• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Media massa sebagai medium informasi lebih banyak memberikan pelabelan terhadap perempuan sesuai dengan konstruksi masyarakat bahwa perempuan adalah makhluk kedua setelah laki-laki sehingga cenderung dilemahkan posisinya. Menurut Soemandoyo (1999) seorang wartawan dan praktisi televisi, marjinalisasi perempuan ini tidak hanya terjadi di wilayah domestik seperti keluarga, namun juga pada level penguasaan Negara, lembaga hukum, bahkan penguasaan media massa. Kesadaran masyarakat mengenai gender sangat dipengaruhi oleh media dan itulah alasan mengapa media harus menyesuaikan diri dengan norma dan budaya masyarakat Indonesia agar dapat diterima dengan baik. Hasilnya pencitraan perempuan di media masih cenderung negatif, subordinatif dan eksploitatif.

Pekerja perempuan seringkali ditempatkan di kelas kedua atau sekunder di dunia kerja. Susanti (1998) mengatakan dalam sektor pekerjaan ini, upah pekerja perempuan cenderung diskriminatif dan terkadang beban kerja lebih berat. Penempatan pekerja perempuan tersebut terjadi karena perempuan pada dasarnya hanyalah seorang pembantu laki-laki yang tidak seharusnya memiliki posisi yang sama. Pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin terjadi akibat kepercayaan masyarakat tentang peran perempuan dan laki-laki yang selama ini dikonstruksi berulang. Pendapat tersebut sesuai dengan kenyataan bahwa kebanyakan pengambil keputusan didominasi laki-laki, dan sebanyak 40% jurnalis perempuan hanya ditetapkan sebagai pegawai kontrak (www.beritasatu.com). Dominasi laki-laki tersebut tidak hanya di level pengurus inti namun juga pada pekerja lapangan yang menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Jurnalis laki-laki cenderung bekerja di lapangan sedangkan perempuan di kantor.

(2)

Pekerja perempuan seringkali kurang mendapat kesempatan untuk bekerja di media. Seperti yang dikatakan oleh Ketua Aliansi Jurnalis Independen, Hasyim bahwa ada sekitar 14.000 jurnalis di Indonesia dan dari jumlah itu hanya 10% yang perempuan. Jurnalis perempuan yang menempati posisi redaktur dan bisa mengambil keputusan hanya 6% (www.komnasperempuan.com). Tidak hanya itu, dapat dilihat pekerja media di Indonesia lebih banyak laki-laki. Mulai dari camera person, penyiar televisi atau radio, produser dan posisi lainnya. Berdasarkan kuantitas jurnalis perempuan lebih sedikit dibandingkan jurnalis laki-laki. Hal tersebut bisa jadi merupakan bagian dari sistem yang melanggengkan kekuasaan pihak tertentu. Disitulah peran jurnalis sebuah perusahaan media untuk menentukan informasi yang akan dimuat. Hal yang menjadi bias gender adalah bagaimana struktur atau sistem media memberikan posisi atau jabatan kepada karyawan perempuan.

Pernyataan yang hampir serupa diungkapkan oleh Badara (2012) yang mengatakan bahwa perempuan digambarkan sebagai makhluk yang pasif yang tidak bisa banyak melakukan sesuatu dibanding dengan laki-laki karena ideologi patriarki yang masih membayangi setiap penulisan berita. Hal tersebut merupakan hasil dari pemikiran agen yang dikonstruksi secara berulang. Di media permasalahan gender tidak terbatas pada produksi teks yang bias gender tetapi juga pada bidang profesi pekerja media karena kebanyakan jurnalis misalnya diposisikan sebagai profesi milik laki-laki. Pekerjaan jurnalis dianggap sebagai pekerjaan yang berat karena lebih banyak berada di luar ruangan. Hal itu sesuai dengan fisik laki-laki yang dianggap lebih kuat dibanding perempuan. Dibalik informasi atau representasi perempuan yang muncul di media perlu diketahui bahwa ada serangkaian proses redaksional. Ideologi jurnalis berdasarkan gender yang turun ke lapangan sangat mempengaruhi tulisan tentang perempuan.

Masduki (2010) melakukan penelitian di radio di Bandung. Hasilnya pekerja perempuan di radio masih berada di level lebih rendah dibanding pekerja laki-laki dalam pengelolaan jabatan dan struktur organisasi. Perempuan tidak

(3)

ditempatkan sebagai pembuat keputusan karena posisinya yang cenderung marjinal. Pekerja perempuan diposisikan untuk bekerja sebagai sekretaris. Tugas sebagai sekretaris tidak memungkinkan perempuan untuk menjadi pembuat kebijakan dan cenderung menerima keputusan dari level yang lebih tinggi. Jumlah pekerja perempuan yang lebih sedikit membuat pekerja laki-laki menempati bagian-bagian penting seperti direktur radio. Pekerja perempuan yang sedikit menempati posisi lebih ringan dan sifatnya membantu pekerjaan manajer-manajer. Menurut Masduki pembagian kerja tersebut terjadi karena pengaruh ideologi patriarki yang menjadi bagian dari pemikiran dan pemahaman seseorang. Pada akhirnya kesempatan kerja perempuan untuk berada di posisi penting cenderung terbatas dengan jumlah sedikit.

Dalam penelitian ini, akan dibahas mengenai bagaimana strukturasi yang terjadi pada penyiar perempuan di media khususnya Rakosa “Female Radio”. Strukturasi yang dimaksud dapat dilihat dari level makro, mencakup seluruh unsur-unsur yang menjadi bagian dari strukturasi gender. Ditengah dominasi laki-laki yang menguasai media, Rakosa “Female Radio” memilih perempuan sebagai market pasar utama. Penelitian ini juga untuk mengetahui sejauh mana strukturasi terjadi dengan adanya agen yang mempunyai kuasa dalam menentukan posisi atau peran penyiar perempuan di Rakosa “Female Radio”. Strukturasi gender merupakan bentuk dari kepentingan ekonomi politik media yang menghubungkan kekuasaan dan struktur.

Peneliti tertarik untuk mencari tahu bagaimana penyiar perempuan di Rakosa “Female Radio” mendapat haknya yang selama ini lebih banyak didominasi laki-laki. Hal tersebut didasari oleh fakta bahwa dari tujuh orang penyiar, dua diantaranya adalah perempuan dan lima laki-laki. Secara kuantitas penyiar perempuan lebih sedikit dibanding penyiar laki-laki. Peneliti berasumsi bahwa masih terjadi strukturasi gender penyiar di radio tersebut. Ada relasi kuasa yang menyebabkan jumlah penyiar perempuan lebih sedikit dibanding penyiar laki-laki sedangkan Rakosa “Female Radio” adalah radio yang bertemakan

(4)

perempuan. Namun di sisi lain, peneliti juga menyadari bahwa tidak semua penyiar perempuan harus berpikiran feminis dan penyiar laki-laki cenderung berkuasa. Ada kemungkinan bahwa perempuan tidak sensitif gender dan ada pula laki-laki baru atau yang sudah sadar akan feminisme.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan di Rakosa dilakukan oleh Dyah Ayu Triningtyas, mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhamadiyah Yogyakarta yang membahas tentang format Radio Rakosa sebagai radio perempuan di Yogyakarta. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa program siaran Rakosa dibuat berdasarkan kebutuhan perempuan. Format Radio Rakosa sebagai radio perempuan mempengaruhi format acara, format musik, gaya siaran, penyiar dan promosi iklan. Penelitian kedua ditulis oleh Sandro Bramantyo Tobing, mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta dengan judul Pemahaman Penyiar Radio terhadap Konsep Kesetaraan Gender. Penelitian ini ingin melihat bagaimana peran dan pemahaman penyiar radio di Rakosa dalam menginformasikan kesetaraan gender melalui program siaran.

Setelah melihat kedua penelitian tersebut, dengan objek penelitian yang sama yaitu di Rakosa “Female Radio”, peneliti akan melihat bagaimana strukturasi gender penyiar perempuan di radio tersebut. Hal yang membedakan dengan penelitian sebelumnya adalah penelitian ini melihat bagaimana strukturasi gender penyiar yang selama ini cenderung menempatkan perempuan di ranah domestik. Apakah penyiar perempuan di Rakosa “Female Radio” masih berada dalam konsep male industry atau terdapat kesadaran baru tentang konsep pekerja perempuan di radio. Peneliti juga akan mencari informasi bagaimana hubungan penyiar dengan pekerja lain sehingga diharapkan dapat terlihat relasi sosial yang terjadi. Perempuan tidak semuanya memiliki pemahaman tentang feminisme, namun tidak semua laki-laki selalu berusaha mendominasi perempuan di media. Asumsi tersebut akan menjadi dasar rumusan masalah selanjutnya.

(5)

B. Rumusan Masalah

Bagaimana strukturasi gender di Rakosa “Female Radio” Yogyakarta?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana strukturasi gender di Rakosa “Female Radio”. Penelitian ini untuk membuktikan bagaimana sistem yang terjadi di Rakosa “Female Radio” terutama yang terjadi kepada penyiar perempuan. Peneliti berasumsi meskipun sebagai radio perempuan, ada indikasi bahwa Rakosa “Female Radio” belum dapat keluar dari batasan struktur patriarki dengan pemahaman laki-laki yang masih cenderung dominan sesuai aturan yang selama ini berlaku. Hal tersebut salah satunya dapat dilihat dari jumlah penyiar perempuan yang lebih sedikit dibanding penyiar laki-laki.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Akademik

Peneliti ingin memberikan kontribusi terhadap pengembangan konsep strukturasi gender dengan melakukan penelitian tentang peran dan posisi perempuan di media. Penelitian ini diharapkan semakin memperkaya ilmu komunikasi terutama tentang perempuan dan media yang selama ini berada dalam dominasi laki-laki. Hasil penelitian juga diharapkan dapat menjadi referensi bagi penelitian lain dan dapat merangsang munculnya penelitian sejenis namun dengan konsep dan pemikiran yang berbeda sehingga memunculkan sesuatu yang baru.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan alternatif lain penggunaan konsep strukturasi gender. Bukan hanya tentang produksi pesan di media namun dengan melihat posisi perempuan di balik teks. Bagaimana kesadaran gender perempuan yang bekerja di media sehingga memungkinkan adanya perubahan struktur.

(6)

E. Kerangka Pemikiran

Untuk menganalisis fenomena yang menjadi topik penelitian dibutuhkan beberapa teori dan konsep secara umum. Teori-teori dan konsep umum yang digunakan adalah teori strukturasi di kehidupan sosial, strukturasi gender dalam perspektif ekonomi politik, gender dan jenis kelamin di industri kerja, serta representasi gender di radio.

1. Strukturasi dalam Konstruksi Sosial

Strukturasi menjadi pintu masuk untuk melihat ketidakadilan yang dialami oleh perempuan di media. Konsep tersebut dikembangkan oleh Anthony Giddens, seorang sosiolog yang memberi perhatian terhadap perkembangan masyarakat. Strukturasi menurut Giddens (2003) adalah kondisi yang dapat menentukan proses hubungan secara berkesinambungan dalam struktur. Dalam proses tersebut terdapat penataan untuk membentuk sebuah pola. Strukturasi terdiri dari struktur, sistem dan dualitas struktur. Stuktur adalah aturan dan sumber daya yang saling berhubungan dan membentuk sistem sosial Strukturasi menjadi bagian dari pembedaan peran dan posisi perempuan sebagai pekerja di media. Secara tidak sadar teknologi informasi dan komunikasi sebagian besar masih dikuasai oleh laki-laki.

Masyarakat dalam kehidupan sehari-hari berada dalam struktur yang membatasi perilaku. Giddens (2003) menyatakan bahwa dalam struktur terdapat aturan dan sumberdaya atau biasanya dikenal sebagai agen. Agen mempunyai kemampuan untuk mempertahankan sebuah pemahaman yang telah diyakini secara terus menerus seiring dengan aktivitasnya. Ketidakadilan yang dialami perempuan sebagai pekerja di media adalah sebuah pola yang dibuat untuk kepentingan agen tertentu. Agen tersebut memiliki kuasa untuk mengatur setiap aturan dalam struktur yang hanya dilihat satu sisi. Sisi lain terkadang tidak dimunculkan karena kepentingan tertentu sehingga seringkali apa yang diterima dan dipahami seseorang hanya sebagian dan tidak menyeluruh.

(7)

Giddens (2003) mengatakan strukturasi adalah penyeimbang analisis ekonomi politik yang seringkali dikaitkan dengan struktur, bisnis dan institusi pemerintah dengan menyatukan pendapat agen, hubungan sosial, proses sosial dan praktek sosial. Dalam dunia media, hampir semua aspek berhubungan dengan wilayah ekonomi dan politik. Bagaimana sebuah informasi dapat dikendalikan karena sebuah kepentingan di balik media. Masyarakat yang berada dalam wilayah strukturasi digerakkan oleh agen-agen yang dibedakan berdasarkan gender, kelas, ras dan gerakan sosial. Struktur dan agen berhubungan secara interelasi dan interdependen. Agen bekerja melalui struktur dan struktur bekerja melalui agen.

Selain struktur, menurut Giddens (2003) bagian lain dari stukturasi adalah sistem. Sistem yaitu hubungan yang diproduksi antara agen atau kolektifitas yang diorganisasikan sehingga terjadi sebuah praktek sosial yang berlangsung secara regular, berkelanjutan. Untuk memperkuat aturan bahwa pekerja perempuan sebaiknya ditempatkan di bagian yang ringan harus didukung oleh sistem. Sistem menjalankan aturan yang telah dibuat oleh agen-agen yang memiliki kuasa. Bagian-bagian stukturasi tersebut menjadi rangkaian yang digunakan kapitalis untuk mendapatkan keuntungan tertentu. Strukturasi bukan hanya sekedar interaksi yang melibatkan sebuah hubungan namun juga pergerakan yang dapat merubah sebuah aturan. Dalam sebuah ironi strukturasi, Durham (2002) mengatakan pergerakan akan meningkatkan perubahan sosial dari fungsi tradisional dengan menjaga aturan sosial yang ada sebelumnya. Strukturasi memberikan kesempatan kepada agen yang dalam hal ini adalah media untuk menyampaikan informasi yang hampir sama setiap hari.

Pekerja perempuan cenderung tidak mendapat hak yang sama dengan pekerja laki-laki. Menurut Ahmad Zaini Abar (2006), seorang staf peneliti di Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerbitan Yogyakarta (LP3Y) mengungkapkan bahwa marjinalisasi perempuan ini mencakup aspek lain seperti terbatasnya akses mereka ke media, baik sebagai pekerja ataupun pengambil

(8)

keputusan, serta tentu saja penggambaran perempuan oleh media. Kondisi tersebut merupakan hasil dari sistem sosial yang dibangun terus menerus oleh agen atau masyarakat. Strukturasi membuat sebuah batasan secara tidak kasat mata yang membuat perempuan belum dapat memaksimalkan kemampuan mengembangkan diri. Jika dilihat dari sudut pandang ekonomi politik, terindikasi adanya strukturasi pekerja dalam sistem media. Pekerja perempuan dan pekerja laki-laki di media cenderung ditempatkan di posisi dan peran yang berbeda disesuaikan dengan sistem sosial yang sudah berlangsung. Pembatasan yang dialami perempuan di media merupakan hasil dari strukturasi gender yang dapat dilihat dari konsep ekonomi politik. Melalui konsep ekonomi politik, peneliti dapat melihat relasi antara agen yang diuntungkan dan agen yang cenderung terdiskriminasi.

2. Strukturasi Gender dalam Perspektif Ekonomi Politik

Peneliti menggunakan sudut pandang ekonomi politik karena selama ini pekerja perempuan di media cenderung didiskripsikan berada dalam dunia kapitalis dan ideologi patriarki. Merujuk pada pendapat Vincent Mosco (2009), seorang peneliti yang fokus pada ekonomi politik komunikasi, menyatakan bahwa ekonomi politik adalah ilmu yang mempelajari hubungan sosial antara manusia. Dalam hubungan tersebut terdapat proses produksi, distribusi, konsumsi dan pertukaran sesuatu yang dianggap menguntungkan. Konsep ekonomi politik muncul sejak adanya modal produksi para kapitalis yang melakukan berbagai cara untuk mendapat keuntungan. Fenomena tersebut yang kemudian juga digunakan untuk melihat dalam komunikasi dan media terjadi juga proses yang hampir sama dalam menghasilkan keuntungan pihak tertentu.

Terdapat tiga pintu masuk menurut Mosco (2009) yang dapat digunakan untuk memahami proses yang terjadi di dunia komunikasi dan media yaitu komodifikasi, spasialisasi dan strukturasi. Peneliti menggunakan konsep strukturasi untuk melihat bagaimana agen sebenarnya dapat membuat sebuah

(9)

perubahan dalam struktur yang terbatas. Dalam penelitian ini, strukturasi digunakan untuk melihat relasi kuasa di media. Interaksi antara agen dan struktur saling mempengaruhi karena adanya hubungan pihak-pihak yang berkepentingan dengan salah satunya ada yang berkuasa. Dari hubungan tersebut ada salah satu yang akan termarjinalkan karena sistem lebih menguntungkan pihak tertentu.

Di sisi lain, Soemandoyo (1999) menyatakan bahwa tumbuhnya aturan atau nilai tertentu terjadi akibat dinamika ekonomi politik. Ideologi patriarki yang diyakini secara terus menerus kemudian menimbulkan stereotipe yang cenderung merugikan perempuan. Dalam hal ini, laki-laki dianggap memiliki kepentingan tertentu karena relasi kuasa yang dimiliki. Agen tersebut berperan sebagai pembentuk kelas, gender, ras dan gerakan sosial dalam struktur. Hasil dari sesuatu yang dibentuk adalah sebuah sistem yang hingga saat ini diyakini bersama. Peneliti menggunakan konsep strukturasi untuk melihat struktur sosial khususnya hal-hal yang berhubungan dengan pekerja perempuan di Rakosa ”Female Radio”. Sistem sosial adalah hasil bentukan aturan dan agen sebagai pihak yang memproduksinya. Pendekatan strukturasi dapat digunakan untuk melihat pembagian wilayah kerja gender khususnya perempuan di sistem sosial. Strukturasi menciptakan sebuah hierarki yang menempatkan perempuan berada di level bawah, sedikit kemampuan, tergantung dan dianggap sebagai pekerja yang fleksibel. Perempuan yang bekerja di media terbatas oleh aturan yang tidak berimbang. Sistem membedakan perempuan untuk dimarjinalkan dalam mengakses media, telekomunikasi dan teknologi informasi termasuk juga kompetisi pekerjaan di industri tersebut. Ada juga keterbatasan dalam berkomunikasi antara perempuan dan laki-laki. Berdasarkan perspektif tersebut, yang membedakan posisi gender adalah ideologi patriarki yang direproduksi oleh agen dalam sistem masyarakat.

Fenomena yang terjadi tersebut menurut Badara (2012) tentang ideologi patriarki akan menghasilkan sebuah aturan bahwa perempuan berada di bawah kekuasaan laki-laki. Perempuan diibaratkan sebagai sebuah benda yang pada

(10)

akhirnya dapat diperlakukan sesuai dengan keinginan sang pemilik. Konstruksi sosial tentang perbedaan gender merupakan hasil dari pemikiran individu atau kelompok berkepentingan yang diproduksi untuk menciptakan sebuah pola relasi sosial. Sebuah aturan yang dikonstruksikan berulang secara tidak sadar akan mempengaruhi cara pandang seseorang dalam melihat sebuah fenomena. Masyarakat menilai suatu konstruksi sosial dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat diubah. Pandangan tersebut adalah produksi agen yang berlangsung berkelanjutan dalam waktu yang cukup lama. Agen dan struktur saling bekerja sama dalam memproduksi dan mereproduksi sistem. Munculnya ideologi patriarki tentang pembedaan antara perempuan dan laki-laki adalah hasil dari kepercayaan masyarakat yang terus menerus dilestarikan. Ideologi tersebut adalah hasil pemikiran dari agen dalam sistem sosial yang dengan kuasanya menjadikan konsep tersebut menjadi sesuatu yang dipercaya masyarakat. Menurut Kasiyan (2008) patriarki merupakan sebuah ideologi dengan laki-laki dominan dan berkuasa atas perempuan sekaligus anak-anak dalam keluarga hingga masyarakat, Perempuan nampak sebagai kelompok yang seringkali menjadi korban. Ideologi patriarki memberikan kesempatan laki-laki sebagai representasi sebuah prinsip hukum aturan kebenaran, kesadaran baru atau organisasi hierarki sosial.

Hal yang hampir sama juga diungkapkan Sugihastuti dan Saptiawan (2007) bahwa pembedaan terhadap perempuan merupakan suatu penafsiran yang tanpa dasar dengan tujuan tertentu. Konsep strukturasi tersebut kemudian akan digunakan peneliti untuk melihat ekonomi politik media. Pola patriarki yang dibentuk dalam media adalah kepentingan dari agen yang merasa memiliki kuasa lebih dari kelompok lain. Hal tersebut kemudian menjadi sebuah aturan tidak tertulis yang terstruktur sehingga cenderung merugikan perempuan. Menurut Eriyanto (2008) perempuan digambarkan sebagai objek representasi, bahan pencitraan sehingga terkadang mereka yang tampil di media tidak dapat menampilkan diri sendiri. Perempuan didefinisikan bekerja di wilayah domestik, melayani suami atau tidak boleh tampil di ruang publik.

(11)

Pembagian peran perempuan tidak hanya ada di dalam keluarga namun juga tercermin di media yang sehari-hari diakses. Hal tersebut merupakan proses strukturasi, agen yang berkuasa memunculkan ideologi patriarki yang diproduksi dan direproduksi. Apa yang muncul di media tentang perempuan yang termarjinalkan dianggap sebagai sebuah keuntungan karena cenderung lebih diperhatikan. Kepentingan untuk mendiskriminasikan perempuan seringkali menguntungkan sehingga keberadaan perempuan menjadi objek. Berdasarkan penelitian Fitri (2006) yang dimuat dalam Jurnal Pusat Studi Wanita Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, ada beberapa faktor penyebab kesenjangan gender yang salah satunya adalah nilai sosial budaya masyarakat yang sudah turun menurun, umumnya lebih mengutamakan laki-laki daripada perempuan dalam ideologi patriarki.

Menurut Mosco (2009) ideologi patriarki berhubungan dengan kapitalisme yang mengakibatkan hierarki perempuan dan laki-laki dalam kelas sosial. Stereotipe perempuan di media tidak lepas dari agen-agen berkepentingan yang mencari keuntungan. Patriarki merupakan kepentingan politik khususnya laki-laki untuk menguasai perempuan yang menimbulkan perbedaan gender. Di sisi lain, kapitalisme adalah bagian dari tujuan mendapat profit dalam dunia ekonomi yang menyebabkan perbedaan kelas. Ilmu ekonomi politik dapat juga digunakan untuk melihat bagaimana posisi perempuan sebagai pekerja media, dalam penelitian ini yang digunakan sebagai subjek adalah penyiar perempuan di Rakosa radio. Untuk melihat bagaimana posisi dan peran perempuan dalam dunia kerja secara umum, peneliti akan membahas mengenai gender dan jenis kelamin di industri kerja.

3. Gender dan Jenis Kelamin di Industri Kerja a. Pembagian Kerja Berdasarkan Jenis Kelamin

Mitos tentang posisi laki-laki yang seharusnya berada diatas perempuan, menyebabkan perbedaan peran dan posisi di dunia kerja. Dominasi laki-laki mempengaruhi bagaimana perempuan ditempatkan. England dan Farkas

(12)

(1986) mengungkapkan telah terjadi gap dalam pembagian kerja antara perempuan dan laki-laki. Pembedaan tersebut berdasarkan sifat-sifat gender yang dilekatkan kepada perempuan atau laki-laki. Sifat-sifat tersebut misalnya adalah perempuan identik dengan sesuatu yang detil, sensitif, mudah menangis, emosional, menyukai sesuatu yang rutin. Crompton (2007) menguatkan pandangan tersebut bahwa pekerjaan yang diangap cocok dengan karakter dan kemampuan tersebut misalnya mengurus rumah tangga, sekretaris atau perawat. Laki-laki dianggap lebih kuat, rasional, berani menerima tantangan sehingga diberikan pekerjaan yang menuntut fokus dengan mobilitas tinggi seperti mekanik atau dokter. Bukan hanya pekerjaan, gap juga menyebabkan perempuan seringkali mendapat upah yang lebih rendah dibanding laki-laki.

Ada semacam aturan atau kontrak secara tidak tertulis yang harud dipatuhi oleh perempuan atau laki-laki soal pembagian kerja. Kontrak sosial tersebut menjadi pembatas yang menyebabkan adanya ketidakadilan yang umumnya dialami oleh perempuan. Menurut Baker dan Huiskes A. (1999) ada dua kontrak sosial di masyarakat yaitu gender contract dan employment contract. Gender contract menempatkan perempuan di wilayah domestik, bertanggung jawab atas semua urusan rumah tangga dan keluarga. Sedangkan employment contract memberikan tugas kepada laki-laki sebagai kepala keluarga untuk keluar rumah mencari nafkah, memenuhi kebutuhan ekonomi. Kontrak atau dapat disebut norma sosial merupakan kostruksi yang lama mengakar di masyarakat. Pembedaan karakter gender dan pembagian kerja disesuaikan dengan ideologi patriarki yang mengutamakan laki-laki untuk memegang kendali.

Pekerja perempuan seringkali ditempatkan di kelas kedua atau sekunder di dunia kerja. Susanti (1998) mengatakan dalam sektor pekerjaan ini, upah pekerja perempuan cenderung diskriminatif dan terkadang beban kerja lebih berat. Penempatan pekerja perempuan tersebut terjadi karena perempuan pada

(13)

dasarnya hanyalah seorang pembantu laki-laki yang tidak seharusnya memiliki posisi yang sama. Pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin terjadi akibat kepercayaan masyarakat tentang peran perempuan dan laki-laki yang selama ini dikonstruksi berulang. Pendapat serupa diungkapkan oleh Djoharwinarlien (2012) yang menyatakan bahwa patriarki yang terhierarki menjadi salah satu faktor terjadinya diskriminasi gender. Ideologi patriarki yang dipercaya sebagai norma adalah alasan perempuan sering dianggap sebagai kelas kedua. Perempuan cenderung harus mengalah di segala bidang, misalnya pendidikan, pengambilan keputusan atau persoalan karir. Laki-laki yang diidentikkan lebih layak berada di ruang publik diberikan peluang yang lebih luas dalam soal pekerjaan. Sehingga meskipun perempuan memiliki kemampuan yang sama, laki-laki tidak ingin kekuasaannya dalam sistem tersaingi.

Kegagalan perempuan dalam mendapatkan keadilan di dunia kerja bukan hanya akibat dari diskriminasi kaum laki-laki. Menurut Bryson (1999) sebagian perempuan memilih bekerja paruh waktu agar sebagian waktu lainnya dapat digunakan untuk mengurus anak, suami dan keluarga. Pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin terjadi karena ada sistem dan ada agen yang memproduksinya. Hal yang hampir sama juga diungkapkan oleh Crompton (2007) dengan menambahkan bahwa ketidakadilan yang diterima perempuan saat bekerja tidak semata-mata kesalahan sistem yang cenderung didominasi oleh laki-laki. Perempuan sendiri ikut andil dalam terbentuknya aturan yang terus diproduksi dengan memilih pekerjaan yang lebih fleksibel walaupun mereka sebenarnya bisa berada di posisi yang lebih penting.

Hal berbeda diungkapkan oleh Partini (2013), seorang dosen Sosiologi yang mengajar tentang gender dan pembangunan mengatakan bahwa di lingkungan kerja produktif, gaji perempuan dan laki-laki yang berada di pangkat yang relatif sama secara formal tidak jauh berbeda. Hal tersebut merupakan dampak positif dari perjuangan perempuan dalam kesetaraan

(14)

gender. Namun dilihat dari perspektif kritis, kuatnya dominasi laki-laki di tingkat birokrasi belum menginginkan perempuan memiliki kekuasaan setingkat laki-laki. Meskipun pekerja perempuan mendapatkan upah yang hampir sama dengan jabatan yang lebih tinggi namun masih berada dibawah kontrol laki-laki. Pekerja perempuan sepertinya secara mulai mendapat perhatian di ruang publik, tetapi di sisi lain mereka belum bisa menunjukkan dirinya sendiri tanpa ada pengawasan dari laki-laki sebagai pihak yang merasa memiliki keuasaan. Pada akhirnya meskipun diberi kesempatan yang sama untuk mendapatkan pekerjaan, masih ada pihak dengan kepentingan tertentu yang membuat perempuan tidak sepenuhnya mengambil keputusan di tingkat teratas.

Wacjman (1991) memberikan pendapat lain mengenai teknologi yang selama ini cenderung identik dengan maskulinitas tidak sepenuhnya dapat diterima. Selama ini, perempuan menjadi kelompok yang cenderung mendapat pekerjaan di bidang administrasi dan sekretariatan. Menurutnya ketika perempuan yang bekerja sebagai sekertaris di kantor dan dapat mengoperasikan komputer, hal tersebut dapat dilihat sebagai dampak positif. Perempuan dan teknologi dapat saling melengkapi dalam meningkatkan kualitas kerja. Pandangan optimis tersebut merupakan solusi bagi keterbatasan perempuan dalam bekerja. Menurutnya selama ini teknologi dan informasi cenderung didominasi laki-laki, namun ketika perempuan juga mampu menguasainya artinya ada sebuah perkembangan.

Pandangan pesimis dan optimis tentang perempuan dan kesempatan kerja berkembang seiring dengan perubahan waktu. Beberapa peneliti merasa perempuan masih memiliki keterbatasan dalam bekerja dan di sisi lain teknologi secara tidak langsung telah menolong perempuan untuk mengembangkan diri. Pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin merupakan salah satu ketidakadilan yang dialami perempuan. Menurut Fakih (2006) masalah yang sering dihadapi perempuan di lingkungan sosial, salah satunya

(15)

adalah adanya beban kerja yang tidak sesuai. Seringkali perempuan digambarkan sebagai ibu sekaligus pencari nafkah di luar rumah. Penggambaran tersebut merupakan beban ganda perempuan. Perempuan harus menjalankan peran domestik sekaligus publik. Akibatnya perempuan secara tidak langsung merasakan lelah secara fisik dan psikis akibat harus bekerja keras mencari nafkah sekaligus masih menjalankan tugas rumah. Setelah membahas tentang peran dan posisi perempuan di dunia kerja secara umum, berikutnya akan diurai bagaimana pekerja perempuan dan pekerja laki-laki di media. Konsep ini dibahas untuk mengetahui bagaimana posisi perempuan di media yang selama ini berada dalam dominasi laki-laki.

b. Pekerja Perempuan dan Pekerja Laki-laki di Media

Interaksi masyarakat dengan media massa yang sangat intensif membuat mereka sedikit banyak bergantung pada media. Di era modern ini, media dianggap dapat menjadi sumber referensi yang cukup terpercaya. Menurutnya, seseorang hampir setiap saat bersentuhan dengan media dalam kegiatan sehari-hari. Narendra (2006), peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer mengatakan bahwa media massa adalah medium yang dapat mereproduksi sudut pandang seseorang terhadap budaya. Apapun kegiatan yang dilakukan seringkali berhubungan dengan media seperti menonton berita, mendengarkan musik, melihat iklan tidak hanya di media cetak atau elektronik namun juga di jalanan. Oleh karena itu, wajar jika media massa memiliki pengaruh yang cukup kuat terhadap kognisi, afeksi dan perilaku manusia. Apa yang dimunculkan di media, menjadi sebuah kepercayaan umum karena diproduksi terus menerus. Gender menjadi salah satu tema yang cenderung didefinisikan sesuai dengan kepentingan kelompok tertentu dan dipublikasikan melalui media secara berulang. Menurut Ibrahim (dalam Ibrahim dan Suranto, 1998) media massa adalah tempat mempertahankan mitos-mitos seputar potret, citra, presentasi dan representasi perempuan

(16)

melalui ruang publik, ruang privat, bahkan hingga ruang batin mereka. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa perempuan telah dikuasai bukan saja secara fisik namun juga hingga ideologi yang terus menerus direproduksi dan terkesan tidak dapat diubah. Penguasaan laki-laki dalam sistem media cenderung mendeskriminasi perempuan tidak hanya melalui audio atau visual namun hingga ke dalam pemikiran audiens.

Kerugian perempuan yang seringkali dianggap marjinal tidak hanya dapat dilihat melalui produksi teks di media. Proses yang cukup penting sebelum masyarakat menerima informasi di media adalah kebijakan manajemen atau redaksional. Seorang laki-laki yang menjadi direktur atau pemimpin redaksi memiliki akses bagaimana menggambarkan perempuan sesuai dengan perspektif dan kepentingannya dan juga media itu sendiri. Menurut pendapat Pearson, West dan Turner (1995) ketika laki-laki menjadi seorang editor rubrik atau halaman khusus di media cetak dia lebih cenderung menempatkan berita tentang perempuan di wilayah hiburan, liburan atau sesuatu yang menyenangkan. Sedangkan jika seorang perempuan yang menjadi editor sebuah media cetak dia akan memberikan perhatian lebih terhadap berita tentang perempuan lain. Begitu juga menurut Siregar, dkk (1999), Direktur Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerbitan Yogyakarta (LP3Y) bahwa penempatan jurnalis perempuan cenderung ada di wilayah mode, kecantikan, kesehatan, rumah tangga dan bidang domestik lainnya. Perbedaan gender menghasilkan cara pandang yang juga berbeda tentang suatu hal yang sama. Pengetahuan dan pengalaman jurnalis tentang gender menentukan bagaimana sebuah berita dibingkai. Perempuan dalam sistem media adalah bagian dari sistem sosial yang telah berlangsung setiap saat sehingga munculnya stereotipe. Pelabelan yang seringkali melemahkan perempuan merupakan dampak dari politisasi dan juga kepentingan ekonomi agen-agen dalam sistem yang menginginkan seorang atau sekelompok orang tetap memegang kekuasaan.

(17)

Menurut Piliang (dalam Siregar, 2000), salah satu penulis yang memberikan perhatian pada isu gender menyatakan bahwa dalam persoalan ekonomi politik, perempuan digunakan dalam proses ekonomi. Aktivitas ekonomi tersebut terjadi berdasarkan ideologi tertentu atau konstruksi sosial. Penggunaan perempuan sebagai pihak yang cenderung disubordinasikan merupakan hasil dari relasi sosial yaitu relasi gender. Relasi gender dikonstruksi berdasarkan pemahaman atau ideologi tertentu khususnya patriarki yang tidak hanya terjadi pada produksi teks namun juga di manajemen media. Manajemen media adalah bagian penting dalam produksi informasi yang dikonsumsi khalayak. Sehingga apapun yang diberikan media cenderung diterima individu tanpa adanya pemeriksaan kembali. Media memberikan pesan yang tidak jauh berbeda dengan apa yang sudah dikonstruksi khalayak sendiri. Dalam hal ini, stereotipe perempuan yang cenderung dipinggirkan bukanlah sesuatu hal yang perlu dipertanyakan lagi karena dianggap sudah sesuai dengan ideologi patriarki.

Permasalahan tentang gender dan ketidakadilan manajerial atau redaksional menurut Soemandoyo (1999) adalah salah satu masalah yang sering terjadi di media. Hal yang seringkali menjadi masalah tentang pemberitaan gender adalah ketidakadilan dalam manajemen. Kebijakan redaksi yang cenderung didominasi oleh laki-laki memunculkan struktur yang melemahkan posisi perempuan. Perbedaan latar belakang gender sebagai agen pengambil keputusan menjadi salah satu faktor penentu apa saja program yang dimunculkan. Keinginan untuk mendominasi sistem dapat terlihat dari pembagian peran dan posisi perempuan di media. Kecenderungan yang terjadi akibat adanya patriarki dan kapitalisme yang mempengaruhi cara pandang seseorang membuat adanya hierarki dalam penempatan pekerja perempuan. Pekerja di balik produksi teks adalah salah satu agen yang berperan untuk mempengaruhi publik tentang program yang dihasilkan khususnya perempuan.

(18)

Ketidakadilan yang dialami jenis kelamin tertentu di media sebagai pekerja seringkali tidak menjadi masalah khususnya bagi perempuan sendiri. Menurut Siregar, dkk (2000) pekerja perempuan terkadang justru ikut mempertahankan nilai atau norma tertentu yang diyakini benar. Struktur dalam masyarakat memiliki pengaruh terhadap pemikiran seseorang. Banyaknya pekerja perempuan di media tidak menjamin informasi yang dihasilkan sesuai dengan persamaan gender. Di satu sisi, pekerja perempuan, misalnya jurnalis tidak merasa dirugikan dengan pembagian kerja di rubrik lebih ringan. Di sisi lain, perempuan sudah sadar tentang kesetaraan gender namun tidak dapat melakukan perubahan karena terbentur oleh struktur yang cenderung didominasi laki-laki. Sebagai pekerja media, tidak semua perempuan memiliki pemikiran bahwa mereka adalah pihak yang cenderung dirugikan. Setelah berbicara mengenai bagaimana pekerja perempuan dan laki-laki di media, selanjutnya akan dibahas bagaimana gender di radio. Penggambaran ketidakadilan gender khususnya perempuan tidak hanya banyak terjadi di media cetak dan televisi namun juga muncul di program siaran radio. Program yang disiarkan melalui radio juga mempengaruhi pengetahuan pendengar, khususnya perempuan.

4. Representasi Gender di Radio

Penggambaran perempuan yang seringkali dijadikan bahan penelitian adalah di media cetak, film, sinetron atau iklan-iklan di televisi. Penelitian yang dilakukan Maulida (2005) menyatakan bahwa konten di media kerap menampilkan sesuatu yang sangat stereotipe. Misalnya saja dalam film atau sinetron, perempuan selalu digambarkan sebagai pihak yang teraniaya, lemah, selalu menangis dan meratapi nasibnya. Di sisi lain, laki-laki digambarkan sebagai sosok pelindung, pemberani, pekerja keras dan hero (pahlawan). Pelabelan terhadap perempuan juga terjadi di radio. Pembedaan peran seorang perempuan atau laki-laki di media adalah berdasarkan agen yang mengkonstruksi

(19)

sifat-sifat gender. Perempuan yang diidentikkan dengan sifat-sifat sesuai dengan konstruksi sosial tersebut juga dapat dilihat di radio.

Menurut Masduki (2010) studi tentang gender di radio berada dalam konsep patriarki, ekonomi politik khususnya strukturasi. Radio dan ketidakadilan gender khususnya perempuan bukan hanya bersifat kultural namun juga bagian dari regulasi ekonomi politik media. Kepentingan agen tertentu untuk melanggengkan kekuasaan adalah melalui media. Media merupakan medium yang cukup efektif untuk menginformasikan sesuatu karena jangkauan yang luas dan diterima oleh khalayak luas. Radio menjadi media yang dapat diakses setiap saat dan sifatnya audio sehingga dapat didengarkan tanpa harus fokus secara visual seperti televisi. Seseorang dapat mendengarkan radio sambil melakukan kegiatan lain dimanapun. Informasi yang diberikan cenderung ringan dan bagi agen yang memiliki kepentingan hal tersebut dapat dijadikan pintu masuk untuk menyisipkan tema-tema tertentu. Pendengar secara tidak langsung lebih mudah memahami tanpa perlu mengeluarkan banyak energi seperti misalnya membaca surat kabar atau menonton televisi.

Penelitian Neto dan Santos (2009) menyebutkan adanya stereotipe tentang perempuan dan laki yang dalam iklan radio di Portugis. Perempuan dan laki-laki digambarkan dengan karakter masing-masing. Misalnya dalam hal peran perempuan digambarkan sebagai seorang yang bergantung sedangkan laki-laki memerankan tokoh selebritis. Pengaturan peran yang cenderung membuat perempuan tidak memiliki posisi tawar terjadi karena sistem yang melekat di masyarakat. Iklan dengan mudah mengkonstruksi peran perempuan dan laki-laki berdasarkan stereotipe. Sesuatu yang diulang secara terus menerus akan lebih mudah diterima masyarakat secara umum. Penggambaran tersebut tidak lepas dari pemahaman tentang karakter perempuan dan laki-laki yang dikonstruksi dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga ketika pembedaan tersebut diinformasikan melalui media khususnya radio tidak ada yang perlu diperdebatkan.

(20)

Hal yang hampir sama diungkapkan Soemandoyo (2000) bahwa adanya kecenderungan represif dan dominasi patriarki di media seringkai menempatkan perempuan pada peran domestik dibanding sektor publik. Keadaan itu disebabkan media massa hidup dalam budaya laki-laki yang mendominasi. Kepentingan pihak tertentu untuk menguasai sistem merupakan bagian dari kapitalisme. Menurut Widyatama (2006), hubungan perempuan dan laki-laki di media adalah menyangkut struktur kekuasaan. Struktur tersebut dibangun karena adanya hierarki kekuasaan, ada yang menguasai dan ada yang dikuasai. Pembedaan wilayah perempuan adalah hasil dari penguatan stereotipe tentang peran gender yang seringkali dimenangkan oleh laki-laki. Hal tersebut karena laki-laki cenderung memenangkan kuasa atas perempuan dalam berbagai terutama di media dari mulai representasi hingga pekerja di balik informasi.

Program yang disiarkan melalui radio adalah representasi dari sistem sosial masyarakat. Walaupun perempuan cenderung mendapat ketidakadilan namun melalui media khususnya radio masih ada yang membuat program yang memberikan efek baik bagi citra perempuan. Berdasarkan penelitian Asiedu (2012) radio dan teknologi mempengaruhi pengetahuan perempuan di Afrika. Penelitian tersebut melihat bahwa perempuan yang memiliki pengetahuan rendah dapat dengan mudah dipengaruhi oleh program siaran radio. Radio dan teknologi disana seharusnya dapat memberikan informasi yang tidak lagi memarginalkan kelompok tertentu khususnya perempuan. Namun sebuah organisasi bernama World Association of Community Radio Broadcaster (AMARC) berusaha memberikan pelatihan kepada radio-radio di Afrika agar program yang disiarkan berorientasi gender. Pelatihan tersebut dimaksudkan agar penggambaran perempuan di radio lebih baik dan tidak stereotipe.

Menurut peneliti, hasil dari kedua penelitian yang berbeda tersebut menunjukkan bahwa radio masih memiliki kekuatan untuk mempengaruhi pendengar. Program yang dibuat oleh radio tentang gender berhasil memunculkan sebuah kesadaran baru karena adanya agen perubahan yaitu pekerja radio.

(21)

Informasi yang dikonstruksi terus menerus akan dianggap sebagai sebuah kenyataan. Media sebagai Hal tersebut mengindikasikan bahwa sebenarnya media khususnya radio mampu memberikan sebuah pandangan baru tentang perempuan. Namun kepentingan ekonomi politik dari beberapa pihak yang masih ingin melanggengkan kekuasaan patriarki menjadi alasan perempuan masih cenderung dipinggirkan di media. Kepentingan tersebut direproduksi secara berulang melalui sistem sehingga cenderung terlihat alami sesuai dengan kesepakatan bersama.

Masduki (2010) mengungkapkan alasan mengapa perempuan cenderung terpinggirkan di media khususnya radio, yang pertama adalah ideologi patriarki yang meluas hingga penguasaan teknologi media. Kedua, dasar ekonomi perempuan yang seringkali lemah dan stereotipe pendidikan rendah. Hal-hal tersebut kemudian menjadi dasar pembagian kerja perempuan di radio. Studi gender di radio menurutnya dapat dilihat dari yang pertama adalah bagaimana gender dikonotasikan pada jenis kelamin tertentu, radio untuk siapa dan dikelola siapa. Kedua, radio sebagai teks yang diekspor ke ruang publik di satu sisi dan di sisi lainnya profil pendengar, bagaimana korelasi keduanya. Apakah pendengar perempuan aktif atau pasif. Ketiga tentang studi manajerial untuk melihat posisi perempuan yang bekerja di radio, bagaimana kontribusi mereka. Terakhir, adalah bagaimana potret studi radio pada level akademik dan vokasional.

Seringkali penyiar perempuan diberikan program siaran yang bersifat ringan bukan tema penting. Masduki (2010) mengatakan bahwa perempuan masih berada di posisi marjinal dalam hal struktur pengelolaan jabatan. Perempuan tidak menempati posisi-posisi penting dalam organisasi dan cenderung ditempatkan di bagian sekretaris. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikatakan bahwa posisi perempuan di radio masih cenderung tidak ditempatkan sebagai pembuat keputusan. Jumlah pekerja laki-laki yang cenderung dominan di radio tersebut mempengaruhi penempatan pekerja perempuan. Sehingga pekerja perempuan yang sedikit ditempatkan di posisi lebih ringan. Pembagian kerja antara perempuan dipengaruhi oleh ideologi patriarki yang sudah menjadi bagian dari

(22)

pemahaman seseorang. Kesempatan pekerja perempuan untuk berada di posisi penting karena jumlahnya sedikit dan cenderung terbatas.

F. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan paradigma kritis. Riset kualitatif menurut Patilima (2007) digunakan untuk melihat gejala sebagai suatu hal yang saling terkait dalam hubungan sosial yang menyeluruh, holistik dan sistemik. Peneliti menggunakan penelitian kualitatif agar dapat melakukan wawancara, observasi dan studi dokumen secara mendalam terkait dengan strukturasi gender di media yang melibatkan ideologi patriarki. Peneliti menganggap patriarki sebagai sebuah ideologi yang tidak dapat diteliti hanya di permukaan. Sedangkan paradigma kritis berdasarkan pandangan Hidayat (2006) berusaha mengungkap “the real structure” dibalik ilusi dan kebutuhan palsu yang ditampakkan dunia materi, guna mengembangkan kesadaran sosial untuk memperbaiki kondisi kehidupan subjek penelitian. Paradigma kritis digunakan sebagai cara pandang untuk melihat sesuatu yang terjadi dibalik fenomena strukturasi penyiar perempuan di Rakosa “Female Radio”.

Berdasarkan data penyiar di Rakosa “Female Radio”, dari tujuh orang penyiar terdapat dua orang perempuan dan lima orang laki-laki. Peneliti berasumsi bahwa meskipun sebagai radio perempuan, namun masih terdapat dominasi laki-laki dalam industri media tersebut. Secara kuantitas, penyiar perempuan lebih sedikit dibanding penyiar laki-laki. Banyaknya penyiar laki-laki akan mempengaruhi bagaimana sudut pandang pendengar. Manajer siaran yang bertugas untuk merencanakan program dan mengatur penyiar yang membawakannya juga adalah seorang laki. Pengetahuan dan ideologi laki-laki tersebut secara tidak langsung akan berpengaruh pada pembuatan program sesuai dengan keinginannya.

(23)

Untuk itu, penelitian ini ingin membuktikan bagaimana strukturasi yang terjadi di radio dengan slogan “Female Radio”. Penelitian kualitatif ini sesuai dengan paradigma kritis karena tema yang diangkat peneliti yaitu tentang feminisme yang juga melihat sebuah fenomena secara kritis. Jenis penelitian kualitatif dan paradigma kritis tersebut diharapkan dapat mengungkap bahwa telah terjadi sebuah ketidakadilan pembagian kerja berdasarkan sistem patriarki yang cenderung terjadi di media. Meskipun di sisi lain tidak semua pekerja perempuan memiliki ideologi yang mendukung tentang kesetaraan gender. Begitu juga pekerja laki-laki, tidak semuanya merasa harus dominan dalam sebuah struktur organisasi media khususnya radio.

Menurut Guba dan Lincoln (1994), secara ontologi paradigma kritis memahami sebuah realitas yang merupakan kumpulan dari bidang sosial, politik, budaya, ekonomi, etnik dan gender yang menjadi sebuah struktur yang saat ini dipercaya sebagai realita yang sesungguhnya. Strukturasi gender merupakan sebuah fenomena yang masih menjadi perdebatan. Dalam penelitian ini, peneliti ingin memberikan pandangan baru tentang strukturasi dan gender. Kemudian secara epistimologi, relasi yang terjalin antara pihak yang diteliti dan peneliti adalah transaksional atau subjektif dan tidak dapat dipisahkan. Hubungan diharapkan terjadi secara alami dan tanpa paksaan sehingga menghasilkan temuan data yang maksimal.

2. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Menurut Mulyana (2004) studi kasus dapat memberikan penjelasan secara komprehensif tentang individu, kelompok, sebuah organisasi atau komunitas, program tertentu atau fenomena sosial lainnya. Metode ini bertujuan untuk memberikan sebuah pandangan secara lengkap dan menyeluruh tentang suatu kasus. Peneliti memilih desain studi kasus tunggal karena tema yang dipilih dianggap unik. Argumen peneliti mengapa topik yang dijadikan penelitian unik karena radio Rakosa

(24)

merupakan satu-satunya radio yang bertemakan perempuan di Yogyakarta (http://www.plazainformasi.jogjaprov.go.id). Rakosa “Female Radio” menjadi radio dengan segmentasi perempuan ditengah radio-radio yang memilih pasar anak muda. Yin (2006) mengatakan bahwa desain studi kasus tunggal dapat digunakan ketika ada sebuah kasus yang cukup berharga untuk diteliti. Dalam penelitian ini, peneliti memilih studi kasus untuk mengetahui bagaimana strukturasi gender di Rakosa “Female Radio”.

Studi kasus menurut Salim (2006) digunakan dalam penelitian untuk mempelajari, menerangkan atau menginterpretasikan suatu kasus dalam konteksnya yang alamiah tanpa adanya intervensi pihak luar. Pendapat lain tentang studi kasus menurut Stake (1994) adalah proses pembelajaran tentang kasus dan produk dari apa yang telah dipelajari. Pendapat lain tentang studi kasus menurut Salim (2006), studi kasus bukan lagi sebagai kajian sederhana, tetapi merupakan kajian yang lengkap, memiliki cakupan luas dan mendasar. Metode ini dipilih karena melalui studi kasus peneliti dapat menginvestigasi topik unik tentang strukturasi pekerja perempuan di Rakosa “Female Radio” secara mendalam. Untuk itu, metode studi kasus dipilih sebagai alat utuk membantu mengungkap sebuah struktur di radio tersebut yang merekrut penyiar perempuan lebih sedikit dibanding penyiar laki-laki. Bagaimana strukturasi gender yang terjadi sehinggga pekerja perempuan lebih sedikit di radio dengan segmen perempuan.

3. Subjek Penelitian

Subjek yang akan menjadi informan adalah orang-orang yang dianggap dapat memberikan informasi mengenai strukturasi gender di Rakosa “Female Radio. Subjek penelitian ini adalah informan primer yaitu penyiar perempuan kemudian informan sekunder yaitu penyiar laki-laki, manajer siaran dan manajer HRD. Peneliti ingin mengetahui bagaimana strukturasi gender di Rakosa “Female Radio” secara menyeluruh. Informan-informan tersebut dianggap sebagai agen

(25)

yang dapat membawa perubahan dalam sistem sosial yang selama ini cenderung melemahkan pekerja perempuan. Subjek penelitian dipilih berdasarkan posisi atau jabatan di Rakosa “Female Radio” sehingga diharapkan dapat memberikan informasi tentang strukturasi gender. Informan yang dipilih tidak hanya pekerja perempuan namun juga pekerja laki-laki sebagai agar peneliti mendapat sudut pandang lain dalam mengungkap sebuah fakta. Peneliti berasumsi bahwa tidak semua laki-laki memiliki ideologi patriarki dan cenderung mendominasi. Sebaliknya tidak semua perempuan memperjuangkan posisinya agar mendapat keadilan yang sama dalam struktur.

4. Teknik Pengumpulan Data a. Wawancara

Setelah melakukan observasi, peneliti akan melakukan wawancara kepada beberapa informan yang dianggap memiliki kompentensi. Wawancara dilakukan untuk mendapatkan data secara langsung dari narasumber. Menurut Mulyana (2004) wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua orang, melibatkan seseorang yang ingin memperoleh informasi dari seseorang lainnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berdasarkan tujuan tertentu. Wawancara akan dilakukan secara mendalam dengan sampel purposif yang dipilih berdasarkan posisi atau jabatan informan tersebut di Rakosa “Female Radio”. Selain penyiar, peneliti juga akan mewawancarai pekerja yang terlibat di manajemen siaran dan manajemen HRD. Informan primer adalah penyiar perempuan, informan sekunder adalah penyiar laki-laki, manajer siaran dan manajer HRD. Informan yang akan diwawancarai dapat dilihat di tabel jadwal penelitian.

Dalam wawancara studi kasus, menurut Yin (2006) yang paling sering digunakan adalah model open-ended. Peneliti akan bertanya kepada informan tentang sebuah fenomena atau fakta yang berkaitan dengan masalah penelitian. Informan diharapkan dapat memberikan opini dan pendapat

(26)

mereka sendiri. Wawancara dilakukan sesuai dengan pertanyaan penelitian. Pertanyaan besar utama antara lain bagaimana pemahaman penyiar perempuan terhadap budaya patriarki yang mendominasi media, bagaimana dampak pemimpin perempuan dalam memimpin media yang selama ini cenderung dijabat laki-laki, bagaimana peran pekerja perempuan dalam menciptakan sebuah kesadaran baru tentang kesetaraan gender di media. Informan tersebut akan menjawab pertanyaan yang sudah ditetapkan oleh peneliti yang bersifat fleksibel disesuaikan dengan kondisi saat wawancara.

Seluruh penyiar di Rakosa “Female Radio” berjumlah tujuh orang, dua orang penyiar perempuan dan lima orang penyiar laki-laki. Informasi mengenai informan dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel 1. Summary Informan

Daftar Nama Informan

Informan Primer

No Nama Posisi

1 Saptaning Jati Mulyanti (Haning) Penyiar Perempuan

2 Erina Sabrina Penyiar Perempuan

Informan Sekunder

1 Agus Setiadi (Bagus) Penyiar Laki-laki

2 Ratna Dyah Manajer HRD

3 Nurcholish (Fariz) Manajer Siaran

Tabel 1 adalah nama-nama informan dan posisi di Rakosa “Female Radio”. Peneliti kemudian akan mewawancarai dua penyiar perempuan dan satu laki-laki agar informasi yang didapat diharapkan dapat berimbang. Kemudian peneliti akan mewawancarai Manajer HRD. Pekerja yang menjadi informan ada lima orang, yaitu pertama penyiar perempuan Saptaning Jati

(27)

Mulyanti atau Haning, penyiar perempuan, Erina Sabrina. Ketiga penyiar laki-laki, Agus Setiadi atau Bagus. Bagus dipilih menjadi informan karena subjek memandu program siaran lebih banyak dibanding penyiar lainnya. Informan keempat yaitu manajer siaran, Fariz. Fariz dipilih menjadi informan karena sebagai manajer siaran subjek berinteraksi langsung dengan penyiarnya. Subjek menjadi penyiar yang memandu satu-satunya program siaran dengan tema laki-laki. Kelima adalah Manajer HRD, Ratna. Ratna dipilih sebagai informan karena subjek dianggap berperan dalam perekrutan pekerja dan mengetahui tentang pembagian posisi atau jabatan pekerja di Rakosa “Female Radio”. Kelima informan tersebut akan diberikan pertanyaan yang ada dalam panduan wawancara. Pertanyaan dapat berubah menyesuaikan dengan situasi dan kondisi saat peneliti melakukan wawancara karena sifatnya yang fleksibel namun tetap mendalam.

b. Observasi

Dalam melakukan pengamatan, berdasarkan pendapat Patilima (2007) peneliti harus berada di lapangan, tidak hanya mengamati gejala-gejala yang ada ada namun juga melakukan wawancara, mendengarkan, merasakan dan dalam batas-batas tertentu sesuai data yang diperlukan. Peneliti akan melakukan pengamatan biasa tanpa terlibat lebih jauh dan menjaga posisi sebagai subjek dan peneliti. Pengamatan dilakukan selama kegiatan yang dilakukan informan. Observasi dilakukan pada awal penelitian untuk kemudian merencanakan waktu wawancara secara mendalam. Observasi menjadi data yang akan mendukung hasil wawancara untuk mendapatkan hasil penelitian yang menyeluruh sesuai dengan pertanyaan penelitian.

Peneliti akan melakukan pengamatan kemudian mencatat apa yang dilihat dan didengar ketika terjadi interaksi antar penyiar sebagai pekerja paruh waktu dan pekerja tetap lain di Rakosa “Female Radio”, baik pekerja yang menjadi informan maupun yang tidak dijadikan informan. Pengamatan

(28)

juga dilakukan kepada penyiar perempuan dengan penyiar perempuan, penyiar perempuan dengan penyiar laki-laki, penyiar perempuan dengan pekerja tetap perempuan, penyiar perempuan dengan pekerja tetap laki-laki, dan pekerja paruh waktu dan pekerja tetap. Hal tersebut untuk mengetahui hubungan yang terjadi diantara informan dengan berbagai status dan posisi.

Pengamatan dilakukan secara menyeluruh untuk mengetahui bagaimana pola-pola relasi kuasa yang terjadi. Peneliti mengikuti kegiatan rapat redaksi yang dilakukan pihak redaksi atau manajerial. Pengamatan dilakukan untuk melihat secara langsung siapa dan bagaimana relasi kuasa antar pekerja perempuan dan laki-laki di Rakosa “Female Radio”. Peneliti mengamati interaksi penyiar dan pekerja baik secara formal maupun informal selama di kantor atau jika ada kegiatan tambahan. Hal tersebut dilakukan untuk melihat hubungan yang terjadi diantara informan dan yang bukan informan.

c. Studi Dokumen

Selain menggunakan metode observasi dan wawancara dalam penelitian, peneliti juga mengumpulkan data dengan cara mencari dokumen terkait dengan masalah penelitian. Menurut Yin (2013) dokumen digunakan untuk menambah dan mendukung informasi dan sumber-sumber lain. Dokumen yang dicari adalah catatan mengenai bagaimana struktur pekerja perempuan dan laki-laki di Rakosa “Female Radio”, siapa yang menempati sebuah jabatan tertentu, yaitu struktura organisasi. Hal tersebut untuk mengetahui bagaimana pola-pola relasi kuasa dalam struktur, apakah posisi tertentu cenderung didominasi oleh jenis kelamin tertentu. Berdasarkan apa seorang pekerja perempuan atau laki-laki ditempatkan dalam jabatan tertentu. Dokumen diperlukan sebagai informasi yang dapat memperkuat data peneliti tentang pekerja khususnya penyiar di Rakosa “Female Radio”.

(29)

5. Limitasi

Keterbatasan penelitian ini ingin mengetahui strukturasi gender di radio dengan segmen perempuan. Peneliti fokus pada pekerja perempuan dan bukan pada teks. Peneliti ingin mengetahui apakah di Rakosa “Female Radio” pekerja perempuan sudah berada pada posisi penting untuk mengambil keputusan ataukah perempuan tersebut masih berada dalam batasan struktur gender yang cenderung didominasi laki-laki. Bagaimana hubungan antara pekerja perempuan dan pekerja laki-laki. Bagaimana kepentingan ekonomi politik yang terjadi di radio tersebut. Metode studi kasus dengan paradigma kritis digunakan sebagai alat untuk melihat fenomena tersebut sebagai sesuatu yang unik karena terjadi di satu-satunya radio dengan segmen perempuan di Yogyakarta.

G. Jadwal Penelitian

Peneliti membutuhkan perkiraan waktu untuk dapat melakukan penelitian tentang strukturasi gender yang terjadi di Rakosa “Female Radio”. Peneliti membuat sebuah jadwal penelitian yang tersusun ke dalam tabel agar lebih tertata dengan rapi. Jadwal penelitian dimulai dari kegiatan observasi, pengumpulan data melalui wawancara dan studi dokumen hingga analisis data. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mendapatkan data yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Jadwal dan agenda kegiatan dapat dilihat dalam tabel dibawah ini berdasarkan kebutuhan penelitian yang telah ditetapkan.

Tabel 2. Jadwal Penelitian

No Bulan Agenda kegiatan 1 Februari – Maret 2016 Observasi

1. Peneliti mengamati bagaimana interaksi antara penyiar perempuan dengan pekerja

(30)

perempuan lainnya dan penyiar perempuan dengan pekerja laki-laki pada saat bekerja. Pengamatan tersebut dilakukan untuk melihat siapakah agen yang lebih berkuasa dibanding lainnya.

2. Peneliti mencatat apa yang dilihat dan didengar ketika terjadi interaksi antar penyiar perempuan dan pekerja lain di Rakosa “Female Radio”, baik pekerja yang menjadi informan maupun yang tidak dijadikan informan. Pengamatan dilakukan secara menyeluruh untuk mengetahui bagaimana pola-pola relasi kuasa yang terjadi.

3. Peneliti mengumpulkan dokumen tentang struktur organisasi, siapa yang menduduki posisi tertentu, berdasarkan apa individu tersebut ditempatkan. Apa saja program yang dibawakan penyiar. Bagaimana kebijakan pembagian program siaran kepada penyiar. 2 April – Juni 2016 Wawancara Informan primer dan sekunder

1. Penyiar perempuan 2 orang yaitu Erina Sabrina dan Haning

2. Penyiar laki-laki 1 orang yaitu Bagus 4. Manajer HRD yaitu Ratna Dyah 5. Manajer Siaran yaitu Fariz 3 Juni – Agustus 2016 Pengumpulan dan analisis data

(31)

Jadwal tersebut disusun berdasarkan rumusan dan tujuan penelitian yang disesuaikan dengan metodologi penelitian. Jadwal dapat berubah sesuai dengan kebutuhan dan situasi di lapangan sehingga waktu penelitian dapat lebih cepat atau lebih lambat. Peneliti akan melakukan pengumpulan data sesuai dengan kebutuhan dan dimungkinkan akan menambah data dan informasi jika diperlukan. Kondisi atau situasi radio yang cenderung luwes menyebabkan peneliti juga menyesuaikan dengan keadaan.

Gambar

Tabel 1. Summary Informan
Tabel 2. Jadwal Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti diketahui bahwa ternyata fenomena lunturnya karakter tanggung jawab personal kewarganegaraan di bidang ekonomi dan

dibidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, hukum dan Ham, politik, lingkungan dan sosial budaya. c) Pelaksanaan pengintegrasian upaya peningkatan kualitas hidup perempuan

Subjek yang diteliti adalah Mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP USU yang aktif perkuliahan angkatan 2011 yang pernah melihat iklan Maybeline. Penelitian dilakukan pada bulan

nabati UE dan LSM lingkungan terhadap kebijakan pembatasan impor minyak sawit oleh Uni Eropa, maka digunakan model politik birokratik untuk menggambarkan bahwa politik

Menfaat yang diperoleh guru dari penelitian ini adalah terciptanyan LKS berbasis model kreatif-produktif yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran untuk

Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan antara manajemen waktu dengan stres pada mahasiswa yang bekerja separuh waktu. Batasan masalah yang meliputi subjek penelitian

Dalam rangka meningkatkan partisipasi politik perempuan di lembaga legislatif, kegiatan sosialisasi misalnya dapat digunakan untuk menjelaskan peraturan-peraturan baru

Bagi penulis, penelitian ini dapat memberikan ilmu dan pengalaman baru sebagai calon tenaga pendidik dalam mengeksplorasi penggunaan media di pengajaran berbicara