mana keberhasilan dari pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan. Pengukuran capaian kinerja dilihat dari sandingan target dengan capaian kinerja dan penyerapan anggaran, semakin tinggi capaian kinerja dan realisasi anggaran maka semakin efektif dan efisien pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan.
Tabel 3.1 Capaian Kinerja Kegiatan Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga tahun 2020
NO INDIKATOR TARGET
2020
CAPAIAN
(SITKO cut off 5 Jan 2021) RENSTRA
1 Jumlah kabupaten/kota yang
melaksanakan kesehatan kerja 308 329 106,8%
2 Jumlah kabupaten/kota yang
melaksanakan kesehatan olahraga 308 193 62,7%
RENJA
1 Pelaksanaan kesehatan kerja di tempat
kerja 60.347 14.200 23,53%
2 Instansi pemerintah yang melaksanakan
pengukuran kebugaran jasmani 759 5.850 770,75% 3 Jemaah haji yang diperiksa kebugaran
jasmani 186.613 95.820 51,35%
*Warna merah, target tidak tercapai
Target RKP dilakukan revisi karena menyesuaikan dengan kondisi pandemi dan adanya efisiensi anggaran. Pengukuran kinerja kegiatan kesehatan kerja dan olahraga
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
17 yang mengarah pada outcome atau dampak belum dilakukan harus melalui survei atau penelitian.
B. Cara Pengukuran Indikator
Indikator kesehatan kerja dan olahraga dihitung dengan cara sebagaimana berikut ini : 1. Jumlah kabupaten/kota yang melaksanakan kesehatan kerja
Indikator jumlah kabupaten/kota yang melaksanakan kesehatan kerja dihitung dengan cara apabila kabupaten/kota tersebut memenuhi kriteria sebanyak 25% puskesmas melaksanakan kesehatan kerja. Laporan dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkat Puskesmas, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Provinsi sampai ke Pusat. Kementerian Kesehatan melakukan rekapitulasi seluruh data yang ada melalui Sistem Informasi Terpadu Kesehatan Kerja dan Olahraga (SITKO).
2. Jumlah kabupaten/kota yang melaksanakan kesehatan olahraga
Indikator jumlah kabupaten/kota yang melaksanakan kesehatan olahraga dihitung dengan cara apabila kabupaten/kota tersebut memenuhi kriteria sebanyak 10% puskesmas melaksanakan kesehatan olahraga. Laporan dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkat Puskesmas, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Provinsi sampai ke Pusat. Kementerian Kesehatan melakukan rekapitulasi seluruh data yang ada melalui Sistem Informasi Terpadu Kesehatan Kerja dan Olahraga (SITKO).
C. Evaluasi dan Analisa Capaian Kinerja Renstra Kementerian Kesehatan 2020 -2024 Evaluasi dan analisa capaian kinerja indikator Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga 2020 ditampilkan bersama capaian target Renstra Kemenkes 2020-2024, mengingat tahun 2020 merupakan awal tahun dari tahapan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025.
1. Jumlah kabupaten/kota yang melaksanakan kesehatan kerja
Hasil evaluasi tahun 2020, capaian jumlah kabupaten/kota yang melaksanakan kesehatan kerja puskesmas yang menyelenggarakan kesehatan kerja dasar mencapai 329 kabupaten/kota (106,8%) dimana telah mencapai dari target yang telah ditetap sebesar 308 kabupaten/kota.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
18 Grafik 3.1 Capaian jumlah kabupaten/kota melaksanakan kesehatan Kesehatan Kerja Tahun 2020 per Provinsi.
.
Dari 34 provinsi, terdapat 7 provinsi dengan capaian puskesmas yang melaksanakan kesehatan kerja dasar sebesar 100% yaitu Provinsi Bengkulu, DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Gorontalo. Provinsi yang masih jauh dibawah target kurang dari 10% yaitu Kalimantan Selatan dan Maluku. Untuk provinsi yang capaian masih 0% yaitu Papua dan Papua Barat.
Tercapainya target 2020 merupakan kumulatif adanya dukungan faktor pengungkit dan pendorong sejak tahun 2020:
a. Adanya penanggung jawab program Kesehatan Kerja dan Olahraga pada Dinas Kesehatan provinsi, kabupaten/kota dan rumah sakit serta penambahan jumlah jabatan fungsional pembimbing kesehatan kerja baik di provinsi, kabupaten/kota dan puskesmas dan rumah sakit.
b. Penyesuaian situasi pandemi dengan melakukan perubahan metode pembinaan Kesehatan Kerja baik di tingkat provinsi, kabupaten/kota maupun puskesmas serta rumah sakit yang berkesinambungan dan terstruktur, melalui mekanisme daring.
c. Sosialisasi dan advokasi terkait kesehatan kerja dengan sasaran Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian PAN RB, Kementerian UMKM, Kementerian Pertanian, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Kementerian Kominfo, Kementerian Perhubungan, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Kementerian Luar Negeri, Kemenko PMK.
d. Menjalin kerjasama untuk evaluasi dan pengembangan kegiatan kesehatan kerja bersama Perguruan Tinggi.
e. Terbangunnya jejaring dengan organisasi profesi kesehatan kerja yaitu PAKKI, PERDOKI dan IDKI baik ditingkat pusat dan daerah.
f. Pembiayaan pembentukan Pos UKK dapat dilakukan melalui dana dekonsentrasi, DAK non fisik dan APBD.
