Jurnal Cerebellum. Volume 3. Nomor 1. Februari 2017 Daya Antelmintik Ekstrak Etanol Daun Kesum (Polygonum minus)
terhadap Ascaridia galli secara in vitro
Dara A. Maulidya1, Muhammad Ibnu Kahtan2, Ari Widiyantoro3
1
Program Studi Pendidikan Dokter, FK UNTAN
2
Departemen Pre Klinik Parasitologi Medik, Program Studi Pendidikan Dokter, FK UNTAN
3
Program Studi Kimia, FMIPA UNTAN
Abstrak
Latar Belakang. Infeksi cacing merupakan satu di antara masalah utama yang menyebabkan gangguan kesehatan di negara berkembang. Spesies parasit yang paling sering menyebabkan infeksi cacing adalah Ascaris lumbricoides. Daun kesum merupakan tanaman yang secara empiris digunakan sebagai obat antelmintik, namun hingga saat ini masih belum ada penelitian yang secara ilmiah membuktikan hal tersebut. Metodologi. Ekstrak etanol daun kesum disiapkan dalam tiga konsentrasi berbeda, yaitu 0,5 mg/mL, 1 mg/mL dan 2 mg/mL. Larutan NaCl 0,9% dan albendazol digunakan sebagai kontrol negatif dan kontrol positif. Hewan uji yang digunakan adalah cacing Ascaridia galli. Waktu kematian cacing dihitung dan dilakukan analisis data. Hasil. Waktu kematian cacing yang dihasilkan oleh ekstrak etanol daun kesum konsentrasi 0,5 mg/mL, 1 mg/mL dan 2 mg/mL secara berturut-turut adalah (mean±SD) 35 ± 3,317 jam, 32,8 ± 2,387 jam dan 25 ± 3,391 jam. Waktu kematian yang ditimbulkan oleh kelompok kontrol negatif selama 76,6 ± 8,295 jam, sedangkan kontrol positif selama 19,2 ± 1,483 jam. Terdapat perbedaan yang tidak bermakna antara waktu kematian cacing yang ditimbulkan oleh ekstrak konsentrasi 2 mg/mL dan kelompok kontrol positif. Kesimpulan. Ekstrak etanol daun kesum dalam berbagai variasi konsentrasi uji memiliki daya antelmintik dan ekstrak dengan konsentrasi 2 mg/mL memiliki daya antelmintik yang setara dengan albendazol. Kata kunci: Antelmintik, daun kesum, Ascaridia galli
Background. Helminth infection is one of the main matters that causes health problems in developing countries. Ascaris lumbricoides is the most common species to cause helminth infection. Kesum leaves are empirically used as an anthelmintic drug, but there has been no scientific study that proves it. Method. The ethanolic extract of kesum leaves was prepared in three different concentrations i.e 0.5 mg/mL, 1 mg/mL and 2 mg/mL. NaCl 0.9% and albendazole was used as a negative and positive control group. Ascaridia galli was used as the test parasite. The study involved the determination of death time of the worms. Result. The death time of the worms that caused by the ethanolic extract of kesum leaves concentration 0.5 mg/mL, 1 mg/mL and 2 mg/mL, respectively were (mean ± SD) 35 ± 3.317 hours, 32.8 ± 2.387 hours and 25 ± 3.391 hours. The death time that caused by negative and positive control group were 76.6 ± 8.295 hours and 19.2 ± 1.483 hours. There is no significant difference of death time of the worms between the extract concentration 2 mg/mL and the positive control group. Conclusion. The anthelmintic activity of ethanolic extract of kesum leaves in various concentrations has been confirmed and extract with the concentration of 2 mg/mL has the same anthelmintic activity with albendazole.
Keywords : Anthelmintic, kesum leaves, Ascaridia galli
Jurnal Cerebellum. Volume 3. Nomor 1. Februari 2017 LATAR BELAKANG
Infeksi cacing merupakan satu di antara masalah utama yang menyebabkan gangguan kesehatan di negara berkembang. Data World
Health Organization (WHO) tahun
2012 menunjukkan bahwa sekitar dua miliar orang di dunia telah terinfeksi oleh cacing yang ditransmisikan melalui tanah.1 Spesies soil-transmitted helminthes (STH) yang lazim menginfeksi tubuh manusia adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura) dan cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale).2 Larva cacing akan berkembang dan menjadi dewasa pada saluran cerna manusia.3
Indonesia merupakan negara yang memiliki prevalensi infeksi cacing tinggi, yaitu berkisar antara 45% hingga 80%.4 Spesies parasit yang paling sering menyebabkan infeksi cacing adalah Ascaris lumbricoides.5 Manifestasi infeksi Ascaris
lumbricoides di dalam tubuh
manusia akan menyebabkan askariasis. Penderita askariasis seringkali tidak menunjukkan gejala apapun, namun infeksi yang berat
dapat menyebabkan gangguan penyerapan makanan, gangguan pertumbuhan, hingga obstruksi usus.6 Gejala lain berupa demam, sesak, batuk dan dahak berdarah dapat terjadi akibat proses alergi yang disebabkan karena migrasi cacing ke paru-paru. Gejala alergi ini disebut sebagai Loeffler syndrome atau Ascaris pneumonia.7
World Health Organization merekomendasikan albendazol dan mebendazol untuk mengobati infeksi STH.8 Meskipun efektif, obat-obatan tersebut memiliki efek samping seperti nyeri ulu hati, diare, sakit kepala, mual, lemah, pusing dan insomnia. Obat-obatan ini dikontraindikasikan bagi anak yang berusia kurang dari 2 tahun, wanita hamil dan penderita sirosis hati.9-11 Beberapa golongan obat antelmintik dinilai telah mengalami penurunan efektifitas.11 Hal ini menjadi pertimbangan terhadap penggunaan bahan-bahan dari tumbuhan yang memiliki efek antelmintik sebagai obat cacing alternatif.
Telah dilakukan penelitian terhadap beberapa tanaman yang terbukti memiliki pengaruh terhadap mortalitas cacing, diantaranya daun 732
Jurnal Cerebellum. Volume 3. Nomor 1. Februari 2017
sirih, daun palasa dan jintan hitam. 12-14
Kandungan zat pada tanaman yang memiliki daya antelmintik adalah tanin, fenol, alkaloid dan saponin.15,16
Daun kesum (Polygonum minus) adalah satu di antara tanaman endemik Kalimantan Barat yang dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan penyedap makanan dan obat cacing tradisional. Hasil uji metabolit sekunder ekstrak etanol daun kesum menunjukkan adanya kandungan alkaloid, flavonoid, fenol, triterpenoid, tanin serta saponin.17 Beberapa zat yang terkandung di dalam ekstrak etanol daun kesum diperkirakan memiliki daya antelmintik, namun hingga saat ini masih belum ada penelitian yang secara ilmiah membuktikan hal tersebut.
Uji daya antelmintik pada tanaman dapat dilakukan dengan menggunakan Ascaridia galli sebagai hewan uji.18 Ascaridia galli merupakan nematoda intestinal terbesar yang hidup di lumen usus ayam.19 Penggunaan Ascaridia galli sebagai hewan uji pada percobaan antelmintik didasari karena cacing ini memiliki kemiripan dengan
nematoda usus manusia, yaitu Ascaris lumbricoides baik dari segi anatomi, morfologi, dan fisiologi. Selain itu, Ascaridia galli lebih mudah didapatkan dalam keadaan hidup daripada Ascaris lumbricoides.20
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, penulis tertarik untuk mengetahui daya antelmintik daun kesum (Polygonum minus) terhadap Ascaridia galli secara in vitro.
METODE
Rancangan Penelitian
Penelitian ini bersifat eksperimental murni dengan menggunakan hewan uji cacing gelang ayam (Ascaridia galli). Desain eksperimental yang dipilih adalah post test only control group design.
Alat Penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cawan petri diameter 15 cm, batang pengaduk kaca, pinset anatomis, gelas ukur, labu takar, toples, inkubator, penggaris, tabung reaksi, vacuum rotary evaporator, gelas beker, oven,
Jurnal Cerebellum. Volume 3. Nomor 1. Februari 2017
timbangan, desikator, botol kaca gelap, neraca analitik, pipet tetes, wadah plastik, gelas ukur, cawan penguap, labu Erlenmeyer, krus porselin bertutup, kertas label dan kertas saring.
Bahan Penelitian
Bahan penelitian yang digunakan adalah simplisia daun kesum, etanol, NaCl 0,9%, cacing Ascaridia galli, albendazol, akuades, kloroform, gelatin, HCl pekat, pereaksi Mayer, serbuk Mg, FeCl3 2% dan H2SO4.
Pengambilan Sampel
Tumbuhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tumbuhan kesum. Tumbuhan kesum diambil dari Jalan Sungai Raya Dalam, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat.
Pengolahan Sampel
Daun kesum dikumpulkan dan ditimbang sebanyak 1,4 kg sebagai berat basah, disortasi basah dan dicuci dengan air mengalir. Kemudian sampel ditiriskan dan dikeringkan dengan cara kering angin pada suhu ruang dan tidak terkena matahari secara langsung.
Setelah itu, sampel disortasi kering dan ditimbang berat keringnya.
Ekstraksi Daun Kesum
Pembuatan ekstrak etanol daun kesum dilakukan secara maserasi. Simplisia daun kesum yang telah dihaluskan dimasukkan ke dalam bejana kaca gelap. Simplisia daun kesum direndam dengan pelarut etanol teknis. Proses maserasi dilakukan dengan terhindar dari cahaya dan beberapa kali pengadukan dalam satu hari. Dilakukan beberapa kali penggantian pelarut, yaitu pada waktu 1x24 jam, 2x24 jam dan 3x24 jam. Maserat kemudian disaring menggunakan kertas saring dan ditampung dalam botol kaca. Hasil maserasi dikumpulkan kemudian diuapkan menggunakan vacuum rotary evaporator pada suhu 60oC dengan kecepatan 122 rpm. Lalu dilanjutkan dengan menggunaan penangas air pada suhu 50oC hingga diperoleh ekstrak kental etanol daun kesum. Filtrat dituang dalam cawan penguap, kemudian diuapkan lebih lanjut pada hot plate. Sisa pelarut dihilangkan dengan cara meletakkan sisa residu di desikator berisi silika/pengering selama 24 jam.21
Jurnal Cerebellum. Volume 3. Nomor 1. Februari 2017 Uji Metabolit Sekunder
Pemeriksaan Alkaloid
Sebanyak 1 mL larutan ekstrak tumbuhan dimasukkan ke dalam tabung reaksi lalu ditambahakan 5 tetes kloroform dan beberapa tetes pereaksi Mayer. Terbentuknya endapan putih mengindikasikan adanya alkaloid.22
Pemeriksaan Fenol
Sebanyak 1 mL larutan ekstrak tumbuhan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan beberapa tetes air panas dan beberapa tetes larutan FeCl3. Perubahan warna larutan menjadi warna biru kehijauan atau biru kehitaman menunjukkan adanya senyawa fenol.16
Pemeriksaan Flavonoid
Sebanyak 1 mL larutan ekstrak dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan dengan serbuk magnesium sebanyak 0,1 gram dan larutan asam klorida pekat. Perubahan warna larutan menjadi warna kuning menandakan adanya flavonoid.22
Pemeriksaan Saponin
Pemeriksaan saponin dilakukan dengan uji Forth. Sebanyak 2 mL larutan ekstrak ditambah dengan 10 mL air yang kemudian dikocok
selama 10 menit. Busa yang terbentuk setelah pengocokan mengindikasikan adanya kandungan saponin yang harus dikonfirmasi dengan inkubasi selama 10 menit untuk mengecek stabilitas busa. Masih adanya busa yang stabil setinggi 1-3 cm paska penambahan asam klorida menandakan positif mengandung saponin.22
Pemeriksaan Tanin
Larutan ekstrak tumbuhan ditambahkan larutan gelatin 1%. Terbentuknya presipitat putih menandakan adanya kandungan tanin.16
Pemeriksaan Steroid dan
Triterpenoid
Larutan ekstrak tumbuhan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 2 mL kloroform dan 2 mL H2SO4 pekat. Terbentuknya warna merah pada lapisan bawah kloroform menandakan adanya steroid, sedangkan warna keabu-abuan menandakan adanya triterpenoid.23
Penetapan Konsentrasi Ekstrak Penetapan konsentrasi ekstrak mengacu pada uji pendahuluan yang telah dilakukan sebelumnya.
Jurnal Cerebellum. Volume 3. Nomor 1. Februari 2017
Konsentrasi ekstrak yang akan digunakan pada uji daya antelmintik adalah dengan rumus n, 2n dan 4n, yang mana variabel n adalah konsentrasi minimum ekstrak pada uji pendahuluan yang telah menunjukkan aktivitas antelmintik terhadap Ascaridia galli. Pada uji pendahuluan didapatkan bahwa ekstrak dengan konsentrasi 0,5 mg/mL telah memiliki daya antelmintik, sehingga pada uji antelmintik digunakan konsentrasi uji sebesar 0,5 mg/mL, 1 mg/mL dan 2 mg/mL.
Penyiapan Hewan Uji
Cacing Ascaridia galli dikumpulkan dari lumen usus ayam kampung di tempat pemotongan ayam. Cacing dimasukkan dalam sebuah termos yang berisi larutan NaCl fisiologis. Cacing yang diperoleh dicuci dan dibilas berulang-ulang hingga bersih dengan larutan NaCl fisiologis.
Uji Daya Antelmintik
Uji daya antelmintik dilakukan untuk mengetahui kemampuan ekstrak etanol daun kesum dalam membunuh cacing dan
membandingkannya dengan kelompok kontrol positif albendazol. a. Lima buah cawan petri disiapkan,
masing-masing diisi dengan 50 mL larutan NaCl 0,9%, larutan albendazol 1 mg/mL, serta larutan ekstrak etanol daun kesum dengan konsentrasi 0,5 mg/mL, 1 mg/mL dan 2 mg/mL. Inkubasi pada suhu 37 oC.
b. Satu ekor cacing Ascaridia galli dimasukkan ke dalam masing-masing cawan petri kemudian inkubasi pada suhu 37oC.
c. Pengamatan pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dilakukan tiap 1 jam dan dihentikan hingga cacing mengalami kematian.
d. Replikasi dilakukan sebanyak 5 kali.
e. Hasil yang diperoleh dicatat dan dilakukan analisis data.
HASIL
Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Kesum
Metode ekstraksi yang digunakan pada penelitian ini adalah maserasi menggunakan pelarut etanol teknis.
Jurnal Cerebellum. Volume 3. Nomor 1. Februari 2017 Uji Metabolit Sekunder
Hasil uji metabolit sekunder yang positif adalah alkaloid, fenol, flavonoid, saponin dan tanin.
Uji Daya Antelmintik
Pengamatan mortalitas cacing dilakukan setiap jam sampai seluruh cacing mengalami kematian. Kematian cacing ditandai dengan tidak bergeraknya cacing setelah diusik menggunakan pinset anatomis. Hasil pengamatan mortalitas cacing pada penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi ekstrak daun kesum berbanding terbalik dengan waktu kematian cacing yang terjadi. Hasil uji statistik One Way ANOVA didapatkan nilai p<0,05, yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna pada hasil pengamatan. Untuk mengetahui kelompok mana yang memiliki nilai perbedaan bermakna, maka dilanjutkan uji Post-Hoc LSD dengan interval kepercayaan 95%. Perbedaan bermakna terlihat antara kelompok kontrol negatif dengan kontrol positif, ekstrak konsentrasi 0,5 mg/mL, 1 mg/mL dan 2 mg/mL. Hal ini menunjukkan
bahwa seluruh kelompok perlakuan yang diuji dan kontrol positif memiliki daya antelmintik. Pada hasil uji didapatkan bahwa perlakuan menggunakan ekstrak konsentrasi 0,5 mg/mL dan 1 mg/mL berbeda bermakna (p<0,05) dengan kontrol positif, sedangkan perlakuan menggunakan ekstrak konsentrasi 2 mg/mL sebagai kelompok perlakuan dengan konsentrasi tertinggi memiliki perbedaan tidak bermakna (p>0,05) dengan kontrol positif. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun kesum konsentrasi 0,5 mg/mL dan 1 mg/mL memiliki daya antelmintik yang tidak lebih baik daripada albendazol, sedangkan ekstrak etanol daun kesum konsentrasi 2 mg/mL memiliki daya antelmintik yang setara dengan albendazol.
Ekstrak konsentrasi 0,5 mg/mL berbeda tidak bermakna terhadap ekstrak konsentrasi 1 mg/mL. Sedangkan ekstrak konsentrasi 2 mg/mL berbeda bermakna terhadap ekstrak konsentrasi 0,5 mg/mL dan 1 mg/mL. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak konsentrasi 0,5 mg/mL dan 1 mg/mL memiliki daya antelmintik yang sama, namun keduanya tidak
Jurnal Cerebellum. Volume 3. Nomor 1. Februari 2017
lebih baik dari ekstrak konsentrasi 2 mg/mL.
Korelasi antara dua variabel yang terdapat dalam penelitian ini diketahui dengan uji Spearman. Hasil uji Spearman menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0,799. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak etanol daun kesum dan waktu kematian cacing memiliki korelasi yang kuat. Nilai signifikansi yang didapat dari uji Spearman adalah sebesar 0,000, menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak etanol daun kesum dan waktu kematian cacing memiliki korelasi yang signifikan. Arah korelasi yang didapat pada koefisien korelasi membuktikan bahwa hubungan yang terjadi antara dua variabel dalam penelitian ini bersifat berlawanan arah. Hal ini berarti semakin tinggi konsentrasi ekstrak etanol daun kesum, maka semakin mempercepat waktu kematian cacing yang terjadi.
PEMBAHASAN
Kematian cacing akibat paparan ekstrak etanol daun kesum disebabkan oleh bahan aktif yang bersifat toksik bagi cacing. Hasil uji metabolit sekunder menunjukkan
bahwa ekstrak etanol daun kesum mengandung alkaloid, fenol, saponin dan tanin. Semua bahan aktif tersebut diperkirakan memiliki peran dalam menyebabkan kematian cacing. Aksi metabolit tanaman sebagai antelmintik dapat berupa aksi aditif, sinergis, atau antagonis. Metabolit-metabolit tersebut dapat bertindak di satu atau beberapa lokasi target pada cacing. Tiap metabolit sekunder memiliki mekanisme kerja yang spesifik dengan penjelasan sebagai berikut. a. Tanin
Tanin merupakan senyawa aktif yang memiliki kemampuan mengendapkan protein dengan membentuk kompleks yang kuat.24 Aktivitas antelmintik pada tanin terjadi karena tanin akan mendenaturasi protein pada tubuh cacing dan memutuskan ikatan fosfolirasi oksidatif sehingga menyebabkan gangguan metabolisme dan homeostasis.25 Tanin dapat mengikat protein bebas pada saluran pencernaan cacing atau glikoprotein pada kutikula cacing sehingga mengganggu fungsi fisiologis 738
Jurnal Cerebellum. Volume 3. Nomor 1. Februari 2017
seperti motilitas, penyerapan nutrisi dan reproduksi.26,27
b. Fenol
Mekanisme fenol dalam membunuh cacing adalah dengan cara mengganggu proses penghasilan energi cacing. Fenol akan menyebabkan terjadinya gangguan pada glikoprotein di permukaan sel dengan cara memutuskan ikatan fosforilasi oksidatif.25
c. Alkaloid
Alkaloid akan bekerja pada sistem saraf pusat, mengganggu homeostasis lokal dengan cara mengurangi nitrat yang diperlukan dalam sintesis protein dan menekan penyaluran sukrosa ke usus halus.25
d. Saponin
Saponin memiliki efek dengan cara menurunkan tegangan permukaan dari larutan28 sehingga kontak yang terjadi antara ekstrak dengan kulit cacing menjadi lebih cepat dan efektif. Saponin juga dapat menyebabkan iritasi pada membran mukosa cacing28 serta akan memicu vakuolisasi dan disintegrasi pada tegumen
cacing.25 Senyawa aktif saponin dapat menghambat kerja enzim kolinesterase sehingga cacing akan mengalami paralisis spastik otot yang akhirnya dapat menimbulkan kematian.25
KESIMPULAN
1. Kandungan metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak etanol daun kesum adalah tanin, alkaloid, saponin, fenol dan flavonoid.
2. Ekstrak etanol daun kesum memiliki daya antelmintik terhadap cacing Ascaridia galli. 3. Konsentrasi efektif ekstrak etanol
daun kesum sebagai antelmintik adalah 2 mg/mL.
DAFTAR PUSTAKA
1. World Health Organization. Soil-transmitted Helminthiases: Eliminating Soil-transmitted Helminthiases as a Public Health Problem in Children: Progress Report 2001-2010 and Strategic Plan 2011-2020. France: WHO Press; 2012.
2. Chiodini PL, Moody AH, Manser DW. Atlas of Medical Helminthology and Protozoology. London: Churcill Livingstone; 2001.
3. Jong EC, Sanford C. The Travel and Tropical Medicine Manual. 4th ed. Philadelphia: Saunders/Elsevier; 2008. 4. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia
Jurnal Cerebellum. Volume 3. Nomor 1. Februari 2017
2008. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2009.
5. De Silva, NR, Brooker S, Hotez PJ, Montresor A, Engels D, Savioli L. Soil-transmitted Helminth Infections: Updating the Global Picture. Trends Parasitol. 2003;19:547–551.
6. Hall A, Hewitt G, Tuffrey V, de Silva N. A Review and Meta-analysis of The Impact of Intestinal Worms on Child Growth and Nutrition. Matern. Child. Nutr. 2008;4:118–236.
7. Soedarto. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Jakarta: CV. Sagung Seto; 2011.
8. World Health Organization. Weekly Epidemiological Record. [Internet]. 2014; 89(13):133-140. Tersedia dari http://www.who.int/wer (Diakses pada 9 Oktober 2015).
9. Katzung BG. Basic & Clinical Pharmacology. 11th ed. New York: McGraw-Hill Medical; 2009.
10. Goodman LS, Brunton LL, Chabner B, Knollmann BC. Goodman & Gilman’s Pharmacological Basis of Therapeutics. 12th ed. New York: McGraw-Hill; 2011.
11. Magill AJ. Hunter’s Tropical Medicine and Emerging Infectious Diseases. 9th ed. London: Elsevier; 2013.
12. Akter KN, Karmakar P, Das A, Anonna SN, Shoma SA., Sattar MM. Evaluation of Antibacterial and Anthelmintic Activities with Total Phenolic Contents of Piper betel Leaves. Avicenna J Phytomed. 2014;4(5):320–329.
13. Borkar VS, Gangurde HH, Gulecha VS, Bhoyar PK, Mundada AS. Evaluation of In Vitro Antihelmintic Activity of Leaves of Butea monosperma. Int. J. Phytomedicine. 2010;2:31–35.
14. Simalango DM, Utami NV. In-Vitro Antihelminthic Effect of Ethanol Extract of Black Seeds (Nigella sativa) Against Ascaris suum. Procedia Chem. 2014;13: 181–185.
15. Ali N, Shah S, Shah I, Ahmed G, Ghias M, Khan I. Cytotoxic and Anthelmintic Potential of Crude Saponins Isolated from Achillea Wilhelmsii C. Koch and
Teucrium Stocksianum boiss. BMC
Complement. Altern. Med.
2011;11(1):106.
16. Tiwari P, Kumar B, Kaur M, Kaur G, Kaur H. Phytochemical Screening and Extraction: A Review. Int. Pharm. Sci. 2011;1(1):98-106.
17. Imelda F, Faridah DN, Kusumaningrum HD. Bacterial Inhibition and Cell Leakage by Extract of Polygonum minus Huds. Leaves. Int. Food Res. J. 2014;21: 553–560.
18. Zak O, Sande MA. Handbook of Animal Models of Infection: Experimental Models in Antimicrobial Chemotherapy. San Diego: Academic Press; 1999.
19. Food and Agriculture Organization of the United Nations. FAO Animal Health Manual: Epidemiology, Diagnosis and Control of Poultry Parasites. Rome: FAO; 1998.
20. Kaushik RK, Katiyar JC, Sen AB. Studies on the Mode of Action of Anthelmintics with Ascaridia galli as a Test Parasite. Indian J Med Res. 1974;64:1367-1375.
21. Harborne J. Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. Bandung: Penerbit Institut Teknologi Bandung; 2006.
22. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Farmakope Indonesia. Edisi 3. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 1979.
23. Yadav R, Agarwala M. Phytochemical Analysis of Some Medicinal Plants. J. Phytol. 2011;3:10–14.
24. Makkar HPS. Antinutritional factor in food for livestock in animal producting in developing country. British Society of Animal Production. 1993;16:69-85. 25. Jain P, Singh S. Anthelmintic Pontential
of Herbal Drugs. Internatiol J. Res. Dev. Pharm. Life Sci. 2013;2:412–427. 26. Hoste H, Jackson F, Athanasiadou S,
Thomsburg SM, Hoskin SO. The Effects of Tannin-rich Plants on Parasitic Nematodes in Ruminants. Trends in Parasitology. 2006;22:253-261.
27. Githiori JB, Athanasiadou S, Thamsborg SM. Use of Plants in Novel
Approaches for Control of
Gastrointestinal Helminths in Livestock with Emphasis on Small Ruminants. Veterinary Parasitology. 2006;139:308-320.
28. Tyler VE. Pharmacognocy.
Philadelphia: Lea and Febiger; 1976.