PENELITIAN UNGGULAN PERGURUAN TINGGI
JUDUL PENELITIAN :
PENERIMAAN MASYARAKAT ATAS PEMBERLAKUAN E-KTP DI
KOTA BANDUNG (STUDI BERBASIS TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL - TAM)
TIM PENGUSUL :
DR. IMAS SOEMARYANI, SE., MSi. – 0014086202 DR. HILMIANA, SE., MBA. - 0025046003 DR. UMI KALTUM, SE., MSi. - 0015086804 DR. WA ODE ZUSNITA, SE., M.Si. - 0014107707
UNIVERSITAS PADJADJARAN MEI, 2013
Kode/Nama Rumpun Ilmu : 571 / Manajemen Bidang Unggulan : Kebijakan, Budaya, dan Informasi
DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN ... Error! Bookmark not defined.
DAFTAR ISI ... 2
DAFTAR GAMBAR ... 5
BAB I PENDAHULUAN ... 6
1.1 Latar Belakang Penelitian ... 6
1.2 Tujuan Penelitian ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 11
2.1 Konsep Elektronik KTP (e-KTP) ... 11
2.2 Konsep Technology Acceptance Model (TAM) ... 14
BAB III METODE PENELITIAN... 18
3.1. Metode yang Digunakan ... 18
3.2. Metode Pengumpulan Data ... 19
3.3. Metode Pengolahan Data ... 19
3.4. Populasi dan Sampling ... 20
3.5. Luaran Penelitian ... 20
BAB IV PEMBAHASAN ... 22
4.1 Gambaran Implementasi E-KTP di kota Bandung ... 22
4.1.1 Syarat Pembuatan e-KTP: ... 22
4.1.2 Prosedur dalam Pembuatan e-KTP: ... 22
4.1.3 Implementasi ... 23
4.2 Karakteristik Responden ... 24
4.2.1 Berdasarkan Jenis Kelamin ... 25
4.2.2 Berdasarkan Kelompok Umur (tahun) ... 26
4.2.3 Berdasarkan Pekerjaan ... 27
4.2.4 Berdasarkan Intensitas Pemakaian ... 28
4.3 Persepsi Masyarakat atas Manfaat e-KTP ... 29
4.3.1 Persepsi Masyarakat atas Manfaat e-KTP di Wilayah Bandung Selatan 29 4.3.2 Persepsi Masyarakat atas Manfaat e-KTP wilayah Bandung Tengah .. 34
4.3.3. Persepsi Masyarakat atas Manfaat E-KTP wilayah Bandung Timur ... 40 4.3.4. Persepsi Masyarakat atas Manfaat E-KTP wilayah Bandung Utara ... 46 4.3.5. Persepsi Masyarakat atas Manfaat e-KTP wilayah Bandung Barat ... 50 4.4. Persepsi Masyarakat Tentang Kemudahan Menggunakan e-KTP Wilayah Bandung ... 56
4.4.1. Persepsi Masyarakat atas Manfaat e-KTP di Wilayah Bandung Selatan 56
4.4.2. Persepsi Masyarakat Tentang Kemudahan Menggunakan e-KTP ... 61 4.4.3. Persepsi Masyarakat Tentang Kemudahan Menggunakan e-KTP
Wilayah Bandung Timur ... 67 4.4.4. Persepsi Masyarakat Tentang Kemudahan Menggunakan e-KTP
Wilayah Bandung Utara ... 72 4.4.5. Persepsi Masyarakat Tentang Kemudahan Menggunakan e-KTP
Wilayah Bandung Barat ... 78 4.5. Persepsi Masyarakat terhadap Kemauan untuk Menggunakan e-KTP ... 84
4.5.1. Persepsi Masyarakat terhadap Kemauan untuk Menggunakan e-KTP Wilayah Bandung Selatan ... 84 4.5.2. Persepsi Masyarakat terhadap Kemauan untuk Menggunakan e-KTP Wilayah Bandung Tengah ... 86 4.5.3. Persepsi Masyarakat terhadap Kemauan untuk Menggunakan e-KTP Wilayah Bandung Timur ... 88 4.5.4. Persepsi Masyarakat terhadap Kemauan untuk Menggunakan e-KTP Wilayah Bandung Utara ... 90 4.5.5. Persepsi Masyarakat terhadap Kemauan untuk Menggunakan e-KTP Wilayah Bandung Barat ... 92 4.6. Persepsi Masyarakat terhadap Kepastian Menggunakan e-KTP ... 94
4.6.1. Persepsi Masyarakat terhadap Kepastian Menggunakan e-KTP di Wilayah Bandung Selatan ... 95 4.6.2. Persepsi Masyarakat terhadap Kepastian Menggunakan e-KTP di Wilayah Bandung Tengah ... 96 4.6.3. Persepsi Masyarakat terhadap Kepastian Menggunakan e-KTP di Wilayah Bandung Timur ... 98 4.6.4. Persepsi Masyarakat terhadap Kepastian Menggunakan E-KTP di Wilayah Bandung Utara ... 99
4.6.5. Persepsi Masyarakat terhadap Kepastian Menggunakan E-KTP di
Wilayah Bandung Barat ... 101
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 103
5.2. Simpulan ... 103
5.2 Saran ... 104
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Tecnology Acceptance Model (TAM) ... Error! Bookmark not defined.
Gambar 2 Jumlah Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 25
Gambar 3 Jumlah Responden Berdasarkan Umur (tahun) ... 26
Gambar 4 Jumlah Responden Berdasarkan Bidang Pekerjaan ... 27
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar setelah China, India, dan Amerika Serikat, dengan jumlah penduduk hingga tahun 2011 telah mencapai 241.973.879 jiwa. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional memprediksi bahwa jumlah penduduk Indonesia berpotensi menjadi yang terbesar sedunia setelah China dan India jika laju pertumbuhannya tidak bisa ditekan secara signifikan. Jika laju pertumbuhan penduduk diperkirakan 1,49 persen per tahun maka setiap tahunnya akan terjadi pertumbuhan penduduk sekitar 3,5 juta lebih per tahun.
Pertumbuhan penduduk yang pesat ini ternyata telah melahirkan berbagai macam persoalan di negara ini, mulai dari persoalan ekonomi, politik, sampai pada persoalan sosial budaya. Semua ini berpangkal pada kuantitas penduduk yang terus bertambah namun tidak didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas (berada pada posisi ke 108 dari 188 negara). Dampak dari kondisi ini akan meningkatkan beban pemerintah penyediaan pemenuhan kebutuhan dasar penduduk seperti pangan, kesehatan, pendidikan, lapangan kerja, transportasi, energi dan lain sebagainya. Untuk itu diperlukan langkah konkrit dalam kerangka perencanaan pembangunan nasional, guna menurunkan laju pertumbuhan penduduk dan meningkatkan kualitas penduduk melalui penyerasian kebijakan dengan program pembangunan di segala bidang, baik aspek kuantitas, kualitas dan pengarahan mobilitas serta persebaran penduduk sesuai dengan daya dukung alam dan daya tampung di setiap wilayah.
Dalam rangka pengelolaan penduduk yang padat dan dinamis, dengan pertumbuhan yang tinggi, maka penting bagi pemerintah melaksanakan program Tertib Administrasi Kependudukan, mulai dari kegiatan pendaftaran penduduk,
pencatatan sipil dan pengolahan informasi. Salah satu bentuk kegiatan dalam pendaftaran penduduk adalah diterbitkannya Kartu Tanda Penduduk atau KTP. KTP menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 28 Tahun 2005, adalah bukti diri sebagai legitimasi penduduk yang diterbitkan oleh pemerintah kabupaten/kota yang berlaku diseluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Persoalan baru mulai timbul ketika terjadi urbanisasi dengan alasan faktor ekonomi, yang berdampak pada semakin tidak meratanya penyebaran penduduk di suatu wilayah. Hal ini menyebabkan banyaknya penduduk yang mempunyai KTP lebih dari satu sehingga pemerintah kesulitan dalam mengidentifikasi jumlah penduduk suatu daerah. Hal ini disebabkan belum adanya basis data terpadu yang menghimpun data penduduk dari seluruh Indonesia. Fakta tersebut memberi peluang kepada penduduk yang ingin berbuat curang terhadap negara dengan melakukan duplikasi KTP. Beberapa di antaranya digunakan untuk menghindari pajak, memudahkan pembuatan paspor yang tidak dapat dibuat di seluruh kota, mengamankan korupsi, dan menyembunyikan identitas.
Dalam rangka mengatasi kelemahan KTP konvensional, saat ini pemerintahan Republik Indonesia baru memulai pembangunan database kependudukan yang dikoordinir oleh Direktorat Jenderal Administrasi Kependudukan, Departemen Dalam Negeri, yang menginisiasi lahirnya program e-KTP (KTP Elektronik), sebagai solusi yang efektif dan efisien bagi pemerintah untuk mengadakan pemantauan terhadap permasalahan kependudukan dan memberikan layanan yang lebih baik kepada masyarakat.
KTP elektronik ini sebenarnya sudah dicanangkan sejak awal 2010. Dengan KTP elektronik, setiap penduduk tidak memerlukan proses yang panjang menyangkut kepindahan di suatu daerah dan tidak perlu lagi membuat KTP lokal ketika pindah domisili. KTP elektronik ini juga memiliki sejumlah manfaat di antaranya untuk akurasi data penduduk sehingga diharapkan dapat meminimalisir penyalahgunaan identitas. Seperti dalam hal jual beli kendaraan, pengurusan paspor,
dll. Diharapkan ke depannya e-KTP ini juga bisa dipergunakan untuk beragam keperluan lain seperti pengurusan akta tanah hingga pelayanan kesehatan, juga sebagai kartu NPWP.
Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri pada tahun 2012 menargetkan 172 juta wajib KTP di seluruh Indonesia sudah memiliki e-KTP. Dari 497 kabupaten/kota yang akan menuntaskan pelaksanaan e-KTP itu dibagi menjadi dua. Pertama, 197 kabupaten/kota yang semestinya menyelesaikan pelaksanaan e-KTP pada tahun 2011 dan memperoleh perpanjangan pelaksanaan pada tahun 2012. Kedua, 300 kabupaten/kota yang akan memulai melaksanakan e-KTP pada tahun 2012. Untuk kota Bandung hingga Desember 2012, sampai saat ini perekaman di 24 Kecamatan sudah melebihi 60 persen sisanya 6 kecamatan masih dibawah 60 persen (data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota bandung : 2013)
Pemerintah kota Bandung sebagai penanggung jawab pemberlakuan e-KTP ini, perlu melakukan penelurusan atas respon masyarakat kota Bandung yang beragam terhadap e-KTP ini. Mulai dari tempat pembuatan e-KTP yang begitu jauh (sebelumnya dapat dilakukan di kelurahan, sekarang harus di kecamatan), dan lamanya waktu pengurusan e-KTP ini, yang menyita banyak waktu para masyarakat. Belum lagi persoalan infrastruktur pendukung e-KTP yang belum siap, tentu hal ini menambah daftar kelemahan penerapan e-KTP diberbagai daerah. Menyikapi hal tersebut, Technology Acceptance Model (TAM) dapat menjadi salah satu model yang dapat digunakan untuk menilai dan mengetahui, tingkat penerimaan masyarakat atas diberlakukannya e-KTP ini.
Technology Acceptance Model (TAM) merupakan salah satu model yang
dibangun untuk menganalisis dan memahami faktor‐faktor yang mempengaruhi diterimanya penggunaan teknologi informasi yang diperkenalkan pertama kali oleh Fred Davis pada tahun 1986, yang menyatakan bahwa sejauh ini TAM merupakan sebuah konsep yang dianggap paling baik dalam menjelaskan perilaku user terhadap
sistem teknologi informasi baru. Menurut Venkatesh dan Davis (2000) TAM secara empiris terbukti menjelaskan 40% usage intensions dan behavior.
Model ini mengusulkan bahwa ketika pengguna/users ditawarkan untuk menggunakan suatu sistem yang baru, sejumlah faktor tentunya akan mempengaruhi keputusan mereka tentang bagaimana dan kapan akan menggunakan sistem tersebut, khususnya dalam hal: usefulness (pengguna yakin bahwa dengan menggunakan sistem ini akan meningkatkan kinerjanya), ease of use (di mana pengguna yakin bahwa menggunakan sistem ini akan membebaskannya dari kesulitan, dalam artian bahwa sistem ini mudah dalam penggunaannya).
Mengingat beragamnya respon masyarakat terhadap penerapan e-KTP, maka dipandang perlu untuk menyusun suatu langkah-langkah dan kebijakan strategis untuk mengetahui tingkat penerimaan masyarakat atas diberlakukannya e-KTP ini dengan menggunakan Technology Acceptance Model (TAM), dalam rangka memberikan solusi atas persoalan-persoalan yang dihadapi oleh pihak-pihak terkait, sehubungan dengan diberlakukannya e-KTP.
1.2 Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan sebelumnya di atas, maka tujuan umum yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sikap masyarakat kota Bandung atas diberlakukannya e-KTP dengan menggunakan
Technology Acceptance Model (TAM), yang selanjutnya akan menjadi bahan
evaluasi bagi pemerintah untuk menilai tingkat kelayakan penerapan e-KTP di masyarakat kota Bandung.
Tujuan khusus yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Mengetahui persepsi masyarakat atas manfaat e-KTP di Kota Bandung 2. Mengetahui persepsi masyarakat atas kemudahan menggunakan e-KTP di
3. Mengetahui persepsi masyarakat atas kemauan penggunaan e-KTP di kota Bandung
4. Mengetahui persepsi masyarakat atas kepastian penggunaan e-KTP di kota Bandung
Dalam rangka mencapai tujuan penelitian yang telah diuraikan di atas, maka studi ini didesain dengan menggunakan analisis deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh dekripsi suatu objek, yang kemudian diinterpretasikan.
Target luaran yang diharapkan pada penelitian ini adalah terukurnya
penerimaan masyarakat atas diberlakukannya E-KTP di kota Bandung. Target luaran lain yang ingin dicapai adalah artikel penelitian yang dipublikasikan di jurnal.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Elektronik KTP (e-KTP)
KTP menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 28 Tahun 2005, adalah bukti diri sebagai legitimasi penduduk yang diterbitkan oleh pemerintah kabupaten/kota yang berlaku diseluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. KTP ini berlaku secara nasional, dan digunakan sebagai tanda pengenal dalam pelayanan publik. KTP diberikan kepada penduduk WNI dan Orang Asing Tinggal Tetap yang telah berusia 17 tahun atau sudah kawin atau pernah kawin. Masa berlaku KTP bagi Orang Asing Tinggal Tetap disesuaikan dengan masa berlakunya izin tinggal tetap. KTP untuk Warga Negara Indonesia berlaku selama masa waktu 5 (lima) tahun, kecuali bila terjadi perubahan data. Sedangkan KTP untuk penduduk WNI yang berusia 60 tahun ke atas berlaku seumur hidup. Permendagri ini selanjutnya dianggap sebagai tonggak untuk memulai pengelolaan kependudukan secara lebih professional.
Fungsi dasar Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang dikenal dengan istilah KTP konvensional ini adalah sebagai kartu identitas resmi sebagai penduduk Indonesia yang dikeluarkan oleh aparat negara dan menjadi suatu syarat dalam mengurus suatu keperluan yang berkaitan dengan birokrasi pemerintahan. Melalui KTP pula seorang warga negara diidentifikasikan sesuai ciri-ciri khasnya sebagai identitas yang unik.
Saat ini pemerintah sedang gencar-gencarnya mencangkan program e-KTP atau KTP elektronik sebagai pengganti KTP (kartu tanda penduduk) yang telah ada. KTP Elektronik adalah dokumen kependudukan yang memuat sistem keamanan / pengendalian baik dari sisi administrasi ataupun teknologi informasi dengan berbasis pada database kependudukan nasional. Program e-KTP ini menggunakan nomor induk penduduk (NIK). Untuk itu, penduduk hanya diperbolehkan memiliki 1 (satu) KTP yang tercantum Nomor Induk Kependudukan (NIK).
NIK merupakan identitas tunggal setiap penduduk dan berlaku seumur hidup Nomor NIK yang ada di e-KTP, yang nantinya akan dijadikan dasar dalam penerbitan Paspor, Surat Izin Mengemudi (SIM), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Polis Asuransi, Sertifikat atas Hak Tanah dan penerbitan dokumen identitas lainnya (Pasal 13 UU No. 23 Tahun 2006 tentang Adminduk). NIK sebagai identitas tunggal menjamin bahwa, setiap penduduk hanya memiliki satu dan hanya satu nomor KTP.
Dengan menggunakan sistim biometrik sidik jari, maka setiap pemiliki e-KTP dapat terhubung ke dalam satu database nasional, sehingga setiap penduduk hanya memerlukan 1 (satu) KTP saja dan bisa digunakan di mana saja di seluruh Indonesia. Pemerintah juga menjamin bahwa data kependudukan Indonesia terlindungi dari penyabotan maupun duplikasi pihak asing melalui mesin cetak e-KTP.
Pembuatan KTP elektronik yang didasarkan kepada UU. No 22 Tahun 2006 ini jauh lebih canggih dibanding KTP biasa yang kita gunakan saat ini. Struktur e-KTP sendiri terdiri dari sembilan layer yang akan meningkatkan pengamanan dari KTP konvensional. Chip ditanam di antara plastik putih dan transparan pada dua layer teratas (dilihat dari depan). Chip ini memiliki antena didalamnya yang akan mengeluarkan gelombang jika digesek. Gelombang inilah yang akan dikenali oleh alat pendeteksi e-KTP sehingga dapat diketahui apakah KTP tersebut berada di tangan orang yang benar atau tidak. Di dalam chip e-KTP yang berkapsitas 8kb ini telah merekam semua data identitas penduduk, dilengkapi dengan photo, data sidik jari dari kesepuluh jari tangan, dan photo scan retina mata.
Dengan KTP elektronik, setiap penduduk tidak memerlukan proses yang panjang menyangkut kepindahan di suatu daerah dan tidak perlu lagi membuat KTP lokal ketika pindah domisili. KTP elektronik ini juga memiliki sejumlah manfaat di antaranya untuk akurasi data penduduk sehingga diharapkan dapat meminimalisir penyalahgunaan identitas. Seperti dalam hal jual beli kendaraan, pengurusan paspor, dll. Diharapkan ke depannya e-KTP ini juga bisa dipergunakan untuk beragam
keperluan lain seperti pengurusan akta tanah hingga pelayanan kesehatan, juga sebagai kartu NPWP.
Fungsi dan kegunaan e-KTP itu sendiri adalah :
Sebagai identitas jati diri
Berlaku Nasional, sehingga tidak perlu lagi membuat KTP lokal untuk pengurusan izin, pembukaan rekening Bank, dan sebagainya;
Mencegah KTP ganda dan pemalsuan KTP; Terciptanya keakuratan data penduduk untuk mendukung program pembangunan.
KTP seharusnya memang menjadi hak seluruh warga negara Indonesia, dan negara wajib memberikannya. KTP elektronik memang menjadi satu terobosan data kependudukan dalam hal ini, namun jika tidak didukung dengan infrastruktur dan sosialiasi yang cukup pada masyarakat justru akan membuat data kependudukan semakin kacau dan menimbulkan polemik tersendiri di masyarakat. Belum lagi terkait dengan faktor keamanan data. Oleh karena itu, sebelum sistem ini digunakan sebaiknya diberikan waktu pada masyarakat untuk melakukan uji publik. Hal ini diperlukan agar data penduduk tidak dapat dibobol sehingga bisa dipergunakan untuk hal-hal yang akan merugikan pemilik identitas.
Untuk mengatasi kelemahan di atas, persiapan e-KTP secara menyeluruh baik hal yang bersifat substansial maupun teknis seperti SDM dan infrastruktur harus segera dilakukan, berikut proses sosialisasi ke masyarakat. Pemerintah juga harus memiliki software yang canggih dan terus-menerus diperbarui untuk memproteksi data-data penduduk ini. Semua ini dilakukan dalam rangka memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.
2.2 Konsep Technology Acceptance Model (TAM)
Persepsi mengenai karakteristik teknologi berbeda-beda antar satu individu dengan individu lainnya. Persepsi mereka mengenai teknologi berawal dari proses kognitif dan keyakinan mengenai teknologi. Model TAM sebagaimana diajukan oleh Davis et.al (1989) dan Theory of Reasoned Action Model (TRA) oleh Ajzen dan Fishbein (1980) telah mendominasi literatur-literatur sistem informasi. Model tersebut menyarankan bahwa pengaruh variabel-variabel dalam model TAM dan TRA dipengaruhi oleh keyakinan individu mengenai manfaat teknologi, Lewis et al (2003).
Model ini menunjukkan bahwa tingkat penerimaan pengguna terhadap suatu sistem dipengaruhi oleh empat faktor yang meliputi persepsi manfaat (perceived
usefulness), persepsi kemudahan penggunaan (perceived ease of use), kemauan
menggunakan (behavioral intention to use) dan tindakan menggunakan sistem (actual
system use). Behavioral Intention to Use Perceived Usefulness Perceived Ease of Use Actual System Use Gambar 1
Technology Acceptance Model (TAM)
Sumber: “User Acceptance of Computer Technology: A Comparison of Two
Perkembangan teknologi informasi telah mengubah bagaimana individu bekerja dan juga mengubah apa yang dikerjakan. Dalam proses penerapan teknologi informasi dalam pekerjaan sehari-hari, tiap individu tentunya memiliki persepsi yang berbeda-beda. Model-model penerimaan teknologi telah menggabungkan sikap/attitude user ditempat kerja dan apa yang dilakukan.
Penerimaan pemakai terhadap sistem teknologi informasi dapat didefinisikan sebagai kemauan yang nampak didalam kelompok pengguna sistem tersebut untuk menerapkan sistem teknologi informasi dalam pekerjaannya.
Semakin tinggi tingkat penerimaan pengguna atas sistem teknologi informasi yang baru, semakin besar pula kemauan pengguna untuk merubah praktek yang sudah ada dalam penggunaan waktu serta usaha untuk memulai secara nyata pada sistem teknologi informasi yang baru (Succi and Walter, 1999 dalam Pikkarainen et al., 2003). Tetapi jika pemakai tidak mau menerima sistem teknologi informasi yang baru, maka perubahan sistem tersebut menyebabkan tidak memberikan keuntungan yang banyak bagi organisasi/perusahaan (Davis, l989; Venkatesh and Davis, 1996 dalam Pikkarainen et al., 2003).
Reaksi dan persepsi pengguna Teknologi Informasi (TI) akan mempengaruhi sikapnya dalam penerimaan terhadap teknologi tersebut. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhinya adalah persepsi pengguna terhadap kemanfaatan dan kemudahan penggunaan TI sebagai suatu tindakan yang beralasan dalam konteks pengguna teknologi, sehingga alasan seseorang dalam melihat manfaat dan kemudahan penggunaan TI menjadikan tindakan/perilaku orang tersebut sebagai tolok ukur dalam penerimaan sebuah teknologi.
TAM menjelaskan hubungan antara keyakinan/beliefs (usefulness dan ease of
use) dengan sikap/attitude, tujuanlintentions pemakai, serta penggunaan nyata dari
sistem. Menurut Davis (1989), persepsi atas kemanfaatan (perceived usefulness) menunjukkan seberapa besar seseorang memiliki kepercayaan bahwa menggunakan sebuah sistem akan meningkatkan performa kinerjanya. Sedangkan persepsi atas kemudahan penggunaan (perceived ease of use) menunjukkan seberapa besar
kepercayaan orang bahwa untuk menggunakan sebuah sistem tidak diperlukan usaha yang berarti. Karena pada dasarnya pengguna tidak suka menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari cara sistem bekerja.
Persepsi atas kemanfaatan dan persepsi atas kemudahan penggunaan dipengaruhi oleh variabel-variabel eksternal, dan kemudian kedua persepsi ini akan mempengaruhi pengguna dalam membuat keputusan atas sikap yang akan diambil (attitude toward using). Behavioral Intention merupakan kecenderungan perilaku untuk menggunakan suatu teknologi, kecenderungan ini dipengaruhi oleh sikap pengguna (attitude toward using) dan persepsi atas kemanfaatan (perceived
usefulness). Penggunaan sistem secara aktual oleh pengguna ditentukan oleh
kecenderungan seseorang dalam menggunakan suatu sistem.
Davis (1996) selanjutnya menjelaskan tentang lima karakteristik dalam penerimaan teknologi yaitu:
a. Keuntungan relatif/relative advantage (teknologi menawarkan perbaikan). b. Kesesuaian/compatibility (konsisten dengan praktek sosial dan norma
yang ada pada pemakai teknologi).
c. Complexity (kemudahan untuk menggunakan atau mempelajari teknologi). d. Trialability (kesempatan untuk melakukan inovasi sebelum menggunakan
teknologi itu)
e. Observability (keuntungan teknologi bisa dilihat secara jelas).
Model-model penerimaan teknologi ini telah menggabungkan sikap/attitude user ditempat kerja dan apa yang dilakukannya.
Terlepas dari berbagai macam manfaat yang diperoleh melalui penggunaan e-KTP ini, dalam pelaksanaannya masih ditemui beberapa kelemahan,\ sehingga terkesan terlalu premature untuk diimplementasikan. Kelemahan tersebut antara lain : 1. Masih ditemukan banyak sarana infrastruktur pendukung e-KTP yang belum
2. Faktor kemanan data pada e-KTP sendiri sejauh ini juga masih meragukan, sedangkan data kependudukan merupakan hal yang dianggap sesuatu yang menjadi privasi dan rahasia masing-masing individu.
3. Adanya keterbatasan pengetahuan dari sebagian masyarakat kota Bandung akan memicu munculnya permasalahan baru dalam proses pengolahan data. Pengolahan data yang terlalu lama justru akan mengurangi produktivitas kinerja.
4. Beberapa daerah masih sulit terjangkau oleh jaringan komunikasi, padahal harapannya dari adanya e-KTP ini adalah terintegrasinya semua data masyarakat di seluruh Indonesia dengan adanya single identity number ini. 5. Pelayanan pembuatan kartu tanda penduduk eleketronik (e-KTP) 2011 belum
mendekati masyarakat. Perangkat yang digunakan untuk memasukkan identitas wajib KTP justru berada di kantor kecamatan, sehingga warga yang tinggal jauh harus mengeluarkan biaya transportasi.
6. Keterbatasan alat, alat yang mudah rusak, serta keterbatasan sumber daya manusia dalam menggunakan e-KTP
7. Kurangnya sosialisasi penggunaan e-KTP dimasyarakat.
Berdasarkan berbagai kelemahan yang ditemui terkait dengan diberlakukannya e-KTP, maka dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut, yaitu bagaimana sikap masyarakat kota Bandung atas diberlakukannya e-KTP dengan menggunakan Technology Acceptance Model (TAM). Hasil penelitian ini selanjutnya akan menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah kota Bandung untuk menilai tingkat kelayakan penerapan e-KTP di kota Bandung.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Metode yang Digunakan
Dalam rangka mencapai tujuan penelitian, diperlukan serangkaian kegiatan yang menjadi dasar dalam melakukan kegiatan analisis lebih lanjut. Kegiatan tersebut dimulai dari pengumpulan data sekunder dan observasi untuk mengetahui dan menentukan data sebaran kota di Jawa Barat yang sudah menerapkan konsep e-KTP.
Studi ini didesain dengan menggunakan analisis deskriptif, yaitu suatu cara pengumpulan, penyusunan, dan perancangan penelitian yang bertujuan untuk memperoleh dekripsi suatu objek, yang kemudian diinterpretasikan. Menurut Travers (1978), metoda ini bertujuan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang tengah berlangsung pada saat penelitian dilakukan dan memeriksa sebab-sebab dari suatu gejala tertentu. Teknik studi menggunakan 2 (dua) pendekatan, yaitu (1) Studi pustaka (Desk Study); dan (3) Survey (wawancara, focus group discussion dan observasi). Pelaksanaan kegiatan ini menggunakan beberapa tahap, mulai dari tahap penyusunan desain studi, penyusunan instrument, penarikan sampel (sampling
technic), pengumpulan data lapangan, tabulasi data, pemilihan dan pemilahan data,
analisis data,
Data yang digunakan dalam penelitian ini bersifat data primer maupun data sekunder. Data primer yang digunakan bersumber dari hasil observasi dan wawancara dengan mengggunakan alat bantu kuesioner dan media Focus Group Discussion
(FGD). Informasi data sekunder dibutuhkan untuk menentukan mengetahui dan
menentukan data sebaran kota di Kota Bandung yang sudah menerapkan konsep e-KTP.
Data primer diperoleh melalui indept interview kepada pemerintah kota Bandung dan masyarakatnya.
3.2. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini ada dua pendekatan, yaitu: (1) studi kepustakaan dan studi lapangan. Studi kepustakaan ditujukan untuk mendapatkan data sekunder melalaui kajian berbagai teksbook dan jurnal jurnal terkait dengan variabel yang diteliti. Data sekunder juga didapatkan dengan mengkaji berbagai peraturan peraturan dari lembaga terkait dengan aktivitas penyelenggaraan KTP di Kota Bandung; (2) studi lapangan yang dipergunakan untuk mendapatkan data primer. Data primer didapatkan dari masyarakat sebagai pengguna jasa pembuatan KTP di Kota Bandung. Data Primer juga didapatkan melalui observasi atau pengamatan langsung dan wawancara dengan menggunakan kuesioner yang telah disiapkan dan telah diuji sehingga memenuhi unsur validitas dan reliabiiltasnya. Disamping itu, tim peneliti juga mengadakan FGD (focus group discussion), yang merupakan pertemuan yang berisikan diskusi, pembahasan dan perumusan tema atau permasalahan yang dianggap penting bagi kegiatan, dengan mengundang para masyarakat dan pemerintah terkait
3.3. Metode Pengolahan Data
Data diolah dengan menggunakan program excel dengan tahapan sebagai berikut: (i) pengecekan kuesioner yang telah diisi untuk mengoreksi kelengkapan dan kelayakan dari jawaban jawaban yang diberikan oleh masyarakat; (ii) pemberian kode kode atau kodefikasi untuk memudahkan input data ke dalam komputer; (iii) pentabulasian data secara sederhana ke dalam tabel frekuensi dan persentasi; (iv) penyusunan gambar gambar dan grafik dari data yang sudah di olah untuk memudahkan pembaca dalam menafsirkan data data yang ada dan; (v) berdasarkan tabel-tabel ini dijadikan dasar dalam menganalisis dan membahas hasil penelitian sehingga menjadi sebuah laporan penelitian yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku.
3.4. Populasi dan Sampling
Populasi merupakan kumpulan unsur / elemen objek penelitian yang memiliki kualitas-kualitas serta ciri-ciri yang telah ditetapkan (Suharsimi, 2002). Populasi dalam penelitian ini meliputi keseluruhan unit analisis yang dijadikan sumber informasi bagi indikator-indikator yang mengukur setiap variabel dalam penelitian, dalam hal ini adalah seluruh masyarakat Kota Bandung yang telah merasakan dampak dari penerapan e-KTP yang tersebar di 5 (lima) wilayah bagian, yaitu Bandung Barat, Bandung Timur, Bandung Utara, Bandung Tengah, dan Bandung Selatan.
Untuk menentukan wilayah yang terpilih sebagai sampel, dengan asumsi bahwa variasi dari perilaku masyarakat di Kota Bandung memiliki tingkat homogenitas yang tinggi, pada penelitian ini melihat pada wilayah sebaran masyarakat yang relatif masuk dalam kategori ‘sadar teknologi’.
Metode penarikan sampel yang dipakai adalah Simple Random Sampling. Pertimbangan dipilihnya kota-kota di Jawa barat sebagai target survey dalam penelitian ini adalah terkait dengan kondisi masyarakatnya yang sudah lebih siap dalam menghadapi tuntutan perubahan teknologi informasi.
Sampel penelitian ini sebanyak 150 responden yang mewakili masyarakat kota Bandung pada 30 Kecamatan yang tersebar di 5 (lima) wilayah bagian, yaitu Bandung Barat, Bandung Timur, Bandung Utara, Bandung Tengah, dan Bandung Selatan. Unit analisis utama dalam penelitian ini adalah masyarakat dan pemerintah kota Bandung.
3.5. Luaran Penelitian
Output yang diharapkan dapat dihasilkan dari penelitian ini adalah :
1. Pemetaan wilayah-wilayah di Kota Bandung yang telah menerapkan e-KTP 2. Karakteristik masyarakat pengguna e-KTP
3. Artikel penelitian yang dipublikasikan di jurnal nasional terakreditasi yaitu Jurnal Bisnis dan Manajemen Unpad
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Implementasi E-KTP di kota Bandung
Menurut situs resmi e-KTP dijelaskan bahwa e-KTP atau KTP elektronik adalah dokumen kependudukan yang memuat sistem keamanan/pengendalian baik dari sisi administrasi ataupun teknologi informasi dengan berbasis pada basis data kependudukan nasional. Berikut merupakan penjelasan mengenai syarat, prosedur, dan implementasi dari e-KTP.
4.1.1 Syarat Pembuatan e-KTP:
Di dalam proses pembuatannya, amak untuk mendapatkan e-KTP diperlukan beberapa syarat yang harus dipenuhi. Beberapa syarat untuk mendapatkan e-KTP adalah mencakup:
1. Berusia 17 tahun
2. Menunjukkan surat pengantar dari kepala desa/kelurahan
3. Mengisi formulir F1.01 (bagi penduduk yang belum pernah mengisi/ belum ada data di sistem informasi administrasi kependudukan) ditanda tangani oleh kepala desa/kelurahan
4. Foto kopi Kartu Keluarga
4.1.2 Prosedur dalam Pembuatan e-KTP:
Tahap-tahap yang harus dilalui untuk mendapatkan e-KTP di wilayah Kota Bandung adalah sebagai berikut:
1. Pemohon datang ketempat pelayanan membawa surat panggilan dari desa/kelurahan.
2. Pemohon menunggu pemanggilan nomor antrean 3. Pemohon menuju loket yang telah ditentukan
4. Petugas melakukan verifikasi data penduduk dengan basis data 5. Petugas mengambil foto pemohon secara langsung
6. Pemohon membubuhkan tanda tangan pada alat perekam tanda tangan 7. Selanjutnya dilakukan perekaman sidik jari dan pemindaian retina mata 8. Petugas menandatangani dan memberi stempel pada surat panggilan yang
sekaligus sebagai bukti bahwa penduduk telah melakukan perekaman foto, tanda tangan, dan sidik jari
9. Pemohon dipersilahkan pulang untuk menunggu hasil proses pencetakan 2 minggu setelah pembuatan
4.1.3 Implementasi
Dijelaskan pada Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, bahwa: "Penduduk hanya diperbolehkan memiliki 1 (satu) KTP yang tercantum Nomor Induk Kependudukan (NIK). NIK merupakan identitas tunggal setiap penduduk dan berlaku seumur hidup". Nomor NIK yang ada di e-KTP, nantinya akan dijadikan dasar dalam segala kebutuhan yang membutuhkan administrasi, seperti penerbitan Paspor, Surat Izin Mengemudi (SIM), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Polis Asuransi, Sertifikat atas Hak Tanah dan penerbitan dokumen identitas lainnya.
Undang-Undang (UU) nomor 23 tahun 2006 menyatakan mengenai amanat penerapan KTP Elektronik, dan serangkaian peraturan lainnya, seperti peraturan UU nomor 35 tahun 2010 yang menyatakan aturan tata cara dan implementasi teknis dari e-KTP yang dilengkapi dengan sidik jari dan chip. Program e-KTP di Indonesia telah dimulai semenjak tahun 2009 dengan ditunjuknya empat kota sebagai proyek percontohan e-KTP nasional. Adapun kota tersebut adalah Padang, Makasar, Yogyakarta, dan Denpasar. Ditunjuknya empat kota ini sesuai dengan Surat Dirjen Administrasi Kependudukan Departemen Dalam Negeri nomor 471. 13/ 3350/MD tentang pelaksanaan e-KTP berbasis NIK Nasional di empat kota percontohan
tersebut. Sedangkan penerapan e-KTP secara nasional baru dimulai pada bulan Februari 2012, meliputi 2348 kecamatan dan 197 kabupaten/kota pada tahun 2011 dan di 3886 di kecamatan dan 300 di kabupaten/kota pada tahun 2012.
E-KTP sangat perlu untuk dapat menciptakan sistem administrasi kependudukan yang rapi dan teratur dalam rangka mempermudah pemberian pelayanan publik oleh pemerintah kepada seluruh masyarakat. Pemanfaatan e-KTP diharapkan dapat berjalan lancar karena memiliki fungsi dan kegunaan yang sangat membantu pemerintah dan masyarakat yang bersangkutan dalam hal pemberian dan pemanfaatan pelayanan publik.
Jika difokuskan pada pengimplementasian e-KTP di kota Bandung, masih terbilang belum merata dan menyeluruh. Masih terdapat pendistribusian e-KTP yang tidak merata, baik dalam satu kepala keluarga, satu kelurahan, hingga satu kecamatan. Mayoritas masyarakat pun masih belum bisa merasakan perbedaan manfaat antara KTP konvensional dengan e-KTP, karena fasilitas dan prasarana yang mendukung e-KTP masih terbilang minim di kota Bandung sendiri.
4.2 Karakteristik Responden
Total responden yang diambil pada penelitian ini adalah sebanyak 151 responden. Dimana pengambilan data melalui kuisioner dilakukan pada lima wilayah di kota Bandung, yaitu Bandung Utara, Bandung Timur, Bandung Selatan, Bandung Tengah, dan Bandung Barat. Hasil dari kuisioner diperoleh karakteristik responden dari seluruh wilayah Bandung yang dikelompokan ke dalam beberapa kategori, yaitu:
4.2.1 Berdasarkan Jenis Kelamin
Gambar 1 Jumlah Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Dari gambar di atas, dapat dilihat bahwa jumlah responden (masyarakat) yang diambil sebagai sampel di wilayah Bandung terdiri dari 71 orang atau 47% responden berjenis kelamin pria dan 80 orang atau 53% responden berjenis kelamin wanita. Sehingga dapat dikatakan bahwa perbandingan antara responden berjenis kelamin pria dengan responden berjenis kelamin wanita hampir seimbang. Hal ini sesuai dengan komposisi penduduk kota Bandung secara keseluruhan yang persentasenya hampir sama.
4.2.2 Berdasarkan Kelompok Umur (tahun)
Dari gambaran di atas dapat dilihat bahwa responden yang terambil sebagai sampel di wilayah Bandung dapat dikelompokkan kedalam 4 kelompok: (i) kelompok usia 17-32 sebanyak 4%; (ii) kelompok usia 33-48 tahun sebanyak 23.33% ; (iii) kelompok usia 49-54 tahun sebanyak 28.67% dan kelompok (iv) usia di atas 55 tahun 44.67%. Lebih banyaknya usia di atas 55 tahun yang terambil sebagai sampel penelitian dikarenakan pengambilan data dilakukan dari rumah kerumah, dan usia itu yang memang saat pengumpulan data berada di rumah karena tidak bekerja atau sudah pensiun. 4% 23% 29% 44%
Usia (tahun)
17-32 tahun 33-48 tahun 49-54 tahun Di atas 55 tahun4.2.3 Berdasarkan Pekerjaan
Gambar 3 Jumlah Responden Berdasarkan Bidang Pekerjaan
Pekerjaan masyarakat yang terambil sebagai responden dikelompokkan ke dalam 5 kelompok, yaitu: (1) pelajar; (2) pegawai swasta/buruh; (3) wirausaha; (4) pegawai negeri sipil dan; (5) lain lain, yang didalamnya ada pensiunan baik pensiunan dari pegawai negeri sipil maupun pegawai swasta. Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa masyarakat yang terambil sebagai sampel terbanyak adalah pegawai yang masuk dalam kategori usia di atas 50 tahun, yaitu sebanyak 27 persen, diikuti dengan pelajar dan pegawai. Yang paling kecil persentasenya yang terambil sebagai sampel peneliitan adalah yang masuk dalam kategori pegawai negeri sipil. Hal ini bisa dimaklumi karena pada umumnya pegawai negeri sipil pada jam jam kerja sedang melaksanakan aktivitas pekerjaannya atau tidak sedang di dalam rumah, sedangkan pengumpulan data lapangan seperti yang sudah diuraikan di atas, dilakukan dengan menggunakan pendekatan dari rumah ke rumah.
4.2.4 Berdasarkan Intensitas Pemakaian
Gambar 4 Identitas Responden Berdasarkan Pemakaian
Gambar di atas memberikan gambaran mengenai intensitas pemakaian e-KTP dari masyarakat yang terambil sebagai sampel di wilayah Bandung. Dapat dijelaskan bahwa 19.33% responden menggunakan e-KTP hanya 1 kali rata rata dalam satu tahun, 72.67% masyarakat menggunakan e-KTP di antara 5 sampai 10 kali dalam satu tahun, dan sisanya sebanyak 7.33% masyarakat menggunakan e-KTP lebih dari 10 kali. Sehingga dapat dikatakan bahwa dari intensitas pemakaian mayoritas responden menggunakan e-KTP sebanyak 5 sampai 10 kali per tahun.
Penggunaan e-KTP pada umumnya dipergunakan untuk pengambilan uang pensiunan, persyaratan pengambilan barang secara kredit sebagai persyaratan, peminjaman uang sebagai prasyarat, sebagai persyaratan mengurus perijinan atau sebagai verifikasi keperluan data tertentu misalnya di lingkungan perbankan.
4.3 Persepsi Masyarakat atas Manfaat e-KTP
Berdasarkan survey yang dilakukan pada 5 wilayah Bandung Timur, Barat, Tengah, Utara, dan Selatan, dapat dijelaskan bahwa persepsi masyarakat mengenai manfaat dari e-KTP berada pada tingkat rata-rata, artinya masyarakat merasakan cukup bermanfaat dengan adanya penggunaan e-KTP untuk berbagai kegiatannya, bahkan cenderung masyarakat masih belum merasakan manfaat pengaplikasian dari e-KTP secara pasti. Hal ini dikarenakan masyarakat masih menganggap manfaat yang diberikan dari e-KTP tidak ada perbedaan dengan KTP konvensional, hal tersebut karena sarana dan prasarana penunjang dalam pengaplikasian e-KTP belum dimaksimalkan oleh pemerintah.
Jika dilihat per kelompok wilayah, baik untuk Bandung Barat, timur, selatan, utara dan tengah, maka persepsi masyarakat tentang manfaat e-KTP dapat dilihat sebagai berikut:
4.3.1 Persepsi Masyarakat atas Manfaat e-KTP di Wilayah Bandung
Selatan
Kemanfaatan penggunaan e-KTP di masyarakat dengan pendekatan yang dipegunakan dalam penelitian ini, diukur oleh beberapa indikator. Masing-masing indikator tersebut kondisinya adalah sebagai berikut:
(1) Penggunakan e-KTP dan dampak pengakuan sosial yang lebih baik bagi penggunanya.
Sebesar 3.13% masyarakat beranggapan bahwa penggunaan e-KTP sangat tidak memberikan dampak kepada pengakuan sosial yang lebih baik bagi penggunanya, 37.50% beranggapan cukup memberikan dampak pengakuan sosial, 62.50% beranggapan bisa memberikan dampak pengakuan sosial dan sisanya 12.50% beranggapan sangat memberikan dampak pengakuan sosial. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa penggunaan e-KTP mampu memberi dampak pengakuan sosial yang lebih baik bagi masyarakat di wilayah Bandung Selatan.
(2) Penggunakan E-KTP dan cara menikmati layanan publik secara lebih maju.
Sebesar 15.63% masyarakat beranggapan bahwa penggunaan e-KTP tidak dirasakan sebagai cara untuk menikmati layanan publik secara lebih maju, 43.75% menilai kurang merasakan akan manfaat penggunaan e-KTP dalam menikmati layanan publik yang lebih maju, 31.25% beranggapan bahwa penggunaan e-KTP dapat dirasakan sebagai cara untuk menikmati layanan publik secara lebih maju, sisanya 3.13% menilai sangat merasakan bahwa dengan e-KTP sebagai cara untuk menikmati layanan publik secara lebih maju. Dengan demikian secara umum bagi masyarakat yang berlokasi di wilayah Bandung Selatan bahwa penggunaan e-KTP cukup dirasakan sebagai cara untuk menikmati layanan publik secara lebih modern.
(3) Penggunakan e-KTP dan pemilikan pengetahuan tertentu.
Sebesar 6.25% masyarakat beranggapan bahwa orang dapat menggunakan e-KTP jika yang bersangkutan tidak harus memiliki pengetahuan tertentu, 43,75% beranggapan sedikit banyak harus memiliki pengetahuan tertentu, 25% beranggapan diperlukan pengetahuan yang cukup untuk penggunaan e-KTP, dan 18.75% beranggapan bahwa untuk dapat menggunakan e-KTP diperlukan pengetahuan yang tinggi. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa masyarakat di wilayah Bandung selatan secara umum menganggap bahwa untuk menggunakan e-KTP memang memilki sedikit pengetahuan tentang teknologi. Ini bisa dipahami karena kata e-KTP itu sendiri terkait dengan elektronik yang basisinya nya ada teknologi informasi.
(4) Menggunakan E-KTP dapat meningkatkan citra seseorang di masyarakat
Sebesar 6.25% masyarakat beranggapan bahwa penggunaan e-KTP tidak akan bisa meningkatkan citra seseorang di masyarakat, yang berarti memiliki e-KTP tidak akan berpengaruh terhadap peningkatan citra seseorang atau e-KTP atau bukan sama saja tidak ada pengaruhnya terhadap pembentukan citra seseorang di masyarakat, 28.13% beranggapan sedikit bisa berperan dalam pembentukan citra seseorang, 43.75% berpendapat dapat meningkatkan citra seseorang dan 18.75% menyatakan sangat relevan terhadap peningkatan citra seseorang. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa sebagian besar atau secara umum masyarakat di wilayah Bandung selatan merasakan bahwa kepemilikan e-KTP dapat meningkatkan citra seseorang di masyarakat.
(5) Kehadiran e-KTP diperlukan bagi penggunanya.
Sebesar 6.25% masyarakat beranggapan bahwa kehadiran e-KTP tidak diperlukan. Masyarakat dalam kelompok ini merasakan e-KTP atau KTP biasa tidak ada bedanya, 28.13% beranggapan kurang diperlukan, 46.88% beranggapan cukup diperlukan dan 12.50% beranggapan sangat diperlukan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kehadiran e-KTP secara umum bagi masyarakat Bandung selatan cukup diperlukan. Kondisi ini bisa di pahami karena memang sebagian besar atau pada umumnya menilai bahwa kehadiran e-KTP dapat meningkatkan citra penggunanya, selain itu manfaat e-KTP juga dirasakan dalam hal kemudahannya dalam proses pembuatan KTP selanjutnya.
(6) Penggunaan E-KTP dalam mendukung tugas dan pekerjaan secara umum
Sebesar 6.25% masyarakat beranggapan bahwa penggunaan e-KTP tidak mendukung dalam tugas dan pekerjaannya. Artinya masyarakat menilai e-KTP atau e-KTP biasa sama saja tidak ada bedanya. Kondisi ini bisa diphami karena memang masyarakat belum merasakan betul bedanya memiliki e-KTP atau KTP biasa terkait dengan perannya dalam mendukung tugas dan pekerjaannya. Sebanyak 21,88% beranggapan kurang mendukung, 37.50% beranggapan cukup mendukung dan sisanya sebesar 28.13% menyatakan bahwa penggunaan e-KTP sangat mendukung. Dengan demikian bisa disimpulkan bawah secara umum masyarakat kota Bandung yang berdomisili di Bandung selatan cukup merasakan bahwa memiliki e-KTP cukup mendukung tugas-tugas dan pekerjaannya, baik tugas tugas di tempat kerjanya maupun tugas tugas terkait dengan organisasi sosialnya.
(7) Informasi tentang E-KTP dapat diakses secara mudah dan lancar Sebesar 21.88% masyarakat beranggapan bahwa informasi tentang e-KTP tidak dapat diakses secara mudah dan lancar, 18.13% menilai bahwa informasi tentang e-KTP kurang dapat diakses secara mudah dan lancar, 34.38% cukup mudah dan lancar dan sisanya sebanyak 9.38% menyatakan bahwa informasi tentang e-KTP dapat diakses sangat mudah dan lancar. Masih rendahnya masyarakat yang menjelaskan bahwa e-KTP dapat diakses secara mudah karena masih sangat minimnya informasi yang diberikan oleh pihak pemerintah tentang bisa tidaknya e-KTP di akses, dan karena untuk bisa mengakses e-e-KTP harus menggunakan media elektronik yang menggunakan biaya karena harus dengan melalui internet. Meskipun demikian, secara umum masyarakat menilai bahwa informasi tentang e-KTP bisa diakses secara mudah.
(8) Informasi yang diberikan sistem e-KTP secara umum bermanfaat bagi pengguna
Sebesar 21.88% masyarakat beranggapan bahwa informasi yang diberikan sistem e-KTP secara umum dirasakan masih tidak bermanfaat bagi masyarakat, 28.75% kurang bermanfaat, 48.13% menilai cukup bermanfaat dan sisasnya menyatakan sangat bermanfaat. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa di wilayah Bandung Selatan, secara umum masyarakat menilai bahwa informasi yang diberikan sistem e-KTP secara umum cukup bermanfaat bagi pengguna. Kondisi ini dimungkinkan karena masyarakat juga merasakan cukup mudah untuk mengakses informasi terkait dengan e-KTP.
(9) Portal yang disediakan dapat membantu mempermudah pengguna dalam mengakses informasi e-KTP yang diperlukan
Sebanyak 35.63% responden beranggapan bahwa portal yang disediakan tidak dapat membantu pengguna dalam mengakses informasi e-KTP yang diperlukan, 18.75% menilai kurang membantu, 23.75% masyarakat beranggapan cukup membantu dan sisanya 15.63% beranggapan sangat membantu. Belum dirasakannya keberadaan portal yang disediakan untuk membantu masyarakat mengakses informasi e-KTP disebabkan oleh beberapa alasan, antara lain tidak adanya informasi bahwa pemerintah menyediakan portal untuk mengakses e-KTP dan keberadaannya juga tidak diketahui oleh masyarakat. Disamping itu kalaupun ada portal yang disediakan oleh pemerintah untuk mengakses informasi tapi lokasi menjadi pertimbangan bagi masyarakat untuk menggunakannya. Disamping itu, semakin banyaknya masyarakat memiliki perangkat sendiri untuk dapat mengakses informasi e-KTP di tempatnya sendiri, sehingga tidak diperlukan lagi adanya portal.
(10) Sistem e-KTP memiliki inovasi yang berbeda dengan KTP konvensional
Sebesar 3.13% masyarakat beranggapan bahwa sistem e-KTP tidak memiliki inovasi yang berbeda dengan KTP konvensional, 25% menilai cukup ada perbedaan, 37.5% menyatkan berbeda dan sisanya sebanyak 28.03% menilai sangat berbeda. Dengan demikian secara umum masyarakat di wilayah Bandung Selatan menilai ada perbedaan antara sistem e-KTP dengan KTP konvensional.
(11) e-KTP memiliki keunggulan dalam hal performansi karena didukung sistem informasi kependudukan yang terpercaya.
Sebanyak 6,25% responden beranggapan bahwa e-KTP tidak memiliki keunggulan dalam hal performansi meskipun didukung sistem informasi kependudukan yang terpercaya, 31.25% menilai kurang memiliki nilai keunggulan, 25% menilai memiliki keunggulan dan sisanya 15.63% beranggapan sangat memiliki keunggulan dalam hal performansi dibandingkan dengan KTP konvensional. Dengan demikian secara umum masyarakat di wilayah Bandung Selatan menilai bahwa e-KTP memiliki keunggulan dalam hal performansi dibandingkan dengan KTP konvensional. Hal ini dikarenakan memang secara fisik dapat dilihat e-KTP memiliki penampilan yang lebih baik dibandingkan dengan e-KTP konvensional.
4.3.2 Persepsi Masyarakat atas Manfaat e-KTP wilayah Bandung Tengah (1) Penggunaan e-KTP dan dampak pengakuan sosial yang lebih baik
bagi penggunanya.
Sebesar 6.25% masyarakat beranggapan bahwa penggunaan E-KTP sangat tidak memberikan dampak kepada pengakuan sosial yang lebih
baik bagi penggunanya, 15.63% beranggapan cukup memberikan dampak pengakuan sosial, 46.88 % beranggapan bisa memberikan dampak pengakuan sosial dan sisanya 21.88% beranggapan sangat memberikan dampak pengakuan sosial. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa secara umum penggunaan e-KTP mampu memberi dampak pengakuan sosial yang lebih baik bagi masyarakat di wilayah Bandung Tengah.
(2) Penggunaan e-KTP dan cara menikmati layanan publik secara maju.
Sebesar 6.25% masyarakat beranggapan bahwa penggunaan e-KTP tidak dirasakan sebagai cara untuk menikmati layanan publik secara lebih maju, 40.63% menilai kurang merasakan akan manfaat penggunaan e-KTP dalam menikmati layanan publik yang lebih maju, 25.00% beranggapan di tingkat yang tinggi, sisanya 18.75% menilai sangat merasakan bahwa dengan e-KTP sebagai cara untuk menikmati layanan publik secara lebih maju. Dengan demikian secara umum bagi masyarakat yang berlokasi di wilayah Bandung Tengah bahwa penggunaan e-KTP cukup dirasakan sebagai cara untuk menikmati layanan publik secara lebih modern. Dibandingkan dengan Bandung Selatan maka masyarakat di wilayah Bandung tengah jauh lebih bisa cara menikmati layanan publik secara modern. Hal ini dikarenakan wilayah Bandung Tengah berada di pusat Kota Bandung, sehingga lebih banyak fasilitas yang mendukung untuk menikmati layanan publiknya.
(3) Penggunaan e-KTP dan pemilikan pengetahuan tertentu
Sebesar 15.63% masyarakat beranggapan bahwa orang dapat menggunakan e-KTP jika yang bersangkutan tidak harus memiliki pengetahuan tertentu, 37.51% beranggapan sedikit banyak harus memiliki pengetahuan tertentu, 25% beranggapan diperlukan
pengetahuan yang cukup untuk penggunaan e-KTP, dan 12.5% beranggapan bahwa untuk dapat menggunakan e-KTP diperlukan pengetahuan yang tinggi. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa masyarakat di wilayah Bandung tengah secara umum menganggap bahwa untuk menggunakan e-KTP memang memilki sedikit pengetahuan tentang teknologi. Ini bisa dipahami karena kata e-KTP itu sendiri terkait dengan elektronik yang basisinya nya ada teknologi informasi. Kondisinya ini tidak jauh berbeda dibandingkan dengan wilayah Bandung Selatan.
(4) Penggunaan e-KTP dapat meningkatkan citra seseorang di masyarakat
Sebesar 12.50% masyarakat beranggapan bahwa penggunaan e-KTP tidak akan bisa meningkatkan citra seseorang di masyarakat, yang berarti memiliki e-KTP tidak akan berpengaruh terhadap peningkatan citra seseorang atau e-KTP atau bukan sama saja tidak ada pengaruhnya terhadap pembentukan citra seseorang di masyarakat, 25.00% beranggapan sedikit bisa berperan dalam pembentukan citra seseorang, 31.25% berpendapat dapat meningkatkan citra seseorang dan 21.88% menyatakan sangat relevan terhadap peningkatan citra seseorang. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa sebagian besar atau secara umum masyarakat di wilayah Bandung Tengah merasakan bahwa kepemilikan e-KTP dapat meningkatkan citra seseorang di masyarakat. Jika dibandingkan dengan wilayah Bandung Selatan, maka masyarakat wilayah Bandung Tengah lebih banyak yang beanggapan bahwa penggunaan e-KTP tidak akan bisa meningkatkan citra seseorang di masyarakat. Hal ini dimungkinkan masyarakat sudah lebih individual dan tidak lagi mementingkan citra atau karena sudah terbiasa dengan kehidupan yang lebih mewah.
(5) Kehadiran e-KTP diperlukan bagi penggunanya.
Sebesar 15.63% masyarakat beranggapan bahwa kehadiran e-KTP tidak diperlukan. Masyarakat dalam kelompok ini merasakan e-KTP dengan KTP biasa tidak ada bedanya, 21.88% beranggapan kurang diperlukan, 21.88% beranggapan cukup diperlukan dan 31.25% beranggapan sangat diperlukan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kehadiran e-KTP secara umum bagi masyarakat Bandung Tengah cukup diperlukan. Kondisi ini bisa di pahami karena memang sebagian besar atau pada umumnya menilai bahwa kehadiran e-KTP dapat meningkatkan citra penggunanya, selain itu manfaat e-KTP juga dirasakan dalam hal kemudahannya dalam proses pembuatan KTP selanjutnya. Dibandingkan dengan wilayah Bandung Selatan, masyarakat wilayah Bandung Tengah lebih banyak yang menilai tidak memerlukan e-KTP, hal ini dimungkinkan masyarakat Bandung Tengah lebih banyak identitas lain yang bisa dijadikan alternatif, misalkan Paspor, SIM atau identitas dalam bentuk lain.
(6) Penggunaan e-KTP dalam mendukung tugas dan pekerjaan secara umum
Sebesar 25.01% masyarakat beranggapan bahwa penggunaan e-KTP tidak mendukung dalam tugas dan pekerjaannya. Artinya masyarakat menilai e-KTP atau KTP konvensional sama saja tidak ada bedanya. Kondisi ini bisa diphami karena memang masyarakat belum merasakan betul bedanya memiliki e-KTP atau KTP biasa terkait dengan perannya dalam mendukung tugas dan pekerjaannya. Sebanyak 40.63% beranggapan kurang mendukung, 15.63% beranggapan cukup mendukung dan sisanya sebesar 9.38% menyatakan bahwa penggunaan e-KTP sangat mendukung. Dengan demikian bisa disimpulkan bawah secara umum masyarakat kota Bandung yang berdomisili di Bandung Tengah cukup
merasakan bahwa memiliki e-KTP kurang mendukung tugas-tugas dan pekerjaannya, baik tugas tugas di tempat kerjanya maupun tugas tugas terkait dengan organisasi sosialnya. Hal lain yang menyebabkan tidak dirasakan mendukung terhadap pekerjaan, karena mereka menganggap tidak ada kaitannya antara e-KTP dengan penyelesaian pekerjaan mereka.
(7) Informasi tentang e-KTP dapat diakses secara mudah dan lancar Sebesar 18,75% masyarakat beranggapan bahwa informasi tentang e-KTP tidak dapat diakses secara mudah dan lancar, sebesar 21,88% menilai bahwa informasi tentang e-KTP kurang dapat diakses secara mudah dan lancar, 31,25% cukup mudah dan lancar , sebersar 15,63% menyatakan informasi mengenai e-KTP dapat diakses dengan mudah dan lancar serta sisanya sebesar 3,13 menyatakan bahwa informasi tentang e-KTP dapat diakses sangat mudah dan lancar. Masih rendahnya masyarakat yang menjelaskan bahwa e-KTP dapat diakses secara mudah karena masih sangat minimnya informasi yang diberikan oleh pihak pemerintah tentang bisa tidaknya e-KTP di akses, dan karena untuk bisa mengakses e-KTP harus menggunakan media elektronik yang menggunakan biaya karena harus dengan melalui internet. Meskipun demikian, secara umum masyarakat menilai bahwa informasi tentang e-KTP bisa diakses secara mudah.
(8) Informasi yang diberikan sistem e-KTP secara umum bermanfaat bagi pengguna
Sebesar 31,25% masyarakat beranggapan bahwa informasi yang diberikan sistem e-KTP secara umum dirasakan kurang bermanfaat bagi masyarakat, 37,50% menilai cukup bermanfaat, sebesar 15,63% menyatakan bermanfaat, dan sisanya sebesar 6,25% menyatakan bahwa informasi yang diberikan sistem e-KTP sangat bermanfaat bagi
penggunanya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa di wilayah Bandung Tengah, secara umum masyarakat menilai bahwa informasi yang diberikan sistem e-KTP secara umum cukup bermanfaat bagi pengguna. Kondisi ini dimungkinkan karena masyarakat juga merasakan cukup mudah untuk mengakses informasi terkait dengan e-KTP.
(9) Portal yang disediakan dapat membantu mempermudah pengguna dalam mengakses informasi E-KTP yang diperlukan
Sebesar 12,5% responden beranggapan bahwa portal yang disediakan tidak dapat membantu pengguna dalam mengakses informasi e-KTP yang diperlukan, 31,25% menilai kurang membantu, 31,25% masyarakat beranggapan cukup membantu dan sisanya sebesar 15.63% beranggapan sangat membantu. Belum dirasakannya keberadaan portal yang disediakan untuk membantu masyarakat mengakses informasi e-KTP disebabkan oleh beberapa alasan, antara lain tidak adanya informasi bahwa pemerintah menyediakan portal untuk mengakses e-KTP dan keberadaannya juga tidak diketahui oleh masyarakat. Disamping itu kalaupun ada portal yang disediakan oleh pemerintah untuk mengakses informasi tapi lokasi menjadi pertimbangan bagi masyarakat untuk menggunakannya. Disamping itu, semakin banyaknya masyarakat memiliki perangkat sendiri untuk dapat mengakses informasi e-KTP di tempatnya sendiri, sehingga tidak diperlukan lagi adanya portal.
(10) Sistem e-KTP memiliki inovasi yang berbeda dengan KTP konvensional
Sebesar 3.13% masyarakat beranggapan bahwa sistem e-KTP tidak memiliki inovasi yang berbeda dengan ktp konvensional, sebanyak 6,25% mengatakan e-KTP kurang memiliki inovasi berbeda, 31,25% menilai cukup ada perbedaan, 37.5% menyatkan berbeda dan sisanya sebanyak
12,50% menilai sangat berbeda. Dengan demikian secara umum masyarakat di wilayah Bandung utara menilai ada perbedaan antara sistem e-KTP dengan KTP konvensional.
(11) e-KTP memiliki keunggulan dalam hal performansi karena didukung sistem informasi kependudukan yang terpercaya
Sebanyak 9,38% responden beranggapan bahwa e-KTP kurang memiliki keunggulan dalam hal performansi meskipun didukung sistem informasi kependudukan yang terpercaya, 50% menilai cukup memiliki keunggulan, sebesar 9,38% menganggap memiliki keunggulan, dan sisanya 21,88% beranggapan sangat memiliki keunggulan dalam hal performansi dibandingkan dengan KTP konvensional. Dengan demikian secara umum masyarakat di wilayah Bandung Tengah menilai bahwa e-KTP memiliki keunggulan dalam hal performansi dibandingkan dengan KTP konvensional. Hal ini dikarenakan memang secara fisik dapat dilihat e-KTP memiliki penampilan yang lebih baik dibandingkan dengan KTP konvensional.
4.3.3. Persepsi Masyarakat atas Manfaat E-KTP wilayah Bandung
Timur
(1)Penggunaan e-KTP dan dampak pengakuan sosial yang lebih baik bagi penggunanya.
Sebesar 5,36% masyarakat beranggapan bahwa penggunaan e-KTP sangat tidak memberikan dampak kepada pengakuan sosial yang lebih baik bagi penggunanya, 21,88% beranggapan kurang memberikan dampak, 34,38% menilai cukup memberikan dampak pengakuan sosial, 21,88% beranggapan dapat memberikan dampak pengakuan sosial dan sisanya 6,25% beranggapan sangat memberikan dampak pengakuan
sosial. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa penggunaan e-KTP mampu memberi dampak pengakuan sosial yang lebih baik bagi masyarakat di wilayah Bandung Timur.
(2)Penggunaan e-KTP dan cara menikmati layanan publik secara lebih maju
Sebesar 12,5% masyarakat beranggapan bahwa penggunaan e-KTP tidak dirasakan sebagai cara untuk menikmati layanan publik secara lebih maju, 15,63% menilai kurang merasakan akan manfaat penggunaan e-KTP dalam menikmati layanan publik yang lebih maju, 40,63% beranggapan bahwa penggunaan e-KTP cukup dapat dirasakan sebagai cara untuk menikmati layanan publik secara lebih maju, sebanyak 18,75% menilai dapat merasakannya, dan sisanya 12,5% menilai sangat merasakan bahwa dengan e-KTP sebagai cara untuk menikmati layanan publik secara lebih maju. Dengan demikian secara umum bagi masyarakat yang berlokasi di wilayah Bandung Timur bahwa penggunaan e-KTP cukup dirasakan sebagai cara untuk menikmati layanan publik secara lebih modern.
(3)Penggunaan e-KTP dan pemilikan pengetahuan tertentu
Sebesar 6.25% masyarakat beranggapan bahwa orang dapat menggunakan e-KTP jika yang bersangkutan tidak harus memiliki pengetahuan tertentu, 21,88% beranggapan sedikit banyak harus memiliki pengetahuan tertentu, 25% beranggapan diperlukan pengetahuan yang cukup untuk penggunaan e-KTP, 40,63% beranggapan bahwa untuk dapat menggunakan e-KTP diperlukan pengetahuan yang tinggi, dan sisanya sebesar 6,25% beranggapan bahwa untuk dapat menggunakan e-KTP diperlukan pengetahuan yang sangat tinggi. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa masyarakat di wilayah Bandung Timur
secara umum menganggap bahwa untuk menggunakan e-KTP memang harus memilki pengetahuan tentang teknologi. Ini bisa dipahami karena kata e-KTP itu sendiri terkait dengan elektronik yang basisinya nya ada teknologi informasi.
(4)Menggunakan E-KTP dapat meningkatkan citra seseorang di masyarakat
Sebesar 18,75% masyarakat beranggapan bahwa penggunaan e-KTP tidak akan dapat meningkatkan citra seseorang di masyarakat, yang berarti memiliki e-KTP tidak akan berpengaruh terhadap peningkatan citra seseorang atau e-KTP atau bukan sama saja tidak ada pengaruhnya terhadap pembentukan citra seseorang di masyarakat, 25% beranggapan sedikit bisa berperan dalam pembentukan citra seseorang, 32,38% menilai cukup dapat meningkatkan citra, dan sisanya 43.75% berpendapat dapat meningkatkan citra seseorang. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa sebagian besar atau secara umum masyarakat di wilayah Bandung Timur merasakan bahwa kepemilikan e-KTP dapat meningkatkan citra seseorang di masyarakat.
(5)Kehadiran E-KTP diperlukan bagi penggunanya.
Sebesar 9,38% masyarakat beranggapan bahwa kehadiran e-KTP tidak diperlukan. Masyarakat dalam kelompok ini merasakan e-KTP atau KTP biasa tidak ada bedanya, 12,5% beranggapan kurang diperlukan, 40,63% beranggapan cukup diperlukan, 25% menilai diperlukan, dan sisanya sebesar 12.50% beranggapan sangat diperlukan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kehadiran e-KTP secara umum bagi masyarakat Bandung Timur cukup diperlukan. Kondisi ini bisa di pahami karena memang sebagian besar atau pada umumnya menilai bahwa kehadiran e-KTP dapat meningkatkan citra penggunanya, selain itu manfaat e-e-KTP
juga dirasakan dalam hal kemudahannya dalam proses pembuatan KTP selanjutnya.
(6)Penggunaan E-KTP dalam mendukung tugas dan pekerjaan secara umum
Sebesar 9,38% masyarakat beranggapan bahwa penggunaan e-KTP tidak mendukung dalam tugas dan pekerjaannya. Artinya masyarakat menilai e-KTP atau e-KTP biasa sama saja tidak ada bedanya. Kondisi ini bisa diphami karena memang masyarakat belum merasakan betul bedanya memiliki e-KTP atau KTP biasa terkait dengan perannya dalam mendukung tugas dan pekerjaannya. Sebanyak 21,88% beranggapan kurang mendukung, 37.50% beranggapan cukup mendukung, sebesar 25% menyatakan bahwa penggunaan e-KTP mendukung tugasnya, dan sisanya sebesar 6,25 menyatakan penggunaan e-KTP sangat mendukung tugas dan pekerjaannya secara umum. Dengan demikian bisa disimpulkan bawah secara umum masyarakat kota Bandung yang berdomisili di Bandung Timur cukup merasakan bahwa memiliki e-KTP cukup mendukung tugas-tugas dan pekerjaannya, baik tugas tugas di tempat kerjanya maupun tugas tugas terkait dengan organisasi sosialnya.
(7) Informasi tentang E-KTP dapat diakses secara mudah dan lancer Sebesar 12,5% masyarakat beranggapan bahwa informasi tentang e-KTP tidak dapat diakses secara mudah dan lancar, 28.13% menyatakan bahwa informasi tentang e-KTP kurang dapat diakses secara mudah dan lancar, 31,25% cukup mudah dan lancar, 18,75% menyatakan dapat diakses dengan mudah dan lancar, sisanya sebanyak 9,38% menyatakan bahwa informasi tentang e-KTP dapat diakses sangat mudah dan lancar. Masih rendahnya masyarakat yang menjelaskan bahwa e-KTP dapat diakses secara mudah karena masih sangat minimnya informasi yang diberikan
oleh pihak pemerintah tentang bisa tidaknya e-KTP di akses, dan karena untuk bisa mengakses e-KTP harus menggunakan media elektronik yang menggunakan biaya karena harus dengan melalui internet. Meskipun demikian, secara umum masyarakat yang berdomisili di Bandung Timur menilai bahwa informasi tentang e-KTP bisa diakses dengan cukup mudah.
(8)Informasi yang diberikan sistem E-KTP secara umum bermanfaat bagi pengguna
Sebesar 9,38% masyarakat beranggapan bahwa informasi yang diberikan sistem e-KTP secara umum dirasakan masih tidak bermanfaat bagi masyarakat, 21,88% kurang bermanfaat, 40,63% menilai cukup bermanfaat, 25% menilai bermanfaat dan sisasnya sebesar 3,125% menyatakan sangat bermanfaat. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa di wilayah Bandung Timur, secara umum masyarakat menilai bahwa informasi yang diberikan sistem e-KTP secara umum cukup bermanfaat bagi pengguna. Kondisi ini dimungkinkan karena masyarakat juga merasakan cukup mudah untuk mengakses informasi terkait dengan e-KTP.
(9)Portal yang disediakan dapat membantu mempermudah pengguna dalam mengakses informasi E-KTP yang diperlukan
Sebanyak 9,38% responden beranggapan bahwa portal yang disediakan tidak dapat membantu pengguna dalam mengakses informasi e-KTP yang diperlukan, 25% menilai kurang membantu, 46,68% masyarakat beranggapan cukup membantu dan sisanya 18,75% beranggapan dapat membantu membantu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa di daerah Bandung Timur sebagian besar masyarakat menilai portal yang tersedia belum dapat membantu mempermudah pengguna dalam
mengakses informasi e-KTP. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan, antara lain tidak adanya informasi bahwa pemerintah menyediakan portal untuk mengakses e-KTP dan keberadaannya juga tidak diketahui oleh masyarakat.
(10) Sistem E-KTP memiliki inovasi yang berbeda dengan ktp konvensional
Sebesar 6,25% masyarakat beranggapan bahwa sistem e-KTP tidak memiliki inovasi yang berbeda dengan ktp konvensional, 34,38% menilai kurang memiliki inoveasi yang berbeda, 37,5% menilai cukup ada perbedaan, 34,38% menyatkan berbeda dan sisanya sebanyak 6,25% menilai sangat berbeda. Dengan demikian secara umum masyarakat di wilayah Bandung Timur menilai cukup terdapat perbedaan antara sistem e-KTP dengan KTP konvensional
(11) E-KTP memiliki keunggulan dalam hal performansi karena didukung sistem informasi kependudukan yang terpercaya
Sebanyak 6,25% responden beranggapan bahwa e-KTP tidak memiliki keunggulan dalam hal performansi meskipun didukung sistem informasi kependudukan yang terpercaya, 21,88% menilai kurang memiliki nilai keunggulan, 34,38% menilai cukup memiliki keunggulan, 28,13% menilai memiliki keunggulan dan sisanya 9,38% beranggapan sangat memiliki keunggulan dalam hal performansi dibandingkan dengan KTP konvensional. Dengan demikian secara umum masyarakat di wilayah Bandung Timur menilai bahwa e-KTP memiliki keunggulan dalam hal performansi dibandingkan dengan KTP konvensional. Hal ini dikarenakan memang secara fisik dapat dilihat e-KTP memiliki penampilan yang lebih baik dibandingkan dengan KTP konvensional.
4.3.4. Persepsi Masyarakat atas Manfaat E-KTP wilayah Bandung
Utara
(1)Penggunaan e-KTP dan dampak pengakuan sosial yang lebih baik bagi penggunanya.
Sebesar 12,5% masyarakat beranggapan bahwa penggunaan e-KTP sangat tidak memberikan dampak kepada pengakuan sosial yang lebih baik bagi penggunanya, 12,5% menilai kurang memberikan dampek, 62,5% beranggapan cukup memberikan dampak pengakuan sosial, 9,38% beranggapan bisa memberikan dampak pengakuan sosial dan sisanya 3,13% beranggapan sangat memberikan dampak pengakuan sosial. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa penggunaan e-KTP mampu memberi dampak pengakuan sosial yang lebih baik bagi masyarakat di wilayah Bandung Utara.
(2)Menggunakan e-ktp merupakan cara menikmati layanan publik secara maju.
Sebesar 12,5% masyarakat beranggapan bahwa penggunaan e-KTP tidak dirasakan sebagai cara untuk menikmati layanan publik secara lebih maju, 25% menilai kurang merasakan akan manfaat penggunaan e-KTP dalam menikmati layanan publik yang lebih maju, 21,88% beranggapan bahwa penggunaan e-KTP cukup dapat dirasakan sebagai cara untuk menikmati layanan publik secara lebih maju, 28,13% dapat dirasakan, dan sisanya 12,5% menilai sangat merasakan bahwa dengan e-KTP sebagai cara untuk menikmati layanan publik secara lebih maju. Dengan demikian secara umum bagi masyarakat yang berlokasi di wilayah Bandung Utara bahwa penggunaan e-KTP dapat dirasakan sebagai cara untuk menikmati layanan publik secara lebih modern.