• Tidak ada hasil yang ditemukan

MUNAWWIR SJADZALI DAN PEMIKIRANNYA DALAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MUNAWWIR SJADZALI DAN PEMIKIRANNYA DALAM"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

MUNAWWIR SJADZALI DAN PEMIKIRANNYA

DALAM BIDANG FIKIH DI INDONESIA

Oleh: M. Jafar, SHI

Dosen dan Ketua Prodi Ahwal al-Syakhsiyyah STAIN Malikussaleh Lhokseumawe

Abstrak

Hukum Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik dalam hal ibadah maupun dalam hal bertransaksi sosial dengan sesamanya. Di antara hukum Islam adalah transaksi ribawi, aurat perempuan, dan warisan (faraidh). Penulis sengaja memilih ketiga masalah ini untuk diangkat dalam pembahasan di sini karena ini melihat pemikiran Munawwir Sjadzali yang agak aneh dan ‘nyeleneh’ dalam masalah-masalah tersebut. Menurutnya bunga bank adalah riba, tetapi karena sedikit, maka boleh diambil dengan alasan darurat. Kemudian mengenai aurat perempuan, ayat hijab diturunkan di Arab karena kondisi perempuan Arab saat itu tidak merasa aman jika keluar rumah tanpa menutup diri. Maka dalam kondisi masyarakat Indonesia sekarang ini tidaklah demikian, maka menutup kepala (aurat) tidak wajib bagi masyarakat Indonesia sekarang ini. Ayat tersebut dinasakh oleh budaya bangsa Indonesia yang telah aman di jalan-jalan, tanpa menutupi auratnya. Aneh bin ajaib memang. Begitu pula dalam masalah hak waris, antara anak laki-laki dengan anak perempuan disamakan dalam budaya masyarakat Indonesia. Alasannya, karena di Indonesia laki-laki dan perempuan sama-sama bekerja. Maka tidak ada alasan untuk membedakan hak waris di antara keduanya. Jadi, dalam dua masalah tadi Alquran perlu direaktualisasikan dalam masyarakat Indonesia sekarang ini. Istilahnya, kedua ayat Alquran tadi tidak relevan lagi dengan kondisi budaya masyarakat Indonesia, maka perlu diinterpretasikan ulang. Aneh memang.

A. PENDAHULUAN

Agama Islam mengatur segala ketentuan hidup manusia dengan aturan dan

prinsip-prinsip yang adil, hal ini sebagaimana yang terlihat dari segala aturan yang terdapat dalam

Islam, semuanya diatur sesuai dengan kebutuhan dan fitrah kehidupan manusia. Realitas ini

menunjukkan bahwa hukum Islam mempunyai dasar yang kuat dan tersistematika dengan

demikian rapi, maka kemudian dapat diterapkan dan juga dapat menjawab segala persoalan

manusia. Kedatangan Islam benar-benar rahmatan lil ’alamin dan mengubah semua sistem

kehidupan yang tidak baik menjadi baik, karena itu Islam adalah agama yang revolusioner

bagi peradaban manusia sebelumnya.1

(2)

mengatur semuanya tanpa terkecuali. Hukum Islam bukan hanya tertentu pada masalah ibadah

saja, tetapi segala lini kehidupan manusia disentuh oleh Islam dan diatur ketentuan hukumnya.

Islam mengatur hubungan antar manusia dan segala bentuk interaksinya baik dalam lingkup

keluarga maupun masyarakat luas, Islam mengatur masalah ekonomi, politik, tata negara dan

berbagai aspek kehidupan manusia lainnya, bahkan sampai hal yang paling kecilpun Islam

mengaturnya.

Sebagian dari hukum Islam adalah tentang transaksi ribawi, aurat perempuan, dan

warisan (faraidh). Mengenai ketentuan hukum ketiga masalah ini telah banyak dibahas oleh

ulama dalam berbagai literatur baik klasik maupun kontemporer. Namun demikian ada

beberapa pemikiran baru dan berbeda dalam masalah tersebut, khususnya di Indonesia seiring

dengan perubahan zaman dan kondisi masyarakat. Maka penulis dalam makalah ini ingin

menjelaskan pemikiran Munawwir Sjadzali mengenai ketiga masalah tersebut. Alasannya,

karena hanya dalam ketiga masalah fikih tersebut Munawwir mempunyai pemikirannya

tersendiri yang agak ”aneh” dari aturan-aturan hukum yang pernah ada, yang penulis temukan

dalam berbagai referensi.

B. BIOGRAFI MUNAWWIR SJADZALI

Munawwir Sjadjali lahir di Desa Karanganom, Klaten, Jawa Tengah, pada tanggal 7

November 1925. Munawwir adalah anak tertua dari delapan bersaudara dari pasangan Abu

Aswad hasan Sjadzali (putera Tohari) dan Tas‘iyah (puteri Badruddin). Pendidikan Madrasah

Ibtidaiyah (setingkat SD) ditamatkan di kampungnya. Setelah itu Munawwir melanjutkan ke

Mambaul Ulum, madrasah modern yang didirikan atas prakarsa Sri Susuhunan Pakubuwono

X. Tapi cita-cita itu sempat tertunda karena pendaftaran di Madrasah Tsanawiyah belum

dibuka, lalu Munawwir dimasukkan ke Madrasah al-Islam, Madrasah lain di Solo, yang

didirkan oleh KH. Ghazali, salah seorang sahabat senior ayahnya. Hanya setahun Munawwir

(3)

Ulum. Pada tahun 1943 tepat di usia 17 tahun Munawwir sudah menamatkan dan

mengantongi ijazah dari Madrasah terkenal itu. Sebagai santri, ciri yang paling menonjol dari

diri Munawwir adalah kemampuannya dalam memahami kitab-kitab klasik Islam.2

Kemudian Kursus Diplomatik dan Konselor Deplu di Universitas Exeter Inggris Raya

Tahun 1953-1954, dan memperoleh MA dari Universitas Georgetown AS Tahun 1959

mendapat gelar Doktor Honoris Causa dalam Ilmu Agama Islam dari IAIN Syarif

Hidayatullah, Jakarta Tahun 1994.3

Munawwir Sjadzali merupakan tokoh intelektual dan agama serta diplomat dan pernah

menjabat sebagai Menteri Agama sejak Kabinet Pembangunan IV Tahun 1983-1988 hingga

Kabinet Pembangunan V tahun 1988-1993. Sosok Munawwir Sjadzali adalah tokoh yang

paling aktif dan banyak melakukan peran dalam sejarah pergerakan di Indonesia semasa

penjajahan maupun setelahnya, baik dalam negeri maupun luar negeri. Banyak posisi penting

pernah dijabat selama hidupnya.

C. PEMIKIRAN MUNAWWIR SJADZALI DALAM BIDANG FIKIH 1. Masalah Bunga Bank

Munawwir Sjadzali dalam buku Kontektualisasi Ajaran Islam menyebutkan bahwa

perlunya reaktualisasi Alquran surat al-Baqarah ayat 173 tentang haramnya riba dan di antara

kita banyak yang berpendirian bunga dalam bank itu riba, oleh karenanya maka sama-sama

haram dan terkutuk sebagaimana riba. Tapi di sisi lain, dalam kehidupan sehari-hari banyak

mempergunakan jasa bank, dan bahkan mendirikan bank dengan sistem bunga, dengan alasan

dharurat, padahal seperti yang tersebut dalam ayat tadi, kelonggaran yang diberikan kepada

kita dalam keadaan darurat itu dengan syarat tidak adanya unsur kesengajaan dan tidak boleh

lebih dari pemenuhan kebutuhan esensial.4

Menurutnya, bunga bank yang dikategorikan riba jika sedikit boleh diambil dengan

alasan dharurat, padahal kalau yang namanya riba sedikit atau banyak sama saja. Dan alasan

(4)

rezeki yang halal. Namun demikian reaktualisasi ayat tersebut tidak begitu bermasalah dan

berbahaya karena penggolongan bunga bank sebagai riba merupakan hal yang masih

diperselisihkan di kalangan para ulama.

2. Masalah Aurat Perempuan

Munawwir Syadzali ketika masih menjabat Menteri Agama RI masa orde baru dalam

kunjungan kerjanya ke Saudi Arabia, 1984, ketika berbincang-bincang dengan beberapa

pelajar Indonesia di kota itu, dia sempat melontarkan Tafsir Kontekstualnya tentang masalah

hijab bagi wanita muslimah. Menurutnya, ayat yang menyuruh mengenakan hijab (“…dan

janganlah wanita-wanita itu menampakkan perhiasannya kecuali perhiasan yang tampak

saja” QS. Al-Nur : 31) kepada wanita muslimah itu diturunkan karena keadaan di Madinah

pada saat itu tidak aman, di mana apabila ada wanita yang keluar rumah tanpa memakai

hijab, ia akan diganggu oleh lelaki. Keadaan seperti itu di Indonesia tidak ada karena alamnya

berbeda tidak pernah mencapai tahap itu.5

Singkatnya, Munawwir menghendaki agar ayat hijab--yang menyuruh wanita

muslimah menutup auratnya--ditafsirkan sedemikian rupa dengan mempertimbangkan konteks

keindonesiaan, sehingga wanita muslimah Indonesia tidak diwajibkan menutupi kepalanya

dengan kerudung dan sebagainya karena rambut wanita itu tidak termasuk aurat. Baru dan

aneh, memang. Karena selama ini penafsiran tentang aurat wanita di luar rumah adalah, semua

tubuh wanita itu aurat tanpa kecuali (Madzhab Syafi‘i dan Hanbali), dan semua tubuh wanita

itu aurat kecuali wajah dan kedua tapak tangan (Madzhab Hanafi dan Maliki).

Padahal dia tidak sadar bahwa Alquran itu bukan hanya diturunkan dan

diperuntukkan ajarannya untuk orang Arab saja, tapi juga untuk semua manusia di atas

(5)

kiamat tiba. Alquran diturunkan Allah sebagai hudan linnas (petunjuk untuk semua manusia),

bukan hudan lil ‘Arab (petunjuk untuk orang Arab).

3. Masalah Harta Warisan (faraidh)

Selanjutnya, menurut Munawwir yang perlu direaktualisasikan juga adalah Alquran

surat al-Nisa` ayat 11 tentang faraidh yang dengan jelas menyatakan bahwa hak anak laki-laki

adalah dua kali lebih besar daripada hak anak perempuan. Tetapi ketentuan tersebut sudah

banyak ditinggalkan oleh masyarakat Islam Indonesia, baik secara langsung maupun tidak

langsung. Secara langsung maksudnya, apabila seorang keluarga muslim meninggal, para ahli

waris meminta fatwa kepada Pengadilan Agama dan keputusan yang diberikan oleh lembaga

tersebut sesuai dengan hukum faraidh. Lalu mereka tidak melaksanakan tersebut dan pergi ke

Pengadilan Negeri untuk meminta supaya dibagikan hak yang sama. Adapun secara tidak

langsung, yaitu dengan cara membagikan hak yang sama antara anak laki-laki dengan anak

perempuan ketika seorang masih hidup dalam bentuk hibah. Hal ini dilakukan karena kuatir

jika dibagikan setelah dia meninggal mereka akan mendapat hak yang berbeda.6

Padahal perilaku masyarakat Islam Indonesia yang tidak menerima keputusan

Pengadilan Agama yang membagikan harta warisan sesuai dengan hukum faraidh, yakni anak

laki-laki mendapat dua bagian anak perempuan, tidak dapat dijadikan alasan untuk merubah

(mereaktualisasikan) ayat Alquran yang mengatur masalah tersebut. Itu yang dilupakan oleh

Munawwir, aneh memang. Adapun membagikan harta yang sama antara anak laki-laki dengan

anak perempuan dalam bentuk hibah ketika seseorang masih hidup dan sehat, hal itu tidak

dilarang dalam agama dan tidak diatur secara khusus tatacara pemberiannya (hibah),

sebagaimana yang diatur dalam pembagian harta warisan setelah seseorang meninggal dunia.

Kecuali hibah dalam kondisi sakit berat yang secara adat orang itu akan meninggal dalam

(6)

seperti wasiat yang boleh sejumlah kadar tersebut. Sedangkan harta warisan ada aturan khusus

dalam tatacara pembagiannya sebagaimana yang telah dibuat aturannya oleh Allah dalam

Alquran. Maka, aturan yang sangat jelas dipahami dari ayat Allah tidak boleh diganggu gugat.

Tapi Munawwir secara berani telah menggugat Allah yang telah menetapkan aturan tersebut. Melihat perkembangan budaya dan struktur sosial masyarakat seperti itu, sehingga

pelaksanaan faraidh secara utuh kurang dapat diterima oleh rasa keadilan, maka Munawwir

mempunyai pandangan untuk memodifikasi ayat yang sangat jelas tersebut. Dalam beberapa

pidato kenegaraannya sebagai Menteri Agama waktu itu dia selalu melemparkan idenya

tersebut, walaupun mendapat banyak tantangan dari para ulama. Bahkan, suatu ketika ia

melapor kepada Presiden Soeharto selaku atasannya tentang naskah pidatonya yang menyebut

tentang hal itu. Ia menunjukkan ayat Alquran yang jika diartikan secara harfiah tidak lagi

relevan dengan dunia kita sekarang ini. Ia berkata kepada presiden: “Bapak Presiden, mungkin

saya salah, tetapi saya berpendapat bahwa selama umat Islam berpendirian bahwa ayat

Alquran itu final dan harus diartikan secara harfiah, maka Islam akan merupakan kendala bagi

kemajuan dan pembangunan. Saya tidak berpendapat demikian. Pemahaman kita tentang

Alquran harus juga kontekstual. Saya mohon petunjuk apakah kegiatan saya itu salah. Kalau

memang salah, akan saya hentikan. Saya kaget bercampur gembira ketika beliau menjawab,

“Tidak salah, justru strategi itu perlu. Hanya saja jangan Anda sendiri. Gunakan IAIN untuk

mencetak ilmuwan-ilmuwan yang dapat mengikuti pahammu. Masa, pada zaman emansipasi

wanita sekarang ini anak perempuan hanya menerima warisan separo dari yang diterima oleh

anak laki-laki”.7

Pada pertengahan dekade delapanpuluhan Munawwir Sjadzali yang ketika itu

menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia melontarkan idenya mengenai warisan.

Menurutnya pembahagian warisan antara laki-laki dan perempuan seharusnya sama, tidak

(7)

ditentang oleh ulama karena dianggap telah bertentangan dengan dalil sarih (eksplisit), di

mana Alquran dengan jelas menyebutkan bahwa warisan anak laki-laki dua banding warisan

anak perempuan. Setelah mengemukakan idenya yang demikian, kemudian Munawwir

Sjadzali mulai membatasi diri dalam membahas masalah agama, namun demikian

pendapatnya yang demikian itu terus bergulir dan menjadi topik kajian tersendiri dalam

lingkup reaktualisasi hukum Islam.8

Alasan ia mengemukakan ide yang demikian adalah bahwa sesungguhnya ayat

Al-Quran yang mengatur masalah warisan yaitu surah al-Nisa ayat 11 adalah untuk membatalkan

budaya Arab pra Islam yang sangat tidak memihak perempuan, mereka sama sekali tidak

dihargai bahkan sampai kepada harta warisan juga tidak diberikan. Maka turunlah ayat

Alquran untuk menghapus budaya tersebut dengan cara memberikan harta warisan kepada

wanita.

Munawwir Sjadzali mengemukakan bahwa ayat tersebut merupakan salah satu upaya

Islam untuk mengangkat harkat dan martabat wanita dari kehinaan dan tidak mendapatkan

warisan sama sekali. Upaya Islam ini menurutnya bersifat tahapan (step by step) tidak

sekaligus, sama halnya sebagaimana pada masalah pengharaman khamar yang merupakan

minuman yang telah menjadi kebiasaan orang Arab pada saat itu. Jadi menurutnya Islam ingin

mengangkat derajat perempuan sama dengan laki-laki dalam segala hal, namun hal itu

dilakukan secara bertahap dengan memberikan hak sedikit demi sedikit. Maka mengenai

warisan seharusnya Perempuan mendapatkan jumlah yang sama dengan laki-laki, namun

Islam tidak langsung memutuskan demikian, tetapi dilakukan secara perlahan-lahan, karena

itu menurut Munawir Sjadzali sampai saat ini masih terbuka ruang untuk terus melanjutnya

penyempurnaan upaya ini.9

Lebih lanjut menurut Munawwir bahwa kondisi masyarakat sekarang sudah

(8)

perempuan, karena peran dalam masyarakat sekarang ini sama-sama dilakukan oleh laki-laki

dan perempuan, keduanya memiliki peranan dan tanggung jawab yang sama baik dalam

keluarga maupun masyarakat. Seperti halnya di Indonesia laki-laki dan perempuan sama-sama

mencari uang untuk menafkahi keluarga, sama-sama berperan dalam masalah sosial

kemasyarakatan maupun pembangunan, maka kondisi ini tentu saja membuat kebutuhan

masing-masing laki-laki dan perempuan sama besarnya.

Di zaman modern dewasa ini kita dapat melihat bagaimana perubahan terjadi, semua

tempat, intansi, lembaga baik pemerintahan maupun swasta telah sama-sama diisi oleh

laki-laki dan perempuan, jumlah masing-masingpun sangat kompetitif (bersaing) bahkan di

sebagian tempat malah perempuan yang lebih banyak. Jadi fenomena ini sudah terbalik dari

keadaan dahulu, sekarang ini laki-laki dan perempuan telah sama-sama menguasai sektor

publik, karena itu pembahagian harta warisan secara adil (sama) antara laki-laki dan

perempuan telah menjadi suatu keniscayaan yang harus diterapkan.

Dalam Kitab “Hikmah al Tasyri’ wa Falsafatuhu” dijelaskan bahwa hikmah kenapa

bagian warisan laki lebih besar dibandingkan perempuan adalah karena keutamaan

laki-laki dan tanggungjawabnya yang lebih besar dalam keluarga dan masyarakat. Laki-laki-laki wajib

menafkahi istrinya atau keluarganya walaupun istrinya itu orang kaya atau memiliki

penghasilan sendiri.10 Dalam Islam perempuan tidak diwajibkan mencari nafkah, walaupun

ada tradisi di sebagian negara seperti di Indonesia di mana-mana laki-laki dan perempuan

sama-sama bekerja, sesungguhnya yang wajib mencari nafkah itu laki-laki, sedangkan

perempuan boleh-boleh saja bekerja bila mendapat izin dari suaminya.

Oleh karena demikian, alangkah naifnya alasan yang dikemukakan oleh Munawwir,

(9)

ayat Alquran, sehingga Alquran perlu direaktualisasikan untuk disesuaikan dengan budaya dan

struktur sosial tersebut. Padahal menurut kaidah fiqhiyyah, budaya bisa ditetapkan menjadi

sebuah hukum jika tidak bertentangan dengan ketentuan syara‘ (Alquran dan Alhadith).

Jangan-jangan nanti semua ayat Alquran harus direaktualisasikan karena tidak ada lagi yang

relevan dengan zaman. Na‘udzubillah.

Di sisi lain ia mengaku adanya nasakh dalam Alquran, tetapi semua sudah ada

ketentuannya. Namun, Munawwir membuat aturan sendiri tentang nasakh, yakni budaya dan

struktur sosial masyarakat dapat menjadi sebagai nasikh (pembatal hukum).

Dari ketiga masalah yang telah penulis sebutkan di atas tentang pemikiran Munawwir

Sjadzali dalam bidang fikih di Indonesia, namun yang paling menarik adalah pemikirannya

dalam masalah warisan Islam, karena pendapatnya dalam masalah ini cukup fenomenal dan

kontroversial, di mana pendapatnya cukup membuat reaksi di kalangan umat Islam, para

ulama waktu itu sama tersentak dengan pendapat tersebut dan kemudian mereka

menggugatnya. Namun, walaupun banyak gugatan-gugatan yang datang kepadanya tentang

keputusan dan pemikirannya itu, Munawwir tetap saja Munawwir. Ia tetap saja tidak

bergeming dengan keputusan dan pemikirannya itu. Sangat aneh memang. Anehnya lantaran

ia membuat kaidah fikih yang baru, yaitu perubahan struktur sosial dan budaya masyarakat

dapat menjadi nasikh (pembatal) bagi ayat Alquran. Padahal Imam Syafi’i saja yang sudah

diakui akuntabilitas dan kredibilitasnya dalam bidang ijtihad oleh dunia Islam, tidak berani

berkomentar secara jelas bahwa al-Hadits boleh menjadi nasikh terhadap ayat Alquran. Hanya

ketika dilakukan interpretasi ulang oleh ulama-ulama mujtahid dalam mazhabnya menemukan

al-Hadits mutawatir boleh menjadi nasikh terhadap ayat Alquran. Sedangkan al-Hadits ahad

yang kualitasnya shahih masih diperselisihkan di kalangan mereka, antara boleh dengan tidak.

(10)

sendiri. Apalagi perilaku manusia (masyarakat) dalam bentuk adat dan budaya yang mau

dijadikan nasikh oleh Munawwir. Itu sangat tidak logis dan tidak dapat diterima oleh akal

yang masih waras.

D. KESIMPULAN

Berdasarkan penjelasan yang telah penulis uraikan di atas, maka dapat diambil

kesimpulan bahwa menurut pemikiran Munawwir Sjadzali, bunga bank walaupun menurutnya

riba tapi boleh diambil karena sedikit dan dharurat.

Selanjutnya, kaum perempuan di Indonesia tidak wajib menutup kepala, apalagi

menutup seluruh tubuhnya sebagai aurat karena kondisinya aman dari gangguan laki-laki,

yang berbeda dengan kondisi dulu di Arab.

Terakhir, dalam harta warisan harus disamakan pembagiannya antara laki-laki dengan

perempuan karena budaya dan status sosial kemasyarakatan yang menghendaki demikian. Semua pemikiran Munawwir Sjadzali di atas menurut penulis tidak bisa diterima,

karena sangat bertentangan dengan dalil-dalil sharih khususnya pada dua masalah, yakni aurat

perempuan dan harta warisan. Juga subtansi hikmah yang terdapat di balik dalil-dalil tersebut,

karena walaupun sesungguhnya hakikat dari pensyariatan harta warisan lebih besar kepada

laki-laki adalah atas dasar keutamaan dan tanggungjawab laki-laki yang lebih besar dalam

kehidupan. Begitu juga dalam masalah aurat perempuan, hikmahnya untuk menjaga

kemungkinan munculnya gangguan dari laki-laki yang nakal. Karena gangguan yang

menjerumuskan seseorang ke dalam maksiat berasal dari pandangan mata.

Adapun masalah ribanya bunga bank masih diperselisihkan di kalangan ulama,

walaupun dalam Alquran juga jelas bahwa riba itu haram, tetapi bunga bank dianggap riba itu

yang diperselisihkan. Namun, mayoritas ulama (jumhur) menganggapnya haram (riba).

Sedangkan Munawwir walau menganggapnya riba tetap memperbolehkannya dengan alasan

(11)
(12)

11 Munawwir Sjadzali, Ijtihad Kemanusiaan, Cet. I, (Jakarta: Paramadina, 1997), hlm. 1.

2 Azyumardi Azra; Saiful Umam (ed.), Menteri-Menteri Agama RI: Biografi Sosial-Politik, (Jakarta : Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM), 1998), hlm. 372-374.

3 Ibid., hlm. 382-383.

4 Munawwir Sjadzali, Kontekstualisasi Ajaran Islam, Cet. I, (Jakarta : Paramadina, 1995), hlm. 87-88.

5 Ali Mustafa Yakub, Islam Masa Kini, Cet. 1, (Jakarta : Pustaka Firdaus, 2001), hlm. 16.

6 Munawwir Sjadzali, Kontekstualisasi Ajaran …, hlm. 88-90.

7 Ibid., hlm. 90-97.

8 M. Atho Mudzhar, Bunga Rampai, 70 Tahun Prof. Dr. H. Munawir Sjadzali, MA,Cet. I, (Jakarta Selatan: IPHI Dengan Yayasan Waqaf Paramadina, 1995), hlm. 311.

9Ibid, hlm. 312.

10 Syekh Ali Ahmad Al-Jarjawi, Indahnya Syariat Islam, Terj. Faisal Shaleh, Judul Asli, Hikmah at-Tasyri’ wa

falsafatuhu, Cet. I, (Jakarta: Gema Insani, 2006), hlm. 717.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Ali Mustafa Yakub, Islam Masa Kini, Cet. 1, Jakarta : Pustaka Firdaus, 2001.

Azyumardi Azra; Saiful Umam (ed.), Menteri-Menteri Agama RI: Biografi Sosial-Politik, Jakarta : Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM), 1998.

M. Atho Mudzhar, Bunga Rampai, 70 Tahun Prof. Dr. H. Munawir Sjadzali, MA, Cet. I, Jakarta Selatan: IPHI Dengan Yayasan Waqaf Paramadina, 1995.

Munawwir Sjadzali, Ijtihad Kemanusiaan, Cet. I, Jakarta: Paramadina, 1997.

Munawwir Sjadzali, Kontekstualisasi Ajaran Islam, Cet. I, Jakarta : Paramadina, 1995.

Referensi

Dokumen terkait

PG Tasikmadu adalah satu dari sejumlah pabrik gula yang didirikan pada masa kolonial Hin dia Belanda dan masih bertahan hingga hari ini.. Seka rang, PG Tasikmadu berada dalam pe

Bila pertanggungjawaban hukum itu berdasarkan hukum perdata maka unsur terkait adalah ada tidaknya suatu perbuatan melawan hukum atau wan prestasi dan bila bersumber

Aliran ini sambil mengalir melakukan pengikisan tanah dan bebatuan yang dilaluinya (Ilyas, 1990 dalam Setijanto, 2005). Sungai merupakan bentuk ekosistem perairan mengalir

Sebelum hipotesis di uji penelitian akan melakukan pengolahan data hasil penelitian dengan menggunakan analisis kecenderungan distribusi data, uji normalitas distribusi

Pendapatan dari luar usaha yang diterima petani juga tidak lebih baik dari pendapatan dalam usahatani, sehingga rumahtangga hendaknya mengalokasikan waktu kerja

Dalam penelitian ini menggunakan deskriptif survei, dimana menurut Creswell (2016, hlm. 208) peneliti mendeskripsikan secara kuantitatif (angka) beberapa

10,5 g/ha memiliki daya kendali yang berbeda dengan herbisida paraquat 900 g/ha dan penyiangan mekanis sehingga dapat diketahui bahwa herbisida 1,8-cineole tidak mampu menyamai

Tersiksa Karena Wasir Menahun, Coba Obat Ini Dulu_Sembelit atau ketidakmampuan untuk mengeluarkan limbah padat dengan mudah melalui tabung rektum yang paling