Bab IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan
IV.1 Moluska Daerah Penelitian
Fosil yang terdapat dalam batuan Formasi Kaliwangu pada umumnya adalah moluska., yang didominasi oleh Kelas Gastropoda dan Pelecypoda. Fosil-fosil moluska tersebut ditemukan dalam keadaan artikulasi conjoined, disartikulasi, pecahan, lapisan cangkang, beberapa diantaranya dalam kondisi posisi hidup dan moluska masih muda (juvenile) ataupun dewasa.
IV.1.1 Lintasan Sungai Cikandung (Desa Sukasari)
Lokasi ini berada di daerah Desa Sukasari, tepatnya berada pada koordinat : 06o 44’ 07.9’’ LS dan 107o 53’ 28.3’’
Bagian bawah tersusun dari lapisan tebal batulempung masif, konkoidal, umumnya berwarna abu-abu hingga abu-abu kehitaman, konkoidal, dengan framboidal pirit. Lapisan tipis batupasir berwarna abu-abu kehitaman hingga abu-abu terang, berbutir sedang sampai kasar, dengan bioturbasi, burrow, kadang dijumpai clay ball pada lapisan dengan bidang erosional di bawahnya. Lapisan kongkresi berbentuk
BT. Singkapan tersebut berada pada sepanjang tebing di tepi Sungai Cikandung.
Formasi Kaliwangu secara umum tersusun oleh lapisan batulempung kehijauan yang cukup tebal dan lapisan batupasir (Lampiran C, D). Banyak mengandung fosil moluska.
Bagian atas tersusun dari lapisan batulempung tebal, berwarna abu-abu kehitaman, konkoidal, mengandung material karbonan dan sisa tumbuhan. Terdapat lensa serta sisipan tipis batubara muda, lunak, sebagian kecil memiliki kilap terang. Dijumpai pula nodul-nodul septaria (septarian nodules) sejajar lapisan, berbentuk lentikular dan tabular dengan ketebalan diameter 20 - 70 cm. Tersingkap pula lapisan batupasir halus hingga kasar, membundar tanggung hingga menyudut tanggung, terpilah sedang, mengandung mineral terang dan gelap, getas yang berselingan dengan batulempung pasiran hingga kerikilan dan mengandung sisa tumbuhan. Mengandung sedikit fosil moluska, foraminifera bentos, serta ditemukan bioturbasi berukuran 3 – 5 cm, tegak lurus lapisan, dan sedikit material karbonan.
lentikular, sejajar lapisan, ketebalan antara 5 – 20 cm, kadang tersebar acak dalam suatu zona kongkresi. Fosil moluska sangat sering dijumpai pada bagian ini.
Kumpulan fosil moluska yang ditemukan (Lampiran A) yaitu: Zaria angulata Sowerby (Turritella simplex MARTIN), Placuna placenta Linnaeus, Paphia (Calliotapes) vandermeermohri Oostingh, Corbula cheribonensis (Oostingh), Anadara (Anadara) tambacana (MARTIN), Nassarius (Zeuxis) verbeeki (MARTIN) Oliva (Anazola) gibbosa (MARTIN), Siphonalia paradoxica crassicostata MARTIN, Terebra sp, Chlamys sp., Natica sp.
IV.1.2 Lintasan Sungai Cipedes (Desa Sukatani)
Lokasi ini berada dekat dengan pertemuan Sungai Cikandung tepatnya terletak pada koordinat 107o 53’ 16,6’’ BT dan 06o 44’ 24,8’’ LS.
Pada lokasi ini tersusun oleh batulempung abu-abu kebiruan dengan sisipan batupasir berukuran halus sampai kasar (Lampiran B, C). Selain fosil moluska, juga di jumpai fosil foraminifera plankton dan bentos.
Bagian bawah Formasi Kaliwangu tersusun dari batulempung, batulempung pasiran, batupasir lempungan hingga batupasir sedang, secara umum berwarna abu-abu sampai abu-abu kehijaun, kadang ditemukan konkresi baik yang tersebar secara acak maupun yang sejajar dengan perlapisan. Pada litologi batupasir kadang dijumpai struktur sedimen laminasi paralel dan laminasi silang siur Pada bagian ini banyak mengandung fosil moluska dengan kelimpahan dan keragaman cukup tinggi yang ditemukan hampir di setiap horison batuan. Fosil jejak kadang ditemukan pada litologi batulempung yang tidak mengandung moluska. Selain itu terdapat juga lapisan batubara muda yang mengandung fosil kayu. Arah kemiringan lapisan 215° E sampai 280° E dengan besar kemiringan antara 17° sampai 30°.
Bagian atas tersusun dari batulempung, batulempung pasiran, batupasir lempungan hingga batupasir berukuran halus sampai sedang kadang-kadang dijumpai fragmen pada batupasir sedang, warna umum abu-abu terang hingga abu-abu kehitaman. Pada bagian lapisan batupasir mengandung lensa-lensa batupasir kasar konglomeratan dengan struktur sedimen perlapisan silang siur Fosil moluska dan konkresi jarang ditemukan di bagian ini.
Kumpulan fosil moluska yang ditemukan (Lampiran A) yaitu: Zaria angulata Sowerby (Turritella simplex MARTIN), Placuna placenta Linnaeus, Paphia (Calliotapes) vandermeermohri Oostingh, Paphia cheribonensis Oostingh, Corbula (Anisocorbula) socialis MARTIN, Anadara (Anadara) tambacana (MARTIN), Nassarius (Zeuxis) verbeeki (MARTIN), Murex (M.) lebacanus MARTIN, Oliva sp., Arca sp.
IV.1.3 Kisaran Umur
Berdasarkan pengamatan di lapangan, kumpulan fosil moluska yang di jumpai di daerah penelitian cukup bervariasi, dan mendominasi dibandingkan fosil foraminifera plankton. Fosil foraminifera plankton kurang berkembang dan sulit ditemukan di dalam Formasi Kaliwangu, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar apabila diasosiasikan dengan melimpahnya fosil moluska.
Berdasarkan kumpulan fosil moluska Formasi Kaliwangu ini menghasilkan kisaran umur tidak lebih tua dari Pliosen Awal (Skwarko dkk, 1994). Sementara itu dari kumpulan foraminifera plangton yang dijumpai walaupun tidak terdapat fosil penunjuk namun dari kumpulan fosil (Tabel IV.1) tersebut menunjukkan kisaran umur tidak lebih muda N18, Blow, 1969.
Berdasarkan Aswan dan Zaim (1998), umur Formasi Kaliwangu dari hasil analisa foraminifera plankton menunjukkan umur Pliosen Awal (N18 – N19, Blow 1969), yang ditandai oleh pemunculan awal Pullentiana obliquiloculata (N18-Holosen) dan pemunculan akhir Globigerinoides obliquus (N8-19).
Tabel IV.1 Kisaran Umur Planktonik Formasi Kaliwangu (07 SRIi 86)
Miocene Pliocene Pleistocene HOL
Foraminifera Plankton
M L E M L
N 15 N 16 N 17 N 18 N 19 N 20 N 21 N 22 N 23
` Globigerinoides trilobus immaturus Le Roy
Globigerinoides obliquus obliquus Bolli Sphaeroidinella subdehiscens (Blow) Globigerina venezuelana Hedberg
Globoquadrina altispira altispira Cushman &
Jarvis
Globigerinoides trilobus sacculiferus (Brady) Globigerina nephentes Todd
IV.1.4 Lingkungan Pengendapan
Lingkungan pengendapan Formasi Kaliwangu bila ditinjau dari aspek hidup dari asosiasi moluska, menunjukkan taksa-taksa daerah intertidal – open shallow marine (Tabel IV.2).
Tabel IV.2 Lingkungan Pengendapan Moluska
No. Moluska
Lingkungan Pengendapan (Okutani, 2000/Abbott dan Dance, 1998) Intertidal Subtidal Laut Dangkal Terbuka
1. Anadara (Anadara) tambacana (MARTIN)
2. Arca sp.
3. Corbula ( Anisocorbula ) socialis MARTIN
4. Corbula cheribonensis ( Oostingh )
5. Oliva ( Anazola ) gibbosa ( MARTIN )
6. Nassarius ( Zeuxis ) verbeeki ( MARTIN )
7. Terebra sp
8. Placuna placenta Linnaeus
9. Murex (M.) lebacanus MARTIN
10.
Zaria angulata Sowerby (Turritella simplex
MARTIN)
11. Paphia (Calliotapes) vandermeermohri Oostingh
12. Paphia cheribonensis Oostingh
13. Siphonalia paradoxica crassicostata MARTIN
14. Natica sp
15. Chlamys sp.
Adapun foraminifera bentos yang dijumpai diantaranya: Asterorotalia multispinosa (Nakamura), Asterorotalia gaimardii (d’Orbigny), Nonion elongatum (d’Orbigny), Bolivina sp., Elphidium discoidale (d’Orbigny), Elphidium aff. craticulatum (Fichtel and Moll), Asterorotalia trispinosa (Thalmann), Robulus sp., Rotalia sp. A. Le Roy, ostracoda, yang menunjukkan formasi ini diendapkan disekitar lingkungan intertidal - subtidal
Formasi Kaliwangu tersusun oleh litologi yang kadang mengandung lignit atau material karbon, diperkirakan lingkungan pengendapan berada pada lingkungan reduktif dan cenderung dekat ke pantai (rawa-rawa/marsh).
