1
I. EVALUASI KONDISI CUACA BULAN AGUSTUS 2020 A. Monitoring Dinamika Atmosfer Agustus 2020
Kondisi cuaca di Indonesia termasuk Banyuwangi dikendalikan / dipengaruhi oleh fenomena-fenomena dinamika atmosfer berskala global, regional hingga lokal yang saling berinteraksi dan membentuk pola serta variabilitas cuaca - iklim di Banyuwangi. Berikut adalah monitoring kondisi fenomena-fenomena tersebut selama bulan Agustus 2020:
El Nino Southern Oscillation (ENSO)
Selama Agustus 2020, anomali suhu muka laut wilayah Samudera Pasifik Ekuatorial bagian tengah (Nino 3.4) menunjukkan nilai di bawah ambang batas La NiÑa (- 0.52) dan
telah berlangsung selama 3 dasarian. Sedangkan Anomali suhu muka laut di Samudera Hindia menunjukkan nilai di bawah ambang batas Indian Ocean Dipole (IOD) negatif, telah berlangsung selama 2 dasarian terakhir. SST Pasifik di Wilayah Nino 3.4 diprediksi didominasi anomali negatif pada september 2020 dan bertahan hingga Februari 2021. Wilayah Samudera Hindia diprediksi didominasi positif pada September 2020 hingga Oktober 2020, kemudian meluruh menuju normal hingga Februari 2021.
Gambar 1. Kondisi anomali suhu muka laut dan suhu bawah laut Pasifik, serta angin pasat di sekitar Pasifik Ekuatorial sampai akhir Agustus 2020 (Sumber : BoM dan NOAA)
2 Dipole Mode
Dipole Mode Indeks (DMI) di Samudera Hindia selama bulan Agustus 2020 menunjukkan penurunan dan berada pada kategori DM Negatif. Indeks minggu terakhir Agustus 2020 tercatat -0.49 hal ini menunjukkan tidak adanya kontribusi penambahan massa udara dari Samudera Hindia ke sebagian wilayah Indonesia bagian barat. Dan diprediksi akan menuju netral mulai Februari 2021.
Gambar 2. Indeks Dipole Mode hingga akhir Agustus 2020 (Sumber : BoM)
Madden-Jullan Oscillation (MJO) dan Outgoing Longwave Radiation (OLR)
Analisa aktifitas MJO pada tanggal 31 Agustus 2020 menunjukkan MJO aktif di fase 2 dan di prediksi tetap aktif hingga awal dasarian II September 2020. Berdasarkan peta prediksi spasial anomali OLR wilayah Konvekif / sedikit lebih basah mulai memasuki wilayah Indonesia bagian barat dan semakin meluas menuju wilayah Indonesia bagian Timur hingga awal dasarian II September 2020.
Gambar 3. Siklus posisi MJO dan anomali OLR selama Agustus 2020, Warna biru adalah OLR negatif,menunjukkan wilayah basah atau hujan (Sumber : BMKG)
3 Sirkulasi Monsun Asia – Australia
Pada Agustus 2020, seluruh wilayah Indonesia didominasi Angin Timuran, kecuali Sumatera bagian utara. Angin Timuran yang bertiup umumnya lebih kuat dibandingkan Klimatologisnya. Pola angin meridional, angin dari Selatan mendominasi wilayah Indonesia. Kecuali beberapa wilayah di pesisir barat Sumatera didominasi angin dari utara. Aliran massa udara dari Selatan umumnya hampir sama dengan klimatologisnya.
Gambar 4. Grafik indeks Monsun Australia harian yang dihitung dari data angin zonal arah barat-timur (komponen U) pada lapisan 850 mb (sumber: BMKG), dan normal streamline angin gradien 925 hPa
Juli (sumber: NOAA)
Gambar 5. Anomali angin zonal dan meridional Agustus 2020 lapisan 850 mb (sumber: ESRL NOAA)
Pola aliran massa udara komponen zonal (timur – barat) di wilayah Jawa Timur khususnya Banyuwangi selama Agustus 2020 (rata-rata bulanan) terjadi anomali negatif yang mengindikasikan adanya dominasi massa udara dari timur. Untuk komponen meridional (Utara – Selatan) di mayoritas Jawa Timur kondisinya terjadi anomali negatif artinya massa udara dominan dari Utara mengarah ke Selatan. Kondisi tersebut juga turut berperan dalam variabilitas hujan di Jawa Timur selama Agustus 2020.
4 Suhu Muka Laut Perairan Indonesia
Kondisi anomali suhu muka laut di perairan Indonesia pada Agustus 2020 berkisar antara +0.25 hingga +2 º C, suhu muka laut yang hangat (anomali positif) umumnya terjadi di sebagian besar perairan sebelah barat Sumatera, perairan sekitar Sulawesi dan Maluku. Namun secara harian kondisi suhu muka laut cenderung hangat di sekitar perairan Jawa sebelah Selatan. Dengan suhu muka laut kisaran 27 – 30 °C di wilayah perairan Jawa, menunjukkan potensi penguapan cukup tinggi dalam pembentukan awan. Hangatnya suhu perairan menjadi salah satu faktor dalam membentuk hujan selama Agustus 2020, ditambah faktor lainnya.
Gambar 6. Suhu Muka Laut Perairan Indonesia dan Anomalinya bulan Agustus 2020 (sumber: NOAA)
Gangguan Tropis
Selama Agustus 2020 terdapat 5 aktifitas siklon tropis di Utara ekuator yaitu Siklon JANGMI pada 09 - 10 Agustus 2020, Siklon MEKKHALA pada 10 Agustus 2020, Siklon HIGOS pada 18 Agustus 2020, Siklon BAVI pada 22 – 26 Agustus 2020 Dan Siklon MAYSAK pada 28 Agustus – 03 September 2020. Lokasi siklon yang cukup jauh kurang berdampak terhadap kondisi cuaca di Indonesia khususnya wilayah Banyuwangi. Di wilayah Banyuwangi kejadian hujan secara umum dipengaruhi oleh menguatnya monsun baratan yang menyebabkan pertemuan massa udara dan pertumbuhan awan hujan, hangatnya suhu muka laut serta aktifnya La NiÑa.
5 Kelembaban Udara
Kelembaban udara relatif selama Agustus 2020 di Jawa Timur umumnya cukup basah dengan rata-rata kisaran diatas 80%. Dari peta anomali terlihat merata di seluruh wilayah Jawa Timur dengan anomali positif 09 – 10 % dari rata-ratanya, dimana hal ini berkorelasi positif dengan kejadian hujan dan sebaran pertumbuhan awan selama Agustus 2020 yaitu masih terjadi hujan di wilayah Jawa Timur khususnya Banyuwangi.
Gambar 9. Kelembaban Udara Relatif Agustus 2020 dan Anomalinya pada level 850 mb (Sumber: ESRL NOAA)
Aktivitas Cuaca
Selama bulan Agustus 2020 sebagian besar wilayah Banyuwangi masih terjadi hujan dengan kategori Rendah, Menengah dan Tinggi. Hujan kategori Rendah terjadi di Banyuwangi Kota, Dadapan/Kabat, Rogojampi, Alasmalang/Singojuruh, Genteng, Kebondalem/Bangorejo, Sukonatar/Srono, Tegaldlimo, Purwoharjo, Karangdoro/Tegalsari, Jambewangi/Sempu, Blambangan/Muncar dan Pesanggaran. Kategori Menengah terjadi di Jambu/Licin, Glenmore, Songgon dan Kalibaru. Kategori Tinggi hanya terjadi di Bayu Lor/Songgon dengan jumlah hujan 448 mm/bln.
Kondisi hujan pada Agustus 2020 jika dibandingkan dengan kondisi normal/ rata-rata bulan tersebut secara spasial hujan yang terjadi memiliki sifat hujan Bawah Normal terjadi di Purwoharjo, Jambewangi/Sempu dan Blambangan/Muncar. Sifat hujan Normal terjadi di Rogojampi, Sukonatar/Srono, dan Pesanggaran. Sedangkan sifat hujan Atas Normal terjadi di Banyuwangi Kota, Licin, Dadapan/Kabat, Alasmalang/Singojuruh, Bayu Lor/Songgon, Glenmore, Kebondalem/Bangorejo, Tegaldlimo dan Kalibaru. Walaupun secara Normal Musim sebagian besar wilayah Banyuwangi berada pada Musim Kemarau namun hujan masih sering terjadi di beberapa kecamatan. Hal tersebut disebabkan karena suhu muka laut yang hangat di perairan sekitar Banyuwangi, adanya perlambatan angin dan penagruh kondisi Dinamika Atmosfir lainnya.
Pada September 2020 sebagian besar wilayah Banyuwangi masih berada pada masa musim kemarau, namun kemarau tahun ini cenderung lebih basah bila di bandingkan musim kemarau tahun lalu. Hal tersebut di tandai dengan masih terjadinya hujan di sebagian besar wilayah Banyuwangi walaupun jumlah dan keseringan hujan tidak seperti saat musim hujan. Kondisi cuaca untuk wilayah perairan selatan Banyuwangi pada September 2020 cuaca hujan diprediksi akan cenderung berkurang namun perlu diwaspadai terjadinya gelombang tinggi dan tingginya kecepatan angin . Hal tersebut di akibatkan karena kuatnya tekanan udara tinggi di daerah Bum i Belahan Selatan (BBS) yang berpengaruh terhadap meningkatnya kecepatan angin dan gelombang tinggi di perairan selatan khususnya Banyuwangi.
6
B. Pantauan Kondisi Cuaca Bulan Agustus 2020 di Kota Banyuwangi
Dari rentetan peta synoptic selama bulan Agustus 2020 menunjukan bahwa wilayah Banyuwangi Kota sudah memasuki musim kemarau, hal tersebut di tandai oleh jumlah curah hujan <150 mm/bulan. Angin pada umumnya bertiup dari arah yang bervariasi. Angin dominan bertiup dari arah Tenggara, dengan kecepatan 2 – 12 knots. Kondisi cuaca cerah – berawan dan hujan ringan. Angin maksimum terjadi pada 10 Agustus 2020 yaitu dari arah Utara dengan kecepatan maximum 12 knots. Jumlah Hujan di Kota Banyuwangi dalam satu bulan 48.0 mm/bulan (Atas Normal). Suhu tertinggi 32.2 °C terjadi pada 10 Agustus 2020, suhu terendah sebesar 22.2 ºC terjadi pada 02 Agustus 2020.
Berikut adalah rekap data meteorologi yang diperoleh dari Stasiun Meteorologi Banyuwangi pada bulan A g u s t u s 2 0 2 0 , di mana pada tabel ini ditampilkan parameter hasil observasi yang merupakan hasil pengamatan di lapangan dan data normal/ rata- rata yang merupakan keadaan normal pada bulan yang bersangkutan.
Tabel 1. Rekap Data Meteorologi Stasiun Meteorologi Banyuwangi Agustus 2020
NO PARAMETER HASIL OBSERVASI AGUSTUS 2020 NORMAL AGUSTUS (1981-2010)
1 Temperatur rata-rata 26.3 ⁰C 25.6 ⁰C
2 Temperatur maksimum 29.2 ⁰C 30.8 ⁰C
3 Temperatur minimum 23.6 ⁰C 20.5 ⁰C
4 Temp. maks. absolut 32.2 ⁰C 33.0 ⁰C
5 Temp. min. absolut 22.2 ⁰C 18.0 ⁰C
6 Tekanan udara rata-rata * 1011.9 mb 1011.9 mb
7 Kecepatan angin rata-rata 3.3 knots 3.7 knots
8 Arah angin terbanyak Tenggara Selatan
9 Kelembaban rata-rata 80 % 78 %
10 Curah hujan 48.0 mm 48.0 mm
8
Gambar 10. Grafik parameter cuaca dan mawar angin di kota Banyuwangi hasil observasi Agustus 2020 (Sumber: BMKG)
Penguapan yang terjadi selama Agustus 2020 mencapai 137.6 mm dengan rata-rata harian 4.4 mm, penguapan tertinggi 6.8 mm terjadi pada 12 Agustus 2020.
Penyinaran matahari rata-rata A g u s t u s 2020 a d a l a h 8 1 % . P e n y i n a r a n M a t a h a r i t e r t i n g g i mencapai 1 0 0 % terjadi pada dasarian I, II, dan III.
Tekanan udara (QFF) r a t a - r a t a 1 0 1 1 . 9 m b , tertinggi 1014.5 mb pada 26 Agustus 2020 dan terendah 1009.5 mb pada 04 Agustus 2020.
Rata-rata kelembaban udara relative (RH) A g u s t u s 2020 adalah 8 0 % dengan RH tertinggi 85% pada 11 Agustus 2020, dan RH terendah 73% pada 02 Agustus 2020. Arah angin bervariasi, kecepatan angin 3 – 8 knots.
Angin dominan bertiup dari arah Tenggara. Kecepatan angin antara 3 – 8 knots sebesar 56.2 %, kecepatan angin 8 – 13 knot sebesar 8.3%. Kecepatan angin tertinggi 12 knots, terjadi pada tanggal 10 dan 26 Agustus 2020 dari arah Tenggara.
C. Evaluasi Kondisi Cuaca Bandara Banyuwangi.
Bandar Udara Banyuwangi (IATA: BWX, ICAO: WADY) terletak di Desa Blimbingsari Kec. Blimbingsari Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur pada koordinat 8°18′38.16″ LS 114°20′24.64″ BT dengan elevasi 25.66 meter (84.19 feet). Bandara dengan landas pacu saat ini 2.250 meter tersebut dibuka pada 29 September 2010. Terdapat lima maskapai penerbangan komersial yaitu Garuda Indonesia, Wings Air, Citilink (Garuda Indonesia Group), Lion Air, Batik Air. Selain itu juga terdapat 2 sekolah penerbangan yaitu Akademi Penerbang Indonesia (API), Bali International Flight Academy (BIFA).
Kondisi parameter cuaca selama Agustus 2020 di Bandara Banyuwangi dari data hasil pengamatan BMKG pos meteorologi penerbangan bandara Banyuwangi dengan durasi pengamatan 24 jam (00.00 – 23.00 UTC) adalah sebagai berikut :
Wilayah Bandara Banyuwangi pada bulan Agustus 2020 normalnya berada pada masa Musim Kemarau. Pada Agustus 2020 di Bandara Banyuwangi jumlah curah hujan 94.8mm.
Curah hujan tertinggi pada Agustus sebesar 22.6 mm tanggal 15 Agustus 2020. Kelembaban udara relatif rata-rata 86 %. RH tertinggi 100 % pada dasarian I, II dan III Juli 2020, terendah 55 % tanggal 02 Agustus 2020. Tekanan udara (QNH) rata-rata 1012.1 mb, tertinggi 1014.0 mb d an terendah 1010.6 mb. Suhu rata–rata 26.1 °C dengan suhu maksimum absolut 30.7 °C terjadi pada tanggal 10 Agustus 2020, suhu minimum absolut 17.4 °C pada tanggal 23 Agustus 2020. Arah angin bervariasi, kecepatan angin 3 – 8 knots sebesar 60.2% bertiup dari arah Tenggara. Kecepatan angin tertinggi 16 knots, terjadi pada 29 Agustus 2020 dari arah Selatan.
9
Gambar 11. Grafik parameter cuaca hasil observasi Agustus 2020 di Banyuwangi International Airport (Sumber: BMKG)
10
D. Evaluasi Kondisi Cuaca Pelabuhan Penyeberangan Selat Bali
Berdasarkan pantauan data AWS maritim di pelabuhan penyeberangan Ketapang Banyuwangi, menunjukkan selama bulan Agustus 2020 angin dominan dari arah Selatan - Barat Daya dengan kecepatan angin bervariasi 2 – 13.3 knot. Suhu berkisar antara 22.8 – 29.3 °C, Kelembaban Udara Relatif 57 – 100 %, dan tekanan udara berkisar 1007.4 – 1015.0 mb. Kondisi cuaca dominan cerah – berawan namun masih terdapat hujan ringan. Curah hujan tercatat 33 milimeter. Berikut grafik parameter cuaca selat Bali :
11
E. AnalisaHujan Agustus 2020 Daerah Banyuwangi
Berdasarkan data curah hujan bulan Agustus 2020 dari stasiun BMKG dan pos-pos hujan kerjasama di Banyuwangi dapat disajikan evaluasinya sebagai berikut :
Jumlah Curah hujan tertinggi 448 mm/bulan, terjadi di Bayulor (16 hari hujan) dengan sifat hujan Atas Normal. Sementara curah hujan terendah 6 mm/bulan yang terjadi di Pesanggaran dengan sifat hujan Normal. Sedangkan curah hujan di Banyuwangi Kota 48.0 mm/bulan dengan sifat hujan Atas Normal.
Gambar 13. Peta Distribusi Curah Hujan Agustus 2020 dan Sifat Hujan Agustus 2020 di Banyuwangi (Sumber: BMKG)
Dari peta terlihat bahwa secara spasial mayoritas wilayah Banyuwangi pada Agustus 2020 sebagian besar masih terjadi hujan. Hujan yang terjadi masuk dalam kategori bervariasi yaitu Rendah, Menengah dan Tinggi. Curah Hujan kategori Rendah (0-100 mm/bln) terjadi di Banyuwangi Kota, Dadapan/Kabat, Rogojampi, Alasmalang/Singojuruh, Genteng, Kebondalem/Bangorejo, Sukonatar/Srono, Tegaldlimo, Purwoharjo, Karangdoro/Tegalsari, Jambewangi/Sempu, Blambangan/Muncar dan Pesanggaran. Kategori Menengah (100-300 mm/bln) terjadi di Jambu/Licin, Glenmore, Songgon dan Kalibaru. Kategori Tinggi (300-500 mm/bln) hanya terjadi di Bayu Lor/Songgon.
12
F. Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut
Gambar 14. Peta Monitoring Hari Tanpa Hujan berturut-turut Agustus 2020 di Banyuwangi (Sumber: BMKG Banyuwangi)
Dari peta terlihat bahwa secara spasial seluruh wilayah Banyuwangi pada Agustus 2020 sebagian besar masih terjadi hujan. Hasil monitoring hari tanpa hujan di wilayah Banyuwangi pada Agustus 2020 masuk dalam klasifikasi Sangat Pendek, Pendek, Menengah dan Sangat Panjang. Klasifikasi Sangat Pendek terjadi di Banyuwangi Kota, Kabat, Licin dan Songgon. Klasifikasi Pendek terjadi di Kalibaru, Glenmore dan Pesanggaran. Klasifikasi Menengah terjadi di Rogojampi, Singojuruh, Srono, Silir Agung, Bangorejo dan Tegaldimo sedangkan Kategori Sangat Panjang terjadi di Muncar dan Purwoharjo.
Dari hasil monitoring hari hujan wilayah Banyuwangi ini mengindikasikan bahwa daerah yang berpotensi untuk terjadinya Kekeringan Ekstrim pada Agustus 2020 hingga pertengahan September 2020 belum ada/ nihil. Namun daerah Muncar dan Purwoharjo agar lebih di waspadai.
13
II. PROSPEK CUACA BULAN SEPTEMBER 2020 A. Prediksi Dinamika Atmosfer September 2020
Monitoring perkembangan ENSO dari BMKG menunjukkan kondisi ENSO negatif. Sementara itu Dipole Mode Indeks (DMI) yang terpantau negatif, diprediksi akan menuju netral mulai Februari 2021, mengindikasikan adanya penambahan massa uap air dari Samudera Hindia menuju wilayah Indonesia bagian Barat maupun sebaliknya.
Secara umum anomali suhu muka laut (Sea Surface Temperature/ SST) perairan Indonesia dan sekitarnya pada September 2020 diprediksi tetap berada dalam kondisi anomali positif dan akan bertahan hingga Februari 2021.
Analisis aktifitas MJO pada tanggal 31 Agustus 2020 menunjukkan MJO aktif di fase 2 dan di prediksi tetap aktif menuju fase 3 hingga awal dasarian II September 2020. Berdasarkan peta prediksi spasial anomali OLR wilayah Konvekif / sedikit lebih basah mulai memasuki wilayah Indonesia bagian barat dan semakin meluas menuju wilayah Indonesia bagian Timur hingga awal dasarian II September 2020.
Pada skala regional secara normal pola tekanan udara rendah selama September 2020 sering muncul di Belahan Bumi Utara (BBU). Seiring pergerakan semu matahari memasuki September 2020 potensi terjadinya gangguan tropis di BBU akan membuat monsun Timuran stabil dan akan berdampak terhadap berkurangnya kejadian hujan terutama di selatan ekuator. La NiÑa yang sedang berlangsung menyebabkan hujan masih terjadi di Wilayah Banyuwangi. Waspadai juga cuaca Ekstrim memasuki peralihan musim.
Melihat perkembangan dinamika atmosfer dan dampaknya terhadap kondisi cuaca iklim di Jawa Timur dan Banyuwangi khususnya, dapat disimpulkan bahwa wilayah Banyuwangi pada bulan September 2020 musim kemarau masih berlangsung. Tetapi tetap perlu kewaspadaan menghadapi potensi terjadinya kekeringan di Wongsorejo, angin kencang dan gelombang laut tinggi khususnya di daerah pesisir pantai selatan Banyuwangi. Untuk prakiraan curah hujan bulanan, sebagai dampak pola monsun timuran yang stabil maka diprediksi akumulasi curah hujan bulan September 2020 sebagian wilayah diprediksi curah hujannya berada pada kondisi dibawah normalnya, sebagian diatas normalnya dan sebagian wilayah lainnya berada dibawah kondisi rata-rata / normalnya.
14
Gambar 15. Prediksi ENSO dan anomali Suhu Permukaan Laut (Sumber : IRI, NMME )
15
B. Prakiraan Curah Hujan dan Sifat Hujan Banyuwangi Bulan September 2020
Berdasarkan hasil perhitungan statistik dan pantauan kondisi fisis dan dinamis atmosfer di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya serta kondisi lokal masing-masing wilayah terutama topografi daerah Jawa Timur, maka curah hujan daerah Banyuwangi untuk bulan September 2020 diprakirakan sebagai berikut :
Curah Hujan wilayah Banyuwangi berkisar 0 mm hingga 100 mm
Sifat Hujan wilayah Banyuwangi dominan di Bawah Normal
16
C. Prakiraan Potensi Banjir September 2020
Berikut adalah peta prakiraan potensi Banjir bulan September 2020. Dari peta terlihat wilayah di Banyuwangi potensi banjirnya diprediksi masuk kategori Aman. Memasuki bulan September 2020 semua wilayah Banyuwangi masih memasuki musim kemarau.
Gambar 17. Prakiraan Daerah Potensi Banjir September 2020 (Sumber:BMKG)
III. INFORMASI TERBIT-TERBENAM MATAHARI SEPTEMBER 2020
Berikut adalah data terbit terbenamnya matahari, selama bulan September 2020 di wilayah Kota Banyuwangi :
17
IV. KEJADIAN GEMPABUMI DIRASAKAN SIGNIFIKAN DI WILAYAH BANYUWANGI
Gambar 18. Kejadian Gempabumi yang signifikan di Banyuwangi (Sumber:BMKG)
Kejadian Gempa Bumi yang signifikan dirasakan sampai di wilayah Banyuwangi: pada 15 Agustus 2020 jam 14.12.10 WIB, Lokasi 9.51 LS 114.51 BT BaratDaya Jembrana BALI, Kekuatan Gempa 5.3 SR Kedalaman 10 KM dan dirasakan hingga wilayah Banyuwangi dengan kekuatan I-II MMI.
V. KEJADIAN CUACA EKSTRIM AGUSTUS 2020
Cuaca / Iklim Ekstrim adalah suatu kondisi meteorologi yang menyimpang dari nilai rata-ratanya atau menyimpang terhadap nilai batas ambang meteorologi di wilayah tersebut. Dampak pemanasan global yang berlanjut pada perubahan iklim di yakini sebagai salah satu pemicu munculnya cuaca/ iklim ekstrim baik dari tingkat keseringan, cakupan luas wilayah maupun nilainya, dimana cuaca/iklim ekstrim tersebut berpotensi menimbulkan bencana dan kerugian bahkan korban jiwa.
Tabel 2. Cuaca/ Iklim Ekstrim Bulan Agustus 2020 Banyuwangi
KRITERIA KETERANGAN
Angin dengan kecepatan > 45 Km/jam -
Suhu udara > 35˚ C -
Suhu udara < 15˚ C -
Kelembaban udara < 30 % -
Curah Hujan >100 mm / hari Bayulor 119 mm
Tanah Longsor -
Banjir Bandang -
18
DAFTAR ISTILAH INFORMASI CUACA, IKLIM DAN GEMPABUMI
ENSO adalah singkatan dari El-Nino Southern Oscillation. Secara umum para ahli
membagi ENSO menjadi ENSO hangat (El-Nino) dan ENSO dingin (La-Nina). Kondisi tanpa kejadian ENSO biasanya disebut sebagai kondisi normal. Referensi penggunaan kata hangat dan dingin adalah berdasarkan pada nilai anomali suhu permukaan laut (SPL) di daerah NINO di Samudera Pasifik dekat ekuator bagian tengah dan timur. Pada saat fenomena El Nino berlangsung, kondisi atmosfer di wilayah Indonesia cenderung kering, sehingga potensi kondisi curah hujannya berkurang atau lebih sedikit dibandingkan dengan rata-rata normalnya. Kondisi sebaliknya terjadi ketika fenomena La Nina berlangsung, dimana atmosfer wilayah Indonesia umumnya akan cenderung basah, sehingga bisa berpotensi menyebabkan intensitas curah hujan yang lebih banyak dibanding rata-rata normalnya.
Dipole Mode merupakan fenomena interaksi laut dan atmosfer di Samudera Hindia yang
dihitung berdasarkan perbedaan nilai (selisih) antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika dengan perairan sebelah barat Sumatera. Perbedaan nilai anomali suhu muka laut tersebut selanjutnya dikenal sebagai Dipole Mode Indeks (DMI), dimana DMI positif berdampak berkurangnya curah hujan di Indonesia bagian barat, DMI negatif berdampak meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.
Asian Cold Surge atau seruakan dingin Asia digunakan untuk menggambarkan
penjalaran massa udara dari Asia akibat adanya tekanan tinggi di daerah tersebut dan menjalar ke arah selatan menuju ekuator dengan membawa massa udara dingin. Indeks yang digunakan untuk identifikasi aktivitas cold surge adalah dengan menghitung indeks monsun yaitu selisih nilai tekanan antara Titik 115° BT/ 30° LU (didekati dengan data dari stasiun Wuhan di daratan China) dengan tekanan di Hongkong (116° BT/ 22° LU). Threshold value yang digunakan untuk indeks monsun dari gradient tekanan adalah ≥10 mb sebagai indikator adanya cold surge.
MJO singkatan dari Madden Jullian Oscillation adalah suatu istilah yang digunakan untuk
menggambarkan fluktuasi antar musiman yang terjadi di sekitar wilayah tropis. Keberadaan MJO ditandai dengan adanya penjalaran pada arah timuran di wilayah tropis dimana terjadinya penambahan intensitas curah hujan pada daerah tersebut, terutama di atas Samudera Hindia dan Pasifik. Anomali curah hujan seringkali merupakan indikator pertama dalam mengindikasikan kejadian MJO, dimana pada mulanya intensitas curah hujan tinggi terjadi di Samudera Hindia dan kemudian menjalar ke arah timur melewati wilayah Indonesia menuju Samudera Pasifik barat dan tengah panjang siklus MJO diperkirakan sekitar 30-60 harian. Penemu dari fenomena MJO ini adalah Madden dan Jullian.
OLR singkatan dari Outgoing Longwave Radiation adalah istilah yang digunakan untuk
menyatakan intensitas atau banyaknya radiasi gelombang panjang dari bumi ke atmosfer. Anomali OLR yang bernilai negatif menunjukkan jumlah radiasi yang terukur di atmosfer sangat sedikit karena terhalang oleh intensitas perawanan yang cukup tinggi di atmosfer. Sedangkan anomali OLR positif menunjukkan jumlah radiasi dari bumi yang cukup banyak karena tidak terhalang oleh kondisi perawanan di atmosfer. Satuan OLR adalah weber/m-2.
Monsun adalah sirkulasi angin yang mengalami perubahan arah secara periodik setiap
setengah tahun sekali. Sirkulasi angin Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di Australia dan Asia. Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun. Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan udara tinggi di Asia yang berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di Indonesia. Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan udara tinggi di Australia yang berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di Indonesia.
19
Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (ITCZ/ Inter Tropical Convergence Zone)
merupakan daerah tekanan udara rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi selalu berubah mengikuti pergerakan posisi semu matahari ke arah utara dan selatan khatulistiwa. Wilayah Indonesia yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadi pertumbuhan awan-awan hujan.
Curah Hujan (mm) adalah ketinggian air hujan yang terkumpul dalam penakar hujan
pada tempat yang datar, tidak menyerap, tidak meresap dan tidak mengalir. Unsur hujan 1 (satu) milimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air hujan setinggi satu milimeter atau tertampung air hujan sebanyak satu liter.
Zona Musim (ZOM) adalah daerah yang pola hujan rata-ratanya memiliki perbedaan
yang jelas antara periode musim kemarau dan periode musim hujan. Wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas daerah administrasi pemerintahan. Dengan demikian satu kabupaten/ kota dapat saja terdiri dari beberapa ZOM dan sebaliknya satu ZOM dapat terdiri dari beberapa kabupaten.
Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari. Dalam satu bulan dibagi
menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu :
a. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10 b. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20
c. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan
Sifat Hujan adalah perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang
ditetapkan (satu periode musim hujan atau satu periode musim kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode 1971 - 2000). Sifat hujan dibagi menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu :
a. Atas Normal (AN), jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata-ratanya b. Normal (N), jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata-ratanya c. Bawah Normal (BN), jika nilai curah hujan kurang dari 85% terhadap
rata-ratanya
Gempa adalah getaran bumi yang terjadi sebagai akibat penjalaran gelombang
seimik/gempa yang terpancar dari sumbernya/sumber energi elastik
Gempa Tektonik adalah gempabumi yang disebabkan oleh adanya pergeseran atau
pergerakan lempeng bumi.
Magnitude adalah parameter gempa yang berhubungan dengan besarnya kekuatan
gempa di sumbernya. Ada beberapa jenis magnitude, yaitu: magnitude lokal (ML), magnitude
gelombang permukaan (Ms), magnitude gelombang badan (mb), magnitude momen (Mw),
magnitude durasi (Md).
Intensitas gempa adalah besaran yang dipakai untuk mengukur suatu gempa
berdasarkan tingkat kerusakan dan reaksi manusia yang disebabkan oleh gempa tersebut.
Skala Richter Suatu ukuran obyektif kekuatan gempa dikaitkan dengan magnitudenya,
dikemukan oleh Richter (1930).
Skala MMI (Modified Mercally Intensity) adalah suatu ukuran subyektif kekuatan gempa
dikaitkan dengan intensitasnya.