• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAKSANAAN BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR ALAM PACITAN.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PELAKSANAAN BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR ALAM PACITAN."

Copied!
182
0
0

Teks penuh

(1)

i

PELAKSANAAN BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR ALAM PACITAN

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

Mayangarum Puspa Dewi NIM 07104244008

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

v MOTTO

“Orang lain mungkin ada untuk membantu kita, menolong kita, membimbing kita melangkah di jalan kita. Tapi pelajaran yang dipelajari selalu milik kita”

(6)

vi

PERSEMBAHAN

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas limpahan karunia yang tiada terhingga. Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi

Muhammad SAW.

Karya ini kupersembahkan kepada ; Ibu dan Bapak, terima kasih atas Doa, kasih sayang, dan dukungan yang

(7)

vii

PELAKSANAAN BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR ALAM PACITAN

Oleh

Mayangarum Puspa Dewi NIM 07104244008

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pelaksanaan bimbingan dan konseling di SD Alam Pacitan; (2) faktor Pendukung dan Penghambat dalam Pelaksanaan bimbingan dan konseling di SD Alam Pacitan; dan (3) upaya yang dilakukan SD Alam Pacitan untuk meminimalisir faktor penghambat dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling.

Jenis penelitian ini adalah penelitian survey dengan pendekatan kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah lima orang yang terdiri dari satu kepala sekolah, dua guru kelas, dan dua siswa SD Alam Pacitan. Instrumen yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan data collection, data reduction, data display, dan conclucions. Teknik keabsahan data dilakukan dengan cara triangulasi, perpanjangan pengamatan dan peningkatan ketekunan.

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum,wr,wb.

Puji dan syukur saya sampaikan kehadirat Allah SWT. Berkat rahmat, hidayah, dan inayah-Nya akhirnya saya dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Pelaksanaan Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah Dasar Alam Pacitan”.

Penulisan skripsi ini dimaksudkan guna memperoleh gelar sarjana pendidikan di bidang studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas

Negeri Yogyakarta.

Penulisan skripsi ini dapat terselesaikan karena bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, saya menyampaikan terimakasih kepada yang terhormat:

1. Rektor Universitas Negeri Yogyakarta.

2. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan yang telah mengijinkan penulis untuk melakukan penelitian skripsi ini.

3. Ketua Jurusan Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Universitas Negeri Yogyakarta, yang telah memberikan bantuan kepada saya.

(9)
(10)

x DAFTAR ISI

hal

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN... ii

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN TUGAS... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

MOTTO………... v

PERSEMBAHAN... vi

ABSTRAK... vi

KATA PENGANTAR... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL………...………..…….. xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN... xvi

BAB I. PENDAHULUAN……….……... 1

A. Latar Belakang Masalah……….……….……….….. 1

B. Identifikasi Masalah………...……….…. 7

C. Pembatasan Masalah………..…. 7

D. Perumusan Masalah……….….……….. 8

E. Tujuan Penelitian………. 8

F. Manfaat Penelitian………..………. 8

BAB II. KAJIAN TEORI……….… 10

A. Tujuan tentang Bimbingan dan Konseling Komprehensif... 10

1. Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif..…….... 10

(11)

xi

3. Strategi Pelaksanaan Program dan Bimbingan dan

Konseling Komprehensif………..……….. 19

B. Program Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar (SD……… 28

1. Pengertian Program Bimbingan Konseling di SD... 28

2. Tujuan Program Bimbingan Konseling di SD……..…….. 28

3. Program Bimbingan Konseling di SD……….……… 30

4. Personil Pelaksana Pelayanan Bimbingan dan Konseling di SD…………..………..……… 34

C. Karakteristik siswa……….. 36

D. Pertanyaan penelitian……….. 37

BAB III. METODE PENELITIAN………..……… 38

A. Jenis dan Pendekatan Penelitian………..….... 38

B. Tempat dan Waktu Penelitian……….…. 38

C. Subjek Penelitian………. 39

D. Teknik Pengumpulan Data……….. 40

E. Instrument Penelitian……….. 41

F. Sumber Data……… 45

G. Teknik Analisis Data……….. 46

H. Teknik Keabsahan Data……….. 48

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN……….. 50

A. Hasil Penelitian………..……… 50

1. Deskripsi Seting Penelitian………..……….. 50

a. Visi, Misi dan Tujuan SD Alam Pacitan………..……. 50

b. Kesiswaan SD Alam Pacitan………..……… 52

c. Tenaga Pendidik SD Alam Pacitan……… 53

d. Tenaga Kependidikan……… 53

(12)

xii

f. Penggunaan Bahasa Inggris dalam Kegiatan Belajar

Mengajar……….………..…. 55

g. Program Kerja SD Alam Pacitan………..……. 56

h. Kegiatan Pengembangan……….……….. 57

i. Kurikulum SD Alam Pacitan……….…… 60

j. Kenaikan Kelas dan Kelulusan………...………... 70

2. Deskripsi Subjek penelitian………..…… 73

a. Subjek BN………. 74

b. Subjek MW………..….. 75

c. Subjek RA……….. 76

d. Subjek DN……….……. 77

e. Subjek GT……….. 78

3. Reduksi Data Penelitian………..……….… 79

a. Subjek BN………. 79

b. Subjek MW………... 81

c. Subjek RA……….. 83

d. Subjek DN……….. 85

e. Subjek GT……….. 86

4. Display Data Penelitian……… 87

a. Perencanaan Bimbingan dan Konseling SD Alam Pacitan………... 87

b. Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di SD Alam Pacitan……… 90

c. Evaluasi Bimbingan dan Konseling di SD Alam Pacitan……… 102

(13)

xiii

e. Upaya yang Dilakukan SD Alam Pacitan untuk Meminimalisir Faktor Penghambat dalam Pelaksanaan

Bimbingan dan Konseling……... 107

5. Verifikasi Hasil Data………..… 108

a. Subjek BN……….. 108

b. Subjek MW……… 108

c. Subjek RA………..… 109

d. Subjek DN………..…… 110

e. Subjek GT………..…… 110

B. Pembahasan……… 110

1. Perencanaan Bimbingan dan Konseling di SD Alam Pacitan……… 110

2. Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di SD Alam Pacitan……… 111

3. Evaluasi Bimbingan dan Konseling di SD Alam Pacitan……… 116

4. Faktor Pendukung dan Penghambat Dalam Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di SD Alam Pacitan……… 117

5. Upaya yang dilakukan SD Alam Pacitan untuk Memperkecil Faktor Penghambat dan Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling……… 119

C. Keterbatasan Penelitian……… 120

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN……… 122

A. Kesimpulan……….……….……... 122

B. Saran………..……. 125

DAFTAR PUSTAKA………....……… 126

(14)

xiv

DAFTAR TABEL

hal Tabel 1. Kisi-Kisi Pedoman Observasi Program Bimbingan

Konseling……….…... 43 Tabel 2. Kisi-Kisi Pedoman Wawancara Program Bimbingan

Konseling…... 44 Tabel 3. Kisi-Kisi Dokumentasi Program Bimbingan

Konseling………..… 45 Tabel 4. Profil Informan Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin, Usia,

(15)

xv

DAFTAR GAMBAR

(16)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

hal

Lampiran 1. Pedoman dokumentasi………..…… 129

Lampiran 2. Pedoman observasi………... 130

Lampiran 3. Pedoman wawancara……… 131

Lampiran 4. Transkrip wawancara………... 132

Lampiran 5. Foto dokumentasi ……… 144

Lampiran 6. Buku bimbingan ……….. 148

Lampiran 7. Buku konsultasi ……….…….. 151

(17)

1 BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Berdasarkan Global Competitiveness Report Tahun 2010/2011, kualitas pendidikan di Indonesia saat ini masih memprihatinkan, hal ini bisa diketahui dengan melihat tingkat persaingan global suatu negara dari kualitas pendidikan tingginya, Indonesia di peringkat ke-44 dari 139 negara, yaitu dibawah Singapura (3), Malaysia (26), Cina (27),Thailand (38), serta Brunei Darrusalam (28) (Klaus Schwab, 2012: 16). Data tersebut menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia perlu ditingkatkan, agar dapat bersaing dengan negara-negara lain. Data tersebut menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia perlu ditingkatkan, agar dapat bersaing dengan negara-negara lain. Djohar (2006: 3) menambahkan bahwa

pendidikan di Indonesia menghadapi tantangan baik substansi maupun penyelenggaraannya serta tantangan ke dalam maupun ke luar. Tantangan substansi lebih terarah kepada mutu pendidikan, sedangkan tantangan tantangan penyelenggaraan lebih terarah kepada praksis pendidikan dan penyelenggaraan sistem pendidikan guru di Indonesia. Hal ini dapat terpenuhi melalui pembentukan sumber daya manusianya.

(18)

2

“Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sementara tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Hal ini berarti pemerintah harus berusaha semaksimal mungkin dalam membenahi berbagai hal, baik dalam segi kualitas maupun kuantitas di bidang pendidikan. Untuk mencapai sumber daya manusia yang berkualitas pendidikan di Indonesia tidak hanya memprioritaskan perkembangan aspek kognitif atau pengetahuan peserta didik, namun juga tetapi perkembangan individu sebagai pribadi yang unik secara utuh. Oleh karena setiap satuan pendidikan harus memberikan layanan yang dapat memfasilitasi perkembangan pribadi siswa secara optimal berupa bimbingan dan konseling (BK).

(19)

3

pendidikan dasar bab X. Pada pasal 25 ayat I, dalam PP tersebut dikatakan bahwa 1) bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan, 2) bimbingan diberikan oleh guru pembimbing.

Keberadaan bimbingan dalam pendidikan di SD terkait erat dengan sistem pendidikan dasar 9 Tahun. Sistem pendidikan dasar 9 tahun membawa konsekuensi kepada wajib belajar sampai dengan usia SMP, dan untuk SD mempunyai kewajiban menyiapkan para lulusannya untuk memasuki pendidikan tingkat lanjutan. SD tidak hanya mengantarkan siswanya tamat belajar, melainkan harus membantu siswa mengembangkan kesiapan baik dari segi akademik, sosial, maupun pribadi untuk memasuki proses pendidikan di SMP (Sunaryo Kartadinata, dkk, 2002: 9). Apalagi adanya penggantian kurikulum 2006 dengan kurikulum 2013 menjadikan guru pembimbing harus membuat komitmen teguh untuk mempersiapkan diri dalam melaksanakan tugas profesi bimbingan dan konseling.

(20)

4

arah peminatan kelompok mata pelajaran dan mata pelajaran yaitu mengarahkan siswa SD untuk memahami bahwa pendidikan di SD merupakan pendidikan wajib yang harus dikuti oleh seluruh warga negara Indonesia dan setamatnya dari SD harus dilanjutkan ke studi di SMP, dan oleh karenanya siswa perlu belajar dengan sungguh-sungguh dan meminati semua mata pelajaran (Kemendikbud, 2013).

Di SD pada umumnya belum ditugaskan Guru BK atau Konselor secara khusus, sehingga pelayanan BK di SD pada umumnya dilaksanakan oleh Guru Kelas. Dalam hal ini guru kelas SD dan khususnya guru Kelas VI SD adalah pelaksana pelayanan arah peminatan tingkat pertama bagi siswa SD, yang akan tamat SD terutama kelas VI dan melanjutkan pelajarannya ke SMP. Guru kelas VI SD dapat bekerja sama dengan Guru BK atau Konselor SMP atau SMA atau SMK yang terdekat dalam pelayanan alih tangan kasus.

Kenyataannya guru kelas mengalami kesulitan dalam menanamkan minat belajar, mengatasi masalah minat belajar dan menangani kesulitan belajar pada siswa. Guru cenderung hanya mengajarkan materi sesuai dengan target kurikulum pada semua mata pelajaran. Selain itu, belum adanya guru pembimbing yang berlatar pendidikan bimbingan konseling di SD karena pada umumnya lulusan PGSD, sehingga menjadikan proses bimbingan dan konseling masih dijalankan dengan apa adanya dan hanya sebatas menunggu permasalahan yang muncul. Hal ini tentunya menjadikan pelaksanaan bimbingan dan konseling menjadi belum optimal (Mungin Eddy Wibowo, 2013: 11).

(21)

5

permasalahan–permasalahan yang menimpa mereka mengakibatkan terhambatnya perkembangan mereka, baik dalam akademis, pribadi maupun hubungan sosial. Seperti kasus yang dikisahkan oleh seorang guru di salah satu sekolah dasar negeri di Surabaya bagian selatan ada salah seorang siswinya yang tidak mau mengerjakan satupun soal ujian akhir nasional karna merasa sedih ayahnya mau menikah lagi dengan wanita lain dan ingin menceraikan ibunya, kasus lain mengisahkan tentang siswa sekolah dasar kelas VI diwilayah Bali yang tega memperkosa adik kandungnya sendiri kelas I sekolah dasar yang berumur 7 tahun karena melihat tayangan berita kriminal perkosaan di salah satu TV swasta lain lagi kasus yang menimpa siswa salah satu sekolah dasar negeri di kelurahan Wiyung Surabaya yang mengalami retak tulang kaki karena mempraktikan adegan di satu acara yang ditayangkan oleh salah satu TV swasta dengan teman sekelasnya (Yeni dan Nursalim, 2009: 2). Adanya berbagai kasus tersebut dan uraian sebelumnya menunjukkan bahwa di SD memerlukan pelaksanaan BK secara optimal baik dari bidang bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karir.

SD Alam Pacitan merupakan salah satu sekolah dasar yang menggunakan konsep alam sebagai sumber belajar. Berdasarkan studi pendahuluan di SD Alam Pacitan melalui hasil wawancara dengan kepala sekolah menunjukkan bahwa di SD tersebut belum ada guru kelas yang berkompetensi dalam bidang bimbingan dan konseling.

(22)

6

kurang memiliki minat belajar yang mengakibatkan siswa tersebut berperilaku mencontek pada saat ulangan dan beberapa siswa sudah mengenal pacaran. Kondisi pelaksanaan kegiatan bimbingan dan layanan di SD Alam Pacitan belum tertulis tetapi sudah terintegrasi dengan adanya buku penghubung antara guru dengan murid dan buku konsultasi yang diperuntukkan bagi guru dengan orang tua. Pelaksanaan bimbingan belajar yang telah dilaksanakan di SD Alam Pacitan berupa penambahan jam pelajaran bagi siswa kelas VI dan kelas lainnya untuk memperdalam materi.

Berdasarkan paparan di atas, peneliti menganggap penting untuk meneliti lebih lanjut mengenai pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah dasar. Hal ini dikarenakan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah dasar, guru pembimbing dihadapkan pada target semua mata pelajaran serta dihadapkan pada sejumlah karakteristik siswa yang beraneka ragam. Keanekaragaman karakteristik tersebut akan menimbulkan beberapa kemungkinan perbedaan kamampuan setiap siswa dalam menempuh kegiatan belajar. Guru pembimbing sebagai salah satu pihak yang bertanggung jawab dalam kegiatan belajar siswa di sekolah dasar harus mampu melaksanakan bimbingan dan konseling guna menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan belajar yang dihadapi siswa.

Dengan adanya permasalahan tersebut, maka peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut dengan judul “Pelaksanaan Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar Alam Pacitan”.

(23)

7

Berdasarkan latar belakang permasalahan, maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut:

1. Banyaknya kasus kenakalan yang dilakukan oleh anak sekolah dasar serta permasalahan-permasalahan yang menimpa siswa mengakibatkan terhambatnya perkembangan siswa, baik dalam akademis, pribadi maupun hubungan sosial.

2. Guru kelas mengalami kesulitan dalam menanamkan minat belajar, mengatasi masalah minat belajar dan menangani kesulitan belajar pada siswa.

3. Belum adanya guru BK di SD Alam Pacitan.

4. Terdapat siswa yang belum memiliki minat belajar sehingga berperilaku mencontek.

5. Terdapat siswa yang sudah mengenal konsep pacaran dan ada yang sudah berpacaran di sekolah dasar.

6. Guru kelas cenderung hanya mengajarkan materi sesuai dengan target kurikulum pada semua mata pelajaran, sehingga proses bimbingan dan konseling masih dijalankan dengan apa adanya dan hanya sebatas menunggu permasalahan yang muncul.

C. Pembatasan Masalah

(24)

8 D. Fokus Masalah

Dari batasan masalah yang ada dapat diambil rumusan masalah yaitu sebagai berikut:

1. Bagaimanakah pelaksanaan bimbingan dan konseling di SD Alam Pacitan? 2. Apakah faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan bimbingan dan

konseling di SD Alam Pacitan?

3. Bagaimanakah upaya yang dilakukan SD Alam Pacitan untuk meminimalisir faktor penghambat dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling?

E. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah, maka tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pelaksanaan bimbingan dan konseling di SD Alam Pacitan, faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di SD Alam Pacitan, dan upaya yang dilakukan SD Alam Pacitan untuk meminimalisir faktor penghambat dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling.

F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

(25)

9

b. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dan bahan pertimbangan pada penelitian selanjutnya.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Sekolah

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah, sehingga hasil penelitian ini dapat menjadi masukan dan evaluasi untuk proses pendidikan selanjutnya agar pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah lebih optimal.

(26)

10 BAB II KAJIAN TEORI

A. Tinjauan tentang Bimbingan dan Konseling Komprehensif

Bimbingan dan konseling komprehensif atau yang disebut dengan bimbingan dan konseling perkembangan (karena mengharap semua aspek kehidupan peserta didik) merupakan orientasi baru dalam kegiatan layanan bimbingan dan konseling yang didasari fungsi pengembangan.

1. Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif

Program bimbingan konseling komprehensif didasarkan pada 4 bidang yaitu kurikulum bimbingan, layanan responsif, perencanaan individual, dan dukungan sistem. Keempat bidang ini mengarah ke personal/social development, academic developmet, dan karier

development yang arahkanya kepada student achievement and success (Cobia & Henderson, 2009:61). Menurut Bowers & Hatch (Fathur Rahman, 2009:3) menyatakan bahwa program bimbingan dan konseling sekolah tidak hanya bersifat komprehensif dalam ruang lingkup, namun juga harus bersifat preventif dalam desain, dan bersifat pengembangan dalam tujuan (comprehensive in scope, preventative in design and developmental in nature).

(27)

11

hendak dilakukan, 2) mengidentifikasi dan mendaftar kompetensi siswa baik dari segi area isi, level sekolah atu tingkatan kelompok, 3) mengkonfirmasi kembali dukungan system, 4) menetapan prioritas dari program yang akan diberikan (desain kualitatif), 5) menetapkan parameter dan alokasi (desain kuantitatif), 6) menuliskan dan menyalurkan gambaran dari program yang diinginkan.

Model bimbingan dan konseling Komprehensif terdapat tiga unsur dan empat komponen. Tiga unsur tersebut meliputi isi dari program, kerangka yang organisatoris, dan sumber daya. Isi meliputi kemampuan siswa. Kerangka mempunyai tiga komponen struktural (definisi, asumsi, dan dasar pemikiran) dan empat komponen program (guidance curriculum, individual planning, responsive services, and system support).

Unsur Sumber daya menyertakan personil, anggaran dana, dan mengimplementasikan program. Bimbingan dan konseling komprehensif mempunyai komponen yang menyertakan aktivitas dan tanggung-jawab dari semua yang terlibat dalam program bimbingan dan konseling komprehensif (Cobia & Henderson, 2009:61).

(28)

12

Henderson (Fathur Rahman, 2009: 6) lima premis dasar yang menegaskan istilah Comprehensive school guidance and counseling adalah:

a. Tujuan Bimbingan dan konseling bersifat kompatibel dengan tujuan pendidikan. Dalam pendidikan ada standar dan kompetensi tertentu yang harus dicapai oleh peserta didik. Oleh karena itu, segala aktivitas dan proses dalam layanan bimbingan dan konseling harus diarahkan pada upaya membantu peserta didik dalam pencapaian standar kompetensi yang dimaksud.

b. Program bimbingan dan konseling bersifat pengembangan (based on developmental approach). Meskipun seorang konselor dimungkinkan untuk mengatasi problem dan kebutuhan psikologis yang bersifat krisis dan klinis, pada dasarnya fokus layanan bimbingan dan konseling lebih diarahkan pada usaha memfasilitasi pengalaman-pengalaman belajar tertentu yang membantu peserta didik untuk tumbuh, berkembang, dan menjadi pribadi yang mandiri.

(29)

13

lain. Staf personel sekolah (guru dan tenaga administrasi), orang tua dan masyarakat. Hal ini sesuai dengan pendapat Myrick (1993: 11) yang menjelaskan bahwa pendekatan bimbingan dan konseling harus lebih berorientasi kepada pengembangan siswa, yang merupakan usaha untuk mengidentifikasi keahlian dan pengalaman yang perlu dimiliki siswa agar berhasil di sekolah.

d. Program bimbingan dan konseling dikembangkan melalui serangkaian proses sistematis sejak dari perencanaan, desain, implementasi, evaluasi, dan keberlanjutan. Melalui penerapan fungsi-fungsi manajemen tersebut diharapkan kegiatan layanan bimbingan dan konseling dapat diselenggarakan secara tepat sasaran dan terukur. e. Program bimbingan dan konseling ditopang oleh kepemimpinan yang

kokoh. Faktor kepemimpinan ini diharapkan dapat menjamin akuntabilitas dan pencapaian kinerja program bimbingan dan konseling.

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui Program bimbingan konseling komprehensif didasarkan pada 4 bidang yaitu kurikulum bimbingan, layanan responsif, perencanaan individual, dan dukungan sistem.

2. Komponen Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif

(30)

14

d) dukungan sistem. Keempat komponen program tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

a. Pelayanan Dasar

Pelayanan dasar diartikan sebagai proses pemberian bantuan kepada seluruh konseli melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku jangka panjang sesuai dengan tahap dan tugas-tugas perkembangan (yang dituangkan sebagai standar kompetensi kemandirian) yang diperlukan dalam pengembangan kemampuan memilih dan mengambil keputusan dalam menjalani kehidupannya.

Pelayanan ini bertujuan untuk membantu semua konseli agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya, atau dengan kata lain membantu konseli agar mereka dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya. Untuk mencapai tujuan tersebut, fokus perilaku yang dikembangkan menyangkut aspek-aspek pribadi, sosial, belajar dan karir. Semua ini berkaitan erat dengan upaya membantu konseli dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya (sebagai standar kompetensi kemandirian) (Depdiknas, 2007: 207).

b. Pelayanan Responsif

(31)

15

pertolongan dengan segera, sebab jika tidak segera dibantu dapat menimbulkan gangguan dalam proses pencapaian tugas-tugas perkembangan. Konseling individual, konseling krisis, konsultasi dengan orang tua, guru, dan alih tangan kepada ahli lain adalah ragam bantuan yang dapat dilakukan dalam pelayanan responsif.

(32)

16 c. Perencanaan Individual

Perencanaan individual diartikan sebagai bantuan kepada peserta didik agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa depan berdasarkan pemahaman akan kelebihan dan kekurangan dirinya, serta pemahaman akan peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya. Pemahaman konseli secara mendalam dengan segala karakteristiknya, penafsiran hasil asesmen, dan penyediaan informasi yang akurat sesuai dengan peluang dan potensi yang dimiliki konseli amat diperlukan sehingga konseli mampu memilih dan mengambil keputusan yang tepat di dalam mengem-bangkan potensinya secara optimal, termasuk keberbakatan dan kebutuhan khusus konseli.

(33)

17

menjadi kebutuhan konseli untuk memahami secara khusus tentang perkembangan dirinya sendiri (Depdiknas, 2007: 209).

Dengan demikian meskipun perencanaan individual ditujukan untuk memandu seluruh konseli, pelayanan yang diberikan lebih bersifat individual karena didasarkan atas perencanaan, tujuan dan keputusan yang ditentukan oleh masing-masing konseli. Melalui pelayanan perencanaan individual, konseli diharapkan dapat: (1) mempersiapkan diri untuk mengikuti pendidikanlanjutan, merencanakan karir, dan mengembangkan kemampuan sosial- pribadi, yang didasarkan atas pengetahuan akan dirinya, informasi tentang Sekolah/Madrasah, dunia kerja, dan masyarakatnya, (b) menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya dalam rangka pencapaian tujuannya., (3) mengukur tingkat pencapaian tujuan dirinya, (4) mengambil keputusan yang merefleksikan perencanaan dirinya.

(34)

18

pengembangan konsep diri yang positif dan pengembangan keterampilan sosial yang efektif (Depdiknas, 2007: 210).

d. Dukungan Sistem

Ketiga komponen di atas, merupakan pemberian bimbingan dan konseling kepada konseli secara langsung. Menurut Gysber & Henderson (2006: 81), dukungan sistem merupakan komponen pelayanan dan kegiatan manajemen, tata kerja infra struktur (misalnya Teknologi Informasi dan Komunikasi), dan pengembangan kemampuan profesional konselor secara berkelanjutan, yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada konseli atau memfasilitasi kelancaran perkembangan konseli. Program ini memberikan dukungan kepada konselor dalam memperlancar penyelenggaraan pelayanan di atas. Sedangkan bagi personel pendidik lainnya adalah untuk memperlancar penyelenggaraan program pendidikan di sekolah/madrasah. Dukungan sistem ini meliputi aspek-aspek: (a) pengembangan jejaring (networking), (b) kegiatan manajemen, (c) riset dan pengembangan.

(35)

19

3. Strategi Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif

Strategi pelaksanaan program bimbingan dan konseling untuk masing-masing komponen pelayanan menurut Sunaryo Kartadinata(2008: 224), dapat dijelaskan sebagai berikut.

a. Pelayanan dasar

Strategi yang dapat dilakukan pada komponen pelayanan dasar meliputi:

1) Bimbingan Kelas

Program yang dirancang menuntut konselor untuk melakukan kontak langsung dengan para peserta didik di kelas. Secara terjadwal, konselor memberikan pelayanan bimbingan kepada para peserta didik. Kegiatan bimbingan kelas ini bisa berupa diskusi kelas atau brain storming (curah pendapat) (Depdiknas, 2008: 224). 2) Pelayanan Orientasi

(36)

20

bimbingan dan konseling, program ekstrakurikuler, fasilitas atau sarana prasarana, dan tata tertib Sekolah/ Madrasah (Depdiknas, 2008: 225).

3) Pelayanan Informasi

Menurut Depdiknas (2008: 225) yang dimaksud dengan pelayanan informasi yaitu pemberian informasi tentang berbagai hal yang dipandang bermanfaat bagi peserta didik melalui komunikasi langsung maupun tidak langsung (melalui media cetak maupun elektronik, seperti: buku, brosur, leaflet, majalah, dan internet).

4) Bimbingan Kelompok

Menurut Depdiknas (2008: 225) konselor memberikan pelayanan bimbingan kepada peserta didik melalui kelompok-kelompok kecil (5 s.d. 10 orang). Topik yang didiskusikan dalam bimbingan kelompok ini, adalah masalah yang bersifat umum (common problem) dan tidak rahasia, seperti: cara-cara belajar yang efektif, kiat-kiat menghadapi ujian, dan mengelola stress. 5) Pelayanan Pengumpulan Data (Aplikasi Instrumentasi)

(37)

21 b. Pelayanan responsif

1) Konseling Individual dan Kelompok

Pemberian pelayanan konseling ini ditujukan untuk membantu peserta didik yang mengalami kesulitan, mengalami hambatan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Melalui konseling, peserta didik (konseli) dibantu untuk mengidentifikasi masalah, penyebab masalah, penemuan alternatif pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan secara lebih tepat (Gysber & Henderson, 2006: 80). Konseling ini dapat dilakukan secara individual maupun kelompok.

2) Referal (Rujukan atau Alih Tangan)

Apabila konselor merasa kurang memiliki kemampuan untuk menangani masalah konseli, maka sebaiknya dia mereferal atau mengalihtangankan konseli kepada pihak lain yang lebih berwenang, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan kepolisian. Konseli yang sebaiknya direferal adalah mereka yang memiliki masalah, seperti depresi, tindak kejahatan (kriminalitas), kecanduan narkoba, dan penyakit kronis. (ASCA, 2005: 42)

3) Kolaborasi dengan Guru Mata Pelajaran atau Wali Kelas

(38)

22

masalah peserta didik, dan mengidentifikasi aspek-aspek bimbingan yang dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran.

Aspek-aspek itu diantaranya: (a) menciptakan iklim sosio-emosional kelas yang kondusif bagi belajar peserta didik; (b) memahami karakteristik peserta didik yang unik dan beragam; (c) menandai peserta didik yang diduga bermasalah; (d) membantu peserta didik yang mengalami kesulitan belajar melalui program remedial teaching; (e) mereferal (mengalihtangankan) peserta didik yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling kepada guru pembimbing; (f) memberikan informasi yang up to date tentang kaitan mata pelajaran dengan bidang kerja yang diminati peserta didik; (g) memahami perkembangan dunia industri atau perusahaan, sehingga dapat memberikan informasi yang luas kepada peserta didik; tentang dunia kerja (tuntutan keahlian kerja, suasana kerja, persyaratan kerja, dan prospek kerja); (h) menampilkan pribadi yang matang, baik dalam aspek emosional, sosial, maupun moral-spiritual (hal ini penting, karena guru merupakan "figur central" bagi peserta didik); dan (i) memberikan informasi tentang cara-cara mempelajari mata pelajaran yang diberikannya secara efektif.

4) Kolaborasi dengan Orang tua

(39)

23

terhadap peserta didik tidak hanya berlangsung di sekolah/madrasah, tetapijuga oleh orang tua di rumah. Melalui kerjasama ini memungkinkan terjadinya saling memberikan informasi, pengertian, dan tukar pikiran antar konselor dan orang tua dalam upaya mengembangkan potensi peserta didik atau memecahkan masalah yang mungkin dihadapi peserta didik.

Untuk melakukan kerjasama dengan orang tua ini, dapat dilakukan beberapa upaya, seperti: (a) kepala sekolah/ madrasah atau komite sekolah/madrasah mengundang para orangtua untuk datang ke sekolah/madrasah (minimal satu semester satu kali), yang pelaksanaannya dapat bersamaan dengan pembagian rapor, (b) sekolah/madrasah memberikan informasi kepada orangtua (melalui surat) tentang kemajuan belajar atau masalah peserta didik, dan (c) orang tua diminta untuk melaporkan keadaan anaknya di rumah ke sekolah/madrasah, terutama menyangkut kegiatan belajar dan perilaku sehari-harinya.

(40)

24

ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia), (d) para ahli dalam bidang tertentu yang terkait, seperti psikolog, psikiater, dan dokter, (e) MGP Musyawarah Guru Pembining), dan (f) Depnaker (dalam rangka analisis bursa kerja/lapangan pekerjaan).

6) Konsultasi

Konselor menerima pelayanan konsultasi bagi guru, orang tua, atau pihak pimpinan sekolah/madrasah yang terkait dengan upaya membangun kesamaan persepsi dalam memberikan bimbingan kepada para peserta didik, menciptakan lingkungan sekolah/madrasah yang kondusif bagi perkembangan peserta didik, melakukan referal, dan meningkatkan kualitas program bimbingan dan konseling. (Gysber & Henderson, 2006:80).

7) Bimbingan Teman Sebaya (Peer Guidance/Peer Facilitation)

(41)

25

memberikan informasi tentang kondisi, perkembangan, atau masalah peserta didik yang perlu mendapat pelayanan bantuan bimbingan atau konseling.

8) Konferensi Kasus

Yaitu kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik itu. Pertemuan konferensi kasus ini bersifat terbatas dan tertutup.

9) Kunjungan Rumah

Yaitu kegiatan untuk memperoleh data atau keterangan tentang peserta didik tertentu yang sedang ditangani, dalam upaya mengentaskan masalahnya, melalui kunjungan ke rumahnya.

c. Perencanaan individual

(42)

26

Pelayanan perencanaan individual ini dapat dilakukan juga melalui pelayanan penempatan (perpindahan situasi dari sekolah ke lapanagan kerja, sekolah ke jenjang berikutnya, atau pindah ke sekolah lain), untuk membantu peserta didik menempati posisi yang sesuai dengan bakat dan minatnya. (ASCA, 2005: 41).

Konseli menggunakan informasi tentang pribadi, sosial, pendidikan dan karir yang diperolehnya untuk (a) merumuskan tujuan, dan merencanakan kegiatan (alternatif kegiatan) yang menunjang pengembangan dirinya, atau kegiatan yang berfungsi untuk memperbaiki kelemahan dirinya; (b) melakukan kegiatan yang sesuai dengan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan, dan (c) mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukannya.

d. Dukungan sistem

1) Pengembangan Profesi

(43)

27 2) Manajemen Program

Program pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin akan tercipta, terselenggara, dan tercapai bila tidak memiliki suatu system manajemen yang bermutu, dalam arti dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah. Oleh karena itu, bimbingan dan konseling harus ditempatkan sebagai bagian terpadu dari seluruh program sekolah/madrasah dengan dukungan wajar dalam aspek ketersediaan sumber daya manusia (konselor), maupun sarana, dan pembiayaan.

3) Riset dan Pengembangan

Strategi: melakukan penelitian, mengikuti kegiatan profesi dan mengikuti aktifitas peningkatan profesi serta kegiatan pada organisasi profesi. (ASCA, 2005: 43).

(44)

28

kasus, kunjungan rumah, pengembangan profesi, manajemen program, dan riset dan pengembangan.

B. Program Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar (SD) 1. Pengertian Program Bimbingan Konseling di SD

Pengertian program bimbingan dan konseling menurut Winkel (2004: 36) adalah suatu rangkaian kegiatan bimbingan yang terencana dan terorganisasi dan terkoordinasi selama periode waktu tertentu.” Berdasarkan pendapat Marsudi (2003: 43) program bimbingan dan konseling adalah sederet kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan bimbinganmdan konseling. Sederet kegiatan tersebut perlu di rencanakan sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah. Sementara dalam Depdikbud (2004:19) program bimbingan dan konseling merupakan rencana kegiatan layanan dan kegiatan pendukung yang akan dilaksanakan pada periode tertentu.

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa program bimbingan dan konseling adalah suatu kegiatan pelayanan bantuan kepada peserta didik atau siswa disekolah oleh guru BK atau konselor SD secara terencana, terorganisir dan terkoordinasi yang dilaksanakan pada periode tertentu, secara teratur dan berkesinambungan.

2. Tujuan Program Bimbingan Konseling di SD

(45)

29

memilih dan menyesuaiakan diri dengan kesempatan pendidikan dan merencanakan karier yang sesuai dengan tuntutan kerja. Sedangkan secara khusus layanan bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu siswa agar dapat mencapai tujuan-tujuan perkembangan meliputi aspek pribadi-sosial, belajar, dan karier (Achmad Juntika Nurihsan, 2005: 27).

(46)

30

keterampilan, kemampuan, & minat dalam dirinya (Zainal Aqib, 2007: 36).

3. Program Bimbingan Konseling di SD

Dalam SK Menpan No. 84/1993 ditegaskan bahwa tugas pokok guru pembimbing adalah menyusun program bimbingan, melaksanakan program, dan mengevaluasi pelaksanaan bimbingan, menganalisa hasil pelaksanaan bimbingan dan tindak lanjut program bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggungjawabnya. Menurut Juntika Nurikhsan dan Sudianto (2005: 35), program pelaksanaan bimbingan konseling meliputi:

a. Perencanaan

Perencanaan bimbingan konseling di sekolah dasar meliputi persiapan

sarana dan prasarana, persiapan personil, persiapan keterampilan menerapkan metode, teknik, media, serta persiapan administratif. b. Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan meliputi penerapan metode, teknik, media, pemanfaatan sumber daya, pengaktifan nara sumber, efisiensi waktu, dan administrasi pelaksana. Mekanisme kerja administrasi bimbingan dan konseling di sekolah yaitu:

1) Pada permulaan memasuki sekolah dilakukan pencatatan data pribadi siswa dengan menyebarkan angket.

(47)

31

3) Dari hasil laporan observasi yang telah dibuat oleh guru kelas kemudian dimasukkan dalam buku pribadi siswa oleh petugas administrasi bimbingan.

4) Hasil sosiometri yang berupa sosiogram yang telah diselenggarakan oleh guru kelas dimasukkan ke dalam buku pribadi siswa sebagai bahan studi kasus.

5) Hasil wawacara, daftar presensi, daftar nilai raport yang diselanggarakan oleh guru kelas dimasukkan ke dalam kartu pribadi siswa.

6) Hasil kunjungan rumah yang dipakai sebagai bahan di dalam rapat-rapat dengan kepala sekolah, hasil laporan kunjungan rumah yang telah dibuat oleh guru kelas dihimpun dalam catatan kasus pribadi. 7) Hasil pemeriksaaan dari petugas khusus/tenaga ahli misalnya

psikolog dimasukkan ke dalam buku pribadi siswa dan disampaikan kepada kepaa sekolah.

8) laporan harian, mingguan, bulanan, semesteran dan tahunan seperti kegiatan konseling perorangan, bimbingan kelompok, konseling kelompok, konferensi kasus, kunjungan rumah dan lain sebagainya dilaporkan kepada kepala sekolah untuk diperiksa dan dilaporkan kepada pengawas bimbingan dan konseling sekolah.

(48)

32 c. Evaluasi

Penilaian program kegiatan bimbingan meliputi penilaian proses dan hasil. Aspek yang dinilai baik proses maupun hasil antara lain:

1) kesesuaian program dengan pelaksanaan 2) pelaksanaan program

3) hambatan-hambatan yang dijumpai

4) dampak layanan bimbingan terhadap kegiatan belajar mengajar 5) respon siswa, personil sekolah, orang tua dan masyarakat terhadap

layanan bimbingan

6) perubahan kemajuan siswa dilihat dari pencapaian tujuan layanan bimbingan, tugas perkembangan, hasil belajar dan keberhasilan siswa setelah menamatkan sekolah baik dalam studi lanjutan atau dalam kehidupan di masyarakat.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan program bimbingan dan konseling di SD terdiri dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

(49)

33

jawab, pelajar kreatif dan pekerja produktif. Lebih lanjut dijelaskan bahwa tujaun umum bimbingan dan konseling di SD adalah untuk membantu siswa agar dapat mencapai tugas-tugas perkenbangan yang meliputi belajar, pribadi-sosial, dan karir, sedangkan tujuan khusus adalah sebagai berikut:

1) Aspek perkembangan belajar membantu siswa agar: a) Mengembangkan keterampilan dasar;

b) Dapat melaksanakan keterampilan fisik sederhana yang diperlukan dalam teknik belajar secara efektif;

c) Mampu belajar secara efektif;

d) Dapat menetapkan tujuan dan rencana belajar;

e) Dapat mencapai prestasi belahar secara optimal sesuai bakat dan kemampuannya;

f) Memiliki keterampilan dan kesiapan untuk menghadapi ulangan atau evaluasi belajar.

2) Aspek perkembangan pribadi-sosial membantu siswa agar:

a) Memiliki pemahaman diri, yaitu menggambarkan penampilan dan mengenal keunikan yang ada pada dirinya;

b) Menanamkan dan mengembangkan kebiasaan dan sikap dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME;

(50)

34

d) Mampu menjadi pribadi yang mandiri, memiliki rasa tanggung jawab;

e) Mengembangkan keterampilan huungan antar pribadi; f) Dapat menyelesaikan konflik;

g) Dapat membuat keputusan dengan baik. 3) Aspek perkembangan karir membantu agar:

a) Mengenal macam-macam pilihan kelanjutan studi ke jenjang berikutnya;

b) Menentukan cita-cita dan merencanakan masa depan; c) Mengeksplorasi arah minat karir.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa layanan bimbingan dan konseling di SD dapat berupa bimbingan belajar,

bimbingan pribadi, bimbingan sosial dan bimbingan karir.

4. Personil Pelaksana Pelayanan Bimbingan dan Konseling di SD

Personel pelaksana pelayanan bimbingan dan konseling di SD adalah segenap unsur yang terkait dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah dengan guru kelas sebagai pelaksana utamanya, personel pelaksana pelayanan bimbingan dan konseling di SD diantaranya kepala sekolah, guru kelas, guru agama dan penjaskes, dan guru pembimbing (Anonim, 1995:92).

(51)

35

kelas/guru pembimbing dan guru mata pelajaran. Kepala sekolah bertanggungjawab atas segala kegiatan yang berlangsung di sekolah yakni mengkoordinir semua kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di sekolah, menyediakan sarana dan prasarana, melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan program, mempertangunggjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling di SD. Untuk guru kelas selain melaksanakan program pengajaran, guru kelas langsung merangkap sebagai guru pembimbing yang melaksanakan kegiatan BK diantaranya merencanakan dan melaksanakan program satuan layanan dan kegiatan pendukung BK, mengalihtangakan siswa yang memerlukan bantuan lebih lanjut kepada pihak yang lebih ahli dan mempertangungjawabkan tugas dan kegiatan dalam pelayanan BK kepada kepala sekolah.

(52)

sekolah-36

sekolah yang terdekat dapat menjadi tempat alih tangan bagi siswa SD (Anonim, 1995:93).

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa personel pelaksanaan program bimbingan dan konseling di SD yaitu kepala sekolah, guru kelas, guru pembimbing dan guru mata pelajaran khususnya guru agama dan penjaskes.

C. Karakteristik Siswa

Siswa sebagai peserta didik siswa sekaligus subjek didik merupakan pribadi-pribadi yang unik dengan segala karakteristiknya. Dalam keragaman karakteristik siswa tersebut dapat memberikan pengaruh pada proses pembelajaran. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Seels dan Richey (Budiningsih, 2004: 16) bahwa karakteristik siswa merupakan bagian-bagian

pengalaman siswa yang berpengaruh pada keefektifan proses belajar.

Menurut Sardiman (2007: 120), hal-hal yang perlu diperhatikan dalam karaktersitik siswa yaitu:

1. Karakteristik yang berkenaan dengan kemampuan awal (prerequisite skills) seperti kemampuan intelektual, kemampuan berpikir, mengucapkan hal-hal yang berkaitan dengan psikomotor.

2. Karakteristik yang berhubungan dengan latar belakang dan status sosial (socialcultural).

(53)

37

Selanjutnya Sardiman (2007: 121) juga mengemukakan bahwa karakteristik siswa yang dapat mempengaruhi kegiatan belajar siswa antara lain:

1. Latar belakang pengetahuan dan taraf pengetahuan 2. Gaya belajar

3. Usia kronologis 4. Tingkat kematangan

5. Spektrum dan ruang lingkup minat 6. Lingkungan sosial ekonomi

7. Hambatan lingkungan dan kebudayaan 8. Intelengensia

9. Keselarasan dan attitude 10. Prestasi belajar

11. Motivasi.

Dengan demikian, siswa sebagai individu yang dinamik dan berada dalam proses perkembangan memiliki kebutuhan dan dinamika dalam interaksi dengan lingkungannya. Sebagai pribadi yang unik terdapat perbedaan karakteristik individual antara siswa yang satu dengan yang lain.

D. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan uraian sebelumnya, maka dapat diajukan pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimanakah profil guru pembimbing di SD Alam Pacitan?

2. Bagaimanakah pelaksanaan bimbingan dan konseling di SD Alam Pacitan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi?

(54)

38

(55)

39 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kualitatif jenis survey. Menurut Kerlinger (1973) mengemukakan bahwa, penelitian survey adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan-hubungan antar variabel sosiologis maupun psikologis. Penelitian ini dibatasi oleh waktu dan tempat, dan kasus yang dipelajari berupa program, peristiwa, aktivitas, atau individu. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor seperti dikutip Lexy J. Moleong (2012: 4), metode kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

Sehubungan dengan hal tersebut, penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui pelaksanaan bimbingan dan konseling di SD Alam Pacitan.

B. Tempat dan waktu penelitian

(56)

40 C. Subjek Penelitian

Penentuan subjek penelitian dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive. Teknik purposive adalah pemilihan subjek penelitian berdasarkan pertimbangan, kriteria atau ciri-ciri tertentu yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian (Lexy Moleong, 2001:165).

Subjek sasaran dalam penelitian ini pengelola, kepala sekolah dan guru kelas di SD Alam Pacitan. Pemilihan subjek penelitian ini untuk mendapatkan sebanyak mungkin informasi dari berbagai macam sumber, sehingga data yang diperoleh dapat diakui kebenarannya. Subjek penelitian ini dipilih berdasarkan kriteria antara lain:

1. Pengelola

a. Mengetahui segala kegiatan yang berlangsung di SD Alam Pacitan. b. Mengetahui program BK di SD Alam Pacitan.

2. Kepala Sekolah

a. Memiliki masa kerja minimal 3 (tiga) tahun di SD Alam Pacitan. b. Mengetahui pelaksanaan program BK di SD Alam Pacitan. 3. Guru Kelas

a. Guru kelas harus benar-benar memahami dan mengerti mengenai program BK di SD Alam Pacitan.

b. Guru kelas memiliki pengetahuan, informasi dan atau pengalaman mengenai pelaksanaan program BK di SD Alam Pacitan.

(57)

41

d. Mempunyai waktu yang memadai untuk dimintai informasi.

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi.

1. Observasi

Dalam penelitian ini menggunakan observasi karena ingin memperoleh informasi dengan melihat secara langsung berkaitan dengan topik penelitian. Hal-hal yang di observasi dalam penelitian ini adalah lokasi penelitian dan pelaksanaan bimbingan dan konseling. Untuk memaksimalkan hasil observasi, menggunakan alat bantu yang sesuai dengan kondisi lapangan, di antara alat bantu tersebut meliputi buku catatan yang berisi objek yang perlu mendapat perhatian lebih dalam pengamatan, serta kamera untuk mengambil gambar objek yang diperlukan.

2. Wawancara

(58)

42

diperlukan untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan. Pada teknik ini, peneliti datang berhadapan muka secara langsung dengan responden atau subjek yang diteliti, kemudian peneliti menanyakan sesuatu yang telah direncanakan dalam pedoman wawancara kepada responden.

3. Dokumentasi

Dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara mengadakan pencatatan atau pengutipan data dari dokumen yang ada di lokasi penelitian. Dokumentasi dimaksudkan untuk melengkapi data dari wawancara dan observasi yang meliputi struktur organisasi, data keadaan siswa, guru pendidik, data peserta didik, dokumen pelaksanaan bimbingan dan konseling di SD Alam Pacitan, dan jadwal kegiatan serta sarana prasarana pembelajaran di SD Alam Pacitan.

E. Instrumen Penelitian

Menurut Suharsimi Arikunto (2002: 135), instrumen penelitian adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan dalam kegiatannya mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya. Agar data yang diperoleh akurat maka diperlukan alat pengukur yang tepat. Instrumen yang digunakan untuk pengambilan data dalam penelitian ini antara lain:

1. Observasi

(59)

43

[image:59.612.143.497.155.369.2]

mengamati seluruh proses aktivitas layanan bimbingan dan konseling di SD Alam Pacitan. Kisi-kisi dalam observasi penelitian ini sebagai berikut:

Tabel 1. Kisi-kisi Pedoman Observasi Program Bimbingan Konseling

No Indikator Sub Indikator

1 Ruang (tempat)/ dan fasilitas a. Sarana dan prasarana yang digunakan dalam layanan bimbingan konseling.

b. Lokasi dan keadaan tempat penelitian

2 Aktor (pelaku) a. Guru dalam memberikan layanan bimbingan konseling b. Siswa dalam mengikuti layanan

bimbingan konseling

3 Aktivitas (Kegiatan) Layanan bimbingan konseling mulai perencanaan, pelaksanaan

dan evaluasi.

Untuk memaksimalkan hasil observasi, peneliti menggunakan alat bantu yang sesuai dengan kondisi lapangan, di antara alat bantu tersebut meliputi buku catatan check list yang berisi objek yang perlu mendapat perhatian lebih dalam pengamatan, serta kamera untuk mengambil gambar objek yang diperlukan (Dewa Ketut Sukardi: 2007: 78).

2. Wawancara

(60)

44

digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara tak berstruktur yang dilaksanakan menggunakan petunjuk umum wawancara (pedoman wawancara) yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan. Teknik wawancara tak berstruktur maksudnya ialah pedoman wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan (Suharsimi Arikunto, 2006: 227). Tujuan diadakan wawancara adalah untuk mengecek ulang atas dokumentasi yang ada.

[image:60.612.160.521.493.679.2]

Pada teknik ini, peneliti datang berhadapan muka secara langsung dengan responden atau subjek yang diteliti, kemudian peneliti menanyakan sesuatu yang telah direncanakan dalam pedoman wawancara kepada responden. Hasilnya dicatat sebagai informasi penting dalam penelitian. Pada wawancara ini dimungkinkan peneliti dan responden melakukan tanya jawab secara interaktif maupun secara sepihak saja (Dewa Ketut Sukardi: 2007: 79). Untuk kisi-kisi wawancara program bimbingan konseling dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 2. Kisi-kisi Pedoman Wawancara Program Bimbingan Konseling

No Indikator Sub Indikator

1 Perencanaan a. Persiapan sarana dan prasarana b. Persiapan personil

c. Persiapan metode/teknik d. Persiapan media

e. Persiapan administratif (program, dll) 2 Pelaksanaan a. Penerapan program BK

b. Penerapan metode/teknik/media c. Pemanfaatan sumber daya

3 Evaluasi a. Kesesuaian program dengan pelaksanaan b. Dampak layanan bimbingan terhadap KBM c. Respon siswa dan orang tua terhadap layanan

(61)

45 4 Faktor

pendukung dan penghambat

a. Sarana b. SDM c. Prasarana

d. Dukungan sistem

e. Riset dan pengembangan

3. Dokumentasi

[image:61.612.157.522.79.146.2]

Teknik dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda dan sebagainya (Suharsimi Arikunto, 2006: 231). Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di SD Alam Pacitan. Pada teknik ini, peneliti mencari informasi dari berbagai macam sumber tertulis atau dokumen yang ada pada responden atau tempat dimana responden melakukan kegiatan layanan bimbingan belajar.

Tabel 3. Dokumentasi Program Bimbingan Konseling

No Indikator Sub Indikator

1 Profil Sekolah a. Sejarah berdirinya b. Visi, misi dan tujuan c. Struktur organisasi

d. Keadaan pendidik (Jumlah, tingkat pendidikan pendidik, pelatihan, pengalaman)

e. Keadaan peserta didik

2 Kurikulum Sekolah Kurikulum Program Bimbingan Konseling

3 Laporan Program Bimbingan

Konseling a. Laporan harian/mingguan kegiatan bimbingan dan konseling

b. Laporan bulanan kegiatan bimbingan dan konseling c. Laporan semesteran kegiatan

(62)

46

bimbingan dan konseling e. Catatan kejadian siswa/ catatan

kasus pribadi

f. Laporan kunjungan rumah

F. Sumber Data

Adapun sumber data dan jenis data yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu:

1. Data Primer

Sumber data utama adalah sumber data yang diperoleh peneliti melalui observasi dan wawancara. Adapun sumber data yang diperoleh dari wawancara yaitu:

a) Pengelola SD Alam Pacitan b) Kepala sekolah SD Alam Pacitan c) Pendidik SD Alam Pacitan

Sedangkan sumber data yang diperoleh melalui observasi meliputi: a) Lokasi penelitian yakni SD Alam Pacitan

b) Pelaksanaan bimbingan dan konseling. 2. Data Sekunder

Sumber data yang berada di luar kata-kata dan tindakan yang disebut dengan sumber data tertulis. Sumber data ini diperoleh dari dokumentasi dan beberapa arsip di TK Negeri Pembina Yogyakarta meliputi;

(63)

47

d) Sarana dan prasarana SD Alam Pacitan e) Data pendidik SD Alam Pacitan f) Data peserta didik SD Alam Pacitan

g) Pelaksanaan bimbingan dan konseling di SD Alam Pacitan

G. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diimplementasikan. Analisis data dilakukan dengan tujuan agar informasi yang dihimpun akan menjadi jelas dan eksplisit. Sesuai dengan tujuan penelitian maka teknik analisis data yang dipakai untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif model interaktif sebagaimana diajukan oleh Miles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2012: 246) yaitu sebagai berikut:

1. Data Collection (Pengumpulan Data)

(64)

48 2. Data Reduction (Reduksi Data)

Reduksi data merupakan proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan dan abstraksi. Cara mereduksi data adalah dengan melakukan seleksi, membuat ringkasan atau uraian singkat, menggolong-golongkan ke dalam pola-pola dengan membuat transkip penelitian untuk mempertegas, memperpendek membuat fokus, membuang bagian yang tidak penting dan mengatur agar dapat ditarik kesimpulan.

3. Data Display (Penyajian Data)

Penyajian data yaitu sekumpulan informasi tersusun sehingga memberikan kemungkinan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Agar sajian data tidak menyimpang dari pokok permasalahan maka sajian data dapat diwujudkan dalam bentuk matriks, grafis, jaringan atau bagan sebagai wadah panduan informasi tentang apa yang terjadi. Data disajikan sesuai dengan apa yang diteliti.

4. Conclusions/Verifying (Penarikan Kesimpulan)

(65)

49

[image:65.612.151.506.182.353.2]

Untuk lebih memperdalam dalam teknik analisis data, akan ditampilkan mekanisme interaktif model Miles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2012: 246) sebagai berikut:

Gambar 1. Analisis kualitatif model interaktif (Sugiyono, 2012: 246)

H. Teknik Keabsahan Data

Teknik pemeriksaan keabsahan data digunakan untuk mengecek kebenaran data yang dihasilkan oleh peneliti sehingga diperoleh data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. Teknik pemeriksaan keabsahan yang digunakan peneliti yaitu triangulasi, perpanjangan pengamatan dan peningkatan ketekunan. Penjelasannya sebagai berikut: 1. Triangulasi

Triangulasi yaitu membandingkan data yang diperoleh dalam wawancara dengan data observasi, artinya adalah membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi,

Data Collection Data Display

Data Reduction Conclusions/

(66)

50

membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu, membandingkan hasil wawancara dengan isi dokumen yang berkaitan. Penelitian ini menggunakan triangulasi teknik dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.

2. Perpanjangan pengamatan

Maksud perpanjangan pengamatan dalam penelitian ini yaitu peneliti kembali ke lapangan melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan sumber data yang pernah ditemui maupun yang baru. Dengan perpanjangan pengamatan, hubungan peneliti dengan nara sumber akan semakin terbentuk rapport, semakin akrab (tidak ada jarak lagi), semakin terbuka, saling mempercayai sehingga tidak ada informasi yang disembunyikan lagi. Bila terbentuk rapport, maka telah terjadi kewajaran dalam penelitian, dimana kehadiran peneliti tidak lagi mengganggu perilaku yang dipelajari.

3. Peningkatan ketekunan.

(67)

51 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.Hasil Penelitian

1. Deskripsi Seting Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SD Alam Pacitan yang beralamat di jalan Brawijaya (Belakang Kodim 0801) Balong Sidoharjo Pacitan. SD Alam Pacitan merupakan sekolah yang memiliki konsep yang berbeda dengan sekolah-sekolah formal lainnya, seperti: siswa diberi kebebasan dalam berseragam, sekolahnya bergabung dengan masyarakat dilingkungan sekitar dan kegiatan-kegiatan belajarnya tidak hanya di dalam kelas, tetapi belajar langsung ke masyarakat.

a. Visi, Misi dan Tujuan SD Alam Pacitan

Berdasarkan dokumentasi, SD Alam Pacitan memiliki visi yaitu “Menjadi sekolah terdepan dan terpercaya dalam penerapan pembelajaran terintegrasi, berbasis alam, potensi lokal dan berbudaya lingkungan hidup”. Untuk mencapai visi sekolah sebagai sekolah terdepan, terbaik dan terpercaya perlu dilakukan suatu misi berupa kegiatan jangka panjang dengan arah yang jelas dan sistematis. Berikut misi SD Alam Pacitan yang dirumuskan berdasarkan visi sekolah.

(68)

52

2) Menyiapkan generasi pemimpin berkarakter yang aktif, kreatif, inovatif, berprestasi dan peduli lingkungan.

3) Melaksanakan pembelajaran yang efektif, efisien, inovatif berwawasan lingkungan dengan memanfaatkan alam sebagai media pembelajaran 4) Membangun komunitas pembelajaran

5) Melaksanakan kegiatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dalam upaya pelestarian lingkungan, pencegahan pencemaran dan kerusakan lingkungan

6) Menyediakan sarana dan prasarana yang representative serta ramah lingkungan dalam kegiatan belajar siswa untuk mendukung pengembangan potensi peserta didik agar berkembang secara optimal.

Tujuan sekolah dijabarkan berdasarkan tujuan umum pendidikan, visi, misi sekolah. Berdasarkan ketiga hal tersebut, dapat dijabarkan tujuan sekolah SD Alam Pacitan sebagai berikut:

1) Terdepan, terbaik dan terpercaya dalam hal membangun generasi yang berpengetahuan, cerdas, cendikia, berbudi pekerti yang luhur dan berakhlak mulia.

2) Terdepan, terbaik, dan terpercaya dalam menyiapkan generasi pemimpin berkarakter yang aktif, kreatif, inovatif, berprestasi dan perduli lingkungan.

3) Terdepan, terbaik, dan terpercaya dalam pengembangan potensi, kecerdasan, dan minat.

4) Terdepan, terbaik dan terpercaya dalam menanamkan disiplin, kemandirian, etos kerja, kreatif dan demokrasi.

5) Terdepan, terbaik, dan terpercaya dalam menghasilkan prestasi dan kelulusan berkualitas tinggi yang peduli dengan lingkungan hidup. 6) Terdepan, terbaik dan terpercaya dalam melaksanakan pembelajaran

yang efektif, efisien, inovatif berwawasan lingkungan dengan memanfaatkan alam sebagai media pembelajaran

7) Terdepan, terbaik dan terpercaya dalam kegiatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dalam upaya pelestarian lingkungan, pencegahan pencemaran dan kerusakan lingkungan

8) Terdepan, terbaik dan terpercaya dalam berbagai kompetisi akademik dan non akademik.

9) Terdepan, terbaik dan terpercaya dalam penyediaan sarana dan prasarana yang representative serta ramah lingkungan dalam kegiatan belajar siswa untuk mendukung pengembangan potensi peserta didik agar berkembang secara optimal.

10) Terdepan, terbaik dan terpercaya dalam mewujudkan sekolah yang bersih dan hijau

(69)

53

12) Terdepan, terbaik dan terpercaya dalam persaingan secara global. 13) Terdepan, terbaik dan terpercaya dalam pelayanan (Sumber: Buku

Profil SD Alam Pacitan, 2013).

b. Kesiswaan SD Alam Pacitan

Penerimaan siswa baru di SD Alam Pacitan didasarkan pada kriteria atau syarat-syarat tertentu yaitu:

1) Umur minimal 6 tahun, apabila dibawah 6 tahun maka harus menandatangani surat perjanjian dan melampirkan surat keterangan dari Psikolog

2) Menyerahkan fotocopy Akte Kelahiran dan Kartu Keluarga sebanyak 2 lembar

3) Menyerahkan foto 3 x 4 sebanyak 3 lembar

4) Mengisi blangko identitas dan riwayat kesehatan siswa 5) Mengisi surat perjanjian antara orang tua dan sekolah 6) Membayar biaya pendaftaran

(Sumber: Buku PSB SD Alam Pacitan, 2013)

Daya tampung siswa SD Alam Pacitan tiap kelas sebanyak 20 anak. Apabila calon peserta didik yang mendaftar melebihi kapasitas daya

tampung sekolah, maka SD Alam Pacitan memberlakukan system seleksi atau tes masuk. Adapun seleksi/tes masuk yang dilaksanakan meliputi tes kematangan/ kesiapan siswa masuk SD. Selain itu, SD Alam Pacitan menerima siswa berkebutuhan khusus (ADHD) dengan syarat orang tua menyediakan guru pendamping (shadow teacher). SD Alam Pacitan menerima siswa mutasi dari sekolah lain terbatas pada kelas 1 – 4, dengan memperhatikan jumlah siswa dalam kelasnya.

Saat ini SD Alam Pacitan memiliki program pembinaan siswa, yaitu :

(70)

54

tari tradisional dan moderen, karawitan, Baca tulis Al Qur’an, musik tradisional dan kontemporer, ensambel musik.

2) Pembinaan keteladanan dan leadership melalui outing, outbond, adventure, greencamp, fieldtrip.

3) Pembinaan/penanganan anak dilakukan dengan pedekatan home visit dan komunikasi antar guru dan orang tua siswa.

4) Pembinaan, penanganan dan pendampingan siswa berkebutuhan khusus (ADHD) dilakukan melalui guru pendamping (shadow teacher).

(Sumber: Buku Pembinaan SD Alam Pacitan, 2013)

c. Tenaga Pendidik SD Alam Pacitan

Berdasarkan dokumentasi, tenaga pendidik di SD Alam Pacitan sebanyak 14 orang yang terdiri dari: satu kepala sekolah, enam guru kelas, dan 4 guru spesialis. Dari ke 14 guru tersebut 100 % memiliki kualifikasi pendidikan Sarjana (S-1) dan mampu mengoperasikan komputer. Agar mampu melaksanakan pembelajaran berbahasa Inggris, maka guru-guru diwajibkan mengikuti pelatihan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi (conversation). Kepala sekolah telah menempuh pelatihan kepala sekolah

dari pelatihan kepala sekolah yang diakui oleh pemerintah. Kepala sekolah memiliki visi internasional, memiliki kompetensi managerial, serta jiwa kepemimpinan dan entrepreneur yang kuat.

d. Tenaga Kependidikan

(71)

55

e. Sarana dan Prasarana Kesiswaan SD Alam Pacitan

SD Alam Pacitan menempati tanah seluas 1030 m2 yang terletak di Jalan Brawijaya Belakang Kodim 0801 Balong Sidoharjo Pacitan. Lahan tersebut terdiri dari :

1) Ruang kepala sekolah : 1 2) Ruang guru dan UKS : 1 3) Ruang administrasi : 1

4) Ruang Kelas : 6

5) Ruang AV dan computer : 1 6) Ruang pertemuan : 1

7) Ruang seni : 1

8) Ruang music : 1

9) Ruang dapur : 1

10) Ruang Gudang : 1

11) Ruang Alat : 1

12) Halaman sekolah/ruang hijau : 3

13) Masjid : 1

(72)

56

Beberapa ruangan yang belum dimiliki oleh SD Alam Pacitan antara lain Perpustakaan, laboratorium IPA, ruang administrasi dan UKS yang memadai, serta ruang multimedia dan komputer yang lengkap.

f. Penggunaan Bahasa Inggris dalam Kegiatan Belajar Mengajar

Berdasarkan observasi di SD Alam Pacitan, mulai dari kelas satu semua mapel menggunakan bahasa pengantar pendamping yaitu bahasa Inggris yang meliputi :

1) Classroom English atau bahasa Inggris untuk tujuan pengelolaan kelas seperti menyapa siswa, mengabsen, mengecek kesiapan siswa, meminta siswa untuk tidak ramai, menyuruh siswa untuk mengerjakan sesuatu, dll.

2) English for the main lesson atau bahasa Inggris untuk tujuan mengelola materi ajar sehingga terjadi pembelajaran di kelas, seperti mendiskripsikan, menerangkan dan mendiskusikan konsep.

(73)

57

Sekolah melaksanakan kegiatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dalam proses belajar mengajar sebagai upaya untuk meningkatkan kepedulian siswa, guru dan masyarakat dalam melestarikan, mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan. Penerapan strategi PBM antara lain: student centered, reflective learning, active learning, enjoyable and joyful learning, nature learning, cooperative learning,

quantum learning, learning revolution, dan contextual learning.

g. Program Kerja SD Alam Pacitan

Program kerja SD Alam Pacitan meliputi program kerja jangka pendek, program kerja jangka menengah dan program kerja jangka panjang.

1) Program Kerja Jangka Pendek

a) Peningkatan mutu guru melalui pelatihan, seminar, workshop dan study banding

b) Peningkatan Sarana Prasarana sekolah yang menunjang

c) Pengenalan siswa dalam pembelajaran IT dan Bhs Inggris, Budaya, etika hidup bermasyarakat

d) Sosialisasi kepada siswa, guru, orang tua, dan masyarakat tentang pelestarian lingkungan, pencegahan pencemaran dan pencegahan kerusakan lingkungan.

e) Peningkatan kompetensi siswa melalui olimpiade sains Kuark, Olimpiade MIPA, siswa berprestasi, kejuaraan olah raga, seni budaya, lingkungan dan agama.

f) Peningkatan karakter anak melalui kegiatan life skill, outing, adventure, green camp,out bound, enterprenuership (kewirausahaan) g) Ikut serta dalam lomba sekolah di bidang Adiwiyata, 3R dan KMDM h) Tingkat kelulusan anak 100%.

i) Kegiatan advokasi lingkungan kepada masyarakat luas.

2) Program Kerja Jangka Menengah

(74)

58

b) Pembinaan bakat dan minat siswa ditangani oleh tenaga ahli dibidangnya

c) Pembinaan dan penanganan siswa dengan masalah khusus ditangani oleh ahlinya

d) Penggunaan Bahasa Inggris secara aktif bagi tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan.

e) Peningkatan mutu guru melalui pelatihan, study banding,workshop f) Peningkatan leardership para guru.

g) Mengoptimalkan web dan blog sekolah.

h) Penambahan fasilitas berupa ruang perpustakaan. i)

Gambar

Tabel 1. Kisi-kisi Pedoman Observasi Program Bimbingan Konseling
Tabel 2. Kisi-kisi Pedoman Wawancara Program Bimbingan Konseling
Tabel 3. Dokumentasi Program Bimbingan Konseling
Gambar 1. Analisis kualitatif model interaktif (Sugiyono, 2012: 246)
+2

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mewujudkan integralistik bimbinga n konseling di SD harus memperhatikan: Subjek yang dibimbing (peserta didik); Orang yang membimbing (pendidik); Interaksi antara peserta

(Aspek Manajemen dan Pengembangan) Perangkat Tugas Perkembangan/ (Kompetensi/ kecakapan hidup, nilai dan moral peserta didik) Tataran Tujuan Bimbingan dan Konseling

Kemampuan menciptakan iklim belajar yang kondusif antara lain: aktivitas guru berupa kemampuan interpersonal untuk menunjukkan empati dan penghargaan kepada peserta didik,

“Pastikan setiap peserta didik memiliki kesehatan mental

menciptakan budaya dan iklim sekolah/madrasah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik, 6) mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan

Pada tahun 2013 Sekolah Dasar Negeri 1 Bakung Bandar Lampung mulai mantap dan mempublikasikan diri sebagai sekolah inklusi dan berkomitmen melayani peserta didik

Untuk mewujudkan integralistik bimbingan konseling di SD harus memperhatikan: Subjek yang dibimbing (peserta didik); Orang yang membimbing (pendidik); Interaksi antara peserta

2 Menurut Menurut Mulyasa kompetensi pedagogik adalah kemampuan yang harus dimiliki guru dalam memahami karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional