• Tidak ada hasil yang ditemukan

Publikasi & | Perkumpulan Pikul

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Publikasi & | Perkumpulan Pikul"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

Meraih Hak Masyarakat dengan

Pendekatan Berbasis Aset

Mencipta Inovasi dan

Meraih Kesetaraan Gender

di Ruang Domestik

Oleh Pembelajaran Atas

Praktik, Kami Terus

Lahirkan Hal Baru (Bagian

2 dari 2 Tulisan)

(2)

PIKUL “Lingkar Belajar Komunitas Bervisi” Jl. R.W. Monginsidi II No. 2 Kel. Pasir Panjang Kupang Nusa Tenggara Timur 85228 Telp. 0380-830218

Terus Menjaga dan Merawat Pulau

adalah Mimpi kami bersama

dan kami ingin terus menularkan ke tiap

orang...

Komunitas Peduli Lingkungan Lembata (KUMPUL)

merupakan komunitas yang didirikan oleh anggota LBKB Pikul di Lembata

bersama berbagai organisasi maupun lembaga yang telah lebih dahulu berdiri,

seperti IKIPLI, Kl@ Yogya dsb. Saat ini telah melakukan aksi penanaman dan

perawatan 2000 manggrove di Pantai Teluk Lewoleba.

Kontak person : 082146324629 (Hendrikus Buran)

Rekening

: 0685 01 00285453 4 BRI cab Lewoleba a.n Katarina Y Ndun Gie

Terciptanya Ekonomi solidaritas adalah Mimpi

bersama kami!

Kelompok Tani Lewolerang (KTL) adalah koperasi kaum

tani dan pertukangan di Pulau Adonara. Untuk

mencipta-kan akses anggota perempuan terhadap sumber

peng-hasilan yang layak, kami merencanakan sebuah usaha peternakan babi dan

pem-buatan batako yang dimiliki komunitas dan dikelola kaum perempuan. Anda dapat

berpartisipasi mewujudkan mimpi kami dalam pemupukan modal usaha awal!

Informasi lanjut : 082144344103 (Kamilus Tupen Jumat),

Rekening

: 026 02.02.001581-6 Bank NTT Cab Pembantu Waiwerang a.n

Kelompok Tani Lewolerang.

“Kami ingin bersama anda melakukan

perubahan, lewat Gerakan solidaritas

@BeasiswaKITA”

BeasiswaKITA adalah gerakan solidaritas untuk

menyelamatkan generasi KITA, yang karena keterbatasan

ekonomi, belum bersekolah serta anak yang waktu belajarnya hilang akibat harus

bekerja.

Anda dapat mengajak orang lain terlibat dalam aksi ini, memberi sedikit kelebihan

mereka untuk anak-anak yang belum seberuntung anak anda, adik anda, saudara

anda, atau juga seberuntung anda karena belum bersekolah.

Penyelenggara @BeasiswaKITA:

Nama Lembaga : Komunitas Akar Rumput (KoAR)

Alamat

: Jalan Kenari No. 10, Naikoten I Kupang-NTT

Website

: http://www.koarntt.org

Email

: [email protected] , cc : [email protected]

Facebook

: http://www.facebook.com/kitabeasiswa

Twitter

: @BeasiswaKITA | @KOARNTT

SMS Centre

: +62 85337862228

Kontak Person : Jan Pieter Windy

Twitter

: @JanWindy

(3)

Mencipta Inovasi dan Meraih Kesetaraan Gender

di Ruang Domestik

Inovasi yang dilakukan oleh para aktor dapat menginspirasi para perempuan lain. Menariknya lagi, kreatifitas itu lahir dan dikerjakan ditengah padatnya rutinitas pekerjaan domestik.

Oleh Pembelajaran Atas Praktik, Kami Terus Lahirkan

Hal Baru (Bagian 2 dari 2 Tulisan)

Pada tulisan pertama, dibahas sesi-sesi Appreciative Inquiry hingga pada sesi Discovery. Bagian 2 ini akan dibuka dengan fase dream dan ditutup dengan sesi celebration.

Annual Financial Report Perkumpulan PIKUL

Laporan keuangan perkumpulan PIKUL periode tahun anggaran Juli 2011 hingga Maret 2011. Disajikan langsung oleh Emil Fanggidae, yang menjabat sebagai Manajer Keuangan PIKUL.

Meletakkan Pembangunan

Solidaritas Rakyat dalam Bingkai

Perjuangan Hak Asasi

EdISI 2 TAHUN 2012

Membangun solidaritas warga dalam

memajukan pemenuhan hak atas air,

(4)

eDITORIAL

“Reclaim Your Future”

Redaksi

Silvia Fanggidae, Torry Kuswardono, Wahyu Adiningtyas, Andry P. Ratumakin, danny Wetangterah, George Hormat

Editor

Wahyu Adiningtyas

Kontributor

George Hormat, Margaretha Heo, Emil Fanggidae, Andry Ratumakin, Brino Tolok

Layout

Kampungkreasi

Keuangan

Emil Fanggidae, daniel Temuluru

Distribusi

Ande Ngongolende

Perkumpulan PIKUL

Jl. Wolter Monginsidi II, No.2, Kel. Pasir Panjang, Kupang Nusa Tenggara Timur

Telp: 0380-830218

Faks: 0380-822434

Email

[email protected]

Website

http://www.perkumpulanpikul.org

Kanal Youtube

http://www.youtube.com/users/pikulers

FB: perkumpulan pikul

FB (Fan Page): perkumpulan pikul

Twitter: perkumpulan pikul

INISIATIF adalah sebuah majalah yang diterbitkan oleh Perkumpulan PIKUL. Sebagai media berbagi pembelajaran, pengalaman dan informasi bagi siapa pun yang berminat untuk mempelajari

Asset Based Approach-Appreciative Inquiry bagi perubahan sosial. INISIATIF

juga diterbitkan sebagai bentuk pertang-gungjawaban PIKUL kepada publik.

diterbitkan dengan dukungan dari

P

ara aktor yang tergabung Lingkar Belajar Komunitas Bervisi terus berupaya meraih dan memenuhi hak dasarnya dengan berbagai kemampuan dan ketram-pilan yang dimilikinya. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan reflektif bagi Pikul, dimanakah letak kerja-kerja yang dilakukan oleh anggota LBKB dan Pikul sendiri dalam kerangka perjuangan HAM? Sehingga pada edisi kali ini kami memberikan judul utama, “Meraih Hak Masyarakat dengan Pendekatan Berbasis Aset”.

Tulisan pertama, tentu saja adalah sebuah upaya reflektif kami yang disajikan sebagai sebuah review singkat tentang bagaimana Pikul meletakan solidaritas dalam kerangka per-juangan Hak Asasi.

Kedua, adalah dua kisah dari dua aktor perempuan yang tergabung dalam LBKB. Selain dengan kemampuan dan kete-rampilan yang dimiliki menghasilkan pendapatan bagi ru-mah tangga, dan mengorganisir masyarakat sekitar untuk melakukan perubahan, mereka juga berjuang untuk keseta-raan di rumah tangga.

(5)

Meletakkan Pembangunan Solidaritas

Rakyat dalam Bingkai Perjuangan Hak Asasi

(6)

alam Inisiatif Edisi 1/2012, artikel Oleh Pembelajaran atas Praktik, Ka-mi Terus Lahirkan Hal Baru dikata-kan, solidaritas “mengacu pada pera-saan simpati dan sepenanggungan sebagai sesama warga komunitas yang berujung pada tindakan sukarela setiap individu yang berkontribusi positif bagi kepentingan ko-munitas. Karena itu, solidaritas mengan-dung makna kemandirian komunitas dalam memenuhi hak dasar melalui upaya bersama anggota komunitas.”

Pendekatan ini tidak hanya relatif baru dalam program yang mengatas namakan pe-menuhan hak asasi manusia di NTT, tetapi juga mengandung gugatan, apakah berbagai upaya PIKUL mendorong kemandirian ma-syarakat dalam memenuhi air, pangan, ke-sehatan, pendidikan, dan energi adalah ba-gian dari perjuangan hak asasi manusia? Per-tanyaan atau gugatan ini penting, meski da-pat dipastikan Pikul, semua yang bekerja di dalamnya, para associate hingga sebagian besar di antara para aktor perubahan yang berkumpul dalam lingkar belajar komunitas bervisi menyadari air, pangan, kesehatan,

dan pendidikan merupakan hak asasi manu-sia dan berkomitmen untuk memajukan pe-menuhannya.

Seorang filantropis yang beramal menye-lenggarakan pengobatan gratis, atau membu-ka sekolah-sekolah gratis, belum tentu se-orang pejuang Hak Asasi Manusia sekalipun ia menyadari kesehatan dan pendidikan ada-lah hak asasi orang-orang yang ditolongnya. Terdapat perbedaan antara membantu sese-orang mendapat pelayanan kesehatan demi rasa kemanusiaan bahwa orang itu mem-butuhkannya (sebagai sebuah kebutuhan dasar) dengan memperjuangkan seseorang mendapatkan pelayanan kesehatan karena itu merupakan haknya yang asasi.

Bagaimana Gugatan Itu Muncul?

Hak suatu pihak pada dasarnya mengan-dung tuntutan kepada (kewajiban) pihak lain. Hak dan kewajiban itu tak terpisahkan. Begitulah yang sering dikatakan tetapi juga sering disalahpahami sebagai seolah-olah hak dan kewajiban pada suatu objek secara serentak melekat pada satu subjek. Padahal arti sebenarnya adalah ketika hak atas suatu ditulis oleh George

Hormat, sebagai sebuah review singkat terhadap posisi Pikul dalam kerang-ka perjuangan hak asasi.

1 Rocky Gerung (editor). HAK ASASI MANUSIA Teo-ri, Hukum, Kasus, p.68

(7)

objek dimiliki oleh suatu subjek (manusia), otomatis subjek lainnya (orang lain, lemba-ga, masyarakat) dikenakan kewajiban.

Hak untuk hidup yang dimiliki seseorang, menetapkan kewajiban orang lain, baik orang tertentu atau kepada semua orang lain selain subjek hak agar pemenuhan hak itu dapat berlangsung.1

Hak asasi manusia pada dasarnya merupa-kan tuntutan kepada pihak tertentu untuk menjamin setiap manusia tanpa kecuali, mendapatkan objek hak (konten dari hak asasi itu) agar kemanusiaanya utuh.

Lantas, siapa kah pihak lain itu? Semua dokumen deklarasi HAM, terutama berbagai kovenan menempatkan negara sebagai pi-hak utama yang dikenakan kewajiban meng-hormati, melindungi, dan memenuhi hak asasi individu dalam masyarakat.

Hal ini berdasarkan alur nalar sebagai berikut:2

Pertama, terdapat dua fakta kondisi ma-nusia yang menjadi unsur pokok pendukung HAM, yaitu bahwa 1) manusia hidup untuk sejahtera (ditengah relativitas ukuran ini dalam ragam budaya masyarakat dunia, apa yang dideklarasikan sebagai HAM diyakini merupakan ukuran standar dari kesejahte-raan itu), dan bahwa 2) agar bisa sejahtera, manusia butuh peran orang lain (masyara-kat). Tidak ada kesejahteraan yang bisa di-hasilkan oleh upaya pribadi yang terlepas dari peran orang lain.

Kedua, ketika pemenuhan hak seseorang menjadi kewajiban orang lain yang bukan pemegang hak, maka tuntutan kewajiban itu harus sesuai dengan prinsip keadilan dis-tributif dan beban yang diberikan fair, tidak berlebihan. Adalah negara yang bisa meng-atur agar setiap individu warga negara da-pat memenuhi kewajibannya dalam memaju-kan hak asasi individu lainnya sesuai prinsip keadilan distributif. Misalnya melalui pajak, yang besarnya disesuaikan status ekonomi tiap-tiap warga negara, negara mengumpul-kan sumber daya untuk didistribusimengumpul-kan kem-bali dalam besaran yang berbeda-beda sesuai tingkat kebutuhan warga.

Ketiga, meski sosial, manusia itu kom-petitif. Di tengah-tengah sumber daya yang terbatas, upaya seseorang untuk mensejah-terakan dirinya dapat sekaligus menghalagi atau mengurangi akses orang lainnya pada sumber daya yang dibutuhkan. Karena itu dibutuhkan penengah, sebuah lembaga yang dalam perspektif Jock Locke

merupa-kan perjanjian dalam masyarakat dan diberi-kan mandat serta kekuasaan politik untuk memastikan pemenuhan hak tiap-tiap ang-gota masyarakat.

Keempat, negara memiliki sejumlah ke-mampuan yang tidak dimiliki oleh individu-individu, kelompok, ataukah suatu kesatu-an masyarakat. Negara memiliki kemampu-an memaksa, melalui skemampu-anksi pidkemampu-ana, terha-dap pelanggaran HAM. Negara juga memi-liki sumber daya yang relatif cukup untuk di-mobilisasi bagi upaya pemenuhan hak asa-si warganya.

Sampai di sini, pertentangan tampak. Ne-gara adalah pihak utama yang bertanggung-jawab atas HAM, sementara pendekatan Pikul menekankan kemandirian warga ber-basis solidaritas antara individu dalam ko-munitas atau organisasi. Lantas, begaimana meletakan pendekatan PIKUL dalam kerang-ka perjuangan Hak Asasi Manusia?

Pertama, Perlu disadari, sebagaimana uraian di atas, negara hadir dan dituntut ke-wajibannya oleh karena keterbatasan indivi-du atau masyarakat dalam menjamin HAM. Karena itu penetapan kewajiban negara ter-hadap penegakan HAM tidak serta-merta me-lepaskan masyarakat atau individu-individu di dalamnya dari kewajiban mengimplemen-tasikan prinsip-prinsip di dalam DUHAM.

Kedua, dalam konteks HAM Ekosob, me-skipun memiliki sumber daya yang relatif be-sar, tidak berarti kemampuan negara tanpa batas. Bahwa tak ada jaminan negara memi-liki sumber daya yang cukup besar untuk me-wujudkan hak ecosob warganya dalam

seka-Hak asasi

manusia pada

dasarnya

merupakan

tuntutan kepada

pihak tertentu

untuk menjamin

setiap manusia

tanpa kecuali,

mendapatkan

objek hak

(konten dari hak

asasi itu) agar

kemanusiaanya

(8)

li pukul merupakan salah satu alasan menga-pa mengamenga-pa hak ekosob tergolong dalam ne-gotiable rights. Kewajiban negara dalam me-menuhi hak asasi ekosob warganya bersifat progresif atau bertahap.

“In considering state obligations, it is important to bear in mind that human be-ings are responsible for themselves and their own well-being. Human rights do not automatically involve heavy government in-tervention or imply that individuals can un-reservedly demand goods and services from the state.” Tulis Margret Vidar and Moha-med Ali Mekouar.3

Dengan landasan itu, maka peningkatan peran aktif individu dan kolektif masyarakat dalam upaya memajukan pemenuhan hak asasi anggota masyarakat atau masyarakat itu sendiri merupakan aspek penting dalam memajukan HAM. Peran aktif ini tidak bisa dibatasi semata-mata pada keterlibatan se-bagai pemantau pelanggaran HAM atau wan-prestasi negara. Peran aktif yang tidak ka-lah pentingnya, sebagaimana dipromosikan PIKUL, adalah menciptakan inovasi-inovasi sosial dimana masyarakat bisa saling berso-lidaritas dalam memenuhi hak asasi, khu-susnya hak ekosob.

Tetapi persoalan belum selesai. Meskipun sangat dibutuhkan, upaya memfasilitasi ino-vasi-inovasi sosial berupa solidaritas warga dalam suatu komunitas untuk memajukan

pemenuhan kebutuhan pendidikan, kesehat-an, air, dan pangan itu tidak serta merta da-pat digolongkan dalam perjuangan pemenuh-an HAM.