Kemunculan fosil jejak (Gambar IV.1) yang di temukan pada beberapa lapisan, seperti: Planolites, Skolithos, Ophiomorpha, atau Thalassinoides, dapat menjadi salah satu indikasi bahwa lingkungan tersebut merupakan lingkungan fluktuasi energi pengendapan di daerah pasang – surut (Pemberton dkk, 1992).
1 2
3 4
Gambar IV.1 Fosil Jejak : 1. Thalassinoides (lingkaran merah),2. Planolites (lingkaran hijau), 3. Skolithos (lingkaran kuning), 4. Ophiomorpha (lingkaran ungu)
Makin berkurangnya fosil moluska ataupun foraminifera dari taksa subtidal pada Formasi Kaliwangu bagian atas diperkirakan pada bagian ini diinterpretasikan merupakan daerah yang makin dangkal, dibandingkan Formasi Kaliwangu bagian bawah.
Berdasarkan tafonomi dan taksa fosil moluska serta didukung oleh foraminifera bentos, fosil jejak yang di jumpai, maka Formasi Kaliwangu diinterpretasikan bahwa lingkungan pengendapannya relatif reduksi, intertidal – open shallow marine dan dipengaruhi oleh hasil endapan zona pasang-surut.
IV.2 Interpretasi Arsitektur Sikuen Berdasarkan Tafonomi Moluska
Analisis tafonomi Moluska dapat membantu memecahkan masalah arsitektur sikuen terutama pada lapisan batuan yang masif dan tidak teramati adanya pola penumpukan sedimen (stacking pattern).
IV.2.1 TST (Transgressive System Tract)
Transgresi dapat diartikan sebagai peningkatan ruang akomodasi yang disebabkan oleh kenaikan muka air laut. Permukaan dimana muka air mencapai posisi ke arah darat paling maksimum, dapat disebut sebagai maximum flooding surface (Posamentier dkk., 1988; Van Wagoner dkk., 1988).
Awal TST (Transgressive Systems Tract) mulai terjadi diatas batas erosional (ravinement surface) atau batas sikuen (sequence boundary). Ciri – ciri awal TST yang dapat jelas teramati di lintasan yaitu ditemukannya disartikulasi, terdapatnya bioturbasi, adanya campuran gravel (sisipan butir – butir kasar sedimen dalam klastik halus), tingkat fragmentasi moluska cukup tinggi yang diinterpretasikan berasal dari sisa – sisa sedimen yang terendapkan sebelumnya, dengan posisi tidak beraturan/tanpa orientasi dari suatu taksa, menandakan tingkat abrasi yang cukup tinggi, umumnya bergradasi keatas dimana fosil semakin berkurang, kadang di jumpai amber dan adanya konkresi dengan variasi ukuran dan bentuk yang mengikuti arah perlapisan.
Berdasarkan ciri-ciri tersebut, maka awal TST (Gambar IV.8 dan Gambar IV.9) di lintasan Sungai Cikandung (Lampiran B, Gambar IV.2) ditemukan 1, 3, 4, 8, 10, 11, 12, 13, 19, 20, dan di lintasan Sungai Cipedes (Lampiran C, Gambar IV.3, IV.4 dan IV.5) ditemukan disiklus ke 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 36, 40, 41.
2
16
a1 a2
Gambar IV.2 Tafonomi fosil moluska di lintasan Sungai Cikandung (a1) Nodul septaria pada lapisan batulempung, salah satu ciri E TST pada siklus ke 4, (a2) Individu
12 19
a1 a2
4 5
a3 a4
7 8
a5 a6
Gambar IV.3 Tafonomi fosil moluska di lintasan Sungai Cipedes: (a1) Pecahan Zaria sp., fosil jejak, dan gravel merupakan ciri E TST pada siklus ke 13, (a2) Sisa tumbuhan pada batu pasir sangat halus – halus, salah satu ciri E TST pada siklus ke 19, Tafonomi fosil moluska di lintasan Sungai Cipedes (a3) Pecahan gastropoda, dan fragmen batuan, ciri dari E TST pada siklus 21, (a4) Fosil jejak pada singkapan batupasir yang merupakan salah satu ciri dari ETST (SB), pada siklus ke 23, (a5) Fosil jejak pada singkapan batupasir, nampak gravel, dan material batubara muda, ciri dari ETST (SB), pada siklus ke 24, (a6). Gravely
sandstone, sisa tumbuhuhan, dan material batubara muda, ciri dari ETST (SB),
9 13
a1 a2
14 15
a3 a4
16 18
a5 a6
Gambar IV.4 Tafonomi fosil moluska di lintasan Sungai Cipedes: (a1) Amber dan gravel yang tersingkap, ciri dari E TST (SB) pada siklus ke 25, (a2) Placuna placenta yang menempel pada konkresi batupasir, salah satu ciri E TST pada siklus ke 29, (a3) Struktur silang siur pada batupasir halus – sedang lapisan batupasir pada siklus 28 (Aries 2008), (a4) Konkresi batupasir pada lapisan batulempung pada siklus ke 30 (Aries 2008), Tafonomi fosil moluska di lintasan Sungai Cipedes (a5) Fosil jejak yang tegak lurus dengan perlapisan pada batulempung pasiran teroksidasi salah satu ciri E TST (SB) pada siklus 30 (Aries 2008), (a6) Fosil Jejak tegak lurus dengan lapisan salah satu ciri E TST pada siklus 36 (Aries, 2008),
19 21
a1 a2
22 23
a3 a4
Gambar IV.5 Tafonomi fosil moluska di lintasan Sungai Cipedes: (a1) Fosil Jejak, Skolithos, searah dengan perlapisan pada batupasir berbutir kasar ter-oksidasi pada siklus ke 36 (Aries, 2008), (a2) Fosil Murex sp., salah satu ciri TST yang di temukan pada siklus ke 40, (a3) Ekinoid yang tersingkap di lapisan batulempung pada siklus 40, (a4) Konkresi sepatria sejajar lapisan batulempung.
