TINJAUAN PUSTAKA
Tanaman Bambu
Bambu merupakan tanaman yang tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Tanaman ini sudah menyebar di seluruh kawasan nusantara. Bambu dapat tumbuh di daerah iklim basah sampai kering, dari dataran rendah hingga ke daerah pegunungan. Di pedesaan sering kali dijumpai tanaman bambu rakyat yang ditanam di lahan- lahan tertentu seperti di pekarangan, tepi sungai, tepi jurang, atau pada batas-batas pemilikan lahan. Pemanfaatan bambu di Indonesia sudah berlangsung sangat lama dan sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa. Hal ini dapat dilihat dari bangunan rumah yang hampir semuanya menggunakan bahan dari bambu (Berlian dan Estu Rahayu, 1995).
Memang kegunaan tanaman bambu amatlah banyak. Batangnya mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan yaitu kuat, keras, ringan, ukurannya beragam, dan mudah untuk dikerjakan. Dengan sifat-sifat tersebut batang bambu memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan bangunan rumah, pagar, jembatan, alat angkutan (rakit), pipa saluran air, alat musik, dan berbagai peralatan rumah tangga. Pemanfaatan batang bambu ini terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Sekarang bambu juga digunakan untuk bahan pembuatan kertas, sumpit (chopstick), plywood dari bambu atau plybamboo,
furniture, juga untuk barang-barang kerajinan tangan untuk cenderamata. Hasil
kerajinan tangan dari bambu ini bahkan sudah menjadi komoditi ekspor (Berlian dan Estu Rahayu, 1995).
Bambu dikenal dengan sebutan kayunya orang desa dan emas hijau. Karena kekuatan dan kelenturannya, bambu digunakan untuk bahan bangunan
rumah dan konstruksi yang lain terutama di pedesaan. Selain itu, bambu juga digunakan untuk mebel, kerajinan tangan, bahan dalam industri kertas, alat musik, senjata, obat-obatan, landscaping taman, bahan makanan, dan batangnya dapat dijadikan arang (Swara, 1997).
Saat ini perkembangan produksi kerajinan anyaman bambu mengalami kemajuan yang pesat. Hal ini sejalan dengan perkembangan di dalam penciptaan desain-desain baru yang banyak laku di pasaran dalam maupun luar negeri. Industri kerajinan anyaman bambu yang telah berakar di pedesaan merupakan potensi yang besar sekali dalam usaha pengembangan industri kerajinan bambu secara nasional, karena dari sinilah awal tumbuhnya pelbagai corak kreativitas
baru dalam mengolah bambu sebagai karya seni yang tinggi (Berlian dan Estu Rahayu, 1995).
Seiring dengan meningkatnya pemakaian bambu, penebangan bambu juga meningkat sehingga pemanenan yang dilakukan secara tidak beraturan dikhawatirkan akan menyebabkan kerusakan rumpunnya di masa depan. Untuk mengantisipasi usaha ini diperlukan suatu panduan cara memanen bambu. Selain itu juga diperlukan adanya usaha konservasi bambu, baik di lokasi tumbuh alaminya (in-situ) maupun di luar lokasi pertumbuhannya (ex-situ) (Widjaja, 2001).
Bambu merupakan produk hasil hutan non kayu yang telah dikenal bahkan sangat dekat dengan kehidupan masyarakat karena pertumbuhannya ada di sekeliling kehidupan masyarakat. Bambu termasuk tanaman Bamboidae, anggota sub familia rumput, memiliki keanekaragam jenis bambu di dunia sekitar 1250-1500 jenis sedangkan Indonesia memiliki hanya 10% sekitar 154 jenis bambu.
Bambu banyak digunakan masyarakat dalam memenuhi kehidupan sehari-hari meliputi kebutuhan pangan, rumah tangga, kerajinan, konstruksi dan adat istiadat. Bambu memiliki multi fungsi pemanfaatan sebagai bahan makanan untuk manusia (rebung), binatang (pucuk daun muda), kebutuhan rumah tangga dan aneka kerajinan dengan berbagai tujuan penggunaan mulai dari cenderamata, mebel, tas, topi, kotak serba guna hingga alat musik serta konstruksi untuk pembuatan jembatan, aneka sekat, konstruksi rumah meliputi tiang, dinding, atap (Tan, 2005).
Mencari dan menemukan barang kerajinan berbahan baku bambu bukan sesuatu yang sulit. Sebab sangat banyak peralatan dan perlengkapan manusia yang terbuat dari bambu. Konsumen barang-barang kerajinan tangan tidak hanya di dalam negeri. Masyarakat mancanegara juga meminatinya karena kenaturalan dan keantikannya. Di dalam negeri kerajinan bambu tidak lagi inferior karena hanya dijual di kaki lima atau pinggir jalan. Di pasar swalayan pun, kerajinan bambu dapat ditemukan (Duryatmo, 2000).
Bambu sangat potensial sebagai bahan substitusi kayu, karena rumpun bambu dapat terus berproduksi selama pemanenannya terkendali dan terencana. Jenis bambu tropis, termasuk di Indonesia, umumnya merupakan jenis dengan tipe perimpangan simpodial yang akan membentuk perumpunan buluh yang rapat. Tipe perimpangan yang lain adalah monopodial yang menghasilkan buluh-buluh yang seolah soliter, walaupun sebenarnya buluh-buluh yang tersebar tersebut merupakan satu rumpun yang dihubungkan dengan perimpangan di dalam tanah. Bambu tipe ini, relatif lebih mudah dalam pemanenan dan tidak menggangu permudaan, karena letak buluh yang terpisah. Singkatnya, eksploitasi bambu tidak
bermasalah secara ekologi dan dapat menjamin kelangsungan suplai bahan baku. Dalam hal ini, bambu sebagai substitusi kayu sepertinya dapat menjadi solusi bagi ancaman kerusakan hutan yang semakin parah (Departemen Kehutanan, 2005).
Bambu termasuk jenis tanaman rumput-rumputan dari suku Gramineae. Bambu tumbuh menyerupai pohon berkayu, batangnya berbentuk buluh berongga. Tanaman bambu memiliki cabang-cabang (ranting) dan daun buluh yang menonjol (Gerbono dan Abbas, 2009).
Penggunaan bambu untuk industri atau kerajinan dewasa ini semakin meningkat. Dengan demikian kebutuhan akan bambu juga semakin meningkat. Pemenuhan kebutuhan tersebut tidak dapat sepenuhnya tergantung pada persediaan di alam. Untuk itu tanaman bambu perlu dibudidayakan secara intensif dengan cara mengebunkannya, agar dapat terjamin tersedianya bahan baku dan kontinuitas produksi (Berlian dan Estu Rahayu, 1995).
Klasifikasi bambu
Bambu merupakan tanaman tahunan yang sering diberi julukan rumput raksasa. Penghasil rebung ini memang termasuk dalam famili rumput-rumputan (gramineae) dan masih berkerabat dekat dengan padi dan tebu. Tanaman bambu dimasukkan ke dalam subfamily bambusoideae. Dalam klasifikasi selanjutnya bambu terdiri dari beberapa marga atau genus dan setiap marga mempunyai beberapa jenis atau spesies (Berlian dan Estu Rahayu, 1995).
Di seluruh dunia terdapat 75 genus dan 1500 spesies bambu. Di Indonesia sendiri dikenal ada 10 genus bambu, antara lain Arundinaria, Bambusa,
Dendrocalamus, Dinochloa, Gigantochloa, Melocanna, Nastus, Phyllostachys, Schizostachyum dan Thyrsostachys. Salah satu jenis bambu yang sudah banyak
dikenal misalnya bambu tali atau bambu apus. Bambu ini termasuk dalam genus
Gigantochloa. Berikut adalah urutan klasifikasi bambu tersebut.
