KATA PENGANTAR. rahmat-nya,penulis dapat menyelesaikan usulan penelitian skripsi yang berjudul

15  18  Download (0)

Teks penuh

(1)

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya,penulis dapat menyelesaikan usulan penelitian skripsi yang berjudul “ Upaya Masyarakat Waerebo Dalam Mempertahankan Eksistensi Struktur Lembaga Adat”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat-syarat memperoleh gelar sarjana (S1) pada Progam Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Udayana.

Dalam penelitian ini, penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak,baik berupa motivasi, bimbingan, masukan,maupun saran-saran. Oleh karena itu,pada kesempatan yang baik ini,izinkan penulis mengucapkan rasa terima kasih sedalam-dalamnya kepada :

1. Prof.Dr.drKetut Suastika.,Sp.,PD.,KEMD.,selaku Rektor Universitas Udayana atas motivasi,saran serta arahan yang telah diberikan kepada penulis selama menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Udayana.

2. Dr.Drs.I Gusti Putu Bagus Suka Arjawa.,M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana atas motivasi dan arahan yang telah diberikan kepada penulis selama menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Udayana.

3. Dr.Dra.Ni Luh Nyoman Kebayantini.,M.Si selaku ketua progam studi sosiologi yang telah memberikan motivasi,saran dan masukan kepada penulis selama menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,Universitas Udayana.

(2)

ii

4. Imron Hadi Tamim,S.S,M.A.,selaku pembimbing 1 dan sekaligus dosen Pembimbing Akademik dengan sabar memberikan arahan,saran, bimbingan, masukan-masukan, serta pemberian literatur yang sangat berguna bagi penulis sampai penulisan ini selesai.

5. Ikma Citra Ranteallo,S.Sos,M.A., selaku pembimbing 11 yang telah dengan tekun dan sabar membimbing penulis sampai penulisan skripsi ini selesai.

6. Wahyu Budi Nugroho,S.Sos.,M.A.,Selaku dosen yang selalu memberikan perhatian,motivasi,dan motivasi kepada penulis untuk terus berkembang selama menempuh pendidikan di progam studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana.

7. Staf dosen di Progam Studi Sosiologi atas motivasi,serta bekal ilmu yang telah diberikan kepada penulis selama menempuh pendidikan.

8. Bapak Michael Usman,selaku Kepala desa Satar Lenda beserta stafnya,dan juga Bapak Wilem Mampung, Bapak Martinus anggo,Bapak Isidorus Ingkol, dan Bapak Alexander Ngadus selaku tua-tua adat kampung Wae Rebo yang dengan tulus dan sabar , untuk membantu Peenulis dalam pengambilan data, serta memberikan informasi di lapangan.

9. Tokoh- tokoh masyarakat Kampung Wae Rebo dan masyarakat Kombo yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu,serta seluruh masyarakat WaeRebo dan masyarakat Kombo yang telah membantu penulis selama mengadakan penelitian.

10. Kedua orang Tua saya, Almahrum Bapak Yosep Tanggu Solo, Ibu Theresia Sedia, yang sangat berjasa,selalu memberikan motivasi, doa dan

(3)

iii

selalu bekerja keras demi kehidupan keluarga,serta selalu berusaha memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Kakak-kakak tercinta Sinta, Bonsi,Lia,Lon,Elin,Morris, terima kasih atas semua bantuan,doa dan dukungannya kepada penulis.

11. Gabriel Adirusman yang selalu membantu penulis selama penulisan skripsi, terima kasih telah menjadi motivator bagi penulis, dan telah menemani penulis kelokasi penelitian.

12. Para kerabat sosiologi Universitas Udayana Addy,Beben,Gung bayu,Dessy,Merry,Rafli,Eka dan teman-teman yang lain. Terima kasih atas kebersamaan selama penulis selama menempuh kuliah di Universitas Udayana.

13. Para keluarga dan sahabat yang telah memberikan motivasi kepada penulis, Bapak Paulus Faran, Ibu Wil, Tanta Tince ,Om David, Anny Geong, Fhalon, Jeril, Angelda, Beges, Chika, Eman, Yuyun, Rista, Helmi, Risa, kakak Hery, kakak Anje, Wenda. Terima kasih atas bantuannya, canda maupun gurauan,selama penulis berada di Bali.

Penulis menyadari betapa besar bantuan mereka, akan tetapi karena keterbatasan penulis, jasa baik mereka tidak mungkin terbalas. Namun penulis semoga amal budi mereka yang tulus memperoleh balasan yang setimpal dari-Nya.

Penulis menyadar bahwa skripsi ini sangat sederhana dan amsih banyak kekurangan,karena masih ada berbagai keterbatasan, terutama mengenai wawasan dan pengetahuan. Meskipun demikian dengan penuh tanggung jawab, skripsi ini tetap dipersembahkan kepada penguji dengan

(4)

iv

harapan dapat diterima sebagai syarat yang telah ditetapkan. Disamping itu,penulis berharap semoga skripsi ini ada manfaatnya.

Denpasar, 11 Augustus 2016

(5)

v DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...i

HALAMAN PERNYATAAN JUDUL...ii

HALAMAN PENGESAHAN ...iii

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ...iv

KATA PENGANTAR ...v

DAFTAR ISI ...ix

DAFTAR TABEL ...xii

DAFTAR GAMBAR ...xiii

GLOSARIUM ...xiv ABSTRAK ...xvii ABSTRACT ... xviii BAB I PENDAHULUAN ...1 1.1.Latar Belakang ...1 1.2.Rumusan Masalah ...13 1.3.Tujuan ...13 1.4.Manfaat Penelitian ...14 1.4.1. Manfaat Teoritis ...14 1.4.2. Manfaat Praktis ...14

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...15

2.1. Kajian Pustaka ...15 2.2. Kerangka Konseptual ...18 2.2.1. Eksistensi...18 2.2.2. Struktur ...19 2.2.3. Lembaga ...20 2.2.4. Adat ...20 2.2.5. Lembaga Adat ...21

(6)

vi

2.2.6. Masyarakat ...21

2.2.7. Masyarakat Wae Rebo ...23

2.3. Kerangka Teori...23

2.4. Kerangka Berpikir ...27

BAB III METODE PENELITIAN...30

3.1. Metode Penelitian...30

3.2. Lokasi Penelitian ...31

3.3. Jenis Sumber Data ...32

3.3.1. Data Primer ...32

3.3.2. Data Sekunder ...32

3.4. Teknik Pengumpulan Data ...32

3.4.1. Observasi Partisipatif ...32

3.4.2. Wawancara ...33

3.4.3. Dokumentasi ...33

3.5. Penentuan Informan ...34

3.6. Teknik Analisis Data ...35

3.6.1. Data Reduction ...35

3.6.2. Data Display ...35

3.6.3. Conclusion Drawing/Verivication ...36

BAB IV PEMBAHASAN ...37

4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ...37

4.2. Sejarah Kampung Waerebo...42

4.3. Lembaga Pemerintahan Masyarakat di Manggarai ...45

4.3.1. Lembaga Pemerintahan Dinas...45

4.3.2. Lembaga Adat Di Manggarai Pada Umumnya ...47

(7)

vii

4.4.1. Susunan Lembaga Adat Kampung Waerebo ...56

4.4.2. Struktur Lembaga Adat Masyarakat Waerebo Beserta Fungsi Dan Peranannya ...57

4.4.3. Peran Wanita Dalam Lembaga Adat Dan Upacara Adat di Kampung Waerebo ...69

4.5. Hubungan Kerja Sama Antara Lembaga Adat Masyarakat Waerebo Dengan Pemerintah Dinas ...72

4.6. Pengakuan Terhadap Lembaga Adat Kampung Waerebo ...77

4.6.1. Pengakuan Di Tingkat Nasional...77

4.6.2. Pengakuan Di Tingkat Internasional ...78

4.7. Globalisasi Dan Modernisasi Sebagai Ancaman Terhadap Eksistensi Lembaga Adat Masyarakat Waerebo ...79

4.8. Alasan Masyarakat Waerebo Masih Mempertahankan Struktur Lembaga Adat ...84

4.9. Upaya Masyarakat Waerebo Mempertahankan Lembaga Adatnya ...93

BAB V PENUTUP ...98

5.1. Kesimpulan ...98

5.2. Saran ...101 DAFTAR PUSTAKA

(8)

viii

DAFTAR TABEL

4.1. Keadaan Geografis Kampung Wae Rebo ... 36 4.2. Jumlah Penduduk Kampung Wae Rebo ... 40 4.3. Persebaran Penduduk Kampung Wae Rebo Menurut Agama

(9)

ix

DAFTAR GAMBAR

4.1. Peta Wilayah Desa Satar Lenda ... 37

4.2. Peta Kampung Wae Rebo ... 37

4.3. Tu’a Tembong Bersama Peneliti ... 67

4.4. Peran Wanita Dalam Lembaga Adat ... 72

(10)

x

GLOSARIUM

Ata mbeko : Orang yang berilmu atau dukun.

Beo : Kampung.

Compang : Altar yang terbuat dari susunan batu yang ditempatkan di tengah kampung yang fungsinya sebagai tempat menaruh persembahan ketika ada upacara adat besar di kampung tersebut.

Dalu : Salah satu jabatan kepemimpinan yang jika disamakan pada saat ini jabatan tersebut adalah camat.

Empo : Sebutan untuk leluhur yang sudah meninggal. Arti lainnya adalah sebutan untuk cucu.

Go’et : Ungkapan-ungkapan dalam bahasa Manggarai yang bentuknya menyerupai peribahasa.

Hambor : Proses mendamaikan dua belah pihak yang sedang bertikai.

Hekang kode : Tempat menyimpan persembahan

Jimak : Jimat yang diperoleh dari dukun atau melalui mimpi.

Kraeng : Julukan untuk keluarga atau keturunan bangsawan.

Lempa rae : Tempat menyimpan makanan cadangan.

(11)

xi

Lingko : Kebun tempat masyarakat desa mencari nafkah.

Lobo : Loteng. Pada konteks rumah adat masyarakat Wae Rebo digunakan sebagai tempat menyimpan hasil panen.

Lutur : Tenda tempat orang menjamu tamu yang datang berkunjung ke rumah.

Mbaru gendang : Rumah adat orang Manggarai.

Mbaru Niang : Nama ketujuh rumah adat di kampung Wae Rebo.

Mbata : Salah satu bentuk kesenian orang Manggarai dalam bentuk nyanyian yang dipadukan dengan alat musik gendang dan gong.

Mori Jari Dedek : Tuhan Sang Pencipta

Nempung : Proses musyawarah mufakat untuk mencapai suatu kesepakatan.

Penti : Upacara syukuran atas hasil panen yang biasanya dilakukan setelah masa panen berakhir.

Poti, darat, jing : Roh halus yang bergentayangan untuk mengganggu manusia.

Ro,eng : Masyarakat.

Sanda : Salah satu bentuk kesenian orang Manggarai dalam bentuk nyanyian yang dipadukan dengan gerakan tarian.

(12)

xii Songke : Kain tenunan khas Manggarai.

Takung empo : Memberi makan leluhur yang sudah meninggal.

Teing hang : Upacara memberi persembahan untuk leluhur. Biasanya kurban berupa ayam.

Tu’a golo : Orang yang memimpin dalam kampung terutama dalam urusan adat.

Tu’a kilo : Orang yang menjadi pemimpin dalam satu keluarga.

Tu’a tembong : Orang yang memimpin dalam rumah adat.

Tu,a teno : Orang yang memimpin dan mengepalai urusan tanah ulayat di satu kampung

Tudak : Ungkapan do’a yang diterjemahkan ke dalam bahasa Manggarai.

Tutung : Nama salah satu jenis alat musik tradisional berupa gendang kecil. Arti lainnya yaitu menyalakan.

(13)

xiii ABSTRAK

Kampung Waerebo merupakan kampung tradisional yang terletak di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kampung Waerebo merupakan sebuah kampung tradisional yang ada di Manggarai. Usia kampung Waerebo sendiri diperkirakan sudah 1.080 tahun karena usia untuk satu generasi diperkirakan 70 sampai 80 tahun dan hingga saat ini di kampung Waerebo sudah ada 18 generasi. Sebagai sebuah kampung tradisional, kampung Waerebo masih menjaga warisan adat dan budayanya dan salah satunya adalah lembaga adat. Lembaga adat masyarakat kampung Waerebo berfungsi sebagai organisasi birokrasi yang memiliki tujuan untuk mengatur kehidupan masyarakat setempat. Adapun susunan struktur jabatan dalam lembaga adat masyarakat Waerebo terdiri atas dua, yaitu: tu’a tembong sebagai pemimpin kampung dan tu’a kilo sebagai kepala subklan. Di kampung Waerebo sendiri terdiri dari satu orang tu’a tembong dan delapan orang tu,a kilo. Dalam menjalankan fungsi dan peranannya, lembaga adat masyarakat Waerebo selalu berpatokan pada nilai dan norma adat yang berlaku di kampung Waerebo. Lembaga adat masyarakat Waerebo sendiri telah memperoleh pengakuan, baik di tingkat nasional, maupun di tingkat internasional. pengakuan ini diraih karena di mata dunia luar, lembaga adat masyarakat Waerebo tergolong warisan budaya yang patut untuk dilestarikan. Di tengah pengaruh globalisasi dan modernisasi yang ada saat ini, lembaga adat masyarakat Waerebo masih tetap menunjukkan eksistensinya sebagai organisasi birokrasi yang menaungi masyarakat tradisional seperti masyarakat Waerebo. Hal ini terjadi karena adanya alasan dan upaya masyarakat Waerebo yang masih ingin melestarikan warisan adat dan budaya mereka yang diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang mereka.

(14)

xiv ABSTRACT

Waerebo village is a traditional village located in the village Satar Lenda, District Satar Mese West Manggarai regency, East Nusa Tenggara Province. Waerebo village is a traditional village in Manggarai. Age Waerebo village itself is estimated to have 1,080 years because of the age of the generation of an estimated 70 to 80 years and to this day in the village Waerebo there were 18 generations. As a traditional village, the village Waerebo still maintain the indigenous heritage and culture and one of them is the traditional institutions. Customary institutions villagers Waerebo function as bureaucratic organizations whose aim is to regulate the life of the local community. The composition of the structure of positions in traditional institutions Waerebo society consists of two, namely: tu'a tembong as village leaders and tu'a kilo as head subklan. Waerebo in the village itself consists of one person tu'a tembong and eight tu, a kilo. In carrying out its function and role, traditional institutions of society Waerebo always relied on traditional values and norms prevailing in the village Waerebo. Waerebo own indigenous institutions society has gained recognition, both at the national level, as well as at the international level. This recognition is achieved because in the eyes of the outside world, traditional institutions of society Waerebo classified as cultural heritage that deserves to be preserved. In the midst of the impact of globalization and modernization of existing, traditional institutions of society Waerebo still showing its existence as a bureaucratic organization that houses traditional society such as community Waerebo. This occurs because of the reasons and community efforts Waerebo who still want to preserve the cultural heritage of indigenous and those inherited from their ancestors.

(15)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :