BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
3. Evaluasi Bimbingan dan Konseling di SD Alam
a) Layanan bimbingan dan konseling di SD Alam sudah dilaksanakan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat.
b) Layanan bimbingan di SD Alam Pacitan ini, sudah berjalan dengan baik, akan tetapi terdapat faktor penghambat yaitu belum tersedianya guru BK dan faktor orang tua yang kurang tanggap dengan perkembangan anaknya.
b. Subjek MW
1) Perencanaan Bimbingan dan Konseling
a) Perencanaan dan persiapan yang dilakukan di SD Alam Pacitan yaitu menyiapkan materi layanan bimbingan konseling dan hanya menyiapkan perangkat pembelajaran yang dibahas di kelas.
b) Metode pembelajaran yang akan digunakan di kelas tidak dibuat setiap hari.
2) Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling
a) Kepala sekolah memberikan pengarahan kepada guru kelas. b) Pelaksanaan layanan belum terlaksana secara penuh.
83
c) Program layanan bimbingan belajar tambahan untuk persiapan dini siswa kelas VI yaitu dengan mengerjakan soal-soal mulai dari kelas IV sampai kelas VI.
d) Bimbingan sosial yang dilaksanakan di SD Alam Pacitan ini diberlakukan dari siswa kela I sampai kelas VI. Contohnya pada saat ada yang berkelahi, kita tidak langsung memberikan hukuman, tapi kita akan mengambil dulu anak tersebut, kita minta keterangan dari keduanya dan sebagai guru kita memfasilitasi mereka untuk kembali berdamai dan saling mengakui kesalahan dengan saling meminta maaf.
e) Bimbingan pribadi yang diajarkan kepada siswa berupa bimbingan pribadi sudah harus dibiasakan sejak kecil, dan mulai dari lingkungan keluarga dan rumah. Di sekolah diajarkan dengan disiplin mengatur waktu belajar sendiri.
f) Bimbingan karir yang dilaksanakan di SD Alam Pacitan ini seperti mengarahkan anak dalam memilih sekolah kelanjutan nanti, kalaupun nanti nilainya bagus anak bisa melanjutkan kesekolah favorit ataupun anak punya pilihan sendiri dan itupun harus ada dukungan peran dari orang tua. Kalau masalah pengembangan diri disediakan khusus pada hari sabtu, khusus untuk kegiatan ekstra, minat dan hobi anak-anak. 3) Evaluasi Bimbingan dan Konseling
a) Layanan bimbingan dan konseling di SD Alam sudah dilaksanakan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat.
84
b) Layanan bimbingan di SD Alam Pacitan ini, sudah berjalan dengan baik, akan tetapi terdapat faktor penghambat yaitu belum tersedianya guru BK dan faktor orang tua yang kurang tanggap dengan perkembangan anaknya.
c) Layanan bimbingan yang diadakan di SD Alam Pacitan ini, lebih baik lagi jika sudah tertulis, jadi guru kelas bisa memahami lebih dalam.
c. Subjek RA
1) Perencanaan Bimbingan dan Konseling
a) Perencanaan dan persiapan yang dilakukan di SD Alam Pacitan yaitu menyiapkan materi layanan bimbingan konseling dan hanya menyiapkan perangkat pembelajaran yang dibahas di kelas.
b) Metode pembelajaran yang akan digunakan di kelas tidak dibuat setiap hari.
2) Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling
a) Pengarahan layanan bimbingan dari kepala sekolah, akan tetapi belum optimal.
b) Guru kelas belum mengerti akan layanan bimbingan dan konseling. c) Layanan bimbingan belajar di SD Alam Pacitan ini mengadakan les
tambahan pelajaran atau persiapan dini untuk siswa kelas VI.
d) Bimbingan sosial yang dilakukan oleh guru kelas berupa pengarahan pentingnya menghargai sesama, kemudian melihat secara langsung
85
dikehidupan tentang interaksi sosial, sehingga anak lebih memahami jika langsung dikaitkan dalam kehidupan sehari-hari.
e) Bimbingan pribadi juga diajarkan seperti memberi jadwal belajar siswa, agar siswa menjadi pribadi yang disiplin.
3) Evaluasi Bimbingan dan Konseling
a) Layanan bimbingan dan konseling di SD Alam sudah dilaksanakan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat.
b) Layanan bimbingan di SD Alam Pacitan ini, sudah berjalan dengan baik, akan tetapi terdapat faktor penghambat yaitu belum tersedianya guru BK dan faktor orang tua yang kurang tanggap dengan perkembangan anaknya.
c) Layanan bimbingan yang diadakan di SD Alam Pacitan ini, lebih baik lagi jika sudah tertulis, jadi guru kelas bisa memahami lebih dalam. d) Layanan bimbingan di SD Alam Pacitan ini, khususnya bagi para
guru kelas bisa diadakan seminar yang membahas tentang layanan dan bimbingan konseling untuk siswa SD, serta pelatihan agar guru kelas juga dapat mengerti arti pentingnya layanan bimbingan dan konseling bagi siswa.
d. Subjek DN
1) Perencanaan Bimbingan dan Konseling
a) Perencanaan bimbingan dan konseling yang diberitahu oleh guru adalah saat awal tahun ajaran baru, seperti diberi catatan materi yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya.
86 2) Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling
a) Bimbingan belajar yang dilakukan guru terhadap siswanya seperti les tambahan mata pelajaran khusunya persiapan menghadapi UAN dan UAS.
b) Bimbingan sosial yang diberikan guru adalah dibentuknya kelompok belajar dalam kegiatan pembelajaran, agar siswa menjadi lebih akrab, dapat bekerja sama, dan saling menghargai.
c) Bimbingan karir yang sering diadakan disekolah kami, yaitu kunjungan ke tempat-tempat ramai seperti kantor, pasar, dinas, puskesma, bank, sekolah SMP dan SMA.
3) Evaluasi Bimbingan dan Konseling
a) Layanan bimbingan dan konseling yang telah diberikan oleh guru biasanya tentang pelajaran. Jika terdapat pelajaran yang belum paham, maka guru akan memberikan tambahan mata pelajaran atau les.
b) Layanan bimbingan sosial terkadang guru membentuk kelompok belajar.
c) Layanan bimbingan karir biasanya sering diajak ke tempat keramaian seperti dinas, puskesmas, bank, SMP dan SMA.
d) Guru kelas dalam memberi materi hendaknya menggunakan metode dan media yang menarik bagi siswa untuk antusias memperhatikan materi tersebut.
87 1) Perencanaan Bimbingan dan Konseling
a) Perencanaan bimbingan dan konseling yang diberitahu oleh guru adalah saat awal tahun ajaran baru, seperti diberi catatan materi yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya.
2) Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling
a) Bimbingan belajar yang dilakukan guru terhadap siswanya seperti les tambahan mata pelajaran khusunya persiapan menghadapi UAN dan UAS.
b) Bimbingan sosial yang diberikan guru adalah dibentuknya kelompok belajar dalam kegiatan pembelajaran, agar siswa menjadi lebih akrab, dapat bekerja sama, dan saling menghargai.
c) Bimbingan karir yang sering diadakan disekolah kami, yaitu kunjungan ke tempat-tempat ramai seperti kantor, pasar, dinas, puskesmas, bank, sekolah SMP dan SMA.
3) Evaluasi Bimbingan dan Konseling
a) Layanan bimbingan di SD Alam Pacitan berisi tentang pelajaran. Biasanya diberikan jam tambahan dipakai untuk siswa yang belum paham dengan materi pelajaran.
b) Bimbingan belajar dilakukan guru dengan memberikan jam tambahan untuk siswa yang belum paham akan materi pelajaran.
88
c) Layanan bimbingan sosial yang diberikan guru biasanya membagi-bagikan daging kurban ke tetangga sekitar sekolah.
d) Layanan pribadi yang diajarkan disekolah yaitu membentuk kelompok belajar dalam kegiatan pembelajaran, tujuannya agar siswa menjadi lebih akrab, dapat bekerjasama, dan saling menghargai satu sama lain.
e) Layanan bimbingan karir yang sering dilakukan dari sekolah yaitu mengunjungi ketempat kerja, seperti kantor, pasar, bank, sekolah SMP dan SMA.
f) Guru kelas dalam memberikan materi hendaknya lebih berinovasi, agar siswa tidak cepat bosan dan jenuh.
4. Display Data Penelitian
a. Perencanaan Bimbingan dan Konseling SD Alam Pacitan
Dalam implementasi pencapaian kegiatan bimbingan konseling agar berjalan dengan baik diperlukan suatu perencanaan yang baik agar sesuai dengan tujuan yang ditentukan. Perencanaan merupakan pengambilan keputusan yang telah diperhitungkan secara matang tentang hal-hal yang akan dikerjakan di masa yang akan datang dalam rangka pencapaian tujuan.
Bimbingan dan konseling merupakan suatu kegiatan pelayanan bantuan kepada peserta didik atau siswa disekolah oleh guru BK atau konselor secara terencana, terorganisir dan terkoordinasi yang
89
dilaksanakan pada periode tertentu, secara teratur dan berkesinambungan. Melalui bimbingan dan konseling diharapkan dapat membantu siswa agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangan yang meliputi belajar, pribadi-sosial, dan karir.
Sebelum pelaksanaan bimbingan dan konseling, terlebih dahulu guru membuat perencanaan mengenai materi bimbingan konseling yang akan diberikan kepada siswa di SD Alam Pacitan. Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara dengan Bapak BN (40 Tahun) selaku kepala sekolah sekaligus pengelola SD Alam Pacitan mengungkapkan mengenai perencanaan layanan bimbingan dan konseling yang ada di SD Alam Pacitan sebagai berikut:
“Kalau secara tertulis memang belum ada layanan bimbingan dan konseling, akan tetapi di sekolah alam ini ada buku penghubung antara guru dengan murid dan buku konsultasi yang diperuntukkan bagi guru dengan orang tua. Itu gunanya untuk menghubungkan atau menjadi alat komunikasi non verbal dari guru, murid dan wali murid. Kan pada intinya bimbingan dan konseling sebagai pelayanan kepada siswa tentang bimbingan belajar, sosial, pribadi dan karir. Melalui buku tersebut, orang tua dapat mengetahui segala perkembangan anaknya di sekolah ini”. (Hasil wawancara pada tanggal 24 Oktober 2014).
Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa layanan bimbingan dan konseling di SD Alam Pacitan memang tidak ada secara tertulis tetapi sebelum melaksanakan kegiatan bimbingan konseling sekolah membuat persiapan berupa buku konsultasi yang diperuntukkan bagi guru dengan orang tua. Fungsinya yaitu sebagai alat komunikasi non verbal dari guru,
90
murid dan wali murid. Melalui buku tersebut, orang tua dapat mengetahui segala perkembangan anaknya di sekolah.
Mengenai persiapan yang dilakukan sekolah dalam melaksanaan bimbingan dan konseling, Bapak BN (40 Tahun) selaku kepala sekolah sekaligus pengelola SD Alam Pacitan mengemukakan bahwa:
Untuk persiapan dalam menyisipkan materi layanan bimbingan konseling hanya menyiapkan perangkat pembelajaran yang dibahas di kelas, dan metode pembelajaran yang akan digunakan di kelas tetapi tidak setiap hari buat, karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dan saya juga tidak paham dengan layanan bimbingan dan konseling” (Hasil wawancara pada tanggal 28 Oktober 2013).
Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa sebelum pelaksanaan bimbingan belajar dan konseling, guru menyiapkan persiapan berupa perangkat pembelajaran, seperti satuan layanan (SATLAN ) dan metode pembelajaran yang akan digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas.
b. Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling SD Alam Pacitan
Pelaksanaan dilakukan setelah ada sebuah perencanaan yang telah dibuat. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa informan menunjukkan bahwa SD Alam Pacitan tidak memiliki program bimbingan dan konseling secara tertulis tetapi terdapat kegiatan yang menyerupai layanan-layanan yang ada dalam program bimbingan dan konseling. Selain itu, di SD Alam Pacitan belum ada guru yang memiliki latar
91
pendidikan bimbingan dan konseling (BK), sehingga pelaksanaan bimbingan dan konseling menjadi tidak terencana secara optimal.
Mengenai pelaksanaan yang dilakukan sekolah dalam melaksanaan bimbingan dan konseling, Bapak BN (40 Tahun) selaku kepala sekolah sekaligus pengelola SD Alam Pacitan mengemukakan bahwa:
“Walaupun program bimbingan konseling tidak ada yang tertulis, tetapi layanannya seperti layanan belajar contohnya menambah jam pelajaran bagi yang kelas VI karena sebentar lagi akan menghadapi ujian. Kalau untuk kelas-kelas yang lain tambahan jam belajar dilaksanakan setelah selesai jam pelajaran/pulang sekolah langsung les.” (Hasil wawancara pada tanggal 24 Oktober 2014).
Berdasarkan hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa sekolah melaksanakan kegiatan-kegiatan yang menyerupai layanan bimbingan dan konseling yakni berupa layanan belajar seperti menambah jam pelajaran bagi siswa kelas VI yang akan menghadapi ujian.
Hasil wawancara tersebut tidak berbeda jauh dengan hasil wawancara dengan MW (32 Tahun) selaku guru/wali kelas VI sebagai berikut:
“Secara tertulis pelatihan/pengarahan yang berkaitan dengan bimbingan konseling tidak ada, tapi kalau arahan dari kepala sekolah sudah pernah, akan tetapi itu belum terlaksana sepenuhnya. Saya hanya mengajar seperti biasanya.” (Hasil wawancara pada tanggal 28 Oktober 2013).
Keterangan di atas menunjukkan bahwa sebelum melaksanakan bimbingan konseling, guru telah mendapatkan pengarahan dari sekolah mengenai bimbingan dan konseling secara lisan tetapi pelaksanaan bimbingan dan konseling belum terlaksana dengan optimal. Hal ini
92
dikarenakan guru belum memahami konsep layanan bimbingan dan konseling.
Keterangan tersebut juga sesuai dengan keterangan dari RA (25 Tahun) selaku guru/wali kelas V yang menyatakan bahwa: “Dulu pernah ada pengarahan dari kepala sekolah tentang layanan bimbingan dan konseling tetapi tidak secara tertulis, jadi saya sendiri belum begitu paham. Saya hanya mengajar seperti biasanya” (Hasil wawancara pada tanggal 29 Oktober 2013).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas menunjukkan bahwa mengenai layanan bimbingan dan konseling di SD Alam Pacitan tidak ada secara tertulis hanya berupa pengarahan dari kepala sekolah, sehingga guru belum sepenuhnya memahami dan melaksanakan layanan bimbingan dan konseling.
Berikut ini akan diuraikan kegiatan yang menyerupai layanan bimbingan dan konseling di SD Alam Pacitan.
1) Bimbingan Belajar
Layanan bimbingan belajar merupakan layanan yang membantu anak pada aspek perkembangan belajar seperti dapat mengembangkan keterampilan dasar yang diperlukan dalam teknik belajar yang efektif, mampu belajar secara efektif, dapat menetapkan tujuan dan rencana belajar, dapat mencapai prestasi belajar secara optimal sesuai bakat dan kemampuannya serta memiliki keterampilan dan kesiapan untuk menghadapi ulangan/evaluasi belajar.
93
Berdasarkan wawancara dengan Bapak BN (40 Tahun) selaku kepala sekolah SD Alam Pacitan layanan bimbingan belajar yang dilakukan di SD Alam Pacitan adalah sebagai berikut:
“Ada penambahan jam belajar, pada pelajaran tertentu yang dirasa memang perlu ada penambahan jam dan itu tentu saja sudah ada koordinasi dan konsultasi dengan orang tua dan guru serta murid yang bersangkutan. Jadi apabila guru kelas mengetahui anak didiknya ada yang mengalami penurunan belajar atau penurunan penguasaan materi, guru kelas tersebut akan berkoordinasi dengan orang tua siswa dengan menghubungi orang tua siswa tersebut melalui pemanggilan ke sekolah atau melakukan home visit untuk melakukan konsultasi bahwa siswa tersebut mengalami penurunan hasil belajar atau penguasaan materi atau bahkan semangat minat dalam belajar. Biasanya pemanggilan orang tua ke sekolah itu pada saat pembagian hasil mid semester dan waktu tersebut dijadikan sarana diskusi antara orang tua murid dan guru kelas masing-masing” (Hasil wawancara pada tanggal 24 Oktober 2013).
Dari hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa SD Alam Pacitan memberikan layanan bimbingan belajar dengan memberikan tambahan jam belajar pada siswa yang mengalami penurunan hasil dan minat belajar. Sebelum melakukan tambahan jam belajar, pihak sekolah berkoordinasi dan berkonsultasi dengan orang tua murid mengenai perkembangan anak di sekolah.
Hasil wawancara tersebut juga sesuai dengan pendapat Ibu MW (32 Tahun) selaku guru/wali kelas VI yang juga mengemukakan bahwa:
“Kalau programnya dengan mengerjakan soal-soal mulai dari kelas IV sampai kelas VI. Untuk mengulang kembali materi dari kelas IV biar tidak lupa, sebab anak-anak sudah kelas VI, jadi buat persiapan mengadapi ujian nanti dan juga untuk bagi yang belum merasa paham anak-anak bebas untuk meminta saya sebagai gurunya untuk mengulangi pelajaran atau materi yang dirasa kurang dan saya juga
94
mewajibkan mereka untuk mengikuti les tambahan di luar sekolah”(Hasil wawancara pada tanggal 28 Oktober 2013).
Dari keterangan tersebut dapat diketahui bahwa layanan bimbingan belajar yang dilakukan guru SD Alam Pacitan yaitu mengulang materi dan mengerjakan soal-soal pada siswa untuk mengatasi kekurangpahaman siswa akan materi pelajaran serta mewajibkan siswa untuk mengikuti les tambahan di luar sekolah. Hal ini ditunjukkan pada lampiran dokumentasi gambar 15.
Pendapat lainnya dikemukakan oleh Ibu RA (25 Tahun) selaku guru kelas V yang mengemukakan bahwa bimbingan belajar dilakukan di luar jam sekolah dengan memberikan les sebagai tambahan jam belajar untuk mengatasi kesulitan belajar pada anak. Pendapat tersebut juga didukung oleh pendapat siswa yang mengatakan bahwa bimbingan belajar dilakukan guru dengan memberikan jam tambahan untuk siswa yang belum paham akan materi pelajaran.
Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa layanan bimbingan belajar yang dilakukan pihak SD Alam Pacitan yaitu mengulang materi dan mengerjakan soal-soal pada siswa untuk mengatasi kekurangpahaman siswa akan materi pelajaran serta memberikan tambahan jam belajar pada siswa yang mengalami penurunan hasil dan minat belajar. Sebelum melakukan tambahan jam belajar, pihak sekolah sudah berkoordinasi dan berkonsultasi dengan orang tua murid mengenai perkembangan anak di sekolah.
95
Bimbingan belajar dilakukan untuk membantu siswa agar mampu bergaul dan bekerja dengan orang lain, mampu menghargai orang lain, mengembangkan keterampilan hubungan antar pribadi dan dapat menyelesaikan konflik sosial. Mengenai bimbingan sosial yang dilakukan SD Alam Pacitan, Bapak BN (40 Tahun) selaku kepala sekolah mengungkapkan sebagai berikut:
“Kalau untuk mengembangkan ketrampilan sosial di SD Alam ini mempunyai program outting atau berkunjung ketetangga sekitar sekolah. Pada hari besar tertentu seperti hari raya idul qurban mereka membagi-bagikan hasil hewan qurban pada tetangga sekitar sekolah dan membagi ketempat panti sosial” (Hasil wawancara pada tanggal 24 Oktober 2013).
Berdasarkan pendapat di atas dapat diketahui bahwa di SD Alam Pacitan memiliki program outting atau berkunjung ketetangga sekitar sekolah dan pada hari besar-besar tertentu mereka juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan di masyarakt sekitarnya seperti pembagian hewan kurban.
Pendapat lainnya dikemukakan oleh Ibu MW (32 Tahun) selaku guru kelas VI yang mengemukakan mengenai bimbingan sosial yaitu:
“Menurut saya semua diperlakukan yang sama mulai dari kelas I sampai kelas VI. Contohnya pada saat ada yng berkelahi, kita tidak langsung memberikan hukuman, tapi kita akan mengambil dulu anak tersebut, kita minta keterangan dari keduanya dan sebagai guru kita memfasilitasi mereka untuk kembali berdamai dan saling mengakui kesalahan dengan saling meminta maaf. Baru setelah itu diberikan sanksi dengan mengikuti pelajaran di bawahnya” (Hasil wawancara pada tanggal 28 Oktober 2013).
Dari hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa guru dalam bimbingan sosial dengan menjadi fasilitator dalam mengatasi masalah
96
dengan tujuan untuk mengajarkan pada siswa bahwa apabila mengalami konflik diselesaikan secara bijak dan bertanggungjawab.
Pendapat tersebut juga tidak jauh berbeda dengan pendapat Ibu RA (25 Tahun) selaku guru/wali kelas V yang juga mengungkapkan bahwa:
“Memberikan pengarahan akan pentingnya menghargai sesama, kemudian melihat secara langsung dikehidupan tentang interaksi sosial, sehingga anak lebih memahami jika langsung dikaitkan dalam kehidupan sehari-hari” (Hasil wawancara pada tanggal 29 Oktober 2013).
Berdasarkan hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa bimbingan sosial dilakukan dengan memberikan pengarahan kepada siswa akan pentingnya menghargai sesama dan memberikan contoh konkrit tentang interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Pendapat lainnya mengenai bimbingan sosial dikemukakan oleh siswa DN (12 Tahun) dan GT (11 Tahun) bahwa untuk bimbingan sosial yang dilakukan guru biasanya suka dibentuk kelompok belajar dalam kegiatan pembelajaran, tujuannya agar siswa menjadi lebih akrab, dapat bekerjasama, dan saling menghargai satu sama lain.
Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa bimbingan sosial yang dilakukan pihak SD Alam Pacitan yaitu dengan melakukan kegiatan outting, dimana siswa berkunjung ke tetangga sekitar untuk berinteraksi sosial seperti membagi-bagikan hasil hewan qurban, ke panti sosial, memberikan pengarahan pada siswa, dalam kegiatan pembelajaran di bentuk kelompok belajar (tim) serta melakukan
97
tindakan yang bijak dan bertanggungjawab dalam menyelesaikan konflik agar menjadi contoh teladan bagi anak. Hal ini ditunjukkan pada lampiran dokumen gambar 12 dan 16.
3) Bimbingan Pribadi
Bimbingan pribadi dilakukan untuk membantu agar anak memiliki pemahaman diri, yaitu menggambarkan penampilan dan mengenal keunikan yang ada pada dirinya, menanamkan dan mengembangkan kebiasaan dan sikap dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, mengembangkan moral dan nilai-nilai sebagai pedoman perilaku, dapat membuat keputusan dengan baik. Mengenai bimbingan pribadi yang dilakukan SD Alam Pacitan, Bapak BN (40 Tahun) selaku kepala sekolah mengungkapkan sebagai berikut:
“Di SD Alam ini kami menyebutnya bukan sekolah tetapi rumah kedua setelah rumah mereka masing-maisng. Bahkan disini mereka ke sekolah tidak memakai seragam seperti sekolah-sekolah lainnya, Cuma pada hari senin saja mereka memakai seragam merah putih. Karena konsep sekolah kami yang berbasis alam itu jadi kami sebagai kepala sekolah dan guru-guru yang lain berharap bahwa sekolah bukan merupakan merupakan tempat yang menyeramkan, tapi tempat yang menyenangkan selayaknya dirumah mereka. Disini juga diterapkan pemanggilan ke adek kelasnya dengan sebutan “dek” dan memanggil tingkatan atasannya dengan panggilan “mas”, “mbak”, maupun kakak. Dan mereka sangat terbuka dengan guru-guru mereka, serta apabila mereka melakukan kesalahan mereka dengan siap bertanggung jawab konsekuensinya”.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat diketahui bahwa siswa di SD Alam Pacitan tidak memakai seragam seperti sekolah-sekolah lainnya karena mereka memiliki konsep sekolah berbasis alam. Anak-anak di SD Alam Pacitan juga sangat terbuka dengan guru-gurunya, mereka
98
siap bertanggung jawab dan menerima konsekuensinya apabila melakukan kesalahan.
Hasil wawancara di atas sedikit berbeda dengan yang dikemukakan oleh Ibu MW (32 Tahun) mengenai bimbingan pribadi adalah sebagai berikut:
“Hal seperti itu harus dibiasakan sejak kecil, dimulai dari rumah. Jadi ketika sudah mulai sekolah seperti ini mereka tidak kaget lagi dengan mengatur jadwal waktu belajar mereka kalau dari pihak sekolah memberikan tempat yang nyaman untuk belajar di sekolah” (Hasil wawancara pada tanggal 28 Oktober 2013).
Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa bimbingan pribadi dapat dilakukan mulai dari hal kecil seperti dalam hal mengatur jadwal waktu belajar. Dengan jadwal waktu belajar yang baik, maka siswa secara tidak langsung akan menjadi pribadi yang disiplin.