No. 05/06/74/Th.VIII, 01Mei 2016
P
ERKEMBANGANI
NDEKSH
ARGAK
ONSUMEN/I
NFLASIK
OTAP
ROBOLINGGOB
ULANMEI
2016
Bulan Mei 2016Kota Probolinggo mengalami Inflasi sebesar 0,15 persen
Pada Bulan Mei 2016, Kota Probolinggo mengalami inflasi sebesar 0,15 persen. Inflasi Kota Probolinggo bulan Mei 2016 terjadi karena dari 7 ( tujuh )kelompok pengeluaran, 4 ( empat) kelompok mengalami
inflasi, sedangkan 3 ( tiga ) kelompok mengalami deflasi.Hal ini dapat dilihat adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks harga pada kelompok makanan jadi sebesar 0,51 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,07persen, kelompok sandang sebesar 0,76 persendankelompok kesehatan sebesar 0,25. Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi
adalah bahan makanan sebesar 0,05 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,01 persen serta kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,02 persen.
Komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya inflasi adalah beras, gula pasir, emas perhiasan, daging ayam kampung, telur ayam ras, daging ayam ras, terong panjang, rokok kretek, kentang, apel dan lain-lain.
Komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya deflasi adalahtomat sayur, rempela hati ayam, jeruk, bawang putih, bawang merah, tauge/kecambah, bandeng bolu, daging sapi, ikan belanak, tomat buah dan lain-lain.
Dari 8 kota di Jawa Timur yang menjadi Kota IHK Nasional, semuanya mengalami inflasi.Inflasi tertinggi terjadi di Sumenep sebesar 0,31 persen disusulJember, kota Malang dan kota Probolinggo masing-masing sebesar 0,15 persen, kota Surabaya sebesar 0,13 persen, Banyuwangi sebesar 0,12 persen dan inflasi terendah terjadi di kota Madiun sebesar 0,06 persen.
Dari 6 Ibukota Provinsi di Pulau Jawa, semuanya mengalami inflasi.Inflasi tertinggi terjadi di Serang sebesar 0,88 persen, kota Bandungsebesar 0,24 persen, DKI Jakarta sebesar 0,19 persen, kota Surabaya sebesar 0,13 persen, kota Semarang sebesar 0,12 persen dan inflasi terendah terjadi di Yogyakarta sebesar 0,08 persen
Laju inflasi tahun kalender (s/d Mei 2016) Kota Probolinggo mengalami inflasi 0,24 persen, sedangkan laju inflasi year on year (Mei 2016 terhadap Mei 2015) Kota Probolinggo sebesar 2,13 persen.
Bulan Mei 2016 Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,14 persen, laju inflasi tahun kalender (s/d Mei 2016) Jawa Timur mengalami inflasi 0,48 persen, sedangkan laju inflasi year on year (Mei 2016 terhadap Mei 2015) Jawa Timur sebesar 2,77persen.
Bulan Mei 2016 Nasional mengalami inflasisebesar 0,24 persen, laju inflasi tahun kalender (s/d Mei 2016) Nasional mengalami inflasi 0,40 persen, sedangkan laju inflasi year on year (Mei 2016 terhadap Mei 2015) Nasional sebesar 3,33persen.
0.81 0.29 0.54 -0.07 0.12 0.46 0.15 Persentase B ula n M e i
Series Data Inflasi Kota Probolinggo Bulan Mei 2010 - 2016
2016 2015 2014 2013 2012 2011 2010
1. Inflasi Probolinggo
Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga (inflasi/deflasi) di tingkat konsumen, khususnya di daerah perkotaan. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Di Indonesia, tingkat inflasi diukur dari persentase perubahan IHK dan diumumkan ke publik setiap awal bulan (hari kerja pertama) oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Penghitungan inflasi Probolinggotahun 2016(IHK Tahun Dasar 2012 = 100) didasarkan pada hasil pemantauan/pendataan harga barang dan jasa yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada pasar tradisional dan pasar modern di Probolinggo yaitu;: Pasar Baru, Pasar Wonoasih dan Giant Hypermart.
Secara umum, Kota Probolinggo pada bulan Mei2016mengalami inflasi.Penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) yaitu bensin pertamax , tomat sayur, rempela hati ayam dan lain-lain belum mampu menghambat pergerakan inflasi yang didorong oleh naiknya beberapa komoditas seperti beras, gula pasir, telur ayam ras, daging ayam ras dan lain-lain.
Dari hasil pemantauan harga pada bulan Mei2016Probolinggo mengalami inflasi sebesar 0,15 persen
atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 121,34 pada bulan April2015naikmenjadi 121,52 pada bulan Mei2016. Perjalanan series data inflasi selama tahun 2010 sampai dengan2016( tujuh tahun), pada bulan Meiterjadi 6 (enam) kali inflasi dan 1 (satu) kali deflasi. Inflasi tertinggi terjadi pada tahun2010 sebesar0,81persen, diikuti tahun 2012sebesar 0,54 persen, tahun 2015sebesar 0,46 persen, tahun 2011sebesar 0,29 persen, tahun 2016 sebesar 0,15 persen dan tahun 2014 sebesar 0,12 persen. Sedangkan deflasi terjadi pada tahun 2013 sebesar 0,07 persen.
Adapun kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indek (inflasi) antara lain kelompok pengeluaran makanan jadi, yang mengalami kenaikan harga sebesar 0,51 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,0854 persen. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga sekaligus mendorong laju inflasi antara lain gula pasir naik sebesar 6,0241 persen dan turut menyumbang inflasi sebesar 0,0585 persen, rokok kretek mengalami kenaikan harga sebesar 1,1400 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,0159 persen, rokok kretek filter juga mengalami kenaikan harga sebesar 0,1652 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,0031 persen, air kemasan juga mengalami kenaikan harga sebesar 0,6991 persen dan mampu mendorong inflasi sebesar 0,0029 persen serta wafer naik sebesar 1,5829 persen dan mendorong laju inflasi sebesar 0,0023 persen dan lain-lain. Sedangkan satu-satunya komoditas yang menghambat laju inflasi adalah kembang gula yang mengalami penurunan harga sebesar 0,2458 persen dan menyumbang deflasi sebesar 0,0003 persen. IHK Desember 2015 IHK April 2016 IHK Mei 2016 Andil Inflasi Mei 2016 Inflasi Mei 20161) Tingkat Inflasi Tahun Kalender 20162) Inflasi Year on Year3) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) UMUM 121,23 121,54 121,52 0,15 0,15 0,24 2,13 1 Bahan Makanan 124,25 124,53 124,74 -0,01 -0,05 0,39 3,69 2 Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau
122,69 124,42 125,17 0,09 0,51 2,02 3,55
3 Perumahan, Air, Listrik,
Gas, dan Bahan Bakar 120,51 120,84 121,53 0,01 0,07 0,85 2,31
4 Sandang 110,65 114,32 115,33 0,05 0,76 4,23 5,07
5 Kesehatan 115,43 117,10 117,73 0,01 0,25 1,99 4,65
6 Pendidikan, Rekreasi,
dan Olah raga 120,17 120,22 121,05 0,00 -0,01 0,73 2,96
7 Transpor, Komunikasi,
dan Jasa Keuangan 122,59 120,22 117,55 0,00 -0,02 -4,11 -3,28
1) Persentase perubahan IHK bulan Mei 2016 terhadap IHK bulan sebelumnya 2) Persentase perubahan IHK bulan Mei 2016 terhadap IHK bulan April 2016 3) Persentase perubahan IHK bulan Mei 2016 terhadap IHK bulan Mei 2015.
Tabel 1. Andil dan Tingkat Inflasi Mei 2016, Inflasi Tahun Kalender 2016 dan Inflasi Year on Year
menurut Kelompok Pengeluaran (2012=100)
Kelompok Pengeluaran
(1)
Dorongan inflasi semakin kuat akibat kenaikan indeks pada Kelompokperumahan, air, listrik, gas dan
bahan bakaryang mengalami inflasi sebesar 0,07 persen dengan kontribusi sumbangan inflasi sebesar
0,0128persen. Komoditas yang mengalami kenaikan harga pada kelompok ini antara lain pasir naik sebesar 1,2699persen dengan kontribusi sumbangan inflasi sebesar 0,0064persen, sabun detergen bubuk/cair jugamengalami kenaikan sebesar 0,9900 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,0055 persen, genteng juga mengalami kenaikan sebesar 1,95 persen dan turut mendorong laju inflasi sebesar 0,0041 persen, pembersih lantainaik sebesar 1,2193 persen dan ikut menyumbang inflasi sebesar 0,0006 persen,sabuncair/cuci piringnaik sebesar 0,0699 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,0001persen dan lain-lain.
