STUDI KEBIJAKAN PANGAN HALAL DI INDONESIA Oleh: Rikza Saifullah F24102078 2008
DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
Rikza Saifullah. F24102078. Studi Kebijakan Pangan Halal di Indonesia. Di bawah bimbingan Dede R. Adawiyah dan Darwin Kadarisman. (2008).
RINGKASAN
Perkembangan pembangunan di Indonesia telah membawa dampak yang cukup berarti bagi masyarakat. Salah satunya adalah perubahan pola hidup dan cara pandang masyarakat terutama dalam hal konsumsi makanan dan minuman. Sebagai negeri dengan penduduk muslim terbesar, sangat wajar jika pangan halal menjadi isu yang cukup menarik untuk dikaji dan diperbincangkan. Berbagai usaha penanganan telah dilakukan oleh beberapa instansi terkait. Namun perlu diakui bahwa proses penanganan halal ini masih menemukan beberapa kendala dan tantangan kedepan. Untuk itu perlu adanya penyikapan oleh semua pihak yang berkepentingan baik dari kalangan dunia usaha pangan maupun mereka yang bergerak dalam tataran pengambilan kebijakan.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi potensi dan efektivitas kebijakan pangan halal nasional, mengidentifikasi dan menginventarisasi jenis-jenis faktor pendukung kebijakan pangan halal nasional berikut tingkat kepentingannya, dan menetukan prioritas kebijakan penanganan kehalalan pangan di Indonesia. Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi dan masukan oleh
stakeholder kebijakan pangan dalam menyusun prioritas dan menunjang implementasi
kebijakan pangan halal nasional.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai Juli 2008 di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia khususnya kota Bogor dan Jakarta tempat domisili responden yaitu YLKI, Jakarta; LPPOM MUI, Bogor; Badan POM, Jakarta; Departemen Perdagangan RI, Jakarta; Departemen Pertanian RI, Jakarta; DPR RI, Jakarta; Departemen Agama RI, Jakarta dan Institut Pertanian Bogor, Bogor. Metode penelitian ini adalah survei. Data diambil melalui interview kepada responden ahli yang dianggap pakar kebijakan pangan halal. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis pengambilan keputusan metode AHP menurut Saaty (1986).
Kondisi kebijakan penanganan kehalalan pangan nasional diidentifikasi berdasarkan isu strategis dan efektivitas penerapan kebijakan sertifikasi halal terhadap produk pangan. Setelah berjalan lebih dari 10 tahun, efektivitas kebijakan masih tergolong rendah yaitu 0.07 % perusahaan tersetifikasi halal dari jumlah total perusahaan yang ada. Berdasarkan isu strategis dan efektivitas kebijakan yang ada, disusun hierarki yaitu fokus utama, tujuan penerapan kebijakan, aktor dan subaktor kebijakan, dan alternatif kebijakan. Hasil analisis menunjukkan bahwa munculnya kesadaran produsen (industri pangan) untuk memberikan jamiman halal terhadap produknya adalah prioritas utama tujuan diterapkannya kebijakan pangan halal, pemerintah adalah aktor utama, dan penerapan kebijakan pangan halal (sertifikasi) yang difasilitasi oleh pemerintah sehingga menyentuh semua level industri pangan (terutama UMKM).
STUDI KEBIJAKAN PANGAN HALAL DI INDONESIA Oleh: Rikza Saifullah F24102078 SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Pada departemen Ilmu dan Teknologi Pangan
Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor
2008
DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
STUDI KEBIJAKAN PANGAN HALAL DI INDONESIA
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperolah gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Pada Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan
Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor
Oleh :
RIKZA SAIFULLAH F 24102078
Dilahirkan di Jombang pada tanggal 4 Januari 1983 Tanggal lulus : September 2008
Menyetujui, Bogor, September 2008
Dr. Ir. Dede R. Adawiyah, MSi. Ir. Darwin Kadarisman, MS
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
Mengetahui,
Dr. Ir. Dahrul Syah, MSc
RIWAYAT HIDUP
A. DATA DIRI
Nama : Rikza Saifullah
Tempat, Tanggal lahir : Jombang, 4 Januari 1983
B. PENDIDIKAN
1990, I SDN Pulorejo II, di Jombang 1996, I SLTPN I Ngoro, di Jombang 1999, I SMUN I Jombang, di Jombang
C. ORGANISASI EKSTRAKURIKULER
No ORGANISASI TEMPAT TAHUN JABATAN
1
Lembaga Dakwah Kampus Badan Kerohanian Islam Mahasiswa IPB IPB, Bogor 2004 Kepala Biro Lembaga Dakwah Kampus 2
Lembaga Dakwah Kampus Badan Kerohanian Islam Mahasiswa IPB
IPB, Bogor 2004-2005 Ketua Harian Eksternal
3
Lembaga Dakwah Kampus Badan Kerohanian Islam Mahasiswa IPB
IPB, Bogor 2005-2006 Ketua Umum
4
Pusat Komunikasi Daerah Forum Silaturrahim
Lembaga Dakwah Kampus
Priangan
Barat 2004-2006 Ketua
5 Badan Koordinasi Lembaga
Dakwah Kampus Nasional 2006-2008
Koordinator Nasional
6
Gerakan Pemuda Anti Narkoba Kementrian Pemuda dan Olahraga RI
Jakarta 2006 Anggota
Presidium
7 Gerakan Mahasiswa
D. KEPANITIAAN
No ORGANISASI JABATAN SKALA
1 Masa Penerimaan Anggota
Baru LDK BKIM 2004 Ketua Panitia IPB
2 Simposium Nasional
Lembaga Dakwah Kampus Panitia Pengarah Nasional 3 Simposium Nasional
Pendidikan Indonesia Panitia Pengarah Nasional 4 Muhibah Nusantara Pesantren
Sukses Ketua Panitia Nasional
5
Bedah Buku dan Diskusi ”Selamatkan Indonesia dari Cengkeraman Kapitalisme: Saatnya Dunia Berubah”
Panitia Pengarah IPB
6
Diskusi Nasional ”IPB: Towards World Class University”
Sie. Acara Nasional
E. KURSUS, PELATIHAN, SEMINAR
No ORGANISASI JABATAN SKALA
1 Motivation Achievement
Leadership Training Bogor, 2002 IPB
2
Seminar Nasional
Bioteknologi dalam Tinjauan Islam
Bogor, 2002 Nasional
3 Manajemen and Leadership
Training I Bogor, 2003 IPB
4
Training Standarisasi Pembinaan Manajerial Nasional Badan Koordinasi Lembaga dakwah Kampus
Gresik, 2004 Nasional
5 Pelatihan: Good Laboratory
Practices Bogor, 2005 Jurusan
Dakwah Kampus Nasional XII
7 Lokakarya Pemuda Bersih
Narkoba “Pantas Juara” Jakarta, 2006 Nasional
8
Seminar: World Class
Education for Best Generation
Bogor, 2007 Nasional
9 Bedah Buku ” Saatnya Dunia
Berubah” Bogor, 2008 IPB
10 Training Inspiring Love Bogor, 2008 IPB
11
Forum Kajian Manajemen PPM ”The Leadership of
Excellence”
Jakarta, 2008 Nasional
12
Forum Kajian Manajemen PPM ”Public Relation
Genius”
KATA PENGANTAR
Lantunan puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan bagi Allah SWT, atas segala kenikmatan, kasih sayang dan pertolongan yang di berikanNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Shalawat serta salam semoga tetap tertuju kepada kekasih dan teladan kita Rasulullah Muhammad SAW., juga kepada keluarganya yang beriman, para sahabat, dan para pengikutnya yang senantiasa istiqomah di jalan-Nya hingga hari kiamat.
Skripsi yang berjudul “Studi Kebijakan Pangan Halal di Indonesia” merupakan tugas akhir yang dibuat untuk menyelesaikan pendidikan sarjana di Institut Pertanian Bogor.
Tidak lupa pula pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Dede R. Adawiyah, Ir, MSi, Dr. selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah dengan sabar meluangkan waktu dan perhatian untuk memberikan bimbingan dan arahannya selama penulis melakukan studi, 2. Bapak Ir. Darwin Kadarisman, MS, selaku Dosen Pembimbing II yang
telah memberikan bimbingan dan arahannya yang berguna selama penulis melaksanakan tugas akhir,
3. Ayah, Ummi, mba Ida, mas Anang, adik Adi, adik Imas yang selalu memberikan doa dan semangat kepada penulis,
4. Mas Basith, Ustadz Epi Taufik, Ustadz Abu Faqih, Ustadz Al Khaththat, Ustadz Agung Wisnu, Ustadz Ismail Yusanto, Mas Amir M., Mas Elvin, Mas Fibri Aris, Kang Asep yang telah memberikan banyak ilmu kepada penulis,
5. Rekan-rekan seperjuangan di LDK BKIM IPB, BKLDK, FSLDK, HTI, Formasi 39, ex Markaz Jundullah, Wisma Al Quds atas inspirasinya, 6. Teman-teman ITP Angkatan 39 yang telah membantu dan memberikan
pengalaman yang mengesankan selama ini.
7. Rekan-rekan di SEM Institute Jakarta dan tim beSMART (+) Plus Training (Frida, Indah, Pipit, Rahmawati),
8. Semua pihak yang telah membantu penulis selama melaksanakan tugas akhir dan penyusunan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan dan kelemahan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun. Dengan senantiasa memohon ampunan kepada Allah SWT, dari segala kesalahan dan kelalaian. Semoga hasil penelitian dalam bentuk skripsi ini dapat bermanfaat bagi yang semua pihak yang memerlukan dikemudian hari.
Bogor, September 2008
DAFTAR ISI
RIWAYAT HIDUP...i
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ...vi
DAFTAR TABEL ...viii
DAFTAR GAMBAR ... ix DAFTAR LAMPIRAN ... x
PENDAHULUAN
Latar Belakang ... 1 Tujuan Penelitian ... 3 Kegunaan Penelitian ... 3TINJAUAN PUSTAKA
Pangan... 4 Halal... 4Produk Hukum Tentang Pangan Halal... 6
Sistem Jaminan Halal... 10
Proses dan Kerangka dalam Analilsis Kebijakan...11
Proses Hierarki Analisis......12
METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian ... 15
Desain Penelitian ... 15Tahapan Penelitian ... 17
Pengumpulan Data... 17
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Kebijakan Pangan Halal Saat Ini... 24
Perumusan Prioritas Kebijakan Penanganan Kehalalan Pangan ………...…….. 27
Tujuan Penerapan Kebijakan Penanganan Kehalalan Pangan... 27
Aktor Penerapan Kebijakan Penanganan Kehalalan Pangan... 30
Alternatif Kebijakan Penanganan Kehalalan Pangan... 32
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 38
Saran ... 39
DAFTAR PUSTAKA ………..……….…….. 40
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Skala komparasi berpasangan………... 23 Tabel 2. Isu strategis tentang kondisi penanganan kehalalan pangan 24 Tabel 3. Jumlah industri pangan tahun 2004-2006...……. 25 Tabel 4. Faktor berpengaruh dan isu strategis tentang penanganankehalalan pangan di Indonesia... 26 Tabel 5. Nilai prioritas elemen tujuan penerapan kebijakan…...…… 27 Tabel 6. Nilai prioritas elemen aktor kebijakan penanganan
kehalalan pangan.………... 31 Tabel 7. Nilai prioritas elemen alternatif kebijakan penanganan
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Bagan pendekatan penentuan alternatif dan prioritas kebijakan penanganan kehalalan pangan dengan teknik
AHP ...……….…………... 16 Gambar 2. Bagan tahapan penelitian...……….………. 17 Gambar 3. Struktur Hierarki Pemilihan Kebijakan Penanganan
Kehalalan Pangan. ……...…... 21 Gambar 4. Rangkuman prioritas pemilihan kebijakan penanganan
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Nilai Prioritas Kombinasi Seluruh Responden (Treeview) 42
Lampiran 2. Nilai Prioritas Kombinasi Seluruh Responden... 43
Lampiran 3. Nilai Prioritas Strategi Reponden………... 45
Lampiran 4. Rekapitulasi Hasil Isu Strategis………... 49
Lampiran 5. Rekapitulasi Hasil Open question Kebijakan Pangan Halal... 51
Lampiran 6. Daftar Responden………...………... 57
Lampiran 7. Discussion Guide Penggalian Isu Startegis………... 58
I. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perkembangan pembangunan di Indonesia telah membawa dampak yang berarti bagi masyarakat. Seiring dengan itu, adanya perubahan dalam hal kesejahteraan masyarakat baik yang mengalami peningkatan maupun penurunan telah memberikan dampak juga terhadap perubahan gaya hidup dan cara pandang masyarakat terutama dalam hal konsumsi makanan dan minuman. Perubahan gaya hidup dan cara pandang masyarakat terutama dalam hal konsumsi makanan dan minuman ini mau tidak mau harus disikapi oleh semua pihak yang berkepentingan baik dari kalangan dunia usaha pangan maupun mereka yang bergerak dalam tataran pengambilan kebijakan.
Sebagai negeri dengan penduduk muslim terbesar yaitu 193.600.000 dari total jumlah penduduk 220 juta jiwa atau 88 % (BPS,2007) sangatlah wajar jika pangan halal menjadi isu yang cukup menarik untuk dikaji dan diperbincangkan. Hal ini dikarenakan semakin pesatnya perkembangan teknologi pangan terutama agroindustri pangan olahan yang mengakibatkan penggunaan ingredient dalam pengolahan pangan menjadi sangat bervariasi. Perkembangan penggunaan
ingredient ini didorong oleh kebutuhan akan ingredient dengan sifat-sifat tertentu
yang diinginkan dengan harga yang murah. Masalah yang kemudian timbul adalah banyaknya ingredient pangan baik bahan baku utama maupun bahan aditifnya yang sulit ditentukan kehalalan asal bahan pembuatnya. Padahal, kejelasan suatu informasi suatu produk pangan sangat penting agar konsumen mengetahui produk yang dikonsumsi tersebut adalah produk yang halal atau tidak jelas ketentuan hukumnya (Apriyantono, 2005).
Disamping itu, dalam Al Quran yang merupakan pedoman utama umat islam, Allah telah memberikan rambu-rambu yang jelas tentang perintah makanan. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah 168, “Hai manusia, makanlah
segala sesuatu yang ada di bumi ini yang halal dan baik dan jangan kamu mengikuti jejak setan karena sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”.
Serta di dalam Surat Al-Maidah ayat 88 Allah SWT menyatakan bahwa ”Dan
kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya”. Hal
ini mengungkapkan bahwa seseorang hendaknya mengkonsumsi makanan yang halal serta baik kandungan gizinya.
Dalam konteks pangan halal ini, tentu kita tidak dapat melepaskan diri dari peranan beberapa lembaga dan instansi yang secara khusus bergerak di bidang pengawasan pangan seperti Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (Badan POM) dan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI). Badan POM maupun LPPOM MUI sejak awal berdiri hingga sekarang telah banyak melakukan kegiatan sosialisasi berupa seminar dan studi lapang. Mulai dari Seminar Perlindungan dan Keamanan Pangan (1 Desember 1989), Seminar Pemanfaatan Produk Bioteknologi untuk menunjang Produksi Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (12 September 1991), Seminar Makanan dan Labelisasi Halal serta Mudzakarah Alkohol dalam Produk Minuman. Audit halal dan pengawasan terhadap produk-produk pangan serta penerapan Sistem Jaminan Halal pada industri pangan. Bahkan hingga Maret 2007 LP POM MUI telah mengeluarkan dan menerbitkan lebih dari 3742 sertifikasi halal untuk 10000 produk yang beredar di pasaran (Girindra, 2008).
Namun perlu diakui bahwa proses penanganan halal ini masih menemukan beberapa kendala dan tantangan kedepan seperti kejelasan arah kebijakan halal yang ditetapkan, ketersediaan akses terhadap kebijakan yang diterapkan bagi kalangan dunia usaha, tugas dan wewenang setiap stakeholder yang terlibat serta sistem baku penanganan kehalalan produk pangan. Penyelesaian kendala dan tantangan ini diharapkan mampu memberikan kontribusi positif dan manfaat untuk menjaga ketenangan masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari. Oleh karena itu, dirasakan perlu adanya suatu kajian untuk melihat kondisi kebijakan saat ini dan harapan kebijakan penanganan kehalalan pangan di Indonesia.
B. TUJUAN
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mengidentifikasi potensi dan efektivitas kebijakan pangan halal nasional. 2. Mengidentifikasi dan menginventarisasi faktor-faktor berpengaruh kebijakan
pangan halal nasional berikut tingkat kepentingannya.
3. Menentukan prioritas kebijakan penanganan kehalalan pangan di Indonesia.
C. KEGUNAAN PENELITIAN Kegunaan penelitian ini adalah:
1. Sebagai masukan bagi pemerintah dalam penyusunan prioritas kebijakan pangan halal nasional.
2. Sebagai informasi bagi stakeholder dalam rangka menunjang/mendukung implementasi kebijakan pangan.
3. Sebagai bahan informasi bagi yang ingin mempelajari kebijakan penanganan kehalalan nasional di Indonesia, sekaligus sebagai bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya yang ada hubungannya dengan penelitian ini.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. PANGAN
Pangan di dalam UU No 7 Tahun 1996 pasal 1 didefinisikan sebagai segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumen manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan atau pembuatan makanan atau minuman.
Sedangkan makanan didefinisikan sebagai semua jenis makanan dan minuman yang beredar/dijual kepada masyarakat, termasuk bahan tambahan makanan dan bahan penolong sebagaimana ditetapkan oleh Menteri Kesehatan RI (Keputusan bersama Menkes dan Menag No. 427/men.kes/ksb/VIII/1985 dan No 68 tahun 1985 pasal 1). Dalam peraturan Menkes No 280/Men.Kes/Per/XI/76 pasal 1, makanan adalah tiap bahan yang diedarkan sebagai makanan manusia, termasuk bahan-bahan yang digunakan sebagai tambahan dalam makanan. Sedangkan Tim Penerbit Buku Pedoman Pangan halal menyatakan bahwa makanan adalah barang yang dimaksudkan untuk dimakan atau diminum oleh manusia serta bahan yang digunakan dalam produksi makanan dan minuman.
B. HALAL
Dalam khasanah ilmu (tsaqafah) Islam, hukum asal segala sesuatu (benda) yang diciptakan Allah adalah halal dan mubah. Tidak ada satu pun yang haram, kecuali ada keterangan yang sah dan tegas tentang keharaman bahan tersebut. Hal ini berbeda dengan kaidah perbuatan yang menuntut setiap apapun yang dilakukan manusia dalam hal ini seorang muslim harus terikat dengan hukum syara’ (wajib, sunah, mubah/boleh, makruh, haram). Sebagaimana kaidah fiqh yang menyatakan
“Hukum asal bagi setiap benda/barang adalah mubah, selama tidak ada dalil yang mengharamkannya” dan “Hukum asal bagi perbuatan manusia/muslim adalah terikat dengan hukum syara’/Islam” (An-nabani,2001). Kedua kaidah
yang dengan tegas mengharamkannya dan hukum asal dari perbuatan adalah terikat dengan aturan Islam.
Halal berarti boleh, sedangkan haram berarti tidak boleh (Qardhawi, 2000). Selain masalah halal dalam perilaku yang menjadi standar minimal perilaku seorang muslim, Allah SWT juga mengatur halal dalam masalah makanan maupun minuman. Di dalam Qur’an Surat Al-Maidah ayat 3, Allah SWT berfirman bahwa ”Telah diharamkan atas kamu bangkai, darah, daging babi, binatang yang
disembelih bukan karena Allah, yang (mati) karena dicekik, yang (mati) karena dipukul, yang (mati) karena jatuh dari atas, yang (mati) karena ditanduk, yang (mati) karena dimakan oleh binatang buas, kecuali yang dapat kamu sembelih dan yang disembelih untuk berhala”.
Makanan halal adalah makanan yang dibolehkan memakannya menurut Syariat Islam. Minuman halal adalah minuman yang dibolehkan meminumnya menurut Syariat Islam. Begitu sebaliknya untuk makanan dan minuman haram. Syariat Islam adalah tata aturan agama Islam yang berdasarkan Al Quran dan Al Hadist yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan tuhannya, manusia dengan dirinya sendiri dan manusia dengan sesamanya. Disamping Al Quran dan Al Hadist, sumber Syariat Islam yang lainnya adalah Ijma’ Sahabat dan Qiyas. Termasuk makanan dan minuman halal adalah (1) bukan terdiri dari atau mengandung bagian atau benda dari binatang yang dilarang oleh syariat Islam untuk memakannya atau yang tidak disembelih menurut Syariat Islam, (2) tidak mengandung sesuatu yang dihukumi sebagai najis menurut Syariat Islam, (3) tidak mengandung bahan penolong dan atau bahan tambahan yang diharamkan menurut syariat Islam, (4) dalam proses, menyimpan dan menghidangkan tidak bersentuhan atau berdekatan dengan makanan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana di atas atau benda yang dihukumkan sebagai najis menurut syariat Islam (Tim Penerbit Buku Pedoman Pangan Halal, 2001).
Menurut Girindra (2002) yang dimaksud produk halal adalah produk yang memenuhi persyaratan halal sesuai dengan syariat Islam yaitu: (1) tidak mengandung babi dan bahan yang berasal dari babi, (2) tidak mengandung bahan-bahan yang diharamkan seperti: bahan-bahan-bahan-bahan yang berasal dari organ manusia, darah, kotoran-kotoran dan sebagainya, (3) semua bahan yang berasal dari hewan
halal yang disembelih menurut tata cara syariat Islam, (4) semua tempat penyimpanan, tempat penjualan, pengolahan, tempat pengelolaan dan transportasinya tidak boleh digunakan untuk babi, jika digunakan untuk babi atau barang yang tidak halal lainnya terlebih dahulu harus dibersihkan dengan tatacara yang diatur sesuai syariat Islam, (5) semua makanan dan minuman yang tidak mengandung khamar.
C. PRODUK HUKUM TENTANG PANGAN HALAL
Dalam PP No. 69 tahun 1999 pasal 1, pangan halal adalah pangan yang tidak mengandung unsur atau bahan yang haram atau dilarang untuk dikonsumsi umat Islam, baik menyangkut bahan baku pangan, bahan bantu dan bahan penolong lainnya termasuk bahan pangan yang diolah melalui proses rekayasa genetika dan irradiasi pangan dan pengelolaannya dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum agama Islam. Makanan yang halal adalah semua jenis makanan yang tidak mengandung unsur atau bahan yang terlarang/haram dan atau diolah/diproses menurut agama Islam (Keputusan bersama Menkes dan Menag No. 427/me.kes/VIII/1985 dan No. 68 tahun 1985 pasal 1).
Perkembangan peraturan perundang-undangan terkait pangan halal di Indonesia adalah sebagai berikut :
1. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 280/Menkes/Per/XI/1976 tentang Ketentuan Peredaran dan Penandaan pada Makanan yang mengandung Bahan berasal dari Babi.
Pasal 2 :
1) Pada wadah atau bungkus makanan yang diproduksi di dalam negeri maupun yang berasal dari impor yang mengandung bahan yang berasal dari babi harus dicantumkan tanda peringatan.
2) Tanda peringatan tersebut yang dimaksud pada ayat (1) harus berupa gambar babi dan tulisan yang berbunyi : “MENGANDUNG BABI” dan harus ditulis dengan huruf besar berwarna merah dengan ukuran sekurang-kurangnya Universe Medium Corps 12, di dalam garis kotak persegi yang juga berwarna merah.
2. Permenkes RI No. 76/Menkes/Per/III/78 tentang label dan Periklanan Makanan, pasal 2 menyatakan bahwa :
Kalimat, kata-kata, tanda lambang, logo, gambar dan sebagainya yang terdapat pada label atau iklan harus sesuai dengan asal, sifat, komposisi, mutu dan kegunaan makanan.
3. Surat Keputusan Bersama antara Menteri Agama dan Menteri Kesehatan No. 427/Menkes/SKB/VIII/1985 dan No. 68/1985 tentang Pencantuman Tulisan “Halal” pada Label Makanan.
Pasal 1 : Tulisan “halal” adalah tulisan yang dicantumkan pada label/penandaan yang memberikan jaminan tentang halalnya makanan tersebut bagi pemeluk agama Islam
Pasal 2 :Produsen yang mencantumkan tulisan “halal” pada label atau penandaan makanan produknya bertanggungjawab terhadap halalnya makanan tersebut bagi pemeluk agama Islam.
Pasal 4 :
1) Pengawasan preventif terhadap ketentuan pasal 2 Keputusan Bersama ini dilakukan oleh Tim Penilaian Pendaftaran Makanan Departemen Kesehatan RI, cq. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.
2) Dalam tim penilaian pendaftaran makanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, diikutsertakan unsur Departemen Agama RI. 3) Pengawasan di lapangan terhadap pelaksanaan ketentuan pasal 2 Keputusan Bersama ini dilakukan oleh aparat Departemen Kesehatan RI.
4. UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 214 ayat (2) penjelasan butir (d) : Ketentuan lainnya misalnya pencantuman kata atau tanda halal yang menjamin bahwa makanan dan minuman yang dimaksud diproduksi dan diproses sesuai dengan persyaratan makanan.
5. UU No. 7 tahun 1996 tentang Pangan, pasal (34) ayat (1) :
Setiap orang yang menyatakan dalam label atau iklan bahwa pangan yang diperdagangkan adalah sesuai dengan persyaratan agama atau kepercayaan
tertentu bertanggung jawab atas kebenaran peryataan berdasarkan persyaratan agama atau kepercayaan tersebut.
Penjelasan pasal 34 ayat (1) :
Dalam ketentuan ini benar tidaknya suatu pernyataan halal dalam label atau iklan pangan tidak hanya dapat dari segi bahan baku pangan, bahan tambahan pangan, atau bahan bantu lainnya yang digunakan dalam memproduksi pangan, tetapi mencakup pula proses pembuatannya
6. Keputusan Menkes RI No. 82/Menkes/SK/I/1996 tentang Pencantuman Tulisan Halal pada Label Makanan dan perubahannya berupa Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 924/Menkes/SK/VII/1996, beserta peraturan pelaksanaannya berupa Keputusan Dirjen POM No. HK. 00.06.3.00568 tentang Tata Cara Pencantuman Tulisan Halal pada Label Makanan, yang antara lain menjelaskan :
a. Persetujuan pencantuman tulisan “halal” pada label makanan diberikan oleh Dirjen POM
b. Produk makanan harus terdaftar pada Departemen Kesehatan RI
c. Persetujuan Pencantuman label “halal” diberikan setelah dilakukan pemeriksaan dan penilaian oleh Tim yang terdiri dari Departemen Kesehatan, Departemen Agama dan MUI
d. Hasil Penilaian Tim Penilai disampaikan kepada Komisi Fatwa MUI untuk dikeluarkan fatwanya, dan akhirnya diberikan Sertifikat Halal
e. Persetujuan Pencantuman “halal” diberikan oleh Dirjen POM berdasarkan sertifikat Halal yang berdasarkan MUI
f. Persetujuan berlaku selama 2 tahun sesuai dengan sertifikatnya 7. UU No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, yaitu :
Pasal 7 butir (b) :
Pelaku usaha berkewajiban memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa.
Pasal 8 ayat 1 butir (h) :
Pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa yang tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal. Sebagaimana pernyataan “halal” yang dicantumkan dalam label.
8. PP No. 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan a. Pasal 10
i. Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan pangan yang dikemas ke dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan dan menyatakan bahwa pangan tersebut “halal” bagi umat manusia, bertanggung jawab atas kebenaran pernyataan tersebut dan wajib mencantumkan keterangan atau tulisan halal pada label
ii. Pernyataan tentang “halal” sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari label
b. Pasal 11
i. Untuk mendukung kebenaran pernyataan “Halal” sebagaimana dimaksud dalam pasal 10 ayat (1), setiap orang yang memproduksi atau memasukkan pangan yang dikemas ke dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan, wajib memeriksakan terlebih dahulu pangan tersebut pada lembaga pemeriksa yang telah diakreditasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
ii. Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan Pedoman dan Tata Cara yang ditetapkan oleh Menteri Agama, dengan memperhatikan pertimbangan dan saran lembaga keagamaan yang memiliki kompetensi di bidang tersebut.
c. Pasal 59
Pengawasan terhadap pelaksanaan ketentuan tentang label dan iklan dilaksanakan oleh Menteri Kesehatan
d. Pasal 60
i. Dalam melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 59, Menteri Kesehatan menunjuk pejabat untuk diserahi tugas pemeriksaan.
ii. Pejabat pemeriksa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipilih dan ditunjuk oleh Menteri Kesehatan berdasarkan keahlian tertentu yang dimiliki.
iii. Pejabat pemeriksa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diangkat dan diberhentikan oleh Menteri Kesehatan.
9. Penjelasan PP No. 69 tahun 1999 pasal 11 ayat 1 menyatakan Pencantuman tulisan halal pada dasarnya bersifat sukarela.
Menurut Sampurno (2001), sanksi terhadap pelanggaran ketentuan pancantuman label dapat dikenakan :
1. Pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan atau denda paling banyak Rp. 360.000.000,- untuk pelanggaran terhadap UU No. 7 tahun 1996 pasal 34 ayat (1).
2. Tindak pidana penjara sampai 5 (lima) tahun atau denda sampai dua milyar rupiah untuk pelanggaran terhadap UU No. 8 tahun 1999 pasal 8 ayat (1) butir h.
3. Tindakan administratif terhadap pelanggaran PP No. 69 tahun 1999 yang meliputi :
• Peringatan secara tertulis
• Larangan untuk mengedarkan untuk sementara waktu dan atau perintah untuk menarik produk pangan dari peredaran.
D. SISTEM JAMINAN HALAL
Secara umum Sistem Jaminan Halal didefinisikan sebagai sebuah sistem manajemen jaminan proses poduksi halal produk-produk bersertifikat halal. Sedangkan secara spesifik bagi perusahaan, Sistem Jaminan Halal adalah sebuah sistem yang disusun dan dilaksanakan perusahan pemegang sertifikat halal dengan tujuan untuk menjaga kesinambungan proses produksi halal sehingga produk yang dihasilkan dapat dijamin kehalalannya.
Pengembangan sistem jaminan halal didasarkan pada konsep total quality
management yang terdiri atas empat unsur utama yaitu komitmen, kebutuhan
konsumen, peningkatan tanpa penambahan biaya, dan menghasilkan barang setiap waktu tanpa rework, tanpa reject, dan tanpa inspection. Karena itu dalam prakteknya, penerapan sistem jaminan halal dapat dirumuskan untuk menghasilkan suatu sistem yang ideal, yaitu zero limit, zero defect dan zero risk (three zero
concept). Artinya material haram tidak boleh ada pada level apapun (zero limit),
yang diambil bila mengimplementasikan sistem ini (zero risk). Total Quality
Management didefinisikan sebagai sebuah sistem dimana setiap orang didalam
setiap posisi dalam organisasi harus mempraktekkan dan berpartisipasi dalam manajemen halal dan aktivitas peningkatan produktivitas. Manajemen halal bermula dan berakhir dengan pendidikan yang kontinyu (Apriyantono, 2001).
E. PROSES DAN KERANGKA DALAM ANALISIS KEBIJAKAN
Analisis kebijakan merupakan sebuah disiplin ilmu sosial terapan yang menggunakan berbagai metode penelitian dan argumentasi untuk menghasilkan dan memindahkan informasi yang relevan dengan kebijakan sehingga dapat dimanfaatkan di tingkat politik dalam rangka pemecahan masalah (Dunn, 2000). Suatu kebijakan dirumuskan dengan menyaring dan memilih tuntutan yang harus dipenuhi dalam waktu bersamaan, terutama disebabkan jumlah dan kualitas sumberdaya yang terbatas dibanding tuntutan dan kebutuhan itu sendiri.
Sekalipun tindakan kebijakan dirancang sedemikian rupa untuk mencapai tujuan-tujuannya, kebijakan tersebut tidak selalu dapat mewujudkan semua kehendak kebijakan, kecuali disebabkan lemahnya daya antisipasi para pembuat kebijakan maupun pendesain program dan proyek. Terganggunya implementasi yang menjadikan tidak tercapainya tujuan kebijakan dimungkinkan juga karena berbagai kondisi lingkungan yang tidak teramalkan sebelumnya. Oleh sebab itu, agar tujuan kebijakan tercapai, perlu diketahui penyebab kegagalan tersebut. Evaluasi kebijakan dilakukan dalam suatu kerangka analitis sangat diperlukan untuk kepentingan ini (Patria, 1999).
Masalah kebijakan merupakan nilai, kebutuhan, dan kesempatan yang belum terpenuhi, tetapi dapat diidentifikasi dan dicapai melalui tindakan publik. Informasi mengenai sifat masalah dan pemecahannya dihasilkan melalui prosedur analisis kebijakan. Demikian dapat dipahami bahwa analisi yang dilakukan terhadap suatu kebijakan pada hakikatnya adalah merumuskan, mengevaluasi dan menciptakan alternatif perbaikan terhadap masalah yang timbul dalam suatu kebijakan. Analisis yang dilakukan tidak harus mencakup seluruh aspek kebijakan, namun tergantung pada permasalahan yang berhasil dirumuskan. Selanjutnya setelah masalah-masalah kebijakan dirumuskan, dilakukan langkah evaluasi untuk
mendapatkan informasi mengenai nilai atau harga kebijakan masa lalu dan dimasa yang akan datang. Oleh sebab itu, dapat dilakukan evaluasi dengan berbagai metode penelitian sosial yang tersedia (Patria, 1999). Model proses hierarki analisis merupakan suatu alat analisis untuk memilih suatu alternatif kebijakan yang dapat digunakan untuk menilai kesesuaian kebijakan. Peralatan utamanya adalah Analytical Hierachy Process (AHP).
F. PROSES HIERARKI ANALISIS
Metode Proses Hierarki Analitik (Analytical Hierarchy Process) yang selanjutnya disebut AHP pertama kali dikembangkan oleh Thomas L. Saaty, ahli matematika dari University of Pitsburg, Amerika Serikat pada awal tahun 1970-an. Pengamatan mendasar tentang sifat manusia, pemikiran analitik, dan pengukuran membawa pada pengembangan suatu model yang berguna untuk memecahkan persoalan secara kuantitatif. Proses Hierarki Analitik adalah suatu model yang luas yang memberikan kesempatan pada perorangan atau kelompok untuk membangun gagasan-gagasan dan mendefinisikan persoalan dengan cara membuat asumsi mereka masing-masing dan memperoleh pemecahan yang diinginkan darinya. Dirancang untuk lebih menampung sifat alamiah manusia ketimbang memaksa kita ke cara berpikir yang mungkin justru berlawanan dengan hati nurani, AHP merupakan cara yang ampuh untuk menanggulangi berbagai persoalan yang kompleks.
Menurut Saaty (1986), AHP baik digunakan untuk menyusun model problem dan pendapat sehingga permasalahan yang ada dapat dinyatakan secara jelas, dievaluasi, diperbincangkan, dan diprioritaskan untuk dikaji. Proses AHP memberikan suatu kerangka pengambilan keputusan yang efektif terhadap persoalan kompleks dengan jalan menyederhanakan dan mempercepat proses pengambilan suatu keputusan. Pada dasarnya, metode AHP ini memilah-milah suatu situasi yang kompleks, tidak terstruktur ke dalam bagian-bagian tertentu; menata bagian atau variabel ini dalam suatu susunan hierarki. Melalui serangkaian kegiatan sistematis, AHP mensintesis penilaian-penilaian menjadi suatu taksiran menyeluruh dari prioritas-prioritas relatif dari berbagai alternatif tindakan dengan memberikan nilai numerik pada pertimbangan subjektif tentang relatif pentingnya
setiap variabel dan mensintesis berbagai pertimbangan ini untuk menetapkan variabel mana yang memiliki tingkat prioritas paling tinggi dan bertindak untuk mempengaruhi hasil pada situasi tersebut.
Metode AHP ditujukan untuk memodelkan perihal tak terstruktur, baik dalam bidang ekonomi, sosial, maupun manajemen. Penerapan AHP sedapat mungkin menghindari adanya penyederhanaan dengan membuat asumsi-asumsi agar diperoleh model yang representatif. Penerapan AHP membuka kesempatan adanya perbedaan pendapat dan konflik sebagaimana yang ada dalam kenyataan sehari-hari, dalam usaha mencapai konsensus (Eryatno, 1996). Sebagaimana penelitian Oktorio (2004) tentang pemberian insentif untuk pemanfaatan limbah menunjukkan bahwa perbedaan prioritas insentif disebabkan oleh perbedaan kepentingan yang dibawa oleh masing-masing stakeholder.
Proses Hierarki Analitik dapat digunakan untuk merangsang timbulnya gagasan untuk melakukan tindakan kreatif dan mengevaluasi keefektifan setiap keputusan. Selain itu, untuk membantu para pemimpin meletakkan informasi apa yang patut dikumpulkan guna mengevaluasi faktor-faktor yang relevan dalam situasi yang kompleks. Proses Hierarki Analitik juga dapat digunakan untuk melacak ketidak konsistenan pertimbangan dan preferensi peserta sehingga pemimpin mampu menilai mutu pengetahuan para pembantu mereka dan kemantapan pemecahan itu (Saaty, 1986).
Metode AHP mengenal tiga prinsip dalam memecahkan persoalan dengan analisis logis eksplisit, yaitu:
1. Prinsip penyusunan hierarki
Melakukan identifikasi dari yang diamati, mempersepsikan gagasan dengan menggunakan seperangkat pengetahuan dan metode tertentu yang kemudian menjadi elemen-elemen pokok dari setiap persoalan sampai pada sub-bagian yang terkecil (tersusun secara hierarki) yang berkaitan dengan realitas yang diamati (menjadi pokok permasalahan). Metode ini memiliki bagian-bagian (hierarki) yang terdiri dari lima sampai sembilan level. Prinsipnya bahwa realitas yang heterogen tersebut dipecahkan dalam bagian-bagian yang sama sifat homogenitasnya sehingga informasi dapat dipadukan ke dalam struktur suatu masalah yang membentuk gambaran lengkap dari keseluruhan sistem.
2. Prinsip penetapan prioritas
Penetapan prioritas yang dimaksud adalah menentukan peringkat elemen-elemen menurut tingkat kepentingannya. Tahap terpenting dari AHP ini adalah menggunakan penilaian dengan teknik komparasi berpasangan (pairwise
comparison) terhadap elemen-elemen keputusan pada suatu tingkat hierarki
keputusan. Penilaian ini dilakukan dengan menggunakan nilai skala pengukuran yang dapat membedakan setiap pendapat yang mempunyai keteraturan sehingga memudahkan proses transformasi dalam perhitungan matematis dari bentuk pendapat (kualitatif) ke bentuk nilai angka (kuantitatif).
3. Prinsip konsistensi logis
Konsistensi logis menjamin bahwa semua elemen dikelompokkan secara logis dan diperingatkan secara konsisten sesuai dengan kriteria yang logis. Proses Hierarki Analitik dapat digunakan dengan tingkat keandalan tinggi dalam bidang perencanaan, penentuan prioritas, dan alokasi sumberdaya. Proses Hierarki Analitik menghasilkan pemodelan tunggal yang sederhana, mudah dimengerti, luwes, dan dinamis (Saaty, 1986).
III. METODE PENELITIAN
A. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia khususnya di kota Bogor dan Jakarta sebagai tempat domisili responden yaitu Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Jakarta; Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia, Bogor; Badan Pengawas Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika, Jakarta; Direktorat Pengawasan dan Pengendalian Mutu Barang Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Departemen Perdagangan RI, Jakarta; Departemen Pertanian RI, Jakarta; Dewan Perwakilan Rakyat RI, Jakarta; Departemen Agama RI, Jakarta dan Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Penelitian ini dilaksanakan selama lima bulan, Maret sampai dengan Juli 2008.
B. DESAIN PENELITIAN
Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian deskriptif sesuai dengan tujuan penelitian untuk menguraikan sifat-sifat suatu keadaan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei pada sejumlah responden yang merupakan stakeholder kebijakan terutama konsumen dengan tingkat pendidikan minimal sarjana yang berada di Bogor dan Jakarta. Wawancara pada penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang isu strategis penanganan kehalalan pangan yang akan digunakan sebagai acuan identifikasi atribut hierarki pada proses AHP.
Atribut hierarki selanjutnya digunakan dalam wawancara pada proses AHP terhadap beberapa responden ahli yang dianggap sebagai pakar dalam kebijakan pangan halal nasional. Proses ini diperlukan untuk mendapatkan informasi tentang aspirasi dan persepsi stakeholder terhadap kebijakan penanganan kehalalan di Indonesia.
Gambar 1. Bagan pendekatan penentuan alternatif dan prioritas kebijakan penanganan kehalalan pangan dengan teknik AHP
Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara dengan responden dan studi pustaka. Penelitian deskriptif bertujuan untuk membuat pernyataan secara sistematis dan akurat mengenai data yang diperoleh selama penelitian.
Alternatif Prioritas Kebijakan Penanganan Kehalalan Pangan
Nasional Acuan Identifikasi
Atribut Hierarki
Analitycal Hierarchy Process (AHP)
Identifikasi Isu strategis Penanganan Kehalalan Pangan
Studi Pustaka
Pengumpulan Data
Analisis Data
Penyesuaian Alternatif Kebijakan Penentuan Judul dan
Tujuan Penelitian
Kesimpulan C. TAHAPAN PENELITIAN
Penelitian dilakukan dalam beberapa tahapan sesuai gambar 2.
Gambar 2. Bagan tahapan penelitian.
D. PENGUMPULAN DATA 1. Data Sekunder.
Data sekunder pada penelitian ini didapatkan dengan menggunakan metode studi pustaka. Metode ini dilakukan dengan cara membaca, mempelajari, dan mengutip pendapat dari berbagai sumber untuk mendapatkan data yang mendukung data penelitian. Data sekunder diperlukan untuk mengetahui kondisi saat ini tentang implementasi kebijakan pangan halal nasional di Indonesia. Data sekunder antara lain mengenai:
• Jumlah perusahaan industri pangan berdasarkan klasifikasi lapangan usaha Indonesia dan skala usaha (besar, sedang, kecil, dan rumahtangga).
Sumber data sekunder adalan Biro Pusat Statistik (BPS) dan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI).
2. Data Primer
Data primer didapatkan melalui beberapa tahapan penelitian. Tahapan pertama pengumpulan data dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang isu strategis penanganan kehalalan pangan yang akan dijadikan sebagai bahan acuan identifikasi atribut hierarki pada proses selanjutnya. Metode yang digunakan pada tahapan ini adalah survei pada sejumlah responden yang merupakan stakeholder kebijakan pangan halal terutama konsumen.
Beberapa poin yang digali pada tahapan ini adalah persepsi tentang kondisi kebijakan penanganan kehalalan pangan nasional, pihak-pihak yang bertanggung jawab dan memiliki kepentingan terhadap kebijakan, tujuan yang ingin dicapai dari penerapan sebuah kebijakan, dan saran kebijakan penanganan kehalalan pangan yang harus ditetapkan ke depan. Poin-poin ini dirumuskan dalam sebuah discussion guide yang digunakan pada wawancara mendalam (indepht interview). Adapun rincian discussion guide dapat dilihat pada lampiran 7.
Responden pada tahapan ini adalah stakeholder kebijakan terutama konsumen dengan tingkat pendidikan minimal sarjana yang berada di Bogor dan Jakarta yang berjumlah 16 orang yang mewakili elemen pengamat, akademisi, dunia usaha, dan konsumen (mahasiswa dan ibu rumah tangga) sebagaimana terlihat pada lampiran 6. Penentuan responden ini menggunakan teknik purposive sampling sesuai dengan kebutuhan penelitian yaitu untuk menggambarkan penanganan kehalalan pangan sebagaimana adanya, memperoleh pemahaman, dan menggembangkan suatu penjelasan teoritis tentangnya. Tujuan ini menjadikan dalam pemilihan responden, pemilihan tidak mengutamakan patokan keterwakilan populasi, melainkan keterwakilan aspek permasalahan. Sebagai implikasinya, responden harus dipilih secara sengaja (purposif) dan lazimnya dalam jumlah kecil (Sitorus, 1998).
Tahapan selanjutnya digunakan metode survei dengan Proses Hierarki Analisis atau Analytical Hierarchy Process (AHP). Tahapan ini dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang aspirasi dan persepsi pakar dalam kebijakan pangan halal yang dijadikan responden ahli terhadap kebijakan penanganan kehalalan pangan di Indonesia.
Kuesioner pada tahapan ini berisi pernyataan tertulis mengenai prioritas kebijakan yang dirasa penting oleh responden dengan membandingkan tingkat kepentingan secara berpasangan antara faktor-faktor yang tersedia. Pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner diajukan secara langsung kepada responden melalui wawancara. Adapun rincian kuesioner dapat dilihat pada lampiran 8.
Wawancara pada tahapan ini dilakukan dengan beberapa orang pakar kebijakan pangan halal yang dijadikan responden ahli dengan kriteria yaitu pemerintahan/eksekutif, legislatif, konsumen, dan akademisi. Secara umum pihak yang dijadikan responden dalam tahapan ini adalah ahli dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Jakarta; Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia, Bogor; Badan Pengawas Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika, Jakarta; Departemen Perdagangan RI, Jakarta; Departemen Pertanian RI, Jakarta; Dewan Perwakilan Rakyat RI, Jakarta; Departemen Agama RI, Jakarta dan Institut Pertanian Bogor, Bogor. Ahli yang diwawancarai sebanyak delapan orang, yaitu:
1. Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Jakarta
2. Kepala Sub Bidang Pangan Halal Badan Pengawas Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika, Jakarta
3. Pengurus dan Auditor Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia, Bogor.
4. Kepala Laboratorium Uji Kehalalan Produk Direktorat Pengawasan dan Pengendalian Mutu Barang Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Departemen Perdagangan RI, Jakarta
5. Kepala Sub Bidang Keamanan Pangan Departemen Pertanian RI, Jakarta. 6. Kepala Sub Bidang Produk Halal Departemen Agama RI, Jakarta.
8. Dosen/Staf Pengajar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor, Bogor.
E. ANALISIS DATA Analisis Deskriptif
Analisis ini digunakan untuk menggambarkan kondisi umum penanganan kehalalan pangan di Indonesia saat ini, berupa faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan yang mendukung analisis data selanjutnya. Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan reduksi data yaitu pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, dan transformasi data kasar yang muncul dari wawancara mendalam yang dilakukan untuk mendapatkan acuan identifikasi atribut hierarki. Sebagaimana menurut Sitorus, reduksi data dilakukan dengan meringkas data, mengkode, dan menyajikan dalam tabel.
Analisis dengan AHP
Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode AHP. Analisis ini dilakukan secara bertahap dan sistematis dengan mengurutkan prioritas berbagai faktor berpengaruh terhadap penanganan kehalalan pangan nasional yang didapatkan dari penggalian isu strategis yang menjadi acuan atribut hierarki.
Perhitungan dalam analisis ini berasal dari hasil isian kuesioner responden ahli. Analisis data dilakukan dengan menggunakan program komputer Expert choice
2000 for Windows. Diagram alir AHP dapat di lihat pada gambar 3.
Adapun langkah-langkah penggunaan AHP dalam penelitian ini adalah: 1) Membuat Struktur Hierarki
Masalah yang akan diselesaikan diuraikan menjadi unsur-unsur yang pada penelitian ini disesuaikan dengan hasil penggalian isu strategis berupa acuan atribut hierarki, yaitu level 0 untuk fokus, level 1 untuk tujuan , level 3 untuk aktor, level 4 untuk subaktor, dan level 5 untuk alternatif. Struktur hierarki ditunjukkan pada Gambar 3.
Gambar 3. Struktur hierarki pemilihan kebijakan penanganan kehalalan pangan
Tujuan yang perlu ditetapkan pada pembuatan kebijakan pangan halal nasional ditunjukkan dengan T1, T2, T3, T4, T5, dan T6. Mengacu pada penggalian isu strategis yang dilakukan untuk menggali isu strategis tentang tujuan diterapkannya kebijakan pangan halal nasional yaitu:
T1 = Adanya jaminan halal bagi konsumen (muslim) terhadap produk pangan yang beredar.
T2 = Adanya kepastian/jaminan halal terhadap produk pangan yang memiliki label halal
T3 = Adanya jaminan ketersediaan pangan halal di tengah-tengah masyarakat
T4 = Peningkatan perkembangan dunia usaha (industri pangan) dengan meningkatnya nilai jual (pemasaran) produk
T5 = Munculnya kesadaran halal (terutama untuk makanan) di tengah-tengah masyarakat
T6 = Munculnya kesadaran produsen (industri pangan) untuk memberikan jamiman halal terhadap produknya
Studi Kebijakan Penanganan Kehalalan Pangan di Indonesia T1 T2 T3 T4 T5 T6 A1 A2 A3 A4 A5 S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 Fokus Tujuan Aktor Alternatif
Aktor yang terlibat dan bertanggungjawab pada kebijakan pangan halal ditunjukkan dengan A1, A2, A3, A4, dan A5 dimana masing-masing mewakili
stakeholder yaitu:
A1 = Pemerintah A2 = Legislatif A3 = Dunia Usaha
A4 = Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) A5 = Konsumen
Bagian akhir struktur merupakan Alternatif Strategi. Strategi penanganan kehalalan pangan ditunjukkan dengan S1, S2, S3, S4, S5, S6, dan S7 yaitu: S1 = Penerapan kebijakan pangan halal (sertifikasi dan labelisasi) yang
difasilitasi oleh pemerintah sehingga menyentuh semua level industri pangan (khususnya UMKM)
S2 = Peningkatan sosialisasi dan edukasi hidup halal kepada semua lapisan masyarakat melalui sarana-sarana komunikasi (jurnal, website, sms) dan pembentukan pilot project halal (zona halal dan komunitas peduli halal)
S3 = Peningkatan konsultasi dan pembinaan yang kontinyu terhadap produsen/industri pangan terhadap produknya
S4 = Penerapan kebijakan label haram (untuk produk haram)
S5 = Peningkatan pelaksanaan Sistem Jaminan Halal di tengah-tengah industri pangan
S6 = Penerapan sanksi hukum yang tegas kepada terhadap pihak yang melanggar kebijakan halal
S7 = Pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaan kebijakan halal
2) Komparasi Berpasangan
Langkah kedua adalah komparasi berpasangan, yakni membandingkan setiap elemen dengan elemen lainnya pada setiap tingkat skala komparasi yang berdasarkan penilaian Saaty (1986). Tingkat validitas pendapat tergantung pada konsistensi dan akurasi pendapat. Skala komparasi Saaty dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Skala komparasi berpasangan Tingkat
Kepentingan
Definisi
1 Sama penting
3 Sedikit lebih penting
5 Jelas lebih penting
7 Sangat jelas lebih penting
9 Pasti/mutlak lebih penting(kepentingan yang ekstrim) 2,4,6,8 Jika ragu-ragu antara dua nilai yang berdekatan 1/(1-9) Kebalikan nilai tingkat kepentingan dari skala 1-9 Sumber: Saaty (1986)
3) Pengukuran Konsistensi
Pengukuran konsistensi dilakukan sebagai syarat apakah prioritas yang didapat dari strategi dan alternatif merupakan penilaian yang logis. Nilai rasio konsistensi yang lebih kecil atau sama dengan 0,1 merupakan nilai yang mempunyai tingkat konsistensi baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian nilai rasio konsistensi merupakan tolak ukur bagi konsisten atau tidaknya suatu hasil komparasi berpasangan dalam suatu matriks pendapat (Saaty, 1986).
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. KONDISI KEBIJAKAN PANGAN HALAL SAAT INI
Hasil penggalian isu strategis kebijakan pangan halal yang dilakukan dengan wawancara mendalam (indepht interview) untuk melihat kondisi saat ini tentang kebijakan penanganan kehalalan pangan di Indonesia menunjukkan masih terdapat banyak persepsi ditengah-tengah masyarakat mengenai eksistensi dan efektivitas kebijakan. Melalui analisis deskriptif yang dilakukan terhadap data yang ada, didapatkan lima isu strategis yang menjadi persepsi mayoritas responden seperti terlihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Isu strategis tentang kondisi kebijakan penanganan kehalalan pangan
No Isu Strategis
1 Masih menimbulkan hambatan aksesibilitas (terutama dari sisi biaya) bagi industri pangan terutama industri menengah, kecil dan rumah tangga.
2 Implementasi kebijakan penanganan kehalalan pangan masih kurang efektif disebabkan gerak tim gabungan (instansi terkait yang menjadi pelaksana) belum terpadu.
3 Karena upaya pemerintah belum maksimal untuk memfasilitasi aksesibilitas dunia usaha pangan untuk memperoleh sertifikasi halal maka kebijakan yang ada saat ini masih relevan untuk diterapkan.
4 Belum memiliki kekuatan hukum yang jelas dan mengikat.
5 Kebijakan yang diterapkan saat ini masih belum tersosialisasikan dengan baik ke masyarakat terutama kepada industri pangan sebagai pelaku utama (produsen).
Kebijakan pangan halal saat ini secara aplikasi ditangani oleh tim gabungan yang terdiri dari tiga unsure instansi yaitu LPPOM MUI, Badan POM, dan Departemen Agama. Adanya tim gabungan dalam penanganan kehalalan pangan terutama pada proses audit produk untuk sertifikasi halal ini sering menimbulkan permasalahan tersendiri di lapangan. Hasil penelitian Marina (2003) tentang sistem sertifikasi dan labelisasi halal di Indonesia mengungkapkan bahwa adanya tim gabungan dari tiga instansi dalam proses ini telah menimbulkan kesulitan tersendiri terutama dalam hal pengerahan tenaga dan pengaturan waktu, misalnya untuk audit ke daerah. Adanya tim gabungan ini dirasakan telah memperpanjang birokrasi dan meningkatkan biaya produksi.
Kebijakan penanganan kehalalan pangan yang belum sepenuhnya difasilitasi pemerintah menjadikan kebijakan yang ada saat ini masih relevan meskipun mengakibatkan biaya produksi yang dikeluarkan industri pangan meningkat. Di sisi lain, pihak industri pangan baru bisa mendapatkan sertifikat halal setelah melunasi seluruh biaya sertifikasi yang telah ditentukan sebelumnya. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab masih belum efektifnya kebijakan penanganan kehalalan pangan disamping proses sosialisasi tentang pentingnya kehalalan pangan pada masyarakat terutama industri.
Marina (2003) menyatakan dalam laporan penelitiannya bahwa kebijakan penanganan kehalalan pangan yang menyangkut sertifikasi dan labelisasi sampai saat ini masih belum efektif. Hingga tahun 2001, baru 315 perusahaan atau sekitar 0.36% yang telah memiliki sertifikat halal. Tahun 2002, dengan asumsi jumlah industri tidak bertambah, efektivitas baru mencapai 0.71% (624 perusahaan). Efektivitas ini akan semakin rendah jika sasaran sertifikasi juga mencakup industri rumah tangga, restoran, rumah makan dan jasa boga, dimana efektivitas baru mencapai 0.07%. Setelah berjalan kurang lebih 10 tahun (2006), efektivitas kebijakan ini tidak mengalami perkembangan signifikan. Jumlah industri pangan yang merupakan gabungan industri besar, sedang, kecil, dan industri rumah tangga sebanyak 1.209.172 perusahaan dan yang sudah tersertifikasi sebanyak 847 perusahaan maka efektivitas kebijakan mencapai 0.07 %.
Tabel 3. Jumlah industri pangan tahun 2004-2006 Tahun Besar dan
sedang Kecil Rumahtangga Total
Tersertifikasi halal* (%) 2004 4.638 67.822 802.555 875.015 723 0.080 2005 4.722 69.134 959.122 1.032.978 776 0.075 2006 5.478 67.144 1.136.550 1.209.172 847 0.070 BPS, *LPPOM MUI 2008
Berdasarkan data pertumbuhan industri pangan dan implemetasi kebijakan penanganan kehalalan pangan terutama sertifikasi dan labelisasi pada industri yang terdapat pada Tabel 3, terlihat bahwa kebijakan penanganan halal di Indonesia saat ini memerlukan perbaikan agar efektivitas penerapan kebijakan sesuai dengan harapan. Perbaikan tersebut meliputi beberapa hal, yaitu kejelasan instansi
a
pemegang otoritas serta peranannya dalam penetapan dan penerapan kebijakan penanganan kehalalan pangan, kejelasan tujuan/sasaran yang ingin dihasilkan dari sebuah kebijakan yang diterapkan, dan alternatif strategi kebijakan yang harus ditetapkan dalam penanganan kehalalan pangan.
Hasil penelitian juga memunculkan beberapa isu strategis dan faktor yang berpengaruh terhadap penetapan dan penerapan kebijakan yang bisa dilihat pada Tabel 4. Hasil ini kemudian dijadikan sebagai acuan identifikasi atribut hierarki pada proses AHP untuk mengetahui persepsi pakar kebijakan tentang penetapan dan penerapan kebijakan penanganan kehalalan pangan.
Tabel 4. Faktor berpengaruh dan isu strategis tentang penanganan kehalalan pangan nasional.
No Faktor/ Isu Strategis
Goal/tujuan yang ingin dihasilkan dari sebuah kebijakan yang diterapkan
1 Adanya jaminan halal bagi konsumen (muslim) terhadap produk pangan yang beredar. 2 Adanya kepastian/jaminan halal terhadap produk pangan yang memiliki label halal 3 Adanya jaminan ketersediaan pangan halal pada masyarakat
4 Peningkatan perkembangan dunia usaha (industri pangan) dengan meningkatnya nilai jual (pemasaran) produk
5 Munculnya kesadaran halal (terutama untuk makanan) di tengah-tengah masyarakat 6 Munculnya kesadaran produsen (industri pangan) untuk memberikan jamiman halal
terhadap produknya
Aktor pemegang otoritas dalam penetapan dan penerapan kebijakan penanganan kehalalan pangan
1 Pemerintah
2 Legislatif
3 Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI)
4 Konsumen
5 Dunia Usaha
Alternatif strategi kebijakan yang harus di tetapkan dalam penanganan kehalalan pangan
1 Penerapan kebijakan pangan halal (sertifikasi) yang difasilitasi oleh pemerintah sehingga menyentuh semua level industri pangan (khususnya UMKM)
2 Peningkatan sosialisasi dan edukasi hidup halal kepada semua lapisan masyarakat melalui sarana-sarana komunikasi (jurnal, website, sms) dan pembentukan pilot project halal (zona halal dan komunitas peduli halal)
3 Peningkatan konsultasi dan pembinaan yang kontinyu terhadap produsen/industri pangan terhadap produknya
4 Penerapan kebijakan label haram (untuk produk haram)
5 Peningkatan pelaksanaan Sistem Jaminan Halal di kalangan industri pangan
6 Penerapan sanksi hukum yang tegas terhadap terhadap pihak yang melanggar kebijakan halal
B. PERUMUSAN PRIORITAS KEBIJAKAN PENANGANAN KEHALALAN PANGAN
Tujuan Penerapan Kebijakan Penanganan Kehalalan Pangan
Analisis kebijakan pangan halal, dalam hal ini tujuan penerapan kebijakan dilakukan berdasarkan hasil penetapan bobot dan prioritas untuk setiap elemen dari struktur hierarki yang telah dikonstruksi. Penetapan nilai prioritas untuk setiap elemen tersebut diperoleh dari hasil perhitungan terhadap pendapat yang diberikan responden yang dianggap memahami permasalahan yang akan dipecahkan.
Tujuan penerapan kebijakan penanganan kehalalan pangan di Indonesia dikelompokkan dalam enam capaian besar yaitu (1) adanya jaminan halal bagi konsumen (muslim) terhadap produk pangan yang beredar, (2) adanya kepastian/jaminan halal terhadap produk pangan yang memiliki label halal, (3) adanya jaminan ketersediaan pangan halal pada masyarakat, (4) peningkatan perkembangan dunia usaha (industri pangan) dengan meningkatnya nilai jual (pemasaran) produk, (5) munculnya kesadaran halal (terutama untuk makanan) di tengah-tengah masyarakat, (6) munculnya kesadaran produsen (industri pangan) untuk memberikan jamiman halal terhadap produknya. Hasil perhitungan nilai prioritas elemen tujuan penerapan kebijakan dengan menggunakan program komputer untuk Analisis AHP Expert
Choice 2000 for Windows secara keseluruhan dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Nilai prioritas elemen tujuan penerapan kebijakan.
Urutan Tujuan Nilai
Prioritas 1 (T6) Munculnya kesadaran produsen (industri pangan)
untuk memberikan jamiman halal terhadap produknya 0.236 2 (T1) Adanya jaminan halal bagi konsumen (muslim)
terhadap produk pangan yang beredar. 0.196
3 (T2) Adanya kepastian/jaminan halal terhadap produk
pangan yang memiliki label halal 0.196
4 (T3) Adanya jaminan ketersediaan pangan halal pada
masyarakat 0.165
5 (T5) Munculnya kesadaran halal (terutama untuk makanan)
di tengah-tengah masyarakat 0.156
6 (T4) Peningkatan perkembangan dunia usaha (industri pangan) dengan meningkatnya nilai jual (pemasaran) produk
0.051
Tabel 5. menunjukkan bahwa prioritas tertinggi penentuan tujuan penerapan kebijakan penanganan kehalalan pangan adalah munculnya kesadaran produsen (industri pangan) untuk memberikan jaminan halal terhadap produknya (nilai 0.236). Kesadaran produsen untuk menjamin kehalalan produk yang dihasilkan sangat penting karena produsen adalah pihak yang memegang peranan kunci dalam produksi pangan. Tanpa adanya kesadaran atau minimal keinginan dari produsen untuk menjaga atribut mutu (halal) produk pangan yang dihasilkan, maka setiap kebijakan yang diterapkan tetap tidak akan berjalan secara efektif meskipun mengandung konsekuensi tertentu terhadap pelanggarnya.
Sampai saat ini, pangan merupakan sektor usaha yang dianggap sangat menjanjikan oleh kalangan dunia usaha. Hal ini terbukti dari data BPS yang menunjukkan bahwa jumlah total industri pangan baik makanan dan minuman berdasarkan klasifikasi lapangan usaha Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Tabel 3 menunjukkan perkembangan industri pangan berdasarkan skala industrinya dalam kurun waktu tiga tahun terakhir (2004-2006). Meskipun pada tahun 2005 mengalami penurunan rata-rata 2.88% untuk industri kecil, namun secara keseluruhan industri pangan mengalami pertumbuhan rata-rata pertahun sebesar 17.56 % (BPS,2007).
Prospek dan peningkatan pertumbuhan industri pangan ini sudah selayaknya diimbangi dengan dengan kesadaran para pelaku dunia usaha untuk memberikan perlindungan terhadap konsumen (khususnya halal) sebagai salah satu bentuk palayanan disamping motif utama untuk mencari keuntungan. Adanya kesadaran pelaku dunia usaha, diharapkan tidak akan ditemukan lagi kasus kecurangan dalam industri pangan khususnya tentang kehalalan produk, untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa memperhatikan kepentingan konsumen. Berdasarkan itulah mengapa para responden yang merupakan pakar kebijakan pangan nasional menempatkan kesadaran produsen ini sebagai prioritas utama.
Prioritas kedua yaitu adanya jaminan halal bagi konsumen (muslim) terhadap produk pangan yang beredar dan adanya kepastian/jaminan halal terhadap produk pangan yang memiliki label halal. Kedua prioritas ini memiliki nilai yang sama yaitu 0.196. Jaminan halal bagi konsumen muslim terhadap produk pangan yang beredar merupakan sebuah konsekuensi logis diterapkannya kebijakan penanganan
kehalalan pangan. Diterapkannya kebijakan penanganan kehalalan pangan secara konsisten diharapkan mampu untuk menciptakan ketenangan beraktivitas/konsumsi masyarakat muslim sebagai salahsatu wujud perlindungan konsumen. Jaminan halal ini tidak hanya berlaku pada produk yang beredar di tengah-tengah masyarakat, namun juga ditekankan pada produk pangan yang telah mencantumkan label halal. Marina (2003) menyatakan bahwa terdapat produk pangan dipasaran yang mencantumkan label halal namun tidak memiliki sertifikat halal.
Prioritas selanjutnya berturut-turut adalah adanya jaminan ketersediaan pangan halal di tengah-tengah masyarakat (nilai 0.165) dan munculnya kesadaran halal (terutama untuk makanan) di tengah-tengah masyarakat (nilai 0.156). Jaminan ketersediaan pangan halal erat hubungannya dengan kebijakan ditetapkan dan merupakan tindaklanjut dari penetapan prioritas utama tujuan penetapan kebijakan. Kesadaran produsen untuk menjamin kehalalan produk pangan yang dihasilkan diharapkan bisa menjawab tuntutan ketersediaan pangan halal di tengah-tengah masyarakat disamping penetapan kebijakan yang menyangkut ketahanan pangan dan penanganan kehalalan pangan. Selain itu, kesadaran halal pada masyarakat merupakan faktor pendukung ketersediaan pangan halal. Penelitian Nurul (2007) menyebutkan bahwa sebagian besar konsumen (54%) tidak menjadikan halal sebagai pertimbangan utama. Lemahnya kesadaran masyarakat menjadi hambatan tersendiri bagi upaya penyediaan pangan halal. Oleh karenanya alternatif kebijakan pananganan kehalalan pangan kedepan juga harus mempertimbangkan aspek sosialisasi dan edukasi.
Peningkatan perkembangan dunia usaha terutama dengan meningkatnya nilai penjualan dan pemasaran produk pangan menempati prioritas terakhir dalam penentuan tujuan penerapan kebijakan pangan yaitu 0.051. Penilaian ini sangat wajar dikarenakan posisi para pengusaha pangan khususnya usaha besar (Multinational Company) sangat kuat ditengah mulai tumbuhnya kesadaran halal di tengah-tengah konsumen muslim. Tumbuhnya kesadaran ini berakibat pada permintaan akan produk-produk halal baik dalam negeri maupun global terus mengalami peningkatan. Peningkatan pasar produk halal dalam negeri akan terus meningkat karena mayoritas penduduk Indonesia beraga Islam (88%).
Sementara itu, besarnya penduduk muslim dunia yang tersebar di beberapa negeri muslim dan negara besar di Eropa dan Amerika menjadi pasar yang sangat potensial bagi produk halal. Volume perdagangan di pasar Asia Tenggara menunjukkan bahwa pada tahun 2006 ekspor produk halal mencapai 100 juta dollar. Jumlah ini mengalami peningkatan 100% dibandingkan tahun sebelumnya, yang hanya mencapai 50 juta dollar. Sementara volume perdagangan produk halal dunia mencapai angka 200 milyar dollar. Data lain menyebutkan bahwa industri produk halal mencapai 547 milyar dollar dan dalam waktu dekat mencapai 1 trilyun dollar (www.isei.or.id) bahkan untuk Uni Eropa potensi pasar yang dimiliki produk halal nilainya mencapai 15 milyar euro.
Aktor Penerapan Kebijakan Penanganan Kehalalan Pangan
Pemerintah memiliki peran yang sangat strategis dalam penetapan dan pelaksanaan kebijakan penanganan kehalalan pangan di Indonesia. Bersadarkan hasil penilain prioritas aktor kebijakan pangan halal, pemerintah memiliki nilai tertinggi (0.236) disusul legislatif dengan nilai (0.199). Hal ini sesuai dengan isu strategis kebijakan pangan halal yang ditemukan pada tahap awal. Kebijakan pangan yang diterapkan saat ini seringkali mendapatkan permasalahan dalam tataran aplikasi. Salah satu faktor penyebabnya adalah belum adanya payung hukum yang jelas mengenai penanganan kehalalan pangan.
Saat ini, penanganan kehalalan masih berlindung pada Undang-undang No. 7 tentang Pangan dan Peraturan Pemerintah No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan No. 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan serta beberapa peraturan pelaksanaan lainnya seperti Menteri Kesehatan RI No. 924/Menkes/SK/VII/1996 tentang Pencantuman Tulisan Halal pada Label Makanan dan nota kesepahaman beberapa instansi terkait. Kondisi ini mengakibatkan munculnya pertanyaan pada beberapa kalangan mengenai kerangka penjaminan kehalalan pangan yang menyangkut standar baku penanganan kehalalan pangan (hulu-hilir), instansi yang terlibat berikut ruang lingkup kewenangannya, dan konsekuensi terhadap pelanggaran pangan halal. Diperlukan sebuah payung hukum yang jelas dan tegas mengenai penanganan