Perspektif dan Sikap Hakim Dalam Memutus Perkara Mut’ah dan Nafkah Iddah
Teks penuh
Dokumen terkait
Pada dasarnya pengadilan tidak ikut campur mengenai pembayaran nafkah iddah dan mut’ah namun karena alasan nurani dan kebijakan pengadilan juga mengupayakan
Terimakasih pula yang tidak terhingga penulis sampaikan kepda karyawan- kryawati administrasi Program Doktor (S 3) Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA)
Skripsi dengan judul “Nikah Mut‟ah Dalam Perspektif Tafsir Syi‟ah – Sunni (Telaah Tafsir Al-Mi>za>n dan Al-Durrul Mantsu>r)” yang ditulis oleh Sugito
a. Tidak ada perbedaan pendapat antara ulama atas kewajiban suami untuk memberikan nafkah iddah kepada istri yang ditalak raj‟i. Menurut para fuqaha suami masih
tiga kasus wanita tidak berhak atas nafkah dalam masa iddah; pertama, apabila putusnya perkawinan disebabkan akad yang tidak sah atau karena wath’ syubhah, karena dalam perkawinan
Menimbang, bahwa berdasarkan bukti P.4 berupa surat pernyataan yang dibuat oleh SA, dimana yang bersangkutan telah mengakui telah menikah sirri dengan AD pada tanggal
Disebut demikian karena iddah pada umumnya mengandung jumlah quru’ dan bulan.22 Dapat berarti juga sesuatu yang dihitung oleh perempuan, ia menempatinya dalam beberapa hari dan masa.23
Sedangkan untuk perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti angkat adalah pemberian nafkah iddah dan mut‟ah pada perkara cerai talak di Pengadilan Agama Sungguminasa