PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMA ISLAM AL-FALAH ACEH BESAR
SKRIPSI
Diajukan Oleh: MUHD MURSALIM
NIM. 150201092
Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) AR-RANIRY
DARUSSALAM – BANDA ACEH 2019 M/1441 H
xiii
Nama : Muhd Mursalim
NIM : 150201092
Fakultas/Prodi : Tarbiyah dan Keguruan/Pendidikan Agama Islam
Judul : Penerapan Reward dan Punishment dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Islam Al-Falah
Tanggal Sidang : 6 Januari 2019 Tebal Skripsi : 84 halaman
Pembimbing I : Dr. Sri Suyanta, M.Ag Pembimbing II : Ainal Mardhiah, S.Ag, M.Ag
Kata Kunci : Penerapan Reward dan Punishment dalam Pembelajaran PAI
Penerapan reward dan punishment berperanan penting dalam proses pendidikan dan pembelajaran. Salah satu unsur penting dalam penerapan reward dan punishment adalah guru. Karena guru sebagai komponen penting dalam pendidikan, harus memperhatikan cara dalam mendidik supaya mendapat hasil sesuai dengan yang diharapkan. Dengan adanya penerapan reward peserta didik akan lebih termotivasi dalam belajar sedangkan pemberian punishment dapat memberikan batasan atau ruang gerak bagi murid supaya tidak melakukan pelanggaran atau kesalahan sesuai aturan yang berlaku. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengadakan suatu penelitian dengan judul “Penerapan Reward dan Punishment dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Study pada SMA Islam Al-Falah Lamjampok Aceh Besar)”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk reward dan punishment dalam pembelajaran PAI, untuk mengetahui pelaksanaan reward dan punishment dalam pembelajaran PAI dan untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi guru dalam memberikan reward dan punishment dalam pembelajaran PAI di SMA Islam Al-Falah. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (Field Research) yang menggunakan metode kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik wawancara (interview), dan obsevasi Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk reward yang diberikan adalah dalam bentuk pujian, sanjungan, penghargaan, nilai tambahan, kata-kata motivasi, barang dan kupon belanja sedangkan punishment berupa nasehat, berdiri, tidak diperbolehkan masuk kelas beberapa menit, dijemur di lapangan, dan dipanggil orang tua bagi murid yang melakukan kesalahan berlarut-larut. Pelaksanaan reward selalu diberikan dalam proses pembelajaran kecuali dalam bentuk uang atau barang akan diberikan pada akhir semester,
xiv
bertahap dari yang paling ringan hingga yang paling berat. selanjutkan tenaga pendidik juga mengalami kendala-kendala baik dalam memberikan reward dan punishment, kendala reward ialah terjadinya kecemburuan sosial dan guru tidak mungkin bisa selalu memberikan reward dalam bentuk uang atau barang karena memerlukan biaya kecuali dalam bentuk pujian, sanjungan itu yang tidak ada kendala, sedangkan kendala guru dalam meberikan punishment di antaranya tidak boleh hukuman dalam bentuk pemukulan karena akan bermasalah dengan HAM, tidak ada kerja sama antara guru dengan wali murid karena murid yang bersekolah di SMA Islam Al-Falah berasal dari berbagi daerah bahkan ada yang di jakarta ketika ada murid yang bermasalah susah bermusyawarah terkait kasus yang dilakukan murid kecuali murid yang tinggal di kawasan dekat dengan sekolah.
v
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah, segala puji dan bersyukur penulis ucapan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul:
“Penerapan Reward dan Punishment dalam Pembelajaran PAI di SMA Islam Al-Falah”. Shalawat beriring salam penulis sanjung sajikan kepangkuan Baginda Rasulullah SAW beserta keluarga dan para sahabat beliau yang telah membawa umatnya dari alam kebodohan kepada alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Pendidikan Agama Islam pada Fakultas Tarbiyah dan keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Selama pelaksanaan penelitian dan penyelesaian penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan, arahan, motivasi dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Kedua orang tua tercinta, Ayahanda Lukman dan Ibunda Nurlaila atas segala kasih sayang, motivasi, dukungan dan bimbingannya, kemudian kepada abang-abang saya Bustanul Aulia, Jufri, Azhari, dan kepada kakak saya Wahyuna serta adik saya Maulidhan dan kepada seluruh keluarga besar penulis.
2. Bapak Dr. Sri Suyanta, M.Ag. Selaku pembimbing pertama dan ibu Ainal Mardhiah, S.Ag., M.Ag. Selaku pembimbing kedua yang telah memberikan bimbingan, saran, arahan, dan motivasi kepada penulis dari awal hingga selesainya skripsi ini.
vi
3. Bapak Dr. Husnizar S.Ag, M.Ag. Selaku ketua prodi Pendidikan Agama Islam UIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh, atas segala bantuan dalam bidang akademik, demi terselesaikannya skripsi ini.
4. Bapak Dr. Muslim Razali, S.H., M.Ag. Selaku dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh, terima kasih atas semua dukungannya.
5. Kepada Bapak Rektor UIN Ar-Raniry, dekan, pembantu dekan, ketua jurusan dan seluruh staf pengajar, karyawan/ karyawati, pegawai di lingkungan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry yang telah memberikan bantuan kepada penulis dalam menyelesaikan studi ini.
6. Kepada Bapak/ Ibu kepala pustaka beserta stafnya di lingkungan UIN Ar-Raniry, pustaka wilayah Banda Aceh dan perpustakaan lainnya yang telah berpartisipasi dalam memberikan fasilitas peminjaman buku kepada penulis.
7. Kepada Kepala Sekolah SMA Islam Al-Falah, beserta para pengajar dan staf, serta masyarakat yang telah bersedia memberikan keterangan, informasi dan data-data untuk keperluan penulisan skripsi ini.
8. Kepada sahabat-sahabat seperjuangan dan teman-teman dari prodi Pendidikan Agama Islam Angkatan 2015, khususnya unit 04 tercinta, sahabat perindu surga, sahabat NSP pengabdian, Revivor Generation, sahabat ppkpm, serta ust2zah Pesantren Modern Al-Falah Abu Lam-U, yang telah memberikan semangat serta motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan karya ilmiah ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan, bukan tidak mustahil dapat ditemukan kekurangan dan
vii
kekhilafan, namun penulis sudah berusaha dengan segala kemampuan yang ada. Atas segala bantuan dan perhatian dari semua pihak, semoga skripsi ini bermanfaat dan mendapat pahala dari Allah SWT. Aamiin Ya Rabbal’Alamin.
