Televisi Publik
Televisi merupakan salah satu bagian dari media konvensional yang memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat di era digital saat ini. Luasnya jangkauan penyiaran televisi membuat televisi memiliki pengaruh yang juga cukup besar dalam masyarakat terutama di Indonesia. Hal tersebut didukung oleh riset yang dilakukan Nielsen pada bulan Mei tahun 2014 lalu yang menyebutkan bahwa 95 % penduduk Indonesia secara keseluruhan (Jawa maupun Luar Jawa) masih menjadikan televisi sebagai media utama yang paling banyak dikonsumsi. Tercatat juga bahwa jenis acara yang paling banyak ditonton merupakan jenis acara entertainment yang biasanya dibuat oleh televisi swasta seperti: comedy, drama, movie, talent show dan variety show.
Program-program tayangan seperti yang disebutkan diatas kiranya bukan termasuk bagian dari tujuan dan fokus televisi publik. Hal tersebut dikarenakan terdapat perbedaan secara fundamental antara layanan penyiaran komersial dan publik dalam hal asumsi tentang budaya dan politik penyiaran, perbedaan tersebut terkait erat dengan bagaimana setiap sistem mendedfinisikan hubungan antara lembaga dengan penonton (Ang, 1991:27, Kitley,2001:75).Saat ini, terdapat banyak stasiun televisi publik dengan latar belakang yang bervariasi yang sebagian besar berasal dari perbedaan tradisi dan budaya politik masing-masing negara, seperti BBC (British Broadcasting Corporation) di Inggris, ABC (Australian Broadcasting Corporation) di Australia, NHK (Nippon Hoko Kyokai) di Jepang. Oleh karena perbedaan latar belakang tersebut, definisi tunggal/akurat tentang televisi publik menjadi sulit untuk didefinisikan. Namun, secara umum terdapat karakteristik dari sistem penyiaran publik menurut Ang (1991, 28) yakni ditandai dengan rasa tanggung jawab terhadap budaya dan akuntabilitas sosial, yang dengan tegas menentang pernyataan dari layanan komersial tentang ‘memberikan apa yang diinginkan penonton’.
Menetapkan standar kualitas yang tinggi hiburan, pendidikan dan informasi Berkontribusi pada pluralisme politik dan keragaman budaya
Pelestarian dan promosi budaya nasional dan warisan adalah untuk menyiarkan Upacara Hari Peringatan Kemerdekaan Indonesia yang kemudian dilanjutkan dengan liputan Asian Games yang ke 4 di Jakarta. Setelah berhasil mengudara menyiarkan pesta olah raga Asian Games tersebut, pada tanggal 20 Oktober 1963 dibentuklah Yayasan Televisi Republik Indonesia (TVRI) sesuai dengan keputusan Presiden RI No. 215 tahun 1963 tentang pembentukan yayasan TVRI.
Seiring perkembangannya, TVRI yang saat itu biaya operasionalnya dibiayai oleh negara melalui APBN, menjadi sangat kuat dalam hal modal karena keluasan jangkauannya, sehingga mampu menarik pemodal untuk memasang iklan di TVRI. Perolehan dana yang didapat dari pemasangan iklan mencapai 17 hingga 20 milyar (1976-1977) dan menyumbang 34% anggaran televisi nasional. Namun sejak tahun 1981 dengan berbagai alasan politis mengenai konsep pemerataan iklan, TVRI sudah tidak boleh menanyangkan iklan lagi.
Persaingan global pun dimulai semenjak pemerintah mengijinkan televisi swasta beroperasi di Indonesia pada tahun 1988. Dimulai dengan RCTI yang awalnya merupakan siaran berlanggan dengan audiens yang terbatas pada kalangan tertentu, hingga muncul televisi-televisi swasta lainnya pada tahun berikutnya. Sampai saat ini sudah terdapat 15 televisi yang melakukan siaran dengan skala nasional, 14 diantaranya merupakan televisi swasta dan 1 milik negara. Berkaitan dengan perkembangan tersebut, yang juga masih ditambah dengan berdirinya televisi lokal, persaingan menjadi semakin sulit dan ketat dalam hal meningkatkan jangkuan audiens.
komersial, dan berfungsi memberikan layanan untuk kepentingan masyarakat sesuai dengan UU No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran pasal 11 (1). Namun, dari sengitnya persaingan antar industri pertelevisian di Indonesia membuat TVRI menjadi tersisihkan oleh karena konten program-programnya yang dinilai kurang variatif jika dibandingkan dengan televisi swasta nasional lainnya. Strategi pemrograman berkaitan dengan persaingan konten acara TVRI dalam fungsinya sebagai televisi publik menjadi penting, mengingat tingkat audiens TVRI tidak sebanyak seperti televisi swasta nasional.
Mengacu pada UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran pasal 11 (1) TVRI berkewajiban untuk memberikan independsi informasi, menyediakan keberagamanan program, dapat menjangkau minoritas dan mendidik masyarakat melalui informasi. Berbeda dengan acara-cara yang disiarkan pada televisi swasta yang mayoritas berisikan tayangan hiburan. Acara-acara seperti infotainment, reality show, dan sinetron merupakan acara yang lebih banyak diminati daripada acara-acara yang mendidik dan penuh informasi. Berdasarkan hal tersebut, tayangan yang mendidik distigmakan sebagai acara yang membosankan.
Seberapa banyak audience dari sebuah stasiun televisi menjadi ukuran yang menentukan kesuksesan stasiun televisi tersebut. Hal ini dikarekanan hubungan audeience dengan televisi sangat kuat, mengingat tidak ada televisi yang bisa bertahan tanpa audiencenya. Menurut Perebinossof, Gross, dan Gross (2005) apabaila televisi mampu menyediakan kebutuhan informasi bagi audiencenya akan terciipta hubungan yang kuat antara televisi dan audience tersebut, namun jika televisi tidak mampu memenuhi kebutuhan tersebut maka audience tersebut akan memindahkan channel ke televisi lain.
Pemrograman TVRI sebagai Televisi Publik
Perencanaan Program
Sebagai Layanan Penyiaran Publik, TVRI perlu menyesuaikan output program agar sesuai dengan Peraturan Pemerintah RI No 13 tahun 2005 yang memberikan layanan informasi, kontrol dan perekat sosial, pendidikan dan hiburan yang sehat, serta melestarikan budaya bangsa untuk kepentingan setiap lapisan masyarakat di Indonesia. Hal-hal yang perlu dibicarakan dalam perencanaan ini terkait didalamnya mengenai jenis program, jadwal tayang, dan hubungannya dengan pengiklan. Jenis program yang nantinya akan ditanyangkan tidak lepas dari audiens yang akan dituju. Program yang nantinya sesuai dengan audiens yang dituju akan meningkatkan rating suatu program sehingga dapat menarik pengiklan untuk beriklan pada program tayangan tersebut. Meskipun TVRI bukan seperti institusi atau lembaga yang berorientasi pada profit, namun TVRI juga menerima iklan, hanya saja dibatasi porsinya.
Eksekusi Program
Program-program yang dibuat oleh TVRI tidak dapat bersaingdengan televisi-televisi swsata lainnya oleh karena perbedaan tujuan yang sudah ditetapkan oleh negara. Faktor lain adalah karena keterbatasan dana untuk membuat program acara seperti sinetron. Makan dari itu program acara pada TVRI lebih mengusung tema-tema sosial, budaya, dan politik seperti acara Pendopo, Parodi Politik dan lain-lain.
Pengawasan dan Evaluasi Program
TELEVISI KOMUNITAS
Televisi komunitas lahir menjadi tonggak baru dalam dunia penyiaran di Indonesia. Media komunitas ini hadir sebagai media alternatif yang mengusung keberagaman kepemilikan (divesity of ownership), yang juga mendorong adanya keberagaman isi (diversity of content) dalam program-program siaran karena melayani komunitasnya yang juga beragam. Karena keberagaman kepemilikan itulah, masyarakat bisa melakukan kontrol sendiri (self controling) terhadap isi siaran. Pengelola televisi komunitas tidak bisa sewenang-wenang menayangkan program isi siaran yang tidak sesuai dengan nilai, aturan, maupun budaya lokal (Budhi,2008).
Melalui UU Penyiaran No 32 diharapkan terwujud desentralisasi penyiaran, dimana memberikan kesempatan pada masyarakat di daerah untuk mendirikan lembaga penyiaran yang sesuai dengan watak, adat, budaya, dan tatanan nilai atau norma setempat. UU ini juga memberikan celah bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam bidang penyiaran.
Televisi komunitas hadir untuk memberikan alternatif informasi dan hiburan bagi khayalak pemirsa di komunitasnya. Jika industri penyiaran melalui televisi swasta mendefinisikan khalayak pemirsa televisi hanya sebagai objek pasif yang menerima apa yang disampaikannya, di mana khalayak diposisikan tidak punya kuasa dalam relasi kapital media mainstream. Maka televisi komunitas kebalikannya, sebagai media non komersial, ia menempatkan warga komunitas (khalayak penonton) sebagai “produser” yang memiliki kuasa atas segala informasi dan hiburan yang dibutuhkan komunitas itu sendiri.
Ada dua ragam progres berdirinya televisi komunitas di Indonesia. Kelompok pertama, adalah televisi yang telah memiliki perangkatsiaran televisi komunitas yang berasal dari Departemen Pendidikan Nasional. Mereka mengudara untuk me-relay program siaran pendidikan (TV Education) yang disiarkan Pusat Teknologi dan Komunikasi Depdiknas maupun program siaran yang dikelola oleh siswa-siswi sekolah tersebut.
besar adalah sebagai laboraturium praktek mahasiswa, khususnya jurusan komunikasi atau broadcasting.
Kelompok kedua, adalah televisi komunitas yang tumbuh atas dasar inisiatif warga masyarakat itu sendiri. Setidaknya ada orang atau beberapa orang aktivis setempat yang menginisiasi berdirinya televisi komunitas. Contohnya adalah Grabag TV yang merupakan televisi komunitas yang dipegang oleh Hartanto dari Insitut Kesenian Jakarta dan mendapatkan dukungan dari masyarakat desa Grabag, Magelang, Jawa Tengah. Pada Mei 2008 diselenggarakan “Temu Nasional Televisi Komunitas” di Grabag TV, Magelang yang di mana mendeklarasikan Asosiasi Televisi Komunitas Indonesia
Tantangan bagi penggiat televisi komunitas adalah menjaga sustainbilitas (keberlangsungan) siaran televisi dengan mengandalkan peran dan partisipasi warga komunitasnya khususnya dalam pembiayaan. Semakin tinggi peran dan partisipasi warga dalam pengelolaan televisi semakin panjang “umur” media komunitas tersebut. Jika tidak mampu mendorong partisipasi warga dengan baik media komunitas itu tidak bisa berumur panjang. Tidak jarang media komunitas terpaksa gulung tikar karena ditinggalkan oleh penggiat media tersebut. Karena proses pengkaderan dalam Lembaga Penyiaran Komunitas menjadi hal yang krusial dan harus disiapkan dengan baik untuk menjaga keberlangsungan media itu sendiri.
Bagi televisi komunitas berbasis warga yang mampu mendorong partisipasi warga dengan baik, tentu tidak mengalami kesulitan dalam menggalang dukungan warga dalam proses perijinan.
Dalam konteks pembangunan daerah, berkenaan apa media komunitas terutama memiliki signifikasi, maka upaya pemberdayaan dan aktualisasi potensi-potensi lokal menjadi hal yang sangat utama. Pembangunan daerah dengan demikian tidak harus diartikan sebagai kemandirian masyarakat suatu daerah (atau para warga suatu komunitas) – dalam arti tidak memiliki ketergantungan dengan daerah lain (atau dengan para warga komunitas lain) tetapi yang lebih penting adalah apresiasi dan optimalisasi pemanfaatan potensi dan produk-produk lokal (daerah) demi lebih tercukupinya kebutuhan warga daerah. Pembangunan daerah dengan demikian diharapkan dapat memperkokoh nilai-nilai budaya lokal (daerah) yang selanjutnya juga dapat memperkokoh nilai-nilai dan identitas budaya bangsa.
1. Informasi
Peran ini berkenaan dengan peran media komunitas dalam upaya penyebarluasan informasi dan pengetahuan mengenai gerak dan laju pembangunan dengan mengindahkan keragaman perspektif. Suatu peristiwa diberitakan bukan hanya dari sisi kepentingan pemerintah tetapi juga kepentingan rakyat banyak, bukan hanya dari sisi kepentingan kelompok dominan tetapi juga kelompok minoritas dari warga komunitas.
2. Forum diskusi publik
Dalam hal ini media komunitas diharapkan memiliki peran yang nyata dalam memfasilitasi berkembangnya diskusi publik (di antara warga komunitas) berkenaan dengan persoalan-persoalan penting yang berkenaan dengan warga komunitas serta persoalan-persoalan lain yang lebih luas yakni menyangkut hubungan atau interaksi warga komunitas dengan warga lain bahkan juga urusan atau persoalan nasional.
3. Membantu mencapai kesepakatan untuk mengatasi persoalan
Sangat disarankan bahwa lacakan jurnalistik media komunitas lebih mengedepankan pencapaian jalan keluar terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi bersama dalam masyarakat (problem-solving oriented). Hal demikian dapat dilakukan misalnya dengan cara pemilihan sumber yang berimbang di antara kelompok-kelompok kepentingan dan/atau kelompok kekuatan dalam masyarakat/komunitas seraya tetap berpijak pada nilai-nilai budaya yang ada seperti misalnya sitik pada eding, aja leluwihan, aja dumeh, dan tepo seliro.
4. Menggelorakan semangat partisipasi
menjadi: rakyat tidak akan mau ikut berpartisipasi dalam pembangunan sampai mereka meyakini manfaat dari pembangunan.
TELEVISI KOMERSIAL
Sebagaimana yang telah tercantum dalam UU No. 32 Tahun 2002 pasal 16, lembaga Penyiaran Swasta adalah “lembaga penyiaran yang bersifat komersial berbentuk badan hukum Indonesia, yang bidang usahanya hanya menyelenggarakan jasa penyiaran radio atau televisi”. Persoalan utama dalam Lembaga Penyiaran Swasta yang berkembang di Indonesia adalah ihwal kepemilikan saham usaha dan monopoli. Sebagaimana diketahui di dunia pertelevisian nasional, dalam era Orde Baru, jagad pertelevisian dibatasi oleh dominasi asas tunggal dari TVRI sebagai satu-satunya sumber informasi yang absah dari pemerintah. Sejak didirikan tahun 1962, dominasi TVRI telah menghalangi sektor swasta untuk membangun bisnis media televisi komersial.
Baru pada pertengahan 1980-an, pemerintah Orde Baru mulai menerapkan beberapa deregulasi ekonomi. Berbagai faktor, seperti menurunnya harga minyak di pasaran internasional, memaksa pemerintah agar lebih terbuka terhadap tuntutan-tuntutan kapitalisme global yang bersumber pada kaidah-kaidah neo-liberal. Pemerintah tak bisa menghindar dari arus besar yang menghendaki liberalisasi ekonomi di berbagai bidang. State regulation mau tak mau harus digantikan, atau setidak-tidaknya mulai dikombinasikan dengan prinsip-prinsip market regulation. Kondisi ini kemudian yang mendahului terbukanya kesempatan dalam membuka iklim penyiaran dari kalangan peluang untuk mendirikan televisi swasta baru muncul ketika Soeharto membuka keran kapitalisasi industri media kepada anak-anaknya dan kerabat dekatnya sendiri. Bambang Tri Hatmodjo dengan RCTI, Siti Hardiyanti Rukmana dengan TPI, kemudian Salim Group (pengusaha yang dekat dengan Soeharto), dan sebagainya. Masuknya pengusaha-pengusaha tersebut baru menguat menjelang akhir pemerintahan Orde Baru. Suntikan investasi pertelevisian—jika dilihat barusan—menyimpan kadar nepotisme dan politisasi yang kental.
PP No 11 tahun 2005
Lembaga Penyiaran Publik / Televisi Publik:
Lembaga Penyiaran Publik adalah lembaga penyiaran yang berbentuk badan hukum yang didirikan oleh negara, bersifat independen, netral,tidak komersial, dan berfungsi memberikan layanan untukkepentingan masyarakat.
Lembaga penyiaran publik membuka ruang publik (public sphere) denganmemberikan hak memperoleh informasi yang benar (right to know) danmenyampaikan pendapat atau aspirasi (right to express) bagi masyarakat sehinggamenempatkan masyarakat sebagai warga negara.
Lembaga penyiaran publik diperlukan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesiayang merupakan negara kepulauan, berfungsi sebagai identitas nasional (flagcarrier), pemersatu bangsa dan pembentuk citra positif bangsa di duniainternasional, selain bertugas menyiarkan informasi, pendidikan, budaya, danhiburan.
Lembaga penyiaran publik mempunyai prinsip:
a. Siarannya harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat di seluruh wilayahNegara Kesatuan Republik Indonesia (general geographical availability);
b. Siarannya harus mencerminkan keragaman yang merefleksikan strukturkeragaman, realitas sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat;
c. Programnya harus mencerminkan identitas dan budaya nasional; d. Penyajian siarannya hendaknya bervariasi.
TENTANG KOMERSIALITAS TVRI DALAM PP NO 11 TAHUN 2005 Pasal 5 ayat (4)
Untuk menunjang peningkatan kualitas operasional penyiaran,RRI dan TVRI dapat menyelenggarakan kegiatan siaran iklan danusaha lain yang sah yang terkait dengan penyelenggaraanpenyiaran.
Siaran Iklan Pasal 25
(2) Siaran iklan niaga yang disiarkan pada mata acara siaran untukanak-anak wajib mengikuti standar siaran untuk anak-anak.
(3) Iklan rokok pada lembaga penyelenggara penyiaran radio dantelevisi hanya dapat disiarkan pada pukul 21.30 sampai denganpukul 05.00 waktu setempat.
(4) RRI, TVRI, dan Lembaga Penyiaran Publik Lokal wajib menyediakanwaktu untuk siaran iklan layanan masyarakat yang dilakukan dalam waktu yang tersebar mulai dari pukul 05.00 sampai denganpukul 22.00 waktu setempat dengan harga khusus, atau jika dalamkeadaan darurat ditetapkan oleh Pemerintah sesuai dengankeperluan.
(5) Waktu siaran iklan niaga RRI, TVRI, dan Lembaga Penyiaran Publik Lokal paling banyak 15% (lima belas perseratus) dari seluruh waktusiaran setiap hari.
(6) Waktu siaran iklan layanan masyarakat paling sedikit 30% (tigapuluh perseratus) dari siaran iklannya setiap hari.
(7) Materi siaran iklan wajib menggunakan sumber daya dalamnegeri.
PP NO 51 TAHUN 2005
TENTANG LEMBAGA PENYIARAN KOMUNITAS (TV KOMUNITAS) Lembaga Penyiaran Komunitas adalah lembaga penyiaranradio atau televisi yang berbentuk badan hukum Indonesia, didirikan oleh komunitas tertentu, bersifat independen, dan tidak komersial, dengan daya pancar rendah, luas jangkauan wilayah terbatas, serta untuk melayani kepentingan komunitasnya.
RADIUS
Pasal 5
(1) Radius siaran Lembaga Penyiaran Komunitas di batasi maksimum 2,5 km (dua setengah kilometer) dari lokasi pemancar atau dengan ERP (effective radiated power) maksimum 50 (lima puluh) watt.
Isi Siaran
Pasal 18
(1) Isi siaran wajib mengandung informasi, pendidikan, hiburan, dan manfaat untuk pembentukan intelektualitas, watak, moral, kemajuan, kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mengamalkan nilai-nilai agama dan budaya Indonesia. (2) Isi siaran Lembaga Penyiaran Komunitas wajib memuat paling sedikit 80% (delapan
puluh perseratus) mata acarayang bersumber dari materi lokal.
(3) Isi siaran wajib memberikan perlindungan danpemberdayaan kepada khalayak khusus, yaitu anak-anakdan remaja, dengan menyiarkan mata acara pada waktuyang tepat, dan Lembaga Penyiaran Komunitas wajibmencantumkan dan/atau menyebutkan klasifikasikhalayak sesuai dengan isi siaran.
(4) Isi siaran Lembaga Penyiaran Komunitas wajib menjaganetralitasnya dan tidak boleh mengutamakan kepentingangolongan tertentu.
(5) Isi siaran dilarang:a. bersifat fitnah, menghasut, menyesatkan dan/ataubohong; b. menonjolkan unsur kekerasan, cabul, perjudian, penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang; atau c. mempertentangkan suku, agama, ras, danantargolongan
(7) Isi siaran yang bersumber dari luar negeri dapat disiarkansepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasionaldan tata nilai yang berlaku di lokasi Lembaga PenyiaranKomunitas.
(8) Isi siaran wajib mengikuti Pedoman Perilaku Penyiaran danStandar Program Siaran yang ditetapkan oleh KPI.
Larangan Siaran Iklan Komersial, Kode Etik dan Tata Tertib
Pasal 27
Lembaga Penyiaran Komunitas dilarang melakukan siaran iklan dan/atau siaran komersial, lainnya, kecuali iklan layanan masyarakat.
Persyaratan Teknis Alat dan Perangkat Penyiaran Pasal 37
DAFTAR PUSTAKA Buku
Brown, James A. 1998. Media Literacy Perspectives, Journal of Communication, edisi Winter
Kitley, Philip. 2000. Television, Nation, and Culture In Indonesia. USA: Ohio University Press
Losifidis, Petros. 2007. Public Television in the Digital Era: Technologial Challanges and New Strategis for Europe. London: Palgrave Macmillan.
Morissan. 2008. Jurnalistik Televisi Mutakhir. Jakarta: M. A Kencana
Pawito. 2007 Eksistensi Media Komunitas Cetak: Perspektif Sosialisasi Pembangunan Daerah –makalah disajikan di depan forum Workshop Media Komunitas oleh BIKK Propinsi Jawa Tengah di Salatiga
Perbinossoff, P., Gross, B., & Gross, L. S. 2005. Programming for TV, Radio, and
The Internet : Strategy, Development, and Evaluation. Oxford: Elsevier Focal Press
Jurnal
Hermanto, Budhi. 2007. Televisi komunitas: media pemberdayaan masyarakat. Jurnal komunikasi volume 2, nomor 1, 2007. Yogyakarta: Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia.
Artikel
Nielsen. 2014. Nielsen: konsumsi media lebih tinggi di luar jawa.
Diakses dari http://www.nielsen.com/id/en/press-room/2014/nielsen-konsumsi-media-lebih-tinggi-di-luar-jawa.html pada tanggal 22 Agustus 2015 pukul 20.15 WIB
Internet
Fisip, Yayan S. 2013. Hand out Lembaga Penyiaran Komersial.
Diakses dari http://yayan-s-fisip.web.unair.ac.id/artikel_detail-70836-media-Hand %20Out%20Lembaga%20Penyiaran%20Komersial.html pada tanggal 23 Agustus 2015 pukul 17.30 WIB
PP 11 Tahun 2005 Tentang Lembaga Penyiaran Publik/Televisi Publik
Tugas Mata Kuliah Televisi
Televisi Publik, Televisi Komunitas, Televisi Komersial
Dosen Pengampu : Yohanes Widodo, M.Sc
Oleh :
Aulia Diza Rachmawatie 120904696
I Gusti Agung 120904701
Pradipta Kumara 120904720
Maria Puji Nuraeni 120904794 Melinda Bella Carla 120904828 Peggy Jenniefer W 120904830