• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Berdirinya Angklung Sinar Jaya Sigaran Penebel

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Sejarah Berdirinya Angklung Sinar Jaya Sigaran Penebel"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

Sejarah Berdirinya Angklung Sinar Jaya Sigaran, Penebel

Kiriman: Kadek Dwi Cipta Adi Kusuma, Mahasiswa PS Seni Karawitan ISI Denpasar.

Pada mulanya banjar Sigaran belum mempunyai gambelan, namun demi kepentingan upacara panca yadnya, gambelan tersebut sangat diperlukan. Maka dari itu, para pengelingsir (tokoh-tokoh seniman tua) yang ada di Sigaran berinisiatif untuk membuat salah satu gambelan yaitu gambelan angklung. Tetapi para pengelingsir belum mempunyai dana untuk membuat gambelan tersebut.

Oleh karena itu, pengelingsir (tokoh-tokoh seniman tua) yang ada di Sigaran membentuk sekehe nandur dan sekehe manyi diantaranya Gurun Sendri dan Pan Renin. Dimana uang dari pendapatan sekehe itu sedikit demi sedikit dikumpulkan untuk biaya pembuatan angklung tersebut.

Pada akhirnya sekitar tahun 1860 para tokoh seniman tua di Sigaran dapat tersenyum karena dana untuk pembuatan gambelan tersebut sudah terkumpulkan dan mereka pun mulai menggarap pembuatan gambelan itu yang dibuatkan oleh pande yang berasal dari desa Thiingan. Pande itu pun langsung membuat gambelan angklung, tepatnya di Sigaran Kauh di bawah pohon durian yang besar. Sekelompok pengelingsir di Sigaran nampaknya antusias membantu pembuatan gambelan angklung saih 4 tersebut. Dan cara pembuatan pelawahnya dengan cara dibagi-bagi, perorang mendapatkan tugas membuat 2 pelawah, terkecuali pelawah reong dan ada juga yang menyumbangkan emas dan berlian untuk pembuatan angklung tersebut.

Hari demi hari pembuatan gambelan angklung tersebut berjalan dengan lancar tidak mengenal siang maupun malam. Pada akhirnya gambelan tersebut dapat terselesaikan walaupun dengan ukiran pelawah yang berbeda-beda, namun tetap menjadi 1 barung gambelan angklung saih 4 yang berlaraskan selendro. Karena gambelan tersebut dipasupati di Pura Dalem Rajaguru yang sekarang disebut dengan Jegu. Upacara upakarapun sudah siap, ritual pemasupatian dimulai yang dipimpin oleh pemangku Dalem bertepatan pada malam hari, lalu kejaiban muncul, gambelan tersebut berbunyi dengan sendirinya dan salah satu pemangku kerauhan dan mendapat sabda (pawisik) bahwa angklung tersebut mulai saat itu sah menjadi unen-unen di pura Dalem, dan angklung tersebut mendapatkan paica yaitu sejenis lunak (asam) yang ditaruh ke semua gambelan. Gambelan itupun tidak boleh dibawa pulang selama 3 hari.

Setelah 3 harinya gambelan angklung tersebut ditaruh di bale banjar Sigaran dan pengelingsir (tokoh-tokoh seniman tua) membentuk sekehe yang bernama sekehe angklung Sinar Jaya Sigaran. Setiap hari sekehe tersebut mulai berlatih dengan mencari tabuh lelambatan klasik yang dipergunakan untuk mengiringi upacara ngaben. Pada tahun 1955-an sekehe angklung Sinar Jaya Sigaran berinisiatif membuat angklung kebyar, dimana gong dari angklung tersebut dibeli di banjar Serason, sekehe pun mencari pelatih bernama Pan Resin dari banjar Sigaran, Mambal, Badung. Pelatih itupun senantiasa mengajarkan sekehe tersebut dengan mencari tabuh kebyar dan tarian-tarian diantaranya : Tari Pendet, Panyembrahma, Oleg Tamulilingan, Belibis, Manukrawa, Marga pati, Panji Semirang dan Nelayan, termasuk juga Tari Legong. Dengan kegigihan sekehe tersebut, akhirnya angklung kebyar Sinar Jaya Sigaran semarak di gemari penonton sampai kupah ke plosok-plosok desa yang ada di Tabanan. Walupun kupahnya dengan berjalan kaki tetapi sekehe angklung Sinar Jaya Sigaran tetap semangat.

(2)

Sampai sekarangpun angklung Sinar Jaya Sigaran sangat disucikan di Sigaran dan juga menjadi budaya di Sigaran, antara lain angklung tersebut dipergunakan untuk mengiringi upacara ngaben/Pitra Yadnya, piodalan di pura, ngetelu bulanin, mesangih, pernikahan dan yang paling menjadi budaya adalah Ketus Pungsed. Dimana setiap bayi yang ketus pungsed khususnya di Sigaran harus ngupah angklung karena angklung tersebut dipercayai untuk menjaga keselamatan bayi tersebut. Sampai sekarangpun budaya tersebut tetap berlaku di Sigaran dan angklung Sinar Jaya Sigaran tetap berjaya, yang sekarang merupakan generasi keempat.

Demikian sejarah singkat berdirinya angklung Sinar Jaya Sigaran yang saya dapat dari narasumber I Ketut Jemet dan dari Sekehe Angklung Sinar Jaya Sigaran.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan jenis pekerjaan, dari 100 responden mini market Sinar Jaya yang di teliti terdapat sebanyak 8 orang pelajar atau sebesar (8%), mahasiswa sebanyak 13 orang atau

daerah yang sangat majemuk, beragam budaya ada di Sibolga, dengan kata lain.. orang-orang Nias juga harus mampu beradaptasi dengan

Hal tersebut dapat mendukung atau sejalan dengan fenomena-fenomena yang terjadi di CV Affindo Jaya Persada seperti: beberapa karyawan masih kurang disiplin,

Kota Bekasi secara umum juga memiliki kekayaan budaya yang tidak kalah menariknya dengan kota/kabupaten lain yang ada di Jawa Barat, di antaranya kesenian

Kelebihan kota Larantuka adalah kota ini memiliki keindahan wisata budaya yang tidak dimiliki kota lain di Indonesia dan juga memiliki wisata alam yang sangat indah.

Pada observasi kegiatan atau aktivitas siswa pada pembelajaran Bahasa Indonesia dengan metode drill di kelas pada siklus I dan siklus II dapat dilihat hasil persentasi yang

Secara historis Kampung Kauman erat dengan stigma pusat keagamaan yang juga sangat kental dengan nuansa budaya yang berkembang dari dalam masyara- katnya yang beragam, dan di lain pihak

Sinar Jaya Inti Mulya Kota Metro”” adalah benar hasil karya tulisan saya sendiri dan tidak merupakan plagiat dari karya orang lain, yang merupakan salah satu syarat dalam penyelesaian