• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN PROBLEM SOLVING

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN PROBLEM SOLVING"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN

KREATIF SISWA KELAS X PADA KONSEP TRIGONOMETRI

Mohamad Syarif STKIP Bina Mutiara Sukabumi

Jl. Pembangunan (Salakaso) Desa Pasir Halang Kotak Pos 01 Kec. Sukaraja Sukabumi

Telp: (0266) 6243531 [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematika siswa melalui pembelajaran pendekatan Problem Solving di SMAN 1 Sukaraja Kabupaten Sukabumi. Penelitian ini menggunakan dua kelas sebagai sampel penelitian, yaitu kelas eksperimen yang mendapat kegiatan pembelajaran pendekatan Problem Solving dan kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional. Adapun materi pokok matematika yang dipelajari adalah konsep Trigonometri. Dari hasil penelitian yang dilakukan pada kelas eksperimen yang mendapat pembela-jaran dengan pendekatan Problem Solving dan kelas kontrol yang mendapat pembelajaran secara konvensional dapat disimpulkan bahwa peningkatan kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematika siswa melalui pembelajaran pendekatan Problem Solving di SMAN 1 Sukaraja Kabupaten Sukabumi lebih baik daripada pembelajaran konvensional. Selain itu, siswa memberikan sikap positif terhadap mata pelajaran matematika, dan sikap siswa terhadap pembelajaran matematika dengan pendekatan Problem Solving juga memberikan sikap positif.

Kata Kunci: Berpikir Kritis, Kreatif, Problem Solving, Trigonometri.

Abstract

This research aims to improve the ability to think critically and creatively math students through learning Problem Solving approach in SMAN 1 Sukaraja Kabupaten Sukabumi. This research uses two classes as sample of research, that is experiment class which gets learning activity of Problem Solving approach and control class using conventional learning. The subject matter of mathematics studied are the concept of Trigonometry. From the results of research conducted on the experimental class that got a defense with the approach from Problem Solving and control class that received conventional learning can be concluded that the improvement of critical thinking skills and students' mathematical creativity through learning Problem Solving approach in SMAN 1 Sukaraja Kabupaten Sukabumi better than conventional learning. In addition, students give a positive attitude to the subjects of mathematics, and student attitudes toward learning mathematics with Problem Solving approach also provides a positive attitude.

(2)

PENDAHULUAN

Matematika sering dianggap sebagai ilmu yang hanya menekankan pada kemampuan berpikir logis dengan penyelesaian yang tunggal dan pasti. Hal ini yang menyebabkan matematika menjadi mata pelajaran yang ditakuti dan dijauhi siswa. Padahal, matematika dipelajari pada setiap jenjang pendidikan dan menjadi salah satu pengukur (indikator) keberhasilan siswa dalam menempuh suatu jenjang pendidikan, serta menjadi materi ujian untuk seleksi penerimaan menjadi tenaga kerja bidang tertentu. Melihat kondisi ini berarti matematika tidak hanya digunakan sebagai acuan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, tetapi juga digunakan dalam mendukung karier seseorang.

Hal ini dapat dilihat dari tujuan pembelajaran matematika SMA, yaitu:

1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antara konsep dan meng-aplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah.

2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.

3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh. 4. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram atau media lain untuk

memperjelas keadaan atau masalah.

5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Tujuan pembelajaran matematika secara umum yang dirumuskan oleh National Council of Teacher of Matematics atau NCTM (2000), yaitu:

1. Belajar untuk berkomunikasi (Mathematical Communication). 2. Belajar untuk bernalar (Mathematical Reasoning).

3. Belajar untuk memecahkan masalah (Mathematical Problem Solving). 4. Belajar untuk mengaitkan ide (Mathematical Connections).

5. Pembentukan sikap positif terhadap matematika (Positive attitude to word mathe-matics).

Dari tujuan tersebut, terlihat bahwa matematika sangat penting untuk menumbuhkan penataan nalar atau kemampuan berpikir logis serta sikap positif siswa yang berguna dalam mempelajari ilmu pengetahuan maupun dalam penerapan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai landasan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersebut disusun standar kompetensi dan kompetensi dasar matematika. Standar kompetensi dan

(3)

kompetensi dasar dijadikan sebagai landasan guru untuk menyusun program dan kegiatan belajar-mengajar di kelas.

Siswa X SMAN 1 Sukaraja Sukabumi mempunyai kemampun dan pengetahuan yang cukup untuk menyelesaikan soal Trigonometri. Hal tersebut ditunjukkan dari kemampuan siswa menyelesaikan soal Trigonometri yang diberikan, walaupun sebatas pengetahuan yang mereka peroleh dari guru. Siswa kurang mengoptimalkan kemampuan dan pengetahuan yang mereka miliki untuk memahami konsep Trigonometri sehingga masih ada siswa yang melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal Trigonometri dikarenakan kurang memahami konsep Trigonometri. Oleh karena itu, hendaknya guru memberikan kebebasan kepada siswa untuk menggunakan kemampuan dan keterampilan intelektualnya sehingga tercapainya domain kognitif yang menunjukkan tujuan pendidikan yang terarah kepada kemampuan-kemampuan intelektual, kemampuan berpikir, maupun kecerdasan yang akan dicapai.

Berdasarkan uraian tersebut, peneliti ingin mencoba menerapkan pendekatan pembela-jaran Problem Solving. Siswa dapat mengembangkan kreativitas menggunakan kemampuan berpikir kritis dan kreatif untuk menyelesaikan soal Trigonometri sehingga dapat mening-katkan kemampuan pemahaman konsep Trigonometri pada siswa kelas X SMAN 1 Sukaraja Kabupaten Sukabumi.

Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut.

1. Apakah peningkatan kemampuan berpikir kritis matematika siswa melalui pembela-jaran pendekatan Problem Solving di SMAN 1 Sukaraja Kabupaten Sukabumi lebih baik daripada pembelajaran konvensional?

2. Apakah peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematika siswa melalui pembela-jaran pendekatan Problem Solving di SMAN 1 Sukaraja Kabupaten Sukabumi lebih baik daripada pembelajaran konvensional?

3. Bagaimana sikap siswa terhadap matematika dan pembelajaran matematika dengan pendekatan Problem Solving?

Berdasarkan rumusan masalah maka penelitian ini bertujuan:

1. Untuk meningkatan kemampuan berpikir kritis matematika siswa melalui pembelajaran pendekatan Problem Solving di SMAN 1 Sukaraja Kabupaten Sukabumi lebih baik daripada pembelajaran konvensional.

2. Untuk meningkatan kemampuan berpikir kreatif matematika siswa melalui pembela-jaran pendekatan Problem Solving di SMAN 1 Sukaraja Kabupaten Sukabumi lebih baik daripada pembelajaran konvensional.

3. Untuk mengetahui sikap siswa terhadap matematika dan pembelajaran matematika dengan pendekatan Problem Solving.

(4)

Sementara manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Bagi Peneliti

Manfaat bagi peneliti sebagai media mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh di bangku kuliah maupun pengalaman di luar perkuliahan.

2. Bagi Siswa

Siswa sangat memerlukan pembelajaran matematika yang dapat menunjang terhadap kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematika. Hal ini dikarenakan kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematika siswa merupakan salah satu kompetensi yang harus dicapai oleh siswa, maka diperlukan suatu alternatif pembelajaran matematika yang mendukung ber-kembangnya kemampuan tersebut dengan pemberian pendekatan Problem Solving.

3. Bagi Guru

Guru dapat menggunakan model pembelajaran ini sebagai alternatif pembelajaran di kelas dan menjadi bahan masukan bagi pendidikan guru dalam rangka mengkaji, meng-analisis dan meneliti masalah-masalah yang berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematika siswa.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini adalah menggunakan dua kelas sebagai sampel penelitian, yaitu kelas eksperimen yang mendapat kegiatan pembelajaran pendekatan Problem Solving dan kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional. Kelas eksperimen diberikan per-lakuan (treatment) berupa pembelajaran dengan pendekatan Problem Solving dan selanjutnya dicari pengaruh pendekatan tersebut terhadap kemampuan berpikir kritis matematika dan kemampuan kreatif matematika. Berdasarkan pendapat Sugiyono (2010), penelitian ini termasuk ke dalam penelitian eksperimen (Kuasi Eksperimen).

Desain Penelitian

Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah desain eksperimen dengan satu variabel bebas, yaitu pemberian kegiatan pembelajaran dengan pendekatan Problem Solving dan dua variabel terikat, yaitu kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematika siswa. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan dua kelas, yaitu kelas eksperimen yang diberikan pembelajaran pendekatan Problem Solving dan kelas kontrol yang yang diberi perlakuan pembelajaran konvensional. Kedua kelas ini, diberikan pretest dan postest dengan meng-gunakan instrumen yang sama. Menurut Sugiyono (2010), penelitian seperti ini disebut penelitian eksperimen pretest postest dengan kelas kontrol (pretest-postest class control design). Adapun desain penelitian ini berbentuk:

(5)

A O X O

Keterangan:

A = Pengambilan sampel secara acak

O = Pretest dan postest (tes kemampuan berpikir kritis dan kreatif) X = Pembelajaran matematika dengan pendekatan problem solving.

Sementara, pola hubungan antara variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y) dapat dilihat pada gambar berikut:

Keterangan:

X = Pembelajaran dengan pendekatan Problem Solving Y1 = Kemampuan berpikir kritis matematika

Y2 = Kemampuan berpikir kreatif matematika

Keterkaitan antar variabel bebas, variabel terikat, kelas eksperimen dan kelas kontrol disajikan dengan model Weiner berikut ini:

Variabel Terikat Kelas Sampel

Kemampuan berpikir kritis matematika

Kemampuan berpikir kreatif matematika

Kelas Eksperimen Pembelajaran dengan

Pendekatan Problem Solving

Pembelajaran dengan

Pendekatan Problem Solving

Kelas Kontrol Pembelajaran konvensional Pembelajaran konvensional

Populasi dan Sampel

Menurut Arikunto (2006: 130). Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMAN 1 Sukaraja Kabupaten Sukabumi yang berjumlah 160 orang. Alasan pengambilan populasi kelas X adalah karena materi Trigonometri berada pada kelas X. Selain itu, anak SMA sudah memasuki tahap berpikir formal sehingga siswa diperkirakan sudah dapat berpikir kritis dan kreatif.

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2006: 131). Apabila subjeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya, jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% bergantung setidak-tidaknya dari:

1. Kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga, dan dana.

2. Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subjek karena hal itu menyangkut banyak sedikitnya data.

X

Y2 Y1

(6)

3. Besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti. Untuk penelitian yang resikonya besar, tentu saja sampel besar, hasilnya akan lebih baik. (Arikunto, 2006: 134).

Sampel ditetapkan dengan cara acak memilih dua kelas yaitu kelas X IPA 1 kelas eksperimen dan X IPA 2 sebagai kelas kontrol.

Analisis Data dan Hasil Penelitian

Analisis statistik yang digunakan dalam mengolah data adalah uji-t untuk mengukur kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Akan tetapi, sebelumnya diuji normalitas dan homo-genitas varians kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Uji normalitas dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov, sedangkan uji homogenitas menggunakan uji Levene’s.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Analisis Pretes Kemampuan Berpikir Kritis Matematika

Nilai rerata pretes kemampuan berpikir kritis matematika dari kelas kontrol dan eksperimen relatif sama. Untuk menguji ada tidaknya perbedaan rerata kemampuan berpikir kritis matematika antara kelas kontrol dan kelas eksperimen digunakan uji-t. Namun, terlebih dahulu dilakukan pengujian normalitas skor pretes kemampuan berpikir kritis matematika dengan menggunakan uji Normalitas data dengan menggunakan Kolmogrof-Smirnov:

Ho : Skor pretes kemampuan berpikir kritis matematika siswa berdistribusi normal.

Ha : Skor pretes kemampuan berpikir kritis matematika siswa tidak berdistribusi normal.

Dengan kriteria:

jika nilai Sig (p) > 0,05 → Terima Ho

jika nilai Sig (p) ≤ 0,05 → Tolak Ho (Trihendradi, 2008)

Untuk menguji homogenitasnya digunakan uji Laven’s dengan hipotesis:

Ho : Varians skor pretes kemampuan berpikir kritis matematika siswa kelas eksperimen dan

kelas kontrol.

Ha : Varians skor pretes kemampuan berpikir kritis matematika siswa eksperimen dan kelas

kontrol tidak homogen. Kriteria pengujian: jika Sig (p) > 0,05 → terima Ho

jika Sig (p) ≤ 0,05 → tolak Ho (Trihendradi, 2008)

Hasil perhitungan uji normalitas kelas eksperimen Sig (p) = 0,200 dan kelas kontrol Sig (p) = 0,117; artinya Ho diterima dan interpretasi Normal. Sementara, untuk uji homogenitas

Sig (p) = 0,27; artinya Ho diterima interpretasi Homogen. Oleh karena itu, untuk menguji

perbedaan rerata dilakukan dengan uji–t. Adapun hipotesisnya:

Ho : Tidak terdapat perbedaan kemampuan awal berpikir kritis matematik siswa antara siswa

(7)

Ha : Terdapat perbedaan kemampuan awal berpikir kritis matematik siswa antara siswa pada

kelas eksperimen dengan siswa pada kelas kontrol. Dengan kriteria pengujian:

jika Sig (2-tailed)(p) > ½ α (0,025) → terima Ho

jika Sig (2-tailed)(p) ≤ ½ α (0,025) → tolak Ho (Trihendradi, 2008)

Dari hasil perhitungan Sig (2-tailed)(p)=0,681 maka Ho diterima. Jadi, tidak terdapat

perbedaan kemampuan awal berpikir kritis matematik siswa antara siswa pada kelas eksperimen dengan siswa pada kelas kontrol.

Analisis Pretes Kemampuan Berpikir Kreatif Matematika

Nilai rerata pretes kemampuan berpikir kreatif matematika dari kelas kontrol dan eksperimen relatif sama. Untuk menguji ada tidaknya perbedaan rerata kemampuan berpikir kreatif matematika antara kelas kontrol dan kelas eksperimen digunakan uji-t. Namun, terlebih dahulu dilakukan pengujian normalitas skor pretes kemampuan berpikir kreatif matematika dengan menggunakan uji Normalitas data dengan menggunakan Kolmogrof-Smirnov:

Ho : Skor pretes kemampuan berpikir kreatif matematika siswa berdistribusi normal.

Ha : Skor pretes kemampuan berpikir kreatif matematika siswa tidak berdistribusi normal.

Dengan kriteria:

jika nilai Sig (p) > 0,05 → Terima Ho

jika nilai Sig (p) ≤ 0,05 → Tolak Ho (Trihendradi, 2008)

Untuk menguji homogenitasnya digunakan uji Laven’s dengan hipotesis:

Ho : Varians Skor pretes kemampuan berpikir kreatif matematika siswa kelas eksperimen

dan kelas kontrol.

Ha : Varians skor pretes kemampuan berpikir kreatif matematika siswa eksperimen dan

kelas kontrol tidak homogen. Kriteria pengujian:

jika Sig (p) > 0,05 → terima Ho

jika Sig (p) ≤ 0,05 → tolak Ho (Trihendradi, 2008)

Hasil perhitungan uji normalitas kelas eksperimen Sig (p) = 0,051 dan kelas kontrol Sig (p) = 0,052; artinya Ho diterima dan interpretasi Normal. Sementara, untuk uji homogenitas

Sig (p) = 0,916; artinya Ho diterima interpretasi Homogen. Oleh karena itu, untuk menguji

perbedaan rerata dilakukan dengan uji–t. Adapun hipotesisnya:

Ho : Tidak terdapat perbedaan kemampuan awal berpikir kreatif matematik siswa antara

siswa pada kelas eksperimen dengan siswa pada kelas kontrol.

Ha : Terdapat perbedaan kemampuan awal berpikir kreatif matematik siswa antara siswa

(8)

Dengan kriteria pengujian:

jika Sig (2-tailed)(p) > ½ α (0,025) → terima Ho

Jika Sig (2-tailed)(p) ≤ ½ α (0,025) → tolak Ho (Trihendradi, 2008)

Dari hasil perhitungan Sig (2-tailed)(p)=0,185 maka Ho diterima. Jadi, tidak terdapat

perbedaan kemampuan awal berpikir kreatif matematik siswa antara siswa pada kelas eksperimen dengan siswa pada kelas kontrol.

Analisis Postes Kemampuan Berpikir Kritis Matematika

Dari perhitungan rerata dan simpangan baku postes kemampuan berpikir kritis matematika siswa di kelas eksperimen dan kelas kontrol terlihat bahwa rerata kelas eksperimen 45,23 dan kelas kontrol 34,48. Adapun standar deviasi kelas eksperimen 6,01 dan kelas kontrol 7,96. Terlihat bahwa kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol.

Untuk menguji ada tidaknya perbedaan rerata kemampuan berpikir kritis matematika antara kelas kontrol dan kelas eksperimen digunakan uji-t. Namun, terlebih dahulu dilakukan pengujian normalitas skor postes kemampuan berpikir kritis matematika dengan menggunakan uji Normalitas data dengan menggunakan Kolmogrof-Smirnov:

Hasil perhitungan uji normalitas kelas eksperimen Sig (p) = 0,143 dan kelas kontrol Sig (p) = 0,092; artinya Ho diterima dan interpretasi Normal. Sementara, untuk uji homogenitas

Sig (p) = 0,107; artinya Ho diterima interpretasi Homogen.

Analisis Postes Kemampuan Berpikir Kreatif Matenatika

Dari perhitungan rerata dan simpangan baku postes kemampuan berpikir kreatif matematika siswa di kelas eksperimen dan kelas kontrol terlihat bahwa rerata kelas eksperimen 26,09 dan kelas kontrol 21,45. Adapun standar deviasi kelas eksperimen 4,56 dan kelas kontrol 6,04. Terlihat bahwa kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol.

Untuk menguji ada tidaknya perbedaan rerata kemampuan berpikir kritis matematika antara kelas kontrol dan kelas eksperimen digunakan uji-t. Namun, terlebih dahulu dilakukan pengujian normalitas skor postes kemampuan berpikir kreatif matematika dengan menggunakan uji Normalitas data dengan menggunakan Kolmogrof-Smirnov:

Hasil perhitungan uji normalitas kelas eksperimen Sig (p) = 0,066 dan kelas kontrol Sig (p) = 0,200; artinya Ho diterima dan interpretasi Normal. Sementara untuk uji homogenitas

Sig (p) = 0,107; artinya Ho diterima interpretasi Homogen.

Analisis Peningkatan Rerata Kemampuan Berpikir kritis matematika

Untuk analisis peningkatan rerata kemampuan berpikir kritis matematika maka data hasil pretes dan postes dihitung dengan gain ternormalisasi. Dapat dihitung Gain Ternormalisasi:

(9)

Gain Ternormalisasi Kelas Eksperimen

Gain Ternormalisasi Kelas Kontrol

Dilihat dari rerata gain ternormalisasi kelas eksperimen sebesar 0,68 lebih tinggi daripada kelas kontrol sebesar 0,45 berdasarkan klasifikasi bahwa kualitas peningkatan rerata kelas eksperimen dan kelas control peningkatannya tergolong sedang.

Untuk mengetahui pembelajaran mana yang lebih baik dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis maka digunakan uji-t. Adapun hipotesisnya:

Ho : Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan berpikir kritis matematik

siswa yang mendapat pembelajaran dengan pendekatan problem solving dengan kemampuan berpikir kritis siswa yang mendapat pembelajaran konvensional.

Ha : Kemampuan berpikir kritis matematika siswa yang mendapat pembelajaran dengan

pendekatan problem solving lebih baik daripada kemampuan berpikir kritis matematika yang mendapat pembelajaran konvensional.

Dengan kriteria pengujian jika thitung ≥ ttabel maka Ho ditolak. Dengan menggunakan

software SPSS 17, diperoleh nilai thitung = 7.198 dan pada signifikan 0,05 (uji satu pihak)

dengan derajat kebebasan df = 86 diperoleh ttabel = 1,988. Oleh karena thitung terletak pada

daerah penolakan Ho (thitung ≥ ttabel) maka berdasarkan kriteria pengujian Ho ditolak. Jadi,

kemampuan berpikir kritis matematika siswa yang mendapat pembelajaran dengan pendekatan problem solving lebih baik daripada kemampuan berpikir kritis matematika yang mendapat pembelajaran konvensional.

Analisis Peningkatan Rerata Kemampuan Berpikir Kreatif Matematika

Untuk analisis peningkatan rerata kemampuan berpikir kreatif matematika maka data hasil pretes dan postes dihitung dengan gain ternormalisasi. Dapat dihitung Gain Ternormalisasi:

(10)

Gain Ternormalisasi Kelas Eksperimen Gain Ternormalisasi Kelas Kontrol

Dilihat dari rerata gain ternormalisasi kelas eksperimen sebesar 0,55 lebih tinggi daripada kelas kontrol sebesar 0,40 berdasarkan klasifikasi bahwa kualitas peningkatan rerata kelas eksperimen dan kelas kontrol peningkatannya tergolong sedang.

Untuk mengetahui pembelajaran mana yang lebih baik dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif maka digunakan uji-t. Adapun hipotesisnya:

Ho : Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan berpikir kreatif matematik

siswa yang mendapat pembelajaran dengan pendekatan problem solving dengan kemampuan berpikir kreatif siswa yang mendapat pembelajaran konvensional.

Ha : Kemampuan berpikir kreatif matematika siswa yang mendapat pembelajaran dengan

pendekatan problem solving lebih baik daripada kemampuan berpikir kreatif matematika yang mendapat pembelajaran konvensional.

Dengan kriteria pengujian jika thitung ≥ ttabel maka Ho ditolak. Dengan menggunakan

software SPSS 17 diperoleh nilai thitung = 4,037 dan pada signifikan 0,05 (uji satu pihak)

dengan derajat kebebasan df = 86 diperoleh ttabel = 1,988. Oleh karena thitung terletak pada

daerah penolakan Ho (thitung ≥ ttabel) maka berdasarkan kriteria pengujian Ho ditolak. Jadi,

kemampuan berpikir kreatif matematika siswa yang mendapat pembelajaran dengan pendekatan problem solving lebih baik daripada kemampuan berpikir kreatif matematika yang mendapat pembelajaran konvensional.

Kemampuan Berpikir Kritis Matematika

Pembahasan kemampuan berpikir kritis matematika antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Berawal dari kemampuan awal yang diukur melalui pretes diperoleh rerata yang hampir sama, yaitu kelas eksperimen 13.50 dan kelas kontrol 13.14. Sesuai dengan uji-t yang

(11)

menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan berpikir kritis matematika kelas eksperimen dan kelas kontrol. Namun, jika dilihat dari standar deviasinya kelas ekperimen lebih besar daripada kelas kontrol. Hal ini menggambarkan kelas eksperimen lebih menyebar daripada kelas kontrol.

Akan tetapi, pada saat postes nilai rerata kelas eksperimen adalah 45,23 dan kelas kontrol 34,56. Sesuai dengan uji-t menyatakan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa yang mendapat pembelajaran dengan pendekatan Problem Solving lebih baik daripada kelas-kelas yang menggunakan pembelajaran yang konvensional. Adapun nilai standar deviasi kelas eksperimen lebih kecil daripada standar deviasi kelas kontrol. Ini menggambarkan pembela-jaran dengan pendekatan Problem Solving meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dan membuat kemampuan mereka lebih seragam.

Nilai gain ternormalisasi kelompok eksperimen (0,68) jauh lebih baik daripada kelas kontrol (0,45). Hasil ini didukung oleh uji-t yang menyatakan bahwa peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa yang mendapat pembelajaran dengan pendekatan problem solving lebih baik dengan yang mendapat pembelajaran yang konvensional. Keadaan ini menyatakan kualitas kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol yang mendapat pembelajaran konvensional.

Peningkatan kemampuan berpikir kritis matematik ini belum optimal dan masih perlu ditingkatkan dan dibiasakan dengan pembelajaran pendekatan Problem Solving. Perolehan rerata postes mencapai 45,23 dari rata-rata maksimum 60. Walaupun secara rerata telah mencapai batas ketuntasan minimal 75%. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh siswa belum terbiasa dengan pembelajaran dengan pendekatan Problem Solving.

Akan tetapi, siswa sudah merasa terbiasa dan senang dengan pendekatan Problem Solving. Hal ini didukung dengan hasil angket dengan indikator “Persepsi siswa tentang matematika” diperoleh rerata 65,33% dengan skor tersebut diperoleh gambaran bahwa pandangannya positif. “Pandangan terhadap manfaat mempelajari matematika” diperoleh rerata 67,0% dengan skor tersebut diperoleh gambaran bahwa pandangannya positif. Data tersebut memberi pandangan dan persepsi terhadap pelajaran matematika lebih baik.

Kemampuan Berpikir Kreatif Matematika

Pembahasan kemampuan berpikir kreatif matematika antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Berawal dari kemampuan awal yang diukur melalui pretes diperoleh rerata yang hampir sama, yaitu kelas eksperimen 9,09 dan kelas kontrol 8,95. Sesuai dengan uji-t yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan berpikir kreatif matematika kelas eksperimen dan kelas kontrol. Namun, jika dilihat dari standar deviasinya kelas eksperimen lebih besar daripada kelas kontrol. Hal ini menggambarkan kelas eksperimen lebih menyebar daripada kelas kontrol.

(12)

Akan tetapi, pada saat postest nilai rerata kelas eksperimen adalah 26,09 dan kelas kontrol 21,45. Sesuai dengan uji-t menyatakan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa yang mendapat pembelajaran dengan pendekatan Problem Solving lebih baik daripada kelas-kelas yang menggunakan pembelajaran yang konvensional. Adapun nilai standar deviasi kelas eksperimen lebih kecil daripada standar deviasi kelas kontrol. Ini menggambarkan pembela-jaran dengan pendekatan Problem Solving meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa dan membuat kemampuan mereka lebih seragam.

Nilai gain ternormalisasi kelompok eksperimen (0,55) jauh lebih baik daripada kelas kontrol (0,40). Hasil ini didukung oleh uji-t yang menyatakan bahwa peningkatan kemam-puan berpikir kreatif siswa yang mendapat pembelajaran dengan pendekatan Problem Solving lebih baik dengan yang mendapat pembelajaran yang konvensional. Keadaan ini menyatakan kualitas kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol yang mendapat pembelajaran konvensional.

Peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematika ini belum optimal dan masih perlu ditingkatkan dan dibiasakan dengan pembelajaran pendekatan Problem Solving. Perolehan rerata postes mencapai 26,09 dari rata-rata maksimum 40. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh siswa belum terbiasa dengan pembelajaran dengan pendekatan Problem Solving.

Akan tetapi, siswa sudah merasa terbiasa dan senang dengan pendekatan Problem Solving. Hal ini didukung dengan hasil angket dengan indikator: Analisis sikap siswa terhadap “Pandangan terhadap cara mengikuti pelajaran matematika” diperoleh rerata 75%. Dengan skor tersebut diperoleh gambaran bahwa kriteria interpretasi positif. Analisis sikap siswa terhadap “Pandangan terhadap pembelajaran matematika dengan pendekatan Problem Solving” diperoleh rerata 58,33%. Dengan skor tersebut diperoleh gambaran bahwa kriteria interpretasi cukup positif. Analisis sikap siswa terhadap “Pandangan terhadap manfaat mengikuti mempelajari matematika dengan pendekatan Problem Solving” diperoleh rerata 61,75%. Dengan skor tersebut, diperoleh gambaran bahwa pandangannya positif. Data tersebut memberi pandangan dan persepsi terhadap pelajaran matematika lebih baik.

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian yang dilakukan pada kelas eksperimen yang mendapat pembela-jaran dengan pendekatan Problem Solving dan kelas kontrol yang mendapat pembelajaran secara konvensional dapat disimpulkan bahwa:

1. Peningkatan kemampuan berpikir kritis matematika siswa melalui pembelajaran pendekatan Problem Solving di SMAN 1 Sukaraja Kabupaten Sukabumi lebih baik daripada pembelajaran konvensional.

(13)

2. Peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematika siswa melalui pembelajaran pendekatan Problem Solving di SMAN 1 Sukaraja Kabupaten Sukabumi lebih baik daripada pembelajaran konvensional.

3. Siswa memberikan sikap positif terhadap mata pelajaran matematika, dan sikap siswa terhadap pembelajaran matematika dengan pendekatan Problem Solving juga memberikan sikap positif.

Saran

Setelah melaksanakan penelitian banyak temuan dan pengalaman yang berharga. Maka saran yang diajukan peneliti adalah:

1. Bagi Peneliti

Untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh di bangku kuliah maupun pengalaman di luar perkuliahan dan sebagai bahan intropeksi dalam kegiatan mengajar di sekolah.

2. Bagi Siswa

Untuk selalu melatih kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematik dengan cara lebih sering mengerjakan soal-soal dengan pendekatan Problem Solving.

3. Bagi Guru

Untuk menggunakan pembelajaran dengan pendekatan Problem Solving ini di kelas agar bisa meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematika siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Arends, Richard I. 2008. Learning to teach. Edisi ketujuh. Buku ke-2. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Bachman, Edmund. 2005. Metode Belajar Berpikir Kritis dan Inovatif. Jakarta: Balai Pustaka.

Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Hassoubah, Z. I. 2004. Develoving Creative & Critical Thinking. Bandung: Nuansa Cendekia.

Herman, T. 2006. Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Disertasi pada PPS UPI. Tidak diterbitkan.

(14)

Hudojo. 2002. Representasi Belajar Berbasis Masalah. Dalam Prosiding Konferensi Nasional Matematika XI Bagian 1.22-25 Juli 2002: Universitas Negeri Malang. Tidak Diterbitkan.

Ibrahim. 2007. Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kretif Siswa SMP dalam Matematika Melalui Pendekatan Advokasi dengan Penyajian Masalah Open-Ended. Tesis Pada PPS UPI. Tidak Diterbitkan.

Klurik, S dan Rudnick, J.A. tt. The New Sourcebook for Teaching Reasoning and Problem Solving in Elementary School. Massachusetts: A Simon & Schuter Company.

Lenglehr, J. 2006. Thinking Skill. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Madio, Sukanto Sukandar. 2010. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Kemampuan Penalaran dan Komunikasi Matematika Siswa Sekolah Menengah Pertama. Tesis pada PPS UPI. Tidak Diterbitkan.

Mulyana, T. 2008. Perkembangan Analitik Sintetik untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Matematika Siswa Sekolah Menengah Atas. Disertasi PPS UPI Bandung. Tidak Diterbitkan.

NCTM. 2000. Principles and Standards for School Mathematics. USA: NCTM.

Noer, Siti Hastuti. 2010. Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis, Kreatif, dan Reflektif (K2R) Matematika Siswa Sekolah Menengah Pertama Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah. Disertasi PPS UPI Bandung. Tidak Diterbitkan.

Polya, G. 1975. How to Solve It. New Jeres: Princeton.

Ratnaningsih, N. 2007. Pengaruh Pembelajaran Kontekstual Terhadap Kemampuan Kritis dan Kreatif Matematika serta Kemandirian Belajar Siswa SMA. Disertasi PPS UPI Bandung. Tidak Diterbitkan.

Riduan. 2010. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta.

Rohaeti, E. E. 2008. Pembelajaran dengan Pendekatan Eksplorasi untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Matematika Siswa Sekolah Menengah Pertama. Disertasi PPS UPI Bandung. Tidak Diterbitkan.

Roh, Kyeong Ha. 2003. Problem Based Learning in Matematics. ERIC/CSMEE. 1929 . Kenny Road Columbus. [Online] [email protected] www.erice.org.

Ruseffendi, H. E. T 1988. Pengantar Kepada Pembantu Guru Mengembangkan Kompeten-sinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito. ---. 1991. Penilaian Pendidikan dan Hasil Belajar Siswa Khususnya dalam

Pengajaran Matematika untuk Guru dan Calon Guru. Bandung: Diktat.

---. 1993. Statistik Dasar untuk Penelitian Pendidikan. Cetakan Pertama. Bandung: IKIP Bandung.

(15)

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendekatan Kuantitatif Kualitatif, R & D. Bandung: Alfabeta.

Suhendra. 2005. Pembelajaran Berbasis Masalah dalam Kelompok Belajar Kecil untuk Mengembangkan Kemampuan Siswa SMA pada Aspek Problem Solving Matematika. Tesis Pada PPS UPI. Tidak diterbitkan.

Suherman, E., Sukjaya, Y. 1990. Petunjuk Praktis untuk Melaksanakan Evaluasi Pendidikan Matematika. Bandung: Wijayakusumah.

Syukur, M. 2004. Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis Melalui Pembelajaran dengan Pendekatan Open Ended. Tesis Pada PPS UPI. Tidak Diterbitkan.

Trihendradi, C. 2010. Step By Step SPSS 16 Analisis Data Statistik. Yogyakarta: Andi. Walle, V. A.J. 2007. Elementary and Midlle School Matematics. Singapore Education. Wirodikromo, S. 2007. Matematika Untuk SMA Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Referensi

Dokumen terkait

Jika dilihat dari perbeda- an rata-rata nilai n-Gain pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dikatakan bahwa model problem solving efektif dalam meningkatkan kemampuan

Pendekatan problem solving merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi pendekatan ini ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa,

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Hasil belajar matematika yang menggunakan Model Pembelajaran Problem Solving di kelas VII MTs Darul Falah Sumbergempol

Selanjutnya, persentase kriteria “rendah” pada kelas kontrol lebih tinggi daripada kelas eksperimen, sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan model problem solving

Yang merupakan batasan masalah dalam penelitian ini adalah : Pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran problem solving di kelas XI teknik

Dari hasil analisis statistika inferensial diperoleh kesimpulan bahwa hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan pendekatan Problem Solving yang diterapkan dikelas

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian dilakukan dengan 3 kali siklus menggunakan pendekatan collaborative problem solving dan model pembelajaran problem based learning sehingga

Desain Penelitian Keterangan: O1 : pretest kelas eksperimen X : penerapan model pembelajaran Double Loop Problem Solving DLPS O2 : post-test kelas eksperimen Instrumen pengumpulan