• Tidak ada hasil yang ditemukan

support.pajak.go.id - Rinci Aturan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "support.pajak.go.id - Rinci Aturan"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

PERSETUJUAN

ANTARA

KANTOR DAGANG DAN EKONOMI I NDONESI A, TAI PEI

DAN

KANTOR DAGANG DAN EKONOMI TAI PEI , JAKARTA

TENTANG

PENGHI NDARAN PAJAK BERGANDA DAN PENCEGAHAN PENGELAKAN PAJAK ATAS PENDAPATAN

Kant or Dagang dan Ekonom i I ndonesia, Taipei dan Kant or Dagang dan Ekonom i Taipei, Jakart a berhasrat m engadakan suatu Perset uj uan m engenai paj ak berganda dan pencegahan pengelakan paj ak yang berhubungan paj ak at as penghasilan telah m enyetuj ui sebagai berikut :

Pasal 1

ORANG DAN BADAN YANG TERCAKUP DALAM PERSETUJUAN

Persetuj uan ini berlaku terhadap orang dan badan yang m enj adi penduduk salah satu atau kedua Pihak pada Perset uj uan.

Pasal 2

PAJAK- PAJAK YANG DI CAKUP DALAM PERSETUJUAN I NI

1. Paj ak-paj ak yang t ercakup dalam Perset uj uan ini :

( a) di Negara yang diw akili oleh Kant or Dagang dan Ekonom i I ndonesia, Taipei Undang- undang Paj ak Penghasilan Tahun 1984 ( UU Nom or 7 Tahun 1983) .

( b) di Negara yang diwakili oleh Kantor Dagang dan Ekonom i Taipei, Jakarta Paj ak Penghasilan Badan, dan Paj ak Penghasilan Perseorangan.

(2)

dikenakan set elah tanggal penandat anganan Persetuj uan ini sebagai tam bahan terhadap, at au sebagai penggant i dari undang- undang paj ak yang ada, Pej abat -pej abat yang berw enang dari Negaranegara Pihak pada Perset uj uan akan saling m em berit ahukan satu sam a lain m engenai set iap perubahan pent ing yang terj adi dalam perundang- undangan paj ak m asing-m asing.

Pasal 3

PENGERTI AN-PENGERTI AN UMUM

1. Kecuali j ika dari hubungan kalim atnya harus diart ikan lain, yang dim aksud dalam Persetuj uan ini dengan :

( a) ( i) ist ilah " Negara yang diwakili oleh Kant or Dagang dan Ekonom i I ndonesia, Taipei" t erdiri dari atas Negara t ersebut dan daerah-daerah yang berbat asan dim ana Negara t ersebut m em iliki kedaulatan, atau j urisdiksi m enurut hukum int ernasional;

( ii) ist ilah " Negara yang diwakili oleh Kantor Dagang dan Ekonom i Taipei, Jakarta" terdiri at as w ilayah Negara tersebut dan bagian-bagian tanah dasar laut dan lapisan t anah disekit ar laut , dim ana Negara t ersebut m em iliki kedaulat annya, atau j urisdiksi m enurut hukum int ernasional;

( b) ist ilah " orang/ badan" m eliput i orang pribadi, perseroan dan set iap kum pulan dari orang- orang dan/ atau badan-badan;

( c) ist ilah " perseroan" berart i set iap badan hukum at au set iap ent itas yang unt uk t uj uan pem ungut an paj ak diperlakukan sebagai suat u badan hukum ;

( d) ist ilah " perusahaan dari suatu Negara Pihak pada Perset uj uan" dan " perusahaan dari Negara Pihak lainnya pada Perset uj uan" berart i bert urut -t urut suat u perusahaan yang dij alankan oleh penduduk suat u Negara Pihak pada Perset uj uan dan suat u perusahaan yang dij alankan oleh penduduk dari Negara Pihak lainnya pada Persetuj uan;

( e) ist ilah " lalu lint as internasional" berart i pengangkutan oleh kapal laut atau pesaw at udara yang dilakukan oleh perusahaan suat u Negara Pihak pada Perset uj uan, kecuali j ika kapal at au pesaw at udara it u sem at a-m at a dioperasikan antara tem pat - tem pat yang berada di Negara Pihak lainnya pada Perset uj uan;

( f) ist ilah " pej abat yang berwenang" berart i :

( i) di Negara yang diw akili oleh Kant or Dagang dan Ekonom i I ndonesia, Taipei : Direkt ur Jenderal Paj ak at au w akilnya yang sah;

( ii) di Negara yang diw akili oleh Kant or Dagang dan Ekonom i Taipei, Jakarta : Direktur Jenderal Paj ak at au w akilnya yang sah;

( g) ist ilah " w arga negara" berart i :

( i) set iap orang pribadi yang m em iliki kewarganegaraan suatu Negara Pihak pada Persetuj uan;

( ii) set iap badan hukum , usaha bersam a dan persekutuan yang st atusnya m ereka peroleh berdasarkan hukum yang berlaku pada salah sat u Negara Pihak pada Persetuj uan.

( h) ist ilah " Negara Pihak pada Perset uj uan" dan " Negara Pihak lainnya pada t erikat Perset uj uan" berart i Negara yang diw akili oleh Kantor Dagang dan Ekonom i I ndonesia, Taipei dan Negara yang diw akili oleh Kant or Dagang dan Ekonom i Taipei, Jakarta t ergant ung pada hubungan kalim at nya.

(3)

Pasal 4

PENDUDUK

1. Unt uk kepent ingan Perset uj uan ini, ist ilah " penduduk suatu Negara Pihak pada Perset uj uan" berart i set iap orang dan badan, yang m enurut perundang-undangan Negara tersebut dapat dikenakan paj ak di Negara it u berdasarkan dom isilinya, t em pat kediam annya, tem pat kedudukan m anaj em ennya ataupun dasar lainnya yang sifat nya serupa.

2. j ika seseorang m enurut ketent uan- ket ent uan pada ayat 1 m enj adi penduduk di kedua Negara Pihak pada Perset uj uan, m aka stat usnya akan dit ent ukan sebagai berikut :

( a) ia akan dianggap sebagai penduduk Negara dim ana ia m em punyai t em pat t inggal t etap yang t ersedia baginya; apabila ia m em punyai t em pat t inggal t etap yang tersedia dikedua Negara, ia akan dianggap sebagai penduduk Negara dim ana terdapat hubungan- hubungan pribadi dan ekonom i yang lebih erat ( pusat kepent ingan- kepent ingan pokok) ;

( b) j ika Negara dim ana pusat kepent ingan- kepent ingan pokoknya t idak dapat ditent ukan, at au j ika ia t idak m em punyai tem pat t inggal tetap yang tersedia baginya di salah sat u Negara, m aka ia akan dianggap sebagai penduduk Negara dim ana ia biasanya berdiam ;

( c) j ika ia m em punyai t em pat yang biasanya dit inggali di kedua Negara at au sam a sekali t idak m em punyainya di kedua Negara t ersebut m aka pej abat -pej abat yang berwenang kedua Negara Pihak pada Perset uj uan akan m enyelesaikan m asalah tersebut berdasarkan Persetuj uan bersam a.

3. Apabila berdasarkan ketentuan- ketent uan ayat 1 Pasal ini, suatu badan m em punyai t em pat kedudukan di kedua Negara Pihak pada Perset uj uan, m aka badan tersebut akan dianggap berkedudukan di Negara dim ana tem pat ketatalaksanaan yang sebenarnya dari badan it u berada.

Pasal 5

BENTUK USAHA TETAP

1. Unt uk kepent ingan Perset uj uan ini ist ilah " bentuk usaha tetap" berart i suatu t em pat usaha tetap dim ana seluruh atau sebagian usaha dari suat u perusahaan dij alankan.

2. I st ilah " bentuk usaha tetap" terutam a m eliput i : ( a) suatu t em pat kedudukan m anaj em en; ( b) suatu cabang;

( c) suatu kantor; ( d) suatu pabrik; ( e) suatu bengkel;

( f) suatu pertanian at au perkebunan;

( g) suatu tam bang, suat u sum ur m inyak at au gas, suat u penggalian at au tem pat pengam bilan at au pengolahan sum ber daya alam lainnya.

3. I st ilah " bentuk usaha tetap" j uga m eliput i :

( a) suatu bangunan atau suat u proyek konst ruksi, perakit an at au kegiat an- kegiatan pengaw asan yang berhubungan dengan proyek, t ersebut apabila lokasi proyek at au kegiatan tersebut berlangsung unt uk m asa lebih dari 6 bulan.

(4)

lebih dari 120 hari dalam j angka w akt u 12 bulan.

4. Menyim pang dari ketent uan- ketent uan sebelum nya dari Pasal ini, ist ilah "bent uk usaha tet ap" dianggap t idak m eliput i :

( a) penggunaan fasilit as- fasilit as sem ata- m ata dengan m aksud unt uk m enyim pan atau m em am erkan barang-barang atau barang dagangan m ilik perusahaan;

( b) pengurusan suat u persediaan barang- barang at au barang dagangan m ilik perusahaan sem ata-m ata dengan ata-m aksud unt uk disiata-m pan at au dipaata-m erkan;

( c) pengurusan suat u persediaan barang- barang at au barang dagangan m ilik perusahaan sem ata-m ata dengan ata-m aksud unt uk diolah oleh perusahaan lain;

( d) pengurusan suatu t em pat tertentu sem at a-m ata dengan m aksud unt uk pem belian barangbarang at au barang dagangan atau unt uk m engum pulkan keterangan bagi keperluan perusahaan; hasil penggabungan seluruh kegiatan- kegiatan tersebut bersifat persiapan atau penunj ang. 5. Menyim pang dari ket ent uan- ket ent uan ayat 1 dan 2, apabila orang atau badan, kecuali agen yang

bert indak bebas sebagaim ana berlaku ayat 6, bert indak di Negara Pihak pada Perset uj uan atas nam a perusahaan yang berkedudukan di Negara Pihak lainnya pada Perset uj uan, m aka perusahaan t ersebut dianggap m em iliki bent uk usaha tetap di Negara yang disebut kan pertam a at as kegiat ankegiatan yang dilakukan oleh orang at au badan t ersebut , j ika ia :

( a) m em punyai dan biasa m elakukan wewenang unt uk m enut up kont rak at as nam a perusahaan t ersebut, kecuali kegiatan it u hanya terbatas pada apa yang diat ur dalam ayat 4 yang m eskipun dilakukan m elalui suat u t em pat usaha tet ap, tem pat tersebut bukan m erupakan bent uk usaha t et ap sesuai dengan ketent uan ayat tersebut ; at au

( b) t idak m em punyai w ew enang sepert i it u, t et api biasa m elakukan pengurusan persediaan barang- barang atau barang dagangan di Negara yang disebut pertam a dim ana secara terat ur m enyerahkan barang- barang at au barang dagangan at as nam a perusahaan tersebut .

6. Suatu perusahaan di suat u Negara Pihak pada Persetuj uan t idak akan dianggap m em punyai suat u dikuasai oleh perseroan yang berkedudukan di Negara Pihak lainnya pada Persetuj uan ataupun m enj alankan usaha di Negara Pihak lainnya pada Persetuj uan it u ( baik m elalui suat u bent uk usaha t etap ataupun dengan suat u cara lain) , m aka hal it u t idak dengan sendirinya akan berakibat bahw a salah satu dari perseroan it u m erupakan bent uk usaha t etap dari yang lainnya.

Pasal 6

PENGHASI LAN DARI HARTA TAK GERAK

1. Penghasilan yang diperoleh seorang penduduk dari suat u Negara Pihak pada Perset uj uan dari harta t ak gerak ( term asuk penghasilan yang diperoleh dari pert anian at au perhut anan) yang berada di Negara Pihak lainnya pada Perset uj uan dapat dikenakan paj ak di Negara lain tersebut.

(5)

benda-benda ikut an dari hart a t ak gerak, ternak dan peralatan yang dipergunakan dalam usaha pert anian dan perhut anan, hak- hak t erhadap m ana berlaku ketent uan- ketent uan dalam hukum um um m engenai pem ilikan atas lahan, hak m em ungut hasil atas hart a t ak gerak, sert a hak atas pem bayaranpem bayaran tetap atau variabel sebagai balas j asa unt uk pengerj akan, atau hak unt uk m engerj akan deposit bahan galian, sum ber-sum ber dan sum ber-sum ber daya alam lainnya; kapal laut , perahu dan pesaw at udara t idak dianggap sebagai hart a t ak gerak.

3. Ketent uan- ket ent uan pada ayat 1 berlaku j uga t erhadap penghasilan yang diperoleh dari penggunaan secara langsung, dari penyew aan, atau dari penggunaan dari cara lain at as harta tak gerak.

4. Ketent uan- ket ent uan dalam ayat -ayat 1 dan 3 berlaku j uga terhadap penghasilan dari harta tak gerak suat u perusahaan dan terhadap penghasilan dari hart a tak gerak yang digunakan dalam m enj alankan pekerj aan bebas.

Pasal 7

LABA USAHA

1. Laba perusahaan dari Negara Pihak pada Persetuj uan hanya akan dikenakan paj ak di Negara it u kecuali j ika perusahaan it u m enj alankan usaha di Negara Pihak lainnya pada Perset uj uan m elalui suatu bentuk usaha t et ap. Apabila perusahaan tersebut m enj alankan usahanya sebagaim ana dim aksud diatas, m aka laba perusahaan it u dapat dikenakan paj ak di Negara lainnya tet api hanya at as bagian laba yang berasal dari

( a) bent uk usaha t et ap t ersebut ;

( b) penj ualan yang dilakukan di Negara lainnya atas barang-barang atau barang dagangan yang sam a atau serupa j enisnya dengan yang dij ual m elalui bentuk usaha t et ap it u asalkan pendirian tetap it u m em bant u penj ualan- penj ualan t ersebut dalam segala bent uknya.

2. Dengan m em perhat ikan ketent uan- ketent uan ayat 3, j ika suat u perusahaan dari suat u Negara Pihak pada Perset uj uan m enj alankan usaha di set iap Negara m elalui suat u bent uk usaha tetap yang berada disana, m aka yang akan diperhit ungkan sebagai laba bentuk usaha tet ap it u oleh m asing-m asing Negara ialah laba yang diperolehnya seandainya bent uk usaha t etap t ersebut m erupakan suatu perusahaan yang t erpisah dan bert indak bebas yang m elakukan kegiat an-kegiat an yang sam a atau serupa dalam keadaan yang sam a atau serupa, dan m engadakan hubungan yang sepenuhnya bebas dengan perusahaan yang m em iliki bent uk usaha tet ap it u. 3. Dalam m enentukan besarnya laba suat u bent uk usaha tetap, dapat dikurangkan biaya-biaya yang

dikeluarkan unt uk kepent ingan usaha dari bentuk usaha t etap it u term asuk biaya- biaya pim pinan dan biaya-biaya adm inist rasi um um baik yang dikeluarkan di Negara di m ana bentuk usaha t et ap it u berada ataupun di t em pat lain.

4. Tidak akan dianggap ada laba yang diperoleh oleh suat u bent uk usaha tetap hanya berdasarkan pem belian sem at a-m at a oleh bent uk usaha t et ap dari barang-barang at au barang dagangan untuk perusahaan induknya.

5. Dem i penerapan ayat -ayat terdahulu besarnya laba bent uk usaha tet ap harus ditentukan dengan cara yang sam a dari t ahun ke tahun, kecuali j ika t erdapat alasan yang kuat dan cukup unt uk m elakukan penyim pangan.

(6)

Pasal 8

PERKAPALAN DAN PENGANGKUTAN UDARA

1. Laba yang berasal dari pengoperasian kapal laut at au pesawat udara dalam j alur lalu lint as int ernasional hanya akan dikenakan paj ak di Negara Pihak pada Perset uj uan dim ana perusahaan it u berkedudukan.

2. Ketent uan- ket ent uan ayat 1 pasal ini akan berlaku pula terhadap laba yang diperoleh dari penyertaan dalam suat u gabungan perusahaan, suatu usaha bersam a atau dalam suat u perw akilan unt uk operasi internasional.

3. Laba yang disebut kan dalam pasal ini t erm asuk sem ua laba yang berasal dari pengoperasian kapal laut at au pesawat udara dalam j alur lalu lint as internasional term asuk laba dari penyewaan kapal laut at au kapal udara unt uk suatu dasar yang penuh ( wakt u at au perj alanan) dan laba dari penyewaan pet i kem as dan peralat an yang bersangkut an yang sekali- kali t erhadap operasi kapal laut dan pesawat udara dalam j alur lalu lint as internasional.

Pasal 9

PERUSAHAAN-PERUSAHAAN YANG MEMPUNYAI HUBUNGAN I STI MEWA

1. Apabila

( a) suatu perusahaan dari suatu Negara Pihak pada Persetuj uan baik secara langsung m aupun t idak langsung t urut sert a dalam m anaj em en, pengaw asan at au m odal suat u perusahaan di Negara Pihak lainnya pada Perset uj uan, at au

( b) orang at au badan yang sam a baik secara langsung m aupun t idak langsung t urut serta dalam m anaj em en, pengawasan atau m odal suat u perusahaan Negara Pihak pada Perset uj uan dan suatu perusahaan dari Negara Pihak lainnya pada Persetuj uan, dan dalam kedua hal it u antara kedua perusahaan dim aksud dalam hubungan dagangnya at au hubungan keuangannya diadakan atau dit erapkan syarat -syarat yang m enyim pang dari yang lazim nya berlaku ant ara perusahaan-perusahaan yang sam a sekali bebas sat u sam a lain, m aka set iap laba yang seharusnya diterim a oleh salah satu perusahaan j ika syarat - syarat it u t idak ada, nam un t idak dit erim anya karena adanya syarat -syarat tersebut , dapat dit am bahkan pada laba perusahaan it u dan dikenakan paj ak.

(7)

Pasal 10

DI VI DEN

1. Dividen yang dibayarkan oleh suat u perseroan yang berkedudukan di suatu Negara Pihak pada Persetuj uan kepada penduduk Negara Pihak lainnya pada Perset uj uan dapat dikenakan paj ak di Negara lain tersebut.

2. Nam un dem ikian dividen it u dapat j uga dikenakan paj ak di Negara Pihak pada Perset uj uan di m ana perseroan yang m em bayarkan dividen tersebut berkedudukan dan sesuai dengan perundang-undangan Negara tersebut , akan tet api apabila penerim a dividen adalah pem ilik saham yang paj aknya diperlakukan sam a dengan penghasilan dari saham - saham .

4. Ketent uan- ket ent uan ayat 1 dan 2 t idak akan berlaku apabila pem ilik saham yang m enikm at i dividen, yang m erupakan penduduk suatu Negara Pihak pada Perset uj uan, m elakukan kegiatan usaha di Negara Pihak lainnya pada Perset uj uan, dim ana perseroan yang m em bayarkan dividen it u berkedudukan, m elalui suat u bent uk usaha tetap yang berada disana, at au m enj alankan pekerj aan bebas dengan suat u t em pat t ert ent u yang berada disana dan pem ilikan saham -saham yang m enghasilkan dividen it u m em punyai hubungan yang efekt if dengan bent uk usaha t et ap at au t em pat tert ent u it u. Dalam hal dem ikian berlaku ket ent uan- ket ent uan Pasal 7 at au Pasal 14, t ergant ung pada m asalahnya.

5. apabila suat u perseroan yang berkedudukan disuatu Negara Pihak pada Perset uj uan m em peroleh laba at au penghasilan dari Negara Pihak lainnya pada Perset uj uan, Negara lain t ersebut t idak boleh m engenakan paj ak apapun j uga at as dividen yang dibayarkan oleh perseroan it u, kecuali apabila dividen it u dibayarkan kepada penduduk di Negara lain it u atau apabila penguasaan saham - saham yang m enghasilkan dividen it u m em punyai hubungan yang efekt if dengan bent uk usaha tet ap atau t em pat tertentu yang berada di Negara lain t ersebut , j uga t idak boleh m engenakan paj ak atas laba yang t idak dibagikan sekalipun dividen- dividen yang dibayarkan atau laba yang t idak dibagikan it u t erdiri seluruhnya at au sebagian dari laba at au penghasilan yang berasal dari Negara lain it u. 6. Menyim pang dari ketentuan- ketentuan lainnya dalam Perset uj uan ini, apabila suat u perseroan

yang berkedudukan di Negara Pihak pada Perset uj uan m em punyai bent uk usaha tet ap di Negara Pihak lainnya pada Perset uj uan, m aka keunt ungan bent uk usaha t etap tersebut dikenakan paj ak t am bahan di Negara lainnya it u sesuai dengan undang-undangnya, nam un paj ak tam bahan t ersebut t idak akan m elebihi 5 % dari j um lah keuntungan setelah dikurangi dengan paj ak penghasilan dan paj ak-paj ak lainnya at as penghasilan yang dikenakan di Negara lain t ersebut. 7. Ketent uan- ket ent uan pada ayat 6 Pasal ini t idak m em pengaruhi ket ent uan- ket ent uan yang

t erdapat dalam set iap kont rak bagi hasil dan kont rak karya yang serupa m engenai sekt or m inyak dan gas at au sekt or pertam bangan lainnya yang diset uj ui oleh pem erintah, badan- badan pem erint ahannya, perusahaan m inyak dan gas m ilik negara, atau badan-badannya yang lain dengan orang/ badan yang m erupakan penduduk dari Negara Pihak pada Perset uj uan.

Pasal 11

(8)

1. Bunga yang berasal dari suat u Negara Pihak pada Perset uj uan dan dibayarkan kepada penduduk Negara Pihak lainnya pada Perset uj uan dapat dikenakan paj ak di Negara lain tersebut.

2. Nam un dem ikian, bunga tersebut dapat j uga dikenakan paj ak di Negara Pihak pada Perset uj uan dibebaskan dari pengenaan paj ak di Negara yang disebut pertam a.

4. I st ilah "bunga" yang digunakan dalam pasal ini berart i penghasilan dari sem ua j enis tagihan hut ang baik yang dij am in dengan hipot ik m aupun t idak dan baik yang m em punyai hak atas pem bagian laba atau t idak dan khususnya penghasilan dari surat - surat perbendaharaan Negara dan surat - surat obligasi at au surat -surat hutang, term asuk prem i dan hadiah yang terikat pada surat -surat perbendaharaan, obligasi at au surat - surat hut ang tersebut .

5. Ketent uan - ket ent uan ayat 1 sam pai ayat 2 t idak akan berlaku apabila pem beri pinj am an yang m enikm at i bunga yang berkedudukan di suat u Negara Pihak pada Perset uj uan, m elakukan kegiat an usaha di Negara Pihak lainnya pada Perset uj uan dim ana tem pat bunga it u berasal m elalui suatu bent uk usaha t etap yang berada disana, atau m enj alankan pekerj aan bebas di Negara lainnya m elalui suat u t em pat tetap yang berada disana, dan tagihan hut ang yang m enghasilkan bunga it u m em punyai hubungan yang efekt if dengan bentuk usaha tetap atau t em pat tet ap itu. Dalam hal dem ikian tergantung pada m asalahnya, berlaku ketent uan- ketentuan Pasal 7 atau Pasal 14.

6. Bunga dianggap berasal dari suat u Negara Pihak pada Perset uj uan apabila yang m em bayarkan bunga adalah pem erintah Negara Pihak pada Perset uj uan it u sendiri, suatu pem erint ah daerahnya, at au penduduk Negara t ersebut . Nam un dem ikian, apabila orang at au badan yang m em bayar pem bayaran tersebut akan tetap dikenakan paj ak sesuai dengan perundang-undangan m asing-m asing Negara Pihak pada Persetuj uan, dengan asing-m easing-m perhat ikan ket ent uan- ket ent uan lainnya dalam Perset uj uan ini.

Pasal 12

(9)

1. Royalt i yang berasal dari Negara Pihak pada Persetuj uan dan dibayarkan kepada penduduk dari suatu Negara Pihak lainnya pada Perset uj uan dapat dikenakan paj ak di Negara lain tersebut .

2. Nam un dem ikian royalt i dan im balan untuk j asa teknik t ersebut dapat j uga dikenakan paj ak di cara pengolahan, at au penggunaan, peralat an indust ri, perdagangan at au pengetahuan, atau unt uk inform asi m engenai pengalam an di bidang indust ri, perdagangan atau ilm u pengetahuan. 4. Ketent uan- ket ent uan ayat 1 dan ayat 2 t idak berlaku, apabila pihak si penerim a royalt i, yang t eknik m elebihi dari j um lah yang seharusnya disepakat i oleh pem bayar dan pem ilik hak seandainya t idak ada hubungan ist im ewa sem acam it u, m aka ketentuan- ketent uan Pasal ini hanya akan berlaku terhadap j um lah yang disebut terakhir. Dalam hal dem ikian, j um lah kelebihan pem bayaran t ersebut akan tet ap dikenakan paj ak sesuai dengan perundang- undangan m asing-m asing Negara Pihak lainnya pada Perset uj uan, dapat dikenakan paj ak di Negara Pihak lainnya t ersebut .

(10)

pem indahtanganan bent uk usaha t etap it u (t ersendiri at au besert a keseluruhan perusahaan) at au t em pat t et ap, dapat dikenakan paj ak di Negara Pihak lainnya t ersebut .

3. Keuntungan dari perusahaan- perusahaan Negara Pihak pada Perset uj uan atas pem indaht anganan kapal- kapal dan pesawat udara yang diusahakan dalam j alur lalu lint as internasional atau dari hart a gerak yang berkenaan dengan pengusahaan kapal- kapal dan pesaw at udara sepert i it u hanya akan dikenakan paj ak di Negara t ersebut .

4. Keuntungan dari pem indaht anganan harta lainnya, kecuali yang disebut pada ayat -ayat terdahulu, hanya akan dikenakan paj ak di Negara dim ana orang/ badan yang m em indahkan hart a it u berkedudukan.

Pasal 14

PEKERJAAN BEBAS

1. Penghasilan yang diperoleh penduduk dari suat u Negara Pihak pada Persetuj uan sehubungan dengan j asa- j asa profesional atau pekerj aan bebas lainnya hanya akan dikenakan paj ak di Negara it u kecuali apabila ia m em punyai suat u tem pat tetap yang tersedia secara teratur baginya unt uk m enj alankan kegiatan- kegiat an di Negara Pihak lainnya pada Perset uj uan it u at au ia berada di Negara Pihak lainnya it u selam a suat u m asa atau m asa- m asa yang m elebihi 120 hari dalam suatu t ahun paj ak. Apabila ia m em punyai tem pat t etap t ersebut at au berada di Negara Pihak lainnya it u selam a m asa atau m asa-m asa tersebut di atas, m aka penghasilan t ersebut dapat dikenakan paj ak di Negara Pihak lainnya it u t etapi hanya sepanj ang penghasilan it u dianggap berasal dari tem pat t etap tersebut at au diperoleh di Negara lain it u selam a m asa at au m asa-m asa tersebut diatas. 2. I st ilah " j asa- j asa profesional" t erutam a m eliput i kegiatan- kegiatan di bidang ilm u penget ahuan,

kesusasteraan, kesenian, pendidikan atau pengaj aran yang dilakukan secara independen, dem ikian j uga pekerj aan-pekerj aan bebas yang dilakukan oleh para dokter, ahli teknik, ahli hukum , arsitek, dokter gigi dan akuntansi.

Pasal 15

PEKERJAAN DALAM HUBUNGAN KERJA

1. Dengan m em perhat ikan ketentuan- ketentuan yang term uat dalam Pasal 16, 18, 19 dan 20, gaj i, upah, dan im balan sej enis lainnya yang diperoleh penduduk suat u Negara Pihak pada Perset uj uan karena suat u hubungan kerj a hanya dikenakan paj ak di Negara it u, kecuali j ika pekerj aan t ersebut dilakukan di Negara Pihak lainnya pada Perset uj uan. Dalam hal dem ikian, m aka im balan yang dit erim a dari pekerj aan dim aksud dapat dikenakan paj ak di Negara Pihak lainnya it u.

2. Menyim pang dari ketentuan- ketent uan pada ayat 1, m aka im balan yang diperoleh seorang penduduk suat u Negara Pihak pada Perset uj uan karena pekerj aan yang dilakukan di Negara Pihak lainnya pada Perset uj uan, hanya akan dikenakan paj ak di Negara Pihak yang disebut pert am a, apabila :

(11)

( b) im balan dibayarkan oleh, atau at as nam a pem beri kerj a bukan m erupakan penduduk Negara Pihak lainnya; dan

( c) im balan t idak m enj adi beban bent uk usaha tet ap atau t em pat tet ap yang dim iliki oleh pem beri kerj a di Negara Pihak lainnya tersebut.

3. Menyim pang dari ket ent ua- ketentuan sebelum nya dalam Pasal ini, im balan diperoleh karena pekerj aan yang dilakukan diatas kapal laut at au pesaw at udara yang dioperasikan dalam j alur lalu lint as int ernasional oleh perusahaan dari Negara Pihak pada Perset uj uan hanya akan dikenakan paj ak di Negara Pihak tersebut.

Pasal 16

I MBALAN PARA DI REKTUR

1. I m balan para direkt ur dan pem bayaran- pem bayaran serupa yang diperoleh penduduk Negara Pihak pada Persetuj uan dalam kedudukannya sebagai anggota dew an direktur suat u perseroan at au set iap badan lain yang serupa dari perusahaan yang berkedudukan di suatu Negara Pihak lainnya pada Perset uj uan dapat dikenakan paj ak di Negara Pihak lainnya tersebut.

2. I m balan yang diterim a atau diperoleh orang sebagaim ana dim aksud pada ayat 1 dari perusahaan dalam hubungan dengan m elakukan fungsi sehari- hari sebagai pim pinan at au t eknisi dapat dikenakan paj ak sesuai dengan ket ent uan Pasal 15.

Pasal 17

PARA ARTI S DAN ATLI T

1. Menyim pang dari ket ent uan- ket ent uan Pasal 14 dan 15, penghasilan yang diperoleh penduduk suatu Negara Pihak pada Persetuj uan sebagai art is sepert i art is teat er, film , radio atau t elevisi at au pem ain m usik at au sebagai olahragaw an, dari kegiatan- kegiatan perseorangan m ereka yang dilakukan di Negara Pihak lainnya pada Persetuj uan dapat dikenakan paj ak di Negara Pihak lainnya t ersebut.

2. Apabila penghasilan sehubungan dengan kegiat an- kegiatan perseorangan yang dilakukan oleh art is at au at lit t ersebut dit erim a bukan oleh art is at au at lit it u sendiri t et api oleh orang atau badan lain, m enyim pang dari ketentuan- ketentuan Pasal 7, 14 dan 15, m aka penghasilan tersebut dapat dikenakan paj ak di Negara Pihak pada Perset uj uan dim ana kegiatan- kegiat an senim an at au olahragaw an it u dilakukan.

(12)

Pasal 18

PENSI UN DAN TUNJANGAN HARI TUA

1. Dengan m em perhat ikan ketent uan- ketentuan ayat 2 Pasal 19, pensiun dan im balan sej enis lainnya yang dibayarkan kepada penduduk suat u Negara Pihak pada Perset uj uan yang bersum ber dari Negara Pihak lainnya pada Perset uj uan sehubungan dengan pekerj aan atau j asa- j asa dalam hubungan kerj a di Negara Pihak lainnya pada Persetuj uan di m asa lam pau dan t unj angan hari t ua yang dibayarkan kepada penduduk dari sum ber diat as hanya akan dikenakan paj ak di Negara Pihak lainnya tersebut.

2. I st ilah " tunj angan hari t ua" sebagaim ana digunakan dalam Pasal ini berart i suat u j um lah tertentu yang dibayar secara berkala pada wakt u- wakt u tertent u selam a hidup at au selam a suat u periode t ertentu atau m asa wakt u yang dapat diket ahui dengan kewaj iban unt uk m elakukan pem bayaran penuh dengan uang tunai.

Pasal 19

JABATAN DALAM PEMERI NTAHAN

1. ( a) I m balan, selain dari pensiun, yang dibayarkan oleh Negara Pihak pada Perset uj uan atau pem erint ah daerahnya kepada seseorang sehubungan dengan j asa- j asa yang diberikan kepada Negara Pihak t ersebut , hanya akan dikenakan paj ak di Negara Pihak tersebut .

( b) Nam un dem ikian, im balan tersebut hanya akan dikenakan paj ak di Negara Pihak lainnya pada Persetuj uan apabila j asa-j asa t ersebut diberikan di Negara Pihak lainnya it u dan orang t ersebut adalah penduduk Negara it u yang :

( i) m erupakan warganegara- Negara it u; atau

( ii) t idak m enj adi penduduk Negara it u sem ata- m at a hanya unt uk m aksud m em berikan j asa-j asa t ersebut

2. ( a) Set iap pensiun yang dibayarkan oleh, atau dari dana yang dibentuk oleh suat u negara Pihak pada Perset uj uan atau pem erint ah daerahnya kepada seseorang sehubungan dengan j asa-j asa yang diberikannya hanya akan dikenakan paj ak di Negara it u.

( b) Nam un dem ikian, pensiun t ersebut hanya akan dikenakan paj ak di Negara Pihak lainnya pada Persetuj uan bilam ana orang t ersebut adalah penduduk, dan warganegara dari Negara lainnya t ersebut

3. Ketent uan- ket ent uan dalam Pasal- pasal 15, 16 dan 18 akan berlaku terhadap pendapat an dan pensiun dari j asa- j asa yang diberikan sehubungan dengan usaha yang dij alankan oleh suat u Negara Pihak pada Perset uj uan at au pem erintah daerahnya.

Pasal 20

(13)

1. Seseorang yang m engunj ungi Negara Pihak pada Persetuj uan atas undangan dari Negara it u at au universitas, akadem i, sekolah, m usium at au lem baga kebudayaan lainnya dari Negara tersebut at au m elalui suatu program pert ukaran kebudayaan resm i unt uk suatu m asa t idak lebih dari 2 t ahun yang sem ata- m at a unt uk t uj uan m engaj ar, m em berikan kuliah atau m elakukan penelit ian di lem baga dim aksud dan yang bersangkut an adalah penduduk, at au segera sebelum kunj ungan it u dia adalah penduduk Negara Pihak lainnya pada Perset uj uan, at as pem bayaran unt uk kegiat an t ersebut akan dibebaskan dari pengenaan paj ak di pihak disebut kan pert am a, asalkan pem bayaran yang diperolehnya t idak berasal dari luar Negara tersebut .

2. Pem bayaran- pem bayaran yang dit erim a oleh siswa at au pem agang yang m erupakan penduduk at au segera sebelum m engunj ungi suat u Negara Pihak pada Perset uj uan m erupakan penduduk suatu Negara Pihak lainnya pada Perset uj uan dan berada di Negara Pihak yang disebut kan pertam a sem ata- m ata unt uk m engikut i pendidikan at au lat ihan, t idak akan dikenakan paj ak di Negara Pihak yang disebut kan pertam a, sepanj ang pem bayaran- pem bayaran tersebut adalah unt uk keperluan hidup, pendidikan atau lat ihannya dan berasal dari sum ber- sum ber Negara Pihak lainnya t ersebut.

Pasal 21

PENGHASI LAN LAI NNYA

Jenis- j enis penghasilan lainnya t idak disebut kan dalam Pasal- pasal t erdahulu dalam perset uj uan ini yang diperoleh penduduk suat u Negara Pihak pada Persetuj uan hanya akan dikenakan paj ak di Negara tersebut.

Pasal 22

METODE PENGHAPUSAN PAJAK BERGANDA

Apabila seorang penduduk suatu Negara Pihak pada Persetuj uan m em peroleh penghasilan dari Negara Pihak lainnya pada Persetuj uan sesuai dengan ketent uan Perset uj uan ini, dapat dikredit kan terhadap paj ak Negara yang disebut kan pertam a yang dikenakan terhadap penduduk it u. Nam un j um lah kredit it u t idak boleh m elebihi bagian paj ak penghasilan yang diperhit ungkan sesuai dengan ket ent uan dan perat uran perpaj akan dari Negara tersebut .

Pasal 23

(14)

1. Warganegara dari suat u Negara Pihak pada Persetuj uan t idak akan dikenakan paj ak at au kew aj iban apapun sehubungan dengan pengenaan paj ak di Negara Pihak lainnya pada Persetuj uan, yang berlainan at au lebih m em berat kan daripada pengenaan paj ak dan kew aj iban-kew aj iban pihak, yang dikenakan at au dapat dikenakan t erhadap warganegara dari Negara Pihak lainnya dalam keadaan yang sam a. Menyim pang dari ket ent uan- ket ent uan Pasal 1, ket ent uan ini berlaku j uga terhadap orang atau badan di kedua Negara para Pihak.

2. Pengenaan paj ak atas bentuk usaha t etap yang dim iliki oleh perusahaan suat u Negara Pihak pada Persetuj uan di Negara Pihak lainnya pada Perset uj uan, t idak akan dilakukan dengan cara yang kurang m enguntungkan dibandingkan dengan pengenaan paj ak at as perusahaan-perusahaan yang m enj alankan kegiat an- kegiatan yang sam a di negara Pihak lainnya it u. Ketent uan ini t idak dapat dit afsirkan sebagai m ew aj ibkan suatu Negara Pihak pada Persetuj uan untuk m em berikan kepada penduduk dari Negara Pihak lainnya pada Persetuj uan suat u pot ongan pribadi, keringanan-keringanan dan pengurangan-pengurangan unt uk kepent ingan pengenaan paj ak yang berdasarkan st atus sipil at au t anggung j awab keluarga sepert i yang diberikan kepada penduduk sendiri.

3. Kecuali ket ent uan- ket ent uan ayat 1 Pasal 9, ayat 7 Pasal 11, atau ayat 6 Pasal 12 berlaku bunga, royalt i dan pengeluaran- pengeluaran yang dibayarkan oleh perusahaan Negara Pihak pada Persetuj uan terhadap penduduk Negara Pihak lainnya pada Persetuj uan unt uk m aksud pengenaan paj ak penghasilan dari suat u perusahaan, akan dapat dikurangi dalam kondisi yang sam a sebagaim ana j ika t elah dibayarkan kepada penduduk Negara Pihak yang t elah disebut kan pertam a. 4. Perusahaan suat u Negara Pihak pada Perset uj uan, yang m odalnya sebagian at au seluruhnya

dim iliki at au dikuasai baik langsung atau t idak langsung oleh penduduk suat u Negara Pihak lainnya pada Perset uj uan, t idak akan dikenakan paj ak at au kewaj iban at aupun yang berkaitan dengan pengenaan paj ak di Negara Pihak yang disebut pertam a yang berlainan atau lebih m em berat kan daripada pengenaan paj ak dan kewaj iban- kew aj iban dim aksud yang dikenakan atau dapat dikenakan t erhadap perusahaan-perusahaan lainnya yang serupa di Negara Pihak yang disebut pert am a. cara-cara penyelesaian yang diat ur oleh perundang- undangan nasional dari m asing-m asing Negara Pihak, m aka ia dapat m engaj ukan m asalahnya kepada pej abat yang berwenang di Negara Pihaknya dim ana ia berkedudukan. Masalah tersebut harus diaj ukan dalam wakt u t iga tahun sej ak pem beritahuan pert am a dari t indakan yang m engakibat kan pengenaan paj ak yang t idak sesuai dengan ketent uan- ketent uan perset uj uan ini.

(15)

unt uk m encegah pengenaan paj ak berganda dalam hal t idak diat ur dalam Perset uj uan.

4. Pej abat -pej abat yang berwenang dari ke dua Negara dari Pihak pada Persetuj uan dapat berhubungan langsung satu sam a lain unt uk m encapai Perset uj uan sebagaim ana dim aksud pada ayat - ayat sebelum nya. Pej abat - pej abat yang berwenang, m elalui konsult asi akan m enet apkan prosedur-prosedur, syarat -syarat , cara-cara dan teknik- t eknik yang sesuai unt uk m erealisir prosedur Perset uj uan bersam a yang diat ur dalam pasal ini.

Pasal 25

PERTUKARAN I NFORMASI

1. Pej abat -pej abat yang berwenang dari kedua Negara Pihak pada Perset uj uan akan m elakukan t ukar- m enukar inform asi yang diperlukan untuk m elaksanakan ket ent uan- ket ent uan dalam Persetuj uan ini atau unt uk m elaksanakan undang- undang nasional m asing-m asing Negara Pihak pada Persetuj uan m engenai paj ak- paj ak yang dicakup dalam Perset uj uan, sepanj ang pengenaan paj ak m enurut undang- undang Negara yang bersangkut an t idak bertentangan dengan perset uj uan ini, khususnya unt uk m encegah terj adinya penggelapan at au penyelundupan paj ak. Set iap inform asi yang diterim a oleh pej abat yang berwenang suat u Negara Pihak pada Persetuj uan akan dij aga kerahasiaannya dengan cara yang sam a sepert i apabila inform asi it u diperoleh berdasarkan perundang- undangan nasional Negara Pihak t ersebut . Bagaim anapun, inform asi yang dianggap rahasia it u hanya dapat diungkapkan kepada orang at au badan atau pej abat -pej abat ( term asuk pengadilan dan badan-badan adm inist rat if) yang berkepent ingan dalam penet apan at au penagihan paj ak, pelaksanaan undang- undang atau penuntut an, at au dalam m em ut uskan keberat an berkenaan dengan paj ak- paj ak yang dicakup dalam Perset uj uan ini.

Orang atau badan atau para pej abat t ersebut hanya boleh m em berikan inform asi it u unt uk m aksud t ersebut diat as nam un dem ikian dapat j uga m engungkapkan inform asi itu dalam pengadilan um um at au dalam pengam bilan keputusan- keput usan pengadilan.

2. Bagaim ana j uga ket ent uan- ketent uan ayat ( 1) sam a sekali t idak dapat dit afsirkan sedem ikian rupa sehingga m em bebankan kepada pej abat yang berwenang Negara Pihak pada Perset uj uan kew aj iban unt uk :

( a) m elaksanakan t indakan- t indakan adm inist rat if yang bertent angan dengan perundang-undangan dan praktek adm inist rasi yang berlaku di Negara Pihak it u at au di Negara Pihak lain pada Persetuj uan;

( b) m em berikan inform asi yang t idak m ungkin diperoleh berdasarkan perundang- undangan at au dalam praktek adm inist rasi yang lazim di Negara Pihak t ersebut atau di Negara Pihak lainnya pada perset uj uan;

( c) m em berikan inform asi yang m engungkapkan set iap rahasia dibidang perdagangan, usaha, indust ri, perniagaan atau keahlian at au tat a cara perdagangan at au inform asi lainnya yang pengungkapannya bertentangan dengan kebij aksanaan um um ( ordre public) .

Pasal 26

(16)

1. Persetuj uan ini akan berlaku pada hari berikut nya setelah t anggal dim ana m asing- m asing Pihak pada Perset uj uan saling m em berit ahu secara tertulis bahw a form alitas yang diperlukan dim asing-m asing Negara Pihak t elah dipenuhi.

2. Ketent uan- ket ent uan ini akan berlaku :

( a) m engenai paj ak-paj ak yang dipotong pada sum ber penghasilan pada j um lah yang t elah dibayarkan at au dikredit kan pada at au set elah hari pert am a di bulan kedua setelah tanggal dim ana Persetuj uan ini berlaku;

( b) m engenai paj ak lainnya pada pendapatan, tahun paj ak dim ulai pada at au setelah tanggal 1 Januari tahun berikut nya sesudah tahun berlakunya perset uj uan ini.

Pasal 27

BERAKHI RNYA PERSETUJUAN

Persetuj uan ini akan tetap berlaku sam pai diakhiri oleh salah satu Pihak pada Perset uj uan.

Masing- m asing Pihak pada Persetuj uan dapat m engakhiri berlakunya perset uj uan ini, dengan m enyam paikan pem beritahuan t ertulis tentang berakhirnya Perset uj uan pada atau sebelum tanggal 30 ( t iga puluh) bulan Juni set iap t ahun t akw im berikut nya setelah j angka wakt u 5 ( lim a) t ahun sej ak berlakunya Persetuj uan.

Dalam hal dem ikian, Perset uj uan ini akan t idak berlaku :

( a) m engenai paj ak-paj ak yang dipot ong pada sum ber penghasilan, pada j um lah- j um lah yang telah dibayarkan atau dikredit kan setelah tanggal 1 Januari t ahun takw im berikut nya setelah pem beritahuan berakhirnya Perset uj uan diberikan;

( b) m engenai paj ak- paj ak pendapatan lainnya, untuk tahun-t ahun paj ak yang dim ulai pada atau setelah t anggal 1 Januari tahun t akw im berikut nya set elah pem berit ahuan berakhirnya Persetuj uan diberikan.

Sebagai bukt i, yang bertanda tangan dibaw ah ini yang diberi kuasa penuh t elah m enandatangani Persetuj uan ini.

(17)

Unt uk Kant or Dagang dan

Ekonom i I ndonesia, Taipei

t t d

Unt uk Kant or Dagang dan

Ekonom i Taipei, Jakarta

Referensi

Dokumen terkait

Toman, et al., [7] compared between various lemmatization and stemming algorithms using English and Czech datasets to examine the influence of the word normalization on

- Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan Kegiatan : 1.19.1.19.01.06.08:. - Penyediaan Jasa

Tujuan penelitian untuk mengetahui : (1) pengaruh variasi asam saat proses ekstraksi padat-cair abu terbang batubara terhadap kadar ion aluminium yang dihasilkan;

Putusan arbitrase internasional yang dapat dieksekusi hanya diakui serta dapat dilaksanakan di wilayah hukum Republik Indonesia, jika telah memenuhi syarat : (1)

Syech Nawawi Al-Bantani, KP3B Blok

PTMTRINTAII KOTA SINGKAUTANG DINAS KESEHATAN. Jolon Alibnyong No.7

Kesimpulan Dengan ini diberitahukan bahwa setelah diadakan penelitian oleh Panitia berdasarkan pada ketentuan-ketentuan yang berlaku serta berdasarkan Penetapan Pemenang

Given the high barriers to entry and Pelindo III’s first mover advantage, it is well placed to maintain its position as the largest port operator in Central and Eastern