BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap wanita menginginkan persalinannya berjalan lancar dan dapat melahirkan bayi yang sempurna. Seperti yang telah diketahui, ada dua cara persalinan yaitu persalinan pervaginam yang lebih dikenal dengan persalinan normal atau alami dan persalinan dengan operasi caesar dapat juga disebut dengan bedah sesarea atau sectio caesarea , yaitu bayi dikeluarkan lewat pembedahan perut (Partilah, 2014).
Pertolongan operasi caesar merupakan tindakan dengan tujuan untuk menyelamatkan ibu maupun bayi (Manuaba, 2013). Tiap-tiap tindakan pembedahan harus didasarkan atas indikasi, yakni pertimbangan-pertimbangan yang menentukan bahwa tindakan perlu dilakukan demi kepentingan ibu dan janin. Sudah tentu kepentingan ibu dan janin harus sama-sama diperhatikan, akan tetapi dalam keadaan terpaksa kadang-kadang seorang dokter terpaksa lebih memperhatikan kepentingan ibu daripada kepentingan janinnya (Saifuddin , 2014).
jumlah antara Angka Kematian Ibu (AKI) yang melahirkan dan angka ibu yang harus menjalani operasi caesar, yaitu semakin kecil tahun ke tahun.
Menurut SDKI pada tahun 2012 Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia 359 per 100.000 kelahiran hidup, pada tahun 2015 baru mencapai 161 per 100.000 kelahiran hidup,sementara target MDG’s Indonesia adalah 102 per 100.000 kelahiran hidup. Survei Nasional pada tahun 2009, 921.000 persalinan dengan operasi cesar dari 4.039.000 persalinan atau sekitar 22,8% dari seluruh persalinan.
Indikasi yang menambah tingginya angka persalinan seksio sesaria adalah tindakan seksio sesaria pada letak sungsang, seksio sesaria berualang, kehamilan prematuritas, kehamilan dengan resiko tinggi, pada kehamilan kembar, kehamilan dengan pre-eklamsia dan eklampsia, konsep well born baby dan well health mother dengan orientasi persalinan. (Manuaba , 2013).
Adapun masalah keperawatan yang muncul menurut NANDA 2012 pada post sectio caesarea salah satunya adalah nyeri akut berhubungan dengan agen cedera (misal biologis, zat kimia, fisik dan psikologis). Penatalaksanaan nyeri menurut NIC 2012 adalah manajemen nyeri, kelola analgetik, terapi relaksasi, dan manajemen lingkungan.
B. Batasan Masalah
Masalah pada kasus ini dibatasi pada asuhan keperawatan pada Pasien Post Sectio Caesarea dengan masalah nyeri akut di ruangan Kasuari RSU Anutapura Palu.
C. Rumusan Masalah
Bagaimanakah asuhan keperawatan pada Pasien Post Sectio Caesarea dengan masalah nyeri akut di ruangan Kasuari RSU Anutapura Palu ?
D. Tujuan
1. Tujuan umum
Melaksanakan asuhan keperawatan pada Pasien Post Sectio Caesarea dengan masalah nyeri akut di ruangan Kasuari RSU Anutapura Palu.
2. Tujuan khusus
a. Melakukan pengkajian pada Pasien Post Sectio Caesarea dengan masalah nyeri akut di RSU Anutapura Palu
b. Menetapkan diagnosa keperawatan pada Pasien Post Sectio Caesarea dengan masalah nyeri akut di RSU Anutapura Palu
c. Menyusun perencanaan keperawatan pada Pasien Post Sectio Caesarea dengan masalah nyeri akut di RSU Anutapura Palu
e. Melakukan evaluasi pada Pasien Post Sectio Caesarea dengan masalah nyeri akut di RSU Anutapura Palu
E. Manfaat Penelitian
1. Tempat Penelitian
Membantu dalam perencanaan dan penatalaksanaan pengendalian nyeri pada Pasien Post Sectio Caesarea
2. Perkembangan ilmu keperawatan
Hasil penelitian ini dapat dijadikan salah satu sumber bacaan untuk perkembangan ilmu keperawatan
3. Peneliti lain
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Masa Nifas 1. Pengertian
Masa nifas atau purperium adalah dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu (42 hari) setelah itu. Persalinan pasca persalinan harus terselenggara pada masa itu untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayi, yang meliputi upaya pencegahan, deteksi dini dan pengobatan komplikasi dan penyakit yang mungkin terjadi, serta penyediaan pelayanan pemberian ASI, cara menjarangkan kehamilan, imunisasi, dan nutrisi bagi ibu. (Sarwono, 2009 )
Masa nifas (Puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamilyang berlangsungselama kira-kira 6 minggu, atau masa nifas adalah masa yang dimulai dari beberapa jam setelah lahir plasenta sampai 6 minggu berikutnya. (Rahayu dkk, 2012)
2. Tujuan Asuhan Masa Nifas
Pada masa nifas ini terjadi perubahan-perubahan fisik maupun psikis berupa perubahan organ reproduksi, terjadinya proses laktasi, terbentuknya hubungan antara orang tua dan bayi dengan memberi dukungan. Atas dasar tersebut perlu dilakukan suatu pendekatan antara ibu dan keluarga dalam manajemen keperawatan.
Adapun tujuan asuhan masa nifas adalah sebagai berikut : a. Menjaga kesehatan ibu dan bayi baik fisik maupun psikis
b. Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi. c. Memberikan pendidikankesehatan tentang perawatan kesehatan diri,
nutrisi, KB, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayi dan perawatan bayi sehat.
d. Memberikan pelayanan KB.
3. Tahapan masa nifas
Nifas dibagi dalam 3 periode : a. Puerperium dini
b. Puerperium intermedial
Kepulihan menyeluruh alat-alat genitalia, lamanya 6-8 minggu. c. Remote puerperium
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi bermingu-minggu, berbulan-bulan bahkan bisa bertahun-tahun.
4. Perubahan masa nifas
Pada masa nifas terjadi perubahan fisiologis yaitu : a. Involusi uterus
Involusi uteri adalah proses uterus kembali kekondisi sebelum hamil. Uterus bisaanya berada di organ pelvic pada hari ke-10 setelah persalinan. Involusi uterus lebih lambat pada multipara.
Penurunan ukuran uterus dipengaruhi oleh proses autolysis protein intraseluler dan sitoplasma miometrium. Proses involusi uterus :
1) Autolysis
Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi didalam otot uterin.
3) Efek oksitoksin
Penyebab kontraksi dan retraksi otot rahim dan sehingga akan mengompres pembuluh darah akan mengurangi suplai darah ke uterus, proses ini akan mengakibatkan ukuran rahim semakin berkurang. (Buku Ajar Masa Nifas Dan Menyusui, 2012)
Tabel 2.1 Tinggi fundus uteri dan involusi uteri
Involusi Tinggi Fundus Uteri Berat Uterus
Plasenta lahir Setinggi pusat 1000 gr
7 hari (1 minggu) Pertengahan pusat dan simpisis 500 gr
14 hari (2 minggu) Tak teraba 350 gr
42 hari (6 minggu) Sebesar hamil 2 minggu 50 gr
56 hari (8 minggu) Normal 30 gr
Sumber : (Rahayu dkk, 2012) b. Pengeluaran lochea
Lochea adalah cairan yang keluar dari liang vagina pada masa nifas. Cairan ini dapat berupa darah atau sisa lapisan rahim. Berbau amis serta berbeda-beda pada setiap wanita. (Rahayu dkk, 2012)
Karakteristik lochea : 1) Lochea rubra
2) Lochea sanguinolenta
Berwarna merah kekuningan berisi darah campur lendir, terjadi setelah hari ketiga sampai hari ketujuh.
3) Lochea serosa
Lochea serosa terdiri atas eksudat, leukosit, eritrosit, dan mucus serviks, tetapi kandungan eritrosit mulai berkurang. Terjadi pada hari keempat lochea berubah warna dari merah tua menjadi merah jambu atau kuning kecokelatan, berlangsung setelah hari ke 7 - 14 hari
4) Lochea alba
Lochea alba berwarna putih kekuningan, yang berlangsung setelah hari ke-14 hingga 21 hari postpartum. Lochea alba mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel, lemak dan mucus serviks. Adanya perdarahan merah segar setelah lochea alba atau serosa mengindiksikan adanya infeksi atau perdarahan yang lama. (Deswani, 2012)
c. Laktasi dan pengeluaran ASI Terdapat 2 reflek menyusui yaitu : 1) Refleks prolaktin
merangsang pertumbuhan saluran (duktus) kelenjar. Kedua hormon tersebut menekan prolaktin (LTH).
Setelah plasenta lahir maka produksi prolaktin meningkat sehingga merangsang laktasi (pembentukan ASI).
2) Refleks Let Down
Dalam proses menyusui reflex pengeluaran oksitoksin di sebut jua sebagai “letdown reflex atau love reflex”, reflex ini mengakibatkan memancarnya ASI keluar, isapan bayi akan merangsang puting susu dan areola yang dikirim lobus posterior melalui nervus vagus, dari grandula pituitary posterior dikeluarkan hormone oksitoksin kedalam peredaran darah yang menyebabkan adanya kontraksi otot-otot myoepitel dari saluran air susu, karena adanya kontraksi ini maka ASI akan terperas kearah ampula. Produksi ASI akan meningkat sesudah 2-2 hari post partum payudara menjadi besar, keras dan nyeri ini menunjukan permulaan sekresi ASI. (Rahayu dkk, 2012)
d. Perubahan sistem pencernaan
yang mengandung serat dan pemberian cairan yang cukup. (Rahayu dkk, 2012)
e. Perubahan sistem perkemihan
Perubahan hormonal pada masa hamil (kadar steroid yang tinggi) turut menyebabkan peningkatan fungsi ginjal, sedangkan penurunan kadar steroid setelah wanita melahirkan sebagian menjelaskan sebab penurunan fungsi ginjal selama pasca partum. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan. Diperlukan kira-kira 2-8 minggu ureter dan pelvic kembali ke keadaan sebelum hamil. (Icemi & Wahyu, 2013)
f. Perubahan sistem endokrin
Setelah plasenta lahir hormone estrogen dan progesterone menurun sehingga akan mendorong pengeluaran hormone FSH dan LH untuk memulai kesiklus menstruasi. Kelenjar tiroid kembali kebentuk normal dan rata-rata metabolic basal kembali normal. (Rahayu dkk, 2012)
g. Perubahan sistem musculoskeletal
1) Diding perut bisaanya pulih kembali dalam 6 minggu
3) Tulang-tulang sendi panggul dan ligamentum kembali dalam waktu sekitar 3 bulan (Rahayu dkk, 2012)
h. Perubahan tanda-tanda vital
1) Tekanan darah bisaanya tidak berubah, kemungkinan tekanan darah akan rendah setelah ibu melahirkan karena ada perdarahan. Tekanan darah tinggi pada post partum dapat menandakan terjadinya preeklamsi post partum
2) Suhu
Kembali normal setelah selama persalinan sedikit meningkat (37,3ºC) dan akan stabil dalam waktu 24 jam, kecuali jika ada infeksi
3) Nadi
Jika denyut nadi lebih dari 100 kali per menit merupakan tanda infeksi atau terjadi perdarahan. Beberapa wanita mungkin mengalami bradikardi setelah persalinan atau dalam beberapa jam setelah post partum. (Rahayu dkk, 2012)
i. Perubahan psikologis
Dalam menjalani adaptasi setelah melahirkan ibu akan melalui fase-fase sebagai berikut :
1) Fase taking in
fase ini adalah suatu waktu yang penuh dengan kegembiraan dan kebanyakan orang tua sangat suka mengkomunikasikannya. Mereka sangat perlu menyampaikan pengalaman mereka tentang kehamilan dan kelahiran dengan kata-kata pada orang lain yang berada di sekitarnya saat itu.
2) Fase Taking Hold
Fase ini berlangsung antara 3-10 harisetelah melahirkan. Pada fase ini ibu merasa khawatir akan ketidakmampuan dan rasa tanggungjawabnya dalam merawat bayi. Selain itu perasaan yang sangat sensitive sehingga mudah tersinggung jika komunikasinya kurang hati-hati. Oleh karena itu ibu memerlukan dukungan karena saat ini merupakan kesempatan yang baik untuk menerima berbagai penyululan dalam merawat diri dan bayinya sehingga tumbuh rasa percaya diri.
3) Fase Letting Go
5. Penatalaksanaan a. Mobilisasi
Ibu harus cukup istirahat 2 jam post partum ibu harus tidur terlentang untuk mencegah terjadinya perdarahan post partum. Setelah 2 jam ibu boleh miring kiri dan kanan untuk mencegah adanya thrombosis. Pada hari kedua bila perlu dilakukan senam nifas.
b. Pemberian cairan
Untuk mencegah terjadinya hipertermi, dehidrasi dan komplikasi pada organ-organ tubuh lainnya dan minum sedikit kurang lebih 2,5 liter air setiap hari. Tetapi untuk perdarahan aktif pada waktu persalinan pemberian cairan per intra vena harus cukup mengandung banyak elekroloit yang diperlukan tubuh
c. Pemeriksaan fisik
d. Observasi kontraksi uterus, fundus dan perdarahan e. Menjaga kebersihan diri
f. Istirahat yang cukup g. Nutrisi
1) Makan dengan diet seimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup
2) Tablet besi Fe kurang lebih selama 40 hari pasca persalinan
6. Komplikasi
a. Inkontinensia urin b. Konstipasi
c. Nyeri punggung d. Anemia
e. Eklamsia dan preeklamsia f. Perdarahan
g. Infeksi masa nifas (Serri, 2009)
B. Konsep Sectio Caesarea 1. Pengertian
Sectio caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram. (Sarwono, 2009)
Sectio caesarea adalah suatu pembedahan guna melahirkan anak lewat insisi abdomen dan uterus. (Harry & william, 2010)
Sectio caesarea adalah pelahiran janin lewat insisi menembus dinding uterus dan abdomen. (Dorland, 2012)
2. Indikasi Sectio Caesarea a. Indikasi mutlak
1) Indikasi ibu
a) Panggul sempit
b) Kagagalan melahirkan secara normal karena kurang adekuatnya stimulasi
c) Obstruksi jalan lahir
d) Stenosis serviks atau vagina e) Plasenta previa
f) Ruptur uteri 2) Indikasi janin
a) Kelainan letak b) Gawat janin c) Prolapsus plasenta
d) Perkembangan bayi yang terhambat
e) Mencegah hipoksia janin, misalnya karena preeklamsia b. Indikasi relatif
1) Riwayat section caesarea sebelumnya 2) Persentasi bokong
3) Distosia 4) Fetal distress
6) Ibu dengan HIV positif
7) Gemeli, menurut Eastman sectio caesarea dianjurkan : a) Bila janin pertama letak lintang atau persentasi bahu b) Bila terjadi interlock
c) Distosia oleh karena tumor
d) IUFD (Intra Uterine Fetal Death). (Rasjidi, 2010)
3. Tipe-tipe Sectio Caesarea
a. Sectio Caesarea Transperitonealis Profunda dengan insisi di segmen bawah uterus. Tipe ini yang paling banyak dilakukan. Segmen bawah uterus tidak begitu banyak mengandung pembuluh darah dibanding segmen atas sehingga resiko perdarahan lebih kecil. Karena segmen bawah terletak diluar kavum peritonei, kemungkinan infeksi pasca bedah juga tidak begitu besar. Di samping itu resiko rupture uteri pada kehamilan dan persalinan berikutnya akan lebih kecil jika jaringan parut hanya terbatas pada segmen bawah uterus. Kesembuhan luka bisaanya baik karena segmen bawah merupakan bagian uterus yang tidak begitu aktif.
Keuntungan insisi segmen bawah rahim menurut kehier : 1) Segmen bawah rahim lebih tenang
2) Kesembuhan lebih baik
Kerugiannya :
1) Terdapat kesulitan pada waktu mengeluarkan janin
2) Terjadi perluasan luka insisi dan menimbulkan perdarahan b. Sectio cesarea klasik (korporal) menurut Sanger
Insisi dibuat pada korpus uteri. Dilakukan kala segmen bawah tidak terjangkau karena melekat eratnya dinding uterus pada perut karena section sesarea yang sudah-sudah, insisi disegmen bawah uterus mengandung bahaya perdarahan banyak berhubung dengan letaknya plasenta pada plasenta previa, atau apabila dikandung maksud untuk melakukan histerektomi setelah janin dilahirkan.
Keuntungannya adalah mudah dilakukan karena lapangan operasi relative luas, adapun kerugiannya :
1) Kesembuhan luka operasi relative sulit
2) Kemungkinan terjadinya rupture uteri pada kehamilan berikutnya lebih besar
3) Kemungkinan terjadinya perlekatan dengan dinding abdomen lebih besar
c. Sectio caesarea ekstraperitoneal
d. Sectio caesarea histerektomi menurut Porro
Operasi SC Histerektomi dilakukan secara Histerektomi supra vaginal untuk menyelamatkan jiwa ibu dan janin dengan indikasi :
1) Sectio caesarea disertai infeksi berat
2) Sectio caesarea dengan Antonio uteri dan perdarahan
3) Sectio caesarea disertai uterus coovelaire (solusio plasenta). (Harry & Forte, 2010)
4. Penatalaksanaan
a. Monitor tanda-tanda vital
Observasi harus dilakukan tiap 30 menit 2 jam pertama dan tiap jam minimal selama 4 jam. Tanda vital yang perlu di evaluasi adalah : 1) Tekanan darah
2) Nadi 3) Suhu 4) Jumlah urin b. Jumlah perdarahan c. Status fundus uteri d. Pemberian analgesik e. Terapi cairan intravena
Namun, apabila pengeluaran urin turun dibawah 30 ml/jam harus dinilai kembali apakah ada pengeluaran darah yang tidak diketahui, efek antidiuretik dari oksitoksin dan lainnya.
f. Pengawasan fungsi vesika urinaria dan usus
Kateter vesika urinaria umumnya dapat dilepas dalam waktu 12 jam setelah operasi. Kemampuan pasien mengosongkan vesika uerinaria sebelum terjadi distensi berlebihan harus dipantau seperti pada persalinan pervaginam. Pada kasus nonkomplikata makanan padat dapat diberikan 8 jam setelah pembedahan.
g. Ambulansi
Pada sebagian besar kasus, satu hari setelah pembedahan pasien dapat turun sebentar dari tempat tidur dengan bantuan paling sedikit dua kali. Waktu ambulansi diatur agar analgetik yang baru diberikan dapat mengurangi rasa nyeri. Pada hari kedua pasien dapat berjalan dengan bantuan. Dengan ambulansi dini, thrombosis venadan emboli paru jarang terjadi.
h. Perawatan luka
1) Jaringan subkutan yang tebal (>3 cm) merupakan faktor risiko untuk infeksi luka operasi. Oleh karena itu, perlu pemantauan terhadap tanda-tanda infeksi.
2) Luka dibersihkan setiap hari dan menjaga agar tetap kering
3) Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar, nyaman dan berbahan katun. (Rasjidi, 2010)
5. Komplikasi dan efek persalinan sectio caesarea
Komplikasi utama persalinan sectio caesarea adalah kerusakan organ-organ seperti vesika urinaria dan uterus saat dilangsungkannya operasi, komplikasi anastesi, perdarahan, infeksi dan tromboemboli.
Kematian ibu lebih besar pada persalinan sectio caesarea dibandingkan persalinan pervaginam.
6. Asuhan keperawatan Post operatif a. Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah pertama dari proses keperawatan dengan mengumpulkan data-data yang akurat dari pasien sehingga akan diketahui berbagai permasalahan yang ada. (A. Azis, 2012).
Adapun pengkajian pada post sectio caesarea meliputi : 1) Status respiratorik
a) Kebebasan saluran napas dan bunyi napas
b) Kedalaman bernapas, kecepatan (frekuensi) dan sifatnya 2) Status sirkulatik
Observasi perubahan suhu, frekuensi nadi, dan tekanan darah 3) Status neurogenik
Kaji tingkat kesadaran bila dibuktikan melalui pertanyaan sederhana yang di jawab oleh pasien atau pasien dianjurkan untuk melakukan sesuatu. Variasi tingkat kesadaran dimulai dari siuman sampai ngantuk harus diobservasi.
4) Kenyamanan
b. Diagnosa keperawatan
Menurut NANDA 2014 diagnosa keperawatan merupakan sebuah label singkat yang menggambarkan kondisi pasien yang diobservasi di lapangan. Kondisi ini dapat berupa masalah-masalah actual, potensial atau diagnose sejahtera. Adapun diagnosa keperawatan yang muncul pada post sectio caesarea meliputi :
1) Nyeri akut berhubungan dengan agen-agen penyebab cedera ; biologis, kimia, fisik dan psikologis
2) Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif, asupan cairan yang tidak adekuat
3) Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan penyakit kronis, penekanan system imun, ketidak adekuatan imunitas dapatan, pertahanan primer yang tidak adekuat, pertahanan lapis dua yang tidak memadai, peningkatan pemajanan lingkungan terhadap pathogen, pengetahuan yang kurang untuk menghindari pajanan pathogen, prosedur invasive, kerusakan jaringan, dan trauma
4) Kurang perawatan diri berhubungan dengan ketidakmampuan merasakan bagian tubuh, gangguan musculoskeletal, gangguan persepsi kognitif.
c. Intervensi keperawatan
Intervensi keperawatan merupakan suatu proses penyusunan rencana keperawatan yang di butuhkan untuk mencegah, menurunkan, atau mengatasi masalah-masalah pasien. (A. Azis, 2012).
Adapun intervensi dari diagnose diatas menurut NANDA NIC-NOC 2014 meliputi :
1) Nyeri akut berhubungan dengan agen-agen penyebab cedera ; biologis, kimia, fisik dan psikologis
a) Batasan karakteristik Subjektif:
(1) Mengungkapkan secara verbal atau melaporkan nyeri dengan isyarat
Objektif:
(1) Posisi untuk mengindari nyeri
(2) Perubahan tonus otot dengan rentang lemas sampai tidak bertenaga
(3) Respon autonomic misalnya diaphoresis, perubahan tekanan darah, pernapasan atau nadi, dilatasi pupil
(4) Perubaan selera makan
(6) Perilaku ekspresif misal; gelisah, merintih, menangis, kewaspadaan berlebihan, peka terhadap rangsang, dan menghela napas panjang
(7) Wajah topeng; nyeri
(8) Perilaku menjaga atau sikap melindungi
(9) Fokus menyempit, misal; gangguan persepsi waktu, gangguan proses piker, interaksi menurun.
(10) Bukti nyeri yang dapat diamati (11) Berfokus pada diri sendiri
(12) Gangguan tidur, misal : mata terlihat layu, gerakan tidak teratur atau tidak menentu.
b) Hasil & NOC
(1) Tingkat kenyamanan: tingkat persepsi positif terhadap kemudahan fisik psikologis
(2) Pengendalian nyeri: tindakan individu untuk mengendalikan nyeri
(3) Tingkat nyeri: keparahan nyeri yang dapat diamati atau dilaporkan
(4) memperlihatkan teknik relaksasi secara individual yang efektif untuk mencapai kenyamanan
(6) melaporkan kesejahteraan fisik dan psikologis
(7) mengenali faktor penyebab dan menggunakan tindakan untuk memodifikasi faktor tersebut
(8) melaporkan nyeri kepada penyedia pelayan kesehatan (9) melaporkan pola tidur yang baik
c) Intervensi NIC (1) Pengkajian :
(a) Gunakan laporan dari pasien sendiri sebagai pilihan pertama untuk mengumpulkan informasi pengkajian (b) Minta pasien untuk menilai nyeri dengan skala 0-10.
Gunakan bagan alur nyeri untuk memantau peredaan nyeri oleh analgesik dan kemungkinan efek sampingnya.
(c) Kaji dampak agama, budaya dan kepercayaan, dan lingkungan terhadap nyeri dan respon pasien
(d) Dalam mengkaji nyeri pasien, gunakan kata-kata yang sesuai usia dan tingkat perkembangan pasien Manajemen nyeri:
(b) Observasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan, khususnya pada mereka yang tidak mampu berkomunikasi efektif.
(2) Penyuluhan untuk pasien/keluarga
(a) Sertakan dalam instruksi pemulangan pasien obat khusus yang harus diminum, frekuensi, frekuensi pemberian, kemungkinan efek samping, kemungkinan interaksi obat, kewaspadaan khusus saat mengkonsumsi obat tersebut dan nama orang yang harus dihubungi bila mengalami nyeri membandel.
(b) Instruksikan pasien untuk menginformasikan pada perawat jika peredaan nyeri tidak dapat dicapai (c) Informasikan kepada pasien tentang prosedur yang
dapat meningkatkan nyeri dan tawarkan strategi koping yang ditawarkan
Manajemen nyeri :
(a) Berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama akan berlangsung, dan antisipasi ketidaknyamanan akibat prosedur
(b) Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologis (misal umpan balik biologis, transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS), hipnotis, relaksasi, imajinasi terbimbing, terapi musik, distraksi, terapi bermain, terapi aktivitas, akupresur, kompres hangat atau dingin, dan masase).
(3) Aktivitas kolaboratif
Kelola nyeri pasca bedah awal dengan pemberian opiate yang terjadwal (misal, setiap 4 jam selama 36 jam) atau PCA
(4) Aktivitas lain
(a) Bantu pasien mengidentifikasi tindakan kenyamanan yang efektif dimasa lalu seperti distraksi, relaksasi atau kompres hangat atau dingin.
(c) Lakukan perubahan posisi, masase punggung, dan relaksasi.
(d) Berikan perawatan dengan tidak terburu-buru dengan sikap yang mendukung
(e) Libatkan pasien dalam pengambilan keputusan yang menyangkut aktivitas perawatan.
(f) Bantu pasien untuk lebih berfokus pada aktivitas bukan pada nyeri dan rasa tidak nyaman dengan melakukan pengalihan melalui televise, radio, dan interaksi dengan pengunjung.
Manajemen nyeri :
Libatkan pasien dalam modalitas peredaan nyeri, jika memungkinkan kendalikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan (misal: suhu ruangan, pencahayaan dan kegaduhan)
C. Konsep Nyeri 1. Pengertian
Nyeri adalah suatu perasaan yang menimbulkan penderitaan secara fisik dan mental, perasaan nyeri menimbulkan ketegangan atau menjadi siksaan bagi yang mengalaminya. (Lyndon, 2013)
Nyeri secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu rasa yang tidak nyaman, baik ringan maupun berat. Nyeri bersifat sangat individual dan tidak dapat di ukur secara subjektif, serta hanya pasien yang dapat merasakan adanya nyeri. (Pelapina, 2014)
Menurut international association the study of pain nyeri adalah suatu pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan sehubungan dengan actual dan potensial kerusakan jaringan.
Nyeri merupakan perasaan tidak nyaman yang sangat subjektif dan hanya orang yang mengalaminya yang dapat menjelaskan dan mengevaluasi perasaan tersebut. (Tamsuri, 2014)
2. Klasifikasi nyeri a. Jenis nyeri
1) Nyeri perifer
Nyeri perifer dapat dibagikan menjadi tiga jenis yaitu : 1) Nyeri superficial
2) Nyeri visceral
Rasa nyeri timbul akibat rangsangan pada reseptor nyeri dirongga abdomen, cranium, dan toraks
2) Nyeri alih
Rasa nyeri dirasakan didaerah lain jauh dari jaringan nyeri 3) Nyeri sentral
Nyeri sentral adalah nyeri yang muncul akibat rangsangan pada medulla spinalis, batang otak, dan thalamus.
4) Nyeri psikogenik
Nyeri psikogenik adalah nyeri yang penyebabnya tidak diketahui. Umumnya nyeri ini disebabkan oleh faktor psikologis (Lyndon,2013)
b. Menurut bentuknya 1) Nyeri akut
2) Nyeri kronik
Nyeri kronik dapat menjadi penyebab utama ketitidak mampuan fisik dan psikologis sehingga akan timbul masalah seperti ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari-hari yang sedarhana, disfungsi seksual, dan isolasi sosial dari keluarga atau teman-teman. Gejala nyeri kronik meliputi keletihan, insomnia, penurunan berat badan, depresi, putus asa, dan kemarahan. Nyeri kronik berkembang lebih lambat dan terjadi dalam waktu yang lama. (Pelapina, 2014)
3. Fisiologi nyeri a. Nosisepsi
1) Tranduksi
Ransangan (stimulus) yang membahayakan memicu pelepasan mediator biokimia (misalnya histamine, bradikinin, prostaglandin, dan subtansi P). mediator ini kemudian mensensitisasi nosiseptor. 2) Tranmisi
Tahap tranmisi terdiri atas tiga bagian, yaitu sebagai berikut:
a) Stimulasi yang diterima oleh reseptor ditranmisikan berupa impuls nyeri dari serabut saraf perifer ke medulla spinalis . jenis nociseptor yang terlibat dalam tranmisi ini ada dua jenis, yaitu serabut C dan serabut A-delta. Serabut C mentramisikan nyeri tumpul dan menyakitkan, sedangkan serabut A-delta mentramisikan nyeri yang tajam dan terlokalisasi.
b) Nyeri ditanmisikan dari medulla spinalis kebatang otang dan thalamus melalui jalur spinotalamikus (spinothalamic tract atau SST) yang membawa informasi tentang sifat dan lokasi stimulus ke thalamus.
3) Persepsi
Individu mulai menyadari adanya nyeri dan tampaknya persepsi nyeri tersebut terjadi di struktur korteks sehingga memungkinkan timbulnya berbagai strategi perilaku kognitif untuk mengurangi komponen sensorik dan afektif nyeri.
4) Modulasi atau system desenden
Neuron dibatang otak mengirimkan sinyal-sinyal kembali ketanduk dorsal medulla spinalis yang terkonduksi denagn nosiseptor impuls supresif. Serabut desenden tersebut melepaskan subtansi seperti opioid, serotonin, dan norepinefrin yang akan menghambat impuls asenden yang membahayakan di bagian dorsal medulla spinalis. (Lyndon, 2013)
b. Teori awal
Suatu teori yang menjelaskan nyeri sebagai suatu mekanisme relative sederhana yang menjelaskan bahwa respon nyeri timbul apabila suatu stimuli nyeri mengaktivasi reseptor nyeri (nociceptor). Stimuli dapat berupa zat kimia, listrik, panas, mekanik maupun mikroorganisme, baik dari dalam maupun luar tubuh.
Bila informasi telah sampai pada korteks serebri, maka seseorang akan menjadi lebih terlibat pada sensasi nyeri, mencoba menginterpretasi arti nyeri dan mencari cara untuk menghindari sensasi lebih lanjut. (Pelapina, 2014)
c. Teori Gate Control
Menurut Melzak dan wall teori ini lebih komprehensif dalam menjelaskan tranmisi dan persepsi nyeri. Dalam teori ini dijelaskan bahwa subtansi gelatinosa, yaitu suatu area dari sel-sel khusus pada bagian ujung dorsal serabut saraf sumsum tulang belakang (spinal cord) mempunyai peran sebagai mekanisme pintu gerbang (gating mechanism). Mekanisme pintu gerbang ini dapat mengubah sensasi nyeri yang datang sebelum mereka sampai korteks serebri dan menimbulkan persepsi nyeri. (Pelapina, 2014)
4. Faktor yang mempengaruhi nyeri a. Usia
b. Jenis kelamin
Secara umum pria dan wanita tidak berbeda secara makna dalam respon terhadap nyeri.
c. Kebudayaan
Keyakinan dan nilai-nilai mempengaruhi cara individu mengatasi nyeri d. Makna nyeri
Individu akan mempersepsika nyeri dengan cara yang berbeda-beda e. Perhatian
Tingkat seseorang memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat mempengaruhi persepsi nyeri.
f. Kecemaan
Kecemasan seringkali meningkatkan persepsi nyeri g. Keletihan
Rasa kelelahan menyebabkan sensasi nyeri semakin intensif dan menurunkan kemampuan koping. Kelelahan juga meningkatkan nyeri dan banyak orang merasa lebih nyaman setelah istirahat.
h. Pengalaman sebelumnya
i. Mekanisme koping
Mekanisme koping individu sangat mempengaruhi cara setiap orang dalam mengatasi nyeri.
j. Dukungan keluarga dan sosial
Faktor lain yang dapat mempengaruhi respon pasien adalah kehadiran orang-orang terdekat.
k. Faktor lingkungan
Nyeri dapat diperberat dengan adanya ransangan dari lingkungan yang berlebihan misalnya : kebisingan, cahaya yang sangat terang dan kesendirian. (Pelapina, 2014)
5. Respon individu terhadap nyeri a. Tahap aktivasi
Dimulai saat pertama individu menerima ransangan nyeri sampai tubuh bereaksi terhadap nyeri yang meliputi :
1) Respon yang tidak disengaja seringkali juga dinamakan respon autonom juga bersifat protektif, mencakup :
a) Peningkatan pengeluaran keringat b) Tekanan darah naik
f) Mual muntah g) Pucat
2) Respon muscular
Respon yang disengaja merupakan reaksi otot yang mencetuskan usah untuk menghilangkan ransangan rasa sakit, juga bersifat protektif, sebagai contoh :
a) Mengeliat kesakitan
b) Mengusap daerah yang sakit c) Imobilitas
d) Mengambil posisi tertentu, contoh : menarik lutut sampai menekan perut bilamana rasa sakit diperut tidak tertahankan 3) Respon emosional
Respon emosional terhadap rasa sakit mempunyai ambang yang sangat luas dan berbeda-beda dari orang ke orang terhadap sakit antara lain :
a) Bergejolak
b) Mudah tersinggung c) Perubahan tingkah laku d) Berteriak
e) Menangis f) Diam
b. Tahap pemantulan
Nyeri sangat hebat tetapi sangat singkat, pada tahap ini sistem saraf parasimpatis mengambil alih tugas, sehingga terjadi respons yang berlawanan dengan tahap aktivasi.
c. Tahap aktivasi
Saat nyeri berlangsung lama, tubuh mencoba untuk beradaptasi melalui peran endorphin. Reaksi adaptasi tubuh ini terhadap dapat berlangsung beberapa jam/hari. Bila nyeri berkepanjangan maka akan menurunkan sekresi norepinefrin sehingga individu merasa tidak berdaya, tidak berharga dan lesu.
Tabel 2.2 Respon perilaku yang mempengaruhi nyeri
SSumber : Pelapina, 2014 6. Pengukuran intensitas nyeri
Intensitas nyeri dapat diukur dengan beberapa cara, antara lain dengan menggunakan skala nyeri menurut Hayward, skala nyeri menurut McGill (McGill scale), dan skala wajah atau Wong-Baker FACES Rating Scale. a. Skala nyeri menurut Hayward
Pengukuran intensitas nyeri dengan menggunakan skala nyeri Hayward dilakukan dengan meminta penderita untuk memilih salah satu bilangan (0-10) yang ia rasakan. Skala nyeri menurut Hayward dapat dituliskan sebagai berikut :
0 : tidak nyeri 1 – 3 : nyeri ringan 4 – 6 : nyeri sedang
7 – 9 : sangat nyeri, tetapi masih dapat dikendalikan dengan aktivitas yang bisaa dilakukan
10 : sangat nyeri dan tidak bisa dikendalikan b. Skala nyeri menurut McGill
Pengukuran intensitas nyeri dengan menggunakan skala nyeri McGill dilakukan dengan meminta penderita untuk memilih salah satu bilangan (0 – 5) yang menurutnya paling menggambarkan pengalaman nyeri yang ia rasakan.
Skala nyeri menurut McGill dapat dituliskan sebagai berikut :
1 : nyeri ringan 2 : nyeri sedang
3 : nyeri berat atau parah 4 : nyeri sangat berat 5 : nyeri hebat
c. Skala wajah atau Wong-Baker FACE Rating Scale
Pengukuran intensitas nyeri dengan skala wajah dilakukan dengan cara memperhatikan mimic wajah pasien pada saat nyeri tersebut menyerang.
Cara ini diterapkan pada pasien yang tidak dapat menyatakan intensitas nyerinya dengan skala angka, misalnya anak-anak dan lansia. (Lyndon, 2013)
Skala wajah dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.1 Skala wajah
a. Penatalaksanaan farmakologis
Penatalaksanaan nyeri secara farmakologis meliputi penggunaan opioid (narkotik), nonopioid/NSAIDs (Nonsteroid Anti-Inflammation Drugs), dan adjuvan, serta ko-analgesik.
b. Penatalaksanaan Nonfarmakologis
Penatalaksanaan nonfarmakologis terdiri dari berbagai tindakan penanganan nyeri berdasarkan stimulasi fisik maupun prilaku kognitif. 1) Penanganan fisik meliputi :
a) Masase kulit
Masase kulit memberikan efek penurunan kecemasan dan ketegangan otot. Rangsangan masase otot itu dipercaya akan merangsang serabut berdiameter besar, sehingga mampu memblok atau menurunkan impuls nyeri.
b) Kompres
Kompres panas dingin, selain menurunkan sensasi nyeri juga dapat meningkatkan proses penyembuhan jaringan yang mengalami kerusakan.
Penggunaan panas selain member efek mengatasi atau menghilangkan sensasi nyeri, teknik ini juga memberikan reaksi fisiologis antara lain :
(2) Meningkatkan aliran darah dalam jaringan (3) mengurangi pembentukan edema
c) stimulasi kontralateral
Stimulasi kontra lateral adalah memberi stimulasi pada daerah kulit disisi yang berlawanan dari daerah terjadinya nyeri.
d) Acupresure (pijat refleksi)
Terapis ini member tekanan jari-jari pada berbagai titik organ tubuh seperti pada akupuntur.
e) Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS)
Stimulasi saraf elektrik transkutan menggunakan satu unit peralatan yang dijalankan dengan elektroda yang dipasang pada kulit untuk mrenghasilkan sensasi kesemutan, getaran, atau mendengung pada area kulit tertentu.
f) Imobilisasi
Imobilisasi terhadap organ tubuh yang mengalami nyeri hebat mungkin dapat meredakan nyeri.
a) Distraksi
Distraksi adalah pengalihan dari fokus perhatian terhadap nyeri ke stimulus yang lain. Macam-macam distraksi antara lain : (1) Distraksi visual : seperti membaca dan menonton televisi (2) Distraksi pendengaran : humor, mendengar musik
(3) Distraksi intelektual : main kartu atau menyalurkan hobi b) Relaksasi
Relaksasi dengan teknik relaksasi napas dalam, medidasi, dan relaksasi otot rangka. Relaksasi otot rangka dipercaya dapat menurunkan nyeri dengan merelaksasikan ketegangan otot yang mendukung rasa nyeri
8. Asuhan keperawatan a. Pengkajian keperawatan
Pengkajian merupakan langkah pertama dari proses keperawatan dengan mengumpulkan data-data yang akurat dari pasien sehingga akan diketahui berbagai permasalahan yang ada. (A. Azis, 2012).
P : Provoking (pemicu), yaitu faktor yang menimbulkan nyeri dan mempengaruhi berat dan ringannya nyeri.
Q : Quality (kualitas nyeri), misalnya rasa tajam atau tumpul R : Region (daerah/lokasi), yaitu perjalanan ke daerah lain S : Severity (keparahan), yaitu intensitas nyeri
T : Timing (waktu), yaitu jangka waktu serangan dan frekuensi Nyeri (Lyndon, 2013)
b. Diagnosa keperawatan menurut NANDA 2013
Menurut NANDA 2014 diagnosa keperawatan merupakan sebuah label singkat yang menggambarkan kondisi pasien yang diobservasi di lapangan. Kondisi ini dapat berupa masalah-masalah actual, potensial atau diagnose sejahtera. Adapun diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan masalah nyeri meliputi :
1) Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera (misal biologis, zat kimia, fisik dan psikologis)
2) Nyeri kronik berhubungan dengan ketunadayaan fisik dan psikososial kronik
Intervensi keperawatan merupakan suatu proses penyusunan rencana keperawatan yang di butuhkan untuk mencegah, menurunkan, atau mengatasi masalah-masalah pasien. (A. Azis, 2012).
Adapun intervensi dari diagnose keperawatan diatas menurut NANDA NIC-NOC 2014 meliputi :
1) Batasan karakteristik Subjektif:
(2) Mengungkapkan secara verbal atau melaporkan nyeri dengan isyarat
Objektif:
(13) Posisi untuk mengindari nyeri
(14) Perubahan tonus otot dengan rentang lemas sampai tidak bertenaga
(15) Respon autonomic misalnya diaphoresis, perubahan tekanan darah, pernapasan atau nadi, dilatasi pupil
(16) Perubaan selera makan
(17) Perilaku distraksi misal, mondar-mandir, mencari orang atau aktifitas lain, aktivitas berulang
(18) Perilaku ekspresif misal; gelisah, merintih, menangis, kewaspadaan berlebihan, peka terhadap rangsang, dan menghela napas panjang
(20) Perilaku menjaga atau sikap melindungi
(21) Fokus menyempit, misal; gangguan persepsi waktu, gangguan proses piker, interaksi menurun.
(22) Bukti nyeri yang dapat diamati (23) Berfokus pada diri sendiri
(24) Gangguan tidur, misal : mata terlihat layu, gerakan tidak teratur atau tidak menentu.
d) Hasil & NOC
(10) Tingkat kenyamanan: tingkat persepsi positif terhadap kemudahan fisik psikologis
(11) Pengendalian nyeri: tindakan individu untuk mengendalikan nyeri
(12) Tingkat nyeri: keparahan nyeri yang dapat diamati atau dilaporkan
(13) memperlihatkan teknik relaksasi secara individual yang efektif untuk mencapai kenyamanan
(14) mempertahankan nyeri pada ….atau kurang (dengan skala 0-10)
(15) melaporkan kesejahteraan fisik dan psikologis
(16) mengenali faktor penyebab dan menggunakan tindakan untuk memodifikasi faktor tersebut
(18) melaporkan pola tidur yang baik e) Intervensi NIC
(5) Pengkajian :
(a) Gunakan laporan dari pasien sendiri sebagai pilihan pertama untuk mengumpulkan informasi pengkajian (b) Minta pasien untuk menilai nyeri dengan skala 0-10.
Gunakan bagan alur nyeri untuk memantau peredaan nyeri oleh analgesik dan kemungkinan efek sampingnya.
(c) Kaji dampak agama, budaya dan kepercayaan, dan lingkungan terhadap nyeri dan respon pasien
(d) Dalam mengkaji nyeri pasien, gunakan kata-kata yang sesuai usia dan tingkat perkembangan pasien Manajemen nyeri:
(c) lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, awitan dan durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau keparahan nyeri dan faktor presipitasinya.
(d) Observasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan, khususnya pada mereka yang tidak mampu berkomunikasi efektif.
(e) Sertakan dalam instruksi pemulangan pasien obat khusus yang harus diminum, frekuensi, frekuensi pemberian, kemungkinan efek samping, kemungkinan interaksi obat, kewaspadaan khusus saat mengkonsumsi obat tersebut dan nama orang yang harus dihubungi bila mengalami nyeri membandel.
(f) Instruksikan pasien untuk menginformasikan pada perawat jika peredaan nyeri tidak dapat dicapai (g) Informasikan kepada pasien tentang prosedur yang
dapat meningkatkan nyeri dan tawarkan strategi koping yang ditawarkan
(h) Perbaiki kesalahan persepsi tentang analgesik narkotik atau oploid (resiko ketergantungan atau overdosis)
Manajemen nyeri :
(b) Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologis (misal umpan balik biologis, transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS), hipnotis, relaksasi, imajinasi terbimbing, terapi musik, distraksi, terapi bermain, terapi aktivitas, akupresur, kompres hangat atau dingin, dan masase).
(7) Aktivitas kolaboratif
Kelola nyeri pasca bedah awal dengan pemberian opiate yang terjadwal (misal, setiap 4 jam selama 36 jam) atau PCA
(8) Aktivitas lain
(a) Bantu pasien mengidentifikasi tindakan kenyamanan yang efektif dimasa lalu seperti distraksi, relaksasi atau kompres hangat atau dingin.
(b) Hadir di dekat pasien untuk memenuhi kebutuhan rasa nyaman dan aktivitas lain untuk membantu relaksasi, meliputi tindakan sebagai berikut :
(c) Lakukan perubahan posisi, masase punggung, dan relaksasi.
(e) Libatkan pasien dalam pengambilan keputusan yang menyangkut aktivitas perawatan.
(f) Bantu pasien untuk lebih berfokus pada aktivitas bukan pada nyeri dan rasa tidak nyaman dengan melakukan pengalihan melalui televise, radio, dan interaksi dengan pengunjung.
Manajemen nyeri :
Libatkan pasien dalam modalitas peredaan nyeri, jika memungkinkan kendalikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan (misal: suhu ruangan, pencahayaan dan kegaduhan)
d. Tahap pelaksanaan
Tahap pelaksanaan merupakan tahap keempat dalam tahap proses keperwatan dengan melaksanakan berbagai strategi keperawatan (tindakan keperawatan) yang telah direncanakan dalam rencana tindakan keperawatan . (A. Aziz, 2012)
e. Evaluasi
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Studi kasus ini adalah studi untuk mengeksplorasi masalah asuhan keperawatan pada pasien post sectio caesaria dengan nyeri akut.
B. Batasan Istilah
1. Definisi operasional post sectio caesaria
Post sectio caesaria adalah suatu keadaan setelah menjalani pembedahan guna melahirkan bayi lewat insisi pada dinding abdomen dan dinding uterus.
Nyeri merupakan suatu perasaan yang menimbulkan penderitaan secara fisik dan mental,dan perasaan nyeri bisaanya menimbulkan ketegangan atau siksaan fisik bagi yang mengalaminya.
C. Partisipan
Subjek yang digunakan adalah dua pasien dengan masalah dan diagnosis keperawatan yang sama yaitu pasien post sectio caesaria dengan nyeri akut.
D. Lokasi dan waktu penelitian
Studi kasus ini dilakukan di Rumah Sakit Anutapura Palu, sejak pasien pertama kali masuk rumah sakit sampai pasien pulang minimal 4 hari.
E. Pengumpulan data
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan observasi 1. Wawancara
a. Identitas
Berisi tentang identitas pasien dan penanggung jawab b. Riwayat kesehatan
1) Keluhan utama
2) Riwayat kesehatan sekarang
Faktor yang melatarbelakangi atau hal-hal yang mempengaruhi atau mendahului keluhan dan bagaimana sifat terjadinya gejala.
3) Riwayat kesehatan masa lalu
Riwayat atau pengalaman masa lalu tentang kesehatan atau penyakit yang pernah dialami.
4) Riwayat kesehatan keluarga
Riwayat kesehatan atau keperawatan yang di miliki pada salah satu anggota keluarga
5) Riwayat psikososial
Merupakan masalah psikologis yang dialami klien yang ada hubungannya dengan keadaan sosial masyarakat, keluarga dan lainya. 6) Riwayat kebidanan
a) Riwayat haid
b) Riwayat perkawinan c) Riwayat kehamilan d) Riwayat persalinan
7) Pola persepsi – pemeliharaan kesehatan
Data tentang persepsi pasien terhadap penyakit atau sakit, arti kesehatan, dan penatalaksanaan kesehatan.
Data ini meliputi tentang aktivitas sehari-hari pasian seperti makan, mandi, berbakaian, toileting, tingkat mobilitas, kekuatan otot, dan lain-lain.
9) Pola nutrisi dan metabolisme
Penjelasan tentang pola nutrisi dan metabolisme pasien meliputi nafsu makan, jumlah makan dan minum, ada tidaknya mual muntah, dan diet khusus yang diinstrusikan sebelumnya.
10) Pola eliminasi
Penjelasan tentang kebisaaan pasien meliputi kebisaaan defeksi, ada tidaknya kostipasi, kebisaaan alvi, ada tidaknya disuria, nocturia, hematuri,inkontinensia dan retensi.
11) Pola tidur – istirahat
Pengkajian pola tidur seperti jumlah jam tidur pada malam dan siang hari, dan masalah selama tidur.
12) Pola seksual – reproduksi
Pengumpulan data tentang pola seksual dan reproduksi meliputi periode menstruasi terakhir, masalah menstruasi, pemeriksaan payudara, dan masalah seksual yang berhubungan dengan penyakit. (A. Aziz, 2012)
Bagian yang diobservasi antara lain respon fisik dan psikologis, respon emosi, serta rasa aman dan nyaman yang dirasakan klien. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan emapat cara sebagai berikut :
a. Inspeksi
Menggunakan indera penglihatan, memerlukan bantuan pencahayaan yang baik, dan pengamatan yang teliti.
b. Perkusi
Pemeriksaan ini menggunakan prinsip vibrasi dan getaran udara. Dilakukan dengan mengetuk permukaan tubuh denagn tangan pemeriksaan.
c. Palpasi
Palpasi menggunakan serabut saraf sensoris di permukaan telapak tangan untuk mengetahui kelembapan, suhu, tekstur, adanya massa, penonjolan, lokasi dan ukuran organ, serta pembengkakan
d. Auskultasi