Rencana Kerja Pemerintah Daerah 2014 Lhokseumawe
Teks penuh
(2) SAMBUTAN WALIKOTA Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, Penyusunan buku Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2014 Kota Lhokseumawe akhirnya dapat diselesaikan. Shalawat dan Salam Kepangkuan Nabi Besar Muhammad SAW, Para Sahabat dan Keluarga-Nya Sekalian, Amin. Berdasarkan amanat Undang-undang nomor 25 Tahun tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, salah satu tahap yang harus dilalui dalam proses penyusunan rencana pembangunan daerah adalah penyusunaan RKPD yang merupakan dokumen rencana pembangunan tahunan daerah yang mengacu pada dokumen lebih atasnya secara hirarki kepada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP). Rencana Pelaksanaan Pemerintah Tahun 2014 di Kota Lhokseumawe yang tertuang dalam RKPD ini, diarahkan sesuai kewenangan Pemerintah Daerah berdasarkan Urusan Pemerintaah Daerah dan kondisi nyata atau isu strategis yang menjadi prioritas pembangunan yang dijabarkan dalam program dan kegiatan, dengan mengefektifkan sumber daya yang ada. Demikian, RKPD ini sebagai pedoman atau acuan Satuan Kerja Perangkat Kota Lhokseumawe serta seluruh pelaku pembangunan sebagai langkah awal proses penyusunan RAPBD, dengan menyusun Kebijakan Umum APBK dan menyusun Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS). Lhokseumawe 18 Maret 2013 WALIKOTA LHOKSEUMAWE ttd. Salinan sesuai dengan aslinya KEPALA BAGIAN HUKUM SETDA KOTA LHOKSEUMAWE RIDWAN, SH Pembina Muda (IV/a) Nip. 19621206 199203 1 003. SUAIDI YAHYA.
(3)
(4) DAFTAR ISI SAMBUTAN WALIKOTA DAFTAR ISI .................................................................................... i. DAFTAR TABEL .............................................................................. iii. DAFTAR GAMBAR .......................................................................... v. BAB. BAB. I PENDAHULUAN ........................................................ I-1. 1.1 Latar Belakang ..................................................... I-1. 1.2 Dasar Hukum Penyusunan ................................... I-2. 1.3 Hubungan Antar Dokumen ................................... I-4. 1.4 Sistematika Dokumen RKPD ................................. I-5. 1.5 Maksud dan Tujuan ............................................. I-8. II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN 2014 DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAH DAERAH ............................................ II-1. 2.1 Gambaran Umum Kota Lhokseumawe .................. II-1. 2.1.1 Aspek Geografi dan Demografi .................... II-1. 2.1.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat ................. II-8. 2.1.2.1 Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi....................... II-8. 2.1.2.2 Fokus Kesejahteraan Sosial ............. II-13. 2.1.3 Aspek Pelayanan Umum .............................. II-15. 2.1.4 Aspek Daya Saing Daerah ............................ II-16. 2.1.4.1 Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah ............................................ II-16. 2.1.4.2 Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastruktur ..................... II-18. 2.1.4.3 Fokus Iklim Berinvestasi ................ II-20. 2.1.4.4 Fokus Sumber Daya Manusia .......... II-21. 2.2 Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan RKPD Sampai Tahun Berjalan dan Realisasi RPJMD .................................................................. II-22. 2.3 Permasalahan Pembangunan Daerah ................... II-80. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. i.
(5) BAB. III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH ............................ III-1. 3.1 Arah Kebijakan Ekonomi Kota Lhokseumawe ....... III-2. 3.1.1 Kondisi Daerah Tahun 2012 dan Perkiraan Ekonomi Kota lhokseumawe Tahun 2013 ..... III-5. 3.1.2 Tantangan dan Prospek Perekonomian Kota Lhokseumawe Tahun 2013 dan Tahun 2014............................................................. III-8. 3.2 Arah Kebijakan Keuangan Daerah ........................ III-10. 3.2.1 Kebijakan Perencanaan Pendapatan Kota Lhokseumawe Tahun 2013................... III-10. 3.2.2 Target Pendapatan Kota Lhokseumawe......... III-11. 3.2.3 Upaya-upaya Pemerintah Kota hokseumawe dalam Mencapai Target................................ BAB. BAB. BAB. III-12. IV PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH .................................................................. IV-1. 4.1 Tujuan dan Sasaran Pembangunan ...................... IV-4. 4.1.1 Tujuan ......................................................... IV-4. 4.1.2 Sasaran........................................................ IV-5. 4.2 Prioritas dan Pembangunan .................................. IV-11. V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS KOTA LHOKSEUMAWE ............................................ V-1. VI PENUTUP.................................................................. VI-1. ii.
(6) DAFTAR TABEL Tabel 2.1. Banyaknya Curah Hujan, Hari Hujan dan Penyinaran Matahari Kota Lhokseumawe Tahun 2012..................... II – 3. Tabel 2.2. Rata-rata Tekanan Udara dan Kelembaban Nisbi Kota Lhokseumawe Tahun 2012 ................................... II – 3. Tabel 2.3. Arah Angin, Kecepatan rata-rata dan Kecepatan Angin Maksimum Kota Lhokseumawe Tahun 2012 ....... II – 4. Tabel 2.4. Jumlah Penduduk, Luas wilayah dan Kepadatan penduduk di Kota Lhokseumawe Tahun 2012 ............... II – 7. Tabel 2.5. Produk Domestik Regional Bruto Kota Lhokseumawe Atas Dasar Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha dengan Migas dan Tanpa Migas .................................... II – 9. Produk Domestik Regional Bruto Kota Lhokseumawe Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha dengan Migas dan Tanpa Migas .................................... II – 10. Nilai dan Laju Pertumbuhan PDRB Kota Lhokseumawe dengan Migas dan Tanpa Migas Tahun 2010 dan 2011 Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas Dasar Harga Konstan .............................................................. II-11. Tabel 2.8. Perbandingan Kenaikan Pendapatan Perkapita Terhadap Inflasi Tahun 2008-2011 ............................... II-13. Tabel 2.9. Perkembangan Angka Melek Huruf di Kota Lhokseumawe Tahun 2007-2011 ....................................................... II-14. Tabel 2.10. Rasio Penduduk Yang Bekerja di Kota Lhokseumawe Tahun 2012 .................................................................. II-15. Tabel 2.11. Capaian Pembangunan Kota Lhokseumawe Tahun 2010-2011 ......................................................... II-16. Tabel 2.12. Pengeluaran Konsumsi Masyarakat Kota Lhokseumawe Tahun 2010 dan Tahun 2011........................................ II-17. Tabel 2.13. Pendapatan Per Kapita Kota Lhokseumawe Tahun 2008 s/d Tahun 2011 ........................................ II-17. Tabel 2.14. Ruas Jalan Kota Lhokseumawe Tahun 2012 ................. II-19. Tabel 2.15. Jumlah Penginapan di Kota Lhokseumawe Tahun 2010 dan Tahun 2011........................................ II-19. Tabel 2.16. Jumlah Tamu di Kota Lhokseumawe Tahun 2010 dan Tahun 2011........................................ II-20. Tabel 2.6. Tabel 2.7. iii.
(7) Tabel 2.17. Presentase Penduduk berumur 10 tahun ke atas menurut Pendidikan Tertinggi yang ditamatkan dan Jenis Kelamin di Kota Lhokseumawe Tahun 2011 .................................................................. II-21. Evaluasi Kinerja Pelaksanaan Perencanaan Daerah sampai dengan Tahun Berjalan Kota Lhokseumawe ....................................................... II-23. Tabel 3.1. Struktur Perekonomian dengan Minyak dan Gas Tahun 2007 – 2011 ....................................................... III- 3. Tabel 3.2. Struktur Perekonomian Tanpa Minyak dan Gas Tahun 2007 – 2011 ....................................................... III- 4. Tabel 3.3. Komposisi Penduduk Kota Lhokseumawe Berdasarkan Pekerjaan per Desember 2012 .................. III- 5. Tabel 3.4. Target Capaian Makro Ekonomi Kota Lhokseumawe...... III- 8. Tabel 4.1. Keterkaitan Tujuan dan Sasaran Pembangunan Tahun 2013 .................................................................. III- 9. Tabel 4.2. Prioritas Pembangunan Kota Lhokseumawe Tahun 2013 .................................................................. IV-13. Tabel 5.1. Program dan Kegiatan SKPD Kota Lhokseumawe Tahun 2014 .................................................................. V- 3. Tabel 2.18. iv.
(8) DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Luas Wilayah Kota Lhokseumawe.................................... II-1. Gambar 2.2 Banyaknya Gampong Menurut Letak Topografis Kota Lhokseumawe ......................................................... II-2. Gambar 2.3 Luas dan Penggunaan Lahan (Ha) ................................... II-5. Gambar 2.4 Kepadatan Penduduk Kota Lhokseumawe Tahun 2009-2011 ........................................................... II-8. Gambar 2.5 Perkembangan Inflasi Kota Lhokseumawe dibandingkan dengan Kota Banda Aceh dan Nasional Tahun 2008-2011 ........................................................... II-12. Gambar 2.6 Perkembangan Angka Harapan Hidup di Kota Lhokseumawe Tahun 2007-2011......................... II-14. Gambar 3.1 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Lhokseumawe dengan Migas dan Tanpa Migas Tahun 2008-2011 .......... III-6. Gambar 3.2 Laju Inflasi Kota Lhokseumawe Tahun 2008-2011 .......... III-6. v.
(9) BAB I Bappeda Kota Lhokseumawe http://www.bappedalhokseumawe.web.id.
(10) BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Perencanaan pembangunan yang berkualitas menjadi salah satu kunci keberhasilan pembangunan baik dalam skala nasional maupun daerah. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan. Pembangunan. Nasional. (SPPN). mengamanatkan. penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD); Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD); dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Amanat undang-undang tersebut dijabarkan kedalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2008 tentang Tahapan, tata cara penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah. Selanjutnya untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2008 tersebut Pemerintah telah menetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Penyusunan,. Nomor. 8. Tahun. Pengendalian,. 2008. dan. tentang. Evaluasi. Tahapan,. Tatacara. Pelaksanaan. Rencana. Pembangunan Daerah yang meliputi RPJPD, RPJMD, Renstra SKPD, RKPD, dan Renja SKPD. Memenuhi amanat undang-undang, peraturan pemerintah, serta Peraturan Menteri Dalam Negeri tersebut diatas, Pemerintah Kota Lhokseumawe sedang menyusun dokumen rancangan akhir RPJPD Kota Lhokseumawe Tahun 2005-2025, RPJM Kota Lhokseumawe Tahap I Tahun 2007-2012 telah ditetapkan dengan Qanun Nomor 1 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kota Lhokseumawe Tahun 2007-2012, dan RPJMD Tahap II Tahun 2012-2017 dengan Peraturan Daerah Nomor 58 Tahun 2012 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kota Lhokseumawe Tahun 2012-2017. Sesuai dengan tujuan perencanaan pembangunan, bahwa proses penyusunan perencanaan pembangunan daerah diharapkan dapat mengoptimalkan. partisipasi. masyarakat,. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. penyusunan. RKPD. ini. Bab I - 1.
(11) didasarkan pada penjaringan aspirasi yang diformulasikan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD Tahunan dan memperhatikan hasil evaluasi pelaksanaan pembangunan daerah pada. tahun. sebelumnya.. diintegrasikan. dengan. Lebih. prioritas. lanjut. penyusunan. pembangunan. RKPD. Provinsi. juga. maupun. Pemerintah Pusat. Kedudukan RKPD dalam pelaksanan pembangunan di Kota Lhokseumawe adalah menjembatani antara perencanaan strategis jangka menengah dengan perencanaan dan penganggaran tahunan yang memuat arah. kebijakan. pembangunan,. prioritas. pembangunan,. rancangan. kerangka ekonomi daerah dan program kegiatan Satuan Kerja Perangkat Kota (SKPK) Lhokseumawe, yang selanjutnya sebagai pedoman dalam penyusunan Kebijakan Umum Anggaran, Prioritas Plafon Anggaran Sementara dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. 1.2. DASAR HUKUM PENYUSUNAN 1.. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2001 Tentang Pembentukan Kota Lhokseumawe (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4109);. 2.. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Negara Nomor 4286);. 3.. Undang-Undang. Nomor. 1. Tahun. 2004. Tentang. Perbendaharaan Negara (lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Negara Nomor 4355); 4.. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan. Pembangunan Nasional (Lembaran Republik. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab I - 2.
(12) Indonesia Tahun 2004 Nomor 104 Tambahan Lembaran Republik Indonesia Negara Nomor 4421); 5.. Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antar Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Negara Nomor 4437);. 6.. Undang-Undang. Nomor. 33. Tahun. 2004. tentang. Perimabangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun. 2004. Nomor. 126,. Tambahan. Lembaran. Negara. Republik Indonesia Negara Nomor 4438); 7.. Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintah Aceh (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Negara Nomor 4633);. 8.. Undang – Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Negara Nomor 4725);. 9.. Undang –Undang Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Negara Nomor 4700);. 10.. Peraturan. Pemerintah. Nomor. 58. Tahun. 2005. tentang. Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Negara Nomor 4578);. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab I - 3.
(13) 11.. Peraturan. Pemerintah. Nomor. 8. Tahun. 2008. Tentang. Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan. Rencana. Pembangunan. Daerah. (Lembaran. Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Negara Nomor 4817); 12.. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010 – 2015;. 13.. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Tahapan, Tatacara, penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;. 14.. Peraturan Gubernur Aceh Nomor 70 Tahun 2012 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2012 – 2017 (Lembaran Daerah Aceh Tahun 2012 Nomor 121).. 1.3. HUBUNGAN ANTAR DOKUMEN Mengacu pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004, tentang. Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, RKPD disusun dari sebuah proses penjabaran atas visi, misi dan program kepala daerah. RKPD berperan sebagai acuan dasar dalam menentukan arah kebijakan dan strategi pembangunan daerah yang pada intinya memuat arah kebijakan keuangan daerah, strategi pernbangunan daerah, kebijakan umum, dan program SKPK Lhokseumawe, lintas SKPK Lhokseumawe dan program kewilayahan disertai dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Sebagai suatu produk perencanaan, RKPD tetap tidak dapat dipisahkan. keberadaannya. dengan. dokumen. perencanaan. dan. penganggaran lainnya. RKPD ini terintegrasi dan merupakan satu kesatuan dengan dokumen perencanaan lainnya baik di tingkat nasional maupun. daerah,. terutama. dengan. dokumen. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. perencanaan. dan. Bab I - 4.
(14) penganggaran. yang. dikeluarkan. oleh. pemerintah. daerah.. Adapun. dokumen perencanaan dan penganggaran tersebut meliputi (1) Rencana Pembangunan. Jangka. Panjang. Daerah. (RPJPD),. (2). Rencana. Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), (3) Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD), (4) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dan (5) Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah. (Renja-SKPD).. Semua. dokumen. perencanaan. sebagaimana. dimaksud di atas, dari sisi waktu mencakup 3 kerangka waktu, yaitu rencana jangka panjang (20 tahun), rencana jangka menengah (5 tahun) dan rencana jangka pendek (1 tahun). Secara substansi, keberadaan RKPD ini dengan dokumen perencanaan tersebut membentuk keterkaitan yang bersifat hierarkis, yaitu dokumen dengan jangka waktu yang lebih panjang menjadi rujukan bagi dokumen dengan jangka waktu yang lebih pendek. Secara rinci hubungan RKPD dengan dokumen perencanaan dan penganggaran lainnya, adalah sebagai berikut : RKPD. disusun. dengan. memperhatikan. pokok-pokok. arah. kebijakan dalam RKP Nasional melalui mekanisme Musrenbang. RKPD disusun dengan berpedoman pada RPJMD Provinsi yang didalamnya memuat mengenai visi, misi dan arah pembangunan daerah. RKPD ini menjadi pedoman bagi penyusunan Renja SKPD yang disusun sesuai dengan tugas pokok dan fungsi dari tiap SKPD. RKPD ini nantinya dijabarkan ke dalam RAPBD dengan berpedoman juga kepada Renja SKPD. Memperhatikan hubungan keterkaitan sebagaimana dijelaskan di atas, maka dalam penyusunan RKPD Tahun 2014 ini harus mengacu dan berpedoman pada dokumen RKP Nasional, RKPD Provinsi Aceh, RPJM Kota Lhokseumawe, Renstra SKPK Lhokseumawe serta Renja SKPK Lhokseumawe. Selain itu kedudukan RKPD Kota Lhokseumawe tidak terpisahkan dari dokumen perencanaan tata ruang wilayah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam gambar 1.2 seperti di bawah ini :. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab I - 5.
(15) Gambar 1.2. RKPD Kota Lhokseumawe Diantara Dokumen Perencanaan Lainnya RPJP. RTRW Nasional. RPJMN. RKP Nasional RPJPD Prov. Aceh. Peraturan lain yang bersifat umum. RTRW Prov. Aceh. Qanun Provinsi Aceh yang bersifat umum. RPJMD Prov. Aceh. RKPD Prov. Aceh. RTRW Lhokseumawe. RPJPD Lhokseumawe. Qanun Kota Lhokseumawe yang bersifat umum. RPJMD Lhokseumawe RDTR kawasan RDTR kawasan. RKPD Lhokseumawe. RDTR kawasan. Sumber : Undang-undang No.25 Tahun 2004. 1.4. SISTEMATIKA DOKUMEN RKPD RKPD Tahun 2014 disusun dengan sistematika sebagai berikut :. BAB I. PENDAHULUAN 1.1.. Latar Belakang Mengemukakan pengertian ringkas tentang RKPD, proses penyusunan RKPD, kedudukan RKPD tahun rencana dalam. periode. dokumen. RPJMD,. keterkaitan. antara. dokumen RKPD dengan dokumen RPJMD, Renstra SKPD, Renja. SKPD. serta. tindaklanjutnya. dengan. proses. penyusunan RAPBD. 1.2.. Landasan Hukum. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab I - 6.
(16) Berisi. uraian. ringkas. tentang. dasar. hukum. yang. digunakan dalam penyusunan RKPD, baik yang berskala nasional, maupun lokal. 1.3.. Hubungan Antar Dokumen Berisi tentang hubungan RKPD dengan dokumen lain yang relevan beserta penjelasannya. Keterhubungan dengan dokumen lain, seperti: RPJPN, RPJPD provinsi, RTRW nasional, RTRW provinsi, dan RTRW kabupaten/kota.. 1.4.. Sistematika Dokumen RKPD Mengemukakan organisasi penyusunan dokumen RKPD terkait dengan pengaturan bab serta garis besar isi setiap bab didalamnya.. 1.5.. Maksud dan Tujuan Memberikan uraian ringkas tentang tujuan penyusunan dokumen RKPD bagi daerah yang bersangkutan dan sasaran penyusunan dokumen RKPD bagi daerah yang bersangkutan.. BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN R RKPD TAHUN 2012 DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAH 2.1.. Gambaran Umum Kondisi Daerah Berisi tentang gambaran umum kondisi daerah yang meliputi aspek geografi dan demografi serta indikator kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah yang terdiri dari : 2.1.1. Aspek Geografi dan Demografi 2.1.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat 2.1.3. Aspek Pelayanan Umum 2.1.4. Aspek Daya Saing Daerah. 2.2.. Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan RKPD sampai Tahun Berjalan dan Realisasi RPJM. Mengemukakan hasil evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan daerah tahun lalu.. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab I - 7.
(17) 2.3. Permasalahan Pembangunan Berisi uraian rumusan umum permasalahan pembangunan daerah, isu permasalahan daerah yang berhubungan dengan RKPD Kota Lhokseumawe Tahun 2012 prioritas pembangunan daerah, dan permasalahan lainnya yang berhubungan dengan layanan dasar dan tugas fungsi SKPD.. BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH Memuat penjelasan tentang kondisi ekonomi tahun lalu dan perkiraan tahun berjalan, yang antara lain mencakup indikator pertumbuhan ekonomi daerah, sumber-sumber pendapatan dan kebijakan. pemerintah. pembangunan. daerah. perekonomian. yang. daerah. diperlukan meliputi. dalam. pendapatan. daerah, belanja daerah dan pembiayaan daerah. 3.1.. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah Mengemukakan tentang arahan nasional dibidang ekonomi yang bersumber dari dokumen RKP (Nasional), RKPD provinsi dan juga kebijakan dibidang ekonomi dalam dokumen RPJMD kabupaten/kota.. 3.2.. Arah Kebijakan Keuangan Daerah Berisikan uraian mengenai kebijakan yang akan ditempuh oleh Pemerintah Daerah berkaitan dengan pendapatan daerah, pembiayaan daerah dan belanja daerah.. BAB IV PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH Berisi tentang perumusan prioritas dan sasaran pembangunan daerah. 4.1.. Tujuan dan Sasaran Pembangunan Menjelaskan. tentang. hubungan. visi/misi. dan. tujuan/sasaran pembangunan 5 (lima) tahunan yang diambil dari dokumen RPJMD. 4.2.. Prioritas Pembangunan. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab I - 8.
(18) Berisi gambaran prioritas pembangunan tahun rencana yang diambil dan dikaitkan dengan program pembangunan daerah (RPJMD) tahun rencana. BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH Berisi rencana program dan kegiatan prioritas daerah. BAB VI PENUTUP. 1.5. MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud Penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kota Lhokseumawe Tahun 2014 dimaksudkan untuk mewujudkan sinergitas antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan. pembangunan. antar. wilayah,. antar. urusan. pembangunan, dan antar tingkat pemerintahan Nasional dan Daerah serta mewujudkan efisiensi dan efektivitas alokasi sumber daya dalam pembangunan daerah. 2. Tujuan Tujuan. penyusunan. Rencana. Kerja Pembangunan. Daerah. (RKPD) Kota Lhokseumawe tahun 2014 adalah sebagai pedoman : a. SKPK Lhokseumawe dalam menyusun Rencana Kerja SKPK (Renja SKPK); b. Penyusunan KUA dan PPAS Anggaran Pendapatan dan Belanja Kota Lhokseumawe Tahun 2014. c. Penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja (RAPBK) Kota Lhokseumawe Tahun 2014.. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab I - 9.
(19) BAB II Bappeda Kota Lhokseumawe http://www.bappedalhokseumawe.web.id.
(20) BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN 2014 DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAH DAERAH. 2.1.. Gambaran Umum Kota Lhokseumawe. 2.1.1. Aspek Geografi dan Demografi Kota Lhokseumawe dengan ketinggian 2-24 meter diatas permukaan laut memiliki luas wilayah 181,06 Km² yang dibagi dalam 4 kecamatan yaitu Kecamatan Blang Mangat dengan luas wilayah 56,12 Km², Kecamatan Muara Dua luas wilayah 57,80 Km², Kecamatan Muara Satu luas wilayah 55,90 Km² dan Kecamatan Banda Sakti luas wilayah 11,24 Km².. Keempat kecamatan ini terdiri dari 9 kemukiman dan 68. desa/gampong.. Adapun. batas-batas. daerah. yaitu:. sebelah. Utara. berbatasan dengan Selat Malaka, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Aceh Utara (Kecamatan Kuta Makmur), sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Aceh Utara (Kecamatan Dewantara) dan sebelah Timur berbatasan dengaan Kabupaten Aceh Utara (Kecamatan Syamtalira Bayu). Gambar 2.1 Luas Wilayah Kota Lhokseumawe 6% 31,21 % 30,87 %. 31,92 %. Blang Mangat Muara Dua Muara Satu Banda Sakti. Sumber : Lhokseumawe Dalam Angka (LDA) 2012. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 1.
(21) Letak geografis Kota Lhokseumawe yaitu terdiri dari 18 gampong daerah berpantai, 12 gampong daerah berlereng dan 38 gampong berdataran. Banyaknya gampong menurut letak geografis Kota Lhokseumawe dapat dilihat pada Gambar 2.2 Gambar 2.2 Banyaknya Gampong Menurut Letak Topografis Kota Lhokseumawe. 14 12 10 8. Pantai. 6. Lembah Lereng. 4. Dataran Lereng. 2. Dataran. Lembah. 0 Blang Mangat. Muara Dua. Pantai Muara Satu. Banda. Sumber : BPS dan Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012. Data BPS (2012) menunjukkan bahwa Kota Lhokseumawe memiliki persentase lamanya penyinaran matahari maksimum terjadi pada Bulan Februari 2011 yaitu sebesar 73 persen dengan jumlah hari hujan yaitu 5 hari, adapun jumlah penyinaran matahari minimum yaitu 43 persen yang terjadi pada Bulan November 2011 dengan jumlah hari hujan yaitu 19 hari dan rata-rata kelembaban udara tertinggi terjadi pada Bulan November 2011 sebesar 86 persen dan terendah terjadi pada Bulan Agustus 2011 yaitu sekitar 77 persen. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel pada tabel 2.2 dan tabel 2.3 berikut ini:. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 2.
(22) Tabel 2.1 Banyaknya Curah hujan, Hari Hujan dan Penyinaran Matahari Kota Lhokseumawe Tahun 2012 Bulan Curah Hujan Hari Hujan Penyinaran Matahari Januari. 82. 18. 81. Februari. 27. 5. 73. Maret. 252. 18. 51. April. 20. 10. 69. Mei. 102. 20. 72. Juni. 51. 13. 76. Juli. 85. 23. 65. 176. 20. 60. 71. 20. 56. Oktober. 245. 22. 58. November. 237. 25. 50. Desember. 283. 19. 43. Agustus September. Sumber : Lhokseumawe Dalam Angka (LDA) 2012. Tabel 2.2 Rata-rata Tekanan Udara dan Kelembaban Nisbi Kota Lhokseumawe Tahun 2012 Bulan. Rata-rata. Tekanan Udara (mb). Januari. 83. 1009,2. Februari. 80. 1009,4. Maret April. 82 81. 1008,9 1009,2. Mei Juni. 83 77. 1009,9 1008,3. Juli. 80. 1009,5. Agustus. 81. 1009,0. September Oktober. 82 84. 1008,5 1009,0. November. 86. 1009,8. Desember. 85. 1008,9. Sumber : Lhokseumawe Dalam Angka (LDA) 2012. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 3.
(23) Menurut sumber Stasiun Meteorologi Malikussaleh tercatat kecepatan angin terbanyak terjadi pada Bulan November 2011 pada kecepatan 17 Knots didominasi arah dari Barat Laut dan kecepatan angin terendah terjadi pada Bulan Februari dan Bulan September 2011 pada kecepatan 10 Knots dengan arah angin dari Tenggara dan Barat. Tabel 2.3 Arah Angin, Kecepatan rata-rata, dan Kecepatan Angin Maksimum Kota Lhokseumawe Tahun 2012 Arah Angin. Kecepatan Rata-rata. Kecepatan Maksimum. Januari. T. 5. 12. Arah Maksimu m T. Februari. BD. 4. 10. T. Maret. BD. 4. 12. B. April. BD. 4. 12. S. Mei. BD. 5. 13. BL. Juni. TL. 4. 11. BL. Juli. TL. 3. 11. T. Agustus. BD. 4. 11. B. September. BD. 3. 10. B. Oktober. TL. 3. 16. BD. November. BD. 3. 17. BL. Desember. T. 5. 12. T. Bulan. Sumber : Lhokseumawe Dalam Angka (LDA) 2012. Kota Lhokseumawe dengan luas 18.106 Ha dimanfaatkan untuk berbagai keperluan atau kebutuhan masyarakat. Penggunaan lahan terbesar adalah untuk kebutuhan pemukiman, yaitu 10.877 Ha (60,08 persen), kemudian secara berturut-turut untuk persawahan 3.747 Ha atau 20,69 persen, budidaya perairan darat dan perkebunan rakyat masing-masing 626 Ha (3,46 persen) dan 587 Ha (3,24 persen) serta seluas 626 Ha (3,46 persen) yang masih berupa hutan belukar dan semak yang belum dimanfaatkan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2.3. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 4.
(24) Gambar 2.3. Luas dan Penggunaan Lahan (Ha). 191 308. 749. 587 626 127. Pemukiman Industri Pabrik Persawahan. 3,747 10,877. Pertanian Lahan Semusim Perkebunan Rakyat Alang-alang. 894. Hutan Belukar Sumber : Lhokseumawe Dalam angka, 2012. a.. Potensi Pengembangan Wilayah Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008. tentang Rencana Tata Ruang Nasional disebutkan pada lampiran II, bahwa Kota Lhokseumawe merupakan satu-satunya Pusat Kegiatan Nasional (PKN) di Provinsi Aceh. Kota Lhokseumawe memiliki kawasan strategis yang berpotensi untuk dikembangkan sesuai Rencana Tata Ruang Kota Lhokseumawe yang sedang dalam proses qanun diantaranya terbagi menjadi 3 (tiga) zona pengembangannya yaitu : pengembangan itu terbagi menjadi 3 (tiga) zona pengembangan diantaranya : 1. Zona. pesisir, merupakan daerah. pinggiran pantai dan memiliki. kondisi wilayah relatif datar, zona pesisir mencakup: a) Zona di Kecamatan Muara Satu dengan kegiatan utamanya diperuntukkan bagi sektor industri besar, industri menengah dan pariwisata; b) Zona di Kecamatan Muara Dua dengan kegiatan utamanya diperuntukkan bagi sektor perdagangan, jasa, Central Bussiness District (CBD); c) Zona di Kecamatan Banda Sakti dengan kegiatan utamanya untuk pelayanan kota seperti: pemerintahan, perdagangan dan Jasa;. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 5.
(25) d) Zona di Kecamatan Blang Mangat dengan kegiatan utamanya diperuntukkan bagi sektor pendidikan, kesehatan, perikanan laut, dan sektor perikanan darat. 2. Zona Tengah merupakan daerah sekitar Jalan Banda Aceh – Medan. Wilayah ini merupakan wilayah datar dan berbukit yang mencakup Kecamatan Muara Satu, Kecamatan Muara Dua dan Kecamatan Blang Mangat dengan kegiatan utamanya diperuntukkan bagi perdagangan, jasa dan permukiman. 3. Zona Dalam merupakan daerah dataran tinggi disekitar Jalan Elak (By Pass) memiliki kondisi wilayah berbukit, dengan kegiatan utama pada kawasan ini diperuntukkan bagi kegiatan pertanian (lahan basah dan lahan kering), peternakan, pariwisata dan sebagian permukiman. b.. Wilayah Rawan Bencana 1. Tsunami Kota Lhokseumawe berada pada pertemuan Plate Eurosia dan Australia berjarak ± 130 Km dari garis pantai barat sehingga kota ini rawan terhadap terjadinya Tsunami jika terjadi gempa bumi pada skala yang tinggi yang dapat memacu timbulnya gelombang Tsunami. 2. Ombak/Abrasi Pantai Kota Lhokseumawe terutama Kecamatan Banda Sakti sangat rentan. terhadap. kemungkinan. ancaman. abrasi. pantai. dan. gelombang pasang laut serta luapan sungai-sungai. Kecamatan Banda. Sakti. sebagai. pusat. pemerintahan,. perdagangan. dan. pendidikan di wilayah Kota Lhokseumawe merupakan kawasan yang dikelilingi oleh laut dan sungai, sehingga rawan bencana gelombang laut.. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 6.
(26) 3. Gempa Bumi Kota Lhokseumawe secara umum sangat dipengaruhi oleh kedudukan tektonik aktif di patahan yang diakomodasikan oleh gerak convergent miring lempeng Hindia Australia dan Lempeng Sunda, dan patahan geser dextral memanjang di sepanjang Bukit Barisan, sehingga rawan terjadi gempa bumi. 4. Banjir Kota Lhokseumawe, terutama Kecamatan Banda Sakti sangat rentan terhadap bencana alam banjir, hal ini disebabkan oleh letak topografi Kota Lhokseumawe yang rendah, ditambah lagi buruknya kondisi drainase. Walaupun pembangunan Teluk Pusong (Reservoir) sedang/telah dilaksanakan, tapi belum mampu menanggulangi banjir pada saat musim hujan tiba. Sebagian besar jalan-jalan utama belum dapat dihindari dari banjir yang sering melanda Kota Lhokseumawe, begitupun dengan Kecamatan Blang Mangat sangat rentan terhadap banjir yang disebabkan karena kondisi saluran (drainase) yang kurang memadai. c.. Demografi Jumlah. penduduk. Kota. Lhokseumawe. pada. tahun. 2011. berjumlah 175.082 jiwa, terdiri dari 87.392 jiwa laki-laki dan 87.690 jiwa perempuan. Dilihat dari distribusinya jumlah penduduk terpadat terdapat di Kecamatan Banda Sakti yaitu 73.542 jiwa dengan luas wilayah 11,24 Km². Sedangkan jumlah penduduk yang paling sedikit terdapat di Kecamatan Blang Mangat sebesar 21.689 jiwa dengan luas wilayah 56,12 Km². Secara jelas dilihat pada tabel berikut:. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 7.
(27) Tabel 2.4 Jumlah Penduduk, Luas Wilayah dan Kepadatan Penduduk di Kota Lhokseumawe Tahun 2012 Pendudu Luas No Kecamatan Kepadatan k Wilayah 1 Blang Mangat 22.186 56,12 395 2 Muara Dua 45.221 57,80 782 3 Muara Satu 32.449 55,90 580 4 Banda Sakti 75.226 11,24 6693 Jumlah 175.058 181,06 967. Sumber : Buku Lhokseumawe Dalam Angka - BPS 2012. Berdasarkan Standar Nasional Indonesia 03-1733-2004 tentang Perencanaan. Lingkungan. Perumahan. di. perkotaan. bahwa. Kota. Lhokseumawe Tahun 2011 termasuk wilayah sangat padat di Provinsi Aceh setelah Kota Banda Aceh dibandingkan dengan wilayah-wilayah lain. Kondisi ini disebabkan karena Kota Lhokseumawe memiliki fasilitas yang cukup memadai dan menarik perhatian masyarakat untuk menetap. Jumlah penduduk Kota Lhokseumawe dapat dilihat lebih jelas pada gambar 2.4 berikut : Gambar 2.4 Kepadatan Penduduk Kota Lhokseumawe Tahun 2009-2011 967 945 877. 2008. 879. 2009. 2010. 2011. Sumber : Buku Lhokseumawe Dalam Angka - BPS 2012 Penduduk Kota Lhokseumawe menurut umur dan jenis kelamin. Di Tahun 2011 komposisi jumlah penduduk perempuan (87.690 jiwa) tetap sebagian besar penduduknya lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah penduduk laki-laki pada tahun yang sama (87.392 jiwa). Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 8.
(28) 2.1.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat 2.1.2.1. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Pertumbuhan. ekonomi. Kota. Lhokseumawe. tertinggi. dan. terendah masing-masing yaitu 6,38 persen (2008) dan 5,66 persen (2009), sedangkan pada tahun 2010 sebesar 5,94 persen. Pada tahun 2011 realisasi pertumbuhan ekonomi mencapai 5,31 persen. Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dengan migas atas dasar harga konstan menurut lapangan usaha pada tahun 2011 mencapai Rp.4.145.150,31 juta dibandingkan pada tahun 2010, 2009, dan 2008 masing-masing sebesar Rp.4.056.822,27 juta, Rp.4.335.407,78 juta dan Rp.4.641.409,61 juta. Sedangkan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tanpa migas atas dasar harga konstan menurut lapangan usaha pada tahun 2011 mencapai Rp.2.322.161,45 juta dibandingkan pada tahun 2010, 2009, dan 2008 masing-masing sebesar. Rp.. 2.204.999,02, Rp.2.081.024,00 juta dan Rp.1.969.623,94 juta. Nilai PDRB Kota Lhokseumawe dengan Migas dan tanpa Migas berdasarkan lapangan usaha atas dasar harga konstan sejak tahun 2008-2011 adalah sebagai berikut :. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 9.
(29) Tabel 2.5 Produk Domestik Regional Bruto Kota Lhokseumawe Atas Dasar Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha dengan Migas & tanpa Migas (Juta Rupiah) Lapangan Usaha. 2008. 1. Pertanian. 2009. 2010. 2011. 267.743,28. 271.864,58. 277.898,30. 288.030,90. 8.206,40. 8.476,08. 8.922,10. 9.322,03. 3. a. Industri Pengolahan (dengan Migas). 2.671.479,58. 2.254.971,28. 1.851.822,45. 1.907.899,74. 3. b. Industri Pengolahan (tanpa Migas). 77.702,64. 79.531,24. 81.351,24. 84.910,88. 2.831,68. 3.136,30. 3.520,92. 4.017,16. 5. Bangunan. 157.245,76. 163.985,06. 171.219,57. 177.918,99. 6. Perdagangan, Hotel & Restoran. 995.309,06. 1.074.380,73. 1.161.067,40. 1.236.980,74. 7. Pengangkutan & Komunikasi. 196.178,12. 205.159,47. 215.461,71. 225.360,21. 45.500,14. 48.005,62. 52.205,62. 55.838,23. 219.212,96. 226.897,43. 233.352,96. 239.782,30. PDRB dengan Migas. 4.641.103,52. 4.335.995,27. 4.056.203,97. 4.145.150,31. PDRB tanpa Migas. 1.969.623,94. 2.081.024,00. 2.204.381,53. 2.322.161,45. konstan,. PDRB. 2. Pertambangan & Penggalian. 4. Listrik & Air Bersih. 8. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 9. Jasa-jasa. Sumber : PDRB Kota Lhokseumawe Tahun 2008-2011. Bila. dilihat. berdasarkan. harga. Kota. Lhokseumawe dengan Migas setiap tahunnya meningkat, tahun 2008 sebesar Rp.10.259.266,69 juta, tahun 2009 meningkat menjadi sebesar Rp.10.303.075,09. juta. dan. tahun. 2010. menjadi. sebesar. Rp.10.630.814,11 juta dan pada tahun 2011 mengalami peningkatan sebesar Rp. 10.913.852,24 juta. PDRB Kota Lhokseumawe tanpa Migas berdasarkan harga berlaku setiap tahunnya juga mengalami peningkatan yang cukup baik yaitu tahun 2008 sebesar Rp.4.014.456,93 juta, tahun 2009 meningkat menjadi sebesar Rp.4.672.076,33 juta, tahun 2010 menjadi sebesar Rp.5.473.504,36 juta hingga pada tahun 2011 mengalami peningkatan sebesar Rp. 5.993.706,23 juta.. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 10.
(30) Nilai PDRB Kota Lhokseumawe dengan Migas dan tanpa Migas berdasarkan lapangan usaha atas dasar harga berlaku sejak tahun 20082011 adalah sebagai berikut : Tabel 2.6 Produk Domestik Regional Bruto Kota Lhokseumawe Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha dengan Migas & tanpa Migas (Juta Rupiah) Lapangan Usaha 1. Pertanian. 2008. 2009. 2010. 2011. 454.293,99. 475.318,01. 503.505,32. 540.635,35. 2. Pertambangan & Penggalian. 14.891,68. 16.081,56. 18.173,88. 19.285,38. 3. a. Industri Pengolahan (dengan Migas). 6.244.809,76. 5.630.998,76. 5.157.309,75. 4.920.146,01. 3. b. Industri Pengolahan (tanpa Migas). 115.803,02. 121.861,55. 149.856,48. 165.068,01. 5.787,44. 6.971,05. 9.211,20. 11.416,26. 521.195,62. 677.952,81. 824.268,48. 893.598,03. 2.082.658,63. 2.415.752,93. 2.846.123,44. 3.152.553,15. 7. Pengangkutan & Komunikasi. 438.442,91. 524.555,82. 647.791,05. 701.753,12. 8. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan. 100.775,07. 130.069,58. 157.638,21. 175.427,47. 9. Jasa-jasa. 280.608,58. 303.513,02. 316.936,31. 333.968,50. 10.259.266,69. 10.303.075,09. 10.630.814,11. 10.913.852,24. 4.014.456,93. 4.672.076,33. 5.473.504,36. 5.993.706,23. 4. Listrik & Air Bersih 5. Bangunan 6. Perdagangan, Hotel & Restoran. PDRB dengan Migas PDRB tanpa Migas. Sumber : PDRB Kota Lhokseumawe Tahun 2008-2011. Pertumbuhan ekonomi Kota Lhokseumawe atas dasar harga konstan tanpa migas pada tahun 2011 naik sebesar 5,31 persen terhadap tahun 2010. Pertumbuhan tertinggi terjadi di sektor listrik & air bersih sebesar 14,09 persen diikuti sektor keuangan, persewaan & jasa Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 11.
(31) perusahaan sebesar 6,96 persen, perdagangan, hotel & restoran sebesar 6,54. persen,. pengangkutan. &. komunikasi. sebesar. 4,59. persen,. pertambangan & penggalian sebesar 4,48 persen, industri pengolahan tanpa migas sebesar 4,38 persen, bangunan sebesar 3,91 persen, pertanian sebesar 3,65 persen, jasa-jasa 2,76 persen, dan terendah terjadi di sektor industri pengolahan dengan migas yaitu -1,56 persen. Pada sektor industri pengolahan dengan migas, dimana hanya pada sektor ini saja yang mengalami penurunan dimana pada tahun 2011 indistri pengolahan hanya memproduksi lebih sedikit daripada tahuntahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 2.7 Nilai & Laju Pertumbuhan PDRB Kota Lhokseumawe dengan Migas & tanpa Migas Tahun 2010 dan 2011 Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas Dasar Harga Konstan (Juta Rupiah). Lapangan Usaha. Atas Dasar Harga Berlaku (Juta Rupiah). Atas Dasar Harga Konstan (Juta Rupiah). 2010. 2011. 2010. 2011. Laju Pertumbungan (Persen) 2010. 2011. 1.. Pertanian. 503.505,32. 540.635,35. 277.898,30. 288.030,90. 2,22%. 3.65. 2.. Pertambangan & Penggalian. 18.173,88. 19.285,38. 8.922,10. 9.322,03. 5,26%. 4.48. 3. a. Industri Pengolahan (dengan Migas). 5.157.309,75. 4.920.146,01. 1.851.822,45. 1.907.899,74. -17,88%. -1.56. 3. b. Industri Pengolahan (tanpa Migas). 149.856,48. 165.068,01. 81.351,24. 84.910,88. 2,29%. 4.38. 9.211,20. 11.416,26. 3.520,92. 4.017,16. 12,26%. 14.09. 4.. Listrik & Air Bersih. 5.. Bangunan. 6.. Perdagangan, Hotel & Restoran. 7.. 824.268,48. 893.598,03. 171.219,57. 177.918,99. 4,41%. 3.91. 2.846.123,44. 3.152.553,15. 1.161.067,40. 1.236.980,74. 8,07%. 6.54. Pengangkutan & Komunikasi. 647.791,05. 701.753,12. 215.461,71. 225.360,21. 5,02%. 4.59. 8.. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan. 157.638,21. 175.427,47. 52.205,62. 55.838,23. 8,75%. 6.96. 9.. Jasa-jasa. 316.936,31. 333.968,50. 233.352,96. 239.782,30. 2,85%. 2.76. PDRB dengan Migas. 10.630.814,11. 10.913.852,24. 4.056.203,97. 4.145.150,31. -6,45%. 2.18. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 12.
(32) Lapangan Usaha PDRB tanpa Migas. Atas Dasar Harga Berlaku (Juta Rupiah). Atas Dasar Harga Konstan (Juta Rupiah). 2010. 2010. 5.473.504,36. 2011 5.993.706,23. 2.204.381,53. Laju Pertumbungan (Persen). 2011 2.322.161,45. 2010. 2011. 5,93%. 5.31. Sumber : PDRB Kota Lhokseumawe Tahun 2008-2011. Pertumbuhan ekonomi Kota Lhokseumawe dapat juga di ukur dari laju inflasi dan pendapatan per kapita, dengan semakin tingginya pendapatan per kapita suatu daerah akan meningkatkan pengeluaran konsumsi daerah tersebut yang erat kaitannya dengan tingkat inflasi.. 1. Inflasi Berdasarkan data BPS Kota Lhokseumawe bahwa laju inflasi Kota Lhokseumawe pada tahun 2011 mencapai 3,55 persen (inflasi nasional sebesar 3,79 persen). Bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 7,19 persen maka terjadi penurunan sebesar 3,64 persen dan sangat jauh menurun dibandingkan tahun 2008 yang mencapai 10,27 persen. Dari tujuh kelompok pengeluaran konsumsi yang dihitung Indeks. Harga. Konsumen. (IHK),. lima. kelompok. pengeluaran. yang. mengalami kenaikan angka indeks yaitu : kelompok bahan makanan 8,72 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,34 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 0,09 persen, kelompok sandang 0,56 persen dan kelompok transportasi, komunikasi & jasa keuangan 0,17 persen, sedangkan kelompok kesehatan tidak terjadi kenaikan maupun penurunan. Sebaliknya kelompok pendidikan, rekreasi & olah raga turun sebesar 6,83 persen. Berikut. adalah. gambar. perkembangan. inflasi. Kota. Lhokseumawe Tahun 2008 sampai dengan tahun 2011 :. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 13.
(33) Gambar 2.5 Perkembangan Inflasi Kota Lhokseumawe dibandingkan dengan Kota Banda Aceh dan Nasional Tahun 2008 – 2011 15 10. Angka Inflasi Kota Lhokseumawe. 5 0 2008. 2009. 2010. 2011. Sumber : Lhoseumawe Dalam angka, 2012. 2. Pendapatan Perkapita Dibandingkan tahun sebelumnya, angka pendapatan perkapita masyarakat penurunan. mengalami dan. penurunan. peningkatannya. dan. belum. peningkatan. meskipun. menunjukkan. distribusi. pendapatan secara terperinci kepada kelompok penerima pendapatan. Pada tahun 2011 pendapatan perkapita masyarakat dengan minyak dan gas sebesar Rp. 22.405.417,23 atau sebesar Rp. 1.867.118,08 perbulan, dimana mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya tahun 2010 sebesar Rp. 27.581.787,16 atau sebesar Rp.2.298.482,26 perbulan. Sedangkan pendapatan perkapita masyarakat tanpa minyak dan gas mengalami kenaikan setiap tahunny dimana pada tahun 2011 sebesar Rp.12.551.775,51 atau sebesar Rp.1.045.981,27 perbulan, mengalami kenaikan dibanding tahun 2010 sebesar Rp.12.191.381,46 atau sebesar Rp.1.015.948,46 perbulan. Kenaikan pendapatan perkapita masyarakat tanpa minyak dan gas pada satu sisi memperlihatkan kemampuan daya beli masyarakat rata-rata selama tahun bersangkutan. Akan tetapi relatif. tinggi,. dijadikan. dikaitkan. dengan tingkat. inflasi yang masih. maka pendapatan perkapita masyarakat belum dapat. indikator. kesejahteraan. masyarakat. yang. mencerminkan. kemampuan daya beli masyarakat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa terjadi penurunan daya beli masyarakat di Kota Lhokseumawe, sehubungan kenaikan harga berbagai barang kebutuhan pokok. Untuk. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 14.
(34) melihat perbandingan antara LPE dan tingkat inflasi seperti pada tabel berikut ini: Tabel 2.8 Perbandingan Kenaikan Pendapatan Perkapita Terhadap Inflasi Tahun 2008 – 2011 Tahun 2008. 2009. 2010. 2011. Pendapatan Perkapita (Rp) Dengan Migas : 26.663.198.08 Tanpa Migas : 11.317.315,05 Dengan Migas : 24.414.861,65 Tanpa Migas : 11.720.090,95 Dengan Migas: 22.426.442,95 Tanpa Migas: 12.191.381,46 Dengan Migas: 22.405.417,23 Tanpa Migas: 12.551.775,51. Kenaikan LPE (%) (1,69). Inflasi (%) 13,78. 6,22 (7,80). 3,96. 5,80 (7,82). 7,19. 5,78 2,18. 3,55. 5,31. Sumber : PDRB Kota Lhokseumawe Tahun 2008-2011. 2.1.2.2 Fokus Kesejahteraan Sosial Analisis kinerja atas fokus kesejahteraan sosial dilakukan terhadap indikator angka melek huruf, angka rata-rata lama sekolah, angka usia harapan hidup dan rasio penduduk yang bekerja. a. Angka Melek Huruf Tabel 2.9 Perkembangan Angka Melek Huruf di Kota Lhokseumawe Tahun 2007 - 2011 No. Uraian. 1. Angka Melek Huruf. 2007. 2008. Tahun 2009. 98,82 %. 98,82%. 99,22%. 2010. 2011. 99,62%. 99,55%. Sumber : IPM Kota Lhokseumawe Tahun 2012. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 15.
(35) Ukuran. yang. sangat. mendasar. dari. pendidikan. adalah. kemampuan baca tulis penduduk. Minimal penduduk harus mempunyai kemampuan membaca dan menulis agar dapat menerima informasi secara tertulis sehingga dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembangunan dalam arti bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kemampuan baca tulis merupakan hal terpenting dalam meningkatkan pembangunan ekonomi. Angka melek huruf di Kota Lhokseumawe pada tahun 2011 mencapai 99,55% terdiri dari umur 15 tahun ke atas. Dengan kata lain sebesar 0,34 % penduduk umur 15 tahun ke atas di Kota Lhokseumawe belum atau tidak dapat membaca dan menulis. Hal ini dapat dimaklumi karena penduduk yang tidak dapat membaca dan menulis terkonsentrasi pada penduduk kelompok usia tua. b. Usia Harapan Hidup (UHH) Gambar 2.6 Perkembangan Angka Harapan Hidup di Kota Lhokseumawe Tahun 2007 – 2011. Angka Harapan Hidup. 2007. 70.41. 70. 69.7. 2008. 70.81. 2009. 2010. 71.17. 2011. Sumber : IPM Kota Lhokseumawe Tahun 2012. Angka Harapan Hidup merupakan rata-rata peluang hidup penduduk.. Pada. angka. harapan. hidup. mencerminkan. tingkat. kesejahteraan masyarakat khususnya kualitas kesehatan penduduk di suatu wilayah. Angka harapan Hidup Kota Lhokseumawe mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, ini menunjukkan bahwa peluang hidup penduduk di Kota Lhokseumawe menunjukkan perbaikan. Pada tahun 2011 angka harapan hidup penduduk kota ini mencapai 71,17 tahun, hal. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 16.
(36) ini berarti pada tahun tersebut penduduk Kota Lhokseumawe memiliki harapan hidup sekitar lebih dari 71 tahun. c. Rasio Penduduk Yang Bekerja Penduduk yang berusia diatas 15 tahun bekerja di Kota Lhokseumawe pada tahun 2011 mencapai 68.405 jiwa dari jumlah penduduk Kota Lhokseumawe yang berjumlah 175.082 jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk usia kerja dibandingkan dengan jumlah penduduk kota Lhokseumawe mencapai 53,17%. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh tabel 2.16 di bawah ini. Tabel 2.10 Rasio Penduduk Yang Bekerja di Kota Lhokseumawe Tahun 2012 No. Jumlah Penduduk Tahun 2010. 1. 175.082. Penduduk Yang Berusia Diatas 15 Tahun Yang Bekerja Laki-laki 51.376. Perempuan 17.029. Total 68.405. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Tahun 2010 53,17 %. Sumber : IPM Kota Lhokseumawe Tahun 2012. 2.1.3 Aspek Pelayanan Umum Kinerja pembangunan pada aspek pelayanan umum merupakan gambaran dan hasil dari pelaksanaan pembangunan selama periode tertentu terhadap kondisi pelayanan umum. Kondisi dan perkembangan aspek pelayanan umum Kota Lhokseumawe dapat dilihat dalam capaian pembangunan berikut ini :. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 17.
(37) Tabel 2.11 Capaian Pembangunan Kota Lhokseumawe Tahun 2010-2011 No. Capaian Pembangunan. 2010. 2011. Tenaga Dokter Tenaga Kesehatan Sarana Kesehatan Dasar Sarana Pelayanan Kesehatan Bayi Lahir Hidup. 31 Orang 426 Orang 105 Unit 55 Unit 3.702 Bayi / 4.014 Kelahiran 93%. 28 Orang 410 Orang - Unit 33 Unit 3.782 Bayi / 3.804 Kelahiran 90%. 84,84 % 6.746. 93,63 % -. 1.498.501 M3. -. 272 Unit & 12.041 Anggota Koperasi 2.274 Perusahaan 98,63%. 282 Unit & 12.360 Anggota Koperasi 462 Perusahaan -. 1 2 3 4 5. Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah. 6. Persentase Jumlah Bayi dengan Imunisasi Lengkap (Berdasarkan Cakupan Campak) Rasio Akseptor KB Jumlah Pelanggan Air Minum PDAM Tirta Mon Pase di Kota Lhokseumawe Banyaknya Air Minum Yang Disalurkan ke Pelanggan (M3) Jumlah KUD & Non KUD serta Jumlah Anggota Koperasi. 7 8 9 10. 11. Perkembangan Perusahaan Yang Telah Memiliki Tanda Daftar Perusahaan (TDP) 12 Persentase proporsi jaringan jalan berkondisi mantap (baik dan sedang) Sumber : LDA Kota Lhokseumawe Tahun 2012. 2.1.4. Aspek Daya Saing Daerah Daya saing daerah adalah kemampuan perekonomian daerah dalam mencapai pertumbuhan tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan dengan tetap terbuka pada persaingan dengan Provinsi lainnya yang berdekatan, domestik atau internasional. Aspek daya saing daerah terdiri dari kemampuan ekonomi daerah, fasilitas wilayah atau infrastruktur, iklim berinvestasi dan sumber daya manusia. 2.1.4.1.. Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah Analisis. indikator. fokus. kemampuan. masyarakatnya.. kemampuan daerah. Pengeluaran. ekonomi. dalam. konsumsi. daerah. meningkatkan merupakan. dilihat. dari. pendapatan. variabel. yang. memiliki kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 18.
(38) (PDRB). Oleh karena itu pengeluaran konsumsi perkapita adalah variabel yang cukup penting sebagai alat pemantau perkembangan standar hidup penduduk. di. suatu. wilayah.. Sebagai. contoh,. penentuan. jumlah. penduduk miskin disuatu wilayah ditentukan berdasarkan pengeluaran konsumsi perkapita penduduk. Selain itu pengeluaran konsumsi per kapita ini juga merupakan perkiraan pendapatan per kapita penduduk suatu wilayah. Nilai pengeluaran konsumsi masyarakat diperoleh dari kegiatan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Bagi penduduk dengan pendapatan menengah ke bawah penggunaan uang untuk pengeluaran. uang. konsumsi. merupakan. pengeluaran. terbesar. dibandingkan dengan pengeluaran non konsumsi. Tabel 2.12 Pengeluaran Konsumsi Masyarakat Kota Lhokseumawe Tahun 2010 & Tahun 2011 No 1 2 3 4 5. Uraian Rata-rata pengeluaran makanan sebulan Rata-rata pengeluaran bukan makanan sebulan Pengeluaran per kapita Persentase rata-rata pengeluaran makanan sebulan Persentase rata-rata pengeluaran bukan makanan sebulan. Tahun Tahun 2010 2011 (Rp) (Rp) 319.287 345.893 268.423 284.964 587.710 680.877 54,33. 54,82. 45,67. 45,17. Sumber : BPS Kota Lhokseumawe. Untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat salah satunya dapat menggunakan indikator pendapatan per kapita. Indikator ini didapatkan dari besaran nilai PDRB per kapita. Pendapatan per kapita merupakan nilai perkiraan pendapatan per jumlah penduduk selama satu tahun. Perkembangan pendapatan per kapita Kota Lhokseumawe atas dasar harga berlaku tahun 2010 sampai dengan tahun 2011 dengan atau tanpa migas dapat dilihat pada tabel 2.19 dibawah:. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 19.
(39) Tabel 2.13 Pendapatan Per Kapita Kota Lhokseumawe Tahun 2008 s/d Tahun 2011. Tahun 1. 2008 2009 2010 2011. Dengan Migas. ADHB. 2. 62.281.175,84 61.303.014,79 62.109.299,97 62.335.661,23. ADHK 2000 Dengan Tanpa Migas Migas. Tanpa Migas 3. 4. 24.370.659,77 27.798.726,29 31.978.315,17 34.223.708,95. 28.174.858,22 25.799.053,18 23.697.901,82 23.675.479,55. Sumber : BPS Kota Lhokseumawe. 5. 11.957.043,19 12.382.035,84 12.878.843,73 13.263.279,21. Untuk melihat seberapa besar tingkat pertumbuhan per kapita secara riil akibat peningkatan output. adalah dengan memperhatikan. perkembangan pendapatan per kapita atas dasar harga konstan. Atas dasar. harga. konstran. tahun. 2000,. pendapatan. penduduk. Kota. Lhokseumawe selama kurun waktu 2008 sampai 2011 tanpa migas meningkat 13,27 persen. Tahun 2008 pendapatan per kapita tersebut sebesar Rp.11.957.043,19 dan meningkat menjadi Rp.13.263.279,21 pada tahun 2011. Jadi secara rata-rata hanya mengalami peningkatan sebesar 3,54 persen per tahun. Pengaruh sektor migas terhadap pendapatan penduduk cukup besar. Kendati demikian pengaruh sektor ini memberikan dampak penurunan. terhadap. pendapatan. per. kapita. penduduk. karena. produktivitas ataupun output dari sektor ini mengalami penurunan tiap tahunnya. Baik berdasarkan harga berlaku maupun harga konstan, pendapatan per kapita dengan memasukkan nilai sektor migas akan mengalami penurunan. Pendapatan per kapita penduduk Kota Lhokseumawe atas dasar harga berlaku pada tahun 2011 tanpa sektor migas adalah sebesar Rp. 34.223.708,95. Nilai ini mengalami peningkatan sebesar 62,42 persen dari tahun 2008. Dengan demikian nilai pertumbuhan pendapatan per tahunnya adalah sebesar 17,83 persen.. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 20.
(40) 2.1.4.2.. Fokus Fasilitas Wilayah/ Infrastruktur Pembangunan sarana dan prasarana wilayah atau infrastruktur. direncanakan. untuk. mendukung. terwujudnya. visi. dan. misi. pembangunan di Kota Lhokseumawe. Sarana dan prasarana wilayah pada dasarnya merupakan elemen pendukung bagi berlangsungnya kehidupan suatu wilayah karena masyarakat yang tinggal di suatu wilayah akan membutuhkan. sarana. prasarana. untuk. melangsungkan. kegiatan.. Fasilitas sarana prasaran wilyah tersebut diantaranya : 1.. Perhubungan Pembangunan sektor transportasi merupakan bagian yang. sangat penting dalam pembangunan nasional. Tujuan pembangunan transportasi adalah peningkatan pelayanan jasa transprotasi yang efisien, handal serta dapat mewujudkan sistem transporasi secara intermoda dan terpadu dengan pembangunan wilayahnya serta menjadi bagian dari sistem distribusi yang mampu memberikan pelayanan dan manfaat bagi masyarakat luas, termasuk meningkatkan jaringan dari desa ke kota yang memadai. Secara umum kondisi jalan negara yang melintasi Kota Lhokseumawe dengan total panjang jalan 23,20 km tidak mengalami kerusakan begitu juga dengan jalan provinsi dengan panjang 4,60 km tidak mengalami kerusakan. Jaringan jalan di dalam Kota Lhokseumawe sendiri dengan panjang 231,85 km yaitu berada di empat kecamatan. Untuk saat ini masih memerlukan penanganan yang serius. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.16 berikut ini : Tabel 2.14 Ruas Jalan Kota Lhokseumawe Tahun 2012 Panjang Jalan (Km) 1 Negara 23,20 2 Provinsi 4,60 3 Kota 255,71 Sumber : BPS Kota Lhokseumawe No. Jenis Jalan. Rusak Sedang (Km) 0 0 29,31. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Rusak Berat (Km) 0 0 4,00. Keterangan. Bab II - 21.
(41) 2.. Sarana Perekonomian Jumlah usaha jasa makan dan minum yang ada di Kota. Lhokseumawe tahun 2010 dan tahun 2011 berjumlah tetap yaitu 48 unit yang tersebar di empat kecamatan yang ada, terbanyak terdapat di Kecamatan Banda Sakti. Sedangkan penginapan (hotel, wisma dan losmen) di Kota Lhokseumawe berjumlah 18 penginapan yang terpusat di Kecamatan Banda Sakit dan Kecamatan Muara Dua.. Untuk lebih jelasnya dapat. dilihat pada tabel 2.21 berikut ini : Tabel 2.15 Jumlah Penginapan di Kota Lhokseumawe Tahun 2010 dan Tahun 2011 Tahun 2010 2011 4 4. 1. Jenis Penginapan Hotel. 2. Wisma. 10. 10. Losmen. 4. 4. No. 3. Lokasi Kecamatan Kecamatan Kecamatan Kecamatan Kecamatan. Sumber : Dishubparbud Kota Lhokseumawe Tahun 2012. Banda Sakit, Muara Dua Banda Sakit, Muara Dua Banda Sakit. Jumlah tamu yang berkunjung ke Kota Lhokseumawe selama tahun 2011 adalah 38.543 tamu yang terdiri dari 38.146 tamu domestik dan 397 tamu asing, dimana mengalami penurunan dibandingkan tahun 2010 sebanyak 44.964 tamu yang terdiri dari 44.412 tamu domestik dan 552 tamu asing. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.22 berikut ini : Tabel 2.16 Jumlah Tamu di Kota Lhokseumawe Tahun 2010 dan Tahun 2011 No 1 2. Tamu Domestik Asing Total. Tahun 2010 44.412 552 44.964. 2011 38.146 397 38.543. Sumber : BPS Kota Lhokseumawe Tahun 2012. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 22.
(42) 3. Jaringan Listrik Energi listrik sudah menjadi kebutuhan setiap orang dan pemenuhan kebutuhan listrik menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan. keberhasilan. pembangunan. di. Kota. Lhokseumawe.. Perkembangan rata-rata tarif per kwh listrik di Kota Lhokseumawe pada tahun 2011 mencapai Rp. 783.000,- (Sumber Lhokseumawe Dalam Angka Tahun 2012). 2.1.4.3.. Fokus Iklim Berinvestasi Keamanan,. merupakan. salah. ketertiban satu. dan. prioritas. penanggulangan untuk. kriminalitas. mewujudkan. stabilitas. penyelenggaraaan pemerintahan terutama di daerah. Pemerintahan daerah dapat terselengggara dengan baik apabila pemerintah dapat memberikan rasa aman kepada masyarakat, menjaga ketertiban dalam pergaulan masyarakat serta menanggulangi kriminalitas. Kondisi yang kondusif (aman dan tertib) Kota Lhokseumawe diharapkan dapat mendukung iklim investasi di Kota Lhokseumawe. Angka kriminalitas yang terjadi selama tahun 2011 di Kota Lhokseumawe sebanyak 826 kasus. Bila dibandingkan dengan tahun 2010 meningkat sebesar 23 persen kasus diantaranya pada kasus pencurian 1 persen, curanmor 8 persen, narkoba 10 persen, dan penipuan 4 persen. Sedangkan yang mengalami penurunan terjadi pada penganiyaan 5 persen, penggelapan 3 persen, pengrusakan 1 persen, pejudian 1 persen, dan lai-lain 10 persen. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.23 berikut ini : 2.1.4.4.. Fokus Sumber Daya Manusia Analisi kinerja atas sumber daya manusia dilakukan terhadap. indikator rasio ketergantungan dan rasio lulusan SI/ S2 / S3. Kualitas sumber daya manusia secara spesifik dapat digambarkan dari tingkat pendidikan penduduk. Komposisi penduduk menurut pendidikan yang ditamatkan. memberikan. gambaran. tentang. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. kulitas. sumber. daya. Bab II - 23.
(43) manusia. Kebutuhan akan tenaga kerja berpendidikan tinggi dirasakan sangat penting bagi kepentingan pembangunan. Hal ini berkaitan dengan daya saing SDM antar daerah dalam menghadapi era kompetisi global dimasa mendatang. Tabel 2.17 Presentase Penduduk berumur 10 tahun ke atas menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin di Kota Lhokseumawe Tahun 2011. Jenis Kelamin. Tidak/ Belum Tamat. SD. SMP. SMA. Perguruan Tinggi. Laki-laki. 12,94. 20,16. 22,72. 35,01. 9,16. Perempuan. 16,09. 23,80. 18,12. 32,36. 9,63. Total. 14,56. 22,03. 20,36. 33,65. 9,40. Sumber : BPS Kota Lhokseumawe (LDA 2012). Berdasarkan. fakta. diatas,. bahwa. sebagian. besar. penduduk. berpendidikan SMA sederajat, maka sumber daya manusia di bidang pendidikan Kota Lhokseumawe dapat dikatakan telah berlangsung dengan baik dengan sebagian besar penduduk telah melampaui Program Wajib Belajar 9 Tahun. Hal ini berkaitan dengan daya saing dengan sumber daya manusia daerah lain dalam menghadapi era kompetisi global. di masa mendatang. Dengan kualifikasi penduduk di bidang. pendidikan. yang. cukup,. diharapkan. Kota. Lhokseumawe. mampu. menghadapi persaingan tersebut. Penduduk yang berpendidikan akan menambah peluang partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah.. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 24.
(44) 2.2. Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan RKPD Sampai Tahun Berjalan dan Realisasi RPJMD Bagian ini merupakan telaah telaah terhadap hasil evaluasi status. dan kedudukan pencapaian kinerja pembangunan daerah. Telaah ini dilakukan dengan merekapitulasi terhadap hasil evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan Tahun 2013. Adapun hasil evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan RKPD tahun 2013 dan realisasi RPJM Kota Lhokseumawe tahun 2013 serta target realisasi tahun 2013 dapat dilihat pada lampiran tabel 2.19 berikut:. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 25.
(45) SENGAJA DIKOSONGKAN UNTUK TABEL EVALUASI RKPD TAHUN SEBELUMNYA (FILE EXCEL hal. 25 s/d 76 ). Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 26.
(46) 2.3. Permasalahan Pembangunan Daerah Bagian ini merupakan telaah terhadap hasil evaluasi dan kedudukan pencapaian kinerja pembangunan daerah. Telaah dilakukan dengan melakukan rekapitulasi terhadap hasil evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan tahun 2012 di Kota Lhokseumawe. Berikut adalah telaah hasil evaluasi yang dimaksud : 1. Pariwisata a. Masih kurangnya pengembangan dan promosi wisata yang efektif; b. Belum optimalnya keterlibatan masyarakat di sekitar obyek wisata; c. Sadar wisata dan sapta pesona dikalangan masyarakat belum optimal; d. Sarana dan pra sarana wisata yang kurang memadai; 2. Industri a. Belum optimalnya pengembangan desain produk, inovasi teknologi, diversifikasi produk, penerapan terhadap standar mutu dan sistem mutu produk; b. Terbatasnya akses permodalan; c. Kurangnya jejaring kemitraan dalam usaha pemasaran; d. Terbatasnya Kemampuan SDM dalam menggunakan teknologi; e. Lemahnya pengetahuan dan kesadaran tentang pentingnya HKI. 3. Perdagangan a. Kurangnya tingkat kesadaran produsen, pedagang dan konsumen tentang tertib niaga dan perlindungan konsumen; b. Daya saing produk serta kemampuan dalam mengakses pasar/ informasi/promosi pasar dalam negeri masih relatif rendah; c. Kurangnya pemanfaatan jaringan pasar untuk pedagang sehingga masih kurangnya kemitraan dalam usaha perdagangan; d. Sarana dan prasarana distribusi kurang memadai;. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 76.
(47) e. Masih adanya produk yang beredar di pasaran yang belum memenuhi pesyaratan yang berlaku; f. Masih kurangnya kesadaran masyarakat terhadap penggunaan produk dalam negeri; g. Rendahnya posisi tawar produk KUKM karena belum optimalnya keberadaan kelembagaan; 4. Koperasi dan UKM a. Keterbatasan SDM pengelola koperasi yang mengakibatkan potensi kopreasi dan anggota belum dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk percepatan perkembangan usaha koperasi; b. Belum. maksimalnya. realisasi. penyaluran. kredit. lunak. dari. perbankan untuk pembinaan KUKM Kota Lhokseumawe; c. Sulitnya mengakses sumber permodalan bagi UMKM, karena persyaratan yang sulit dipenuhi oleh UMKM. 5. Pertanian a. Minimnya kepemilikan lahan (sempit) dan semakin menurunnya daya dukung lahan. Hal tersebut seiring dengan permasalahan tingginya alih fungsi lahan pertanian yang sulit dikendalikan; b. Keterbatasan akses modal untuk saprodi (permodalan lemah) yang berimplikasi pada berkurangnya kemampuan petani untuk membeli saprotan; c. Masih rendahnya akses informasi dan penerapan tehnologi di setiap sub sistem agribisnis; d. Kelembagaan pertanian belum optimal (petani, penyuluh dan agribisnis); e. Masih rendahnya kemampuan sumberdaya manusia pertanian; f. Pemasaran dan pengolahan hasil belum memihak petani. Pada sisi yang lain daya saing produk pertanian masih rendah dan harga yang fluktuatif; g. Berkurangnya minat generasi muda untuk menjadi petani/tenaga kerja di sektor pertanian; Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 77.
(48) h. Pemanfaatan lahan marginal belum optimal; i. Pemanfaatan benih/bibit unggul belum optimal; j. Masih besarnya jumlah petani miskin. 6. Ketahanan Pangan a.. Masih terjadinya kecendrungan ketergantungan terhadap salah satu sumber karbohidrat yakni beras sebagai makanan pokok;. b.. Harga bahan pangan pokok masih belum stabil terutama pada saat musim panen raya, musim paceklik dan menjelang hari besar nasional;. c.. Masih terjadinya kerawanan pangan baik kronis maupun transien dan kasus kurang/gizi buruk di wilayah tertentu;. d.. Konsumsi pangan masyarakat masih kurang beragam, bergizi, berimbang dan belum memenuhi kaidah-kaidah kesehatan;. e.. Adanya tuntutan penyediaan bahan pangan yang terjamin mutu dan keamanannya sebagai konsekuensi dari adanya peningkatan pendapatan masyarakat;. f.. Pemantauan situasi pangan masyarakat belum dilakukan secara periodik dan berkelanjutan;. g.. Masih terbatasnya sarana dan penegakan hukum peredaran distribusi pangan;. h.. Belum. optimalnya. pemantauan. distribusi. pangan. antar. kabupaten dan antar provinsi; i.. Masih terbatasnya akses sebagian masyarakat terhadap bahan pangan karena kemiskinan;. j.. Masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat terhadap keamanan pangan;. k.. Kurang. mantapnya. kelembagaan. penyuluhan. dan. belum. terpenuhinya kebutuhan satu desa satu penyuluh dan sinergi lintas sektor pelaku penyuluhan masih kurang optimal; l.. Materi penyuluhan yang kurang sesuai dengan kebutuhan masyarakat;. m.. Daya saing produk pertanian masih rendah.. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 78.
(49) 7. Kelautan dan Perikanan a. Penerapan teknologi dan manajemen di sub sistem usaha kelautan dan perikanan masih bersifat tradisional; b. Rendahnya motivasi generasi muda untuk berkecimpung dalam usaha di bidang kelautan dan perikanan; c. Masih adanya pelaku usaha budidaya ikan, nelayan, pengolah produk dan pemasar dalam kondisi pra sejahtera; d. Masih rendahnya kualitas SDM baik aparatur maupun masyarakat kelautan dan perikanan secara umum; e. Masih rendahnya daya saing produk kelautan dan perikanan; f. Belum optimalnya kelembagaan pelaku usaha bidang kelautan dan perikanan. (pembudidaya. ikan,. nelayan,. pengolah. maupun. pemasaran produk perikanan); g. Ketersediaan sarana dan prasarana yang belum memadai, seperti: pelabuhan perikanan, kapal serta alat tangkap yang digunakan nelayan; h. Masih adanya konflik kepentingan antara subsektor terkait dalam penggunaan sumberdaya esensial seperti sumberdaya lahan dan air; i. Masih terbatasnya pengawasan terhadap keamanan produk pangan berbasis kelautan dan perikanan; j. Masih terbatasnya akses permodalan dan pengembangan pasar; k. Kelancaran proses pendataan dan penyampaian informasi kepada masyarakat perikanan dan kelautan belum berjalan secara optimal; l. Perubahan iklim global yang sangat mempengaruhi produksi penangkapan ikan laut.. 8. Ketenagakerjaan a. Jumlah pengangguran yang masih banyak;. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 79.
(50) b. Rendahnya kualitas ketrampilan dan produktifitas tenaga kerja; c. Terbatasnya kesempatan dan peluang berusaha; d. Tenaga kerja yang ada belum sepenuhnya dapat memenuhi permintaan pasar kerja yang tersedia; e. Lemahnya perlindungan, pengawasan, dan rendahnya tingkat kesejahteraan tenaga kerja; f. Rendahnya investasi sehingga daya serap tenaga kerja rendah; g. Pertumbuhan upah tidak diikuti oleh pertumbuhan produktifitas tenaga kerja.. 9. Kesehatan a. Meningkatnya tuntutan mutu pelayanan kesehatan dari pengguna, penyedia pelayanan, pembuat kebijakan, LSM dan masyarakat umum; b. Rendahnya kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat; c. Kurang meratanya SDM dan mutu pelayanan kesehatan yang belum optimal; d. Belum maksimalnya peran serta dan kemitraan LSM, lembaga pendidikan, organisasi sosial kemasyarakatan, dan lain-lain dalam perencanaan,. operasional. dan. pengawasan. pembangunan. kesehatan; e. Kurang termanfaatkannya data, informasi dalam perencanaan pembangunan kesehatan. 10. Kesejahteraan Sosial a. Kualitas, kuantitas dan jenis pelayanan kesejahteraan sosial belum memadai; b. Koordinasi, informasi dan sinkronisasi penanganan masalah sosial belum optimal; c. Kesadaran dan tanggung jawab sosial masyarakat belum optimal.. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 80.
(51) 11. Kebudayaan SDM di bidang pelestarian seni budaya, baik yang bersifat modern maupun tradisional hampir mengalami stagnasi dalam kreatifitas yang disebabkan kurang apresiasi dan manajemen pasca kreasi, termasuk rendahnya tingkat regenerasi. 12. Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Remaja a. Kuatnya budaya patriarkhi dan pemahaman masyarakat terhadap peraturan perundang-undangan perlindungan perempuan dan anak masih lemah; b. Belum ada forum perlindungan perempuan dan anak lintas daerah sehingga koordinasi, informasi dan sinkronisasi perlindungan perempuan dan anak belum optimal; c. Pengetahuan perlindungan. masyarakat perempuan. terhadap dan. anak. keberadaan relatif. layanan. kurang,. sehingga. penanganan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak belum optimal; d. Kualitas sumber daya manusia pada program keluarga berencana dan keluarga sejahtera belum memadai; e. Sarana dan prasarana program berencana dan keluarga sejahtera masih. kurang,. sehingga. Sistem. Informasi. Manajemen. (SIM). program berencana dan keluarga sejahtera belum mantap; f. Belum. memadainya. kekerasan. data-data/informasi. tentang. kasus-kasus. dalam rumah tangga sebagai kajian pengambilan. keputusan; g. Belum. mantapnya. program. pemberdayaan. masyarakat. di. desa/kelurahan. 13. Pendidikan a. Belum optimalnya pemerataan dan aksesibilitas pendidikan; b. Ketimpangan sumberdaya pendidikan termasuk teknologi informasi dan kualitas pendidikan antar daerah; Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 81.
(52) c. Daya saing pendidikan di tingkat nasional/internasional masih belum memadai; d. Masih terbatasnya penyediaan fasilitas/ruang publik penunjang pendidikan yang representatif; e. Belum sepenuhnya terwujud kondisi lingkungan yang kondusif terhadap pendidikan. 14. Pemuda dan Olahraga a. Masih kurangnya kemandirian sosial dan ekonomi pemuda dalam pembangunan; b. Masih rendahnya budaya berolahraga di kalangan masyarakat; c. Masih kurangnya pembibitan olah raga dan penyediaan fasilitas/ ruang publik dengan biaya terjangkau untuk berolahraga; d. Masih terbatasnya peranserta pemuda dalam pembangunan; e. Masih terbatasnya prestasi olahraga di tingkat nasional. 15. Keamanan dan Ketertiban a. Stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat belum sepenuhnya mantap; b. Dirasakan masih adanya potensi konflik di masyarakat; c. Rendahnya respon masyarakat dalam berbagai gangguan yang terjadi di masyarakat; d. Kurangnya wawasan kebangsaan dan kesadaran bela negara pada masyarakat. 16. Aparatur Pemerintahan a. Kualitas pelayanan kepada masyarakat masih perlu ditingkatkan; b. Masih rendahnya kualitas dan profesionalisme sumber daya aparatur; c. Sistem. perencanaan,. pelaksanaan. dan. pengendalian. serta. pengawasan pembangunan belum optimal; d. Sarana. dan. prasarana. aparatur. kurang. memadai. dari. segi. kuantitas maupun kualitas.. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 82.
(53) 17. Hukum a. Masih terdapat beberapa produk hukum yang tidak sesuai kebutuhan pembangunan dan aspirasi masyarakat; b. Masih rendahnya kesadaran dan kepatuhan hukum masyarakat dan aparatur; c. Masih rendahnya pemahaman dan penghargaan terhadap hak azasi manusia; d. Masih rendahnya kualitas dan kemampuan SDM aparat hukum; e. Sarana dan prasarana hukum kurang memadai dari segi kuantitas maupun kualitas.. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab II - 83.
(54) BAB III Bappeda Kota Lhokseumawe http://www.bappedalhokseumawe.web.id.
(55) BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH. Masalah. pembangunan. Kota. Lhokseumawe. dilihat. dari. komposisi anggaran pemerintah kota Lhokseumawe tahun 2013 lebih memperhatikan pada kelompok tersier, yaitu; perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, dan sektor jasa-jasa. Diakui bahwa kelompok tersiaer tersebut menyumbangkan produktifitas terbesar dalam PDRB Kota Lhokseumawe, sehingga Kota Lhokseumawe tumbuh menjadi Kota pedagangan dan penyedia jasa-jasa. Anggaran yang disediakan untuk menghidupkan kelompok tersier terbilang sangat signifikan. Dari total Belanja Pemerintah pada tahun 2013 sebesar Rp.665 Milyar, pada Dinas Pekerjaan Umum Kota Lhokseumawe untuk pembangunan infrastruktur pada tahun 2013 sebesar Rp.73 Milyar, dan alokasi dana untuk bantuan sosial sebesar Rp.66 Milyar di tambah dengan belanja hibah Rp.7 Milyar. Belanja yang bersifat consuntif yaitu belanja hibah dan Bansos telah menghabiskan anggaran sebesar Rp.73 Milyar, sementara pembangunan infrastruk yang terus digalakan oleh pemerintah Kota menimbulkan efek berganda yang luar. biasa.. Pembangunan. jalan. dan. jembatan. mengakibatkan. menjamurnya pertumbuhan toko-toko, ruko, pergudangan, gedung, dan lain-lain. Kelompok priemer yang terdiri dari sektor pertanian dan sektor pertambangan. justru. mengalami. masa. surut.. Produktifitas. sektor. pertanian yang didominasi oleh sub sektor perikanan dilihat pada PDRB non Migas Kota Lhokseumawe menduduki peringkat ke empat setelah perdagangan, kontruksi, dan transportasi, namun dilihat dari komposisi penduduk sektor pertanian yang didominasi oleh subsektor perikanan menduduki peringkat nomor satu yang mencapai 35% dari total. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab III - 1.
(56) penduduk Kota Lhokseumawe, sementara sektor perdagangan dan sektor jasa-jasa masing-masing 30%. Perhatian Pemerintah Kota pada kelompok tersier akan mengakibatkan beralihnya mata pencaharian penduduk Kota Lhokseumawe dari kelompok primer. Indikator ini dapat dilihat antara lain; anggaran Dinas Kelautan, Perikanan dan pertanian hanya Rp.15 Milyar, banyaknya lahan perikanan dan pertanian yang beralih fungsi serta ditinggalkannya profesi perkerjaan masyarakat. Infratruktur di sektor pertanian juga masih banyak yang terbengkalai seperti pelabuhan sandar kapal nelayan yang belum siap, penyediaan coolstorage sebagai tempat penyimpanan ikan juga belum tersedia, penyediaan TPI dan PPI yang memadai dan lain-lainnya. Ketertinggalan kelompok primer ini disebabkan oleh beberapa hal. yaitu;. tidak. adanya. perencanaan. dibidang. keminapolitanan,. kebutuhan anggaran yang sangat besar untuk membangun infrastruktur perikanan, penguasaan terhadap ilmu perikanan yang belum memadai, serta faktor lainnya yang tidak mendukung sub sektor perikanan tersebut. 3.1.. Arah Kebijakan Ekonomi Kota Lhokseumawe Struktur perekonomian Kota Lhokseumawe dengan minyak dan. gas pada tahun 2011 dikelompokkan dalam empat kelompok yaitu : 1. Kelompok primer yang terdiri dari sektor pertanian dan sektor pertambangan. 2. Kelompok sekunder terdiri dari sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air bersih. 3. Kelompok tersier terdiri dari sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, dan sektor jasa-jasa. Adapun kelompok penyumbang yang paling besar didominasi oleh kelompok sekunder sebesar 54,89 persen dari Lhokseumawe,. ini. disebabkan. karena. kelompok. total PDRB Kota tersebut. terdapat. industri pengolahan gas alam cair meskipun dalam kurun waktu 2007-. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab III - 2.
(57) 2011 sektor ini cenderung menurun yang diperkirakan akibat semakin berkurangnya produksi gas alam cair (Sumber: PDRB Kota Lhokseumawe Tahun 2012). Kelompok. tersier. terdiri. dari. empat. sektor. merupakan. penyumbang kedua terbesar komponen PDRB Kota Lhokseumawe. Kelompok ini menyumbangkan 39,98 persen dari total PDRB Kota Lhokseumawe. Nilai ini terus mengalami peningkatan selama kurun waktu 2007-2011. Sektor yang paling dominan dalam kelompok tersier yaitu sektor perdagangan, hotel dan restoran yang mencapai angka sebesar 28,89 persen. Sementara itu, sektor-sektor pada kelompok primer yaitu sektor pertanian dan pertambangan, penggalian pada tahun 2011 hanya memberikan kontribusi sebesar 5,13 persen dimana 4,95 persen berasal dari pertanian dan sisanya 0,18 persen berasal dari sektor pertambangan dan penggalian. Struktur perekonomian dengan minyak dan gas Tahun 2007-2011 secara terperinci dapat dilihat pada tabel 3.1 dibawah ini : Tabel 3.1 Struktur Perekonomian dengan Minyak dan Gas Tahun 2007-2011 (persen) SEKTOR. 2007. 2008. 2009. 2010. 2011. 4,67 4,52 0,15. 4,57 4,43 0,15. 4,77 4,61 0,16. 4,92 4,75 0,17. 5,13 4,95 0,18. Sekunder 1. Industri Pengolahan 2. Listrik, Gas & Air bersih 3. Konstruksi. 71,28 67,32 0,05 3,90. 67,14 62,00 0,06 5,08. 62,48 55,84 0,07 6,58. 57,97 50,10 0,09 7,78. 54,89 46,59 0,10 8,19. Tersier 1. Perdagangan, Hotel & Restoran 2. Pengangkutan & Komunikasi 3. Keuangan, Persewaan &. 24,05 16,79 3,76 0,81 2,69. 28,29 20,30 4,27 0,98 2,74. 32,75 23,45 5,09 1,26 2,95. 37,11 26,87 5,76 1,49 2,99. 39,98 28,89 6,43 1,61 3,06. Primer 1. Pertanian 2. Pertambangan & Penggalian. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014. Bab III - 3.
Dokumen terkait
Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Labuhanbatu Selatan tahun 2014.. Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Labuhanbatu Selatan tahun
Pelaksanaan program difokuskan pada kegiatan antara lain penyusunan 1 (satu) Dokumen Peraturan Bupati tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) tahun 2014,
Rencana Pembangunan Tahunan Daerah yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah yang selanjutnya disingkat RKPD adalah Dokumen Perencanaan Daerah untuk
PERATURAN GUBERNUR SUMATERA SELATAN NOMOR 32 TAHUN 2015 TENTANG.. RENCANA KERJA PEMERINTAH
RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) PROVINSI GORONTALO TAHUN 2016.. VI-1 BAB VI
RENCANA KERJA PEMERINTAH PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2016.. Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi
Rencana Kerja Pemerintah Daerah, yang selanjutnya disingkat RKPD adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode 1 (satu) tahun atau disebut dengan rencana
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah, dan peraturan perundang-undangan terutama Peraturan Walikota Lhokseumawe Nomor 06