• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "V. HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

52

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Identifikasi Sektor-Sektor Basis di Provinsi Kepulauan Riau

Struktur ekonomi suatu daerah sangat ditentukan oleh besarnya peranan sektor-sektor perekonomian dalam memproduksi barang dan jasa. Struktur yang terbentuk dari nilai tambah yang diciptakan oleh masing-masing sektor yang menggambarkan ketergantungan suatu daerah terhadap kemampuan produksi dari masing-masing sektor. Secara umum sektor-sektor perekonomian tersebut dibagi menjadi 9 (sembilan) sektor, yaitu: (1) Pertanian; (2) Pertambangan dan Penggalian; (3) Industri Pengolahan; (4) Listrik, Gas, dan Air Bersih; (5)Bangunan; (6) Perdagangan, Hotel dan Restoran; (7) Pengangkutan dan telekomunkasi; (8) Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan; (9) dan Jasa lainnya.

Hasil analisis LQ dengan menggunakan data PDRB per Kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2010 menunjukkan bahwa masing-masing Kabupaten/Kota memiliki sektor basis. Sektor basis adalah sektor dengan nilai LQ >1, yang menunjukkan terjadinya konsentrasi suatu aktifitas di kabupaten/kota bersangkutan secara relatif di bandingkan dengan total Wilayah Provinsi Kepulauan Riau atau terjadi pemusatan aktifitas di kecamatan tersebut. Secara lengkap hasil analisis LQ dapat dilihat pada Tabel 22.

Tabel 22. Nilai LQ aktivitas perekonomian per sektor tiap Kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Riau tahun 2010.

No Kabupaten Kota Nilai LQ

Tani Tmb Ind Ligas Bang Dag Akt Keu Jasa

1 Batam 0,22 0,03 1,24 1,16 1,00 1,05 1,00 1,11 1,00 2 Bintan 0,37 1,00 2,67 1,00 0,40 1,00 0,40 0,40 1,00 3 Tanjungpinang 0,14 0,00 1,00 2,36 2,40 1,56 2,06 2,45 2,03 4 Karimun 1,66 0,45 0,44 1,00 1,00 1,17 1,34 1,00 1,00 5 Natuna 1,00 0,01 0,03 0,06 0,15 0,19 0,11 0,19 0,31 6 Lingga 1,00 0,03 0,12 0,13 0,24 0,24 0,25 0,27 0,23 7 Kepulauan Anambas 1,00 3,02 0,01 0,03 0,06 0,14 0,07 0,11 0,16 Keterangan:

Tani : Pertanian Dag : Perdagangan, Hotel dan Restoran

Tmb : Pertambangan dan Penggalian Akt : Pengangkutan dan Komunikasi

Ind : Industri Pengolahan Keu : Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Ligas : Listrik, Gas dan Air Bersih Jasa : Jasa-Jasa

(2)

53

Hasil analisis LQ menunjukkan bahwa tidak semua Kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau memiliki lebih dari satu sektor unggulan (LQ>1). Hal ini berarti adanya keberagaman aktivitas di wilayah yang bersangkutan. Kota Batam, Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Karimun merupakan wilayah yang memiliki sektor unggulan paling banyak dengan 7 sektor perekonomian. Hasil lengkap sektor unggulan atau sektor perekonomian yang potensial menjadi sektor unggulan bagi wilayah Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Riau disajikan pada Tabel 23. Tabel 23. Identifikasi sektor basis di Provinsi Kepulauan Riau

Kabupaten / Kota Indikasi Sektor Basis ( LQ > 1 )

Batam Sektor Industri, Sektor Listrik & Gas, Sektor Bangunan, Sektor Perdagangan, Sektor Transportasi, Sektor Keuangan, Sektor Jasa Bintan Sektor Pertambangan , Sektor Industri, Sektor Listrik & Gas, Sektor

Perdagangan, Sektor Jasa

Tanjungpinang Sektor Industri, Sektor Listrik & Gas, Sektor Bangunan, Sektor Perdagangan, Sektor Transportasi, Sektor Keuangan, Sektor Jasa Karimun Sektor pertanian, Sektor Listrik & Gas, Sektor Bangunan, Sektor Perdagangan, Sektor Transportasi, Sektor Keuangan, Sektor Jasa

Natuna Sektor pertanian

Lingga Sektor pertanian

Kepulauan Anambas Sektor pertanian, Sektor Pertambangan

Sektor pertanian dan industri merupakan sektor unggulan dan menjadi aktivitas perekonomian primer di Provinsi Kepulauan Riau. Sektor pertanian cenderung menjadi aktivitas perekonomian yang kurang memiliki nilai tambah terhadap pendapatan wilayah sehingga kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah yang lebih mengutamakan sektor yang dianggap lebih mampu meningkatkan pendapatan per kapita, terutama migas. Selain itu semakin banyak jumlah aktivitas sektor perekonomian yang berkembang, relatif memberikan indikasi meningkatnya aktivitas perekonomian yang potensial sehingga dapat dikembangkan menjadi sektor unggulan di tiap kabupaten/kota. Oleh karena itu sektor pertanian yang di dalamnya terdapat sub sektor perikanan hendaknya dapat dijadikan salah satu sektor yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Provinsi Kepulauan Riau, mengingat potensi laut dan pesisir yang ada sangat besar. Wilayah laut Provinsi Kepulauan Riau mencapai 95 % dari total luas wilayah, di mana di dalamnya terkandung potensi perikanan yang sangat besar,

(3)

54 yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan pendapatan daerah dan kesejahteraan rakyat, dikarenakan masih terbatasnya infrastruktur dan sumber daya manusia di bidang keluatan dan perikanan, baik secara kuantitas dan kualitas. Pemerintah perlu mendorong pembangunan pelabuhan dan sentra pengolahan ikan, sehingga sub sektor perikanan dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah. Secara spasial sektor basis di Provinsi Kepulauan Riau (LQ > 1) disajikan pada Gambar 6, dimana yang digambarkan merupakan sektor dengan nilai LQ yang paling besar di wilayah tersebut.

5.2. Dekomposisi Pertumbuhan Sektoral Wilayah

Kriteria lain untuk menentukan suatu sektor merupakan sektor unggulan adalah kemampuannya untuk bersaing dengan sektor yang sama di dalam cakupan wilayah yang lebih besar. Hal ini dilakukan dengan menggunakan Shift Share Analysis untuk memahami pergeseran struktur aktifitas di tujuh kabupaten dalam lingkup Provinsi Kepulauan Riau dengan menggunakan data pada dua titik waktu.

Data yang digunakan untuk analisis ini berupa data PDRB per kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2006 dan 2010 atas dasar harga berlaku. Khusus untuk mengetahui apakah suatu sektor memiliki daya saing dengan wilayah diatasnya dapat dilihat dari nilai differential shift nya. Apabila sektor

(4)

55

bersangkutan memiliki nilai lebih dari nol maka sektor tersebut merupakan sektor yang memiliki kemampuan kompetitif. Secara lengkap hasil analisis Shift Share disajikan pada Tabel 24.

Tabel 24. Hasil Shift Share Analysis dari data PDRB atas dasar harga berlaku di Provinsi Kepulauan Riau tahun 2006 dan 2010

No Kabupaten Kota Differential Shift

Tani Tmb Ind Ligas Bang Dag Akt Keu Jasa

1 Batam 0,003 -3,48 0,02 0,44 0,48 0,06 -0,100 -0,051 0,101 2 Bintan 0,221 2,70 0,18 -1,32 -0,66 -0,36 -0,146 -0,028 -0,176 3 Tanjungpinang 0,089 -3,78 -0,09 -0,99 -0,22 0,01 0,154 0,418 -0,069 4 Karimun 0,158 -2,80 0,14 -1,12 -0,17 -0,24 0,036 0,143 0,041 5 Natuna 0,618 -3,02 -0,56 -1,77 -0,77 -0,84 -0,598 -0,650 -0,643 6 Lingga 0,020 -2,34 -0,44 -1,36 -0,25 -0,04 0,238 0,242 0,109 7 Kepulauan Anambas 0,040 0,02 -0,01 -0,12 -0,02 0,05 0,086 -0,085 -0,063 Keterangan:

Tani : Pertanian Dag : Perdagangan, Hotel dan Restoran

Tmb : Pertambangan dan Penggalian Akt : Pengangkutan dan Komunikasi

Ind : Industri Pengolahan Keu : Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Ligas : Listrik, Gas dan Air Bersih Jasa : Jasa-Jasa Bang : Bangunan

Berdasarkan data pada tabel di atas dapat dilihat bahwa sektor pertanian memiliki tingkat kompetitif paling tinggi di Kabupaten Bintan, sektor pertambangan di Kabupaten Kepulauan Anambas, sektor Industri di Kabupaten Karimun dan Kota Batam, sektor listrik, gas dan air bersih di Kota Batam, sektor bangunan memiliki tingkat kompetitif paling tinggi di Kota Batam, sektor perdagangan, hotel dan restoran memiliki tingkat kompetitif paling tinggi di Kota Tanjungpinang dan Kota Batam, sektor pengangkutan dan transportasi di Kota Tanjungpinang, sektor keuangan di Kota Tanjungpinang, dan sektor jasa memiliki tingkat kompetitif paling tinggi di Kabupaten Lingga dan Kota Batam. Kota Batam merupakan wilayah yang memiliki kemampuan kompetitif sektor perekonomian yang paling dominan dimana nilai kompetitif tertinggi dari 9 sektor perekonomian, 5 sektor berada di Kota Batam.

Dalam penetapan sektor unggulan wilayah dilakukan kompilasi hasil analisis sektor basis dan dekomposisi pertumbuhan sektor perekonomian. Sektor perekonomian dengan nilai LQ > 1 dan differential shift > 0 ditetapkan sebagai sektor unggulan wilayah, urutan prioritas pengembangan sektor unggulan

(5)

56 didasarkan pada kontribusi sektor terhadap PDRB total. Kontribusi masing-masing sektor terhadap PDRB total disajikan pada Tabel 25.