Banda Aceh, 30 November 2019 Penulis,
x
Tabel:
Halaman
4.1. Nama-nama Guru SMA Islam Al-Falah dan
Bidang studynya……… ... 57 4.2. Tentang jumlah guru bidang study Agama Islam …… ... 59 4.3. Keadaan Siswa SMA Islam Al-Falah ……… ... 60 4.4. Fasilitas-fasilitas Sarana Prasarana yang tersedia
viii Halaman LEMBAR JUDUL PENGESAHAN PEMBIMBING PENGESAHAN SIDANG HALAMAN PERSEMBAHAN KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
SURAT PERNYATAAN ... xii
ABSTRAK ... xiii
BAB I: PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6 C. Tujuan Penelitian ... 6 D. Manfaat Penelitian ... 6 E. Definisi Operasional... 7 F. Hipotesis ... 12 G. Kajian Kepustakaan ... 12 H. Sistematika Pembahasan ... 14
BAB II: LANDASAN TEORETIS A. Reward dan Punishment ... 16
1. Pengertian Reward dan Punishment ... 16
2. Tujuan Reward dan Punishment ... 19
3. Bentuk dan Prosedur Penerapan Reward dan Punishment ... 23
4. Faktor yang mempengaruhi pemberian Reward dan punishment ... 29
5. Strategi penerapan Reward dan Punishment ... 30
B. Pembelajaran PAI di Sekolah ... 34
C. Praktik Reward dan Punishment di Lembaga Pendidikan 45 BAB III: METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 49
B. Kehadiran Peneliti di Lapangan ... 50
ix
D. Subjek dan Informan Penelitian ... 51
E. Teknik Pengumpulan Data ... 52
F. Prosedur Pengumpulan Data ... 53
G. Analisis Data ... 55
H. Pengecekan Keabsahan Data ... 56
I. Tahap-tahap Penelitian ... 57
BAB IV: PAPARAN DATA HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian... 59
B. Bentuk Reward dan Punishment dalam Pembelajaran PAI di SMA Islam Al-Falah ... 66
C. Pelaksanaan Reward dan Punishment dalam Pembelajaran PAI di SMA Islam Al-Falah... 71
D. Kendala-kendala yang dihadapi Guru PAI dalam Pelaksanaan Reward dan Punishment dalam Pembelajaran PAI di SMA Islam Al-Falah ... 76 BAB V: PENUTUP A. Kesimpulan ... 80 B. Saran-saran ... 82 DAFTAR KEPUSTAKAAN ... 84 DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembelajaran merupakan usaha agar dengan kemauannya sendiri seseorang dapat belajar, dan menjadikannya sebagai salah satu kebutuhan hidup yang tidak dapat ditinggalkan. Dengan pembelajaran akan tercipta keadaan masyarakat belajar (learning society).1
Pendidikan merupakan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan.2 Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spriritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan Negara.3
Pendidikan bagi kehidupan manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan, mustahil suatu kelompok manusia dapat hidup berkembang sejalan dengan aspirasi (cita-cita) untuk maju, sejahtera dan bahagia menurut konsep pandangan hidup mereka.
____________
1 Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran, (Jakarta: kencana, 2011), hal. 205.
2
Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Grafindo Persada, 2005), hal.1.
3 Abdul Rachman Shaleh, Pendidikan Agama Islam dan Pembangunan watak
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam (PAI) sangat penting. Karena dengan adanya Pendidikan Agama Islam (PAI), orang tua serta guru berusaha secara sadar dan baik untuk mendidik dan mengarahkan anak kepada hal-hal yang baik untuk perkembangan jasmani dan rohani anak yang sesuai syari’at Islam sehingga Pendidikan Agama Islam (PAI) akan tercapai sesuai yang diinginkan.
Di dalam Garis-Garis Besar Program Pengajaran Pendidikan Agama Islam (GBPP PAI) di sekolah, Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan usaha sadar untuk mempersiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat dalam mewujudkan persatuan nasional.4
Di lembaga pendidikan atau sekolah, Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan salah satu usaha untuk mewujudkan kesadaran peserta didik akan arti pentingnya pengamalan ajaran Islam, hal ini sesuai dengan pernyataan dalam buku Petunjuk Pelaksanaan SMU, bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam (PAI) khususnya di sekolah umum adalah: “meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”.5
____________
4
Muhaimi, Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hal. 75-76.
5 Departemen Agama RI, Petunjuk Pelaksanaan Kurikulum/ GBPP Pendidikan
3 Untuk tercapainya tujuan dari Pendidikan Agama Islam tersebut, maka perlu adanya peningkatan kualitas dalam proses pendidikan secara baik. Hal ini sangat tergantung pada kemampuan yang dimiliki oleh seorang guru dalam menguasai materi yang akan diajarkan dan ketrampilan serta cara-cara tertentu dalam menyampaikan materi kepada siswa.
Guru merupakan unsur manusiawi yang mampu mendidik peserta didiknya dengan menempuh berbagai macam cara dan metode-metode yang digunakan untuk dapat menjembatani peserta didik agar beriman, bertakwa, dan bertingkah laku mulia. Hal ini merupakan bentuk usaha guru sebagai tanggung jawab yang diamanatkan oleh Allah SWT. Adapun berhasil atau tidaknya peserta didik untuk meraih tujuannya, sehingga hidupnya senantiasa beribadah kepada Allah SWT. Dalam hal ini Allah SWT. berfirman dalam Surat Al-Kahfi ayat 17 yaitu:
م
ِدهَي ن
هَّللٱ
هَل َدِجَت نَلَ ف لِلض ي نَمَو ِدَته ملٱ َو هَ ف
ۥ
اد ِشرُّم اّيِلَو
:
٧١
Artinya: “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpinpun yang akan dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al-Kahfi: 17). Setiap guru memiliki tanggung jawab untuk membimbing anak didiknya pada tingkat kedewasaan atau taraf kematangan tertentu. Untuk mencapai hal tersebut guru harus memiliki salah satu metode yang menarik di dalam pembelajaran untuk menciptakan susasana yang menyenangkan, Guru dapat menggunakan metode reward dan punishment atau lebih dikenal dengan pemberian hadiah dan hukuman.
Dalam proses pembelajaran yang menggunakan metode reward dan punishment (hadiah dan hukuman) diharapkan dapat menumbuhkan semangat belajar siswa. Selain itu, melalui metode ini guru diharapkan
mampu menggunakan berbagai fasilitas, baik itu alat-alat mengajar maupun metode dalam proses pembelajaran untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan memberikan semangat belajar bagi peserta didik dalam mengembangkan aktivitas dan mengarahkan serta memelihara ketentuan dalam melakukan kegiatan belajar mengajar.
Kesesuaian penerapan metode reward dan punishment yang baik akan dapat memberikan dampak yang baik terhadap perkembangan siswa, yang akhirnya akan meningkatkan prestasi belajar peserta didik sehari-hari. Namun sebaliknya, jika penerapan metode reward dan punishment yang tidak sesuai Dan berlebihan akan memberikan dampak negatif terhadap semangat belajar peserta didik, misalnya siswa akan takut, malas dan tidak semangat dalam belajar. Oleh karena itu, penerapan metode pemberian hadiah dan hukuman harus diperhatikan aspek perkembangan anak. Para pendidik dalam mengajar dan membimbing peserta didiknya di kelas tidak selalu mendapatkan peserta didik yang bertingkah laku baik sesuai dengan yang diharapkan. Untuk itu, apabila penerapan metode pemberian hadiah dan hukuman sesuai dengan peraturan yang berlaku maka hasilnya ke depan akan lebih baik.
Idealitas penerapan metode reward dan punishment dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) harus sejalan dengan peraturan dalam pendidikan. Guru harus memperhatikan reward dan punishment yang diberikan kepada peserta didik yang sesuai dengan norma-norma dalam pendidikan. Agar pembelajaran tercapai dengan baik, maka penerapan reward dan punishment harus dijalankan sesuai dengan teori yang dikembangkan dalam pendidikan sehingga dapat memberikan motivasi kepada peserta didik dan menjaga kedisiplinan dalam pendidikan. Realita sekarang ini, pemberian reward dan punishment kurang mendapat perhatian dari guru. Khususnya guru PAI, mayoritas dari
5 mereka mengejar target pengetahuan atau ilmu yang harus dikuasai oleh peserta didik. Padahal sebagian besar peserta didik belum tentu mampu menguasai pembelajaran, misalnya karena keterbelakangan kemampuan (IQ). Dalam hal ini reward dan punishment sangat dibutuhkan dalam proses belajar mengajar untuk menumbuhkan semangat belajar siswa khususnya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).6
Berdasarkan uraian di atas, penulis merasa tertarik untuk mengadakan suatu studi penelitian pada sekolah SMA Islam Al-Falah yang kemudian penulis rangkum dalam sebuah judul: “Penerapan Reward dan Punishment dalam Pembelajaran PAI di SMA Islam Al-Falah.”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar Belakang di atas, rumusan masalah yang dapat diambil adalah:
1. Bagaimana bentuk reward dan punishment dalam pembelajaran PAI di SMA Islam Al-Falah?
2. Bagaimana pelaksanaan reward dan punishment dalam pembelajaran PAI di SMA Islam Al-Falah?
3. Apa kendala yang dihadapi guru dalam memberikan reward dan punishment dalam pembelajaran PAI di SMA Islam Al-Falah?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui bentuk reward dan punishment dalam pembelajaran PAI di SMA Islam Al-Falah.