Divisio : Spermatophyta Subdiviso : Angiospermae Kelas : Monokotiledoneae Ordo : Graminales Famili : Gramineae Subfamili : Bambusoideae Genus : Gigantochloa
Spesies : Gigantochloa apus (Bl. Ex Schult.f.) Kurz. (Berlian dan Rahayu, 1995).
Bambu memiliki beberapa karakteristik yang menurut Swara (1997) ada terbagi atas lima karakteristik dari bambu yaitu:
1. Memiliki batang berbentuk pipa,
2. Mempunyai lapisan khusus pada bagian luar dan dalam pipa, bagian luar memiliki kekuatan hamper dua kali lipat bagian dalam,
3. Memiliki buku-buku, 4. Kuat dalam arah axial, dan
5. Tidak ada ray cells, sehingga mudah bergerak.
Tanaman bambu di tanam berderet membentuk teras pada sebuah lereng jadi sabuk gunung maka kekuatannya luar biasa. Akar bambu akan saling terkait dan mengikat antar rumpun. Rumpun berikut serasah dibawahnya juga akan menahan top soil (lapisan tanah permukaan yang subur) hingga tidak hanyut di bawa air hujan.
Jenis-jenis Bambu 1. Dunia
Ada beberapa jenis tanaman bambu yang terdapat di dunia, dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Jenis- jenis Bambu yang tumbuh di Dunia
No Nama Botanis Deskripsi
1 Bambusa multiplex 'Alphonse Karr' Sebuah genus tropis dan subtropis bambu menggumpal, biasanya ukurannya raksasa, dengan banyak cabang di node, satu atau dua jauh lebih besar. Tunas baru muncul akhir musim panas atau musim gugur. Bambusa tidak cukup kuat untuk bertahan hidup di luar musim dingin, dan tanaman ini terdapat di Kanada. Bambusa dapat tumbuh dengan baik dalam ruangan dengan situasi cahaya tinggi dengan sedikitnya 6 jam sinar matahari langsung per hari.
2 Borinda angustissima Borinda merupakan bambu yang berasal dari Bhutan, Tibet, Yunnan dan Sichuan. Borinda angustissima sama tampilannya dengan Fargesia, tetapi memiliki bunga yang berbeda dan rimpang pendek. Batang mudanya memiliki bubuk putih dan ungu, selubung gigih dan daunnya sempit serta tumbuh besar di bawah pepohonan.
3 Chusquea gigantea Bambu ini berasal dari Amerika yang memiliki sekitar 150 spesies. Batangnya padat menanggung cabang dominan dan banyak cabang di batang node pertengahan.
4 Chimonobambusa marmorea Bambu ini memiliki ukuran sedang yang memulai tunas baru pada musim gugur atau musim dingin. Tumbuh pada kondisi lembab, teduh sedikit dan tingkat kelembaban yang baik dan ditemukan di pantai barat.
5 Fargesia denudata Denudata adalah bambu yang indah dari propinsi Sichuan, Cina dengan selubung batang merah-orange yang menambah cahaya untuk penampilan secara keseluruhan dan merupakan bambu yang sangat kuat serta dapat menangani matahari langsung tanpa keriting daun.
6 Hibanobambusa tranquillans shiroshima Bambu shiroshima merupakan bambu yang lebih tinggi dan paling indah dari beberapa bambu di Jepang dan biasanya dibuat untuk aplikasi interior. Bisa dikatakan bahwa jenis bambu ini benar-benar menonjol.