Meskipun kelompok inimengalami inflasi namun ada beberapa komoditas yang ikut andil menghambat laju inflasi, yaitutarip listrikyang mengalami penurunanharga sebesar 0,0753 persen dan menyumbang deflasi sebesar 0,0021 persen, kulkas/lemari es turun sebesar 0,33 persen dan menyumbang deflasi sebesar 0,0012 persen, semen juga mengalami penurunan harga sebesar 0,0813 persen dan menghambat laju inflasi sebesar 0,0005 persen dan pembasmi nyamuk sprayturun sebesar 0,1473 persen dan menyumbang deflasi sebesar 0,0001persen .
Kelompok Sandang juga mengalami inflasi, yaitu sebesar 0,76 persen dan menyumbang inflasi
sebesar 0,0499 persen. Adapun komoditas penyumbang inflasi antara lain emas perhiasan yang mengalami kenaikan harga sebesar 3,4089 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,0551 persen, kerudung/jilbab mengalami kenaikan harga sebesar 2,2500 persen dan mendorong laju inflasi sebesar 0,0034 persen, celana panjang jeans wanitajuga mengalami kenaikan harga sebesar 0,7600 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,001 persen, sarung katun juga mengalami kenaikan sebesar 1,1574 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,0007 persen serta baju kaos berkerah yang mengalami kenaikan harga sebesar 0,2866 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,0004 persen.
Meskipun kelompok pengeluaran Sandang mengalami kenaikan indeks ( inflasi) namun ada beberapa
komoditas yang mengalami penurunan harga dan menghambat laju inflasi yaitu seragam sekalah anak yang mengalami penurunan harga sebesar 2,9622 persen dan menyumbang deflasi sebesar 0,0046 persen, seragam sekolah wanita yang mengalami penurunan harga sebesar 4,2243 persen dan menghambat laju inflasi sebesar 0,0029 persen, celana panjang jeans untuk laki-laki turun sebesar 0,696 persen dan menghambat laju inflasi sebesar 0,0017 persen, kemeja npendek katun untuk laki-laki turun sebesar 1,2168 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,0009 persen serta kemeja panjang katun untuk laki-laki naik sebesar 0,9826 persen dan menghambat laju inflasi sebesar 0,0006 persen.
Kelompok lain yang juga mengalami inflasi adalah kelompok Kesehatan, yang mengalami kenaikan
indeks sebesar 0,25 persen dan ikut andil menyumbang inflasi sebesar 0,012 persen. Komoditas yang
mempunyai andil mendorong laju inflasi antara lain obat dengan resep yang mengalami kenaikan sebesar 0,6410 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,0038 persen, pasta gigi juga naik sebesar 1,2284 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,0036 persen, sabun mandi juga mengalami kenaikan sebesar 0,8407persen dan ikut andil menyumbang inflasi sebesar 0,0026 persen, obat gosok juga ikutnaik sebesar 1,4612 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,0011 persen, obat sakit kepalanaik sebesar 1,7515 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,0006persen. Adapun komoditas yang mengalami penurunan harga dan menghambat laju inflasi adalah deodorant yang mengalami penurunan harga sebesar 0,1603 persen dan menghambat laju inflasi sebesar 0,0001 persen.
Adapun kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indekatau mengalami deflasi antara lain kelompok Bahan Makananyang mengalami penurunan haga sebesar 0,005 persen dan memberikan sumbangan deflasi sebesar 0,0118persen. Hal ini terjadi akibat adanya penurunan harga tomat sayur sebesar 26,0245 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,1501 persen, rempela hati ayamturun sebesar 4,7697 persen dan menyumbang deflasi sebesar 0,0274persen, jerukturun sebesar 3,5197 persen dan menyumbang deflasi sebesar 0,0194 persen, bawang putih turun sebesar 5,4076 persen dan menghambat laju inflasi sebesar 0,0018, bawang merah turun sebesar 3,4922 persen dan menghambat laju inflasi sebesar 0,0172 persendan lain-lain.
Meskipun kelompok ini mengalami deflasi, namun ada beberapa komoditas yang mendorong laju inflasi seperti beras yang mengalami kenaikan harga sebesar 1,5431 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,0812 persen, daging ayam kampungyang mengalami kenaikan harga sebesar 7,7414 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,0516 persen, telur ayam ras naik sebesar 3,9013 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,0288 persen, daging ayam ras yang mengalami kenaikan harga sebesar 3,2744 persen dan menyumbang inflasi 0,0284 persen, terong panjangnaik sebesar 15,6815 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,0195 persen dan lain-lain.
Kelompok lain yang mengalami inflasi adalah kelompok pengeluaran Pendidikan, rekreasi dan olah raga, dimana kelompok ini mengalami deflasi sebesar 0,01 persen dan ikut andil menyumbang deflasi sebesar 0,0005 persen. Satu-satunya komoditas yang menghambatlaju inflasi adalah televisi berwarna yang mengalami penurunanharga sebesar 0,0800 persen dan ikut andil menyumbang deflasi sebesar 0,0005 persen. Tidak ada satupun komoditas yang mendorong laju inflasi.
Kelompok pengeluaran lain yang mengalami deflasi adalah kelompok Transpor, komunikasi dan jasa
keuangan yang mengalami deflasi yaitu sebesar 0,02 persen dan ikut andil menyumbang deflasi sebesar
0,017persen. Adapun komoditi penyumbang deflasi adalahbensin pertamaxyang yang mengalami penurunan sebesar 0,05 persen dan menyumbang deflasi sebesar 0,0021 persen sertatelepon seluler juga mengalami penurunan harga sebesar 0,3200 persen dan ikut menghambat laju inflasi sebesar 0,0015 persen.
Meskipun kelompok ini mengalami deflasi, namun banyak juga komoditas yang mengalami kenaikan harga seperti : sepeda motor yang mengalami kenaikan harga sebesar 0,0825 persen dan mendorong laju inflasi sebesar 0,0016 persen serta helmyang juga naik sebesar 0,5100 persen dan mendorong laju inflasi sebesar 0,0003 persen.
2. Inflasi 8 Kota di Jawa Timur
Dari 8 kota IHK di Jawa Timur, pada bulan
Mei2016, semuanyamengalami inflasi. Inflasi
tertinggi terjadi di Sumenep sebesar 0,31 persen
diikutiJember, kota Malang dan kota Probolinggo
masing-masingsebesar 0,15 persen, kota Surabaya
sebesar 0,13 persen, Banyuwangi kota
Kedirimasing-masing sebesar 0,12 persen dan inflasi terendah
terjadi dikota Madiunsebesar 0,06
persen,sebagaimana terlihat pada Gambar 2.
Gambar 2
Inflasi 8 Kota di Jaw a Timur bulan Mei 2016
0,15 0,31 0,12 0,15 0,15 0,06 0,13 0,12 B.Wangi Sby Madiun Prob. Malang Kediri Sumenep Jember
Gambar 3.
Inflasi y-o-y 8 Kota di Jawa Timur (Mei 2015 - Mei 2016) 2,42 2,69 2,92 1,83 2,78 2,13 2,89 2,94
Jbr. Smnp. Kdr. Mlg. Prob. Mdn. Sby. B.W angi
Gambar 4. Inf lasi ibukota Prov insi di Pulau Jawa Bulan Mei 2016 0,19 0,88 0,24 0,12 0,08 0,13
Jakarta Serang Bandung
Semarang Y ogy akarta Surabay a
Dari semua kota, inflasi y-o-y tertinggi terjadi di
kotaSurabaya sebesar 2,94persen, diikuti
Sumenepsebesar 2,92 persen, kota Madiun sebesar
2,89 persen, kota Malangsebesar 2,78persen,
Jembersebesar 2,69persen, Banyuwangi sebesar
2,42persen, kota Probolinggo sebesar2,13persen dan
inflasi terendah terjadi di kota Kedirisebesar 1,83
persen. sebagaimana terlihat pada Gambar3.
3. Inflasi/deflasi 6 Ibukota Provinsi di Pulau Jawa
Dari 6 (enam)kota ibukota provinsi di pulau
Jawa, semuanya mengalamiinflasi.Inflasi tertinggi
terjadi di Serangsebesar 0,88persen, Bandung sebesar
0,24 persen, DKI Jakarta sebesar 0,19
persen,Surabayasebesar 0,13 persen, Semarang
sebesar 0,12 persen dan inflasi terendah terjadi di
Yogyakarta sebesar 0,08 persen, sebagaimana terlihat
pada Gambar 4.
Inflasi y-o-y bulan Mei2016 pada 6 ibukota provinsi di pulau
Jawa, inflasi tertinggi terjadi di Serang sebesar 4,88
persen, diikuti olehBandungsebesar 3,66 persen, DKI
Jakartasebesar 2,90 persen, Surabayasebesar 2,94
persen, inflasi terendah terjadi di Semarang dan
Yogyakartamasing-masing sebesar 2,86persen
sebagaimana terlihat pada Gambar 5.
Gambar 5. Inflasi YoY Ibukota Provinsi Di Pulau Jawa (Mei 2015 - Mei 2016)
2,90 4,86
3,66
2,86 2,86 2,94
Jakarta Serang Bandung