6 30 15 71010107 6 6 6 2726 5 31 7 2 4 17 611 1 9 5 3 13 19 11 6 5 1 7 0 0 0 10 20 30 40 A CE H SU M U T SU M B A R R IA U JA M B I SU M SE L B EN G KU LU LA M PU N G B A B EL KE PR I D KI J A K A R TA JA B A R JA TE N G DIY JA TI M B A N TE N B A LI N TB N TT KA LB A R KA LT EN G KA LS EL KA LT IM KA LT A R A SU LU T SU LT EN G SU LS EL SU LT R A G O R O N TA LO SU LB A R M A LU KU M A LU T PA PB A R PA PU A
Jumlah kabupaten kota yang
melaksanakan kesehatan kerja
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
19 g. Pengadaan serta distribusi Pos UKK Kit bagi daerah yang baru membentuk
POS UKK.
h. Sistem laporan dari Puskesmas ke Kabupaten/Kota yang mulai diintegrasikan dengan menggunakan Sistem Informasi Terpadu Kesehatan Kerja dan Olahraga (SITKO).
i. Tercapainya output jumlah instansi pemerintah yang melaksanakan pengukuran kebugaran jasmani, sebagai salah satu implementasi Upaya Kesehatan Kerja di Perkantoran.
Dalam pelaksanaan kegiatan terdapat faktor penghambat pencapaian indikator antara lain, yaitu:
a. Terjadinya pandemi COVID-19 di awal bulan Maret 2020 diikuti dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sampai dengan bulan Mei 2020, mengakibatkan kegiatan harus mengalami beberapa perubahan. Sehingga perlu waktu untuk melakukan adaptasi terhadap perubahan.
b. Terjadinya refokusing anggaran untuk pandemi sehingga beberapa kegiatan mengalami perubahan metode dan realokasi.
c. Kejadian pandemi yang mengakibatkan kesulitan pengelola program untuk melakukan komunikasi teknis dengan target sasaran dan pengelola tingkat provinsi dan kabupaten/kota sehingga dilakukan koordinasi dengan cara daring.
d. Jumlah sasaran pekerja sektor informal yang besar sehingga perlu dilakukan prioritas sektor informal yang akan disasar pada tahun-tahun berikutnya.
e. Pelatihan terhambat karena butuh waktu merubah kurikulum offline menjadi kurikulum online yang terakreditasi PPSDM sehingga pada tahun 2020 kegiatan pelatihan dirubah menjadi orientasi dan workshop yang dilakukan dengan mengajukan akreditasi dari organisasi profesi.
f. SITKO baru disosialisasikan awal tahun 2020 sehingga pengelola program membutuhkan waktu untuk mensosialisasikan ke daerah sampai tingkat puskesmas. Dalam mengatasi hal ini maka dilakukan melakukan perubahan DO menyesuaikan dengan situasi pandemi dan melakukan bimbingan secara individu per provinsi.
g. Tahun 2020 merupakan tahun pertama dalam melakukan perbaikan indikator, dimana indikator kesehatan kerja berubah menjadi jumlah kabupaten/kota yang sebelumnya hanya menyasar pada persentase puskesmas.
2. Jumlah kabupaten/kota yang melaksanakan kesehatan olahraga
Indikator kabupaten/kota yang melaksanakan kesehatan olahraga tahun 2020, hanya mencapai 193 kabupaten/kota (63%) dimana target yang harus dicapai sejumlah 308 kabupaten/kota.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
20 Grafik 3.2 Target dan Capaian Jumlah Kabupaten/kota Melaksanakan Kesehatan Olahraga Tahun 2020 per Provinsi.
Dari 34 provinsi, terdapat 2 provinsi dengan capaian puskesmas yang melaksanakan kesehatan olahraga sebesar 100% yaitu provinsi DI Yogyakarta dan Gorontalo. Terdapat 7 provinsi yang capaian masih 0% yaitu Aceh, Riau, Bali, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua.
Tercapainya capaian tersebut dikarenakan faktor pengungkit dan pendorong yaitu: a. Adanya penanggung jawab kegiatan kesehatan olahraga pada Dinas Kesehatan
provinsi dan kabupaten/kota dan puskesmas.
b. Penyesuaian situasi pandemi dengan melakukan perubahan metode pembinaan Kesehatan Kerja baik di tingkat provinsi, kabupaten/kota maupun puskesmas yang berkesinambungan dan terstruktur, melalui mekanisme daring.
c. Sosialisasi dan advokasi terkait kesehatan olahraga dengan sasaran Kementerian Pemuda dan Olahraga dan Kementerian PAN RB.
d. Menjalin kerjasama untuk evaluasi dan pengembangan kegiatan kesehatan olahraga bersama Perguruan Tinggi.
e. Terbangunnya jejaring dengan organisasi profesi kesehatan olahraga yaitu PDSKO, KORMI (Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia) dan 6 induk Olahraga rekreasi yaitu STI, YJI, YAI, ILDI, PORPI, dan ASKI baik ditingkat pusat dan daerah. f. Pembiayaan pengukuran kebugaran jasmani dapat dilakukan melalui dana
dekonsentrasi, DAK non fisik dan APBD.
g. Pengadaan serta distribusi Kit kebugaran jasmani bagi daerah yang belum mendapatkan distribusi KIT kebugran tetapi berpotensi untuk meningkatkan kebugaran jasmani. 0 27 5 0 5 3 5 6 6 4 5 21 22 5 22 7 0 2 5 1 7 1 1 4 1 5 12 4 6 1 0 0 0 0 0 5 10 15 20 25 30 A CE H SU M U T SU M B A R R IA U JA M B I SU M SE L B EN G KU LU LA M PU N G B A B EL KE PR I D KI J A K A R TA JA B A R JA TE N G DIY JA TI M B A N TE N B A LI N TB N TT KA LB A R KA LT EN G KA LS EL KA LT IM KA LT A R A SU LU T SU LT EN G SU LS EL SU LT R A G O R O N TA LO SU LB A R M A LU KU M A LU T PA PB A R PA PU A
Jumlah kabupaten kota melaksanakan
kesehatan olahraga
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
21 h. Tercapainya output jumlah institusi pemerintah yang melakukan pengukuran
kebugaran jasmani.
i. Kegiatan pengukuran kebugaran jasmani jemaah haji dilakukan pada awal tahun sebelum status pandemi ditetapkan.
j. Membuat Sistem Pengukuran Kebugaran Jasmani Mandiri (SIPGAR mandiri) agar kelompok sasaran tetap bisa melakukan pengukuran kebugaran jasmani tanpa harus berkumpul.
Faktor yang menjadi penghambat pencapaian indikator :
a. Terjadinya pandemi covid-19 di awal bulan Maret 2020 diikuti dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sampai dengan bulan Mei 2020, mengakibatkan kegiatan harus mengalami beberapa perubahan.
b. Terjadinya refokusing anggaran untuk pandemi sehingga beberapa kegiatan mengalami perubahan metode dan realokasi kegiatan kesehatan olahraga.
c. Kejadian pandemi yang mengakibatkan kesulitan pengelola program untuk melakukan komunikasi teknis dengan target sasaran dan pengelola tingkat provinsi dan kabupaten/kota sehingga dilakukan koordinasi dengan cara daring.
d. Pelatihan terhambat karena butuh waktu merubah kurikulum offline menjadi kurikulum online yang terakreditasi PPSDM sehingga pada tahun 2020 kegiatan pelatihan dirubah menjadi orientasi dan workshop yang dilakukan dengan mengajukan akreditasi dari organisasi profesi.
e. SITKO baru disosialisasikan awal tahun 2020 sehingga pengelola program membutuhkan waktu untuk mensosialisasikan ke daerah sampai tingkat puskesmas. Dalam mengatasi hal ini maka dilakukan melakukan perubahan DO menyesuaikan dengan situasi pandemi dan melakukan bimbingan secara individu per provinsi. f. Tahun 2020 merupakan tahun pertama dalam melakukan perbaikan indikator,
dimana indikator kesehatan kerja berubah menjadi jumlah kabupaten/kota yang sebelumnya hanya menyasar pada persentase puskesmas.
g. Kegiatan kesehatan olahraga biasanya dilakukan dengan mengumpulkan orang, sedangkan dalam situasi pandemi dilarang menghimpun orang. Sosialisasi pelaksanaan kesehatan olahraga menjadi bentuk virtual membutuhkan waktu.
h. Puskesmas mengalami kesulitan dalam melaporkan kegiatan kesehatan olahraga melalui SITKO.
D. Evaluasi dan Analisa Capaian Kinerja RKP 2020 dan Renja (Krisna) 1. Jumlah tempat kerja yang melaksanakan kesehatan kerja
Indikator Jumlah tempat kerja yang melaksanakan kesehatan kerja tahun 2020, hanya mencapai 14.200 tempat kerja (23,53%) dimana target yang harus dicapai sejumlah 60.347 tempat kerja.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
22 Grafik 3.3 Jumlah tempat kerja yang melaksanakan kesehatan kerja
Tempat kerja melaksanakan Kesehatan Kerja: Jumlah dihitung dari: A + B + C + D + E A = Jumlah POS UKK
B = Jumlah perusahaan melaksanakan kesehatan kerja termasuk GP2SP C = Jumlah instansi pemerintah melaksanakan kesehatan kerja
D = Jumlah puskesmas melaksanakan kesehatan kerja E = Jumlah RS melaksanakan kesehatan kerja
Tercapainya target tersebut dikarenakan faktor pengungkit dan pendorong, diantaranya :
a. Adanya penanggung jawab kegiatan kesehatan kerja pada Dinas Kesehatan provinsi dan kabupaten/kota dan puskesmas.
b. Telah dilaksanakan sosialisasi dan advokasi terkait kesehatan kerja kepada stakeholder terkait seperti Kementerian PAN RB, Kementerian
Ketenagakerjaan, Kementerian Pertanian. Kemenkominfo, Kemeneg PP dan PA.
c. Menjalin kerjasama untuk evaluasi dan pengembangan kegiatan kesehatan kerja dengan Perguruan Tinggi.
d. Menjalin kerjasama untuk evaluasi dan pengembangan kegiatan kesehatan kerja dengan Organisasi Profesi.
Faktor yang masih menjadi penghambat pencapaian indikator, antara lain :
26 231 104 65 156 72 151 178 65 132 119 855 549 106 676 173 19 176 304 58 107 25 96 42 11 157 449 145 36 61 6 23 12 1 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 A CE H SU MU T SU MBA R RIA U JA MBI SU MS EL BE N G KUL U LA MPUN G BA BE L KE P R I DKI JA KA R TA JA BA R JA TE N G DIY JA TIM BA N TE N BA LI N TB N TT KA LBA R KA LT EN G KA LS EL KA LT IM KA LT A R A SU LUT SU LT EN G SU LS EL SU LT R A G O R O N TA LO SU LBA R MA LUKU MA LUT PAPBAR PAPUA
Pelaksanaan Kesehatan Kerja di Tempat Kerja
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
23 a. Terjadinya pandemi covid-19 di awal bulan Maret 2020 diikuti dengan kebijakan
Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sampai dengan bulan Mei 2020, mengakibatkan kegiatan harus mengalami beberapa perubahan.
b. Terjadinya refokusing anggaran untuk pandemi sehingga beberapa kegiatan mengalami perubahan metode dan realokasi kegiatan kesehatan kerja. c. Kejadian pandemi yang mengakibatkan kesulitan pengelola program untuk
melakukan komunikasi teknis dengan target sasaran dan pengelola tingkat provinsi dan kabupaten/kota sehingga dilakukan koordinasi dengan cara daring. d. Pelatihan terhambat karena butuh waktu merubah kurikulum offline menjadi
kurikulum online yang terakreditasi PPSDM sehingga pada tahun 2020 kegiatan pelatihan dirubah menjadi orientasi dan workshop yang dilakukan dengan mengajukan akreditasi dari organisasi profesi.
2. Jumlah institusi pemerintah yang melakukan pengukuran kebugaran jasmani Indikator jumlah institusi pemerintah yang melakukan pengukuran kebugaran jasmani tahun 2020 mencapai 5.850 dari target 759 institusi.
Grafik 3.4 Jumlah institusi pemerintah yang melakukan pengukuran kebugaran jasmani
Pembinaan Pengukuran kebugaran jasmani selain kepada individu, dilakukan juga kepada institusi pemerintah di luar Kementerian Kesehatan. Cara melakukan pengukuran kebugaran jasmani kepada institusi pemerintah adalah melakukan fasilitasi dan pendampingan serta memberikan edukasi kepada institusi terkait. Pemberian edukasi dengan melakukan transfer keilmuan melalui webinar.
Berikut beberapa Kementerian yang mengikuti webinar Workshop Pembinaan Pengukuran Kebugaran Jasmani dan melakukan pengukuran kebugaran secara mandiri pada tanggal 8-9 Oktober 2020 :
a. Kementerian Perhubungan b. Kementerian Agama 28 593 45 25 153 88 92 237 113 120 155 1.097 526 303 340 241 23 40 97 55 80 5 106 53 2 464 410 207 75 30 37 7 - 3 0 200 400 600 800 1000 1200 A CE H SU MU T SU MBA R R IA U JA MBI SU MS EL BE N G KUL U LA MPUN G BA BE L KE P R I DKI JA KA R TA JA BA R JA TE N G DIY JA TIM BA N TE N BA LI N TB N TT KA LBA R KA LT EN G KA LS EL KA LT IM KA LT A R A SU LU T SU LT EN G SU LS EL SU LT R A G O R O N TA LO SU LBA R MA LUKU M A LU T PAPBAR PAPUA
Instansi Pemerintah yang melaksanakan Pengukuran
Kebugaran Jasmani
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
24 c. Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat
d. Kementerian Ketenagakerjaan
e. Kementerian Kelautan dan Perikanan f. Kementerian Dalam Negeri
g. Kementerian Komunikasi dan Informatika h. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Selain itu, Direktorat juga melakukan upaya lain dalam dalam pembinaan kebugaran jasmani kepada Dinas Kesehatan Provinsi, Kab/kota dan Puskesmas melalui kegiatan workshop Kebugaran Jasmani Mandiri dengan SIPGAR. Sebagai tindak lanjut, beberapa instansi pemerintah akan dilakukan pendampingan pada tahun 2021.
3. Jumlah jemaah haji yang melaksanakan pengukuran kebugaran jasmani
Indikator jumlah jemaah haji yang melaksanakan pengukuran kebugaran jasmani tahun 2020 mencapai 95.820 dari target 186.613.
Grafik 3.5 Capaian Calon Jemaah Haji yang diperiksa kebugaran jasmani tahun 2020
Dari 34 provinsi, Provinsi Jawa Barat dan Povinsi Jawa Timur adalah yang telah melakukan pemeriksaan kebugaran jasmani bagi jemaah haji yang terbanyak, sedangkan Provinsi Sulawesi Barat tidak melakukan pemeriksaan kebugaran jasmani bagi jemaah haji.
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 15 tahun 2016 tentang Istithoah Kesehatan Jemaah Haji dijelaskan bahwa jemaah haji yang berangkat ke tanah suci adalah jemaah yang isthitaah baik dari segi rohani, jasmani maupun
1614 5.170 532 1.559 1.582 160 1.713 4.289 525 816 7.659 24 .912 14.172 1.697 9.152 5.372 118 680 203 112 983 891 1.107 631 - 2.034 2.005 654 370 214 - 105 - 160 0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 A CE H SU MU T SU MBA R R IA U JA MBI SU MS EL BE N G KUL U LA MPUN G BA BE L KE P R I DKI JA KA R TA JA BA R JA TE N G DIY JA TIM BA N TE N BA LI N TB N TT KA LBA R KA LT EN G KA LS EL KA LT IM KA LT A R A SU LUT SU LT EN G SU LS EL SU LT R A G O R O N TA LO SU LBA R M A LU KU MA LUT PAPBAR PAPUA
Pembinaan Pemeriksaan Kebugaran Jasmani
bagi Jemaah Haji
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
25 ekonomi. Pembinaan kebugaran jasmani merupakan salah satu bagian dari sistem pembinaan kesehatan jemaah haji di Puskesmas yang dilakukan kepada perorangan atau kelompok calon jemaah haji secara paripurna untuk mempersiapkan Jemaah Haji agar mampu secara fisik, sehat dan mandiri.
Faktor-faktor internal dan eksternal jemaah haji mempengaruhi angka kesakitan dan angka kematian jemaah haji. Faktor internal antara lain tingkat kebugaran jasmani yang masih kurang dan sudah menderita penyakit sejak dari tanah air, sedangkan faktor eksternal antara lain perubahan cuaca, suhu dan faktor lingkungan lain.
Minat masyarakat Indonesia untuk melaksanakan ibadah haji sangat tinggi sehingga melampaui batas kuota yang ditetapkan yaitu sebesar 1 per 1.000 (1‰) penduduk. Hal ini menimbulkan daftar tunggu rata-rata selama 12 tahun. Waktu daftar tunggu yang panjang perlu dimanfaatkan agar Jemaah haji dapat mempersiapkan diri baik fisik dan mental, sehingga memenuhi kriteria istithoah menurut perspektif kesehatan. Salah satu kegiatan dalam rangka meningkatkan kesehatan Jemaah haji sebelum berangkat adalah pengukuran kebugaran jasmani.
Sejak bulan Maret 2020, Indonesia menyatakan situasi darurat akibat wabah pandemi COVID 19 yang mengeluarkan aturan untuk social distancing, tidak berkerumun untuk mencegah penyebaran penularan penyakit COVID 19. Pemerintah Arab Saudi sejak tanggal 27 Februari 2020 sampai dengan saat ini masih memberlakukan penutupan kunjungan dari luar negeri baik untuk peribadahan dan wisata.
Dari hasil pengukuran CJH tahun 2020 capaian hasil pengukuran sebesar 95.820 CJH (51,35%). Hal ini disebabkan karena adanya pandemi pada bulan Maret sehingga daerah kesulitan dalam melakukan pengukuran kebugaran jasmani yang kedua dan pelaksanaan Ibadah Haji tahun 2020 tidak diadakan karena masih masa pandemi. Terkait dengan hal tersebut dilakukan upaya dalam mengevaluasi capaian target indikator tersebut sebagai berikut :
1) Melakukan workshop Pembinaan Kebugaran Jasmani mandiri kepada pemegang program kesehatan olahraga agar dapat tetap membina CJH di daerahnya masing-masing.
2) Membuat telaah Pengukuran Kebugaran Jasmani Jemaah Haji tahun 2020/1441H.
3) Membuat surat permohonan ke Kepala Dinas Kesehatan Provinsi untuk melaporkan data update pengukuran kebugaran jasmani jemaah haji 1441H. 4) Membuat surat kepada Biro Perencanaan dan Anggaran terkait dengan
kemungkinan indikator tahunan yang tidak dapat tercapai untuk pengukuran kebugaran jasmani Jemaah haji akibat dari situasi masa pandemi ini.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
26 E. Kegiatan yang Mendukung Indikator Kinerja
Pada tahun 2020, pencapaian target indikator kinerja Kesehatan Kerja dan Olahraga di atas dilaksanakan melalui:
1. Penyusunan Norma, Standar, Prosedur, Kriterian (NSPK) Kesehatan Kerja dan Olahraga
a. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/Menkes/327/2020 Penetapan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Akibat Kerja Sebagai Penyakit Akibat Kerja Yang Spesifik Pada Pekerjaan Tertentu.
b. Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.01.07/Menkes/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Tempat Kerja, Perkantoran dan Industri Dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha Pada Situasi Pandemi.
c. Keputusan Menteri Kesehatan No HK.01.07/Menkes/382/2020 tentang Protokol Kesehatan Bagi Masyarakat Di Tempat dan Fasilitas Umum Dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian Covid-19.
d. SE No.614 Tahun 2020 Dukungan Bidang Kesehatan Pada Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak Tahun 2020 Pada Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid 19).
e. SE No. HK.02.02/III/3739/2020 Tentang Pelaksanaan Upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja serta Lingkungan (K3L) dalam Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Lingkungan Kemenkes.
f. Draft revisi PMK No 56 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Penyakit Akibat Kerja.
g. Perubahan mekanisme orientasi dan pelatihan dari luring menjadi metode daring.
h. Penyusunan Buku :
Tahun 2020 buku yang disusun antara lain:
- Juknis Panduan Workshop Penyelenggaraan Pos Upaya Kesehatan Kerja Berbasis Online.
- Juklak Penyelenggaraan MBH yang merupakan acuan untuk penanggungjawab di Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Puskesmas.
- Kesiapsiagaan Rumah Sakit dalam menghadapi keadaan darurat dan bencana, sasarannya adalah Rumah Sakit, Dinas Kesehatan Provinsi/Kab/Kota.
- Buku Saku Ergonomi Perkantoran sasarannya pengelola dan pekerja perkantoran, Dinas Kesehatan Prov/Kab/Kota.
- Buku Saku Panduan Upaya Perlindungan Kesehatan Bagi Petugas Penyelenggara Pemilihan Umum dan Pemilihan Kepala Daerah Untuk Menurunkan angka kesakitan dan kematian petugas dalam penyelenggaraan pemilu.
- Revisi Kurikulum Modul Pelatihan Penyakit Akibat Kerja dan TOT PAK agar sesuai dengan Konsensus 2019 dan lebih aplikatif dalam pelaksanaannya.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
27 i. Draft pedoman standar kesehatan kerja :
- Identifikasi, penilaian dan pengendalian potensi bahaya kesehatan, Perlindungan Kesehatan Reproduksi, Surveilans Kesehatan Kerja. (Hazard Surveilans).
- Pemeriksaan kesehatan, Penilaian kelaikan bekerja, Surveilans Kesehatan Kerja. (Surveilans Medik).
- Penerapan gizi kerja, Peningkatan kesehatan fisik dan mental.
- Pertolongan pertama pada cedera dan sakit yang terjadi di Tempat Kerja, Penanganan kasus kegawatdaruratan medik dan/atau rujukan, Pemulihan medis, Pemulihan kerja.
j. Rencana Aksi Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga 2020-2025
Penyusunan rencana aksi merupakan panduan dalam mencapai tujuan upaya kesehatan kerja dan olahraga di tahun 2020-2025, didalam rencana aksi ini terdapat kondisi upaya kesehatan kerja dan olahraga saat ini, tujuan yang ingin dicapai, indikator sebagai check poin keberhasilan, dan kegiatan yang akan dilaksanakan setiap tahunnya.
k. Melakukan MoU dengan Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Induk dan Perjanjian Kerjasama dengan 6 (enam) Induk Organisasi di bawah KORMI. Penandatanganan dengan KORMI merupakan bentuk kerjasama dengan lintas sektor dalam membudayakan GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) di masyarakat khususnya pembudayaan aktivitas fisik. Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian kerjasama yang telah dilakukan antara Kemenkes dan KORMI pada 21 Januari 2020. Induk Organisasi yang melakukan kerjasama yaitu Yayasan Jantung Indonesia (YJI), Yayasan Asma Indonesia (YAI), Senam Tera Indonesia (STI), Asosiasi Senam Kebugaran Indonesia (ASKI), Ikatan Langkah Dansa Indonesia (ILDI), dan Persatuan Olahraga Pernapasan Indonesia (PORPI). Kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain :
1) Penandatanganan Nota kesepahaman 2) Penandatanganan Perjanjian Kerjasama 3) Sinkronisasi Program Kerja
4) Orientasi Agent Of Change
5) Penguatan Kelompok Olahraga Masyarakat 6) Monitoring dan Evaluasi
Selain itu juga dilakukan penguatan kepada kelompok-kelompok olahraga masyarakat dengan cara memberikan edukasi melalui kegiatan webinar dan melakukan pengukuran kebugaran jasmani bagi masyarakat yang tergabung dalam induk organisasi.
Acara webinar Orientasi Agent Of Change pada tanggal 15 Juli 2020 : Diikuti 246 peserta secara virtual.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
28 Hasil Pengukuran Kebugaran Jasmani pada 6 (enam) Induk Organisasi sebagai berikut :
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
29 Jumlah Kelompok Olahraga di Masyarakat per Provinsi :
Grafik 3.7 Jumlah Kelompok Olahraga di Masyarakat per Provinsi
2. Pengelolaan kepegawaian dengan melakukan:
a. Peningkatan kapasitas dalam bentuk training penggunaan google system
b. Assasement kepegawaian 131 2689 112 110 609 28 455 2085 1023 1454 1965 8492 9665 1040 68 849 69 87 118 131 603 7 429 195 7 1418 933 999 72 110 0 2 0 0
0
2000
4000
6000
8000
10000
12000
Aceh
Su
mb
ar
Jam
b
i
B
en
gk
u
lu
B
ab
el
D
KI J
ak
ar
ta
Jat
en
g
Jat
im
B
ali
N
TT
Kalt
en
g
Kalt
im
Su
lu
t
Su
lsel
Gor
on
tal
o
M
alu
ku
Pa
p
b
ar
Jumlah Kelompok Masyarakat yang Melaksanakan Aktivitas Fisik
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
30 c. Training leadership
Merupakan kegiatan dua hari yang dirancang menggunakan pendekatan 5 level Leadership dan Neuro Linguistic Programming. Kegiatan ini melibatkan staf di Kesjaor untuk membangun cara pandang yang baru terhadap pekerjaan, tugas dan tanggung jawab masing masing di Kesjaor sehingga dapat bersama sama melangkah secara selaras untuk mewujudkan Visi Kesjaor. Sesuai tujuan yang ingin dicapai, maka kegiatan ini dititik beratkan untuk menanamkan cara pandang baru yang lebih produktif, responsive terhadap perubahan dan selaras dengan target yang diberikan. Dalam kegiatan ini peserta dipersiapkan untuk memulai perubahan dari tingkat personal agar masing masing individu dapat menunjukkan kinerja yang optimal. Selain itu dibekali dengan teknik untuk dapat mengajak sesama rekan kerja untuk berubah kearah yang lebih baik.
Rekomendasi Training Leadership antara lain:
1) Perlunya peningkatan aspek Kerjasama dan kekompakan dalam team, karena ini menjadi salah satu isu utama yang disampaikan peserta. Perbaikan dalam sistem komunikasi serta aspek kekeluargaan sebagai social engagement antar karyawan.
2) Perlunya lanjutan Penguatan kapasitas dalam kerangka: a. Leadersip Communication Style.
b. Dasar Komunikasi publik (baik komunikasi verbal maupun tulisan)
c. Presentation Skill (kemampuan menyampaikan data, fakta dan program).
3) Penguatan Leadership skill dan Followerwhip skill yang terukur dan berkesinambungan.
4) Penguatan assertiveness dan Kesehatan psikologis, dari hasil 2 assesment hal ini sangat urgent untuk di follow up .
5) Perlunya training softskill berkesinambungan untuk memelihara motivasi pegawai.
d. Training teknik komunikasi
Kegiatan training teknik komunikasi merupakan tindaklanjut hasil
training leadership dimana training ini menekankan pada teknik komunikasi
asertif dan penggunaan 20 dasar kalimat untuk mendukung dalam melaksanakan komunikasi publik.
3. Dukungan terhadap reformasi birokrasi /Penataan Keorganisasian a. Pelaksanaan kegiatan WBK WBBM
Penguatan tim WBK WBBM dengan menerbitkan SK baru sesuai dengan kebutuhan, dimana proses penilaian dan bimbingan berjalan selama 3 kali yaitu 27 Juni, 17-18 Juli, dan 10-14 Agustus Kenaikan nilai proses WBK WBBM yang semula 25,69 menjadi 73,80.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
31 Table 3.2 Proses Penilaian Satker Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga
Menuju WBK WBBM POKJA NILAI NILAI MAKS % Capaian Agustus Juni Juli Agustus A. PENILAIAN PROSES 25,69 39,57 39,97 60 65,95% Pokja 1 Manajemen Perubahan 1 5,1 5,1 8 63,69% Pokja 2 Penataan Tatalaksana 2,59 3,61 3,61 7 51,62%
Pokja 3 Penataan Sistem manajemen SDM 11,59 5,70 5,70 10 57,01% Pokja 4 Penguatan Akuntabilitas 4,27 9,79 9,97 10 97,94% Pokja 5 Penguatan Pengawasan 0,25 9,59 10 15 66,64% Pokja 6 Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik 0,99 5,77 5,77 10 57,73% B. HASIL 0 33,83 33,83 40 84,58% Pemerintahan yang bersih dan bebas KKN
0 18,65 18,65 20 93,23%
Kualitas pelayanan publik 0 15,19 15,19 20 75,93%
TOTAL 25,69 73,40 73,80 100
b. Pelaksanaan ISO untuk 4 pelayanan publik yang dilakukan Direktorat Kesehatan kerja dan Olahraga. Pelaksanaan sertifikasi ISO 9001: 2015 untuk mutu pelayanan dengan 4 ruang lingkup pelayanan publik yang dilakukan Direktorat Kesehatan kerja dan Olahraga. Proses untuk memperoleh sertifikasi ISO 9001:2015 telah dimulai pada Bulan September 2020 dan pada bulan Desember 2020 dilakukan audit internal dan dinyatakan bahwa Sertifikasi ISO 9001:2015 diberikan pada 4 (empat) layanan yaitu:
- Pelayanan Pemeriksaan Kebugaran - Pelayanan Pusat Kebugaran
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
32 - Pelayanan Senam
- Pelayanan Ruang ASI
Standarisasi mutu pelayanan dengan sertifikasi ISO 9001:2015 diharapkan dapat memotivasi ASN di lingkup Kementerian Kesehatan untuk beraktivitas fisik menggunakan layanan Pusat Kebugaran, Senam dan Pemeriksaan Kebugaran. Serta mendukung program ibu bekerja dengan ASI Eksklusif di tempat kerja.
4. Penataan Sistem Informasi dan Pelaporan a. Pembuatan Aplikasi SIPGAR mandiri
Aplikasi SIPGAR merupakan aplikasi yang dikembangkan sejak bulan Juli 2020 berbasis Android untuk melakukan pengukuran kebugaran jasmani menggunakan metode Rockport yaitu berjalan/jalan cepat pada lintasan 1,6 km. Aplikasi ini dilauching pada tanggal 30 September 2020 oleh Sekretaris Jenderal Kemenkes RI di Kawasan Industri Jababeka. Sampai akhir tahun 2020, aplikasi ini sudah diakses oleh 14 ribuan peserta dan digunakan oleh 2.738 orang yang memberikan informasi data kebugaran baik pada ASN dan masyarakat umum.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
33 b. Penguatan orientasi Sistem Informasi Terpadu Kesehatan Kerja dan Olahraga
(SITKO)
SITKO adalah sistem informasi berbasis data terpadu kegiatan dan indikator Kesehatan Kerja dan Olahraga. Data diperoleh dari tingkat Puskesmas, Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat serta terintegrasi dengan data aplikasi program maupun sektor lain terkait. Pengembangan dan implementasi SITKO dilakukan sebagai upaya penguatan sistem pelaporan kegiatan dan indikator kesehatan kerja olahraga di setiap tingkatan serta bentuk respon terhadap perkembangan teknologi informasi.
Aplikasi SITKO merupakan pengelolaan data berbasis web/elektronik untuk menggantikan sistem pencatatan pelaporan berbasis kertas yang selama ini berjalan guna menyediakan data dan informasi indikator kesehatan kerja dan olahraga secara lebih efektif dan efisien. Data dan informasi yang dihasilkan dari aplikasi SITKO diharapkan bersifat tepat waktu (real time), akurat dan komprehensif. Data dan informasi tersebut menjadi komponen utama penyelenggaraan surveilans kesehatan kerja olahraga dan dapat menjadi dasar penentuan prioritas masalah, perencanaan kegiatan, serta perbaikan atas permasalahan kesehatan kerja dan olahraga berbasis data (evidence-based) di lapangan.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
34 5. Pelatihan/Orientasi/Workshop Kesehatan Kerja dan Olahraga
a. Workshop pengukuran kebugaran mandiri
Hingga tahun 2019, telah terdapat 166 orang pelatih pembinaan kebugaran jasmani yang tersebar di 34 Provinsi. Adanya rotasi, mutasi dan perkembangan keilmuan menyebabkan kegiatan yang bersifat peningkatan kapasitas akan terus ada, salah satunya adalah ToT Pembinaan Kebugaran Jasmani.
Pada tahun 2020, telah direncanakan untuk dilaksanakan ToT pada bulan Maret lalu, namun karena adanya pandemic Covid-19, ToT tersebut tidak dapat dilaksanakan. Namun dilakukan upaya untuk peningkatan kapasitas keilmuan dengan cara melakukan workshop pembinaan kebugaran jasmani yang merupakan salah satu upaya alternatif karena adanya pandemi covid-19, yang memadatkan kegiatan ToT, Pelatihan dan Orientasi/Sosialisasi di tingkat pusat hingga kabupaten/kota, kedalam satu kegiatan yang hanya mengakomodasi materi utama agar langsung dapat dioperasionalkan di lapangan.