7 Phyllostachys angusta Jenis bambu ini sering disebut sebagai bambu batu karena tekstur batangnya yang keras dan di Cina digunakan untuk membuat mebel bambu halus dan biasanya jatuh pada musim dingin tapi tumbuh kembali di musim semi
2. Indonesia
Indonesia merupakan salah satu wilayah yang menjadi surga bagi jenis tanaman yang disebut juga sebagai buluh, aur, dan eru ini. Diperkirakan terdapat sedikitnya 159 jenis bambu di Indonesia yang 88 diantaranya merupakan spesies endemik Indonesia. Berikut beberapa jenis (spesies) bambu yang ditemukan tumbuh di Indonesia, dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Jenis-jenis Bambu di Indonesia
No Nama Botani Nama Lokal Daerah
ditemukan 1 Arundinaria japonica Sieb & Zuc ex Stend Bambu Jepang Jawa
2 Bambusa arundinacea (Retz.) Wild. Pring Ori Jawa, Sulawesi 3 Bambusa atra Lindl. Loleba Maluku 4 Bambusa balcooa Roxb. - Jawa
5 Bambusa blumeana Bl. ex Schul. f. Bambu duri Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara 6 Bambusa glaucescens (Wild) Sieb ex Munro. Bambu pagar Jawa
7 Bambusa horsfieldii Munro. Bambu embong Jawa 8 Bambusa maculate Bambu Tutul Bali 9 Bambusa multiplex Bambu Cendani,
Mrengenani
Jawa 10 Bambusa polymorpha Munro. - Jawa 11 Bambusa tulda Munro. - Jawa 12 Bambusa tuldoides Haur hejo Jawa 13 Bambusa vulgaris Schard. Pring kuning, Awi
ampel
Jawa, Sumatera, Kalimantan, Maluku
14 Dendrocalamus asper Bambu petung Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali 15 Dendrocalamus giganteus Munro. Bambu SembilanG Jawa
16 Dendrocalamus strictur (Roxb) Ness. Bambu batu Jawa 17 Dinochloa scandens Kadalan Jawa 18 Gigantochloa apus Kurz. Bambu apus, tali Jawa 19 Gigantochloa atroviolacea Bambu hitam Jawa 20 Gigantochloa atter Bambu ater Jawa 21 Gigantochloa achmadii Widjaja. Buluh apus Sumatera
22 Gigantochloa hasskarliana Buluh lengka tali Sumatera, Jawa, Bali
23 Gigantochloa kuring Awi belang Jawa 24 Gigantochloa levis (Blanco) Merr. Bambu suluk Kalimantan 25 Gigantochloa manggong Widjaja. Bambu manggong Jawa 26 Gigantochloa nigrocillata Kurz Bambu terung Jawa 27 Gigantochloa pruriens Buluh rengen Sumatera 28 Gigantochloa psedoarundinaceae Bambu andong Jawa 29 Gigantochloa ridleyi Holtum. Tiyang kaas Bali
30 Gigantochloa robusta Kurz. Bambu mayan Sumatera, Jawa 31 Gigantochloa waryi Gamble Buluh dabo Sumatera
Tabel 2. (Lanjutan)
33 Melocanna bacifera (Roxb) Kurz. - Jawa 34 Nastus elegantissimus (Hassk) Holt. Bambu eul-eul Jawa 35 Phyllostachys aurea A&Ch. Riviera Bambu uncea Jawa 36 Schizotachyum blunei Ness. Bambu wuluh,
Bambu tamiang Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur Maluku
37 Schizotachyum brachycladum Kurz. Bambu buluh besar, Bambu nehe, Tomula
Sumatera, Jawa, Sulawesi, Maluku 38 Schizotachyum candatum Backer ex Heyne Buluh mangkok Sumatera
39 Schizotachyum lima (Blanco) Merr. Bambu toi Jawa, Sulawesi, Maluku, Irian 40 Schizotachyum longispiculata Kurz. Bambu jalur Sumatera, Jawa,
Kalimantan, 41 Schizotachyum zollingeri Stend. Bambu jala, Bambu
lampar
Sumatera, Jawa 42 Thryrsostachys siamensis Gamble. Bambu Jepang Jawa
(Alamendah, 2011). 3. Sumatera
Adapun jenis tanaman bambu yang terdapat di Sumatera dapat lihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Jenis-jenis Bambu di Sumatera
No Nama Botani Nama Lokal
1 Bambusa vulgaris Schard. Pring kuning, 2 Dendrocalamus asper Bambu petung 3 Gigantochloa achmadii Widjaja. Buluh apus 4 Gigantochloa hasskarliana Buluh lengka tali 5 Gigantochloa pruriens Buluh rengen 6 Gigantochloa robusta Kurz. Bambu mayan 7 Gigantochloa waryi Gamble Buluh dabo 8 Schizotachyum blunei Ness. Bambu tamiang 9 Schizotachyum brachycladum Bambu buluh 10 Schizotachyum candatum Backer ex
Heyne
Buluh mangkok
11 Schizotachyum longispiculata Kurz. Bambu jalur 12 Schizotachyum zollingeri Stend. Bambu jala
Syarat Tumbuh Bambu
Pertumbuhan bambu tidak terlepas dari pengaruh kondisi lingkungannya. Dengan demikian perlu diketahui faktor-faktor yang berkaitan dengan syarat tumbuh tanaman bambu. Tanaman ini akan tumbuh dengan baik di tempat yang sesuai untuk pertumbuhannya. Menurut Berlian dan Estu Rahayu (1995) faktor lingkungan tersebut meliputi kondisi iklim dan jenis tanah.
1. Iklim
Lingkungan yang sesuai untuk tanaman bambu adalah yang bersuhu sekitar 8,8-360C. Suhu lingkungan ini juga dipengaruhi oleh ketinggian tempat. Semakin tinggi suatu tempat, semakin rendah suhunya. Tanaman bambu bisa dijumpai mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi dengan ketinggian 0 sampai 2.000 m dpl. Walaupun demikian tidak semua jenis bambu dapat tumbuh dengan baik pada semua ketinggian tempat. Curah hujan yang dibutuhkan untuk tanaman bambu minimum 1.020 mm per tahun. Kelembaban udara yang dikehendaki minimum 80%.
2. Tanah
Bambu dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, mulai dari tanah berat sampai ringan, tanah kering sampai becek, dan dari tanah subur sampai kurang subur. Juga dari tanah pegunungan yang berbukit terjal sampai tanah yang landai. Perbedaan jenis tanah dapat berpengaruh terhadap kemampuan perebungan bambu. Tanaman bambu dapat tumbuh pada tanah yang bereaksi masam pada pH 3,5 dan umumnya menghendaki tanah yang pH-nya 5,0 sampai 6,5. Pada tanah yang subur tanaman bambu akan tumbuh baik karena kebutuhan makanan bagi tanaman tersebut akan terpenuhi.
Kelebihan Bambu
Menurut Wahyudin (2008) setidaknya ada tiga kelebihan bambu jika dibandingkan dengan tanaman kayu-kayuan antara lain:
1. Tumbuh dengan Cepat
Bambu merupakan tanaman yang dapat tumbuh dalam waktu yang singkat dibandingkan dengan tanaman kayu-kayuan. Dalam sehari bambu dapat bertambah panjang 30-90 cm. Rata-rata pertumbuhan bambu untuk mencapai usia dewasa dibutuhkan waktu 3-6 tahun. Pada umur ini, bambu memiliki mutu dan kekuatan yang paling tinggi.
2. Tebang Pilih
Bambu yang telah dewasa yakni umur 3-6 tahun dapat dipanen untuk digunakan dalam berbagai keperluan. Dalam pemanenan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan metode tebang habis dan tebang pilih. Metode tebang pilih merupakan metode penebangan berdasarkan umur bambu. Metode ini sangat efektif karena akan didapatkan mutu bambu sesuai dengan yang diinginkan dan kelangsungan pertumbuhan bambu akan tetap berjalan.
3. Meningkatkan Volume Air Bawah Tanah
Tanaman bambu memiliki akar rimpang yang sangat kuat. Struktur akar ini menjadikan bambu dapat mengikat tanah dan air dengan baik. Dibandingkan dengan pepohonan yang hanya menyerap air hujan 35-40 % air hujan, bambu dapat menyerap air hujan hingga 90 %.
Kelemahan Bambu
Kelemahan bambu terdapat pada sifat dari keawetannya/ketahanannya. Ketahanan bambu adalah daya tahan bambu terhadap berbagai faktor perusak bambu terhadap serangan rayap, bubuk kayu kering dan jamur perusak bambu. Ketahanan alami bambu lebih rendah dibandingkan dengan kayu. Ketahanan bambu tergantung pada kondisi iklim dan lingkungan (Swara, 1997).
Manfaat Bambu
Bambu sampai saat ini sudah dimanfaatkan sangat luas di masyarakat mulai dari penggunaan teknologi yang paling sederhana sampai pemanfaatan teknologi tinggi pada skala industri. Pemanfaatan di masyarakat umumnya untuk kebutuhan rumah tangga dan dengan teknologi sederhana, sedangkan untuk industri biasanya ditujukan untuk orientasi eksport. Menurut Batubara (2002), pemanfaatan bambu terbagi atas:
1. Bambu Lapis
Seperti halnya kayu diolah menjadi kayu lapis maka bambu juga digunakan sebagai bahan baku kayu lapis. Berbagai macam produk bambu lapis dibuat baik dari sayatan bambu maupun pelepah bambunya. Jenis yang umum dipakai untuk bambu lapis adalah bambu tali (Gigantocloa apus). Kadang-kadang bambu lapis ini dicampur dengan veneer kayu meranti untuk lapisan dalamnya, atau sebaliknya lapisan luarnya berupa veneer kayu.
2. Bambu Lamina
Bambu lamina adalah produk olahan bambu dengan cara merekatkan potongan-potongan dalam panjang tertentu menjadi beberapa lapis yang selanjutnya dijadikan papan atau bentuk tiang. Lapisannya umumnya 2-5 lapis.
Banyaknya lapisan tergantung ketebalan yang diinginkan dan penggunaannya. Kualitas bambu lamina ini sangat ditentukan oleh bahan perekatnya. Dengan bahan perekat yang baik maka kekuatan bambu lamina dapat disejajarkan dengan kekuatan kayu kelas III.
3. Papan Semen
Papan semen bambu terbuat dari bambu, semen dan air kapur. Bambu terlebih dahulu diserut, kemudian direndamkan dalam air selama dua hari. Selanjutnya dicampur ketiga bahan tersebut dan kemudian dibentuk papan pada suhu 56
0
C dengan waktu selama 9 jam. 4. Arang Bambu
Pembuatan arang dari bambu dilakukan dengan cara destilasi kering dan cara timbun skala semi pilot. Bambu yang sudah dicobakan adalah bambu tali, bambu ater, bambu andong dan bambu betung. Nilai kalor arangnya rata-rata 6602 kal/gr, dan yang paling baik dijadikan arang adalah bambu ater dimana sifat arang yang dihasilkan relatif sama dengan sifat arang dari kayu bakau.
5. Pulp
Pabrik kertas sangat potensial dalam memanfaatkan bambu sebagai bahan kertas. Cara pembuatan bahan kertas dari bambu mula-mula bambu dipotong dan diserpih dengan ukuran 25 mm x 25 mm x 1 mm. Dengan tekanan dan suhu tertentu serpihan bambu tersebut dimasak selama 1,5 jam. Kemudian pulp dicuci dan disaring. Kemudian pulp diurai dengan pengaduk 3-4 jam. Hasil uraian disaring, dicuci dan diputihkan. Setelah dicuci pulp dibuat lembaran sebagai bahan pembuat kertas.
Bambu memiliki kandungan selulosa yang sangat cocok untuk dijadikan bahan kertas dan rayon. Pemanfaatan bambu sebagai bahan kertas di Indonesia telah diterapkan pada industri di Gowa dan Banyuwangi. Namun industri ini memiliki kendala dari segi bahan baku sehingga dibuat modifikasi yaitu campuran pulp bambu dengan perbandingan 70 % : 30 %.
6. Kerajinan dan Handycraft
Berbagai kerajinan dan handycraft dibuat dari bambu antara lain : tempat pulpen, gantungan kunci, cup lampu, keranjang, tas, topi dan lain-lain. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah keterampilan dan kreativitas dalam memanfaatkan bambu.
7. Sumpit
Pengembangan bahan bambu sebagai bahan industri telah pula mencakup kebutuhan peralatan makan berupa sumpit, tusuk sate dan tusuk gigi. Perkembangannnya sangat cepat karena mudah dalam pengerjaan apalagi bila dikerjakan dengan mesin secara otomatis. Bambu yang bagus untuk dijadikan sumpit adalah bambu mayan dan bambu andong. Bambu yang bagus untuk sumpit bambu yang berumur 3 tahun dimana untuk meningkatkan kualitasnya setelah ditebang sebaiknya jangan langsung diproses tetapi dikeringkan terlebih dahulu selama kurang lebih 4 hari.
8. Furniture dan Perkakas Rumah Tangga
Bambu yang dipergunakan untuk mebel harus memenuhi beberapa syarat. Selain warna yang menarik juga dapat dibentuk secara istimewa dengan nilai seni yang tinggi tetap memenuhi kekokohannya. Olesan pengawet dan penghias, seperti pernis meningkatkan keawetan dan penampilan dengan tetap berkesan
alami. Perkakas rumah tangga dan hiasan dari bambu digemari karena di samping tidak berkarat juga mencerminkan kesederhanaan tapi anggun.
Bambu hitam dan bambu betung banyak digunakan untuk furniture antara lain : meja, kursi, tempat tidur, meja makan lemari pakaian dan lemari hias. Disamping itu bambu juga banyak dipakai menjadi peralatan rumah tangga dan assesoris penghias rumah.
9. Komponen Bangunan dan Rumah
Bambu yang dipergunakan sebagai bahan bangunan sebaiknya diawetkan lebih dahulu dengan cara perendaman dalam air selama beberapa minggu kemudian dikeringkan. Kadang-kadang juga dilakukan pengasapan belerang agar hama yang ada mati dan tidak dikunjungi oleh hama perusak. Sebagai bahan kontruksi yang tidak mementingkan keindahan, juga sering dipergunakan untuk menutup pori-pori buluh.
Bambu bersama dengan kayu dan bahan organik lainnya banyak digunakan pada pembangunan rumah rakyat di pedesaan. Dengan perkembangan harga bahan dasar dan kebutuhan perumahan rakyat yang sederhana, maka pengembangan rumah berbahan kayu dan bambu sesuai untuk membantu rakyat yang berpenghasilan rendah, terutama di daerah yang mempunyai ketersediaan bambu. Penggunaan bambu oleh masyarakat sebagai bahan bangunan perumahan selain mudah didapat, bahan bambu dipercaya oleh masyarakat sebagai bahan yang kuat dan awet dengan catatan penggunaan terhindar untuk berhubungan langsung dengan air.
10. Rebung
Bambu dapat dimanfaatkan sebagai sayuran dalam bentuk rebung. Jenis-jenis tertentu rebungnya dapat dimakan karena kadar HCN kecil atau sama sekali tidak ada, rasanya memenuhi selera, lunak dan warnanya menarik. Kandungan gijinya cukup memadai sebagai sumber mineral dan vitamin.
11. Bahan Alat Musik Tradisional
Sesuai dengan ketebalan dinding, diameter dan panjang buluh, bambu dapat dibuat alat musik tradisional yang menghasilkan nada dan alunan suara yang khas. Faktor ketepatan memilih jenis dan tingkat pengeringan diperlukan guna memperoleh kualitas yang memadai. Bambu dapat dibuat alat musik tiup, alat musik gesek maupun alat musik pukul. Contoh yang terkenal adalah seruling, angklung, gambang, calung, kentongan, dll. Pembuatan alat musik dari bambu dituntut pengetahuan nada dan ketelatenan penanganan pekerjaan. Misalnya pada pembuatan angklung, bambu dipilih dari jenis bambu tertentu. Bambu temen, bambu hitam, bambu lengka dan bambu tali cocok dipergunakan untuk membuat kerangkanya.
Tinjauan Pemasaran
Pemasaran adalah semua kegiatan untuk memperlancar arus barang dan jasa dari produsen kepada konsumen secara efisien dengan maksud untuk menciptakan permintaan efektif. Biaya pemasaran adalah keseluruhan biaya yang dikeluarkan dalam proses transfer barang (produk) dari tangan produsen samapi ketangan konsumen akhir. Pembiayaan pemasaran adalah pembiayaan kegiatan dan investasi modal terhadap barang dan fasilitas-fasilitas yang diperlukan dalam proses tataniaga. Besar kecilnya biaya tataniaga hasil pertanian tergantung dari
volume (besar kecilnya) lembaga-lembaga tataniaga melakukan kegiatan fungsi-fungsi tataniaga, dan jumlah fasilitas yang diperlukan dalam proses transfer barang (Kamaluddin, 2008).
Manajemen pemasaran berasal dari dua kata yaitu manajemen dan pemasaran. Pemasaran adalah analisis, perencanaan, implementasi, dan pengendalian dari program-program yang dirancang untuk menciptakan, membangun, dan memelihara pertukaran yang menguntungkan dengan pembeli sasaran untuk mencapai tujuan perusahaan. Sedangakan manajemen adalah proses perencanaan (Planning), pengorganisasian (Organizing) penggerakan (Actuating) dan pengawasan. Jadi dapat diartikan bahwa Manajemen Pemasaran adalah sebagai analisis, perencanaan, penerapan, dan pengendalian program yang dirancang untuk menciptakan, membangun, dan mempertahankan pertukaran yang menguntungkan dengan pasar sasaran dengan maksud untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi (Kottler, 1997).
Saluran pemasaran merupakan serangkaian kegiatan yang menyelenggarakan kegiatan tata niaga, menyalurkan barang dari produsen kepada konsumen. Saluran ini mempunyai hubungan organisasi satu sama lain. Timbulnya saluran tata niaga ini karena keinginan konsumen untuk mendapatkan barang yang dikehendaki dan penyesuaian produksi terhadap keinginan konsumen (Sihombing, 2010).
Efisiensi pemasaran adalah kemampuan jasa-jasa pemasaran untuk dapat menyampaikan suatu produk dari produsen ke konsumen secara adil dengan memberikan kepuasan pada semua pihak yang terlibat untuk suatu produk yang sama. Kriteria efisiensi yang digunakan dalam penelitian ini adalah: margin
pemasaran, share petani (produsen), distribusi keuntungan, dan volume penjualan (Rahayu dkk, 2004).
Margin pemasaran atau margin tataniaga menunjukkan selisih harga dari dua tingkat rantai pemasaran. Margin tataniaga adalah perubahan antara harga petani dan harga eceran. Margin tataniaga hanya merepresentasikan perbedaan harga yang dibayarkan konsumen dengan harga yang diterima petani, tetapi tidak menunjukkan jumlah kuantitas produk yang dipasarkan. Margin tataniaga merupakan penjumlahan antara biaya tataniaga dan margin keuntungan. Nilai margin pemasaran adalah perbedaan harga di kedua tingkat sistem pemasaran dikalikan dengan kuantitas produk yang dipasarkan. Cara perhitungan ini sama dengan konsep nilai tambah (value added). Pengertian ekonomi nilai margin pemasaran adalah harga dari sekumpulan jasa pemasaran /tataniaga yang merupakan hasil dari interaksi antara permintaan dan penawaran produk–produk tersebut (Kamaluddin, 2008).