KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
TUGAS AKHIR
Diaj ukan Untuk Melengkapi Persyaratan Guna Mencapai Gelar Sarj ana Teknik Strata Satu
Disusun Oleh:
MIMING RATNA WULANSARI
NIM. I 0204083
JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2 010
SEKOLAH MONTESSORI DI SOLO BARU
ii
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
FAKULTAS TEKNIK JURUSAN ARSITEKTUR
Jl . Ir. Sut ami 36A Surakart a Tel p. (0271) 643666 E-mail arsi t ek@uns. ac. id Surakart a
LEMBAR PENGESAHAN
TUGAS AKHIR
JUDUL : Sekolah Mont essori di Solo Baru
dengan Penerapan Prinsip Pendidikan Mont essori ke dalam
Desain Bangunan
PENYUSUN : MIMING RATNA WULANSARI
NIM : I 0204083
Surakart a, April 2010
Telah Diperiksa dan Disetuj ui Oleh:
Pembimbing I Pembimbing II
Mengetahui, Ir. Agoes Soediamhadi
NIP. 19460318 197501 1 001
Ir. Leny Pramest i, MT NIP. 19610628 199802 2 001
Ir. Noegroho Dj arwant i, MT NIP. 19561112 198403 2 007
Ir. Hardiyat i, MT NIP. 19561209 198601 2 001 Pembantu Dekan I
FT UNS
iii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
LEMBAR PENGESAHAN ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv
DAFTAR GAMBAR viii
DAFTAR TABEL x
DAFTAR SKEMA xi
BAB I PENDAHULUAN
A. Judul 1
B. Pengertian Judul 1
C. Latar Belakang
1. Sifat Dasar Anak 1
2. Kualitas Pendidikan di Indonesia 2
3. Metode Montessori Untuk Anak 3
4. Solo Baru dan Fasilitas Pendidikan di Dalamnya 5
5. Kebutuhan Sekolah di Solo Baru 6
D. Permasalahan
1. Permasalahan Umum 6
2. Permasalahan Khusus 6
E. Tujuan dan Sasaran
1. Tujuan 7
2. Sasaran 7
F. Batasan dan Lingkup Pembahasan
1. Batasan Pembahasan 8
2. Lingkup Pembahasan 8
G. Metode Pengumpulan Data dan Pembahasan
1. Metode Pengumpulan Data 8
2. Metode Pembahasan 9
H. Sistematika Pembahasan 9
BAB II TINJUAN TEORI DAN STUDI KASUS
A. Metode Montessori
1. Sejarah 10
iv
3. Kekhasan 11
4. Teori utama tentang cara belajar 11
5. Prinsip pendidikan Montessori 12
6. Program belajar 16
7. Perbedaan Montessori dengan Metode Lain 18
8. Montessori Lebih Sesuai Dengan Karakter Anak 18
B. Sekolah Montessori
1. Pengertian 18
2. Filosofi 19
3. Tujuan pendidikan 19
4. Program yang disediakan 20
5. Waktu belajar 20
C. Tinjauan anak
1. Karakter Anak 20
2. Kebutuhan Anak 21
3. Tinjauan Keruangan (Anak dan Lingkungan Belajar) 23
D. Studi kasus Sekolah Montessori
1. Ruang dalam (Indoor) 25
2. Ruang luar (Outdoor) 26
BAB III TINJAUAN SOLO BARU
A. Kondisi Fisik Kota Solo Baru 27
B. Rencana Pemanfaatan Ruang Kawasan Perkotaan Solo Baru 28
C. Fasilitas Pendidikan dan Rencana Pengembangannya di Solo Baru 29
BAB IV PROSES PENENTUAN KONSEP PERENCANAAN DAN
PERANCANGAN SEKOLAH MONTESSORI DI SOLO BARU
A. Proses Penentuan Konsep Peruangan
1. Proses Penentuan Konsep Kegiatan dan Kebutuhan Ruang 31
2. Proses Penentuan Konsep Pola Hubungan Ruang 37
3. Proses Penentuan Konsep Besaran Ruang 41
B. Proses Penentuan Konsep Lokasi dan Site
1. Proses Penentuan Konsep Lokasi 44
2. Proses Penentuan Konsep Site 47
C. Proses Penentuan Konsep Peletakan Pintu Utama (Main Entrance)
dan Pintu Servis (Service Entrance) 50
D. Proses Penentuan Konsep Zone Berdasarkan Tingkat Kebisingan 51
E. Proses Penentuan Konsep Zone Berdasarkan Pada Pencapaian
1. Proses Penentuan Konsep Zone Berdasarkan Pada Pintu Utama (ME) 52
v
F. Proses Penentuan Konsep Zone Berdasarkan Fungsi 53
G. Proses Penentuan Konsep Massa Berdasarkan Pada Prinsip Pendidikan
Montessori
1. Proses Penentuan Konsep Bentuk Dasar Massa 54
2. Proses Penentuan Konsep Jumlah Massa 56
3. Proses Penentuan Konsep Pembagian Massa 56
4. Proses Penentuan Konsep Tata Massa 58
H. Proses Penentuan Konsep Sirkulasi Berdasarkan Pada Prinsip Pendidikan
Montessori 58
I. Proses Penentuan Konsep Penampilan Bangunan Berdasarkan Pada
Prinsip Pendidikan Montessori 59
J. Proses Penentuan Konsep Pemilihan Bahan Bangunan Berdasarkan
Pada Prinsip Pendidikan Montessori 62
K. Proses Penentuan Konsep Warna Berdasarkan Pada Prinsip Pendidikan
Montessori 64
L. Proses Penentuan Konsep Lansekap Berdasarkan Pada Prinsip Pendidikan
Montessori 64
M. Proses Penentuan Konsep Struktur Bangunan
1. Struktur Pondasi 68
2. Struktur Dinding 68
3. Struktur Atap 69
N. Proses Penentuan Konsep Utilitas
1. Proses Penentuan Konsep Sistem Penyediaan Air Bersih 69
2. Proses Penentuan Konsep Sistem Sanitasi 70
3. Proses Penentuan Konsep Sistem Kelistrikan 72
4. Proses Penentuan Konsep Sistem Pengamanan Bahaya Kebakaran 73
5. Proses Penentuan Konsep Jaringan Komunikasi 73
6. Proses Penentuan Konsep Penanganan Sampah 74
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN SEKOLAH MONTESSORI
DI SOLO BARU
A. Konsep Peruangan
1. Konsep Kegiatan dan Kebutuhan Ruang 75
2. Konsep Pola Hubungan Ruang 80
3. Konsep Besaran Ruang 82
B. Konsep lokasi dan site
1. Konsep Lokasi 84
2. Konsep Site 84
C. Konsep Peletakan Pintu Utama (Main Entrance) dan Pintu Servis
vi
D. Konsep Penentuan Konsep Zone Berdasarkan Tingkat Kebisingan 86
E. Konsep Zone Berdasarkan Pada Pencapaian
1. Konsep Zone Berdasarkan Pada Pintu Utama (ME) 86
2. Konsep Zone Berdasarkan Pada Pintu Servis (SE) 87
F. Konsep Zone Berdasarkan Fungsi 87
G. Konsep Massa Berdasarkan Pada Prinsip Pendidikan Montessori
1. Konsep Bentuk Dasar Massa 87
2. Konsep Jumlah Massa 87
3. Konsep Pembagian Massa 87
4. Konsep Tata Massa 88
H. Konsep Sirkulasi Berdasarkan Pada Prinsip Pendidikan Montessori 88
I. Konsep Penampilan Bangunan Berdasarkan Pada Prinsip Pendidikan Montessori 89
J. Proses Penentuan Konsep Pemilihan Bahan Bangunan Berdasarkan Pada
Prinsip Pendidikan Montessori 91
K. Proses Penentuan Konsep Warna Berdasarkan Pada Prinsip Pendidikan
Montessori 92
L. Konsep Lansekap Berdasarkan Pada Prinsip Pendidikan Montessori 92
M. Konsep Struktur Bangunan
1. Struktur Pondasi 94
2. Struktur Dinding 94
3. Struktur Atap 94
N. Konsep Utilitas
1. Konsep Sistem Penyediaan Air Bersih 94
2. Konsep Sistem Sanitasi 95
3. Konsep Sistem Kelistrikan 95
4. Konsep Sistem Pengamanan Bahaya Kebakaran 95
5. Konsep Jaringan Komunikasi 96
6. Konsep Penanganan Sampah 96
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
vii
Abstrak
Miming Ratna Wulansari, I0204083, Sekolah Montessori di Solo Baru dengan Penerapan
Prinsip Pendidikan Montessori ke dalam Desain Bangunan.
Pada era modernisasi saat ini, dimana terlalu sedikitnya penekanan diberikan berdasarkan
kebaikan hakiki dan pendidikan yang layak bagi anak, pandangan yang mendalam dan metode
pengajaran Montessori yang penuh inspirasi dapat memperkenalkan suatu dimensi baru dan yang
menyenangkan dalam dunia pendidikan.
Munculnya ide untuk menciptakan Sekolah Montessori adalah sebuah solusi alternatif yang
mencoba untuk mengakomodasi semua perkembangan atau fenomena-fenomena baru dalam hal
penyediaan sarana pendidikan untuk anak sebagai wadah pendidikan serta pengembangan kecerdasan
dan kreativitas anak. Sekolah Montessori mencoba menghadirkan suasana belajar dan bermain melalui
pendekatan Metode Montessori. Melalui Prinsip-Prinsip Pendidikan Montessori, yaitu kebebasan,
keindahan, keteraturan, alami, kohesi kemasyarakatan dan penggunaan alat peraga yang diterapkan ke
dalam desain bangunan menjadikan Sekolah Montessori menjadi sebuah sekolah alternatif untuk
pendidikan pra-sekolah (TK) dan sekolah dasar (SD) yang dirancang agar anak-anak tumbuh dengan
kreativitas mereka sendiri, tidak kehilangan kegembiraan masa kecil mereka, dan membuka ruang yang
lebar untuk mengeksplorasi lingkungannya, yaitu dengan Metode Montessori.
Selain itu, melihat perkembangan pendidikan di Solo Baru yang semakin baik, diharapkan
adanya Sekolah Montessori dapat menjadi persiapan awal bagi kota Solo Baru untuk mewadahi
kebutuhan masyarakat akan fasilitas pendidikan anak yang lebih lengkap, serta dapat melayani semua
viii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Judul
Sekolah Montessori di Solo Baru dengan Penerapan Prinsip Pendidikan Montessori di Solo Baru ke
dalam Desain Bangunan.
B. Pengertian Judul 1. Sekolah
a. Suatu lembaga/bangunan untuk belajar mengajar serta tempat menerima dan memberi
pelajaran (menurut tingkatannya, ada : dasar, menengah pertama dan menengah ke atas).1 b. Suatu tempat/bangunan di mana pengajaran diberikan. Suatu pertemuan yang teratur bagi
guru dan murid untuk belajar mengajar.2 2. Montessori
Metode pendidikan yang ditemukan oleh pakar pendidikan usia dini, Dr. Maria Montessori yang
didasarkan pada potensi dan karakter anak sesuai dengan perkembangan usianya.3 Tujuan pendidikan dalam metode Montessori adalah mengembangkan seluruh potensi anak yang dapat
dilakukan melalui proses pembelajaran di kelas maupun melalui berbagai latihan praktis yang
berkaitan dengan kehidupan anak itu sendiri.4 3. Prinsip Pendidikan Montessori
Prinsip pendidikan yang meliputi kebebasan, keteraturan, keindahan, alami, alat peraga
Montessori, kohesi kemasyarakatan.5 4. Solo baru
Salah satu kota/wilayah di Kabupaten Sukoharjo.6
“Sekolah Montessori di Solo Baru” adalah fasilitas pendidikan untuk anak usia 2-6 tahun
(pra-sekolah) dan 7-12 tahun (Sekolah Dasar) yang terletak di Solo baru dengan menggunakan
Metode Montessori yang bertujuan untuk mengembangkan seluruh potensi anak yang dapat
dilakukan melalui proses pembelajaran di kelas maupun melalui berbagai latihan praktis yang
berkaitan dengan kehidupan anak itu sendiri dengan penerapan prinsip Pendidikan Montessori
ke dalam desain bangunan.”
C. Latar Belakang 1. Sifat Dasar Anak
1
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia. PN. Balai Pustaka, Jakarta : Dep. P&K, 1089)
2 The New Grouer Webster Int. Dictionary of English Language, Vol. 1 (1971) The English Language Inst. Of America. Inc) 3 Sumber Inspiredkids (22/03/09),”Metode Belajar yang Tepat Bagi Anak”
4 Dikutip dari Florentinabeo’s blog ,”Prinsip Dasar dan Penerapan Metode Pendidikan Menurut Maria Montessori,download 28 november 2008
ix
Pembinaan dan pendidikan anak sedini mungkin sangat berperan terhadap kemajuan
perkembangan tingkat kecerdasan anak. Dari hasil penelitian dibuktikan bahwa pada usia 4
tahun anak mencapai 50% dari tingkat kecerdasan, dan mendekati usia 8 tahun mencapai 80%
dan setelah usia itu usaha apapun pada pendidikan hanya meningkatkan kecerdasan 10% saja.7 Oleh sebab itu pendidikan dan pembinaan anak sangat mutlak diperhatikan dengan
sungguh-sungguh. Untuk bisa memilih metode apa yang sekiranya tepat diterapkan pada
anak-anak dalam mendidik dan membina mereka, terlebih dulu kita memahami keinginan dan karakter
dalam diri anak-anak. Secara normal setiap anak memliki sifat untuk mencari tahu, konsentrasi
spontan, mulai memahami realita, suka keyenangan dan bekerja sendiri, memiliki rasa posesif,
ingin melakukan semuanya sendiri, patuh, independen dan berinisiatif, disiplin diri spontan, serta
ceria.8
2. Kualitas pendidikan di Indonesia
Sejak berusia dua tahun, anak mempunyai keingintahuan yang sangat besar, senang
bereksplorasi, dan senang mencoba hal baru. Karenanya, kita sebaiknya bisa melihat bahwa
setiap anak memiliki kepribadian yang ingin dikembangkannya sendiri, mereka memiliki inisiatif,
mereka memilih sendiri apa yang ingin mereka lakukan, bertahan untuk terus melakukannya dan
merubahnya sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya sendiri. Mereka sangat ‘
hand-minded’ dan senang mengamati berbagai hal dan meresponnya dengan cara mereka
sendiri-sendiri sesuai dengan perkembangan motorik, sensorik dan bahasa melalui penggunaan kelima
panca indera mereka.
Menurut Dr.Thomas Amstrong, pakar pendidikan dari Amerika, setiap anak dilahirkan
dengan membawa potensi yang memungkinkan mereka untuk menjadi cerdas. Sifat yang
menjadi bawaan itu antara lain: keingintahuan, daya eksplorasi terhadap lingkungan, spontanitas,
vitalitas, dan fleksibilitas. Dipandang dari sudut ini maka tugas setiap orang tua dan guru
hanyalah mempertahankan sifat-sifat yang mendasari kecerdasan ini agar bertahan sampai
anak-anak itu tumbuh dewasa.9
Namun yang terjadi, pendidikan anak di Indonesia, beberapa aspek di atas kurang
mendapatkan perhatian secara mendalam. Bahkan sampai saat ini masih sering kita temui cara
mengajar yang masih konvensional, di mana guru seringkali tidak memperhatikan perkembangan
anak didiknya. Mereka dituntut untuk menyampaikan banyak materi kepada anak didiknya,
hinggga kadangkala mereka mengabaikan sisi-sisi psikologis anak.
Ada banyak permasalahan yang dihadapi oleh anak-anak tatkala mereka mengikuti
kegiatan belajar di sekolah-sekolah umum. Salah satu hal yang seringkali kita temui dalam
kegiatan belajar di sekolah umum adalah kesibukan yang luar biasa. Terutama bagi
sekolah-sekolah yang telah menerapkan konsep akselerasi, dimana anak didik mereka dituntut pandai
dan tahu dalam segala hal, namun mereka mengabaikan kondisi psikologis anak didiknya. Hal
7
Dikutip dari Wijanarko, Wijang, Fasilitas Pendidikan Anak, Yogyakarta, TA-UGM, 1998 8
x
yang kita takutkan adalah ketika mereka merasa terasing dari dunianya, dunianya yang
semestinya menyenangkan dan penuh warna tetapi sehari-harinya mereka terlalu dijejali dengan
pekerjaan dan tugas, baik di rumah maupun di sekolah. Tak heran, jam pelajaran di sekolah
dirasakan demikian sempit, mereka harus berpacu dengan materi pelajaran hingga kadangkala
siswa harus les, demi menguasai bahan pelajaran yang sudah dipelajari di kelas. Atau, sekolah
sendiri yang menyediakan pelajaran tambahan di sore hari, sampai-sampai siswa harus sekolah
dua kali, pagi dan sore.
Jika kita lihat sistem pendidikan di sekolah-sekolah umum, terlihat begitu kurangnya
interaksi anak dengan lingkungan. Metode mengajar yang diberikan bersifat teoritis, jarang sekali
anak-anak dicoba dan diajak belajar langsung dari obyek-obyek yang mereka pelajari. Padahal
kita mengetahui bahwa memori, kreativitas dan daya ingat anak-anak sangatlah tajam. Terlebih
lagi bagi anak-anak taman kanak-kanak, mereka sangat membutuhkan sistem pendidikan yang
mampu memberi rangsangan pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani.
Rangsangan ini sangat penting agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih
lanjut.
Beberapa hal inilah yang seharusnya kita perhatikan secara mendalam demi keberhasilan
pendidikan anak dimasa yang akan datang. Dan yang terpenting kehidupan anak bukanlah milik
kita karena mereka berhak untuk menentukan keinginan dan masa depan, sedangkan kita hanya
sebagai pendamping mereka, pengarah dan fasilitator bagi mereka.
Bertolak dari kenyataan itulah perlu dikembangkan pendekatan pendidikan yang menjadi
alternatif bagi sekolah pada umumnya. Penyediaan sebuah sekolah alternatif ini haruslah
dirancang atas pendekatan bahwa setiap anak itu mempunyai kecerdasannya sendiri.
Lingkungan sekolah dirancang agar anak-anak tumbuh dengan kreativitas mereka sendiri, tidak
kehilangan kegembiraan masa kecil mereka, dan membuka ruang yang lebar untuk
mengeksplorasi lingkungannya.
3. Metode Montessori Untuk Anak
Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok
orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan yang
terdiri dari proses, cara, serta perbuatan mendidik dengan tujuan membantu anak agar mampu
melaksanakan tugas hidupnya sendiri. Namun dewasa ini pendidikan dengan kurikulum atau
metode yang berubah-ubah sering tidak mengakar dan membuat bingung para siswa.
Pendidikan yang seharusnya memberi peluang bagi anak untuk berkembang dalam setiap
aspek kehidupannya, kadang hanya menyentuh satu aspek saja. Misalnya kurikulum yang
terus berganti membuat anak hanya belajar untuk mengejar nilai tanpa peduli akan lingkungan
dan kehidupan sosialnya.10
10
xi
Pendekatan ‘Teacher Centre’ yang digunakan dalam pendidikan nasional kita kurang
begitu berhasil dalam mengembangkan kemampuan anak seutuhnya karena metode ini
membuat kelas cenderung pasif dan membosankan.11
Dr. Maria Montessori sebagai pakar pendidikan yang sekaligus peduli akan kehidupan
anak mengembangkan metode pendidikan yang tidak hanya memperhatikan aspek kognitif,
tetapi juga melalui latihan-latihan praktis yang menyentuh jiwa anak. Ia mengemukakan bahwa
kemandirian seseorang harus dilatih sejak dini khususnya pada masa kanak-kanak. Ia melatih
kemandirian anak lewat latihan-latihan yang sederhana misalnya di sekolahnya ia merancang
berbagai alat sederhana yang menunjang anak dalam belajar atau melakukan aktivitas yang
berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, anak tidak hanya menerima pengetahuan dari gurunya tetapi
mengembangkan diri dengan berbagai sarana yang ada. Semuanya ini menjadi satu kebutuhan
bersama dalam kehidupan anak. Jika anak hanya berkembang pada satu sisi akan
mempengaruhi sisi yang lain. Maka pentinglah pendidikan mencakup semua aspek tersebut di
atas.
Pada Montessori, metode yang digunakan adalah ‘Child Centre’, dimana anak sebagai
subjek pembelajaran dan guru hanya sebagai fasilitator.
Pendidikan merupakan usaha dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju kepada
pendewasaan anak itu atau membantu anak agar mampu melaksanakan tugas hidupnya
sendiri secara mandiri. Menurut Dr. Maria Montessori, untuk menjadi pribadi yang mandiri,
seseorang harus dilatih sejak dini khususnya pada masa kanak-kanak karena pada masa itu
merupakan masa peka dimana anak mampu menerima segala sesuatu yang diajarkan.
Pendidikan dalam metode Montessori memberikan tempat bagi anak untuk beraktivitas
sebebas-bebasnya sesuai dengan kemampuan masing-masing yang sekaligus merupakan
basis pembentukan kemandirian dan kedisiplinan bagi anak. Bagi Montessori, pendidikan tidak
berarti anak hanya menerima dari guru melainkan anak juga bisa menemukan sendiri apa yang
berguna bagi mereka melalui aktivitas mereka sendiri. Kebebasan dalam Metode Montessori
adalah kebebasan yang mendukung perkembangan seluruh kepribadian anak bukan hanya
secara fisik tetapi juga mental termasuk perkembangan otak.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tujuan pendidikan dalam Metode Montessori
adalah mengembangkan seluruh potensi anak yang dapat dilakukan melalui proses
pembelajaran di kelas maupun melalui berbagai latihan praktis yang berkaitan dengan
kehidupan anak itu sendiri.
4. Solo Baru dan Fasilitas Pendidikan di Dalamnya
Solo Baru adalah salah satu wilayah alternatif bagi Kota Surakarta sebagai pusat untuk
menampung jumlah penduduk yang semakin bertambah dari beberapa wilayah di Surakarta.
xii
Solo Baru dapat dianggap sebagai kota satelit atau kota yang dalam perkembangannya selalu
mengikuti laju pertumbuhan kota lama.
Solo Baru yang berada di wilayah Kabupaten Sukoharjo, dalam perkembangannya jelas
akan saling berpengaruh dengan kondisi regional yang melengkapinya. Dari potensi dan kondisi
yang ada bahwa Solo Baru terletak di antara wilayah Sukoharjo dan Surakarta, mengakibatkan
peran Solo Baru yang cukup strategis dalam mendukung perkembangan di sekitarnya.
Solo Baru sebagai fungsi primer diharapkan mampu untuk ikut mendukung
perkembangan di sekelilingnya yaitu Kota Surakarta dan Kabupaten Sukoharjo baik sebagai
terminal distribusi barang, jasa, maupun fasilitas lain. Selain kaitannya dengan perkembangan
regional, Solo Baru yang juga tumbuh dan berkembang juga harus mampu melayani tuntutan
kebutuhan penduduk di wilayahnya. Dengan demikian Solo Baru harus mampu seoptimal
mungkin mengembangkan sektor kegiatan yang ada di wilayahnya.
Kawasan Solo Baru yang merupakan perluasan dari Kabupaten Sukoharjo dan
Kotamadya Surakarta mempunyai jumlah penduduk usia pra sekolah yang cukup banyak.
Banyaknya anak usia sekolah yang seharusnya sangat potensial untuk mendapat pendidikan
dan bimbingan sebagai bekal masa depannya tidak diimbangi dengan ketersediaan jumlah
fasilitas pendidikan yang cukup.
Tabel I.1 Analisa Kuantitas Fasilitas Jasa Pendidikan
No Fasilitas Standar Jumlah
ideal
Jumlah eksisting 1 TK 1 unit/1000 penduduk 147 64
2 SD 1 unit/1600 penduduk 92 61
3 SMP 1 unit/4800 penduduk 31 10
4 SMU 1 unit/4800 penduduk 31 5
Sumber : Hasil perhitungan 2003 dalam RUTRK Solo Baru 1990-2010
Kebanyakan dari TK tersebut tidak dilengkapi dengan play group atau kelompok bermain
untuk anak berumur 2-3 tahun.
Berdasarkan tabel di atas, maka untuk pendidikan pra-sekolah (TK) dan Sekolah Dasar
(SD) sampai akhir tahun perencanaan masih diperlukan.
5. Kebutuhan Sekolah Montessori di Solo Baru
Pada era modernisasi saat ini, dimana terlalu sedikitnya penekanan diberikan
berdasarkan kebaikan hakiki dan pendidikan yang layak bagi anak, pandangan yang mendalam
dan metode pengajaran Montessori yang penuh inspirasi dapat memperkenalkan suatu dimensi
baru dan yang menyenangkan dalam dunia pendidikan.
Munculnya ide untuk menciptakan Sekolah Montessori adalah sebuah solusi alternatif
yang mencoba untuk mengakomodasi semua perkembangan atau fenomena-fenomena baru
dalam hal penyediaan sarana pendidikan untuk anak sebagai wadah pendidikan serta
pengembangan kecerdasan dan kreativitas anak. Sekolah Montessori mencoba menghadirkan
suasana belajar dan bermain melalui pendekatan metode Montessori.
Melihat perkembangan pendidikan di Solo Baru yang semakin baik, diharapkan adanya
xiii
kebutuhan masyarakat akan fasilitas pendidikan anak yang lebih lengkap, serta dapat melayani
semua anak-anak dari semua golongan, tanpa membedakan SARA.
Hal ini merupakan salah satu pertimbangan utama untuk merencanakan sebuah sekolah
alternatif untuk pendidikan pra-sekolah (TK) dan sekolah dasar (SD) yang dirancang agar
anak-anak tumbuh dengan kreativitas mereka sendiri, tidak kehilangan kegembiraan masa kecil
mereka, dan membuka ruang yang lebar untuk mengeksplorasi lingkungannya, yaitu dengan
Metode Montessori.
D. Permasalahan
1. Permasalahan Umum
Bagaimana rumusan konsep perencanaan dan perancangan Sekolah Montessori di Solo Baru
yang mampu mewadahi kegiatan belajar anak usia 2-12 tahun guna mengembangkan seluruh
potensi anak dengan menggunakan Metode Montessori melalui konsep tata ruang, baik interior
maupun eksterior.
2. Permasalahan Khusus
a. Bagaimana rumusan konsep peruangan yang meliputi :
1) Konsep program kegiatan dan kebutuhan ruang
2) Konsep pola hubungan ruang
3) Konsep besaran ruang
b. Bagaimana rumusan konsep lokasi dan site
c. Bagaimana rumusan konsep pintu utama (main entrance) dan pintu servis (Service Entrance)
d. Bagaimana rumusan konsep zone berdasarkan tingkat kebisingan
e. Bagaimana rumusan konsep zone berdasarkan pada pencapaian
1) Konsep zone berdasarkan pada pintu utama (ME)
2) Konsep zone berdasarkan pada pintu servis (SE)
f. Bagaimana rumusan konsep zone berdasarkan pada fungsi
g. Bagaimana rumusan konsep massa meliputi :
1) Konsep bentuk dasar massa
2) Konsep jumlah massa
3) Konsep pembagian massa
4) Konsep tata massa
h. Bagaimana rumusan konsep sirkulasi berdasarkan pada prinsip pendidikan Montessori
i. Bagaimana rumusan konsep tampilan bangunan berdasarkan pada prinsip pendidikan
Montessori yang meliputi :
1) Konsep Eksterior
2) Konsep Interior
j. Bagaimana rumusan konsep pemilihan bahan bangunan berdasarkan pada prinsip
pendidikan Montessori
k. Bagaimana rumusan konsep warna berdasarkan pada prinsip pendidikan Montessori
xiv
m. Bagaimana rumusan konsep sistem struktur bangunan
n. Bagaimana rumusan konsep utilitas
E. Tujuan dan Sasaran 1. Tujuan
Menyusun rumusan konsep perencanaan dan perancangan Sekolah Montessori di Solo Baru
yang mampu mewadahi kegiatan belajar anak usia 3-12 tahun guna mengembangkan seluruh
potensi anak dengan menggunakan metode Montessori melalu konsep tata ruang, baik interior
maupun eksterior.
2. Sasaran
a. Rumusan konsep peruangan yang meliputi :
1) Konsep program kegiatan dan kebutuhan ruang
2) Konsep pola hubungan ruang
3) Konsep besaran ruang
b. Rumusan konsep lokasi dan site
c. Rumusan konsep pintu utama (main entrante) dan pintu servis (Service Entrante)
d. Rumusan konsep zone berdasarkan tingkat kebisingan
e. Rumusan konsep zone berdasarkan pada pencapaian
1) Konsep zone berdasarkan pada pintu utama (ME)
2) Konsep zone berdasarkan pada pintu servis (SE)
f. Rumusan konsep zone berdasarkan pada fungís
g. Rumusan konsep massa meliputi :
1) Konsep bentuk dasar massa
2) Konsep jumlah massa
3) Konsep pembagian massa
4) Konsep tata massa
h. Konsep sirkulasi berdasarkan pada prinsip pendidikan Montessori
i. Rumusan konsep tampilan bangunan berdasarkan pada prinsip pendidikan Montessori yang
meliputi :
1) Konsep Exterior
2) Konsep Interior
j. Rumusan konsep pemilihan bahan bangunan berdasarkan pada prinsip pendidikan
Montessori
k. Rumusan konsep warna berdasarkan pada prinsip pendidikan Montessori
l. Rumusan konsep lansekap berdasarkan pada prinsip pendidikan Montessori
m. Rumusan konsep sistem struktur bangunan
n. Rumusan konsep utilitas
xv
Pembahasan ditekankan sesuai dengan permasalahan perencanaan dan perancangan Sekolah
Montessori di Solo Baru yang dapat mengungkap faktor perencanaan dan perancangan fisik
dengan menggunakan metode Montessori.
2. Lingkup Pembahasan
Pembahasan ditekankan pada disiplin ilmu Arsitektur, hal-hal diluar disiplin ilmu Arsitektur
dibatasi dan disesuaikan dengan masalah-masalah yang muncul dalam mewujudkan Sekolah
Montessori di Solo Baru yang hendak dicapai.
G. Metode Pengumpulan Data dan Pembahasan 1. Metode Pengumpulan Data
a. Data Primer
Data-data yang didapat secara langsung melalui survey lapangan dan hasil wawancara
dengan pihak terkait, yang meliputi:
1) Pendataan eksisting site.
2) Pencarian potensi dan permasalahan yang terdapat pada site.
b. Data sekunder
Data yang didapat dari studi literatur (pustaka dan internet) yang berhubungan dengan
pembuatan konsep bangunan Sekolah Montessori di Solo Baru.
2. Metode Pembahasan
a. Analisa Kuantitatif, yaitu analisa yang menyangkut perhitungan pasti, seperti besaran ruang
yang dibutuhkan guna mewadahi kegiatan Sekolah Montessori di Solo Baru.
b. Analisa Kualitatif, yaitu analisa yang tidak menyangkut besaran pasti, seperti kurikulum
Montessori, suasana, kenyamanan, jenis fasilitas yang dibutuhkan, serta keindahan di dalam
lingkungan sekolah Montessori.
c. Sintesa, yaitu tahap penggabungan dari data sumber di lapangan, literatur dan pengalaman
empiris yang telah dikaji pada tahap analisa dan kemudian diolah menjadi sebuah konsep
perencanaan dan perancangan
H. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan direncanakan :
Tahap I : Memaparkan latar belakang dan permasalahan.
Tahap II : Memaparkan tujuan dan sasaran yang akan dicapai.
Tahap III : Memaparkan batasan serta lingkup pembahasan yang akan dilakukan.
Tahap IV : Memaparkan metode yang akan digunakan serta sistematika pembahasan.
Tahap V : Memaparkan tinjauan teori yang akan digunakan sebagai landasan dalam
menentukan rancangan Sekolah Montessori agar sesuai dengan tujuan dan
sasaran. Tinjauan teori tentang Metode Montessori mencakup sejarah; sifat;
kekhasan; teori utama tentang cara belajar; prinsip pendidikan Montessori;
xvi
pengertian; filosofi; tujuan pendidikan Montessori; program yang disediakan; waktu
belajar,
Tahap VI : Memaparkan tinjauan teori tentang anak, meliputi karakter anak, kebutuhan anak,
dan tinjauan keruangan (anak dan lingkungan belajar).
Tahap VII : Memaparkan studi kasus Sekolah Montessori.
Tahap VIII : Memaparkan tinjauan umum mengenai Solo Baru, keadaan fisik, lingkungan
geografi, fasilitas pendidikan dan rencana pengembangannya di Solo Baru.
Tahap IX : Memaparkan proses penentuan konsep perencanaan dan perancangan Sekolah
Montessori berdasarkan pada prinsip pendidikan Montessori di Solo Baru.
Tahap X : Memaparkan kesimpulan dari tahap analisis penentuan konsep perencanaan dan
perancangan Sekolah Montessori di Solo Baru.
BAB II
TINJAUAN TEORI DAN STUDI KASUS
A. Metode Montessori 1. Sejarah12
Metode Montessori adalah suatu metode pendidikan untuk anak-anak, berdasar pada
teori perkembangan anak dari Dr. Maria Montessori, seorang pendidik dari Italia di akhir abad 19
dan awal abad 20. Metode ini diterapkan terutama di pra-sekolah dan sekolah dasar, walaupun
ada juga penerapannya sampai jenjang pendidikan menengah.
Dr. Maria Montessori mengembangkan "Metode Montessori" sebagai hasil dari
penelitiannya terhadap perkembangan intelektual anak yang mengalami keterbelakangan mental.
Dengan berdasar hasil kerja dokter Perancis, Jean Marc Gaspard Itard dan Edouard Seguin, ia
berupaya membangun suatu lingkungan untuk penelitian ilmiah terhadap anak yang memiliki
berbagai ketidakmampuan fisik dan mental. Mengikuti keberhasilan dalam perlakuan terhadap
anak-anak ini, ia mulai meneliti penerapan dari teknik ini pada pendidikan anak dengan
kecerdasan rata-rata.
Dr. Maria Montessori melanjutkan bekerja dengan anak-anak dari berbagai budaya dan
latar belakang. Tidak hanya anak cacat, tetapi juga anak normal. Maria Montessori
menyimpulkan anak perlu lebih dari sekadar perawatan fisik dan medis guna menunjang
pertumbuhan dan perkembangan jiwa dan raga. Anak memerlukan lebih dari sekadar pelajaran yang diajarkan sekolah umum.
Dr. Maria Montessori memperkenalkan strategi pendidikan yang mencakup melatih
panca indera dan ketrampilan motorik anak, dengan alat peraga khusus, di lingkungan ramah
xvii
anak. Maria Montessori berpendapat jika anak diberi materi dan lingkungan yang tepat, anak
cenderung bisa mengerjakan aktivitas secara spontan. Lewat aktivitas, anak mendapatkan
pengetahuan dan ketrampilan. Anak akan belajar sesuai keinginan pribadi dan mengatasi
ketidakmampuan tanpa bantuan dan campur orang tua.
2. Sifat
Sifat dari metode pembelajaran Montessori adalah13 :
a. Anak-anak bekerja/bermain dalam satu kelompok/group, baik group kecil maupun besar.
b. Pada pre-school tidak ada penggolongan kelas berdasarkan umur.
c. Tidak ada aktivitas kompetitif.
d. Pembelajaran dengan cara permainan/games, tentu saja dengan material dan permainan
yang mempunyai tujuan pembelajaran tertentu.
e. Suasana gembira dalam belajar.
f. Kelas aktif, karena anak-anak yang bekerja sedangkan guru sebagai pembimbing.
g. Lebih banyak pembinaan gerak motorik dan kreativitas.
h. Penekanan pada proses, bukan pada produk.
i. Bebas bekerja dengan langkah dan material yang mereka pilih sendiri.
j. Lingkungan disiapkan untuk memaksimalkan pelajaran yang mandiri dan mengundang anak
untuk belajar dan ber-eksplorasi.
k. Guru sebagai perancang lingkungan, peraga, penjaga, peninjau tiap-tiap pertumbuhan dan
perilaku anak.
3. Kekhasan
25 karakteristik metode Montessori14 :
Tabel II.1. Karakteristik Metode Montessori
Menghargai anak Belajar kesopanan dan saling menghormati
Menghargai sesama Motivasi intrinsik
Ragam budaya Inisiatif
Kemampuan untuk menyesuaikan diri Lingkungan yang dipersiapkan
Cosmic education Material yang mendidik
Kepribadian Penggabungan kurikulum
Kemandirian Sense of order
Kebebasan memilih Pengelompokan secara heterogen
Pembelajaran “hands-on” Kepekaan diri
Cinta pekerjaan Moving
Peduli pada diri sendiri Auto education Konsentrasi secara spontan Guru sebagai fasilitator
Disiplin diri
Sumber : A Child’s Place Montessori School, 2009
13
Dikutip dari Sukresno, Taufik, Jogja Montessori School, Yogyakarta, TA-UII, 2005 14
xviii 4. Teori utama tentang cara belajar 15
a. Proses Pikiran Penyerap(Absorbent Mind)
Kapasitas belajar dari dalam diri anak. Belajar lewat berinteraksi dengan lingkungan
dan alat peraga. Anak melatih, melihat, mendengar, membaui, merasakan, dan meraba
lingkungan.
b. Lingkungan yang disiapkan (Prepared Environment)
Lingkungan pembelajaran yang disusun guna terjadinya pengembangan
pengertian-pengertian tertentu dalam diri anak. Dalam model Montessori, guru mempunyai tanggung
jawab terhadap lingkungan pembelajaran bagi murid-muridnya dengan memilih dan
menyusun alat-alat belajar sehingga memungkinkan proses belajar terjadi. Alat untuk belajar
harus dipilih dengan cermat dan ditempatkan sedemikian rupa sehingga mudah menarik
minat anak. Meja dan tempat duduk harus sesuai dengan ukuran anak. Berat perabotan
harus pula disesuaikan dengan kekuatan anak sehingga memungkinkan anak
memindahkannya sesuai kemampuan mereka. Lingkungan harus ditata sedemikian rupa
sehingga dapat menumbuhkan kesadaran akan keindahan.
c. Auto-education
Kemampuan anak untuk mengorganisasikan pemikiran sendiri apabila dikaitkan
dengan kegiatan tertentu. Guru bertanggung jawab menyajikan materi pelajaran sedemikian
rupa sehingga menumbuhkan pengalaman yang bersifat logis. Anak perlu mendapat
kesempatan mengamati dan kemudian melakukan sesuatu yang berarti anak
mengorganisasi dunianya dan pemikirannya sendiri. Peran utama guru dalam model
Montessori adalah memperagakan bagaimana suatu alat dipergunakan dan bagaimana
suatu tugas diselesaikan. Sebagian besar dari alat-alat yang dipergunakan Montessori
bersifat ‘mengoreksi diri’. Materi dirancang sedemikian rupa sehingga apabila anak
menggunakan alat tersebut mereka langsung mendapat umpan balik terhadap bertepatan
anak dalam menggunakan alat tersebut.
5. Prinsip pendidikan Montessori
a. Kebebasan
Pengertian kebebasan16 :
1) Berlapang-lapang, longgar, leluasa, los, merdeka, sesuka hati.
2) Informal, lapang, lega, rileks, santai, terbuka.
“Jika anak dihadapkan pada lingkungan yang tepat, dan memberikan peluang kepada
mereka untuk secara bebas merespon secara individual terhadap lingkungan tersebut, maka
pertumbuhan alami anak terbuka dalam kehidupan mereka.”17
15 Elizabeth G. Hainstock, Kenapa Montessori ?, Mitra Media, 2008, hal.17 16
Eko Endarmiko, Tesaurus Bahasa Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2007
xix
Metode Montessori menekankan pentingnya kebebasan karena kebebasan
memberikan ruang gerak dan kemampuan untuk mencoba hal-hal baru dan mendapatkan
pengalaman baru yang beragam.
Kebebasan untuk anak di dalam kelas Montessori :
1) Kebebasan bergerak (di dalam maupun di luar ruangan).
2) Kebebasan memilih aktivitasnya sendiri di dalam kelas.
3) Kebebasan berbicara.
4) Kebebasan untuk tumbuh dan membangun mental dalam lingkungan yang dirancang.
5) Bebas untuk menyayangi dan disayangi.
6) Bebas dari bahaya.
7) Bebas dari persaingan.
8) Bebas dari tekanan.
Meskipun anak diberi kebebasan namun ada juga batasan ataupun arahan dalam
pemberian aktivitas kepada anak, antara lain :
1) Anak bebas untuk melakukan aktivitas apa saja sejauh tidak melanggar/merampas hak
orang lain dalam kelas (menghormati orang lain).
2) Menghormati barang mainan (alat peraga); anak dapat menggunakan alat peraga untuk
melakukan aktivitas sejauh menggunakannya dengan cara yang benar (tidak merusak
barang tersebut atau benda lain di sekitarnya. Tugas guru untuk mengarahkan hal-hal
seperti ini.
3) Menghormati lingkungan; anak diarahkan untuk dapat memperlakukan semua aspek
dengan penuh kasih sayang, perhatian dan penghargaan. Anak diarahkan untuk
memperlakukan teman lain dan guru dengan lembut, sopan dan penuh penghargaan.
4) Menghormati diri sendiri.
b. Keteraturan
Pengertian keteraturan18 :
1) Apik, simetris, sistematis, terorganisasi, tertata, rapi, tertib, urut, berirama, harmonis.
2) Ajek, konstan, periodik.
“Ruangan yang dipergunakan untuk ‘belajar’ harus punya iklim yang teratur, terawat dan
estetis. Hal itu tidak hanya membangkitkan semangat belajar namun juga memberikan
kebebasan dan kemerdekaan anak untuk mengolah diri”19
Keteraturan alam semesta harus tercermin dalam lingkungan kelas Montessori.
Melalui keteraturan, anak akan belajar untuk percaya pada lingkungan dan belajar
berinteraksi dengan lingkungan dengan cara yang positif.
18
xx c. Keindahan
Pengertian keindahan20 : artistik, bagus, cakap, cantik, elok, permai.
Lingkungan Montessori harus sederhana. Semua yang ada di dalamnya harus
memiliki desain dan kualitas yang baik.
d. Alami
Pengertian alami21 : alamiah, natural, wajar.
“Manusia adalah milik alam, begitu pula khususnya bagi anak. Mereka membutuhkan
gambaran dunia yang akan mereka hadapi kelak melalui alam. Semua hal yang diperlukan
untuk mengembangkan jiwa dan raga mereka adalah alam sebenarnya.” (Dr. Maria
Montessori)
Montessori percaya bahwa alam merangsang pertumbuhan otak dan tubuh.
Lingkungan pendidikan Montessori didasarkan atas prinsip realita dan alami. Segala
sesuatunya dirancang sealami dan serealistis mungkin, baik lingkungan indoor maupun
outdoor.
Lingkungan belajar yang alami memberikan kesempatan anak untuk :
1) Belajar sambil bermain karena bermain merupakan cara belajar anak
2) Belajar dari lingkungan
3) Belajar mengalami realita secara alami
4) Merangsang pertumbuhan otak dan tubuh
e. Alat Peraga Montessori
“Hal penting pertama perkembangan anak adalah konsentrasi … Ia harus menemukan cara
bagaimana berkonsentrasi, dan oleh karenanya mereka membutuhkan benda-benda yang
dapat membuatnya berkonsentrasi … “ (Dr. Maria Montessori)
Alat peraga Montessori merupakan benda-benda atau alat-alat bermain yang dapat
membantu pembentukan internal anak, untuk membantu perkembangan fisik dan
pembangunan diri anak, disesuaikan dengan kebutuhan internal anak. Setiap benda atau
alat bermain dirancang agar memungkinkan terjadinya auto-edukasi. Artinya kontrol
kesalahan berada pada benda tersebut bukan pada guru. Kontrol kesalahan ini akan
mebimbing anak dalam menggunakan benda tersebut dan memungkinkan anak menyadari
kesalahannya sendiri dan memperbaikinya.
Alat-alat yang digunakan dalam pendidikan di Sekolah Montessori terbagi dalam
empat kategori, yaitu :
Tabel II.2. Alat-Alat Peraga Montessori
Kategori Fungsi Contoh
a. Alat
pengembangan
Menumbuhkan : - disiplin diri
Ketrampilan yang dipergunakan sehari-hari adalah mengurus diri dan lingkungannya,
20
xxi ketrampilan - kemandirian
- konsentrasi - kepercayaan diri
seperti :
- alat untuk belajar memasang kancing - alat untuk belajar memasang tali sepatu - alat untuk menyapu lantai, dll
b. Alat
pengembangan fungsi sensoris
- Pertumbuhan intelektual
- Mengembangkan fungsi indera untuk membantu kecerdasan anak
- Menara pink (1 set sepuluh kubus dengan berbagai ukuran) - 7 Macam tekstil yang berbeda
kualitasnya, mulai dari yang halus sampai yang kasar (beludru, sutera, wol, linen halus, linen kasar, katun halus, katun kasar)
- Cylinder blocks
- Constructive triangles
- Knobless cylinders
c. Alat
pengembangan akademis
Mengembangkan kemampuan akademik anak
Bahasa
- Huruf-huruf yang dapat dipindah-pindahkan, permukaannya terdiri dari ampelas yang dapat ditempelkan pada papan flannel
- Sandpaper letters, dll
Matematika
- Sandpaper numbers
- Numerical rods
- Papan penambahan - Papan pembagian, dll
Geografi
Gb.II.1.Contoh alat pengembangan ketrampilan
Sumber : www.a2zmontessori.co.nz/
Gb.II.2.Contoh alat pengembangan fungsi sensoris Sumber : www.Imj365.com/ShippingProof-2.htm
Gb.II.3.Contoh alat pengembangan bahasa Sumber : www.montessori.ie/
xxii
- Globe - Puzzle map
- Flags of the world
- Land and water form cards, dll
Biologi
- Botany puzzles
- Zoology puzzles
- Leaf cards, dll
Dll d. Alat
pengembangan artistik atau yang berorientasi pada budaya
Membantu anak untuk belajar menyukai dan menghargai seni dan budaya
- Alat-alat musik, seperti Pentatonic Montessori Bells, not position materials, dll
- Gamelan
- Wayang
Sumber :Elizabeth G.Hainstock, Kenapa Montessori ?, Mitra Media, 2008
f. Kohesi Kemasyarakatan
Gb.II.5.Contoh alat pengembangan geografi Sumber : www.montessori.ie/
Gb.II.6.Contoh alat pengembangan biologi Sumber : www.montessori.ie/
Gb.II.7.Contoh alat-alat musik Sumber : www.a2zmontessori.co.nz/
Gb.II.9.Contoh wayang Sumber : www.google.com
xxiii
1) Pengertian kohesi22 : daya gabung, keterikatan, ketertarikan. 2) Pengertian kemasyarakatan23 : sosial.
Lingkungan ramah anak merangsang anak berkomunikasi dengan anak lain secara alami
dan melatih sosialisasi.
6. Program Belajar24 a. Kehidupan Praktis
Anak akan belajar bagaimana menyikat gigi, mencuci tangan, mengancingkan baju,
mengikat tali sepatu, membawa piring ke dapur, mengambil piring di meja, menuangkan air
dari teko ke gelas, dan makan dengan garpu. Selain itu, anak dilatih ketrampilan
bermasyarakat, seperti bermain peran (menyapa, menyela, berterima kasih, bereaksi
terhadap lawan bicara, berperilaku di acara sosial dan di pelajaran). Aktivitas-aktivitas
tersebut menyumbang pada kendali dan koordinasi gerakan, pengembangan ketrampilan
berkonsentrasi dan peningkatan rasa percaya diri anak.
Kehidupan praktis membantu anak mengembangkan ketrampilan (motorik) dan belajar
mandiri.
b. Pengalaman Sensorik
Kurikulum Montessori berkontribusi terhadap perkembangan mental. Dengan melatih
ketrampilan panca sensorimotor, alat peraga sensorik memungkinkan anak menerima
pengetahuan dunia-fisik dan membuat keputusan tentang berbagai kualitas. Tujuan utama
pengelaman sensorik adalah pertumbuhan intelektual. Anak mulai diperkenalkan dengan alat
peraga sederhana, anak melatih panca indra dan cengkeraman jari, pengenalan warna.
c. Bahasa
Kurikulum Montessori menggunakan pendekatan bunyi untuk memperkenalkan
bahasa. Huruf alfabet diajarkan menurut bentuk dan ejaannya. Anak akan digiatkan untuk
menunjukkan ekspresinya secara lisan, mengenali huruf sebagai awal pembelajaran
membaca, tata bahasa dan menulis tangan. Pelajaran bahasa dalam kurikulum Montessori
meningkatkan intelektual anak dengan menambah perbendaharaan kata, yang merupakan
sarana bernalar dan berkomunikasi.
d. Matematika
Anak akan belajar tentang angka sebagai dasar belajar berhitung dan ilmu ukur. Sifat
alami materi-materi yang digunakan dalam kehidupan praktis dan sensor membawa kepada
pengembangan beberapa keterampilan matematika: ketepatan, keteraturan, diskriminasi,
pengenalan persamaan dan perbedaan, gradasi, perkiraan dan penghitungan.
e. Seni dan musik
22
Eko Endarmiko, Tesaurus Bahasa Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2007 23
Eko Endarmiko, Tesaurus Bahasa Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2007 24
xxiv
Kurikulum Montessori berupaya membangkitkan minat alami anak terhadap seni dan
musik. Dengan memberikan kebebasan kepada anak untuk menggunakan alat lukis dan alat
lain diharapkan dapat menumbuhkan kreativitas dan pengungkapan diri. Musik menjadi
komponen paling penting dalam kurikulum Montessori karena dapat membantu
meningkatkan kepekaan indera pendengaran.
f. Gerakan kreatif dan gerakan fisik
Kebebasan bergerak memperlancar perkembangan fisik dan motorik, serta melatih
sifat mandiri pada anak yang kemudian bermanfaat untuk perkembangan sosial, emosional
dan akademis anak-anak.
Setiap program bertujuan untuk memenuhi kebutuhan perkembangan anak secara
individual dan membantu mereka mengembangkan pribadinya. Tiap-Tiap tahap yang
diberikan materi yang disesuaikan dengan umur dan kemampuan anak.
7. Perbedaan Montessori dengan Metode Lain
Untuk lebih mudah membedakan antara Montesori dengan Pendidikan Nasional, lihat
tabel dibawah ini25 :
Tabel II.3. Perbedaan antara Montessori dengan Pendidikan Nasional
Montessori Pendidikan Nasional Pendekatan Childs Centre Teacher Centre
Media/alat belajar Dengan permainan Dengan buku
Suasana kelas Kelas full active Kelas pasif
Penilaian anak Tidak kompetitif Kompetitif
Tujuan pembelajaran Mengutamakan proses Cenderung ke hasil/produk
Sifat kelas Bebas dalam menyelesaikan
pekerjaan Sesuai dengan contoh Guru
Kurikulum Depdikbud & khusus Depdikbud
Pengembangan kemampuan Motorik & kreativitas/imajinasi Motorik halus
Quotient EQ (Emotional Quotient) IQ (Intelegen Quotient)
Fasilitas Material Montessori Material kurang
Model kelas Group & moving Individu
Waktu belajar Full day Part time Sumber : Taufik Sukresno, TA-JogjaMontessori School, Fakultas Teknik UII, 2005
8. Montessori Lebih Sesuai Dengan Karakter Anak
a. Dengan kebebasan anak dalam memilih cara/material dalam menyelesaikan pekerjaan,
anak-anak secara tidak langsung mengembangkan kepercayaan diri, kreativitas dan
kedisiplinan.
b. Kelompok/group membantu anak dalam menukar gagasan dan mendiskusikan
pekerjaan/kesulitan mereka dengan orang lain.
c. Full active. Kelas mempunyai interaksi sosial yang tinggi karena anak-anak yang
menyelesaikan pekerjaan mereka sendiri dan guru hanya sebagai fasilitator.
xxv
d. Keragaman umur membentuk seperti keluarga, di mana pelajaran dapat berlangsung secara
alami, anak yang lebih tahu/berpengalaman akan belajar bagaimana berbagi dengan orang
lain begitu juga anak yang tidak tahu belajar untuk menangkap apa yang mereka
interaksikan.
e. Learning by Doing. Sebagian besar pencapaian kurikulum dengan cara praktik langsung,
sehingga memori anak sangat kuat dengan praktik tersebut yang tentu saja praktik tersebut
mempunyai tujuan pembelajaran tertentu. Anak-anak mengajar diri mereka melalui
aktivitasnya bukan guru yang mengajari mereka melalui suara/perintah.
B. Sekolah Montessori 1. Pengertian
Fasilitas pendidikan untuk anak usia 2-6 tahun (pra-sekolah) dan 7-12 tahun (Sekolah
Dasar) untuk mengembangkan seluruh potensi anak yang dapat dilakukan melalui proses
pembelajaran di kelas maupun melalui berbagai latihan praktis yang berkaitan dengan kehidupan
anak itu sendiri dengan menggunakan Metode Montessori.
2. Filosofi 26
a. Setiap anak memiliki cita-cita.
b. Montessori telah mengenali bahwa satu-satunya dorongan untuk belajar anak adalah
motivasi diri seorang anak.
c. Seorang anak harus memiliki kebebasan untuk mengembangkan potensi, intelektual, fisik
dan spiritual, kebebasan untuk meraih sesuatu melalui perintah dan disiplin diri.
d. Perintah dan disiplin diri dapat diperoleh dalam “Lingkungan ramah anak” yang mengijinkan
anak untuk belajar dengan kecepatannya sesuai kapasitas dan kemampuan mereka sendiri
dalam suasana yang non-kompetitif.
e. Guru menyiapkan lingkungan, mengarahkan kegiatan dan menstimulasi anak sehingga anak
dapat belajar dengan sendirinya.
f. Pola gambaran ketekunan dan kecermatan ditanamkan semenjak dini sehingga
menghasilkan siswa yang percaya diri dan kompeten.
g. Montessori mengajarkan anak untuk meneliti, berpikir, dan memutuskan.
h. Metode Montessori mengenalkan kepada anak cara belajar yang menyenangkan pada tahap
awal dan menyediakan kerangka kerja di mana intelektual dan disiplin sosial diajarkan.
3. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan dalam metode Montessori adalah mengembangkan seluruh potensi anak
yang dapat dilakukan melalui proses pembelajaran di kelas maupun melalui berbagai latihan
praktis yang berkaitan dengan kehidupan anak itu sendiril.27
26
http://www.montessori-school.com 27
xxvi
Secara keseluruhan, menurut American Montessori Society (1984), tujuan pendidikan
Montessori adalah :
a. Pengembangan konsentrasi
b. Ketrampilan mengamati
c. Keselarasan memahami tingkatan dan urutan
d. Koordinasi kesadaran dalam melakukan persepsi dan ketrampilan praktis
e. Konsep yang bersifat matematis
f. Ketrampilan membaca dan menulis
g. Ketrampilan berbahasa
h. Terbiasa dengan kesenian yang kreatif
i. Memahami dunia alam lingkungan
j. Memahami ilmu sosial
k. Berpengalaman dalam menyelesaikan masalah
4. Program yang disediakan
Tabel. II.4. Program yang disediakan
Umur Program
2-3 tahun - Latihan penginderaan
- Pertolongan terhadap diri sendiri
“self-help”
- Bahasa
- Ketrampilan praktis
- Perkembangan emosi dan sosial
4-6 tahun - Ilmu pengetahuan alam
Sumber :http:// www.montessori-unlimited.com
5. Waktu belajar
a. Kelompok bermain (2-3 tahun) : Senin-Jumat; pukul 8.00-11.30 WIB
b. Taman Kanak-kanak (4-6 tahun) : Senin-Jumat; pukul 8.00-12.30 WIB
xxvii C. Tinjauan tentang Anak
1. Karakter Anak
a. Karakter Psikologi Anak
Usia awal masa kanak-kanak adalah masa kritis bagi perkembangan kepribadian
dan sikap sehingga usia tersebut diistilahkan dengan “golden age”. Pada dasarnya
anak-anak memiliki kreativitas alamiah yang perlu dikenali dan dirangsang sejak dini sehingga
anak harus mendapatkan bimbingan dan pengasuhan yang terencana, sistematis dan
terprogram. Dengan pola pengasuhan dan bimbingan yang sistematis anak mengalami
perkembangan dan pertumbuhan yang maksimal28. Contoh karakter dominan anak berkaitan dengan psikologi anak29
a. Bebas dan dinamis
b. Aktif dan selalu ingin tahu
c. Bermain
b. Karakter Gerak Anak
Secara umum, anak bergerak secara aktif, bebas, dan spontan. Bergerak dengan
bebas karena anak tidak suka diatur. Bergerak dengan spontan, yaitu melakukan kegiatan
yang dianggapnya menarik. Anak lebih suka melakukan kegiatan-kegiatan yang berlari,
melompat-lompat daripada melakukan kegiatan dengan tenang. Selain itu, anak-anak lebih suka melakukan kegiatan dalam ruang di atas lantai daripada harus duduk di kursi.
c. Karakter Fisik Anak
Karakter fisik anak dapat mempengaruhi perancangan. Faktor yang mempengaruhi
adalah tinggi badan dan ruang gerak anak. Tinggi badan dan ruang gerak akan berpengaruh
pada penataan ruang serta kenyamanan gerak dan visual.
Tabel II.5. Ruang Gerak Bermain dalam Ruang
Personal Space Anak-Besaran Minimal Ruang
Usia (tahun) Tinggi (m) Ruang Gerak (m2)
2-4 0.95 0.71
4-7 1.10 0.95
7-11 1.25 1.21
11-13 1.38 1.50
Sumber : Osmond, 1974 dalam Tesis Pusat pengembangan Kreativitas Anak di Yogyakarta, 2000; hal 21
Tabel II.6. Ruang Gerak Bermain di Luar Ruang
Berdasarkan usia Anak-Social Distance
Usia (tahun) Tinggi (m) Ruang Gerak (m2)
2-4 1.22 1.20
4-7 1.53 1.80
7-11 1.83 2.60
11-13 2.14 3.60
28
xxviii
Sumber : Osmond, 1974 dalam Tesis Pusat pengembangan Kreativitas Anak di Yogyakarta, 2000; hal 22
2. Kebutuhan Anak
Anak membutuhkan lingkungan yang dapat memberikan rasa aman dan nyaman, bebas,
hangat dan akrab, dan juga yang dapat merangsang perkembangan fisik motoriknya30. a. Adanya rasa aman dan nyaman
Rasa aman dan nyaman dengan cara menyediakan lingkungan fisik yang aman dan
nyaman di mana kegiatan yng dilakukan oleh anak mudah diawasi orang dewasa sebagai
pengawas sekaligus fasilitator jika terjadi sesuatu pada anak.
b. Adanya rasa bebas
Agar anak dapat dengan bebas bergerak sesuai dengan keinginanya dan
kebutuhannya sehingga dapat memberikan kenyamanan gerak bagi anak untuk melakukan
kegiatan. Sebaiknya ruang-ruang yang disediakan dapat memberikan kebebasan untuk
melakukan kegiatan tersebut.
c. Adanya rasa hangat dan akrab
Dapat menciptakan suasana ruang yang akrab akan dapat membantu anak untuk
merasa lebih nyaman. Bisa melalui desain interior bangunan yang sesuai dengan karakter
anak (penggunaan furniture dan warna interior dinding).
d. Merangsang perkembangan fisik dan motorik
Dapat dilakukan dengan menyediakan ruang yang menarik bagi anak dengan
sarana dan prasarana yang mendukung.
Di dalam lingkungan Sekolah Montessori, kepekaan anak dapat dirangsang dengan mendidik
panca indera anak dengan materi-materi alam (tanaman, hewan, air, dsb) sehingga diri anak
sendirilah yang belajar untuk membuka diri menjadi reseptif dan peka. Mata untuk mengamati,
hidung untuk mencium, mulut untuk merasakan, telinga untuk mendengar, kulit untuk merasakan
(Teori utama tentang cara belajar anak31). 1) Indera Penglihatan
90% masukan indera untuk otak berasal dari sumber visual32. Penglihatan sekeliling merupakan alat belajar tak sadar yang sangat ampuh. Materi-materi alam diatur supaya anak
mengamati kehidupan mereka, perkembangannya setiap hari.
30
Tedjasaputra, Bermain, Mainan, dan Permainan, Grasindo, Jakarta 2001 31 Elizabeth G. Hainstock, Kenapa Montessori ?, Mitra Media, 2008, hal.17 32 Quantum Teaching, Bobby Piter
Garis alam sebagai dinding semu Pohon sebagai pembatas transparan
Dinding masif
Gb. II.10. Jenis pembatas ruang
xxix
Batasan ruang : tinggi di atas mata (sebagai perlindungan), tinggi sebatas dada
(membentuk ruang/enclosure), di bawah pinggang (pengatur/pembentuk sirkulasi), setinggi
lutut (pola pengarah), setinggi telapak kaki (sebagai penutup)33.
2) Indera Penciuman
Daerah penciuman merupakan reseptor bagi endofrin yang menyuruh tanggapan
tubuh menjadi senang dan sejahtera. Manusia dapat meningkatkan kemampuan berpikir
secara kreatif sebanyak 30% saat diberikan bunga tertentu. Di sekitar ruang-ruang belajar
dapat ditata tanaman yang menimbulkan bau menyegarkan dan menyenangkan. Bukaan
ruang (jendela, pintu) memberi keleluasaan angin segar untuk masuk ke dalam ruang
belajar.
3) Indera Pendengaran
Pendengaran bisa melatih kepekaan persepsi. Sering mendengar suara-suara
tertentu, anak akan bisa membedakan, apakah itu suara ayam, suara kambing, suara sapi,
suara kuda, dst.
4) Indera Peraba
Indera peraba dapat dilatih dengan tekstur materi alam yang mudah dipahami.
Dengan menyentuh tanaman dan hewan secara langsung, anak mudah merasakan,
memahami dan mengingatnya.
Tekstur materi bangunan juga mendukung indera peraba anak yang semakin
mendekatkan perasaannya dengan alam. Bahan-bahan bangunan alami yang dapat
digunakan : batu, kayu, bamboo, jerami, dst.
33 Ir. Rustam Hakim, Unsur Perancangan dalam Arsitektur Lansekap, Bumi Aksara, 1993
Di atas mata Sebatas dada Di bawah pinggang Lutut Telapak kaki Gb.II.11. Tinggi batasan ruang
Sumber : Ir. Rustam Hakim, Unsur Perancangan dalam Arsitektur Lansekap, Bumi Aksara, 1993
Gb.II.12. Contoh kegiatan anak untuk melatih indera peraba Sumber : www.kinderhauskids.org
Gb.II.13. Contoh kegiatan anak untuk melatih indera peraba
xxx 3. Tinjauan Keruangan (Anak dan Lingkungan Belajar)
a. Ruang Sosial
Lingkungan belajar secara sosial adalah lingkungan di mana anak berinteraksi
dengan komunitasnya, baik dengan teman-teman sebaya ataupun dengan yang lebih muda
atau lebih tua dari anak. Anak-anak harus merasa cocok dan sesuai dengan lingkungan
belajarnya sehingga anak akan belajar dengan rasa nyaman.
b. Ruang fisik
Ruang fisik bagi anak-anak berhubungan dengan bentuk (pola ruang), warna,
tekstur, material, volume dan skala. Ruang fisik perlu diciptakan sesuai dengan karakter
anak sehingga anak merasa nyaman berada dalam ruang tersebut.
Ada beberapa model ruang fisik bagi anak yang dibedakan berdasarkan bentuk (pola ruang),
warna, tekstur, material, volume dan skala, yaitu :
1) Ruang aktif
Warna yang cerah, penuh dengan cahaya yang terang, ruang gerak bebas, pola, warna,
skala dan tekstur yang ramai (misal ruang publik, koridor, hall, gymnasium).
2) Ruang istirahat/tenang
Warna yang lembut dan sejuk, cahaya redup, pola, warna, skala dan tekstur yang teratur
(misal perpustakaan, ruang istirahat, ruang kesehatan, ruang administrasi).
3) Ruang aktif dan tenang
Warna terang yang lembut, pola, warna, skala dan tekstur yang teratur, cahaya terang,
ruang gerak yang bebas (misal ruang kelas).
c. Skala ruang
Skala ruang dapat dibentuk dengan permainan elemen-elemen horizontal dan
vertikal. Faktor penentu ruang salah satunya adalah dimensi tubuh.
1) Ketinggian rata-rata tiap kelompok umur :
a) Usia 3 tahun : 90 cm (h1)
b) Usia 5 tahun : 110 cm (h2)
c) Usia 8 tahun : 130 cm (h3)
d) Usia 12 tahun : 150 cm (h4)
2) Rumus perhitungan ruang khusus anak :
a) Kesan intim : 1,5 x h1, 2, 3, 4
xxxi
c) Kesan shock : > 10 x h1, 2, 3, 4
3) Rumus perhitungan ruang umum :
Ketinggian orang dewasa + ½ ketinggian anak
D. Studi Kasus Sekolah Montessori
1. Ruang Dalam (Indoor)
Metode Montessori menerapkan kebebasan dan kesenangan dalam belajar dan juga belajar
dalam satu kelompok sehingga dalam satu kelas terdapat ruang group dan ruang terbuka (share
learning).
Shared learning area yang memberi anak kebebasan dalam belajar.
Ruang terbuka tanpa tempat duduk dengan penempatan rak-rak di sekeliling ruang memberi
kebebasan anak dalam beraktivitas dalam shared learning area.
xxxii
Rak-rak peralatan yang ditempatkan di sekeliling ruangan dengan memperhatikan skala anak
memudahkan anak menjangkau dan mengembalikannya ke tempat semula.
2. Ruang Luar (Outdoor)
Open space menjadi ruang yang penting dalam anak berinteraksi dengan anak-anak lain (yang
berbeda umur) dan lingkungannya. Keamanan dan kontrol anak merupakan hal penting yang
diperhatikan dalam pengolahan ruang terbuka (ruang bermain outdoor).
Penempatan mainan yang menyertakan vegetasi dalam objek mainan menjadi hal yang positif
bagi interaksi anak dengan lingkungannya.
xxxiii
BAB III
TINJAUAN SOLO BARU
A. Kondisi Fisik Kota Solo Baru
Secara administratif cakupan wilayah Kawasan Solo Baru meliputi 2 bagian wilayah
kecamatan di Kabupaten Sukoharjo, yaitu Kecamatan Grogol (terdiri dari; Desa Madegondo,
Manang, Langenharjo, Grogol, Sanggrahan, Cemani, Banaran, Gedangan, Kwarasan, Telukan,
Kadokan, Pandeyan, Parangjoro dan Pondok) dan Kecamatan Baki (terdiri dari; Desa Gentan, Siwal,
Baki, Pandeyan, Kudu, Kadilangu, Ngrombo, Mancasan, Bentakan, Jetis, Menuran, Gedongan,
Purbayan, Waru dan Duwet), dengan luas wilayah
5.147 ha.344. Kondisi geografis
Kawasan Solo Baru meliputi sebagian besar wilayah Kecamatan Grogol dan Kecamatan
Baki, beriklim tropis dengan kondisi topografi relatif datar dengan kemiringan tanah bekisar
antara 0-2% , struktur batuan yang cukup kuat dan stabil yang tediri dari endapan alluvial dan
batu vulkanik kuarter tua dan muda.
Adapun batas wilayah Kawasan Perkotaan Solo Baru adalah :
Sebelah Utara : Kota Surakarta
Sebelah Timur : Kecamatan Mojolaban dan Polokarto
Sebelah Selatan : Kabupaten Klaten
Sebelah Barat : Kecamatan Kartasura dan Gatak
5. Kondisi Klimatologis
a. Sinar matahari
Kadar penyinaran matahari Kota Solo Baru
1) Untuk yang 8 jam (pkl. 08.00 – 16.00) = 76,8 %
34
xxxiv
2) Untuk yang 12 jam (pkl. 06.00 – 18.00) = 60,7 %
b. Angin
1) Arah angin
Arah angin berubah-ubah secara periodik, yaitu bervariasi antara Tenggara dan Barat
Laut.
2) Kecepatan angin
Kecepatan rata-rata per tahun minimum 0.50 m/dt yang terjadi pada Bulan
September-Januari.
3) Suhu udara
Wilayah Solo Baru termasuk dalam iklim panas. Pada daerah equatorial, yaitu antara 5o LU dan 10o LS. Perbedaan pada daerah equatorial pada umumnya berkisar antara 8oC dengan maksimal temperatur pada siang hari berkisar 24oC. Suhu udara rata-rata tercatat pada tahun 1995 maksimal 32.04oC dan 19.82oC.
4) Kelembaban
Kelembaban udara relatif umum 74.83%.
5) Curah hujan
Curah hujan yang terjadi pada wilayah tropis equatorial pada umumnya antara
2.000-5.000 mm/bln dengan maksimal curah hujan adalah 500 mm/bln pada musim kemarau.
Pada tahun 1994 curah hujan maksimal adalah 200 mm/bln.
B. Rencana Pemanfaatan Ruang Kawasan Perkotaan Solo Baru
Kegiatan dan fasilitas yang memanfaatkan ruang di Kota Solo Baru mengacu pada fungsi
Kota Solo Baru yang telah direncanakan dan ditegaskan sampai tahun 2010, yaitu :
1. Kawasan pusat pengembangan perumahan
2. Kawasan pusat pengembangan perkantoran pemerintah
3. Kawasan pusat pengembangan perdagangan dan jasa
4. Kawasan pusat pengembangan pendidikan
5. Kawasan pusat pengembangan kesehatan
6. Kawasan pusat pengembangan peribadatan
7. Kawasan pusat pengembangan perindustrian
8. Kawasan pusat pengembangan pertanian
9. Rencana tata hijau dan ruang terbuka (taman lingkungan)
10. Pekarangan dan pemakaman
Berdasarkan faktor-faktor penentu pemanfaatan ruang kota seperti fasilitas pendukung
ketersediaan lahan, kecenderungan pengembangan, dampak lingkungan, kemungkinan hambatan
pengembangan, maka potensi lokasi untuk penyediaan ruang, khususnya untuk sarana pendidikan
perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut35 :
35