Tabel 25. Kontribusi sektor-sektor PDRB atas dasar harga berlaku per Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Riau tahun 2010

No. Kabupaten/ Kota

Kontribusi Sektor (%)

Tani Tmb Ind Ligas Bang Dag Akt Keu Jasa

1 Batam 5,47 1,89 88,62 83,22 42,67 75,41 41,94 79,70 41,68 2 Bintan 7,40 16,70 7,19 3,22 5,47 5,37 5,43 1,90 7,32 3 Tanjungpinang 2,74 0,10 2,58 9,37 32,60 9,09 28,25 11,75 28,04 4 Karimun 33,12 10,41 1,19 3,34 13,11 6,82 18,47 3,94 13,27 5 Natuna 18,93 0,16 0,07 0,24 2,06 1,09 1,52 0,92 4,34 6 Lingga 15,60 0,66 0,32 0,51 3,29 1,40 3,40 1,28 3,18 7 Kepulauan Anambas 16,74 70,07 0,03 0,10 0,80 0,82 0,99 0,51 2,17

Provinsi Kepulauan Riau 100 100 100 100 100 100 100 100 100

Keterangan:

Tani : Pertanian Dag : Perdagangan, Hotel dan Restoran

Tmb : Pertambangan dan Penggalian Akt : Pengangkutan dan Komunikasi

Ind : Industri Pengolahan Keu : Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Ligas : Listrik, Gas dan Air Bersih Jasa : Jasa-Jasa Bang : Bangunan

Berdasarkan hasil analisis LQ, hasil analisis Shift Share dan kontribusi sektor terhadap PDRB total maka ditetapkan prioritas pengembangan sektor unggulan wilayah di Provinsi Kepulauan Riau seperti disajikan pada Tabel 26. Tabel 26. Arahan pengembangan sektor unggulan wilayah di Provinsi Kepulauan Riau

Kabupaten / Kota Sektor Basis Wilayah Dekomposisi Pertumbuhan Ekonomi Wilayah

Prioritas Sektor Unggulan

Batam

Industri, Listrik & Gas, Bangunan, Perdagangan, Transportasi, Keuangan, Jasa

Kelautan Perikanan, Industri, Listrik & Gas, Bangunan, Perdagangan, Jasa

1. Industri 2. Ligas 3. Bangunan 4. Perdagangan

Bintan Pertambangan, Industri,

Listrik & Gas, Perdagangan,

Kelautan Perikanan, Pertambangan, Industri

1. Industri 2. Pertambangan, Tanjungpinang

Industri, Listrik & Gas, Bangunan, Perdagangan, Transportasi, Keuangan, Jasa

Kelautan Perikanan, Perdagangan, Transportasi, Keuangan 1. Perdagangan 2. Transportasi 3. Keuangan Karimun

Kelautan Perikanan, Listrik & Gas, Bangunan,

Perdagangan, Transportasi, Keuangan, Jasa

Kelautan Perikanan,Industri, Transportasi, Keuangan, Jasa

1. Kelautan Perikanan 2. Transportasi 3. Keuangan 4. Jasa

Natuna Kelautan Perikanan Kelautan Perikanan Kelautan

Perikanan

Lingga Kelautan Perikanan Pertanian, Transportasi,

Keuangan, Jasa

Kelautan Perikanan

Kepulauan Anambas Kelautan Perikanan,

Pertambangan, Kelautan Perikanan, Pertambangan, Perdagangan Transportasi, 1. Kelautan Perikanan 2. Pertambangan

(6)

57

Secara spasial arahan prioritas pengembangan sektor unggulan wilayah di Provinsi Kepulauan Riau disajikan pada Gambar 7, dimana yang digambarkan merupakan sektor yang menempati urutan pertama prioritas pengembangan.

5.3. Tingkat Perkembangan Wilayah di Provinsi Kepulauan Riau

Untuk mengetahui perkembangan suatu wilayah diperlukan suatu analisis mengenai pencapaian pembangunan melalui indikator-indikator kinerja bidang ekonomi sosial dan bidang lain yang mempunyai keterkaitan. Pengembangan wilayah bertujuan untuk memacu perkembangan ekonomi dan sosial serta berperan dalam mengurangi ketimpangan pembangunan antar wilayah.

Dalam penelitan ini, sebagai pendekatan untuk melihat tingkat perkembangan wilayah di Provinsi Kepulauan Riau digunakan metode analisis entropi terhadap sektor perekonomian (aspek pendapatan wilayah) dan analisis skalogram (aspek sarana prasarana wilayah).

(7)

58

5.3.1. Perkembangan Diversifikasi Aktifitas Perekonomian

Tingkat perkembangan wilayah dengan aspek ekonomi berdasarkan hasil indeks entropi pada tahun 2006 hingga 2010 menunjukkan bahwa baik pada tingkat kabupaten/kota maupun pada tingkat provinsi memiliki nilai yang relatif tetap. Terjadi peningkatan nilai entropi total pada tahun 2008, dari 2,27 menjadi 2,35. Namun sampai tahun 2010 nilai entropi total tidak mengalami peningkatan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa selama kurun waktu tersebut proporsi keragaman sektor-sektor perekonomian tiap kabupaten/kota relatif stabil sehingga komposisi sektor-sektor perekonomian di Provinsi Kepulauan Riau cenderung kurang berkembang.

Pada tahun 2006 hasil analisis entropi total dari data aktifitas tiap sektor perekonomian di wilayah Provinsi Kepulauan Riau, menunjukan bahwa nilai entropi sebesar 2,27. Nilai entropi tersebut belum mencapai nilai entropi maksimum karena dengan 9 (sembilan) komponen dari sektor-sektor perekonomian yang ada seharusnya dapat dicapai nilai entropi maksimum sebesar 4,14 Nilai entropi total Provinsi Kepulauan Riau tahun 2006 relatif belum mendekati nilai entropi maksimum sehingga dapat dinyatakan bahwa tingkat penyebaran aktifitas di seluruh wilayah Provinsi Kepulauan Riau relatif belum merata dan aktifitas sektor-sektor perekonomian yang relatif belum seragam. Hal yang sama juga terjadi pada tahun 2008 dan 2010 walaupun nilai entropi total meningkat menjadi 2,35 tetapi masih jauh dibawah nilai entropi maksimum (4,14).

Sebaran intensitas aktifitas tiap sektor perekonomian paling merata (peluang perkembangan seluruh aktifitas), secara proporsi terhadap perkembangan wilayah di Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2006 seperti yang dapat dilihat pada Tabel 27 adalah di Kota Batam (1,06) atau sekitar 46.81 persen. Apabila dilihat berdasarkan nilai rataan dan standar deviasi indeks entropinya maka wilayah Kota Batam dapat diklasifikasikan sebagai wilayah yang memiliki tingkat perkembangan yang tinggi. Sedangkan untuk Kota Tanjungpinang dengan nilai entropi total (0,33) atau 14,55 persen, Kabupaten Bintan (0,32) atau 14,03 persen dan Kabupaten Karimun (0,31) atau 13,60 persen, tingkat perkembangan ketiga wilayah tersebut dikategorikan sedang. Adapun wilayah Kabupaten Lingga,

(8)

59

Natuna dan Kepulauan Anambas hanya memiliki kontribusi di bawah 10 persen (tingkat perkembangannya rendah).

Tabel 27. Perkembangan indeks entropi (PDRB sektoral) tiap Kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Riau tahun 2006, 2008, 2010.

Kabupaten/Kota Perkembangan Wilayah 2006 2008 2010 Entropi Total Indeks Entropi Entropi Total Indeks Entropi Entropi Total Indeks Entropi Batam 1,06 0,26 1,07 0,26 1,09 0,26 Bintan 0,32 0,08 0,29 0,07 0,28 0,07 Tanjungpinang 0,33 0,08 0,34 0,08 0,34 0,08 Karimun 0,31 0,07 0,29 0,07 0,30 0,07 Natuna 0,15 0,04 0,09 0,02 0,09 0,02 Lingga 0,10 0,02 0,09 0,02 0,09 0,02 Kepulauan Anambas 0,00 0,00 0,18 0,04 0,17 0,04 Provinsi Kepulauan Riau 2,27 0,55 2,35 0,57 2,35 0,57 Maks 1,06 0,26 1,07 0,26 1,09 0,26 Min 0,00 0,00 0,09 0,02 0,09 0,02 Rataan 0,32 0,08 0,34 0,08 0,34 0,08 Standar Deviasi 0,35 0,08 0,34 0,08 0,35 0,08

Selanjutnya pada tahun 2008 sebaran terbesar intensitas aktivitas tersebut masih terdapat di Kota Batam (1,07), sedangkan Kota Tanjungpinang (0,34), Kabupaten Bintan (0,29) dan Kabupaten Karimun (0,29) tingkat perkembangan wilayahnya masih tetap dalam kategori sedang. Kabupaten yang memiliki nilai entropi dengan kontribusi dibawah 10 persen yaitu Kabupaten Natuna (0,09), Kabupaten Lingga (0,09) dan Kabupaten Kepulauan Anambas (0,18) sebaran intensitas aktifitas perekonomiannya paling tidak merata atau tingkat perkembangannya rendah. Pada tahun 2010 kondisi tersebut tidak mengalami perubahan yang berarti sehingga bisa dikatakan perkembangan wilayah di Provinsi Kepulauan Riau bersifat stabil dan dan kabupaten/kota dengan aktivitas perekonomian yang beragam atau aktivitas sektor yang konsentrasi memiliki tingkat perkembangan wilayah yang berkisar sedang-tinggi apabila dilihat berdasarkan nilai entropi total masing-masing kabupaten/kota antara 0,28 sampai dengan 1,09.

Berdasarkan jumlah aktivitasnya, nilai entropi tertinggi secara berturut-turut terjadi pada aktivitas sektor perindustrian (0,58), dan sektor perdagangan (0,58). Sedangkan aktivitas yang relatif ada kecenderungan untuk terjadinya pemusatan

(9)

60 lokasi dan tidak mengalami perubahan, yakni aktifitas sektor listrik gas dan air bersih (0,04). Pada tahun 2010, aktifitas yang relatif ada kecenderungan untuk terjadinya pemusatan lokasi antara lain terjadi pada sektor jasa (0,13), pertambangan (0,18) dan keuangan (0,19) seperti yang disajikan pada Tabel 28. Tabel 28. Perkembangan indeks entropi (PDRB sektoral) tiap Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Riau tahun 2010

Kabupaten / Kota Entropi Aktifitas Perekonomian Tiap Sektor Tahun 2010

Tani Tmb Ind Ligas Bang Dag Akt Keu Jasa

Batam 0,039 0,006 0,364 0,029 0,077 0,316 0,077 0,131 0,048 Bintan 0,022 0,036 0,115 0,002 0,015 0,058 0,015 0,007 0,012 Tanjungpinang 0,009 0,000 0,054 0,005 0,063 0,087 0,057 0,031 0,035 Karimun 0,070 0,025 0,029 0,002 0,031 0,070 0,041 0,013 0,019 Natuna 0,046 0,001 0,003 0,000 0,007 0,016 0,005 0,004 0,007 Lingga 0,029 0,002 0,010 0,000 0,010 0,020 0,010 0,005 0,006 Kepulauan Anambas 0,031 0,108 0,001 0,000 0,003 0,013 0,004 0,002 0,004 Provinsi Kepulauan Riau 0,246 0,178 0,577 0,038 0,204 0,579 0,208 0,192 0,131 Hasil analisis LQ dan entropi menunjukkan bahwa tingkat perkembangan wilayah berdasarkan pendapatan wilayah mencerminkan diversitas dan sektor-sektor perekonomian di Provinsi Kepulauan Riau dan apabila dikaitkan dengan banyaknya jumlah sektor unggulan tingkat perkembangan wilayah menjadi lebih tinggi, seperti yang dimiliki oleh Kota Batam. Sedangkan nilai entropi total dari sektor-sektor unggulan tertentu, seperti yang dimiliki oleh Kab. Bintan, Kota Tanjungpinang dan Kab. Karimun relatif mengindikasikan pertumbuhan ekonomi wilayahnya meningkat sehingga dapat dikategorikan sebagai wilayah dengan tingkat perkembangan wilayah yang sedang.

Sektor pertanian khususnya sub sektor kelautan dan perikanan sebagai sektor yang memiliki potensi sumberdaya alam yang sangat besar di Provinsi Kepulauan Riau cenderung memiliki keterkaitan hubungan yang relatif kecil dengan sektor produksi atau sektor ekonomi lainnya walaupun memberikan kontribusi yang dominan. Sektor industri dan sektor perdagangan (termasuk hotel dan restoran yang sangat berkaitan dengan pariwisata) diharapkan memiliki peranan yang penting dalam memberikan multiplier effect terhadap kinerja perekonomian sehingga untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi, pemerintah daerah perlu memperhatikan sektor unggulan wilayah dalam menentukan arah

(10)

61

kebijakannya yang bertujuan untuk memberikan dampak yang optimal terhadap perekonomian Provinsi Kepulauan Riau secara keseluruhan. Pemerintah hendaknya perlu mengembangkan sub sektor perikanan ke arah industri yang cenderung memacu sub sektor perikanan untuk bekerja lebih optimal, selain tingkat penyerapan tenaga kerja akan meningkat secara signifikan pada kedua sektor tersebut. Dengan peningkatan lapangan kerja maka diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Provinsi Kepulauan Riau.

5.3.2. Hirarki Wilayah

Dalam rangka melihat tingkat perkembangan hirarki di suatu wilayah terhadap wilayah lain yang dibatasi oleh administrasi kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Riau, terutama dalam hal sarana infrastruktur maka digunakan analisis skalogram. Analisis skalogram mengidentifikasikan wilayah yang berfungsi sebagai pusat/inti dan wilayah hinterlandnya, dilihat dari tersedianya kapasitas pelayanan umum, seperti sarana dan prasarana bidang pendidikan, kesehatan, perekonomian di masing-masing kabupaten/kota.

Tingkat perkembangan suatu wilayah berdasarkan analisis skalogram dicerminkan oleh nilai indeks perkembangan wilayah (IPW) masing-masing kabupaten/kota sehingga semakin tinggi nilai IPW maka wilayah tersebut semakin berkembang dengan fasilitas pelayanan umum yang memadai. Jumlah Jenis Fasilitas sarana dan prasarana juga menjadi ukuran dalam penentuan hiraki wilayah.

Hasil analisis skalogram dengan menggunakan data Potensi Desa (PODES) tahun 2011 diperoleh nilai IPW berkisar antara 7,89 (Kabupaten Kepulauan Anambas) sampai dengan 112,38 (Kota Batam). Selain itu Kota Batam juga memiliki jumlah jenis fasilitas yang paling besar yaitu sejumlah 61 jenis. Hal ini dikarenakan proses pembangunan di Kota Batam sangat masif sejak masa Otorita Batam untuk mendukung industri yang menjadi kebijakan nasional pemerintah pusat dan semakin meningkat setelah Kota Batam termasuk ke dalam wilayah Provinsi Kepulauan Riau. sedangkan Kabupaten Kepulauan Anambas sebagai kabupaten baru hanya memiliki 26 jenis fasilitas sehingga menempati urutan

(11)

62 terakhir dalam hirarki wilayah di Provinsi Kepulauan Riau seperti yang terlihat pada Tabel 29.

Tabel 29. Indeks perkembangan wilayah, jumlah jenis fasilitas dan hirarki wilayah di Provinsi Kepulauan Riau tahun 2010

Kota/Kabupaten Luas Wilayah Daratan (Ha) Jumlah Penduduk Indeks Perkembangan Wilayah (IPW) Jumlah Jenis Fasilitas Hirarki Batam 770,27 917.124 112,384 61 1 Tanjungpinang 239,50 216.910 105,845 58 1 Bintan 1.946,13 132.313 77,078 57 2 Karimun 2.873,20 242.692 70,540 59 2 Natuna 2.058,45 68.875 44,843 54 3 Lingga 2.117,72 90.519 19,177 38 3 Kepulauan Anambas 590,14 39.588 7,889 26 3

Hirarki wilayah menurut ketersediaan fasilitas pelayanan umum tersebut dapat di definisikan sebagai berikut :

1. Wilayah yang termasuk hirarki I merupakan wilayah dengan tingkat perkembangan yang lebih tinggi dibandingkan kabupaten/kota lainnya dengan tingkat ketersediaan sarana dan prasarana serta fasilitas pelayanan umum yang memadai, terutama di bidang pendidikan menengah (SLTP dan SLTA), bidang kesehatan (Rumah Sakit, RS Bersalin, tempat praktek dokter dan apotik); bidang perekonomian/perdagangan (hotel, restoran, lembaga keuangan dan mall) serta aksesibilitas terhadap informasi dan telekomunikasi (warnet dan warpostel). Kota Batam dengan IPW (112,38) dan Kota Tanjungpinang (105,85) menempati hirarki I di wilayah Provinsi Kepulauan Riau.

2. Pada hirarki II ditempati oleh kabupaten /kota dengan tingkat perkembangan wilayah sedang, yakni Kabupaten Bintan dengan IPW 77,08, dan Kabupaten Karimun (70,54) dan memiliki ketersediaan sarana dan prasarana pelayanan umum relatif lebih rendah dibanding Kota Batam dan Tanjungpinang.

3. Wilayah yang termasuk pada hirarki III merupakan kota/kabupaten dengan tingkat perkembangan rendah/kurang berkembang apabila dibandingkan dengan hirarki I, sehingga wilayah ini cenderung dikategorikan sebagai wilayah yang masih mengandalkan pada sektor pertanian atau cenderung lebih

(12)

63

memperhatikan sektor yang terkonsentrasi terutama pertambangan dan penggalian dengan migas, seperti yang dialami oleh Kabupaten Natuna dengan IPW 44,84, Kabupaten Lingga (19,18) dan dan Kabupaten Kepulauan Anambas (7,89).

Sebaran hirarki wilayah berdasarkan hasil analisis skalogram di Provinsi Kepulauan Riau secara spasial disajikan dalam Gambar 8 dan dapat disimpulkan bahwa telah terjadi ketimpangan infrastruktur wilayah akibat terpusatnya pembangunan sarana dan prasarana serta pelayanan umum di Kota Batam dan Kota Tanjungpinang sebagai wilayah inti terhadap kabupaten/kota lain.

Oleh karena itu, pemerintah daerah hendaknya lebih menggiatkan pembangunan prasarana dasar, seperti sekolah, fasiltas pelayan kesehatan dan fasiltas perekonomian terutama memperbanyak dan memperbaiki pembangunan jumlah fasilitas pendidikan dasar, jumlah rumah sakit, jumlah lembaga keuangan. Secara umum pembangunan pusat perbelanjaan dan lembaga keuangan bertujuan agar peredaran uang di suatu wilayah diharapkan dapat lebih lama dan berfungsi sebagai tabungan yang diharapkan dapat memacu investasi domestik sehingga penyerapan sumberdaya (Backwash) oleh Kota Batam dan Kota Tanjungpinang sebagai pusat wilayah pembangunan dan perekonomian selama ini, tidak terus terjadi.

Gambar 8. Peta hirarki wilayah di Provinsi Kepulauan Riau

KARIMUN BATAM BINTAN TANJUNGPINANG NATUNA KEPULAUAN ANAMBAS LINGGA

(13)

64

5.4. Disparitas Pembangunan Antar Wilayah di Provinsi Kepulauan Riau

Disparitas pembangunan menurut Chaniago et al. (2000) dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang tidak berimbang, sehingga apabila dikaitkan dengan pembangunan suatu sektor atau wilayah maka disparitas pembangunan merupakan suatu kondisi ketidakberimbangan pembangunan antar sektor maupun antar wilayah yang ditandai dengan perbedaan pertumbuhan antar wilayah.

Hasil analisis Indeks Williamson dengan menggunakan PDRB per kapita dan jumlah penduduk tiap kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2006 sampai dengan 2010 disajikan pada Gambar 9.

Gambar 9. Perkembangan Indeks Williamson tahun 2006-2010 di wilayah Provinsi Kepulauan Riau

Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat dilihat bahwa dalam kurun waktu tahun 2006 sampai dengan 2010, tingkat disparitas di Provinsi Kepulauan Riau mengalami penurunan. Hal ini ditunjukkan dengan Indeks Williamson sebesar 0,84574 pada tahun 2006 turun berturut-turut tahun 2007 menjadi sebesar 0,82984, tahun 2008 menjadi sebesar 0,60698, tahun 2009 menjadi sebesar 0,57870, dan tahun 2010 menjadi sebesar menjadi 0,49580. Secara rinci, perkembangan tingkat disparitas di Provinsi Kepulauan Riau atas dasar PDRB perkapita dari tahun 2006 sampai tahun 2010 disajikan pada Tabel 30.

In d e k s W il lia m s on

(14)

65

Tabel 30. Indeks Williamson menggunakan PDRB atas dasar harga berlaku perkapita tahun 2006-2010 di Provinsi Kepulauan Riau

Kabupaten/Kota 2006 2007 2008 2009 2010 PDRB per kapita (juta Rupiah) Iw PDRB per kapita (juta Rupiah) Iw PDRB per kapita (juta Rupiah) Iw PDRB per kapita (juta Rupiah) Iw PDRB per kapita (juta Rupiah) Iw Batam 30,95 0,845 34,97 0,829 40,52 0,606 43,39 0,578 50,09 0,495 Bintan 22,62 24,62 26,65 28,46 31,10 Tanjungpinang 16,05 18,55 22,14 24,35 27,63 Karimun 12,88 14,34 16,21 17,97 20,17 Natuna 19,71 21,65 12,97 14,17 15,61 Lingga 7,86 8,60 9,72 10,68 11,85 Kepulauan Anambas - - 65,45 67,75 72,30

Keterangan : Iw : Indeks Williamson

Hasil analisis Indeks Williamson menunjukkan bahwa telah terjadi kesenjangan pembangunan di wilayah Provinsi Kepulauan Riau dengan tingkat sangat tinggi (Iw : 0,5 – 1) dari tahun 2006 sampai tahun 2009, dimana kesenjangan tertinggi terjadi pada tahun 2006 dengan nilai Indeks Williamson sebesar 0,8457. Tren positif pembangunan terlihat dari menurunnya tingkat kesenjangan pembangunan setiap tahunnya. Akhirnya pada tahun 2010 kesenjangan pembangunan di wilayah Provinsi Kepulauan Riau menurun dari tingkat sangat tinggi menjadi sedang yaitu 0,49580 (Iw : 0,3 – 0,5). Hal ini menunjukkan keberhasilan pembangunan di Provinsi Kepulauan Riau, dimana PDRB yang semakin meningkat dari tahun ke tahun mengindikasikan setiap wilayah Kabupaten dan Kota semakin mengejar ketertinggalan dari Kota yang sudah mapan seperti Kota Batam. Penurunan kesenjangan pembangunan yang paling signifikan terjadi pada tahun 2008 ketika Kabupaten Kepulauan Anambas terbentuk. Walaupun merupakan kabupaten baru tetapi PDRB yang dihasilkan cukup besar terutama dari hasil migas. Dengan penduduk yang relatif kecil, nilai PDRB perkapita Kabupaten Kepulauan Anambas menjadi besar. Kota Tanjungpinang juga mengalami pertumbuhan pembangunan yang cukup signifikan mengingat posisinya sebagai pusat ibu kota pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau. Perpindahan sumberdaya manusia dengan tingkat pendidikan dan keterampilan tinggi ke ibu kota baru ini, semakin mempercepat pembangunan di Kota Tanjungpinang. Kabupaten Bintan dan Karimun mengalami peningkatan

(15)

66 pembangunan yang konstan mengingat sumberdaya alam yang ada dapat lebih dioptimalkan pemanfaatannya seiring membaiknya infrastruktur dan peningkatan sumberdaya manusia serta dukungan pemerintah. Kabupaten Lingga dan Natuna juga mengalami perkembangan, tetapi tidak sepesat kabupaten lainnya. Walaupun sumberdaya alam yang dimiliki cukup besar terutama potensi perikanan dan kelautan, tetapi jarak yang jauh, sulitnya akses dan minimnya infrastruktur masih menjadi kendala pengembangan pembangunan. Sumberdaya manusia yang terbatas sangat berpengaruh di dalam partisipasi publik dalam suatu perencanaan pembangunan, kebijakan pemerintah dalam pembangunan wilayah belum dapat sepenuhnya terimplementasikan secara optimal. Secara lengkap analisis Indeks Williamson dapat dilihat pada Lampiran 1.

Selanjutnya hasil dekomposisi indeks sumber disparitas untuk melihat sejauh mana wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan provinsi (kabupaten) dengan wilayah kota mengalami kesenjangan. Data yang digunakan adalah data PDRB dan jumlah penduduk per Kabupaten/Kota pada tahun 2006 sampai dengan 2010. Indeks Theil menunjukkan disparitas pembangunan wilayah di Provinsi Kepulauan Riau mengalami penurunan dari tahun ke tahun baik disparitas antar wilayah kota dan kabupaten maupun disparitas antar wilayah kabupaten. Nilai Indeks Theil yang menunjukkan disparitas wilayah antar kota dan kabupaten pada tahun 2006 sebesar 0,034 menurun terus sampai pada tahun 2010 nilainya menjadi 0,016.

Indeks Theil pada disparitas wilayah antar kabupaten pada tahun 2006 sebesar 0,023 turun menjadi 0,018 pada tahun 2010 sebagaimana yang dapat dilihat pada Gambar 10. Hal ini menunjukkan proses pembangunan dan pengembangan wilayah cukup berhasil menurunkan tingkat ketimpangan wilayah.

(16)

67

Gambar 10. Dekomposisi disparitas wilayah tahun 2006-2010 di wilayah Provinsi Kepulauan Riau dengan Indeks Theil

Pada tahun 2006 – 2007 dekomposisi sumber disparitas di Provinsi Kepulauan Riau menunjukkan bahwa sumber utama disparitas adalah ketimpangan antar kota dan kabupaten yang mencapai 59,59 persen pada tahun 2006 dan meningkat pada tahun 2007 menjadi 60,20 persen. Tetapi sejak tahun 2008, sumber utama disparitas di Provinsi Kepulauan Riau berubah menjadi ketimpangan antar kabupaten yang menyumbang 54,91 persen pada tahun 2008, sebagaimana yang dapat dilihat pada Gambar 11.

S um ber K et im pangan ( % )

(17)

68 Walaupun pada tahun 2009 persentase sumber disparitas antar kota kabupaten menurun menjadi 54,26 persen dan kembali turun pada tahun 2010 menjadi 53,75 persen, namun tetap memberikan kontribusi yang lebih besar sebagai sumber disparitas di Provinsi Kepulauan Riau.

Perubahan sumber disparitas dari disparitas antar kota dan kabupaten menjadi disparitas antar kabupaten yang terjadi pada tahun 2008, dikarenakan adanya pemekaran wilayah yaitu Kabupaten Natuna menjadi Kabupaten Natuna sebagai induk dan Kabupaten Kepulauan Anambas sebagai wilayah yang dimekarkan. Pemekaran wilayah ini berdampak signifikan dalam mengubah komposisi sumber disparitas di Provinsi Kepulauan Riau dari ketimpangan antar kota dan kabupaten menjadi ketimpangan antar kabupaten. Secara lengkap analisis Indeks Theil dapat dilihat pada Lampiran 2.

5.5. Faktor-Faktor Terkait Disparitas Pembangunan Antar Wilayah di Provinsi Kepulauan Riau

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya disparitas antar wilayah di Provinsi Kepulauan Riau, diketahui dari hasil analisis regresi berganda. Variabel tujuan yang digunakan adalah nilai Indeks Williamson masing-masing kabupaten dan variabel penjelas berupa faktor ekonomi (fasilitas perekonomian dan nilai PDRB) dan faktor sosial (fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan dan fasilitas ibadah). Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat disparitas wilayah sebanyak 5 variabel disajikan pada Tabel 31.

Tabel 31. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat disparitas antar wilayah di Provinsi Kepulauan Riau

Beta Std.Err. of Beta B Std.Err.of B t(50) p-level Intercept 0,163903 0,015616 10,49580 0,000000 X5 -18,2617 3,315561 -0,056177 0,010199 -5,50786 0,000001 X6 23,2467 4,638729 0,034966 0,006977 5,01143 0,000007 X7 1,9024 0,328184 0,003978 0,000686 5,79681 0,000000 X10 -6,3734 1,306255 -0,010261 0,002103 -4,87913 0,000011 X11 -0,3049 0,072141 -0,000311 0,000074 -4,22619 0,000101 Koefisien determinasi (R2) = 0,799

(18)

69 dimana:

Y = Indeks Kesenjangan Wilayah X5 X = PDRB Pertanian 6 X = PDRB Pertambangan 7 X = PDRB Industri Pengolahan 10 X

= PDRB Perdagangan, Hotel dan Restauran

11 = PDRB Angkutan dan Komunikasi

Berdasarkan hasil analisis tersebut bisa disusun suatu persamaan regresi berganda sebagai berikut:

Y = 0,164 – 18,262X1 + 23,247X2 + 1,902 X3 - 6,373 X4 – 0,305X5

dimana : Y = Indeks Kesenjangan Wilayah X1 X = PDRB Pertanian 2 X = PDRB Pertambangan 3 X = PDRB Industri Pengolahan 4 X

= PDRB Perdagangan, Hotel dan Restauran

5 = PDRB Angkutan dan Komunikasi

Nilai koefisien determinasi sebesar 0,799 menjelaskan bahwa persamaan diatas mampu menjelaskan keragaman data sebesar 79 %. Dari hasil analisis yang dilakukan bisa diketahui faktor-faktor yang menyebabkan meningkatnya disparitas antar wilayah antara lain PDRB sektor pertambangan, dan PDRB sektor industri pengolahan. Semakin tinggi kontribusi sektor pertambangan suatu wilayah akan meningkatkan tingkat disparitas wilayah secara keseluruhan karena tidak semua wilayah memiliki kontribusi sektor pertambangan yang besar, sehingga wilayah yang tidak memiliki sektor pertambangan semakin tertinggal. Kontribusi sektor industri pengolahan paling nyata dalam meningkatkan tingkat disparitas wilayah secara keseluruhan. Hal ini dapat dilihat dari kontribusi Sektor Industri Pengolahan Kota Batam yang mencapai 88 % dari total PDRB Sektor Industri Pengolahan di Provinsi Kepulauan Riau. Wilayah dengan kontribusi Sektor industri pengolahan yang rendah semakin tertinggal. Hal ini menyebabkan kesenjangan atau ketimpangan di antara kedua wilayah tersebut semakin lebar.

Hasil analisis menunjukan faktor-faktor yang menurunkan tingkat disparitas adalah PDRB sektor pertanian, PDRB sektor perdagangan, hotel, restauran, dan PDRB sektor angkutan komunikasi. Semakin tinggi kontribusi sektor-sektor tersebut di suatu wilayah akan menurunkan tingkat disparitas antar wilayah secara keseluruhan. Meningkatnya kontribusi PDRB sektor pertanian

(19)

70 suatu wilayah dapat menurunkan tingkat disparitas secara menyeluruh. Hal ini merupakan peluang bagi pemerintah untuk memprioritaskan sektor pertanian untuk menurunkan tingkat disparitas. Sektor pertanian dengan sub sektor perikanannya memiliki potensi yang luar biasa besar di wilayah Kepulauan Riau yang mencakup 98,05 % dari total wilayah. Semua kabupaten/kota memiliki potensi yang besar ini, namun masih kurang memadai dari sisi penyediaan infrastruktur dan sumberdaya manusia. Oleh karena itu pemerintah perlu mengalokasikan dana yang cukup besar untuk mengelola potensi kelautan dan perikanan ini, sehingga dapat meningkatkan perekonomian wilayah secara keseluruhan.

Sektor perdagangan, hotel dan restauran juga berperan dalam menurunkan tingkat disparitas antar wilayah di Provinsi Kepulauan Riau. Sektor ini sangat berkaitan erat dengan pariwisata yang memiliki potensi cukup besar di Provinsi Kepulauan Riau. Kota Batam sejak awal dikenal sebagai daerah wisata belanja, yang banyak dikunjungi wisatawan bukan hanya dari dalam negeri tapi juga manca negara. Faktor kedekatan dengan wilayah Singapura juga menjadi pemicu derasnya arus wisatawan ke Kota Batam. Dewasa ini Kota Batam juga mulai dikenal sebagai salah satu tujuan wisata bawah laut, terutama sejak dimulainya kampanye penyelamatan terumbu karang oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan dibawah program Coral Reef Management Program (COREMAP) yang bertujuan melestarikan terumbu karang. Ternyata wilayah Kota Batam memiliki beberapa pulau dengan kondisi terumbu karang yang sangat baik, sehingga dapat menjadi daya tarik wisata bawah laut (diving) yang banyak diminati turis manca negara. Selain Kota Batam, seluruh kabupaten dan kota di wilayah Kepulauan Riau memiliki potensi wisata alam yang sangat besar dan masih sangat terjaga, khususnya wisata pantai dan bawah laut. Di wilayah pantai utara Kabupaten Bintan terdapat hamparan pantai pasir putih yang cukup luas dengan pemandangan yang sangat indah, tidak kalah dengan pantai di Bali. Hal ini menarik investor dari Singapura untuk membangun kawasan wisata yang terkenal sebagai Kawasan Wisata Lagoi. Hal ini memberikan pendapatan yang cukup besar kepada pemerintah Kabupaten Bintan. Wilayah lainnya di Kepulauan Riau masih perlu dibangun infrastruktur pariwisatanya dan perlu dipromosikan

(20)

71

secara lebih luas. Dengan meningkatnya kontribusi sektor perdagangan, hotel dan restauran khususnya dari sisi pariwisata maka akan mengurangi tingkat disparitas antar wilayah di Provinsi Kepulauan Riau.

Hasil penelitian menunjukan bahwa salah satu faktor yang menurunkan tingkat disparitas adalah kontribusi PDRB sektor angkutan dan komunikasi. Semakin besar kontribusi sektor angkutan di suatu wilayah akan menurunkan tingkat disparitas wilayah secara keseluruhan. Hal ini dapat dipahami mengingat wilayah Provinsi Kepulauan Riau yang didominasi lautan dan wilayah daratannya yang terpisah-pisah kedalam 2.408 pulau memerlukan transportasi untuk menunjang arus barang dan manusia. Ketiadaan sarana angkutan menjadi kendala pembangunan wilayah dan dapat menjadikan suatu wilayah terisolasi. Selain itu semakin jauh suatu wilayah dari pusat pemerintahan maka semakin besar biaya transportasi yang dibutuhkan untuk mengaksesnya. Hal ini menyebabkan tingkat perkembangan wilayah berbeda-beda, dimana wilayah yang sulit diakses karena minimnya sarana transportasi akan semakin tertinggal. Hasil penelitian membuktikan bahwa dengan meningkatkan sarana angkutan, dalam hal ini akan meningkatkan kontribusi PDRB sektor angkutan, maka akan dapat menurunkan tingkat disparitas antar wilayah. Menurut Sjafrizal (2008) upaya untuk mengurangi disparitas adalah dengan menyebarkan pembangunan prasarana perhubungan. Hal ini akan memperlancar proses interaksi antar wilayah dalam hal perdangangan dan mobilitas faktor produksi antar wilayah. Secara lengkap variabel yang digunakan dalam analisis regresi berganda ini dapat dilihat pada Lampiran 3.

Pembangunan di Provinsi Kepulauan Riau yang selama ini masih cenderung ke arah perkotaan, perlu diubah dengan menitik beratkan pembangunan di wilayah hinterland. Penyebaran fasilitas pelayanan publik, fasilitas perekonomian (khususnya sub sektor perikanan, sektor pariwisata dan angkutan), dan fasilitas penunjang lainnya diharapkan dapat mengurangi tingkat disparitas antar wilayah di Provinsi Kepulauan Riau. Rustiadi et al. (2009) menyebutkan upaya untuk mengatasi masalah disparitas pembangunan antar wilayah dapat dilakukan dengan mendorong pemerataan investasi, pemerataan permintaan (demand), dan pemerataan tabungan. Dengan pemerataan investasi baik secara

(21)

72 sektoral maupun secara spasial akan mempengaruhi perkembangan infrastruktur wilayah. Investasi dipengaruhi oleh tingkat tabungan apabila jumlah tabugan suatu wilayah meningkat maka akan mendorong potensi investasi. Untuk bisa menciptakan demand masing-masing produk maka pengembangan industri dan wilayah harus dilakukan secara simultan. Menurut Sjafrizal (2008) pengembangan pusat pertumbuhan (growth poles) secara tersebar dapat mengurangi disparitas pembangunan antar wilayah karena pusat pertumbuhan menganut konsep konsentrasi dan desentralisasi. Aspek konsentrasi diperlukan guna mempertahankan efisiensi dalam rangka penyebaran kegiatan pembangunan. Sedangkan aspek desentralisasi diperlukan untuk menjaga keberimbangan penyebaran kegiatan pembangunan sehingga disparitas pembangunan antar wilayah dapat dikurangi.

Perekonomian suatu wilayah dipengaruhi oleh produktifitas daerah tersebut. Produktifitas suatu daerah dapat dilihat dari besarnya produk yang dihasilkan pada suatu daerah dan dapat menyuplai daerah lainnya. Sedangkan daerah yang kurang produktif umumnya lebih banyak mendatangkan barang dari daerah lain, karena tidak mampu menghasilkan secara mandiri di wilayahnya. Hal tersebut dikarenakan tidak tersedianya sumberdaya yang dibutuhkan untuk menjalankan produksi. Tabel 32 berikut menyajikan besarnya bongkar muat barang melalui pelabuhan di beberapa kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Riau.

Tabel 32. Data Bongkar Muat Barang Menurut Pelabuhan di Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2011

No Kabupaten / Kota Pelabuhan Jumlah Barang (Ton) Bongkar Muat

1 Tanjung Pinang Sri Bintan Pura 582.332 612.907

2 Batam Sekupang 3.292.192 1.224.169

3 Batam Sambu 78.540.226 100.657.692

4 Bintan Tanjung Uban 700.195 1.830.839

5 Bintan Kijang 549.782 1.454.799

6 Karimun Tanjung Balai 50.276.965 39.415.691

7 Karimun Tg Batu 408.698 2.035.681

8 Lingga Dabo Singkep 1.280.039 7.144.148

9 Lingga Senayang 8.148 2.485

10 Kepulauan Anambas Tarempa 21.950 671

(22)

73

Berdasarkan data tersebut diatas, Kota Batam dapat dikategorikan sebagai wilayah yang sangat produktif dimana jumlah barang yang dikirim ke daerah lain, termasuk ke luar negeri, sangat besar mencapai 100.657.692 ton. Kabupaten Lingga mendatangkan lebih banyak barang melalui Pelabuhan Senayang karena daerah Senayang merupakan daerah terisolir sehingga membutuhkan barang dari daerah lainnya. Pelabuhan Tarempa di Kabupaten Kepulauan Anambas sebagai wilayah yang cukup terisolir lebih banyak mendatangkan barang dari pada memproduksinya. Selain itu sumberdaya manusia yang terbatas juga menjadikan wilayah Kepulauan Anambas menjadi daerah yang kurang produktif.

Pelabuhan Sri Bintan Pura di Kota Tanjungpinang melayani distribusi barang ke Tanjung Batu Kabupaten Karimun, dan Senayang serta Dabo Singkep Kabupaten Lingga. Pelabuhan Kijang melayani distribusi barang ke Pelabuhan Tarempa Kabupaten Kepulauan Anambas, dan keluar wilayah Kepulauan Riau yaitu Kalimantan dan Jakarta. Pelabuhan terpenting di Provinsi Kepulauan Riau ialah Sambu dan Sekupang di Kota Batam dan Tanjungbalai di Kabupaten Karimun, karena melayani arus barang dari dan ke luar negeri, khususnya Singapura dan Malaysia. Volume bongkat muat barang yang sangat besar di Pelabuhan Sambu dan Sekupang, menunjukkan aktifitas ekonomi yang sangat besar di Kota Batam, khususnya sektor industri pengolahan yang sebagian besar merupakan barang elektronik dan mesin. Pelabuhan Tanjungbalai Karimun menjadi pusat bongkar muat barang hasil bumi yang umumnya berupa karet dan produk perikanan. Pelabuhan Dabo Singkep melayani bongkar muat barang berupa produk perikanan dan bahan tambang seperti bauksit, timah, batu besi dan granit. Sebagian barang tambang tersebut dikirim ke Pelabuhan Sambu untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan di Kota Batam. Gambar 12 menunjukkan arus barang antar pelabuhan di beberapa kabupaten/kota Provinsi Kepulauan Riau.

Produktifitas suatu wilayah sangat berkaitan dengan disparitas pembangunan antar wilayah. Pemerintah harus berupaya untuk menekan tingkat disparitas antar wilayah tersebut dengan memaksimalkan pemanfaatan potensi lokal khususnya di wilayah yang masih tertinggal. Dengan demikian perekonomian wilayah dapat berkembang dan dapat menekan tingkat disparitas pembangunan antar wilayah.

(23)

74 Gambar 12. Peta Arus Batang Antar Pelabuhan di Provinsi Kepulauan Riau

Sekupang Sambu Tanjung Uban Kijang Tanjung Batu Tanjung Balai Dabo Singkep Senayang Tarempa

Sri Bintan Pura

Dari dan Ke Luar Negeri

Ke Jakarta Ke Kalimantan KARIMUN

BATAM BINTAN

(24)

75

5.6 Prioritas Pembangunan Wilayah Berdasarkan Persepsi Pemangku Kepentingan di Provinsi Kepulauan Riau

Prioritas pembangunan wilayah di Provinsi Kepulauan Riau menurut persepsi para pemangku kebijakan dan pihak-pihak yang terkait dalam proses pembangunan dianalisis dengan menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) sehingga prioritas yang dihasilkan dihasilkan akan bersifat konsisten dengan teori, logis dan transparan. Tujuan utama yang ingin dicapai dari metode AHP ini adalah untuk menjaring persepsi tentang prioritas utama yang perlu dilakukan dalam kebijakan pembangunan wilayah di Provinsi Kepulauan Riau.

Persepsi seluruh pemangku kepentingan pembangunan di Provinsi Kepulauan Riau dalam penentuan prioritas pembangunan menurut indikator kinerja pembangunan disajikan pada Gambar 13.

Persepsi anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau dalam penentuan prioritas pembangunan dari 3 kriteria yang merupakan indikator kinerja pembangunan yang ada, lebih memprioritaskan kriteria infrastruktur wilayah dengan skor

Gambar 13. Persepsi pemangku kepentingan pembangunan dalam penentuan prioritas pembangunan berdasarkan indikator kinerja pembangunan

(25)

76 penilaian 0,730. Persepsi aparat pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dan pengusaha serta tokoh masyarakat menunjukkan hasil yang sama yaitu memprioritaskan infrastruktur wilayah dengan skor masing-masing 0,667 dan 0,766. Hal ini menunjukkan seluruh pemangku kepentingan pembangunan di Provinsi Kepulauan Riau sepakat bahwa pembangunan infrastruktur wilayah merupakan investasi jangka panjang yang ke depannya akan dapat meningkatkan pendapatan wilayah dan kesejahteraan masyarakat.

Persepsi seluruh pemangku kepentingan di Provinsi Kepulauan Riau dalam penentuan prioritas pembangunan sektor unggulan berdasarkan aspek infrastruktur wilayah disajikan pada Gambar 14.

Berdasarkan aspek infrastruktur wilayah yang dipertimbangkan dalam pembangunan di wilayah Provinsi Kepulauan Riau, sektor unggulan yang dipilih anggota DPRD sebagai prioritas pertama adalah sektor kelautan dan perikanan dengan skor penilaian 0,429. Sektor industri menempati prioritas kedua dengan nilai 0,133 kemudian berturut-turut diikuti sektor perdagangan (0,093), pertambangan (0,051) dan angkutan (0,025). Hasil tersebut menunjukkan bahwa

Gambar 14. Persepsi pemangku kepentingan pembangunan dalam penentuan prioritas pembangunan sektor unggulan berdasarkan aspek infrastruktur wilayah

(26)

77

menurut persepsi anggota DPRD berdasarkan aspek infrastruktur wilayah, sektor kelautan dan perikanan dipilih sebagai sektor unggulan karena responden memahami betul besarnya potensi kelautan dan perikanan yang dimiliki Provinsi Kepulauan Riau dan memerlukan dukungan infrastruktur yang optimal untuk pengembangannya.

Tidak jauh berbeda dengan pihak legislatif, persepsi aparatur pemerintah dan pengusaha serta tokoh masyarakat berdasarkan aspek infrastruktur wilayah menempatkan sektor kelautan dan perikanan dengan nilai tertinggi dengan skor penilaian 0,424 dan 0,465. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sektor kelautan dan perikanan dipilih sebagai sektor unggulan mengingat sektor ini masih membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam yang melimpah. Hal ini selaras dengan sasaran yang ingin dicapai oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah 2005-2025.

Persepsi seluruh pemangku kepentingan pembangunan di Provinsi Kepulauan Riau dalam penentuan prioritas pembangunan sektor unggulan berdasarkan aspek pendapatan wilayah disajikan pada Gambar 15.

Gambar 15. Persepsi pemangku kepentingan pembangunan dalam penentuan prioritas sektor unggulan berdasarkan aspek pendapatan wilayah

(27)

78 Berdasarkan aspek pendapatan wilayah, anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau juga memprioritaskan sektor kelautan dan perikanan sebagai sektor unggulan dengan skor penilaian 0,103 kemudian berturut-turut diikuti sektor industri, perdagangan, pertambangan dan angkutan. Demikian juga aparat pemerintah memberi penilaian 0,112 untuk sektor kelautan dan perikanan, dan pengusaha memberikan nilai 0,078. Hasil tersebut menunjukkan bahwa menurut persepsi seluruh pemangku kepentingan pembangunan Provinsi Kepulauan Riau sektor kelautan dan perikanan paling potensial untuk meningkatkan pendapatan wilayah, karena tersebar pada semua kabupaten/kota, sehingga potensi yang ada ini perlu didukung oleh semua pihak.

Persepsi seluruh pemangku kepentingan pembangunan di Provinsi Kepulauan Riau dalam penentuan prioritas pembangunan sektor unggulan berdasarkan aspek kesejahteraan masyarakat disajikan pada Gambar 16.

Gambar 16. Persepsi pemangku kepentingan pembangunan dalam penentuan prioritas sektor unggulan berdasarkan aspek kesejahteraan masyarakat

(28)

79

Berdasarkan aspek kesejahteraan masyarakat, persepsi anggota DPRD menempatkan sektor kelautan dan perikanan sebagai sektor unggulan dengan skor penilaian sebesar 0,047 diikuti sektor industri, perdagangan, pertambangan dan angkutan. Aparatur pemerintah memberikan penilaian untuk sektor kelautan dan perikanan dengan skor penilaian sebesar 0,067. Sedangkan menurut persepsi pengusaha dan tokoh masyarakat di Provinsi Kepulauan Riau juga menempatkan sektor kelautan dan perikanan sebagai sektor unggulan dengan skor penilaian sebesar 0,039. Hasil tersebut menunjukkan bahwa menurut persepsi seluruh pemangku kepentingan pembangunan Provinsi Kepulauan Riau, sektor kelautan dan perikanan dengan dukungan infrastruktur yang baik, akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Penyediaan infrastruktur yang memadai, penyiapan sumberdaya manusia yang berkualitas dan politicall will yang kuat dari pemerintah akan menarik investor untuk memanfaatkan potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar ini. Hal ini akan membuka lapangan pekerjaan yang sangat luas dan dapat menyerap tenaga kerja bukan hanya dari penduduk Kepulauan Riau bahkan mungkin dari wilayah lain di Indonesia. Sesuai dengan misi Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah 2005-2025, yang diantaranya adalah Mewujudkan Provinsi Kepulauan Riau sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional dalam bidang industri pengolahan, perikanan dan kelautan serta pariwisata, maka pembangunan yang berorientasi kelautan merupakan pilihan yang bijak karena potensi terbesar Provinsi Kepulauan Riau adalah wilayah laut dengan segala isinya. Dukungan seluruh pemangku kepentingan pembangunan untuk memajukan sektor kelautan dan perikanan baik dari aspek pembangunan infrastruktur wilayah diharapkan akan meningkatkan pendapatan wilayah dan kesejahteraan masyarakat.

5.7. Arahan Kebijakan Pembangunan Wilayah di Provinsi Kepulauan Riau

Salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian dalam pelaksanaan pembangunan daerah adalah aspek ekonomi, seperti yang dijelaskan oleh Arsyad (1999) bahwa pembangunan ekonomi daerah merupakan proses dimana

(29)

80 pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumber daya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi dalam wilayah tersebut. Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Kepulauan Riau (2005-2025), terdapat sasaran pokok yaitu “Meningkatnya daya saing daerah agar mampu melaksanakan pembangunan dalam perekonomian nasional dan global khusus dalam bidang industri pengolahan, perikanan dan kelautan serta pariwisata” ditandai dengan hal-hal berikut:

1. Terbangunnya sistem perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif di seluruh daerah. Terwujudnya sektor pertanian dalam arti luas khususnya sub sektor perikanan, kelautan, pariwisata serta industri sebagai sektor unggulan daerah dan menjadi basis aktivitas ekonomi. Terwujudnya pengelolaan yang efisien dan profesional dari potensi sektor unggulan sehingga menghasilkan produk unggulan daerah yang berkualitas dan dapat diandalkan.

2. Terwujudnya Kepulauan Riau sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional khususnya di bagian Barat Indonesia, dengan keunggulan bidang industri, perikanan, kelautan dan pariwisata. Tumbuh dan berkembangnya pusat ekonomi baru di wilayah Kepulauan Riau dengan sektor unggulan yang sesuai dengan potensi dan mampu mendorong sektor lain dalam memberikan pelayanan lebih baik dan berdaya saing.

3. Terkelolanya potensi wilayah terutama aspek kemaritiman sebagai modal dasar pembangunan daerah dan mendukung pembangunan nasional. Termanfaatkannya sumber daya alam baik kelautan, perikanan, pariwisata dan pertambangan maupun sumber daya lainnya bagi pendorong ekonomi masyarakat dan ekonomi daerah dan nasional. Tersedianya infrastruktur dasar utama bagi pengembangan maritim baik industri pengolahan, kelautan, perikanan, pertambangan maupun pariwisata. Meningkatnya peran sektor unggulan dalam perekonomian daerah dan menjadi lokomotif utama dalam menggerakkan ekonomi daerah.

(30)

81

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, berdasarkan sasaran pokok pembangunan tersebut, menginginkan terbangunnya sistem perekonomian yang kokoh dengan mengandalkan potensi daerah yang ada. Sektor pertanian dengan sub sektor perikanan sebagai ujung tombaknya diharapkan menjadi basis aktivitas ekonomi mengingat potensinya yang luar biasa besar dimana wilayah laut mencakup 98,05 % dari total luas wilayah Provinsi Kepulauan Riau.

Selain faktor potensi alam yang tersedia, ketersediaan jumlah tenaga kerja yang mendominasi sektor perikanan, industri pengolahan, perdagangan, dan sektor angkutan patut dipertimbangkan oleh pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan dan lebih memfokuskan pengembangan terhadap sektor-sektor tersebut sebagai arahan alternatif khususnya di wilayah kabupaten. Prioritas pembangunan sektor perekonomian di Provinsi Kepulauan Riau berdasarkan matriks sektor unggulan, dan entropi serta dukungan ketersediaan tenaga kerja di berbagai sektor dapat dilihat pada Tabel 33.

Tabel 33. Prioritas pembangunan sektor perekonomian di Provinsi Kepulauan Riau Kabupaten / Kota Sektor Perekonomian

Prioritas 1 Prioritas 2

Batam

1. Industri pengolahan,

2. Perdagangan, hotel, restauran 3. Bangunan,

1. Listrik & Gas, 2. Keuangan 3. Jasa

Bintan Industri Pengolahan, Pertambangan

Tanjungpinang Perdagangan, hotel, restauran

1. Bangunan 2. Angkutan 3. Keuangan

Karimun Pertanian sub sektor perikanan

1. Perdagangan, hotel, restauran 2. Angkutan

3. Keuangan 4. Jasa

Natuna Pertanian sub sektor perikanan -

Lingga Pertanian sub sektor perikanan

1. Angkutan 2. Keuangan 3. Jasa

Kepulauan Anambas Pertambangan

1. Pertanian sub sektor perikanan 2. Perdagangan, hotel, restauran 3. Angkutan

Sektor industri pengolahan yang sudah berkembang pesat khususnya di Kota Batam harus dipertahankan dan terus dikembangkan di kabupaten/kota lainnya. Sektor perdagangan, hotel dan restauran yang merangkum aktivitas pariwisata juga diunggulkan sebagai sektor perekonomian yang dapat menjadi basis aktivitas mengingat besarnya potensi wisata di Kepulauan Riau mulai dari

(31)

82 keindahan alam pantai dan alam bawah lautnya, sampai wisata sejarah sebagai wilayah bekas peninggalan Kerajaan Riau Lingga yang menjadi cikal bakal kerajaan-kerajaan di Malaysia sekarang ini. Potensi mineral, gas dan minyak di Provinsi Kepulauan Riau juga menjadi andalan untuk meningkatkan perekonomian, walaupun membutuhkan sumberdaya manusia berkualifikasi tinggi dan teknologi canggih yang cukup mahal. Pemerintah perlu mempersiapkan sumberdaya manusia dengan lebih baik untuk menjadikan sektor pertambangan membawa kemajuan bagi wilayah Kepulauan Riau, mengingat selama ini yang lebih banyak menikmati hasil dari sektor ini adalah SDM dari luar daerah.

Sektor perikanan, perindustrian, pariwisata dan pertambangan mensyaratkan dukungan yang sangat baik dari Sektor angkutan mengingat wilayah Kepulauan Riau yang dipisahkan oleh lautan. Sektor angkutan yang terkelola dengan baik akan meningkatkan efisiensi sektor-sektor lainnya, sehingga produktifitasnya juga semakin meningkat.

Berdasarkan hasil analisis sektor unggulan, tingkat perkembangan wilayah dan disparitas antar wilayah sebelumnya, menunjukkan bahwa semakin meningkatnya aktivitas perekonomian dapat mengurangi tingkat disparitas antar wilayah di Provinsi Kepulauan Riau. Sektor pertanian dengan sub sektor perikanan yang berada di semua wilayah kabupaten, dianggap berperan penting dalam mengurangi disparitas antar wilayah. Khusus untuk Kabupaten Kepulauan Anambas sektor pertambangan sangat berperan penting dalam meningkatkan tingkat dispritas antar wilayah. Pembangunan infrastruktur yang terkait dengan perikanan hendaknya lebih dioptimalkan, seperti pembangunan pelabuhan, tempat pendaratan ikan, tempat pelelangan ikan dan pabrik-pabrik pengolahan ikan, bertujuan meningkatkan produksi dan mobilisasi produk-produk perikanan dari hulu ke hilir. Hal ini diperkuat hasil analisis AHP dimana diketahui segenap pihak yang terlibat dalam pembangunan di Provinsi Kepulauan Riau sepakat untuk memprioritaskan sektor kelautan dan perikanan dalam kegiatan pembangunan khususnya dari segi penyediaan infrastruktur.

Keterkaitan antar sektor perekonomian unggulan di Provinsi Kepulauan Riau bila dilihat dari besaran nilai entropinya maka peranan sektor unggulan sangat diperlukan mengingat pentingnya peranan sektor-sektor tersebut terhadap

(32)

83

sektor lainnya sebagai penggerak terhadap penyebaran aktivitas yang semakin beragam. Perumusan suatu kebijakan dihasilkan dari analisis berbagai alternatif sehingga diperoleh alternatif terbaik berdasarkan masalah, kebutuhan atau adanya aspirasi tertentu. Kebijakan merupakan suatu produk yang dipandang sebagai suatu kumpulan rekomendasi dan sebagai suatu proses.

Sebagaimana tercantum dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kepulauan Riau 2008-2028 yang bertujuan untuk “Mewujudkan pemerataan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup dan keserasian tata ruang Provinsi Kepulauan Riau sebagai wilayah kepulauan” maka ditetapkan kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah provinsi yang meliputi:

1. Pengembangan Keterpaduan Sistem Perkotaan

a. Memantapkan dan meningkatkan fungsi pusat-pusat kegiatan nasional (PKN) dan wilayah (PKW);

b. Mengembangkan pusat-pusat kegiatan lokal (PKL) dan sentra-sentra produksi;

c. Mendorong pengembangan kawasan perkotaan di wilayah perbatasan; d. Membina keterkaitan antara pusat kegiatan dengan wilayah hinterland.

2. Mendorong Terbentuknya Aksesibilitas Jaringan Transportasi Kepulauan

a. Pengembangan jaringan jalan secara hirarkis yang menghubungkan antar pusat-pusat kegiatan pelayanan perkotaan dan antara pusat-pusat kegiatan dengan masing-masing wilayah pelayanan;

b. Integrasi sistem intermoda dan perpindahan antar moda dan di seluruh wilayah kepulauan;

c. Pengembangan rute-rute pelayanan moda transportasi publik menjangkau seluruh wilayah kepulauan sesuai dengan intensitas aktivitas;

d. Pengembangan dan peningkatan kualitas layanan terminal umum, bandar udara dan pelabuhan sebagai simpul transportasi;

e. Pembangunan jembatan penghubung antar pulau dengan pertimbangan kondisi fisik dan jarak perairan.

(33)

84

3. Pengembangan Sistem Jaringan Prasarana Wilayah

a. Pengembangan sistem jaringan listrik dan energi alternatif; b. Pengembangan sistem jaringan telekomunikasi;

c. Pengembangan sistem jaringan sumber daya air; d. Pengembangan sistem jaringan air bersih; e. Pengembangan sistem jaringan air cair;

f. Pengembangan sistem Pengelolaan Sampah dan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja;

g. Pengembangan sistem jaringan drainase;

h. Pengembangan sistem Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun Terpadu.

4. Pemanfaatan Potensi Sumberdaya Alam Guna Mendorong Pengembangan Ekonomi Wilayah

a. Pengembangan potensi sektor kelautan dan perikanan;

b. Pengembangan potensi sektor pertambangan mineral dan migas dengan memperhatikan daya dukung lingkungan;

c. Mengembangkan kegiatan sektor unggulan di wilayah sentra produksi; d. Mengembangkan pusat-pusat tujuan wisata dan kawasan pariwisata

berbasis keunikan budaya, alam, dan MICE (Meeting, Incentive, Conferrence, and Exhibition).

5. Mengembangkan Zona dan Kawasan Industri Berdaya Saing Global

a. Mengembangkan klaster industri berbasis produk unggulan dan kompetensi inti daerah;

b. Menyiapkan sarana penunjang kegiatan industri;

c. Mendorong kegiatan industri pengolahan komoditi unggulan di sentra-sentra produksi.

6. Mendorong Pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan, dan Karimun

a. Pengembangan sarana dan prasarana pendukung kegiatan-kegiatan di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas;

(34)

85

b. Mempersiapkan daerah-daerah di luar Kawasan Batam, Bintan, dan Karimun dalam menunjang kegiatan-kegiatan di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas;

c. Membina, mengawasi, dan mengkoordinasikan pengelolaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas.

7. Memelihara Kelestarian Wilayah Kepulauan

a. Menetapkan kawasan lindung seluas minimal 30% dari luas pulau sesuai dengan karakteristik pulau;

b. Mengembalikan fungsi kawasan lindung dalam rangka memelihara keseimbangan ekosistem;

c. Mempertahankan dan melestarikan kawasan hutan mangrove;

d. Menetapkan dan mempertahankan kelestarian sumberdaya dan keanekaragaman ekosistem kelautan;

e. Meningkatkan pengawasan dan pengendalian wilayah konservasi;

f. Membuat Kajian Lingkungan Hidup Strategis untuk memastikan prinsip pembangunan berkelanjutan menjadi dasar dalam pembangunan wilayah.

Provinsi Kepulauan Riau yang memiliki kondisi geografi yang spesifik dimana sebagian luas wilayah terdiri dari lautan sehingga menjadikan potensi kelautan yang besar. Potensi perikanan tangkap di Provinsi Kepulauan Riau lebih besar jika dibandingkan dengan potensi perikanan budidaya. Oleh karena itu diperlukan usaha-usaha untuk penganekaragaman jenis usaha di bidang perikanan, agar tidak hanya tergantung pada usaha perikanan tangkap dan perikanan budidaya saja. Sehingga diharapkan dapat membantu di dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menyediakan lapangan usaha dan peningkatan perolehan pendapatan daerah.

Ketersediaan lahan budidaya eksisting dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kepulauan Riau 2008-2028 yang dimiliki kabupaten – kabupaten sebagai hinterland Kota Batam dan Tanjungpinang relatif memiliki kapasitas yang mampu memberikan kontribusi terhadap menurunnya tingkat disparitas di Provinsi Kepulauan Riau. Potensi lahan budidaya khususnya di daerah pesisir yang dapat menunjang Sektor Perikanan dan Kelautan (Tabel 34)

(35)

86 memerlukan prioritas dalam pelaksanaan pembangunan di Provinsi Kepulauan Riau yang berbasis sektor-sektor unggulan yang dimiliki provinsi tersebut. Hanya saja potensi lahan budidaya yang tercantum dalam Pola Ruang RTRW Provinsi Kepulauan Riau 2008-2028 ini masih terbatas di wilayah daratan saja yang luasnya hanya 1,95 % dari total luas wilayah Kepulauan Riau sehingga luas areal potensial untuk kawasan budidaya perikanan lebih kecil dibanding sektor lainnya. Apabila wilayah laut diperhitungkan dalam pola ruang ini maka potensi lahan budidaya perikanan jauh lebih besar.

Tabel 34. Luasan areal rencana pola ruang di Provinsi Kepulauan Riau berdasarkan RTRW Provinsi Kepulauan Riau tahun 2008-2028

No. Rencana Pola Ruang Luas (ha) Karimun Bintan dan Tanjung pinang

Natuna Lingga Anambas Batam Total KAWASAN LINDUNG 1 Kawasan Suaka Alam - - - 2.955,21 2.955,21 2 Hutan Lindung 5.895,25 7.270,48 11.966,43 27.631,01 1.315,61 9.609,28 63.688,06 3 Kawasan Lindung Lainnya 13.745,93 11.313,97 11.117,34 7.143,51 23.125,13 26.833,06 93.278,94 KAWASAN BUDIDAYA 1 Hutan Produksi 12.159,61 22.980,28 46.180,59 43.878,34 13.678,93 - 138.877,75 2 Pertanian 16.082,19 33.017,11 23.129,44 36.739,23 745,12 14.578,97 124.292,06 3 Perkebunan 14.965,86 9.477,81 38.552,35 65.732,53 14.645,91 - 143.374,46 4 Perikanan Darat 2.136,43 3.215,89 2.184,94 3.695,03 2.403,33 643,42 11.063,15 5 Pariwisata 2.384,78 25.553,21 3.050,25 8.105,89 2.732,42 8.334,97 50.161,51 6 Industri 13.745,93 9.708,90 2.518,29 3.813,07 1.545,37 8.484,81 39.816,36 7 Pemukiman 11.263,50 12.257,08 36.786,55 24.538,40 3.921,69 23.422,51 112.189,74 8 Kawasan Lainnya 4.553,20 15.560,77 21.261,21 3,15 273,81 4.111,46 45.763,59 Sumber: Bappeda Provinsi Kepulauan Riau (2008)

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau perlu memperhitungkan potensi wilayah laut yang sangat besar dalam penyusunan RTRW ke depan, karena aktifitas perekonomian wilayah juga didasarkan pada pemahaman seberapa besar lahan yang dapat dimanfaatkan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Dengan demikian pemerintah juga dapat mempromosikan wilayahnya untuk menarik investor memanfaatkan potensi kelautan dan perikanan yang ada. Dengan payung hukum yang jelas ditambah penyediaan infrastruktur yang memadai, akan menarik minat para pelaku usaha untuk berinvestasi di wilayah

(36)

87

Kepulauan Riau sehingga membuka banyak lapangan pekerjaan dan menyerap tenaga kerja. Pada gilirannya perekonomian akan meningkat sehingga juga meningkatkan pendapat wilayah dan kesejahteraan masyarakat.

Untuk menunjang perekonomian pada sektor kelautan dan perikanan, diperlukan sarana penunjang perikanan yang memadai yang terdiri dari sarana penunjang kegiatan perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Potensi keanekaragaman ekosistem laut dapat dilihat dari luas laut dan pulau-pulau kecil yang terhampar dapat menjadikan Provinsi Kepulauan Riau memiliki potensi keindahan alam yang unik. Selain dari potensi kelautan, wilayah Kepulauan Riau memiliki potensi daerah pesisir yang harus dikelola dan dilindungi, berupa estuaria, mangrove, padang lamun, terumbu karang, dan pantai pasir, yang tersebar hampir di seluruh kabupaten/kota.

Selain itu dalam rangka peningkatan nilai sumberdaya kelautan, maka perlu dikembangkan kawasan-kawasan industri yang dapat mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi maupun barang jadi yang siap pakai, baik untuk kebutuhan domestik maupun untuk diekspor. Kawasan industri yang terkait dengan pengolahan sumberdaya kelautan secara umum terletak tidak jauh dari lokasi sumberdaya bahan bakunya, sehingga pengembangan kegiatan industri akan memanfaatkan ruang di sekitar kawasan pesisir. Selain industri yang berorientasi pada sumberdaya kelautan, terdapat juga industri-industri yang mengambil manfaat dari kedekatannya dan keterbatasan ruang di Singapura. Industri-industri ini juga cenderung akan berkembang di daerah pesisir untuk mempermudah akses transportasi laut. Dengan demikian pengembangan kegiatan industri ini secara tidak langsung akan mempengaruhi pemanfaatan ruang laut di Provinsi Kepulauan Riau. Untuk selanjutnya, pengaturan mengenai pemanfaatan ruang laut, pesisir dan pulau-pulau kecil perlu diatur melalui peraturan daerah tersendiri, yang akan mengatur secara teknis termasuk diantaranya aturan zonasi bagi masing-masing kawasan.

Gambar

Tabel 22.  Nilai LQ aktivitas perekonomian per sektor tiap Kabupaten/kota di Provinsi                     Kepulauan Riau tahun 2010
Tabel 23. Identifikasi sektor basis di Provinsi Kepulauan Riau
Tabel 24. Hasil Shift Share Analysis dari data PDRB atas dasar harga berlaku di                    Provinsi Kepulauan Riau tahun 2006 dan 2010
Tabel 25. Kontribusi sektor-sektor PDRB atas dasar harga berlaku per Kabupaten/Kota di       Provinsi Kepulauan Riau tahun 2010
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan wawancara dapat diketahui bahwa seluruh kepala sekolah SMAN se-kota Singkawang mengecek buku absen yang di pegang oleh guru khusus nya kelas X,

Upaya meningkatkan pengetahuan ibu-ibu PKK dalam berswamedikasi dengan tanaman obat, adalah dengan melakukan pembinaan terhadap ibu-ibu PKK dari RW 06 dan 07 Desa

mendefinisikan PPOK adalah penyakit paru yang dapat dicegah dan diobati, ditandai oleh hambatan aliran udara yang tidak sepenuhnya reversibel, bersifat progresif

Dalam kredit bermasalah dapat dikatakan bahwa pihak debitur melakukan wanprestasi, karena pembayaran atau pelunasan kredit yang bermasalah berarti tidak sesuai atau sejalan

teratasi masalah kesehatan yang lain. Pada saat orang sakit atau. anaknya sakit, ada beberapa tindakan atau perilaku yang

Senyawa asam 3-okso-24-sikloarten-21-oat yang dapat menghambat pertumbuhan tumor kulit pada aktivasi virus Epstein Barr telah diisolasi dari daun duku (Nishizawa

Maka dari pemaparan latar belakang permasalahan tersebut akan dilakukan penelitan lebih dalam lagi mengenai prosedur maupun tata cara dalam mengeksekusi suatu

Setelah membaca novel Cinta di Ujung Sajadah, banyak hal yang menarik untuk dikaji dengan alasan, karena konteks memegang peranan penting dalam suatu wacana