Majelis Umum PBB dalam Declaration on the Right and Responsibility of Individuals, Groups and Organs of Society to Promote and Protect Universally Recognized Human Rights and Fundamental Freedoms (General Assembly resolution 53/144) mengakui hak dan tanggung jawab individu, kelompok dan asosiasi untuk mempromosikan penghor-matan terhadap dan menumbuhkan penge-tahuan tentang hak asasi manusia dan kebe-basan dasar di tingkat nasional dan interna-sional, dengan tetap memberikan pendekat-an pada perpendekat-an dpendekat-an tpendekat-anggung jawab negara.4

“The General Assembly,

... Stressing that the prime responsibili-ty and duresponsibili-ty to promote and protect human rights and fundamental freedoms lie with the State,

Recognizing the right and the responsibi-lity of individuals, groups and associations to promote respect for and foster knowledge of human rights and fundamental freedoms at the national and international levels, ...”

Hak dan tanggungjawab individu, grup, dan associations yang diatur di dalam doku-men itu lebih berupa hak untuk berpartisi-pasi dalam segala macam aktivitas menun-tut tanggungjawab negara dalam menghor-3 Margret Vidar and

Mohamed Ali Mekouar. Water, health and human rights. WHO/WSH/WWd/ TA.10 © 2001–2003, 2002 WHO. http://www. who.int/water_sanitation_ health/humanrights/en/ print.html

(9)

mati, melindungi, dan memenuhi hak asa-si manuasa-sia.

Kehadiran negara dalam menjamin peng-hormatan, perlindungan, dan pemenuhan HAM tampaknya memang tidak tergantikan. Pembangunan solidaritas warga adalah pe-lengkap yang mengisi kekosongan saat nega-ra absen sekaligus yang menyempurnakan peran negara. Sebagai pelengkap dan pe-nyempurna, ia tak bisa jadi pengganti dan pembenaran atas ketakhadiran negara.

Ada beberapa kelemahan dari pendekatan kemandirian ini sehingga ia tidak bisa meng-gantikan peran negara.

Pertama, berbeda dengan kewajiban ne-gatif yang umumnya terkait hak sipil politik, solidaritas individu dalam memajukan pe-menuhan pendidikan, kesehatan, pangan, dan air individu lain dalam suatu komuni-tas atau masyarakat tidak bisa dipaksakan. Tidak ada hukum yang bisa memaksa sese-orang melakukan itu, dan memberi sanksi pada yang lalai dalam bersolidaritas. Indivi-du-individu dalam masyarakat tidak meng-adakan kontrak untuk saling bersolidaritas. Ini berbeda dengan negara. Negara adalah suatu kontrak (dalam perspektif Locke). Ke-wajiban warga negara dalam membayar pa-jak, menjalankan berbagai peraturan, dan menyerahkan wewenang penguasaan dan pengelolaan sebagian sumber daya kepada negara timbal balik dengan kewajiban nega-ra untuk meredistribusi manfaat secanega-ra adil kepada individu warga negara.

Solidaritas itu umumnya bersifat diskri-minatif. Ia bersifat timbal balik antara ang-gota suatu kelompok atau komunitas. Ker-ja gotong-royong (gemohing) di Pulau Ado-nara, Solor, dan Lembata hanya dilakukan pada kebun-kebun anggota gemohing. Di sa-tu sisi, pemenuhan hak asasi tidak diskrimi-natif. Setiap warga negara berhak atas upaya negara negara dalam memajukan pemenuh-an berbagai hak asasi.

Solidaritas warga dalam memajukan hak ekosob juga berdaya jangkau terbatas. Soli-daritas itu umumnya terjadi di dalam suatu komunitas pedesaan, antar masyarakat da-lam suatu wilayah kecamatan, dan paling luas lintas beberapa kabupaten. Sementara tanggungjawab negara dalam pemenuhan hak ekosob menjangkau seluruh wilayah otoritasnya.

Dengan demikian, pendekatan pemba-ngunan solidaritas warga dalam pemenuhan hak asasi akan menjadi sebuah pendekatan

berbasis hak jika melengkapinya dengan ad-vokasi kebijakan publik, yang menuntut pe-ran dan tanggungjawab negara di dalamnya.

Article 2 dalam General Assembly reso-lution 53/144 menyatakan, “Each State has a prime responsibility and duty to protect, promote and implement all human rights and fundamental freedoms, inter alia, by adopting such steps as may be necessary to create all conditions necessary in the social, economic, political and other fields, as well as the legal guarantees required to ensure that all persons under its jurisdiction, indi-vidually and in association with others, are able to enjoy all those rights and freedoms in practice.”

Maka advokasi itu bisa diarahkan pada tu-gas negara to create all conditions necessary bagi meluasnya bentuk-bentuk solidaritas warga dalam pemenuhan hak asasi ekosob. Perluasan itu bisa dilakukan melalui pening-katan kapasitas kelompok-kelompok solidari-tas dan mendorong duplikasi kreatif dari ino-vasi-inovasi pemenuhan hak berbasis solida-ritas pada komunitas atau kelompok. 

Kehadiran

negara dalam

menjamin

penghormatan,

perlindungan,

dan pemenuhan

HAM tampaknya

memang tidak

(10)
(11)

Inovasi yang dilakukan oleh para aktor, terutama para aktor

perempuan tentu sangat menarik untuk disebarluaskan, sehingga

dapat menginspirasi para perempuan di lingkungan mereka dan

di wilayah lain. Menariknya lagi, kreatiitas itu lahir dan dikerjakan

ditengah padatnya rutinitas pekerjaan domestik.

Mencipta Inovasi dan

Meraih Kesetaraan Gender

di Ruang Domestik

erempuan, hampir disegala kelom-pok masyarakat manapun, pasti iden-tik dengan pekerjaan rumah tangga. Pikul mengidentifikasi 6 beban yang harus ditanggung oleh perempuan di Nusa Tenggara Timur, mulai dari beban peng-adaan air pangan dan energi, beban repro-duksi biologis (hamil dan melahirkan), ban pengasuhan anak, beban belis, dan be-ban kekerasan dari suami/ayah.

Kompleksitas yang dialami oleh aktor pe-rempuan menimbulkan banyak pertanyaan bagi Pikul. Bagaimana aktor perempuan mengatasi berbagai beban yang harus di-tanggungnya? Bagaimana diantara berbagai beban tersebut mereka mampu berkreatifi-tas tidak hanya untuk menambah penghasil-an rumah tpenghasil-angga, tapi juga membpenghasil-antu

pe-rempuan-perempuan lainnya keluar dari be-ban-beban yang mereka hadapi?

(12)

K

atarina Yosefina Ndun Gie adalah na-ma lengkap dari perempuan kelahiran Lewoleba, 6 April 1976. Rina, begitu-lah para tetangga dan kerabat menyapanya sehari-hari. Kesehatan itu bukan sekedar masalah jasmani, ia juga urusan jiwa. Maka rumah sehat butuh taman indah agar ten-tram jiwa para penghuninya. Kira-kira begini lah cara pandang yang melatarbelakangi ke-terlibatan Rina dalam pengorganisiran gerak-an membgerak-angun tamgerak-an bunga di Rt 008 Rw 003 Kelurahan Lewoleba Kota, Kabupaten Lembata. Inovasi sosial ini berawal dari se-ringnya para tetangga, terutama kaum pe-rempuan bertandang ke rumah Rina untuk berbincang-bincang sambil menikmati kein-dahan taman di halaman rumahnya.

“Waktu saya mulai menanam bunga ini belum banyak yang ikut. Saya lihat, mereka nih ibu-ibu rumah tangga yang hanya di ru-mah saja. Daripada mereka hanya duduk ma-ka saya mulai ajak dan ada beberapa yang mulai ikut. Jadi sekarang ada beberapa te-man yang gabung dan kita namai kelompok kita ini Kelompok Tunas Baru,” cerita Rina.

KATARInA YOSeFInA nDUn GIe

Mewartakan

Keindahan,

Membangun

Kesetaraan

Hingga kini aktivitas gotong royong ber-gilir di Tunas Baru telah berhasil mewujud-kan taman bunga idaman di lima rumah ang-gotanya. Impian Rina, kelak di Lewoleba, se-tiap rumah memiliki taman yang di dalam-nya tertata indah aneka tanaman bunga, sayur-mayur, buah- buahan, dan tanaman berkhasiat obat. Akhir 2012 ini ia menarget-kan semua anggota kelompok telah memi-liki itu.

Untuk mendukung program ini, Rina dan kawan-kawan menggalakkan peternakan ayam potong yang dikelola beberapa anggo-ta kelompok. Dengan itu mereka akan mu-dah mendapatkan pupuk. Upaya kreatif Rina meraih banyak simpati. Tidak heran kalau namanya disebut-sebut sebagai kandidat ku-at ketua RT dalam pemilihan mendku-atang.

(13)

Suami Rina, Vincen Dasion, berasal dari Lamalera, Lembata. Vincen merupakan anak laki-laki sulung dan tunggal dengan 4 orang adik perempuan. Saat ayahnya meninggal, semua urusan yang berkaitan adat dan ke-luarga Lamalera, mewajibkan Vincen terli-bat sebagai salah satu laki-laki penerus mar-ga Dasion.

Meski Vincen adalah anak sulung dan laki-laki satu-satunya tidak berarti lepas dari pekerjaan rumah tangga. Ayahnya (mertua Rina) mendidik Vincen dan adik-adik perem-puannya untuk berbagi pekerjaan rumah tangga. Dari mencuci baju hingga memasak. Ketika dirinya menikah dengan Rina, semua kebiasaan ini terus berlanjut. Vincen tidak pernah malu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

“Untuk pekerjaan dalam rumah suami saya juga turut membantu, artinya kita ber-dua saling bantu. Mulai dari masak, cuci dan urus anak. Sama seperti saya. Kecuali sapu rumah, itu dia memang tidak bisa Tapi ker-ja lain-lain dalam rumah dia bisa. Jadi kalau saya mulai sibuk, nanti kerja dalam rumah dia yang lakukan”, jelas Rina.

Kebiasaan untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang dilakukan oleh suaminya tersebut diterapkan juga ke anak laki-laki me-reka yang kini telah berusia 14 tahun.

“Anak saya juga hanya satu dan sekarang sudah 14 tahun jadi sudah mulai juga bantu kerja di dalam rumah. Sama seperti bapak-nya, dia diajari untuk bekerja. Meskipun dia anak-anak laki-laki tunggal, tapi kami tetap

ajari untuk melakukan pkerjaan-pekerjaan rumah tangga”, lanjutnya lagi.

Kesetaraan rumah tangga yang terbangun tidak saja untuk pekerjaan rumah tangga, tetapi ketika mereka memutuskan segala hal yang berkaitan dengan keputusan rumah tangga, seperti apa yang mau dikerjakan

un-tuk menambah pemasukan keluarga dsb. Hanya saja, Rina, seperti umumnya perem-puan lain di Nusa Tenggara Timur belum bi-sa terlibat dalam keputubi-san-keputubi-san adat secara langsung.

Rina menyadari bahwa tanpa keterlibat-an suami dalam mengerjakketerlibat-an pekerjaketerlibat-an do-mestik tidak mungkin ia dapat melakukan aktivitasnya seperti saat ini, mewartakan ke-indahan. Apalagi kesibukan Rina makin ber-tambah paska mengikuti Visioning “Para Pe-rawat Pulau” di Kupang. Rina dan anggota LBKB Lembata membentuk KUMPUL (Komu-nitas Peduli Lingkungan Lembata). 

(14)

S

aya punya cita-cita itu yang dari Lem-bata tidak boleh ambil produk dari lu-ar.” Adalah mimpi Mama Yuli di masa depan. Kemandirian akan produksi dan kon-sumsi di Pulau Lembata. Kemandirian ter-sebut yang juga mencerminkan Mama Yuli dalam mengarungi kerasnya hidup.

Wilhemina Yuliana Baha, yang biasa di-panggil Mama Yuli, dilahirkan di Hoelea, pada tanggal 7 Juli 1957. Sejak muda Ia su-dah mulai bekerja. Cita-citanya di masa mu-da amu-dalah menjadi tukang jahit. Ia sempat ikut kursus jahit di Modesta, Kupang. Di ta-hun 80-an. Setelah selesai mengikuti kursus Ia balik ke Lembata, dan mulai menjahit ka-sur dan bantal. Cepat mendatangkan uang adalah alasan Ia memilih menjahit kasur dan bantal. Ia juga sempat membuka kursus menjahit hingga tahun 1985. Di tahun yang sama Ia menikah dengan Yosep Pati dan dikaruniai 1 perempuan.

Tahun 1991, Ia diminta oleh pembantu Bupati untuk ikut tim penggerak PKK kare-na keahlian menjahitnya. Awalnya Ia tidak mau. Apalagi ada stigma hanya perempuan yang kurang kerjaan yang ikut PKK. Tapi pengalaman Mama Yuli dengan PKK justru berbeda. Di PKK, perempuan-perempuan yang memiliki pendidikan terbatas justru menjadi pintar karena memperoleh tambah-an ketrampiltambah-an. Keaktiftambah-an Mama Yuli meng-ajarkan ketrampilan yang dimiliki juga telah menarik Dinas Koperasi. Tahun 2005, Dinas Koperasi memintanya magang di Kupang. Kemudian tahun 2006 dan 2007, Ia dimin-ta juga magang di Sidoarjo untuk

WILHeLMInA YULIAnA BAHA

Memandirikan

kaum Perempuan

dengan Bekerja

an ikan. Pengolahan ikan menjadi krupuk yang kemudian ia pilih. Ilmu membuat kru-puk dari ikan yang kemudian ia kembang-kan dan modifikasi dengan menambahkembang-kan kulit pisang. Sejak tahun lalu produk inilah yang menjadi andalannya.

Ditengah aktivitasnya, pernikahan Mama Yuli tidak luput dari permasalahan. Kurang lebih, 20 tahun, suaminya yang kerja di PLN hanya pulang 1-2 minggu satu kali padahal kerjanya tidak jauh dari rumah. Pendapatan yang diterima oleh suaminya jarang sampai di tangan Mama Yuli. Untungnya, Mama Yuli memiliki usaha pembuatan kasur hingga bi-sa mencukupi kebutuhan rumah tangga. Me-lalui cerita teman suaminya juga, Ia menge-tahui bahwa suaminya sering berjudi.

“Saya ke sana lihat mereka sedang judi. Dia tidak ikut hanya nonton saja. Saya tidak marah, tapi saya menyanyi saja disitu se-perti pengamen”, cerita Mama Yuli. Saya bi-“

Peristiwa yang

pernah dialami

Mama Yuli juga

membuatnya

menjadi seorang

“konselor”

bagi para

tetangganya

yang mengalami

(15)

lang, “saya ini pengamen. Kasih uang. Saya mau pulang”. Lanjutnya. “Suami saya ma-rah. Saya bilang, istrimu ini datang bukan marah tapi datang jadi pengamen. Dia bilang bikin malu saja. Kemudian, saya bilang, da-ripada saya ke sana dan marah, lalu, kamu pukul. Saya buat begitu supaya didalam ra-sa enak. Akhirnya dia tidak judi lagi. Setiap hari, saya hanya pikir sebentar, bagaimana agar dia jangan pukul saya. Karena, setiap hari, dia minum dan mabuk. Saat pulang pasti pukul saya”.

Kesabaran dan upaya Mama Yuli untuk menyadarkan suaminya berbuah, meskipun lama. “Karena saya lihat anak sudah be-sar. Kita kan berubah perlahan-lahan bukan sekaligus. Akhirnya lama kelamaan saya pi-kir, eh, betul juga anak sudah besar lebih baik istirahat pokoknya segala macam judi, pukul”, ujar Suaminya yang ikut menemani saat mewawancarai Mama Yuli.

“Itu sekitar 5 tahun lalu anak sudah be-sar. Mungkin anak sudah menikah itu 2005 kalau tidak salah. Setelah itu berubah dan kasih sayang mulai ada. Saya buat lagu sam-pai saudara saya dengar lagu itu mereka me-nangis. Saya buat lagu itu supaya lega dan dia mendengar isi hati saya”, Mama Yuli me-nambahi cerita suaminya.

(16)

Oleh Pembelajaran atas Praktik,

Kami Terus Lahirkan Hal Baru

BAGIAn 2 DARI 2 TULISAn

ada tulisan pertama kami telah mem-bahas sesi-sesi Appreciative Inquiry hingga pada sesi Discovery. Akhir dari pembahasan kondisi brutal adalah ke-sadaran akan kontribusi pribadi bagi tercip-ta, tertahan, dan memburuknya krisis. Pa-da bagian ini juga dibahas bagaimana peng-gabungannya dengan kisah sukses dan inti positif. Pada bagian 2 ini kami akan membu-kanya dengan fase dream dan menutupnya dengan sesi celebration.

Dream

Sebelumnya, output utama dari fase Dream adalah vision board kolektif para ak-tor perubahan dalam satu pulau. Tetapi se-jak visioning Pemuda Aktor Perubahan Nai-bonat, nilai penting dari vision statement kembali mendapat tempat. Pada visioning Para Perawat Pulau, mantra (slogan) dari vi-si juga mendapat penekanan. Maka output

fase dream pada visioning Para Perawat Pu-lau adalah vision board, vision statement, dan mantra (slogan).

Sejak Visioning LBKB Adonara II, diper-kenalkan materi tambahan berupa perumus-an vision statement yperumus-ang baik. Selama ini, perumusan pernyataan visi sekedar menuhi kaidah formal: kalimat positif yang me-nyatakan kondisi yang hendak dicapai; sing-kat; dan jelas. Sejak visioning LBKB II, di-tambahkan dua ciri vision statement yang baik, yaitu: mampu membangkitkan imagi di kepala orang yang mendengar atau mem-bacanya; dan mampu membangkitkan has-rat orang untuk bertindak mewujudkannya. Dua syarat atau ciri ini merupakan konseku-ensi dari perumusan pernyataan visi yang jelas, sekaligus alat ukur jelas atau tidaknya sebuah pernyataan visi.

Sebuah vision statement yang jelas akan mampu membangkitkan imagi konkrit

ten-Contoh Vision statement I:

Visi Desa Amin Jaya 2016

“dengan Potensi Yang Ada Mewujud-kan desa Amin Jaya Menjadi desa Yang Aman, Maju, Kompetitif dan Mampu Mandiri dengan Azas Kebersa-maan dan Kekeluargaan Sebagai Wi-layah Sentral Ekonomi Perdagangan, Jasa dan Perkebunan, Berdasarkan Pancasila dan Undang Undang dasar 1945 sebagai implementasi Undang-Undang No.32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah daerah”

Contoh Vision Statement II:

Memindahkan Surga di Amin Jaya 2016

Maju

 desa memiliki fasilitas internet, memudahkan warga berkomunikasi dengan kerabat di manapun

 Semua data tentang desa bisa diper-oleh cukup dengan “klik” pada kom-puter di kantor desa. Warga desa atau tamu yang membutuhkan bo-leh menggunakannya

Bersih dan Hijau

 Jalan-jalan kampung dari pavin blog menghubungkan setiap wilayah de-sa, di sisi kiri dan kanan tumbuh rin-dang pohon-pohon buah

 di halaman rumah penduduk tum-buh bunga, tanaman obat, dan ane-ka tanaman pangan

sejahtera

 Setiap keluarga memiliki penghasil-an ypenghasil-ang cukup untuk memenuhi ber-bagai kebutuhan hidupnya

 Sepanjang tahun air bersih meng-alir hingga ke rumah-rumah warga.

 Sepanjang tahun setiap rumah tang-ga memiliki cukup makanan, baik mutu maupun jumlahnya

 Semua anak usia sekolah menik-mati pendidikan hingga menamat-kan SMU/SMK

 Panel surya terpasang pada atap ru-mah-rumah penduduk, memproduk-si listrik memproduk-siang dan malam.

ILUSTRASI 1

(17)

tang seperti apa rupa kondisi yang dikehen-daki, dan imagi yang jelas akan membang-kitkan hasrat untuk mewujudkannya. Untuk membuktikan itu, kepada peserta disodori dua contoh vision statement, dan diminta merasakan yang manakah yang membang-kitkan imagi yang jelas di kepala dan hasrat yang kuat di hati (lihat boks).

Pada Ilustrasi 1, Vision statement yang pertama adalah yang lazim dimiliki lembaga-lembaga pemerintah dan politisi yang ber-tarung di dalam pemilu. Tidak satupun peser-ta yang mendapatkan gambaran jelas seperti apa kondisi Desa Amin Jaya pada 2010 nan-ti kenan-tika visi ini terwujud, apalagi merasa-kan hasrat bertindak mewujudmerasa-kan impian di dalam vision statemen itu. Berbeda halnya dengan contoh vision statement kedua. Ke-tika rumusan vision statement kedua dibaca-kan, para peserta mengaku dapat memba-yangkan kondisi Desa Amin Jaya ketika visi telah terwujud. Para peserta juga mengaku tertarik mewujudkan itu di desanya.

Vision statement yang jelas, membang-kitkan imagi, dan mendorong hasrat bertin-dak hanya mungkin dihasilkan jika para pe-serta visioning itu sendiri memiliki imagi masa depan yang jelas di kepalanya. Prak-tik menceritakan tempat paling menarik yang pernah dikunjungi agar peserta lain bi-sa “merabi-sakan” tempat itu tanpa harus me-ngunjunginya cukup baik digunakan sebagai latihan. Membuat pernyataan visi itu layak-nya menceritakan tempat menarik yang pernah dikunjungi. Bedanya, tempat yang diceritakan vision statement adalah kondisi di masa depan. Persamaannya, kondisi di masa depan itu harus mampu dibayangkan peserta sejelas imagi tempat nyata yang per-nah dikunjungi.

Penekanan lain pada fase dream adalah mantra. Mantra itu slogan, sebuah kalimat yang membangkitkan semangat untuk me-wujudkan impian, sekaligus mengandung nilai yang melandasi upaya pemenuhan im-pian itu. Visioning di TTS misalnya, mengha-silkan mantra “Kami tidak jual apa yang ti-dak kami buat” (versi Indonesianya); atau visioning LBKB Adonara I menghasilkan mantra Mulo Goen Puken, Tana Goen Ni-mun, yang mengandung arti yang sangat da-lam, kecintaan dan kebanggaan orang-orang Adonara pada tanah leluhurnnya, dan kehen-dak kuat untuk membangun Adonara.

Disebut mantra, karena kalimat itu mem-punyai daya magis menggerakan

orang-orang. Pada masa perang merebut dan mem-pertahankan kemerdekaan dulu, kita kenal slogan seperti “Bung, ayo bung!” dan “Mer-deka atau Mati!” Pada era perjuangan refor-masi 1998, ada kalimat “Hanya satu kata, lawan!” yang berasal dari penggalan puisi Widji Thukul. Pada gerakan internasional melawan neoliberalisme, ada kalimat Che Guavara, “hasta la victoria siempre”. Kali-mat-kalimat ini adalah mantra yang mampu menggerakan orang pada zamannya.

Destinations

Fase Destinations adalah sebuah fase ba-ru, salah satu buah pembelajaran dari prak-tik visioning AI di Nusa Tenggara Timur. Awalnya ia merupakan salah satu bentuk pe-laksanaan fase design dalam kondisi keter-batasan waktu. Waktu Stef Miramangi meng-gunakannya dalam visioning Pra-Musrem-bangdes di Desa Ientena dan Kalelu di Pulau Solor, saya melihat model ini baik untuk di-jadikan fase tersendiri, terutama bagi pelak-sanaan visioning dengan waktu yang lebih lapang. Maka munculkan fase destinations pada Visioning Para Perawat Pulau.

Nama destinations bersumber pada analo-gi perjuangan mewujudkan impian sebagai sebuah perjalanan panjang. Lazimnya, sebe-lum tiba di tujuan akhir, kita akan menying-gahi sejumlah tempat, tujuan antara. Di tem-pat-tempat tujuan antara itu, kita bisa saja mengganti moda transportasi, mengubah rute, mengisi bahan bakar, menambah per-sediaan bekal, atau bahkan beristirahat

(18)

jenak. Tempat-tempat tujuan sementara itu memiliki penanda yang khas, yang mem-buat para pelintas tahu pasti ia sedang ber-ada di tempat yang tepat. Kota A misalnya, memiliki penanpenanda yang berbeda da-ri Kota B. Demikian pula sebuah terminal bus, jelas berciri beda dengan stasiun kereta api. Mengenali penanda tempat-tempat per-singgahan berguna untuuk menentukan su-dah seberapa jauh perjalanan dan seberapa dekat ke tujuan akhir, serta mengevaluasi sudah optimalkah kecepatan tempuh sesuai yang direncakanan.

Begitu pula dengan perjuangan mewujud-kan visi. Jika visi ditargetmewujud-kan terwujud 10 hun ke depan, dibutuhkan target capaian ta-hun demi tata-hun. Kondisi yang ingin dilihat telah terwujud tahun demi tahun itulah pe-nanda tujuan sementara yang hendak dica-pai. Pada metode perencanaan yang umum, target capaian tahunan ini bisa dipadankan dengan objektive. Namun dengan sedikit perbedaan: jika umumnya objektive berupa ukuran kuantitas, maka objektive dalam AI merupakan target kuantitas dan kuali-tas yang hendak dicapai per tahunnya. Le-bih jauh, kuantitas tidak sebatas jumlah ter-bilang dari suatu ukuran yang mau dica-pai, tetapi juga segala hal yang bersifat fisik. Contohnya adalah “Pada 2016, Desa Sumber Jaya memiliki sebuah Puskesmas.” Semen-tara ukuran kualitas adalah sifat yang dike-hendaki, atau roh dari keberadaan yang fisik itu. Contoh “Di Puskesmas itu, obat-obatan selalu tersedia, para medis berdomisili di

de-sa, membuat mereka siaga 24 jam bagi pena-nganan medis darurat. Setiap akhir pekan, di sore hari diadakan diskusi-diskusi masa-lah kesehatan.”

Penanda, yaitu target perubahan tahunan dapat disusun berdasarkan “logika cakupan dampak”, dari yang paling kecil hingga pa-ling luas kuantitas (jumlah penerima dam-pak dan luas wilayah) dan kualitas damdam-pak- dampak-nya; dapat pula berdasarkan “logika syarat-dampak” (yang mana yang menjadi syarat dan yang mana dampak. Selanjutnya, dam-pak menjadi syarat bagi damdam-pak selanjut-nya); atau perpaduan keduanya. Peningkat-an produksi pPeningkat-angPeningkat-an hingga tersedia surplus misalnya merupakan syarat bagi keberadaan lumbung desa; dan keberadaan lumbung de-sa merupakan syarat bagi kesiapan pangan masyarakat desa di masa paceklik; yang adalah syarat bagi ketahanan pangan. Jadi dalam membuat target tahunan, meningkat-nya produksi pangan menjadi target yang mendahului berdirinya lumbung desa. Out-put dari fase Destinations adalah Peta Alur Perubahan

Design

Tujuan akhir (Visi) telah ditentukan (Fase Dream), target-target tahunan yang hendak dicapai telah pula disusun (Fase Destina-tions); maka urusan selanjutnya adalah me-metakan apa yang harus ada agar target ta-hun pertama bisa tewujud. Inilah yang di-lakukan pada fase Design. Fokus perhatian-nya pada target tahun pertama, bukan

pa-Jika visi

ditargetkan

terwujud 10

tahun ke depan,

dibutuhkan

target capaian

tahun demi

tahun. Kondisi

yang ingin dilihat

(19)

da Visi, juga bukan pada setiap tahun. Yang pertama karena fase Destinations telah me-mecah Visi pada mimpi-mimpi kecil, yaitu kondisi yang ingin dicapai per tahunnya. Yang kedua, tahun pertama adalah adalah tempat persinggahan pertama, yang mem-beri ruang bagi penilaian atas capaian dan upaya yang telah dilakukan. Pasca pencapai-an tahun pertama, terbuka rupencapai-ang lebar bagi pembaruan mimpii, percepatan ataukah per-ubahan rencana-rencana.

Dalam fase Design, peserta memetakan elemen sukses, yaitu hal-hal yang harus ada agar target perubahan tahun pertama bi-sa terwujud. Ilustrasinya, jika kita memiliki impian membangun rumah idaman dalam 5 tahun,dan target tahun pertama telah ter-bangun fondasi; maka elemen-elemen suk-sesnya adalah gambar design rumah, lahan, bahan-bahan (pasir, batu, semen), dan tena-ga yang mengerjakannnya. Ilustrasi lain-nya, masyarakat sebua desa memiliki vi-si kedaulatan pangan. Target tahun I adalah surplus produksi pangan dan berdirinya lumbung desa. Maka elemen suksesnya bi-sa bi-saja berupa kebi-sadaran masyarakat untuk menanami pekarangan rumah dan lahan ko-song dengan tanaman pangan; kesepakat-an warga atas tentkesepakat-ang lokasi, ukurkesepakat-an, sum-bangsih, mekanisme, dan manajemen lum-bung desa; serta pengetahuan tentang ran-cang bangun lumbung yang baik.

Elemen-elemen sukses yang ada kemudi-an dipetakkemudi-an mkemudi-ana ykemudi-ang telah ada atau bisa segera ada dan mana yang belum. Di sini, penemuan inti positif (fase Discovery) sa-ngat berguna. Elemen sukses yang telah ada adalah inti positif yang dimiliki desa terse-but. Demikian pula untuk mendapatkan ele-men sukses yang belum ada, warga desa ter-sebut didorong untuk mengoptimalkan inti positif yang dimiliki. Dengan demikian, ke-tergantungan pada intervensi pihak luar (hal yang berada di luar kendali) bisa dikurangi. Semakin kecil peran hal-hal di luar kenda-li sebagai elemen sukses, semakin tinggi ke-mungkinan keberhasilannya. Jadi elemen sukses sebenarnya merupakan konversi inti positif atau optimalisasi inti positif.

Destiny

Pada fase discovery, para aktor telah me-nemukan inti positif yang ada di pulau mere-ka. Pada fase Dream, para aktor perubahan merumuskan impian bersama, seperti apa masa depan pulau yang mereka inginkan.

Pa-da fase Destination, impian itu dipecah ke dalam target perubahan tahunan. Elemen sukses, yaitu hal-hal yang harus ada agar tar-get perubahan tahun pertama bisa terwujud telah dipetakan dalam fase Design. Dengan demikian, fase Destiny para aktor tinggal merumuskan proyek perubahan bersama. Proyek Perubahan Bersama berisi strate-gi dan rencana tindakan untuk mewujudkan elemen sukses yang dibutuhkan, dan me-rangkai elemen sukses tersebut dalam rang-ka mewujudrang-kan target perubahan tahun I.

Pada Ilustrasi Visi 2016 Mewujudkan Sur-ga di Pulau Pura (lihat fase Design), ditemu-kan bahwa elemen sukses yang belum ada adalah 1) Kesadaran masyarakat di Desa2 Target tentang pentingnya Lumbung Desa, Pemanfaatan pekarangan bagi tanaman pan-gan; dan 2) Kesepakatan masyarakat ten-tang lokasi, ukuran, sumbangsih, mekanis-me, dan manajemen lumbung desa.

Maka pada tahap Destiny, para peserta merumuskan strategi dan tindakan yang bi-sa dilakukan dengan bebasis inti postif.

(20)

sen-diri); 3) Ada juga bung D yang memiliki ke-lompok teater keliling yang beranggotakan kalangan pemuda.

Dengan ini, salah satu strategi yang dipi-lih adalah pertama 1) menggunakan mim-bar kotbah hari Minggu (di gereja) dan hari Jumat (di masjid) dan 2) teater keliling se-bagai media penyebarluasan gagasan lum-bung desa dan panganisasi pekarangan ru-mah dan lahan kosong;

Tindakan dan peran yang diambil adalah membentuk 1) Jaringan Rohaniwan Pewar-ta Daulat Pangan yang dilakukan oleh Pdt A, Pastur B, dan Haji C yang akan mengorgani-sir rekan-rekan seprofesi mereka; 2) Para ak-tor akan memfasilitasi pembentukan teater keliling di desa masing-masing untuk dilatih Bung D. Bung D akan mempersiapkan nas-kah teater berisi pesan pentingnya lumbung desa dan panganisasi pekarangan.

Tugas tahap Destiny belum berakhir de-ngan dirumuskannya Proyek Perubahan Ber-sama. Para aktor perubahan yang hadir di dalam visioning berasal dari berbagai latar belakang medan karya perubahan. Kesepat-an akKesepat-an sebuah Proyek PerubahKesepat-an Bersa-ma tidak bisa meBersa-maksa mereka meninggal-kan lapangan aktivitas perubahan yang te-lah mereka tekuni selama ini. Maka tugas se-lanjutnya dalam Fase Destiny adalah meru-muskan kontribusi proyek perubahan priba-di pada pemenuhan impian bersama.

Celebration: Merayakan Proses dan

Mengikrarkan Komitmen

Celebration adalah fase terakhir dari rang-kaian proses ini. Sejatinya pada celebra-tion, peserta, penyelenggara, dan fasilita-tor merayakan proses yang telah dilalui. Hal sesuai dengan keyakinan appreciative in-quiry, bahwa perubahan itu terjadi bersa-maan dengan penyelidikan. Pertanyaan-per-tanyaan yang diajukan fasilator; saling ber-bagi di dalam diskusi kelompok; dan berba-gai bentuk presentasi perserta, baik secara pribadi pun berkelompok, telah memainkan peran sebagai instrumen yang mendorong perubahan pada diri peserta. Perubahan itu dimulai dengan apresiasi diri, kepercayaan diri, kebangkitan imagi positif tentang masa depan, hingga perubahan prilaku.

Perayaan atas proses dilakukan sekali ja-lan dengan evaluasi. Dalam evaluasi ala AI, para peserta 1) mengungkapkan hal-hal baik yang terjadi selama proses, yang mereka

inginkan terus dipertahankan bagi kegiatan-kegiatan di kemudian hari. Peserta juga di-minta menceritakan 2) perubahan positif di dalam diri yang mereka rasakan selama ber-langsungnya kegiatan.

Sesi lain di dalam fase ini adalah ikrar ko-mitmen perubahan. Setelah, pada fase Des-tiny peserta menyusun projek perubahan kolektif dan projek pribadi yang berkontri-busi pada pencapaian visi pulau, maka sela-yaknya kini mereka diberikan kesempatan mengikrarkan komitmen untuk sungguh-sungguh melaksanakannya.

Bentuk ikrar komitmen ini sebagaiknya sedemikian rupa agar ia meninggalkan ke-san yang mendalam. Sehingga dengan demi-kian ia juga memainkan peran sebagai se-buah penutupan yang memukau. Dalam vi-sioning II LBKB Adonara, para peserta yang no limit participation memilih bentuk upaca-ra sumpah adat, sebuah ritual adat yang da-hulu biasanya dilaksanakan oleh suatu su-ku yang hendak maju berperang. Dahulu, ketika dilaksanakan untuk kepentingan ma-ju berperang, orang-orang yang terlibat di dalamnya berjanji hanya ada dua alternatif yang mereka miliki: menang atau mati di medan pertempuran.

Demikianlah, proses pelaksanaan perte-muan puncak visioning dan perencanaan menggunakan metode Appreciative Inquiry dalam bentuk terkini, setelah melalui sejum-lah pengembangan yang didasarkan atas pembelajaran dari praktik. Semoga, di ta-ngan para fasilitator yang menjadi associate PIKUL, metode AI terus berkembang. 

IBU S adalah seorang aktor perubahan di bidang pendidikan. Ia telah mendirikan PAUd swadaya di desanya. Sebuah visioning yang meli-batkan para aktor perubahan dari berbagai latar belakang karya per-ubahan di pulaunya telah menghasilkan impian mewujudkan pulau yang hijau dan berkecukupan air. Pada fase destiny, ia merumuskan proyek Perubahan Pribadinya berupa Mengagendakan Hari Menanam Pohon sekali dalam tiga bulan dan hari Menyiram Pohon sekali dalam seminggu yang melibatkan tiap anak didik dan orang tua.

dengan begitu, Ibu S tidak saja berkontribusi bagi impian pulau hi-jau dan berkecukupan air yang dirumuskan para aktor perubahan se-pulau itu, tetapi juga meningkatkan kualitas dampak PAUd bagi anak-anak, yaitu penanaman nilai cinta lingkungan.

ILUSTRASI 2

(21)

Anggota LBKB semakin hari semakin bertambah. Begitu juga luas pengaruh yang ditularkan oleh para anggota LBKB. Kami menyajikan data tersebut melalui

2 gambar dibawah ini. Graik 1 (inset)

menyajikan bagaimana antusiasme tersebut berlipatganda. data diambil dari tahun 2009 hingga pertengahan Juni

2011. Graik 2 menyajikan perkembangan

6 bulan terakhir. data 6 bulan terakhir ini masih bersifat sementara terutama untuk Sabu dan Rote (datanya belum diolah) yang juga mengalami perkembangan pesat seperti halnya Lembata.

It’s Contagious!

KOTA KUPAnG

Serikat Persaudaraan

Guru Kupang 20 Orang

nAIBOnAT (KAB. KUPAnG)

1 Laki-laki 35 Orang

ROTE

3 Perempuan 3 Laki-laki

sABU

4 Perempuan 5 Laki-laki

LEMBATA

Peserta Visioning 7 Perempuan

9 Laki-laki 705 Perempuan

1007 Laki-laki

ADOnARA

50 Orang

sOLOR

40 Orang

Kab. Sumba Timur Kab. Sumba

Tengah Kab. Sumba

Barat Kab. Sumba Barat

daya

NUSA TENGGARA BARAT Kab. Manggarai Barat

Kab. Manggarai Kab.

Manggarai Timur

Kab. Ngada

Kab. Nagekeo

Kab. Flores Timur

Kab. Lembata

Kab. Alor

Kab. Kupang Kab. Timor Tengah Selatan KUPANG

Kab. Rote Ndao Kab. Sabu Raijua

.200

Total yang terjangkau. Termasuk melalui publikasi (hanya yang bisa tercatat) maupun penguatan kapasitas.

1.200+

Ada dalam radar komunikasi dengan Pikul. Mereka yang mengorganisir diri bersama para aktor untuk mencapai visi perubahan kolektif.

0

Anggota komunitas dan organisasi yang ingin melakukan perubahan. 300 dijangkau dengan biaya program, 330 dengan semangat dan pengetahuan dari program.

Aktor perubahan yang dijangkau dengan biaya program dan berinovasi.

20+ 0+

Associates dan relawan yang mengeksplorasi konsep, metode, teknik, dsb.

11

(22)

Annual Financial Report Perkumpulan PIKUL

PERIODE TAHUn AnGGARAn JULI 2011-MARET 2012

Perkumpulan PIKUL untuk tahun anggaran yang dimulai pada 01 july 2011 dan berjalan sampai dengan periode buku 31 Maret 2012 telah memiliki kon-trak kerjasama dengan 4 donor dengan total dana komitmen yang akan dikelola berjumlah Rp 17,403,517,795 untuk durasi kerja yang berbeda antara satu donor dengan donor lainnya. Berikut tabel data program Pikul berdasarkan sumber dana dan durasi kontrak kerjasama:

Data Program

no Program Donor Budget Durasi Kontrak

1 Partner for Resilience; developing & Sustaining

Solidarity Among Community for the Fulillment of CARE 1,284,247,961 May 11-dec 13

2 Basic-Rights in Eastern Indonesia - Extension; developing & Sustaining Solidarity Among

Community for the Fulillment of

Oxfam Hongkong 250,746,886 July-dec 12

3 Basic-Rights in Eastern Indonesia Oxfam Australia 606,366,292 July 11-June 12 4 NTT Facilitator Training Program AIPd-NTT 15,262,156,657 Oct 11-Mar 13

Total 1,0,1,

Chart Kontribusi Dana Donor ke PIKUL

CARE OHK OAUS AIPd

Catatan pembukuan PIKUL per-akhir Maret 2012 menunjukan bahwa total penerimaan aktual/transfer dana dari donor sejumlah Rp 5,205,528,414 dengan prosentase peneri-maan dana terbesar dari AIPd Fas-Program Rp 4,1 Milyar, Oxfam Australia Rp 568 juta, CARE Rp 262 juta dan terakhir adalah Oxfam

Hongkong sejumlah Rp 250 juta (lihat Graik

Aktual Income). Sedangkan dari total peneri-maan per-donor tersebut bila dikalkulasi de-ngan total budget yang disepakati maka pro-sentase penerimaan-nya akan tampak

seper-ti pada Graik Income vs Budget.

Dari Graik Income vs Budget tampak bahwa

sesuai dengan durasi kontrak, donor yang telah melakukan full Transfer adalah OHK 100%, diikuti OAUS 94%, sedangkan AIPd dan CARE baru terealisasi 20-an persen dari nilai kontrak. data tersebut menunjukkan bahwa impelementasi program yang dilak-sanakan PIKUL dengan dukungan dari berba-gai sumber dana yang berbeda (multi donor) bisa berjalan sesuai dengan waktu dalam rencana kerja PIKUL yang ada.

Realisasi Income

Aktual Income

(23)

Total biaya yang terpakai untuk durasi kerja 9 bulan dalam tahun anggaran 2011-2012 men-capai jumlah Rp 4,441,985,206 atau 85% dari total penerimaan tersebut diatas. Tidak terse-rapnya dana secara maksimal secara general disebabkan oleh 2 hal yang dipilah berdasarkan donor: 1) Adanya revisi anggaran pada program FAS-AIPd, 2) Adanya kegiatan yang masih ber-jalan (on-going) pada Program SOL-OAUS (Lihat

[image:23.581.268.536.124.365.2]

tabel dan graik).

Tabel dan graik menunjukan bahwa tingkat

pengeluaran (biru) yang terjadi dari ketiga sum-ber dana yaitu OHK,OAUS dan AIPd masih sum- ber-nilai akhir positif sedangakan pada CARE terja-di overspent sebesar 16%. Hal ini terja-dikarenakan oleh masih adanya biaya-biaya kegiatan prog-ram PfR-CARE yang belum di-reimburse oleh CARE ke PIKUL, reporting dan reimbursement

keuangannya masih dalam proses.

Realisasi Income vs Biaya

no Donor Actual Income Actual Expenses Actual Balance

1 CARE 262,443,639 305,138,234 -42,694,595

2 Oxfam Hongkong 250,746,886 247,031,035 3,715,851

3 Oxfam Australia 568,015,798 352,606,614 215,409,184

4 AIPd 4,124,322,091 3,507,209,323 617,112,768

Total ,20,2,1 ,11,,20 ,,20

CARE OHK OAUS AIPd

Berdasarkan data-data keuangan yang ada maka dapat dikatakan bahwa anggaran yang masih tersisa dari komit-men dana Rp 17,4 adalah sebesar Rp 12,9 Milyar, jumlah ini berarti sama dengan 70% dari total budget agreement

dengan donor. dana ini yang masih akan dikelola PIKUL sampai dengan periode bulan desember 2013 (lihat tabel). demikian Risalah singkat laporan keuangan PIKUL untuk tahun anggaran yang sedang berjalan.

Penutup

no Donor Budget Actual Expenses Budget Balance

1 CARE 1,284,247,961 305,138,234 979,109,727 2 Oxfam Hongkong 250,746,886 247,031,035 3,715,851 3 Oxfam Australia 606,366,292 352,606,614 253,759,677 4 AIPd 15,262,156,657 3,507,209,323 11,754,947,334

[image:23.581.42.542.475.711.2]

Total 1,0,1, ,11,,20 12,1,2,

Tabel Data Budget vs Aktual Biaya

(24)

Sekilas Aktivitas Pikul

MAret 2012

5-6

: PdRA-AI di desa Oekiu, Partnership for Resilience (PfR)

5-8

: Visioning “Perawat Pulau”, LBKB 2 Putaran 1 untuk Aktor

dari Pulau Sabu, Rote dan Lembata, Kupang

6-10

: Pelatihan dasar-dasar kewirausahaan bagi PKM

angkatan 2012

7-8

: PdRA-AI di desa Linamnutu, PfR

12-13 : PdRA-AI di desa Batnun, PfR

19-20 : PdRA-AI di desa Oelbiteno, PfR

21-22 : PdRA-AI di Nunsaen, PfR

26-27 : PdRA-AI di Oelatimo, PfR

28-29 : PdRA-AI di Tolnaku, PfR

MeI 2012

21-23 : South-South Citizen Based development Sub Academy

(SSCBdA)

21-31 : Visitasi aktor LBKB Sabu, Rote, Lembata, Kupang dan Alor

21-31 : Riset Pemaknaan Aktor 2: Inovasi dan Kesetaraan Gender

24-31 : Riset Pemaknaan Aktor 1: Kelompok Tani Lewolerang

sebuah inovasi sosial solidarity Economic

26

: Kunjungan lapangan konsorsium PfR

JAnuArI 2012

24-28 : Pelatihan tata kelola desa bagi Pemerintah desa kelurahan

tahap I bagi desa-desa penerima program anggur merah

tahun 2012

februArI 2012

10-15 : Visitasi dan re-proiling di Lembata

Gambar

Tabel Data Budget vs Aktual Biaya

Referensi

Dokumen terkait

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) hasil pe- nerapan pembelajaran TGT berbantuan ga- me edukasi dalam membantu siswa kelas VII SMP N 1

Laporan keuangan perseroan Rabu menyebutkan beban pokok naik jadi Rp 10.75 triliun dari beban pokok tahun sebelumnya yang Rp 10.12 triliun dan laba bruto turun jadi Rp 2.58

4.3 Menalar dampak politik, budaya, sosial, ekonomi, dan pendidikan pada masa penjajahan bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris) dalam kehidupan bangsa Indonesia

Benih yang berkualitas baik akan mempunyai vigor bibit yang baik sehingga ukuran dan berat benih jabon yang besar seperti pada populasi PKS dan PGS (rata-rata diameter buah >4,80

“ Hak Asasi Manusia (HAM) menurut Pasal 1 butir (1) UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat keberadaan manusia sebagai

Sedangkan hasil estimasi di Negara Filipina menunjukkan bahwa dalam jangka pendek tidak ada pengaruh volatilitas nilai tukar terhadap volume perdagangan internasional,

Peningkatan Hasil Belajar IPA Materi Energi Dan Kegunaannya Melalui Strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team Achievement Division (STAD) Pada Siswa Kelas III

jeol