Pengendapan akhir TST merupakan konsentrasi hiatal yang terjadi karena kelanjutan dari kenaikan muka air laut dan kondisi lingkungan yang relatif tenang. Ciri – ciri akhir TST yang dapat jelas teramati di lintasan diantaranya di temukannya artikulasi (conjoined) dalam kondisi posisi hidupnya dari suatu taksa, menandakan tingkat abrasi yang cukup rendah, umumnya fosil utuh dan dewasa, terkadang lebih bervariasi, dan tingkat fragmentasi cukup rendah, serta kadang di temukan lapisan yang barren.
Berdasarkan ciri tersebut, maka akhir TST (Gambar IV.8 dan Gambar IV.9,) di Sungai Cikandung (Lampiran B, Gambar IV.6) disiklus ke 11, 13, dan di Sungai Cipedes (Lampiran C, Gambar IV.7) disiklus ke 20, 25, 26, 27, 28, 29, 35.
16 13
a1 a2
Gambar IV.6 Tafonomi fosil moluska di lintasan Sungai Cikandung (a1) Articulated bivalvia salah satu ciri dari L TST, pada siklus ke 11, (a2) Zaria angulata relatif utuh, ukuran cukup besar, dan individu, salah satu ciri dari L TST pada siklus ke 13.
2
10
a1 a2
Gambar IV.7 Tafonomi fosil moluska di lintasan Sungai Cipedes (a1) Posisi hidup Zaria
angulata dengan jumlah yang cukup banyak, salah satu ciri L TST di siklus ke 20, (a2)
Posisi hidup Zaria angulata (individu posisi hidupnya) salah satu ciri L TST pada siklus ke 27.
SB SB SB SB SB SB E TST L TST E HST L HST E HST L HST E TST E HST L TST E TST L HST E TST L TST L HST TST TST L TST HST L TST E TST L TST E HST L HST E TST HST L TST E TST
Batas SB pada siklus ke 13 (keterangan Gambar)
Komposisi & Tekstur Struktur Penampang Interpretasi arsitektur sikuen U n it St ra ti g r a fi F o to D a ta Si n g k a p a n d a n Pe rc o n to h c la y s il t v .f .s . f. s . m .s . c .s . v .c .s . p b l. c b l. b ld r. Fosil S. Cipedes SB SB SB SB E TST E TST L TST E TST L TST E HST E TST L TST E HST L HST L TST HST E TST L TST E HST L HST E TST HST
4.2.2. HST (Highstand Systems Tract)
HST (Highstand Systems Tract) terjadi ketika kenaikan muka air laut relatif secara perlahan dibandingkan dengan TST, sehingga menyebabkan suplai sedimen relatif sama dengan rata – rata ruang akomodasi. Hal ini menyebabkan transgresi berakhir dan mulai berlanjut ke arah regresi. Endapan regresi, yang terbentuk ketika suplai sedimen lebih besar dari ruang akomodasinya, terutama mulai terbentuk saat late HST (Highstand Systems Tract).
Pada awal HST ditemukan percampuran individu fosil moluska yang masih muda (juvenile) dan dewasa, dikarenakan mulai turunnya muka air relatif yang menyebabkan moluska tidak dapat berkembang secara sempurna karena lingkungan yang mulai pekat oleh larutan sedimen (Parras dan Casadio, 2004), Dalam kondisi ini umumnya ditemukan fosil moluska yang dewasa umumnya di temukan setempat-setempat posisi hidupnya (posisi hidup) dan individual artikulasi. Ditemukan fosil moluska yang masih muda (juvenile) dalam lebih mendominasi, menandakan telah terjadi proses sedimentasi yang sangat cepat. Cangkang fosil moluska mulai ditemukan dalam keadaan pecah – pecah (pecahan) dan tidak lengkap.