____________
2. Untuk menjelaskan pelaksanaan reward dan punishment dalam pembelajaran PAI di SMA Islam Al-Falah.
3. Untuk menjelaskan kendala-kendala yang dihadapi guru dalam memberikan reward dan runishment dalam pembelajaran PAI di SMA Islam Al-Falah.
D. Manfaat Penelitian
Adapun penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang terkait dengan penelitian ini, antara lain adalah:
a. Manfaat Teoritis
1. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan acuan dan penelitian pendahuan untuk penelitian selanjutnya dan dapat juga bermanfaat sebagai sumber penjelasan dalam menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan penelitian ini.
2. Menambah khazanah keilmuan yang bernilai ilmiah bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
b. Manfaat Praktis
1. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi masukan dan bahan referensi terhadap SMA Islam Al-Falah dalam hal penerapan reward dan punishment dalam pembelajaran PAI, Khususnya yang terlibat langsung dalam proses pengajaran Pendidikan Agama Islam sehingga apa yang mereka laksanakan dapat memperoleh hasil yang lebih optimal.
2. Diharapkan dengan penelitian ini, dapat diketahui sejauh mana penerapan reward dan punishment dalam pembeajaran PAI di SMA Islam Al-Falah Aceh Besar.
7 Sebelum membahas lebih lanjut, terlebih dahulu penulis akan menjelaskan istilah-istilah yang ada dalam penelitian ini. Hal ini bertujuan untuk menghindari kesalah pahaman dan kekeliruan dalam memahaminya. Adapun istilah-istilah yang akan penulis jelaskan sebagai berikut:
1. Penerapan
Penerapan dalam kamus indonesia memiliki makna pemasangan, pengenalan, atau perihal mempraktekkan sesuatu hal dengan aturannya.7 Kata penerapan sama halnya dengan pengertian pengertian pelaksanaan yaitu perbuatan atau usaha yang dilakukan untuk mencapai rencana teori tertentu. Penerapan yang penulis maksud dalam penelitian ini adalah penerapan metode reward dan punishment dalam pembelajaran PAI di SMA Islam Al-Falah.
2. Reward dan Punishment
Reward berasal dari bahasa Inggris yang berarti ganjaran/ penghargaan. Secara istilah reward adalah suatu cara yang dilakukan seseorang untuk memberikan ganjaran baik berupa pujian, nilai penghargaan dari perbuatan baiknya atau prestasi yang ia peroleh.8 Reward yang penulis maksud dalam penelitian ini adalah ganjaran yang diterima oleh peserta didik dari hasil pekerjaannya yang dianggap baik serta memuaskan, dan ganjaran yang diberikan berupa pujian, nilai, hadiah, dan pengakuan.
Sedangkan punishment berasal dari bahasa Inggris yang berarti hukuman. Menurut istilah punishment adalah hukuman atau peraturan yang sifatnya memaksa dan barang siapa yang melanggarnya akan
____________
7 W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2006), hal. 1258.
dikenakan hukum atau sanksi.9 Adapun punishment yang penulis maksud dalam penelitian ini adalah ganjaran yang diberikan guru terhadap peserta didik yang melanggar peraturan dengan tujuan untuk memperbaiki perilaku buruk yang dilakukan oleh peserta didik.
3. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pembelajaran adalah upaya-upaya menciptakan kondisi tertentu agar peserta didik dapat belajar.10 Menurut etimologi, pembelajaran berasal dari kata “mengajar” atau ajar yang berarti perihal yang kegiatan sentralnya terdapat pada guru yang merupakan penyampaian materi di hadapan murid.11 Sedangkan Oemar Hamalik mendefinisikan pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, dan prosedur yang paling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.12
Menurut Djamarah, pembelajaran adalah suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Adapun pembelajaran yang penulis maksud dalam penelitian ini adalah hubungan timbal balik antara guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).
____________
9 Abdullah Mansur, Kamus Populer, (Jakarta: Grafika, 1989), hal. 34.
10 Melvin L, Silbelman, Active Learning: Strategy to Teach any Subject Rasul
Muttaqin, (Bandung: Nusa Media Nuansa, 2006), hal. 9.
11
Winarno Sarachmad, Interaksi Belajar Mengajar, (Bandung: Aneka Ilmu, 1982), hal. 19.
12 Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 1999), hal. 5.
9 Ahmad D. Marimba menjelaskan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah bimbingan jasmani berdasarkan hukum-hukum Agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. 13
Dalam buku pendidikan Islam disebutkan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan dengan memulai ajaran-ajaran agama, yaitu yang berupa bimbingan-bimbingan asuhan kepada peserta didik agar nantinya setelah menyelesaikan pendidikannya ia dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam itu sebagai pandangan hidup demi keselamatan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat.14
4. Pendidikan
Istilah pendidikan berasal dari kata “didik”. Didik berarti mendidik dan memberi latihan (ajakan pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan akal pikiran.15
Suganda Poerbakawatya menjelaskan bahwa “pendidikan” adalah suatu usaha manusia untuk membawa si anak ke tingkat kecerdasan dalam arti sadar dan memikul tanggung jawab atas segala perbuatan moral.16
5. Agama Islam
Agama menurut Mukhti Ali adalah kepercayaan akan adanya Tuhan yang Maha Esa dan diwahyukan kepada utusan-Nya untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.17 Sedangkan menurut Suganda
____________
13 Abu Ahmad, Nuuhbiati, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hal. 86. 14 Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hal. 86. 15 W.J.S. Poerwadarminta, KamusUmum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1998), hal. 250.
16
Suganda Poerbakawatya, Ensiklopedi Pendidikan, (Jakarta: Gunung Agung, 1976), hal. 214.
17 Mukhti Ali, Etika Agama dalam Pembentukan Kepribadian Nasional, (Jakarta: Yayasan Nida, 1969), hal. 9.
Poerbakawatya mengatakan bahwa agama adalah suatu kepercayaan yang dianut oleh manusia dalam usianya mencari hakikat dari hidupnya yang mengajarkan kepadanya tentang hubungannya dengan Tuhan, hakikat dan maksud dari segala sesuatu yang ada.18 Dalam kamus lengkap bahasa Indonesia, agama diartikan dengan prinsip kepercayaan kepada Tuhan yang di dalamnya terdapat kewajiban.19
Islam berarti taat atau patuh dan berserah diri kepada Allah.20 Kata “Islam” dalam pendidikan menunjukkan warna pendidikan, yaitu pendidikan yang berwarna Islam. Jadi yang dimaksud dengan Pendidikan Agama Islam adalah suatu sistem kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah, oleh karena Islam mempedomani seluruh aspek kehidupan manusia muslim maupun ukhrani.21
Pendidikan Agama Islam (PAI) di dalam bahasan skripsi ini adalah salah satu bidang studi atau mata pelajaran yang terprogram di kurikulum sekolah-sekolah. Kedudukan Pendidikan Agama Islam di sekolah merupakan salah satu program studi pokok yang diharapkan mampu menjadikan peserta didik untuk memiliki kepribadian yang sesuai dengan tujuan pembelajaran pengetahuan maupun nilai-nilai ajaran agama Islam bagi peserta didik.
____________
18
Suganda Poerbakawatya, Opcit., hal. 56. 19
Windy Novia, Kamus Besar Indonesia, (Surabaya: Kashika, 2005), hal. 20. 20 Samsul Rijal Hamid, Buku Pintar Agama Islam, (Bogor: Cahaya Salam, 2003), hal. 1.
11
F. Hipotesis
Hipotesis adalah altenatif dugaan jawaban sementara yang dibuat oleh peneliti bagi problematika yang diajukan dalam penelitiannya. Dugaan jawaban tersebut merupakan kebenaran yang sifatnya sementara, yang akan diuji kebenarannya dengan data yang dikumpulkan melalui penelitian, maka hipotesis dapat berubah menjadi kebenaran, akan tetapi juga dapat tumbang sebagai kebenaran.22 Artinya, hipotesis akan ditolak jika salah satu palsu, dan akan diterima jika fakta-fakta membentukannya. Adapun yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini adalah:
1. Guru PAI di SMA Islam Al-Falah sudah menerapkan metode reward dan punishment.
2. Guru PAI sudah melaksanakan penerapan reward dan punishment di dalam proses pembelajaran.
3. Selama proses pembelajaran guru PAI sudah bisa menyelesaikan kendala-kendala yang dihadapi saat memberikan reward dan punishment.
G. Kajian Kepustakaan
Setelah melakukan telaah dari beberapa karya tulis, terdapat beberapa buah karya tulisan penelitian yang mendukung, yakni:
Mohamad Muslim “Efektivitas reward dan punishment terhadap kemahiran bahasa arab siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri Babadan baru Slamet tahun pelajaran 2014/2015 ’’. Jurusan pendidikan Islam program pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tesis tersebut menjelaskan tentang efektivitas pemberian reward dan punishment terhadap kemahiran bahasa Arab siswa Madrasah Tsanawiyah. Adapun
____________
letak persamaan pelitian di atas adalah kesamaan reward dan punishment. Sedangkan letak perbedaannya adalah penulis lebih fokus pada guru dalam menerapkan reward dan punishment dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).
Munawir Khalil judul: Pengaruh Metode Reward dan Punishment terhadap Peningkatan Motivasi Belajar Siswa di Pondok Inshafuddin.’’ Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh. Skripsi tersebut menjelaskan tentang pengaruh metode reward dan punishment terhadap peningkatan motivasi belajar siswa. Adapun letak persamaan pelitian di atas adalah kesamaan tujuan menerapkan metode reward dan punishment. Sedangkan letak perbedaannya adalah penulis lebih fokus pada penerapan reward dan punishment dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).
Ashri Dwi Santosa judul: Penerapan reward dan Punishment di Pesantren Modern Al-Manar Cot Iri Aceh Besar’’. Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh. Skripsi tersebut menjelaskan tentang penerapan reward dan punishment di pesantren Al-Manar. Adapun letak persamaan penelitian di atas adalah menggunakan penerapan reward dan punishment. Sedangkan perbedaannya adalah penulis lebih fokus pada pembelajaran di ruang kelas.
Ahmad Risal Yunus “Pengaruh Metode Reward Dan Punishment Terhadap Peningkatan Motivasi Peserta Didik di MTs As’Adiyah Putra II Sengkang.’’ Jurusan keguruan UIN Alauddin Makassar. Skripsi tersebut menjelaskan tentang Pengaruh metode reward dan punishment terhadap peningkatan motivasi peserta didik di MTs As’Adiyah Putra II Sengkang. Adapun letak persamaan pelitian di atas adalah kesamaan metode reward
13 dan punishment. Sedangkan letak perbedaannya adalah penulis lebih fokus pada guru dalam menerapkan reward dan punishment dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).
H. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan di dalam penyusunan karya ilmiah ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: bagian awal, bagian inti dan bagian akhir. Dalam penulisan karya ilmiah, metode penelitian merupakan suatu cara utama untuk memberi arahan atau acuan dalam penyusunan dan penyempurnaan karya ilmiah ini. Adapun sistematika pembahasan dalam penelitian yaitu:
Bab I adalah bab pendahuluan, yang mencakup latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi operasional kajian terdahulu yang relevan dan sistematika pembahasan.
Bab II adalah bab landasan teoritis tentang penerapan reward dan punishment, pengertian reward dan punishment, macam-macam reward dan punishment dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), pengertian prosedur reward dan punishment, faktor yang mempengaruhi pemberian reward dan punishment di SMA Islam Al-Falah.
Bab III adalah bab metode penelitian, yang mencakup pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subyek penelitian, instrument pengumpulan data, prosedur pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan data dan tahap-tahap penelitian.
Bab IV adalah bab hasil penelitian dan pembahasan, yang mencakup gambaran umum, sejarah singkat SMA Islam Al-Falah, letak geografis, deskripsi hasil penelitian, pembahasan hasil penelitian, pelaksanaan penerapan reward dan punishment, keberhasilan penerapan reward dan punishment yang dilaksanakan oleh guru PAI dalam
meningkatkan pembelajaran PAI, serta faktor pendukung dan penghambat pembelajaran PAI di sekolah.
Bab V adalah bab penutup, yang mencakup kesimpulan dari isi atau hasil penelitian, dan dalam bab ini juga, dikemukakan mengenai saran yang bersifat konstruktif.
15
LANDASAN TEORITIS
A. Reward dan Punishment
1. Pengertian Reward dan Punishment
Reward menurut kamus Inggris Indonesia yaitu ganjaran atau hadiah.1 Reward juga dapat diartikan sebagai ganjaran, hadiah, penghargaan atau imbalan. Reward merupakan hal yang penting juga di dalam pendidikan. Reward digunakan sebagai alat pendidikan yang diberikan ketika seorang anak melakukan sesuatu yang baik, atau telah tercapainya sebuah target. Reward juga merupakan sebuah alat untuk peningkatan motivasi peserta didik.2
Selanjutnya Syarful Bahri Djamarah menjelaskan bahwa reward adalah memberikan sesuatu kepada orang lain sebagai penghargaan atau kenangan/ cendramata. Hadiah yang diberikan kepada orang lain bisa berupa apa saja, tergantung dari keinginan pemberi, atau bisa juga disesuaikan dengan prestasi yang dicapai oleh seseorang. Penerima hadiah tidak tergantung dari jabatan, profesi, dan usia seseorang, dan semua orang berhak menerima hadiah dari seseorang dengan motif-motif tertentu.3
Selanjutnya Alisuf Sabri menyatakan bahwa reward adalah satu-satunya alat represif yang menyenangkan dan sebagai penguatan positif agar anak didik dapat memperkuat usahanya sehingga dapat
____________
1Djalinus Syah, dkk,. Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), hal. 310
2
Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013, (Yogyakarta: 2013), hal. 157.
3 Syarful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Asdi Mahasatya, 2002), hal. 126
mempertahankan dan meningkatkan prestasi yang telah tercapai.4 Selanjutnya Mutaqin menjelaskan bahwa reward adalah motif yang positif yang dapat menimbulkan inisiatif, energy, kompetensi, ekorasi pribadi, dan abilita-abilita kreatif, dan hadiah dapat berupa material seperti pemberian-pemberian uang, barang berharga, dan juga berupa pujian.5
Selanjutnya W.W Chastes. V .Good mengartikan reward adalah suatu perasaan yang memuaskan, menyenangkan, yang diarahkan ke arah tertentu dari tingkah laku yang diakibatkan oleh hal-hal yang berasal dari lingkungan luar atau yang dilakukan sendiri sebagai harapan terhadap dorongan dari pengulangan tigkah lakunya.6 Suharsimi Arikunto mengartikan bahwa reward adalah sesuatu yang diberikan kepada orang lain karena sesudah tingkah laku sesuai yang dikehendaki, yakni mengikuti peraturan atau tata tertib yang sudah ditentukan di sekolah.7 Selanjutny Chaplin dalam kamus Psikologi mengertikan bahwa reward adalah sebagai barang perangsang situasi atau pernyataan lisan yang bisa menghasilkan kepuasan atau menambah kemungkinan sesuatu perbuatan yang telah dipelajari.
Berdasarkan pengertian di atas, maka yang dimaksud dengan reward adalah suatu hadiah yang diberikan kepada anak didik yang mendapatkan prestasi atau hasil pendidikan yang baik, baik prestasi kepribadiannya maupun baik dalam prestasi belajarnya, yang dapat menyenangkan hati peserta didik di lingkungan sekolah karena usaha atau
____________
4 Alisuf Sabri, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1999), hal. 45. 5 Mutaqim, dkk,. Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Reneka Cipta, 2003), hal.76. 6
W.W Chastes. V .Good, Ditionary of Education (PreparedbUnder The Auspices Of
Phi Delta Kappa, (New York Toronto London: Mc Graw Aili Book Compani, Inc, 1959).
hal. 470.