Pelaksanaaan workshop dilakukan selama 3 hari secara daring dengan rincian 2 (dua) hari dilakukan seecara daring dan 1 (satu) hari dilakukan praktek pengukuran kebugaran jasmani secara mandiri. Narasumber yang memberikan materi dari pakar kesehatan olahraga. Workshop dilakukan 2 (dua) tahap. Tahap 1 dilakukan 5 (lima) angkatan pada bulan Juli sd Agustus 2020 dengan sasaran penanggun jawab Kesjaor Provinsi, Kabupaten/Kota dan Puskesmas dari daerah prioritas untuk meningkatkan capaian program Kesehatan olahraga yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Banten, DIY dan Bali.
Tahap 2 dilakukan dengan 6 (enam) angkatan pada bulan September sd Oktober 2020 dengan rincian sebagai berikut :
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
35 Table 3.3 Kegiatan Workshop Pengukuran Kebugaran Jasmani Tahap 1
No Kegiatan Waktu Pelaksanaan
Sasaran/Kuota Peserta
Peserta Jumlah Total
1
Angkatan 1 29 – 30 September
2020
1. Manajemen dan Pekerja di
Kawasan Industri Jababeka 65 orang
80 orang 2. Pengelola Kesjaor di Kab/Kota
dan Puskesmas wilayah Jababeka 15 orang 2 Angkatan 2 8-9 Oktober 2020 1. Kementerian/Lembaga 70 orang 185 orang 2. FORMI 35 orang
3. Kementerian Kesehatan 80 orang
3 Workshop 3 12-14 Oktober 2020 1. Sulbar 2. Sulut 3. Sultra 4. Gorontalo 5. Maluku 6. Maluku Utara 7. Papua Barat 2 orang 2 orang 2 orang 2 orang 2 orang 2 orang 2 orang 6 orang 15 orang 17 orang 6 orang 11 orang 10 orang 6 orang 85 orang 4 Workshop 4 13-15 Oktober 2020 1. Sumbar 2. Riau 3. Babel 4. Jambi 5. Lampung 6. NTB 2 orang 2 orang 2 orang 2 orang 2 orang 2 orang 19 orang 12 orang 7 orang 11 orang 15 orang 10 orang 86 orang 4 Workshop 4 13-15 Oktober 2020 7. Sumbar 8. Riau 9. Babel 10. Jambi 11. Lampung 12. NTB 2 orang 2 orang 2 orang 2 orang 19 orang 12 orang 7 orang 11 orang 86 orang
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
36
No Kegiatan Waktu Pelaksanaan
Sasaran/Kuota Peserta
Peserta Jumlah Total 2 orang 2 orang 15 orang 10 orang 5 Workshop 5 19-21 Oktober 2020 1. Aceh 2. Sumut 3. Bengkulu 4. Kepri 2 orang 2 orang 2 orang 2 orang 23 orang 33 orang 10 orang 7 orang 81 orang 6 Workshop 6 20-22 Oktober 2020 1. Kalsel 2. Kaltim 3. Kalteng 4. Kalbar 5. NTT 6. Papua 2 orang 2 orang 2 orang 2 orang 2 orang 2 orang 13 orang 10 orang 14 orang 14 orang 10 orang 13 orang 86 orang
Hasil Pelaksanaan Workshop Tahap 2 sebagai berikut :
Table 3.4 Kegiatan Workshop Pengukuran Kebugaran Jasmani Tahap 2
No Waktu Pelaksanaan Peserta Undangan Peserta Hadir Peserta Menggunakan SIPGAR Nilai rata-rata Pretes Nilai rata-rata Postes 1 Angkatan 1
29–30 Sept 2020 80 orang 278 orang 12 orang 6.20 7.70 2
Angkatan 2 8-9 Okt 2020
185 orang 113 orang 108 orang 6.22 7.74 3
Workshop 3 12-14 Okt 2020
85 orang 54 orang 44 orang 6.00 6.54 4 Workshop 4 86 orang 110 orang 118 orang 6.17 7.65
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Tahun 2020
37 No Waktu Pelaksanaan Peserta Undangan Peserta Hadir Peserta Menggunakan SIPGAR Nilai rata-rata Pretes Nilai rata-rata Postes 13-15 Okt 2020 5 Workshop 5 19-21 Okt 2020
81 orang 70 orang 61 orang 5.96 7.20 6
Workshop 6 20-22 Okt 2020
86 orang 137 orang 177 orang 6.36 8.30 TOTAL 689 orang 762 orang 538 orang 6.15 7.52
Dari tabel diatas terlihat, peserta workshop sangat antusias mengikuti pembelajaran meskipun secara daring namun untuk pelaksanaan praktek pengukuran kebugaran jasmani dengan menggunakan aplikasi SIPGAR belum semua peserta melakukannya, hal ini dikarenakan sinyal di daerah yang bermasalah. Hal ini menjadi masukan dalam pelaksanaan Pembinaan Pengukuran Kebugaran Jasmani kedepannya.
Grafik 3.8 Kategori Kebugaran Jasmani Peserta per Angkatan
Dari tabel diatas terlihat, tingkat kebugaran jasmani peserta terbanyak di kategori cukup 187 orang (34.8%) diikuti dengan kategori kurang dan kurang sekali sebanyak 164 orang (30.5%), kategori baik sekali dan baik 111 orang (20.6%).
Angkatan 1 Angkatan 2 Angkatan 3 Angkatan 4 Angkatan 5 Angkatan 6 Total
Baik Sekali 0 7 1 3 6 16 33 Baik 0 23 8 19 6 22 78 Cukup 0 47 24 29 19 68 187 Kurang 0 30 8 28 20 66 152 Kurang Sekali 0 0 3 2 2 5 12 33 78 187 152 12 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 A xi s Ti tl e