Berdasarkan hal tersebut, maka awal HST (Gambar IV.15 dan Gambar IV.16) yang dapat jelas teramati di lintasan Sungai Cikandung (Lampiran B, Gambar IV.10 dan IV.11) ditemukan disiklus ke 1, 3, 5, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 15, 19, 20, dan di lintasan Sungai Cipedes (Lampiran C, Gambar IV.12) ditemukan disiklus ke 21, 27, 28, 29, 34, 37, 40, 41.
1 3
a1 a2
Gambar IV.10 Tafonomi fosil moluska di lintasan Sungai Cikandung (a1). Articulated
Paphia vandermeermohri , salah satu ciri E HST pada siklus ke 3, (a2) Placuna placenta melimpah dan tersebar pada lapisan batulempung, ciri E HST pada siklus
5 4
a1 a2
7 6
a3 a4
9 10
a5 a6
18
a7
Gambar IV.11 Tafonomi fosil moluska di lintasan Sungai Cikandung (a1) artikulasi conjoined Paphia vandermeermohri (cukup melimpah), salah satu ciri dari E HST pada siklus ke 7, (a2) Conjoined Paphia cheribonensis salah satu ciri dari HST pada siklus ke 8, (a3) Pecalan moluska muda dan dewasa moluska, salah satu ciri EHST pada siklus ke 10 (a4). Individual disarticulated Placuna sp., pecahan dan moluska muda salah satu ciri dari E HST pada siklus ke 9, 11. (a5) Small Anadara sp., salah satu ciri dari E HST pada siklus ke 11, (a6) Nassarius sp, dan
fragmented moluska, ciri EHST pada siklus ke 12, (a7 moluska muda dan moluska
1 6
a1 a2
20 23
a3 a4
Gambar IV.12 Tafonomi fosil moluska di lintasan Sungai Cipedes (a1) Fosil individu life
position Placuna placenta, yang ditemukan di lapisan batulempung, salah satu ciri
dari HST, (a2). Fragmented juvenile bivalvia dan gastropoda, pada batulempung, ciri dari E HST pada siklus ke 23, (a3) Posisi hidupZaria angulata, salah satu ciri E HST pada siklus ke 37, (a4) Juvenile dan fragmented moluska salah satu ciri E HST pada siklus 41
Puncak highstand system tract dapat dicirikan dari perulangan suatu peristiwa berkali – kali (multiple-event concentrations) berupa orientasi cangkang fosil moluska yang paralel terhadap lapisan dengan lapisan yang relatif tidak mengandung fosil, umumnya fosil moluska dewasa terdisartikulasi lebih mendominasi. Hal tersebut dapat mengindikasikan bahwa telah terjadi akresi yang sangat cepat. Kadang dijumpai sisipan karbon, karena penurunan muka air laut juga umumnya berasosiasi dengan lapisan karbon atau batubara sebagai sisipan, juga campuran sedimen dengan butir yang kasar (Aswan, 2006).
Endapan Akhir HST (gambar IV.15 dan Gambar IV 16) yang dapat jelas teramati di lintasan Sungai Cikandung (Lampiran B, Gambar IV.13) ditemukan disiklus ke 4, 7, 11, 12, 16, 17, dan di lintasan Sungai Cipedes (Lampiran C, Gambar IV.14) ditemukan disiklus ke 20, 24, 28, 37.
11 15
a1 a2
17 20
a3 a4
Gambar IV.13 Tafonomi fosil moluska di lintasan Sungai Cikandung (a1) Singkapan batulempung, nampak alternathing Zaria sp., bed, ciri dari L HST pada siklus 13, (a2) Artikulasi Paphia sp., salah satu ciri HST pada siklus ke 20, (a3) Multiple-event consentrations Zaria sp., salah satu ciri L HST pada siklus ke 12
3
a1
Gambar IV.14 Tafonomi fosil moluska di lintasan Sungai Cipedes (a1) Multple-event consentration pecahan moluska salah satu ciri L HST di siklus ke 20
SB SB SB SB SB SB E TST L TST E HST L HST E HST L HST E TST E HST L TST E TST E TST L TST L HST TST TST L TST HST L TST E TST L TST E HST L HST E TST HST L HST E HST L TST E TST L HST
Batas Antara TST dengan HST (keterangan Gambar)
Komposisi & Tekstur Struktur Penampang Interpretasi arsitektur sikuen U n it St ra ti g r a fi F o to D a ta Si n g k a p a n d a n Pe rc o n to h c la y s il t v .f .s . f. s . m .s . c .s . v .c .s . p b l. c b l. b ld r. Fosil S. Cipedes SB SB SB L TST E HST E TST L TST L HST E HST E TST E HST L TST E TST E TST L TST E HST L HST E TST HST L HST E HST
Batas antara E HST dengan L HST (keterangan Gambar)
Gambar IV.16 Contoh Early dan Late HST pada lintasan Sungai Cipedes
4.2.3. LST (Lowstand System Tract)
LST (Lowstand System Tract) terdiri dari endapan-endapan yang paling tua dalam tipe 1 depositional Sequence, yakni tipe 1 merupakan sikuen pengendapan yang terbentuk pada saat relative sea level fall di garis pantai tanpa memperhatikan basin fisiography-nya. Sikuen atas dibatasi oleh bidang ketidak selarasan ke arah daratan pada saat kondisi lowstand. Dalam suatu cekungan yang dicirikan oleh suatu shelf break.
LST diendapkan selama suatu penurunan relatif permukaan laut dan pada awal suatu penaikan relatif permukaan laut.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka diperkirakan pada siklus ke 17, 19, di lintasan Sungai Cikandung (Lampiran B), dan pada siklus ke 36, 37, 38, di lintasan Sungai Cipedes (Lampiran C), merupakan sedimen pada saat LST.
IV.6 Kandungan Mineral Lempung
Formasi Kaliwangu disusun oleh batulempung yang sangat tebal dan memiliki kandungan fosil moluska melimpah. Batulempung Merupakan batuan sedimen (sedimentary rock) yang mempunyai ukuran butir lempung sangat halus, tersusun oleh mineral-mineral lempung (clay minerals), yang merupakan hasil proses penguraian atau dekomposit kimia terhadap mineral - mineral silika. Hal tersebut cukup menarik dikaji lebih lanjut, diantaranya dengan melakukan analisa XRD, untuk mengetahui kandungan mineral lempung, diperkirakan dapat dihubungkan antara tafonomi, dan mengindikasikan posisi lingkungan pengendapan kumpulan fosil moluska (Tabel 4.5) dengan hasil analisis XRD (lampiran D).
Analisa dilakukan pada contoh yang mengandung fosil moluska yang mendominasi (melimpah) pada beberapa lapisan tertentu. Fosil moluska tersebut yaitu : Zaria angulata, Murex sp., Placuna placenta dan Paphia vandermeermohri, Murex (M.) lebacanus MARTIN.
Fosil moluska: Zaria angulata pada contoh 08 SRi 02, Zaria angulata di Sungai Cipedes berasosiasi dengan mineral lempung: nontronite (Na0.3 Fe2 +3 ( Si , Al )4 O10 ( O H )2 !n H2 O). Nontronite termasuk kedalam kelompok smectite. Kelompok ini cenderung terdapat pada sedimen lingkungan laut, tepatnya di daerah tepi pantai (nearshore) dan open shallow marine (Eslinger and Pevear, 1988). Pada contoh 07 SRi 76 Zaria angulata di Sungai Cikandung, berasosiasi dengan mineral lempung: nacrite (Al2 Si2 O5 ( O H )4), dan muscovite (K Al2 Si3 Al O10 ( O H )2) (Tabel 4.5). Nacrite, termasuk kedalam kelompok kaolin, kelompok yang cenderung terdapat pada sedimen yang terendapkan di daerah fluviatil (Eslinger and Pevear, 1988). Mineral muscovite termasuk kedalam kelompok mica, kelompok ini cenderung terdapat pada sedimen di daerah dekat pantai (nearshore) (Eslinger and Pevear, 1988).
Fosil moluska Paphia vandermeermohri, pada contoh 08 SRI 07 di Sungai Cikandung berasosiasi dengan kaolinite (Al2 Si2 O5 ( O H )4). Kaolinite termasuk pada kelompok kaolin, kelompok ini cenderung terdapat pada sedimen yang terendapkan di daerah fluviatil (Eslinger and Pevear, 1988). Pada contoh 08 SRI 13 di Sungai Cipedes, dijumpai mineral lempung: montmorillonite (bentonite) (( Na , Ca )0.3 ( Al , Mg )2 Si4 O10 ( O H )2 !x H2 O) (Tabel 4.5). Montmorillonite (bentonite) termasuk kedalam kelompok smectite. Kelompok ini cenderung terdapat pada sedimen lingkungan laut, tepatnya di daerah dekat pantai (nearshore) dan open shallow marine (Eslinger and Pevear, 1988).
Fosil Placuna placenta, pada contoh 08 SRI-03, dan 08 SRI-10. Spesies ini berasosiasi dengan montmorillonite (( Na , Ca )0.3 ( Al , Mg )2 Si4 O10 ( O H )2 !x H2 O) dan Illite (K0.5 ( Al , Fe , Mg )3 ( Si , Al )4 O10 ( O H )2) (Tabel 4.5). Montmorillonite termasuk kedalam kelompok smectite. Montmorillonite dan Illite ini cenderung terdapat pada sedimen lingkungan laut, tepatnya di daerah dekat pantai (nearshore) dan laut dangkal terbuka (open shallow marine) (Eslinger and Pevear, 1988).
Fosil Murex (M.) lebacanus MARTIN, ditemukan pada contoh 08 SRI 12 di Sungai Cikandung. Spesies ini berasosiasi dengan kaolinite (Al2 Si2 O5 ( O H )4) (Tabel 4.5), yang termasuk kedalam kelompok kaolin. Kelompok ini cenderung terdapat pada sedimen yang terendapkan di daerah fluviatil (Eslinger and Pevear, 1988).
IV.7 Diskusi
Pada hasil penelitian ini Hasil penelitian juga menunjukkan terdapatnya 39 siklus pengendapan dan teridentifikasi sebanyak empat (4) tipe konsentrasi cangkang yang dapat dibedakan melalui ciri - ciri tafonomi. Empat tipe ini ditemukan di lokasi penelitian di dalam sikuen pengendapan; sebagai Early TST (Transgressive Systems Tract), Late TST (Transgressive Systems Tract), Early HST (Highstand Sytems Tract) dan Late HST (Highstand Sytems Tract). Pada umumnya, setiap sikuen yang ada tidak terdiri dari seluruh elemen sikuen yang ada (LST, early TST, late TST, early HST dan late HST) secara lengkap. Hal ini diperkirakan akibat proses erosi yang terjadi pada saat suatu elemen sikuen tertentu diendapkan yang mengerosi elemen sikuen sebelumnya yang sudah terendapkan.
Dari hasil pengamatan di daerah penelitian nampak suatu perkembangan kehidupan yang cukup menarik pada beberapa taksa fosil moluska yang dijumpa, yaitu spesies: Zaria angulata, Murex sp., Placuna placenta dan Paphia vandermeermohri, Murex (M.) lebacanus MARTIN. Keempat spesies tersebut dijumpai cukup mendominasi dibeberapa lapisan tertentu. Hal tersebut diperkirakan dapat dihubungkan dengan faktor ekologi, dimana moluska sangat tergantung pada kedalaman air, salinitas, temperatur atau subtrat lingkungan pada saat taksa ini hidup (Beu dan Maxwel, 1990).
Keadaan subtrat lingkungan diantaranya ditentukan oleh mineralogi dari dasar pembentuknya dimana dalam definisi mineral menyatakan bahwa mineral di cirikan oleh komposisi kimia. Komposisi tersebut dinyatakan oleh rumus yang memperlihatkan unsur yang terkandung di dalam suatu mineral. Beberapa unsur tersebut dapat berperan membantu dalam proses fosilisasi, mempengaruhi faktor ekologi diantaranya pada pH dan nutrisi.
Selanjutnya mineral lempung dapat berperan sebagai penyangga pH dengan mempertukarkan ion-ion basa dan menyediakan hara anorganik, organik dan air. Nilai pH juga menentukan penyebaran spesies, dimana pH lingkungan yang optimum untuk pertumbuhan masing-masing spesies berbeda-beda.
Dari hasil analisis XRD (lampiran D) pada tiap contoh batuan, mengandung unsur silika (SiO2), yang diperkirakan hasil erosi dari batuan yang lebih tua atau akibat dari debu gunungapi. Silika dapat mencirikan banyaknya kandungan oksigen yang secara umum akan mempengaruhi pada kelimpahan spesies tertentu. Adanya unsur Ca pada beberapa contoh, menunjukkan adanya pelarutan dari batugamping, sehingga mempengaruhi pada pembentukan atau perkembangan cangkang moluska, khususnya spesies Placuna placenta dan Paphia vandermeermohri.
Fosil moluska Zaria angulata umumnya dapat hidup dan berkembang dengan baik di daerah intertidal hingga open shallow marine (Okutani, 2000). Dari interpretasi system track berdasarkan tafonomi dan keberadaan spesies Zaria angulata pada contoh 07 Sri 02, yang berasosiasi mineral nontronite (Na0.3 Fe2 +3 ( Si , Al )4 O10 ( O H )2n H2 O) diinterpretasikan bahwa lapisan batuan ini terendapkan saat air laut pada E HST, berada di daerah dekat pantai (nearshore). Adanya unsur Na, pada komposisi mineral tersebut diatas menunjukan bahwa daerah tersebut merupakan endapan dari sedimen darat. Zaria angulata di Sungai Cikandung, berasosiasi dengan mineral lempung:
nacrite (Al2 Si2 O5 ( O H )4), dan muscovite (K Al2 Si3 Al O10 ( O H )2) diinterpretasikan saat lapisan batuan ini terendapkan pada L HST (08 SRI 76) diperkirakan berada di daerah pantai (intertidal). Adanya unsur K pada komposisi mineral tersebut diatas, menunjukan bahwa daerah tersebut merupakan endapan dari sedimen darat.
Fosil moluska Paphia vandermeermohri, umumnya dapat hidup dan berkembang dengan baik di daerah intertidal hingga open shallow marine (Okutani, 2000). Dari interpretasi system track berdasarkan tafonominya, dan adanya mineral kaolinite (Al2 Si2 O5 ( O H )4) tersebut pada contoh 08 SRI 07 di Sungai Cikandung, diperkirakan lapisan batuan ini terendapkan saat air laut pada L HST berada di daerah pantai (intertidal). Sedangkan pada contoh 08 Sri 13, dijumpai montmorillonite (bentonite) (( Na , Ca )0.3 ( Al , Mg )2 Si4 O10 ( O H )2 !x H2 O)saat lapisan batuan ini terendapkan pada E HST (08 SRI 13) di Sungai Cipedes diperkirakan berada di daerah dekat pantai (nearshore). Adanya unsur Ca yang dijumpai pada contoh tersebut menandakan daerah tersebut merupakan endapan laut (marine).
Fosil Placuna placenta, yang hidup di daerah intertidal hingga subtidal (Abbot dan Dance, 1998) ditemukan pada contoh 08 SRI-03, dan 08 SRI-10. Dari interpretasi system track berdasarkan tafonomi dan keberadaan spesies Placuna Placenta yang berasosiasi dengan mineral montmorillonite (( Na , Ca )0.3 ( Al , Mg )2 Si4 O10 ( O H )2 !x H2 O) dan Illite (K0.5 ( Al , Fe , Mg )3 ( Si , Al )4 O10 ( O H )2) bahwa lapisan batuan ini terendapkan saat air laut pada E HST, baik di Sungai Cikandung maupun di Sungai Cipedes diperkirakan berada di daerah dekat pantai (nearshore). Adanya unsur Ca yang dijumpai pada contoh tersebut menandakan daerah tersebut merupakan endapan laut (marine).
Fosil Murex (M.) lebacanus MARTIN, ditemukan pada contoh 08 SRI 12 di Sungai Cikandung. Spesies ini berasosiasi dengan kaolinite (Al2 Si2 O5 ( O H )4), yang termasuk kedalam kelompok kaolin. Kelompok ini cenderung terdapat pada sedimen yang terendapkan di daerah fluviatil (Eslinger and Pevear, 1988). Dari interpretasi system track berdasarkan tafonomi dan keberadaan spesies Murex (M.) lebacanus MARTIN yang berasosiasi mineral kaolinite, maka lapisan batuan ini terendapkan saat air laut pada E HST, diperkirakan berada di daerah pantai (intertidal).
Tabel IV.3 Kandungan Mineral, Fosil Moluska, Lingkungan Pengendapan dan Tafonomi
No No Contoh Mineral Lempung
(Hasil XRD)
Fosil Moluska
Lingkungan Pengendapan (Okutani, 2000/Abbott dan
Dance, 1998)
Arsitektur
Sikuen Tafonomi
1. 08 SRI-02 Nontronite, Quartz Zaria angulata Dekat pantai (nearshore) E HST Juvenile & Dewasa, pecahan 2. 08 SRI-03 Montmorillonite-chlorite,
Quartz Placuna placenta Intertidal – subtidal E HST pecahan, juvenile dan dewasa
3. 07 SRI 76 Muscovite, Quartz, Nacrite Zaria angulata Pantai (intertidal) L HST juvenile, disartikulasi, fragmen alternathing
4. 08 SRI-07 Kaolinite, Quartz Paphia vandermeermohri Pantai (intertidal) L HST Artikulasi conjoined
5. 08 SRI-10 Montmorillonite (bentonite),
Quartz Placuna placenta Dekat pantai (nearshore) E HST
Disartikulasi individu posisi hidup (posisi hidup)
6. 08 SRI 12 Quartz, Kaolinit, Zaherite Murex (M.) lebacanus
MARTIN Pantai (intertidal) E HST
Juvenile, artikulasi, individu posisi hidup (posisi hidup),
pecahan 7. 08 SRI-13 Montmorillonite (bentonite),
Quartz
Paphia
vandermeermohri, Dekat pantai (nearshore) E HST
Artikulasi, Individu posisi hidup (posisi hidup), pecahan