• Tidak ada hasil yang ditemukan

HIBUALAMO Seri Ilmu-ilmu Sosial dan Kependidikan Volume 3, Nomor 1, Tahun

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HIBUALAMO Seri Ilmu-ilmu Sosial dan Kependidikan Volume 3, Nomor 1, Tahun"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Online ISSN 2621-0363

http://journal.unhena.ac.id

PENERAPAN SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH, KUALITAS SISTEM

PENGENDALIAN INTERN DAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI

TERHADAP AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH

Risky Soleman1, Rusman Soleman2 dan Zainuddin3

1,2,3Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Khairun

E-mail : [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bukti empiris mengenai akuntabilitas kinerja instansi pemerintah dengan melihat penerapan sistem akuntansi pemerintah daerah, kualitas sistem pengendalian intern dan pemanfaatan teknologi informasi. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dengan sampel pegawai tetap Inspektorat Provinsi Maluku Utara sebanyak 83 pegawai inspektorat dengan menggunakan metode sampel jenuh. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan Analisis regresi berganda dengan menggunakan program SPSS versi 24.0. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Penerapan Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah tidak berpengaruh terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, (2) Kualitas Sistem Pengendalian Intern berpengaruh positif dan signifikan terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, (3) Pemanfaatan Teknologi Informasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.

Kata kunci : Akuntansi Pemerintah Daerah, Sistem Pengendalian Intern, Teknologi Informasi dan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.

ABSTRACT

This study aims to obtain empirical evidence regarding accountability of government agency performance by looking at the application of the regional government accounting system, the quality of the internal control system and the use of information technology. The data used in this study are primary data using a questionnaire. The respondents is all permanent employees of the Inspectorate of North Maluku Province. The sampling method of this study were 83 employees of the inspectorate by using the saturated sample method. Data analysis in this study used multiple regression analysis by using the SPSS version 24.0 program. The results of this study are as follows: (1) The Application of Regional Government Accounting Systems does not have a positive and significant effect on Performance Accountability of Government Agencies, (2) The Quality of Internal Control Systems has a positive and significant effect on Performance Accountability of Government Agencies, (3) Information Technology Utilization positive and significant effect on Performance Accountability of Government Agencies.

Keywords: Local Government Accounting Systems, Internal Control Systems, and Information Technology on

Performance Accountability of Government Agencies.

1. PENDAHULUAN

Otonomi daerah merupakan upaya pemberdayaan daerah dalam pengambilan keputusan daerah secara lebih leluasa untuk mengelola sumber daya yang dimiliki sesuai dengan kepentingan, prioritas, dan potensi daerah itu sendiri. Dengan adanya otonomi daerah, pengelolaan keuangan sepenuhnya berada di tangan pemerintah daerah sendiri. Sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah, diperlukan sistem akuntansi yang baik, karena sistem akuntansi merupakan pendukung terciptanya pengelolaan keuangan daerah yang akuntabel, dalam rangka mengelola dana dengan system desentralisasi secara transparan, efesien,

efektif, dan dapat dipertanggungjawabkan. undang No. 32 tahun 2004 sebagai pengganti Undang-undang No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-undang No. 33 tahun 2004 sebagai pengganti Undang-undang No. 25 tahun 1999 tentang Perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah menjadi landasan yuridis bagi pengembangan otonomi daerah di Indonesia Janny (2018).

Sehubungan dengan hal tersebut seperangkat peraturan prundang-undangan telah digulirkan, salah satunya adalah instruksi Presiden No. 29 tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP), adalah rangkaian sistematik

(2)

dari berbagai aktivitas, alat, dan prosedur yang dirancang untuk tujuan penetapan dan pengukuran, pengumpulan data, pengklasifikasian, pengikhtisaran, dan pelaporan kinerja pada instansi pemerintah, dalam rangka pertanggungjawaban dan peningkatan kinerja instansi pemerintah merupakan salah satu upaya dalam mewujudkan good governance

Beberapa faktor yang mempengaruhi akuntabilitas kinerja instansi pemerintah yakni penerapan sistem akuntansi Pemerintah daerah, sistem pengendalian intern dan pemanfatan teknologi. Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD) adalah serangkaian prosedur mulai dari proses pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan keuangan dalam rangka pertanggung jawaban pelaksanaan APBD yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer.

2. TELAAH PUSTAKA

2.1. Agency Theory

Teori agensi yang mengadopsi pendapat Jensen dan Meckling (1976), Hendriksen (2005), dan Scott (2003) dapat digambarkan bahwa hubungan rakyat dengan pemerintah dapat dikatakan sebagai hubungan keagenan, yaitu hubungan yang timbul karena adanya kontrak yang ditetapkan oleh rakyat (sebagai principal) yang menggunakan pemerintah (sebagai agent) untuk menyediakan jasa yang menjadi kepentingan masarakat. Untuk mengawasi perilaku pemerintah serta menyelaraskan tujuan rakyat dan pemerintah, rakyat mewajibkan pemerintah untuk mempertanggung jawabkan pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepada pemerintah melalui mekanisme pelaporan keuangan secara periodik. Melalui laporan keuangan yang merupakan tanggung jawab pemerintah, rakyat melalui legislatif dapat mengukur, menilai sekaligus mengawasi kinerja pemerintah, sejauh mana pemerintah telah bertindak untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

2.2. Goal Setting Theory

Seserorang akan mengerjakan tugas dengan lebih baik apabila mereka memperoleh umpan balik atas apa yang dikerjakan karena umpan balik membantu individu mengidentifikasi progres seseorang terhadap sasaran yang dikerjakan. Umpan balik yang ditimbulkan oleh diri sendiri dimana karyawan mampu memantau kemajuannya sendiri telahditunjukkan sebagai motivator yang lebih ampuh daripada umpan balik yang ditimbulkan secara eksternal, akan tetapi dalam beberapa kasus lain individu akan memiliki kinerja terbaik bila ditugasi sasaran oleh atasan mereka (Robbins, 2006: 227)..

2.3. Penerapan Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah

Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD) adalah serangkaian prosedur mulai dari proses pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran,

sampai dengan pelaporan keuangan dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi Komputer.

2.4. Kualitas Sistem Pengendalian Intern

Sistem pengendalian intern pemerintah (SPIP) sesuai dengan peraturan pemerintah nomor 60 tahun 2008, sistem pengendalian intern adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatanyang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturanperundang-undangan. dalam peraturan pemerintah tersebut juga disebutkan bahwa unsur sistem pengendalian intern dalam peraturan pemerintah ini mengacu pada unsur sistem pengendalian internyang telah dipraktikkan di lingkungan pemerintahan di berbagai negara, yang meliputi: lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi, serta pemantauan.

2.5. Pemanfaatan Teknologi Informasi

Informasi adalah data yang terolah dan sifatnya menjadi data lain yang bermanfaat dan biasa disebut informasi. Pemanfaatan teknologi informasi adalah perilaku/ sikap akuntan menggunakan teknologi informasi untuk menyelesaikan tugas dan meningkatkan kinerjanya.

2.6. Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah

Akuntabilitas dapat diartikan sebagai perwujudan pertanggungjawaban seseorang atau unit organisasi, dalam mengelola sumber daya yang telah diberikan dan dikuasai, dalam rangka pencapaian tujuan, melalui suatu media berupa laporan akuntabilitas kinerja secara periodik. Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP), sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah, Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, dibangun dan dikembangkan dalam rangka mewujudkan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas dan fungsi serta pelaksanaan program instansi pemerintah.

2.7. Pengaruh Penerapan SAPD Terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah

Sistem akuntansi pemerintah daerah (SAPD) merupakan suatu instrumen untuk mengoperasionalkan prinsip-prinsip akuntansi yang telah ditetapkan dalam SAP dan kebijakan akuntansi. SAPD menunjukkan

(3)

rangkaian proses akuntansi yang terdiri dari proses identifikasi transaksi keuangan, menjurnal ke dalam buku jurnal, memposting ke buku besar, menyusun neraca saldo, menyusun kertas kerja konsolidasian, dan diakhiri dengan penyusunan laporan keuangan. Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD) adalah serangkaian prosedur mulai dari proses pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan keuangan dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer.

2.8. Pengaruh Kualitas Sistem Pengendalian Intern Terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.

Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) merupakan suatu cara untuk mengarahkan, mengawasi, dan mengukur sumber daya suatu organisasi, serta berperan penting dalam pencegahan dan pendeteksian penggelapan (fraud). Pengendalian intern terdiri atas kebijakan dan prosedur yang digunakan dalam mencapai sasaran dan menjamin atau menyediakan informasi keuangan yang andal, serta menjamin ditaatinya hukum dan peraturan yang berlaku.

2.9. Pengaruh Pemanfaatan Teknologi Informasi Terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.

Teknologi informasi meliputi komputer

(mainframe, mini, micro), perangkat lunak (software), data base, jaringan (internet, intranet), electronic commerce, dan jenis lainnya yang berhubungan dengan teknologi (Wilkinson et al., 2000).Teknologi informasi selain sebagai teknologi komputer (hardware dan software) untuk pemrosesan dan penyimpanan informasi, juga berfungsi sebagai teknologi komunikasi untuk penyebaran informasi. Komputer sebagai salah satu komponen dari teknologi informasi merupakan alat yang bisa melipatgandakan kemampuan yang dimiliki manusia dan komputer juga bisa mengerjakan sesuatu yang manusia mungkin tidak mampu melakukannya).

Berdasarkan argumentasi teoritik di atas maka hipotesis yang diajukan adalah:

H1: Penerapan sistem akuntansi pemerintah daerah berpengaruh terhadap akuntabilitas kinerja instansi pemerintah

H2: Kualitas sistem pengendalian intern berpengaruh terhadap akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. H3: Pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh terhadap akauntabilitas kinerja instansi pemerintah.

3. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada Inspektorat Provinsi Maluku Utara yang menjadi objek dalam penelitian adalah seluruh Pegawai Tetap di Inspektorat Provinsi Maluku Utara penelitian ini dilakukan selama dua

bulan.

3.2. Populasi dan Sampel Penelitian

Sampel dalam penelitian ini adalah pegawai negeri sipil di Dinas Inspektorat Provinsi Maluku Utara, dengan jumlah sampel sebanyak 89 orang.

3.3. Jenis dan Sumber Data

Jenis data dalam penelitian ini adalah data Mix Method (kualitatif dan kuantitatif), yaitu data yang telah diolah oleh peneliti yang bersumber dari data primer berupa jawaban kuesioner yang dibagikan serta hasil wawancara kepada responden. Sementara sumber data dalam penelitian ini berupa data primer, yaitu berupa daftar pertanyaan dalam bentuk kuesioner yang diberikan secara langsung kepada responden yang menjabat sebagai Inspektur, Sekretaris, Pejabat Eleson III, Pejabat Eleson IV, Auditor,dan Pejabat Fungsional. Hasil yang diperoleh akan diolah dalam bentuk pembahasan, kesimpulan dan saran.

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik angket (kuesioner) yaitu metode pengumpulan data yang digunakan dengan cara membagi daftar pertanyaan kepada responden agar responden tersebut memberikan jawabannya dalam setiap pertanyaan.

3.5. Model dan Analisis Data

Metode yang digunakan adalah uji validitas dan uji reliabilitas. Kuesioner di sebar sebanyak 89 kuesioner untuk pengujian validitas dan reliabilitas.

3.6. Uji Validitas

Uji validitas dilakukan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut Pengujian validitas menggunakan analisis faktor. Analisis faktor dilakukan untuk mengekstraksi sejumlah indikator pembentuk variabel, serta pemeriksaan validitas dan reliabilitas instrumen penelitian. Melakukan first order confirmatory factor analysis untuk masing-masing variabel akan diketahui indikator-indikator pembentuk variabel serta validitas dan reliabilitasnya. Nilai loading factor atau lambda value (λ) serta nilai signifikansinya menunjukkan kecocokan atau unidimensionalitas dari indikator-indikator pembentuk dimensi dan variabel. Indikator yang loading factornya ≤ 0,3 atau p value lebih besar dari 0,05 tidak disertakan dalam model (Ghozali 2013: 55).

3.7. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas menunjukkan akurasi, ketepatan dan konsistensi kuesioner dalam mengukur variabel. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah

(4)

konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Pengujian reliabilitas dilakukan hanya pada indikator-indikator konstruk yang telah melalui pengujian validitas, dan dinyatakan valid (Ghozali 2005 :11).

Pengujian ini dilakukan dengan menghitung koefisien Cronbach Alpha (α) dari masing-masing instrumen dalam satu variabel. Suatu variabel disebut reliable, apabila hasil α ≥ 0,60 maka hasilnya adalah reliable dan jika hasil α ≤ 0,0 maka hasil yang didapat tidak reliabel.

3.8. Uji Asumsi Klasik 3.8.1. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah residual data dari model regresi linear memiliki distribusi normal ataukah tidak. Model regresi yang baik adalah yang residual datanya berdistribusi normal.Jika residual data tidak terdistribusi normal maka kesimpulan statistik menjadi tidak valid atau bias. Ada cara untuk mendeteksi apakah residual data berdistribusi normal ataukah tidak yaitu dengan uji one sample Kolmogorov-Smirmov. Jika pada uji one sample Kolmogorov-Smirmov terdapat nilai signifikansinya lebih dari 0,05 maka menunjukkan distribusi yang normal sehingga bisa dilakukan regresi dengan model liner berganda (Ghozali, 2005).

3.8.2. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi (karena VIF = 1/tolerance) dan menunjukkan adanya kolinearitas yang tinggi. Dasar pengambilan keputusan adalah apabila nilai tolerance > 0,1 atau sama dengan nilai VIF < 10 berarti tidak ada multikolinearitas antar variabel dalam model regresi.

3.8.3. Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi berganda ketidak samaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Model regresi yang baik apabila tidak terjadi masalah Heteroskedastisitas. Uji Heteroskedastisitas dalam penelitian ini dengan menggunakan grafik scatterplot. Jika variance dari satu pengamatan ke pengamata yang lain tetap, maka terjadi homoskedastisitas dan apabila beberbeda maka terjadi Heteroskedastisitas (Ghozali 2005: 11).

3.9. Analisis Regresi Berganda

Model analisis data penelitian ini dianalisis dengan menggunakan model analisis regresi linier berganda. Berdasarkan hubungan antara variabel Peran Akuntansi Pemerintah Daerah (X1),Kualitas Pengendalian Intern (X2), dan Pemanfaatan Teknologi Informasi (X3), Akutabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (Y), maka akan digunakan model analisa

regresi linier berganda adalah sebagai berikut.

AKIP = + 1 1+ 2 2+ 3 3+

Keterangan:

Y : Akip (dependen)

X1 : Penerapan SAPD

X2 : Kualitas SPI

X3 : Pemanfaatan teknologi informasi

: Nilai konstanta

1 : Koefisien regresi X1

2 : Koefisien regresi X2

3 : Koefisien regresi X3

3.10. Uji Hipotesis

Analisis data menggunakan bantuan program SPSS 24.0 for Windows, hasilnya akan digunakan sebagai dasar dalam pembuktian hipotesis yang diajukan. Pembuktian hipotesis yang diajukan menggunakan uji statistik sebagai berikut :

3.11. Uji F

Uji Statistik F pada dasarnya bertujuan untuk mengetahui apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model regresi mempunyai pengaruh secara simutan (bersama-sama) terhadap variabel dependen ataukah tidak. Pengujian dilakukan dengan menggunakan signifikansi tingkat 0,05 (alpha = 5%):

a. Jika signifikansi > 0,05 maka hipotesis ditolak (koefisien regresi tidak signifikan). Ini berarti bahwa secara bersama-sama variabel independen tidak mempunyai engaruh signifikan terhadap variabel dependen.

b. Jika signifikansi < 0,05 maka hipotesis tidak dapat ditolak (koefisien regresi signifikan). Ini berarti bahwa secara bersama-sama variabel independen mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

3.12. Uji t

Setelah melakukan secara simultan, maka langkah selanjutnya adalah melakukan pengujian untuk mengetahui kemampuan masing-masing variable independen dalam menjelaskan perilaku variabel dependen dengan uji statistik t. Pengujian dilakukan dengan menggunakan signifikansi level 0,05 (alpha = 5%):

a. Jika signifikansi > 0,05 maka hipotesis ditolak (koefisien regresi tidak signifikan). Ini berarti bahwa secara parsial variabel independen tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

b. Jika signifikansi < 0,05 maka hipotesis tidak dapat ditolak (koefisien regresi signifikan). Ini berarti bahwa secara parsial variabel independen mempunyai pengaruh signifikan

(5)

terhadap variabel dependen.

4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan akuntansi pemerintah daerah, kualitas sistem pengendalian intern dan pemanfaatan teknologi informasi terhadap akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. Hasil penelitian yang terkumpul diolah dan dianalisis pada bab ini dengan menggunakan metode analisis regresi berganda.

Analisis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi gambaran umum obyek penelitian, analisis regresi dan pengujian hipotesis. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer diperoleh dengan cara menyebar kuesioner kepada pegawai Inspektorat provinsi Maluku utara. Kuesioner terkait dengan variabel penerapan sistem akuntansi pemerintah daerah, kualitas sistem pengendalian intern dan pemanfaatan teknologi informasi ini berjumlah 83 responden dan kuesioner yang disebar sebanyak 89 kuesioner.

4.1.1. Deskriptif Variabel Penelitian

Variabel Kisaran actual DeviationStandar

Min Max Mean

PSAPD 3,00 5,00 4,0096 ,42473 KSPI 3.40 4,80 4,1663 ,31979 PTI 3,00 5,00 4,1133 ,51152 AKIP 3,00 5,00 4,0578 ,46907 Valid N (listwise)

Sumber: Data Primer, diolah peneliti 2019

4.1.2. Metode Analisis Linier Berganda

Setelah dilakukan uji validitas dan reliabilitas serta dilakukan pengujian asumsi klasik dan didapatkan hasil bahwa model layak untuk dilanjutkan ke pengujian dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil analisis regresi berganda tampak sebagai berikut:

4.1.3. Hasil Uji Regresi Linear Berganda

VARIABEL Koefisien Regresi T Sig

Kostanta 0,174 0,327 0,744 PSAPD -0,063 -0,785 0,435 KSPI 0,350 3,270 0,002 PTI 0,651 9,842 0,000 R = 0,775a R Square = 0,600 Adjusted R2 = 0,585 Fhitung = 39,545 Sig F = 0,000b

Sumber: Data Primer, diolah peneliti 2019

Hasil pengujian R-squared pada penelitian ini

menghasilkan koefisien sebesar 0,585 yang artinya

keseluruhan variabel independen dalam penelitian ini

mampu menjelaskan variabel dependen karena 0,585>

0,00 sehingga variabel dalam penelitian ini dapat dikatakan baik karena nilai koefisien determinasi lebih

besar dari nol. Nilai R2 yang besar berarti kemampuan

variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen bisa memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan. Hasil pengujian secara parsial menunjukkan bahwa kualitas pengendalian intern dan pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh terhadap akuntabilitas kinerja instansi pemerintah sedangkan penerapan sistem akuntansi pemerintah daerah tidak berpengaruh terhadap akuntabilitas kinerja instansi pemerintah.

4.2. Pembahasan

4.2.1. Pengaruh Penerapan Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah Terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah

Berdasarkan uji hipotesis yang dilakukan pertama diperoleh bukti empiris dengan hasil yang menunjukkan bahwa tidak adanya pengaruh antara penerapan sistem akuntansi pemerintah daerah terhadap akuntabilitas kinerja instansi pemerintah yang berarti hipotesis 1 ditolak, tidak berpengaruh variabel penerapan sistem akuntansi pemerintah daerah terhadap akuntabilitas kinerja instansi pemerintah disebabkan oleh kompetensi aparatur pemerintah daerah dalam menggunakan sistem akuntansi pemerintah daerah. Hal ini tampak dilihat dari pengamatan peneliti, jumlah pegawai sebanyak 83 orang hanya terdapat 28 orang yang memiliki jenjang pendidikan Sarjana Ekonomi, dan jurusan akuntansi hanya 11 orang atau 13%.

Menurut Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No PER/05/M. PAN/03/2008 tanggal 31 Maret 2008. Pegawai Inspektorat Auditor harus mempunyai pengetahuan, keterampilan dan kompetensi lainnya yang diperlukan dalam melaksanakan tanggungjawabnya. Selanjutnya dijelaskan bahwa Pegawai Inspektorat Auditor APIP harus mempunyai tingkat pendidikan formal minim Strata (S-1) disamping itu juga harus memiliki kompetensi teknis antara lain, auditing, akuntansi, administrasi pemerintahan komunikasi, keahlian dan pelatihan teknis untuk memahami sistem akuntansi pemerintah. Berdasarkan teori agensi memiliki asumsi bahwa tiap-tiap individu dalam organisasi semata-mata termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri sehingga dapat menimbulkan konflik kepentingan antara principal dan agent. Agency theory menunjukkan bahwa pemerintah dapat dilihat sebagai suatu hubungan kontrak (Losely defined) antar pemegang sumber daya. Suatu hubungan agency muncul ketika satu atau lebih individu, yang disebut

(6)

pelaku (principal), memperkerjakan satu atau lebih individu lain yang disebut agent, untuk melakukan layanan tertentu dan kemudian mendelegasikan otoritas keputusan kepada agent.

4.2.2. Pengaruh Kualitas Sistem Pengendalian Intern Terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pengendalian intern berpengaruh terhadap akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa apabila kualitas sistem pengendalian intern meningkat maka Akuntabilitas kinerja instansi pemerintah juga akan meningkat, Akuntabilitas diyakini mampu mengubah kondisi pemerintah yang tidak dapat memberikan pelayanan publik secara baik dan korup menuju suatu tatanan pemerintahan yang demokratis. Penyelenggaraan pemerintah yang akuntabel akan mendapat dukungan dari publik. dan jika Pencatatan yang akurat di dalam laporan keuangan sangatlah penting, tanpa kontrol yang tepat, laporan mungkin tidak dapat diandalkan, sehingga mustahil untuk membedakan mana laporan keuangan pemerintah yang sudah baik dan mana yang perlu perbaikan. Oleh sebab itu, sistem pengendalian intern dalam laporan keuangan pemerintah menjadi suatu hal yang sangat penting untuk diperhatikan, sehingga dapat mencapai efisiensi, efektivitas dan mencegah terjadinya kerugian negara demi kepentingan masyarakat dan daerah.sehinggaHipotesis 2 tersebut diterima.

Selain sejalan dengan penelitian Irine (2015), hasil yang sama juga ditunjukkan oleh penelitian Nasir (2011). Dalam penelitiannya, menyatakan bahwa sistem pengendalian intern pemerintah berpengaruh terhadap kinerja instansi pemerintah. Berdasarkan teori agensi menjelaskan bahwa asumsi tiap-tiap individu dalam organisasi semata-mata termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri sehingga dapat menimbulkan konflik kepentingan antara principal dan agent. Agency theory menunjukkan bahwa pemerintah dapat dilihat sebagai suatu hubungan kontrak (Losely defined) antar pemegang sumber daya. Suatu hubungan agency muncul ketika satu atau lebih individu, yang disebut pelaku (principal), memperkerjakan satu atau lebih individu lain yang disebut agent, untuk melakukan layanan tertentu dan kemudian mendelegasikan otoritas keputusan kepada agent.

4.2.3. Pengaruh Pemanfaatan Teknologi Informasi Terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh terhadap akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. Hal ini dilihat bahwa apabila pemanfaatan teknologi informasi meningkat maka Akuntabilitas kinerja instansi pemerintah juga akan meningkat karena

pemanfaatan teknologi merupakan perilaku atau sikap akuntan menggunakan teknologi informasi untuk menyelesaikan tugas dan meningkatkan kinerjanyasehingga hasil hipotesis 3 tersebut diterima. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Irine (2015), menunjukan bahwa pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja instansi pemerintah. Hasil yang sama juga ditunjukkan oleh penelitian Mardjiono (2009) dalam penelitiannya, menyatakan bahwa pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh terhadap kinerja pemerintah dan secara umum pemanfaatan teknologi informasi oleh instansi pemerintah relative sudah bisa dikatakan optimal dan suda memuali menunjukan arah pembentukan E-Government yang baik.

Teori yang mendasari penulisan ini adalah teori penetapan tujuan yang di kembangkan oleh Locke pada akhir tahun 1960-an dalam Robbins (2006: 227) mengemukakan bahwa niat-niat untuk bekerja menuju sasaran merupakan sumber utama dari motivasi kerja. Robbins (2006: 227) melanjutkan bahwa sasaran memberi tahu karyawan apa yang perlu dikerjakan dan berapa banyak upaya yang harus dilakukan untuk mencapai sasaran tersebut. Jadi sasaran dalam hal ini dapat meningkatkan kinerja dengan menggunakan teknologi informasi.

5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan

1. Penerapan Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah tidak berpengaruh terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Minimnya pemahaman aparatur pemerintah maka semakin rendah penggunaan dan pengelolaan sistem akuntansi pemerintah daerah.

2. Kualitas Sistem Pengendalian Intern Berpengaruh Positif Terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Kualitas sistem pengendalian yang baik akan mempengaruhi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.

3. Pemanfaatan Teknologi Informasi

Berpengaruh Positif Terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Teknologi sangat berperan penting dalam penyusunan laporan Akuntabilitas kinerja instansi pemerintah setelah melakukan pemeriksaan.

5.2. Saran

1. Penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas wilayah cakupan objek penelitian, seperti Inspektorat Kota dan Kabupaten.

2. Penelitian selanjutnya sebaiknya menambahkan jumlah variabel seperti

(7)

Kompetensi Aparatur Pemerintah Daerah yang mempengaruhi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah pada Inspektorat Provinsi Maluku Utara

3. Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya menggunakan metode lain dalam penentuan sampel seperti purposive sampling.

4. Penelitian selanjutnya diharapkan memperluas wilayah cakupan dan menambah jumlah sampel yang diteliti sehingga diperoleh hasil penelitian dengan tingkat analisis lebih akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Ghozali, Imam. 2013. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS 21 (edisi kelima), Universitas Diponegoro, Semarang

Hendriksen, M.C and Breda M.F van, 2005, Accounting Theory, th Ed. Boston, Richard D. Irwin.

Irine Chintya, 2010. Pengaruh pemanfaataan teknologi informasi dan sistem pengendalian intern pemerintah terhadap kinerja instansi pemerintah di kota solok (studi pada skpd kota solok) Skripsi tidak dipublikasikan

Janny, (2018). Pengaruh penerapan sistem akuntansi pemerintah daerah, pemahaman akuntansi, dan ketaatan pada peraturan perundangan terhadap akuntabilitas kinerja instansi pemerintah ( pada skpd padang lawas). Skripsi tidak dipublikasikan Jensen, michael C & William H. Meckling. 1976.

Theory of the Firm: ManagerialBehavior, Agency Costs and Ownership Structure. Journal of Financial Economics. V. 3, No. 4, pp. 305-360. LAN, BPKP, 2000. Pengukuran Kinerja Instansi

Pemerintah, Modul Sosialisasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP), Lembaga Administrasi Negara, Jakarta. LAN, 2003. Keputusan Kepala Lembaga Administrasi

Negara No. 239/IX/6/8/2003 tentang Perbaikan Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.

Mardjiono, Didik Eko. 2009. Analisis Pengaruh

kepemimpinan, pemanfataan TI dan

implementasistruktur organisasi yang terdesentralisasi terhadap kinerja organisasi. studi pada RSUD Kab.Temanggung , Tesis Universitas Padjajaran.

Nasir Azwir, 2011. Pengaruh Pemanfaatan Teknologi Informasi Dan Pengendalian Intern Terhadap Kinerja Instansi Pemerintah( Studi Pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Kampar ) Jurnal Fakultas Ekonomi Universitas Riau

Robbins, Stephen P. 2006. Perilaku Organisasi. Terjemahan. Jakarta: Penerbit PT Prenhallindo. Scott, William R. 2003, Financial Accounting Theory,

3 th Ed. New Jersey : Prentice-Hall International, Inc

Soleman, Rusman. 2007. Kompetensi Aparatur Pemerintah Penerapan Akuntabilitas Keuangan Daerah Dan Ketaatan Pada Peraturan Perundang-Undangan Terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Daerah Di Provinsi Maluku Utara. Disertasi, Unpad.

Sugiyono, 2009. Statistik Untuk Penelitian . Bandung. Penerbit ALFABETA. Cetakan keempat belas. Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif

Kualitatif dan R & D. Bandung Alfabeta.

Supriono, 2002. Sistem Teknologi Informasi, Edisi kedua, Penerbit Andi, Yogyakarta.

Undang-undang keuangan negara nomor 17 tahun 2003 tentang keuangan Negara.

Undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah.

Undang-undang nomor 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah menjadi landasan yuridis bagi pengembangan otonomi daerah di Indonesia. Wijana, Nyoman. 2007. Pemanfaatan Teknologi

Informasi dan pengaruhnya pada kinerja individual pada bank perkreditan rakyat di kabupaten tabanan. Jurnal. Universitas Udayana ; Bali.

Zirman, Edfan Darlis, dan R. Muhammad Rozi, 2010. “Pengaruh Kompetensi Aparatur Pemerintah Daerah, Penerapan Akuntabilitas Keuangan, Motivasi Kerja, dan Ketaatan Pada Peraturan Perundangan Terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah”, Jurnal Ekonomi, Vol. 18, Nomor 1.

Referensi

Dokumen terkait

Pelaksanaan PPDB MAN 19 Jakarta dengan program khusus ini dilakukan secara daring agar selektif, berkualitas dan akuntabel perlu disusun suatu Petunjuk Teknis yang dapat

Dari hasil bimbingan teknis yang telah dilakukan Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara pada tujuh kabupaten dan kota tersebut, sebanyak 733 desa telah mengimplementasikan

Tidak ada perbedaan pengaruh akibat perlakuan terhadap berat kering tanaman (Tabel 3) hal ini disebabkan adanya daya toleransi tanaman padi varietas Margasari yang digunakan

Hamzah Qatha‟ berupa Hamzah yang selalu diucapkan dengan ber-harkah fathah, dhammah atau kasrah.Tidak gugur pengucapannya baik di awal permulaan kalimat atau ditengah-tengah

Dengan demikian untuk para investor di Bursa Efek Indonesia sebelum mengambil keputusan dalam membeli saham disarankan untuk mempertimbangkan frekuensi perdagangan

Sebuah penelitian (disertasi) yang menulis tentang analisa akar sejarah metode susastra dalam tradisi Islam. Tulisan ini mengulas wacana susastra Alqur’an abad ke

Untuk menguji keberhasilan proses registrasi yang telah dilakukan, maka dapat dilakukan pencarian identitas pasien tersebut menggunakan Menu Pencarian Data Pasien Lama,

Rusdiyanto (2010), dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Kinerja dengan Pendekatan Balance Scorecard pada PDAM Kabupaten Semarang” menjelaskan tentang