• Tidak ada hasil yang ditemukan

HIMPUNAN PEKERJAAN JALAN DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HIMPUNAN PEKERJAAN JALAN DI INDONESIA"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

HIMPUNAN PEKERJAAN JALAN INDONESIA

MAKALAH

Oleh : Jefri Herdi Triyanto

M1C115008

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS JAMBI JAMBI

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Himpunan Pekerjaan Jalan Indonesia“. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Keteknikan.

Dalam menyusun makalah ini kami banyak memperoleh bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada : 1. dosen mata kuliah Pengantar Ilmu Keteknikan yakni Bapak Budi yang telah banyak

meluangkan waktu guna memberikan bimbingan kepada kami dalam penyusunan makalah ini.

2. kedua orang tua kami yang senantiasa memberi dukungan baik secara moril maupun materil

selama proses pembuatan makalah ini.

Makalah ini bukanlah karya yang sempurna karena masih memiliki banyak kekurangan, baik dalam hal isi maupun sistematika dan teknik penulisannya. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna sempurnanya makalah ini. Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat, bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya.

Jambi, 02 Desember 2015

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia merupakan makhluk sosial. Sebagai mahluk sosial tentu manusia tidak dapat hidup sendiri. Mereka akan saling ketergantungan satu sama lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Manusia tanpa manusia lainnya pasti akan mati.

Manusia memiliki naluri untuk hidup dengan orang lain. Naluri manusia untuk selalu hidup dengan orang lain disebut gregariousness sehingga manusia disebut juga social animal atau hewan sosial. Karena sejak dilahirkan, manusia sudah mempunyai dua hasrat atau keinginan pokok yaitu keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain dan keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya.

Manusia merupakan makhluk yang bersegi jasmaniah dan rohaniah. Segi rohaniah manusia terdiri dari pikiran dan perasaan. Apabila diserasikan, akan menghasilkan kehendak yang kemudian menjadi sikap tindak. Sikap tindak itulah yang kemudian menjadi landasan gerak segi jasmaniah manusia.

Hubungan kesinambungan antara manusia dengan manusia lainnya akan menghasilkan pola pergaulan yang dinamakan interaksi sosial. Dalam melakukan interaksi sosial terjadi hubungan antar manusia (lebih dari 1 pelaku). Proses tersebutlah yang mejadi awal terbentuknya kelompok sosial. Kelompok sosial adalah himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama. Ada aksi dan ada reaksi. Pelakunya lebih dari satu. Antara individu dengan individu, individu dengan kelompok dan antara kelompok dengan kelompok.

Sifat dan struktur kelompok sosial berbeda-beda. Ada yang terbentuk dengan di sengaja, atau tidak disengaja. Ada yang terorganisir, ada yang tidak. Ada kelompok yang terikat secara lahiriah dan ada yang terikat secara batin. Dan banyak lagi perbedaan-perbedaan yang terdapat pada kelompok sosial. Perbedaan tersebut disebabkan karena sifat kelompok sosial yang dinamis atau sering berubah-ubah setiap waktu.

(4)

sebab itu saya menulis sebuah makalah berkenaan dengan salah satu organisasi umum di Indonesia tentang Teknik Sipil yang berjudul “Himpunan Pekerjaan Jalan Indonesia”.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah merupakan suatu acuan berdasarkan pada latar belakang masalah diatas sehingga penulis merumuskan masalah sebagai berikut :

1. Apa yang dimaksud dengan Himpunan Pekerjaan Jalan Indonesia?

2. Bagaimana dasar pembentukan Himpunan Pekerjaan Jalan Indonesia?

3. Bagaimana klasifikasi Himpunan Pekerjaan Jalan Indonesia?

4. Seperti apa kerjasama di Himpunan Pekerjaan Jalan Indonesia?

5. Siapa saja yang berkecimpung dalam Himpunan Pekerjaan Jalan Indonesia?

C. Tujuan Makalah

1. Mendeskripsikan tentang pengertian Himpunan Pekerjaan Jalan Indonesia.

2. Mendeskripsikan tentang dasar pembentukan Himpunan Pekerjaan Jalan Indonesia.

3. Mendeskripsikan tentang klasifikasi Himpunan Pekerjaan Jalan Indonesia.

4. Mendeskripsikan tentang kerjasama di Himpunan Pekerjaan Jalan Indonesia.

(5)

D. Kegunaan Makalah

Makalah ini diharapkan dapat berguna bagi semua pihak yang terkait dengan pembahasan yang ada dalam makalah ini.

1. Secara teoretis, hasil studi pustaka ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada

pembaca mengenai sejarah perkembangan, visi & misi, kode etik & kaidah tata laku, AD / ART, bentuk lambang, susunan majelis kehormatan HPJI, susunan dewan penasehat HPJI, dan susunan dewan pengurus pusat HPJI.

2. Secara praktis, ini diharapkan dapat membantu semua pihak dalam membentuk

kelompok-kelompok sosial yang teratur, sehingga kelompok-kelompok tersebut bukan hanya sebagai wadah interaksi atau pergaulan saja, tetapi dapat bermanfaat dan mensejahterakan setiap anggotanya.

E. Prosedur Makalah

(6)

BAB II PEMBAHASAN A.Landasan Teoretis

1. Sejarah Perkembangan

Untuk menciptakan sinergi di antara para ahli, di bentuklah sebuah organisasi profesi di bidang jalan 39 tahun yang lalu, dengan nama Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia yang disingkat HPJI, yang diprakarsai oleh DR. Ir. Poernomosidhi Hadjisarosa, Ir. Suryatin Sastromijoyo dan beberapa tokoh yang terhormat lainnya.

Himpunan sebagai wadah bagi pengembangan profesi dan keahlian di bidang jalan dituntut pengabdian yang terbaik HPJI kepada masyarakat bangsa dan negara melalui setiap anggota sesuai bidang profesi masing-masing untuk mewujudkan pembinaan jaringan jalan diseluruh tanah air Indonesia.

Organisasi HPJI telah berkembang dengan terbentuknya 33 Dewan Pengurus Daerah diseluruh Indonesia yang semuanya kini sudah mandiri, dengan harapan dapat memberikan kontribusi bagi pemerintah daerah.

Dari aspek kualitas keanggotaan HPJI berkembang pesat dimulai dari 150 orang pada tahun 1975, kini berkembang menjadi lebih dari 22.000 anggota yang tersebar di seluruh Indonesia.

Di dalamnya di tingkat nasional, HPJI juga berkiprah di tingkat Internasional seperti dalam organisasi The Road Engineering Association Asian and Australasia (REAAA) yang berpusat di Kuala Lumpur, International Road Federation (IRF) yang berpusat di Washington DC, Permanent International Association and Road Congresses (PIARC) yang kemudian disebut World Road Association (WRA) yang berpusat di Paris dan International Tunnelling Association (ITA) yang berpusat di Netherland.

(7)

Sebagai Asosiasi Profesi HPJI sejak 2 Mei 2002 telah mendapatkan penetapan akreditasi oleh LPJK Nasional, melalui keputusan Dewan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional no. 28/KPTS/LPJK/D/V/2002, untuk kemudian terakreditasi pula 28 Dewan Pengurus Daerah HPJI dan saat ini telah melaksanakan program sertifikasi keahlian Jalan dan Jembatan. Selanjutnya, di dalam perkembangannya HPJI terus bersinergi dengan program LPJK-N. Realisasi program sertifikasi DPD telah membuahkan hasil yang cukup baik yaitu ahli pelaksana sebanyak lebih dari 13.400 orang dan ahli pengawas sebanyak lebih dari 10.200 orang serta ahli perencana sebanyak lebih dari 3.500 orang.

HPJI sejak awal menyadari benar akan pentingnya komunikasi antar anggota serta desiminasi dan sosialisasi kegiatan dan terobosan pemikiran para anggota, sehingga

diterbitkan Majalah Jalan dan Transportasi pada bulan november tahun 1982, 7 tahun setelah berdirinya HPJI. Tema yang dipilih pada edisi perdana ketika itu adalah Jalan Sebagai Struktur Wilayah. HPJI telah berhasil menerbitkan sebanyak 115 edisi yang didistribusikan kepada para anggota HPJI sampai ke Kabupaten/Kodya di seluruh Indonesia

Lantas bagaimana visi dan misi HPJI dalam meningkatkan kiprah dan perannya dalam mengisi pembangunan nasional kedepan ? Dalam usia lebih dari tiga puluh lima tahun ini HPJI tentu mampu dan mandiri dalam mengemban kewajiban sesuai dengan tujuan dan usaha Himpunan, namun demikian tantangan yang menghalang kedepan tentu tidak semakin ringan sejalan dengan perkembangan zaman dalam era globalisasi.

2. Visi & Misi a) Visi HPJI

Terwujudnya Profesionalisme Anggota HPJI sebagai Pelaku Ahli Bidang Jalan Dan Jembatan sehingga :

 Kompeten dan Taat dalam menerapkan Kaidah Kaidah Mutu

 Berpola Tindak yang mencerminkan Penghayatan Mendalam terhadap Kode Etik

HPJI

 Mampu Memenangkan Persaingan dalam Pasar Global dengan fasilitasi HPJI

(8)

b)Misi HPJI

Langkah selanjutnya HPJI akan merekrut dan mendobrak sistematis yang sesuai kriteria agar masuk dalam anggota himpunan, seperti:

 Regulator/Pemerintah

 Badan Litbang

 Instansi Urusan Jalan

 Perguruan Tinggi

 Publik

3. Kode Etik & Kaidah Tata Laku

Sebagai standar moral bagi setiap anggota yang tergabung dalam organisasi profesi HPJI, disusunlah PRINSIP DASAR tentang norma dan nilai luhur yang disepakati bersama untuk menjadi pegangan, dihayati, dan harus selalu dijunjung tinggi dalam melaksanakan kegiatan profesi sebagaimana berikut ini :

a) Prinsip Dasar.

 Menjunjung tinggi keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

 Menggunakan pengetahuan dan kemampuan untuk kesejahteraan umat manusia

secara berkelanjutan.

 Bekerja secara profesional untuk kepentingan masyarakat, bangsa, negara dan organisasi.

 Meningkatkan pengetahuan dan kompetensi serta menjunjung tinggi martabat

profesinya.

Selanjutnya Prinsip Dasar di atas dijabarkan lebih lanjut dalam KODE ETIK berikut ini.

b) Kode Etik HPJI.

 Anggota HPJI wajib bertindak konsekuen, jujur dan adil dalam menjalankan

profesinya.

 Anggota HPJI wajib menghormati profesi lain dan tidak boleh merugikan nama baik serta profesi orang lain.

 Anggota HPJI wajib memperhatikan dengan sungguh-sungguh dan tidak

(9)

 Anggota HPJI setia dan taat pada peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

 Anggota HPJI harus bersedia memberi bimbingan dan pelatihan untuk peningkatan

profesionalisme sesama anggota.

 Anggota HPJI wajib memenuhi baku kinerja dan tanggung jawab profesi dengan integritas tinggi dan tidak akan menerima pekerjaan di luar bidang keahlian teknisnya.

 Anggota HPJI wajib menjunjung tinggi martabat profesi, bersikap terhormat, dapat

dipercaya, dan bertanggung jawab secara profesional berazaskan kaidah keilmuan, kepatutan dan kejujuran intelektual.

 Anggota HPJI dengan menggunakan pengetahuan & keahlian yang dimilikinya

wajib menyampaikan pendapat dan pernyataan dengan jujur berdasarkan bukti dan tanpa membedakan

c) Kaidah Umum Tata Laku.

Pedoman umum ini merupakan penjabaran Kode Etik yang dapat dipakai sebagai panduan secara umum untuk menghadapi situasi dan kondisi beragam yang timbul disuatu saat dalam menjalankan tugas profesi.

Setiap anggota organisasi profesi harus tunduk dan menjunjung tinggi kode etik organisasi. Kode etik HPJI harus menjiwai setiap langkah para anggota HPJI dalam mengemban tugas-tugas keprofesionalannya. Tindak keprofesionalannya bercirikan antara lain :

 Kejujuran (honesty)

 Keadilan (fairness)

 Satunya pikiran, ucapan dan tindakan (integrity)

 Dapat dipertanggungjawabkan (accountability)

 Kebertanggung-jawaban (responsibility)

 Kesetiaan kepada bangsa dan negara (loyalty)

 Tepat janji (committed)

 Menghormati orang lain (respect to other)

(10)

 Menjanjikan karya terbaik (pursuit of excellence)

 Mendukung perkembangan ilmu pengetahuan

 Mengupayakan dan menjaga pelestarian lingkungan.

Pedoman umum ini memuat kaidah-kaidah dalam hubungan-hubungan pelaksanaan tugas anggota HPJI dengan masyarakat, rekan seprofesi dan profesi lain yang terkait serta hubungan dengan pemberi tugas.

4. AD / ART

Bahwa sesungguhnya pengabdian kepada bangsa dan negara adalah kewajiban setiap warga negara Indonesia yang harus dilaksanakan dan dikembangkan menurut bidang profesi, ketrampilan kerja dan keakhlian kerja masing-masing untuk mewujudkan tujuan

pembangunan nasional.

Bahwa prasarana transportasi, khususnya jalan, jembatan, terowongan jalan, landasan terbang dan jalan rel, sebagai prasarana penting dalam pembangunan dan kehidupan bangsa, pada hakekatnya mempunyai peran yang penting dalam usaha memenuhi kebutuhan

masyarakat, mewujudkan keseimbangan tingkat pertumbuhan antar daerah guna meratakan hasil-hasil pembangunan, memantapkan komunikasi sebagai alat pemersatu bangsa,

memantapkan usaha pertahanan dan keamanan nasional serta keandalan ketahanan nasional dan mewujudkan Wawasan Nusantara, yang secara keseluruhan mempunyai arti penting bagi kesejahteraan bangsa dan negara. Karena itu, usaha pengembangan prasarana transportasi serta peningkatan dan pembinaan kemampuan profesi, ketrampilan kerja dan keahlian kerja di bidang prasarana transportasi di Indonesia perlu ditetapkan sebagai tujuan pengabdian dan dharma bakti kepada bangsa dan negara.

Bahwa untuk mencapai kinerja pengembangan prasarana transportasi secara berdaya guna dan berhasil guna yang menyertakan berbagai profesi, ketrampilan kerja dan keakhlian kerja diperlukan pengertian yang mendalam tentang peranan, tugas dan kewajiban menurut profesi, ketrampilan kerja dan keakhlian kerja masing-masing serta disadari perlunya keserasian dalam memanfaatkan dan meningkatkan kemampuan untuk selanjutnya dengan semangat gotong royong digalang dan dikerahkan sebagai usaha bersama guna

(11)

Oleh karena itu, menyadari akan pentingnya peranan pengembangan prasarana transportasi dalam pembangunan negara dan bangsa Indonesia, maka dengan rakhmat Tuhan Yang Maha Esa dihimpunlah berbagai profesi, ketrampilan kerja dan keakhlian kerja yang menyangkut berbagai aspek pengembangan prasarana transportasi dalam wadah asosiasi profesi ini dengan Anggaran Dasar sebagai berikut :

BAB I

NAMA, WAKTU DAN TEMPAT KEDUDUKAN

Pasal 1 Nama

Nama asosiasi profesi ini adalah 'HIMPUNAN PENGEMBANGAN JALAN INDONESIA', disingkat HPJI dengan terjemahan resmi dalam bahasa Inggris 'INDONESIAN ROAD DEVELOPMENT ASSOCIATION' disingkat IRDA.

Pasal 2 Waktu

HPJI didirikan di Jakarta pada tanggal 5 September 1975 untuk jangka waktu yang tidak ditentukan.

Pasal 3 Tempat Kedudukan

1. HPJI pusat berkedudukan di ibukota negara Republik Indonesia.

2. Di setiap Propinsi dapat dibentuk HPJI tingkat daerah yang berkedudukan di ibukota Propinsi.

3. Di setiap Kabupaten/Kota dapat ditetapkan Koordinator Kabupaten/Kota yang

berkedudukan di ibukota Kabupaten/Kota sebagai bagian dari kepengurusan HPJI tingkat daerah.

BAB II

AZAS, TUJUAN DAN USAHA Pasal 4

Azas

(12)

Pasal 5 Tujuan

HPJI bertujuan :

1. membina dan meningkatkan profesionalisme anggotanya di bidang pengembangan prasarana transportasi;

2. memperjuangkan kepentingan dan aspirasi anggota.

Pasal 6 Usaha

Untuk mencapai tujuan tersebut pada pasal 5, HPJI melakukan usaha-usaha :

a. menegakkan kode etik HPJI dan kaidah tata laku profesi HPJI dalam pelaksanaan tugas anggota.

b. meningkatkan dan mengembangkan prasarana transportasi dalam keilmuan dan pemakaiannya.

c. membantu usaha pengembangan dan peningkatan pengetahuan, keakhlian dan ketrampilan serta kemantapan sistem pengusahaan di bidang prasarana transportasi bagi anggota-anggotanya;

d. mengadakan kerjasama dengan organisasi-organisasi regional maupun internasional yang berkecimpung dalam masalah pengembangan prasarana transportasi;

e. menyelenggarakan konferensi, lokakarya, simposium, seminar atau pertemuan-pertemuan ilmiah lainnya yang diadakan menurut keperluan;

f. menyelenggarakan publikasi di bidang pengembangan prasarana transportasi, baik untuk keperluan di dalam organisasi maupun untuk masyarakat luas;

g. mengembangkan pusat data, pertukaran informasi dan pengembangan ide-ide baru bagi anggotanya yang berhubungan dengan masalah pengembangan prasarana

transportasi;

h. menyelenggarakan sertifikasi di bidang pengembangan prasarana transportasi bagi anggota perorangan untuk mendapat pengakuan dan penghargaan berdasarkan

kemampuan profesionalnya;

i. memberikan penghargaan kepada anggotanya atas jasa, karya serta dedikasi yang tinggi dalam usaha pembinaan dan pengembangan organisasi HPJI.

j. memberikan penghargaan kepada perorangan atas karya yang bernilai tinggi dan berdaya guna luas di bidang prasarana transportasi.

(13)

BAB III

KODE ETIK DAN LAMBANG ORGANISASI Pasal 7

Kode Etik

Dalam menjalankan profesinya setiap anggota HPJI terikat pada Kode Etik dan Kaidah Tata Laku HPJI yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Anggaran Dasar ini.

Pasal 8 Lambang Organisasi

HPJI memiliki lambang organisasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Anggaran Dasar ini.

BAB IV KEANGGOTAAN

Pasal 9 Jenis Anggota

(1) Anggota HPJI terdiri atas :

a. anggota biasa; b. anggota luar biasa; c. anggota mahasiswa, dan d. anggota kehormatan.

(2) Syarat-syarat tentang keanggotaan ditetapkan dalam Anggaran Rumah Tangga. Pasal 10

Hak dan Kewajiban Anggota

Hak dan kewajiban anggota ialah :

a. setiap anggota biasa dan anggota kehormatan mempunyai hak suara dalam rapat umum daerah, hak dipilih menjadi peserta penuh dalam Rapat Umum Nasional/Rapat Umum Nasional Istimewa, hak memilih dan dipilih sebagai anggota pengurus Dewan Pengurus Daerah, dan hak dipilih sebagai anggota pengurus Dewan Pengurus Pusat; b. setiap anggota biasa berhak untuk mengajukan permohonan sertifikasi keahlian di

bidang jembatan, terowongan jalan, landasan terbang, dan jalan rel sesuai dengan kualifikasinya;

(14)

pembelaan dalam melaksanakan tugas profesinya sepanjang tidak bertentangan atau melanggar ketentuan dan peraturan/perundangan yang berlaku;

d. setiap anggota mempunyai hak untuk turut serta dalam segala kegiatan HPJI;

e. setiap anggota kecuali anggota mahasiswa, berhak untuk memperoleh perlindungan dan pembelaan dalam melaksanakan tugas profesinya sepanjang tidak bertentangan atau melanggar ketentuan dan peraturan/perundangan yang berlaku;

f. setiap anggota berhak membela diri dalam prosedur pengenaan sanksi organisasi atas dirinya;

g. setiap anggota mempunyai kewajiban untuk menjunjung tinggi nama baik HPJI, melaksanakan kode etik dan kaidah tata laku profesi; dan

h. setiap anggota berkewajiban untuk menghormati, menaati dan melaksanakan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, peraturan-peraturan dan keputusan--keputusan yang sah dari HPJI.

Pasal 11

Berakhirnya Keanggotaan

Keanggotaan berakhir karena:

a. permintaan sendiri; b. meninggal dunia;

c. diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri; d. diberhentikan tidak dengan hormat,

e. anggota luar biasa badan hukum, perusahaan atau organisasi dinyatakan bubar, f. anggota mahasiswa pada saat yang bersangkutan telah berubah status

kemahasiswaannya oleh sebab telah menyelesaikan studi atau oleh sebab sebab lainnya.

BAB V

BENTUK DAN SIFAT ORGANISASI

Pasal 12

Bentuk dan Sifat Organisasi

(1) Bentuk organisasi HPJI adalah himpunan yang terbuka dan terdesentralisasi.

(2) Sifat organisasi HPJI adalah organisasi profesi, independen dan non partai politik. BAB VI

ORGANISASI DAN KEPENGURUSAN Pasal 13

Perangkat Organisasi

HPJI mempunyai perangkat organisasi yang terdiri atas :

a. di tingkat nasional :

1. Rapat Umum Nasional;

(15)

3. Majelis Kehormatan; dan 4. Dewan Penasehat DPP.

b. di tingkat daerah :

1. Rapat Umum Daerah;

2. Dewan Pengurus Daerah disingkat DPD; dan 3. Dewan Penasehat DPD.

Pasal 14

Rapat Umum Nasional

(1) Rapat Umum Nasional adalah perangkat organisasi tertinggi HPJI. (2) Rapat Umum Nasional bertugas :

a. menetapkan Garis-Garis Besar Kebijakan dan Program HPJI;

b. mengevaluasi pertanggungjawaban pelaksanaan program dan pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja HPJI;

c. menetapkan pedoman penyusunan anggaran pendapatan dan belanja HPJI, termasuk pedoman dalam menerapkan besarnya uang pangkal dan uang iuran serta perbandingan pembagian penerimaan uang pangkal dan uang iuran untuk alokasi DPP dan DPD untuk selama 4 (empat) tahun;

d. memilih seorang Ketua Umum merangkap Ketua Formatur dan 2 (dua) anggota Tim Formatur untuk menyusun DPP;

e. mengesahkan DPP yang disusun Tim Formatur; dan

f. menetapkan anggota Majelis Kehormatan yang diusulkan DPP.

(3) Rapat Umum Nasional diadakan sekali dalam 4 (empat) tahun. (4) Rapat Umum Nasional dihadiri oleh :

a. Utusan daerah sebagai peserta penuh yang masing-masing mempunyai 1 (satu) hak suara ditetapkan oleh rapat DPD; setiap HPJI tingkat daerah yang mempunyai jumlah anggota 500 (lima ratus) orang atau kurang diwakili oleh minimum 5 (lima) utusan; untuk HPJI tingkat daerah yang mempunyai anggota lebih dari 500 (lima ratus), jumlah utusan daerah sebagai peserta penuh ditetapkan dengan rumus 5+(Jumlah anggota-500)/ 200 dibulatkan ke atas;

b. pengurus DPP HPJI sebagai peserta penuh yang tidak mempunyai hak suara kecuali bilamana yang bersangkutan ditetapkan sebagai utusan daerah;

c. anggota HPJI bukan utusan daerah yang berminat hadir dalam Rapat Umum Nasional sebagai peserta peninjau dengan terlebih dahulu mendaftarkan diri kepada panitia pe-nyelenggara Rapat Umum Nasional; dan

d. undangan-undangan lain yang ditetapkan DPP HPJI sebagai peserta peninjau.

(5) Rapat Umum Nasional dipimpin oleh Pimpinan Sidang yang dipilih dari antara peserta penuh;

(6) Rapat Umum Nasional Istimewa dapat diadakan untuk menyelesaikan masalah mendesak dan semata-mata dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah tersebut;

(16)

lebih dari 2/3 (dua per tiga) jumlah anggota DPP;

(8) Rapat Umum Nasional/Rapat Umum Nasional Istimewa adalah sah jika dihadiri oleh lebih dari ½ (setengah) jumlah utusan daerah peserta penuh.

Pasal 15 Rapat Umum Daerah

(1) Rapat Umum Daerah adalah perangkat organisasi tertinggi HPJI di daerah.

(2) Rapat Umum Daerah bertugas :

a. menetapkan Garis-Garis Besar Kebijakan dan Program HPJI tingkat daerah sejalan dengan Garis-Garis Besar Kebijakan dan Program HPJI;

b. mengevaluasi pertanggungjawaban pelaksanaan program dan pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja HPJI tingkat daerah;

c. menetapkan pedoman penyusunan anggaran pendapatan dan belanja HPJI tingkat daerah selama 4 (empat) tahun;

d. memilih seorang Ketua merangkap sebagai Ketua Formatur dan 2 (dua) anggota Tim Formatur untuk menyusun DPD; dan

e. mengesahkan DPD yang disusun oleh Tim Formatur. (3) Rapat Umum Daerah diadakan sekali dalam 4 (empat) tahun. (4) Rapat Umum Daerah dihadiri oleh :

a. anggota biasa dan anggota kehormatan sebagai peserta penuh yang masing-masing mempunyai 1 (satu) hak suara;

b. anggota luar biasa dan anggota mahasiswa yang berminat hadir dalam Rapat Umum Daerah sebagai peserta peninjau dengan terlebih dahulu mendaftarkan diri kepada panitia penyelenggara Rapat Umum Daerah; dan

c. undangan-undangan lain yang ditetapkan DPD sebagai peserta peninjau.

(5) Rapat Umum Daerah dipimpin oleh Pimpinan Sidang yang dipilih dari antara peserta penuh.

(6) Rapat Umum Daerah Istimewa dapat diadakan untuk menyelesaikan masalah mendesak dan semata-mata dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

7) Rapat Umum Daerah Istimewa dapat diselenggarakan apabila diusulkan oleh DPD dalam rapat yang dihadiri oleh lebih dari 2/3 (dua per tiga) jumlah anggota DPD, atau diusulkan oleh lebih dari 2/3 (dua per tiga) jumlah anggota biasa dan anggota kehormatan;

(8) Rapat Umum Daerah/Rapat Umum Daerah lstimewa adalah sah jika dihadiri oleh lebih dari ½ (setengah) jumlah anggota biasa di daerah tersebut.

Pasal 16

Dewan Pengurus Pusat

(1) HPJI tingkat pusat dipimpin oleh Dewan Pengurus Pusat (DPP). (2) DPP sekurang-kurangnya terdiri atas :

1. Ketua Umum; 2. Ketua;

(17)

5. Bendahara; dan 6. Anggota Pengurus.

(3) Ketua Umum dapat dipilih kembali untu I (satu) kali masa bakti (4) DPP yang ditetapkan mempunyai masa bakti selama 4 (empat) tahun.

(5) DPP mempertanggungjawabkan segala aktivitasnya kepada Rapat Umum Nasional pada akhir masa bakti.

(6) DPP dapat melengkapi struktur kepengurusan sesuai dengan kebutuhan. (7) Rapat DPP diadakan sekurang-kurangnya satu kali dalam 3 (tiga) bulan.

Pasal 17

Dewan Pengurus Daerah

(1) Di setiap daerah propinsi yang telah mempunyai jumlah anggota biasa dan anggota kehormatan minimum 20 dua puluh) orang, dapat dibentuk HPJI tingkat daerah.

(2) HPJI tingkat daerah dipimpin oleh Dewan Pengurus Daerah (DPD). (3) DPD sekurang-kurangnya terdiri atas :

1. Ketua;

2. Sekretaris; 3. Bendahara;

4. Koordinator Wilayah Kabupaten/Kota; dan 5. Anggota Pengurus.

(4) DPD juga mewakili DPP dalam pelaksanaan tugas pengurus pusat di daerah. (5) DPD yang ditetapkan mempunyai masa bakti 4 (empat) tahun.

(6) DPD mempertanggungjawabkan segala aktivitasnya kepada Rapat Umum Daerah pada akhir masa bakti.

(7) DPD dapat melengkapi struktur kepengurusan sesuai dengan kebutuhan. (8) Rapat DPD diadakan sekurang-kurangnya satu kali dalam 3 (tiga) bulan.

Pasal 18

Majelis Kehormatan HPJI

(1) Majelis Kehormatan HPJI adalah perangkat organisasi HPJI yang menyangkut

penegakan Kode Etik HPJI dan berfungsi mengambil keputusan-keputusan mengenai kasus-kasus yang menyangkut Kode Etik untuk dilaksanakan oleh Dewan Pengurus Pusat HPJI. (2) Anggota Majelis Kehormatan HPJI harus memenuhi persyaratan :

a. berpengalaman luas dalam menjalankan profesinya di salah satu atau lebih bidang pengembangan prasarana transportasi;

b. tidak mempunyai cacat dalam profesi dan hukum;

c. mempunyai kepribadian dan integritas yang tidak meragukan; dan d. tidak pernah merugikan nama baik HPJI.

(3) Anggota Majelis Kehormatan HPJI bertanggung jawab kepada Rapat Umum Nasional ; (4) Majelis Kehormatan HPJI terdiri atas sekurang-kurangnya tiga orang dan sebanyak-banyaknya tujuh orang ;

(18)

Pasal 19

Dewan Penasehat DPP

(1) Dewan Penasehat DPP adalah perangkat organisasi HPJI tingkat pusat yang berfungsi memberikan saran-saran dan atau nasehat-nasehat kepada DPP.

(2) Anggota Dewan Penasehat DPP ditetapkan oleh Dewan Pengurus Pusat

(3) Dewan Penasehat DPP dipimpin oleh seorang Ketua yang dipilih dari antara anggotanya. (4) Masa bakti Dewan Penasehat DPP adalah sama dengan masa bakti DPP yang

mengangkatnya.

Pasal 20

Dewan Penasehat DPD

(1) Dewan Penasehat DPD adalah perangkat organisasi HPJI tingkat daerah yang berfungsi memberikan saran-saran dan atau nasehat-nasehat kepada DPD.

(2) Anggota Dewan Penasehat DPD ditetapkan oleh Dewan Pengurus Daerah

(3) Dewan Penasehat DPD dipimpin oleh seorang Ketua yang dipilih di antara anggotanya. (4) Masa bakti Dewan Penasehat DPD adalah sama dengan masa bakti DPD yang

mengangkatnya.

Pasal 21 Badan Tetap

(1) Badan Pelaksana Kepengurusan dan Badan Tetap lain dapat dibentuk baik oleh DPP maupun oleh DPD untuk membantu pelaksanaan tugas-tugasnya.

(2) Setiap Badan Tetap yang dibentuk dipimpin oleh seorang Direktur Eksekutif yang profesional dan bekerja secara penuh waktu untuk suatu jangka waktu yang tertentu, diangkat/diberhentikan dan bertanggung jawab kepada DPP/DPD.

Pasal 22 Forum dan Komite

(1) Forum adalah wadah komunikasi antar anggota atau antar pengurus dan anggota untuk membahas masalah-masalah yang menyangkut kepentingan bersama, dapat dibentuk dan atau diselenggarakan secara ad hoc oleh DPP maupun DPD.

(19)

BAB VII

PERBENDAHARAAN

Pasal 23

Perolehan dan Perimbangan Keuangan

(1) Keuangan HPJI diperoleh dari :

1. uang pangkal; 2. uang iuran;

3. sumbangan-sumbangan yang sah dan tidak bertentangan dengan azas serta tujuan HPJI; dan

4. usaha-usaha dan pendapatan-pendapatan lain yang sah dan tidak bertentangan dengan azas serta tujuan HPJI.

(2) Besar uang pangkal dan uang iuran ditetapkan oleh DPP berdasarkan pedoman yang ditetapkan Rapat Umum Nasional dengan mempertimbangkan hak untuk layanan yang wajib diberikan kepada berbagai jenis keanggotaan.

BAB VIII

ANGGARAN RUMAH TANGGA

Pasal 24

Pengaturan dalam Anggaran Rumah Tangga

(1) Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Dasar ini dapat diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga sepanjang hal tersebut tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar ini.

(2) Anggaran Rumah Tangga ditetapkan oleh Rapat Umum Nasional.

BAB IX

PERUBAHAN ANGGARAN DASAR

Pasal 25 Syarat Perubahan

(1) Anggaran Dasar ini hanya dapat diubah di dalam, dan sudah harus diacarakan dalam Rapat Umum Nasional, atau dalam Rapat Umum Nasional Istimewa yang diselenggarakan untuk keperluan tersebut;

(2) Rancangan usul perubahan ditetapkan dalam rapat DPP atau diusulkan oleh sekurang-kurangnya ½ (setengah) jumlah DPD;

(20)

BAB X PEMBUBARAN

Pasal 26 Syarat Pembubaran

(1) Pembubaran HPJI hanya dapat diputuskan dalam Rapat Umum Nasional lstimewa yang khusus diadakan untuk maksud tersebut atas usul tertulis oleh sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) jumlah DPD dan dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari seluruh jumlah utusan daerah peserta penuh yang ditetapkan DPD.

(2) Keputusan pembubaran diambil jika sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah hak suara utusan daerah peserta penuh yang hadir menyetujui ditetapkannya pembubaran HPJI pada waktu pemungutan suara yang dilakukan khusus untuk itu.

BAB XI PENUTUP

Pasal 27 Aturan Peralihan

Penyesuaian dan perubahan yang diperlukan sebagai akibat adanya perubahan Anggaran Dasar ini harus diselesaikan DPP dan DPD selambat-lambatnya 365 (tiga ratus enam puluh lima) hari kalender setelah tanggal ditetapkannya perubahan Anggaran Dasar HPJI.

Anggaran Dasar HPJI disahkan untuk pertama kali dalam Rapat Umum Anggota HPJI ke-1 di Jakarta tanggal 23 Juli 1979 dan perubahan-perubahannya dilakukan :

Pertama

: dalam Rapat Umum Anggota ke-6 yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 30

November 1990;

Kedua : dalam Rapat Umum Anggota ke-8 yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 23 Desember 1997;

Ketiga : dalam Rapat Umum Anggota ke-9 yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 7 Agustus 1998;

Keempat : dalam Rapat Umum Nasional Istimewa ke-1 yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 4 Oktober 2000.

Kelima : dalam Rapat Umum Nasional Istimewa ke-2 yang diselenggarakan di Denpasar pada tanggal 17 Juli 2002.

(21)

Lampiran 1

Anggaran Dasar Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia

ANGGARAN RUMAH TANGGA

HIMPUNAN PENGEMBANGAN JALAN INDONESIA

BAB I U S A H A

Pasal 1 U s a h a

(1) Kegiatan usaha yang diatur dalam Anggaran Dasar HPJI diselenggarakan dengan acuan sebagai berikut :

a. konferensi teknik jalan, jembatan, terowongan jalan, landasan terbang dan jalan rel serta lokakarya, simposium, seminar atau pertemuan ilmiah lainnya dapat

diselenggarakan baik di tingkat lokal, regional, nasional maupun di tingkat internasional; b. publikasi diterbitkan secara berkala, berisi tulisan ilmiah serta hasil karya yang

ber-hubungan dengan prasarana transportasi, termasuk tulisan dari anggotanya, berita

organisasi dan ringkasan kertas kerja dari konferensi, lokakarya, simposium, seminar, dan pertemuan-pertemuan ilmiah lainnya;

c. sertifikasi profesi diselenggarakan di bidang prasarana transportasi, dalam lingkup jalan, jembatan, terowongan jalan, landasan terbang dan jalan rel, untuk mendukung pengakuan atas kompetensi anggota disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan bidang usaha di tingkat nasional dan internasional.

(2) Selain usaha-usaha yang diuraikan dalam Anggaran Dasar HPJI, kegiatan usaha dapat pula mencakup :

a. keikutsertaan pada simposium, seminar, dan pertemuan ilmiah lainnya yang diadakan oleh himpunan lain, baik di dalam negeri maupun di luar negeri; dan

b. kunjungan serta kegiatan lainnya yang bermanfaat bagi pengembangan prasarana transportasi

BAB II KEANGGOTAAN

Pasal 2 Anggota Biasa

(22)

Pasal 3 Anggota Luar Biasa

Anggota luar biasa ialah :

a. warga negara Indonesia dan asing yang berminat dalam masalah pengembangan dan atau pemanfaatan prasarana transportasi

b. lembaga/institut di dalam dan di luar negeri yang membina ilmu untuk pengembangan jalan dan atau pemanfaatan prasarana transportasi

c. badan dan perusahaan asing yang berminat dalam pengembangan dan atau pemanfaatan prasarana transportasi di Indonesia; dan

d. badan-badan hukum, perusahaan-perusahaan dan organisasi di Indonesia dengan kegiatan yang menyangkut masalah pengembangan dan atau pemanfaatan prasarana transportasi

Pasal 4

Anggota Kehormatan

(1) Anggota kehormatan adalah perorangan baik warga negara Indonesia maupun warga negara asing yang memiliki perhatian secara konsisten dan memiliki reputasi dalam usaha pembinaan profesi/keahlian dan/atau pengembangan ilmu di bidang prasarana transportasi; (2) Yang dapat diangkat menjadi anggota kehormatan adalah :

a. anggota biasa atau anggota luar biasa perorangan yang memenuhi syarat-syarat : a. sangat berjasa terhadap perkembangan organisasi HPJI dan/atau usaha pencapaian

tujuan HPJI

b. telah menjadi anggota HPJI sekurang-kurangnya 4 (empat) tahun secara berturut-turut c. tidak pernah tercela karena melakukan pelanggaran ketentuan-ketentuan Anggaran

Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Kode Etik dan peraturan-peraturan HPJI yang berlaku; d. mempunyai kepribadian serta reputasi yang baik di dalam masyarakat luas; dan e. bersedia untuk diangkat sebagai anggota kehormatan.

b. bukan anggota yang memenuhi syarat-syarat :

a. mempunyai perhatian yang sangat besar dan telah berjasa terhadap usaha dan perkembangan HPJI

b. mempunyai kepribadian serta reputasi yang baik di dalam masyarakat luas c. bersedia untuk diangkat sebagai anggota kehormatan.

Pasal 5 Anggota Mahasiswa

(23)

Pasal 6 Hak Anggota

(1) Setiap anggota berhak :

a. menghadiri konferensi, lokakarya, simposium, seminar dan pertemuan yang diadakan oleh HPJI; dan

b. memperoleh terbitan dan edaran yang dikeluarkan HPJI.

(2) Setiap anggota berhak untuk mewakili HPJI dalam konferensi, lokakarya, simposium, seminar dan pertemuan yang diadakan himpunan lain baik di dalam maupun di luar negeri atas dasar keputusan DPP/DPD.

(3) Setiap anggota biasa dan anggota kehormatan berhak dipilih sebagai anggota DPP dalam Rapat Umum Nasional dan berhak memilih dan dipilih sebagai anggota DPD dalam Rapat Umum Daerah; dikecualikan bagi anggota kehormatan warga Negara asing tidak mempunyai hak dipilih menjadi Ketua Umum DPP/Ketua DPD

(4) Setiap anggota berhak memperoleh perlakuan yang sama dengan anggota lain sesuai dengan status keanggotaannya.

(5) Setiap anggota berhak memperoleh kartu anggota sesuai ketentuan yang berlaku. (6) Setiap anggota biasa yang memiliki sertifikat berhak untuk mengajukan permohonan penambahan klasifikasi dan peningkatan kualifikasi di bidang jalan, jembatan, terowongan jalan, landasan terbang dan jalan rel.

Pasal 7 Kewajiban Anggota

(1)

a. Setiap anggota biasa, anggota luar biasa, dan anggota mahasiswa berkewajiban membayar uang pangkal dan uang iuran.

b. Anggota kehormatan dibebaskan dari kewajiban membayar uang pangkal dan uang iuran.

(2) Setiap anggota berkewajiban menjaga kelangsungan hidup organisasi dan mendukung pencapaian tujuan HPJI, antara lain dengan mengupayakan untuk :

a. menghadiri Rapat Umum Daerah;

b. menghadiri konferensi, lokakarya, simposium, seminar, dan pertemuan yang diadakan oleh HPJI;

c. membuat kertas kerja dan karya ilmiah tentang pengembangan jalan yang dapat diterbitkan oleh HPJI;

(24)

Pasal 8

Prosedur Penerimaan Anggota

(1) Permintaan untuk menjadi anggota biasa, anggota luar biasa dan anggota mahasiswa, adalah sebagai berikut :

a. Calon anggota harus mengisi formulir pendaftaran yang disediakan untuk maksud itu dan diajukan kepada DPD.

b. Calon anggota harus mendapat rekomendasi dari minimum 2 (dua) orang anggota biasa/anggota kehormatan

c. Khusus untuk menjadi anggota luar biasa, diperlukan pula pernyataan bahwa calon menaruh minat dalam pengembangan prasarana transportasi

d. Khusus untuk anggota mahasiswa dipersyaratkan mendapat rekomendasi dan atau surat keterangan dari institusi perguruan tinggi tentang status sebagai mahasiswa resmi dan terdaftar.

e. Selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah formulir pendaftaran diterima, DPD harus sudah menetapkan dapat diterima atau tidaknya calon anggota tersebut.

f. Dalam hal calon anggota dapat diterima, maka keputusan DPD tersebut harus disahkan oleh DPP selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah keputusan DPD diterima oleh DPP.

g. DPP/DPD dapat menolak permintaan untuk menjadi anggota, jika calon tidak memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam Pasal (2) dan Pasal (3) ART.

(2)

a. Keputusan pengesahan penerimaan anggota tersebut sudah harus disampaikan oleh DPD kepada yang bersangkutan secara tertulis selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah tanggal pengesahan.

b. Keanggotaan mulai berlaku sejak tanggal dipenuhinya kewajiban pembayaran uang pangkal dan uang iuran tahun pertama.

3) Setiap anggota perorangan berkewajiban melaporkan perubahan alamat kepada DPD setempat dan DPD propinsi yang bersangkutan jika alamat baru berada di propinsi lain. 4) Setiap anggota perusahaan berkewajiban melaporkan perubahan data organisasi kepada DPD setempat.

Pasal 9

Prosedur Pengangkatan Anggota Kehormatan

a. Pengangkatan anggota kehormatan dilakukan oleh DPP setelah mendapat persetujuan dari Rapat Umum Daerah atau Rapat Umum Nasional.

b. Usul pengangkatan anggota kehormatan dilakukan oleh DPP dan/atau DPD di tempat kedudukan anggota/bukan anggota yang bersangkutan.

(25)

Pasal 10

Berakhirnya Keanggotaan

1) Keanggotaan berakhir karena tidak dipenuhinya kewajiban membayar uang iuran selama 2 (dua) tahun secara berturut-turut.

2) Anggota yang hendak berhenti dari HPJI atas permintaan sendiri wajib memberitahukan secara tertulis kepada DPD sebulan sebelumnya.

3) Keanggotaan mahasiswa berakhir pada saat yang bersangkutan telah menyelesaikan studinya, atau karena status kemahasiswaanya berakhir oleh sebab lainnya.

4) Dalam hal anggota mahasiswa berakhir karena telah menyelesaikan studinya, yang bersangkutan berhak untuk menjadi anggota biasa dengan mengajukan permohonan kembali. Perubahan keanggotaan tersebut tidak mewajibkan yang bersangkutan untuk membayar uang pangkal.

BAB III

PENGHARGAAN DAN SANKSI

Pasal 11 Tanda Penghargaan

(1) Penghargaan berbentuk Anugerah HPJI dapat diberikan kepada perorangan yang memiliki prestasi luar biasa di bidang prasarana transportasi. Syarat-syarat dan ketentuan mengenai pemberian Anugerah HPJI ini beserta calon penerimanya, disusun oleh DPP, diajukan dalam Rapat Umum Nasional untuk mendapatkan pertimbangan, persetujuan dan pengesahan.

(2) Penghargaan berbentuk pengangkatan sebagai anggota kehormatan diberikan kepada perorangan yang memnuhi syarat seperti diatur dalam Anggaran Rumah Tangga pasal 4 dan pasal 9

(3) Penghargaan HPJI dapat diberikan kepada perorangan atau institusi atau badan usaha yang telah berhasil menyelenggarakan program HPJI dengan memuaskan. Penetapan

penerima penghargaan ditetapkan secara musyawarah berdasarkan pencapaian program kerja yang dilaksanakan baik ditingkat DPD maupun DPP, dan disahkan oleh DPP.

Pasal 12

Sanksi Organisasi

(1) Apabila anggota tidak memenuhi kewajiban sebagaimana diatur Pasal 10 Anggaran Dasar dan Pasal 6 Anggaran Rumah Tangga dapat dikenakan sanksi organisasi berupa :

a. teguran tertulis maksimum 3 (tiga) kali; b. pembekuan status keanggotaan;

c. pemberhentian status keanggotaan; atau d. pencabutan Sertifikat Profesi.

(26)

BAB IV

ORGANISASI DAN KEPENGURUSAN

Pasal 13

Pengiriman Undangan Rapat Umum Nasional

(1) Undangan untuk Rapat Umum Nasional harus disampaikan kepada utusan daerah peserta penuh melalui DPD secara tertulis sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) hari sebelum rapat diselenggarakan dan harus memuat keterangan tentang waktu, tempat dan acara rapat. (2) Dalam keadaan mendesak, DPP dapat mengirimkan undangan selambat-lambatnya 1 (satu) minggu sebelum diselenggarakan rapat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (3) Utusan daerah yang berhalangan hadir pada Rapat Umum Nasional dapat memberikan kuasa hak suaranya secara tertulis kepada utusan lain dari daerah yang sama.

Pasal 14

Pengiriman Undangan Rapat Umum Daerah

(1) Undangan untuk Rapat Umum Daerah harus disampaikan kepada anggota biasa secara tertulis sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) hari sebelum rapat diselenggarakan dan harus memuat keterangan tentang waktu, tempat dan acara rapat.

(2) Dalam keadaan mendesak, DPD dapat mengirimkan undangan selambat-lambatnya 1 (satu) minggu sebelum diselenggarakan rapat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).

(3) Anggota yang berhalangan hadir pada Rapat Umum Daerah dapat memberikan kuasa hak suaranya secara tertulis kepada anggota lainnya yang bukan anggota DPD.

Pasal 15 Rapat Kerja

(1) Rapat Kerja Nasional berfungsi memberikan rekomendasi dan masukan-masukan kepada DPP serta merupakan forum komunikasi antara DPP dan DPD.

(2) Rapat Kerja Nasional dihadiri oleh ketua umum DPP, para ketua DPD serta para anggota DPP dan peserta peninjau lain yang ditetapkan oleh DPP.

(3) Rapat Kerja Nasional diselenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam masa bakti kepengurusan.

(4) Rapat Kerja Nasional memberikan rekomendasi kepada DPP tentang :

a. langkah-langkah yang perlu diambil yang berkaitan dengan pelaksanaan Garis Besar Kebijakan dan Program HPJI; dan

b. masalah-masalah lain yang dipandang perlu.

(5) Rapat Kerja Nasional adalah sah jika dihadiri oleh lebih dari ½ (setengah) jumlah DPD. (6) Rapat Kerja Daerah dihadiri oleh ketua DPD, para anggota DPD, para anggota HPJI di daerah yang bersangkutan dan undangan yang ditetapkan oleh DPD.

(27)

a. membahas perkembangan organisasi di tingkat daerah;

b. menyusun usulan dan saran mengenai hal-hal yang menyangkut kepentingan organisasi guna diajukan kepada DPP.

(8) Rapat Kerja Daerah adalah sah jika dihadiri oleh lebih dari ½ (setengah) jumlah anggota biasa di daerah tersebut.

Pasal 16

Hak dan Kewenangan Pengurus

(1) Ketua Umum/Sekretaris Umum DPP atau Ketua/Sekretaris DPD secara bersama-sama berhak untuk mewakili dan mengikat HPJI baik di dalam maupun di luar pengadilan dan berwewenang melakukan segala perbuatan pemilikan dan segala perbuatan pengurusan untuk dan atas nama HPJI.

(2) Hak-hak yang dimaksud dalam ayat (1) dibatasi oleh tindakan-tindakan yang

memerlukan pengesahan terlebih dahulu dari rapat DPP/ DPD yaitu dalam hal-hal sebagai berikut :

a. Mendapatkan atau melepaskan barang yang tak bergerak dan atau hak-hak atas tanah dan bangunan-bangunan.

b. Meminjamkan uang atas nama HPJI senilai Rp. 10.000.000,- (Sepuluh Juta Rupiah) atau lebih.

c. Menggadaikan atau rnempertanggungkan dengan cara lain kekayaan HPJI. d. Mengikat HPJI sebagai penjamin (borg atau avalis).

e. Mendirikan/ikut mengambil bagian dan/atau menyelenggarakan perusahaan atau badan hukum lain.

Pasal 17

Tata Kerja Kepengurusan

Tata kerja kepengurusan ditetapkan oleh DPP/DPD, berisikan :

a. Uraian tugas dan tanggung jawab setiap anggota Dewan Pengurus. b. Baku kinerja setiap anggota Dewan Pengurus.

c. Sanksi bagi anggota Dewan Pengurus yang tidak dapat memenuhi baku kinerja dan prosedur pengenaan sanksi.

Pasal 18

Kewajiban Penyusunan Anggaran Tahunan Pendapatan dan Belanja

(1) DPP dan DPD berkewajiban menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Tahunan HPJI selama masa bakti.

(2) Anggaran tahun pertama harus sudah selesai selambat-lambatnya 6 (enam) bulan terhitung tanggal ditetapkannya DPP/DPD.

Pasal 19

Rapat dan Pimpinan Rapat Dewan Pengurus

(28)

(2) Rapat DPP dipimpin oleh Ketua Umum dan apabila Ketua Umum berhalangan hadir rapat dipimpin oleh salah seorang yang ditunjuk dari antara Ketua.

(3) Rapat DPP adalah sah jika dihadiri oleh lebih dari ½ (setengah) jumlah anggota DPP. (4) Rapat DPD dipimpin oleh Ketua dan apabila Ketua berhalangan, rapat dipimpin oleh salah seorang yang ditunjuk dari antara pengurus DPD yang hadir.

(5) Rapat DPD adalah sah jika dihadiri oleh lebih dari ½ (setengah) jumlah anggota DPD

Pasal 20

Berakhirnya Keanggotaan DPP dan DPD

(1) Keanggotaan DPP dan DPD berakhir oleh karena :

a. berhenti sebagai anggota HPJI; b. atas permintaan sendiri;

c. meninggal dunia;

d. diberhentikan dengan hormat;

e. diberhentikan tidak dengan hormat; atau

f. berakhirnya masa bakti DPP/DPD yang bersangkutan.

(2) Seorang anggota DPP/DPD dapat dibebaskan sementara dari tugasnya oleh rapat DPP/DPD, disebabkan karena :

a. berhalangan karena sakit atau karena tidak dapat menjalankan tugas dan fungsinya; atau

b. melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga atau tindakan-tindakan lainnya yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

(3) Pembebasan tugas yang disebabkan hal-hal sebagai tersebut ayat (2) huruf b. berlaku paling lama 3 (tiga) bulan.

Pasal 21

Penggantian Anggota Dewan Pengurus

(1) Penggantian anggota pengurus DPP/DPD yang berakhir karena sebagaimana tersebut dalam Anggaran Rumah Tangga Pasal 20 huruf a, b, c, d dan e dilaksanakan melalui rapat DPP/DPD.

(2) Penggantian anggota DPP/DPD sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) tidak perlu disahkan melalui Rapat Umum Nasional/Daerah.

Pasal 22

Kuorum Rapat Perangkat Organisasi

(29)

(2) Sesudah penundaan 60 menit kuorum belum juga tercapai, maka rapat dapat terus diselenggarakan dan segala ketetapan yang diambil adalah sah.

Pasal 23

Keputusan Rapat Perangkat Organisasi

Keputusan rapat perangkat organisasi diambil :

a. Dengan musyawarah untuk mencapai mufakat.

b. Apabila kata sepakat sebagaimana dimaksud dalam butir (a) tidak dapat dicapai, maka keputusan diambil atas dasar jumlah suara terbanyak di antara peserta rapat yang hadir dan memiliki hak suara dalam rapat tersebut.

BAB V

PERBENDAHARAAN

Pasal 24

Usaha Pengumpulan Dana

Untuk maksud tertentu DPP/DPD dapat mengadakan usaha-usaha untuk pengumpulan dana yang sah dan tidak bertentangan dengan azas dan tujuan HPJI.

BAB VI

PERATURAN TAMBAHAN

Pasal 25 Peraturan DPP/DPD

(1) Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Dasar dan atau Anggaran Rumah Tangga dapat diatur dalam peraturan-peraturan DPP/DPD.

(2) Peraturan-peraturan tersebut Ayat (1) tidak boleh bertentangan dengan ketentuan-ketentuan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.

BAB VII

PERUBAHAN ANGGARAN RUMAH TANGGA

Pasal 26 Syarat Perubahan

(1) Anggaran Rumah Tangga ini hanya dapat diubah di dalam , dan sudah harus diacarakan dalam Rapat Umum Nasional, atau dalam apat Umum Nasional Istimewa yang

(30)

(2) Rancangan usul perubahan ditetapkan dalam rapat DPP atau diusulkan oleh sekurang-kurangnya ½ (setengah) jumlah DPD.

(3) Keputusan diambil melalui permufakatan atau jika sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah hak suara peserta penuh yang hadir dalam Rapat Umum Nasional menyetujui usul perubahan Anggaran Rumah Tangga tersebut pada waktu pemungutan suara yang dilakukan khusus untuk itu.

BAB VIII PENUTUP

Pasal 27 Aturan Peralihan

(1) Penyesuaian dan perubahan yang diperlukan sebagai akibat adanya perubahan Anggaran Rumah Tangga harus diselesaikan oleh DPP dan DPD selambat-lambatnya 365 (tiga ratus enam puluh lima) hari kalender setelah tanggal ditetapkannya perubahan Anggaran Rumah Tangga HPJI.

(2) Pengurus DPP dibentuk serta merta setelah perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga disahkan.

(3) Pengurus DPD harus disesuaikan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga melalui Rapat Umum Daerah Istimewa dalam jangka waktu sebagaimana diatur dalam Ayat (1).

Anggaran Rumah Tangga HPJI disahkan untuk pertama kali dalam Rapat Umum Anggota HPJI ke-1 di Jakarta tanggal 23 Juli 1979 dan perubahan-perubahannya dilakukan :

Pertama dalam Rapat Umum Anggota ke-6 yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 30 November 1990.

Kedua dalam Rapat Umum Anggota ke-8 yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 23 Desember 1997.

Ketiga dalam Rapat Umum Anggota ke-9 yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 7 Agustus 1998.

Keempat dalam Rapat Umum Nasional Istimewa ke-1 yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 4 Oktober 2000

Kelima dalam Rapat Umum Nasional Istimewa ke-2 yang diselenggarakan di Denpasar pada tanggal 17 Juli 2002.

(31)

5. Bentuk Lambang

Dari penjelasan ringkas mengenai bagaimana pembangunan jalan di Indonesia khususnya dikaitkan dengan pengembangan sistem jaringan dan teknologinya ada beberapa titik awal (milestone) yang mewarnai kebangkitan spektakuler pengembangan jalan di Indonesia. Di antara yang sangat jelas menunjukkan kemampuan bangsa Indonesia adalah pembangunan Jembatan Semanggi di Jakarta, yang direncanakan oleh tenaga akhli bangsa Indonesia. Ir. Sutami yang bertindak sebagai perencana adalah akhli teknik sipil yang

membidani pembangunan jembayan tersebut dimulai pada tahun 1964, dan menjadi jembatan satu satunya yang bertingkat dengan bentuk daun semanggi.

Sejalan dengan pemikiran tersebut dan dikaitkan dengan ide pembentukan suatu wadah profesi yang selalu terkait dengan pengembangan jalan, maka para pendiri menggunakan titik bangkit pengembangan ilmu konstruksi jalan dan jembatan tersebut sebagai alat untuk selalu mengingatkan profesional pengembang jalan untuk selalu bertindak inovatif dan kreatif Lambang jembatan semanggi yang kemudian digunakan sebagai lambang himpunan dianggap dapat mewakili keinginan para pendiri dan para anggota untuk bekerja selalu dalam semangat tinggi (Gambar 2. Lambang HPJI).

Secara makro dapat dikatakan bahwa penggunaan gambar jembatan berbentuk semanggi dan dibangun di Jakarta tersebut dapat diartikan sebagai berikut :

a) bentuk gambar semanggi : adalah lambang dari kemampuan para pengembang jalan di Indonesia dalam membangun sarana dan prasarana jalan dengan teknologi yang selalu mutakhir.

(32)

c) Jembatan semanggi dengan daun kecil di tengahnya dapat diartikan bahwa

himpunan selalu berusaha untuk melakukan iterasi dalam berbagai perkembangan pengembangan jalan sehingga dapat menemukan suatu penyelesaian yang dapat memenuhi berbagai kriteria.

d) Bentuk eleptik yang membatasi jembatan semanggi diartikan bahwa himpunan sangat lentur dalam berbagai langkah kebijakannya, dalam menyesuaikan dengan kondisi yang dihadapi dan perkembangan teknologi pengembangan jalan.

e) Warna hitam dan abu abu yang mendominasi lambang ini dapat diartikan bahwa himpunan dan anggotannya adalah komponen-komponen profesional yang selalu teguh pada prinsip-prinsip ilmu dan kebenaran ilmu.

6. Susunan Majelis Kehormatan HPJI PERIODE 2011-2015

 DR (HC) Ir. Djoko Kirmanto, Dipl.HE

 Ir. Suyono Sosrodarsono

 Ir. Rachmadi Bambang Sumadhiyo

 Ir. Suryatin Sastromidjoyo

 Ir. Ruslan Diwiryo

 Ir. H. Soeharsojo

 Mayjen TNI (Purn) Santo Budiono

 Ir. Sunaryo Sumadji

 Ir. Gandhi Harahap, MEng

7. Susunan Dewan Penasehat HPJI PERIODE 2011-2015

 Ir. Hendrianto Notosoegondo

 Drs. Suroyo Alimoeso

 Irjen (POL) Drs. Endro Agung, MSc

 Irjen Pol Drs. Djoko Susilo

 Dr. Ir. Deddy Priatna, M.Sc

 Ir. A. Moelia Aida

 Ir. Adityawarman

 Ir. Bambang Goeritno, MSc, MPA

(33)

Periode 2011 – 2015

I. PENGURUS INTI

1. KETUA UMUM KEHORMATAN → DR. Ir. A. Hermanto Dardak

2. KETUA UMUM → Ir. Djoko Murjanto, MSc

3. SEKRETARIS UMUM → Drs. Poedji Rahardjo

4. BENDAHARA UMUM → Ir. Ketut Darmawan

5. KETUA BIDANG PENGEMBANGAN PROFESIONALISME → Ir. Soehartono

6. KETUA BIDANG PENGEMBANGAN KETEKNIKAN → Ir. Purnomo

7. KETUA BIDANG STANDARDISASI, KERJASAMA DENGAN LITBANG & TEKNOLOGI KHUSUS→ DR. Teguh Rahardjo

8. KETUA BIDANG PENGEMBANGAN MANAJEMEN JALAN DAN KERJA SAMA DENGAN PERGURUAN TINGGI → DR. Tri Tjahjono

9. KETUA BIDANG PUBLIKASI DAN PENGEMBANGAN DUKUNGAN ICT → Ir. Danis Sumadilaga, M.EngSc

10. KETUA BIDANG HUBUNGAN DAN PENGEMBANGAN PASAR INTERNATIONAL → Ir. Abdul Hadi Hs

II. UNIT KERJA KEPENGURUSAN

A. KOORDINASI SEKRETARIS UMUM → Drs. Poedji Rahardjo

1. KESEKRETARIATAN

Sekretaris I : Ir Heddy R Agah, MEng Secretaris II : Ir. Eko Prastowo, MM

2. KEORGANISASIAN : Ir. Hadjar Seti Adji Ir. Winarno, M EngSc

3. ETIKA DAN HUBUNGAN DENGAN MAJELIS KEHORMATAN & DEWAN PENASEHAT Ir. Sri Apriatini Soekardi, MM

Ir. Chairul Taher, MSc

B. KOORDINASI BENDAHARA UMUM → Ir. Ketut Darmawan

1. BENDAHARA I : Ir. Budi Harto

BENDAHARA II : Ir. Bambang Pramusinto

C. KOORDINASI KETUA BIDANG PENGEMBANGAN PROFESIONALISME → Ir. Soehartono

1. PERTEMUAN ILMIAH: Prof. Dr. Sutanto Soehodho Ir. Taufik Wijoyono, MEngSc

2. HUBUNGAN DENGAN LPJK & PEMBINAAN UNIT SERTIFIKASI DAERAH : Ir. Harry Purwantara, MEngSc

Ir. Sukawan Mertasudira, MSc

3. PENGEMBANGAN DAN PENERAPAN SISTEM CPD Ir. Harris Batubara, MEngSc

(34)

D. KOORDINASI KETUA BIDANG PENGEMBANGAN KETEKNIKAN → Ir. Purnomo

1. PERKERASAN JALAN : Ir. Yayan Suryana, MEngSc Ir. Nyoman Suarsana, MSc

2. PERLENGKAPAN JALAN : DR. Sigit P Hadiwardoyo Ir. Yudisa Zahira, MSc

3. KESELAMATAN JALAN : Ir. Hotma Simandjuntak, MSTR Kombes Pol Drs. Nauval Yahya, MSc DR. Didik Rudjito

4. STRUKTUR DAN JEMBATAN : Ir. Herry Vaza, MEngSc Ir. Iwan Zarkasi, MengSc

E. KOORDINASI KETUA BIDANG STANDARDISASI, KERJASAMA DENGAN LITBANG & TEKNOLOGI KHUSUS → DR. Teguh Rahardjo

1. STANDARDISASI :

F. KOORDINASI KETUA BIDANG PENGEMBANGAN MANAJEMEN JALAN & KERJASAMA DENGAN PERGURUAN TINGGI → DR. Tri Tjahjono

1. MANAJEMEN JARINGAN JALAN DR. IF. Poernomosidh

Made Suartika, MSc

2. MANAJEMEN ASSET : Ir. Moh. Iqbal Pane DR. Max Antameng

3. PUBLIC PRIVATE PARTNERSHIP: Ir. Gani Gazhali, MEngSc

Ir. Hediyanto W Husaini, MSCE

4. KERJASAMA PERGURUAN TINGGI: Prof. DR. Rizal Z Tamin

Prof. DR. Sri Prabandiyani Retno Wardani

G. KOORDINASI KETUA BIDANG PUBLIKASI & PENGEMBANGAN DUKUNGAN ICT → Ir. Danis H Sumadilaga, MEngSc

1. PUBLIKASI :

(35)

2. DUKUNGAN ICT :

Emma Noerohma Sudjadi, SE (Dep PU, Pusdata) Ir. Agus Pudjijono, MSc (Dep PU, Pusdata)

H. KOORDINASI KETUA BIDANG PENGEMBANGAN PASAR & HUBUNGAN INTERNASIONAL → Ir. Abdul Hadi Hasbullah

1. PENGEMBANGAN PASAR INTERNASIONAL : Ir. Unggul Cariawan, MSM

Tridjoko Waluyo, MEng

2. HUBUNGAN INTERNASIONAL : Ir. Sutopo Kristanto

Lydwina Marchiela Wardhani

BAB III

PENUTUP

(36)

Dari uraian pembahasan di atas, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Kelompok sosial adalah sekumpulan manusia yang mempunyai ciri-ciri yang sama,

mempunyai pola interaksi yang terorganisir secara berulang-ulang, dan mempunyai kesadaran bersama akan keanggotaannya.

2. Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat

istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan yang tertikat oleh rasa identitas bersama. 3. Dasar pembentukan kelompok sosial diantaranya : Kepentingan yang sama (Common

Interest), Kesamaan darah dan keturunan (Common Ancestry), daerah atau wilayah yang Sama dan ciri fisik yang sama.

4. In-group adalah kelompok sosial dimana individu mengidentifikasi dirinya.

Sedangkan out-groupadalah kelompok sosial yang oleh individu diartikan sebagai lawan in-groupnya.

5. Kelompok primer adalah kelompok-kelompok yang ditandai dengan adanya ciri-ciri

saling mengenal antar anggotanya serta adanya kerja sama erat yang bersifat pribadi. Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok yang ditandai dengan pergaulan yang formal, tidak pribadi dan bercirikan kelembagaan, misalnya partai politik atau organisasi formal lainnya.

6. Paguyuban (gemeinschaft) adalah bentuk kehidupan bersama yang anggota-anggotanya

(37)

7. Formal group merupakan kelompok yang memiliki peraturan-peraturan yang tegas dan

dengan sengaja dibuat oleh anggota-anggotanya untuk mengatur hubungan antar anggotanya. Kelompok formal disebut juga dengan istilah asosiasi atau organisasi. Sedangkan informal grup merupakan kelompok sosial yang terbentuk karena pertemuan-pertemuan yang berulang dan merasa memiliki kepentingan dan pengalaman yang sama. 8. Membership group merupakan kelompok sosial yang secara fisik menjadi anggota

kelompok tersebut. Sedangkan Reference group merupakan kelompok sosial yang menjadi acuan dalam perilaku maupun mengembangkan kepribadian para individu yang tidak tercatat secara fisik dalam keanggotaan kelompok tersebut.

9. Kelompok okupasional adalah kelompok yang muncul karena semakin memudarnya

fungsi kekerabatan, dimana kelompok ini timbul karena anggotanya memiliki pekerjaan yang sejenis. Sedangkan kelompok volunteer adalah kelompok yang memiliki kepentingan sama, namun tidak mendapatkan perhatian masyarakat.

10. Kerumunan (crowd) adalah individu yang berkumpul secara kebetulan di suatu tempat

pada waktu yang bersamaan.

11. Publik merupakan kelompok sosial yang terbentuk karena ada perhatian yang disatukan

oleh alat-alat komunikasi seperti radio atau televisi.

12. Dinamika kelompok sosial merupakan perubahan yang terjadi dalam setiap kelompok

sosial, ada yang mengalami perubahan secara lambat, namun ada pula yang mengalami perubahan dengan cepat.

B. Saran

Saran kami kepada semua pihak adalah agar lebih memahami tentang kondisi sosial yang ada di sekitar kita. Kita adalah manusia dan sebagai makhluk sosial seharusnya peka terhadap lingkungan sekitar. Khususnya pada Jalan. Pada kehidupan bermasyarakat terdapat kelompok sosial yang bermacam-macam. Misalnya kelompok primer dan sekunder, formal dan informal, paguyuban dan patembayan, dan lain-lain. Dan tentunya kita sebagai makluk sosial pasti termasuk kedalam keanggotaan salah satu kelompok sosial di atas.

(38)

Daftar Pustaka

Referensi

Dokumen terkait

Bukan hanya email yang penulis terjemahkan, terkadang ada beberapa manual cara kerja mesin yang ditulis dalam bahasa Jepang.. Penulis pun beberapa

Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dianalisis apakah pemberian paket makanan formula susu dan makanan tambahan pada anak usia dibawah tiga tahun (batita) gizi buruk

termasuk yang penulis masukkan dalam makalah ini dapat sedikit menambah wawasan kita akan keotentikan sistem dan doktrin agama kita terhadap perilaku dan kebijakan ekonomi,

Memahami perspektif stakeholders yang terlibat dalam proyek merupakan kunci dari manajemen risiko yang efektif (Iqbal et al., 2015), oleh karena itu tujuan dari makalah

Dalam karya ilmiah tersebut tidak dibahas secara spesifik mengenai aspek hukum crowdfunding property seperti bagaimana pelaksanaan crowdfunding property dilihat dari kaca

Indonesia pun dalam kasus ini hanya menjadi negara transit bagi para pencari suaka sehingga tidak ada sama sekali kewajiban yang ‘dipaksakan’ oleh hukum dan masyarakat

Dalam skripsi ini akan dibahas pengujian kekerasan material dan struktur mikro setelah dilakukan fairing, dengan tujuan untuk mengetahui nilai kekerasan dan perubahan struktur pada area