7 Suharsimi Arikunto, Manajemen Pengajaran secara Manusia, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), hal. 182.
kerja keras yang telah mendapatkan penghargaan dari para pendidik, mempertahankan dan meningkatkan dan meningkatkan prestasi yang sudah tercapai bahkan ke depan untuk lebih baik lagi.
Sementara punishment menurut kamus Inggris Indonesia adalah hukuman.8 Punishment diartikan sebagai hukuman atau sanksi. Punishment biasanya dilakukan ketika apa yang menjadi target tidak tercapai, atau perilaku anak yang tidak sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan di sekolah tersebut.9
Selanjutnya Abu Ahmadi mengartikan bahwa punishment suatu perbuatan, di mana kita secara sadar dan sengaja menjatuhkan nestapa kepada kepada orang lain dari segi kejasmanian maupun dari segi kerohanian orang lain itu mempunyai kelemahan bila dibandingkan dengan diri kita, dan oleh karena itu maka kita mempunyai tanggung jawab untuk membimbingnya dan melindunginya.10 Alisuf Sabri mengartikan bahwa punishment adalah tindakan pendidik yang sengaja dan secara sadar diberikan kepada peserta didik yang melakukan suatu kesalahan, agar peserta didik tersebut menyadari kesalahannya dan berjanji dalam hatinya untuk tidak mengulanginya.11
Dalam pendidikan Islam punishment lebih dikenal dengan istilah tarhib.“Tarhib” berasal dari kata “Rahhaba) yang berati menakut-nakuti atau mengancam. Kemudian kata tersebut tersebut diubah menjadi kata berita tarhib yang berati ancaman dan hukuman. An-Nahlawi dalam buku Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) mendefinisikan
____________
8
Djalinus Syah, dkk. Kamus Inggris Indonesia…,hal. 290. 9
Aris Shoimin. ‘’68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013’’…,hal. 157.
10 Abu Ahmadi, ddk, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Reneka Cipta, 2001), hal.150. 11 Alisuf Sabri, Ilmu Pendidikan…., hal. 44.
tarhib sebagai suatu ancaman atau siksaan sebagai akibat lengah dalam menjalankan kewajiban yang diperintah Allah.12
Berdasarkan pengertian di atas, maka yang dimaksud dengan punishment adalah suatu tindakan atau hukuman yang dijatuhkan oleh pendidik kepada peserta didik di lingkungan sekolah secara sadar merasakan penderitaan yang dilakukannya. Karena melakukan kesalahan dan pelanggaran-pelanggaran dan peraturan yng telah di tetapkan, agar anak didik tersebut menyadari kesalahannya untuk tidak mengulangi lagi bahkan ingin memperbaiki kesalahan yang sudah ia lakukan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa punishment merupakan sarana untuk memperbaiki individu dan melepaskan diri dari kesalahan. Oleh karena itu hukuman yang diberikan harus diperhatikan, agar hukuman yang diberikan kepada peserta didik tidak menimbulkan kesan negative padanya. Sebaiknya hukuman yang diberikan jangan menggunakan hukuman badan dan perasaan karena hal itu dapat menggangu hubungan kasih sayang antara pendidik dan anak didik. Hukuman yang baik ialah hukuman intelektual. Sebagai contoh, seorang murid tidak mengerjakan PR di kelas sedangkan teman-teman lain belajar seperti biasa, hukuman seperti ini diharapkan dapat mencapai tujuan perbaikan dan dapat mencapai/menyelesaikan tujuan yang diberikannya PR bagi siswa tersebut.
2. Tujuan Reward dan Punishment
Penerapan reward di dalam pembelajaran selain sebagai motivasi, juga bertujuan agar seseorang lebih giat lagi usahanya untuk memperbaiki atau meningkatkan prestasi yang telah dicapainya. Sedangkan tujuan
____________
12 Mukhtar, Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Misaka Galiza, 2003), hal.114.
penerapan punishment yaitu supaya peserta didik tidak membuat kejahatan atau yang menimbulkan rasa tidak sedang pada seseorang di dalam pembelajaran. Jadi, hukuman yang dilakukan mesti bersifat pedagogis, yaitu untuk memperbaiki dan mendidik peserta didik kearah yang lebih baik.13
Pemberian reward telah digambarkan dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 145, Allah berfirman:
َ وَ م
َ نَ
َ يَ رَ د
ََ ث
َ و
َ با
َ
َ دلا
َ نَ ي
َا
َ نَ ؤَ ت
َ هَ
َ مَ ن
َ ه
َ وَا
َ مَ ن
ََ يَ ر
َ دَ
َ ثَ و
َ با
َ
َ لا
َ خَ
رَ ة
ََ نَ
ؤَ ت
َ هَ
َ وَ س
َ نَ ج
َ ز
َ ى
َ
َ شلا
َ كَ
رَ يَ ن
َ(
َلا
نارمع
:
٥٤١
)َ
Artinya ; “Barang siapa yang menghendaki pahala dunia, niscaya kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa yang menghendaki pahala akhirat, kami berikan pula kepadanya pahala akhirat, dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Q.S Ali Imran: 145).
Berdasarkan ayat di atas dapat dipahami bahwa tujuan reward dalam dunia pendidikan adalah agar peserta didik termotivasi untuk mendapatkan prestasi yang memuaskan (lebih baik) sehingga peserta didik lebih giat dan tekun dalam aktifitasnya. Dan peserta didik yang mendapatkan reward tidak ada unsur kesombongan dan berusaha lebih baik lagi untuk meningkatkan prestasinya dan mempertahankan prestasi yang sudah ada.
Reward yang bertujuan untuk memberikan motivasi kepada peserta didik atau peserta didik terdorong untuk memperoleh prestasi yang lebih baik dan mempertahankan (meningkatkan) prestasi yang sudah tercapai. Sedangkan tujuan punishment adalah sebagai alat atau cara untuk ketertiban sekolah, juga untuk mendorong agar anak didik supaya tidak
____________
13Aris Shoimin. ‘’68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013’’, Yogyakarta: 2013, hal. 157-158.
melakukan kesalahan dan pelanggaran-pelanggaran. Selain itu, punishment juga bertujuan untuk memperbaiki tingkah laku peserta didik yang sudah ada selama ini agar ke depan makin lebih baik lagi. Maka dengan adanya punishment, peserta didik merenungi kesalahannya selama ini dan ke depan tidak mengulangi kesalahan dan pelanggaran lagi serta menginginkan untuk menjadi lebih baik. Sedangkan menurut Suharsimi, tujuan punishment adalah menurunkan frekuensi atau mengurangi banyaknya prilaku yang menyimpang dengan cara menimpakan kepada subjek yang berbuat salah sesuatu yang menyebabkan dirinya menderita, sehingga tidak akan mengulangi kesalahan lagi.14
Tujuan yang terkandung dalam memberikan hukuman kepada peserta didik adalah:
1. Memperbaiki kesalahan/ perbuatan anak didik. 2. Mengganti kerugian akibat perbuatan anak didik.
3. Melindungi masyarakat atau orang lain agar tidak meniru perbuatan yang salah.
4. Menjadikan anak didik takut mengulangi perbuatan yang salah.15 Tiap-tiap hukuman tentu berbeda sesuai dangan hukuman yang dijatuhkan atau diberikan, ada yang bernilai positif dan ada yang bernilai negatif. Hukuman merupakan hal yang wajar apabila dapat memberi sumbangan bagi perkembangan moral peserta didik. Supaya peserta didik insyaf atas perbuatannya selama ini dan lebih baik ke depannya.
Tujuan punishment dalam pendidikan dapat merujuk pada surat Ar-Ruum ayat 10, Allah berfirman:
____________
14 Suharsimi Arikunto, Manajemen Pengajaran Secara Manusia, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), hal.171.
ُ ثُ م
ُُُ ك
ُ نا
ُُ ع
ُ قُ بُ ة
ُُ لا
ُ ذُ ي
ُ نُ
ُ أ
ُ س
ُ ءاُ
و
ُ سلاُا
ُ و
ُىا
ُ أُ ن
ُُُ ك
ُ ذُ ب
ُ و
ُ بُا
ُ أُ ي
ُ تا
ُ
ُ للا
ُُ وُ ك
ُ ناُ و
ُ بُا
ُ ه
ُ يُا
ُ سُ ت
ُ هُ ز
ُ ئُ و
ُ نُ
(
مورلا
ُ:
٠١
)
Artinya: "Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-olok.” (Q.S. Ar-Ruum: 10)
Berdasarkan ayat di atas, dapat disimpulkan bahwa pemberian punishment ditujukan kepada peserta didik yang melakukan kesalahan dan pelanggaran yang tidak sesuai dengan peraturan-peraturan (norma-norma) yang telah ditetapkan, supaya mereka merasa takut dengan punishment itu sehingga mereka sadar dan mematuhi peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan dan tidak mengulangi lagi kesalahan-kesalahan yang sudah dilakukan.
Agar tujuan tersebut tercapai, maka dalam pemberian punishment terdapat beberapa persyaratan yang harus diperhatikan oleh pendidik, yaitu:
1. Hukuman harus diberikan atas dasar cinta kasih sayang, ini berarti anak dihukum bukan karena benci atau pendidik ingin balas dendam atau karena ingin menyakiti hati si anak, tetapi pendidik menghukum demi kebaikan anak, demi kepentingan dan masa depan anak.
2. Hukuman diberikan karena suatu keharusan, artinya karena sudah tidak ada lagi alat pendidikan lain yang dapat dipergunakan kecuali harus diberikan hukuman.
3. Pemberian hukuman harus dapat menimbulkan kesan kesadaran dan penyesalan dalam hati peserta didik.
4. Pemberian hukuman akhirnya harus diikuti dengan pemberian ampunan dan disertai dengan harapan kepercayaan bahwa anak
sanggup memperbaiki dirinya. Begitu juga Abdullah Nashih Ulwan menyatakan bahwa pemberian punishment bertujuan memelihara kebutuhan asasi yang harus dipenuhi manual yaitu: memelihara agama, memelihara jiwa, memelihara nama baik, dan memelihara harta benda.16
3. Bentuk dan Prosedur Penerapan Reward dan Punishment Reward adalah metode yang bersifat positif terhadap proses pembelajaran untuk meningkatkan motivasi belajar. Reward yang diberikan kepada siswa ada berbagai macam bentuk. Secara garis besar reward dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu:17
1. Pujian
Pujian adalah suatu bentuk reward yang paling mudah dilakukan. Pujian dapat berupa kata-kata, seperti: baik, bagus, bagus sekali dan sebagainya. Tetapi juga dapat berupa kata-kata-kata yang berupa sugesti, misalnya; “Nah kali akan lebih baik lagi.” “Kamu pasti bisa kalau rajin belajar”. Di samping yang berupa kata-kata, pujian dapat juga berupa isyarat atau pertanda misalnya dengan menunjukkan ibu jari (jempol), dengan menepuk bahu anak, dengan tepuk tangan dan sebagainya.
2. Penghormatan (penobatan sebagai bentuk penghargaan atas suatu prestasi yang diraih)
Reward yang berupa penghormatan ini dapat berbentuk dua macam pula. Pertama, berbentuk semacam penobatan, yaitu anak yang mendapat penghormatan diumumkan dan ditapikan dihadapan teman-temannya. Dapat juga dihadapan teman-teman sekelas, teman-teman
____________
16
Abdullah Nashib Ulwan, Tarbiyah Al-Awlad Fi Al-Islam, (Beirut: Daral Salam, 2003), Cet II, hal.753.
17 Ashri Dwi Santosa, Penerapan reward dan punishment di pesantren Al-Manar
sekolah atau mungkin juga di hadapan orang tua siswa. Misalnya, pada malam perpisahan yang diadakan di akhir tahun. Kemudian ditampilkan siswa yang telah berhasil menjadi bintang kelas, penobatan dan penampilan bintang pelajar untuk suatu kota dan daerah, dan lain sebagainya.
Penghormatan yang berbentuk pemberian kekuasaan untuk melakukan sesuatu misalnya, kepada anak yang menyelesaikan soal yang sulit disuruh mengerjakan di papan tulis untuk dicontoh teman-temannya, disuruh mengikuti lomba, dan lain sebagainya.18
3. Hadiah
Yang dimaksud dengan hadiah di sini adalah reward yang berbentuk pemberian berupa barang. Reward yang berupa pemberian barang ini disebut juga reward marerial, yaitu hadiah yang berupa barang ini dapat terdiri dari alat-alat keperluan sekolah, seperti pensil, penggaris, buku dan lain sebagainya.
4. Tanda penghargaan
Jika hadiah adalah reward yang berupa barang, maka tanda penghargaan adalah kebalikannya. Tanda penghargaan tidak dinilai dari segi harga dan kegunaan barang-barang tersebut, seperti halnya pada hadiah. Melainkan, tanda penghargaan di nilai dari segi “kesan” atau nilai “kenang”nya. Oleh Karena itu, reward atau tanda penghargaan ini disebut juga reward simbolis. Reward simbolis ini dapat berupa surat-surat tanda jasa dan sertifikat.
Dari keempat macam reward tersebut di atas dalam penerapannya seseorang guru dapat memilih bentuk macam-macam reward yang cocok dengan siswa dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Dalam
____________
memberikan reward seseorang guru setidaknya mengetahui siapa yang berhak mendapatkan reward, seorang guru harus selalu ingat akan maksud dari pemberian reward itu. Seseorang siswa yang pada suatu ketika menunjukkan hasil dari biasanya, mungkin sangat baik bila diberi reward. Dalam hal ini, seorang guru bersikap bijaksana dan jangan sampai reward menimbulkan iri hati pada siswa yang lain yang merasa dirinya lebih pandai, tetapi tidak mendapatkan reward.19
Demikian pula halnya dengan pemberian punishment, Soejono mengemukakan bentuk hukuman dengan tiga bentuk, yaitu:
a. Bentuk isyarat, usaha pembetulan kita lakukan dalam bentuk isyarat muka dan isyarat anggota badan lainnya. Contohnya, ada seorang anak didik yang berbuat salah, misalnya bermain-main dengan mengusik adiknya. Pendidik memandangnya dengan raut muka muram yang menandakan bawa ia tidak menyetujui anak didik berbuat semacam itu. Ia menggelengkan kepala dan menggerakkan tangannya sebagai tanda agar anak didik pergi meninggalkan adiknya. Apabila anak didik karena asyiknya mengusik tadi tidak melihat bahwa pendidik memandangnya, maka pendidik memberi isyarat pendahuluan dengan menepuk tangan untuk menarik perhatiannya.
b. Bentuk kata, isyarat dalam bentuk kata dapat berisi kata-kata peringatan, kata-kata teguran dan akhirnya kata-kata ancaman. Kalau perlu bentuk isyarat diganti dengan bentuk kata berupa kata-kata peringatan, menyebut nama anak yang nakal tadi dengan suara tegas singkat, misalnya “Amir..!”20
____________
19 Ashri Dwi Santosa, Penerapan Reward dan Punishment…, hal. 16. 20 Ashri Dwi Santosa, Penerapan Reward dan Punishment…, 2012, hal. 16.
c. Bentuk perbuatan, usaha pembetulan dalam bentuk perbuatan adalah lebih dari usaha sebelumnya. Pendidik menerapkan pada anak didik yang berbuat salah, suatu perbuatan yang tidak menyenangkan baginya atau ia menghalang-halangi anak didik berbuat sesuatu yang menjadi kesenangannya. Misalnya, pendidik mengancam anak didik seperti yang sudah diancamkan, atau tidak memperbolehkannya ikut berjalan-jalan pada Ahad yang akan datang.
Ada beberapa bentuk dan prosedur penerapan reward dalam bentuk hadiah sebagai salah satu alat pendidikan akan diberikan kepada anak-anak yang menunjukkan suatu prestasi atau hasil pendidikan yang baik, baik dari segi prestasi kepribadian (kelakuan kerajinan dan sebagainya) maupun berhasil dalam prestasi belajarnya, hadiah tersebut harus diberikan kepada anak didik pada saat yang tepat yaitu segera setelah anak didik berhasil mencapai prestasi yang diharapkan. Dalam hal ini hadiah berfungsi sebagai pengakuan dan penghargaan terhadap usaha/kerja keras dan prestasi yang telah di capai oleh anak didik.
Oleary Brophy seperti yang di kutip Suharsimi Arikunto mengatakan bahwa prosedur dalam pemberian reward adalah :
1). Reward hendaknya secara spontan, artinya jangan sampai ditinggalkan terlalu lama, reward yang diberikan dapat berupa pujian seperti perkataan bagus, pintar dan acuan jempol.
2). Reward hendaknya disesuaikan dengan keadaan atau sifat dari aspek yang menunjukkan keistimewaan prestasi.
3). Reward hendaknya disesuaikan dengan kesenangan atau minat peserta didik dapat berupa tas, perlengkapan alat-alat tulis, perlengkapan alat-alat tulis, dan benda-benda yang lainnya.
4). Pada waktu menyerahkan reward hendaknya disertai dengan rinci tentang alasan dan sebab menerima hadiah tersebut.21
Dengan demikian, dapat diketahui bahwa prosedur reward yang diberikan harus dengan cara spontan, dan disesuaikan dengan keadaan peserta didik dari aspek yang menunjukkan keistimewaan prestasi, dan reward yang diberikan harus sesuai dengan minat peserta didik, agar dengan pemberian yang disenangi peserta didik dapat menumbuhkan minat belajar dan mempertahankan prestasi yang sudah ada.
Selanjutnya, bentuk dan prosedur penerapan punishment dalam bentuk hukuman merupakan alat pendidikan yang terakhir dapat dilakukan teguran dan peringatan tidak mampu lagi mencegah terjadinya pelanggaran. Dalam keadaan seperti ini maka hukuman yang setaraf dengan keadaan si anak tepat untuk diberikan. Berat ringannya punishment yang akan diberikan kepada anak sangat sulit, jika punishment yang salah diberikan akan sangat Nampak negative pada anak didik. Punishment diberikan kepada peserta didik adalah cara terakhir diberikan oleh guru setelah cara-cara lain seperti bimbingan dan nasehat-nasehat tidak memadai lagi untuk mengubah perilaku anak. Punishment yang diberikan harus dalam batas-batas yang wajar, karena hukuman yang diberikan harus berfungsi sebagai pendidikan.
Sedangkan prosedur punishment menurut Abu Ahmad yaitu: a) Penerapan hukuman disesuaikan dengan besar kecilnya kesalahan. b) Punishment disesuaikan dengan jenis, usia dan sifat anak.
____________
21 Suharsimi Arikunto, Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi, (Jakarta Renika Cipta, 1993), hal 165-166.
c) Jangan memberikan punishment dalam keadaan marah, emosi atau sentiment.
d) Berikan bimbingan kepada yang terhukum agar menginsyafi atas kesalahannya.
e) Pada waktu memberikan punishment peliharalah/jalinan kasih sayang antara pendidik yang memberikan punishment dengan anak didik yang dikenai hukuman, sekira tergantung hubungan tersebut harus diusahakan pemulihannya.
f) Punishment hendaknya dimulai dari yang ringan.22
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa prosedur punishment yang diberikan disesuaikan dengan besar kecilnya kesalahan, punishment jangan diberikan dalam keadaan marah, emosi, atau sentiment karena bisa bersifat negatif kepada peserta didik, dan dalam memberikan punishment peliharalah hubungan/ jalinan cinta kasih sayang antara peserta didik dengan anak didik supaya dengan memberikan punishment secara baik dan benar dapat terjalin hubungan yang baik antara pendidik dan peserta didik dan tidak terganggu proses belajar mengajar.
4. Faktor yang Mempengaruhi Pemberian Reward dan
Punishment
Tiap-tiap pendidik mempunyai sifat cara sendiri-sendiri dalam hal pemberian hukuman. Dalam hal hukuman tidak ada buku resep, sama halnya dengan alat-alat pendidikan yang lain, berhasil baik tidaknya tergantung kepada pendidik, pribadi anak, dan bahan atau cara yang dipakai dalam menghukum anak itu. Selain itu, ditentukan atau
____________
dipengaruhi pula oleh hubungan antara pendidik, serta suasana atau saat ketika hukuman itu diberikan.23
Dengan demikian, jika kita bertanya “Dapatkah suatu hukuman yang sama yang dilakukan oleh seorang pendidik terhadap beberapa orang anak menghasilkan akibat yang sama pula ?’’ Maka jawabannya ialah “Belum tentu,” dan bahkan tidak mungkin. Biarpun demikian, tiap-tiap hukuman mengandung maksud yang sama, yakni bertujuan untuk memperbaiki watak dan kepribadian anak didik, meskipun hasilnya belum tentu dapat diharapkan.
Namun, hasil atau akibat yang bermacam-macam dari berbagai hukuman seperti telah diuraikan pada pasal 3 di atas, dapat kita simpulkan sebagai berikut.24
a. Menimbulkan perasaan dendam pada si terhukum. Ini adalah akibat dari hukuman yang sewenang-wenang dan tanpa tanggung jawab. Akibat semacam inilah yang harus dihindari oleh seorang pendidik. b. Menyebabkan anak lebih pandai menyembunyikan pelanggaran. Ini pun akibat yang tidak baik, bukan yang diharapkan oleh pendidik. Memang, meskipun hukuman itu baik, kadang-kadang bisa juga menimbulkan akibat-akibat yang tidak disukai. Hukuman yang sering menakut-nakuti itu menurut teori sering menimbulkan akibat yang demikian.
c. Memperbaiki tingkah laku si pelanggar. Misalnya yang suka bercakap-cakap di dalam kelas, karena mendapat hukuman, mungkin juga pada akhirnya berubah juga kelakuannya.
____________
23
M. Ngalim Purwanto, MP. ‘’45 Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis’’, Bandung, 2007. hal. 188.
24 M. Ngalim Purwanto, MP. ‘’45 Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis’’, Bandung, 2007. hal. 189.
d. Mengakibatkan si pelanggar menjadi kehilangan perasaan salah, oleh karena kelakuannya yang dianggap telah dibayar dengan hukuman yang telah dideritanya.
e. Akibat yang lain ialah memperkuat kemauan si pelanggar untuk menjalankan kebaikan. Biasanya ini adalah akibat dari hukuman normative. Sering hukuman yang demikian tidak memperlihatkan akibat yang nyata kelihatan.25
5. Strategi Penerapan Reward dan Punishment
Pemberian reward dapat dilakukan dalam berbagai strategi sesuai kesempatan yang ada. Strategi memberikan hadiah kepada anak didik :
a. Berikan pada saat yang tepat, misalnya ada waktu mereka ulang tahun, naik kelas, juara perlombaan dan lain-lain
b. Berikan hadiah seperti mereka inginkan, bukan yang kita inginkan. c. Berikan dengan cara yang baik
d. Ikhlaskan niat kita, buanglah agenda tersembunyi dari pemberian kita, anak akan tahu cara kita memberikan hadiah.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pemberian reward harus betul-betul diperhatikan agar cara yang digunakan untuk memberikan hadiah dapat memberikan motivasi kepada anak didik untuk meningkatkan kualitas belajar yang baik dan meningkatkan minat belajar yang lebih baik lagi. Dengan memberikan reward yang baik dan sesuai maka hasilnhya akan lebih baik dan sesuai dengan apa yang diharapkan.26
Demikian juga strategi menghukum anak memang sangat beragam. Perbedaan prilaku anak hingga pemahaman orang tua dalam mendidik
____________
25M. Ngalim Purwanto, MP. ‘’45 Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis’’, Bandung,
2007. hal. 189.
menentukan hukuman yang terjadi. Hukuman yang diberikan tentu demi kebaikan anak, bukan untuk menciptakan trauma berkepanjangan, jika dilihat lebih dalam, prilaku anak akan sangat bergantung pada usia, kepribadian, maupun perkembangan fisik dan emosional. Tetapi suatu prilaku bisa dinilai bermasalah ketika dianggap tidak sesuai dengan harapan keluarga, atau jika menggangu anak itu sendiri.
Ada beberapa strategi dalam menghukum anak:
1. Jika anak dianggap berprilaku buruk dan tidak mengindahkan larangan, hukuman pantas diberikan sebagai bagian dari pendidikan. Tetapi jangan berfikir men-strap anak layaknya siswa sekolah, layaknya siswa sekolah, karena hukuman sepertu itu hanya mempermalukan anak dihadapan teman-temannya, tetapi tidak secara langsung mendorong anak melakukan perbaikan prilaku. 2. Jelaskan pada anak bahwa perilaku tadi bukan perilaku yang baik,
dan dia tidak boleh mengulangi perilaku itu lagi, dan jelaskan pada anak didik dia harus menempuh hukuman tersebut karena sudah lalai suatu tingkah laku yang dilarang.27
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan, strategi dalam penerapan punishment harus diperhatikan, strategi yang di gunakan harus bersifat mendidik, agar cara yang digunakan dalam mendidik dalam pendidikan dapat memberikan motivasi kepada siswa dan supaya anak didik tidak mengulangi kesalahan yang sudah pernah dilakukan. Dengan demikian, reward dan punishment terdapat beberapa teknik:
1. Teknik pemberian bimbingan dan ampunan, adalah suatu kreteria pendidikan dan cara bimbing anak yang telah melakukan kesalahan dengan dijanjikan adanya ampunan. Teknik ini dikhususkan bagi
____________
peserta didik yang mengalami masalah, dan seorang pendidik dianjurkan memberikan bimbingan agar anak tersebut dapat mencari solusi dan persoalan yang dihadapi.
2. Pemberian motivasi dan peringatan adalah suatu praktek pendidikan dengan cara memberi motivasi tinggi pada anak didik, sehingga ia merasa senang dan bangga melakukan suatu perintah. 3. Teknik anugerah dan hukuman adalah teknik yang dilakukan
dengan cara memberi anugerah pada anak didik yang berprestasi dan hukuman bagi mereka yang melanggar. Teknik ini dapat diberikan pada anak didik dengan syarat, bahwa benda yang diberikan terhadap relevansi dengan kebutuhan pendidik, misalnya untuk anak didik yang ragking pertama di berikan bebas spp, demikian juga hukuman yang diberikan harus mengandung makna edukasi, misalnya yang terlambat harus membersihkan halaman sekolah atau diberi sanksi.28
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, teknik reward dan punishment merupakan suatu teknik yang dapat diberikan dalam proses belajar mengajar khususnya dalam pembelajaran PAI, yang dapat membangkitkan dan membarikan motivasi dalam proses belajar mengajar antara peserta didik dengan pendidik yang lebih baik dalam memberikan reward dan punishment. Dengan demikian dalam penerapan reward dan punishment terdapat beberapa pendekatan untuk aktualisasi nilai-nilai kebenaran dan janji-janji kebaikan dan keburukan yang disampaikan dengan tujuan untuk tidak melakukan kejahatan di antaranya pendekatan-pendekatan sebagai berikut:
1. Pendekatan keteladanan
____________
Peniruan atau keteladanan adalah salah satu pendekatan efektif dalam pengembangan sikap anak sehingga menerima kebenaran dan menolak kemungkaran. Perubahan dan perkembangan potensi anak kebanyakan bersumber dari peniruannya terhadap fenomena sejarah yang disaksikan dan yang dianggap sebagai tradisi yang cocok ditiru.
2. Pendekatan pembiasaan
Pembiasaan sebenarnya sama dengan pengalaman. Oleh karenanya, inti dari pembiasaan adalah pengulangan. Dalam pengulangan sikap, pembiasaan sebenarnya sangat efektif untuk diterapkan.
3. Pendekatan permainan
Bagi anak permainan adalah seni sekaligus pekerjaan, anak-anak yang melakukan permainan baik dengan belari, lompat, berjalan kaki, dan sejenisnya sangat bermanfaat bagi pendidikan jasmani, pikiran dan jiwanya. Melalui permainan yang teratur, peserta didik belajar bergaul dan berkumpul dengan orang lain, berinovasi serta berkreasi. Permainan merupakan cara terbaik dalam mendidik jasmani, pikiran, emosional, dan spiritual peserta didik.29
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendekatan-pendekatan untuk melakukan kebenaran dan menjauhi kejahatan dalam proses belajar mengajar pendidik dapat menggunakan beberapa pendekatan dalam proses belajar mengajar, seperti yang sudah dijelaskan diatas, agar proses belajar mengajar berjalan sesuai dengan yang diharapkan dan mendapatkan hasil yang baik lagi sesuai dengan peraturan yang telah di tetapkan.
B. Pembelajaran PAI di Sekolah
____________
a. Pengertian dan Tujuan Pembelajaran PAI
Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah sebagai latihan mental, moral, dan fisik yang bisa menghasilkan manusia berbudaya tinggi. Sedangkan Arifin mengatakan Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah suatu sistem kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah, sebagaimana Islam telah menjadi pedoman bagi seluruh aspek kehidupan manusia, baik duniawi maupun ukhrawi. Sementara Ahmad D. Marimba berpendapat bahwa Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah suatu bimbingan baik jasmani maupun rohani yang berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut hukum Islam. Sedangkan menurut Tohiri, Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah usaha mengubah tingkah laku seseorang dilandasi dengan nilai-nilai Islam dalam kehidupan individu, bermasyarakat, maupun dalam kehidupan lainnya.30 Adapun menurut Jamila, Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan suatu proses bimbingan atau tuntunan yang dilakukan dengan sengaja oleh guru dewasa (pendidikan kepada peserta didik) untuk mengubah tingkah laku individu dalam kehidupannya berdasarkan pada syari’at Islam agar terbentuk kepribadian muslim (insan kamil).31
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah usaha sadar yang terencana untuk menciptakan individu mukmin yang baik yang sesuai dengan ajaran agama Islam dan upaya untuk mendidik siswa mengenal Allah SWT. sebagai sang pencipta dan beribadah kepada-Nya, dan selalu mengerjakan perintah
____________
30
Tohiri, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hal. 9.
31 Jamila, “Pendidikan Berbasis Islam yang Memandirikan dan Mendewasakan”.
Allah dan menjauhi larangan Allah yang berpedoman kepada Al Qur’an dan Hadist.
Ada beberapa tujuan Pendidikan Agama Islam (PAI) menurut para ahli, di antaranya yaitu:
Menurut Al-Ghazali, tujuan Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah menghasilkan insan paripurna baik di dunia maupun di akhirat. Menurutnya manusia dapat mencapai kesempurnaan apabila berusaha mencari ilmu dan selanjutnya mengamalkan fadhilahnya melalui ilmu pengetahuan yang dipelajarinya. Fadhilah ini selanjutnya dapat membawanya kepada Allah SWT dan kemudian membahagiakannya hidup di dunia dan di akhirat.
Menurut Nur Uhbiyati ada dua tujuan pendidikan Islam, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
1. Tujuan umum pendidikan Islam adalah maksud atau perubahan-perubahan yang dikehendaki yang diusahakan oleh pendidikan untuk mencapainya.
2. Tujuan khusus pendidikan Islam adalah perubahan-perubahan yang diinginkan dan merupakan bagian yang termasuk di bawah tiap tujuan. Pola-pola tingkah laku, sikap, nilai-nilai dan kebiasaan yang terkandung dalam tujuan akhir dan tujuan umum juga tidak akan terlaksana dengan sempurna.
Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengalaman, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang harus berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaannya kepada Allah SWT. serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat,